PEDOMAN PELAKSANAAN 

PENGELOLAAN  APBN  PETERNAKAN DAN  KESEHATAN HEWAN TAHUN 2012     
                                                       

KEMENTERIAN PERTANIAN 
DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN   
Desember 2011 

KATA PENGANTAR
Dalam rangka pencapaian target empat sukses Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bertanggung jawab atas pelaksanaan “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK 2014) dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Program tersebut akan akan ditempuh melalui 6 kegiatan yaitu : (i) peningkatan kualitas bibit; (ii) peningkatan produksi ternak; (iii) peningkatan produksi pakan ternak; (iv) pengendalian dan penanggulangan PHMS dan Zoonosis; (v) penjaminan pangan asal hewan yang ASUH ; dan (vi) peningkatan koodinasi dan dukungan manajemen. Untuk menunjang pencapaian kinerja program dan kegiatan serta memandu pengelolaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja TA 2012, perlu disusun Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012. Pedoman ini antara lain memuat: arah kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan; program dan kegiatan; pengelolaan anggran; pengendalian; pengawasan; evaluasi dan pelaporan. Mengingat pedoman ini masih bersifat umum, maka dalam menjalankan semua kegiatan/komponen/sub komponen yang tertuang dalam POK masih diperlukan Pedoman/petunjuk Teknis yang diterbitkan oleh Direktorat Teknis lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang terpisah dari Pedoman Pelaksanaan ini . Dengan diterbitkannya Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012, diharapkan pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Tahun 2012 dapat dilaksanakan lebih efisien dan efektif dalam mendukung pencapaian progam yang telah ditetapkan.

Jakarta,

Desember 2011

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Ir. Syukur Iwantoro. MS.,MBA NIP 19590530 198403 1 001

____________________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

i

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................... B. Tujuan ......................................................................................... C. Sasaran ...................................................................................... D. Ruang Lingkup ........................................................................... E. Pengertian .................................................................................. BAB II. RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN A. Tujuan ......................................................................................... B. Kebijakan .................................................................................... C. Strategi ....................................................................................... D. Sasaran Pembangunan Peternakan 2012 ................................. BAB III. PROGRAM DAN KEGIATAN A. Program ...................................................................................... B. Kegiatan ..................................................................................... C. Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Dalam Program Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan ................... D. Pembiayaan Program/Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan ...................................................................... BAB. IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN A. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran ....................................... B. Dasar Penyusunan ..................................................................... C. Mekanisme Penyusunan RKA-K/L ............................................. D. Pengesahaan Dokumen Pelaksanaan ....................................... E. Struktur Penganggaran ..............................................................

i ii iv v 1 1 3 3 3 4 8 8 9 10 10 12 12 12 14 32 36 38 38 38 40 40

____________________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

ii

. E.............................. Pengendalian Kegiatan dan Anggaran ........... C............... E... Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat ......... B... B........................................................... PENGAWASAN........................... D.... Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran ...... Monitoring dan Evaluasi ... Perubahan Dokumen Anggaran ................................ Penghargaan dan Sanksi ............... Pelaporan ........ C...................... F.....BAB V.......... Kegiatan dan Anggaran ..... PENUTUP LAMPIRAN 44 44 46 48 51 51 54 60 60 61 62 64 69 72 73 ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 iii ..................... BAB VI............ Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan ...................... Pengawasan Program.... Pengelolaan Dana Tugas Perbantuan . Pengelolaan Dana Dekonsentrasi ....................... BAB VII............ PENGELOLAAN ANGGARAN A................... D............................... EVALUASI DAN PELAPORAN A............... PENGENDALIAN........

............ Target Peningkatan Populasi Komoditas Ternak ...DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1..... 11 ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 iv ...

........ ____________________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 v .. 2012 .. Bagan 4............ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Provinsi TA............................................................. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Dana Dekonsentrasi Satker Dinas Provinsi TA....... 2012 .................................. 2012 ................ 2012 .... 2012 .. 45 46 47 49 50 Bagan 2................................. Bagan 3................ Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Kab/Kota TA...... Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Pada Satker UPT Pusat TA...........DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 1..... Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Kantor Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA........... Bagan 5......

Sasaran D. Ruang Lingkup E. Pengertian . Tujuan C.BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B.

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembangunan peternakan dihadapkan peternakan dihadapkan pada sejumlah tantangan baik dari lingkungan dalam negeri maupun dari lingkungan global. Dinamika lingkungan dalam negeri berkaitan dengan dinamika permintaan produk peternakan, penyediaan bibit ternak, kualitas bibit, terjadinya berbagai wabah penyakit ternak yang sangat merugikan, serta tuntutan perubahan manajemen pembangunan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan partsipasi masyarakat. Sedangkan isu global yang sedang dihadapi adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan serta energi meningkat. Dari sisi pembangunan ekonomi nasional, bukti empiris menunjukan bahwa sub sektor peternakan memiliki peran cukup strategis utamanya dari kontribusi terhadap produk domestik bruto, penyerapan tenaga kerja, penyedia bahan pangan, bahan energi, pakan dan bahan baku industri, serta sumber pendapatan di pedesaan. Namun besarnya peran tersebut, ternyata belum dinikmati oleh para pelaku usaha peternakan utamanya masyarakat peternak sendiri. Dalam kerangka pembangunan ekonomi wilayah, terlihat bahwa peran sub sektor peternakan sangat strategis dan memiliki kaitan kuat dari hulu maupun hilir dibandingkan dengan sektor lainnya. Peran strategis tersebut perlu dioptimalkan sejalan dengan strategi pemerintah membangun enam Koridor Pembangunan Ekonomi Indonesia (KPEI). Peran strategis tersebut harus dipahami oleh aparat perencana, agar produk perencanaan dapat akomodatif terhadap kebutuhan daerah dan aspirasi masyarakat. Pada era reformasi dan otonomi daerah pemerintah terus melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan jaman antara lain berupa reformasi manajemen keuangan negara, reformasi birokrasi maupun reformasi dalam sistem perencanaan dan penganggaran dengan prinsip penerapan anggaran terpadu (unified budget) dan berbasis kinerja (performance budget) sejak tahun 2010. Sehubungan dengan hal tersebut Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan telah berupaya untuk menindaklanjuti berbagai reformasi tersebut serta mengakomodasi kondisi yang ada, mengimplementasi program dan kegiatan dilapangan, guna memenuhi tuntutan peningkatan kinerja dalam mewujudkan hasil pembangunan sesuai dengan rencana, layanan berkualitas dan pemanfaatan sumber daya.

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

1

Berdasarkan kondisi tersebut, dalam perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan diperlukan pembenahan pada tingkat fleksibilitas maupun responsibilitas terhadap lingkungan strategis, baik secara internal maupun eskternal. Sehingga, untuk mewujudkan perencanaan dimaksud, dalam implementasinya diperlukan sumberdaya manusia, sarana/peralatan dan pendanaan yang memadai serta diperlukan perangkat sistem yang efektif untuk pengendalian dan penilaian kinerja. Dalam rangka mengimplementasikan program dan kegiatan tahun Anggaran 2012 dalam kerangka pecapain kinerja program tahun 2010 2014, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bertangung jawab atas satu program dari 12 program yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian yaitu “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Pencapaian program tersebut akan ditempuh melalui 6 kegiatan utama yaitu (i) peningkatan kualitas bibit ternak; (ii) peningkatan produksi ternak; (iii) peningkatan produksi pakan ternak; (iv) pengendalian dan penanggulangan PHMZ dan penyakit zoonosis; (v) Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan; dan (vi) peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan peternakan, fasilitasi anggaran program dan kegiatan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2012 dengan mengacu pada UndangUndang Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Regulasi lain yang menuntut pemerintah melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada terkait Reformasi manajemen keuangan negara, antara lai yaitu : UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; UndangUndang. No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; UndangUndang No.15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara; Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Undang-Undang. No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang. No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Untuk menunjang pencapaian kinerja program dan kegiatan pada tahun 2012, pengelolaan anggaran diharapkan dapat dilakukan secara konsekuen sehingga jajaran peternakan mampu meningkatkan kemampuan dan menggali secara inovatif kegiatan produktif yang dapat memberdayakan masyarakat petani, meningkatkan pelayanan dan menggerakkan investasi guna mengelola sumberdaya peternakan.
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

2

Dalam rangka memandu pengelolaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja TA 2012, maka diperlukan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012. B. Tujuan Tujuan penyusunan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah : 1. Memberikan acuan pelaksanaan anggaran terpadu dan berbasis kinerja dalam pembangunan peternakan. 2. Menjabarkan program pembangunan peternakan ke dalam kegiatankegiatan mulai dari pusat sampai daerah. 3. Meningkatkan efisiensi, efektivitas, tertib dan transparan serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan. 4. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan perencanaan anggaran kinerja pembangunan peternakan dan keswan C. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dari Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah sebagai berikut : 1. Terlaksananya pembangunan peternakan sebagai implementasi kebijakan dan program pembangunan peternakan secara nasional. 2. Terjabarkannya program pembangunan peternakan ke dalam kegiatankegiatan yang bersifat pengungkit pembangunan. 3. Tercapainya efisiensi dan efektifitas pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. 4. Terciptanya koordinasi dan keterpaduan perencanaan anggaran kinerja pembangunan peternakan dan keswan 5. Tercapainya evaluasi kinerja yang akurat dalam pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. D. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA 2012 adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan dan program. Dalam pokok materi kebijakan dan program akan disajikan substansi terkait: tujuan pembangunan, kebijakan, strategi, sasaran pembangunan peternakan dan keswan 2012, permasalahan serta potensi.
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

3

2. Indikator kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Aspek tersebut akan memastikan sejauh mana progress dan capaian kinerja dan sebagai intrumen untuk mengarahkan agar pelaksanaan sejalan dengan rencana dan penganggaran pembangunan peternakan. 3. Pengendalian. tahap pelaksanaan (on-going). 2. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran telah ditetapkan. pengorganisasian pengelolaan anggaran pembangunan peternakan serta tugas dan tanggung jawab masingmasing instansi. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 4 . E. monitoring dan evaluasi dapat dilakukan untuk menilai kinerja pelaksanaan pembangunan peternakan berdasarkan indikator-indikator yang terukur. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Pengertian Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan : 1. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/ program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Penganggaran Berbasis Kinerja adalah penganggaran yang dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. Untuk itu. evaluasi dan pelaporan. Salah satu aspek penting dalam manajemen pembangunan dalam mendukung pencapaian kinerja yang ditetapkan adalah aspek pengendalian. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran diperlukan diperlukan prosedur dan tata cara pengelolaan anggaran dalam mendukung program. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). pengawasan. Tata hubungan kerja operasional pelaksanaan pembangunan peternakan dilakukan baik secara vertikal antara pusat dengan daerah. pengawasan. Pengelolaan program dan anggaran. Tanpa indikator kinerja. provinsi dan kabupaten/kota. Dengan demikian. dalam pengelolaan anggaran diperlukan pemetaan kewenangan pemerintah pusat. Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. evaluasi dan pelaporan. maupun hubungan horisontal lintas sektor maupun subsektor.

dan tepat sasaran). material. membayarkan. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. 8. Indikator Manfaat (benefit) adalah gambaran manfaat yang diperoleh secara langsung dari indikator hasil. 7. teknologi) sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Satuan Kerja pada instansi pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu di bidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. menyimpan. dana. Indikator Dampak (impact) adalah pengaruh yang ditimbulkan dari manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan. tepat. yang dipergunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam program. Manfaat baru nampak setelah beberapa waktu kemudian. 5. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 5 . Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya (manusia. 11. menatausahakan dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/satker kementerian negara/lembaga. 9. dan baru dapat diketahui dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang. 10. Indikator Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan dalam suatu program. Indikator Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran program dan kebijakan. 4. akan diketahui apakah input telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.3. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. material dan masukan lain . Indikator Masukan (input) adalah jumlah sumberdaya seperti dana. 6. SDM. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. Dengan meninjau distribusi sumberdaya yang dimiliki. waktu. 12. peralatan. dan bisa dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat lokasi.

14. 19. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan kegiatan. 17. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian (RKA-K) adalah dokumen perencanaan yang merupakan pedoman tugas bagi pelaksanaan tugas kementerian dan merupakan penjabaran dari RKP dan rencana strategis kementerian yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran. 15. 18. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 6 .13. 21. yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember tahun berkenaan. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tak terpisahkan dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau kepada Instansi Vertikal di wilayah tertentu. Rencana Strategis Kementerian adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. Anggaran Terpadu adalah rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 20. 16.

tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 7 . Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi. 23. 22. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.

D. C.BAB II RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN A. A. Pembangunan Peternakan dalam Sektor Pertanian Tujuan Sasaran Strategi Sasaran Pembangunan Peternakan dan Keswan Tahun 2012 . B.

Utuh dan Halal (ASUH). 2. Meningkatnya pendapatan peternak _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 8 . Meningkatnya produksi dan daya saing. Visi Renstra yang menjadi landasan dalam pembangunan peternakan adalah: ” Menjadi Direktorat Jenderal yang profesional dalam mewujudkan peternakan dan kesehatan hewan yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal untuk mewujudkan penyediaan dan keamanan pangan hewani serta meningkatkan kesejahteraan peternak”. yaitu. melalui kebijakan yang telah ditetapkan. (ii) Menyelenggarakan dan menggerakkan pengembangan: perbibitan. Terjaminnya pangan asal hewan yang Aman. (i) Merumuskan dan menyelenggarakan kebijakan di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal. dan (iii) Meningkatkan profesionalitas dan integritas penyelenggaraan administrasi publik A. Rumusan misi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai berikut . 3. Terkendalinya penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis. Sinergi dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Sehat. Merumuskan kebijakan dan standarisasi teknis bidang peternakan dan kesehatan hewan yang berbasis sumber daya lokal. pakan. Untuk mewujudkan visi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan perlu ditetapkan misi yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. 5. Tujuan Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam periode tertentu. budidaya ternak. kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen dalam mencapai penyediaan dan keamanan pangan hewani untuk meningkatkan kesejahteraan peternak. maka dirumuskan tujuan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam periode tahun 2010-2014.BAB II RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Kebijakan dan program pembangunan peternakan disusun berlandaskan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010-2014. 1. 4.

(iii) meningkatkan penerapan kesrawan. Kebijakan ketersediaan dan mutu benih dan bibit ternak akan diarahkan untuk : (i) mengoptimalkan kelembagaan perbibitan dan sertifikasi. (i) menguatkan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner. dan global untuk merealisasikan secara penuh komitment millennium Developmet Goal (MDGs). dan (iv) pengembangan kelembagaan dan usaha. (v) peningkatan penerapan teknologi perbibitan. arah kebijakan umum pembangunan peternakan dan kesehatan hewan 2010 – 2014 adalah untuk : (i) menjamin ketersediaan dan mutu benih dan bibit ternak. (iii) meningkatkan pengawasan mutu pakan. (ii) meningkatkan populasi dan produktifitas ternak. Pada aspek status kesehatan hewan diarahkan untuk : (i) meningkatkan perlindungan hewan. yaitu komitment : pro poor. yang menyatakan bahwa pembangunan Ketahanan Pangan menjadi prioritas yang kelima. pro growth. (iv) meningkatkan status kesehatan hewan. (iii) meningkatkan produksi pakan ternak. (iv) meningkatkan kuatitas dan kualitas tenaga dokter hewan dan paramedik veteriner. Untuk aspek produksi pakan ternak diarahkan untuk : (i) penambahan penyediaan pakan dan air. (ii) meningkatkan jaminan produk hewan yang ASUH dan daya saing produk hewan. Kebijakan Pembangunan peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan nasional seperti yang telah dituangkan dalam RPJMN 20010 – 2014. pro job. Dengan mengacu pada RPJMN. (ii) peningkatan pelayanan kesehatan hewan. Dalam aspek populasi dan produktifitas ternak diarahkan untuk : (i) meningkatkan populasi dan optimalisasi produksi ternak ruminansia dan non ruminansia . (iv) pelestarian sumber daya genetic secara berkelanjutan. Sedangkan aspek keamanan produk hewan akan diarahkan untuk . (v) menjamin keamanan produk hewan. dan pelestarian lingkungan hidup. (iii) melaksanakan restrukturisasi perunggasan. (iii) meningkatkan kualitas dan kuatitas obat hewan. Sesuai dengan hasil KTT Pangan 2009. pengamatan penyakit hewan. (iv) mengoptimalkan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 9 . yang antara lain menyepakati untuk menjamin pelaksanaan langkah-langkah mendesak pada tingkat nasional. (iii) pengembangan kawasan/sentra sumber bibit.B. regional. (ii) pewilayahan sumber bibit berbasiskan potensi dan agroekosistemnya. (ii) melaksanakan revitalisasi persusuan. (ii) pengembangan teknologi dan industry pakan ternak berbasiskan sumber daya local. pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan. (iv) revitalisasi padang pengembangan dan pemanfaatan lahan kehutanan. dan (vi) meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat. (vi) pengembangan usaha dan investasi perbibitan.

