P. 1
Difraksi Cahaya Dan Aplikasinya

Difraksi Cahaya Dan Aplikasinya

|Views: 4,524|Likes:
Published by Komang Suardika

More info:

Published by: Komang Suardika on Jan 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

Makalah

Gelombang Optik
“Difraksi dan Aplikasinya “
KOMANG SUARDIKA
(0913021034)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2012
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah gelombang bergerak yang berinteraksi dengan suatu bidang, celah
(aparture) dapat menimbulkan berbagai fenomena. Satu diantaranya adalah pembelokan
atau pelenturan gelombang atau yang secara umum disebut dengan difraksi. Jika
gelombang yang mengalami difraksi itu adalah gelombang cahaya maka disebut sebagai
difraksi cahaya.
Difraksi cahaya atau difraksi secara umum akan teramati bilamana sebuah
gelombang dihambat (obstruction) melalui sebuah bidang atau celah sempit yang
dimensinya seorde dengan panjang gelombang tersebut. Difraksi dan interferensi saling
berhubungan namun secara definitive terbedakan. Definisi fisis difraksi itu akan
memberikan pemahaman sampai dimana batas fenomena yang disebut difraksi ataupun
interferensi. Secara lebih khusus, pembahasan mengenai difraksi akan mengarah pada
karakteristik dari pola yang terbentuk sehingga akan terbedakan menurut difraksi
fraunhofer dan difraksi Fresnel. Difraksi fraunhofer terbatas pada kasus dimana
mendekati objek difraksi adalah paralel dan monokromatis serta image plane
(bayangan) berada pada jarak yang lelbih besar dibandingkan dengan ukuran dari objek
difraksi (anonym,2011).
Pemahaman ini akan membawa pengetahuan baru mengenai interaksi sebuah
gelombang terhadap bidang ataupun aperture tertentu. Sehingga, sangatlah bijak jika
pembahasan mengenai difraksi fraunhofer ini diperdalam dalam menjelaskan perilaku
interaksi gelombang cahaya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumusakan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah konsepsi mengenai difraksi ?
2. Bagaimana Difraksi Menurut Frounhofer dan Fresnel ?
3. Bagaimana difraksi pada suatu aperture ?
4. Apa dan bagaimana konsep mengenai kisi difraksi ?
5. Apa dan bagaimana penerapan dari difraksi fraunhofer tersebut ?
2
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu menjelaskan konsep difraksi.
2. Mampu menjelaskan konsep fisis perbedaan difraksi fraunhofer dan Fresnel.
3. Mampu memberikan penjelasan mengenai difraksi pada suatu aperture tertentu.
4. Mampu menjelaskan konsep kisi difraksi.
5. Mampu menyebutkan serta menjelaskan penerapan difraksi.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Fisis Difraksi
Difraksi adalah peristiwa pelenturan gelombang akibat gelombang yang
merambat melalui suatu penghalang atau celah sempit (aparture). Pola yang keluar dari
susunan celah-celah pengahalang (obstruction) dapat membentuk pola terang gelap
secara bergantian.
Gambar 1. Fenomena Difraksi Lampu Jalanan
(Optical Physics 4
th
ed, Page 1, Chapter 7)
Gambar diatas memperlihatkan pola difraksi yang teramati ketika dilihat melalui sebuah
selendang sutra pada lampu jalanan.
Gambar 2. Fenomena Difraksi di Perairan
(Google earth doc. http://www.technologyreview.com)
4
Gambar 1 & 2 diatas merupakan contoh difraksi yang terjadi saat celah gerbang
pelabuhan di Alexandria (Egypt) mesir terbuka. Difraksi dapat dipandang sebagai
sebuah interferensi gelombang yang berasal dari bagian-bagian suatu medan
gelombang. Tiap-tiap titik pada muka gelombang (frontwave) ; misalkan saja
gelombang cahaya dapat dipandang sebagai sebuah sumber gelombang baru dan
menghasilkan gelombang sekunder yang memancar ke segala arah dengan cepat rambat
yang sama.
Menurut optika geometrik, bila sebuah benda tak tembus cahaya ditempatkan
diantara sumber cahaya titik dan layar, maka bayangan bentuk itu akan membentuk
sebuah garis tajam yang sempurna seperti gambar dibawah.
Gambar3. Optika geometri meramalkan sebuah tepi lurus akan menghasilkan
bayangan dengan sebuah batas yang tajam dan sebuah daerah yang relatif
diterangi secara homogen diatasnya.
Jika dibandingkan dengan 2 gambar diatas, peristiwa difraksi dapat disederhanakan
seperti gambar berikut:
Gambar 4. Difraksi pada suatu celah tunggal
5
Sejumlah gelombang datang dan melewati penghalang atau celah sempit,
bagian-bagian atau titik-titik muka gelombang yang keluar dapat dipandang sebagai
sebuah sumber gelombang baru yang menyebar ke segala arah. Penyebaran gelombang
yang melewati celah tersebut memilki lebar yang seorde dengan panjang gelombang.
Jika lebar celah itu adalah d dan θ adalah sudut yang dibentuk antara fraksi muka
terhadap sumbu normal muka gelombang fraksi mula-mula, maka agar terjadi difraksi
setidaknya lebar celah seorde dengan panjang gelombang itu atau λ ≈ d . Artinya
pengaruh difraksi akan teramati bilamana setidak-tidaknya ukuran pengahalang
(obstacle) mendekati limit panjang gelombang tersebut. Semakin sempit celah itu maka
pola difraksi akan teramati lebih jelas. Hal ini bersesuaian dengan prinsip Huygens
dimana semakin kecil halangan, penyebaran gelombang semakin besar. Difraksi
berbeda adanya dengan interferensi gelombang. Pada interferensi, distribusi intensitas
untuk maksimum sama besar. Tetapi pada difraksi distribusi intensitas tidak sama,
artinya makin jauh makin kecil intensitasnya.
2.2 Difraksi Fresnel dan Fraunhofer
Phenomena difraksi yang dialami sebuah gelombang memberikan deskripsi
mengenai kelakuan gelombang. Difraksi sebuah gelombang terjadi oleh titik titik muka
gelombang yang memiliki fase yang sama. Sebuah gejala interferensi dapat dipandang
sebagai peristiwa difraksi. Efek difraksi dapat terbedakan atas difraksi fraunhofer atau
medan jauh (far-field) dan difraksi Fresnel atau medan dekat. Difraksi secara umum
diaproksimasi menurut lipson The scalar theorm of diffraction (Lipson, 2009). Salah
satunya tertuang dalam prisnsip huygens. Konsep difraksi di-reformulasi dari prinsip
Huygens seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar. 5. Definisi kuantitas untuk integral difraksi
6
Gelombang scalar yang teremisi dari sumber titik Q dengan kuat a
Q
dapat ditulis dalam
persamaan berikut :
Jika
λ
π 2
0
· k
( )
1 0
1
1
exp d ik
d
a
Q
· ψ
……………………………………………………….(1)
Pada elemen diferensial dS sebagai emitter kedua dengan strength
dS bf ba
s S 1
ψ ·
,
maka pada titik P akan menjadi:
( ) dS d ik d bf d
s P 0
1
exp

· ψ ………………………………………(2)
Hasil integrasi dari substitusi persamaan (1) ke persamaan (2) akan memberikan
persamaan baru :
( ) ( )
∫ ∫
+ ·
R
o
s
Q P
dS d d ik
dd
f
ba
1
1
exp ψ
……………………………….(3)
Dimana
s
f
adalah fungsi transmisi pada bidang R. Kuantitas
s
f
, d, d
1
adalah fungsi
posisi dari S. b adalah faktor inklinasi gelombang. Rasio konstan
Q
a
dan
1
d menurut
aproksimasi paraxial untuk difraksi skalar adalah :
A
d
a
Q
·
1
…………………………………………………………..(4)
Jika ditulisakan posisi S dengan vector r

pada bidang R, maka
s
f
dapat diganti dengan
( ) r f

sehingga persamaan (3) menjadi:
( )
( )
( ) ( )
∫ ∫
·
R
o i P
r d d ik
d
r f
ikz Ab


2
1
exp exp ψ
……………………………….(5)
Dimana
i
z
adalah jarak normal terhadap bidang R. perumusan matematis difraksi baik
itu Fresnel ataupun fraunhofer diturunkan dari persamaan (5).
Dalam optika, persamaan difraksi Fresnel untuk bidang dekat, adalah sebuah
aproksimasi menurut kirchoff-fresnel diffraction yang dirterapkan pada propagansi
gelombang dalam bidang dekat. Bidang dekat (near-field) terspesifikasi oleh bilangan
Fresnel (Fresnel number) F dari susunan optik sebagai berikut :
λ L
a
F
2
· ……………………………………………………………………………..(6)
Dimana, a adalah ukuran karakteristik dari celah (aparture), L adalah jarak titik
pengamatan dari celah atau aperture dan λ adalah panjang gelombang. Dalam hal ini
7
dijelaskan bahwa difraksi Fraunhofer adalah pola gelombang yang terjadi pada jarak
jauh sehingga disebut difraksi far-field. Difraksi fraunhofer juga dapat diartikan sebagai
pola difraksi dengan phase gelombang pada titik pengamatan adalah fungsi linear dari
posisi untuk semua titik dalam celah difraksi (diffraction aparture). Menurut persamaan
(7) Difraksi fraunhofer terjadi saat bilangan fresnnel (F) << 1. Dengan kata lain,
difraksi fraunhofer adalah batas dari difraksi Fresnel dimana sumber dan pengamat
berada jauh dari titik obstacle sementara untuk difraksi Fresnel sendiri terjadi saat
bilangan fresnnel (F) >> 1 (lipson,2009). Secara ringkas perbedaan konseptual difraksi
Fresnel dan difraksi fraunhofer adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Perbedaan difraksi Fresnel dan Fraunhofer
8
No Acuan Fresnel Diffraction Fraunhofer Diffraction
1 Bilangan
Fresnel (F)
F>>1 F<<1
2 Bidang
pengamatan
Near-field Far-field
Difraksi ini diamati jauh dari
lubang atau pengghalang yang
menggangu arus gelombang-
gelombang datar yang datang
3 Sumber &
Layar
Sumber dan layar
beradap pada jarak
yang tidak saling
menjauh
Sumber dan layar berada pada
jarak yang saling berjauhan
2.3 Difraksi pada Suatu celah (Aperture)
Difraksi pada suatu aperture meliputi:
2.3.1 Difraksi Frounhofer Oleh Sebuah Celah Persegi
Jika diasumsikan efek dari sisi celah yang dapat ditiadakan, sinar datang
sejajar dan datang tegak lurus pada bidang celah maka menurut prinsip Huygens
“Semua sinar datang yang jatuh pada celah akan dihalangi, dan keluar sebagai
titk-titik yang dipandang sebagai sumber-sumber gelombang sekunder yang
memancarkan gelombang ( gelombang difraksi )”
Gelombang terdifraksi yang diobservasi pada beda sudut θ terhadap arah
gelombang datang, maka diperoleh pola difraksi untuk arah tertentu
intensitasnya sama dengan nol.
0 dengan . sin ≠ · n n b λ θ
…………………………...……………………….(7)
di mana n adalah bilangan bulat, d lebar celah dan λ panjang gelombang datang.
Nilai n = 0 tidak termasuk, karena berkaiatan dengan pengamatan sepanjang
arah gelombang datang yang menghasilkan iluminasi maksimum.
Manipulasi persamaan (7) untuk 0 sin · θ atau intensitas gelombang adalah nol
b n / . sin λ θ ·
b b b / 3 , / 2 , / sin λ λ λ θ t t t ·
………………………………………………(8)
Bilaman θ = 0, yaitu tidak ada beda fase untuk gelombang-gelombang
yang datang dari titik-titik berbeda, maka terjadi interferensi secara konstruktif,
yang menghasilkan sebuah interferensi paling maksimum .
b
A B C D E
b
(a) (b)
9
θ
θ
Gambar 6. Difraksi oleh celah sempit
Untuk menjelaskan persamaan (8), perlu diingat kembali yang telah
dijelaskan pada bagian interferensi bahwa, bila beda lintasan dua sinar
2 1
r r −
sama dengan kelipatan ganjil setengah panjang gelombang menghasilkan
interferensi destruktif. Selanjutnya dari gambar 6 ditunjukkan bahwa dari titik A
dan titik tengah C diperoleh

)
2 1
r r −
=
( ) 2 / sin . .
2
1
λ θ n b ·
(9)
Saat berinterferensi secara destruktif dan berarti tidak ada intensitas gelombang
yang teramati. Untuk n genap, misalnya titik A dan B yang terpisah sejauh b/4
maka;
2 1
r r −
=
( ) 2 / ). 2 / ( sin . .
4
1
λ θ n b ·
(10)
untuk n =2, 6, 10,...........
ternyata juga berinterferensi secara destruktif, sehingga tidak ada intensitas
gelombang yang teramati pada arah θ.
Intensitas gelombang difraksi sebagai fungsi θ, dinyatakan pada gambar 7
berikut:
Gambar 7. Distribusi Intensitas pola difraksi terhadap θ
Pola maksimum pusat memiliki lebar dua kali lebar pola maksimum
sekundernya.
10
Gambar 8. Geometri perhitungan intensitas pola difraksi
Jika pada gambar 8, masing-masing celah dengan lebar dx sebagai
sebuah sumber gelombang sekunder dengan amplitudo dξ
o
dan gelombang
terpancar dalam arah θ, maka beda fase antara gelombang CC’ dan AA’ adalah:

λ
θ π
λ
π
δ
sin . . 2 2 x
CD · · ………………………………………………….……
(11)
Amplitudo resultan ξ
o
dari pola difraksi dapat dihitung dengan bantuan
analisis geometri seperti yang dilukiskan gambar 9 berikut:

Gambar 9. Amplitudo resultan
Busur OP adalah resultan amplitudo ξ
o
dari jumlahan vektor
Amplitudo dari sebuah lingkaran dengan pusat C dan jejari ρ. Beda fase antara
sumber-sumber gelombang kecil adalah sama. Kemiringan pada setiap titik dari
busur lingkaran adalah beda fase yang dinyatakan oleh persamaan (11). Pada
titik P yang berkaiatan dengan x = b kemiringannya dinyatakan dengan:

λ
θ π
λ
π
α
sin . . 2 2 b
BE · · ……………………………………………………..(12)
yang juga menyatakan sudut yang dibentuk oleh jejari CO dan CP, dengan
demikian amplitudo resultan dapat dinyatakan;
( )

,
_

¸
¸
· · ·
λ
θ π
ρ α ρ ξ
sin
sin 2 sin 2 2
2
1
b
QP
……………..…………………....(13)
11
θ=λ/b
Untuk pengamatan yang tegak lurus (θ = 0), maka semua vektor dξ
o
adalah
sejajar, dengan demikian amplitudo resultannya sama dengan panjang OP
dinyatakan dengan E
o
, yaitu;

,
_

¸
¸
· · ·
λ
θ π
ρ α ρ ξ
sin 2
.
b
OP
o
........................................................................(14)
dengan membagi persamaan 13 dengan persamaan 14 diperoleh hubungan;
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
λ
θ
π
λ
θ π
ξ ξ
sin
sin
sin
b
b
o
……………………………………………………… (15)
Karena intensitas gelombang berbanding langsung dengan kuadrat
amplitudonya maka diperoleh hubungan inetnsitas yang teramati sebagai fungsi
arah pengamatan θ, yaitu:
o
I I ·
2
sin
sin
sin
sin
2

,
_

¸
¸
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
·
u
u
o
I
b
b
λ
θ π
λ
θ π
………….……………………… (16)
Dengan λ θ π / sin b u ·
Bila u = nπ , maka intensitas gelombang yang teramati adalah nol. Intensitas
maksimum dari pola difraksi yang dihasilkan dapat ditentukan dari nilai u yang
sesuai dengan
0 ·
du
dI
………………………………………………………………………(16)
Dalam Yasa (2001), untuk λ yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
harga b, maka titik-titik nol pertama dari intensitas gelombang dari kedua sisi
maksimum utama dikaitkan dengan sudut pengamatan ditentukan dengan
mengambil n 1 t yaitu;
b
λ
θ θ t · ≈ sin …………………………………………………………….(17)
Persamaan (17) dapat dilukiskan dengan gambar 10 berikut;
12
EE
AA
BB CC
DD
θθ
θ=λ/b
θ=λ/b
θ=λ/b
Gambar 10. Titik-titik minimum pertama terhadap maksimum utama
Daya pemisah (resoving power) menurut Lord Rayleigh merupakan
sudut minimum yang dibentuk oleh dua gelombang yang datang dari dua
sumber titik terpisah. Kedua gelombang yang datang menghasilkan pola difraksi
yang terbedakan. Bila terdapat dua sumber dengan aperture sebagai berikut:
Gambar 11. Aturan Releigh untuk daya pemisah sebuah celah
Maka pola difraksi yang dihasilkan kedua gelombang adalah saling tumpang
tindih seperti yang ditunjukkan gambar 11. Agar terbedakan, maka maksimum utama
dari satu gelombang harus jatuh pada titik nol pertama pola difraksi gelombang
kedua. Maka daya pemisah dari sebuah celah menurut aturan Releigh :

b
λ
θ · ……………………..…………………………………………………(18)
2.3.2 Difraksi Frounhofer dari Celah Melingkar
13
EE
AA
BB CC
DD
θθ
θ=λ/b
Sumber
S
2
Sumber
S
1
Difraksi fraunhofer pada celah melingkar ditunjukkan pada gambar 12. Pola
terang gelap terbentuk secara bergantian pada layar dibawah.
Gambar 12. Pola difraksi frounhofer untuk celah melingkar
dengan menyatan R jejari lingkaran celah, sudut pengamatan cincin gelap
pertama adalah:
8317 . 3
sin 2
·
λ
θ πR
…………………………………………………………(19)
sehingga
D R
λ λ
θ θ 22 . 1
2
22 . 1 sin · · ≈ ……………………………………………….(20)
2.3.3 Difraksi Frounhofer untuk Dua Celah Sama Besar dan Sejajar
Pada difraksi frounhofer untuk dua celah sama besar dan sejajar untuk
arah pengamatan θ, diperoleh dua berkas gelombang terdifraksi yang datang
dari masing-masing celah, yang kemudian menghasilkan interferensi.

Gambar 13. (a) Dua celah sama lebar (b) Difraksi Founhofer untuk dua
celah
Resultan amplitudo oleh celah 1 yaitu
1
ξ adalah :
14
D=2R
θ
L
Celah-1 Celah-2
a
b b
a
EE
AA
BB CC
DD
A’ C’
θθ
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
λ
θ
π
λ
θ π
ξ ξ
sin
sin
sin
1 1
b
b
o
……………………………………………………(21)
Untuk celah 2 memiliki nilai yang sama namun fase yang berbeda, seperti
ditunjukkan gambar 13.
Gambar 13. Amplitudo resultan gelombang dari kedua celah
Beda fasenya adalah
λ
θ π
λ
π
β
sin . 2 2 a
CE · · …………………………………………………….(22)
dengan demikian amplitudo atau vektor-vektor gelombang kedua celah
membentuk sudut β, sehingga resultan amplitudo kedua celah dapat ditentukan;
( ) ( ) β ξ β ξ ξ
2
1
1 1
cos 2 cos 1 2
o o
· + ·
……………………………………….(23)
dengan menggunakan persamaan 22 diperoleh;

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
λ
θ π
λ
θ π
λ
θ π
ξ ξ
sin
cos
sin
sin
sin
2
1
a
b
b
o
……………………………………….(24)
Dengan demikian, distribusi intensitas dari pola difraksi yang terjadi sebagai
fungsi θ

,
_

¸
¸
1
1
1
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
·
λ
θ π
λ
θ π
λ
θ π
sin . .
cos
sin
sin
sin
2
2
a
b
b
I I
o
…………………………………..(25)
15
ξ
1
ξ
2
ξ
α
α
β
β
Faktor distribusi intensitas dari interfernsi yang dihasilkan oleh dua sumber
koheren adalah
( ) λ θ π / sin . cos
2
a
pada persamaan (25). Pola difraksi dua celah
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 14. Modulasi pola interferensi dua sumber dalam pola difraksi
dua celah
2.4 Kisi Difraksi
Kisi difraksi merupakan celah yang diberi kisi sehingga terbentuk banyak
celah dengan lebar yang sama. Artinya, selisih lintasan dua sinar berurutan adalah sama
besar. Difraksi yang disebabkan oleh kisi ini kemudian disebut dengan difraksi oleh
kisi. Karena lebarnya sama, maka besa fase pada titik titik penghujung yang dilewati
muka gelombang datang akan memiliki fase yang sama. Jika pola difraksi yang
dihasilkan oleh derertan N celah sejajar yang masing-masing lebarnya sama yaitu b,
dengan jarak antara celah yang sama juga yaitu a, maka deretan N celah sejajar
ditunjukkan oleh gambar 15 berikut:
Gambar 15. Difraksi dari deretan N celah identik sejajar
16
b
a
θ
Difraksi cahaya diperoleh bila berkas cahaya dilewatkan melalui sebuah celah
sehingga berkas-berkas cahaya tersebut dibelokkan (dilenturkan, didifraksikan,
disebarkan), dan kemudian berinterferensi di suatu titik pada layar sehingga diperoleh
distribusi intensitas yang memenuhi pola-pola difraksi Fraunhofer seperti berikut:
Gambar 16. Distribusi Intensitas yang dibentuk pola-pola difraksi
Interferensi yang dihasilkan oleh N sumber koheren dimodulasi oleh pola difraksi
dari N celah tersebut. Karena jarak antara dua sumber berurutan adalah a, maka faktor
interferensi untuk N celah menjadi :
( )
( )
2
/ sin . sin
/ sin . sin
1
]
1

¸

λ θ π
λ θ π
a
a N
………………………………………………………………..(26)
sedangkan faktor difraksi adalah
( )
2
/ sin .
/ sin . sin
1
]
1

¸

λ θ π
λ θ π
b
b
…………………………………………………………………(27)
oleh karena itu distribusi intensitas yang dihasilkan oleh difraksi deretan N celah identik
adalah;
I = I
o
.
( )
2
/ sin .
/ sin . sin
1
]
1

¸

λ θ π
λ θ π
b
b
.
( )
( )
2
/ sin . sin
/ sin . sin
1
]
1

¸

λ θ π
λ θ π
a
a N
.....................................................(28)
Jika jumlah N celah besar maka pola yang dihasilkan mengandung sederetan garis-
garis terang yang tajam yang dihasilkan oleh maksimum-maksimum utama dari pola
interferensi, yang ditentukan oleh persamaan;
( ) a n n a / sin atau . sin λ θ λ θ · · ………………………………….(29)
di mana n =
.......... 3, 2, 1, t t t
, tapi intensitasnya dimodulasi oleh pola difraksi.
2.5 Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
1. Analisis pembagian corak bentuk dari model biologi dan sel dengan analisis
Fourier pengukuran sebaran cahaya statis
17
Model sel biologi dalam bermacam-macam kompleksitas geomitris
digunakan untuk menghasilkan data untuk menguji suatu metoda penyulingan
corak geometris dari distribusi sebaran cahaya. Pengukuran tergantung pada sudut
dan cakupan cahaya dan intensitas yang dinamis menyebar dari model ini
dibandingkan kepada distribusi yang diramlkan oleh suatu teori sebaran cahaya
(Mie) dan oleh teori difraksi (Fraunhofer). Suatu perkiraan daripada teori
Fraunhofer menyediakan suatu yang bermakna dalam ukuran perolehan dan
membentuk corak data oleh suatu analisi spectrum. Verifikasi dari percobaan yang
menggunakan nucleated erythrocytes sebagai material biologi menunjukan
aplikasi potensi dari metode ini untuk pengelompokan ukuran yang penting dan
parameter bentuk dari data sebaran cahaya.
2. Aplikasi teori difraksi fraunhofer ke disain detector yang bersifat spesifik
Cahaya menyebar dari sel epithelial di dalam suatu celah penelitian aliran
sitem diperagakan menggunakan teori difraksi Fraunhofer kondisi scalar.
Kekuatan spectrum dihitung untuk posisi model sel yang berurutan di dalam baris
focus dari suatu berkas cahaya laser dengan suatu program computer transformasi
Fourier. Menggunakan kekuatan spectrum yang dihitung, bentuk wujud detector
dirancang untuk mendeteksi struktur sel secara spesifik. Bentuk wujud detector
diuji di dalam suatu piranti celah penelitian sebaran statis. Data menandakan
kemampuan untuk orientasi mendeteksi sel dan batasan-batasan tertentu.
3. Perhitungan Resolusi Pada Teleskop
Gambaran mengenai ruang dari kuat cahaya yang melintasi suatu celah
adalah transformasi Fourier pada celah itu. Ini mengikuti dari dasar teori difraksi
Fraunhofer. Suatu celah adalah satu rangkaian celah kecil sekali. Cahaya yang
melintasi dua celah yang bertentangan dengan dirinya sendiri, secara berurutan
secara konstruktif dan destruktif. Intensitas deret dibelakang celah adalah penyiku
dari amplitude menyangkut garis vector yang elektromagnetis itu. Pengintegrasian
ke seberang celah ditemukan bahwa, intensitas cahaya, sebagai fungsi jarak off-
axis Ѳ adalah I = I
o
sin
2
(u)/u
2
.
Teropong bintang yang biasanya mempunyai tingkap lingkaran, karena
profil mengenai ruang dari intensitas adalah transformasi Fourier dari suatu
18
lingkaran. Seseorang dapat juha lakukan dengan pengintegrasian 2-dimensional.
Bagaimanapun, bahkan semakin dekat sumber dengan sama teramh akan
menghasilkan suatu puncak pusat tidak melingkar, kaleng sumber dengan sama
terang/ cerdas pada prinsipnya dideteksi ke sekitar 1/3 jarak Rayleigh.
Teropong bintang riil tidak mempunyai semata-mata tingkap lingkaran.
Efek dari suatu penggelapan pusat akan berkurang jumlah cahaya di dalam puncak
pusat, dan meningkatkan intensitas di dalam cincin difraksi. Sebagai tambahan,
pendukung untuk penggelapan pusat lenturan cahaya yang datang berikutnya,
member poin-poin untuk melihat gambaran dari bintang terang.
4. X-Ray powder diffraction (XRD) : teknik analisa dalam mengidentifikasi
phase dan struktur dimensi cell materi kristal
Kemajuan sebuah teknologi selalu perubahan yang dapat dilakukan.
Dalam bidang fisika, teknologi khususnya dalam hal optika, berkembang sangat
pesat. Dari sekian panjang rentatetan teori yang telah dikembangkan, telah
menghasilkan berbagai teknik analisa ataupun teknologi muktakhir. Salah satu
teknik yang diterapkan dalam analisa mikroskopik adalah XRD yaitu x-ray
powder diffraction. Setiap berkas sinar yang menuju materi Kristal akan
terdifraksi menurut pola struktur cellnya. Pada bidang diffraksi, akan muncul dan
terbentuk pola yang mewakili bidang Kristal pada sumbu 3-D. Efek inilah yang
kemudian digunakan dalam analisa struktur.
5. Lensa Difraksi pada Kamera Photography : Terapan Konsepsi Difraksi
Dalam Mempengaruhi Resolusi Dan Pencahayaan Hasil Photograpy Pada
Sebuah Kamera
Dalam dunia photography, resolusi yang semakin baik dari sebuah alat
optis, terutama kamera itu sendiri akan mampu menghasilkan gambar yang
semakin tajam. Ada banyak jenis alat optis yang disusun sedemikian rupa untuk
memperoleh sebuah bayangan nyata. Jejak-jejak optis direkam dan divisualisasi
untuk ditampilkan menjadi photo yang kita kenal dalam keseharian. Bagian optis
seperti lensa pada kamera memgang peranan yang dukup penting. Ukuran
aperture yang bersesuaian akan mengahasilkan ketajaman gambar yang tepat.
Karena pada dasarnya, menurut Rayleigh criterion mengenai daya pemisah pada
19
efek diffraksi munculnya efek yang lebih baik akan berkontribusi pada ketajaman
gamabr yang diperoleh. Dengan luminasi yang mantap, aperture yang sesuai
dengan keadaan efek difraksi dapat diciptakan untuk membuat gambar yang
senyata mungkin.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat ditaring beberapa kesimpulan sebagai
berikut ini;
1. Difraksi adalah peristiwa pelenturan gelombang akibat gelombang yang merambat
melalui suatu penghalang atau celah sempit.
2. Difraksi Frounhofer sinar datang diasumsikan sejajar dan pola difraksi diamati pada
jarak yang cukup jauh sehingga secara efektif pola difraksi yang diamati hanya
dihasilkan oleh sinar-sinar paralel. Sedangkan, dalam difraksi Fresnel sinar datang
berawal dari sebuah sumber titik, pola difraksi diamati pada jarak tertentu.
3. Difraksi pada suatu aperture meliputi berikut ini :
- Difraksi Frounhofer Oleh Sebuah Celah Persegi
- Difraksi Frounhofer dari Celah Melingkar
- Difraksi Frounhofer untuk Dua Celah Sama Besar dan Sejajar
4. Kisi difraksi merupakan celah yang diberi kisi sehingga terbentukj banyak celah
dengan lebar yang sama, dimana selisih lintasan dua sinar berurutan adalah sama
besar.
20
5. Banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari seperti, analisis pembagian corak bentuk
dari model biologi dan sel dengan analisis Fourier pengukuran sebaran cahaya statis,
aplikasi teori difraksi fraunhofer ke disain detector yang bersifat spesifik, perhitungan
resolusi pada teleskop, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Fraunhofer Difraction. Artikel. http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/
phyopt/fraunhofcon.html [ diakses tanggal 5 mei 2012]
Anonim. 2012. Fresnel diffraction. Artikel. http://en.wikipedia.org/ wiki/ Fresnel diffraction.html
[diakses tanggal 17 mei 2012]
Lipson, G. Stephen. 2009. Optical Physics 4
th
ed. E-book. U. S. National Academy of
Sciences : USA
Pain. H.J. 2005. The Physics Of Vibration And Wave, 6
th
Ed. E-book. England : John Wiley
& Sons Inc
Yasa, P. 2001. Gelombang dan optik. Bahan ajar (Gelombang Elektromagnetikn dan Optik
Fisis). Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->