P. 1
APBN

APBN

|Views: 505|Likes:
Published by Akil Ladzinrank

More info:

Published by: Akil Ladzinrank on Jan 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/14/2015

pdf

text

original

PEDOMAN PELAKSANAAN 

PENGELOLAAN  APBN  PETERNAKAN DAN  KESEHATAN HEWAN TAHUN 2012     
                                                       

KEMENTERIAN PERTANIAN 
DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN   
Desember 2011 

KATA PENGANTAR
Dalam rangka pencapaian target empat sukses Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bertanggung jawab atas pelaksanaan “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK 2014) dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Program tersebut akan akan ditempuh melalui 6 kegiatan yaitu : (i) peningkatan kualitas bibit; (ii) peningkatan produksi ternak; (iii) peningkatan produksi pakan ternak; (iv) pengendalian dan penanggulangan PHMS dan Zoonosis; (v) penjaminan pangan asal hewan yang ASUH ; dan (vi) peningkatan koodinasi dan dukungan manajemen. Untuk menunjang pencapaian kinerja program dan kegiatan serta memandu pengelolaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja TA 2012, perlu disusun Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012. Pedoman ini antara lain memuat: arah kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan; program dan kegiatan; pengelolaan anggran; pengendalian; pengawasan; evaluasi dan pelaporan. Mengingat pedoman ini masih bersifat umum, maka dalam menjalankan semua kegiatan/komponen/sub komponen yang tertuang dalam POK masih diperlukan Pedoman/petunjuk Teknis yang diterbitkan oleh Direktorat Teknis lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang terpisah dari Pedoman Pelaksanaan ini . Dengan diterbitkannya Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012, diharapkan pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Tahun 2012 dapat dilaksanakan lebih efisien dan efektif dalam mendukung pencapaian progam yang telah ditetapkan.

Jakarta,

Desember 2011

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Ir. Syukur Iwantoro. MS.,MBA NIP 19590530 198403 1 001

____________________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

i

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................... B. Tujuan ......................................................................................... C. Sasaran ...................................................................................... D. Ruang Lingkup ........................................................................... E. Pengertian .................................................................................. BAB II. RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN A. Tujuan ......................................................................................... B. Kebijakan .................................................................................... C. Strategi ....................................................................................... D. Sasaran Pembangunan Peternakan 2012 ................................. BAB III. PROGRAM DAN KEGIATAN A. Program ...................................................................................... B. Kegiatan ..................................................................................... C. Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Dalam Program Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan ................... D. Pembiayaan Program/Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan ...................................................................... BAB. IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN A. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran ....................................... B. Dasar Penyusunan ..................................................................... C. Mekanisme Penyusunan RKA-K/L ............................................. D. Pengesahaan Dokumen Pelaksanaan ....................................... E. Struktur Penganggaran ..............................................................

i ii iv v 1 1 3 3 3 4 8 8 9 10 10 12 12 12 14 32 36 38 38 38 40 40

____________________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

ii

Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan .... Pengelolaan Dana Dekonsentrasi .... Monitoring dan Evaluasi ........ BAB VI.................. C............. B....... Perubahan Dokumen Anggaran ............ D................................... Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran .................................................. Pelaporan ......................... C............ Pengendalian Kegiatan dan Anggaran .... BAB VII......... E.................. Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat ...... Kegiatan dan Anggaran .. EVALUASI DAN PELAPORAN A..... Pengawasan Program... D......................................................BAB V........... PENGELOLAAN ANGGARAN A............. E................................. PENGENDALIAN... PENUTUP LAMPIRAN 44 44 46 48 51 51 54 60 60 61 62 64 69 72 73 ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 iii ...... Pengelolaan Dana Tugas Perbantuan ............... Penghargaan dan Sanksi .... B.. PENGAWASAN....................................... F.....................

..DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1... 11 ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 iv ...... Target Peningkatan Populasi Komoditas Ternak ............

Bagan 3....................... 2012 ................................................................ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Dana Dekonsentrasi Satker Dinas Provinsi TA............ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Kab/Kota TA............. 2012 .............................. Bagan 4. 2012 ..... 45 46 47 49 50 Bagan 2....................DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 1... 2012 ........ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Pada Satker UPT Pusat TA. 2012 ................ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Kantor Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA....................... Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Provinsi TA... ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 v ... Bagan 5...........

Latar Belakang B. Pengertian . Ruang Lingkup E. Tujuan C.BAB I PENDAHULUAN A. Sasaran D.

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembangunan peternakan dihadapkan peternakan dihadapkan pada sejumlah tantangan baik dari lingkungan dalam negeri maupun dari lingkungan global. Dinamika lingkungan dalam negeri berkaitan dengan dinamika permintaan produk peternakan, penyediaan bibit ternak, kualitas bibit, terjadinya berbagai wabah penyakit ternak yang sangat merugikan, serta tuntutan perubahan manajemen pembangunan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan partsipasi masyarakat. Sedangkan isu global yang sedang dihadapi adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan serta energi meningkat. Dari sisi pembangunan ekonomi nasional, bukti empiris menunjukan bahwa sub sektor peternakan memiliki peran cukup strategis utamanya dari kontribusi terhadap produk domestik bruto, penyerapan tenaga kerja, penyedia bahan pangan, bahan energi, pakan dan bahan baku industri, serta sumber pendapatan di pedesaan. Namun besarnya peran tersebut, ternyata belum dinikmati oleh para pelaku usaha peternakan utamanya masyarakat peternak sendiri. Dalam kerangka pembangunan ekonomi wilayah, terlihat bahwa peran sub sektor peternakan sangat strategis dan memiliki kaitan kuat dari hulu maupun hilir dibandingkan dengan sektor lainnya. Peran strategis tersebut perlu dioptimalkan sejalan dengan strategi pemerintah membangun enam Koridor Pembangunan Ekonomi Indonesia (KPEI). Peran strategis tersebut harus dipahami oleh aparat perencana, agar produk perencanaan dapat akomodatif terhadap kebutuhan daerah dan aspirasi masyarakat. Pada era reformasi dan otonomi daerah pemerintah terus melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan jaman antara lain berupa reformasi manajemen keuangan negara, reformasi birokrasi maupun reformasi dalam sistem perencanaan dan penganggaran dengan prinsip penerapan anggaran terpadu (unified budget) dan berbasis kinerja (performance budget) sejak tahun 2010. Sehubungan dengan hal tersebut Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan telah berupaya untuk menindaklanjuti berbagai reformasi tersebut serta mengakomodasi kondisi yang ada, mengimplementasi program dan kegiatan dilapangan, guna memenuhi tuntutan peningkatan kinerja dalam mewujudkan hasil pembangunan sesuai dengan rencana, layanan berkualitas dan pemanfaatan sumber daya.

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

1

Berdasarkan kondisi tersebut, dalam perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan diperlukan pembenahan pada tingkat fleksibilitas maupun responsibilitas terhadap lingkungan strategis, baik secara internal maupun eskternal. Sehingga, untuk mewujudkan perencanaan dimaksud, dalam implementasinya diperlukan sumberdaya manusia, sarana/peralatan dan pendanaan yang memadai serta diperlukan perangkat sistem yang efektif untuk pengendalian dan penilaian kinerja. Dalam rangka mengimplementasikan program dan kegiatan tahun Anggaran 2012 dalam kerangka pecapain kinerja program tahun 2010 2014, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bertangung jawab atas satu program dari 12 program yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian yaitu “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Pencapaian program tersebut akan ditempuh melalui 6 kegiatan utama yaitu (i) peningkatan kualitas bibit ternak; (ii) peningkatan produksi ternak; (iii) peningkatan produksi pakan ternak; (iv) pengendalian dan penanggulangan PHMZ dan penyakit zoonosis; (v) Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan; dan (vi) peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan peternakan, fasilitasi anggaran program dan kegiatan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2012 dengan mengacu pada UndangUndang Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Regulasi lain yang menuntut pemerintah melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada terkait Reformasi manajemen keuangan negara, antara lai yaitu : UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; UndangUndang. No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; UndangUndang No.15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara; Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Undang-Undang. No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang. No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Untuk menunjang pencapaian kinerja program dan kegiatan pada tahun 2012, pengelolaan anggaran diharapkan dapat dilakukan secara konsekuen sehingga jajaran peternakan mampu meningkatkan kemampuan dan menggali secara inovatif kegiatan produktif yang dapat memberdayakan masyarakat petani, meningkatkan pelayanan dan menggerakkan investasi guna mengelola sumberdaya peternakan.
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

2

Dalam rangka memandu pengelolaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja TA 2012, maka diperlukan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012. B. Tujuan Tujuan penyusunan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah : 1. Memberikan acuan pelaksanaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja dalam pembangunan peternakan. 2. Menjabarkan program pembangunan peternakan ke dalam kegiatankegiatan mulai dari pusat sampai daerah. 3. Meningkatkan efisiensi, efektivitas, tertib dan transparan serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan. 4. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan perencanaan anggaran kinerja pembangunan peternakan dan keswan C. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dari Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah sebagai berikut : 1. Terlaksananya pembangunan peternakan sebagai implementasi kebijakan dan program pembangunan peternakan secara nasional. 2. Terjabarkannya program pembangunan peternakan ke dalam kegiatankegiatan yang bersifat pengungkit pembangunan. 3. Tercapainya efisiensi dan efektifitas pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. 4. Terciptanya koordinasi dan keterpaduan perencanaan anggaran kinerja pembangunan peternakan dan keswan 5. Tercapainya evaluasi kinerja yang akurat dalam pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. D. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan dan program. Dalam pokok materi kebijakan dan program akan disajikan substansi terkait: tujuan pembangunan, kebijakan, strategi, sasaran pembangunan peternakan dan keswan 2012, permasalahan serta potensi.
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

3

_________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 4 . Penganggaran Berbasis Kinerja adalah penganggaran yang dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. Salah satu aspek penting dalam manajemen pembangunan dalam mendukung pencapaian kinerja yang ditetapkan adalah aspek pengendalian. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran diperlukan diperlukan prosedur dan tata cara pengelolaan anggaran dalam mendukung program. Pengendalian. Aspek tersebut akan memastikan sejauh mana progress dan capaian kinerja dan sebagai intrumen untuk mengarahkan agar pelaksanaan sejalan dengan rencana dan penganggaran pembangunan peternakan. monitoring dan evaluasi dapat dilakukan untuk menilai kinerja pelaksanaan pembangunan peternakan berdasarkan indikator-indikator yang terukur. E. Tanpa indikator kinerja. pengawasan. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). Dengan demikian. evaluasi dan pelaporan. maupun hubungan horisontal lintas sektor maupun subsektor. Pengertian Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan : 1. pengorganisasian pengelolaan anggaran pembangunan peternakan serta tugas dan tanggung jawab masingmasing instansi. 3. tahap pelaksanaan (on-going). Tata hubungan kerja operasional pelaksanaan pembangunan peternakan dilakukan baik secara vertikal antara pusat dengan daerah. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Untuk itu. provinsi dan kabupaten/kota.2. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/ program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. 2. Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran telah ditetapkan. dalam pengelolaan anggaran diperlukan pemetaan kewenangan pemerintah pusat. evaluasi dan pelaporan. Pengelolaan program dan anggaran. Indikator kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. pengawasan.

akan diketahui apakah input telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dengan meninjau distribusi sumberdaya yang dimiliki. material. Indikator Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran program dan kebijakan. dan baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. Indikator Dampak (impact) adalah pengaruh yang ditimbulkan dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan. 8. 12. Indikator Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan dalam suatu program. 9. menyimpan. peralatan. 11. Manfaat baru nampak setelah beberapa waktu kemudian. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya (manusia. SDM. 5.3. 10. 4. Indikator Manfaat (benefit) adalah gambaran manfaat yang diperoleh secara langsung dari indikator hasil. dan tepat sasaran). teknologi) sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. dana. membayarkan. Indikator Masukan (input) adalah jumlah sumberdaya seperti dana. yang dipergunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam program. Satuan Kerja pada instansi pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu di bidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 5 . tepat. dan bisa dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat lokasi. material dan masukan lain . menatausahakan dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/satker kementerian negara/lembaga. waktu. 7. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. 6.

Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau kepada Instansi Vertikal di wilayah tertentu. 20. 19. 18.13. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. 15. 16. Anggaran Terpadu adalah rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 14. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan kegiatan. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tak terpisahkan dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun. yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember tahun berkenaan. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. 21. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 6 . Rencana Strategis Kementerian adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian (RKA-K) adalah dokumen perencanaan yang merupakan pedoman tugas bagi pelaksanaan tugas kementerian dan merupakan penjabaran dari RKP dan rencana strategis kementerian yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran. 17.

tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. 23. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 7 . Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. 22. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi.

B. Pembangunan Peternakan dalam Sektor Pertanian Tujuan Sasaran Strategi Sasaran Pembangunan Peternakan dan Keswan Tahun 2012 . A. C.BAB II RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN A. D.

Meningkatnya pendapatan peternak _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 8 . Terkendalinya penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis. budidaya ternak. Untuk mewujudkan visi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan perlu ditetapkan misi yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Merumuskan kebijakan dan standarisasi teknis bidang peternakan dan kesehatan hewan yang berbasis sumber daya lokal. 4. maka dirumuskan tujuan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam periode tahun 2010-2014. (i) Merumuskan dan menyelenggarakan kebijakan di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal. dan (iii) Meningkatkan profesionalitas dan integritas penyelenggaraan administrasi publik A. pakan. Visi Renstra yang menjadi landasan dalam pembangunan peternakan adalah: ” Menjadi Direktorat Jenderal yang profesional dalam mewujudkan peternakan dan kesehatan hewan yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal untuk mewujudkan penyediaan dan keamanan pangan hewani serta meningkatkan kesejahteraan peternak”. Tujuan Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam periode tertentu. Sehat. 2. Rumusan misi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai berikut . Utuh dan Halal (ASUH). melalui kebijakan yang telah ditetapkan. (ii) Menyelenggarakan dan menggerakkan pengembangan: perbibitan. yaitu. 3. Meningkatnya produksi dan daya saing.BAB II RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Kebijakan dan program pembangunan peternakan disusun berlandaskan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010-2014. Terjaminnya pangan asal hewan yang Aman. 1. Sinergi dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. 5. kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen dalam mencapai penyediaan dan keamanan pangan hewani untuk meningkatkan kesejahteraan peternak.

regional. pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan. (iv) meningkatkan status kesehatan hewan. Dengan mengacu pada RPJMN. (ii) pewilayahan sumber bibit berbasiskan potensi dan agroekosistemnya. (iv) revitalisasi padang pengembangan dan pemanfaatan lahan kehutanan. (iii) meningkatkan kualitas dan kuatitas obat hewan. Dalam aspek populasi dan produktifitas ternak diarahkan untuk : (i) meningkatkan populasi dan optimalisasi produksi ternak ruminansia dan non ruminansia . Kebijakan ketersediaan dan mutu benih dan bibit ternak akan diarahkan untuk : (i) mengoptimalkan kelembagaan perbibitan dan sertifikasi. pro job. (iii) meningkatkan produksi pakan ternak. yang menyatakan bahwa pembangunan Ketahanan Pangan menjadi prioritas yang kelima.B. (ii) meningkatkan jaminan produk hewan yang ASUH dan daya saing produk hewan. Pada aspek status kesehatan hewan diarahkan untuk : (i) meningkatkan perlindungan hewan. (iii) meningkatkan pengawasan mutu pakan. pro growth. Kebijakan Pembangunan peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan nasional seperti yang telah dituangkan dalam RPJMN 20010 – 2014. (iv) mengoptimalkan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 9 . (iv) pelestarian sumber daya genetic secara berkelanjutan. arah kebijakan umum pembangunan peternakan dan kesehatan hewan 2010 – 2014 adalah untuk : (i) menjamin ketersediaan dan mutu benih dan bibit ternak. (v) menjamin keamanan produk hewan. yang antara lain menyepakati untuk menjamin pelaksanaan langkah-langkah mendesak pada tingkat nasional. Untuk aspek produksi pakan ternak diarahkan untuk : (i) penambahan penyediaan pakan dan air. (iii) pengembangan kawasan/sentra sumber bibit. (ii) peningkatan pelayanan kesehatan hewan. dan (iv) pengembangan kelembagaan dan usaha. (iii) meningkatkan penerapan kesrawan. (ii) melaksanakan revitalisasi persusuan. dan global untuk merealisasikan secara penuh komitment millennium Developmet Goal (MDGs). (iii) melaksanakan restrukturisasi perunggasan. Sesuai dengan hasil KTT Pangan 2009. Sedangkan aspek keamanan produk hewan akan diarahkan untuk . (iv) meningkatkan kuatitas dan kualitas tenaga dokter hewan dan paramedik veteriner. (ii) pengembangan teknologi dan industry pakan ternak berbasiskan sumber daya local. (v) peningkatan penerapan teknologi perbibitan. dan pelestarian lingkungan hidup. (vi) pengembangan usaha dan investasi perbibitan. (ii) meningkatkan populasi dan produktifitas ternak. dan (vi) meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat. pengamatan penyakit hewan. yaitu komitment : pro poor. (i) menguatkan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner.

