P. 1
5 Pilar Kejawen

5 Pilar Kejawen

|Views: 7|Likes:
Published by sururi arumbani

More info:

Published by: sururi arumbani on Jan 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2014

pdf

text

original

5 PILAR KEJAWEN Banyak sekali pihak-pihak yang menganggap, bahkan meyakini jikalau kejawen itu adalah sebuah

agama. Bahkan orang kejawen itu sendiri. Orang seperti Cliffort Geertz menulis buku yang fenomenal, “The Religion of Java”, agama Jawa. Baginya di Jawa itu ada agama tersendiri, yang unik berbeda dari agama-agama besar di dunia. Saya sendiri maklum jika Geertz membuat terminologi Agama Jawa, sebab kacamata yang dia pakai itu adalah antropologi, dimana religi didefinisikan sebagai sebuah kepercayaan kepada kekuatan supranatural yang mengendalikan kehidupan manusia. Sehingga religiuisitas dimaknai sebagai sikap akan adanya atau hadirnya Kekuatan Supranatural yang Berkuasa itu. Inilah yang disebut Geertz sebagai agama. Jangan dipahami bahwa sebagai agama, di Jawa ada agama yang khas Jawa, dengan Nabi sendiri, kitab suci sendiri. Bukan begitu maksud Geertz. Pemahaman religi seperti itu, akan membawa kita untuk bisa memahami berbagai religi-religi di seluruh dunia. Hampir seluruh peradaban yang tergelar di dunia ini sudah membangun tradisi kepercayaan kepada Yang Supranatural, Ekstraordinary di luar diri manusia. Kejawen sendiri sebenarnya sudah mapan sebagai tradisi dalam religi yang dipahami seperti itu. Jauh sebelum agama-agama yang kita kenal saat ini datang dan berinteraksi. Terdapat beberapa pilar tradisi Kejawen dalam bentuk-bentuk filsafat kehidupan yang sudah terpola sejak dulu kala. Hal itu bisa kita lacak dari beberapa pilar tersebut dalam bentuk ujaran, ungkapan atau bentuk ritus yang tersisa. Hal mendasar menyangkut siapa DIA sebagai kekuatan supranatural (di luar dini manusia) yang sangat menguasai manusia, menentukan haru biru manusia dalam kejawen digambarkan melalui ungkapan “Tan kinoyo ngopo”, tak bisa di-sepertikan apapun. Dengan ungkapan ini, DIA adalah yang sudah tak terjangkau akal dan kemampuan manusia untuk menggambarkannya. Ini adalah pilar pertama. Kedua, adalah menyangkut keberadaan manusia itu sendiri. Bahwa manusia dalam tradisi Kejawen disebut sebagai “TITAH”, sebagai ayat, tanda akan DIA yang “Tan Kinoyo Ngopo” tadi. Ini juga mengandung pengertian bahwa manusia adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan yang besar (makrokosmos) dan mempunyai kehidupan sendiri dalam lingkup kecil (mikrokosmos), atau “jagad alit lan jagat gedhe”. Hidup atau

terakhir. tetapi MENGERTI. berangan dan sebagainya pada akhirnya bisa mengganggu kehidupan. hatihati ya nak jika pulang. Bahkan sampai meninggalpun tetap dilakukan upaya-upaya keselamatan. nek mulih”. yang DUNUNG posisi diri. Dalam perilaku dan sikap. Kejawen tidak hanya menuntut bisa. sedangkan dalam posisi berkaitan diri sendiri (SELF). Selamat dalam paham Kejawen ya kembali pada pilar pertama. maka fondasi HATI menjadi sangat penting. sehingga dalam bentuk perilaku menghasilkan sikap dan laku “ATI-ATI”.NGERTI banyak kaweruh. Interaksi manusia dengan makhluk lainnya menghasilkan dan memproduksi wacana. “Ati-ati yo nduk. “DUNUNG” dalam Kejawen lebih berfokus pada posisi (hubungan dengan yang lain). melalui proses “sangkan paraning dumadi” sehingga bisa kembali menghadap kepada DIA “Sing Tan Kinoyo Ngopo” tadi. Ini adalah pilar keempat dalam Kejawen. dan lebih luas lagi sebagai titah. Penguasaan ilmu atau NGELMU itu kesulitan terbesarnya adalah setelah dikuasainya ilmu. didahului selametan. Inilah mengapa dijumpai dalam tradisi Jawa banyak sekali ritual selamatan. Sehingga akan menghasilkan manusia yang NJAWANI. atau “kiblat papar lima pancer” dan lainnya sehingga membentuk sebuah pemahaman akan pada pilar yang ketiga yakni “DUNUNG” posisi diri dalam jagat raya ini. selamat kembali kepada asal. oleh karena itu pesan “ATI-ATI” itu dimaksudkan sebagai bentuk menjaga hati dari kotoran. Konsep “Selamet” sebagai puncak dari tujuan manusia Jawa. yakni “SELAMET”. Agar bisa lebih memahami ini. Jika sudah demikian. Sebenarnya tidak sekedar hati-hati berjalannya.“Urip” adalah “roso rumongso” dengan sesama. . cermin dan demikian sebaliknya. ilmu pengetahuan dan emosi. persoalan prinsip diajukan adalah “Untuk apa kesaktian itu?”. maka dalam Kejawen di ajarkan mengenai “sangkan paraning dumadi”. berkhayal. seperti niat yang jahat. maka sampailah pada pilar kelima. mau pengantin selametan dan sebagainya. Seseorang bagi orang lain adalah ayat. tetapi memperhatikan “HATI”. Orang mau memulai bersawah. Sering orang tua kita dulu menasehati. Kejawen menuntut dan menuntut agar setiap orang bisa NGERTI. Merasa sama-sama sebagai manusia. diajarkan “NGERTI”. Memang untuk menguasai ilmu katakanlah “kejadugan” atau kesaktian.

Namun jika mencermati uraian saya tentang 5 pilar Kejawen ini. Dan saya memilih Islam sebagai agama. maka itu adalah pilihan anda. Wallahu „alam Bish-showab . anda akan tetap dalam tradisi seperti itu tanpa memeluk agama. tentu bisa dimafhumi. memahami dan berfilsafat.Itulah 5 pilar dalam Kejawen yang saya pahami. Itu semua adalah tradisi dalam berpikir. sekali lagi Kejawen dalam pandangan antropologis. Apakah kemudian. Mengapa? Tentu itu adalah hak saya seandainya saya tidak banyak membeberkan alasannya. religi adalah upaya sebuah tradisi kepercayaan kepada DIA yang Ghaib mengendalikan dan mengatur kehidupan manusia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->