P. 1
Penelitian Politik Desa Mejayan Madiun

Penelitian Politik Desa Mejayan Madiun

|Views: 391|Likes:
Published by Indah Nurlaeli

More info:

Published by: Indah Nurlaeli on Jan 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ELITE-MASSA DESA MEJAYAN KAPUBATEN MADIUN

OLEH:
VIVI SULISTIYANA NITA TRI ASTUTIK ANIS MARYUNI ARDI REVOL AFKAR DIO RAMADAN N. HENDRO FADLI SARI INDAH NUR LAELI CINTATYA CINDY B. M. SYAH RIZAL ARKIAL YOSWIARTO CHANDRA DWI H.N. M. BUDI SANTOSA DANU RAMDHANA 071013052 071013066 071013002 071013003 071013005 071013008 071013011 071013021 071013051 071013054 071013071 071013085 071013089

DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA 2012

1   

ABSTRAK

Desa Mejayan, Madiun, Jawa tengah merupakan wujud transisi desa tradisional menjadi desa modern. Begitu pula jika dikaitkan dengan fenomena politik di desa tersebut. Pola hubungan Elite-Massa yang ditemukan di desa tersebut terdapat dua jenis. Pertama merupakan Patron-Client Relationship yang berkaitan dengan hubungan yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak. Patron-Client Relationship merupakan pola hubungan yang melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama saling cari keuntungan. Pola hubungan seperti ini bersifat relatif, yaitu salah satu pihak dapat berkhianat dengan meninggalkan pihak lainnya apabila salah satu pihak merasa dirugikan. Sebab seperti yang sudah dijelaskan, dalam pola hubungan seperti ini memang mengutamakan hubungan yang saling menguntungkan antara patron dan client. Client dapat mencari patron yang lain apabila client tidak mendapatkan keuntungan melainkan kerugian.

Yang kedua adalah pola hubungan Traditional Authoritary Relationship dimana hubungan ini bersifat ortodoks (kepatuhan) namun tidak didasarkan pada rasionalitas. Traditional Authority Relationship didasarkan pada tradisi dan budaya yang telah ada sejak dahulu sehingga memang harus dipertahankan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Kami menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggali lebih luas dan mendalam mengenai pola hubungan elite-massa dalam perpolitikan desa di Mejayan. Kemudian dalam penelitian ini kami berusaha mendeskripsikan pola hubungan elite-massa dalam dua kategori yaitu Patron-Client Relationship dan Traditional Authority Relationship. Tujuan dari penelitian ini pada awalnya adalah menuntaskan tugas politik di desa, selain itu kami mencoba untuk menganalisis dan menginterpretasikan fenomena politik di desa. Setelah berhasil menginterpretasikan fenomena politik di desa kami juga mencari pola hubungan elite-massa yang ada di Mejayan. Kemudian mencari peran serta elite-massa dan pengaruhnya dalam membuat keputusan di tingkat desa.

2   

Di desa Mejayan terdapat dua pola hubungan Elite-Massa yang sebetulnya sangat menarik sekali untuk diteliti. Namun yang paling banyak ditemukan adalah Patron-Client Relationship karena modernitas mulai berkembang melalui hubungan sosial masyarakat Mejayan, Sedangkan Traditional Authoritarity Relationship lebih minoritas.

3   

KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemampuan, kekuatan, serta keberkahan baik waktu, tenaga, maupun pikiran kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan laporan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam rangka menyelesaikan tugas akhir ini. Namun, atas bantuan dan dukungan yang diberikan berbagai pihak, penulis mampu melewati hambatan dan kesulitan tersebut. Oleh karena itu ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya tak lupa penulis ucapkan kepada: 1. Bapak Wisnu Pramutanto P., Drs., M.Si, selaku dosen pembimbing tugas mata kuliah politik di desa penulis, atas bimbingan, pengarahan, saran, dan kemudahan yang telah diberikan kepada penulis dalam pengerjaan tugas ini; 2. Bapak Fahrul Muzaqqi, SIP, selaku team dosen mata kuliah politik di desa 3. Ibu Titik Handayani, selaku kepala desa Mejayan yang telah menerima dan membantu penulis mendapatkan data dan informasi untuk menyelesaikan tugas politik di desa ini; 4. Ibu Sumiati selaku pemilik rumah yang ditempati oleh penulis dalam menjalankan penelitian di desa Mejayan yang telah membantu penulis mendapatkan informasi dan member kemudahan dalam hal hidup di desa Mejayan; 5. Seluruh masyarakat desa Mejayan yang telah menerima dan membantu penulis mendapatkan data dan informasi untuk menyelesaikan tugas politik di desa. 6. Seluruh teman-teman prodi Ilmu Politik yang telah memberikan dukungan dan semangat. 7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, terimakasih atas seluruh dukungan dan bantuannya. Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan pada penyusunan laporan tugas politik di desa ini. Maka dari itu, saran dan kritik yang membangun
4   

sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Surabaya, Juni 2012 Penulis

5   

DAFTAR ISI
Abstrak Kata Pengantar Daftar isi Daftar Tabel Peta BAB I Pendahuluan Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Kerangka Konsep Metode Penelitian BAB II Gambaran Umum Desa Sejarah Singkat Desa Keadaan Dan Perkembangan Penduduk Data Jumlah Penduduk dan Tahapan Miskin Jumlah Keluarga Agama Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Keadaan dan Perkembangan Ekonomi Desa Mejayan Usia Produktif Kesejahteraan Mata Pencaharian Penduduk Keadaan dan Perkembangan Politik Desa Mejayan Partisipasi Politik Pemilihan Kepala Daerah Pemilihan Umum 2009 Susunan Kepengurusan Badan Permusyawarhan Desa (BPD) Struktur Pemerintahan Desa Mejayan Peta Desa BAB III Temuan dan Analisis Data Pola Hubungan Elite-Massa di Desa Mejayan Pola Hub Patron-Client Pola Hub Traditional Authority Relationship Representasi Pola Hub Elite-Massa di dalam Pemerintahan Desa Mejayan Pola Hub Elite-Massa dalam Proses Pembuatan dan Pelaksanaan Keputusan Desa Mejayan Program-program Kesejahteraan Masyarakat Proses Pembuatan dan Pelaksanaan Keputusan di Desa Mejayan Pola Hub Elite-Massa dalam mempengaruhi Proses Pembuatan dan Pelaksanaan Keputusan Desa BAB IV Penutup Kesimpulan dan Saran Daftar Pustaka Lampiran i ii iii iv 1 4 4 5 5 12 16 18 18 22 22 24 25 25 26 27 31 31 32 33 34 35 36 37 37 46 52 60 60 65 67

71 72 73

6   

DAFTAR TABEL DAN BAGAN Tabel 1.1 Tabel 1.2 Tabel 1.3 Tabel 1.4 Tabel 1.5 Tabel 1.6 Tabel 1.7 Tabel 1.8 Tabel 1.9 Tabel 1.10 Tabel 1.11 Tabel 1.12 Tabel 2.1 Bagan 1.1 Bagan 1.2 hal 17-18 hal 21 hal 21-22 hal 23 hal 24 hal 25 hal 26-27 hal 29 hal 30 hal 31 hal 32 hal 33 hal 38 hal 52 hal 67

7   

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dinamika politik di desa menghadirkan berbagai fenomena yang diantaranya banyak mengarah pada hubungan elite-massa. Hubungan elite-massa merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk diteliti, terlebih kaitannya dengan pemerintahan desa. Sebab desa merupakan suatu unit pemerintahan terkecil yang dinamika perpolitikannya masih bertalian erat dengan nilai-nilai dan norma-norma kemasyarakatan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa hubungan elite-massa di pedesaan jauh berbeda dengan yang ada di kota atau pusat. Desa dengan berbagai modal sosial yang khas meliputi hubungan patron-client, sistem kekerabatan, maupun ikatan keagamaan menyebabkan hubungan elite-massa di desa lebih bervariasi. Dari beberapa peritiwa yang kita temukan, variasi hubungan elite-massa di desa dapat diklasifikasikan menjadi dua fenomena. Fenomena yang pertama menggambarkan keadaan elite yang mendapatkan legitimasi dari masyarakat, dikarenakan elite memiliki kualitas pribadi yang baik, dan dikuatkan dengan adanya prestasi yang diukir dalam kepemimpinannya. Fenomena pertama ini dapat diilustrasikan dengan berbagai peristiwa berikut: (1) Program Kepala Desa Situ Udik yang menginstruksi warganya untuk mengumpulkan uang 100 rupiah guna membangun ratusan Rutilahu, (2) Kepala Desa Mandiring Toraja yang di percaya warganya guna melanjutkan jabatan Kepala Desa, dikarenakan dia memiliki kapabilitas yang baik dalam memimpin warganya. Sedangkan fenomena kedua, menggambarkan keadaan elite yang mendapatkan legitimasi dari masyarakat dikarenakan adanya hubungan yang saling menguntugkan antara elite dan massa. Fenomena kedua dapat diilustrasikan dengan perisiwa berikut: (1) Kemenangan pasangan Suyoto-Setyo dalam Pilkada Kabupaten Bojonegoro yang disebabkan oleh janji-janji mereka dalam mengalokasikan dana anggaran yang diharapakan berpihak pada masyarakat (2)
8   

Turut sertanya pemilik modal dalam proses pembuatan dan keputusan di kabupaten Banyumas. Berbagai peristiwa diatas menunjukkan keberagaman pola hubungan antara elite dan massa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan keputusan di desa. Pola hubungan yang pertama disebakan karena elite menggunakan kualitas pribadinya guna mendapatkan legitimasi dari massa. Pola hubungan kedua menunjukkan bahwa elite dan massa mempunyai hubungan yang saling menguntungkan. Pertama, pola hubungan elite yang menggunakan kualitas pribadinya guna mendapatkan legitimasi. Pola hubungan ini dapat dibuktikan dengan adanya peristiwa yang dialami oleh kepala desa Cibubulang yang menginstruksikan kepada warganya agar mengumpulkan uang 100 rupiah, guna membangun

ratusan unit rumah yang kurang layak huni atau biasa disebut dengan rutilahu. 1 Dengan adanya progam tersebut, warga yakin bahwa kepala desa yang terdahulu masih pantas untuk memimpin desa Cibubulang. Peristiwa yang terangkum dalam fenomena tersebut juga terjadi kepada pemilihan kepala desa yang terjadi di desa Mandiring, Toraja. Kepala desa di desa tersebut merupakan pemeluk agama islam, dan islam merupakan agama yang minoritas di desa tersebut. Jumlah umat Islam sekitar 10 persen. Mereka adalah penduduk asli Toraja. Meski minoritas, namun mereka memiliki posisi yang cukup penting di desa tersebut.Buktinya, kepala desanya (Kades), Ahmad Dahlan adalah seorang Muslim. Bahkan, sudah beberapa periode ia dipercaya sebagai kepala desa. Kepala desa tersebut pernah tidak mencalonkan diri tapi masyarakat memaksa. Memang sejak kepemimpinan pria yang selalu menang telak dalam setiap pemilihan ini, desa tersebut banyak mengalami kemajuan. Banyak jalan yang dibuka. Bantuan-bantuanpun bisa sampai ke tangan warga tanpa disunat. Umat Islam sendiri banyak merasakan kemudahan di bawah kepemimpinannya. Hal tersebut tidak menjadi hambatan dalam periode kepemimpinannya.
1

                                                              http://www.kabarpublik.com/2012/05/kades-situ-udik-dengan-rp-100-mampu-membangun-120-

unit-rutilahu-rumah-tidak-layak-huni/ (diakses pada tanggal 26 April 2012)

9   

Adanya kualitas pribadi dan program yang dijalankan tidak memihak kelompok-kelompok masyarakat yang ada dalam desa tersebut. Program yang berkualitas dan dianggap telah mengakomodir warganya, merupakan alasan untuk terpilihnya lagi kepala desa tersebut. 2 Dari peristiwa tersebut keberadaan

pemimpin diakui karena kualitas dirinya untuk memimpin warganya, dengan adanya pola hubungan ini menyebabkan warga yang dipimpin seringkali mengganggap bahwa ketundukkan kepada pemimpin merupakan kewajiban. Walaupun kepemimpinan tersebut tidak ada unsur paksaan dan otiter dalam kepemimpinannya. Juga karena masyarakat percaya dan juga melihat kualitas program yang dijalankan. Tanpa melihat apakah dasar dari kepemimpinan tersebut. Walaupun dipimpin oleh minoritas tetapi tetap ada hubungan yang terjalin. Hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai bersifat subyektif sehingga tidak memerlukan rasionalitas, kepatuhan massa terhadap elite merupakan keharusan bahkan tanpa imbalan. Kedua, pola hubungan yang saling menguntungkan antara elite dan massa. Pola hubungan ini dapat dibuktikan dengan adanya peristiwa kemenangan yang diperoleh pasangan Suyoto-Setyo dalam Pilkada Kabupaten Bojonegoro yang disebabkan oleh janji-janji mereka dalam mengalokasikan dana anggaran yang diharapakan berpihak pada masyarakat. Pasangan ini mendapatkan kemenangan dikarenakan adanya pemenuhan yang diperlukan oleh para pendukung atas terpilihnya Suyoto-Setyo. Dalam kampanyenya mereka menyebutkan bahwa pengalokasian anggaran seluruhnya untuk kepentingan mayarakat. Oleh sebab itu, masyarakat tidak memiliki rasa enggan dalam memilih pasangan Sutoyo-Setyo. 3 Peristiwa dalam bingkai fenomena kedua, juga terjadi di kabupaten Banyumas. Dalam proses pembuatan dan keputusan di Kabupaten Banyumas, dijelaskan bahwa pemerntah tidak sendiri menjalankannya. Dalam ranah tersebut dijelaskan bahwa adanya campur tangan pemilik modal yang berupa tanah atau yang sering

                                                            
2

Ahmad Rifa’i/Suara Hidayatullah APRIL 2008

 
3

Alisahab09-fisip.web.unair.ac.id (diunduh tanggal 14 mei 2012 pukul 07.10 wib)

10   

disebut dengan bondo desa. 4 Dari peristiwa tersebut dapat diketahui, pentingnya pemenuhan kebutuhan oleh pemerintah kepada yang diperintah guna mendukung fungsi kekuasaan si pemerintah. Adanya fenomena yang beragam dalam konteks kekuasaan melalui hubungan elite-massa di pedesaan, menjadi satu hal yang pantas untuk dikaji. Dalam politik desa dengan struktur pemerintahan yang masih sederhana, dengan mengedepankan nilai-nilai tradisional dan kekerabatan, hubungan elite massa menciptakan dinamisasi yang signifikan bagi jalannya pemerintahan di desa. Dengan adanya hubungan yang dialogal dan konstruktif antara elite dan massa yang terimplementasi dalam fenomena-fenomena yang ditemukan. Berangkat dari variasi fenomena diatas, kami mencoba mengorek fenomena yang mungkin dapat kami temukan dalam penelitian ini sehingga dapat memastikan fenomena apa yang terjadi di desa yang akan diteliti, tentunya dengan pendekatan hubungan elite-massa. Dengan memperhatikan kekhasan dan corak kharakteristik yang dimiliki oleh masing-masing desa, kami dapat mengetahui bahwa hubungan elite-massa juga dipengaruhi oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat tersebut selain dinamika politik kekinian. 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pola hubungan elite-massa yang ada di Desa Mejayan? 2. Apakah pola hubungan elite-massa terepresentasikan di dalam pemerintah Desa Mejayan? 3. Bagaimana pola patron-client dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan di Desa Mejayan?

1.3 Tujuan Penelitian 1. Mengetahui pola hubungan elite-massa di desa
                                                            
4

http://mega.subhanagung.net/?p=613

11   

2. Mengetahui pola elite-massa yang terepresentasikan di dalam pemerintahan desa 3. Mengetahui peran serta elite-massa dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan di tingkat desa. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi peniliti dapat dijadikan sebagai salah satu bahan penelitian hubungan elite-massa di desa 2. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian di bidang pendekatan hubungan elitemassa 3. Bagi peneliti dapat dijadikan sebagai media latihan untuk

mengaplikasikan kembali teori-teori yang pernah dipelajari selama mengikuti perkuliahan. 1.5 Kerangka Konsep A. Definisi Konsep Konsep Elite-Massa

Elite merupakan kelas yang memerintah, yang terdiri dari sedikit orang, melaksanakan fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan menikmati keuntungan-keuntungan yang ditimbulkan dengan kekuasaan. Sedangkan massa adalah kelas yang diperintah, yang berjumlah lebih banyak, diarahkan dan dikendalikan oleh penguasa dengan cara-cara yang kurang lebih berdasarkan hukum, semaunya dan paksaan. 5 Pola hubungan antara elit dan massa didistribusikan kekuasaan-kekuasaan di pedesaan dalam masyarakat transisional diantaranya adalah Traditional Authority Relationship dan PatronClient Relationship. Konsep Patron-klien

                                                            
5

Ramlan Surbakti. Memahami Ilmu Politik. (Jakarta:Grasindo 2010).hlm. 94

12   

Patron merupakan pihak dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi yang menggunakan pengaruh dan sumber daya untuk memberikan

perlindungan dan keuntungan kepada client. Client merupakan pihak yang memiliki status lebih rendah dibandingkan dengan patron dan menerima perlindungan dan/atau keuntungan dari patron yang pada gilirannya membalas pemberian tersebut dengan dukungan dan bantuan, termasuk jasa pribadi kepada patron. James Scott mendeteksi bahwa arus patron klien berkaitan dengan kehidupan petani yaitu penghidupan subsistensi dasar meliputi

pemberian pekerjaantetap atau tanah untuk bercocok tanam, jaminan krisis susbsistensi, patron menjamin dasar subsistensi bagi kliennya dengan menyerap kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh permasalahan pertanian (paceklik dan lain sebagainya) yang akan mengganggu kehidupan kliennya. Perlindungan terhadap tekanan dari luar, makelar dan pengaruh. Patron selain menggunakan kekuatannya untuk melindungi clientnya, ia juga menggunakan kekuatannya untuk menarik keuntungan atau hadiah sebagai imabalan atas perlindungannya. 6 Patron-client merupakan pola hubungan yang saling menguntungkan (dialogal). Client (yang dikuasai) mendukung sepenuhnya kemauan penguasa apabila patron mampu memenuhi kebutuhan client. Apabila patron tidak dapat memenuhi kebutuhan client maka client akan sangat mudah berpindah mencari patron client lain. Sehingga hubungan patron-client cenderung opportunis. Syarat-syarat terjadinya Patron-client menurut Keith R. Legg diantaranya adalah; (1) penguasaan sumber daya yang timpang dan tidak dapat diperbandingkan (non-comparable resources), (2) terjadinya hubungan yang mempribadi, (3) pertukaran didasarkan pada mutual benefit dan reciprocity, (3) terjadi masyarakat transisional yang sudah berinteraksi dengan dunia luar desa. Konsep Pemerintah Desa

Pemerintah Desa menurut Dra. Sumber Saparin dalam bukunya “Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa” menyatakan bahwa:
                                                            
Safrudin Bustam layn. Dinamika Ikatan Patron klien: Suatu Tinjauan Sosiologis. (FISIP Unpatti: Populis 2008). hlm. 44
6

13   

“Pemerintah Desa ialah merupakan simbol formal daripada kesatuan masyarakat desa. Pemerintah desa diselengarakan di bawah pimpinan seorang kepala desa beserta para pembantunya (Prangkat Desa), mewakili masyarakat desa guna hubungan ke luar maupun ke dalam masyarakat yang bersangkutan”. 7 Pemerintah Desa mempunyai tugas membina kehidupan masyarakat desa, membina perekonomian desa, memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa, mendamaikan perselisihan masyarakat di desa, mengajukan rancangan peraturan desa dan menetapkannya sebagai peraturan desa bersama dengan BPD. Sedangkan menurut Peraturan Daerah Nomor 7 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa, pasal 1 nomor 7 yang dimaksud dengan Kepala Desa adalah pimpinan dari Pemerintahan Desa. sedangkan menurut pasal 1 nomor 8 yang dimaksud dengan Perangkat Desa adalah unsur staf yang melaksanakan teknis pelayanan dan atau membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Kepala Desa merupakan pimpinan penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk satu kali masa jabatan. Kepala Desa juga memiliki wewenang menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD. Kepala Desa dipilih langsung melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) oleh penduduk desa setempat. Perangkat Desa bertugas membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa Lainnya. Salah satu perangkat desa adalah Sekretaris Desa, yang diisi dari Pegawai Negeri Sipil. Sekretaris Desa diangkat oleh Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota atas nama Bupati/Walikota. 8 Perangkat Desa lainnya diangkat oleh Kepala Desa dari penduduk desa, yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. perangkat desa juga
                                                            
7

Sumber Saparin. Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1979) 8 id.wikipedia.org/wiki/desa (diakses pada tanggal 21 Mei 2012)