02%. Meningkatkan daya saing produk peternakan dengan pemanfaatan sumber daya lokal.44 juta orang atau penambahan tenaga kerja yang diserap sebanyak 128. pada aspek peningkatan peran dan fungsi kelembagaan diarahkan untuk : (i) meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan serta SDM peternakan. Sasaran Pembangunan Peternakan 2012 Secara makro. Selanjutnya. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 10 .pengaturan stock daging. Target peningkatan populasi disajikan pada Tabel 1 berikut. Target peningkatan pertumbuhan populasi tertinggi adalah ternak sapi perah sebesar 6. 6. Memperkuat regulasi untuk melindungi peternak dalam negeri.87 ribu orang. (iii) meningkatkan kualitas perencanaan. pembangunan peternakan tahun 2012 menargetkan pertumbuhan PDB sebesar Rp 35. (iii) meningkatkan kerjasama internasional. 2. (ii) meningkatkan pelayanan prima pada masyarakat. (v) mengoptimalkan pengaturan dan pemasaran daging sapi. Strategi Memperhatikan target empat sukses Kementerian Pertanian. 4. (iv) meningkatkan pemberdayaan dan peran serta masyarakat C. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar sektor terkait serta networking antar daerah. Memperlancar arus produk peternakan melalui peningkatan efisiensi distribusi. 5. evaluasi.24% dan terkecil adalah komoditas ternak kerbau sebesar 1. yaitu Pencapaian Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau dan perjanjian GATT tersebut di atas. strategi yang akan ditempuh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2010 – 2014 yaitu : 1. Memperkuat kelembagaan peternakan di daerah dan otoritas veteriner. Populasi Sasaran populasi ternak tahun 2012 mencakup 10 komoditas ternak. data dan informasi. Meningkatkan promosi produk peternakan untuk ekspor. D. penyerapan tenaga kerja 3. 3. yang mencakup produksi dan pertumbuhan populasi komoditas utama peternakan pada tahun 2012 mengacu adalah sebagai berikut: 1. Sedangkan sasaran teknis.2 trilyun.

23 11.315. telur 1.44 959.951.923 5. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 11 .901 117.433.93 ribu ton atau meningkat tiap tahun sebesar 4.965 291.756.743.149. Produksi Sasaran produksi daging tahun 2012 sebanyak 2.498 2.229.207 1.110.881.07 7.100 16.86 120.892 2012 r (%) 15.237 6.311.Tabel 1.67 ribu ton 7.733 39.029.147 114.428 37.471.503.738.03 kg atau setara dengan penyediaan protein 7.647.770.795.73 630.25%.107 1.842 1.42% per tahun dan susu 1.1 gram/kapita/tahun. Target Peningkatan Populasi Komoditas Ternak No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komoditas Sapi potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam ras Petelur Ayam ras Pedaging Itik 2010 14.74% per tahun. produksi telur 1.021 16.706 281.319.02 17.07 303. Ketersediaan/konsumsi Sasaran ketersediaan/konsumsi per tahun pada tahun 2012 untuk daging (daging dan jerohan) sebanyak 1.521 940.428.838 3.34 40.995.637.803.037.686 2011 15.717 4.605 916.852 1.179 603.379 ribu ton meningkat sebesar 9.712 11.208.326 6.412.07 2.302.175.016. 3.973.973 ribu ton dengan peningkatan sebesar 4.946 5.757 2. telur 6.08 ribu ton 3.270.710 10.79% dan susu 3.03 kg dan susu 6.16%.25%.82 ribu ton 5.24 1.693 582.144 3.019 6. Sedangkan penyediaan per kapita per tahun untuk daging 7.950.543.11 kg.425.

Program B. Pembiayaan Program/Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Keswan .BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN A. Kegiatan C. Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Dalam Program D.

peningkatan kualitas dan kuantitas sapi perah. sapi perah. telur. peningkatan kualitas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 12 . Sehat. dan pengembangan usaha dan investasi. domba. Utuh dan Halal” Outcome yang diharapkan dari program tersebut adalah (i) meningkatnya ketersediaan pangan hewani (daging. susu). susu). (ii) meningkatnya kontribusi ternak lokal dalam penyediaan pangan hewani (daging. peningkatan produksi embrio. telur. Output kegiatan ini adalah Peningkatan kualitas dan kuantitas benih dan bibit ternak (sapi potong. peningkatan kualitas dan kuantitas ayam buras. susu). Sehat. Untuk menunjang pencapaian empat sukses Kementerian Pertanian program Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan pasca panen dan Sekretariat Direktorat Jenderal). dan (iii) meningkatnya ketersediaan protein hewani asal ternak. B. Program Program pembangunan peternakan dan keswan tahun 2012 yang akan dilaksanakan adalah ”Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. (ii) Meningkatnya kontribusi ternak lokal dalam penyediaan pangan hewani (daging. Indikator kegiatan ini adalah peningkatan kuantitas semen. itik) yang bersertifikat melalui: penguatan kelembagaan perbibitan yang menerapkan Good Breeding Practices. telur. Utuh dan Halal dikemas dalam enam kegiatan tugas pokok dan fungsi sebagai berikut: 1. Direktorat Pakan Ternak. ayam buras. dan (iii) Meningkatnya ketersediaan kualitas protein hewani asal ternak. kambing. Kegiatan 1: Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. susu). Direktorat Kesehatan Hewan. Peningkatan penerapan teknologi perbibitan. peningkatan penerapan standar mutu benih dan bibit ternak. Kegiatan Kegiatan pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pada masing-masing Eselon 2 (Direktorat Perbibitan Ternak. Direktorat Budidaya Ternak. telur.BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN A. peningkatan kualitas dan kuantitas bibit sapi potong. Outcome yang diharapkan dari program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah (i) Meningkatnya ketersediaan kuantitas pangan hewani (daging.

3. serta proporsi produksi daging unggas lokal terhadap total produksi daging unggas nasional. peningkatan kualitas dan kuantitas kambing. sapi perah. dan peningkatan status wilayah. dan obat hewan bermutu 5. Kegiatan 4: Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategik dan penyakit zoonosis. dan ketersediaan alat. dan proporsi produksi telur ayam buras terhadap total produksi telur nasional. tersosialisasikannya resiko residu dan cemaran pada produk hewan serta zoonosis kepada masyarakat dan tersedianya profil keamanan produk hewan nasional serta peta zoonosis. penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah laboratorium veteriner kabupaten/kota yang terfasilitasi. pengendalian dan penanggulangan PHMS dan zoonosis. 4. surveilans nasional PHMSZE (prevalensi dan atau insidensi). proporsi produksi susu sapi domestik terhadap total permintaan susu nasiona. Kegiatan 2: Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. serta peningkatan kualitas dan kuantitas domba. mesin. dan meningkatnya pelayanan di bidang pakan. Output kegiatan ini adalah berkembangnya usaha pakan dan bahan pakan. serta terjaminnya mutu obat hewan. meningkatnya pemanfaatan hijauan pakan yang berkualitas. Penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah Puskeswan yang terfasilitasi. Kegiatan 3: Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. Perlindungan hewan terhadap penyakit eksotik. Indikator kegiatan ini adalah peningkatan penerapan fungsi otoritas veteriner. serta peningkatan penerapan kesrawan di RPH/RPU. Output kegiatan ini adalah penguatan kelembagaan kesehatan hewan. Kegiatan 5: Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan. Output kegiatan ini adalah penguatan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner. 2. meningkatnya mutu pakan. pertumbuhan terpenuhinya persyaratan dan standar _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 13 . pertumbuhan populasi dan produksi ayam buras dan itik. domba dan kambing). Indikator kegiatan ini adalah pertumbuhan populasi dan produksi ternak ruminansia (sapi potong.dan kuantitas itik. peningkatan jaminan produk hewan ASUH bagi yang dipersyaratkan dan daya saing produk hewan. UPT pelayanan dan laboratorium veteriner melalui Puskeswan. Output kegiatan ini adalah meningkatnya populasi dan produksi ternak. berkembangnya unit usaha pengolahan pakan. Indikator kegiatan ini adalah kemampuan mempertahankan status ”daerah bebas” PMK dan BSE.

Dalam implementasinya pencapaian program tersebut akan ditempuh melalui 6 kegiatan utama. Mendasarkan dengan hasil PSPK tersebut. Operasionalisasi 13 belas kegiatan PSDSK tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan saling terkait dari operasionalisasi kegiatan utama yang mencerminkan setiap fungsi Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan. peningkatan persentase jumlah RPH yang menerapkan kesrawan. yang dalam operasionalisasinya akan terkait satu dengan lainnya dalam mendukung pencapaian kinerja program.8 juta ekor. pembangunan peternakan dan keswan akan lebih diprioritaskan pada pengembangan komoditas ternak sapi potong. yang artinya bahwa pencapain populasi tersebut sudah melebihi target populasi pada tahun 2014 seperti yang ditetapkan dalam road map PSDS/K 2014. pencapaian PSDSK 2014 akan ditempuh melalui 13 kegiatan operasional yang akan dilaksanakan pada 33 propinsi. 6. Indikator dari kegiatan ini adalah indeks kepuasan pelanggan C. Sehat. Sebagai bagian dari target kinerja program pembangunan peternakan. Utuh dan Halal”. Output kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan prima kepada masyarakat. apabila ready stock dapat diwujudkan sesuai dengan potensi yang ada. persentase penurunan produk asal hewan yang diatas BMCM dan BMR. maka pada tahun 2012 dilakukan upaya refocusing program dan kegiatan untuk mendukung _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 14 . tanpa mengabaikan pengembangan komoditas lainnya. Hal tersebut menunjukan bahwa.keamanan dan mutu produk hewan pangan dan non pangan. peningkatan persentase jumlah RPU yang menerapkan kesrawan. Sesuai dengan hasil PSPK tahun 2011. penurunan prevalensi dan atau insidensi zoonosis. Pencapaian Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) 2014 telah ditetapkan sebagai program Nasional yang harus tercapai pada tahun 2014. Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Keswan Dalam Program Sebagai bagian dari pencapaian empat sukses Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai tanggung jawab melaksanakan satu program yaitu “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. Untuk mendukung pencapaian PSDSK 2014. Kegiatan 6: Peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan. populasi ternak sapi potong telah mencapai 14. dari sisi populasi atau potensial stock-nya program swasembada daging dapat tercapai bahkan bisa dipercepat.

efektif dan efisien. Agar pelaksanaan kegiatan program dan kegiatan pembangunan peternakan dan keswan dapat berjalan secara terpadu. Refokusing kegiatan dan target dalam mendukung PSDS/K antara lain meliputi : (i) insentif dan penyelamatan sapi betina produktif. pemanfaatan dan kompetensi SDM belum optimal. pakan. fungsi kelembagaan belum optimal. kurangnya pendayagunaan sumber daya genetik ternak asli dan lokal serta benih rumput. adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. law enforcement lemah dalam penerapan punishment dan reward. (iii) optimalisasi IB dan INKA. (iv) pengembangan pakan ruminansia. perbibitan dan penguatan. dan dalam kerangka pembangunan berbasiskan potensi dan berkelanjutan.pencapaian swasembada daging. Operasionalisasi enam kegiatan dalam mendukung pencapaian Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 15 . (vii) penguatan system distribusi dan pemasaran. (v) penanganan gangguan reproduksi. lemahnya koordinasi pusat. utamanya pada aspek pelayanan teknis. penguatan aspek hilir dan peningkatan SDM peternak kelompok ternak. pakan. (vi) penguatan RPH. (viii) penguatan tenaga penyuluh swadaya. Sistem Perbibitan Nasional (Sisbitnas) dan permasalahan yang dihadapi. (ii) penambahan indukan bibit di sentra pengembangan baru (sapi perah dan sapi potong. strategi yang akan ditempuh adalah pembangunan peternakan melalui pendekatan kawasan. rendahnya penerapan standar bibit dan Good Breeding Practice (GBP). tingginya persilangan antara ternak lokal dan eksotik dan kurangnya pengawasan mutu benih/bibit. b. termonitor dengan baik. tidak adanya insentif pembiayaan yang dapat merangsang tumbuhnya peternak pembibitan dan penggemukan yang berorientasi komersil sebagai akibat kondisi struktur pasar yang kurang kondusif dalam mendukung iklim usaha peternakan sapi potong rakyat. Kegiatan dan target kinerja output perbibitan Memperhatikan arah kebijakan pembangunan peternakan. Permasalahan Beberapa permasalahan yang menghambat pembangunan perbibitan antara lain : tingginya pemotongan sapi betina produktif. daerah dan lintas sektor. a. dan (ix) penguatan kapasitas SDM.

diperlukan upaya terobosan dalam pengembangan ternak bibit di Indonesia. Sebagai upaya menjaga struktur populasi dan mempertahankan ternak betina produktif dari ancaman pemotongan betina produktif. Untuk itu.dll) Pengawalan dan Koordinasi kegiatan Perbibitan di Daerah Pembinaan. Pengawalan dan Koordinasi Perbibitan Peningkatan Kualitas Semen Beku Sapi Peningkatan Kualitas Semen Beku Kambing/domba Peningkatan Kualitas Semen Beku Sapi (BLU) Peningkatan Produksi Embrio Transfer Peningkatan Kualitas Bibit Unggul (BPTU) Penambahan Indukan Sapi Penguatan Unit Pembibitan Daerah Fasilitasi PNBP Koordinasi Teknis Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Dalam rangka meningkatkan kualitas dan penyelamatan plasma nuftah ternak lokal Indonesia diperlukan berbagai upaya pengembangan pembibitan ternak baik yang berbasikan masyarakat atau yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknsi lingkup Ditjen Peternakan dan Keswan. pada tahun 2012 akan dilakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan perbibitan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) 25) 26) Pembibitan Sapi Potong Pembibitan Sapi Perah Pembibitan Kerbau Pembibitan Kambing/Domba Pembibitan Babi Pembibitan Ayam Lokal Pembibitan Itik Lokal Pengendalian Sapi/Kerbau Betina Produktif Pembinaan Pengendalian Sapi/Kerbau Betina Produktif Peningkatan Penerapan Teknologi Perbibitan Penguatan Manajemen Pembibitan Ternak Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Perbibitan (KUPS. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 16 . Pengembangan pembibitan ini akan difokuskan pada daerah sentra pembibitan komoditas spesifik lokasi.

