P. 1
Laporan Kulap Petrologi 2012 (isi)

Laporan Kulap Petrologi 2012 (isi)

|Views: 706|Likes:

22 Desember 2012 di Purwakarta.

-Pendahuluan by Bakok

-Geomorfologi & Geologi Struktur by Fachri

-Stratigrafi & Peta Regional by Juliandri

-Jurnal st. 1-3 by Raditya

-Jurnal st. 4-6 by Girlly

-Interpretasi by Yosha and Zaki

-Kesimpulan & Editing by Girlly

and Spirit by All :)



thank you for reading, readcasting, and downloading this school work which has so many mistakes. hope the critic and suggestion for the our better paper :)

22 Desember 2012 di Purwakarta.

-Pendahuluan by Bakok

-Geomorfologi & Geologi Struktur by Fachri

-Stratigrafi & Peta Regional by Juliandri

-Jurnal st. 1-3 by Raditya

-Jurnal st. 4-6 by Girlly

-Interpretasi by Yosha and Zaki

-Kesimpulan & Editing by Girlly

and Spirit by All :)



thank you for reading, readcasting, and downloading this school work which has so many mistakes. hope the critic and suggestion for the our better paper :)

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Giegie Marchlina Listyono on Jan 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2014

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
1
Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi dan sejarahnya, serta proses-proses yang terjadi di dalamnya . Geologi juiga mempelajari fenomena yang terjadi saat ini dan bagaimana proses yang mengakibatkan hal tersebut, melalui interpretasi bukti-bukti yang ada dan terekam di permukaan bumi ini. Dalam memahami ilmu-ilmu yang tercakup dalam geologi, seperti petrologi, mengikuti perkuliahan saja tidaklah cukup. Teori yang didapat diperkuliahan biasanya bersifat ideal, sedangkan pada pengaplikasiannya apa yang kita lihat tidak demikian. Pemahaman ilmu petrologi, menuntut secara langsung untuk dapat meneliti kenampakan objek-objek geologi yang terdapat dilingkungan. Karena itu, perlu dilakukan kuliah lapangan, khususnya dalam mendalami petrologi dengan kegiatan kuliah lapangan petrologi di Purwakarta dan sekitarnya .

1.2. Maksud dan Tujuan
Kuliah lapangan petrologi ini diadakan dengan maksud dan tujuan, diantaranya :

1. Membuktikan dan mengaplikasikan berbagai teori yang telah dipelajari dalam perkuliahan Petrologi, 2. Mengamati secara langsung berbagai macam batuan, 3. Menambah wawasan dan pengetahuan dan mengidentifikasi kondisi pembentukan suatu litologi .

1.3. Waktu
2
Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Kuliah lapangan ini dilaksanakan pada satu hari, yakni pada hari Sabtu 22 Desember 2012. Kegiatan ini dilaksanakan di daerah Purwakarta dan sekitarnya, Kabupaten Purwakerta, Provinsi Jawa barat. Kelompok kami berangkat pada pukul 07.30 dan tiba kembali di jatinangor pada pukul 16.00.

1.4. Lokasi
Lokasi penelitian berada di daerah utara sampai barat Purwakarta, Jawa Barat. Penelitian dilakukan di enam stasiun yang berbeda dan berdekatan di area tersebut. Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107o30′ - “ 107o40′ BT dan 6o25′ - 6o45′ LS. Secara administratif, Kabupaten Purwakarta mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
 

