STRATEGI PROGRAM KEAKSARAAN FUNGSIONAL SEBAGAI SALAH SATU MODEL PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

A. Latar Belakang
Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa adalah dilihat dari tingkat keaksaraan penduduknya, yaitu dimana kebutahurupan merupakan salah satu indikator untuk menetapkan tingkat pembangunan sumber daya manusia/Indek Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI). Berdasarkan hasil penilaian program pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2002, bahwa Indonesia tingkat HDI/IPMnya menduduki peringkat ke 110 di bawah Vietnam (109), Cina (96), Filipina (77), Thailand (70), dan Malaysia (59). Ini artinya di kawasan Asia Tenggara saja bangsa Indonesia menduduki peringkat terakhir dari negara-negara yang di survey oleh badan dunia tersebut. Hal tersebut sesuai berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000 bahwa penduduk Indonesia yang masih menyandang buta huruf ada sejumlah 18.682.765 orang, dimana sebanyak 5.956.462 orang berusia 10 – 44 tahun dan diantara angka tersebut 64,07 % adalah perempuan. Sebetulnya jumlah orang yang buta huruf tersebut merupakan modal potensial pembangunan bangsa, apabila dibina dan dididik atau dibelajarkan melalui program Keaksaraan Fungsional. Hal ini bukan berarti pemerintah dan masyarakat tidak memberikan pelayanan pendidikan pada mereka. Banyal hal yang mempengaruhi mengapa timbulnya sebagian masyarakat yang buta huruf, diantaranya : a. Tiap tahun masih banyak anak yang putus sekolah dasar kelas I, II dan III sehingga menjadi buta huruf kembali. b. Masih ada warga masyarakat yang karena berbagai hal, tidak dapat mengikuti sekolah terutama dikarenakan faktor ekonomi dan geografis. c. d. Adanya sebagian masyarakat yang buta huruf kembali dikarenakan kurang intensif dalam pemeliharaan keaksaraannya. Akibat resesi ekonomi yang melanda negara kita, mengakibatkan jumlah penduduk miskin bertambah jumlahnya, kemiskinan akan menimbulkan kebodohan dan rendahnya kedewasaan dalam berfikir dan bertindak, sehingga manfaat dan keyakinan akan pentingnya pendidikan (khususnya dalam membaca, menulis dan berhitung) terabaikan.

Bertolak dari permasalahan diatas. Undang Undang Nomor 20 tahun 2003.B. . yaitu “Program Keaksaraan Fungsional”. Dasar 1. Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah 4. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintag Daerah (Lembaga Negara Tahun 1999 Nomor 60. Agar pelaksanaan pemberantasan buta akasara ini dapat memenuhi hasil yang diharapkan. II dan III. Undang Undang No. Permasalahan yang sering dihadapi masyarakat tersebut diatas. terbelakang dan masyarakat miskin. penyelesaian buta huruf tersebut mutlak harus dituntaskan dan diprioritaskan. adalah : (1) ketidakpahaman tentang pentingnya pendidikan untuk kemajuan kehidupan (baik dibidang kesehatan. 3. keterbelakangan dan ketidakberdayaan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952) C. tentang Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. Sudjana (2000) mengkatagorikan masyarakat buta huruf masuk ke dalam dunia kelima setelah masyarakat miskin (dunia ke-4) dan masyarakat yang sedang berkembang (dunia ke-3). Botkin (1984) seperti dikutif dari D. Keputusan Mendikbud Nomor 055/U/2001. maka perlu dibentuk suatu program baru yang mampu menjembatani antara kebodohan (buta huruf) dan kemiskinan menjadi mampu baca. tulis. lingkungan hidup dan lain-lain) dan (2) penyelenggara program kesulitan untuk menarik perhatian dan melibatkan mereka dalam pelaksanaan program. tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah (Pusat) dan Daerah (Lembaran Nedara Nomor 206) 4. Usia diprioritaskan antara 10 sampai 44 tahun. Karena buta huruf erat kaitannya dengan masalah kebodohan. kemiskinan. HAM. 2. Sasaran dan Masalah di lapangan Sebagaimana diketahui sasaran pokok program keaksaraan fungsional adalah masyarakat yang buta huruf murni. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54. Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999. hitung dan sekaligus mampu berusaha mencari nafkah minimal untuk kehidupan dirinya dan keluarganya. demokratisasi. tentang Sistem Pendidikan Nasional. drop out SD kelas I. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 5.

dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan potensi yang ada dilingkungan sekitar warga belajar. Berdasarkan keterangan diatas. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini : PERBANDINGAN PENDEKATAN PROGRAM PAKET A PBH DENGAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL NO ASPEK PAKET A PBH 1 Asumsi tentang Dianggap BH WB  WB Pasif 2 Orientasi pelaksanaan KEAKSARAAN FUNGSIONAL Memiliki pengetahuan. E. diharapkan warga belajar dapat : 1. menulis dan berhitung serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan tarap hidup warga belajar 2. mendengar. masalah WB . maka disini akan dibahas beberapa perbedaan penyelenggraan antara program paket A PBH dengan program Keaksaraan Fungsional. ide dan informasi  WB lebih aktif  Berpusat pada buku & tutor  Pemenuhan minat dan kebutuhan belajar WB WB hanya menerima informasi  Tidak berorientasi pada pemecahan Program dilaksanakan berdasarkan ide. membaca. pengalaman. mengamati. cita-cita. untuk memecahkan masalah keaksaraannya. Menggali potensi dan sumber-sumber kehidupan yang ada di lingkungan sekitar warga belajar. berfikir. Pengertian Program Keaksaraan Fungsional Keaksaraan Fungsional adalah merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan warga belajar dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis. berhitung.D.pengetahuan.pengalaman. Meningkatkan pengetahuan membaca. Tujuan Melalui program keaksaraan fungsional ini.

dapat dilihat keunggulan dari program keaksaraan fungsional. sehingga diharapkan dapat mempercepat penuntasan buta huruf dan tidak akan terjadi masyarakat yang kembali buta huruf karena tidak memfungsikan keaksaraannya pada kehidupan sehari-hari.3 4 5 6 7 8 9 10 11 12  Ide dan minat WB tidak tersalurkan minat. F. kebutuhan dan belajar mencari  Menyalin informasi dari buku Paketsumber-sumber pemechan sendiri  WB menulis informasi dari pengalaman A sendiri Bahan belajar  Modul Paket A 1 s. Tingkat Keaksaraan Dasar / Tingkat Pemberantasan . Tingkat Keaksaraan Fungsional Ada tiga tingkatan dalam Keaksaraan Fungsional. disawah. yaitu : 1.d A 100  Dari kehidupan sehari-hari  Dari TBM/perpustakaan dan dari dinas instansi Daripengalaman/permasalahan/ucapan/ tulisan WB sendiri Kurikulum  Tersedia pada program (bukuBerdasarkan minat dan kebutuhan WB pelajaran) Dibuat bersama antara WB dan tutor Kegiatan menulis  Menyalin tulisan tutor / dari Menulis dari pikiran sendiri buku modul Menulis sesuai dengan kegiatan seharihari Kegiatan membaca  Dimulai dari abjad-suku kata- Dimulai dari informasi yang berasal kata-kalimat dari WB. di pudkesmas dll) Kegiatan Terpisah dengan kegiatan Keterampilan integral dengan keterampilan calistung calistung Jumlah  30-40 orang Maksimal 10 orang/kelompok WB/kelompok Sistem pelaksanaan  Top Down  Bottom-Up Tutor  Dilatih selama 3 hari  Dilatih selama 5 hari  Tugas tutor mengajar  Tugas tutor menjadi fasilitator Evaluasi  Keterampilan calistung Keterampilan calistung (berdasarkan pada buku paket )  Kemampuan fungsional Evauasi dilaksanakan sebelum. kemudian membelajarkan membaca kalimat-letak kata-suku katahuruf Kegiatan berhitung  Sesuai yang ada di buku modul  Disesuaikan dengan kegiatan seharihari ( dipasar. selama dan setelah proses Dari uraian perbedaan tersebut diatas. dikebun.