kegiatan ini masih dipertahankan mengingat masih tingginya tingkat pemotongan betina produktif dan dalam pelaksanaannya akan difokuskan pada sentra-sentra produksi sapi potong. dibarengi dengan kegiatan penguatan lembaga perbenihan/perbibitan yang ada baik di pusat.telah dilaksanakan kegiatan insentif dan penyelamatan sapi betina produktif sejak tahun 2011. potensi ternak sapi potong memungkinkan bahwa swasembada daging dapat dicapai bahkan dipercepat pencapaiaanya. walaupun komoditas tanaman pangan relatif lebih maju. akan dilakukan peningkatan kualitas produksi semen. Sesuai hasil PSPK menunjukkan bahwa dari sisi teknis populasi. Permasalahan Meskipun telah terjadi peningkatan produksi yang signifikan dari berbagai komoditas peternakan selama beberapa dekade terakhir ini. Pada tahun 2012. Di lain pihak. provinsi maupun kabupaten/kota. Kegiatan ini diharapkan menjadi stimulus bagi pembibitan sapi dalam menghasilkan bibit ternak. penguatan UPT Pusat dan UPTD perbibitan akan terus ditingkatkan perannya. pengembangan komoditas ini juga dihadapkan pada kendala keterbatasan sumberdaya lahan dan semakin tingginya opportunity cost dengan semakin tajamnya kompetisi penggunaan lahan dengan non-peternakan (terutama di pulau Jawa). namun peningkatan tersebut masih jauh dari potensinya. Pengembangan pembibitan sapi juga dilakukan melalui pemanfaatan kredit usaha pembibitan sapi (KUPS) bagi para pengusaha pembibitan sapi melalui kemitraan dengan usaha pembibitan sapi rakyat. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 17 . Dalam rangka memperkuat dan memperlancar penyediaan bibit peternakan diperlukan dukungan kelembagaan perbibitan yang memadai baik di tingkat pusat. Dalam rangka mendukung pencapaiannya. Benih/bibit merupakan faktor esensial dalam berusahatani. penguatan pelayanan teknis dan sarananya. Untuk itu akan dibentuk pusat-pusat perbibitan pedesaan di wilayah berpotensi. Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. Selain itu. 2. a. provinsi dan kabupaten/kota dengan mengacu pada sistem perbenihan/perbibitan nasional. dalam mendukung pengembangan perbibitan berbasiskan sumber daya lokal.

fluktuasi harga sapi potong. tingkat skala pemilikan ternak yang terbatas. terbatasnya permodalan dalam rangka usaha budidaya sapi perah. kerbau. domba. Terkait dengan pelaksanaan program PSDSK masih terdapat beberapa kendala yang perlu mendapat perhatian. yaitu : belum optimalnya unit manajemen PSDSK. Untuk komoditas persusuan permasalahan utama yang dihadapi dalam rangka pengembangan sapi perah adalah populasi dan produktifitas yang masih rendah. (ii) mewabahnya penyakit khususyna Avian influenza). (iv) PPN produk peternakan dan tata ruang. Sistem peremajaan yang belum terlaksana dengan baik yang disebabkan kurang tersedianya bibit ternak dalam negeri. b. maka pada tahun 2012 akan ditempuh melalui kegiatan (i) pengembangan sapi potong. peternak belum seluruhnya menerapkan recording. (iii) permasalahan system pembiayaan. masih rendahnya manajemen kelembagaan kelompok/koperasi. lemahnya koordinasi antara tingkat pusat dan daerah. produktivitas dan pengembangan mutu produk. unggas lokal dan non unggas serta penataan ramah lingkungan. kurangnya dukungan pendanaan operasional PSDSK. Kegiatan dan target kinerja output produksi ternak Dalam rangka meningkatkan produksi. dan masih terbatasnya dukungan instansi terkait. sehingga harus mengimpor. kambing. teknologi budidaya dan pasca panen ditingkat peternak. terbatasnya sarana prasarana. Untuk komoditas sapi potong antara lain adalah belum optimalnya tingkat produktifitas. kebijakan importasi ternak hidup dan produk turunannya cenderung menunjukkan dampak negative terhadap harga sapi di tingkat lokal. sapi perah. dan (ii) pengembangan kelembagaan peternak dan kelompok ternak. Secara rinci kegiatan tersebut antara lain : 1) 2) Pengembangan Kawasan Sapi Potong Pengembangan Budidaya Sapi Potong _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 18 . Masalah lainnya. tidak adanya insentif pembiayaan yang dapat merangsang tumbuhnya peternak pembibitan dan penggemukan yang berorientasi komersil.Komoditas unggas sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro dan mikro. Dua permasalahamn yang memerlukan perhatian serius oleh para stakeholder [eternakan unggas yaitu : (i) kurang tersedianya bahan paku pakan yang berasal dari sumberdaya domestic.

kambing. Peningkatan kualitas kelompok merupakan tantangan yang perlu diantisipasi untuk mewujudkan sistem agribisnis yang efisien. Kelompok yang terbentuk berdasarkan kebutuhan yang sama dan dimulai dari peternak sendiri merupakan kelompok yang berakar kuat dan setiap anggotanya mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. baik kelompok peternak sapi potong. Kelompok seperti ini yang diharapkan berkembang di masyarakat. dan ATR Optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) Optimalisasi INKA Pembinaan Sarjana Membangun Desa Pengembangan Sarjana Membangun Desa (SMD) Pembinaan LM3 Pengembangan LM3 Pengembangan Ternak Kambing/Domba Pengembangan Budidaya Kambing Perah Pengembangan Budidaya Unggas Lokal Pengembangan Budidaya Non Unggas (Aneka Ternak) Pengembangan Kelembagaan Peternak Penguatan Kelembagaan UM-PSDSK Peningkatan Kelompok Ternak dan Petugas Berprestasi Pembinaan dan Koordinasi Budidaya Ternak Koordinasi Teknis Salah satu kontribusi Pemerintah dalam mencapai tujuan penyediaan produk ternak bagi seluruh masyarakat Indonesia adalah dengan membangun kelompok-kelompok peternak di pedesaan. Kelompok yang baik akan menjadi rujukan dan tempat belajar bagi kelompok lain yang belum/kurang berkembang. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 19 .Kelembagaan kelompok yang demikian diharapkan dapat terbangun dengan baik.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) Pengembangan Kawasan Sapi Perah Pengembangan Budidaya Sapi Perah Pengembangan Kawasan Kerbau Pengembangan Budidaya Kerbau Penjaringan dan Pembiakan Sapi/Kerbau Betina Produktif Penguatan Kelembagaan Pelayanan Inseminasi (IB) Peningkatan Kapasitas Petugas IB. Ribuan kelompok peternak telah terbentuk dan tersebar di seluruh Indonesia dengan kinerja yang sangat bervariasi. ayam buras dan itik. sehingga peran pemerintah sebagai fasilitator hanya terbatas mempercepat perkembangan kearah yang lebih besar dan profesional. lebih produktif dan berkelanjutan. PKB.

akan disalurkan stimulan penguatan modal usaha kelompok (PMUK). kemitraan. sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternaknya. Dengan masuknya lulusan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menumbuhkan usaha-usaha peternakan yang dikelola secara profesional. Untuk meningkatkan bargaining power petani. ayam buras dan itik yang baik akan terus dibina dan didampingi untuk dapat meningkatkan motivasi dan kinerja dalam memproduksi produk ternak yang baik. Lomba kelompok peternak ini merupakan bagian dari kegiatan Kementerian Pertanian dalam rangka pemberian penghargaan ketahanan pangan yang disampaikan oleh Presiden RI. Medik Veteriner (Dokter Hewan) Puskeswan dan Para Medik Veteriner Puskeswan diharapkan dapat meningkatkan prestasi dan kinerja meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. teknologi dan pasar serta peningkatan kualitas SDM. Dalam rangka mengatasi permodalan petani. Tujuan lomba kelompok peternak adalah untuk meningkatkan motivasi peternak dan dinamika kelompok peternak sapi potong. memotivasi dan meningkatkan peran serta mereka dalam pembangunan peternakan. Sedangkan bagi petugas teknis inseminator. pemberdayaan petani akan dilakukan dengan pendekatan kelompok untuk mempermudah pembinaan dan pengembangan usahanya agar dapat mencapai skala ekonomi. Direktorat Jenderal Peternakan dan kesehatan hewan secara rutin melaksanakan lomba kelompok sebagai evaluasi pengembangan agribisnis peternakan. kambing. kambing. Untuk menjaring kelompok ternak sapi potong. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menjembatani lulusan Perguruan Tinggi (PT) untuk dapat berkiprah secara langsung di tengah masyarakat dalam proses introduksi. Dengan adanya hasil lomba yang juga merupakan kebanggaan bagi para peternak. Pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis peternakan pada LM3 adalah upaya peningkatan kemampuan sumberdaya _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 20 . Kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD) mulai dilaksanakan sejak tahun 2007 dan dilanjutkan pada tahun 2012.Salah satu kendala utama petani di Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah terbatasnya modal dan lemahnya kemampuan akses terhadap sumber permodalan. sehingga dapat menarik investasi publik dan perbankan dan akan dilaksanakan di 32 provinsi. distribusi dan transfer inovasi baru kepada peternak. diharapkan dapat memicu. Kegiatan PMUK ini akan disertai dengan kegiatan pengembangan kelembagaan petani. peningkatan akses terhadap sumberdaya. ayam buras dan itik.

b. baik dalam aspek moral-spiritual. Sedangkan untuk ternak ruminansia. kebutuhan padang pengembalaan dan pangonan sangat dibutuhkan. a. Namun saat ini. Khusus untuk ketersediaan pakan unggas. Pakan merupakan asepek yang paling berpengaruh dalam peningkatan kualitas produksi dan produktifitas. Dengan pemberdayaan tersebut diharapkan LM3 dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan serta dapat berperan secara optimal sebagai agen pembangunan bagi masyarakat disekitarnya. Kegiatan dan target kinerja output pakan ternak Sebagai bagian aspek penting dalam manajemen peternakan.manusia pengelola usaha agribisnis LM3. dalam upaya pengembangan hijauan pakan ternak. mengingat teknologi pakan belum sepenuhnya dapat diterapkan dengan baik oleh masyarakat. Mengingat proses pemberdayaan memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam upaya pengembangan budidaya ternak sistem ekstensifikasi. maka kegiatan pemberdayaan perlu dirancang secara sistematis dengan strategi yang tepat. Selain itu. 3. penguatan kapasitas kelembagaan LM3 (institusional capacity building) dan penguatan modal usaha agribisnis LM3. padang pengembalaan yang sudah terbangun sekarang semakin berkurang dan beralih fungsi karena tidak adanya payung hukum untuk melindunginya. sangat terkendala dengan ketersediaan bahan baku pakan yang berasal dari sumber daya domestic sehingga dalam pemenuhannya masih diperlukan impor yang cukup besar. utamanya dalam mendukung peningkatan produksi dan produktifitas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 21 . optimalisasi potensi agribisnis yang tersedia di LM3. sosial maupun ekonomi. sering kali dihadapkan pada keterbatasan ketersediaan benih/bibit hijauan baik dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk dikembangkan di masyarakat. keterbatasan ketersediaan hijauan pakan di musim kemarau masih belum teratasi dengan baik. Permasalahan. Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. Proses pemberdayaan LM3 dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran LM3 serta meningkatkan semangat dan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha agribisnis LM3 agar dapat lebih berperan dalam pembangunan masyarakat.

sedangkan integrasi ternak unggas dilaksanakan pada lahanlahan persawahan.ternak. kompos dan biogas di tingkat perdesaan. Selain kegiatan integrasi. yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) Identifikasi dan Inventarisasi Padang Pengembangan Pengembangan Unit Usaha Bahan Pakan Pengawasan Peredaran Imbuhan/Tambahan Pakan Pengembangan Integrasi Tanaman Ruminansia Pengembangan Integrasi Ternak Unggas Penguatan Sumber Bibit /Benih Hijauan Pakan Ternak Optimalisasi Sumber Bibit/Benih (HPT) di Kelompok Pengembangan Padang Pengembalaan Pengembangan HPT di Lahan Kehutanan Pengembangan Unit Pengolah Pakan (UPP) Ruminansia Pengembangan Unit Pengolah Pakan (UPP) Unggas Pengembangan Lumbung Pakan (LP) Ruminansian Pengembangan Lumbung Pakan (LP) Unggas Bimbingan Teknis Manajemen dan Teknologi Pakan Bimbingan dan Evaluasi UPP dan PPSK Pengawasan Mutu Pakan Penguatan Laboratorium Pakan Daerah Dukungan Pengembangan Pakan Pengujian Mutu Pakan Ternak Koordinasi Teknis Administrasi Kegiatan dan Ketata Usahaan Fasilitasi PNBP Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong 24) Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah 25) Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Salah satu kegiatan terobosan yang mulai dilakukan pada tahun 2007 adalah pengembangan pilot-pilot percontohan integrasi tanaman-ternak. pengembangan pengolah pakan juga menjadi aspek penting dalam _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 22 . Kegiatan integrasi dimaksudkan untuk pemanfaatan se-optimal mungkin bahan pakan lokal yang banyak tersedia di Indonesia dengan tujuan untuk menekan biaya produksi. akan diimplementasikan berbagai kegiatan produktif pengembangan pakan berbasiskan sumber daya lokal. maka pada tahun 2012. tanaman jagung. Kegiatan integrasi ternak sapi potong dilakukan di lahan-lahan perkebunan sawit. integrasi dengan sektor perikanan dan pemanfaatan hasil samping agro industri. dengan prinsip LEISA-nya.

Untuk itu pengembangan lumbung pakan ruminansia dan unggas sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan pakan baik dalam jumlah dan kualitasnya. Keterbatasan dana memiliki konsekuensi pembatasan jumlah penyakit hewan yang dapat dilakuan pengendalian dan pemberantasan penyakit dilakukan. Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis. Dengan demikian. a. Tak kalah pentingnya. Dengan keterbatasan penyediaan hijauan sepanjang tahun baik dalam jumlah dan kaulitasnya diperlukan strategi untuk memenuhi ketersediaanya. dalam memanfaatkan lahan kehutanan dan dalam upaya pemanfaatan padang sesuai peruntukannya. Kegiatan ini dilakukan pada daerah dengan basis potensi ternak dan ketersediaan bahan baku yang memadai. Sedangkan untuk kegiatan penguatan dan pengembangan padang pengembalaan ditujukan untuk mengembalikan fungsinya dan memperkuat yang sudah ada. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 23 . 4. diperlukan upaya-upaya terobosan utamanya dalam pemanfaatan lahan kehutanan yang dimungkinkan untuk pengembangan hijauan pakan ternak. Hal tersebut dapat dilihat dengan semakin menurunnya produksi dan produktitas hijaun pakan ternak. Aspek pendanaan menjadi masalah klasik namun tetap membutuhkan solusi diantaranya adalah mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk menangani penyakit hewan spesifik lokasi yang menjadi prioritas daerah. Permasalahan Kendala yang masih dihadapi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit ini diantaranya adalah pelaksanaan otonomi daerah yang belum rapi. peternak dapat menekan biaya produksi pakan sehingga margin keuntungan dapat diperoleh secara optimal.meningkatkan pemanfaatan bahan baku sumber bahan lokal sebagai pakan. Dari aspek pengembangan benih dan bibit hijauan diperlukan perhatian serius. Sehingga penguatan UPT perbibitan sebagai sumber bibit ternak dan hijauan serta UPTD perlu lebih digalakkan kembali. Sifat penyakit yang tidak mengenal batas administratif akan mengalami kendala apabila pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan masih terbatas oleh kebijakan daerah.

pengendalian penyakit hewan. Obat Hewan dan Bahan Biologik Peningkatan Produksi Obat Hewan dan bahan Biologik (BLU) Penguatan. pengawasan obat hewan) namun masih belum dapat mencukupi kebutuhan akan tenaga medik maupun paramedik veteriner di lapangan. b.Faktor kelembagaan dan keterbatasan sumberdaya yang terlibat dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan juga dirasakan sebagai kendala yang tidak bisa diabaikan. Pengujian dan Penyidikan Veterier Hibah dan Bantuan Asing _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 24 . Meskipun rekruitment tenaga harian lepas telah dilaksanakan dan perannya sangat membantu memperkuat basis utama peternakan dan kesehatan hewan yaitu puskeswan serta penguatan kelembagaan pelayanan kesehatan hewan (surveillans. Jumlah SDM dokter hewan dan tenaga paramedik veteriner baik dipusat maupun UPT masih jauh dari kebutuhan. Kegiatan dan target kinerja output Kesehatan hewan Dalam rangka memperkuat pelaksanaan kegiatan Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis untuk mendukung pencapaian program yang telah ditetapkan. akan difasilitasi beberapa kegiatan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) 25) Kesiagaan Wabah PHM Pengendalian dan Penanggulangan Rabies Unit Pengendali Penyakit AI Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit AI Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Brucellosis Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Anthrax Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hog Cholera Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Jembrana Penanggulangan Gangguan Reproduksi pada Sapi/Kerbau Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Parasiter Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Viral lainnya Pengendalian dan Penanggulangan Bakterial lainnya Pembinaan dan Koordinasi Kesehatan Hewan Sistim Kesehatan Hewan Nasional (SISKESWANNAS) Penguatan Puskeswan Penguatan Kelembagaan dan Sumber Daya Kesehatan Hewan Pengawasan Obat Hewan Kewaspadaan Penyakit Eksotis Lintas Perbatasan Pengamatan Penyakit Hewan Pembangunan Laboratorium Tipe C Pengujian dan sertifikasi obat hewan di BBPMSOH Peningkatan Produksi Vaksin.

Indonesia berkewajiban secara serius dalam menangani flu burung ini. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pengendalian dan pemberantasan avian influenza (AI) pada unggas serta kesiapsiagaan terhadap pandemi flu burung. Dari 12 penyakit hewan strategis tersebut mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada difokuskan untuk pengendalian dan penanggulangan 5 penyakit hewan strategis (PHMS) yaitu Rabies. Anthrax dan Hog Cholera sedangkan pengendalian penyakit Jembrana dilakukan mengingat penyakit tersebut hanya terdapat pada Sapi Bali sehingga diharapkan tidak berkembang dan berdampak luas ke wilayah yang terdapat populasi Sapi Bali dan tidak menyebar luas ke negara lainnya. Wabah AI di indonesia memberikan momentum untuk segera menata sub sektor peternakan unggas melalui sektor 1 (industri yang terintegrasi dan pembibitan).26) 27) 28) 29) 30) 31) Koordinasi Teknis Fasilitasi PNBP Pengadaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Lab Tipe B Administrasi Kegiatan dan Ketata Usahaan Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong 32) Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah 33) Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Penyakit hewan memiliki dampak yang luas tidak hanya dampak langsungnya terhadap sub sektor peternakan dengan mewabahnya penyakit hewan strategis yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. sektor 2 (budidaya unggas/commercial farm). Avian Influenza. hiburan yang perlu diatur sehinggga _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 25 . (peternakan mandiri dan kelompok ternak) dan sektor 4 (ekstensif/ back yard farm) serta masyarakat yang memelihara unggas untuk hobi (kesayangan. juga berdampak terhadap kesehatan/ keselamatan masyarakat serta meresahkan masyarakat akibat penyakit zoonosis. Brucellosis. Sebagai bagian dari komunitas internasional. Untuk itu salah satu prioritas kegiatan pembangunan peternakan pada tahun 2012 diarahkan untuk pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan strategis. sektor 3. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No.59 tahun 2007 terdapat 12 penyakit hewan strategis didasarkan atas eksternalitas dan dampak ekonomi yang diakibatkan. pendidikan. penelitian.

Kegiatan vaksinasi dilakukan untuk memberikan kekebalan individu hewan sehingga tidak tertular rabies dan tidak menjadi perantara penularan rabies baik antar HPR maupun ke manusia. alsin. namun demikian upaya pengendalian dan pemberantasan harus senantiasa dilakukan untuk mencapai daerah nol kasus dan dilanjutkan kepada upaya pembebasan. Selain itu sedang diuji coba efektifitas sterilisasi (ovariektomi) HPR betina liar. pembatasan populasi hewan penular rabies (HPR). rumah potong unggas (RPU). Sedangkan daerah lain dilakukan pengendalian untuk menghindari munculnya kasus baik pada hewan maupun manusia. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 26 . 8) penelitian dan pengembangan dan 9) restrukturisasi industri. Maluku. Pengendalian dan pemberantasan PHMS diprioritaskan kepada penyakit Rabies.memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku. maka restrukturisasi dibagi kedalam struktur hulu (bibit. 7) komunikasi. Pembatasan populasi HPR dilakukan dengan eliminasi untuk mengurangi populasi HPR liar yang merupakan faktor risiko penularan rabies antar hewan dan ke manusia. serta struktur pendukung (kemasan). surveilans. 3) surveilans and epidemiologi. 6) peraturan perundangan. 2) Avian Influenza (AI). 4) diagnostik laboratorium. Anthrax. Kasus AI relatif menurun pada tahun 2011. vaksin dan bahan biologik). Brucellosis. stuktur budidaya/ on farm kawasan produksi dan kawasan non produksi). Kalimantan Barat. Namun untuk memudahkan pengaturannya. Target pengendalian dan pemberantasan diutamakan untuk provinsi Bali. Pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies dilakukan di daerah-daerah tertular melalui vaksinasi. Maluku Utara. 5) pelayanan karantina hewan. pasar unggas. AI. dan sosialisasi. 2) peningkatan pengendalian AI. Fokus dari restukturisasi perunggasan adalah pewilayahan (zoning) usaha peternakan unggas dan pengamanan unggas hidup & produknya (from farm to table). struktur hilir (tempat penampungan unggas (TPU). dan Hog Cholera sebagai berikut: 1) Rabies. dan Jawa Barat serta Banten untuk kembali bebas setelah tertular rabies kembali. pakan. Pengendalian AI perlu ditingkatkan dan difokuskan melalui penerapan sembilan elemen yaitu: 1) kelembagaan. distribusi unggas dan produknya).

Brucellosis. Untuk Sumatera Utara. dan Hog Cholera). dan Sulawesi Tenggara. selanjutnya dilakukan surveilans untuk mengetahui perkembangan prevalensinya. Jambi. Kepulauan Riau melalui Kepmentan Nomor 2541 dan Pulau Kalimantan melalui Kepmentan Nomor 2540 Tahun 2009. Pengendalian dan pemberantasan penyakit Brucellosis di daerah-daerah tertular dibedakan berdasarkan prevalensi penyakit. Anthrax. Kalimantan Barat. Selain pengendalian dan pemberantasan PHMS (Rabies. Jawa Tengah. Untuk mendukung _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 27 . aktifitasnya difokuskan pada pemberantasan. Pengendalian penyakit anthrax di daerah-daerah tertular dilakukan melalui vaksinasi dan surveilans terutama di provinsi DKI Jakarta. Banten. 5) Hog Cholera. Pengendalian dan pemberantasan Brucellosis telah membuahkan hasil yang cukup baik dengan telah dibebaskannya Provinsi-provinsi diwilayah BPPV Regional II Bukittinggi yaitu Sumatera Barat.3) Brucellosis. Jawa Barat. 2) prevalensi brucellosis diatas 2% dilakukan vaksinasi untuk memberikan kekebalan individual dan selanjutnya dilakukan surveilans untuk mengetahui prevalensinya. yatu: 1) prevalensi Brucellosis di daerah (kabupaten/kota) kurang dari 2% dilakukan test and slaughter dan dilakukan pembayaran kompensasi. dan Kepulauan Alor. AI. Riau. Pengendalian dan pemberantasan penyakit Hog Cholera dilakukan didaerah-daerah tertular melalui vaksinasi dan surveilans. 4) Anthrax. yang difokuskan pada daerah sentra produksi ternak. Bagi daerah yang telah memiliki prevalensi sangat rendah maka dilakukan surveilans dalam rangka pembebasan wilayah. Sulawesi Tengah. Hal lain yang tidak kalah penting adalah sosialisasi untuk tidak menyembelih/ mengkonsumsi produk hewan dari ternak sakit atau mati di daerah endemis anthrax untuk menghindari terjadinya korban pada manusia. Jambi. Sulawesi Utara. Sumatera Barat. Sulawesi Selatan. dalam mendukung peningkatan produksi dan produktifitas juga akan dilakukan penangganan gangguan reproduksi dan penyakit parasiter.

kabupaten/kota masih dianggap sangat kurang seperti Auditor NKV. dan jaminan ASUH-nya. fasilitasi kegiatan yang akan ditempuh adalah : 1) Pembinaan dan koordinasi kesmavet dan pasca panen 2) Identifikasi. pengendalian zoonosis. dan (iv) Kelembagaan otoritas veteriner yang didukung oleh SDM yang kompeten dibidang Kesmavet masih perlu ditingkatkan supaya dapat menyelenggarakan pelayanan masyarakat dibidang penjaminan keamanan pangan. (iii) Pendanaan sebagai sharing dana dari APBD I maupun APBD II sebagai pendamping APBN untuk kelanjutan tahun berikutnya masih harus diadakan. a. (ii) SDM yang membidangi fungsi-fungsi Kesmavet di provinsi. juru sembelih.pelaksanaan kegiatan tersebut akan didukung penguatan SDM medik dan paramedik dan penguatan puskeswan/poskeswan. Keur Master dan petugas pengambil contoh. penanganan zoonosis. Permasalahan Beberapa kendala dan permasalahan yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan kesmavet dan pasca panen antara lain. kualitas. pengawas Kesmavet. Kegiatan dan target kinerja output kesmavet dan pasca panen Penyediaan pangan dengan prinsip from to table dalam mendukung pencapaian swasembada daging. Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan. 5. Pembinaan. yaitu (i) Kelembagaan yang membidangi fungsi-fungsi Kesmavet di provinsi maupun kabupaten/kota masih ada yang belum terwadahi sesuai dengan kebutuhan publik. merupakan aspek penting untuk menjamin pelaksanaan aspek kesrawan. Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Zoonosis dan Pembinaan Penerapan Kesrawan 3) Pengujian Mutu Produk Peternakan (BPMPP) 4) Peningkatan Pelayanan Teknis Pengujian Mutu Produk Peternakan 5) Penyelamatan Sapi/Kerbau Betina Produktif di RPH 6) Fasilitasi Peralatan Laboratorium Kesmavet 7) Fasilitasi Penataan Kios Daging _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 28 . Untuk mewujudkan kebijakan tersebut. hal ini ditandai dengan adanya Perda (peraturan daerah) tentang penyelenggaraan jaminan keamanan pangan asal hewan belum menjadi skala prioritas. pengawasan peredaran produk hewan dan pengembangan daya saing b.

sehingga memenuhi PAH dan ASUH melalui kegiatan : peningkatan kompetensi auditor NKV. dilakukan peningkatan pengawasan pemasukan maupun peredaran. penyusunan pedoman penerapan Higiene Sanitasi di Unit Usaha Produk Asal Hewan. sedangkan yang belum akan dibina sampai memenuhi persyaratan. pembangunan TPS. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya unit usaha persusuan yang memenuhi persyaratan teknis minimal higiene sanitasi yang diikuti pemberian sertifikat nomor kontrol veteriner (NKV). GHP diterapkan baik pada telur maupun farm-nya. susu dan telur yang memenuhi persyaratan teknis kesmavet. peningkatan kompetensi paramedik veteriner pemeriksa daging. dilakukan secara bertahap melalui peningkatan jenis dan kualitas sarana dan prasarana unit usaha daging. pertemuan manajemen RPH dan RPU. pembangunan RPUSK. Disamping itu untuk menjaga kredibilitas produk hewan ekspor perlu ditetapkan prinsip- _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 29 . penyusunan peraturan perundangan unit usaha daging. Bagi pelaku usaha yang telah memenuhi persyaratan akan diberi sertifikat. dan sertifikasi juru sembelih dan butcher. penyusunan model dan desain RPH kambing/domba dan RPH babi. Pengawasan peredaran melalui koordinasi pemantauan dan evaluasi unit kerja terkait. dan penataan kios daging. sosialisasi dan bimbingan untuk dapat menerapkan teknis higiene sanitasi serta memfasilitasi sarana prasarana peralatan TPS. pelatihan juru sembelih halal. peningkatan kompetensi Meat Inspector.8) Fasilitasi Tempat Pengumpulan Susu (TPS) 9) Fasilitasi Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) 10) Fasilitasi Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U) dan Tempat Penampungan Unggas (TpnU) 11) Pembinaan Penanganan Pascapanen Produk Peternakan di RPH 12) Koordinasi Teknis 13) Fasilitasi PNBP Untuk meningkatkan jaminan keamanan pangan asal hewan. bimbingan teknis dan monitoring fasilitasi pasca panen. Pengawasan pemasukan mengimplementasikan jaminan keamanan (ASUH) melalui kajian evaluasi status negara asal dan unit usaha serta analisa resiko. Terhadap produk hewan yang berasal dari impor. Penerapan jaminan keamanan pangan pada mata rantai susu segar dengan tujuan meningkatkan kualitas susu segar dalam negeri melalui pembinaan.

sosialisasi peraturan perundangan kesmavet. melalui kegiatan pemantauan hewan qurban. secara bertahap dilakukan upaya untuk meningkatkan status kompetensi laboratorium uji kesehatan masyarakat veteriner melalui fasilitasi peralatan. pertemuan laboratorium kesmavet regional. penyusunan juknis pengendalian dan penanggulangan zoonosis. higiene sanitasi.prinsip mampu telusur. mengingat aspek kesejahteraan hewan sangat berpengaruh terhadap kualitas daging yang dihasilkan. dan pemantauan PAH dalam rangka Hari Keagamaan Besar Nasional. penyusunan data zoonosis. melalui kegiatan penyusunan pedoman kesrawan. sosialisasi SNI dan Permentan Kesmavet. Berkembangnya emerging dan re-emerging diseases perlu diantisipasi dengan sistem yang efektif. bimbingan teknis pengendalian dan penanggulangan zoonosis serta penyusunan NSPK bidang zoonosis. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 30 . peningkatan kemampuan sumberdaya manusia. monitoring dan evaluasi pengendalian zoonosis. peningkatan kompetensi PPC (petugas pengambil contoh). melalui kegiatan : penyusunan RSNI metode pengujian. pertemuan koordinasi dan sosialisasi kesrawan. Untuk itu diperlukan langkah-langkah peningkatan kewaspadaan dini dalam rangka pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut melalui sampling dan pemetaan penyakit zoonosis serta sosialisasi yang melibatkan partisipasi aktif unsur daerah dan masyarakat. on side review. peningkatan petugas pengawas kesmavet. Untuk mendukung kualitas pengujian terhadap residu dan atau cemaran pada produk asal hewan. bimbingan akreditasi laboratorium kesmavet. Untuk itu fasilitasi sarana prasarana dan sosialisasi serta pelatihan petugas teknis akan dilaksanakan agar produksi daging ASUH dapat terwujud. workshop audit internal. melalui kegiatan: penyusunan permentan bidang produk hewan non pangan dan produk asal hewan. penerapan metode uji yang standar dengan menerapkan cara berlaboratorium yang baik untuk mencapai akreditasi. penyidikan produk asal hewan ilegal. pengujian dan pemberian sertifikasi yang sesuai kaidah jaminan keamanan produk hewan. Penerapan teknis kesejahteraan hewan dilaksanakan dengan skala prioritas hewan produksi dengan fokus penerapan di RPH. peningkatan pemahaman dan penerapan ISO/IEC. Hal ini sekaligus juga untuk menjawab tuntutan perdagangan global yang salah satunya mensyaratkan penerapan teknis kesejahteraan hewan. penyusunan analisa resiko pangan asal hewan.

