P. 1
teori mencuci tangan

teori mencuci tangan

|Views: 1,571|Likes:
Published by Friska Sitorus

More info:

Published by: Friska Sitorus on Jan 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2013

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

Kepatuhan Menurut Adiwimarta, Maulana, & Suratman (1999) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepatuhan didefinisikan sebagai kesetiaan, ketaatan atau loyalitas. Kepatuhan yang dimaksud disini adalah ketaatan dalam pelaksanaan prosedur tetap yang telah dibuat. Menurut Smet (1994), kepatuhan adalah tingkat seseorang melaksanakan suatu cara atau berperilaku sesuai dengan apa yang disarankan atau dibebankan kepadanya. Dalam hal ini kepatuhan pelaksanaan prosedur tetap (protap) adalah untuk selalu memenuhi petunjuk atau peraturan-peraturan dan memahami etika keperawatan di tempat perawat tersebut bekerja. Kepatuhan merupakan modal dasar seseorang berperilaku. Menurut Kelman (1958) dalam Sarwono (1997) dijelaskan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu diawali dengan proses patuh, identifikasi, dan tahap terakhir berupa internalisasi. Pada awalnya individu mematuhi anjuran / instruksi tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sangsi jika dia tidak patuh, atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika dia mematuhi anjuran tersebut. Tahap ini disebut tahap kepatuhan (compliance). Biasanya perubahan yang terjadi pada tahap ini sifatnya sementara, artinya bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur/ hilang, perilaku itupun ditinggalkan. Kepatuhan individu yang berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman tentang pentingnya perilaku yang baru, dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda jenisnya, yaitu kepatuhan demi menjaga hubungan baik dengan tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut (change agent). Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal jika perubahan tersebut terjadi melalui proses internalisasi dimana perilaku yang baru itu

. Sedangkan menurut Purohito (1995) mencuci tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan keperawatan misalnya: memasang infus. mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi. Pengukuran kepatuhan dapat dilakukan menggunakan quesioner yaitu dengan cara mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengukur indikatorindikator yang telah dipilih. valid. Sementara itu menurut Perry & Potter (2005). misalnya karakteristik itu harus reliabel. suatu indikator merupakan suatu variabel (karakteristik) terukur yang dapat digunakan untuk menentukan derajat kepatuhan terhadap standar atau pencapaian tujuan mutu. Cuci Tangan 1. 2004). dan juga dapat diukur (AlAssaf.dianggap bernilai positif bagi diri individu itu sendiri dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya. mudah diterapkan. et.al. Di samping itu indikator juga memiliki karakteristik yang sama dengan standar. jelas. sesuai dengan kenyataan. mengambil spesimen. Jadi. Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air (Tietjen. Indikator tersebut sangat diperlukan sebagai ukuran tidak langsung mengenai standar dan penyimpangan yang diukur melalui sejumlah tolok ukur atau ambang batas yang digunakan oleh organisasi merupakan penunjuk derajat kepatuhan terhadap standar tersebut. dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit (Perry & Potter. 2000). Infeksi yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan. 2003). Menurut Definisi cuci tangan Tim Depkes (1987) mencuci tangan adalah membersihkan tangan dari segala kotoran. . B.

tangan diduga tercemar dengan mikroorganisme khususnya pada tindakan yang memungkinkan kontak dengan darah. selaput lendir. (1993) adalah : a) Sebelum melakukan prosedur invasif misalnya : menyuntik. 2.al. pemasangan kateter dan pemasangan alat bantu pernafasan b) Sebelum melakukan asuhan keperawatan langsung c) Sebelum dan sesudah merawat setiap jenis luka d) Setelah tindakan tertentu. cairan tubuh. sekresi atau ekresi . Tangan harus di cuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan. Cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain. et. agar kuman yang menempel pada tangan benar-benar hilang. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat di kurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. 2000).. 3.Mencuci tangan adalah membasahi tangan dengan air mengalir untuk menghindari penyakit. Indikasi cuci tangan Indikasi untuk mencuci tangan menurut Depkes RI. tangan dan lengan (Schaffer. Tujuan cuci tangan Menurut Susiati (2008). tujuan dilakukannya cuci tangan yaitu untuk : a) Mengangkat mikroorganisme yang ada di tangan b) Mencegah infeksi silang (cross infection) c) Menjaga kondisi steril d) Melindungi diri dan pasien dari infeksi e) Memberikan perasaan segar dan bersih. Mencuci tangan juga mengurangi pemindahan mikroba ke pasien dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang berada pada kuku.