Meningkatkan promosi produk peternakan untuk ekspor. strategi yang akan ditempuh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2010 – 2014 yaitu : 1. Memperkuat kelembagaan peternakan di daerah dan otoritas veteriner.44 juta orang atau penambahan tenaga kerja yang diserap sebanyak 128. (iii) meningkatkan kerjasama internasional. Memperkuat regulasi untuk melindungi peternak dalam negeri. (iv) meningkatkan pemberdayaan dan peran serta masyarakat C.2 trilyun.24% dan terkecil adalah komoditas ternak kerbau sebesar 1. pembangunan peternakan tahun 2012 menargetkan pertumbuhan PDB sebesar Rp 35. 3. data dan informasi. Sedangkan sasaran teknis. Target peningkatan populasi disajikan pada Tabel 1 berikut. D. (v) mengoptimalkan pengaturan dan pemasaran daging sapi. Target peningkatan pertumbuhan populasi tertinggi adalah ternak sapi perah sebesar 6. Strategi Memperhatikan target empat sukses Kementerian Pertanian. pada aspek peningkatan peran dan fungsi kelembagaan diarahkan untuk : (i) meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan serta SDM peternakan. Memperlancar arus produk peternakan melalui peningkatan efisiensi distribusi. 5. evaluasi. (ii) meningkatkan pelayanan prima pada masyarakat. (iii) meningkatkan kualitas perencanaan. penyerapan tenaga kerja 3. yaitu Pencapaian Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau dan perjanjian GATT tersebut di atas. yang mencakup produksi dan pertumbuhan populasi komoditas utama peternakan pada tahun 2012 mengacu adalah sebagai berikut: 1.pengaturan stock daging. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 10 . 2. Populasi Sasaran populasi ternak tahun 2012 mencakup 10 komoditas ternak. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar sektor terkait serta networking antar daerah. Sasaran Pembangunan Peternakan 2012 Secara makro.02%. 6. Meningkatkan daya saing produk peternakan dengan pemanfaatan sumber daya lokal. 4.87 ribu orang. Selanjutnya.

733 39.647.706 281.237 6.973 ribu ton dengan peningkatan sebesar 4.179 603.16%.770.037.686 2011 15.756.302.946 5.Tabel 1.1 gram/kapita/tahun.521 940.208.433.144 3.82 ribu ton 5.428 37.021 16.207 1.315.79% dan susu 3. telur 6.149.86 120.838 3.842 1.717 4.326 6.107 1.25%.693 582. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 11 . produksi telur 1.498 2.07 2.852 1.25%.07 7.24 1.425.175.881.379 ribu ton meningkat sebesar 9.029.270.93 ribu ton atau meningkat tiap tahun sebesar 4.100 16.02 17.07 303.923 5.951. Target Peningkatan Populasi Komoditas Ternak No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komoditas Sapi potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam ras Petelur Ayam ras Pedaging Itik 2010 14.995.44 959. Sedangkan penyediaan per kapita per tahun untuk daging 7.11 kg.019 6.67 ribu ton 7.637.34 40.319.795.110.712 11.03 kg dan susu 6. Ketersediaan/konsumsi Sasaran ketersediaan/konsumsi per tahun pada tahun 2012 untuk daging (daging dan jerohan) sebanyak 1.74% per tahun.08 ribu ton 3.147 114. 3.605 916.73 630.738.471.229.503. Produksi Sasaran produksi daging tahun 2012 sebanyak 2.311.950.016.03 kg atau setara dengan penyediaan protein 7.428.803.23 11.42% per tahun dan susu 1.757 2.710 10.901 117.743.412.543.973. telur 1.892 2012 r (%) 15.965 291.

BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN A. Kegiatan C. Program B. Pembiayaan Program/Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Keswan . Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Dalam Program D.

Untuk menunjang pencapaian empat sukses Kementerian Pertanian program Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. peningkatan kualitas dan kuantitas ayam buras. dan pengembangan usaha dan investasi. Program Program pembangunan peternakan dan keswan tahun 2012 yang akan dilaksanakan adalah ”Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. Sehat. Peningkatan penerapan teknologi perbibitan. susu). (ii) meningkatnya kontribusi ternak lokal dalam penyediaan pangan hewani (daging. Direktorat Kesehatan Hewan. peningkatan kualitas dan kuantitas sapi perah. Kegiatan Kegiatan pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pada masing-masing Eselon 2 (Direktorat Perbibitan Ternak. susu). Indikator kegiatan ini adalah peningkatan kuantitas semen. kambing. Sehat. susu). telur. domba. Utuh dan Halal” Outcome yang diharapkan dari program tersebut adalah (i) meningkatnya ketersediaan pangan hewani (daging. Direktorat Budidaya Ternak. peningkatan produksi embrio. Direktorat Pakan Ternak. Kegiatan 1: Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. (ii) Meningkatnya kontribusi ternak lokal dalam penyediaan pangan hewani (daging. peningkatan kualitas dan kuantitas bibit sapi potong. dan (iii) Meningkatnya ketersediaan kualitas protein hewani asal ternak. itik) yang bersertifikat melalui: penguatan kelembagaan perbibitan yang menerapkan Good Breeding Practices. peningkatan penerapan standar mutu benih dan bibit ternak. telur. dan (iii) meningkatnya ketersediaan protein hewani asal ternak. ayam buras. sapi perah.BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN A. susu). Outcome yang diharapkan dari program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah (i) Meningkatnya ketersediaan kuantitas pangan hewani (daging. Output kegiatan ini adalah Peningkatan kualitas dan kuantitas benih dan bibit ternak (sapi potong. B. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan pasca panen dan Sekretariat Direktorat Jenderal). Utuh dan Halal dikemas dalam enam kegiatan tugas pokok dan fungsi sebagai berikut: 1. telur. peningkatan kualitas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 12 . telur.

Kegiatan 5: Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan. serta proporsi produksi daging unggas lokal terhadap total produksi daging unggas nasional. Output kegiatan ini adalah penguatan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner. pengendalian dan penanggulangan PHMS dan zoonosis. dan obat hewan bermutu 5. Output kegiatan ini adalah meningkatnya populasi dan produksi ternak. Perlindungan hewan terhadap penyakit eksotik. serta peningkatan kualitas dan kuantitas domba. serta terjaminnya mutu obat hewan. Indikator kegiatan ini adalah pertumbuhan populasi dan produksi ternak ruminansia (sapi potong. Indikator kegiatan ini adalah peningkatan penerapan fungsi otoritas veteriner. dan meningkatnya pelayanan di bidang pakan. surveilans nasional PHMSZE (prevalensi dan atau insidensi). dan proporsi produksi telur ayam buras terhadap total produksi telur nasional. Output kegiatan ini adalah penguatan kelembagaan kesehatan hewan. dan peningkatan status wilayah. Kegiatan 3: Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. berkembangnya unit usaha pengolahan pakan. domba dan kambing). meningkatnya pemanfaatan hijauan pakan yang berkualitas. pertumbuhan populasi dan produksi ayam buras dan itik. penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah laboratorium veteriner kabupaten/kota yang terfasilitasi.dan kuantitas itik. sapi perah. Kegiatan 2: Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. proporsi produksi susu sapi domestik terhadap total permintaan susu nasiona. mesin. dan ketersediaan alat. pertumbuhan terpenuhinya persyaratan dan standar _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 13 . Output kegiatan ini adalah berkembangnya usaha pakan dan bahan pakan. Kegiatan 4: Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategik dan penyakit zoonosis. 3. tersosialisasikannya resiko residu dan cemaran pada produk hewan serta zoonosis kepada masyarakat dan tersedianya profil keamanan produk hewan nasional serta peta zoonosis. Indikator kegiatan ini adalah kemampuan mempertahankan status ”daerah bebas” PMK dan BSE. serta peningkatan penerapan kesrawan di RPH/RPU. Penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah Puskeswan yang terfasilitasi. peningkatan jaminan produk hewan ASUH bagi yang dipersyaratkan dan daya saing produk hewan. 2. peningkatan kualitas dan kuantitas kambing. 4. UPT pelayanan dan laboratorium veteriner melalui Puskeswan. meningkatnya mutu pakan.

Output kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan prima kepada masyarakat. tanpa mengabaikan pengembangan komoditas lainnya. Operasionalisasi 13 belas kegiatan PSDSK tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan saling terkait dari operasionalisasi kegiatan utama yang mencerminkan setiap fungsi Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan. Penuangan dan Target Kinerja Kegiatan Pembangunan Peternakan dan Keswan Dalam Program Sebagai bagian dari pencapaian empat sukses Kementerian Pertanian. Sesuai dengan hasil PSPK tahun 2011. yang dalam operasionalisasinya akan terkait satu dengan lainnya dalam mendukung pencapaian kinerja program. Utuh dan Halal”. Hal tersebut menunjukan bahwa. pencapaian PSDSK 2014 akan ditempuh melalui 13 kegiatan operasional yang akan dilaksanakan pada 33 propinsi. Sebagai bagian dari target kinerja program pembangunan peternakan. Sehat. Mendasarkan dengan hasil PSPK tersebut. apabila ready stock dapat diwujudkan sesuai dengan potensi yang ada. dari sisi populasi atau potensial stock-nya program swasembada daging dapat tercapai bahkan bisa dipercepat. Untuk mendukung pencapaian PSDSK 2014.keamanan dan mutu produk hewan pangan dan non pangan. yang artinya bahwa pencapain populasi tersebut sudah melebihi target populasi pada tahun 2014 seperti yang ditetapkan dalam road map PSDS/K 2014. pembangunan peternakan dan keswan akan lebih diprioritaskan pada pengembangan komoditas ternak sapi potong. peningkatan persentase jumlah RPU yang menerapkan kesrawan. Dalam implementasinya pencapaian program tersebut akan ditempuh melalui 6 kegiatan utama.8 juta ekor. populasi ternak sapi potong telah mencapai 14. Indikator dari kegiatan ini adalah indeks kepuasan pelanggan C. persentase penurunan produk asal hewan yang diatas BMCM dan BMR. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai tanggung jawab melaksanakan satu program yaitu “Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman. Kegiatan 6: Peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan. 6. maka pada tahun 2012 dilakukan upaya refocusing program dan kegiatan untuk mendukung _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 14 . Pencapaian Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) 2014 telah ditetapkan sebagai program Nasional yang harus tercapai pada tahun 2014. peningkatan persentase jumlah RPH yang menerapkan kesrawan. penurunan prevalensi dan atau insidensi zoonosis.

pakan. a. (v) penanganan gangguan reproduksi. penguatan aspek hilir dan peningkatan SDM peternak kelompok ternak. strategi yang akan ditempuh adalah pembangunan peternakan melalui pendekatan kawasan. perbibitan dan penguatan. pemanfaatan dan kompetensi SDM belum optimal. b. Sistem Perbibitan Nasional (Sisbitnas) dan permasalahan yang dihadapi. daerah dan lintas sektor. Operasionalisasi enam kegiatan dalam mendukung pencapaian Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. adalah sebagai berikut : 1. termonitor dengan baik.pencapaian swasembada daging. pakan. (vi) penguatan RPH. kurangnya pendayagunaan sumber daya genetik ternak asli dan lokal serta benih rumput. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 15 . fungsi kelembagaan belum optimal. Kegiatan dan target kinerja output perbibitan Memperhatikan arah kebijakan pembangunan peternakan. Permasalahan Beberapa permasalahan yang menghambat pembangunan perbibitan antara lain : tingginya pemotongan sapi betina produktif. (ii) penambahan indukan bibit di sentra pengembangan baru (sapi perah dan sapi potong. tingginya persilangan antara ternak lokal dan eksotik dan kurangnya pengawasan mutu benih/bibit. efektif dan efisien. Agar pelaksanaan kegiatan program dan kegiatan pembangunan peternakan dan keswan dapat berjalan secara terpadu. dan dalam kerangka pembangunan berbasiskan potensi dan berkelanjutan. tidak adanya insentif pembiayaan yang dapat merangsang tumbuhnya peternak pembibitan dan penggemukan yang berorientasi komersil sebagai akibat kondisi struktur pasar yang kurang kondusif dalam mendukung iklim usaha peternakan sapi potong rakyat. lemahnya koordinasi pusat. Refokusing kegiatan dan target dalam mendukung PSDS/K antara lain meliputi : (i) insentif dan penyelamatan sapi betina produktif. law enforcement lemah dalam penerapan punishment dan reward. rendahnya penerapan standar bibit dan Good Breeding Practice (GBP). (iii) optimalisasi IB dan INKA. Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. (viii) penguatan tenaga penyuluh swadaya. dan (ix) penguatan kapasitas SDM. (iv) pengembangan pakan ruminansia. (vii) penguatan system distribusi dan pemasaran. utamanya pada aspek pelayanan teknis.

_________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 16 . pada tahun 2012 akan dilakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan perbibitan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) 25) 26) Pembibitan Sapi Potong Pembibitan Sapi Perah Pembibitan Kerbau Pembibitan Kambing/Domba Pembibitan Babi Pembibitan Ayam Lokal Pembibitan Itik Lokal Pengendalian Sapi/Kerbau Betina Produktif Pembinaan Pengendalian Sapi/Kerbau Betina Produktif Peningkatan Penerapan Teknologi Perbibitan Penguatan Manajemen Pembibitan Ternak Pengembangan dan Penguatan Kelembagaan Perbibitan (KUPS.diperlukan upaya terobosan dalam pengembangan ternak bibit di Indonesia. Pengembangan pembibitan ini akan difokuskan pada daerah sentra pembibitan komoditas spesifik lokasi. Untuk itu. Pengawalan dan Koordinasi Perbibitan Peningkatan Kualitas Semen Beku Sapi Peningkatan Kualitas Semen Beku Kambing/domba Peningkatan Kualitas Semen Beku Sapi (BLU) Peningkatan Produksi Embrio Transfer Peningkatan Kualitas Bibit Unggul (BPTU) Penambahan Indukan Sapi Penguatan Unit Pembibitan Daerah Fasilitasi PNBP Koordinasi Teknis Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah Dukungan Perbibitan dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Dalam rangka meningkatkan kualitas dan penyelamatan plasma nuftah ternak lokal Indonesia diperlukan berbagai upaya pengembangan pembibitan ternak baik yang berbasikan masyarakat atau yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknsi lingkup Ditjen Peternakan dan Keswan. Sebagai upaya menjaga struktur populasi dan mempertahankan ternak betina produktif dari ancaman pemotongan betina produktif.dll) Pengawalan dan Koordinasi kegiatan Perbibitan di Daerah Pembinaan.