14   

mempunyai tugas untuk mengayomi kepentingan masyarakatnya. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Anggota BPD adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah. Anggota BPD terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya. Masa jabatan anggota BPD adalah 6 tahun dan dapat diangkat/diusulkan kembali untuk 1 kali masa jabatan berikutnya. Pimpinan dan Anggota BPD tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan Perangkat Desa. BPD berfungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Konsep Program Bantuan Sosial

Program Bantuan Sosial merupakan salah satu komponen Program Jaminan Sosial yang menjadi bentuk pengejawantahan atau ekspresi tanggung jawab pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang sangat peduli terhadap kondisi masyarakat yang miskin dan terlantar di aras akar rumput (grass root level). Program ini merupakan implementasi Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat (1) yang menyatakan bahwa fakir miskin dipelihara oleh bersifat hibah atau kompensasi dengan

Negara. Program Bantuan Sosial

memanfaatkan sumber dana yang didapat dari individu, kelompok anggota masyarakat dan atau pemerintah. Dengan perkembangan sosial ekonomi suatu Negara, Program bantuan sosial yang semula hanya berbentuk hibah saja berubah orientasinya menjadi program yang lebih memberikan manfaat berkelanjutan melalui bantuan pemberdayaan dan atau stimulan agar sasaran program bantuan bisa menjadi mandiri kecuali bagi sasaran program yang memang sudah tidak potensial sama sekali seperti lanjut usia yang jompo, miskin terlantar dan lain-lain. 9

                                                            
9

SDT Kebijakan Kependudukan 2011. www.Sudarto.staff.fisip.uns.ac.id;. (diakses pada tanggal

22 Mei 2012)

15   

B. Pola Hubungan Elite – Massa Traditional Authority Relationship Karl D. Jackson mendefinisikan kewibawaan tradisional sebagai penggunaan kekuasaan personalitas yang dihimpun melalui peranan masa lampau dan masa kini dari yang mempengaruhi sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai dan status unggul dari mereka yang punya hubungan ketergantungan yang mapan dengannya. Sekali telah mapan, tokoh kewibawaan tradisional tak perlu mengancam, menawarkan imbalan benda atau yang bersifat lambang, mencoba menganjurkan atau mengacu kepada aturan yang mengatur peranan-peranan. Perintah-perintahnya diterima sematamata atas dasar siapa dia dan hubungan tertentu yang tersebar dan bersifat pribadi, yang telah dipeliharanya dengan setiap pengikutnya. Tennyson mengamati bahwa “kepatuhan adalah ketakziman yang patut diberikan kepada raja-raja.” Dalam suasana kepatuhan yang hampir bertaklid itulah kewibawaan tradisional menemukan dinamikanya. Sekali kewibawaan tradisional ada, satusatunya reaksi normal terhadap perintah adalah mengabulkan.
10

Dalam

kewibawaan tradisional, perilaku patut tidaklah didasarkan atas persetujuan dengan pendirian ideologi si pemimpin. Para pengikut taat kepada pendirian si pemimpin tanpa memandang liku-liku ideologi yang penuh pertentangan yang mungkin diambilnya. 11 Dalam kewibawaan tradisional ada penyebab-penyebab mengapa setiap orang mempunyai penasihat-penasihat yang dipercayai pada setiap orang. Penyebab pertama, karena penasihat tersebut adalah seorang bapak atau sesepuh. Setiap orang mengira, bahwa inilah segala-galanya penjelasan yang di kehendaki, merupakan hal yang wajar saja bahwa setiap orang mengunjungi penasihat tersebut untuk menunjukkan penghormatan mereka dan memperoleh kearifannya. Yang kedua, disebabkan karena kedudukan resmi yang jelas merupaikan alasan penting untuk dimintai nasihat. Penyebab ketiga, karena penasihat berpengetahuan nisbi unggul, entah pengetahuan tentang agama atau
                                                            
10

 Karl D. Jackson. Kewibawaan Tradisional, Islam, Dan Pemberontakan kasus darul Islam Jawa Barat. (Jakarta. Grafiti 1990). hlm 201.  11 Ibid. hlm 202.

16   

pengetahuan tentang dunia di luar desa. Penyebab keempat, karena penasihat sebatas teman sedesa. 12 Patron-Client Relationship Menurut Keith R. Legg, hubungan yang tidak terjalin diantara dua pihak tidak mungkin merupakan tautan tuan-hamba, namun tidak setiap bentuk hubungan yang terdiri dari dua pihak merupakan hubungan tuan-hamba. Hubungan tuan hamba timbul bila syarat-syarat berikut ini terpenuhi diantaranya adalah; (1) hubungan di antara para pelaku atau perangkat para pelaku yang menguasai sumber daya yang tidak sama, (2) hubungan yang bersifat khusus (particularistic), hubungan pribadi dan sedikit banyak mengandung kemesraan (affectivity), dan (3) hubungan yang berdsarkan asas saling menguntungkan dan saling memberi dan menerima. 13 Lemarchand menyatakan bahwa “Setiap tautan tuan-hamba selalu melekat hubungan timbal balik antara perorangan (atau kelompok perorangan) dimana pengaruh ditentukan oleh kemampuannya memberikan pelayanan, barang atau sesuatu yang bernilai yang diinginkan oleh pihak lain sehingga pihak yang lain itu pun terimbas untuk membalas kebaikan tersebut dalam bentuk perhatian, pelayanan, barang atau sesuatu yang bernilai”. 14 Asas yang menyatakan bahwa, hubungan-hubungan tuan hamba hanya terjadi diantara para pelaku yang tidak sama, baik kekayaan maupun kedudukannya, dengan kata lain, hubungan tersebut timpang, diterima tanpa dipersoalkan lebih lanjut. Uraian mengenai motivasi terjadinya hubungan tuanhamba sering bertitik berat pada kebutuhan pihak hamba. Namun, urain-uraian khusus, terutama mengenai tautan tuan hamba di bidang politik, menunjukkan bahwa pihak tuanlah yang sering menjadi pemrakarsa. Pihak hamba, setelah menikmati prestasi yang diberikan oleh pihak tuan, baru berkewajiban membalasnya. Dalam tukar menukar itu, pihak hamba berkedudukan

                                                            
12 13

Ibid. hlm 226-227. Keith R. Legg. Tuan, Hamba, dan Politisi. (Jakarta.Sinar Harapan 1983). hlm 10. 14 Ibid. hlm 18.

17   

sebagai ”lumbung nilai” tempat pihak tuan menyimpan kredit sosial yang dapat diambil kembali diwaktu yang akan datang demi keuntungan dirinya. 15 Persamaan dan Perbedaan antara Kewibawaan Tradisional dan Patronase Kewibawaan tradisional dan patronase (atau hubungan patron-klien) jelasjelas berbagi banyak kualitas. Untuk memulai dengan kesamaan-kesamaan, kedua jenis hubungan ini merupakan hubungan vertikal, dwitunggal dan asimetris. Patron atau tokoh kewibawaan tradisional yang berjaya adalah seseorang yang memantapkan dirinya diperlukan sebagai perantara yang mutlak

antara sekelompok yang memiliki beraneka-ragam ketrampilan

yang salaing melengkapi. Baik para patron maupun para tokoh kewibawaan tradisional berhubungan dengan para pengikut mereka melalui pertukaran yang asimetris. Jadi si pengikut yang tertekan keras secara ekonomi akan memperoleh nafkah dari si pemimpin, tetapi sebagai imbalan ia secara sukarela memberikan tenaganya, hak suaranya, dan dalam beberapa kasus, bahkan nyawanya sekalipun. 16 Kualitas asimetris hal-hal yang akan dipertukarkan sampai batas tertentu menjadi penyebab mengapa hubungan patron-klien dan kewibawaan tradisional merupakan persatuan hal-halyang saling berlawanan, yang mempersatukan “kaum berpunya” dengan “kaum tak berpunya”, kaum yang berpengetahuan dengan kaum yang tak berpengetahuan dan si berkuasa dengan si tak berdaya politik. Hubungan kewibawaan tradisional telah diberkati dengan kualitas yang amat efektif. Sekali hubungan itu telah dimantapkan dengan kokoh, maka si pengikut akan terikat untuk patuh tanpa memandang isi keperluan keuangan permintaan si pemimpin yang segera. Sebaliknya, dalam patronase neraca antara ikatan-ikatan afektif dan yang bersifat membantu secara pasti miring kepada keuntungan yang belakangan. 17 Hubungan patron klien dalam afiliasi partai di desa merupakan hasil hubungan uang yang terus-terang. Dimana kaum tani miskin semata-mata
                                                            
15 16

Ibid. hal 11. Ibid. hal 204. 17 Ibid. hal 205-206

18   

bergabung dengan partai yang menawarkan harga tertinggi untuk padi mereka. Suatu dalil untuk memperkirakan bahwa afiliasi politik hanya tetap mantap selama pasaran terus dikuasai oleh penawar yang sama. Sang patron hanya mengendalikan klien selama patron yang lebih kaya tidak mencoba mengajukan tawaran yang lebih tinggi ketimbang patron pertama.
18

Kewibawaan tradisional cenderung untuk diwariskan dari generasi ke generasi, sedangkan patron dipilih terutama karena pencapaian-pencapaianya telah menandainya sebagai seseorang kepada siapa orang yang ingin menempel. 19 Jika seorang secara patut memanfaatkan martabatnya, memelihara

kedudukannya sebagai gudang pengetahuan khusus dan terlebih-lebih lagi memenuhi etiket kedudukannya sebagai “bapak”, maka ia akan dipercaya dan diikuti. 20 1.6 Metode dan Prosedur Penelitian I .6.1 Fokus Penelitian Penelitian ini merupakan usaha memahami hubungan Elite-Massa dalam konteks politik desa yang akan kita lakukan dalam penelitian ini. Hubungan Patron Klien ini terbagi menjadi 2 terminologi konsep, yaitu Traditional Authority Relationship dan Patront Client Relationship. Pada saat yang sama, penelitian ini akan lebih luas daripada hanya tentang hubungan elite Massa, namun merupakan representasi konsep tersebut dalam penerapannya diranah pemerintahan desa. Kemudian peran serta elite dalam pembuatan keputusan dan kebijakan di desa tersebut juga termasuk dalam fokus penelitian kami. 1.6.2 Tipe Penelitian Tipe penelitian yang dipakai dalam penelitian hubungan elite – massa ini adalah deskriptif – kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau
                                                            
18 19

Ibid. hal 246. Ibid. hal 208. 20 Ibid. hal 251. 

19   

berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu. 21 Dengan demikian format deskriptif kualitatif sangat tepat untuk digunakan dalam meniliti hubungan elite – massa di desa Mejayan kecamatan Mejayan Caruban. 1.6.3 Subyek Penelitian Subyek penelitian dalam meneliti hubungan Elite massa dalam pemerintahan desa di Mejayan, kecamatan Mejayan, Kota Madiun Jawa Timur adalah : 1. Elite desa Mejayan, secara politis dan birokrasi yaitu, kepala desa, sesepuh desa, perangkat pemerintahan daerah (BPD) yang memiliki pengaruh (influence). Sebagai subyek yang mewakili elite desa juga akan melakukan wawancara secara Informal. 2. Sebagai informan yang mewakili massa, wawancara kita menggunakan beberapa warga desa yang akan diwakili oleh perwakilan dari setiap dusun yang representatif dan mengetahui banyak tentang pengaruh hubungan elite desa tersebut. Demi memperoleh validitas informasi. 1.6.4 Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam. Observasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk membuat deskripsi kualitatif tentang perilaku atau kultur dari kelompok tertentu, atau komunitas tertentu. Kami memilih menggunakan metode observasi sebab metode ini memiliki beberapa keunggulan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian kami, diantaranya adalah sebagai berikut; (1) arti penting konteks dapat dikaji, (2) riset observasi dapat membantu kita
                                                            
21

 Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif. (Jakarta: Kencana 2007). Hlm. 68 

20   

memahami cara pembuatan keputusan, (3) membantu kita memahami proses dan praktik, dan (4) berguna untuk menganalisis perilaku. 22 Dokumentasi dalam penelitian ini merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan data-data sekunder yang telah ada sebagai sumber acuan dalam penelitian. Dokumen yang dimaksud diantaranya adalah meliputi datadata kependudukan setempat, data-data partisipasi politik warga setempat dalam pemilu, data-data kepemilikan sumber daya setempat, dan hal lain sebagainya yang bisa didapat melalui lembaga serempat seperti Kantor Kepala Desa maupun instansi-instansi terkait. Kemudian apabila data yang dibutuhkan tidak tersedia, peneliti dapat menggunakan kuesioner sebagai alat untuk memperoleh data sekunder yang akan dibagikan kepada pihak-pihak terkait dan warga sekitar pada umumnya. Pada proses untuk memperoleh data kualitatif, dilakukan wawancara mendalam terhadap beberapa pihak yang dianggap menguasai masalah penelitian ini. Wawancara merupakan cara/teknik pengumpulan data dengan mengadakan wawancara langsung secara mendalam dengan pihak-pihak yang terkait. 23 Wawancara dipilih sebagai teknik pengumpulan data disini sebab memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah wawancara dapat dijadikan sebagai jembatan informasi apabila akses kepada dokumen sangat dibatasi, selain itu kaitannya dengan pendekatan hubungan elite-massa yang akan kita teliti dalam penelitian ini, wawancara sangat berguna dalam melengkapi dokumen mengenai rekonstruksi peran tokoh, dan hubungannya dengan tokoh lain. 24 1.6.5 Teknik Analisis Data

Penelitian ini merupakan kajian sosiologis mikro dengan mengamati elite dan massa lokal pada tipologi kawasan pedesaan. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif berbeda dengan kuantitatif yang
                                                            
22

Lisa Harrison. Metodologi Penelitian Politik.(Jakarta:Kencana 2007). hlm.93-94  Burhan Bungin, op.cit, hlm. 331 24 Lisa Harrison, op.cit, hlm. 108
23

21   

dijelaskan oleh Aliran positivis, yang pada pengukuran amat menekankan pada pengukuran konsep. Sedangkan analisis kualitatif sendiri beraliran konstruktivis dan menggunakan metode wawancara yang amat berguna karena dengan cara ini orang bisa bebas dan menyajikan pandangannya sesuai dengan term mereka sendiri. 25 Kemudian untuk data kualitatif, digunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan verstehen untuk menganalisa pola hubungan elite-massa di desa tersebut. Pendekatan verstehen merupakan pendekatan yang menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam. Dalam melakukan verstehen, seorang peneliti harus masuk dalam pikiran informan. Oleh karena itu, fenomenologi harus menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan partisipan, wawancara yang intensif agar mampu menyibak orientasi subyek atau dunia kehidupannya. 26

                                                            
25 26

Ibid., hlm. 87  Basrowi, Muhammad. Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. (Surabaya: Kampusina 2004) . hlm. 59 

22   

BAB II GAMBARAN UMUM DESA 2.1 Sejarah Singkat Desa Desa Mejayan merupakan bagian dari kerajaan Mataram. Asal muasal wilayah ini bermula dari perkelanaan Raden Ngabei Prawiro Dipuro selaku anak dari pejabat di kraton mataram yaitu, Raden Mangku Prawiro Dipuro. Babat alas yang dilakukan sang Raden menuai hasil yang nyata, hal ini dibuktikan dengan penduduk desa yang semakin ramai. Kearifan dan kebijaksanaan yang membuat masyarakat menyegani keberadaan Raden Ngabei Prawiro Dipuro. Padang bulan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh bocah-bocah di desa tersebut. Permainan-permainan tradisional dimainkan untuk mengisi momentum tersebut. Di suatu saat ketika datang padang bulan, bocah-bocah yang bermain tibatiba nggeblak. Warga desa pun bingung dengan keadaan tersebut.akhirnya salah satu dari mereka melaporkan kejadian tersebut kepada sang Raden, dengan sigapnya Raden segera melihat keadaan warganya. Raden Ngabei Prawiro Dipuro merasa heran akan perihal tersebut, lantas ia segera memeriksa apa penyebabnya. Dengan bantuan perot dan ayu akhirnya Raden Ngabei Prawiro Dipuro berhasil menemukan penyebab peristiwa yang terjadi. Perot dan Ayu merupakan jin yang senantiasa mengabdi kepada sang Raden. Perot dan Ayu pun segera melaporkan asal muasal kejadian tersebut, ternyata peristiwa tersebut disebabkan oleh jin dan dedemit. Raden marah besar ketika mengetahui hal tersebut, segera ia memerangi sekumpulan jin tersebut. Peperangan tersebut membuahkan kemenangan Raden Ngabei Prawiro Dipuro, dan kekalahan jin. Jin pun meminta maaf kepada sang raden, tetapi sang Raden malah memberikan syarat bahwa para jin harus memerangi bala tentaranya sendiri. Akhirnya para jin menyanggupi syarat tersebut, dan pada akhirnya masyarakat dapat menjalani aktifitas seperti biasa tanpa ada gangguan dari para jin. Dari cerita itulah muncul kata mejayan yang berarti orang yang jaya, bagi
23   

warga desa kejayaan di desa ini berasal dari pertarungan antara jin dan sang raden yang dapat menyembuhkan penyakit warga desa yang disebabkan oleh para jin. Kejayaan itupun berangsur-angsur datang dengan sumber daya alam melimpah yang dihasilkan oleh sawah-sawah di desa tersebut. Tidak hanya sebuah nama yang dihasilkan dari pertarungan tersebut, ritual dongkrek pun menjadi hasil cipta karya dari sebuah cerita berdirinya desa ini.

Pada tahun 1867 ritual tersebut dilahirkan, dongkrek yang berarti Dongane Kawulo Rakyat Liggalino Kasarasan atau dalam bahasa Indonesia berarti doa seluruh masyarakat desa. Ritual ini merupakan ritual yang dijalankan setiap malam satu suro, jumat pahing, dan jumat legi. Ritual ini ditujukan kepada para leluhur desa yang senantiasa membantu Raden Prawiro Dipuro, seperti Mbah Singo, Mbah Palang, ayahanda dari sang Raden yaitu Raden Mangku Dipuro. Arak-arakan berkeliling desa dan bersih desa tak terkecuali punden-punden yang dipercaya memiliki kekuatan ghaib juga turut menjadi sasaran ritual tahunan ini. Banyak warga yang turut hadir mengikuti acara ritual yang dulunya dipimpin oleh Kepala Desa Mejayan yaitu Mbah Dul, beliau dianggap warga sebagai salah satu leluhur desa Mejayan bahkan seluruh warga Caruban sendiri. Saat ini ritual ini sudah diturunkan kepada menantunya yaitu suami Ibu Sumiyati putri dari Mbah Dulrahi

24   

2. 2 Keadaan Dan Perkembangan Penduduk

DESA MEJAYAN
JUMLAH

BULAN : FEBRUARI 2012
TAMBAH L 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25  P 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 BERKURANG L 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 P 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 JUMLAH L 74 127 86 94 131 73 80 143 163 122 94 72 116 89 129 167 P 83 141 94 85 143 88 92 134 173 147 106 76 124 88 127 134 JML 157 268 180 179 274 161 172 277 336 269 200 148 240 177 256 301

TAHAPAN MISKIN HM 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 M 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 SM 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

KELUARGA NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 RT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 NAMA KK Yunus Parno Suyono Hariyanto Purno Sugandi Sukadi R. Hartono Wartadi Hari Martanto Soetomo Jono Bandriyo Hartuko Sungkono Suparman Yuli Sujono JUMLAH KK 52 84 64 54 89 55 61 86 109 88 57 47 67 51 84 98 P 74 127 86 94 131 73 80 143 163 122 94 72 116 89 129 167 L 83 141 94 85 143 88 92 134 173 147 106 76 124 88 127 134

 

17 18 19 20 21

17 18 19 20 21

Sasang Wawan Pujiono Joko P Suparno, Spd Mikun HS

54 78 124 88 77 1567

85 158 227 144 132 2506

79 133 206 144 116 2513

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

85 158 227 144 132 2506

79 133 206 144 116 2513

164 291 433 288 248 5019

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0

JUMLAH

Tabel 1.1 Data Jumlah Penduduk dan Tahapan Miskin Sumber: Data Sekretaris Desa Mejayan