belum bisa merangkai kata dengan lancar dan belum mengerti arti sebuah kalimat (buta hurup murni). dan sumber-sumber pemecahannya yang berkaitan dengan situasi. 2. 2. masalah-masalah.Cirinya adalah bahwa WB belum mengenal semua huruf. guna mencari dan mengumpulkan informasi untuk kegiatan belajarnya. 1) tutor dan warga belajar mengunjungi masyarakat sekitar. G. organisasi atau kantor-kantor terkait. Untuk mengetahui konteks lokal tersebut di atas. kebutuhan. 4) mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan keliling. perlu dilakukan observasi lingkungan keaksaraan. Observasi lingkungan keaksaraan bertujuan untuk mencari potensi. masalah kenyataan yang ada pada warga belajar. tutor dalam merancang proses pembelajaran berdasarkan desain lokal yang bersumber dari minat. Tingkat Keaksaraan Mandiri / Tngkat Peletarian WB sudah mempunyai sikap untuk terus belajar secara mandiri. 3. tutor bersama warga belajar membuat kurikulum sendiri yang mudah dan . berdasarkan pada minat dan kebutuhan warga belajar berkaitan dengan potensi yang ada di sekitarnya. Desain lokal : penetapan kurikulum sendiri. kondisi. Kontek lokal : artinya kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. 3) mengunjungi instansi. Tingkat Keaksaraan Lanjutan / Tingkat Pembinaan WB sudah bisa menulis dan membaca secara sederhana tetapi belum lancar dikarenkan jarang digunakan pada kehidupan sehari-harinya. Prinsip Keaksaraan Fungsional Ada 4 prinsip utama dalam pendekatan pembelajaran melalui keaksaraan fungsional yaitu : 1. warga belajar. Tapi sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan pembelajaran.Dapat memecahkan masalah keaksaraannya yang dihadapi dan dapat mencari informasi serta nara sumber sendiri untuk mengembangkan kemampuannya. memanfaatkan Taman Bacaan Masyarakat sekitar. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk. 1998:13). Tutor dan warga belajar perlu mengobservasi lingkungan sekitarnya. 5) mengunjungi Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan 6) memanfaatkan bahan bacaan yang ada di rumahnya sendiri (Depdikbud. 2) mengujungi.

Proses kegiatan ini dapat dilakukan melalui kegiatan diskusi antara warga belajar dan tutor untuk menetapkan :1) pokok bahasan yang ingin dipelajari. Oleh karena itu hasil kegiatan diskusi ini harus dijadikan dasar dalam menyusun rencana belajar. Strategi Keaksaraan fungsional Dalam keaksaraan fungsional dikenal lima strategi pembelajaran yaitu : . dan memformulasikan ide atau informasi yang telah dimiliki warga belajar. menetapkan dan melaksanakan kegiatan belajar berdasarkan kebutuhan lokal.fleksibel berdasarkan kesepakatan bersama. tutor perlu membantu dan membimbing warga belajar dalam berdiskusi 4. 4) jadwal kegiatan pembelajaran. keinginan dan minat warga belajar itu sendiri. 4) membuat peta masalah lingkungan 5) membuat tabel tentang kegiatankegiatan warga belajar dan sebagainya. H. 1998:14). 3) langkah-langkah kegiatan yang perlu dilakukan. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh tutor dengan merangsang warga belajar untuk diskusi dengan cara: 1) membuat pertanyaan. prioritas pokok bahasan yang diinginkan. Penerapan hasil belajar : kriteria utama dalam menentukan keberhasilan pendekatan membelajaran keaksaraan fungsional dengan cara meningkatkan kemampuan dan keterampilan setiap warga belajar dalam memanfaatkan dan memfungsikan keaksaraan atau hasil belajarnya dalam kegaitan sehari-hari. Dari hasil belajar. 2) cara atau strategi pembelajaran yang akan digunakan. mereka diharapkan dapat menganalisis dan memecahkan masalah untuk meningkatkan taraf hidupnya. yang intinya adalah bagaimana membantu warga belajar dan tutor mencari dan menulis informasi untuk menyusun. Dalam hal ini. menyimpulkan. 3. maksudnya adalah bagaimana cara melibatkan warga belajar berpartisipasi secara aktif dalam mengumpulkan. dan 5) kesepakatan belajar mengajar antara tutor dan warga belajar (Depdikbud. 2) melakukan tanya jawab tentang pengalaman warga belajar. Kesimpulan yang dibuat warga belajar merupakan gambaran dari kebutuhan. menganalisis. Proses partisipatif : dalam proses pembelajaran harus melibatkan warga belajar untuk berpartisipasi secara aktif. Kurikulum dalam program keaksaraan fungsional adalah semacam rencana belajar. 3) menulis cerita atau pengetahuan lokal.