Selain itu. Untuk itu akan dibentuk pusat-pusat perbibitan pedesaan di wilayah berpotensi. Pada tahun 2012. Permasalahan Meskipun telah terjadi peningkatan produksi yang signifikan dari berbagai komoditas peternakan selama beberapa dekade terakhir ini. provinsi dan kabupaten/kota dengan mengacu pada sistem perbenihan/perbibitan nasional. Pengembangan pembibitan sapi juga dilakukan melalui pemanfaatan kredit usaha pembibitan sapi (KUPS) bagi para pengusaha pembibitan sapi melalui kemitraan dengan usaha pembibitan sapi rakyat. potensi ternak sapi potong memungkinkan bahwa swasembada daging dapat dicapai bahkan dipercepat pencapaiaanya. Di lain pihak.telah dilaksanakan kegiatan insentif dan penyelamatan sapi betina produktif sejak tahun 2011. pengembangan komoditas ini juga dihadapkan pada kendala keterbatasan sumberdaya lahan dan semakin tingginya opportunity cost dengan semakin tajamnya kompetisi penggunaan lahan dengan non-peternakan (terutama di pulau Jawa). dibarengi dengan kegiatan penguatan lembaga perbenihan/perbibitan yang ada baik di pusat. akan dilakukan peningkatan kualitas produksi semen. Dalam rangka mendukung pencapaiannya. namun peningkatan tersebut masih jauh dari potensinya. 2. Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. a. Kegiatan ini diharapkan menjadi stimulus bagi pembibitan sapi dalam menghasilkan bibit ternak. provinsi maupun kabupaten/kota. kegiatan ini masih dipertahankan mengingat masih tingginya tingkat pemotongan betina produktif dan dalam pelaksanaannya akan difokuskan pada sentra-sentra produksi sapi potong. Benih/bibit merupakan faktor esensial dalam berusahatani. walaupun komoditas tanaman pangan relatif lebih maju. penguatan UPT Pusat dan UPTD perbibitan akan terus ditingkatkan perannya. Sesuai hasil PSPK menunjukkan bahwa dari sisi teknis populasi. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 17 . penguatan pelayanan teknis dan sarananya. dalam mendukung pengembangan perbibitan berbasiskan sumber daya lokal. Dalam rangka memperkuat dan memperlancar penyediaan bibit peternakan diperlukan dukungan kelembagaan perbibitan yang memadai baik di tingkat pusat.

terbatasnya sarana prasarana. Kegiatan dan target kinerja output produksi ternak Dalam rangka meningkatkan produksi. dan (ii) pengembangan kelembagaan peternak dan kelompok ternak. kerbau. Masalah lainnya. Dua permasalahamn yang memerlukan perhatian serius oleh para stakeholder [eternakan unggas yaitu : (i) kurang tersedianya bahan paku pakan yang berasal dari sumberdaya domestic. (ii) mewabahnya penyakit khususyna Avian influenza). (iv) PPN produk peternakan dan tata ruang. dan masih terbatasnya dukungan instansi terkait. fluktuasi harga sapi potong. unggas lokal dan non unggas serta penataan ramah lingkungan. maka pada tahun 2012 akan ditempuh melalui kegiatan (i) pengembangan sapi potong. Sistem peremajaan yang belum terlaksana dengan baik yang disebabkan kurang tersedianya bibit ternak dalam negeri. Untuk komoditas persusuan permasalahan utama yang dihadapi dalam rangka pengembangan sapi perah adalah populasi dan produktifitas yang masih rendah. produktivitas dan pengembangan mutu produk. kambing. peternak belum seluruhnya menerapkan recording. sapi perah. kurangnya dukungan pendanaan operasional PSDSK. (iii) permasalahan system pembiayaan. b. Terkait dengan pelaksanaan program PSDSK masih terdapat beberapa kendala yang perlu mendapat perhatian. teknologi budidaya dan pasca panen ditingkat peternak. kebijakan importasi ternak hidup dan produk turunannya cenderung menunjukkan dampak negative terhadap harga sapi di tingkat lokal. tingkat skala pemilikan ternak yang terbatas. sehingga harus mengimpor. terbatasnya permodalan dalam rangka usaha budidaya sapi perah. Secara rinci kegiatan tersebut antara lain : 1) 2) Pengembangan Kawasan Sapi Potong Pengembangan Budidaya Sapi Potong _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 18 . tidak adanya insentif pembiayaan yang dapat merangsang tumbuhnya peternak pembibitan dan penggemukan yang berorientasi komersil. masih rendahnya manajemen kelembagaan kelompok/koperasi. lemahnya koordinasi antara tingkat pusat dan daerah.Komoditas unggas sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro dan mikro. yaitu : belum optimalnya unit manajemen PSDSK. Untuk komoditas sapi potong antara lain adalah belum optimalnya tingkat produktifitas. domba.

Kelembagaan kelompok yang demikian diharapkan dapat terbangun dengan baik. Kelompok yang baik akan menjadi rujukan dan tempat belajar bagi kelompok lain yang belum/kurang berkembang. ayam buras dan itik. baik kelompok peternak sapi potong. Kelompok yang terbentuk berdasarkan kebutuhan yang sama dan dimulai dari peternak sendiri merupakan kelompok yang berakar kuat dan setiap anggotanya mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. Kelompok seperti ini yang diharapkan berkembang di masyarakat. dan ATR Optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) Optimalisasi INKA Pembinaan Sarjana Membangun Desa Pengembangan Sarjana Membangun Desa (SMD) Pembinaan LM3 Pengembangan LM3 Pengembangan Ternak Kambing/Domba Pengembangan Budidaya Kambing Perah Pengembangan Budidaya Unggas Lokal Pengembangan Budidaya Non Unggas (Aneka Ternak) Pengembangan Kelembagaan Peternak Penguatan Kelembagaan UM-PSDSK Peningkatan Kelompok Ternak dan Petugas Berprestasi Pembinaan dan Koordinasi Budidaya Ternak Koordinasi Teknis Salah satu kontribusi Pemerintah dalam mencapai tujuan penyediaan produk ternak bagi seluruh masyarakat Indonesia adalah dengan membangun kelompok-kelompok peternak di pedesaan. kambing. PKB.3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) Pengembangan Kawasan Sapi Perah Pengembangan Budidaya Sapi Perah Pengembangan Kawasan Kerbau Pengembangan Budidaya Kerbau Penjaringan dan Pembiakan Sapi/Kerbau Betina Produktif Penguatan Kelembagaan Pelayanan Inseminasi (IB) Peningkatan Kapasitas Petugas IB. Ribuan kelompok peternak telah terbentuk dan tersebar di seluruh Indonesia dengan kinerja yang sangat bervariasi. lebih produktif dan berkelanjutan. Peningkatan kualitas kelompok merupakan tantangan yang perlu diantisipasi untuk mewujudkan sistem agribisnis yang efisien. sehingga peran pemerintah sebagai fasilitator hanya terbatas mempercepat perkembangan kearah yang lebih besar dan profesional. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 19 .

distribusi dan transfer inovasi baru kepada peternak. Dalam rangka mengatasi permodalan petani. Dengan masuknya lulusan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menumbuhkan usaha-usaha peternakan yang dikelola secara profesional. Untuk meningkatkan bargaining power petani. diharapkan dapat memicu. ayam buras dan itik yang baik akan terus dibina dan didampingi untuk dapat meningkatkan motivasi dan kinerja dalam memproduksi produk ternak yang baik. ayam buras dan itik. akan disalurkan stimulan penguatan modal usaha kelompok (PMUK). Tujuan lomba kelompok peternak adalah untuk meningkatkan motivasi peternak dan dinamika kelompok peternak sapi potong. kambing. peningkatan akses terhadap sumberdaya. Dengan adanya hasil lomba yang juga merupakan kebanggaan bagi para peternak.Salah satu kendala utama petani di Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah terbatasnya modal dan lemahnya kemampuan akses terhadap sumber permodalan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menjembatani lulusan Perguruan Tinggi (PT) untuk dapat berkiprah secara langsung di tengah masyarakat dalam proses introduksi. pemberdayaan petani akan dilakukan dengan pendekatan kelompok untuk mempermudah pembinaan dan pengembangan usahanya agar dapat mencapai skala ekonomi. sehingga dapat menarik investasi publik dan perbankan dan akan dilaksanakan di 32 provinsi. kambing. Sedangkan bagi petugas teknis inseminator. Kegiatan PMUK ini akan disertai dengan kegiatan pengembangan kelembagaan petani. sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternaknya. teknologi dan pasar serta peningkatan kualitas SDM. Untuk menjaring kelompok ternak sapi potong. Medik Veteriner (Dokter Hewan) Puskeswan dan Para Medik Veteriner Puskeswan diharapkan dapat meningkatkan prestasi dan kinerja meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. memotivasi dan meningkatkan peran serta mereka dalam pembangunan peternakan. Pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis peternakan pada LM3 adalah upaya peningkatan kemampuan sumberdaya _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 20 . Lomba kelompok peternak ini merupakan bagian dari kegiatan Kementerian Pertanian dalam rangka pemberian penghargaan ketahanan pangan yang disampaikan oleh Presiden RI. Direktorat Jenderal Peternakan dan kesehatan hewan secara rutin melaksanakan lomba kelompok sebagai evaluasi pengembangan agribisnis peternakan. kemitraan. Kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD) mulai dilaksanakan sejak tahun 2007 dan dilanjutkan pada tahun 2012.

Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. sosial maupun ekonomi. a. kebutuhan padang pengembalaan dan pangonan sangat dibutuhkan. Sedangkan untuk ternak ruminansia. sangat terkendala dengan ketersediaan bahan baku pakan yang berasal dari sumber daya domestic sehingga dalam pemenuhannya masih diperlukan impor yang cukup besar. penguatan kapasitas kelembagaan LM3 (institusional capacity building) dan penguatan modal usaha agribisnis LM3. mengingat teknologi pakan belum sepenuhnya dapat diterapkan dengan baik oleh masyarakat. dalam upaya pengembangan hijauan pakan ternak. 3. optimalisasi potensi agribisnis yang tersedia di LM3. padang pengembalaan yang sudah terbangun sekarang semakin berkurang dan beralih fungsi karena tidak adanya payung hukum untuk melindunginya. sering kali dihadapkan pada keterbatasan ketersediaan benih/bibit hijauan baik dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk dikembangkan di masyarakat. Pakan merupakan asepek yang paling berpengaruh dalam peningkatan kualitas produksi dan produktifitas. Dalam upaya pengembangan budidaya ternak sistem ekstensifikasi. Dengan pemberdayaan tersebut diharapkan LM3 dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan serta dapat berperan secara optimal sebagai agen pembangunan bagi masyarakat disekitarnya. utamanya dalam mendukung peningkatan produksi dan produktifitas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 21 . Kegiatan dan target kinerja output pakan ternak Sebagai bagian aspek penting dalam manajemen peternakan. maka kegiatan pemberdayaan perlu dirancang secara sistematis dengan strategi yang tepat. Permasalahan. b. Namun saat ini.manusia pengelola usaha agribisnis LM3. keterbatasan ketersediaan hijauan pakan di musim kemarau masih belum teratasi dengan baik. Khusus untuk ketersediaan pakan unggas. baik dalam aspek moral-spiritual. Selain itu. Mengingat proses pemberdayaan memerlukan waktu yang cukup panjang. Proses pemberdayaan LM3 dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran LM3 serta meningkatkan semangat dan kapasitasnya untuk mengembangkan usaha agribisnis LM3 agar dapat lebih berperan dalam pembangunan masyarakat.

sedangkan integrasi ternak unggas dilaksanakan pada lahanlahan persawahan. Selain kegiatan integrasi. Kegiatan integrasi ternak sapi potong dilakukan di lahan-lahan perkebunan sawit. Kegiatan integrasi dimaksudkan untuk pemanfaatan se-optimal mungkin bahan pakan lokal yang banyak tersedia di Indonesia dengan tujuan untuk menekan biaya produksi. maka pada tahun 2012. dengan prinsip LEISA-nya. tanaman jagung. pengembangan pengolah pakan juga menjadi aspek penting dalam _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 22 .ternak. akan diimplementasikan berbagai kegiatan produktif pengembangan pakan berbasiskan sumber daya lokal. integrasi dengan sektor perikanan dan pemanfaatan hasil samping agro industri. kompos dan biogas di tingkat perdesaan. yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) Identifikasi dan Inventarisasi Padang Pengembangan Pengembangan Unit Usaha Bahan Pakan Pengawasan Peredaran Imbuhan/Tambahan Pakan Pengembangan Integrasi Tanaman Ruminansia Pengembangan Integrasi Ternak Unggas Penguatan Sumber Bibit /Benih Hijauan Pakan Ternak Optimalisasi Sumber Bibit/Benih (HPT) di Kelompok Pengembangan Padang Pengembalaan Pengembangan HPT di Lahan Kehutanan Pengembangan Unit Pengolah Pakan (UPP) Ruminansia Pengembangan Unit Pengolah Pakan (UPP) Unggas Pengembangan Lumbung Pakan (LP) Ruminansian Pengembangan Lumbung Pakan (LP) Unggas Bimbingan Teknis Manajemen dan Teknologi Pakan Bimbingan dan Evaluasi UPP dan PPSK Pengawasan Mutu Pakan Penguatan Laboratorium Pakan Daerah Dukungan Pengembangan Pakan Pengujian Mutu Pakan Ternak Koordinasi Teknis Administrasi Kegiatan dan Ketata Usahaan Fasilitasi PNBP Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong 24) Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah 25) Dukungan Pakan Dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Salah satu kegiatan terobosan yang mulai dilakukan pada tahun 2007 adalah pengembangan pilot-pilot percontohan integrasi tanaman-ternak.

Aspek pendanaan menjadi masalah klasik namun tetap membutuhkan solusi diantaranya adalah mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk menangani penyakit hewan spesifik lokasi yang menjadi prioritas daerah. diperlukan upaya-upaya terobosan utamanya dalam pemanfaatan lahan kehutanan yang dimungkinkan untuk pengembangan hijauan pakan ternak. Keterbatasan dana memiliki konsekuensi pembatasan jumlah penyakit hewan yang dapat dilakuan pengendalian dan pemberantasan penyakit dilakukan. Dengan demikian. Hal tersebut dapat dilihat dengan semakin menurunnya produksi dan produktitas hijaun pakan ternak. Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis. 4. Dengan keterbatasan penyediaan hijauan sepanjang tahun baik dalam jumlah dan kaulitasnya diperlukan strategi untuk memenuhi ketersediaanya. Untuk itu pengembangan lumbung pakan ruminansia dan unggas sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan pakan baik dalam jumlah dan kualitasnya. Sehingga penguatan UPT perbibitan sebagai sumber bibit ternak dan hijauan serta UPTD perlu lebih digalakkan kembali. Sifat penyakit yang tidak mengenal batas administratif akan mengalami kendala apabila pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan masih terbatas oleh kebijakan daerah. Tak kalah pentingnya. Permasalahan Kendala yang masih dihadapi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit ini diantaranya adalah pelaksanaan otonomi daerah yang belum rapi. Dari aspek pengembangan benih dan bibit hijauan diperlukan perhatian serius. Sedangkan untuk kegiatan penguatan dan pengembangan padang pengembalaan ditujukan untuk mengembalikan fungsinya dan memperkuat yang sudah ada. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 23 .meningkatkan pemanfaatan bahan baku sumber bahan lokal sebagai pakan. Kegiatan ini dilakukan pada daerah dengan basis potensi ternak dan ketersediaan bahan baku yang memadai. a. dalam memanfaatkan lahan kehutanan dan dalam upaya pemanfaatan padang sesuai peruntukannya. peternak dapat menekan biaya produksi pakan sehingga margin keuntungan dapat diperoleh secara optimal.

Pengujian dan Penyidikan Veterier Hibah dan Bantuan Asing _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 24 . Meskipun rekruitment tenaga harian lepas telah dilaksanakan dan perannya sangat membantu memperkuat basis utama peternakan dan kesehatan hewan yaitu puskeswan serta penguatan kelembagaan pelayanan kesehatan hewan (surveillans. Obat Hewan dan Bahan Biologik Peningkatan Produksi Obat Hewan dan bahan Biologik (BLU) Penguatan. akan difasilitasi beberapa kegiatan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) 23) 24) 25) Kesiagaan Wabah PHM Pengendalian dan Penanggulangan Rabies Unit Pengendali Penyakit AI Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit AI Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Brucellosis Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Anthrax Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hog Cholera Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Jembrana Penanggulangan Gangguan Reproduksi pada Sapi/Kerbau Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Parasiter Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Viral lainnya Pengendalian dan Penanggulangan Bakterial lainnya Pembinaan dan Koordinasi Kesehatan Hewan Sistim Kesehatan Hewan Nasional (SISKESWANNAS) Penguatan Puskeswan Penguatan Kelembagaan dan Sumber Daya Kesehatan Hewan Pengawasan Obat Hewan Kewaspadaan Penyakit Eksotis Lintas Perbatasan Pengamatan Penyakit Hewan Pembangunan Laboratorium Tipe C Pengujian dan sertifikasi obat hewan di BBPMSOH Peningkatan Produksi Vaksin. pengawasan obat hewan) namun masih belum dapat mencukupi kebutuhan akan tenaga medik maupun paramedik veteriner di lapangan. b. Kegiatan dan target kinerja output Kesehatan hewan Dalam rangka memperkuat pelaksanaan kegiatan Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis untuk mendukung pencapaian program yang telah ditetapkan. pengendalian penyakit hewan. Jumlah SDM dokter hewan dan tenaga paramedik veteriner baik dipusat maupun UPT masih jauh dari kebutuhan.Faktor kelembagaan dan keterbatasan sumberdaya yang terlibat dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan juga dirasakan sebagai kendala yang tidak bisa diabaikan.

juga berdampak terhadap kesehatan/ keselamatan masyarakat serta meresahkan masyarakat akibat penyakit zoonosis.26) 27) 28) 29) 30) 31) Koordinasi Teknis Fasilitasi PNBP Pengadaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Lab Tipe B Administrasi Kegiatan dan Ketata Usahaan Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Potong 32) Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Sapi Perah 33) Dukungan Kesehatan Hewan Dalam Pengembangan Kawasan Kerbau Penyakit hewan memiliki dampak yang luas tidak hanya dampak langsungnya terhadap sub sektor peternakan dengan mewabahnya penyakit hewan strategis yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. pendidikan. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No. (peternakan mandiri dan kelompok ternak) dan sektor 4 (ekstensif/ back yard farm) serta masyarakat yang memelihara unggas untuk hobi (kesayangan. hiburan yang perlu diatur sehinggga _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 25 . Untuk itu salah satu prioritas kegiatan pembangunan peternakan pada tahun 2012 diarahkan untuk pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan strategis.59 tahun 2007 terdapat 12 penyakit hewan strategis didasarkan atas eksternalitas dan dampak ekonomi yang diakibatkan. sektor 3. Dari 12 penyakit hewan strategis tersebut mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada difokuskan untuk pengendalian dan penanggulangan 5 penyakit hewan strategis (PHMS) yaitu Rabies. Brucellosis. Anthrax dan Hog Cholera sedangkan pengendalian penyakit Jembrana dilakukan mengingat penyakit tersebut hanya terdapat pada Sapi Bali sehingga diharapkan tidak berkembang dan berdampak luas ke wilayah yang terdapat populasi Sapi Bali dan tidak menyebar luas ke negara lainnya. Sebagai bagian dari komunitas internasional. sektor 2 (budidaya unggas/commercial farm). Avian Influenza. Indonesia berkewajiban secara serius dalam menangani flu burung ini. penelitian. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pengendalian dan pemberantasan avian influenza (AI) pada unggas serta kesiapsiagaan terhadap pandemi flu burung. Wabah AI di indonesia memberikan momentum untuk segera menata sub sektor peternakan unggas melalui sektor 1 (industri yang terintegrasi dan pembibitan).