ternyata memberikan dampak yang cukup besar dalam tataran manajemen pembangunan peternakan. a. (iv) Belum optimalnya pelaksanaan reward dan punishment secara tegas dan kontinyu sehingga produktifitas pegawai dan rasa keadilan dapat berjalan dengan baik. (ii) Kurangnya koordinasi struktural antara pusat dan daerah secara formal tidak ada sehingga dirasakan adanya kesulitan dalam pelaksanaan program nasional di daerah. pengiriman laporan sering mengalami keterlambatan ke bagian keuangan sehingga realisasi yang dilaporkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.6. pada era reformasi dan otonomi daerah. Kegiatan dan target kinerja output sekretariat Fungsi sekretariat adalah bagaimana mengkoordinasikan kegiatan teknis dimasing-masing direktorat dan UPT lingkup Ditjen PKH dapat dilaksanakan secara terpadu dalam mendukung pencapaian program. Evaluasi kegiatan/program dilakukan satuan kerja terutama bagi provinsi digunakan untuk mengetahui pelaksanaannya. Permasalahan Terkait dengan manajemen pembangunan nasional. Beberapa kegiatan dukungan manajemen untuk mengoptimalkan peran setiap fungsi sekretariat antara lainyaitu: 1) Perumusan Kebijakan Perencanaan Pembangunan PKH 2) Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan PKH 3) Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan Serta Penatausahaan BMN 4) Ketatalaksanaan Organisasi Kepegawaian. (v) Satuan kerja (Satker) yang dibentuk belum dapat diimbangi dengan anggaran yang cukup. Kendala dan permasalahan yang dihadapi pada aspek dukungan manajemen antara lain : (i) lemahnya sinkronisasi perencanaan baik di pusat dan daerah. baik dampak positif dan negatifnya. dan data yang akurat serta data terkini. Hukum serta Tata Usaha Dalam menyusun rencana kerja pembangunan diperlukan suatu perencanaan yang matang yang didasarkan pada hasil evaluasi. (iii) Sistem dan tata laksana yang sudah ada belum dan tidak semua dilaksanakan sesuai dengan Standart Operasional Procedure (SOP). Peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan. Penyusunan program dan rencana _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 31 . (vi) belum dilaksanaakannya evaluasi di setiap aspek manajemen b.

kerja pembangunan yang setiap tahun disusun sebagai dasar untuk penyusunan RAPBN tahun mendatang. Untuk mendukung optimalisasi fungsi-fungsi yang ada, perlu dioptimalkan aspek koordinasi dengan mendasarkan pada tinjauan evaluasi jabatan, evaluasi beban kerja, penegasan tupoksi di masing-masing lingkup kerja, seseuai dengan reformasi birokrasi yang sudah dietatpkan. Peningkatan kapasitas pegawai akan ditempuh melalui pelatihan-pelatihan atau kegiatan lainnya untuk meningkatkan budaya kerja, dan etos kerja. Selain itu, gerakangerakan sosialisasi untuk mendukung target kementerian berupa opini WTP seperti sosialisasi Wilayah Bebas Korupsi dan Rencana Aksi Anti Korupsi, akan terus digalakan. Pengelolaan gaji, honorarium dan tunjangan digunakan untuk pembayaran gaji, honorarium dan tunjangan pegawai negeri sipil (PNS) pada satuan kerja kantor pusat (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) dan Unit Pelaksanan Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 22 satuan kerja. Untuk mendukung kinerja kegiatan, akan ditunjang dengan dukungan operasional dan pemeliharaan perkantoran baik itu berupa peralatan, operasional sumberdaya manusia dan sarana fisik untuk kelancaran perkantoran. Operasional sarana fisik perkantoran berupa eksploitasi kendaraan, komputer atau sarana lainnya dan pemeliharaan perkantoran antara lain berupa perawatan gedung/ruangan dan lainnya. Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan dalam kerangka pencapaian program, diperlukan kegiatan pertemuan dalam rangka memfasilitasi/memperlancar kegiatan-kegiatan terkait lainnya. Kegiatan tersebut mencakup koordinasi, perencanaan, pembinaan, pengendalian, pengembangan database, sosialisasi/ apresiasi, workshop, rapat-rapat, monev dan pelaporan. D. Pembiayaan Program/Kegiatan Kesehatan Hewan Pembangunan Peternakan dan

Untuk melaksanakan program yang telah ditetapkan, melalui tugas pokok dan fungsi yang dimiliki maka diperlukan pembiayaan untuk mencapai misi, visi, tujuan dan sasaran organisasi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pendanaan tersebut digunakan untuk melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar prosedur, kriteria dan bimbingan teknis serta evauasi sesuai dengan fungsi

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

32

dibidang perbibitan, budidaya, pakan, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen. Selain itu, juga diperlukan pendanaaan untuk melancarkan fungsi-fungsi perencanaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan monitoring evaluasi sebagai fungsi-fungsi manajemen pembangunan. Sesuai dengan tupoksinya maka pendanaan program pembangunan peternakan diharapkan dapat menjadi faktor pengungkit dari berbagai kegiatan yang ada di masyarakat dan aset yang dimiliki masyarakat. Berdasarkan penghitungan ICOR, total investasi yang dibutuhkan dalam pembangunan peternakan dan keswan pada tahun 2012 adalah sebesar Rp. 11,38 triliun, dengan APBN sebesar Rp. 2,589 triliun untuk memfasilitasi kegiatan fungsi perbibitan, budidaya, pakan, keswan, kesmavet dan pascapanen dan dukungkan manajemen. Berdasarkan fungsinya alokasi anggaran untuk kegiatan Peningkatan perbibitan adalah sebesar Rp 1.016,6 milyar, Peningkatan produksi ternak sebesar Rp 823,406 milyar, Peningkatan produksi pakan ternak sebesar Rp.132,8 milyar, Penanganan dan pengendalian PHMSZ sebesar Rp 362,1 milyar, Penjamianan pangan asal hewan yang ASUH sebesar Rp 111,4 milyar dan dukungan manajemen sebesar Rp 152,4 milyar. Sedangkan berdasarkan unit kerjanya, untuk unit kerja pusat sebesar Rp 486,4 milyar, Unit Kerja Kantor Daerah sebesar Rp 374,1 milyar dan Daerah sebesar Rp 1.738,3 milyar. Untuk alokasi anggaran berdasarkan jenis belanjanya, untuk jenis belanja pegawai sebesar Rp 127, 2 milyar, belanja barang sebesar Rp 1.210,3 milyar , Belanja Modal Rp 158,3 milyar Dan belanja Sosial sebesar Rp1.102,9 milyar. Dari total alokasi anggaran tersebut terdapat anggaran PHLN sebesar Rp 2,24 Milyar untuk fasilitasi kegiatan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis dan PNBP sebesar Rp 4,68 Milyar serta Badan Layanan Umum (BLU) sebesar Rp 27,01 Milyar. Memperhatikan ketersediaan anggaran yang ada, maka perlu dilakukan refocusing dan efisiensi anggaran ke arah kegiatan yang menunjang pencapaian program yang telah ditetapkan, dalam kerangka menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan lokal, pengurangan pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Kegiatan di wilayah bukan refleksi kegiatankegiatan unit organisasi di Pusat, tetapi didasarkan atas kebutuhan lapangan sesuai target/sasaran yang ditetapkan. Kegiatan dirancang memperhatikan skala ekonomi berdasarkan “need assessment” di lapangan, tidak tersebar merata seluruh lokasi, dan APBN hanya sebagai “trigger” Replikasi Nasional, yang dirancang dengan melibatkan investasi

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

33

masyarakat (swasta, petani) dan APBD. Untuk memberikan dampak terhadap perekonomian regional dan nasional maka regulasi harus ditingkatkan dan diperkuat, sehingga, tidak hanya bertumpu pada instrumen anggaran. Efisiensi juga dilakukan dengan cara mengurangi alokasi belanja barang (perjalanan dan rapat-rapat) dan metingkatkan anggaran untuk belanja modal, infrastruktur dan bantuan sosial. Porsi anggaran juga ditingkatkan bagi pembangunan fisik di lapangan dan pemberdayaan petani melalui mekanisme dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang dikelola oleh pemerintah daerah. Kebijakan yang ditempuh dalam kegiatan PHLN antara lain: (a) membiayai kegiatan produktif mendorong ekonomi dan kesejahteraan peternak; (b) penarikan LN tepat waktu dan mempertimbangkan kesiapan dan dana; (c) meningkatkan ketertiban dan ketaatan dalam alokasi, pemanfaatan dan pelaporan hibah dan (d) harus mempertimbangkan penyediaan dana pendampingnya. Selanjutnya dalam kerangka belanja desentralisasi juga dialokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pertanian melalui belanja trasnfer ke daerah dan dikelola melalui mekanisme APDB kabupaten/kota. Menu kegiatan peternakan dan keswan pada fasilitasi DAK Bidang pertanian 2012 digunakan untuk penguatan prasarana kelembagaan perbenihan, pembangunan pos Inseminasi Buatan (IB) dan Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) dan pascapanen termasuk di dalamnya fasilitasi pembangunan RPH. Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam mewujudkan pencapaian target program diantaranya adalah melalui pola pemberdayaan dengan pendekatan kelembagaan kelompok usaha sebagai upaya untuk: (1) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan usaha, (2) mengakomodasikan aspirasi masyarakat, (3) meningkatkan keterlibatan dalam menanggulangi resiko, (4) meningkatkan peran masyarakat dalam melakukan pengendalian pelaksanaan pembangunan dan (5) mengembangkan usaha dan peluang usaha agribisnis. Pola pemberdayaan dilakukan guna mengatasi masalah utama di tingkat usahatani yaitu keterbatasan modal petani, serta lemahnya organisasi usaha petani dan jejaring kerjanya sehingga akses informasi menjadi terkendala. Kementerian Pertanian sudah sejak lama merintis pola pemberdayaan seperti ini melalui berbagai kegiatan pembangunan di daerah. Salah satu perwujudan pemberdayaan masyarakat pertanian dilaksanakan melalui pendampingan kelompok sekaligus penyaluran Dana
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

34

Mendorong tumbuh dan bekembangnya pelaku agribisnis muda dan terdidik di sub sektor. Meningkatkan produksi. Mendorong pemantapan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan masyarakat. sarana dan prasarana dalam mengembangkan usaha agribisnis dan ketahanan pangan. Meningkatkan kemandirian dan kerjasama kelompok. 4. Tujuan penyaluran Dana Bantuan Sosial untuk pemberdayaan sosial masyarakat pertanian yaitu: 1. Pola pemberdayaan seperti ini diharapkan dapat merangsang tumbuhnya kelompok usaha dan mempercepat terbentuknya jaringan kelembagaan pertanian di perdesaan yang akan menjadi embrio tumbuhnya lembaga usaha petani yang kokoh di kawasan pembangunan wilayah. Mendorong berkembangnya lembaga pendidikan dan pelatihan swadaya masyarakat di sub sektor peternakan.Bantuan Sosial. 7. Mendorong berkembangnya lembaga keuangan mikro agribisnis dan kelembagaan ekonomi perdesaan lainnya. 2. produktivitas dan pendapatan pelaku usaha peternakan. Memperkuat modal pelaku usaha. Mengembangkan usaha peternakan dan agroindustri di kawasan pengembangan. 3. 8. 6. Pemanfaatan Dana Bantuan Sosial tersebut dilakukan dalam rangka pemantapan kelembagaan kelompok sehingga menjadi lembaga mandiri yang dapat mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan sosial dalam pembangunan pertanian. 5. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 35 .

Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Dasar Penyusunan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Struktur Penganggaran . D. E. C. B.BAB IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN A.

desentralistik. sehingga sistem perencanaan yang serasi antara bottom up planning dan top down policy dapat diwujudkan. Upaya penyempurnaan pola penganggaran ini dimulai dengan perumusan program dan penyusunan struktur organisasi pemerintah yang sesuai dengan program tersebut. Sebagai wujud penerapan sistem penganggaran ini diharapkan agar aspirasi daerah dalam proses perencanaan akan menumbuhkan rasa ikut memiliki (sense of belonging) bagi daerah terhadap anggaran kinerja.BAB IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN Sistem penganggaran terpadu berbasis kinerja memerlukan pengaturan sistem dan mekanisme perencanaan pembangunan nasional dan daerah serta mengakomodasi semangat reformasi yang lebih demokratis. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang merupakan bagian anggaran Kementerian Pertanian yang dialokasikan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 36 . Selanjutnya perencanaan tersebut juga diharapkan tetap dapat menampung sasaran-sasaran perencanaan yang bersifat makro yang ditetapkan oleh Pusat. (b) target group (kelompok sasaran) yang akan dituju oleh program dan kegiatan yang ditunjukkan oleh indikator dan sasaran kinerja yang terukur. Kegiatan tersebut mencakup pula penentuan unit kerja yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program serta penentuan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. Kebijakan yang ditempuh Kementerian Pertanian dalam rangka pelaksanaan anggaran pembangunan pertanian di daerah adalah melalui asas dekonsentrasi dan asas tugas pembantuan. dan (c) sumberdaya dan teknologi yang tersedia dalam rangka peningkatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. komprehensif dan berkelanjutan. Penerapan sistem anggaran berbasis kinerja ini muncul didasarkan atas banyaknya temuan permasalahan dan kendala dalam penerapan anggaran melalui pendekatan kegiatan proyek maupun bagian proyek. Pengaturan tersebut sesuai dengan paradigma baru pembangunan pertanian yang telah memperhatikan berbagai perubahan lingkungan strategis di tingkat global dan nasional serta antisipasi terhadap berbagai perubahan kebijakan pembangunan pertanian di daerah. Dalam perencanaan anggaran kinerja para perencana harus memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan program dengan anggaran kinerja khususnya berkaitan dengan: (a) strategi dan prioritas program yang memiliki nilai taktis strategis bagi pembangunan pertanian. sinergis. yang kemudian diharapkan meningkatkan efektivitas sekaligus efisiensi pelaksanaan kegiatan.

pembangunan sarana dan prasarana. pengentasan kemiskinan. (ii) pemerintah provinsi menjabarkan kebijakan pusat melalui _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 37 . dan (5) penyusunan kesepakatan bersama antar instansi terkait dan stakeholder dalam perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. sebagai langka persiapan menuju anggaran terpadu berbasis kinerja yang akan dilaksanakan secara penuh. Kegiatan dekonsentrasi di provinsi dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur. yang perlu diperhatikan adalah sebelum menetapkan besaran pengeluaran hendaknya terlebih dahulu dilakukan estimasi pendapatan secara akurat. Permasalahan umum yang selama ini terjadi berawal dari rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan dan ketiadaan standar pelayanan minimal yang harus diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat. (3) penjabaran tupoksi kedalam rencana kerja beserta indikator kinerja dan pengukurannya. pemberdayaan wilayah tertinggal. Adapun mekanisme perencanaan dan anggaran kinerja sebagai berikut : (i) pemerintah pusat menetapkan kebijakan nasional pembangunan peternakan dan kesehatan hewan sebagai acuan makro terhadap implementasi kegiatan di daerah. Untuk itu. (4) penetapan standar satuan biaya bidang pertanian (Harga Satuan Pokok Kegiatan/HSPK). perlu disusun mekanisme perencanaan anggaran yang lebih komprehensif dan memberikan dampak positif terhadap pengembangaan sistem perencanaan anggaran kinerja yang lebih sistematis. provinsi dan kabupaten/kota sesuai peraturan perundangundangan. potensi komoditas unggulan/strategis secara nasional). Untuk itu. Terkait dengan masalah tersebut. sumberdaya alam pertanian (termasuk kawasan agribisnis unggulan.berdasarkan rencana kerja dan anggaran Kementerian Pertanian. Hal ini terkait erat dengan tata ruang pengembangan ekonomi. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada kepala daerah. pada tahap perencanaan anggaran kinerja dilakukan estimasi pengeluaran atas dasar estimasi pendapatan yang tersedia. sehingga sulit diketahui tingkat keberhasilan pembangunan yang dicapai. perlu disiapkan perangkat dalam perencanaan anggaran berbasis kinerja berupa: (1) penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sub sektor peternakan. Kegiatan tugas pembantuan di daerah dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur. Menyikapi hal tersebut. daya saing. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. (2) penjabaran peta kewenangan pusat. bupati atau walikota. Akibatnya perencanaan pembangunan disusun tanpa indikator yang jelas dan terukur. Dalam hal ini tidak lepas dari pendekatan bottom up planning dengan tetap memperhatikan arah kebijakan pembangunan nasional.

maupun prinsip-prinsip baru lainnya sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang baik. RKA-KL tersebut merupakan acuan pembuatan dokumen anggaran berupa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan selanjutnya DIPA merupakan acuan pelaksanaan anggaran. Rencana Kerja Kementerian menjadi landasan bagi kementerian dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) dalam satu tahun. tujuan. teknologi. program. SDM. antara lain : akuntabilitas berorientasi pada hasil. Untuk mendukung hal tersebut pemerintah Kabupaten/Kota terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap: besaran. dengan melibatkan dan memberdayakan Kabupaten/Kota secara menyeluruh dan terintegrasi dalam pengembangan aspek di hulu sampai hilir. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 38 .penilaian dan koordinasi terhadap pengembangan wilayah berbasis komoditas di wilayahnya. Mekanisme Penyusunan RKA-K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Anggaran K/L maka. Rencana kerja kementerian negara/lembaga terdiri dari visi. dan unsur penunjangnya. dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga dalam kurun waktu satu tahun. keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara. misi. sosial dan budaya). dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. universalitas. B. K/L menyesuaikan RKA-K/L. kualitas dan karakteristik (sumberdaya alam. A. kesatuan. dan spesialitas. Dasar Penyusunan Dasar penyusunan dokumen anggaran adalah Rencana Kerja Pemerintah yang telah ditetapkan sebagai suatu keputusan pemerintah mengenai rencana kerja pemerintah setelah dibahas dengan DPR. C. Rencana Kerja Kementerian yang disusun setiap tahun merupakan penjabaran Rencana Strategis (Renstra) Kementerian dan diselaraskan dengan Rencana Kerja Pemerintah. profesionalitas. Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. proporsionalitas. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Dalam penyusunan anggaran ada beberapa prinsip umum yang harus diikuti meliputi prinsip-prinsip umum yang sudah berlaku selama ini dalam pengelolaan keuangan negara seperti: prinsip tahunan. dan (iii) Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun perencanaan program dan anggaran kinerja pembangunan pertanian di wilayahnya yang mengacu pada kebijakan nasional dan kapasitas sumberdaya wilayah. sasaran. modal.

ada beberapa kemungkinan: 1. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. RKA-K/L berdasarkan Pagu Anggaran K/L secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-K/L. Sedangkan usulan Output diajukan kepada Kementerian Keuangan. 3. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. c. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atau sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi.parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter non. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-K/L. Dalam rangka penyusunan RKA-K/L berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. parameter nonekonomi. 2. K/L menyesuaikan RKA-K/L dengan: a. KK RKA-K/L pembahasan dengan DPR _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 39 . Meneliti kembali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. 2. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTJM).ekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi anggaran K/L. penuangan dalam KK RKA-K/L dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat komponen. Usulan program dan kegiatan (Non Output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Adanya progam/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. b. d. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan terdapat dalam formulir B.

17/2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa pengeluaran negara dibagi atas unit organisasi. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 40 . kewenangan Direktur Jenderal Perbendaharaan tersebut didelegasikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb). Sub fungsi merupakan penjabaran lebih lanjut dari fungsi. Untuk pembangunan pertanian termasuk ke dalam fungsi: ekonomi (kode 04) dan sub-fungsi: pertanian. UU No. Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah klasifikasi untuk masing-masing kementerian negara/lembaga. kegiatan dan jenis belanja. kehutanan. fungsi. Dalam masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan suatu program. fungsi. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. perikanan dan kelautan (kode 04. Fungsi adalah perwujudan tugas pemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Struktur Penganggaran. program. 2. dan jenis belanja.03). Menteri Keuangan berwenang mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi yang akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. 1. Klasifikasi fungsi dibagi ke dalam 11 (sebelas) fungsi utama dan dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. Kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dengan menerbitkan Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (SPDIPA) untuk DIPA yang diterbitkan di Pusat. Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan mempercepat proses penerbitan SP-DIPA di daerah. Lebih jauh dalam Pasal 15 ayat 5 juga menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. Pengesahaan Dokumen Pelaksanaan Berdasarkan Pasal 7 ayat (2) butir b. E. Pasal 11 ayat 5 UU No.D. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program.

industri hilir. Program Peningkatan produksi. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. Program pencapaian swasembada daging sapi dan peningkatan pangan hewani yang aman . Dalam rangka penyusunan anggaran TA. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan tersebut. Program peningkatan diversivikasi dan ketahanan pangan masyarakat. Program pengembangan SDM pertanian dan kelembagaan petani. sehat.3. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Program penyedian dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. 4. Program Peningkatan produksi. utuh dan halal. 2012. program prioritas dan program penunjang ditetapkan dimasing-masing kementerian/lembaga. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumberdaya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Untuk pembangunan pertanian telah ditetapkan 12 program yaitu Program Peningkatan produksi. produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura berkelanjutan. Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). pemasaran dan ekspor hasil pertanian. dana. Program peningkatan nilai tambah. produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 41 . Program penciptaan teknologi dan penciptaan varietas unggul berdaya saing. Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumberdaya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga. program peningkatan kualitas perkarantinaan pertanian dan pengawasan keamanan hayati. daya saing. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian Pertanian. Program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur Kementerian Pertanian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya adalah berdasarkan perbedaan keluaran.

Belanja Pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. b. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa. Jenis Belanja Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. d. Hibah yaitu pengeluaran pemerintah dalam bentuk uang/barang atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah lainnya. peralatan dan mesin. perusahaan daerah. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. seperti buku. f.02/2011. jaringan. masyarakat. pemeliharaan. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. tanggal 27 Juni 2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelahaan RKA-KL. honorarium. Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan. lembur dan uang makan PNS. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah. Belanja barang yaitu pengadaan barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. menjual. atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. bahwa klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam 8 (delapan) kategori yaitu : a. Bantuan sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. gedung dan bangunan. g. yang secara _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 42 . maupun dalam bentuk fisik lainnya. dan organisasi kemasyarakatan. mengekspor. Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/ lembaga yang memproduksi. Belanja modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. binatang dan lain sebagainya. Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal outstanding). Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan.5. c. vakasi. baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. e. dan perjalanan dinas.

d. Harga Satuan Pembangunan Gedung Negara (HSBGN) tahun anggaran 2011. 3) Kegiatan yang bersifat lintas daerah. dalam merancang kegiatan yang akan dilaksanakan agar berpedoman pada : a. Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada butir 1 (satu) sampai dengan 7 (tujuh) tersebut diatas. Terhadap kegiatan yang belum ditetapkan indeks satuan biayanya dinilai berdasarkan RAB dan ditetapkan oleh pejabat yang berwewenang dengan memperhatikan harga pasar yang berlaku atau harga penawaran. 4) Penelaahan atas biaya pengadaan jasa konsultan berpedoman pada Petunjuk Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk Jasa Konsultan Biaya Langsung Personil dan Biaya Langsung Non Personil. serta tidak secara terus menerus. Selanjutnya. HSPK ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan dengan harga disesuaikan dengan kondisi daerah dimana kegiatan lintas daerah tersebut direncanakan akan dilaksanakan. HSPK ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota setelah mendapat masukan dari Dinas terkait serta didukung oleh survey Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 43 . b.spesifik telah ditetapkan peruntukannya. HSPK ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan. Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK) ataupun Harga Standar Biaya Khusus (HSBK): 1) Untuk kegiatan yang berlokasi didaerah.02 Tahun 2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL). 2) Untuk kegiatan yang ada di Pusat. h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. c. mengacu kepada SKB Menkeu dan Bappenas. Peraturan Mneteri Keungan Nomor 84 Tahun 2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggarn 2012.

Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat B. Pengelolaan Dana Tugas Perbantuan D. Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan F. Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran E. Perubahan Dokumen Anggaran . Pengelolaan Dana Dekonsentrasi C.BAB V PENGELOLAAN ANGGARAN A.

22 Satker di UPT Pusat. Pengorganisasian anggaran pembangunan peternakan berdasarkan satuan kerja lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 80 satker dan dapat dikelompokkan menjadi sebanyak satu satker kantor pusat. Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat Pengelolaan anggaran pembangunan peternakan di pusat dengan menggunakan pengorganisasian anggaran seperti pada Bagan 1. sedangkan Satker di kabupaten/kota melaksanakan tugas pembantuan. Satker Pusat adalah Satker yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kantor pusat Kementerian/Lembaga yang lokasinya dapat berada di pusat dan atau di daerah.BAB V PENGELOLAAN ANGGARAN Pengelolaan program dan anggaran dilakukan melalui unit organisasi berupa satuan kerja. 2. Satker yang pimpinannya ditetapkan sebagai kuasa pengguna anggaran dikelompokkan sebagai berikut : 1. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 44 . 3. eselon III atau eselon IV yang berdiri sendiri adalah sebagai Kuasa Pengguna Anggaran yang dibantu dengan pejabat pengelola keuangan. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah Satker di Provinsi/kabupaten/kota. Satker/Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian/Lembaga adalah instansi vertikal di daerah yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang berasal dari kantor pusat. dan 33 satker di provinsi. 24 satker di kabupaten/kota dan pengelolaan anggarannya sebagai berikut : A. sedangkan pada UPT Pusat seperti pada Bagan 2. Kepala Satker baik organisasi tingkat eselon I maupun eselon II. Satker di provinsi melaksanakan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Menteri Pertanian selaku pengguna anggaran menetapkan/mengangkat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Menteri menetapkan/mengangkat P2SPM dan Bendahara 3. serta Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM).Bagan 1. Bendahara. 2012 Menteri Pertanian Pengguna Anggaran/Barang Dirjen Peternakan dan Keswan Kuasa Pengguna Anggaran Sekretaris / Direktur lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan Penanggungjawab Kegiatan/Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kepala Bagian Keuangan/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan dan Kartu-kartu Kasir Penguji SPP & Penerbitan SPM SAI Catatan : 1. KPA menetapkan/mengangkat pejabat eselon II atau pejabat lainnya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. KPA mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). maka KPA dapat mengangkat Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). 4. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Kantor Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA. Menteri menunjuk KPA 2. petugas SAI dan petugas PUM. Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 45 . SAI = sistem akuntansi instansi Dalam rangka pengelolaan anggaran pembangunan peternakan yang ada di Pusat dan Unit Pelaksanan Teknis Pusat. Selanjutnya untuk memperlancar pengelolaan administrasi keuangan dari setiap PPK serta membantu kelancaran tugas bendahara.

Untuk meningkatkan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 46 . Kepala Satker menentapkan/mengangkat petugas pembantu Bendahara 4. fasilitasi. pembinaan. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Pada Satker UPT Pusat TA. Menteri menunjuk Kepala Satker UPT Pusat sebagai KPA 2. pengawasan dan pengendalian. SAI = sistem akuntansi instansi B. petugas SAI dan petugas PUM. 2012 Menteri Pertanian Pengguna Anggaran/Barang Kepala Satker UPT Kuasa Pengguna Anggaran/Brg Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasub TU/Umum/Keuangan Pejabat Penandatangan SPM PUM PUM Petugas Pembukuan dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan Penerbitan SPM SAI. termasuk belanja fisik input berupa pengadaan barang/jasa sebagai penunjang kegiatan non fisik dimaksud. Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Kegiatan pembangunan peternakan yang dilaksanakan melalui dana dekonsentrasi Tahun Anggaran 2012 adalah kegiatan non fisik. Menteri menetapkan/mengangkat Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan. Kegiatan non fisik yang dimaksud di provinsi dari dana dekonsentrasi adalah: koordinasi perencanaan. Gubernur mengadministrasikan DIPA dekonsentrasi sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri (Lampiran-1) dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi Kementerian Pertanian kepada DPRD. serta P2SPM 3.Bagan 2. mencakup enam kegiatan yang ada di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. KPA menetapkan/mengangkat kabag/kabid/kasie atau pejabat lainnya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. pelatihan. 5. Catatan : 1.

menyiapkan dan menyelenggarakan pembukuan pengelolaan dana dekonsentrasi. Keputusan penetapan para pelaksana anggaran. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengorganisasian pengelolaan anggaran dana dekonsentrasi seperti pada Bagan 3. Pedoman Umum yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian atau Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi harus memperhatikan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Bagan 3. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 47 . petugas SAI dan petugas PUM. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). serta membuat. 2012 Gubernur Penerima Pelimpahan Wewenang Dana Dekonsentrasi Kepala Dinas/Badan Provinsi Kuasa Pengguna Anggaran Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag TU/Umum/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan Dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI.kinerja pengelolaan APBN Tahun 2012 secara ekonomis. Gubernur menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan pembangunan peternakan. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Dana Dekonsentrasi Satker Dinas Provinsi TA. Catatan : • Gubernur menunjuk KPA/PB • Gubernur menetapkan/mengangkat P2SPM dan Bendahara • KPA dapat menetapkan/mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen.

Penerimaan dan pengeluaran yang berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi diadministrasikan dalam anggaran dekonsentrasi. kepada gubernur dilimpahkan penugasan pengelolaan anggaran tugas pembantuan sesuai dengan dokumen DIPA TA 2012. Dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi dapat menghasilkan penerimaan. maka merupakan penerimaan APBN dan harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan. Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan APBN Tahun 2012 secara ekonomis. gubernur menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan tugas pembantuan provinsi. termasuk belanja non fisik yang mendukung kegiatan fisik itu sendiri. Pengorganisasian pengelolaan anggaran tugas pembantuan seperti pada Bagan 4. Pengelolaan Dana Tugas Pembantuan Kegiatan pembangunan peternakan yang dilaksanakan melalui dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2012 adalah untuk kegiatan fisik. Apabila ada sisa/saldo anggaran lebih atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. penambahan & pemeliharaan aset pemerintah. seperti perencanaan dan pengawasan dalam konstruksi serta pelatihan dalam rangka kegiatan fisik dimaksud. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 48 . mencakup enam kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Gubernur mengadministrasikan DIPA tugas pembantuan provinsi dan kabupaten/kota sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri (Lampiran-3 dan 4) dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan Kementerian Pertanian kepada DPRD. Pengawasan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi menjadi barang milik Negara. Untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan. merupakan penerimaan kembali APBN dan disetor ke rekening Kas Umum Negara. C. Pemeriksaan dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Yang dimaksud Kegiatan fisik di provinsi/kabupaten/kota dari dana tugas pembantuan adalah kegiatan menghasilkan keluaran (output).

Bupati/walikota mengadministrasikan DIPA tugas pembantuan sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan Kementerian Pertanian kepada DPRD. kepada bupati/walikota dilimpahkan penugasan pengelolaan anggaran tugas pembantuan sesuai dengan dokumen DIPA Tahun Anggaran 2012. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 49 . 2012 Gubernur Penerima Penugasan Dana Tugas Pembantuan Ka Dinas/Badan/Kantor/Satker Kuasa Pengguna Anggaran Es-III Dinas/Bdn Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Prov Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasubag TU/Umum/Keu/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Pentugas Pembukuan dan Kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI. Bupati/Walikota menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan tugas pembantuan kabupaten/kota.Bagan 4. PPK. P2SPM dan Bendahara atas usulan dari Provinsi Untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan. Catatan : Menteri menetapkan/mengangkat KPA. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Provinsi TA. Pengorganisasian pengelolaan anggaran tugas pembantuan seperti pada Bagan 5.