4. Macam-macam cuci tangan & cara cuci tangan Cuci tangan dalam bidang medis dibedakan menjadi beberapa tipe. cuci tangan akan memberikan keuntungan . Keuntungan mencuci tangan Menurut Puruhito (1995).e) Setelah menyentuh benda yang kemungkinan terkontaminasi dengan mikroorganisme virulen atau secara epidemiologis merupakan mikroorganisme penting. yaitu cuci tangan medical (medical hand washing). sebagai berikut: a) Dapat mengurangi infeksi nosokomial b) Jumlah kuman yang terbasmi lebih banyak sehingga tangan lebih bersih dibandingkan dengan tidak mencuci tangan c) Dari segi praktis. biasanya digunakan sebelum dan sesudah melakukan tindakan yang tidak mempunyai resiko penularan penyakit. Adapun cara untuk melakukan cuci tangan tersebut dapat dibedakan dalam beberapa teknik antara lain sebagai berikut ini: a) Teknik mencuci tangan biasa Teknik mencuci tangan biasa adalah membersihkan tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir atau yang disiramkan. 5. ternyata lebih murah dari pada tidak mencuci tangan sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Benda ini termasuk pengukur urin atau alat penampung sekresi f) Setelah melakukan asuhan keperawatan langsung pada pasien yang terinfeksi atau kemungkinan kolonisasi mikroorganisme yang bermakna secara klinis atau epidemiologis g) Setiap kontak dengan pasien-pasien di unit resiko tinggi h) Setelah melakukan asuhan langsung maupun tidak langsung pada pasien yang tidak infeksius. cuci tangan surgical (surgical hand washing) dan cuci tangan operasi (operating theatre hand washing).

Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan biasa adalah setiap wastafel dilengkapi dengan peralatan cuci tangan sesuai standar rumah sakit (misalnya kran air bertangkai panjang untuk mengalirkan air bersih. sarung tangan (gloves). tempat sampah injak tertutup yang dilapisi kantung sampah medis atau kantung plastik berwarna kuning untuk sampah yang terkontaminasi atau terinfeksi). Membersihkan (membilas) tangan dengan air yang mengalir sampai bersih sehingga tidak ada cairan sabun dengan ujung tangan menghadap ke bawah 9. Prosedur kerja cara mencuci tangan biasa adalah sebagai berikut: 1. lap tangan (hand towel). 4. 3. sabun cair atau cairan pembersih tangan yang berfungsi sebagai antiseptik. dimulai dari meratakan sabun dengan kedua telapak tangan. Melepaskan semua benda yang melekat pada daerah Mengatur posisi berdiri terhadap kran air agar tangan. Menutup kran air menggunakan siku. serta di bawah wastefel terdapat alas kaki dari bahan handuk. tangan 7. 2. seperti cincin atau jam tangan memperoleh posisi yang nyaman Membuka kran air dengan mengatur temperatur airnya Menuangkan sabun cair ke telapak tangan Melakukan gerakan tangan. bergantian. bukan dengan jari karena jari yang telah selesai kita cuci pada prinsipnya bersih Membersihkan ujung-ujung kuku bergantian pada telapak . Membersihkan kuku dan daerah sekitarnya dengan ibu jari secara bergantian kemudian membersihkan ibu jari dan lengan secara bergantian 8. lotion tangan. untuk membersihkan selasela jari 6. kemudian kedua punggung telapak tangan saling menumpuk. alat pengering seperti tisu. 5.