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur

Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor

3

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

4

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

2.1. Geomorfologi
Berdasarkan data yang diperoleh dari citra satelit (google maps), daerah penelitian berada pada ketinggian antara 400-500 m dpl (diatas permukaan laut). Satuan geomorfologi di daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan, yaitu Satuan Dataran Aluvial, Satuan dataran vulkanik, Satuan Perbukitan Kubah Intrusi dan Satuan Perbukitan Lipatan. Desa ini memiliki kenampakan geomorfologi berupa lembah yang dikelilingi oleh perbukitan vulkanik. Dapat pula dikatakan bahwa Desa ini agak mirip dengan daerah „Cekungan‟ Bandung yang dikelilingi oleh gunungapi yang merupakan hasil erupsi dari Gunung Sunda. Pola aliran sungai yang berkembang di daerah penelitian adalah pola sungai paralel dan pola sungai rektangular dan pola sungai radial. Batuan penyusun daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan batuan tidak resmi, urutan dari tua ke muda: Satuan Batulempung, menempati 30% dari luas keseluruhan peta peta. Satuan batulempung ini diendapkan dari Miosen Akhir hingga Pliosen Awal. Diperkirakan pada Pliosen terjadi aktivitas magmatisme di daerah penelitian yang menghasilkan intrusi yang menempati 20%, intrusinya adalah intrusi andesit (satuan andesit).intrusi ini memotong lapisan batulempung. Proses pembentukan satuan-satuan sebelumnya menghasilkan morfologi lembah di bagian tengah peta yang kemudian pada Plistosen diendapkan secara tidak selaras satuan Breksi Epiklastik yang menempati 45%. Erosi bekerja pada semua satuan ini, hingga kemudian terendapkan Satuan Aluvial secara tidak selaras di atas semua satuan yang ada, aluvial ini menempati 5 %. Gejala struktur pada daerah penelitian ada dua, yaitu antiklin yang kemudian disusul oleh pembentukan sesar mendatar menganan. Proses-proses deformasi ini diperkirakan terjadi pada Pliosen. Namun ada juga batuan penyusun yang berasal dari erupsi gunungapi yang membawa material vulkanik berupa tuff, dan juga aliran lava yang mengendap menjadi batuan. Secara geologi dapat dikatakan bahwa bentukan bentang alam diawali erupsi gunungapi pada zaman kuarter (formasi Jampang, berumur Pliosen atau 2-1 juta tahun yang lalu), yang membawa material vulkanik seperti tuff dan breksi vulkanik.

2.2. Geologi Struktur
Berdasarkan Zona Fisografis Jawa Barat, daerah penelitian termasuk kedalam Zona Bogor. Diketahui bahwa sebagian besar daerah Purwakarta memiliki litologi batuan vulkanik.

5

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Daerah tempat penelitian yang berada di wilayah kabupaten Purwakarta disusun oleh batuan vulkanik dimana ditemukan adanya satuan batuan Tuff, karena itu tanah yang berada di daerah daerah ini merupakan lapukan batuan vulkanik yang memiliki unsur hara yang tinggi sehingga sangat subur untuk wilayah pertanian dan perkebunan. Pola aliran sungai yang berkembang di daerah penelitian, yang umum mencirikan daerah mengalami perlipatan. Tahapan geomorfik pada daerah penelitian adalah tahapan geomorfik dewasa. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan terdapat empat satuan batuan tidak resmi di daerah penelitian, urutan dari tua ke muda satuan tersebut adalah Satuan Batulempung berumur Miosen Akhir yang diendapkan pada lingkungan Neritik Dalam – Neritik Luar, Satuan Batulempung – Batupasir berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal, yang menunjukkan lingkungan pengendapan Transisi. Kedua satuan ini disetarakan dengan Formasi Subang yang juga berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal. Kedua satuan ini mengalami deformasi pada Kala Pliosen yang menghasilkan lipatan-lipatan berarah Timurlaut-Baratdaya. Diatas kedua satuan tersebut diendapkan secara tidak selaras Satuan Lapili Tuf yang disetarakan dengan Hasil Endapan Gunungapi Muda yang diperkirakan berumur Pleistosen Akhir. Erosi bekerja pada semua satuan ini, hingga kemudian terendapkan Satuan Aluvial secara tidak selaras diatas semua satuan yang ada.

2.3. Stratigrafi
Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebihlanjut studi mengenai litologi(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luaspenyebaran lapisan batuan Batuan yang terdapat di kabupaten purwakarta terdiri dari batuan sedimen klastik, berupa batu pasir, batu gamping, batu lempung, batuan vulkanik (tuff, breksi vulkanik, batuan beku terobosan, batu lempung napalan, konglomerat dan napal ). Batuan beku terobosan terdiri dari andesit, diorite, vetofir, basal dan gabro. Batuan tersebut umumnya bertebaran di sebelah barat daya wilayah kabupaten purwakarta, Jenis batuan napal, batu pasir kuarsa merupakan batuan yang tertua di kabupaten purwakarta dengan lokasi sebaran di tepi Waduk Ir. H. Juanda dan batu lempung yang

6

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

berumur lebih muda (miosen) tersebar di wilayah barat laut bagian timur kabupaten purwakarta dan endapan gunung api tua yang berasal dari Gunung Burangrang, Gunung Sunda berupa tuf lava andesit basaltis, breksi vulkanik dan lahat. Pada bagian atas batuan ini di endapkan pula hasil erupsi gunung api muda yang terdiri dari batu pasir, lahar, lapili, breksi, lava basal, aglomerat tufan, pasir tufa, lapili dan lava scoria. Bahan galian yang terdapat di wilayah kabupaten purwakarta diantaranya adalah: batu kali, batu pasir, batu andesit, batu gamping, lempung, pasir, pasir kuarsa, sirtu, tras, posfat, barit, dan gips. Di kabupaten purwakarta terdapat beberapa formasi batuan, yaitu formasi jatiluhur, formasi subang, formasi citalang, dan beberapa alluvium. Batuan yang tertua smapai yang termuda sebagai berikut : formasi subang, formasi jatiluhur, formasi citalang, dan alluvium. Pada formasi subang (miosen awal) terdapat dua anggota, yaitu : formasi subang anggota batupasir dan formasi subang anggota batulempung. Pada formasi subang anggota batupasir terdiri dari, batupasir andesit, batupasir konglomerat, breksi, lapisan batugamping dan lempung, serta mengandung fosil Lepidocyclina. Dan pada formasi subang anggota batu lempung terdiri dari, batu lempung, kadang-kadang mengandung lapisan-lapisan batu gamping napalan yang keras, napal dan lapisan-lapisan batugamping abu-abu tua. Juga ada kadang-kadang sisipan batupasir glaukonit hijau. Mengandung fosil foraminifera. Menurut Tija (1963) tebal dari anggota batu lempung ini 2900m. Formasi yang kedua yaitu formasi jatiluhur (miosen awal-tengah). Pada formasi ini terdiri dari napal dan serpih lempungan, dan sisipan batupasir kuarsa, bertambah pasiran kearah timur. Bagian atas formasi ini menjemari dengan formasi klapanunggal. Formasi Klapanunggal (miosen awal-tengah) terdiri dari batugamping terumbu padat dengan foraminifera besar dan fosil-fosil lainnya termasuk moluska dan echinodermata. Formasi ini menjemari dengan formasi jatiluhur dan di bagian timur daerah ketebalannya mencapai 500 meter. Formasi yang selanjutnya yaitu formasi citalang (pliosen) terdiri dari batu pasir tufan berwarna coklat muda, lempung tufan, konglomerat, setempat ditemukan lensa-lensa batupasir gampingan yang keras. Di atas formasi citalang secara tidak selaras terdpat breksi terlipat yang terdiri dari breksi gunung api yang bersifat andesitic, breksi tufan, batu pasir kasar, batulempung tufan, dan grawwacke. Batuan ini berumur Pleistosen bawah. Dan produksi termuda dari dtratigrafi ini adalah endapan alluvium yang diendapkan di atas formasi-formasi lainnya.

7

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

2.4. Peta Geologi Regional Purwakarta

8

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

BAB 3 JURNAL

9

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Hari/Tanggal : 22 Des 2012 Koordinat : BT 107°26‟634” LS 06°36‟218” Stasiun : St. 1 Sketsa Lokasi

Cuaca : Berawan Waktu : 08.30 WIB Strike/Dip : N -° E /-° Lokasi Pengamatan : -

Oo
oo o

Deskripsi Konglomerat Warna segar abu-abu krem, warna lapuk abu-abu kekuningan, komposisi matriks 40% dan komponen 60% yang terdiri dari kerakal sampai bongkah, bentuk butir membundar tanggung sampai membundar, kemas tertutup, permeabilitas buruk, tidak karbonatan, matriksnya batupasir sedang berwarna abu-abu. Konglomerat pada bagian (a) berukuran komponen lebih kecil daripada konglomerat bagian (b) Batupasir Warna segar abu krem, warna lapuk abu-abu ukuran pasir kasar – sedang, bentuk butir membundar tanggung, tidak mengandung karbonat, permeabilitas baik, kekerasan mudah dicungkil, tidak karbonatan

10

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Hari/Tanggal : 22 Des 2012 Koordinat : BT 107°23‟204” LS 06°36‟244” Stasiun : St. 2 Sketsa Lokasi
Scale (m)

Cuaca : Cerah Waktu : 09.50 WIB Strike/Dip : N -° E / -° Lokasi Pengamatan : Structure / Fossils Lithology
Mud Sand Gravel

pebb

cobb

1 1 1

~~~~~ ~~

~~~~ ~

3 2 2

2 ~~~~ ~

Deskripsi Hornfels Warna lapuk hitam cokelat kehijauan, warna segar hitam, tekstur polimset, kemas blastoid termasuk dalam phelitic (lempung), struktur non-foliasi karena metamorfisme kontak. Batu pasir Warna segar abu kecokelatan, warna lapuk abu-abu krem, ukuran pasir kasar – sedang, bentuk butir membundar tanggung, tidak mengandung karbonat, permeabilitas baik, kekerasan mudah dicungkil, tidak karbonatan

11

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

c

f

gran

clay

boul

silt

vc

vf

m

Hari/Tanggal : 22 Des 2012 Koordinat : BT 107°23‟318” LS 06°36‟279” Stasiun : St. 3 Sketsa Lokasi

Cuaca : Cerah Panas Waktu : 11.30 WIB Strike/Dip : N -° E / -° Lokasi Pengamatan : -

Deskripsi Batuanbeku andesitik Warna segar abu-abu, warna lapuk abu-abu kemerahan, ukuran kristal afanitik, derajat kristalisasi hipokristalin, terbentuk sangat banyak kekar, bagian intrusi plutonik. Ukuran singkapan puluhan meter.

12

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Desember 2012 Koordinat : S 06o 36,238‟ E 107o 23,397‟ Stasiun : St. 4 Sketsa Lokasi

Cuaca : Cerah Waktu : 11.05 WIB Strike/Dip :Lokasi Pengamatan :
Structur e / Fossils Lithology Scale ( m)
Mud Sand Gravel

pebb

cobb

2

1

1
2

Deskripsi Batupasir Warna lapuk krem, warna segar krem keputih-putihan, bentuk butir rounded-sub rounded, ukuran butir sedang – halus, permeabilitas baik, kekerasan friable, tidak karbonatan, kontak ??. Batulempung Warna lapuk hitam keabu-abuan, warna segar hitam, tidak karbonatan, ukuran lempung, permeabilitas baik.

13

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

c

f

gran

clay

boul

silt

vc

vf

m

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Desember 2012 Koordinat : S 06o 37,084‟ E 107o 23,931‟ Stasiun : St. 5 Sketsa Lokasi

Cuaca : Cerah Waktu : 11.30 WIB Strike/Dip :Lokasi Pengamatan :
Structur e / Fossils Lithology Scale ( m)
Mud Sand Gravel

pebb

cobb

2 1

vvvv vvvv vvvv

Deskripsi Tuff Warna cokelat kemerahan sampai cokelat krem, ada kandungan mineral-mineral berwarna hitam menyerupai hornblend dan piroksen. Batupasir Warna segar krem, warna lapuk merah kecokelatan, ukuran kasar - sangat kasar, bentuk butir rounded-sub rounded, permeabilitas baik, kekerasan friable, tidak karbonatan

14

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

c

f

gran

clay

boul

silt

vc

vf

m

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Desember 2012 Koordinat : S 06o 37,132‟ E 107o 23,805‟ Stasiun : St. 6 Sketsa Lokasi

Cuaca : Cerah Waktu : 12.00 WIB Strike/Dip :Lokasi Pengamatan : Pasir Patapaan, Purwakarta

Deskripsi Batuanbeku dioritik Warna segar abu-abu terang, warna lapuk abu-abu kecokelatan, besar butir faneritik, derajat kristalisasi hipokristalin, kemas equigranular, mesocratik, terdapat mineral amphibole, biotit berukuran besar, dan aragonit, merupakan batuanbeku plutonik.

15

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

BAB iv INTERPRETASI

16

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Dari beberapa singkapan yang dikunjungi saat kulap,dapat diketahui bahwa daerah ini merupakan daerah lingkungan pengendapan sungai.Hal ini terlihat dari litologi batuan penyusun singkapan terutama singkapan pada stasiun 1 yang memiliki litologi konglomerat pada dasar sungai yang merupakan penciri kecepatan arus tinggi karena material material butir kasar cenderung terendapkan pada kondisi ini .Kemudian ,terdapat material material terdapat pola menghalus ke atas (Fining Upward) yang mencirikan terjadinya perlambatan dari arus yang mengendapkan namun pada bagian atas singkapan ,terdapat Batupasir Kerikilan yang menjadi indikator bahwa arus yang mengedapkan Batuan Sedimen pada singkapan ini kembali meningkat.diduga hal ini terjadi akibat terjadinya luapan air sungai yang membuat kecepatan aliran melambat namun proses luapan air sungai tidak berlangsung lama sehingga material halus hanya sampai Pasir sedang sampai Halus.Luapan air sungai ini disebut dengan istilah “Flash Flood” Pada stasiun 2 ini kita menemukan baking effect, yang disebabkan oleh intrusi. Akibat dari intrusi ini terjadi metamorfisme dari batulempung menjadi batu tanduk (Hornfels). Metamorfisme yang terjadi ini merupakan

metamorfisme kontak dan Hornfels ini memiliki Relic Structure (sifat dari batuan asalnya masih terlihat. Diduga intrusi ini merupakan bagian kecil dari sebuah batolit dibawah permukaan, akan tetapi hal ini masih belum bisa dibuktikan, masih dibutuhkan analisis lebih lanjut untuk mengetahui kebenarannya. Terutama analisis pada bidang geofisika. Pada singkapan ini terdapat batupasir sedang – halus yang merupakan bagian dari formasi citalang. Dan batulempung yang ada pada singkapan merupakan bagian dari formasi subang. Dapat kita lihat bahwa dari formasi subang dan citalang terjadi perubahan pada litologi, seperti yang sudah disebutkan diatas formasi citalang diendapkan pada lingkungan endapan sungai yang cenderung lebih kasar