P2SPM dan Bendahara atas usulan dari Kab/kota Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan harus memperhatikan : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 50 . serta membuat. 2012 Bupati/Walikota Penerima Penugasan Dana Tugas Pembantuan Ka Dinas/Badan/Kantor/Satker Kuasa Pengguna Anggaran Es-III Dins/Bdn Kab/Kot Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dins/Bdn Kab/Kot Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Kab/Kota Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Kab/Kota Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasubag TU/Umum/Keu Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI. Penerimaan dan Pengeluaran yang berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan diadministrasikan dalam anggaran tugas pembantuan. menyelenggarakan pembukuan pengelolaan dana tugas pembantuan. menyiapkan. Keputusan penetapan para pelaksana anggaran.Bagan 5. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). maka merupakan penerimaan APBN dan harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundang-undangan. PPK. Apabila ada sisa/saldo anggaran lebih atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Kab/Kota TA. Pedoman Umum yang diterbitkan Dirjen Peternakan dan Kesehetan Hewan. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan menjadi barang milik Negara. Catatan : Menteri menetapkan/mengangkat KPA/PB. Dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan.

acuan standar harga/biaya. Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran Sesuai dengan perubahan sistem penganggaran yang berorientasi kinerja. ketidaktepatan waktu pelaksanaan. banyak sekali dijumpai permasalahan yang perlu diselesaikan. pengelolaan. Untuk lebih jelasnya tingkatan mekanisme kontrol sekaligus pembinaan terhadap implementasi kegiatan berdasarkan program dan anggaran kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 51 . Pemeriksaan dana tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. maka akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Rincian penetapan pengelola keuangan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). monitoring. Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan Pola pengorganisasian program dan anggaran berbasis kinerja pembangunan peternakan termasuk salah satu penentu arah dalam pelaksanaan pembangunan peternakan. Dengan adanya penataan organisasi yang mantap dan pengelolaan sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).merupakan penerimaan kembali APBN dan disetor ke rekening Kas Umum Negara. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM). Pengawasan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kegiatan maupun estimasi alokasi biaya yang tidak tepat. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. evaluasi dan pelaporan tugas pembantuan kab/kota di wilayahnya. E. Permasalahan pengelolaan anggaran selama ini meliputi ketaatan disiplin pengelolaan anggaran. Untuk itu perlu didukung dengan menciptakan aparat pengelola anggaran yang disiplin dan penuh tanggungjawab. kualitas SDM perencana dan lainnya. sehingga berdampak terhadap output yang akan dicapai. Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah berperan dalam koordinasi perencanaan. D. Bendaharawan Pengeluaran serta Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK) mengacu pada ketentuan pengelolaan keuangan APBN diatur dalam buku Pedoman Administrasi Keuangan (PAK) Kementerian Pertanian. kewenangan dan tanggung jawab Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dana tugas pembantuan kabupaten/kota secara ekonomis.

Masing-masing Bupati/Walikota bertanggungjawab terhadap keberhasilan program dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan peternakan di kabupaten/kota yang dipimpinnya. 2. Menteri Pertanian sebagai Pengguna Anggaran/Barang dalam menjalankan tugasnya dibantu Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Bupati/Walikota dibantu oleh Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. yang dalam melaksanakan tugas operasional dibantu oleh Direktur/Sesditjen atau pejabat lainnya yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Dalam melaksanakan tugas operasional. Secara lebih detail pengorganisasian dan penanggungjawab pengelolaan anggaran baik di pusat. serta eselon-3 atau pejabat yang mempunyai kompetensi di lingkup instansinya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Gubernur dibantu oleh Kepala Dinas lingkup peternakan provinsi sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Kementerian Pertanian bertanggung jawab atas keberhasilan program dan anggaran kinerja pembangunan pertanian termasuk didalamnya peternakan secara nasional. provinsi maupun kabupaten/kota sebagai berikut: _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 52 . Dalam melaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan tugas operasional. Pengendalian dan evaluasi dilakukan secara bersama di bawah kendali Kepala Dinas peternakan kabupaten/kota. dan secara teknis bertanggung jawab atas keberhasilan pembangunan peternakan yang dikelolanya. Pengendalian dan evaluasi dilakukan secara bersama di bawah kendali Kepala Dinas Peternakan provinsi. serta eselon-3 atau pejabat yang mempunyai kompetensi di lingkup instansinya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Masing-masing Gubernur bertanggungjawab terhadap keberhasilan program dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan peternakan di provinsi yang dipimpinnya. Kepala Dinas peternakan kabupaten/kota dibantu oleh Bendahara. Dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal pengendalian dan evaluasi dilakukan secara terpadu di bawah kendali Kuasa Penguna Anggaran. 3.1. Kepala Dinas Peternakan Provinsi dibantu oleh Bendahara. dan secara teknis bertanggung jawab atas keberhasilan pembangunan peternakan yang dikelolanya.

3. c. Pejabat Pembuat Komitmen serta Kabag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan perintah Pembayaran. Sekretaris Jenderal dan Pejabat Eselon I Lingkup Kementerian Pertanian selaku pembina program dan anggaran kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi organisasi yang dipimpinnya. Masing-masing Unit Kerja Eselon-I bertindak sebagai koordinator terhadap komoditas/tugas pokok/pelayanan yang dikembangkan/ dilakukan. Kepala Dinas/Badan/UPT Daerah sebagai Kepala Satker lingkup pertanian atau pejabat yang ditunjuk sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. c. masing-masing bertanggung jawab atas seluruh aktivitas kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja pada Satker yang dipimpinnya. Tingkat Kabupaten/Kota a. Gubernur sebagai penanggung jawab program dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. masing-masing bertanggung jawab atas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 53 . d. Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran serta Pejabat Pembuat Komitmen. Bupati/Walikota sebagai penanggung jawab program dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Tingkat Pusat a. Selaku pembina program dan anggaran kinerja. b. Kepala Satker dipegang oleh Kepala UPT yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu orang bendahara (Bendahara Pengeluaran). Kepala Dinas/Badan/UPT Daerah sebagai Kepala Satker lingkup pertanian atau pejabat yang ditunjuk dalam hal ini sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Tingkat Provinsi a. Untuk Satker UPT/UPTD. Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Menteri Pertanian sebagai Penanggungjawab Program Pembangunan Pertanian. Kasi atau pejabat yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dan Kasubag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran. masingmasing kepala Satker dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). b. 2.1. d. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). b.

Kantor Daerah dan Dana Tugas Pembantuan dan Para Pejabat Eselon II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat melakukan perubahan terhadap Dokumen Anggaran yang ada (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). Kepala seksi atau pejabat yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dan Kasubbag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran.seluruh aktivitas kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja pada Satker yang dipimpinnya. Perubahan Dokumen Anggaran 1.Kantor Daerah dan Dana Tugas Pembantuan serta Direktur lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengirimkan surat pengajuan revisi kegiatan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. c. Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Pejabat Pembuat Komitmen serta Kabag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran. Perubahan dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tentang perubahan Dokumen Anggaran. Prosedur Kepala Satker Penerima Dana Dekonsentrasi. masingmasing kepala Satker dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). 2. Ketentuan Kepala Satker penerima Dana Dekonsentrasi. Adapun dalam surat tersebut harus terdapat alasan mengapa revisi tersebut diperlukan dan dilampirkan Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. F. d. Untuk Satker UPT/UPTD. Tetapi apabila terdapat ketidaksesuaian/kekurangan data dukung maka pengajuan tersebut akan dikembalikan kepada pihak yang mengajukan revisi untuk melengkapi persyaratan dimaksud _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 54 . Kepala Satker dipegang oleh Kepala UPT yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu orang bendahara (Bendahara Pengeluaran). Apabila surat dan data dukung telah sesuai dan lengkap maka pengajuan revisi akan diproses untuk mendapat persetujuan dari Instansi terkait. Selanjutnya surat dan dokumen tersebut akan diteliti kesesuaian dan kelengkapannya sebelum proses dilanjutkan.

Persyaratan Persyaratan/Dokumen yang harus dipenuhi oleh Kepala Kantor penerima Dana Kantor Daerah. e. Data dukung lainnya seperti RAB yang telah diketahui oleh Dinas Cipta Karya setempat untuk pengadaan bangunan.daftar harga dari pihak penyedia/Surat Pertanggungjawaban Mutlak dll. b. Daftar Inventaris Barang untuk pengadaan kendaraan Roda 2 dan Roda 4. Matriks Usulan Perubahan ( format terlampir) ditandatangani oleh pihak yang berwenang (Kepala Dinas/Pejabat Es II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan). _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 55 .3. c.Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Pejabat Eselon II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai berikut : a. TOR dan RAB kegiatan yang baru ditandatangani oleh pihak yang berwenang (Kepala Dinas/Pejabat Es II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan). Aplikasi Data Komputer (back up data RKAKL yang telah dirubah). d. Surat Pengajuan Revisi.

Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih. Contoh : NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : : Berdasarkan Surat Kepala Dinas/Kepala UPT [sebutkan nama Dinas dan UPT pemohon revisi] nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Pengajuan revisi terssebut dilakukan dengan alasan [ sebutkan alasan yang terdapat pada surat pengajuan ]. (Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan).4. Setelah dilakukan telaahan lebih lanjut terhadap pengajuan revisi dimaksud maka dapat disampaikan bahwa Revisi telah dilengkapi oleh data dukung yang memadai untuk selanjut dapat dimintakan pertimbangan teknis kepada Direktorat terkait. Prosedur surat revisi lengkap Nota Dinas Kepala Bagian Perencanaan kepada Sekditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap. Kepala Bagian Perencanaan Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 56 . Bersama ini kami sampai Draft Nota Dinas kepada Direktorat terkait untuk dapat ditandatangi apabila Bapak tidak berkehendak lain.

Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih. (Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan). Setelah dilakukan telaahan lebih lanjut terhadap pengajuan revisi dimaksud maka dapat disampaikan bahwa Revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang memadai.Nota Dinas Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Direktorat terkait untuk meminta persetujuan teknis apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap. Sekretaris. Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 57 . NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : : Menindaklanjuti Surat Kepala Dinas [sebutkan nama Dinas revisi] nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Pengajuan revisi tersebut dilakukan dengan alasan [ sebutkan alasan yang terdapat pada surat pengajuan ]. Kami harapkan Saudara dapat menelaah lebih lanjut secara teknis kegiatan-kegiatan yang diusulkan untuk dirubah.

Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 58 . Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih.Nota Dinas Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Direktur Jenderal untuk meminta persetujuan apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap dan telah mendapat persetujuan dari Direktorat terkait [ Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan] NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : Menindaklanjuti Surat Kepala Dinas [ Nama Dinas revisi] nomor] : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] dan persetujuan Direktorat terkait melalui Nota dinas nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Bersama ini disampaikan Draft surat persetujuan dan lampiran revisi untuk dapat ditandatangi apabila Bapak tidak berkehendak lain. Sekretaris.

Atas perhatian dan kerjasama Saudara diucapkan terima kasih. Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 59 . Direktur Jenderal.Surat Persetujuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor Lampiran Hal : : : Yth Kepala Dinas [isikan dengan nama satker pemohon revisi] Di [Kota lokasi satker pemohon revisi] Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor [isikan PMK yang mengatur tentang tata cara revisi] dan Menindaklanjuti surat Saudara nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] bersama ini kami sampaikan bahwa Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat menyetujui permohonan revisi yang Saudara ajukan untuk selanjutnya agar kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

E. PENGAWASAN.BAB VI PENGENDALIAN. C. B. Kegiatan dan Anggaran Monitoring dan Evaluasi Pelaporan Penghargaan dan Sanksi . Pengendalian Kegiatan dan Anggaran Pengawasan Program. EVALUASI DAN PELAPORAN A. D.

arahan serta sejenisnya sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan kegiatan di daerah. akuntabel. monitoring. bimbingan. Sosialisasi Pedoman sebelum tahapan pelaksanaan kegiatan. tuntutan agar pengelola kegiatan. Hal ini mengingat beragamnya komoditas yang dikembangkan di daerah serta jenis kegiatan yang dilaksanakan. Disamping itu. evaluasi. 4. Mendapatkan bahan untuk dijadikan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. 2. 3. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 60 . 5. Mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta kesesuaian pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran dengan sasaran yang ingin dicapai. Bimbingan terhadap penyusunan prosedur dan tata kerja pelaksanaan kegiatan. 4. perlu dilakukan pengendalian terhadap implementasi kegiatan dan anggaran kinerja pembangunan pertanian di daerah dengan tujuan: 1. anggaran dan penerima manfaat dapat bekerja sama serta melaksanakan tugas secara transparan. EVALUASI DAN PELAPORAN A. Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan lingkup Kementerian Pertanian. penegakan hukum dan perlakuan yang adil/kesetaraan. Melakukan kunjungan ke daerah untuk melakukan supervisi pembinaan. Peningkatan kualitas SDM melalui kursus. Mencegah atau mengurangi terjadinya kesalahan pelaksanaan kegiatan dan penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan rencana serta sasaran yang ingin dicapai. maka pengendalian kegiatan dan anggaran kinerja ini dilakukan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sesuai dengan bidang tugasnya. program dan anggaran kinerja.BAB VI PENGENDALIAN. 2. Mengantisipasi secara dini terhadap permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusinya. workshop atau pelatihan. PENGAWASAN. 3. Pengendalian Kegiatan dan Anggaran Pengendalian kegiatan dan anggaran merupakan kegiatan yang cukup penting mengingat banyaknya kendala dan permasalahan yang sering ditemui dalam pelaksanaan kegiatan dan anggaran. Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah : 1. Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis di daerah melalui penerbitan Pedoman sebagai acuan/rambu-rambu dalam operasional kegiatan.

pengawasan fungsional pembangunan peternakan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian dan Pengawasan Internal oleh pimpinan pelaksana fungsi manajemen (Eselon I dan II) melalui Satlak SPI. Kegiatan dan Anggaran Dalam sistem penganggaran terpadu berbasis kinerja. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. Pengawasan fungsional kegiatan program dan anggaran kinerja pembangunan peternakan secara eksternal juga dilakukan oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Evaluasi tahunan Eselon-I perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja keseluruhan dan menjadi dasar perencanaan program dan anggaran berikutnya. BPKP dan Bawasda. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui penyempurnaan dan pemantapan sistem dan proses penyusunan program kerja pemeriksaan dengan mengikutsertakan secara aktif unsur-unsur perencana dan pelaksana. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program.6. Dalam rangka mendukung implementasi program dan anggaran berbasis kinerja maka pemeriksaan yang dilakukan meliputi : 1. B. pengujian. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 61 . Di samping itu. Pengawasan yang dilaksanakan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup Kementerian Pertanian berdasarkan program kerja pengawasan tahunan maupun pemeriksaan non reguler. peningkatan ketrampilan petugas pemeriksa merupakan kegiatan yang mutlak dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dalam upaya mendukung fungsi pemeriksaan dan pengawasan secara lebih berkualitas. Pengawasan Program. Pemeriksaan kinerja aparat pengelolaan kegiatan. kegiatan dan anggaran kinerja. bantuan luar negeri serta mempunyai peran strategis terhadap keberhasilan pembangunan peternakan dan bidang-bidang rawan kebocoran. Pengawasan dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan peternakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Objek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar.

39 Tahun 2006. 39 Tahun 2006 dan kegiatan yang sama di luar monitoring digunakan istilah pemantauan. apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak sehingga akan dapat merekomendasikan penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. Berdasarkan PP No. Program/kegiatan yang harus dimonitor meliputi: (1) Seluruh program/kegiatan yang tertera pada Rencana Kerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat. tentang: Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.2. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan yang dananya bersumber dari APBN. 39 Tahun 2006. dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. tidak hanya mengikat Satker Lingkup Kementerian Pertanian tetapi juga SKPD Provinsi (Dekonsentrasi. Program/Kegiatan yang dimaksud adalah seluruh program/kegiatan yang tercantum dalam DIPA. 1. Pemantauan didefinisikan sebagai kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. dan tugas pembantuan. (2) Seluruh program/kegiatan di tingkat provinsi dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. C. 4.39 Tahun 2006 terdapat 5 kelompok pejabat pemantauan/ monitoring pelaksanaan rencana pembangunan. dan Tugas Pembantuan) dan SKPD Kabupaten/Kota (Tugas Pembantuan). Pemeriksaan yang mengarah pada pelaksanaan wewenang sesuai tupoksi. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. 3. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggungjawabkan wewenang dan tupoksi instansi tersebut. Kelompok pejabat dimaksud adalah : (1) Pimpinan Kementerian _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 62 . (3) Seluruh program/kegiatan di tingkat kabupaten/kota dalam rangka tugas pembantuan. Pemeriksaan ini termasuk pula untuk pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana penyalahgunaan wewenang. Monitoring Monitoring diatur dengan PP No. PP No.

