P. 1
77743728 Buah Klimaterik Dan Non Klimaterik

77743728 Buah Klimaterik Dan Non Klimaterik

|Views: 855|Likes:
Published by Icha Syahrotul Anam

More info:

Published by: Icha Syahrotul Anam on Jan 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2014

pdf

text

original

BUAH KLIMATERIK DAN NON KLIMATERIK

Berdasarkan laju respirasinya buah dibedakan menjadi dua yaitu buah klimaterik (laju respirasi meningkat dengan tajam selama periode pematangan dan pada awal senesen) dan nonklimaterik (tidak ada perubahan laju respirasi pada akhir pematangan buah) (Zulkarnaen 2009). Contoh buah klimaterik adalah avokad, papaya, apel, pisang dan lain-lain sedangkan contoh buah nonklimaterik adalah jeruk, nanas, durian, dan lain-lain (Ayimada 2008).

Buah-buahan dapat dikelompokkan berdasarkan laju pernapasan mereka di saat pertumbuhan sampai fase senescene menjadi kelompok buah-buahan klimakterik dan kelompok buah-buahan non klimakterik (Biale dan Young, 1981), seperti terlihat dalam Tabel 5. Buah-buahan klimakterik yang sudah mature, selepas dipanen, secara normal memperlihatkan suatu laju penurunan pernafasan sampai tingkat minimal, yang diikuti oleh hentakan laju pernafasan yang cepat sampai ke tingkat maksimal, yang disebut puncak pernafasan klimakterik. Tabel 5. Buah-buahan tropis klimakterik dan non klimakterik
NAMA UMUM NAMA ILMIAH

KLIMAKTERIK Persea americana Musa sepientum Artocarpus altilis Psidium guajava Mangivera indica Carica papaya Passi flora edulis Anacardium occidentale Citrus paradisi Citrus lemonia Litchi chinenses Citrus cinensis Ananas comosus

Advokad Pisang Nangka Jambu R Mangga Pepaya Markisa (passion fruit) NON KLIMAKTERIK Buah Mete Jeruk Bali / Grafe fruit Lemon Lychee Orange Nenas

Bila buah-buahan klimakterik berada pada tingkat maturitas “kemrampo” yang tepat, dikspos selama beberapa saat dengan konsentrasi ethylene yang lebih tinggi dari threshold minimal, maka terjadilah rangsangan pematangan yang tidak dapat kembali lagi (irreversiable ripening). Pada buah-buahan non klimakterik terjadi hal yang berbeda artinya tidak memperlihatkan terjadinya hentakan pernafasan klimakterik. Meskipun buah-buahan tersebut diekspose dengan kadar ethylene kecil saja, laju pernafasan, kira-kira sama dengan kadar bila terekspose ethylene ruangan, kalau ada tingkatan laju pernafasan hanya kecil saja. Tetapi segera setelah itu laju pernafasan kembali lagi pada laju kondisi istirahat normal, bila kemudian ethylene nya ditiadakan. Dengan ekspos ethylene