17

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

endapannya. Sementara formasi subang diendapkan pada lingkungan laut yang cenderung mengendapkan material-material yang lebih halus. Stasiun 3 merupakan intrusi bagian dalam, litologinya merupakan batuan andesitik. Terdapat kekar-kekar pada batuan andesitik ini. Pembentukan kekarkekar ini diduga terjadi akibat pada proses pembekuan magma yang menyebabkan terjadinya pemuaian-pemuaian pada batuan andesitik ini, atau bisa juga karena deformasi tektonik ketika batuan ini sudah membeku. Pada batuan andesitik ini telah terjadi proses pelapukan karena terlihat warna kemerah-merahan pada batuan ini yang merupakan tanda dari proses oksidasi. Stasiun 4 pada stasiun ini terdapat bidang kontak paraconformity antara formasi subang yang berlitologi lempung dengan formasi citalang yang berlitologi batupasir sedang. Kontak ini diklasifikasikan sebagai paraconformity karena dia hampir selaras, dan selang pengendapan antara kedua formasi ini tidak terlalu jauh sehingga terjadi keselarasan antara dua batuan yang berbeda formasi ini dan tidak ditemukan erosi seperti pada bidang ketidak selarasan yang lain. Pada stasiun 5 ini ditemukan batupasir yang tergabung dalam formasi citalang yang mana diatasnya terdapat tuff yang sebagian telah mengalami proses oksidasi. Pada stasiun 6 terdapat intrusi batuan andesitik berupa diorit. Pada batuan ini ditemukan mineral amphibole, biotite, dan aragonite. Keterdapatan aragonite ini dapat menggolongkan batuan ini kedalam batuan carbonatite, yaitu batuan beku yang memiliki kandungan mineral carbonat terutama aragonite dan amphibole beserta biotite merupakan mineral aksesori dari jenis batuan ini. Pada singkapan ini juga terdapat xenolith yaitu sebuah fragmen batuan asing yang terdapat pada batuan lain. Xenolith dapat berupa batuan apapun yang berusia lebih tua dari batuan yang mengintrusinya. Xenolith yang terdapat pada

18

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

singkapan ini berasal dari batulempung yang merupakan bagian dari formasi subang. Dari interpretasi tiap-tiap singkapan pada kuliah lapangan ini litologi yang umum pada daerah ini adalah batupasir yang berukuran bervariasi mulai dari kasar sampai halus dan konglomerat, yang merupakan endapan sungai dari formasi citalang. Hal ini terlihat dari pemilahan butir-butir sedimennya yang berukuran sedang sampai buruk. Selanjutnya terdapat batulempung dari formasi subang. Hal unik yang kami temukan dari formasi subang ini adalah kemungkinan besar formasi subang diendapkan diwilayah yang mengalami proses vulkanisme yang terlihat dari terjadinya proses metamorfisme kontak . Hal ini dapat dibuktikan melalui ditemuinya metamorfisme batu tanduk yang berasal dari lempung dan xenolith lempung. Dapat diduga daerah ini juga merupakan daerah subduksi, karena batuan beku andesitik biasa terbentuk didaerah yang mengalami subduksi (arc andesite). Dan kemungkinan besar proses subduksi ini berhubungan erat dengan proses vulkanisme Gunung Burangrang dan Gunung Api Sunda. Berdasarkan data Stratigrafi,terdapat 4 formasi batuan di daerah kabupaten Purwakarta berikut urutan nya dari yang tertua sampai ke yang muda: formasi subang, formasi jatiluhur, formasi citalang, dan alluvium.Pada daerah Kuliah Lapangan ,ditemukan 2 formasi batuan yaitu formasi Subang yang berlitologi batupasir andesit, batupasir konglomerat, breksi, lapisan batugamping dan lempung yang berumur Miosen Awal dan formasi Citalang yang berumur Pliosen yang berlitologi batupasir tufan berwarna coklat muda, lempung tufan, konglomerat, ditemukan juga lensa-lensa batupasir gampingan yang keras.Di lokasi kuliah lapangan,Formasi Citalang ditemukan pada stasiun 1 berupa Konglomerat yang menghalus ke atas menjadi Batupasir halus namun kembali mengkasar menjadi Batupasir Kerikilan .Salah satu Bukti bahwa

19

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Formasi Subang diendapkan terlebih dahulu dibanding formasi Citalang dapat dilihat pada stasiun 2 dan 4 ,namun hal ini terlihat jelas pada Stasiun 4 dimana Formasi Citalang diendapkan tidak selaras di atas formasi subang membentuk kontak Paraconformity .Pada Stasiun 5,terdapat Tuff yang diendapkan tidak selaras diatas batupasir kasar fomasi Citalang yang diperkirakan berbeda masa aktivitas vulkanisme nya dengan aktivitas vulkanisme yang menyebabkan terjadinya Intrusi Andesitik pada daerah di sekitar stasiun 2,3 dan stasiun 6.Hal ini terlihat dari terdapat nya Xenolith Lempung pada stasiun 6 dan Kondisi Batupasir Citalang pada Stasiun 2 yang tidak mengalami proses Metamorfisme .Hal ini menunjukan bahwa Intrusi Batuan Beku Andesitik diperkirakan terjadi setelah Pengendapan Formasi Subang dan Sebelum Formasi Citalang diendapkan.Dari yang sudah diuraikan di atas maka dapat diketahui bahwa Urutan Pembentukan Batuan pada lokasi Kuliah Lapangan adalah sebagai berikut:Batulempung Formasi Subang (Stasiun 2 dan 4),Intrusi Batuan Andesit (Stasiun 2,3 dan 6) ,Batuan Metamorf Hornfels (Stasiun 2) ,Batupasir dan Konglomerat Formasi Citalang (stasiun 1 ,2 dan 4) dan Tuff (Stasiun 5) .hal ini sesuai dengan data Geologi Regional dimana Formasi Citalang diendapkan setelah Formasi Subang ( Formasi Jatiluhur yang diendapkan sebelum Formasi Citalang tidak tersingkap pada daerah kuliah lapangan) dan batuan sedimen Vulkaniklastik berupa Tuff terendapkan secara tidak selaras diatas formasi Citalang .

20

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

BAB v KESIMPULAN

21

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

Dari kuliah lapangan Petrologi ini, dapat diperoleh beberapa hal diantaranya: - Kabupaten Purwakarta terdiri dari beberapa formasi batuan, yaitu formasi jatiluhur, formasi subang, formasi citalang, dan beberapa alluvium. Batuan yang tertua smapai yang termuda sebagai berikut : formasi subang, formasi jatiluhur, formasi citalang, dan alluvium.

- Tahapan geomorfik pada daerah penelitian adalah tahapan geomorfik
dewasa.

- Secara geologi dapat dikatakan bahwa bentukan bentang alam diawali erupsi gunungapi pada zaman kuarter (formasi Jampang, berumur Pliosen atau 2-1 juta tahun yang lalu), yang membawa material vulkanik seperti tuff dan breksi vulkanik.

22

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

DAFTAR PUSTAKA
 http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdladisuprapt-25291  http://asrulsmile.blogspot.com/2011/06/profil-wilayah-daaerahpurwakarta-desa.html  http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdltaufandwin-22634  Ahmad Qusyairi, Ihsan. 2012. “Evaluasi Potensi Dayatarik…”. Universitas Pendidikan Indonesia. Repository.upi.edu  Zakaria, Zulfiadi & Edi Tri Haryanto. “ Potensi tanah mengemban di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat”. Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran.  http://earthfactory.wordpress.com/2009/06/18/fisiografi-regional-jawabagian-barat-van-bemmelen/  http://www.scribd.com/doc/54615922/nama-formasi-2-2  http://earthfactory.wordpress.com/2009/06/18/fisiografi-regional-jawabagian-barat-van-bemmelen/  http://en.wikipedia.org/wiki/Flash_flood  http://www.conservapedia.com/Paraconformity  Raymond, A. Loren . 2002. Petrologi : the study of igneous sedimentary and metamorphic rocks. McGraw hill  Whitten, D. G. A. 1978. The penguin dictionary of geology. Penguin books  Nichols, gary. 1999. Sedimentology dan stratigraphy. Blackwell science  http://purwakartakab.go.id/posisi-geografis

23

Laporan Kuliah Lapangan Petrologi Kelompok 5 Geologi C Purwakarta, 22 Desember 2012.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->