26   

Data diatas adalah data jumlah penduduk desa Mejayan, kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun pada bulan Februari tahun 2012. Dimana ada enam dusun di desa Mejayan yaitu dusun Sumber suko, dusun Gendoman, dusun Mejayan, dusun Porong,dusun Kronggahan,dusun Sangrahan-Robahan. Dan ada dua puluh satu RT di desa mejayan. Dusun SumberSuko terdiri dari RT 01, RT 02, RT 03, RT 04. Dusun Gendoman terdiri dari RT 05, RT 06, RT 07. Dusun Mejayan RT 08, RT 09, RT 10. Dusun Porong RT 11, RT 12, RT 13, RT 14. Dusun Kronggahan RT 15, RT 16, RT 18. Dusun Robahan-Sanggrahan RT 19, RT 20, RT 21. Pada RT 01 berjumlah Kepala Keluarga lima puluh dua, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah tujuh puluh empat kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah delapan puluh tiga kepala. Pada RT 02 berjumlah Kepala Keluarga delapan puluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus duapuluh tujuh kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus empatpuluh satu. RT 03 berjumlah Kepala Keluarga enampuluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah delapan puluh enam kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah sembilanpuluh empat. RT 04 berjumlah Kepala Keluarga limapuluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah sembilan puluh empat kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah delapan puluh lima kepala. RT 05 berjumlah Kepala Keluarga delapan puluh sembilan, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus tigapuluh satu kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus empatpuluh tiga kepala. RT 06 berjumlah Kepala Keluarga lima puluh lima, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah tujuh puluh tiga kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah delapan puluh delapan kepala. RT 07 berjumlah Kepala Keluarga enam puluh satu, jumlah warga lakilakinya pada RT ini berjumlah delapan puluh kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah sembilan puluh dua kepala. RT 08 berjumlah Kepala Keluarga delapan puluh enam, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus empatpuluh tiga kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus tigapuluh empat kepala. RT 09 berjumlah Kepala Keluarga seratus sembilan, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus enampuluh tiga kepala
27   

dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus tujuhpuluh tiga kepala. RT 10 berjumlah Kepala Keluarga delapanpuluh delapan, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus duapuluh dua kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus empat puluh tujuh kepala. RT 11 berjumlah Kepala Keluarga lima puluh tujuh, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah sembilan puluh empat kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus enam kepala. RT 12 berjumlah Kepala Keluarga empat puluh tujuh, jumlah warga lakilakinya pada RT ini berjumlah tujuh puluh dua kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah tujuh puluh enam kepala. RT 13 berjumlah Kepala Keluarga enam puluh tujuh, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus enambelas kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus duapuluh empat kepala. RT 14 berjumlah Kepala Keluarga lima puluh satu, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah delapanpuluh sembilan kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah delapan puluh delapan kepala. RT 15 berjumlah Kepala Keluarga delapanpuluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus duapuluh sembilan kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus tigapuluh empat kepala. RT 17 berjumlah Kepala Keluarga lima puluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah delapan puluh lima kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah tujuhpuluh sembilan kepala. RT 18 berjumlah Kepala Keluarga tujuhpuluh delapan, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus limapuluh delapan kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus tigapuluh tiga kepala. RT 19 berjumlah Kepala Keluarga seratus duapuluh empat, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah dua ratus duapuluh tujuh kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah dua ratus enam kepala. RT 20 berjumlah Kepala Keluarga delapan puluh delapan, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus empatpuluh empat kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus empatpuluh empat kepala. RT 21 berjumlah Kepala Keluarga tujuh puluh tujuh, jumlah warga laki-lakinya pada RT ini berjumlah seratus tigapuluh dua kepala dan jumlah warga perempuan berjumlah seratus enambelas kepala.
28   

A. Jumlah Keluarga
KK LAKI- KK JUMLAH TOTAL

NO JUMLAH
JUMLAH KEPALA KELUARGA TAHUN 1 2011 JUMLAH KEPALA KELUARGA TAHUN 2 3 2010 PRESENTASE PERKEMBANGAN

LAKI

PEREMPUAN

1149 KK

148 KK

1425 KK

1146 KK -33,30%

171 KK 4,30%

1313KK -28%

Tabel 1.2 Jumlah Keluarga Desa Mejayan 2010-2011 Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan Tabel diatas menjelaskan tentang perkembangan penduduk tahun dari 2010 hingga 2011. Dimana ada jumlah kepala keluarga tahun 2010 yang KK lakilaki seribu seratus empatpuluh enam kepala. Dan KK perempuan seratus tujuhpuluh satu. Dan jumlah totalnya seribu tigaratus tigabelas. Pada tahun 2011 KK laki-laki jumlah seribu seratus empatpuluh sembilan. KK perempuan seratus empatpuluh delapan. Jumlah total seribu empat ratus duapuluh lima. Dari tahun 2010 hingga 2011 mengalami banyak sekali penurunan jumlah KK pada laki-laki dan perempuan. Dengan jumlah presentase KK laki-laki 33,30% dan KK perempuan 4,30%. Jumlah presentase dari dua tahun tersebut adalah -28%. Karena banyak penurunan maka presentase juga menurun yaitu 28%. Karena data diatas tidak menggambarkan peningkatan tetapi penurunan. B. Agama
NO AGAMA 1 2 3 4 5 6 7 ISLAM KRISTEN KHATOLIK HINDU BUDHA KONGHUCU KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN YME LAKI-LAKI 2488 ORANG 81 ORANG 16 ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG PEREMPUAN JUMLAH 2444 ORANG 87 ORANG 20 ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG 4932 ORANG 168 ORANG 36 ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG ...ORANG

29   

8

ALIRAN KEPERCAYAAN LAINNYA

...ORANG 2585 ORANG 5136 ORANG

...ORANG 2551 ORANG

...ORANG 5136 ORANG

JUMLAH JUMLAH TOTAL

Tabel 1.3 Jumlah Penganut Agama Desa Mejayan Sumber: Data kependudukan Desa Mejayan Tabel diatas data tentang agama yang dianut oleh penduduk Desa Mejayan, kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Penganut agama Islam yang laki-laki berjumlah duaribu empatratus delapanpuluh delapan. Perempuan berjumlah duaribu empatratus empatpuluh empat. Dengan jumlah keseluruhan penganut agama Islam empatribu sembilanratus tigapuluh dua. Dan penganut agama Kristen yang laki-laki delapanpuluh satu. Perempuan berjumlah delapanpuluh tujuh. Dengan jumlah keseluruhan penganut agama Kristen seratus enampuluh delapan. Penganut agama Katolik yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah enambelas orang. Dan yang perempuan duapuluh orang. Dengan jumlah semua yang menganut agama Katolik berjumlah tigapuluh enam. Jumlah penganut agama hindu berjenis kelamin laki-laki adalah nol orang. Dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah nol. Maka tidak ada jumlah penganut agama Hindu. Jumlah penganut agama Budha berjenis kelamin laki-laki adalah nol orang. Dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah nol. Maka tidak ada jumlah penganut agama Budha. Jumlah penganut agama Konghucu berjenis kelamin laki-laki adalah nol orang. Dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah nol. Maka tidak ada jumlah penganut agama Konghucu. Jumlah penganut agama Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa berjenis kelamin laki-laki adalah nol orang. Dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah nol. Maka tidak ada jumlah penganut agama Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jumlah penganut agama Aliran kepercayaan berjenis kelamin laki-laki adalah nol orang. Dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah nol. Maka tidak ada jumlah penganut agama Aliran Kepercayaan Lainnya. Total jumlah penganut agama yang berjenis kelamin laki-laki ada duaribu lima ratus delapanpuluh lima. Dan jumlah penganut agama yang berjenis kelamin perempuan totalnya duaribu limaratus limapuluh lima. Dan jumlah
30   

keseluruhan limaribu seratus tigapuluh enam. Maka mayoritas penduduk Desa Mejayan adalah beragama Islam, kemudian agama Kristen dan terakhir agama Katolik. C. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan LULUSAN PENDIDIKAN JML (Orang) KHUSUS - Pondok Pesantren 22 Madrasah 781 Pend. Keagamaan 972 SLB

JML UMUM (Orang) TK 6 SD 10 SLTP SLTA AKADEMI D15 D3 224 Kursus Ketrampilan 17 SARJANA S16 S3 291 Tabel 1.4 Jumlah Penduduk dan Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Mejayan No 1 2 3 4 Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan Data diatas adalah data jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan warga Desa Mejayan. Dimana yang data diatas adalah data pendidikan yang ditempuh oleh warga Mejayan. Jumlah warga dengan pendidikan terakhir tingkat TK ada nol penduduk. Kemudia pendidikan terakhir SD adalah dua puluh dua orang. Kemudian pendidikan terakhir pada tingkat SLTP adalah tujuh ratus

delapan puluh satu orang. Dan Sembilan ratus delapan puluh satu orang menempuh pendidikan terakhir pada tingkat SLTA. Dan yang menempuh tingkat pendidikan terakhir Sarjana sebanyak dua ratus Sembilan puluh satu. Kemudian data diatas juga mencantumkan pendidikan khusus yang yang ditempuh oleh warga Mejayan. Pada pendidikan terakhir menempuh pesantren berjumlah enam orang. Kemudian Madrasah pada pendidikan terakhirnya berjumlah sepuluh orang. Kemudian tingkat pendidikan terakhir yang menempuh pendidikan keagamaan berjumlah nol orang. Dan yang pendidikan terakhir SLB berjumlah nol orang. Dan juga pendidikan terakhir kursus/Ketrampilan berjumlah tujuhbelas orang.
31   

2.3 Keadaan dan Perkembangan Ekonomi Desa Mejayan 2.3.1 Usia Produktif NO URAIAN
1 2 3

KET 1917 orang .... .... .... .... 2 5 orang orang orang orang orang orang

Jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18-56 tahun) Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja tidak tentu Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan tidak bekerja Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan bekerja Tabel 1.5 Tabel Usia Produktif Penduduk Desa Mejayan Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan

4
5 6

7

Dari data diatas, dapat dijelaskan bahwa angkatan kerja usia 18-56 tahun yang menganggur sebesar Seribu sembilan ratus tujuhbelas, jumlah penduduk 1856 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja adalah nol orang. Kemudian jumlah penduduk 18-56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga adalah nol orang. Untuk kategori jumah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh adalah sebanyak nol orang. Untuk kategori jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja tidak tentu adalah sebanyak nol orang. Pada Pada kategori jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan tidak bekerja adalah sebanyak dua orang dari seribu sembilan ratus tujuh belas orang. Sedangkan pada kategori jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan bekerja adalah sebanyak lima orang dari seribu sembilan ratus tujuh belas orang. Dapat disimpulkan bahwa
jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18-56 tahun) sebanyak seribu sembilan ratus

tujuh belas orang.

32   

2.3.2 NO URAIAN
1 2 3

Kesejahteraan
KET 153 445 199 127 73 kepala keluarga kepala keluarga kepala keluarga kepala keluarga kepala keluarga

jumlah kepala keluarga prasejahtera jumlah kepala keluarga sejahtera 1 jumlah kepala keluarga sejahtera 2 jumlah kepala keluarga sejahtera 3 jumlah kepala keluarga sejahtera 3 plus total jumlah kepala keluarga

4
5 6

1267 kepala keluarga

Tabel 1.6 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Desa Mejayan Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan Dari data tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa kategori jumlah kepala keluarga prasejahtera adalah sebanyak seratus lima puluh tiga kepala keluarga dari seribu dua ratus enam puluh tujuh kepala keluarga. Pada kategori jumlah kepala keluarga sejahtera 1 adalah sebanyak empat ratus empat puluh lima kepala keluarga dari seribu dua ratus enam puluh tujuh kepala keluarga. Untuk kategori jumlah kepala kerja sejahtera 2 terdapat sejumlah seratus sembilan puluh sembilan kepala keluarga dari seribu dua ratus enam puluh tujuh kepala keluarga. Kemudian untuk kategori 3 sebanyak seratus dua puluh tujuh kepala keluarga dari seribu dua ratus enam puluh tujuh kepala keluarga. Sedangkan pada kategori jumlah kepala keluarga sejahtera 3 plus adalah sebanyak tujuh puluh tiga kepala keluarga dari seribu dua ratus enam puluh tujuh kepala keluarga. Dapat disimpulkan bahwa di desa mejayan mayoritas kepala keluarga adalah kategori jumlah kepala keluarga sejahtera 1 dengan jumlah empat ratus empat puluh lima kepala kelurga, kemudian kepala keluarga sejahtera 2 dengan jumlah seratus sembilan puluh sembilan kepala keluarga, kepala keluarga pra sejahtera dengan jumlah seratus lima puluh tiga kepala keluarga, kepala keluarga sejahtera 3 dengan jumlah seratus dua puluh tujuh kepala keluarga, dan yang terakhir adalah kepala keluarga sejahtera 3 plus dengan jumlah tujuh puluh tiga kepala keluarga.
33   

2.3.3

Mata Pencaharian Pokok
LAKI-LAKI 255 orang 221 orang 57 orang 21 orang 18 orang 3 orang PEREMPUAN 205 orang 17 orang 11 orang 1 orang 3 orang 5 orang 6 orang 9 orang -

NO JENIS PEKERJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Petani Buruh Tani Buruh migran perempuan Buruh migran laki-laki Pegawai Negeri Sipil Pengrajin industri rumah tangga Pedagang keliling Peternak Nelayan Montir Dokter swasta Bidan swasta Perawat swasta Pembantu rumah tangga TNI POLRI Pensiunan PNS/TNI/POLRI Penguasa kecil dan menengah Pengecara Notaris Dukun Kampung Terlatih Jasa pengobatan alternatif Dosen swasta Pengusaha besar Arsitektur Seniman/Artis
34 

10 orang 11 orang 19 orang 3 orang

8 orang 1 1 -

 

27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

Karyawan perusahaan swasta Karyawan perusahaan pemerintah Makelar/broker/mediator Sopir Tukang becak Tukang Ojek Tukang Cukur Tukang Batu/kayu Kusir Dokar
........................ ........................ Jumlah Jenis Mata Pencaharian Jumlah Total Jenis Mata Pencaharian

17 orang 2 orang 6 orang 10 orang 36 orang 1 orang 6 orang 47 orang -

14 orang 5 orang 1 orang -

Tabel 1.7 Mata Pencaharian Penduduk Desa Mejayan Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan Dari data diatas dapat dijelaskan bahwa jenis pekerjaan petani terdapat sejumlah dua ratus lima puluh lima orang penduduk laki-laki dan nol penduduk prempuan. Untuk jenis pekerjaan buruh tani terdapat sejumlah dua ratus dua puluh satu penduduk laki-laki dan dua ratus lima penduduk perempuan. Untuk kategori buruh migran perempuan adalah sejumlah lima puluh tujuh orang. Untuk kategori buruh migran laki-laki adalah sebanyak dua puluh satu orang. Kategori jenis pekerjaan pegawai negeri sipil di desa majayan adalah sebanyak delapan belas orang penduduk laki-laki dan tujuh belas penduduk perempuan. Kategori jenis pekerjaan pengrajin industri rumah tangga adalah sebanyak tiga orang penduduk laki-laki dan sebelas orang penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pedagang keliling adalah sebanyak sepuluh orang penduduk laki-laki dan satu orang penduduk perempuan. Untuk kategori peternak di desa majayan terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan nelayan terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan.

35   

Untuk kategori jenis pekerjaan montir adalah sebanyak sebelas penduduk laki-laki dan nol penduduk permpuan. Untuk kategori jenis pekerjaan dokter swasta terdapat nol penduduk lakilaki dan tigga orang penduduk perempuan. Kategori jenis pekerjaan bidan swasta terdapat nol penduduk laki-laki dan lima penduduk perempuan. Kategori jenis pekerjaan perawat swasta terdapat nol penduduk laki-laki dan enam orang perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pembantu rumah tangga sebanyak nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan TNI terdapat Sembilan belas penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan POLRI terdapat tiga penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pensiunan PNS/TNI/POLRI terdapat delapan orang penduduk laki-laki dan Sembilan penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pengusaha kecil dan menengah terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pengacara terdapat satu penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan notaries terdapat nol penduduk laki-laki dan nol

penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan dukun kampong terlatih terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan jasa pengobatan alternative terdapat satu penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan dosen swasta terdapat nol penduduk lakilaki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan pengusaha besar terdapat nol prnduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan arsitektur terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan seniman/artis terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan karyawan perusahaan swasta terdapat tujuh belas penduduk laki-laki dan empat belas penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan karyawan perusahaan pemerintah terdapat dua penduduk laki-laki dan lima penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan makelar/broker/mediator terdapat enam penduduk lakilaki dan satu penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan sopir terdapat
36   

sepuluh penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan tukang becak terdapat tiga puluh enam penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan tukang ojek terdapat satu penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan tukang cukur terdapat enam penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan tukang batu/kayu terdapat empat puluh tujuh penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan. Untuk kategori jenis pekerjaan kursi dokar terdapat nol penduduk laki-laki dan nol penduduk perempuan.

37   

2.4 Keadaan dan Perkembangan Politik Desa Mejayan 2.4.1 Partisipasi Politik NO URAIAN
1 2 3 jumlah penduduk yang memiliki hak pilih jumlah penduduk yang menggunakan hak pilih pada pemilu legislatif yang lalu jumlah perempuan dari penduduk desa ini yang aktif dipartai jumlah partai politik yang memilki pengurus sampai di desa ini jumlah partai politik yang mempunyai kantor di wilayah di desa ini jumlah penduduk yang menjadi pengurus partai politik dari desa jumlah penduduk yang dipilih dalam pemilu legislatif yang lalu jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilihan presiden/wakil KET 3613 2830 1 1 .... .... 8 2850 orang orang orang orang orang orang orang orang

4
5 6

7
8

Tabel 1.8 Partisipasi Politik Penduduk Desa Mejayan Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan Dari data pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk yang memiliki hak pilih terdapat tiga ribu enam ratus tiga belas orang. Sedangkan jumlah penduduk yang menggunakan hak pilih pada pemilu legislatif yang lalu terdapat dua ribu delapan ratus tiga puluh orang. Untuk kategori jumlah perempuan dari penduduk desa ini yang aktif dipartai adalah sebanyak satu orang. Untuk kategori jumlah partai politik yang memilki pengurus sampai di desa ini adalah sebanyak satu orang. Untuk kategori jumlah partai politik yang

mempunyai kantor di wilayah di desa ini dan jumlah penduduk yang menjadi pengurus partai politik dari desa juga sebanyak nol orang. Untuk kategori jumlah penduduk yang dipilih dalam pemilu legislatif yang lalu terdapat delapan orang. Sedangkan jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilihan presiden/wakil adalah sebanyak dua ribu delapan ratus lima puluh orang.

38   

2.4.2 Pemilihan Kepala Daerah NO URAIAN jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih pada pemilu
1 KET 3990 orang

Bupati/Walikota lalu jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih pada pemilu

2

Gubernur lalu jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilu

3497 orang

3 4

Bupati/Walikota lalu jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilu Gubernur yang lalu

2653 orang

2289 orang

Tabel 1.9 Tabel Jumlah Partisipasi Penduduk Desa Mejayan dalam Pemilu Sumber: Data Kependudukan Desa Mejayan

Dari data pada table diatas, dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk yang memiliki hak pilih dalam pemilu Bupati/Walikota lalu terdapat tiga ribu sembilan ratus Sembilan puluh orang. Untuk kategori jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih pada pemilu Gubernur lalu terdapat tiga ribu empat ratus Sembilan puluh tujuh orang. Sedangkan untuk kategori jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilu Bupati/Walikota lalu terdapat dua ribu enam ratus lima puluh tiga orang. Dan untuk kategori jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam pemilu Gubernur yang lalu terdapat sebanyak dua ribu dua ratus delapan puluh Sembilan orang.

39   

2.4.3

Hasil Pemilihan Umum 2009
NO 1 2 3 HASIL PEMILU PEMILIH TPS HASIL PEMILU PDIP GOLKAR PKB DEMOKRAT PKS HANURA JUMLAH(ORANG, SUARA/BUAH) 4076 8 119 796 421 364 117 79

Data diatas adalah hasil pemilu umum tahun 2009 yang diikuti oleh empat ribu tujuh puluh enam pemilih pada Desa Mejayan. Dan juga terdapat data tentang partai politik yang banyak dipilih oleh warga Desa Mejayan pada tahun 2009. Dalam pemilu 2009 ini, terdapat delapan Tempat Pemungutan Suara yang biasa kita sebut sebagai TPS yang tersebar di berbagai penjuru Desa Mejayan. Adapun hasil pemilu 2009 tersebut yang memperoleh suara terbanyak diduduki oleh partai Golkar dengan perolehan suara sebanyak tujuh ratus Sembilan puluh enam suara sah. Pada posisi suara terbanya kedua diduduki oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan perolehan suara sebanyak empat ratus dua puluh satu suara sah. Pada posisi suara terbanyak ketiga diduduki oleh Partai Demokrat sebanyak tiga ratus enam puluh empat suara sah. Pada posisi suara terbanyak keempat diduduki oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan perolehan suara sebanyak seratus Sembilan belas suara. Pada posisi suara terbanyak kelima diduduki oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selisih dua perolehan suara yang didapat oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjungan (PDI) dengan perolehan suara sebanyak seratus tujuh belas perolehan suara sah. Sedangkan perolehan suara terakhir diduduki oleh Partai Hanura dengan perolehan suara sebanya tujuh puluh sembilan suara sah.