Seperti misalnya pemecahan pati menjadi sukrosa dan gula pereduksi serta turunnya kandungan dalam buah mangga (Bhatnagar dan Subramangan. peningkatan daya larut pektin Kehilangan asam organik Pembentukan karotenoid dan anthocyanin Pengeluaran ethylene Syntesa senyawa flavor Peningkatan laju pernafasan Salah satu kesulitan yang dialami secara komersial dalam menghadapi pematangan buah adalah bagaimana caranya mengendalikan proses tersebut secara teliti. Meskipun secara ilmiah dan physiologis dapat ditunjukkan adanya perubahanperubahan yang terjadi yang memungkinkan untuk melakukan klasifikasi sifat dan tabiat buah-buahan lepas panen. Seperti misalnya peningkatan kadar gula pereduksi dan penurunan derajat keasaman. 1973). para pengamat cenderung untuk bergantung terhadap beberapa parameter seperti perubahan yang kasat mata saja seperti terjadinya atau tumbuhnya warna merah pada kulit buah. terjadinya perubahan dari warna hijau menjadi kuning (Marriot. Perubahan utama selama proses pematangan buah Kerusakan khloroplast Hydrolysis pati atau khlorophyl Pelunakan pektin. Perubahan tingkat kekerasan (firmness) atau tekstur buah. tetapi parameter yang sangat mudah dan lebih bermanfaat dan bermakna bagi konsumen adalah parameter perubahan lain yang lebih praktis sifatnya yang terjadi selama proses pematangan. sehingga membuka tabir lapisan karotenoid dalam kulit pisang. Dalam suatu buah yang telah mature (tetapi belum matang) terjadilah perubahan parameter yang dialami buah seperti mislnya degreening atau hilangnya warna hijau. Demikian halnya dengan terjadinya perubahan-perubahan internal dalam buah terhadap komposisi yang dikandungnya. Demikian juga halnya dengan terjadinya perubahan warna eksternal seperti terjadinya pemecahan (breakdown). meskipun secara jelas dapat digunakansebagai parameter penting bagi konsumen. Tabel 6.980). Perubahan mana juga terjadi bila buah-buahan klimakterik tua (mature) dieksposa dengan gas ethylene. Dan khususnya dalam pengembangan timbulnya sifat karakteristik flavor buahbuahan. Pengeluaran ethylene dari dalam buah merupakan salah satu karakteristik dari proses pematangan buah. sebaiknya perubahan flavor (citarasa) yang merupakan kepedulian utama konsumen . Parameter-parameter yang dimaksud adalah : terjadinya pelunakan sera terjadinya sintesa karotinoid. Berdasarkan pengaruh lingkungan. dan akibatnya lebih sulit dilakukan kuantifikasi.terjadilah suatu respon yang kira-kira mirip dapat diamati. ternyata kurang gampang dihayati dan dimengerti. Berikut disajikan dalam Tabel 6 rekapitulasi perubahan-perubahan selama proses pematangan buah yang terjadi secara komersial. Sesungguhnya penting untuk diamati bahwa pengeluaran gas ethylene juga terjadi sewaktu buah menjadi matang. khlorophyl. atau parameter perubahan kimia yang mudah diukur.

Ekspose buah-buahan tropis pada suhu lebih rendah dari nilai threshold kritis.. yang berfungsi dapat menurunkan laju respirasi. Dalam pustaka yang telah diketahui pengaruh ethylene terhadap proses pematangan buah (ripening) ternyata masih sangat terbatas kurang informasi yang diperlukan terhadap senyawa-senyawa lain yang harus dilibatkan dalam mengatur proses metabolisme termasuk proses pematangan buah. serta terhadap kadar mineral yang ada di dalam buah. mereka harus memperhatikan beberapa faktor berikut ini : Kedua. Namun demikian karena buah pisang peka terhadap chilling injuring. seperti misalnya asam giberilat. . akan berakibat gagalnya buah mencapai tingkat kematangan yang normal. 1. Dalam suatu spesies buah atau kultivar tertentu respon terhadap ethylene sangat dipengaruhi bukan saja oleh derajat maturity buah tetapi juga oleh konsentrasi relatif dari plant growth regulator lainnya. tidak cacat. ternyata mampu menghambat respirasi. sebagian besar perdagangan pisang internasional tidak menyimpan pisang pada suhu di bawah 130C. Mereka memilih buah pisang yang kulitnya tidak tercela. laju kehilangan air dan secara umur juga menurunkan peluang serta laju serangan mikroba. bila dibanding dengan buah yang telah matang. tanpa mengurangi kerusakan mekanis. melalui berbagai cara : misalnya penurunan suhu. Di samping itu harus dipahami mengenai faktor lain sebelum menangani buahbuahan tropis khususnya betapa pentingnya faktor sifat kepekaan terhadap chilling enjuries. jauh lebih mudah untuk ditangani dan ditransportasi. dalam praktek perdagangan buah-buahan. yaitu pada saat sebelum dan sewaktu proses pematangan buah (ripening) terhadap setiap kultural atau spesies buah-buahan. buah-buahan yang sudah mature tetapi belum matang. Proses pematangan buah dapat diperlambat. Peran Ethylene Pada Buah Pisang Konsumen buah pisang (Musa AAA) di mana saja sangat mendambakan dapat memperoleh buah pisang yang matang.dianggap lebih penting diasumsikan sebagai cerminan dari perubahan-perubahan fisikokimia. Salah satu aspek dari maturitas adalah pengembangan kapasitas buah untuk mampu menjadi matang. Proses penuaan buah (maturity) sangat penting dikuasai mekanismenya. 1984). 1982). Suatu contoh. dan sekaligus memperlambat terjadinya klimakterik dan menekan puncak produksi ethylene (Ingwa and Young. Pengaruh mana tidak terjadi terhadap buah pisang (Will et al. Karena itu telah menjadi kepedulian yang sangat besar bagi industri buahbuahan agar secar penuh manusia dapat mempengaruhi perubahan laju pematangan dengan cara melakukan manipulasi suhu. perlakuan pemberian larutan kalsium khlorida terhadap buah advokad. tidak rusak secara fisik. Pertama. dan berwarna kuning merata. agar produsen mampu mensuplai buah-buahan dengan menu tersebut di atas. atau konsentrasi ethylene.