Anthrax. 6) peraturan perundangan. 5) pelayanan karantina hewan. dan Hog Cholera sebagai berikut: 1) Rabies. Kasus AI relatif menurun pada tahun 2011. distribusi unggas dan produknya). Kalimantan Barat. Maluku Utara. Sedangkan daerah lain dilakukan pengendalian untuk menghindari munculnya kasus baik pada hewan maupun manusia. 2) Avian Influenza (AI). _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 26 . alsin. vaksin dan bahan biologik). serta struktur pendukung (kemasan). Pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies dilakukan di daerah-daerah tertular melalui vaksinasi. Pengendalian AI perlu ditingkatkan dan difokuskan melalui penerapan sembilan elemen yaitu: 1) kelembagaan. 8) penelitian dan pengembangan dan 9) restrukturisasi industri. 2) peningkatan pengendalian AI. 7) komunikasi. pembatasan populasi hewan penular rabies (HPR). struktur hilir (tempat penampungan unggas (TPU). pasar unggas. 4) diagnostik laboratorium. rumah potong unggas (RPU). surveilans. Brucellosis. Kegiatan vaksinasi dilakukan untuk memberikan kekebalan individu hewan sehingga tidak tertular rabies dan tidak menjadi perantara penularan rabies baik antar HPR maupun ke manusia. Selain itu sedang diuji coba efektifitas sterilisasi (ovariektomi) HPR betina liar.memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Pengendalian dan pemberantasan PHMS diprioritaskan kepada penyakit Rabies. Fokus dari restukturisasi perunggasan adalah pewilayahan (zoning) usaha peternakan unggas dan pengamanan unggas hidup & produknya (from farm to table). Maluku. namun demikian upaya pengendalian dan pemberantasan harus senantiasa dilakukan untuk mencapai daerah nol kasus dan dilanjutkan kepada upaya pembebasan. 3) surveilans and epidemiologi. maka restrukturisasi dibagi kedalam struktur hulu (bibit. Namun untuk memudahkan pengaturannya. Pembatasan populasi HPR dilakukan dengan eliminasi untuk mengurangi populasi HPR liar yang merupakan faktor risiko penularan rabies antar hewan dan ke manusia. stuktur budidaya/ on farm kawasan produksi dan kawasan non produksi). Target pengendalian dan pemberantasan diutamakan untuk provinsi Bali. dan Jawa Barat serta Banten untuk kembali bebas setelah tertular rabies kembali. AI. pakan. dan sosialisasi.

AI. Sulawesi Selatan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah sosialisasi untuk tidak menyembelih/ mengkonsumsi produk hewan dari ternak sakit atau mati di daerah endemis anthrax untuk menghindari terjadinya korban pada manusia. Sulawesi Utara. selanjutnya dilakukan surveilans untuk mengetahui perkembangan prevalensinya. Untuk mendukung _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 27 . Bagi daerah yang telah memiliki prevalensi sangat rendah maka dilakukan surveilans dalam rangka pembebasan wilayah. Jawa Tengah. Banten. dan Kepulauan Alor. Jawa Barat. Jambi. 2) prevalensi brucellosis diatas 2% dilakukan vaksinasi untuk memberikan kekebalan individual dan selanjutnya dilakukan surveilans untuk mengetahui prevalensinya. dan Hog Cholera). dan Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. yang difokuskan pada daerah sentra produksi ternak. Anthrax. Selain pengendalian dan pemberantasan PHMS (Rabies. Pengendalian dan pemberantasan penyakit Hog Cholera dilakukan didaerah-daerah tertular melalui vaksinasi dan surveilans. yatu: 1) prevalensi Brucellosis di daerah (kabupaten/kota) kurang dari 2% dilakukan test and slaughter dan dilakukan pembayaran kompensasi. Brucellosis. Sumatera Barat. dalam mendukung peningkatan produksi dan produktifitas juga akan dilakukan penangganan gangguan reproduksi dan penyakit parasiter. Kepulauan Riau melalui Kepmentan Nomor 2541 dan Pulau Kalimantan melalui Kepmentan Nomor 2540 Tahun 2009. Kalimantan Barat. Pengendalian dan pemberantasan penyakit Brucellosis di daerah-daerah tertular dibedakan berdasarkan prevalensi penyakit. Riau. Jambi. aktifitasnya difokuskan pada pemberantasan. Untuk Sumatera Utara. 5) Hog Cholera. Pengendalian penyakit anthrax di daerah-daerah tertular dilakukan melalui vaksinasi dan surveilans terutama di provinsi DKI Jakarta.3) Brucellosis. 4) Anthrax. Pengendalian dan pemberantasan Brucellosis telah membuahkan hasil yang cukup baik dengan telah dibebaskannya Provinsi-provinsi diwilayah BPPV Regional II Bukittinggi yaitu Sumatera Barat.

pengendalian zoonosis. kabupaten/kota masih dianggap sangat kurang seperti Auditor NKV. (ii) SDM yang membidangi fungsi-fungsi Kesmavet di provinsi. fasilitasi kegiatan yang akan ditempuh adalah : 1) Pembinaan dan koordinasi kesmavet dan pasca panen 2) Identifikasi. pengawas Kesmavet. kualitas. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut.pelaksanaan kegiatan tersebut akan didukung penguatan SDM medik dan paramedik dan penguatan puskeswan/poskeswan. Keur Master dan petugas pengambil contoh. Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Zoonosis dan Pembinaan Penerapan Kesrawan 3) Pengujian Mutu Produk Peternakan (BPMPP) 4) Peningkatan Pelayanan Teknis Pengujian Mutu Produk Peternakan 5) Penyelamatan Sapi/Kerbau Betina Produktif di RPH 6) Fasilitasi Peralatan Laboratorium Kesmavet 7) Fasilitasi Penataan Kios Daging _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 28 . a. hal ini ditandai dengan adanya Perda (peraturan daerah) tentang penyelenggaraan jaminan keamanan pangan asal hewan belum menjadi skala prioritas. 5. merupakan aspek penting untuk menjamin pelaksanaan aspek kesrawan. pengawasan peredaran produk hewan dan pengembangan daya saing b. penanganan zoonosis. Permasalahan Beberapa kendala dan permasalahan yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan kesmavet dan pasca panen antara lain. juru sembelih. Pembinaan. dan (iv) Kelembagaan otoritas veteriner yang didukung oleh SDM yang kompeten dibidang Kesmavet masih perlu ditingkatkan supaya dapat menyelenggarakan pelayanan masyarakat dibidang penjaminan keamanan pangan. dan jaminan ASUH-nya. yaitu (i) Kelembagaan yang membidangi fungsi-fungsi Kesmavet di provinsi maupun kabupaten/kota masih ada yang belum terwadahi sesuai dengan kebutuhan publik. Kegiatan dan target kinerja output kesmavet dan pasca panen Penyediaan pangan dengan prinsip from to table dalam mendukung pencapaian swasembada daging. Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemenuhan persyaratan produk hewan non pangan. (iii) Pendanaan sebagai sharing dana dari APBD I maupun APBD II sebagai pendamping APBN untuk kelanjutan tahun berikutnya masih harus diadakan.

Pengawasan pemasukan mengimplementasikan jaminan keamanan (ASUH) melalui kajian evaluasi status negara asal dan unit usaha serta analisa resiko. sedangkan yang belum akan dibina sampai memenuhi persyaratan. Bagi pelaku usaha yang telah memenuhi persyaratan akan diberi sertifikat. GHP diterapkan baik pada telur maupun farm-nya. dilakukan secara bertahap melalui peningkatan jenis dan kualitas sarana dan prasarana unit usaha daging. dan sertifikasi juru sembelih dan butcher.8) Fasilitasi Tempat Pengumpulan Susu (TPS) 9) Fasilitasi Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) 10) Fasilitasi Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U) dan Tempat Penampungan Unggas (TpnU) 11) Pembinaan Penanganan Pascapanen Produk Peternakan di RPH 12) Koordinasi Teknis 13) Fasilitasi PNBP Untuk meningkatkan jaminan keamanan pangan asal hewan. sehingga memenuhi PAH dan ASUH melalui kegiatan : peningkatan kompetensi auditor NKV. penyusunan pedoman penerapan Higiene Sanitasi di Unit Usaha Produk Asal Hewan. penyusunan model dan desain RPH kambing/domba dan RPH babi. Pengawasan peredaran melalui koordinasi pemantauan dan evaluasi unit kerja terkait. pertemuan manajemen RPH dan RPU. peningkatan kompetensi Meat Inspector. pelatihan juru sembelih halal. susu dan telur yang memenuhi persyaratan teknis kesmavet. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya unit usaha persusuan yang memenuhi persyaratan teknis minimal higiene sanitasi yang diikuti pemberian sertifikat nomor kontrol veteriner (NKV). penyusunan peraturan perundangan unit usaha daging. pembangunan RPUSK. dilakukan peningkatan pengawasan pemasukan maupun peredaran. Terhadap produk hewan yang berasal dari impor. dan penataan kios daging. peningkatan kompetensi paramedik veteriner pemeriksa daging. pembangunan TPS. bimbingan teknis dan monitoring fasilitasi pasca panen. Disamping itu untuk menjaga kredibilitas produk hewan ekspor perlu ditetapkan prinsip- _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 29 . sosialisasi dan bimbingan untuk dapat menerapkan teknis higiene sanitasi serta memfasilitasi sarana prasarana peralatan TPS. Penerapan jaminan keamanan pangan pada mata rantai susu segar dengan tujuan meningkatkan kualitas susu segar dalam negeri melalui pembinaan.

pengujian dan pemberian sertifikasi yang sesuai kaidah jaminan keamanan produk hewan. peningkatan petugas pengawas kesmavet. bimbingan teknis pengendalian dan penanggulangan zoonosis serta penyusunan NSPK bidang zoonosis. penyidikan produk asal hewan ilegal. Untuk mendukung kualitas pengujian terhadap residu dan atau cemaran pada produk asal hewan. higiene sanitasi. peningkatan pemahaman dan penerapan ISO/IEC. Hal ini sekaligus juga untuk menjawab tuntutan perdagangan global yang salah satunya mensyaratkan penerapan teknis kesejahteraan hewan. penerapan metode uji yang standar dengan menerapkan cara berlaboratorium yang baik untuk mencapai akreditasi. sosialisasi SNI dan Permentan Kesmavet. penyusunan juknis pengendalian dan penanggulangan zoonosis. workshop audit internal. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 30 . Berkembangnya emerging dan re-emerging diseases perlu diantisipasi dengan sistem yang efektif. monitoring dan evaluasi pengendalian zoonosis. penyusunan data zoonosis. on side review. dan pemantauan PAH dalam rangka Hari Keagamaan Besar Nasional. melalui kegiatan penyusunan pedoman kesrawan. bimbingan akreditasi laboratorium kesmavet. mengingat aspek kesejahteraan hewan sangat berpengaruh terhadap kualitas daging yang dihasilkan. peningkatan kompetensi PPC (petugas pengambil contoh). Penerapan teknis kesejahteraan hewan dilaksanakan dengan skala prioritas hewan produksi dengan fokus penerapan di RPH. secara bertahap dilakukan upaya untuk meningkatkan status kompetensi laboratorium uji kesehatan masyarakat veteriner melalui fasilitasi peralatan. pertemuan koordinasi dan sosialisasi kesrawan. peningkatan kemampuan sumberdaya manusia.prinsip mampu telusur. pertemuan laboratorium kesmavet regional. sosialisasi peraturan perundangan kesmavet. Untuk itu fasilitasi sarana prasarana dan sosialisasi serta pelatihan petugas teknis akan dilaksanakan agar produksi daging ASUH dapat terwujud. melalui kegiatan : penyusunan RSNI metode pengujian. Untuk itu diperlukan langkah-langkah peningkatan kewaspadaan dini dalam rangka pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut melalui sampling dan pemetaan penyakit zoonosis serta sosialisasi yang melibatkan partisipasi aktif unsur daerah dan masyarakat. melalui kegiatan pemantauan hewan qurban. penyusunan analisa resiko pangan asal hewan. melalui kegiatan: penyusunan permentan bidang produk hewan non pangan dan produk asal hewan.

pada era reformasi dan otonomi daerah. Penyusunan program dan rencana _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 31 . (iv) Belum optimalnya pelaksanaan reward dan punishment secara tegas dan kontinyu sehingga produktifitas pegawai dan rasa keadilan dapat berjalan dengan baik. (vi) belum dilaksanaakannya evaluasi di setiap aspek manajemen b. (iii) Sistem dan tata laksana yang sudah ada belum dan tidak semua dilaksanakan sesuai dengan Standart Operasional Procedure (SOP). dan data yang akurat serta data terkini. ternyata memberikan dampak yang cukup besar dalam tataran manajemen pembangunan peternakan. Evaluasi kegiatan/program dilakukan satuan kerja terutama bagi provinsi digunakan untuk mengetahui pelaksanaannya.6. pengiriman laporan sering mengalami keterlambatan ke bagian keuangan sehingga realisasi yang dilaporkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. baik dampak positif dan negatifnya. (ii) Kurangnya koordinasi struktural antara pusat dan daerah secara formal tidak ada sehingga dirasakan adanya kesulitan dalam pelaksanaan program nasional di daerah. Kegiatan dan target kinerja output sekretariat Fungsi sekretariat adalah bagaimana mengkoordinasikan kegiatan teknis dimasing-masing direktorat dan UPT lingkup Ditjen PKH dapat dilaksanakan secara terpadu dalam mendukung pencapaian program. Beberapa kegiatan dukungan manajemen untuk mengoptimalkan peran setiap fungsi sekretariat antara lainyaitu: 1) Perumusan Kebijakan Perencanaan Pembangunan PKH 2) Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Pembangunan PKH 3) Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan Serta Penatausahaan BMN 4) Ketatalaksanaan Organisasi Kepegawaian. Hukum serta Tata Usaha Dalam menyusun rencana kerja pembangunan diperlukan suatu perencanaan yang matang yang didasarkan pada hasil evaluasi. Permasalahan Terkait dengan manajemen pembangunan nasional. (v) Satuan kerja (Satker) yang dibentuk belum dapat diimbangi dengan anggaran yang cukup. Peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peternakan. Kendala dan permasalahan yang dihadapi pada aspek dukungan manajemen antara lain : (i) lemahnya sinkronisasi perencanaan baik di pusat dan daerah. a.