pada saatnya dapat . garis waktu dan Kalender kegiatan dengan tujuan untuk merangsang ide. khususnya di Kabupaten Majalengka kiranya terdapat hubungan yang signifikan dengan berbagai kekhawatiran masa depan yang mengancam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. 3. Program keaksaraan fungsional berfokus pada bagaimana cara masyarakat untuk menggunakan keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari. belajar melalui teknik pendekatan pengalaman berbahasa untuk membuat bahan bacaan berdasarkan ucapan warga belajar sendiri. I. Menulis : Tutor membantu warga belajar menulis berdasarkan pikiran / ide sendiri 4. seperti memasak. usaha dan lain-lain yang diminati warga belajar juga menerapkan pengetahuan dan informasi baru dalam memperbaiki situasi di rumah dan lingkungan. pengalaman yang sudah dimiliki warga belajar dan permasalahan yang ada di warga belajar. Warga belajar yang buta huruf murni. Dengan program keaksaraan fungsional merupakan perwujudan dari pemberdayaan masyarakat dalam mengoptimalkan berbagai sumber yang kita miliki. Penerapan dalam kegiatan (Aksi) : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan. menanam. 2. Diskusi BDPS (Belajar dari Pengalaman Sendiri) : Tutor dan warga belajar berdiskusi dengan menggunakan beberapa teknik seperti melalui pembuatan tabel. maka hal ini merupakan upaya antisipasi sekaligus menggali investasi dengan mencerdaskan masyarakat yang tertinggal baik di bidang pendidikan maupun di bidang usaha. pengetahuan.1. Kesimpulan Upaya pemberdayaan potensi masyarakat melalui program keaksaraan fungsional. menjahit. Langsung atau tidak langsung upaya tersebut mengandung kaitan dengan fenomena yang terjadi selama ini. peta. menganalisa dan menulis pengalaman mereka sendiri serta menulis rencana cara pembuatan proposal untuk mengajukan dana bantuan sebagai tambahan di bidang usahanya. tetapi mereka juga perlu meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan informasi dari bahan cetakan. sehingga dapat diungkapkan dengan baik. Masyarakat tidak hanya membaca informasi yang bersifat fungsional. Membaca : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan membaca yang bertepatan. 5. kelancaran dan pemahaman. Berhitung : Tutor membantu warga belajar meningkatkan keterampilan berhitung disesuaikan dengan kebiasaan di daerahnya dalam cara menghitung/usaha/jual beli yang disesuaikan dengan perhitungan modern (perkembangan jaman sekarang) dan membuat pembukuan sederhana.