40   

2.4.4 SUSUNAN KEPENGURUSAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DESA MEJAYAN KECAMATAN MEJAYAN KABUPATEN MADIUN

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

NAMA ADRIANTO SE.MM SUNYOTO ANIK SULISDYANINGRUM SE SUNARTO. SPd SUYONO TRI BUDIYONO Drs.PURYONO DARMANTO. SpdI SURYANTO.SPd KARYONO H. SUBROTO NGALIYEM. SPd SD

JABATAN KETUA WAKIL KETUA SEKRETARIS BENDAHARA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

PEKERJAAN PNS SWASTA SWASTA GURU SWASTA SWASTA SWASTA GURU GURU SWASTA GURU

PENDIDIKAN S2 SLTA S1 S1 SLTA SLTA S1 S1 S1 S1 S1

KETERANGAN TOKOH MASYARAKAT TOKOH PEMUDA TOKOH MASYARAKAT TOKOH MASYARAKAT TOKOH MASYARAKAT TOKOH PEMUDA TOKOH PROFESI TOKOH AGAMA TOKOH MASYARAKAT TOKOH MASYARAKAT TOKOH WANITA

41   

2.5 Struktur Pemerintahan Desa Mejayan

no  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  13 

Nama   Titik Handayani  Drs. Suparman  Suyana  Dodi Satria Nugroho  Suratmin  sukidi   widia Tri Rahayu  Santoso  Lilik Suwarno  Sumiati  Saji  Mahanani Mei   Suyud 

Jabatan   Kepala Desa  Seketaris Desa  Kasun Mejayan.Gendoman  Kasun SumberSoko  Kasun Porong  Kasun Kronggahan  Kasun  Sanggrahan  Robahan  Staf UR Pemerintahan  Staf UR Kesra  Staf UR Keuangan  Staf UR UMUM  Staf UR Pembangunan  PEMB.Staf UR Pemer 

Tempat‐Tanggal Lahir   Madiun 01‐05‐1956  G.Kidul 04‐06‐1962  Nganjuk 14‐10‐1982  Madiun 29‐12‐1968  Madiun 19‐12‐1959  Madiun 10‐07‐1953  Madiun 19‐06‐1988  Madiun 25‐04‐1968  Madiun 05‐05‐1951  Madiun 19‐05‐1960  Madiun 05‐06‐1962  Surabaya 01‐05‐1977  Ngawi 04‐11‐1959 

Pendidikan  SMP  Sarjana  SLTA  SMA   STM  STN  SLTA  STM  SMP  SMEA  STN  Sarjana  SMP 

Tanggal dan No SK  188.45/722/KPTS/402.013/2008  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/85  141/01/402.305.11/SK/2011  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/85  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/86  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/87  141/01/402.305.11/SK/2011  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/85  29/09/84.no.141/10/414.12/SK/84  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/84  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/85  141/01/402.305.11/SK/2011  15/6/85 no.141/46/432.11/SK/85 

Luas Bengkok  4 ha  2.5 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha  1 ha 

42   

2.6 Peta Desa

43   

BAB III TEMUAN DAN ANALISIS DATA

3.1 POLA HUBUNGAN ELITE-MASSA DI DESA MEJAYAN 3.1.1 Pola Hubungan Patron-Client

Desa Mejayan memiliki lima dusun yaitu dusun Sumbersuko, dusun Gendoman Mejayan, dusun Porong, dusun Kronggahan, dan dusun Sanggrahan Robahan. Penyusun melihat interaksi sosial yang ada di dusun Porong guna mendapatkan informasi tentang hubungan patron client yang ada di dusun porong tersebut. Dalam penelitian yang penyusun lakukan menemukan bahwa pola hubungan patron-client telah ditemukan ditengah kehidupan masyarakat Mejayan di dusun Porong. Kondisi perekonomian masyarakat Mejayan khususnya dusun Porong memang sangat menarik untuk diteliti. Yang penyusun temukan di lapangan, bahwa di dusun Porong pola hubungan interaksi sosial nya masih terjalin sangat kuat. Di dusun Porong, hubungan antara warga satu dengan yang lain terjalin seperti keluarga. Salah satu bentuk interaksinya seperti pada saat ada warga yang memiliki hajatan, warga yang lain saling membantu, ada yang membantu dengan tenaga seperti membantu mempersiapkan acara dan ada juga yang membantu dana jika si pemilik hajatan lokasinya jauh. “ya kalo hajatan saya undang lah mbak, namanya juga hidup bermasyarakat, kalo butuh ya saya bantu.”(lampiran 3) Selain itu, jika di dusun Porong ada warganya yang meninggal tanpa ada pengumuman, warga sekitar langsung mengetahui berita tersebut, dan langsung melayat atau takziah di rumah duka, tentu saja dengan berbagai sumbangan dan
44   

atribut serangkaian tradisi yang ada di desa Mejayan. Di dusun Porong juga terdapat perkumpulan ibu-ibu pengajian yang rutin melakukan pengajian setiap selesai sholat maghrib, atau yang dilakukan rutin selama 2 minggu. di dalam perkumpulan pengajian tersebut juga terdapat struktur kepengurusan seperti ketua, sekertaris dan bendahara. Itu adalah contoh bentuk ketereratan hubungan yang ada di dusun porong tersebut. Untuk mendapatkan informasi tentang hubungan patron client yang ada di dusun Porong, penyusun mempertanyakan tentang perekonomian yang ada di dusun Porong. Melalui beberapa wawancara yang telah penyusun lakukan dapat dilihat pola hubungan patron-client yang ada di desa Mejayan. Di desa ini beberapa patronnya ada di dusun Porong, dalam proses menemukan realita yang ada dapat ditemukan fenomena bahwa yang pertama: Di desa mejayan terutama di dusun Porong banyak terdapat pemilik sawah, yang sawahnya kebanyakan terletak di luar desa Mejayan, walaupun masih ada beberapa yang sawahnya masih berada di desa Mejayan. Areal persawahan yang dimiliki oleh patron yang berada di dusun Porong sebagian besar dikelola oleh warga desa lain di luar desa Mejayan. “O, pekerja saya itu semua dari luar desa Mejayan Mas, dari Desa Ngepeh mas yang paling banyak, jadi penduduk desa mejayan ini hampir tidak ada yang jadi pekerja sawah, kebanyakan yang punya sawah, tapi sawahnya banyak yang diluar desa, kalo di desa ini ya sekitar porong dan Robahan Mas.”(lampiran 3) Di dusun Porong juga terdapat perangkat desa yang mempunyai kepemilikan Bengkok. Kemudian bengkok tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pekerja (client) dalam melaksanakan penggarapan sawahnya. Perangkat desa yang memiliki bengkok di dusun porong bernama pak Lilik Suwarno dan pak Saji. Setelah penyusun mewawancarai perangkat desa yang memiliki bengkok di dusun porong, penyusun mendapat informasi bahwa seluruh pekerja yang melakukan penggarapan di sawah bengkok tersebut semuanya berasal dari luar desa mejayan. Oleh karena itu
45   

penyusun tidak melanjutkan pertanyaan lebih mendalam kepada informan disebabkan hubungan patron client tersebut berada diluar desa Mejayan. Selain perangkat desa yang memiliki sawah, di dusun porong juga terdapat warga yang memiliki sawah pribadi, yaitu bernama Pak Sartono. Dalam pengelolaan sawah tersebut pak Sartono memiliki banyak pekerja, dengan luas sawah sebesar 1 hektar yang memiliki pekerja sekitar 6 orang dan satu mandor. “nah jelas saya mempekerjakan orang lain, Mas. Saya tidak terjun langsung dalam pengelolaannya. Saya punya kenalan orang yang mencari pekerjapekerja saya tersebut.”“kira kira ya 5-6 orang, orang saya itu ya kalo saya manggilnya pak Marmin, mbak”.(lampiran 3) Kemudian sistem kepemilikan sawah ini menjadi suatu sumber kekuasaan sebagai patron, Pemilik sawah yang berada di dusun porong tersebut memberikan upah atau gaji kepada pekerja dengan cara memberi upah perhari sebesar 30 ribu dan ditambah dengan makan 2 kali, kopi, rokok dan kue. Ini merupakan cara penggajian yang biasanya dilakukan oleh pemilik sawah, dari cara penggajian yang seperti ini dapat meningkatkan sense of belonging dalam keterikatan hubungan Patron dan Client. “biasanya sehari 30 ribu, ditambah makan pagi, siang dan sore itu minum kopi, kue dan Rokok, jadi kira kira 40. ribu mas.” (lampiran 3) Namun dalam pengelolaan sawah, pemilik memiliki orang kepercayaan bernama pak marmin yang mempunyai tugas mencari pekerja untuk mengelola sawah tersebut. sehingga bisa dilihat sebagai struktur alur koordinasi dalam pemberdayaan pekerja. Karena sebagian besar pekerja berasal dari luar desa dan penggunaan pekerja tersebut tidak selamanya selalu digunakan. Fungsi mandor tersebut salah satunya mengenai Sistem pemberian upah. awalnya dilakukan melalui mandor, kemudian baru didistribusikan ke pekerja, jelas mandor mempunyai lebih banyak proporsi dalam penggajian. kemudian intensitas interaksi sosial sangat mendalam baik dalam
46   

hal tradisi seperti hajatan dan slametan, maupun kepedulian sosial. Kemudian yang kedua, Di Desa Mejayan ini terutama di dusun Porong sebagai pusat pabrik roti rumahan (home Industri) yang sudah menjalani usaha selama 25 tahun. “wah sudah lama mas . sudah 25 tahun kurang lebihnya. ini ya kita kelola bersama dengan bapak, dan yang bantu ya teman teman. Kita bikin kue donat, bakpau, golang galing, dan molen.” (lampiran 4) Dalam pengelolaannya memang sudah menunjukkan hubungan Patron-client yang sangat kuat, dalam pengelolaannya banyak pekerja yang dipekerjakan di industri rumahan ini, namun sebagian besar pekerjanya (client) berasal dari luar wilayah Mejayan, bahkan melalui wawancara yang mendalam, sebagian besar berada di luar kabupaten Madiun. “kebanyakan dari desa Talok dan Mejayan mbak, tapi kebanyakan desa Talok, yang Mejayan sekarang sudah kerja sendiri membuat industri roti rumahan” (lampiran 4) jika tidak mempekerjakan orang luar daerah, pemilik industri juga dibantu oleh kerabat (keluarga) yang sudah masuk menjadi angkatan kerja. Namun karena perekonomian masyarakat mejayan adalah pemilik lahan pertanian, pedagang, PNS, dan pemilik home industry. Patron yang ada di Desa mejayan dalam perekonomian, lebih banyak memiliki client dari luar wilayah Mejayan. Sebagai Patron, para pengusaha dan pemilik sawah, hubungan dengan pekerjanya (client) memiliki sifat kekeluargaan, masih menjunjung tinggi sikap gotong royong yang cukup mendalam, hal ini terbukti dengan intensitas interaksi dan keterikatan emosional yang ada di desa tersebut, namun dalam konteks kegiatan ekonomi masih bersifat transaksional, hal ini dipengaruhi oleh majunya kegiatan ekonomi desa melalui usaha industri rumahan yang ada di desa Mejayan, terutama wilayah Patron salah satunya di dusun Porong.

47   

Pekerjaan Utama * Kegiatan Pemilihan Crosstabulation

Kegiatan Pemilihan Pemilihan ketua RT Pekerjaan Utama buruh tani Pertukangan pemborong bangunan Wirausaha PNS Perangkat desa Perusahaan Sendiri Karyawan Swasta Lain-lain Total 0 0 1 2 2 0 0 0 5 12 2 0 0 1 1 0 0 0 0 5 1 0 0 3 0 0 0 0 1 6 6 4 0 34 1 1 1 4 23 77 9 4 1 40 4 1 1 4 29 100 petani tanah sendiri 2 Pemilihan Ketua RW 1 Pemilihan Pemilihan Total 7

Kepala Dusun kepala Desa 1 3

48   

Tabel 1 Pengaruh Pekerjaan Terhadap Kegiatan Pemilihan Umum Desa Sumber: Data Peneliti Tabel diatas menjelaskan tentang hubungan antara pekerjaan utama dengan partisipasi para pemilih didalam pemilihan yang terjadi di Desa Mejayan. Kami mengamati bahwa pekerjaan mempengaruhi atas partisipasi memilih, dari tingkat RT, RW, kepala dusun hingga tingkat desa. Bisa dilihat dari tabel diatas bahwa partisipasi tertinggi terletak pada golongan wirausaha, kemudian kriteria menengah pada golongan selain pekerjaan yang diatas, seperti pengangguran dan ibu rumah tangga. Sedangkan tingkat partisipasi yang tergolong rendah pada PNS, Perangkat desa dan Perusahaan sendiri. Tabel diatas juga termasuk konsep Patron Client Relationship. Dengan alasan bahwa PNS tidak lagi diwajibkan dalam pemilu ataupun ada unsur paksaan lagi. Dimana PNS, perusahaan sendiri, Perangkat desa sudah sadar akan Hak dan kewajibannya. atasannya tidak lagi memiliki hak untuk mengatur ataupun menekan dalam konteks pemilu. Bagi golongan menengah penyusun menyimpulkan bahwa partisipasi mereka didorong oleh faktor uang yang dibagikan saat kampanye menjelang pemilihan. Implementasi realitas tersebut termasuk kemampuan influence yang sangat mendalam. Akan tetapi sangat berbalik dengan golongan wirausaha yang notabennya menengah kebawah. Bahwa dia memiliki kepentingan supaya ada kebijakan yang dapat menguntungkan usahanya agar tetap berjalan dengan normal. Dimana para calon pasti memberikan janji-janji kepada para wirausahawan akan mengeluarkan kebijakan yang akan menguntungkan usahanya. Contohnya pengadaan UKM yang awalnya sebagai pedangan kaki lima kemudian diberi fasilitas berupa tempat (warung) yang berasal dari sebuah kebijakan penguasa desa.

49   

Sedangkan hubungan patron-client yang emosional ini ditunjukkan secara intens ketika ada momen-momen istimewa, misalnya hajatan, atau slametan, patron akan lebih banyak memberikan barang, bantuan atau uang lebih dibandingkan dengan warga lainnya. Sedangkan dalam konteks mempekerjakan keluarga dalam hubungan Patron Client, dalam pengamatan kami akan muncul jika keluarga atau kerabat menginginkan untuk menjadi client, namun karena rata-rata perekonomian di Desa Mejayan ini termasuk mandiri, dengan usaha seperti pedagang atau PNS, ataupun pemilik sawah maka hal tersebut tidak begitu kentara dalam hubungan sosial ekonomi. “iya mas, dulu juga ada ponakan yang nyambi disini, tapi sudah berkeluarga, jadi sudah ga kerja lagi, kalo ada yang mau kerja ya saya bantu.”(lampiran 4)

Pekerja dari salah satu pemilik usaha roti yang sempat penyusun wawancarai juga menunjukkan hal yang positif terhadap hubungannya dengan patron, seperti yang dialami oleh bu Sarmi, sebagai subyek penelitian kami. Ibu Sarmi, yang bekerja di rumah produksi roti milik Ibu Lamisri dan Ibu mariatun, merasakan banyak manfaat dan keuntungan, selain gaji, juga mendapatkan ilmu dalam pembuatan roti, serta pemasaran. “ya saya selain dapat gaji saya juga mendapatkan ilmu bisnis dan cara membuat roti, jadi saya memutuskan untuk buat usaha sendiri, mbak. Ya hitung hitung untuk membuat penghasilan keluarga lebih banyak

mbak.”( lampiran 5) Sebagai contoh manfaat ilmu yang diperoleh Bu Sarmi, adalah menggoreng dan membuat adonan pada saat bekerja di rumah Patron.

50   

“Ya kalo di rumah Ibu Lamisri, saya dapat bagian menggoreng roti-roti, kalo di bu Mariyatun saya tukang bikin adonan mbak.”(lampiran 5)

Dalam konteks hubungan sosial, pekerja juga sering diundang dalam acara tertentu oleh patron, hal ini menunjukkan eratnya interaksi diantara keduanya sesuai dengan syarat ketiga dari hubungan patron-client yaitu kemesraan diantara keduanya. Sehingga hubungan patron-client sangat dekat sekali karena hubungan saling ketergantungan mulai mengakar sampai grassroot, bukan sekedar transaksi ekonomi. Kepedulian sosial sangat erat sekali, patron selalu setia membantu ketika clientnya membutuhkan bantuan karena ada keterikatan berdasarkan hubungan tetangga. “kira-kira saya kerja di bu lamisri dan bu mariyatun sekitar dua tahunan lebih mas” “iya mbak, kalo disini memang saling membantu, kita kan juga tetangga, kita pokoknya saling bantu membantu mbak” (lampiran 5). Jika dianalisis lebih jauh kedalam, sebagai pekerja yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan para pemilik usaha, tingkat interaksi sosial yang ada di desa Mejayan tergolong sangat mendalam. Persaudaraan muncul salah satunya dengan cara mempererat hubungan interaksional dengan lingkup hubungan patronclient. Dapat disimpulkan bahwa pola hubungan patron client yang ada di desa Mejayan bukan hubungan yang transaksional melainkan cenderung pada hubungan yang mendalam dan emosional. Dalam buku tuan, hamba dan politisi Menurut Keith R. Legg Asas yang menyatakan bahwa, hubungan-hubungan tuan hamba hanya terjadi diantara para pelaku yang tidak sama, baik kekayaan maupun kedudukannya, dengan kata lain, hubungan tersebut timpang, diterima tanpa dipersoalkan lebih lanjut. Uraian mengenai motivasi terjadinya hubungan tuan-hamba sering bertitik berat pada
51   

kebutuhan pihak hamba. Namun, urain-uraian khusus, terutama mengenai tautan tuan hamba di bidang politik, menunjukkan bahwa pihak tuanlah yang sering menjadi pemrakarsa. Pihak hamba, setelah menikmati prestasi yang diberikan oleh pihak tuan, baru berkewajiban membalasnya. Dalam tukar menukar itu, pihak hamba berkedudukan sebagai ”lumbung nilai” tempat pihak tuan menyimpan kredit sosial yang dapat diambil kembali diwaktu yang akan datang demi keuntungan dirinya. Hubungan tuan hamba atau Patron-client timbul bila syarat-syarat berikut ini terpenuhi diantaranya adalah (1) hubungan di antara para pelaku atau perangkat para pelaku yang menguasai sumber daya yang tidak sama, dalam kepemilikan kekayaan misalnya sebagai pemilik Home Industry Roti, patron mempunyai alat produksi dan modal yang lebih banyak dari warga lain sebagai pekerja. (2) Hubungan yang bersifat khusus (particularistic), hubungan pribadi dan sedikit banyak mengandung kemesraan (affectivity), hubungan ini sangat terlihat sekali, apalagi dalam kehidupan desa yang cenderung intensif, intim dan mendalam, hal ini sangat terlihat ketika sang patron mengadakan kegiatan syukuran dan pesta, kemudian acara berkabung dan kegiatan yang lebih serius dan mendalam. Dan (3) hubungan yang berdasarkan asas saling menguntungkan dan saling memberi dan menerima. Untuk syarat ketiga ini memang menjadi sebuah keniscayaan dan menjadi syarat melalui hubungan yang memiliki hubungan yang saling memberikan keuntungan simbolis dan strukturalis. Simbol tersebut terlihat ketika dikaitkan dengan peran dan status, kemudian secara strukturalis adalah hubungan kerja yang fungsional. Lemarchand menyatakan bahwa “Setiap tautan tuan-hamba selalu melekat hubungan timbal balik antara perorangan (atau kelompok perorangan) dimana pengaruh ditentukan oleh kemampuannya memberikan pelayanan, barang atau sesuatu yang bernilai yang diinginkan oleh pihak lain sehingga pihak yang lain itu pun terimbas untuk membalas

52   

kebaikan tersebut dalam bentuk perhatian, pelayanan, barang atau sesuatu yang bernilai”. Realitas hubungan Patron-client di dusun Porong, sangat bersesuaian dengan konsep diatas. Hubungan patron client sangat terasa dalam pengkondisian dimensi ekonomi melalui “home Industry” Roti. Dialog interaksi antar patron dan client dapat terinterpretasikan dalam

hubungannya sehari-hari. Konstruksi pengaruh patron terhadap pekerja sangat terlihat bahkan dalam hubungan emosi sangat mendalam, hal ini dikarenakan terdapat pengaruh yang multidimensional, artinya tidak hanya ekonomi saja, namun status dan peran dari client sangat ditentukan oleh patron. Namun yang lebih sangat terlihat dalam fenomena patron client tersebut adalah hubungan sosial dan kemesraan sosial antara patron dan client.

3.1.2

Pola Hubungan Traditional Authority

Desa Mejayan merupakan desa yang letak geografisnya sangat strategis karena berada di wilayah kota Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun dan menjadi jantung dari perekonomian kecamatan ini. Hal ini dapat ditunjukkan dengan banyaknya sendi-sendi perekonomian dan usaha-usaha besar yang terletak di desa ini. 27 Dengan melihat kondisi semacam ini desa Mejayan dapat diklasifikasikan kedalam desa swasembada. Hal ini dikarenakan kehidupan di desa Mejayan sudah mirip kota modern dengan adanya mata pencaharian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju. 28 Sebagai desa yang terkategori dalam desa swasembada, seyogyanya desa ini pola hubungan elit-massanya adalah pola hubungan patron klien.
27

                                                            

 Keterangan mengenai sendi‐sendi perekonomian kecamatan yang ada di desa Mejayan dapat  dilihat di Bab Gambaran umum desa hlm.  28  Butuh buku sosiologi pedesaan. 

53   

Sebab pola hubungan patron-klien terjadi apabila timbul fenomena hubungan antar masyarakat yang berlandaskan kebutuhan ekonomi. Melihat kondisi desa Mejayan yang terdapat banyak jenis usaha yang dimiliki oleh beberapa warga desa tersebut maka peluang terjadinya pola hubungan patron klien di desa ini cukup tinggi. Keberadaan usaha-usaha tersebut pastinya

membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Ketergantungan ekonomi dari pekerja kepada pemilik usaha begitupun sebaliknya yakni kebutuhan tenaga kerja oleh pemilik usaha kepada pekerja menyebabkan timbulnya pola hubungan patron klien. Meskipun desa Mejayan merupakan desa swasembada, nilai-nilai tradisional tidak sepenuhnya terkikis oleh modernitas. Hal itu terbukti dengan adanya seni tradisional dongkrek yang masih dilestarikan oleh seorang tokoh desa yang bernama mbah Dulrohim bersama masyarakat yang berpartisipasi. ‘’iya nak, saya menjadi lurah selama dua peiode. Sejak tahun 1975 sampai 2000. Awalnya itu saya ditunjuk oleh KOREM daerah sekitar untuk memimpin desa Mejayan.’’(lampiran 1) 

Ketokohan warga tersebutlah yang dapat menyatu padukan masyarakat untuk melestarikan kesenian yang menjadi cikal bakal desa Mejayan. Kesenian tradisional inilah yang menjadi sumber legitimasi dari tokoh masyarakat tersebut. Sehingga, meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai kepala desa namun kedudukannya sebagai orang terpandang di desa masih akan tetap bertahan selama kesenian ini tetap dipertahankan.

“oh iya nak, ada namanya dongkrek. Dongkrek disini bukan hanya sebagai kesenian tetapi juga sebagai pusaka bagi warga Mejayan. Hal ini dikarenakan dongkrak merupakan hasil dari runtutan asal mula caruban ini, yang di tokohi oleh Perot dan ayu selaku pendamping dari Raden Prawiro Dipuro.’’ (lampiran 1) 54 
 

Di tambah lagi statusnya sebagai salah satu keturunan dari pembabat alas yang menjadi cikal bakal terbentuknya desa Mejayan merupakan sumber legitimasi yang abadi.

“Kesenian Dongkrek itu langsung dipimpin oleh saya. Tapi mas, sekarang saya sudah ndak mimpin lagi, dan yang mimpin sekarang menantu saya, mengingat saya sudah tua.” (lampiran 1) Fakta diatas menghantarkan kita pada kenyataan bahwa desa ini tidak hanya memiliki pola hubungan patron-klien saja. Pola hubungan traditional authority terbentuk dan menguat dalam pola kehidupan masyarakat desa Mejayan. Konsep dari pola hubungan traditional authority menyatakan bahwa pola hubungan ini dapat terjadi disebabkan kuatnya legitimasi dan kewenangan yang dimiliki oleh seorang pemimpin. “Selanjutnya atas restu warga desa akhirnya saya yang terpilih. Oh iya nak, yang penting itu kalau jadi kepala desa perlu dibutuhkan jiwa nasionalis dan jiwa sosialis yang tinggi, sehingga nantinya dapat menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana.” (lampiran 1) 

Legitimasi itu sendiri dapat berasal dari tradisi yang berasal dari kepercayaan masyarakat dan yang dipelihara secara turun-menurun. Sedangkan kewenangan dalam traditional authority, berupa kualitas pribadi dari pemimpin. Kualitas pribadi dari pemimpin tersebut dapat ditunjukkan
55   

dalam jiwa nasionalis dan jiwa sosialis yang tinggi dalam memimpin masyarakat desa. Hal yang menunjukkan terjadinya pola hubungan traditional authority di desa Mejayan adalah pertama, adanya kualitas pribadi dari sang pemimpin, yaitu mbah Dulrohim dimana ia telah dapat memimpin desa Mejayan selama 25 tahun yakni dari tahun 1975-2000. Dalam hal ini, Mbah Dulrohim merupakan sesepuh desa yang sangat disegani warga desa karena telah dianggap berjiwa sosialis dan juga telah dapat menjaga tradisi dan kesenian desa mejayan. Hal tersebut terlihat dalam pemilihan pertama dan kedua, yang mana dari pemilihan tersebut mbah dulrohim dapat terpilih secara berturutturut. “iya nak, saya menjadi lurah selama dua peiode. Sejak tahun 1975 sampai 2000. Awalnya itu saya ditunjuk oleh KOREM daerah sekitar untuk memimpin desa Mejayan. Tujuannya pertama itu menyadarkan warga sekitar yang eks PKI, dan tentang permasalahan KTP Merah yang dimiliki oleh mantan PKI. Saya merasa kasihan dengan warga yang seperti itu, karena mereka dipersulit untuk ngurus surat-surat.” (lampiran 1)

Menurut Karl D. Jackson, kewibawaan tradisional dapat dikatakan sebagai penggunaan kekuasaan personalitas yang dihimpun melalui peranan masa lampau dan masa kini dari yang mempengaruhi sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai dan status unggul dari mereka yang punya hubungan ketergantungan yang mapan dengannya. Kedua, adanya legitimasi yang berasal dari tradisi seperti dalam kesenian dongkrek yang merupakan ciri khas dari Caruban, dimana untuk memimpin kesenian tersebut harus berdasarkan keturunan sebelumya. Dalam hal ini, setiap malam satu suro terkadang jumat pahing atau juga jumat legi, kesenian Dongkrek dipimpin langsung oleh mbah Dulrohim. Namun, saat ini kesenian dongkrek
56   

dipimpin oleh menantunya karena usia dari mbah dulrohim sudah terlalu senja. Oleh karena itu, dari kedua fenomena yang ada diatas tadi dapat disimpulkan bahwa di dalam desa Mejayan terdapat pola hubungan traditional authority. Traditional authority tidak hanya mengandaikan seorang tuan yang berkuasa, sang tuan memiliki hamba yang senantiasa mendukung, sehingga ada hubungan Tradisional Authority Relationship. Dengan gambaran bahwa ibu Paniyem ini sangat mendapatkan kepercayaan dari ibu Sumiati dengan membawa buku Arisan yang dipasrahkan. Juga bu Paniyem ini sangat dekat hingga seperti saudara walaupun tidak memiliki garis saudara langsung. Kemudian Bu Sumiati ikut membantu sedikit kehidupan ibu paniyem dengan memberikan uang saku kepada anaknya, walaupun tidak setiap hari tetapi sering sekali. Juga ibu paniyem ini ada kesulitan maka ibu Sumiati juga ikut membantu. Jadi Ibu Paniyem mengabdi juga kepada ibu Sumiati. Bu Paniyem ini tidak terlalu mengandalkan gaji bulanan yang dari Bu Sumiati. Karena Bu Paniyem mendapat bantuan tidak hanya uang saja tetapi bantuan-bantuan secara tidak langsung oleh Bu Sumiati. Gaji bulanannya juga dalam bentuk arisan sembako yang memang Bu Paniyem sengaja diikutkan Arisan sembako setiap bulannya oleh Bu Sumiati. Jadi ini bentuk Tradisional Authority Relationship yang ada di Desa Mejayan Ini. ‘’ya bisa dibilang saya dengan bu Sumiati ya seperti keluarga, walaupun saya tidak ada hubungan saudara sama sekali dengan ibu. Tapi ibu sangat baik kepada saya juga keluarga saya, dimana saya banyak dibantu oleh keluarga saya dengan keluarga ibu. Pak dar suami bu sumiarti juga membantu suami teman saya yang bekerja sama ibu menjdi PNS.’’ (lampiran 2) 

Kewibawabaan tradisional berbeda dengan bentuk ketiga kekuasaan yang disebut sebagai imbalan atau perampasan (reward/deprivation). Tidak
57   

seperti imbalan/perampasan, kewibawaan tradisional tidak melibatkan hitungmenghitung keuntungan-keuntungan pribadi yang segara oleh si pengikut. Tidak pula si pengikut menganggapnya sebagai perjajian di mana ia menyediakan pelayanan tertentu sebagai tukaran bagi tingkat ganti rugi yang telah ditetapkan lebih dahulu. Sekalipun sipemimpin mungkin telah melakukan banyak hal bagi para pengikutnya pada waktu yang lalu. Dan sekalipun ia mungkin berkewajiban untuk terus membagikan kebaikan masa hati yang dimasa datang, namun pola kekuasaan bukanlah suatu pola yang mempertukarkan imabalan bagi jasa. Konsep si pengikut menetapkan apakah mendukung atau tidak mendukung pemimpinnya secara politik atas dasar perhitungan cermat berlebihnya keuntungan di atas biaya merupakan hal yang asing pada sistem kewibawaan tradisional. Bahwa legitimasi yang dimiliki oleh patron berlangsung secara lama dan juga secara turun temurun. Jadi legitimasinya diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi apabila kepatuhan yang lebih dari dua puluh lima tahun dan diwariskan dari ayahnya kepada anaknya. Kewibawaan tradisional ini bukan hanya dipandang hanya sekedar ikatan kesempatan dan kenyamanan tetapi melainkan dipandang sebagai ikatan yang mempertautkan baik pemimpin maupun pengikut kepada generasi-generasi terlebih dahulu. Kemudian tradisional menyiratkan bahwa kepemimpinan agaknya lebih berpindah kepada bahu mereka tetapi martabat warisan (Inherited status) ketimbang martabat hasil dari pencapaian (achieved status). Misalnya para pemegang kekuasaan sering diserahkan kepada keluarga dan kerabatnya yang menjabat secara tradisional. Atau berpindah kepada orang lain yang memiliki pengetahuan agama atau pengetahuan istimewa yang juga sudah sejak lama. Kewibawaan tradisional dan patronase (atau hubungan patron klien) jelas berbagi banyak kualitas.

58   

Kepercayaan warga desa kepada keluarga Mbah Dulrohim menjadi salah satu faktor pembuktian, bahwasanya konsep traditional authority juga berlaku di desa ini. Terbukti dengan adanya jabatan selama 27 tahun yang di amanatkan kepada Mbah Dulrohim selaku Kepala Desa. Tak terhenti di sini saja, representasi keluarga Dulrohim juga berlanjut di anaknya yaitu Ibu Sumiyati, yang sekarang menjabat sebagai bendahara desa. Pembuktian representasi elite dalam hal ini keluarga Mbah Dul, menjadi tolak ukur terbuktinya konsep Traditional Authority yang berada di desa Mejayan. Tidak hanya di desa mejayan juga Kedua jenis hubungan ini bersifat asimetris dan juga vertikal juga dwitunggal. Ikatan ini adalah hubungan pribadi, tatap muka antara pemimpin dan pengikut. Pertalian horizontal ini bersifat kuat antara mereka yang bermanfaat, bahkan diantara individu-individu yang memiliki kesetian kepada pemimpin yang sama. Patron atau tokoh-tokoh adalah seorang yang sebagai perantara yang mutlak yang diperlukan antara kelompok yang beraneka ragam.

3.2 REPRESENTASI POLA HUBUNGAN ELITE-MASSA DI DALAM PEMERINTAHAN DESA MEJAYAN

3.2.1

Struktur Pemerintahaan Desa Mejayan Pemerintahan desa Mejayan saat ini dikepalai oleh seorang warga dusun Gendoman yang bernama Titik Handayani. Titik Handayani selain merupakan seorang kepala desa, ia juga sedang menekuni bisnis yang sudah dimulainya sejak lama bahkan sebelum ia menjabat sebagai kepala desa yakni mendistribusikan kebutuhan material bangunan. Kepala desa yang menjabat saat ini merupakan kontraktor sukses yang juga memiliki berbagai usaha yang
59 

 

kebanyakan berdiri di luar daerah. Kesuksesan bisnisnya juga diiringi oleh kesuksesan politiknya di desa Mejayan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya fakta yang menunjukkan bahwa

kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya cukup tinggi. Berikut adalah keterangan seorang warga yang kami wawancarai berkaitan dengan pemerintahan bu Titik.

“Bu Titik itu orangnya baik mbak. Dia nggak beda-bedain mana orang kaya mana orang miskin. Semuanya dirangkul, disapa, diperhatiin. Selama jadi lurah juga dia banyak mbangun desa. Itu kantor kepala desa itu dari dulu sampai sekarang nggak pernah libur tukangnya, ada saja yang dibangun. Bu Titik kan sudah kaya ya mbak, jadi nggak bakal dia doyan makan uang rakyatnya. Kalau yang lain saya nggak tau lagi mbak. Tapi kalau ada pemilihan lagi saya pilih bi Titik lagi deh”. (hasil wawancara kuisioner)

Elite pemerintahan desa selain Kepala desa ada Sekretaris desa yang bernama bapak Suparman. Bapak Suparman ini merupakan seorang sarjana, yang dengan gelarnya ini menurut pengakuan bu Titik beliau sering kali dijadikan bahan rujukan oleh perangkat-perangkat desa yang lain melebihi bu Titik. Secara politis dapat dikatakan bahwa Sekretaris desa ini merupakan oposisi bu Titik, namun hal itu berlangsung diawal masa pemerintahan bu Titik dimana saingan politiknya yakni pak Rudi Hartono masih berada di Mejayan. 29 Saat ini menurut pengakuan bu Titik sudah tidak ada lagi perangkat yang
29

                                                            
 Rudi Hartono adalah saingan bu Titik Handayani dalam Pilkades tahun 2004 lalu. Rudi Hartono mendapat banyak dukungan dari elite desa sewaktu itu, namun Titik Handayani berhasil meraih kemenangan telak dengan perolehan suara 1632 suara, sedangkan Rudi Hartono hanya 581 suara dan kandidat lainnya yakni Sudarto juga 581 suara. Saat ini Rudi Hartono telah berpindah ke luar daerah akibat mengalami kebangkrutan dalam usaha di desa Mejayan.

60   

berpihak ke orang lain dan lebih fokus untuk bekerja demi kemajuan desa.
“Pak Sekdes itu orang pintar mbak. Pendidikannya tinggi tidak

seperti saya yang hanya lulusan SMP. Karena itulah beberapa perangkat desa banyak yang lebih percaya dia kalau ada masalahmasalah gitu. Tapi saya harus tegas mbak, lawong saya yang mimpin kan. Saya tegur saja mereka yang tidak menghargai saya sebagai pemimpin desa. Saya ingatkan lagi kepada mereka: Lurahmu inu aku, lak urusan ngene iki lapore yo kudu nang aku. “(lampiran 7)

 

Bagan 1.1 Struktur Kepemerintahan Desa Mejayan

Selain Sekdes, perangkat desa yang cukup memiliki kekuasaan yang tinggi adalah Bendahara desa yakni bu Sumiati. Bu Sumiati merupakan putri dari tokoh masyarakat terpandang yang sekaligus mantan kepala desa Mbah Dulrahim. Bu Sumiati menjabat menjadi Bendahara desa lebih dari dua puluh tahun. Ia menjadi Bendahara desa sewaktu bapaknya memerintah, kemudian
61   

saat kakaknya yakni Joko Purnomo menggantikan bapaknya ia juga menduduki jabatan yang sama. Hingga saat ini meskipun kepala desanya sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dengannya namun ia tetap dipercaya sebagai Bendahara desa. Dari fakta ini dapat dinyatakan bahwa Bendahara desa merupakan jabatan yang melegitimasi dalam dirinya dan lebih kepada jabatan sosial daripada jabatan politis. 3.2.2 Representasi Pola Hubungan Patron-client didalam Pemerintahan Desa Mejayan Dalam penelitian yang penyusun lakukan menemukan bahwa pola hubungan patron-client telah ditemukan ditengah kehidupan masyarakat Mejayan di dusun Porong. Patron-client merupakan pola hubungan yang saling menguntungkan (dialogal). Client (yang dikuasai) mendukung sepenuhnya kemauan penguasa apabila patron mampu memenuhi kebutuhan client. Apabila patron tidak dapat memenuhi kebutuhan client maka client akan sangat mudah berpindah mencari patron client lain. Sehingga hubungan patron-client cenderung opportunis. Berdasarkan struktur pemerintahan diatas dan pemaparan tentang pola hubungan elit massa yakni hubungan patron client yang terjadi di Dusun Porong Desa Mejayan telah terbukti bahwa pola hubungan patron client tersebut terepresentasikan di dalam pemerintahan Desa Mejayan yakni Bapak Lilik Suwarno yang menjabat sebagai Staff UR Kesra ternyata juga menjadi seorang patron di dusun Porong meskipun beliau mengatakan para client atau pekerja sawahnya berada dari luar desa lain. Hubungan patron client yang terjadi di Desa Mejayan memang tidak sekompleks teori yang digambarkan oleh Keith Legg yakni harus ada hubungan timbal balik dan mencari keuntungan sehingga hubungan antara patron dan client terutama patron yang menjadi perangkat desa tidak seberapa terungkap atau jelas karena client dari Pak Lilik Suwarno berasal dari desa lain. Sebagai seorang perangkat desa Pak
62   

Lilik Suwarno mendapatkan sawah bengkok seluas 1 Hektar dan yang menjadi para pekerjanya adalah dari desa lain. Selain patron diatas kami juga menemukan patron lain yang bernama Pak Saji. Beliau adalah Staff Urusan Umum yang tergabung dalam struktur pemerintah desa Mejayan sehingga mendapatkan sawah bengkok seluas 1 Hektar dan mempekerjakan orang dari desa lain sehingga kami tidak dapat menelusuri para pekerja tersebut karena diluar area penelitian yang telah ditentukan. Selain sebagai patron Pak Saji juga sebagai client yang memrepresentasikan hubungan itu dengan mengerjakan sawah bengkok milik Bu Sumiati. Pak Saji sangat setia kepada bu Sumiati yang merupakan anak dari mbah Dulrohim sesepuh dari Desa Mejayan. Kesetiaan tersebut dibuktikan dengan mengerjakan sawah bengkok milik Bu Sumiati dengan bayaran sukarela. Dengan kepercayaan Bu Sumiati terhadap Pak Saji tersebut membuktikan bahwa Pak Saji memang setia ke Bu Sumiati. 3.2.3 Representasi Pola Hubungan Traditional Authority didalam

Pemerintahan Desa Mejayan Selain hubungan patron client yang terepresentasikan dalam struktur pemerintah desa Mejayan ternyata pola hubungan Traditional Authority Relationship juga terepresentasikan dalam struktur pemerintah desa. Karl D. Jackson mendefinisikan kewibawaan tradisional atau Traditional Authority Relationship sebagai penggunaan kekuasaan personalitas yang dihimpun melalui peranan masa lampau dan masa kini dari yang mempengaruhi sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai dan status unggul dari mereka yang punya hubungan ketergantungan yang mapan dengannya. Sekali telah mapan, tokoh kewibawaan tradisional tak perlu mengancam, menawarkan imbalan benda atau yang bersifat lambang, mencoba menganjurkan atau mengacu kepada aturan yang mengatur peranan-peranan.

63   

Hubungan yang terepresentasikan adalah Bu Sumiati yang merupakan anak dari mbah dulrohim sesepuh Desa Mejayan. Pernyataan tersebut telah menguatkan betapa terbuktinya politik dinasti atau yang sering kita dengar dengan politik kekeluargaan. Posisi yang diraih oleh Bu Sumiati seakan menggambarkan bahwasanya dia tidak akan pernah menjabat sebagai bendahara desa, jika dia bukan merupakan anak dari sesepuh desa yaitu Mbah Dulrohim. Determinan tersebut terjadi akibat konsep traditional authority yang dimunculkan dari kekuatan kharismatik dan jiwa pengayom seorang Dulrohim yang menjabat sebagai Kepala Desa selama dua periode berturutturut. Bu Sumiati bekerja sebagai salah satu perangkat desa Mejayan yakni sebagai Staff Urusan Keuangan atau yang lazim disebut Bendahara Desa selama lebih dari dua puluh tahun. Bu Sumiati atau yang oleh masyarakat dipanggil dengan nama familiarnya mbak Ti memiliki relasi khusus dengan perangkat-perangkat desa yang ada. Ia memiliki relasi khusus dengan pak Saji staff bagian Umum desa. Menurut pengakuannya, ia telah mempercayakan bengkoknya kepada pak Saji. Relasi yang terbentuk lebih berpola Traditional Authority, karena rupanya pak Saji tidak berlandaskan keuntungan ekonomi dalam membantu menguruskan bengkok bu Sumiati akan tetapi lebih berdasar pada pengabdian kepada keluarga mbah Dulrahim.