kerja pembangunan yang setiap tahun disusun sebagai dasar untuk penyusunan RAPBN tahun mendatang. Untuk mendukung optimalisasi fungsi-fungsi yang ada, perlu dioptimalkan aspek koordinasi dengan mendasarkan pada tinjauan evaluasi jabatan, evaluasi beban kerja, penegasan tupoksi di masing-masing lingkup kerja, seseuai dengan reformasi birokrasi yang sudah dietatpkan. Peningkatan kapasitas pegawai akan ditempuh melalui pelatihan-pelatihan atau kegiatan lainnya untuk meningkatkan budaya kerja, dan etos kerja. Selain itu, gerakangerakan sosialisasi untuk mendukung target kementerian berupa opini WTP seperti sosialisasi Wilayah Bebas Korupsi dan Rencana Aksi Anti Korupsi, akan terus digalakan. Pengelolaan gaji, honorarium dan tunjangan digunakan untuk pembayaran gaji, honorarium dan tunjangan pegawai negeri sipil (PNS) pada satuan kerja kantor pusat (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) dan Unit Pelaksanan Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 22 satuan kerja. Untuk mendukung kinerja kegiatan, akan ditunjang dengan dukungan operasional dan pemeliharaan perkantoran baik itu berupa peralatan, operasional sumberdaya manusia dan sarana fisik untuk kelancaran perkantoran. Operasional sarana fisik perkantoran berupa eksploitasi kendaraan, komputer atau sarana lainnya dan pemeliharaan perkantoran antara lain berupa perawatan gedung/ruangan dan lainnya. Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan dalam kerangka pencapaian program, diperlukan kegiatan pertemuan dalam rangka memfasilitasi/memperlancar kegiatan-kegiatan terkait lainnya. Kegiatan tersebut mencakup koordinasi, perencanaan, pembinaan, pengendalian, pengembangan database, sosialisasi/ apresiasi, workshop, rapat-rapat, monev dan pelaporan. D. Pembiayaan Program/Kegiatan Kesehatan Hewan Pembangunan Peternakan dan

Untuk melaksanakan program yang telah ditetapkan, melalui tugas pokok dan fungsi yang dimiliki maka diperlukan pembiayaan untuk mencapai misi, visi, tujuan dan sasaran organisasi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pendanaan tersebut digunakan untuk melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar prosedur, kriteria dan bimbingan teknis serta evauasi sesuai dengan fungsi

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

32

dibidang perbibitan, budidaya, pakan, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen. Selain itu, juga diperlukan pendanaaan untuk melancarkan fungsi-fungsi perencanaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan monitoring evaluasi sebagai fungsi-fungsi manajemen pembangunan. Sesuai dengan tupoksinya maka pendanaan program pembangunan peternakan diharapkan dapat menjadi faktor pengungkit dari berbagai kegiatan yang ada di masyarakat dan aset yang dimiliki masyarakat. Berdasarkan penghitungan ICOR, total investasi yang dibutuhkan dalam pembangunan peternakan dan keswan pada tahun 2012 adalah sebesar Rp. 11,38 triliun, dengan APBN sebesar Rp. 2,589 triliun untuk memfasilitasi kegiatan fungsi perbibitan, budidaya, pakan, keswan, kesmavet dan pascapanen dan dukungkan manajemen. Berdasarkan fungsinya alokasi anggaran untuk kegiatan Peningkatan perbibitan adalah sebesar Rp 1.016,6 milyar, Peningkatan produksi ternak sebesar Rp 823,406 milyar, Peningkatan produksi pakan ternak sebesar Rp.132,8 milyar, Penanganan dan pengendalian PHMSZ sebesar Rp 362,1 milyar, Penjamianan pangan asal hewan yang ASUH sebesar Rp 111,4 milyar dan dukungan manajemen sebesar Rp 152,4 milyar. Sedangkan berdasarkan unit kerjanya, untuk unit kerja pusat sebesar Rp 486,4 milyar, Unit Kerja Kantor Daerah sebesar Rp 374,1 milyar dan Daerah sebesar Rp 1.738,3 milyar. Untuk alokasi anggaran berdasarkan jenis belanjanya, untuk jenis belanja pegawai sebesar Rp 127, 2 milyar, belanja barang sebesar Rp 1.210,3 milyar , Belanja Modal Rp 158,3 milyar Dan belanja Sosial sebesar Rp1.102,9 milyar. Dari total alokasi anggaran tersebut terdapat anggaran PHLN sebesar Rp 2,24 Milyar untuk fasilitasi kegiatan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strategis dan penyakit zoonosis dan PNBP sebesar Rp 4,68 Milyar serta Badan Layanan Umum (BLU) sebesar Rp 27,01 Milyar. Memperhatikan ketersediaan anggaran yang ada, maka perlu dilakukan refocusing dan efisiensi anggaran ke arah kegiatan yang menunjang pencapaian program yang telah ditetapkan, dalam kerangka menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan lokal, pengurangan pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Kegiatan di wilayah bukan refleksi kegiatankegiatan unit organisasi di Pusat, tetapi didasarkan atas kebutuhan lapangan sesuai target/sasaran yang ditetapkan. Kegiatan dirancang memperhatikan skala ekonomi berdasarkan “need assessment” di lapangan, tidak tersebar merata seluruh lokasi, dan APBN hanya sebagai “trigger” Replikasi Nasional, yang dirancang dengan melibatkan investasi

_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

33

masyarakat (swasta, petani) dan APBD. Untuk memberikan dampak terhadap perekonomian regional dan nasional maka regulasi harus ditingkatkan dan diperkuat, sehingga, tidak hanya bertumpu pada instrumen anggaran. Efisiensi juga dilakukan dengan cara mengurangi alokasi belanja barang (perjalanan dan rapat-rapat) dan metingkatkan anggaran untuk belanja modal, infrastruktur dan bantuan sosial. Porsi anggaran juga ditingkatkan bagi pembangunan fisik di lapangan dan pemberdayaan petani melalui mekanisme dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang dikelola oleh pemerintah daerah. Kebijakan yang ditempuh dalam kegiatan PHLN antara lain: (a) membiayai kegiatan produktif mendorong ekonomi dan kesejahteraan peternak; (b) penarikan LN tepat waktu dan mempertimbangkan kesiapan dan dana; (c) meningkatkan ketertiban dan ketaatan dalam alokasi, pemanfaatan dan pelaporan hibah dan (d) harus mempertimbangkan penyediaan dana pendampingnya. Selanjutnya dalam kerangka belanja desentralisasi juga dialokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pertanian melalui belanja trasnfer ke daerah dan dikelola melalui mekanisme APDB kabupaten/kota. Menu kegiatan peternakan dan keswan pada fasilitasi DAK Bidang pertanian 2012 digunakan untuk penguatan prasarana kelembagaan perbenihan, pembangunan pos Inseminasi Buatan (IB) dan Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) dan pascapanen termasuk di dalamnya fasilitasi pembangunan RPH. Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam mewujudkan pencapaian target program diantaranya adalah melalui pola pemberdayaan dengan pendekatan kelembagaan kelompok usaha sebagai upaya untuk: (1) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan usaha, (2) mengakomodasikan aspirasi masyarakat, (3) meningkatkan keterlibatan dalam menanggulangi resiko, (4) meningkatkan peran masyarakat dalam melakukan pengendalian pelaksanaan pembangunan dan (5) mengembangkan usaha dan peluang usaha agribisnis. Pola pemberdayaan dilakukan guna mengatasi masalah utama di tingkat usahatani yaitu keterbatasan modal petani, serta lemahnya organisasi usaha petani dan jejaring kerjanya sehingga akses informasi menjadi terkendala. Kementerian Pertanian sudah sejak lama merintis pola pemberdayaan seperti ini melalui berbagai kegiatan pembangunan di daerah. Salah satu perwujudan pemberdayaan masyarakat pertanian dilaksanakan melalui pendampingan kelompok sekaligus penyaluran Dana
_________________________________________________________________
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012

34

produktivitas dan pendapatan pelaku usaha peternakan. 5. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 35 . 3. 8. Pemanfaatan Dana Bantuan Sosial tersebut dilakukan dalam rangka pemantapan kelembagaan kelompok sehingga menjadi lembaga mandiri yang dapat mengelola sumberdaya yang dimiliki untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan sosial dalam pembangunan pertanian. Tujuan penyaluran Dana Bantuan Sosial untuk pemberdayaan sosial masyarakat pertanian yaitu: 1. Mendorong berkembangnya lembaga keuangan mikro agribisnis dan kelembagaan ekonomi perdesaan lainnya. Mendorong berkembangnya lembaga pendidikan dan pelatihan swadaya masyarakat di sub sektor peternakan. Meningkatkan kemandirian dan kerjasama kelompok.Bantuan Sosial. Pola pemberdayaan seperti ini diharapkan dapat merangsang tumbuhnya kelompok usaha dan mempercepat terbentuknya jaringan kelembagaan pertanian di perdesaan yang akan menjadi embrio tumbuhnya lembaga usaha petani yang kokoh di kawasan pembangunan wilayah. Mendorong pemantapan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan masyarakat. 4. 7. Mengembangkan usaha peternakan dan agroindustri di kawasan pengembangan. Memperkuat modal pelaku usaha. sarana dan prasarana dalam mengembangkan usaha agribisnis dan ketahanan pangan. 6. Meningkatkan produksi. 2. Mendorong tumbuh dan bekembangnya pelaku agribisnis muda dan terdidik di sub sektor.

C. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Dasar Penyusunan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Struktur Penganggaran .BAB IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN A. D. E. B.

BAB IV MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN Sistem penganggaran terpadu berbasis kinerja memerlukan pengaturan sistem dan mekanisme perencanaan pembangunan nasional dan daerah serta mengakomodasi semangat reformasi yang lebih demokratis. Selanjutnya perencanaan tersebut juga diharapkan tetap dapat menampung sasaran-sasaran perencanaan yang bersifat makro yang ditetapkan oleh Pusat. Penerapan sistem anggaran berbasis kinerja ini muncul didasarkan atas banyaknya temuan permasalahan dan kendala dalam penerapan anggaran melalui pendekatan kegiatan proyek maupun bagian proyek. Upaya penyempurnaan pola penganggaran ini dimulai dengan perumusan program dan penyusunan struktur organisasi pemerintah yang sesuai dengan program tersebut. sehingga sistem perencanaan yang serasi antara bottom up planning dan top down policy dapat diwujudkan. Pengaturan tersebut sesuai dengan paradigma baru pembangunan pertanian yang telah memperhatikan berbagai perubahan lingkungan strategis di tingkat global dan nasional serta antisipasi terhadap berbagai perubahan kebijakan pembangunan pertanian di daerah. Sebagai wujud penerapan sistem penganggaran ini diharapkan agar aspirasi daerah dalam proses perencanaan akan menumbuhkan rasa ikut memiliki (sense of belonging) bagi daerah terhadap anggaran kinerja. Kebijakan yang ditempuh Kementerian Pertanian dalam rangka pelaksanaan anggaran pembangunan pertanian di daerah adalah melalui asas dekonsentrasi dan asas tugas pembantuan. komprehensif dan berkelanjutan. yang kemudian diharapkan meningkatkan efektivitas sekaligus efisiensi pelaksanaan kegiatan. Kegiatan tersebut mencakup pula penentuan unit kerja yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program serta penentuan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. sinergis. desentralistik. dan (c) sumberdaya dan teknologi yang tersedia dalam rangka peningkatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang merupakan bagian anggaran Kementerian Pertanian yang dialokasikan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 36 . Dalam perencanaan anggaran kinerja para perencana harus memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan program dengan anggaran kinerja khususnya berkaitan dengan: (a) strategi dan prioritas program yang memiliki nilai taktis strategis bagi pembangunan pertanian. (b) target group (kelompok sasaran) yang akan dituju oleh program dan kegiatan yang ditunjukkan oleh indikator dan sasaran kinerja yang terukur.

provinsi dan kabupaten/kota sesuai peraturan perundangundangan. Untuk itu. Hal ini terkait erat dengan tata ruang pengembangan ekonomi. potensi komoditas unggulan/strategis secara nasional). Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Permasalahan umum yang selama ini terjadi berawal dari rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan dan ketiadaan standar pelayanan minimal yang harus diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat. sehingga sulit diketahui tingkat keberhasilan pembangunan yang dicapai. Akibatnya perencanaan pembangunan disusun tanpa indikator yang jelas dan terukur. pada tahap perencanaan anggaran kinerja dilakukan estimasi pengeluaran atas dasar estimasi pendapatan yang tersedia. pembangunan sarana dan prasarana. sebagai langka persiapan menuju anggaran terpadu berbasis kinerja yang akan dilaksanakan secara penuh. daya saing. (ii) pemerintah provinsi menjabarkan kebijakan pusat melalui _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 37 . perlu disusun mekanisme perencanaan anggaran yang lebih komprehensif dan memberikan dampak positif terhadap pengembangaan sistem perencanaan anggaran kinerja yang lebih sistematis. (2) penjabaran peta kewenangan pusat. Terkait dengan masalah tersebut. Adapun mekanisme perencanaan dan anggaran kinerja sebagai berikut : (i) pemerintah pusat menetapkan kebijakan nasional pembangunan peternakan dan kesehatan hewan sebagai acuan makro terhadap implementasi kegiatan di daerah. perlu disiapkan perangkat dalam perencanaan anggaran berbasis kinerja berupa: (1) penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sub sektor peternakan. pengentasan kemiskinan. pemberdayaan wilayah tertinggal.berdasarkan rencana kerja dan anggaran Kementerian Pertanian. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada kepala daerah. Kegiatan dekonsentrasi di provinsi dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur. yang perlu diperhatikan adalah sebelum menetapkan besaran pengeluaran hendaknya terlebih dahulu dilakukan estimasi pendapatan secara akurat. dan (5) penyusunan kesepakatan bersama antar instansi terkait dan stakeholder dalam perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Untuk itu. Kegiatan tugas pembantuan di daerah dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah yang ditetapkan oleh Gubernur. (4) penetapan standar satuan biaya bidang pertanian (Harga Satuan Pokok Kegiatan/HSPK). Menyikapi hal tersebut. sumberdaya alam pertanian (termasuk kawasan agribisnis unggulan. bupati atau walikota. (3) penjabaran tupoksi kedalam rencana kerja beserta indikator kinerja dan pengukurannya. Dalam hal ini tidak lepas dari pendekatan bottom up planning dengan tetap memperhatikan arah kebijakan pembangunan nasional.

proporsionalitas. Rencana Kerja Kementerian menjadi landasan bagi kementerian dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) dalam satu tahun. Rencana kerja kementerian negara/lembaga terdiri dari visi. kualitas dan karakteristik (sumberdaya alam. RKA-KL tersebut merupakan acuan pembuatan dokumen anggaran berupa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan selanjutnya DIPA merupakan acuan pelaksanaan anggaran. universalitas. sasaran. teknologi. modal. Prinsip Umum Penyusunan Anggaran Dalam penyusunan anggaran ada beberapa prinsip umum yang harus diikuti meliputi prinsip-prinsip umum yang sudah berlaku selama ini dalam pengelolaan keuangan negara seperti: prinsip tahunan. dan unsur penunjangnya. K/L menyesuaikan RKA-K/L. program. dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. sosial dan budaya). Rencana Kerja Kementerian yang disusun setiap tahun merupakan penjabaran Rencana Strategis (Renstra) Kementerian dan diselaraskan dengan Rencana Kerja Pemerintah. A.penilaian dan koordinasi terhadap pengembangan wilayah berbasis komoditas di wilayahnya. keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara. dan spesialitas. SDM. misi. antara lain : akuntabilitas berorientasi pada hasil. dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga dalam kurun waktu satu tahun. dan (iii) Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun perencanaan program dan anggaran kinerja pembangunan pertanian di wilayahnya yang mengacu pada kebijakan nasional dan kapasitas sumberdaya wilayah. dengan melibatkan dan memberdayakan Kabupaten/Kota secara menyeluruh dan terintegrasi dalam pengembangan aspek di hulu sampai hilir. Mekanisme Penyusunan RKA-K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Anggaran K/L maka. Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. maupun prinsip-prinsip baru lainnya sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang baik. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 38 . Dasar Penyusunan Dasar penyusunan dokumen anggaran adalah Rencana Kerja Pemerintah yang telah ditetapkan sebagai suatu keputusan pemerintah mengenai rencana kerja pemerintah setelah dibahas dengan DPR. B. Untuk mendukung hal tersebut pemerintah Kabupaten/Kota terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap: besaran. profesionalitas. kesatuan. C. tujuan.

2. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTJM). Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. b. K/L menyesuaikan RKA-K/L dengan: a. penuangan dalam KK RKA-K/L dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat komponen.ekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi anggaran K/L. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-K/L. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. 3. d. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Usulan program dan kegiatan (Non Output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Sedangkan usulan Output diajukan kepada Kementerian Keuangan.parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter non. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan terdapat dalam formulir B. RKA-K/L berdasarkan Pagu Anggaran K/L secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-K/L. parameter nonekonomi. c. KK RKA-K/L pembahasan dengan DPR _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 39 . Meneliti kembali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Adanya progam/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atau sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Dalam rangka penyusunan RKA-K/L berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. ada beberapa kemungkinan: 1. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. 2.

program. UU No. Klasifikasi fungsi dibagi ke dalam 11 (sebelas) fungsi utama dan dirinci ke dalam 79 (tujuh puluh sembilan) sub fungsi. Dalam masing-masing kementerian negara/lembaga dibagi dalam tingkat eselon I yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan suatu program. kehutanan. dan jenis belanja. Pengesahaan Dokumen Pelaksanaan Berdasarkan Pasal 7 ayat (2) butir b. kegiatan dan jenis belanja. Pasal 11 ayat 5 UU No. perikanan dan kelautan (kode 04. Kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dengan menerbitkan Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (SPDIPA) untuk DIPA yang diterbitkan di Pusat. Sub fungsi merupakan penjabaran lebih lanjut dari fungsi. Struktur Penganggaran. E. unit eselon II dan unit eselon III yang bertanggung jawab terhadap suatu pelaksanaan kegiatan pendukung program. Untuk pembangunan pertanian termasuk ke dalam fungsi: ekonomi (kode 04) dan sub-fungsi: pertanian.D. Fungsi dan Sub Fungsi Klasifikasi anggaran dibagi menurut fungsi yang akan sangat membantu dalam penyusunan struktur program dan kegiatan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 40 . Fungsi adalah perwujudan tugas pemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. fungsi. Penggunaan fungsi dan sub fungsi disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. kewenangan Direktur Jenderal Perbendaharaan tersebut didelegasikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb).03). Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan mempercepat proses penerbitan SP-DIPA di daerah. Lebih jauh dalam Pasal 15 ayat 5 juga menyatakan bahwa anggaran yang disetujui oleh DPR dirinci dalam unit organisasi. 17/2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa pengeluaran negara dibagi atas unit organisasi. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 1. Organisasi dan Bagian Anggaran Klasifikasi organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah klasifikasi untuk masing-masing kementerian negara/lembaga. 2. Menteri Keuangan berwenang mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. fungsi.

2012. Kegiatan dan Sub Kegiatan Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). Program pengembangan SDM pertanian dan kelembagaan petani. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan tersebut. program prioritas dan program penunjang ditetapkan dimasing-masing kementerian/lembaga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya adalah berdasarkan perbedaan keluaran. utuh dan halal. 4. Program peningkatan nilai tambah. Timbulnya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan dimaksud. sehat. Program pencapaian swasembada daging sapi dan peningkatan pangan hewani yang aman . Program penyedian dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian. pemasaran dan ekspor hasil pertanian. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian Pertanian. program peningkatan kualitas perkarantinaan pertanian dan pengawasan keamanan hayati. Program penciptaan teknologi dan penciptaan varietas unggul berdaya saing. Program peningkatan diversivikasi dan ketahanan pangan masyarakat. Program Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumberdaya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga. Program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur Kementerian Pertanian. daya saing. Program Peningkatan produksi. Untuk pembangunan pertanian telah ditetapkan 12 program yaitu Program Peningkatan produksi. industri hilir. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Program Peningkatan produksi. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumberdaya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. dana. Dalam rangka penyusunan anggaran TA.3. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura berkelanjutan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 41 . produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan.

Belanja ini antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan. peralatan dan mesin. menjual. masyarakat. g. seperti buku. mengekspor. bahwa klasifikasi anggaran menurut jenis belanja dibagi ke dalam 8 (delapan) kategori yaitu : a. gedung dan bangunan. pemeliharaan. binatang dan lain sebagainya. baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. jaringan. Dalam belanja ini termasuk untuk tanah. Bantuan sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. honorarium. tanggal 27 Juni 2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelahaan RKA-KL. Dikecualikan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. f. Belanja Pegawai yaitu kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas di dalam maupun di luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan. maupun dalam bentuk fisik lainnya. d. yang secara _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 42 . Belanja barang yaitu pengadaan barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan.02/2011. atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. perusahaan daerah. Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/ lembaga yang memproduksi. Belanja modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal. e. Jenis Belanja Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK. Bantuan ini antara lain untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Belanja ini antara lain digunakan untuk pengadaan barang dan jasa. dan perjalanan dinas. Hibah yaitu pengeluaran pemerintah dalam bentuk uang/barang atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah lainnya.5. lembur dan uang makan PNS. dan organisasi kemasyarakatan. b. Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal outstanding). vakasi. c.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. HSPK ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota setelah mendapat masukan dari Dinas terkait serta didukung oleh survey Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi. Terhadap kegiatan yang belum ditetapkan indeks satuan biayanya dinilai berdasarkan RAB dan ditetapkan oleh pejabat yang berwewenang dengan memperhatikan harga pasar yang berlaku atau harga penawaran.spesifik telah ditetapkan peruntukannya. 2) Untuk kegiatan yang ada di Pusat. Peraturan Mneteri Keungan Nomor 84 Tahun 2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggarn 2012. dalam merancang kegiatan yang akan dilaksanakan agar berpedoman pada : a. Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK) ataupun Harga Standar Biaya Khusus (HSBK): 1) Untuk kegiatan yang berlokasi didaerah. serta tidak secara terus menerus. Harga Satuan Pembangunan Gedung Negara (HSBGN) tahun anggaran 2011. Belanja lain-lain yaitu pengeluaran/belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis belanja pada butir 1 (satu) sampai dengan 7 (tujuh) tersebut diatas. Selanjutnya. bersifat tidak wajib dan tidak mengikat. 3) Kegiatan yang bersifat lintas daerah. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 43 . d. HSPK ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan. c.02 Tahun 2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL). h. 4) Penelaahan atas biaya pengadaan jasa konsultan berpedoman pada Petunjuk Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk Jasa Konsultan Biaya Langsung Personil dan Biaya Langsung Non Personil. b. HSPK ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan dengan harga disesuaikan dengan kondisi daerah dimana kegiatan lintas daerah tersebut direncanakan akan dilaksanakan. mengacu kepada SKB Menkeu dan Bappenas.

Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan F. Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat B. Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran E. Pengelolaan Dana Tugas Perbantuan D. Pengelolaan Dana Dekonsentrasi C. Perubahan Dokumen Anggaran .BAB V PENGELOLAAN ANGGARAN A.

sedangkan pada UPT Pusat seperti pada Bagan 2.BAB V PENGELOLAAN ANGGARAN Pengelolaan program dan anggaran dilakukan melalui unit organisasi berupa satuan kerja. 24 satker di kabupaten/kota dan pengelolaan anggarannya sebagai berikut : A. eselon III atau eselon IV yang berdiri sendiri adalah sebagai Kuasa Pengguna Anggaran yang dibantu dengan pejabat pengelola keuangan. sedangkan Satker di kabupaten/kota melaksanakan tugas pembantuan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 44 . Satker/Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian/Lembaga adalah instansi vertikal di daerah yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang berasal dari kantor pusat. Satker yang pimpinannya ditetapkan sebagai kuasa pengguna anggaran dikelompokkan sebagai berikut : 1. Satker di provinsi melaksanakan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 2. Kepala Satker baik organisasi tingkat eselon I maupun eselon II. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah Satker di Provinsi/kabupaten/kota. Pengelolaan Anggaran Pembangunan Peternakan Pusat Pengelolaan anggaran pembangunan peternakan di pusat dengan menggunakan pengorganisasian anggaran seperti pada Bagan 1. 22 Satker di UPT Pusat. Satker Pusat adalah Satker yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kantor pusat Kementerian/Lembaga yang lokasinya dapat berada di pusat dan atau di daerah. Pengorganisasian anggaran pembangunan peternakan berdasarkan satuan kerja lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 80 satker dan dapat dikelompokkan menjadi sebanyak satu satker kantor pusat. dan 33 satker di provinsi. 3.

Menteri Pertanian selaku pengguna anggaran menetapkan/mengangkat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). SAI = sistem akuntansi instansi Dalam rangka pengelolaan anggaran pembangunan peternakan yang ada di Pusat dan Unit Pelaksanan Teknis Pusat. Selanjutnya untuk memperlancar pengelolaan administrasi keuangan dari setiap PPK serta membantu kelancaran tugas bendahara.Bagan 1. KPA mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 4. Menteri menunjuk KPA 2. 2012 Menteri Pertanian Pengguna Anggaran/Barang Dirjen Peternakan dan Keswan Kuasa Pengguna Anggaran Sekretaris / Direktur lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan Penanggungjawab Kegiatan/Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kepala Bagian Keuangan/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan dan Kartu-kartu Kasir Penguji SPP & Penerbitan SPM SAI Catatan : 1. serta Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM). Menteri menetapkan/mengangkat P2SPM dan Bendahara 3. Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan. petugas SAI dan petugas PUM. Bendahara. maka KPA dapat mengangkat Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Kantor Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan TA. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 45 . KPA menetapkan/mengangkat pejabat eselon II atau pejabat lainnya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen.

Menteri menetapkan/mengangkat Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan. pembinaan. Untuk meningkatkan _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 46 . serta P2SPM 3. pengawasan dan pengendalian.Bagan 2. mencakup enam kegiatan yang ada di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Catatan : 1. Kegiatan non fisik yang dimaksud di provinsi dari dana dekonsentrasi adalah: koordinasi perencanaan. 5. Menteri menunjuk Kepala Satker UPT Pusat sebagai KPA 2. petugas SAI dan petugas PUM. Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Kegiatan pembangunan peternakan yang dilaksanakan melalui dana dekonsentrasi Tahun Anggaran 2012 adalah kegiatan non fisik. fasilitasi. Kepala Satker menentapkan/mengangkat petugas pembantu Bendahara 4. pelatihan. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Pada Satker UPT Pusat TA. Gubernur mengadministrasikan DIPA dekonsentrasi sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri (Lampiran-1) dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi Kementerian Pertanian kepada DPRD. SAI = sistem akuntansi instansi B. 2012 Menteri Pertanian Pengguna Anggaran/Barang Kepala Satker UPT Kuasa Pengguna Anggaran/Brg Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasub TU/Umum/Keuangan Pejabat Penandatangan SPM PUM PUM Petugas Pembukuan dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan Penerbitan SPM SAI. termasuk belanja fisik input berupa pengadaan barang/jasa sebagai penunjang kegiatan non fisik dimaksud. KPA menetapkan/mengangkat kabag/kabid/kasie atau pejabat lainnya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen.

kinerja pengelolaan APBN Tahun 2012 secara ekonomis. Pengorganisasian pengelolaan anggaran dana dekonsentrasi seperti pada Bagan 3. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Dana Dekonsentrasi Satker Dinas Provinsi TA. Pedoman Umum yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian atau Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Keputusan penetapan para pelaksana anggaran. serta membuat. petugas SAI dan petugas PUM. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 47 . Bagan 3. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). Gubernur menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan pembangunan peternakan. Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi harus memperhatikan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). menyiapkan dan menyelenggarakan pembukuan pengelolaan dana dekonsentrasi. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2012 Gubernur Penerima Pelimpahan Wewenang Dana Dekonsentrasi Kepala Dinas/Badan Provinsi Kuasa Pengguna Anggaran Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Eselon-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag TU/Umum/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan Dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI. Catatan : • Gubernur menunjuk KPA/PB • Gubernur menetapkan/mengangkat P2SPM dan Bendahara • KPA dapat menetapkan/mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen.

maka merupakan penerimaan APBN dan harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan. Yang dimaksud Kegiatan fisik di provinsi/kabupaten/kota dari dana tugas pembantuan adalah kegiatan menghasilkan keluaran (output). Apabila ada sisa/saldo anggaran lebih atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi. penambahan & pemeliharaan aset pemerintah. kepada gubernur dilimpahkan penugasan pengelolaan anggaran tugas pembantuan sesuai dengan dokumen DIPA TA 2012. gubernur menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan tugas pembantuan provinsi. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi menjadi barang milik Negara. Dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi dapat menghasilkan penerimaan. C. Pengorganisasian pengelolaan anggaran tugas pembantuan seperti pada Bagan 4. Pemeriksaan dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.Penerimaan dan pengeluaran yang berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi diadministrasikan dalam anggaran dekonsentrasi. seperti perencanaan dan pengawasan dalam konstruksi serta pelatihan dalam rangka kegiatan fisik dimaksud. termasuk belanja non fisik yang mendukung kegiatan fisik itu sendiri. Gubernur mengadministrasikan DIPA tugas pembantuan provinsi dan kabupaten/kota sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri (Lampiran-3 dan 4) dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan Kementerian Pertanian kepada DPRD. Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan APBN Tahun 2012 secara ekonomis. mencakup enam kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. merupakan penerimaan kembali APBN dan disetor ke rekening Kas Umum Negara. Pengawasan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan. Pengelolaan Dana Tugas Pembantuan Kegiatan pembangunan peternakan yang dilaksanakan melalui dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2012 adalah untuk kegiatan fisik. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 48 . efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagan 4. Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Provinsi TA. PPK. Catatan : Menteri menetapkan/mengangkat KPA. Bupati/Walikota menetapkan satuan kerja perangkat daerah sebagai pelaksana kegiatan tugas pembantuan kabupaten/kota. Bupati/walikota mengadministrasikan DIPA tugas pembantuan sesuai format yang ditentukan Menteri Dalam Negeri dan memberitahukan rencana kerja dan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan Kementerian Pertanian kepada DPRD. 2012 Gubernur Penerima Penugasan Dana Tugas Pembantuan Ka Dinas/Badan/Kantor/Satker Kuasa Pengguna Anggaran Es-III Dinas/Bdn Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan Prov Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Prov Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasubag TU/Umum/Keu/ Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Pentugas Pembukuan dan Kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI. P2SPM dan Bendahara atas usulan dari Provinsi Untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 49 . kepada bupati/walikota dilimpahkan penugasan pengelolaan anggaran tugas pembantuan sesuai dengan dokumen DIPA Tahun Anggaran 2012. Pengorganisasian pengelolaan anggaran tugas pembantuan seperti pada Bagan 5.