PD Mahkota.menjadi paradigama baru dalam mengantisipasi pemberdayaan perekonomian nasional dan meningkatkan derajat bangsa dengan terkikisnya masyarakat yang buta huruf. kesadaran dari berbagai pihak khususnya masyarakat sekitar dimana kelompok belajar keaksaraan fungsional dibentuk. Hingga pada saatnya dapat meningkatkan potensi masyarakat bangsa dalam menghadapi perjuangan kehidupan masa depan yang diprediksi akan semakin berat dan penuh tantangan. partisipasi. Direktorat Pendidikan Masyarakat. Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan. DAFTAR PUSTAKA Pedoman Pelatihan Tutor Keaksaraan Fungsional (1998). Sudjana. Sihombing.. Umberto. SP. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktur Jendral Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga. Pemerintah Propinsi Jawa Barat Dinas Pendidikan Subdinas Pendidikan Luar Sekolah. H. Djudju. DR. Akhirnya syarat utama dan paling mendasar dari program keaksaraan fungsional ini.D. Ph. M. serta kebijakan pemerintah untuk terselenggaranya program keaksaraan fungsional di berbagai tempat (yang dianggap rawan / kantong buta huruf) sekaligus mengakomodasi “out come” hasil pendidikan tersebut sebagai manfaatnya. Wasliman Iim (2003}. Bandung.. Semoga. Nusantara Press. Dengan cara demikian diharapkan dapat mengeliminasi angka dan jumlah masyarakat yang buta huruf baik dikota maupun di pedesaan. Pengantar Manajemen Pendidikan Luar Sekolah. adalah antara lain harus adanya dukungan.Pd. . Pelaksanaan Pemberantasan Buta Aksara melalui Program Kegiatan Kejar Paket A Keaksaraan Fungsional pada Lokasi Raksa Desa. (1999). (1992). Suatu paradigma yang menawarkan alternatif investasi pengetahuan dan keterampilan melalui proses pembelajaran masyarakat dengan cara sistematis dan berkesinambungan.

Ph.Nanang. Meso maupun Mikro yang berjudul “ Strategi Program Keaksaraan Fungsional Sebagai Salah Satu Model Pemberantasan Buta Huruf”. Falah Production.Sudjana. H. PT Remaja Rosdakarya KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Illahi Robbi yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan. M. dimana salah satu programnya adalah melaksanakan program keaksaraan fungsional. Kesatu tulisan ini dikatakan sebagai salah satu model . Pendidikan Nonformal. Kedua. sehingga dapat menyelesaikan artikel yang berkaitan dengan Kebijakan dan Perencanaan Sisitem Pendidikan baik di bidang Makro. Bandung. DR (2002). Bandung. Namun program yang ini lain dari dua program diatas baik dilihat dari cara pembelajarannya maupun metode / strateginya. Ada dua alasan mengapa tulisan ini penyusun angkat kepermukaan. Djudju S. sesuai dengan basic dan latar belakang penyusun yang bergelut di dunia pendidikan non formal.Ed. karena sudah banyak program tentang cara pemberantasan buta huruf yang sudah dilaksanakan baik pada program Paket A PBH (Pemberantasan Buta Huruf) ataupun program Paket A OBAMA (Operasi Bakti Manunggal ABRI ). S.Pd. Fattah. . Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan.D (2004).

dalam tulisan ini masih banyak kekurangannya.Mudah-mudahan tulisan ini ada guna dan manfaat khususnya bagi penyusun umumnya bagi khalayak pembaca yang peduli terhadap pendidikan. i . Agustus 2004 Penyusun. Penyusun menyadari. Untuk itu saran dan pendapat sangat diharapkan guna perbaikan tulisan ini. Majalengka.

Kesimpulan ……………………………………………………… . Strategi Keaksaraan Fungsional I. Latar Belakang B. Sasaran dan Masalah dilapangan D. Dasar ……………………………………………… i ……………………………………………………… ……………………………………………………… 1 1 2 2 3 3 4 4 5 ……………………………………………………………… ……………………………… C.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ii A. Prinsip Keaksaraan Fungsional H. Tujuan ……………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… F. Pengertian E. Tingkat Keaksaraan Fungsional G.

ii Contoh Panjar Aksi Lampiran 1 KETERAMPILAN KERIPIK SINGKONG (topik) Sub Topik : “ Jenis Singkong dan Macam-macam Olahan Dari Bahan Singkong “ TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah materi ini disajikan diharapkan warga belajar dapat : 1. 2. Menghitung jumlah jenis singkong dan macam makanan terbuat dari singkong 4. Menulis dan membaca jenis singkong dan macam olahan makanan terbuat dari bahan singkong 5. Mengungkapkan jenis-jenis singkong yang tersedia di sekitar lingkungan warga belajar. Menunjukkan contoh jenis singkong dan macam-macam olahan makanan terbuat dari singkong WAKTU : 1 kali pertemuan 2 jam @ 60 menit (120 menit) LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN . Mengungkapkan macam olahan makanan terbuat dari bahan singkong 3.