Evaluasi Setiap Satker Pusat & Satker Daerah paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan yang dananya bersumber dari APBN. Format. Pelimpahan Wewenang Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran 2012 dan Pelimpahan Wewenang Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012. Kepala SKPD Provinsi.39 Tahun 2006 tentang tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan dan berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian Tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2012. Kepala SKPD Kabupaten Kota. (2) Gubernur menjadi pejabat pemantau pelaksana rencana program dan kegiatan dalam rangka dekonsentrasi dan tugas pembantuan. (3) Bupati/Walikota menjadi pejabat pemantau pelaksana rencana program dan kegiatan sesuai tugas dan kewenangannya. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 63 . (5) Kepala SKPD Kabupaten/Kota menjadi pejabat pemantau program dan kegiatan tugas pembantuan.Pertanian menjadi pejabat pemantau pelaksana Renja Kementerian Pertanian (program dan kegiatan). disusun dalam bentuk laporan triwulan. Hasil pemantauan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. indikator dan sasaran kinerja keluaran (output) untuk masing-masing kegiatan. tata cara. Evaluasi dimaksud dilakukan terhadap pencapaian sasaran sumberdaya yang digunakan. Pimpinan Kementerian Pertanian menunjuk pejabat pelaksana tugas pemantauan yang didalamnya termasuk pejabat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Hasil evaluasi kegiatan Satker tersebut akan digunakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk mengevaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (4) Kepala SKPD Provinsi menjadi pejabat pemantau pelaksanaan rencana program dan kegiatan dalam rangka dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. 2. dan waktu penyampaian laporan dilaksanakan berdasarkan PP No. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyampaikan laporan hasil evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Menteri Pertanian paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan dekonsentrasi bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan dekonsentrasi. D.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 tentang Pelimpahan kepada Gubernur dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun Anggaran 2012. pencapaian target keluaran.Hasil Evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan digunakan oleh Menteri Pertanian sebagai bahan evaluasi kinerja Pemerintah. pertanggungjawaban dan pelaporan dana dekonsentrasi mencakup laporan manajerial dan laporan akuntabilitas. Laporan manajerial mencakup perkembangan realisasi penyerapan dana. Pelaporan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 64 . laporan realisasi anggaran dan catatan atas laporan keuangan. a. kendala yang dihadapi dan saran tindak-lanjut sedangkan laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. Laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan ke Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri/Pejabat Eselon I) untuk digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun berikutnya. merupakan bentuk penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai pada akhir pelaksanaan. untuk pembangunan pertanian Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan kepada Menteri Pertanian.q. Pelaporan hasil kegiatan program dan anggaran kinerja ini. Mekanisme Pelaporan Dana Dekonsentrasi Berdasarkan Aspek Manajerial 1) Kepala SKPD provinsi menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi dan kepada Menteri Pertanian c. Melalui laporan akan dapat dilihat sejauhmana tingkat keberhasilannya. Pelaporan Dana Dekonsentrasi Mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 71/Permentan/OT. 1. Laporan barang terdiri atas neraca.

2) 3) 4) 5) 6) _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 65 . Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana dekonsentrasi berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat. Organisasi dan tata kerja Sekretariat UAPPA/B-W ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Pertanian. Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/BW). Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana Dekonsentrasi berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN. Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Mekanisme Pelaporan Dana Dekonsentrasi Berdasarkan Aspek Akuntabilitas 1) Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan dekonsentrasi wajib menyelenggarakan akuntansi dan bertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas). Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Gubernur menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri.2) 3) 4) membidangi kegiatan dimaksud setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir.q. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. b.

Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Aspek Manajerial 1) Kepala SKPD provinsi menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi dan kepada Menteri Pertanian c. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. 4) Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 70/Permentan /OT.q. Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas. Pertanggungjawaban dan pelaporan dana tugas pembantuan provinsi mencakup laporan manajerial dan laporan akuntabilitas. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang membidangi kegiatan dimaksud setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. 2) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 66 . Laporan manajerial meliputi perkembangan realisasi penyerapan dana. Laporan barang terdiri atas neraca.2. Laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. pencapaian target keluaran.q. kendala yang dihadapi.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 Tentang Penugasan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran 2012. laporan realisasi anggaran. dan catatan atas laporan keuangan. Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan tugas pembantuan bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan tugas pembantuan. 3) Gubernur menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri. a. dan saran tindaklanjut.

6) Organisasi dan tata kerja Sekretariat UAPPA/B-W ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Pertanian. kendala yang dihadapi. pertanggungjawaban dan pelaporan tugas pembantuan kabupaten/kota meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas. dan saran tindaklanjut. Laporan manajerial meliputi perkembangan realisasi penyerapan dana. Kepala SKPD kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan tugas pembantuan. 5) Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 68/Permentan /OT. Laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. 3) Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 Tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012. pencapaian target keluaran. 4) Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. Laporan keuangan terdiri atas neraca. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 67 . Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W). 2) Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana tugas pembantauan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat. laporan realisasi anggaran dan catatan atas laporan keuangan. Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Aspek Akuntabilitas 1) Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan tugas pembantuan wajib menyelenggarakan akuntansi dan pertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas).b.

Menteri Keuangan dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 68 . Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang membidangi kegiatan dimaksud dan menyampaikan tembusan kepada SKPD provinsi yang tugas dan kewenangannya sama setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. d) Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN. 2) Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/ Kota Berdasarkan Aspek Akuntabilitas Kepala SKPD Kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan wajib menyelenggarakan akuntansi dan bertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas). Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat.q. c) Bupati/Walikota menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikan setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri.q.1) Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/ Kota Berdasarkan Aspek Manajerial a) Kepala SKPD Kabupaten/kota menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Bupati/Walikota melalui Bappeda kabupaten/kota dan kepada Menteri Pertanian c. b) Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Departemen merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c.

Hasil perhitungan dari hasil optimalisasi setelah dikurangi sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penghargaan (reward) Penghargaan (reward) diberikan kepada satuan kerja yang memberikan kontribusi terhadap perolehan penghargaan yang bersangkutan dengan kriteria sebagai berikut: a. c. b. Prioritas dalam mendapatkan dana atas Inisiatif Baru yang diajukan. 1.02/2011. sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK. dimana tambahan alokasi anggaran maksimum sama dengan hasil optimalisasi yang belum digunakan pada tahun anggaran 2011. Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W). sebaliknya bagi Kementerian Negara/Lembaga yang tidak sepenuhnya melaksanakan anggaran belanja tahun anggaran 2011. E. dapat berupa: a. Penghargaan dan Sanksi Kementerian Negara/Lembaga yang melakukan optimalisasi anggaran belanja pada tahun anggaran 2011. Prioritas dalam mendapatkan anggaran belanja tambahan apabila kondisi keuangan Negara memungkinkan.sebagaimana dimaksud pada poin (2). Mempunyai hasil optimalisasi di tahun anggaran 2011 dan belum digunakan pada tahun 2011. Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. menghasilkan nilai positif. akan dikenakan sanksi (punishment)dengan pemotongan pagu belanja pada tahun anggaran 2012. dan b. Tambahan alokasi anggaran pada tahun anggaran 2012. Penghargaan diberikan kepada satuan kerja yang memberikan kontribusi terhadap perolehan penghargaan yang bersangkutan. yang dapat digunakan untuk Inisiatif Baru (new initiative) atau untuk penambahan volume keluaran yang sama. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 69 . dapat menggunakan hasil optimalisasi anggaran belanja tersebut pada tahun anggaran 2012 sebagai penghargaan (reward).

Alokasi anggaran yang bersumber dari Pinjaman dan Hibah Luar Negri(PHLN). c. Pinjaman dan Hibah Dalam Negeri (PHDN). Alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tidak termasuk: a. menghasilkan nilai postif. Tidak diikutinya peraturan perundangan dibidang pengadaan barang/jasa pemerintah. Pemberian piagam penghargaan (award) Menteri/pimpinan Lembaga atau kepala satuan kerja. Tidak dipenuhinya kriteria-kriteria kegiatan yang dapat dibiayai dari anggaran belanja tahun anggaran 2011. b.d.yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Publikasi ke mass media. Tidak mencantumkan penjelasan atas laporan yang disampaikan. Sanksi tidak dikenakan kepada Kementerian Negara/Lembaga dalam hal target kinerja Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan telah tercapai seluruhnya. kepada Sanksi (punishment) Kementerian Negara/Lembaga yang tidak sepenuhnya melaksanakan anggaran belanja tahun anggaran 2011 diberikan sanksi yaitu dikenakan pemotongan pagu belanja pada tahun anggaran 2012. Terdapat sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. 2. Sanksi diberikan kepada satuan kerja yang menyebabkan pengurangan pagu Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Rupiah Murni Pendamping. Keterlambatan penunjukan kepala satuan kerja dan/atau pelaksana kegiatan. Hasil perhitungan dari sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan setelah dikurangi hasil optimalisasi yang belum digunakan pada tahun anggaran 2011. dan b. Sanksi yang dikenakan kepada Kementerian Negara/Lembaga dengan kriteria sebagai berikut: a. e. Dimana pemberian sanksi kepada satuan kerja yang bersangkutan tidak boleh menghambat pencapaian target pembangunan nasional dan menurunkan pelayanan kepada publik. dan/atau d. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 70 . Sanksi yang dikenakan maksimum sebesar anggaran belanja tahun anggaran 2011 yang tidak terserab dan tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)/Badan Layanan Umum (BLU).

Alokasi anggaran yang penggunaannya harus mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terlebih dahulu. dan cuaca. c. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 71 . atau Akibat keadaan kahar (force majeure) antara lain meliputi bencana alam.b. terjadi konflik/berpotensi terjadi konflik sosial.

BAB VII PENUTUP .

Untuk mendukung hal tersebut. peningkatan kualitas SDM. kelompok sasaran dan manfaat bagi kelompok sasaran. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 72 . Disamping itu perencanaan hendaknya disusun dengan mengacu pada sasaran yang jelas dengan besaran yang terukur. peluang. Sistem anggaran kinerja merupakan sistem pengukuran kinerja yang efektif yang dapat membantu masyarakat untuk mengevaluasi apakah tingkat pelayanan pemerintah setara dengan dana yang dikeluarkan untuk pelayanan publik. Pelaksanaan sistem anggaran terpadu berbasis kinerja akan membuka peluang bagi daerah untuk bekerja lebih optimal dan mencerminkan komitmen yang kuat dalam pelaksanaan sistem penganggaran berbasis kinerja. Dengan demikian hal-hal yang terkait dengan aspek kekuatan. arah dan kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan memerlukan penyesuaian. lokasi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui pemberdayaan birokrasi dan stakeholder lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bersih. Menyikapi hal ini. penataan kelembagaan dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait pusat dan daerah. kelemahan. sehingga memudahkan dilakukannya pemantapan perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang bermuara pada keberhasilan pembangunan pertanian. tantangan dan permasalahan akan dapat terakumulasi.BAB VII PENUTUP Era Desentralisasi menuntut agar perencanaan dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan aspirasi dari seluruh stakeholder dan perkembangan yang ada. Pedoman Pelaksanaan ini sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan secara umum sehingga dalam pelaksanaan anggaran pembangunan peternakan dan kesehatan hewan TA 2012 masih memerlukan pedoman/petunjuk umum/teknis yang akan diterbitkan oleh Direktorat Teknis lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. dan menjadikan anggaran kinerja merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi yang telah dibuat. waktu. amanah dan profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. perlu diciptakan keterpaduan pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan melalui pemantapan sistem dan metode perencanaan.

LAMPIRAN .

............... GUBERNUR .......................... UNIT ES-1 NO.......... RUPIAH MURNI 7 DEP/KL PROGRAM KEGIATAN SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 ............. REKAPITULASI KEGIATAN DEKONSENTRASI KEMENTERIAN/LEMBAGA DI DAERAH TAHUN ANGGARAN .................... .....................Lampiran-1 PROVINSI ................ .................. 73 .......................

.......................... GUBERNUR ..........................REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI PROVINSI TAHUN ANGGARAN ..................... UNIT ES-1 NO........ 74 ...................... ..... RUPIAH MURNI 7 DEP/KL PROGRAM KEGIATAN SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 .............. ............ Lampiran-2 PROVINSI ............................

........................ .... Lampiran-3 KEGIATAN NO............................. GUBERNUR .............. : ................................KABUPATEN / KOTA PROVINSI : ........ RUPIAH MURNI 7 DEP/KL UNIT ES-1 PROGRAM SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 ................ ................. REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI KAB/KOTA TAHUN ANGGARAN ........ 75 ...................................

...... Lampiran-4 KEGIATAN DEP/KL RUPIAH MURNI 7 UNIT ES-1 PROGRAM SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 . ................................................. BUPATI/WALIKOTA ....................... ..... REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI KAB/KOTA TAHUN ANGGARAN ......... : .............. 76 .............KABUPATEN / KOTA PROVINSI : ...................................................

27. 28. 12. 1. 13.Lampiran 5. 19. 24. 37. 22. 17. 10. 15. 4. 31. 18. 29. 26. 34. 16. 3. 23. 2. 7. 8. 30. 21. 6. 9. 25. 36. 14. Pedoman Pelaksanaan Monitoring dan evaluasi Pedoman Pelaksanaan SPI Pedoman Teknis Penyusunan Proposal 2013 Pedoman Teknis Pengumpulan Data Statistik Peternakan Pedoman Teknis Pemeliharaan Unggas di Pedesaan Pedoman Teknis Pemeliharaan Unggas di Pemukiman Pedoman Teknis Kompartementalisasi dan Zonifikasi Pedoman Teknis Pengembangan Pakan Lokal Pedoman Teknis Fasilitasi Pengawasan Mutu Pakan Pedoman Teknis Pemeliharaan Babi Ramah Lingkungan Pedoman Teknis Budidaya Aneka Ternak Pedoman Teknis Pelaksanaan Lomba Kelompok Peternak dan Petugas Berprestasi Pedoman Teknis Integrasi Ternak dan Tanaman Pedoman Teknis ULIB Pedoman Teknis Pabrik Pakan Skala Kecil Pedoman Teknis Alat Pengolah Pakan Good Farming Practices Budidaya Ternak Pedoman Teknis LM3 Peternakan Pedoman Teknis SMD Pedoman Teknis Penanganan Betina Produktif Pedoman Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih/Bibit Ternak Pedoman Penetapan Rumpun Atau Galur Ternak Pedoman Pelepasan Rumpun Atau Galur Ternak Pedoman Transfer Embrio Pedoman Teknis Pengendalian dan Pemberantasan Rabies Pedoman Teknis Pengendalian dan Pemberantasan Brucellosis Pedoman Teknis Pengendalian Anthrax Pedoman Teknis Pengendalian Hog Cholera Pedoman Teknis Pengendalian Jembrana Pedoman Pencegahan penyakit Eksotik Pedoman Kesiagaan Wabah Penyakit Hewan Pedoman Teknis Penanggulangan Gangguan Reproduksi dan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Hewan Prosedur Operasional Standar Pengendalian Avian Influenza Pedoman Surveilans Avian Influenza di Indonesia Pedoman Operasional Pusat Kesehatan Hewan Pedoman Teknis 13 langkah Operasional PSDS/K Pedoman Standar Laboratorium Tipe B dan C _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 77 . 20. 5. 32. 33. 35. 11. Daftar Pedoman/Petunjuk Umum/Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012.

Pedoman Teknis Penataan Higiene Sanitasi susu di Tempat Penampungan Susu _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 78 . Pedoman Teknis Penataan Kios Daging di Pasar Tradisional 42.38. Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) 40. Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Potong Unggas Skala Kecil (RPUSK) 39. Pedoman Teknis Pembangunan Tempat Penampungan Unggas (TpnU) 41.

go. Harsono RM Nomor 3 Gedung C.go. Pasar Minggu Jakarta 12550  Kotak Pos 1108/JKS.id  . Jakarta 12011  Tlpn/Faks : (021) 7815580‐83. 78847319.id  Wibsite : http://ditjennak.    Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan  Jln. Email : ditjenak@deptan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->