b) Teknik mencuci tangan aseptik Mencuci tangan aseptik yaitu cuci tangan yang dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. tempat tersebut dalam keadaan rapi dan bersih. khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau operasi. sabun antimikrobial (non-iritasi. masker wajah. handuk steril. Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut. sikat scrub bedah dengan pembersih kuku dari plastik. kemudian melepaskan semua perhiasan misalnya cincin atau jam tangan 2. Prosedur kerja cara mencuci tangan steril adalah sebagai berikut: 1. spektrum luas. kerja cepat). Prosedur mencuci tangan aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis atau cuci tangan biasa. c) Teknik mencuci tangan steril Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan secara steril (suci hama). hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril. khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien yang mempunyai penyakit menular atau sebelum melakukan tindakan bedah aseptik dengan antiseptik dan sikat steril. Terlebih dahulu memeriksa adanya luka terpotong atau abrasi pada tangan dan jari. . penutup sepatu. pakaian di ruang scrub dan pelindung mata. penutup kepala atau topi. masker kertas dan topi atau penutup kepala. Mencuci tangan dengan larutan disinfektan. Pada saat meninggalkan tempat cuci tangan.10. Hal yang perlu diingat setelah melakukan cuci tangan yaitu mengeringkan tangan dengan hand towel. Menggunakan pakaian bedah sebagai proteksi perawat yaitu: penutup sepatu.

digunakan 7. Membuang pengikir setelah selesai Menuangkan sejumlah sabun (2 sampai 5 ml) ke tangan dan menggosok tangan serta lengan sampai dengan 5 cm di atas .pastikan masker menutup hidung dan mulut anda dengan kencang. c. Seluruh penyikatan harus selesai sedikitnya 2 sampai 3 menit (AORN. dan lengan Membersihkan kuku di bawah air mengalir dengan tongkat oranye atau pengikir. siku 6. Menyikat ujung jari. Selain itu juga memakai pelindung mata 3. Dengan gerakan sirkular. 2000). gerakan b. 4. Dengan tepat mengingat. 1999 sebagaimana dikutip oleh Perry & Potter. kemudian bilas sikat secara seksama 8. a. dengan kaki dan sesuaikan air untuk suhu yang nyaman mempertahankankan tangan atas berada setinggi siku selama seluruh prosedur 5. menyikat telapak Menyikat sisi ibu jari 10 kali gerakan dan Menyikat samping dan belakang tiap jari 10 tangan dan permukaan anterior jari 10 kali gerakan bagian posterior ibu jari 10 gerakan kali gerakan tiap area. tangan. bagi lengan dalam tiga bagian. d. Kemudian mulai menyikat setiap permukaan lengan bawah lebih bawah dengan gerakan sirkular selama 10 kali gerakan. Menyalakan air dengan menggunakan lutut atau kontrol Membasahi tangan dan lengan bawah secara bebas. menyikat Membasahi sikat dan menggunakan sabun antiMenyikat kuku tangan sebanyak 15 kali mikrobial. kemudian sikat punggung tangan sebanyak 10 kali gerakan e.