Warga belajar mendiskusikan jenis-jenis singkong yang tersedia di lingkungan warga belajar Ajukan pertanyaan kunci : Jenis singkong apa saja yang ada disekitar kita ? b. Menulis . Warga belajar diminta untuk mengisi nama warga belajar dan jenis singkong serta jumlahnya pada tabel tentang jenis singkong yang dimilikinya. 3. Ajak warga belajar untuk mempetakan.1. mengungkapkan letak pohon singkong dan pemiliknya dengan menggunakan BDPS melalui teknik peta Ajukan pertanyaan kunci : Dimana saja pohon singkong yang ada ? milik siapa ? 2. Warga belajar diminta untuk menyebutkan jenis olahan makanan terbuat dari singkong dan menghitung jumlahnya. Berhitung a. Diskusi a. Contoh : JUMLAH JENIS SINGKONG YANG DIMILIKI WARGA BELAJAR NO 1 2 3 NAMA WARGA BELAJAR Bu Tuti Bi Tisna Bu Jurminah Jumlah Manihot JENIS SINGKONG JUMLAH b.

Tutor. tugaskan warga belajar lain untuk membimbingnya) 4. 200 Mengetahui. Penyelenggara.. 5.Tugaskan warga belajar untuk menuliskan jenis singkong dan jenis makanan olahan yang terbuat dari singkong (catatan : bila ada warga belajar yang sama sekali belum mampu menulis . …………. Aksi / Penerapan Tugaskan warga belajar untuk membaca contoh-contoh jenis-jenis singkong dan contoh-contoh olahan makanan yang terbuat dari singkong Pada peretemuan berikutnya praktek membuat kripik yang terbuat dari singkong. Membaca Tugaskan kepada setiap warga belajar untuk membacanya secara bergantian dengan suara yang nyaring . Rajagaluh. -------------------------- .

2. Pada awal masuk kejar tidak sama.Lampiran 2 o PENILAIAN KEMAMPUAN AWAL WB TUJUAN : Tutor memahami tentang konsep penilaian kemampuan WB. WB. Untuk itu tutor perlu menilai kemampuan awal setiap satu kejar DUA ASPEK YANG DINILAI : 1. Dalam . Keterampilan Dasar Kemampuan Calistung WB. mengisi formulir. Sebelum KBM dan memiliki kemampuan untuk menilai keterampilan dasar dan kemampuan fungsional. menulis surat dll. TINGKAT KEMAMPUAN WB. EP POKOK : Kemampuan WB. Kemampuan Fungsional WB dapat menggunakan keterampilan calistung dalam kehidupan sehari-hari Contoh : Menulis/mengisi kwitansi. membaca petunjuk.

. Tingkat Pelestarian - Mampu calistung tanpa bantuan dari orang lain Diterapkan pada kehidupan sehari-hari Dapat melatih WB lain. - Tingkat Pemberantasan WB masih buta huruf Keterampilana dasar belum ada 2. Tingkat Pembinaan - WB sudah bisa baca tulis hitung (calistung) secara sederhana Perlu peningkatan 3.1.

Harapan atau cita-cita setelah masuk kelompok belajar Keaksaraan Fungsional : ………………………………… ……………………………………………………………. pilan yang Diminati : …………………………. : ……………………………………. ……………………………………. : ……………………………………. Juli 2006 Warga Belajar. : ……………………………………. Rajagaluh. : ……………………………………. . : …………………………………….Lampiran 3 PENILAIAN AWAL KEAKSARAAN FUNGSIONAL 1. ……………………………………. lamin Anak n pilan yang Dimiliki : ………………………….. : ……………………………………. Nama Warga Belajar : ………………………………….. 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.