maka sistem yang dianut dan dipraktekkan dalam perdagangan internasional pisang selalu memperhatikan faktor tersebut di atas yaitu transportasi buah yang masih mentah tetapi sudah mature dan disimpan pada suhu terendah yang dianggap masih aman. Atau bila mereka telah mencapai suatu umur tertentu. Sebagian besar ekspor buah pisang saat ini berasal dari germ plasmyang sangat sempit. Bila buah pisang dibiarkan tumbuh sampai mencapai maturity penuh yaitu dalam saat pra klimakterik. Berbagai jenis klon pisang tersebut memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat tajam yaitu sebagai berikut : Pada umumnya pisang biasa (banana) dipanen dengan cara memangkas pangkal tandan. Mereka dikelompokkan sebagai Musa AAA. proses pematangan buah dapat dirangsang oleh pemberian atau eksposa gas ethylene. Pusat penelitian pisang diWest Indies telah mengembangkan jenis klon pisang baru tetraploid (Musa AAA). Tidak seperti buah lain. yang terbuka pada saat yang berbeda dalam suatu musim buah-buahan tersebut muncul di berbagai cabang yang mensuplai hara gizi kemungkinan besar tidak sama bagi setiap buah yang sedang berkembang. yang menghasilkan buah-buahan dari bunga. Sedang pisang godok (cooking banana) atau plantains dikelompokkan dalam grup Musa AAB. triploid dengan kontribusi dari beberapa genotype Musa acuminata. Karena alasan tersebut. sehingga mengalami photosintesa yang sama.Ketiga . hara dari tanah yang sama. Pengukuran grade biasanya dilakukan dengan alat kaliper. Dan buahnya berkembang secara parthenocarpic yang berasal dari bunga betina. Penyakit Panama merupakan jenis penyakit ganas yang memusnahkan kultivar pisang Gross Michel (Musa AAA) di West Indies. distimulir proses pematangan dengan gas ethylene dan buah didistribusi sedemikian rupa sehingga buah-buahan tersebut menjadi matang pada saat dipasarkan di lokasi penjualan retail. Tanaman pisang secara komersil ditumbuhkan secara serentak dan menerima input dari sinar yang sama. hasil kontribusi dari genotype Musa balbisiana. Dianjurkan untuk menahan buah dalam suatu lokasi penyimpanan (buffer store) yang berada dekat dengan terminal pasar retail sampai diperlukan. justru sebaliknya. mangga dan pepaya. buah pisang berada dalam suatu tandan dari suatu umur yang telah diketahui. Jenis pisang ini tahan terhadap penyakit Panama danSigatoka disease. uah pisang diproduksi dari satu batang tanaman yang merupakan pseudo stem yang dibentuk oleh tangkai daun. Sedang buah advokad. Di suatu perkebunan pisang komersial. 1966). saat mana disebut periode green life sebelum secara spontan . yaitu merupakan buah-buahan yang dihasilkan oleh pohon. pada saat individu buah pisang atau jari-jari pisang (fingers) telah penuh mencapai “grade” atau girth yang dikehendaki. Perlu diperhatikan bahwa buah pisang memiliki sifat-sifat tertentu yang unik artinya yang tidak dimiliki oleh buah lain dan hal itu penting dalam membedakan fisiologi buah. sehingga berbuah bersama-sama (Simmond. yaitu berdasarkan pada hasil kloning kelompok pisang cavendish.