mempertahankan tangan tetap tinggi sehingga memungkinkan air mengalir dari area yang kurang ke yang paling terkontaminasi. 6. 10. buang sikat kedua Kemudian mengeringkan dengan handuk steril untuk dan mematikan air dengan pedal kaki satu tangan secara seksama. menggerakan dari jari ke siku dan mengeringkan dengan gerakan melingkar 13. lain. biarkan air mengalir pada siku . Jadi. Mempertahankan tangan lebih tinggi dari siku dan jauh Perawat memasuki ruang operasi dan melindungi dari tubuh anda tangan dari kontak dengan objek apa pun. Dengan penyabunan dan penggosokan yang dilakukan dua kali sesuai prosedur akan menjamin tangan bersih. mencuci keseluruhan dari ujung Mengulangi langkah 8 sampai 10 untuk lengan yang jari sampai siku satu kali gerakan.bagian tengah dan atas lengan bawah dengan cara yang sama setelah selesai menyikat buang sikat yang telah dipakai 9. perawat tidak perlu menyikat atau mengeringkan tangan dengan handuk steril. baru 14. Kewaspadaan untuk perawat dalam melakukan cuci Mengulangi metode pengeringan untuk tangan yang lain dengan menggunakan area handuk yang lain atau handuk steril Dengan tangan fleksi. 11. Pada situasi ini perawat dapat menggunakan handuk kertas untuk pengeringan. tangan steril Pakaian atau seragam scub perawat harus tetap kering. 15. Pengeringan dimulai dari area yang paling bersih ke area yang kurang bersih. Air mengalir berdasarkan gravitasi dari ujung jari ke siku. Mempertahankan lengan tetap fleksi. Bila perawat ingin menggunakan sarung tangan steril di area reguler. 12.

kesadaran. dan sebagainya. dan kemudian organisme tersebut merespons. maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo. dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. berbicara. Perilaku tertutup (convert behavior) merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini. baik yang diamati langsung. kuliah. 2005). yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Menurut teori Green dalam Notoatmodjo (2003). dimana kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. pengetahuan. menulis. menangis. Sedangkan perilaku terbuka (overt behavior) merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Perilaku cuci tangan tenaga kesehatan Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berjalan. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian. seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003).Pengeringan mencegah kulit kering dan memudahkan menggunakan sarung tangan (Perry & Potter. maka perilaku menurut Notoatmodjo (2003) dapat dibedakan menjadi dua yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). persepsi. tertawa. menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. yakni faktor perilaku (behavior . Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme. dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut. C. membaca. 2003). merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia. maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Menurut Skinner. bekerja. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek.

atau petugas yang lain.causes) dan faktor diluar perilaku (nonbehavior causes). et. tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan. dari pasien ke pasien lain. 2009). Mereka pada umumnya mencuci tangan setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien keseluruhannya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Musadad. Kondisi seperti ini dapat memicu terjadinya Infeksi nosokomial yang dikenal dengan Healthcare Associated Infections (HAIs) yang dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas. (1993) ditulis dalam CDK (Cermin Dunia Kedokteran) yaitu perilaku cuci tangan oleh tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat menunjukkan bahwa sebagian besar petugas tersebut tidak melaksanakan cuci tangan. dan sebagainya. Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal jika perubahan tersebut terjadi mulai proses internalisasi dimana perilaku yang baru itu dianggap bernilai positif bagi individu itu sendiri dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya. yang terwujud dalam lingkungan fisik. kepercayaan. Hal ini terlihat pada waktu petugas akan memeriksa pasien. nilai-nilai. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu faktor-faktor predisposisi (predisposing factors). misalnya fasilitas untuk cuci tangan. faktor-faktor pendukung (enabling factors). keyakinan. 2009).al. . sikap. baik saat pertama kali atau pergantian dari pasien satu ke pasien lainnya. Salah satu tahap kewaspadaan standar yang efektif dalam pencegahan dan pengendalian infeksi adalah hand hygiene (kebersihan tangan) karena kegagalan dalam menjaga kebersihan tangan adalah penyebab utama infeksi nosokomial dan mengakibatkan penyebaran mikroorganisme multi resisten di fasilitas pelayanan kesehatan (Menkes dalam Depkes RI. dan faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan. dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien (Depkes RI. yang terwujud dalam pengetahuan. yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