“Saya dapat bengkok satu hektar mbak. Bengkok saya diurus sama pak Saji. Saya tidak mengurusi bengkok karena sudah percaya dengan pak Saji yang sudah lama membantu keluarga saya. Pokoknya nanti waktu panen saya terima hasilnya saja dan pembagiannya itu nanti terserah pak Saji. Pak Saji sendiri kan juga punya bengkok, jadi sekalian saya nunut pekerjanya dia. Sama-sama nggarap sawah kalau diatur bebarengan lak tambah echo toh mbak.”(lampiran 9)

64   

Selain itu, pola hubungan Traditional Authority juga terdapat pada hubungan diantara Bu Sumiati dengan ketua RT III Dusun Sumber Suko. Ketua RT III RW I tersebut beristrikan Bu Paniyem yang mengabdi kepada keluarga mbah Dulrahim. Bu Paniyem sangat setia kepada Bu Sumiati. Kesetiaan tersebut dibuktikan dengan tidak mengeluhnya Bu Paniyem hanya digaji kurang dari UMR tetapi Bu Paniyem tetap bekerja dengan Bu Sumiati dan tidak mau berpindah ke orang lain. Bu Paniyem juga dipercaya oleh Bu Sumiati untuk membawa uang arisan dari 2 RT sekaligus. Dengan kepercayaan Bu Sumiati terhadap Bu Paniyem tersebut membuktikan bahwa Bu Paniyem memang setia ke Bu Sumiati sehingga menyebabkan beliau mempercayakan uang arisan ke Bu Paniyem. Tidak hanya itu, mbah Dulrohim yang saat itu tidak lagi menjabat sebagai kepala desa masih memegang peranan dalam pengambilan keputusan desa maupun kabupaten. Hal ini dikuatkan dengan adanya keterlibatan Mbah Dulrohim dalam setiap rapat pertemuan elite desa. Dari beberapa penuturan warga desa mejayan, mereka mengakui kewibawaan dan kharismatik seorang mbah Dulrohim, hal ini terbukti dengan dipercayanya mbah Dulrohim menjadi sebagai pemecah konflik maupun sebagai penengah (mediator) apabila terjadi sebuah konflik dalam masyarakat desa Meejayan tersebut walaupun mbah Dulrohim sudah tidak menjabat sebagai Kepala Desa lagi. Disini dapat dijelaskan bahwa hubungan masyarakat desa Mejayan dengan Mbah Dulrohim ini masih relative tradisional relationship karena beliau masih cenderung menjadi panutan hingga masih disegani oleh masyarakat Desa Mejayan. Hingga saat ini, keterlibatan mbah Dulrohim dalam pembuatan kebijakan desa maupun dalam setiap rapat pertemuan elit-elit yang ada di desa Mejayan. Kualitas pemimpin sosok mbah Dulrohim sudah tidak bisa dipertanyakan lagi, beliau menjadi lurah selama dua peiode. Sejak tahun 1975
65   

sampai 2000. Tentunya bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah menjabat suatu jabatan Kepala Desa dalam dua periode sejak tahun 1975 sampai pada tahun 2000. Pada awal jabatannya itu beliau mula-mula ditunjuk oleh KOREM yang ada di daerah sekitar dalam rangka untuk memimpin desa Mejayan. Tentu saja KOREM memerintah mbah Dulrohim bukan tanpa ada tujuan, tujuannya yang pertama itu adalah untuk menyadarkan warga sekitar yang eks PKI tentunya, dan tentang permasalahan KTP Merah yang dimiliki oleh mantan PKI.Ketika wawancara saat itu, beliau secara terang-terangan menuturkan bahwa beliau merasa kasihan dengan warga sekitar yang eks PKI, karena mereka dipersulit untuk ngurus surat-surat misalkan saja dalam pembuatan surat-surat penting mereka sangat sulit untuk proses mengakses hingga mendapatkannya, bahkan ada juga yang tidak bisa mengakses maupun mendapatkannya. Selama 30 tahun mbah Dulrohim memimpin mejayan, sudah dua kali terjadi pemiliha kepala desa, yang pertama pada tahun 1975 dimana terdapat lima calon yang bersaing untuk menjadi kepala desa. Namun, mbah Dulrohim kembali dipercaya untuk memimpin mejayan oleh warganya. Sedangkan pada tahun 1982 pemilihan terjadi melibatkan dua kandidat, salah satunya mbah Dulrohim. Namun, tetap saja Dulrohim yang kembali menjadi kepala desa. Dulrohim kembali dipercaya menjadi kepala desa karena warga memang masih percaya terhadap beliau. Dulrohim dianggap pantas untuk memimpin Mejayan karena catatan historisnya selama menjadi kepala desa Mejayan sangat baik. Ini menunjukkan bahwa Traditional Authoritarian Relationship memang terjadi di Mejayan. Selain Traditional Authoritarian Relationship, terdapat pula pola hubungan Patron-Client Relationship. Ini dapat ditunjukkan dari bentuk usaha yang dilakukan para warga Mejayan yang mayoritas memang merupakan berbentuk pertanian. Bentuk usaha tani yang terjadi di Mejayan juga berupa pola antara tuan tanah dan buruh yang merupakan ciri dari Patron-Client Relationship.
66   

3.3 POLA HUBUNGAN ELITE-MASSA DALAM PROSES PEMBUATAN DAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN DI DESA MEJAYAN 3.3.1 Program-Program Kesejahteraan Masyarakat Program kesejahteraan masyarakat atau program bantuan sosial merupakan pengejewantahan dari Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat (1) yang menyatakan bahwa fakir miskin dipelihara oleh Negara. Program Bantuan Sosial bersifat hibah atau kompensasi dengan memanfaatkan sumber dana yang didapat dari individu, kelompok anggota masyarakat dan atau pemerintah. Dengan perkembangan sosial ekonomi suatu Negara, Program bantuan sosial yang semula hanya berbentuk hibah saja berubah orientasinya menjadi program yang lebih memberikan manfaat berkelanjutan melalui bantuan pemberdayaan dan atau stimulan agar sasaran program bantuan bisa menjadi mandiri kecuali bagi sasaran program yang memang sudah tidak potensial sama sekali seperti lanjut usia yang jompo, miskin terlantar dan lainlain. 30 Desa Mejayan merupakan desa yang sedang mengalami transisi dari kehidupan tradisional pedesaan menuju masyarakat modern. Nilai-nilai tradisional yang kuat 31 dihadapkan dengan masuknya nilai-nilai modern bertepatan dengan lokasi strategis desa yang juga merupakan kota Kecamatan. Berdasarkan keterangan yang kami dapat dari wawancara bersama Kepala Desa pada tanggal 24 Mei 2012 lalu, kita mendapatkan informasi bahwa desa Mejayan sering menjadi desa percontohan bagi desa-desa lainnya dalam hal pelaksanaan program-program dari pemerintah baik itu pusat, tingkat I
                                                            
30

SDT Kebijakan Kependudukan 2011. www.Sudarto.staff.fisip.uns.ac.id;. (diakses pada tanggal 22 Mei 2012)

Nilai-nilai tradisional yang kuat ini dapat ditunjukkan dengan eksistensi kesenian tradisional yang bernama ‘Dongkrek’ yang mana dilestarikan oleh salah satu tokoh masyarakat di desa Mejayan dan diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat utamanya kaum muda-mudi di desa Mejayan.

31

67   

mapupun tingkat II. Desa ini juga telah menerapkan prosedur administratif yang cukup rapi mulai dari proses sosialisasi sampai pelaksanaan programprogramnya. Dari wawancara dengan kepala desa ibu Titik Handayani kita mendapatkan informasi bahwa program-program pemerintah yang telah masuk desa diantaranya adalah: (1) PNPM Mandiri dari pemerintah pusat, (2) BKD (Bantuan Keuangan Desa) dari pemerintah provinsi, dan (3) Bantuan RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) yang bersumber dari ADD (Alokasi Dana Desa) beserta swadaya masyarakat. 32 Bantuan RTLH ditujukan kepada

masyarakat yang huniannya masih kurang layak untuk ditempati. Bantuan ini merata disemua RT yang memutuskan juga ketua RT masing-masing melalui musyawarah di masing-masing RT. “Program-program yang masuk didesa ini bisa dibilang paling banyak mbak. Bahkan desa ini sering dijadikan percontohan oleh pemerintah bagi desa-desa lainnya. Meskipun kita juga terkadang kesulitan untuk meloloskan pengajuan proposal kita karena mereka menganggap desa ini sudah lumayan maju pembangunannya tetapi saya selalu mengupayakannya demi kesejahteraan masyarakat Mejayan. Jadi bantuan yang sudah sampai didesa ini kira-kira ada yang namanya PNPM Mandiri terus BKD, selain itu juga ada raskin. PNPM Mandiri itu diwujudkan dengan berdirinya TK disebelah itu mbak, namanya TK Mardi Siwi. Juga pembangunan parit di dusun Kronggahan. Terus BKD itu diwujudkan dengan adanya pinjaman-pinjaman masyarakat melalui koperasi. Semua kebijakan ini dimusyawarahkan oleh masing-masing RT nya. Desa nanti tinggal menindak lanjuti keputusan yang sudah di gedok dalam rapat RT. (lampiran 9)

                                                            
Swadaya masyarakat biasanya berbentuk sumbangan tenaga, material bangunan, uang, maupun makanan bagi pekerja.
32

68   

A. Bantuan Pemerintah Pusat PNPM Mandiri Perdesaan merupakan program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Pendekatan PNPM Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang selama ini dinilai berhasil. Beberapa keberhasilan PPK adalah berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
33

Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan berada di bawah binaan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Departemen Dalam Negeri. Program ini didukung dengan pembiayaan yang berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana hibah dari sejumlah lembaga pemberi bantuan dibawah koordinasi Bank Dunia. 34 PNPM Mandiri di desa Mejayan menurut keterangan ibu Kepala Desa terealisasikan dengan berdirinya TK Mardi Siwi yang bertempat berjajar dengan kantor Kepala Desa, selain itu juga pembangunan parit di dusun Kronggahan dan juga di dusun Porong yang saat peneliti terjun ke lapangan pembangunan parit sedang dalam proses pengerjaan. Dari kepala dusun Sumber Suko bapak Dodik, kami mendapatkan informasi bahwasanya PNPM Mandiri ini diantaranya diwujudkan dengan adanya Lembaga Simpan Pinjam. Lembaga ini memberikan pinjaman usaha bagi sekelompok warga yang terdiri dari masing-masing per-kelompok sepuluh orang.

                                                            
http://jdih.bpk.go.id/wp‐content/uploads/2011/03/PTO‐PNPM‐Perdesaan2008tm.pdf (diakses pada tanggal 05 Juni 2012 pukul 18.12 WIB) 34 http://id.wikipedia.org/wiki/PNPM_Mandiri_Pedesaan (diakses pada tanggal 05 Juni 2012 pukul 18.14 WIB)
33

69   

“ PNPM di dusun Sumber Suko kita wujudkan dengan berdirinya lembaga peminjaman modal usaha yang diketuai bu Fransiska Tinuk. Jadi prosedurnya yang boleh mengajukan peminjaman adalah mereka yang tergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang.”(lampiran 8) Program ini salah satunya memang memiliki tujuan untuk membangkitkan minat usaha yang berbasiskan gotong royong antar warga masyarakat. Namun kenyataannya meskipun telah dibentuk berkelompok rupanya dalam mengimplementasikannya masyarakat menjalankan usahanya secara terpisah. Mereka berkelompok hanya sebagai kolektivitas untuk mendapatkan uang. Setelahnya usaha yang mayoritas berbentuk produksi tempe dan pendirian kios-kios kecil ini dijalankan secara individu dan tidak ada tindak lanjut kelompok. “Usaha yang dijalankan oleh ibu-ibu yang mendapat modal usaha itu disini mayoritas berbentuk produksi tempe Karena ya mbak, Sumber Suko ini dusun yang banyak usaha pembuatan tempenya, tempe Sumber Suko terkenal yang paling enak di desa Mejayan, bahkan didesa lain juga. Terus juga banyak diantara mereka yang mendirikan kios dengan modal usaha itu.”(lampiran 8)

B. Bantuan Pemerintah Provinsi Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan hibah kepada desa yang dikenal dengan sebutan Program BKD. Menurut Bendahara Desa ibu
70   

Sumiati, BKD diwujudkan dengan didirikannya organisasi baru yang bernama KOPWAN (Koperasi Wanita) yang berperan dalam merangsang semangat berwira usaha masyarakat. KOPWAN diantaranya menghasilkan berbagai macam usaha seperti konveksi, pertanian dan industri-industri rumah tangga seperti produksi tempe, tahu, makanan tradisional, roti dan lain sebagainya. Selain itu BKD juga diwujudkan dengan adanya pembangunan jalan di dusun Robahan. “KOPWAN itu bersumber dari BKD mbak. Provinsi menghibahkan uang dua puluh lima juta untuk kemudian dikelola dalam lembaga KOPWAN. Masyarakat bisa meminjam modal usaha melalui KOPWAN dan selama ini kira-kira sudah banyak usaha konveksi yang dimodali oleh KOPWAN. Meskipun statusnya Koperasi wanita, kami juga meminjamkan modal usaha bagi pertanian.” (lampiran 9)

C. Bantuan Pemerintah Kabupaten Melalui Dinas Pekerjaan Umum, Pemerintah Kabupaten memberikan bantuan kepada masyarakat desa Mejayan berupa Program RTLH. Program bantuan perbaikan RTLH ini dilaksanakan oleh dinas Pekerjaan Umum kabupaten Caruban. Dinas PU bersama dengan masyarakat berswadaya memperbaiki rumah-rumah yang kurang layak. D. Bantuan Pemerintah Desa ADD yang bersumber dari pemerintah Kabupaten diantaranya diwujudkan dengan adanya bantuan perbaikan rumah warga yang tidak layak atau yang dikenal sebagai program perbaikan RTLH. Selain itu ADD di dusun Sumber Suko juga diwujudkan dengan adanya pembangunan infrastruktur berbentuk jalan setapak di wilayah RT 3 dan RT 4. Beliau menyatakan bahwa dana yang diterima masing-masing dusun termasuk
71   

Sumber Suko tidak mencukupi terselenggaranya program ini. Namun kemudian Kepala Dusun dan RT setempat menghimpun masyarakat untuk saling bergotong royong membantu kesuksesan program ini dengan cara menyumbang tenaga, material bangunan, dana, dan juga makanan. Menurut beliau program-program bantuan masyarakat seperti ini sesungguhnya hanya berperan sebagai perangsang bagi bangkitnya swadaya masyarakat sekaligus melestarikan budaya gotong royong di desa-desa. “ADD kalau di dusun Sumber Suko diwujudkan dengan pembangunan jalan setapak di wilayah RT 3 dan RT 4 mbak. Masing-masing RT kebagian dana sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu. Itu kalau di itung-itung sebenarnya gak nyukupi mbak, tapi ya kita mengakalinya dengan cara menghimpun swadaya masyarakat sekitar. Hampir seluruhnya turut serta dalam pembangunan itu. Ada yang urun material, duit, tenaga dan juga makanan buat yang kerja. Ya itu kan berarti gotong royong di desa ini masih berjalan, bantuan-bantuan itu sifatnya hanya sebagai perangsang tumbuhnya sikap gotong royong dan kerukunan warga toh mbak.” (lampiran 8) 3.3.2 PROSES PEMBUATAN DAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN DI DESA MEJAYAN Kepala desa saat kita wawancarai berkaitan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan di desa Mejayan menyatakan bahwa

pemerintahannya telah melaksanakan segala sesuatunya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Beliau memang mengaku bahwasanya dirinya selaku kepala desa banyak mempengaruhi pemerintah diatasnya agar desa Mejayan lolos sebagai penerima bantuan. Beliau secara eksplisit memaparkan kepada kami bagaimana kronologi tembusnya bantuan PNPM Mandiri di desa Mejayan. Beliau mengaku bahwa ia banyak melakukan proses lobbying kepada petugas yang bertugas mensurvey desa Mejayan sebagai calon
72   

penerima bantuan. Rupanya petugas tersebut mempersulit desa Mejayan untuk menerima bantuan dengan alasan desa Mejayan sudah cukup bisa mandiri pembangunannya. Pada akhirnya dengan pengalaman sebagai kontraktor yang sudah lihai dalam memenagkan tender proyek, beliau kemudian langsung melaju kepada Pemerintah Kabupaten dan melobby petugas-petugas terkait untuk meloloskan desa Mejayan sebagai penerima bantuan. Kemudian berkaitan dengan pembuatan dan pelaksanaan keputusan desa dalam merealisasikan program-program ini beliau menyatakan bahwa semua tahap dilaksanakan secara prosedural. Kepala desa menyampaikan program-program yang diterima desa kepada pihak yang terkait diantaranya ketua RT ataupun kepala dusun. Merekalah yang akan menentukan siapa saja yang berhak menerima bantuan tersebut melalui rapat-rapat yang mereka selenggarakan di wilayah masing-masing. Program yang berjenis

pembangunan infrastruktur desa juga dirapatkan bersama segenap perangkat desa bersama dengan kepala wilayah masing-masing. “Program-program yang masuk didesa ini bisa dibilang paling banyak mbak. Bahkan desa ini sering dijadikan percontohan oleh pemerintah bagi desa-desa lainnya. Meskipun kita juga terkadang kesulitan untuk meloloskan pengajuan proposal kita karena mereka menganggap desa ini sudah lumayan maju pembangunannya tetapi saya selalu mengupayakannya demi kesejahteraan masyarakat Mejayan. Jadi bantuan yang sudah sampai didesa ini kira-kira ada yang namanya PNPM Mandiri terus BKD, selain itu juga ada raskin. PNPM Mandiri itu diwujudkan dengan berdirinya TK disebelah itu mbak, namanya TK Mardi Siwi. Juga pembangunan parit di dusun Kronggahan. Terus BKD itu diwujudkan dengan adanya pinjaman-pinjaman masyarakat melalui koperasi. Semua kebijakan ini dimusyawarahkan oleh masing-masing RT nya. Desa nanti tinggal menindak lanjuti keputusan yang sudah di gedok dalam rapat RT.” (lampiran 7)
73   

Hampir keseluruhan warga yang kami wawancarai menyampaikan bahwa proses pelaksanaan program-program pemerintah dilaksanakan dengan tahapan yang prosedural. Mereka mendapatkan informasi mengenai program tersebut dari RT/RW mereka. Dari salah satu ketua RT di desa ini, tepatnya ketua RT IV RW I Dusun Sumber Suko bapak Hariyanto kami mendapatkan informasi bahwa program-program pemerintah yang masuk ke desa Mejayan disampaikan kepada beliau bersama ketua RT lainnya oleh Kepala desa dan perangkat desa terkait, untuk kemudian di sosialisasikan kepada warganya. Dari musyawarah di masing-masing wilayah RT tersebutlah kemudian ditentukan siapa yang akan menerima program-program tersebut. Hal yang senada juga disampaikan oleh para kepala dusun.

“Rapat RT kita selenggarakan setiap tanggal 15 mbak. Disitu nanti kita akan ngomong masalah-masalah seputar lingkungan RT, semisal ada orang yang arep nduwe gawe terus mau minta bantuan warga buat dadi sinom atau juga mau minjem peralatan rumah tangga yang dimiliki oleh RT kita. Selain itu nanti di sana juga akan dibahas usulan-usulan warga berkaitan dengan pembangunan di lingkungan RT. Sosialisasi program dari pemerintah juga disosialisasikan lewat kumpulan ini mbak. Jadi disana itu saya sebagai ketua RT menyampaikan perihal program yang kita dapatkan terus nanti ada yang usul siapa atau daerah mana di RT ini yang akan kebagian program itu. Setelah itu nanti langsung saya laporkan kepada desa dan langsung ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.”(hasil wawancara kuisioner)

3.3.3 POLA HUBUNGAN ELITE-MASSA DALAM MEMPENGARUHI PROSES PEMBUATAN DAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN DESA

74   

A. Pola Hubungan Patron-klien dalam Proses Pembuatan dan Pelaksanaan Keputusan di Desa Mejayan Patron di desa Mejayan yang kami contohkan sebelumnya merupakan seorang pengusaha home industry roti yang sama sekali tidak memiliki relasi khusus dengan para perangkat desa. 35 Beliau merupakan penduduk yang tidak mengikuti satupun kegiatan kemasyarakatan karena sibuk mengurusi bisnisnya. Keputusan desa yang dikeluarkan oleh pemerintah desa selalu ditanggapinya dengan apresiasi yang baik selama ini. Menurutnya apapun yang diputuskan oleh pemerintah desa, selama itu tidak merugikan bagi usahanya beliau akan senantiasa mendukungnya. Program dari pemerintah pusat berupa PNPM Mandiri yang jatuh di desa Mejayan salah satunya terwujud dengan adanya pembuatan parit di dusun Porong. Kami melihat pembangunan ini juga melewati depan rumah bu Lamisri. Beliau menyatakan bahwa program ini sangat bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat sekitar dusun Porong pada umumnya. Pembuatan parit sudah lama dinanti-nantikan oleh warga dan sebagian wilayah di dusun Porong yang telah dijanjikan untuk dibangunkan parit terus menagih janji tersebut ke pemerintah desa. Pembuatan parit memang termasuk program yang dijanjikan oleh kepala desa sewaktu kampanye dulu. Selain pembangunan parit, kepala desa rupanya juga menjanjikan pembangunan-pembangunan lainnya seperti pelebaran mupun perbaikan jalan raya juga pendirian TK Mardi Siwi. Masyarakat telah menilai bahwa sebagian besar janji-janji kepala desa telah ditepati. Namun beberapa seperti pembuatan parit di wilayah RT 11 dusun Porong dan pembangunan jalan setapak di RT 4 dusun Sumbersuko belum terselenggara. Dari keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola hubungan patron-klien tidak mempengaruhi proses pembuatan dan
35

                                                            
 Pola hubungan patron‐klien 

75   

pelaksanaan keputusan di desa Mejayan. Akan tetapi melihat fakta bahwa program-program yang dibuat merupakan bagian dari kontrak sosial kepala desa kepada warga masyarakat ketika kampanye pemilihan kepala desa, maka dapat dikatakan bahwa proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan di desa Mejayan dipengaruhi oleh tekanan dari masyarakat yang menagih janji-janji kepala desa sewaktu itu. Namun tetap saja kekuatan masyarakat tidak cukup kuat untuk mempengaruhi keputusan pemerintah desa sebab kekuatan mereka untuk mempengaruhi kebijakan desa tidak terepresentasikan dalam pemerintahan desa.