Pengembangan flavor pisang yang sangat karakteristik yang hasil panen menjadi faktor utama. 2.menjadi matang (ripe).5 – 140C diperlukan bagi perdagangan Trans atlantik (New and Marriott. karena konsumen menilai buah dai penampilan kulitnya. Pengendalian dari green life ke ripe sebetulnya dapat dihambat. Karena alasan tersebut menjadi sangat penting artinya bagi para produsen agar dapat mensuplai di tingkat “retailer” produk dengan mutu dan tingkat pematangan yang optimal sehingga dapat menjual mangga dalam volume besar dalam kurun waktu yang sangat singkat. dalam penerimaan konsumen secara organoleptis terhadap pisang dari berbagai kultivar dan klone pisang. Bagi buah-buahan yang memiliki preclimacteric life yang tidak cukup lama atau kurang dari 20 hari kemungkinan besar akan mengalami matang awal dan pada saat pisang matang akan memproduksi ethylene. Perubahan-perubahan tersebut meliputi : 1. dicuci. 1974). sisir dipisahkan. Namun demikian. Degreening kulit pisang. buah mangga baik dalam saat telah matang sempurna atau hanya matang parsial pada saat dipanen. dengan daging buah yang telah empuk secara merata. biasanya memiliki masa simpan yang pendek. Peran Ethylene Pada Buah Mangga Para konsumen bila membeli mangga menuntut agar mangga yang akan dibeli memiliki warna kulit yang telah berkembang seara lengkap. sehingga akan merangsang pematangan pisang-pisang di sekitarnya. diberi fungisida. 1. . Agar memperoleh waktu yang cukup leluasa untuk pengapalan dan untuk digunakan sebagai “buffer stock” akan sesuai dengan suplai permintaan pasar. Proses pematangan pisang melibatkan berbagai perubahan dalam buah pisang dan hal itu harus diatur untuk menghasilkan buah yang sesuai permintaan rasa seideal mungkin dan sepraktis mungkin bagi selera konsumen. Derajat keempukan dan Konversi pati menjadi gula 2. Green life lebih mendekati korelasi dengan umur fisiologis dan grade pada waktu dipanen. yang merupakan hal yang sangat penting. Mangga merupakan buah yang memiliki masa musim yang sangat pendek. Dalam kenyataannya mangga-mangga yang proses matangnya di pohon memiliki sifatsifat yang tersebut di atas. maka preklimakterik selama 20 hari pada suhu 13. Karena alasan tersebut buah mangga biasanya dipetik dan ditransportasi ke pasar dalam keadaan mature dengan tekstur yang masih keras dan belum matang. Setelah pisang dipanen. dengan cita rasa yang telah berkembang secara penuh. dikemas dalam box dengan lapis polyethylene dan dikapalkan pada suhu 13.5 – 140C (sampai terjadi proses pematangan). 3.