gaun pelindung. Kewaspadaan universal perawat dalam mencegah infeksi nosokomial menurut Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial RS Dr. menurut Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial RS Dr. kacamata pelindung oleh setiap kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain. Memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda lain yang kotor. Karyadi / FK UNDIP Semarang (2004) harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan kepada semua pasien dan di setiap waktu untuk mengurangi resiko infeksi yang ditularkan melalui darah. dan 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan cuci tangan perawat . Karyadi / FK UNDIP Semarang (2004) dapat dilakukan dengan cara antara lain mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan. murah dan efektif dalam pencegahan infeksi nosokomial dengan strategi yang telah tersedia. masker. Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area beresiko tinggi lainnya di mana kecelakaan perlukaan yang sangat serius dan paparan pada agen penyebab infeksi sering terjadi. 2. pengelolaan limbah yang tercemar oleh darah atau cairan tubuh dengan aman. desinfeksi dan sterilisasi dengan benar. pengelolaan alat kesehatan bekas pakai dengan melakukan dekontaminasi. pengelolaan dan pembuangan alat-alat tajam dengan hati-hati. celemek. D. yaitu: 1. Perilaku perawat dalam kewaspadan universal.Menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan menuurut Tietjen. terutama kebersihan dan kesehatan tangan (cuci tangan) serta pemakaian sarung tangan.al. menggunakan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan seperti misalnya: sarung tangan. (2004) adalah metode paling mudah. et. diikuti dengan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi. dan pengelolaan linen yang tercemar dengan benar. Menaati praktek pencegahan infeksi yang diajurkan.

efek bahan cuci tangan terhadap kulit dan kurangnya pengetahuan terhadap standar. Sebagai contoh secara geografi penduduk Amerika lebih cenderung taat mengikuti anjuran atau peraturan di bidang kesehatan. persepsi dan motivasi. kemampuan. jenis kelamin. (2006). khususnya berkaitan dengan HIV / AIDS. Latar belakang pendidikan juga akan mempengaruhi perilaku . & Peterson (2003) bahwa faktor yang berpengaruh pada tindakan cuci tangan adalah tidak tersedianya tempat cuci tangan. Trick.al. Hacek. waktu yang digunakan untuk cuci tangan. et. Karakteristik perawat merupakan ciri-ciri pribadi yang dimiliki seseorang yang memiliki pekerjaan merawat klien sehat maupun sakit (Adiwimarta. Sementara itu Tohamik (2003) menemukan dalam penelitiannya bahwa kurang kesadaran perawat dan fasilitas menyebabkan kurang patuhnya perawat untuk cuci tangan. Menurut Saefudin. adanya dukungan dari rekan kerja dan adanya pelatihan). Beberapa ahli sebagaimana dikemukakan oleh Smet (1994). Faktor internal yang mempengaruhi kepatuhan dapat berupa tidak lain merupakan karakteristik perawat itu sendiri. mengatakan bahwa kepatuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Noskin. dan faktor organisasi manajemen (adanya kesepakatan untuk membuat suasana lingkungan kerja yang aman. dipengaruhi oleh faktor individu (jenis kelamin. ras kulit putih. Zembover. orang tua dan anak-anak terbukti memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi. tingkat kepatuhan untuk melakukan KU (Kewaspadaan Universal). Data demografi yang mempengaruhi ketaatan misalnya jenis kelamin wanita. kondisi pasien. jenis pekerjaan.al. lama kerja dan tingkat pendidikan). et. Menurut Smet (1994). Karakteristik perawat meliputi variabel demografi (umur.Lankford. profesi. ras. Kepatuhan cuci tangan juga dipengaruhi oleh tempat tugas. rasa takut dan persepsi terhadap resiko). variabel demografi berpengaruh terhadap kepatuhan. suku bangsa dan tingkat pendidikan). faktor psikososial (sikap terhadap HIV dan virus hepatitis B. 1999 dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). ketegangan dalam suasana kerja.

Persepsi tentang protap akan diterima oleh penginderaan secara selektif.seseorang dalam melaksanakan etos kerja. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kepatuhan terdiri atas pola komunikasi. dorongan dan ataupun pembangkit tenaga yang dimilki seseorang atau sekelompok masyarakat yang mau berbuat dan bekerjasama secara optimal melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Azwar. keyakinan / nilai-nilai yang diterima perawat. kecekatan. maka wajar-wajar saja kalau ada perawat yang merasa mampu atau tidak mampu dalam melaksanakan tindakan sesuai dengan protap. akan cenderung patuh untuk melaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan dalam protap tersebut (Arumi. dan dukungan sosial. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam soal kemampuan kerja. Pola komunikasi dengan profesi lain yang dilakukan oleh perawat akan mempengaruhi tingkat kepatuhannya dalam melaksanakan tindakan. Demikian juga dalam pelaksanaan protap mencuci tangan. Beberapa aspek dalam komunikasi ini yang berpengaruh pada kepatuhan perawat adalah ketidakpuasaan terhadap hubungan emosional. ketidakpuasan terhadap . 1996). kemudian diberi makna secara selektif dan terakhir diingat secara selektif oleh masing-masing perawat. sehingga kepatuhan perawat didalam pelaksanaan protap tersebut juga akan berbeda (Arumi. Semakin tinggi pendidikan seseorang. kemampuan intelektual mempunyai peran yang besar dalam pekerjaan yang rumit. kemampuan fisik mempunyai makna yang penting untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina. perawat yang memiliki kemampuan melaksanakan. 2002). Dengan demikian muncul persepsi yang berbeda tentang protap tersebut. kepatuhan dalam pelaksanaan aturan kerja akan semakin baik. 1997). Motivasi adalah rangsangan. Dimensi kecerdasan telah dijumpai sebagai peramal dari kinerja. 2002). Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam pekerjaan yang pada hakekatnya terdiri dari kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. kekuatan dan keterampilan (Muchlas.

Smet (1994) mengatakan bahwa keyakinan-keyakinan tentang kesehatan atau perawatan dalam sistem pelayanan kesehatan mempengaruhi kepatuhan perawat dalam melaksanakan peran dan fungsinya. 2002). role model. usia. tipe kepemimpinan. pasien maupun dukungan dari pimpinan atau manajer pelayanan kesehatan serta keperawatan. masa kerja. Tempat tugas. Dukungan sosial memainkan peran terutama yang berasal dari komunitas internal perawat. Organisasi manajemen: supervisi. E. Ketersediaan fasilitas cuci tangan. pendidikan. jenis pekerjaan. Sedangkan dukungan sosial menurut Smet (1994) berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang. petugas kesehatan lain. Psikososial. Waktu yang digunakan untuk cuci tangan Pengetahuan Faktor yang membentuk perilaku : Predisposing factors Enabling factors Reinforcing factors Tingkat kepatuhan perawat pada standart universal precautions: cuci tangan .pendelegasian maupun kolaborasi yang diberikan serta dukungan dalam pelaksanaan program pengobatan (Arumi. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi : Individu : jenis kelamin. Variabel-variabel sosial mempengaruhi kepatuhan perawat. Motivasi dan kesadaran.

al.al.1. Boyce & Pittet (2002). (2003). F. Green (1980) dikutip oleh Notoatmodjo (2003). fasilitas. Tingkat kepatuhan perawat pada standar universal precaution: cuci tangan : Pengetahuan. . Variabel Penelitian a) Variabel dependen : b) Variabel independen H. Kerangka Teori Penelitian G.2. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ha : 1) 2) 3) Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan Ada hubungan antara fasilitas cuci tangan dengan Ada hubungan antara tempat kerja dengan kepatuhan cuci tangan perawat kepatuhan cuci tangan perawat cuci tangan perawat.Gambar 2. Kerangka Konsep Pengetahuan Ketersediaan fasilitas cuci tangan Tempat tugas Tingkat kepatuhan perawat pada standar universal precautions: cuci tangan Gambar 2. (2006). dan Lankford. et. dan tempat kerja. et. Kerangka Teori Penelitian Sumber: Saefuddin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->