Struktur Organisasi Pengelola Anggaran Tugas Pembantuan Satker di Kab/Kota TA. serta membuat. menyelenggarakan pembukuan pengelolaan dana tugas pembantuan. Keputusan penetapan para pelaksana anggaran. Penerimaan dan Pengeluaran yang berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan diadministrasikan dalam anggaran tugas pembantuan. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). Pedoman Umum yang diterbitkan Dirjen Peternakan dan Kesehetan Hewan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 50 .Bagan 5. Apabila ada sisa/saldo anggaran lebih atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan. P2SPM dan Bendahara atas usulan dari Kab/kota Kuasa Pengguna Anggaran dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan harus memperhatikan : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). PPK. maka merupakan penerimaan APBN dan harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundang-undangan. 2012 Bupati/Walikota Penerima Penugasan Dana Tugas Pembantuan Ka Dinas/Badan/Kantor/Satker Kuasa Pengguna Anggaran Es-III Dins/Bdn Kab/Kot Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dins/Bdn Kab/Kot Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Kab/Kota Pejabat Pembuat Komitmen Es-III Dinas/Badan/Kantor Kab/Kota Pejabat Pembuat Komitmen Bendahara Pengeluaran Bendahara Penerimaan Jabatan Fungsional Satuan Pelaksana Kabag/Kasubag TU/Umum/Keu Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM) PUM PUM Petugas Pembukuan dan kartu-kartu Kasir Penguji SPP dan penerbitan SPM SAI. Dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. Catatan : Menteri menetapkan/mengangkat KPA/PB. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan menjadi barang milik Negara. menyiapkan.

sehingga berdampak terhadap output yang akan dicapai. Rincian penetapan pengelola keuangan. Untuk lebih jelasnya tingkatan mekanisme kontrol sekaligus pembinaan terhadap implementasi kegiatan berdasarkan program dan anggaran kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut : _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 51 . maka akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan dana tugas pembantuan kabupaten/kota secara ekonomis. pengelolaan.merupakan penerimaan kembali APBN dan disetor ke rekening Kas Umum Negara. Permasalahan pengelolaan anggaran selama ini meliputi ketaatan disiplin pengelolaan anggaran. E. acuan standar harga/biaya. kewenangan dan tanggung jawab Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). ketidaktepatan waktu pelaksanaan. Kewenangan dan Tanggung Jawab Pengelolaan Anggaran Sesuai dengan perubahan sistem penganggaran yang berorientasi kinerja. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (P2SPM). efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. evaluasi dan pelaporan tugas pembantuan kab/kota di wilayahnya. kualitas SDM perencana dan lainnya. kegiatan maupun estimasi alokasi biaya yang tidak tepat. Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah berperan dalam koordinasi perencanaan. D. Untuk itu perlu didukung dengan menciptakan aparat pengelola anggaran yang disiplin dan penuh tanggungjawab. banyak sekali dijumpai permasalahan yang perlu diselesaikan. Penanggung Jawab Program dan Anggaran Pembangunan Pola pengorganisasian program dan anggaran berbasis kinerja pembangunan peternakan termasuk salah satu penentu arah dalam pelaksanaan pembangunan peternakan. monitoring. Pengawasan pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari dana tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan adanya penataan organisasi yang mantap dan pengelolaan sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Bendaharawan Pengeluaran serta Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK) mengacu pada ketentuan pengelolaan keuangan APBN diatur dalam buku Pedoman Administrasi Keuangan (PAK) Kementerian Pertanian. Pemeriksaan dana tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.

serta eselon-3 atau pejabat yang mempunyai kompetensi di lingkup instansinya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. yang dalam melaksanakan tugas operasional dibantu oleh Direktur/Sesditjen atau pejabat lainnya yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. 2. Dalam melaksanakan tugasnya. Secara lebih detail pengorganisasian dan penanggungjawab pengelolaan anggaran baik di pusat. Masing-masing Bupati/Walikota bertanggungjawab terhadap keberhasilan program dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan peternakan di kabupaten/kota yang dipimpinnya. Dalam melaksanakan tugas operasional. Masing-masing Gubernur bertanggungjawab terhadap keberhasilan program dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan peternakan di provinsi yang dipimpinnya. Pengendalian dan evaluasi dilakukan secara bersama di bawah kendali Kepala Dinas peternakan kabupaten/kota. provinsi maupun kabupaten/kota sebagai berikut: _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 52 . Menteri Pertanian sebagai Pengguna Anggaran/Barang dalam menjalankan tugasnya dibantu Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. 3. Bupati/Walikota dibantu oleh Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. dan secara teknis bertanggung jawab atas keberhasilan pembangunan peternakan yang dikelolanya. serta eselon-3 atau pejabat yang mempunyai kompetensi di lingkup instansinya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Kepala Dinas peternakan kabupaten/kota dibantu oleh Bendahara. Kepala Dinas Peternakan Provinsi dibantu oleh Bendahara. Dalam melaksanakan tugas operasional.1. Dalam melaksanakan tugasnya. dan secara teknis bertanggung jawab atas keberhasilan pembangunan peternakan yang dikelolanya. Dalam hal pengendalian dan evaluasi dilakukan secara terpadu di bawah kendali Kuasa Penguna Anggaran. Pengendalian dan evaluasi dilakukan secara bersama di bawah kendali Kepala Dinas Peternakan provinsi. Gubernur dibantu oleh Kepala Dinas lingkup peternakan provinsi sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Kementerian Pertanian bertanggung jawab atas keberhasilan program dan anggaran kinerja pembangunan pertanian termasuk didalamnya peternakan secara nasional.

Kepala Satker dipegang oleh Kepala UPT yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu orang bendahara (Bendahara Pengeluaran). Masing-masing Unit Kerja Eselon-I bertindak sebagai koordinator terhadap komoditas/tugas pokok/pelayanan yang dikembangkan/ dilakukan. d. Selaku pembina program dan anggaran kinerja. b. Tingkat Pusat a. Tingkat Kabupaten/Kota a. Bupati/Walikota sebagai penanggung jawab program dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. c. Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran serta Pejabat Pembuat Komitmen. 2. Kasi atau pejabat yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dan Kasubag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran. masingmasing kepala Satker dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). masing-masing bertanggung jawab atas seluruh aktivitas kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja pada Satker yang dipimpinnya.1. 3. Sekretaris Jenderal dan Pejabat Eselon I Lingkup Kementerian Pertanian selaku pembina program dan anggaran kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi organisasi yang dipimpinnya. Untuk Satker UPT/UPTD. masing-masing bertanggung jawab atas _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 53 . Kepala Dinas/Badan/UPT Daerah sebagai Kepala Satker lingkup pertanian atau pejabat yang ditunjuk sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. c. Tingkat Provinsi a. Menteri Pertanian sebagai Penanggungjawab Program Pembangunan Pertanian. b. d. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). Kepala Dinas/Badan/UPT Daerah sebagai Kepala Satker lingkup pertanian atau pejabat yang ditunjuk dalam hal ini sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Pejabat Pembuat Komitmen serta Kabag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan perintah Pembayaran. b. Gubernur sebagai penanggung jawab program dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya.

2. Selanjutnya surat dan dokumen tersebut akan diteliti kesesuaian dan kelengkapannya sebelum proses dilanjutkan. Untuk Satker UPT/UPTD. Kepala Satker dipegang oleh Kepala UPT yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu orang bendahara (Bendahara Pengeluaran). Pejabat Pembuat Komitmen serta Kabag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran. Apabila surat dan data dukung telah sesuai dan lengkap maka pengajuan revisi akan diproses untuk mendapat persetujuan dari Instansi terkait.Kantor Daerah dan Dana Tugas Pembantuan serta Direktur lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mengirimkan surat pengajuan revisi kegiatan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Perubahan Dokumen Anggaran 1. Tetapi apabila terdapat ketidaksesuaian/kekurangan data dukung maka pengajuan tersebut akan dikembalikan kepada pihak yang mengajukan revisi untuk melengkapi persyaratan dimaksud _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 54 .seluruh aktivitas kegiatan serta keberhasilan program dan anggaran kinerja pada Satker yang dipimpinnya. Prosedur Kepala Satker Penerima Dana Dekonsentrasi. d. Kantor Daerah dan Dana Tugas Pembantuan dan Para Pejabat Eselon II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat melakukan perubahan terhadap Dokumen Anggaran yang ada (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Petunjuk Operasional Kegiatan (POK). Kepala seksi atau pejabat yang ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dan Kasubbag TU/Umum sebagai Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran. c. Adapun dalam surat tersebut harus terdapat alasan mengapa revisi tersebut diperlukan dan dilampirkan Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. F. Untuk kelancaran operasional kegiatan program dan anggaran kinerja (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Ketentuan Kepala Satker penerima Dana Dekonsentrasi. masingmasing kepala Satker dibantu oleh dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan). Perubahan dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tentang perubahan Dokumen Anggaran.

Data dukung lainnya seperti RAB yang telah diketahui oleh Dinas Cipta Karya setempat untuk pengadaan bangunan. Daftar Inventaris Barang untuk pengadaan kendaraan Roda 2 dan Roda 4. TOR dan RAB kegiatan yang baru ditandatangani oleh pihak yang berwenang (Kepala Dinas/Pejabat Es II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan). d.3.Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Pejabat Eselon II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebagai berikut : a. Surat Pengajuan Revisi. Matriks Usulan Perubahan ( format terlampir) ditandatangani oleh pihak yang berwenang (Kepala Dinas/Pejabat Es II lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan).daftar harga dari pihak penyedia/Surat Pertanggungjawaban Mutlak dll. b. Aplikasi Data Komputer (back up data RKAKL yang telah dirubah). e. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 55 . Persyaratan Persyaratan/Dokumen yang harus dipenuhi oleh Kepala Kantor penerima Dana Kantor Daerah. c.

4. Contoh : NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : : Berdasarkan Surat Kepala Dinas/Kepala UPT [sebutkan nama Dinas dan UPT pemohon revisi] nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Pengajuan revisi terssebut dilakukan dengan alasan [ sebutkan alasan yang terdapat pada surat pengajuan ]. Prosedur surat revisi lengkap Nota Dinas Kepala Bagian Perencanaan kepada Sekditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap. Bersama ini kami sampai Draft Nota Dinas kepada Direktorat terkait untuk dapat ditandatangi apabila Bapak tidak berkehendak lain. Kepala Bagian Perencanaan Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 56 . Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih. (Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan). Setelah dilakukan telaahan lebih lanjut terhadap pengajuan revisi dimaksud maka dapat disampaikan bahwa Revisi telah dilengkapi oleh data dukung yang memadai untuk selanjut dapat dimintakan pertimbangan teknis kepada Direktorat terkait.

Kami harapkan Saudara dapat menelaah lebih lanjut secara teknis kegiatan-kegiatan yang diusulkan untuk dirubah. Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih. Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 57 . (Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan). NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : : Menindaklanjuti Surat Kepala Dinas [sebutkan nama Dinas revisi] nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Pengajuan revisi tersebut dilakukan dengan alasan [ sebutkan alasan yang terdapat pada surat pengajuan ].Nota Dinas Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Direktorat terkait untuk meminta persetujuan teknis apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap. Setelah dilakukan telaahan lebih lanjut terhadap pengajuan revisi dimaksud maka dapat disampaikan bahwa Revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang memadai. Sekretaris.

Nota Dinas Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Direktur Jenderal untuk meminta persetujuan apabila pengajuan revisi telah sesuai dan dilengkapi oleh data dukung yang lengkap dan telah mendapat persetujuan dari Direktorat terkait [ Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota untuk tugas pembantuan] NOTA DINAS Nomor : Kepada Dari Perihal Lampiran Tanggal Tembusan : : : : : Menindaklanjuti Surat Kepala Dinas [ Nama Dinas revisi] nomor] : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] dan persetujuan Direktorat terkait melalui Nota dinas nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] Bersama ini disampaikan Draft surat persetujuan dan lampiran revisi untuk dapat ditandatangi apabila Bapak tidak berkehendak lain. Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 58 . Sekretaris. Atas perhatian Bapak diucapkan terima kasih.

Atas perhatian dan kerjasama Saudara diucapkan terima kasih. Nama NIP _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 59 . Direktur Jenderal.Surat Persetujuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor Lampiran Hal : : : Yth Kepala Dinas [isikan dengan nama satker pemohon revisi] Di [Kota lokasi satker pemohon revisi] Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor [isikan PMK yang mengatur tentang tata cara revisi] dan Menindaklanjuti surat Saudara nomor : [ isikan nomor surat pengajuan] tanggal [isikan tanggal surat pengajuan] perihal [isikan perihal surat pengajuan] bersama ini kami sampaikan bahwa Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat menyetujui permohonan revisi yang Saudara ajukan untuk selanjutnya agar kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

B. C.BAB VI PENGENDALIAN. Kegiatan dan Anggaran Monitoring dan Evaluasi Pelaporan Penghargaan dan Sanksi . PENGAWASAN. EVALUASI DAN PELAPORAN A. D. Pengendalian Kegiatan dan Anggaran Pengawasan Program. E.

anggaran dan penerima manfaat dapat bekerja sama serta melaksanakan tugas secara transparan. Disamping itu. Mengantisipasi secara dini terhadap permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusinya. Peningkatan kualitas SDM melalui kursus. 5. maka pengendalian kegiatan dan anggaran kinerja ini dilakukan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sesuai dengan bidang tugasnya. Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah : 1. monitoring. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 60 . PENGAWASAN. Bimbingan terhadap penyusunan prosedur dan tata kerja pelaksanaan kegiatan. akuntabel. Sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan lingkup Kementerian Pertanian. Mendapatkan bahan untuk dijadikan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. 3. Sosialisasi Pedoman sebelum tahapan pelaksanaan kegiatan. 3. 2. evaluasi. penegakan hukum dan perlakuan yang adil/kesetaraan. perlu dilakukan pengendalian terhadap implementasi kegiatan dan anggaran kinerja pembangunan pertanian di daerah dengan tujuan: 1. Pengendalian Kegiatan dan Anggaran Pengendalian kegiatan dan anggaran merupakan kegiatan yang cukup penting mengingat banyaknya kendala dan permasalahan yang sering ditemui dalam pelaksanaan kegiatan dan anggaran. workshop atau pelatihan. 4. 2. 4. tuntutan agar pengelola kegiatan. Mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta kesesuaian pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran dengan sasaran yang ingin dicapai. program dan anggaran kinerja. Mencegah atau mengurangi terjadinya kesalahan pelaksanaan kegiatan dan penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan rencana serta sasaran yang ingin dicapai. arahan serta sejenisnya sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan kegiatan di daerah. Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis di daerah melalui penerbitan Pedoman sebagai acuan/rambu-rambu dalam operasional kegiatan. Hal ini mengingat beragamnya komoditas yang dikembangkan di daerah serta jenis kegiatan yang dilaksanakan. Melakukan kunjungan ke daerah untuk melakukan supervisi pembinaan. bimbingan. EVALUASI DAN PELAPORAN A.BAB VI PENGENDALIAN.

Dalam rangka mendukung implementasi program dan anggaran berbasis kinerja maka pemeriksaan yang dilakukan meliputi : 1. Pengawasan yang dilaksanakan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup Kementerian Pertanian berdasarkan program kerja pengawasan tahunan maupun pemeriksaan non reguler. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Evaluasi tahunan Eselon-I perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja keseluruhan dan menjadi dasar perencanaan program dan anggaran berikutnya. Di samping itu. Pemeriksaan kinerja aparat pengelolaan kegiatan. mempunyai aspek pelayanan masyarakat.6. BPKP dan Bawasda. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan peternakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pengawasan Program. Pengawasan dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. peningkatan ketrampilan petugas pemeriksa merupakan kegiatan yang mutlak dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dalam upaya mendukung fungsi pemeriksaan dan pengawasan secara lebih berkualitas. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 61 . Upaya tersebut dilakukan melalui penyempurnaan dan pemantapan sistem dan proses penyusunan program kerja pemeriksaan dengan mengikutsertakan secara aktif unsur-unsur perencana dan pelaksana. kegiatan dan anggaran kinerja. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. pengujian. Objek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. Pengawasan fungsional kegiatan program dan anggaran kinerja pembangunan peternakan secara eksternal juga dilakukan oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Kegiatan dan Anggaran Dalam sistem penganggaran terpadu berbasis kinerja. B. pengawasan fungsional pembangunan peternakan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian dan Pengawasan Internal oleh pimpinan pelaksana fungsi manajemen (Eselon I dan II) melalui Satlak SPI. bantuan luar negeri serta mempunyai peran strategis terhadap keberhasilan pembangunan peternakan dan bidang-bidang rawan kebocoran.

Kelompok pejabat dimaksud adalah : (1) Pimpinan Kementerian _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 62 . Pemeriksaan yang mengarah pada pelaksanaan wewenang sesuai tupoksi. Berdasarkan PP No. (2) Seluruh program/kegiatan di tingkat provinsi dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 39 Tahun 2006 dan kegiatan yang sama di luar monitoring digunakan istilah pemantauan. PP No. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggungjawabkan wewenang dan tupoksi instansi tersebut. 1. 4. dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.2. mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. dan Tugas Pembantuan) dan SKPD Kabupaten/Kota (Tugas Pembantuan). 39 Tahun 2006.39 Tahun 2006 terdapat 5 kelompok pejabat pemantauan/ monitoring pelaksanaan rencana pembangunan. Pemeriksaan ini termasuk pula untuk pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana penyalahgunaan wewenang. C. Program/kegiatan yang harus dimonitor meliputi: (1) Seluruh program/kegiatan yang tertera pada Rencana Kerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan yang dananya bersumber dari APBN. 39 Tahun 2006. apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak sehingga akan dapat merekomendasikan penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. Program/Kegiatan yang dimaksud adalah seluruh program/kegiatan yang tercantum dalam DIPA. Monitoring Monitoring diatur dengan PP No. tentang: Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. tidak hanya mengikat Satker Lingkup Kementerian Pertanian tetapi juga SKPD Provinsi (Dekonsentrasi. (3) Seluruh program/kegiatan di tingkat kabupaten/kota dalam rangka tugas pembantuan. Pemantauan didefinisikan sebagai kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. dan tugas pembantuan. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat. 3.

dan waktu penyampaian laporan dilaksanakan berdasarkan PP No. Evaluasi dimaksud dilakukan terhadap pencapaian sasaran sumberdaya yang digunakan. (3) Bupati/Walikota menjadi pejabat pemantau pelaksana rencana program dan kegiatan sesuai tugas dan kewenangannya.Pertanian menjadi pejabat pemantau pelaksana Renja Kementerian Pertanian (program dan kegiatan). _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 63 . indikator dan sasaran kinerja keluaran (output) untuk masing-masing kegiatan. Kepala SKPD Provinsi. Pelimpahan Wewenang Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran 2012 dan Pelimpahan Wewenang Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012. Evaluasi Setiap Satker Pusat & Satker Daerah paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan yang dananya bersumber dari APBN. Hasil pemantauan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pimpinan Kementerian Pertanian menunjuk pejabat pelaksana tugas pemantauan yang didalamnya termasuk pejabat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. disusun dalam bentuk laporan triwulan. Kepala SKPD Kabupaten Kota. (4) Kepala SKPD Provinsi menjadi pejabat pemantau pelaksanaan rencana program dan kegiatan dalam rangka dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Format. (5) Kepala SKPD Kabupaten/Kota menjadi pejabat pemantau program dan kegiatan tugas pembantuan. tata cara. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyampaikan laporan hasil evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada Menteri Pertanian paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Hasil evaluasi kegiatan Satker tersebut akan digunakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk mengevaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2) Gubernur menjadi pejabat pemantau pelaksana rencana program dan kegiatan dalam rangka dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 2.39 Tahun 2006 tentang tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan dan berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian Tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2012.