Di Uni Eropa. matang sempurna dan terlalu matang. Untuk mencapai cita rasa yang penuh. . selama 5 menit) dengan suhu penyimpanan berikutnya 24 – 280C.70C dan kisaran hari dari 4 sampai 20 hari tergantung varitasnya. diangkut melalui transportasi udara dan tiba di pelabuhan dalam kondisi yang beraneka ragam yaitu berkisar dari belum mature sampai mature. dan hal itu menghambat pengembangan industri secara besar-besaran. Sdang pemberian ethylene belum dilakukan dalam penelitian tersebut. berkesimpulan bahwa suhu penyimpanan di bawah 250C akan merugikan terhadap pengembangan pigmen karotenoid pada mangga alphonso selama prose pematangan. Pada dasarnya rata-rata waktu yang diperlukan untuk melunakkan mangga berkurang dengan meningkatnya suh pematangan yaitu dalam kisaran suhu 15. dan belum matang (unripe). tetapi dalam prakteknya para retail biasanya memilih buah advokad yang telah menampakkan tanda-tanda mulai timbulnya tanda pematangan buah. Tetapi buah mangga yang dimatangkan pada suhu 15. Suhu optimal untuk pematangan mangga setelah dipanen berbeda pada kultivar yang berbeda pula. perlu ditambah hari dalam penyimpanan. Shubbiah Sketty dan Krisnaprasad (1975) dengan menggunakan perlakuan ethephon (2-chloro ethylphosphoric acid) pada konsentrasi 500 μl 1-1 dan 1000 μl 1dalam air phosphat (540C ± 1C. sebagian besar mangga yang diimport.5 – 190C terjadi warna kulit yang paling indah dan menarik. yang diakibatkan karena tidak adanya pengendalian secara efektif yang diberikan kepada retailer maupun konsumen secara keseluruhan. dengan kondisi yang dapat dilakukan di tingkat pemanenan dan pengendalian pematangan pada tingkat distribusi. Pembeli mangga di tingkat retail menghadapi masalah tersebut dan menanganinya dengan cara melakukan inspeksi pada saat pembelian berdasarkan per tiap shipment. menunjukkan bahwa percepatan pematangan buah dan perbaikan warna kulit dapat dicapai pada larutan panas ethylene dibanding dalam larutan yang dingin. beberapa varitas Florida terjadi serangan / hamamottle skin. Jadi salah satu alternatif lain yang tersisa adalah dengan cara mengimpor buah advokad mature. sebetulnya penyimpanan pada suhu 15. Pada suhu 26. Untuk mangga Florida telah direkomendasikan (Hutton.5 – 26. Thomas (1975) melaporkan hasil penelitian terhadap jenis mangga Alfonso (alphonso) di India. namun demikian. demikian halnya dari daerah produksi satu ke daerah produksi lainnya. Reeder. dan Cambell.70C. selama 5 menit) atau dalam air dingin (24 – 280C. 1960) untuk melakukan penyimpanan pada suhu 21 – 240C. Tetapi cara sementara subjektif tersebut sering tidak memuaskan.5 – 190C terasa masam dan masih memerlukan 2 – 3 hari pemeraman lagi.

Perubahan komposisi karbohidrat dalam pepaya telah banyak dipelajari dan didiskusikan Tang (1979) telah berhasil menggunakan indek biokimia pematangan buah pepaya. Etilen adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan auksin. Cara-cara baru yang telah diterapkan di AS adalah merupakan gabungan dari air panas dan fumigasi untuk mengendalikan lalat buah dan kerusakan pasca panen dan pembusukan pasca panen (Akamine. Kecepatan pemasakan buah terjadi karena zat tumbuh . Peran Ethylene Pada Buah Pepaya Cara yang maju telah dilakukan terhadap prosedur lepas panen industri buah di Amerika terhadap buah pepaya. Pada bidang pertanian etilen digunakan sebagai zat pemasak buah. yaitu dengan pemberian 10 – 20 ml 1-1 ethylene pada suhu 210C selama 12 – 24 jam dengan RH 92 – 95%. Alkamine dan Goo (1977) memberikan indikasi suatu hubungan antara ethylene dan dimulainya trigger klimakterik. RH 85 – 95% dengan ethylene 1 μl 1-1 buah pepaya akan menjadi matang (ripe) setelah 6 – 7 hari.Data hasil penelitian mangga Florida menyarankan untuk memanfaatkan ethylene pada dosis 5 – 10 μl 1-1 untuk waktu 24 – 48 jam pada suhu 300C dengan RH tinggi (90 – 95%) untuk mencapai pematangan. Satu masalah utama yang dihadapi pepaya dalam masalah pemasaran buah adalah teknik identifikasi maturitas optimal. Buah mangga di Israel dimatangkan dengan tujuan agar dapat dipetik lebih dini agar buah-buahan dapat mencapai pasar dan untuk memperbaiki uniformitas warna buah. Etilen di alam akan berpengaruh apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. dalam memastikan buah-buahan tersebut cukup kematangan dengan mutu cita rasa yang dikehendaki konsumen. 1970). Etilen adalah zat cair yang tidak berwarna. buah yang lunak dan aroma yang khas. Senyawa ini sering digunakan sebagai pelarut dan bahan pelunak (pelembut). Dalam keadaan normal. Hormon ini akan berperan dalam proses pematangan buah dalam fase klimaterik. etilen akan berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali.griberelin dan sitokinin. Pemasakan buah ini terlihat dengan adanya struktur warna kuning. mudah larut dalam air. 3. memiliki titik didih relatif tinggi dan titik beku rendah. kental dan manis. Pada suhu 250C.5% secara komersial buah dapat menunjukkan 6% pertumbuhan warna pada saat akhir musim (alkamine. Perlakuan pada buah mangga dengan menggunakan etilen pada konsentrasi yang berbeda akan mempengaruhi proses pemasakan buah. Buah pepaya Hawai memiliki kandungan minimal padatan terlarut 11. Hampir semua penelitian yang dilakukan berkisar pada buah pepaya hawai. tekstur yang kenyal. Rekomendasi yang perlu diterapkan bagi kultivar Florida adalah agar melakukan perlakuan terhadap mangga yang telah mature. Pada umumnya buah pepaya dapat ditrigger proses pematangannya. 1971). Kondisi yang dianjurkan adalah 100 μl 1-1 ethylene selama 48 jam pada suhu 250C dengan RH 90%.

mangga. kandungan protein meningkat dan diduga etilen lebih merangsang sintesis protein pada saat itu. Etilenendogen yang dihasilkan oleh buah yang telah matang dengan sendirinya dapat memacu pematangan pada sekumpulan buah yang diperam. Buah berdasarkan kandungan amilumnya. Etilen yang dihasilkan pada pematangan mangga akan meningkatkan proses respirasinya. sehingga pada penyimpanan buah secara masal dengan kondisi anaerob akan merangsang pembentukan etilen oleh buah tersebut. Selama klimaterik. Tahap dimana mangga masih dalam kondisi baik yaitu jika sebagian isi sel terdiri dari vakuola. merusak polaritas sel selain suhu O2 juga transport. yang mengandung amilum. sepertipisang. Etilen akan mempertinggi sintesis RNA pada buah mangga yang hijau. Proses sintesis protein terjadi pada proses pematangan seacra alami atau hormonal. Buah nonklimaterik adalah buah yang kandungan amilumnya sedikit. . sehingga permeabilitas sel menjadi besar. seperti jeruk. apel dan alpokat yang dapat dipacu kematangannya dengan etilen. Laju pembentukan etilen semakin menurun pada suhu di atas 30 C dan berhenti pada suhu 40 C. tetapi tidak dapat memacu produksi etilen endogen dan pematangan buah. anggur. Etilen yang diproduksi oleh setiap buah memberi efek komulatif dan merangsang buah lain untuk matang lebih cepat. Protein yang terbentuk akan terlihat dalam proses pematangan dan proses klimaterik mengalami peningkatan enzim-enzim respirasi. 2. diduga dalam proses pematangan oleh etilen mempengaruhi respirasi klimaterik melalui dua cara. Etilen dapat juga terbentuk karena adanya aktivitas auksin dan etilen mampu menghilangkan aktivitas auksin karena etilen etilen dapat terhambat. maka sintesis etilen tidak mengalami hambatan. Proses Klimaterik dan pematangan buah disebabkan adanya perubahan kimia yaitu adanya aktivitas enzim piruvat dekanoksilase yang menyebabkan keanaikan jumlah asetaldehiddan etanol sehingga produksi CO2 meningkat. dimana protein disintesis secepat dalam proses pematangan. Buah klimaterik adalah dibedakan buah menjadi banyak buah klimaterik dan buahnonklimaterik. semangka dan nanas. berpengaruh 0 pada pada kondisi anearobpembentukan 0 pembentukan etilen. Proses pemecahan tepung dan penimbunan gula tersebut merupakan proses pemasakan yang ditandai dengan perubahan warna. Pematangan buah dan sintesis protein terhambat oleh siklohexamin pada permulaan fase klimatoris setelah siklohexamin hilang. Etilen mempengaruhi permeabilitas membran.mendorong pemecahan tepung dan penimbunan gula. tekstur dan bau buah. yaitu: 1. Pemberian etilen pada jenis buah ini dapat memacu laju respirasi. Sintesis ribonukleat juga diperlukan dalam proses pematangan. hal tersebut mengakibatkan proses pelunakan sehingga metabolisme respirasi dipercepat. Perubahan fisiologi yang terjadi sealam proses pematangan adalah terjadinya proses respirasi kliamterik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->