B. Pola Hubungan Traditional Authority dalam Proses Pembuatan dan Pelaksanaan Keputusan di Desa Mejayan Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa di desa Mejayan terdapat pola hubungan traditional authority yang melibatkan keluarga seorang tokoh masyarakat mantan elit pemerintahan desa. Keluarga mbah Dulrahim merupakan ‘dinasti’ penguasa desa Mejayan karena berturut-turut keluarganya memimpin desa. Baru kali ini keluarga mbah Dulrahim tidak menduduki posisi sebagai pemimpin desa. Namun tetap saja anak perempuannya yang bernama bu Sumiati dapat menduduki posisi sebagai bendahara desa. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Mbah Dulrahim Kepala Desa Mejayan Tahun 1975-2000

Joko Purnomo Kepala Desa Mejayan
76 

Sumiati Bendahara Desa Mejayan Tahun 1982-sekarang

Tahun 2000-2009
 

Bagan 1.1 Silsilah Dinasti Keluarga Dulrahim Sumber: Data peneliti

Dinasti keluarga Dulrahim menduduki kekuasaan desa selama beberapa generasi. Oleh karena itu relasi yang dapat dibangun oleh keluarga ini meluas dari penduduk biasa sampai para elite pemerintahan desa. Elite pemerintahan desa yang memiliki relasi yang cukup erat dengan keluarga Dulrahim diantaranya adalah pak saji bagian urusan umum desa Mejayan yang dipercaya mengurusi jatah bengkok bu Sumiati, Kepala dusun Sumber Suko bapak Dodik, ketua RT I RW IV bapak Hariyanto yang istrinya mengabdi di rumah keluarga Dulrahim. Meskipun demikian, relasi yang sedemikian ini tidak mempengaruhi kebijakan yang ada di desa, kecuali bahwa mbah Dulrahim seringkali mempengaruhi kebijakan desa dengan pendapat-pendapatnya. Perangkat desa kadang kala masih membutuhkan nasihat dari mbah Dulrahim apabila pemerintahan desa akan mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan kesejarahan desa.

77   

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Jadi berdasarkan hasil penelitian kelompok kami, di desa Mejayan terdapat dua pola hubungan elit massa. Pertama adalah pola hubungan Patron Client Relationship dan yang kedua adalah pola hubungan Traditional Authority Relationship. Menurut data yang kami temukan di lapangan desa Mejayan lebih berpola Patron Client Relationship karena penduduk desa Mejayan sudah mulai banyak berdatangan penduduk dari luar desa dan juga pendidikan penduduk desa Mejayan yang mayoritas pada jenjang Menengah atau lulusan SMP dan SMA sehingga penduduknya lebih berpikir rasional dan hubungannya berdasarkan timbal balik atau atas dasar keuntungan. Sedangkan untuk pola hubungan Traditional Authority Relationship lebih minoritas karena hanya beberapa penduduk saja yang masih menjalankan pola hubungan seperti ini. Seperti penduduk asli yang sudah berumur tua atau diatas 60 tahun karena masih menokohkan mbah dul selaku sesepuh desa Mejayan. Saran untuk peneliti selanjutnya agar mengerti wilayah yang akan diteliti agar lebih mudah dan mempersingkat waktu dalam pengumpulan informasi. Dan peneliti selanjutnya lebih proporsional dalam pembagian tugas dengan anggota kelompoknya agar terjadi ke efektifan dalam pekerjaan penelitian.

78   

DAFTAR PUSTAKA Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, 2007 Harrison, Lisa. Metodologi Penelitian Politik. Jakarta: Kencana, 2007 http://mega.subhanagung.net/?p=613 (diakses pada tanggal 26 April 2012) http://www.id.wikipedia.org/wiki/desa (diakses pada tanggal 21 Mei 2012) http://www.kabarpublik.com/2012/05/kades-situ-udik-dengan-rp-100-mampumembangun-120-unit-rutilahu-rumah-tidak-layak-huni/ (diakses pada tanggal 26 April 2012) http://www.Sudarto.staff.fisip.uns.ac.id (diakses pada tanggal 22 Mei 2012) Jackson, Karl D. Kewibawaan Tradisional, Islam, dan Pemberontakan Kasus Darul Islam Jawa Barat. Jakarta: , 1990 Leeg, Keith R. Tuan, Hamba, dan Politisi. Jakarta: Sinar Harapan, 1983 Layn, Safrudin Bustam. Dinamika Ikatan Patron Klien. Populis, Volume 3 No 1, September 2008 Muhammad, Basrowi. Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Surabaya: Kampusina, 2004 Sumber Saparin. Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1979. Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo, 2010

79   

LAMPIRAN Lampiran 1 Transkrip Wawancara I Nara Sumber Pewawancara Waktu wawancara : Mbah Dulrahim (Tokoh Masyarakat)

: Danu Ramdhana & Indah Nurlaeli : Jum’at, 25 Mei 2012 / 14:12 sampai 16:10 WIB

Sejarah Desa Mejayan Danu : permisi pak, boleh saya bertanya tentang sejarah dan arti nama desa mejayan ini ? Mbah Dul : iya nak, boleh-boleh saja. Silahkan duduk! ngene, sejarahe desa mejayan ini merupakan bagian dari kerajaan Mataram. Selain itu di desa mejayan ini ada suatu perjuangan keras antara Raden Praworo Dipuro dan dedemit yang ada di desa ini. Kemudian arti dari nama mejayan adalah orang yang jaya atau digdaya. Danu Mbah Dul : dedemit seperti apa mbah? : ya macem-macem, yang saya tahu itu genderuwo dan sejenis jin. dedemit itu dulu diperangi oleh Raden Prawiro Dipuro karena sudah nyerang desa. Awalnya saat padang bulan, ketika banyak anak-anak bermain tiba-tiba banyak anak yang nggeblak. Setelah kejadian itu Raden Prawiro Dipuro diminta untuk berkeliling desa untuk melihat keadaan warga desa. Pas muteri desa, raden itu didampingi dengan perot dan ayu. Mereka itu semacam jin yang selalu membantu Raden. Dengan kesaktiannya, Raden Prawiro Dipuro mendiasadani (disembuhkan) warga desa, sehingga jin yang mengganggu warga desa sudah tidak berani datang lagi karena sudah kalah dengan Raden Prawiro Dipuro.
  80 

Mbah Dul

: oh iya nak, ada namanya dongkrek. Dongkrek disini bukan hanya sebagai kesenian tetapi juga sebagai pusaka bagi warga Mejayan. Hal ini dikarenakan dongkrak merupakan hasil dari runtutan asal mula caruban ini, yang di tokohi oleh Perot dan ayu selaku pendamping dari Raden Prawiro Dipuro.

Danu Mbah Dul Danu Mbah Dul

: mbah apa arti dari nama kesenian dongkrek? : Dongengin kawulo rakyat inggilmo kasarasan : kapan kesenian Dongkrek itu dipertunjukkan? : biasanya setiap malam satu suro kadang jumat pahing, kadang juga jumat legi. Kesenian Dongkrek itu langsung dipimpin oleh saya. Tapi mas, sekarang saya sudah ndak mimpin lagi, dan yang mimpin sekarang menantu saya, mengingat saya sudah tua

Pola Hubungan Traditional Authority Danu Mbah Dul Danu Mbah Dul Danu Mbah Dul : memangnya sudah umur berapa mbah? : umur saya sudah 84 tahun : sejak kapan mbah berada di desa ini ? : saya berada disini sejak pensiun dari keanggotaan TNI tahun 1964 : saya denger berita dari warga sekitar kalau mbah pernah menjadi lurah? : iya nak, saya menjadi lurah selama dua peiode. Sejak tahun 1975 sampai 2000. Awalnya itu saya ditunjuk oleh KOREM daerah sekitar untuk memimpin desa Mejayan. Tujuannya pertama itu menyadarkan warga sekitar yang eks PKI, dan tentang permasalahan KTP Merah yang dimiliki oleh mantan PKI. Saya merasa kasihan dengan warga yang seperti itu, karena mereka dipersulit untuk ngurus surat-surat
81 

Indah
 

: ohh, berarti mbah jadi KADES karena ditunjuk oleh KOREM?

Mbah Dul

: gini nak, KOREM itu hanya menunjuk saya untuk ikut dalam Pemilihan Kepala Desa selanjutnya atas restu warga desa akhirnya saya yang terpilih. Oh iya nak, yang penting itu kalau jadi kepala desa perlu dibutuhkan jiwa nasionalis dan jiwa sosialis yang tinggi, sehingga nantinya dapat menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana.

Indah

: memangnya ketika menjadi Lurah selama 25 tahun, sudah ada berapa kali pemilihan ya mbah?

Mbah Dul

: sudah ada dua kali pemilihan nak. Yang pertama tahun 1975 dan yang kedua 1982

Indah Mbah Dul

: di pemilihan pertama dan kedua ada berapa calon ya mbah? : yang pertama itu ada lima dan yang pemilihan kedua ada dua. Tapi semua kalah kalau mbah nyalon, hahaha. Ya mungkin karena memang mbah sudah dipercaya dengan masyarakat sini, karena sudah ngemong mereka secara sosial dan menjaga tradisi Mejayan

Indah

: oh ya, ketika mbah dulu menjabat sebagai lurah, apakah usaha yang banyak dijalankan oleh warga desa Mejayan?

Mbah Dul Indah milik Mbah Dul

: usaha pertanian nak yang paling banyak dijalankan oleh warga desa. : oh ya mbah, sawah yang digunakan oleh warga desa itu milik sendiri atau orang lain ya? : sawah yang dijalankan warga desa itu milik sendiri karena lahannya ini didapatkan secara turun menurun nak. Dulu mbah juga dapet tanah bengkok desa lalu mbah jual untuk pembangunan desa. Ya mungkin salah satunya seperti itu yang bisa dijadikan warga untuk ngamanati saya jadi lurah
82 

Indah
 

: oh, seperti itu ya mbah. Terimakasih banyak mbah atas ceritanya.

Lampiran 2 Transkrip Wawancara II Nara Sumber Pewawancara Waktu Wawancara Cinta Ibu Suyono : Bu Suyono (Istri RT. III RW. IV) : Cintatya CB, Chandra DH, M. Budi S : Jum’at, 25 Mei 2012 / 15:06 sampai 16:02 WIB

: selama ini Ibu Suyono bekerja di rumah Ibu sumiyati sudah berapa lama ? : saya ini bekerja dengan Ibu sumiyati sudah sejak anak saya masih kecil hingga sekarang sudah masuk SD kelas dua. Jadi kalau dikira-kira sudah selama tiga tahun ini.

Chandra Ibu Suyono

: Biasanya, yang ibu kerjakan apa saja sehari-hari bu Sumiati ? : biasanya saya bekerja dirumah Bu Sumiati mengerjakan pekerjaan seharihari dari pagi hingga bu Sumiati pulang kantor. Tetapi pada saat ini saja saya bekerja membantu membawakan makanan kepada kalian. Saya bekerja dari pagi hingga siang. Tetapi saat ini saya bekerja hingga sore.

Budi

: Bagaimana Penggajian kepada ibu selama ini ? Apakah Perhari,perminggu atau perbulan bu?

Ibu Suyono

: Saya digaji setiap bulannya sebesar Rp. 250.000 , tetapi saya juga diikutkan oleh bu Sumiyati Arisan yang mendapatkan Sembako dan biasanya dikocok setiap bulan.

Cinta Ibu Suyono

: selain itu apakah Bu Sumiati membantu kehidupan keluarga ibu ? : iya ibu Sumiati juga membantu anak saya, biasanya memberikan uang saku kepada anak saya yang kecil walaupun tidak setiap hari tetapi sering memberikan. Juga jika ada Hajatan saya juga sering sekali dibantu oleh ibu sumiati. Biasanya membantu kebutuhan yang dibutuhkan saat hajatan
83 

misalnya jajan. Tidak hanya itu saja, jika keluarga saya ada apa-apa bilang ke
 

ibu Sumiati maka ibu juga akan membantu.

Candra

: selama ibu bekerja di rumah ibu sumiarti, apakah ibu dipasrahi oleh ibu sumiati? jika iya, seperti apa bu?

Ibu Suyono

: ya, saya juga dipasrahi membawakan buku Arisannya, saya juga membawa dua buku arisan dua RT yang ada disekitar saya.

Budi Ibu Suyono

: Apakah hubungan ibu sangat dekat sekali dengan Ibu Sumiati ? : ya bisa dibilang saya dengan bu Sumiati ya seperti keluarga, walaupun saya tidak ada hubungan saudara sama sekali dengan ibu. Tapi ibu sangat baik kepada saya juga keluarga saya, dimana saya banyak dibantu oleh keluarga saya dengan keluarga ibu. Pak dar suami bu sumiarti juga membantu suami teman saya yang bekerja sama ibu menjdi PNS.

84   

Lampiran 3

Transkrip Wawancara III Nara Sumber Pewawancara Waktu wawancara Ical: : Pak Sartono (Pemilik sawah terluas di Porong) : M. Syah Rizal & Anis Maryuni Ardi : Jum’at, 25 Mei 2012 / 14:04 sampai 14:57 WIB

assalamualaikum pak, kita mau tanya tanya tentang kehidupan sosial dan usaha apa aja yang biasanya ditekuni oleh warga mejayan, nah kita ingin mengetahui dan belajar mengenai usaha pak Sartono, Kalo boleh tahu bapak punya usaha apa Pak?

Pak Sartono : Waalaikumsalam, ia silahkan, saya Ini punya sawah mas.. di Dusun porong, Anis : O, begitu nggih pak, Kemudian proses pengelolaan Sawahnya bagaimana ya Pak? Pak Sartono: jadi mbak, pertama itu diairi, dibuatkan pematang baru, kemudian dibajak setelah 3-4 hari, sambil membuat persemaian bibit, dua minggu dipupuk. Pokoknya kurang lebih seperti itu mas. Ical: nah bapak dalam mengelola sawah itu dikerjakan sendiri atau mempekerjakan orang lain pak? Pak Sartono: nah jelas saya mempekerjakan orang lain,Mas. Saya tidak terjun langsung dalam pengelolaannya. Saya punya kenalan orang yang mencari pekerjapekerja saya tersebut. Ical: pekerjanya itu dari desa lain atau orang porong sendiri pak? kenalannya bapak tadi itu tinggal di Porong atau di desa lain? Pak Sartono: O, pekerja saya itu semua dari luar desa Mejayan Mas, dari Desa Ngepeh mas
85  yang paling banyak, jadi penduduk desa mejayan ini hampir tidak ada yang  

Kemudian

jadi pekerja sawah, kebanyakan yang punya sawah, tapi sawahnya banyak yang diluar desa, kalo di desa ini ya sekitar porong dan Robahan Mas.

Anis:

bapak orang kepercayaan bapak itu siapa ya pak, kemudian rata rata mempekerjaan berapa orang pak dalam semusim sampe panen gitu?

Pak Sartono: kira kira ya 3-4 orang, orang saya itu ya kalo saya manggilnya pak Marmin, mbak. Anis: biasanya kalo pekerjanya bagian nyiram dan panen itu sama ga pak?

Pak Sartono: Iya pokoknya orang-orang itu aja mbak. Ical: oiya pak, sehari gitu biasanya pekerja bapak dapat gaji berapa pak?

Pak Sartono: biasanya sehari 30 ribu, ditambah makan pagi, siang dan sore itu minum kopi, kue dan Rokok, jadi kira kira 40. ribu mas. Anis: Pak kalo ada hajatan dan acara biasanya pekerja bapak itu diundang ga pak?

Pak Sartono: ya saya undang lah mbak, namanya juga hidup bermasyarakat, kalo butuh ya saya bantu. Ical: o begitu ya pak,oo iya, berarti di mejayan itu yang jadi pekerja dari desa lain. Baik pak terimakasih. Maaf merepotkan, Anis: terimakasih ya pak, Assalamualaikum

Pak Sartono: waalaikum salam, hati hati ya.. iya sama sama.
 

86   

Lampiran 4

Transkrip Wawancara IV Nara Sumber Pewawancara Waktu Wawancara Anis: Lamisri: Ical: Lamisri: Anis: Lamisri: Ical: Lamisri: : Lamisri (Pemilik Home Industry Roti – Porong)

: M. Syah Rizal & Anis Maryuni Ardi : Jum’at, 25 Mei 2012 /15:14 sampai 15:56

Dengan Ibu Siapa? Ibu Lamisri sudah berapa lama bu, industri roti ini? wah sudah lama mas . sudah 25 tahun kurang lebihnya. o, ini bisnis keluarga ya buk? Iya, ini bisnis keluarga, mbak. pengelolaannya bagaimana buk ? ini ya kita kelola bersama dengan bapak, dan yang bantu ya teman teman. Kita bikin kue donat, bakpau, golang galing, dan molen.

Ical: Lamisri:

pemasarannya dimana buk? dipasar sayur ya saya punya langganan, yang ngambil roti saya ya temen temen pedagang dari mana-mana mas.

Ical: Lamisri:

buk, pekerjanya dari desa Mejayan atau luar desa buk? kebanyakan dari desa Talok dan Mejayan mbak, tapi kebanyakan desa Talok, yang Mejayan sekarang sudah kerja sendiri membuat industri roti rumahan.

Anis: Lamisri:
 

yang dari mejayan namanya siapa buk? Rumahnya dimana?
87 

o, rumahnya di belakang sana, namanya bu sarmi. o berarti sekarang yang kerja disini banyak yang dari desa lain ya buk?

Ical:

Lamisri:

iya mas, dulu juga ada ponakan yang nyambi disini, tapi sudah berkeluarga, jadi sudah ga kerja lagi, kalo ada yang mau kerja ya saya bantu.

Anis: Lamisri: Ical: Lamisri:

upahnya pekerja berapa bu? kira kira 600-700 ribu per bulan, kalo ada acara atau hajatan ibu mengundang para pekerja ibu? iya jelas saya mengundang, kita seperti keluarga, kalo sakit ya saya jenguk, pokoknya akrab lah mas.

Ical:

O begitu ya buk, terimakasih banyak, wah kita dapat banyak pengalaman banyak ini buk.

Lamisri: Anis:

o ia sama sama,.. monggo disambi mas? O, inggih buk, maturnuwun

88   

Lampiran 5

Transkrip Wawancara V Nara Sumber Pewawancara Waktu Wawancara Anis : Sarmi: Anis: : Bu Sarmi (Pekerja bu Lamisri dan bu Mariyatun) : M. Syah Rizal & Anis Maryuni Ardi : Jum’at, 25 Mei 2012 / 16:14 sampai 16:48 Assalamualaikum bu Sarmi… waalaikumsalam, silahkan duduk mbak mas kita mau belajar tentang usaha nya ibu, karena kebetulan di dusun porong ini banyak industri roti rumahan. Sarmi: Ical: Sarmi: Anis: Sarmi: Ical: Sarmi: oh iya silahkan, mau tanya apa ? sudah berapa lama bu menekuni usaha roti ini ? sudah lama mas, sekitar 16 tahun an. disini proses pembuatan nya bagaimana bu ? oh kalau disini masih manual mbak, belum ada mesin nya. ini bisnis nya roti apa ya bu ? oh saya bisnis roti golang galing mas, loh sampean kok ngerti mas kalau saya buka usaha roti ? Anis: oh kita tadi kerumah nya bu lamisri, kita dapet info dari beliau kalau ibu dulu pernah kerja di sana dan membuka usaha sendiri sekarang. Sarmi: oh iyaa, dulu saya pernah kerja disitu, saya dulu juga pernah kerja di bu mariyatun bantu-bantu buat kue juga. Ical:
 

sudah berapa lama bu dulu bekerja di bu lamisri dan bu mariyatun? kira-kira saya kerja di bu lamisri dan bu mariyatun sekitar dua tahunan lebih mas

89 

Sarmi:

Anis:

dulu waktu bekerja di rumah bu Lamisri Ibu dapat manfaat apa aja bu?

Sarmi:

ya saya selain dapat gaji saya juga mendapatkn ilmu bisnis dan cara membuat roti, jadi saya memutuskan untuk buat usaha sendiri, mbak. Ya hitung hitung untuk membuat penghasilan keluarga lebih banyak mbak.

Anis : Sarmi:

Waktu kerja di bu Lamisri dan bu Mariyatun dapat bagian apa Bu? Ya kalo di rumah Ibu Lamisri, saya dapat bagian menggoreng rotiroti, kalo di bu Mariyatun saya tukang bikin adonan mbak.

Ical:

biasanya ibu masih sering diajak hajatan atau kegiatan yang lain ga buk, misalnya bu Lamisri atau bu Mariyatun mengadakan?

Sarmi:

Iya, jelas mbak, kita itu tetangga, ya saya sering diundang, kita sering saling membantu, kalo bu lamisri dan bu Mariyatun butuh bantuan buat roti, saya masih sering diajak, mbak.

Anis:

ibu sering mendapatkan bantuan dari Ibu Lamisri dan Ibu Mariyatun ga bu?

Sarmi:

iya mbak, kalo disini memang saling membantu, kita kan juga tetangga, kita pokoknya saling bantu membantu mbak.

Ical:

o begitu ya buk, wah terimakasih ya buk, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dari ibuk, terimakasih ya buk, maaf sudah merepotkan, makasih sudah membantu bu, Assalamualaikum.

Sarmi:

O iya mbak, mas, sama sama, Waalaikumsalam..

90   

Lampiran 6

Transkrip Wawancara VI Nara Sumber Pewawancara Waktu Wawancara Ical : Mariyatun: Ical: : Mariyatun (pemilik Home Industry roti ke-2)

: M. Syah Rizal & Vivi Sulistiyana : Kamis, 24 Mei 2012 / 14:22 sampai 15:07 WIB

assalamualaikum bu mariyatun.. waalaikumsalam, ada apa ya ? saya mau belajar tentang kehidupan di desa ini, dari sektor kebudayaan, ekonomi dll

Mariyatun: Ical:

oh iya silahkan mas.. saya dengar ibu punya usaha produksi roti ya bu, kalau boleh tau membuat roti apa saja bu ? bagaimana cara menjualnya ?

Mariyatun: Ical:

oh saya buat roti isi pisang mas, cara penjualanyaa langsung di jual ke pasar. kalau boleh tahu memproduksinya di lakukan sendiri atau memekerjakan orang bu ?

Mariyatun:

oh sendiri mas , saya yang membuat sendiri lalu saya jual sendiri di pasar, tetapi kalau lagi banyak permintaan saya meminta bantuan tetangga untuk membantu saya.

Ical:

oh begitu ya buk, kalau boleh tahu tetangga ibu yang membantu ibu itu siapa ya ?

Mariyatun:

oh biasanya saya meminta bantuan dari bu sarmi mas. Biasanya saya mempekerjakan tetangga, itung itung bantu ekonomi mas, kasihan.

Ical:
 

kalau boleh tahu berapa bu penghasilannya sehari ? nggak tentu mas, tapi rata-rata 20ribu-50ribu perhari mas

91 

Mariyatun:

Ical:

oh begitu ya bu, terimakasih banyak bu kami sudah dapat pengalaman banyak dari ibu tentang perekonomian di sini. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan.

Mariyatun:

oh nggak apa-apa mas sama-sama, monggo mas ini roti pisang nya di makan (sambil menyodorkan roti pisang)

Ical:

oh nggak usah repot-repot bu (sambil mengambil roti pisang)

92   

Lampiran 7

Transkrip Wawancara VII Nara Sumber Pewawancara Waktu Wawancara : Titik Handayani (Kepala Desa Mejayan) : Nita Tri Astutik & Vivi Sulistiyana : Jum’at 25 Mei 2012 / 10:09 sampai 11:15 WIB

Program-program pemerintah untuk desa Mejayan Nita : Apa saja buk program pemerintah yang masuk desa Mejayan?. Mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah desa. Titik : Program-program yang masuk didesa ini bisa dibilang paling banyak mbak. Bahkan desa ini sering dijadikan percontohan oleh pemerintah bagi desa-desa lainnya. Meskipun kita juga terkadang kesulitan untuk meloloskan pengajuan proposal kita karena mereka menganggap desa ini sudah lumayan maju pembangunannya tetapi saya selalu mengupayakannya demi kesejahteraan masyarakat Mejayan. Jadi bantuan yang sudah sampai didesa ini kira-kira ada yang namanya PNPM Mandiri terus BKD, selain itu juga ada raskin. PNPM Mandiri itu diwujudkan dengan berdirinya TK disebelah itu mbak, namanya TK Mardi Siwi. Juga pembangunan parit di dusun Kronggahan. Terus BKD itu diwujudkan dengan adanya pinjaman-pinjaman masyarakat melalui koperasi. Semua kebijakan ini dimusyawarahkan oleh masingmasing RT nya. Desa nanti tinggal menindak lanjuti keputusan yang sudah di gedok dalam rapat RT. Struktur Pemerintahan Desa Nita : Dengar-dengar waktu Pilkades dulu itu ibuk menang telak ya buk? Titik : Ya begitulah mbak. Meskipun saya cumin lulusan SMP tetap dipercaya rakyat. Rakyat itu selalu berdasarkan 93  nurani mbak. Lain lagi dengan pejabat-pejabat. hati Perangkat disini saja ini lho banyak dulu yang mempermasalahkan status saya sebagai
 

lulusan SMP. Mereka bahkan banyak yang lebih nurut ke pak Sekdes yang Sarjana…

Vivi Titik

: Kok bisa gitu buk? : Lha iya tho mbak. Lawong pak Sekdes itu orang pintar mbak. Pendidikannya tinggi tidak seperti saya yang hanya lulusan SMP. Karena itulah beberapa perangkat desa banyak yang lebih percaya dia kalau ada masalah-masalah gitu. Tapi saya harus tegas mbak, lawong saya yang mimpin kan. Saya tegur saja mereka yang tidak menghargai saya sebagai pemimpin desa. Saya ingatkan lagi kepada mereka: Lurahmu iku aku, lak urusan ngene iki lapore yo kudu nang aku.

Pemilik sumber daya terbesar di desa Mejayan Vivi : Terus itu buk, kira-kira siapa saja ya yang punya usaha yang paling besar atau sawah yang paling luas di desa ini? Titik : Ohh.. kalau sawah relatif rata mbak. Tapi ya ada beberapa yang cukup banyak besar usahanya. Pak Saji di Porong itu sawahnya lebar, terus ada pengusaha roti juga disana yang cukup sukses mbak. Nita Titik : Yang lain lagi buk, ada yang punya usaha besar lagi? : Kalau usaha ada pemilik hotel disini mbak. Tapi itu diluar wilayah desa Mejayan mbak, masih wilayah kecamatan Mejayan tapi. Vivi Titik : Kalau orang paling terpandang buk?, kecuali ibuk tentunya yang bu kades.. hehehe.. : Ya mbah Dul itu, bapaknya bu Sumiati. Terus anggota DPRD pak… itu mbak.

94   

Lampiran 8 Transkrip wawancara VIII Nara sumber Pewawancara Waktu Wawancara Nita : Dodik Satriyo Nugroho (Kepala Dusun Sumber Suko) : Nita Tri Astutik : Sabtu, 26 Mei 2012 / 10.11 sampai 10.30 WIB

: Program pemerintah apa saja yang diterima warga sumbersuko pak?

Dodik : Ya itu mbak PNPM, terus ADD, terus PU Nita : PNPM di Sumber Suko diwujudkan dalam bentuk apa pak?

Dodik :PNPM di dusun Sumber Suko kita wujudkan dengan berdirinya lembaga peminjaman modal usaha yang diketuai bu Fransiska Tinuk. Jadi prosedurnya yang boleh mengajukan peminjaman adalah mereka yang tergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang. Nita : Mereka bikin usaha apa aja pak?

Dodik : Usaha yang dijalankan oleh ibu-ibu yang mendapat modal usaha itu disini mayoritas berbentuk produksi tempe Karena ya mbak, Sumber Suko ini dusun yang banyak usaha pembuatan tempenya, tempe Sumber Suko terkenal yang paling enak di desa Mejayan, bahkan didesa lain juga. Terus juga banyak diantara mereka yang mendirikan kios dengan modal usaha itu. Nita : Kalau ADD tadi itu programnya apa pak?

Dodik : ADD kalau di dusun Sumber Suko diwujudkan dengan pembangunan jalan setapak di wilayah RT 3 dan RT 4 mbak. Masing-masing RT kebagian dana sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu. Itu kalau di itung-itung sebenarnya gak nyukupi mbak, tapi ya kita mengakalinya dengan cara menghimpun swadaya masyarakat sekitar. Hampir seluruhnya turut serta dalam pembangunan itu. Ada yang urun material, duit, tenaga 95 
 

dan juga makanan buat yang kerja. Ya itu kan berarti gotong royong di desa ini masih berjalan, bantuan-bantuan itu sifatnya hanya sebagai perangsang tumbuhnya sikap gotong royong dan kerukunan warga toh mbak

Lampiran 9 Trasnkrip Wawancara IX Nara Sumber Pewawancara Waktu wawancara Nita : Sumiati (Bendahara Desa Mejayan) : Nita Tri Astutik : Sabtu, 26 Mei 2012 / 10.30 sampai 11.14 WIB

: Sudah berapa lama ibuk jadi bendahara

Sumiati: Wah sudah lama sekali mbak, lebih dari dua puluh tahun. Sejak mbah Dul menjabat sampai sekarang Nita : Sebagai Bendahara ibuk mendapat hak apa nih?

Sumiati: Saya dapat bengkok satu hektar mbak. Bengkok saya diurus sama pak Saji. Saya tidak mengurusi bengkok karena sudah percaya dengan pak Saji yang sudah lama membantu keluarga saya. Pokoknya nanti waktu panen saya terima hasilnya saja dan pembagiannya itu nanti terserah pak Saji. Pak Saji sendiri kan juga punya bengkok, jadi sekalian saya nunut pekerjanya dia. Sama-sama nggarap sawah kalau diatur bebarengan lak tambah echo toh mbak Nita : Sepengetahuan ibuk program pemerintah apa saja yang sudah masuk desa?

Sumiati: Ya itu mbak, PNPM, RTLH, KOPWAN, banyak pokoknya Nita : Apa itu KOPWAN buk?

Sumiati: KOPWAN itu bersumber dari BKD mbak. Provinsi menghibahkan uang dua puluh lima juta untuk kemudian dikelola dalam lembaga KOPWAN. Masyarakat bisa meminjam modal usaha melalui KOPWAN dan selama ini kira-kira sudah banyak usaha konveksi yang dimodali oleh KOPWAN. Meskipun statusnya Koperasi wanita, kami juga meminjamkan modal usaha bagi pertanian.

96   

Lampiran 10  Pertanyaan Untuk Key informan :  1. Siapa saja yang memiliki sawah dan usaha yang ada di desa ini ? (memperoleh  informasi tentang subyek penelitian)  2. Dimana tempat tinggal pemilik sawah dan usaha tersebut?    

Pedoman Wawancara 
Bagaimana  pola  hubungan  elite‐massa  a. Pertanyaan Untuk Patron  yang ada di desa ?      1 Usaha apa? Bagaimana cara mengelola usaha bapak?  2  siapa  saja  yang  (menunjukkan  tahapan)  membantu  proses  menjalankan  usaha  tersebut?  (mengetahui  jumlah  dan siapa kliennya.)  3.  Darimana  asal  (tempat  tinggal)  para  pekerja  bapak/ibu  (desa/dusun lain atau setempat)?  4.  Mengingat  jumlah  pekerja  yang  sebanyak  itu,  berapa  luas sawah atau besar usaha yang bapak miliki?  5. Bagaimana cara membayar jasa pekerja bapak?  6.  Pada  kegiatan  apa  saja  biasanya  bapak  mengundang  pekerja bapak?  7. Dalam hal apa saja bapak membantu keperluan pekerja  bapak?  8.  apakah  dalam  mempekerjakan  warga,  apa  ada  pertimbangan kerabat atau saudara?   

97   

b. Pertanyaan Untuk Client  1. Sudah berapa lama bapak atau ibu bekerja ?  2. Apa saja yang bapak kerjakan dalam pekerjaan itu?  3.bapak memperoleh  apa saja dari pekerjaan tersebut?  4.  dalam  kegiatan  apa  saja  bapak  dilibatkan  oleh  pemilik  usaha tersebut?  5.  dalam  hal  apa  saja  dibantu  keperluannya  oleh  pemilik  usaha bapak?  6.  apakah  bapak  mempunyai  hubungan  kerabat  dengan  pemilik usaha tersebut?      Apakah  pola  hubungan  elite‐massa  Data sekunder mencari dikelurahan dan aparat desa.  terepresentasikan di dalam pemerintah  desa ?  Bagaimana  pola  patron‐client  dalam  proses  pembuatan  dan  pelaksanaan  keputusan di Desa?   a. Pertanyaan Untuk key Informan  1. program‐program  apa  saja  yang  masuk  di  desa  ini  ?  (nasional,  propinsi,  kabupaten  (alokasi dana desa))   2. siapa  saja  yang  mengelola  program  itu  pak?  3. bagaimana  proses  pembuatan  program  tersebut?  4. bagaimana  proses  pelaksanaan  program  itu  pak?  5.  siapa saja yang mendapatkan manfaat dari   program tersebut. 

98   

  Ketika pak kades tidak tahu:  a. siapa yang mengelola program?                  

99   

Lampiran 11 Box Hail Analisis Kuesioner Box Identitas 1: Proses Acara Atau Tahapan Pernikahan Yang Berlangsung Varian yang dapat kita lihat dari diagram diatas adalah variasi pernikahan dengan tahapan ringkas, semi ringkas, dan lengkap. Dari diagram diatas dapat dilihat bahwasanya acara atau tahapan pernikahan yang berlangsung pada saat responden

melaksanakan pernikahan lebih banyak menggunakan tahapan semi ringkas. Yang dimaksudkan tahapan semi ringkas merupakan tahapan yang meliputi proses lamaran, akad nikah di KUA, dan terakhir resepsi sederhana seperti alakadarnya masyarakat Jawa. Sedangkan tahapan pernikahan dengan format yang lengkap merupakan tahapan yang menjalani berbagai format, seperti prosesi lamaran, dipingit, akad nikah, dan proses resepsi dengan adat Jawa. Tahapan ringkas merupakan tahapan yang meliputi proses lamaran dan akad nikah. 

Box

Sosbud

1:

Ciri-Ciri

Organisasi Yang Paling Utama Diikuti

100   

Gambar berdasarkan hasil polling kuisioner

Sebelum kami mengintrepetasikan data diatas, kami telah membuat klasifikasi atas temuan-temuan yang kami dapatkan di lapangan. Diantaranya organisasi yang bercirikan tradisional dan organisasi yang bercirikan rasional. Organisasi yang bercirikan tradisional merupakan organisasi yang mekanisme pemilihan, perekrutan, tujuan, dan manfaat masih diilustrasikan dengan cara-cara konvensional. Dimana pemilihannya masih ditunjuk oleh seseorang yang ditokohkan atau disegani di lingkup organisasi tersebut. Hal ini berbeda dengan model organisasi yang becirikan dengan kerasionalan, organisasi ini cenderung lebih terbuka terhadap modernitas. Seperti contoh pemilihan struktur organisasi, yang dilakukan dengan cara pemilihan langsung atau yang sering kita sebut dengan voting dan dengan cara lain yaitu musyawarah yang tentunya berlandaskan Pancasila. Dari temuan lapangan dapat kita ambil kesimpulan, bahwasanya masyarakat di Desa Mejayan cenderung lebih dirikan oleh organisasi yang menggunakan aspek kerasionalan. Dimana masih menerima adanya voting dan musyawarah. Box Sosbud2: Prosesi Atau Tahapan Pemakaman Jenazah Dan Upacara Yang Dilakukan Saat Memberikan Penghormatan Atau Peringatan Bagi Orang Yang Meninggal Intepretasi data diatas dapat dilihat, bahwasanya

masyarakat di Desa Mejayan cenderung lebih

menggunakan cara tradisional saat mengadakan prosesi

penghormatan terakhir bila ada
101   
Gambar berdasarkan hasil polling kuisioner

sanak

saudara

yang

meninggal. Prosesi secara tradisional ini meliputi, blusuk’an atau dalam bahasa Indonesia adalah menerobos dibawah peti orang meninggal tersebut, jika orang yang meninggal tersebut belum menikah harus ada kembang mayang dan pager bagus atau pengiring wanita dan laki-laki. Tidak hanya itu saja setelah jezah dimakamkan, masih ada prosesi yang tidak kalah penting yaitu tahlilan atau mendoakan jenzah hingga waktu yag ditentukan. Seperti tahlilan selama tujuh hari berturut-turut, seratus hari, atau dalam istilah jawa disebut pendak pisan. Sedangkan proses penghormatan jenazah secara modern, cenderung lebih dicirikan dengan keringkasan prosesi. Proses ini hanya meliputi proses pemakaman dan tahlilan setelah jenazah dimakamkan, tahlilan pun tidak berturut-turut seperti halnya proses pemakaman secara tradisional. Box Sosek 1: Alasan Melakukan Pekerjaan Sambilan Selain Pekerjaan Utama. Intepretasi data diatas

dapat dilihat, bahwasanya masyarakat di Desa

Mejayan cenderung lebih memiliki achivement

biasa dalam melakukan pekerjaan sambilan selain pekerjaan utama. Dalam hal ini, achivement biasa dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk usaha yang dilakukan secara biasa-biasa saja atau
Gambar berdasarkan hasil polling kuisioner

tidak dilakukan dengan susah payah.

102   

Warga desa mejayan lebih cenderung memiliki achivement biasa dikarenakan penghasilan dari pekerjaan utama dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan achivement tinggi dapat dikatakan sebagai bentuk usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh atau dilakukan dengan susah payah. Dalam hal ini, warga desa mejayan sedikit yang melakukan pekerjaan sambilan dengan achivement tinggi dikarenakan penghasilan dari . Box Sosek 2: Dari pekerjaan utama, sampingan dan sumber yang lain, berapa penghasilan rata-rata perbulan/ semusim/ satu proses produksi.

Pendidikan Valid Frequency Percent Valid Dasar 4 4.0 86.0 10.0 100.0 Percent 4.0 86.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 4.0 90.0 100.0

Menegah 86 Tinggi Total 10 100

Gambar berdasarkan hasil polling kuisioner

Intepretasi data diatas dapat dilihat, bahwasanya masyarakat di Desa Mejayan cenderung lebih memiliki penghasilan rendah dari pekerjaan utama, sampingan, dan sumber yang lain. Dalam hal ini, penghasilan rendah dapat dikatakan memiliki penghasilan antara 500.000- 900.000. Sementara itu, penghasilan sedang dikatakan
103   

memiliki penghasilan antara 900.000-1.500.000. Penghasilan tinggi dapat dikatakan memiliki penghasilan di atas 1.500.000. Dalam hal ini, warga Desa Mejayan cenderung tidak memiliki penghasilan tinggi dimungkinan karena mayoritas warganya masih berpendidikan menegah atau dalam hal ini dikategorikan lulusan SLTP atau SLTA. Box Sosek 3 : Format Usaha Desa Dalam box Sosek 3 ini, tidak ditemukan adanya usaha desa yang dikerjakan oleh warga Desa Mejayan.

Box Part 1 : Tahapan Mengusulkan Pembangunan Dalam box ini dijelaskan proses pembangunan Desa Mejayan

bahwasanya mengusulkan desa di

cenderung lebih kepada proses modern, dimana proses ini merupakan proses gabungan antara proses transisional dan lembaga. Proses transisional merupakan
Gambar berdasarkan hasil polling kuisioner

proses

mengusulkan pembangunan dengan musyawarah melewati tokoh

masyarakat atau yang disegani atau

104   

juga bisa disebut dengan sesepuh desa. Sedangkan alur mengusulkan pembangunan desa dengan proses lembaga yaitu melewati struktur aparat desa, seperti RT/RW dan Kepala Desa. Box Part 2: Proses Pemilihan Kepala Desa Dari data yang kami dapatkan, proses pemilihan di Desa Mejayan ini menggunakan voting atau pengambilan suara secara langsung. Seperti biasanya proses pemilihan secara langsung ini melewati pengambilan suara melalui pencoblosan calon Kepala Desa. Adapun daftar nama dan hasil perolehan suara dapat dilihat di Bab II mengenai keadaan politik di Desa Mejayan.

105   

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->