Hasil Evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan digunakan oleh Menteri Pertanian sebagai bahan evaluasi kinerja Pemerintah. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Laporan manajerial mencakup perkembangan realisasi penyerapan dana. Pelaporan Dana Dekonsentrasi Mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 71/Permentan/OT. untuk pembangunan pertanian Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan kepada Menteri Pertanian.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 tentang Pelimpahan kepada Gubernur dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun Anggaran 2012. D. pertanggungjawaban dan pelaporan dana dekonsentrasi mencakup laporan manajerial dan laporan akuntabilitas. 1. laporan realisasi anggaran dan catatan atas laporan keuangan. Laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan ke Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri/Pejabat Eselon I) untuk digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun berikutnya.q. Melalui laporan akan dapat dilihat sejauhmana tingkat keberhasilannya. pencapaian target keluaran. Laporan barang terdiri atas neraca. kendala yang dihadapi dan saran tindak-lanjut sedangkan laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. Pelaporan hasil kegiatan program dan anggaran kinerja ini. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 64 . Mekanisme Pelaporan Dana Dekonsentrasi Berdasarkan Aspek Manajerial 1) Kepala SKPD provinsi menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi dan kepada Menteri Pertanian c. Pelaporan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008. Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan dekonsentrasi bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan dekonsentrasi. a. merupakan bentuk penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai pada akhir pelaksanaan.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c. Organisasi dan tata kerja Sekretariat UAPPA/B-W ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Pertanian. 2) 3) 4) 5) 6) _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 65 . Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/BW). Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. b. Gubernur menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana Dekonsentrasi berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN. Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. Mekanisme Pelaporan Dana Dekonsentrasi Berdasarkan Aspek Akuntabilitas 1) Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan dekonsentrasi wajib menyelenggarakan akuntansi dan bertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas). Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana dekonsentrasi berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat.q. Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas.2) 3) 4) membidangi kegiatan dimaksud setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.

_________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 66 .q.2.q. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. Laporan barang terdiri atas neraca. Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan tugas pembantuan bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan tugas pembantuan. 3) Gubernur menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri. Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Aspek Manajerial 1) Kepala SKPD provinsi menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Gubernur melalui Bappeda provinsi dan kepada Menteri Pertanian c. a. Laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. pencapaian target keluaran. Pertanggungjawaban dan pelaporan dana tugas pembantuan provinsi mencakup laporan manajerial dan laporan akuntabilitas. Laporan manajerial meliputi perkembangan realisasi penyerapan dana. laporan realisasi anggaran. 2) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c. Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas. kendala yang dihadapi. 4) Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 70/Permentan /OT.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 Tentang Penugasan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran 2012. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang membidangi kegiatan dimaksud setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir. dan catatan atas laporan keuangan. dan saran tindaklanjut.

2) Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana tugas pembantauan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat. c. Laporan manajerial meliputi perkembangan realisasi penyerapan dana. 5) Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Provinsi Berdasarkan Aspek Akuntabilitas 1) Kepala SKPD provinsi yang melaksanakan tugas pembantuan wajib menyelenggarakan akuntansi dan pertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas). Laporan keuangan terdiri atas neraca. 3) Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN. pencapaian target keluaran. 4) Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kepala SKPD kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan bertanggungjawab atas pelaporan kegiatan tugas pembantuan. 6) Organisasi dan tata kerja Sekretariat UAPPA/B-W ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Pertanian.b. Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 68/Permentan /OT. kendala yang dihadapi. laporan realisasi anggaran dan catatan atas laporan keuangan. Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W). pertanggungjawaban dan pelaporan tugas pembantuan kabupaten/kota meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas.140/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 Tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 67 . Laporan akuntabilitas meliputi laporan keuangan dan laporan barang. dan saran tindaklanjut.

Menteri Keuangan dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. d) Bentuk dan isi laporan manajerial berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. 2) Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/ Kota Berdasarkan Aspek Akuntabilitas Kepala SKPD Kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan wajib menyelenggarakan akuntansi dan bertanggungjawab terhadap penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang (laporan akuntabilitas).1) Mekanisme Pelaporan Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/ Kota Berdasarkan Aspek Manajerial a) Kepala SKPD Kabupaten/kota menyusun serta menyampaikan laporan manajerial setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Bupati/Walikota melalui Bappeda kabupaten/kota dan kepada Menteri Pertanian c. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang membidangi kegiatan dimaksud dan menyampaikan tembusan kepada SKPD provinsi yang tugas dan kewenangannya sama setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir.q. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan BMN hasil pelaksanaan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan BMN. b) Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Departemen merekapitulasi laporan manajerial dan melaporkan ke Menteri Pertanian c. Untuk membantu kelancaran penyusunan dan penyampaian laporan keuangan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 68 . c) Bupati/Walikota menugaskan Bappeda menggabungkan laporan manajerial dan menyampaikan setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Menteri Dalam Negeri. Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan dana tugas pembantuan berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat.q. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian setiap tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan berakhir.

Penghargaan (reward) Penghargaan (reward) diberikan kepada satuan kerja yang memberikan kontribusi terhadap perolehan penghargaan yang bersangkutan dengan kriteria sebagai berikut: a. dimana tambahan alokasi anggaran maksimum sama dengan hasil optimalisasi yang belum digunakan pada tahun anggaran 2011. sebaliknya bagi Kementerian Negara/Lembaga yang tidak sepenuhnya melaksanakan anggaran belanja tahun anggaran 2011. Penghargaan dan Sanksi Kementerian Negara/Lembaga yang melakukan optimalisasi anggaran belanja pada tahun anggaran 2011. b. c. Tambahan alokasi anggaran pada tahun anggaran 2012. Kementerian Pertanian membentuk Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W).02/2011. menghasilkan nilai positif. E. akan dikenakan sanksi (punishment)dengan pemotongan pagu belanja pada tahun anggaran 2012.sebagaimana dimaksud pada poin (2). Penghargaan diberikan kepada satuan kerja yang memberikan kontribusi terhadap perolehan penghargaan yang bersangkutan. Hasil perhitungan dari hasil optimalisasi setelah dikurangi sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berkedudukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di seluruh Indonesia. dan b. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 69 . Prioritas dalam mendapatkan anggaran belanja tambahan apabila kondisi keuangan Negara memungkinkan. yang dapat digunakan untuk Inisiatif Baru (new initiative) atau untuk penambahan volume keluaran yang sama. sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK. Prioritas dalam mendapatkan dana atas Inisiatif Baru yang diajukan. 1. dapat berupa: a. dapat menggunakan hasil optimalisasi anggaran belanja tersebut pada tahun anggaran 2012 sebagai penghargaan (reward). Mempunyai hasil optimalisasi di tahun anggaran 2011 dan belum digunakan pada tahun 2011.

dan b. Tidak mencantumkan penjelasan atas laporan yang disampaikan. Tidak dipenuhinya kriteria-kriteria kegiatan yang dapat dibiayai dari anggaran belanja tahun anggaran 2011. b. Hasil perhitungan dari sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan setelah dikurangi hasil optimalisasi yang belum digunakan pada tahun anggaran 2011. Alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tidak termasuk: a. 2.d. Rupiah Murni Pendamping. Publikasi ke mass media. menghasilkan nilai postif. Alokasi anggaran yang bersumber dari Pinjaman dan Hibah Luar Negri(PHLN). Sanksi yang dikenakan kepada Kementerian Negara/Lembaga dengan kriteria sebagai berikut: a. kepada Sanksi (punishment) Kementerian Negara/Lembaga yang tidak sepenuhnya melaksanakan anggaran belanja tahun anggaran 2011 diberikan sanksi yaitu dikenakan pemotongan pagu belanja pada tahun anggaran 2012. Sanksi yang dikenakan maksimum sebesar anggaran belanja tahun anggaran 2011 yang tidak terserab dan tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Tidak diikutinya peraturan perundangan dibidang pengadaan barang/jasa pemerintah. dan/atau d. Keterlambatan penunjukan kepala satuan kerja dan/atau pelaksana kegiatan. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 70 . Sanksi diberikan kepada satuan kerja yang menyebabkan pengurangan pagu Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Dimana pemberian sanksi kepada satuan kerja yang bersangkutan tidak boleh menghambat pencapaian target pembangunan nasional dan menurunkan pelayanan kepada publik. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)/Badan Layanan Umum (BLU). Pemberian piagam penghargaan (award) Menteri/pimpinan Lembaga atau kepala satuan kerja. Pinjaman dan Hibah Dalam Negeri (PHDN). Sanksi tidak dikenakan kepada Kementerian Negara/Lembaga dalam hal target kinerja Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan telah tercapai seluruhnya. Terdapat sisa anggaran yang tidak disertai dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. e. c.

b. terjadi konflik/berpotensi terjadi konflik sosial. dan cuaca. atau Akibat keadaan kahar (force majeure) antara lain meliputi bencana alam. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 71 . c. Alokasi anggaran yang penggunaannya harus mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terlebih dahulu.

BAB VII PENUTUP .

Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui pemberdayaan birokrasi dan stakeholder lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bersih.BAB VII PENUTUP Era Desentralisasi menuntut agar perencanaan dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan aspirasi dari seluruh stakeholder dan perkembangan yang ada. peluang. waktu. kelemahan. perlu diciptakan keterpaduan pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan melalui pemantapan sistem dan metode perencanaan. tantangan dan permasalahan akan dapat terakumulasi. _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 72 . kelompok sasaran dan manfaat bagi kelompok sasaran. dan menjadikan anggaran kinerja merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi yang telah dibuat. Pedoman Pelaksanaan ini sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan secara umum sehingga dalam pelaksanaan anggaran pembangunan peternakan dan kesehatan hewan TA 2012 masih memerlukan pedoman/petunjuk umum/teknis yang akan diterbitkan oleh Direktorat Teknis lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Menyikapi hal ini. sehingga memudahkan dilakukannya pemantapan perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang bermuara pada keberhasilan pembangunan pertanian. amanah dan profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. peningkatan kualitas SDM. arah dan kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan memerlukan penyesuaian. lokasi. Dengan demikian hal-hal yang terkait dengan aspek kekuatan. Sistem anggaran kinerja merupakan sistem pengukuran kinerja yang efektif yang dapat membantu masyarakat untuk mengevaluasi apakah tingkat pelayanan pemerintah setara dengan dana yang dikeluarkan untuk pelayanan publik. penataan kelembagaan dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait pusat dan daerah. Untuk mendukung hal tersebut. Disamping itu perencanaan hendaknya disusun dengan mengacu pada sasaran yang jelas dengan besaran yang terukur. Pelaksanaan sistem anggaran terpadu berbasis kinerja akan membuka peluang bagi daerah untuk bekerja lebih optimal dan mencerminkan komitmen yang kuat dalam pelaksanaan sistem penganggaran berbasis kinerja.

LAMPIRAN .

............................ ........... REKAPITULASI KEGIATAN DEKONSENTRASI KEMENTERIAN/LEMBAGA DI DAERAH TAHUN ANGGARAN ......Lampiran-1 PROVINSI .... .................................................. RUPIAH MURNI 7 DEP/KL PROGRAM KEGIATAN SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 ....................... UNIT ES-1 NO................ GUBERNUR ................... 73 .....

....... GUBERNUR .............................. ...............REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI PROVINSI TAHUN ANGGARAN . UNIT ES-1 NO....................... Lampiran-2 PROVINSI .............................. ................. RUPIAH MURNI 7 DEP/KL PROGRAM KEGIATAN SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 ............................. 74 ..........

........ REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI KAB/KOTA TAHUN ANGGARAN ...... .......................... : ................................. ................................................. Lampiran-3 KEGIATAN NO........KABUPATEN / KOTA PROVINSI : . RUPIAH MURNI 7 DEP/KL UNIT ES-1 PROGRAM SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 1 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 .......................... GUBERNUR .................. 75 ............

..............................KABUPATEN / KOTA PROVINSI : ........................................................................................... ........ BUPATI/WALIKOTA .... Lampiran-4 KEGIATAN DEP/KL RUPIAH MURNI 7 UNIT ES-1 PROGRAM SKPD ALOKASI DANA (JUTAAN RUPIAH) KPA PHLN 8 TOTAL 9 10 KETERANGAN Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 2 3 4 5 6 _________________________________________________________________ 11 ................. : .......... 76 ....... REKAPITULASI KEGIATAN TUGAS PEMBANTUAN KEMENTERIAN/LEMBAGA DI KAB/KOTA TAHUN ANGGARAN ... .

Lampiran 5. 20. Pedoman Pelaksanaan Monitoring dan evaluasi Pedoman Pelaksanaan SPI Pedoman Teknis Penyusunan Proposal 2013 Pedoman Teknis Pengumpulan Data Statistik Peternakan Pedoman Teknis Pemeliharaan Unggas di Pedesaan Pedoman Teknis Pemeliharaan Unggas di Pemukiman Pedoman Teknis Kompartementalisasi dan Zonifikasi Pedoman Teknis Pengembangan Pakan Lokal Pedoman Teknis Fasilitasi Pengawasan Mutu Pakan Pedoman Teknis Pemeliharaan Babi Ramah Lingkungan Pedoman Teknis Budidaya Aneka Ternak Pedoman Teknis Pelaksanaan Lomba Kelompok Peternak dan Petugas Berprestasi Pedoman Teknis Integrasi Ternak dan Tanaman Pedoman Teknis ULIB Pedoman Teknis Pabrik Pakan Skala Kecil Pedoman Teknis Alat Pengolah Pakan Good Farming Practices Budidaya Ternak Pedoman Teknis LM3 Peternakan Pedoman Teknis SMD Pedoman Teknis Penanganan Betina Produktif Pedoman Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih/Bibit Ternak Pedoman Penetapan Rumpun Atau Galur Ternak Pedoman Pelepasan Rumpun Atau Galur Ternak Pedoman Transfer Embrio Pedoman Teknis Pengendalian dan Pemberantasan Rabies Pedoman Teknis Pengendalian dan Pemberantasan Brucellosis Pedoman Teknis Pengendalian Anthrax Pedoman Teknis Pengendalian Hog Cholera Pedoman Teknis Pengendalian Jembrana Pedoman Pencegahan penyakit Eksotik Pedoman Kesiagaan Wabah Penyakit Hewan Pedoman Teknis Penanggulangan Gangguan Reproduksi dan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Hewan Prosedur Operasional Standar Pengendalian Avian Influenza Pedoman Surveilans Avian Influenza di Indonesia Pedoman Operasional Pusat Kesehatan Hewan Pedoman Teknis 13 langkah Operasional PSDS/K Pedoman Standar Laboratorium Tipe B dan C _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 77 . 30. 4. 22. 27. 26. 3. 9. 16. 29. 23. 17. 33. 1. 35. 7. 28. Daftar Pedoman/Petunjuk Umum/Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012. 19. 11. 18. 37. 25. 34. 32. 15. 14. 24. 36. 2. 6. 12. 5. 31. 10. 13. 21. 8.

Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Potong Unggas Skala Kecil (RPUSK) 39. Pedoman Teknis Penataan Kios Daging di Pasar Tradisional 42. Pedoman Teknis Penataan Higiene Sanitasi susu di Tempat Penampungan Susu _________________________________________________________________ Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan APBN Peternakan dan Keswan Tahun 2012 78 . Pedoman Teknis Pembangunan Tempat Penampungan Unggas (TpnU) 41. Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) 40.38.

 Pasar Minggu Jakarta 12550  Kotak Pos 1108/JKS. 78847319. Jakarta 12011  Tlpn/Faks : (021) 7815580‐83.go. Harsono RM Nomor 3 Gedung C.id  Wibsite : http://ditjennak.go. Email : ditjenak@deptan.id  .    Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan  Jln.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful