Memahami Pengertian Ijtihad

Ilustrasi pengertian ijtihad

Pemahaman dan pengertian ijtihad perlu diketahui oleh seorang muslim, agar tidak salah menentukan pilihan dan tidak salah menginterpretasikan Al-Quran dan hadis. Meskipun Al-Quran berisi pedoman hidup manusia, tidak berarti semua perintah dan peraturannya bersifat praktis. Oleh karena itu pengertian ijtihad banyak digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis.

Pengertian Ijtihad
Kata ijtihad secara harfiah berasal dari kata al-juhd, al-jahd, dan ath-thaqatyang berarti ‘kesusahan’, ‘kesulitan’, atau ‘kesanggupan’. Adapun Pengertian ijtihad secara terminologis adalah sebuah usaha dengan sungguh-sungguh untuk memutuskan hukum suatu masalah atau perkara yang belum atau tidak ada dasar hukumnya atau tidak dibahas dalam Al-Quran dan Hadis dengan menggunakan akal sehat serta pertimbangan yang sangat matang. Berbagai pengertian ijtihad: Secara terminologis, ijtihad bisa juga diartikan sebagai kesanggupan seorang ahli hukum Islam untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hukum atas suatu hal melalui dalil syara (agama). Ijthad dilakukan dalam berbagai bidang, seperti falsafat, muamalah, dan akidah. 2. Menurut Ibnu Hajib, ijtihad merupakan pengerahan segala kemampuan yang ada oleh seorang ahli fikih demi mendapat suatu dugaan kuat mengenai sebuah ketetapan syariah. 3. Menurut Dr. Wahbah az-Zuahily, ijtihad adalah suatu bentuk usaha untuk mengistimbatkan hukum syara dari dalil-dalilnya secara terperinci sehingga mudah diaplikasikan dalam kehidupan. 4. Menurut Imam al-Ghazali, ijtihad adalah sesuatu yang sifatnya lebih umum dari qiyas. Ini karena ijtihad kadang mengharuskan mujtahid (pelaku ijtihad) melakukan pemahaman nalar mendalam terhadap suatu lafaz umum dan dalil lain selain qiyas.
1.

Tujuannya agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa AlQuran dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Ijtihad sebaiknya dilakukan oleh orang yang mengerti serta paham dengan baik tentang Al-Quran dan hadis, hal ini dilakukan agar yang dihasilkan adalah sesuatu yang baik yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an juga hadis. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. secara lengkap dan sempurna mencakup seluruh alam beserta isinya. Akan tetapi tidak semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail dalam Al-Quran maupun hadis. Maka dari itu demi memenuhi

keperluan masyarakat atau umat manusia sebagai pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah diperlukan upaya Ijtihad. Al-Quran adalah landasan dasar ilmu dan bagi orang yang berakal boleh mengembangkannya. Akan tetapi kita tidak boleh menafsirkan Al-Quran dengan sekehendak hati dan melencengkan dari arti yang sesungguhnya, seolah Al-Quran ikut akal manusia padahal sesungguhnya akal-lah yang harus mengikuti Al-Quran. Maka dalam berijtihad hendaknya mencari kemiripan yang terdapat dalam Al-Quran atau yang mendekati dalam hadis. Selain tersebut di atas ada perbedaan keadaan pada saat diturunkannya Al-Quran dengan kehidupan setelahnya. Terlebih pada saat ini yang disebut dengan era modern, di mana setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan memerlukan peraturan peraturan baru dalam melaksanakan ajaran Islam yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Ijtihad – Sejarahnya
Ijtihad telah dilakukan oleh para sahabat sepeninggalnya Rasulullah dan diikuti ulama ulama hingga saat ini. Sebagai contoh Abu Bakar as-Siddiq, beliau apabila menemui perselisihan maka hal pertama yang dilakukan adalah merujuk kepada AlQuran. Jika tidak ditemukan maka ia menggunakan hadis nabi. Namun jika tidak ditemukan atau ragu dengan hukum yang didapat maka beliau mengumpulkan para sahabat untuk melakukan musyawarah. Apabila musyawarah telah dicapai mufakat beliau pun sepakat dengan pendapat yang dihasilkan dan memutuskan hukum sesuatu yang dipermasalahkan serta mengikutinya. Orang orang yang berijtihad ini disebut mujtahid.

Pengertian Ijtihad – Jenis-Jenisnya
Ada 6 jenis ijtihad yang masing-masing memiliki pengertian ijtihadnya sendiri. Inilah keenam jenis ijtihad tersebut: 1. Ijma Ijmak secara harfiah berarti ‘kesepakatan’ atau ‘setuju dengan suatu hal’. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis ijma adalah kesepakatan para mujtahid (orang-orang yang berijtihad) mengenai hukum suatu peristiwa yang terjadi saat Rasulullah wafat. Contoh ijma adalah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertaman selepas wafatnya Nabi Saw. Pada saat itu tidak semua muslim setuju dengan ide pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Akan tetapi setelah berijtihad, kaum muslim mencapai kata mufakat. 2. Qias

Istihsan Istihsan secara harfiah berarti ‘mencari yang baik’ atau ‘menganggap baik’. Sementara itu menurut istilah. 3. dan sebagainya yang ketika akad jual beli bendanya tidak ada. atau ‘menyamakan’. sewa menyewa. Contoh penerapan urf adalah halalnya jual beli tanpa mengucapkan ijab kabul secara lisan karena penjual dan pembeli sudah saling mengerti maksud satu sama lain tanpa harus dilisankan.Qias secara harfiah berarti ‘membandingkan’. pencetakan mata uang. yang tidak melanggar hukum Al-Quran dan hadis. seperti minuman keras. Urf Urf secara harfiah berarti ‘kebiasaan’. . 4. Contoh maslahah mursalah adalah pembentukan lembaga penjara. Narkoba adalah haram hukumnya. Contoh qias adalah penentuan hukum bagi narkoba. karena terdapat dalil yang mewajibkan umat muslim untuk meninggalkannya. Maslahah mursalah Pengertian ijtihad jenis maslahah mursalah adalah ketetapan ketika hukum syar’i tidak mengatur suatu kejadian. Sementara itu menurut istilah. Sementara itu menurut istiah. ‘mengukur’. maka hukumnya sama-sama haram. 6. Istishab Istishab secara harfiah berarti ‘pengakuan akan suatu hubungan’. 5. pemungutan pajak. pengertian ijtihad jenis istishab adalah penetapan hukum atas sesuatu dengan bercermin pada peristiwa sebelumnya karena belum ditemukannya dalil terkait peristiwa tersebut. tetapi tidak ada dalil yang melarang kejadian tersebut. pengertian ijtihad jenis urf adalah penetapan hukum mengenai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan tradisi. dan sebagainya. Contoh istihsan adalah ketika hukum melarang jual beli (ijab kabul) terhadap benda yang tidak ada dan belum diketahui wujudnya. para ulama berijtihad untuk memperbolehkan istihsan pada jual beli dengan pemesanan. pengertian ijtihad jenis qias adalah kesepakatan untuk menetapkan hukum atas sesuatu (kejadian atau benda) yang tidak ada dasar nashnya dengan membandingkan kejadian tersebut dengan kejadian yang sifat dan nilainya setara. Para mujtahid menyepakati bahwa narkoba memiliki sifat dan pengaruh yang sama dengan minuman keras. Sementara itu menurut istilah. pengertian ijtihad jenis istihsan adalah kesepakatan untuk meninggalkan hukum yang mengatur suatu peristiwa dan menggantinya dengan hukum lain dari peristiwa yang sama.

para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari suami istri yang menitipkan ke rahim perempuan lain. MUI menyatakan bahwa bayi tabung dari sperma dan ovum sepasang suami istri yang sah hukumnya mubah (boleh) karena hal ini merupakan ikhtiar yang berdasarkan agama. Para ulama telah merujuk kepada hadis-hadis agar dapat menemukan hukum yang telah dihasilkan oleh teknologi ini. Dalam Islam anak yang berhak mendapat warisan adalah anak kandung. Pasangan yang sulit mendapatkan keturunan berharap dapat memenuhi pemecahan masalah agar dapat memperoleh keturunan dengan cara ini. Alasannya karena akan menimbulkan masalah yang rumit di kemudian hari terutama soal warisan. Begitu juga dengan penentuan awal Ramadhan. Contoh lain adalah tentang bayi tabung. tentu hal ini membuat rumit. Demikianlah pengertian ijtihad yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah dan para ulama sampai saat ini yang tetap mencari rujukan terlebih dahulu dari Al-Quran dan hadis Nabi Saw. pada zamannya Rasulullah teknologi bayi tabung belum ada. jika demikian bagaimana status hubungan anak dari hasil titipan tersebut? Dikandung tetapi bukan milik sendiri. Di Indonesia. Dalam kasus tersebut. apabila telah ketemu kesepakatan ditentukanlah 1 Syawal itu. Masing-masing ulama memiliki dasar hukum dan cara dalam penghitungannya. Allah sendiri mengajarkan kepada manusia untuk selalu berusaha dan berdoa. Lantas ia menetapkan hukum berdasarkan peristiwa yang sama sebelumnya. Pengertian Ijtihad – Contoh Kasusnya Salah satu contoh ijtihad yang sering dilakukan untuk saat ini adalah tentang penentuan tanggal 1 Syawal. Sementara itu. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan Anda seputar penetapan hukum dalam Islam. para ulama berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan argumen masing-masing untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal. Akhir-akhir ini bayi tabung dijadikan solusi oleh orang yang memiliki masalah dengan kesuburan. jika ada yang demikian maka hal ini memiliki hukum haram. . Wallahualam. jadi hanya sekadar pinjam tempatnya saja.Contoh penerapan istishab adalah ketika mujtahid harus mencari tahu hukum tentang sebuah perjanjian tetapi ia tidak menemukan jawabannya.

Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Ijma dan Qiyas sifatnya darurat. manfaat. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya . yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. Jenis-jenis ijtihad Ijma' Ijma' artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi. Qiyâs Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab. pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan turunan dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnya. Fungsi Ijtihad Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap. Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist.IJTIHAD Ijtihad (Arab: ‫ )اج تهاد‬adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh. Dalam Islam. yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Hasil dari ijma adalah fatwa.

Istishab Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih). Sududz Dzariah Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat. 2. Istihsân  Beberapa definisi Istihsân 1. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya. berdasarkan titik persamaan di antara keduanya. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya.. Urf Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis. hanya karena dia merasa hal itu adalah benar. 2. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan. . 5. melalui suatu persamaan di antaranya. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya. untuk maslahat orang banyak. 4.. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam [AlQur'an] atau [Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh). Beberapa definisi qiyâs (analogi) 1. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya 3. Maslahah murshalah Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan. 3.

secara komprehensif karena memerlukan penelaahan dan pengkajian ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan. Oleh karena itu diperlukan penyelesaian secara sungguh-sungguh atas persoalan-persoalan yang tidak ditunjukan secara tegas oleh nas itu. Para ulama bersepakat tentang pengertian ijtihad secara bahasa berbeda pandangan. Ijtihad diperlukan untuk menumbuhkan ruh islam dan berperan sebagai penyalur kretifitas pribadi. mengenai pengertiannya secara istilah muncul belakangan. Dilihat dari fungsinya ijtihad berperan sebagai penyalur kretifitas pribadi atau kelompok dalam merespon peristiwa yang dihadapi sesuai dengan pengalaman mereka. Ijtihad juga berperan sebagai interpreter terhadap dalil-dalil yang zhanni al-wurud atau zhanni ad-dalalah. sedangkan penjelasannya banyak diterangkan dan dilengkapi oleh Sunnah secara komprehensif. .IJTIHAD ISLAM SEBAGAI SUMBER AJARAN BABI PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang berlaku abadi dan berlaku untuk seluruh umat manusia mempunyai sumber yang lengkap pula. Seperti diketahui bahwa Al-Qur‟an adalah merupakan sumber ajaran yang bersifat pedoman pokok dan global. yaitu pada massa tasyri dan massa sahabat. Maka untuk itu ijtihad menjadi sangat penting. Sebagaimana diuraikan di awal bahwa sumber ajaran islam adalah Al-Qur”an dan Sunnah yang sangat lengkap. A. Kata ijtihad terdapat dalam sabda Nabi yang artinya “pada waktu sujud” bersungguh-sungguh dalam berdo‟a. LATAR BELAKANG Mengingat pentingnya dalam syari‟at Islam yang disampaikan dalam Al-Qur‟an dan Assunah. Ijtihad mempunyai definisi dan mempunyai landasan serta dasar-dasar dan mempunyai hukum dan mempunyai unsur-unsur. memerlukan penelaahan dan pengkajian ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan.

Ahmad bin Ahmad bin Ali Al-Muqri Al-Fayumi (t. Kata inipun berarti kesanggupan (Al-Wus). Arti etimologi ijtihad adalah: ‫عثازج عٍ انستفساغ فً اٌ فعم‬ . dan muhkam-mutasyabih. Sementara itu.” Menurut Asy-Syaukani (t. mutlaq-muqayyad. kekuatan (Al-Thaqah). Kata ijtihad secara bahasa. Oleh karena itu. Didalam keduanya terdapat lafadz yang „am-khash. memerlukan penelaahan dan pengkajian ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan.Dan ijtihad tidak membatasi bidang fikih saja dan banyak para pendapat ulama mempersamakan ijtihad dengan qiyas. BAB II IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM Syariah islam yang disampaikan dalam Al-Qur‟an dan Sunnah secara komprehensif.th: 112) menjelaskan bahwa ijtihad secara bahasa adalah: ّ‫ترل وسعّ وطاقتّ فً طهثح نيثهػ يجهىدِ ويصم انً َهايت‬ ”pengesahan kesanggupan dan kekuatan (mujtahid) dalam melakukan pencarian sesuatu. nash Al-Qur‟an dan Sunnah telah berhenti. A.th:250). PENGERTIAN IJTIHAD Secara bahasa ijtihad berasal dari kata ja-ha-da. padahal waktu terus berjalan dengan sejumlah peristiwa dan persoalan yang datang silih berganti (Al-wahyu qad intaha wal Al-Waqa‟ ila yantahi). diperlukan usaha penyelesaian secara sungguh-sungguh atas ijtihad menjadi sangat penting. Ahmad bin Ahmad bin Ali AlMuqri Al-Fayumi. yang memerlukan penjelasan. kita sebagai umat Islam dituntut untuk keluar dari kemelut itu yaitu dengan cara melaksanakan ijtihad. supaya sampai pada ujung yang ditujunya. dan berat (Al-Masyaqqah). Adapun dasar hukum itu sendiri adalah Al-Qur‟an dan Assunah. Maka dari itu karena banyak persoalan di atas. nasikh mansukh.

”Pembicaraan mengenai pengarahan kemampuan dalm pekerjaan apa saja secara bahasa. Menurut Al-Amidi yang dikutip oleh Wahbah Al-Zuhaili (1978-480) Ijtihad adalah: ‫استفسغ انىسع فً طهة انظٍ يٍ االحكاو انشسعيح‬ “Pengerahan segala kemampuan untuk menentukakn sesuatu yang zhoni dari hukumhukum syara‟ ”. bidang hukum yang berkenaan dengan amal. Dari definisi ijtihad seperti digambarkan diatas terlihat beberapa persamaan dan perbedaan. Definisi ijtihad di atas secara tersirat menunjukkan bahwa ijtihad hanya berlaku pada bidang fiqih. Menurut Abu Zahrah secara istilah arti ijtihad adalah: ‫ترل انفقيّ وسعح فً استُثاط االحكاو انعًهيح يٍ ادنتها انتفصهيح‬ ”Upaya seseorang ahli fiqih dengan kemamapuannya dalam mewujudkan hukum-hukum amalaiah yang diambil dari dalil-dalil yang rinci”. Bukan bidang pemikiran. arti ijtihad dalam artian ja-ha-da terdapat di dalam Al-Qur‟an surat An-Nahl (16) ayat 38. Harun Nasution menjelaskan bahwa pengertian ijtihad hanya dalam lapangan fiqh adalah ijtihad daslam pengertian sempit. atau juga berarti berlebihan dalam bersumpah (Al-Muhalaghat fi al-yamin). pengertian ijtihad secara istilah muncul belakangan. tasyawuf dan filsafat. surat An-nuur (24) ayat 53 dan surat Fathir (35) ayat 42. Dalam arti luas menurutnya ijtihad juga berlaku dalam bidang politik. kata ijtihad terdapat dalam sabda Nabi yang artinya: “pada waktu sujud” dan hadist lain yang artinya “rosul Allah SAW para ulama bersepakat tentang pengertian ijtihad secara bahasa. . yaitu pada masa tasy‟i dan masa sahabat. Dalam sunnah. Menurut Fakhruddin ijtihad adalah pengarahan kemampuan untuk memikirkan apa saja yang tidak mendatangkan celaan. Harun Nasution. akidah. Sebagian ulama ada yang memmpersamakan ijtihad dengan Qiyas. Ibrahim Abbas Al-Dzarwi ( 1983 : 9 ) mendefinisikan ijtihad.” Semua kata itu berarti pengerahan segala kemampuan dan kekuatan (badzl al-wusy‟i wa al-thaqah). Ijtihad berkenaan dengan dalil zhoni berbeda dengan Husen. ada pula yang mepersamakan dengan ra‟y.

B. Metode ini berdasarkan asumsi bahwa Rasulullah SAW. yaitu sebagai berikut: 1.tth:199-200) . ada baiknya dijelaskan dulu menurut hukum ijtihad.Perbedaanya adalah pertama terletak pada penggunaan bahasa. hukum yang dihasilkan bersifat Zhanni.t. Kedua. Adapun persamaannya adalah pertama. Diantara ayat Al-Qur‟an yang menmmjadi dasar ijtihad: adapun Sunnah yang menjadi dasar ijtihad diantaranya Hadits Amr bin Ash yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari. 4. Muslim. Kedua. Mujtahid fih ialah hukum-hukum syari‟ah yang bersifat amali (taqlifi). Muslim dan Ahmad yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: ‫اذا حكى انحاكى فاجتهد فاطاب فهّ اجساٌ واذا حكى فاجتهد ثى اخطأ فهّ اجس واحد‬ “apabila seorang hakim menetapkan hukum dengan berijtihad kemudian dia benar maka ia mendapatkan dua pahala. Metode mangkuli (dari Al-Qur‟an dan Sunnah) yaitu metode yang mengikuti (Ittiba‟) sebagian lagi menggunakan metode ma‟kuli (berdasarkan Ra‟y dan akal). Ketiga. SYARAT-SYARAT MUJTAHID Syarat-syarat yang harus dimiliki seorang mujtahid ialah orang yang mampumelakukan ijtihad melalui cara istimbath (mengeluarkan hukum dari sumber hukum syari‟at dan tathbiqh / penerapan hukum) Syarat-syarat mujtahid. C. (HR. jika ia menetapkan hukum dalam ijtihad itu salah maka ia mendapatkan satu pahala” . Akan tetapi. terletak pada subjek ijtihad dinisbatkan kepada kata mujtahid yang berkonotasi bahwa lapangan ijtihad itu tidak hanya bidang fiqh. terletak pada metode ijtihad. DASAR-DASAR IJTIHAD Dasar hukum ijtihad adalah Al-Qur‟an dan Sunnah. 11. Mujtahid yaitu orang yang melakukan ijtihad yang mempunyai kemampuan intuk berijtihad dengan syarat-syarat tertentu 3. Dalil syara‟ untuk menentukan suatu hukum bagi mujtahid fih (Nadiah Syafari al-umari t. Al-Waqi‟ yaitu adanya kasus yang terjadi atau diduga akan terjadi yang tidak diterangkan oleh nas 2.th :62). objek ijtihad berkisar seputar hukum taklifi yasitu hukum dengan amaliah ibadah.

Berbeda dengan syarat-syarata terdahulu.th: 250-252) menyodorkan syarat-syarat mujtahid sebagai berikut. Mengetahui nasikh-mansukh sehingga tidak berfatwa berdasarkan dalil yang sudah mansukh. sebagai penjelasn Al-Qur‟an juga ditulis dalam bahasa arab. 2. 5. Menegtahui ijma‟ dan iktilaf.th: 250-2) adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui bahasa arab karena Al-Qur‟an dan Sunnah disusun dalam bahasa arab. 1. Mengetahui makna-makna lafadz dan rahasianya. Jumlah ayat-ayat hukum didalam Al-Qur‟an sekitar 500 ayat. Mengetahui ilmu Ushul Fiqh. 5.an diturunkan dalam bahasa arab. Mengetahui maqoshid As Syariah. Menegetahui kiyas . membahas dasar-dasar serta hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad. 6. Adapun syarat-syrat mujtahid yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah (t. Muhammad bin Umar bin Al Husin Ar Razi (1988:496-7) syarat-syarat adalah sebagai berikut: 1. 4. Mengetahui keadaan lafadz. Mengetahui ijma‟ sehingga tidak berfatwa atau berpendapat yang menyalahi ijma ulama. 2. 3. Mukalaf. apakah memiliki Qorinah atau tidak. Mengetahui keadaan mukhatab yang merupakan sebab pertama terjadinya perintah atau larangan. karena hanya mukalaflah yang mungkin dapat melakukan penerapan hukum. As Sunnah. 2. Mengetahui nasikh-mansukh dalam Al-Qur‟an. perkataan maupun penetapan.Menurut fakkhr ad-din. 4. baik perbuatan. Mengetahui Sunnah. . 3. Mengetahui Al-Qur‟an dan Sunnah yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. 3. Mengetahui bahasa arab karena Al-Qur. Muhammad bin „Ali bin Muhammad As Syaukani (t. 4.

seperti nahwu. 5. Mengetahui maqoshid As Syariati dalam penerapan hukum. 8. Memilki pemahaman yang tepat (Syihah Al Fahm) yang karenanya mujtahid dapat memahami ilmu Mantiq. dan bayan. Mengetahui kiyas dan syarat-syarat yang disepakati karenas kiyas merupakan salah satu metode ijtihad. . Memilki niat. 3. Mengetahui ilmu bahasa arab. ma‟ani. Mengetahui makna ayat-ayat hukum yang terdapat didalam Al-Qur‟an baik secara bahasa maupun secara istilah. Mengetahui nasikh-mansukh baik dari Al-Qur‟an maupun Sunnah. 2. Mengetahui ilmu Ushul Fiqh karena didalamnya dibahas dasar-dasar dan rukun-rukun ijtihad. Mengetahui ijma‟ sehingga tidak berfatwa atau berpendapat yang menyalahi ijma‟ terdahulu. 4. Menurut Muhaimin dkk (1994: 198-199) mujtahid terbagi menjadi beberapa tingkatan: Mujtahid Mutlaq dan Mujtahid Mazhab  Mujtahid mutlaq ialah mujtahid yang mampu menggali hukum-hukum agama dari sumbernya Mujtahid mutlaq terbagi menjadi beberapa tingkatan. karena mujtahid wajib menetahui rahasia-rahasia hukum disamping dilalat Al-Alfazh (penunjukan maknamakna lafadz). karena AlQur‟an dan Sunnah disusun dalam bahasa arab.7. rincian hukum banyak dijelaskan dengan cara tersebut. 8. tingkatan itu ialah mujtahid mutlaq mustaqil dan mujtahid madzhab. Wahbah Al Juhaili (1977 : 487-492) mengajukan syarat-syasrat mujtahid sebasgai berikut: 1. 6. sharaf. Syarat-syarat yang diajukan oleh Abu Zahrah.  Mujtahid mutlaq mustaqil yaitu mujtahid yang dalam ijtihadnya menggunakan metode dan dasar yang ia susun sendiri. Mengetahui makna hadits-hadits hukum secara bahasa maupun istilah. 7.

atau ditanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan hukum Syara‟. persoalan-persoalan yang tergolong ma‟ulima min ad din bi „al dhoruroh diantaranya kewajiban shalat lima waktu. Adapun hukum yang diketahui dari agama secara dharudoh dan bid‟ah (pasti benar berdasarkan pertimbangan akal). LAPANGAN IJTIHAD (MAJAL AL-IJTIHAD) Wilayah ijtihad atau majal al ijtihad adalah masalah yang diperbolehkan penetapan hukumnya dengan cara ijtihad itu. maka hukum ijtihad bagi orang itu bisa wajib „ain. Imam Syafi‟i dan Imam Hambali. Contoh. Pertama. Contohnya. Imam Malik. sesuatu yang ditetapkan berdasarkan dalil zhanni Ats-Tsubut wa Al-Adalah atau salah satunya (Zhanni Ats Tsubut atau Zhanni Al Adalah). Abu Jafar al tahtawi dalam madzhab Hanafi. Pertama. Wahbah az zuhaili (1978:497) menjelaskan bahwa lapangan ijtihat itu ada dua. Tampaknya untuk masa sekarang ini akan sulit terpenuhi. Kedua. tergantung pada kapasitas orang tersebut. ia menggunakan keterangan imammnya untuk meneliti dalil-dalil dan sumber-sumber pengambilannya. Mujtahid tarjih atau bisa disebut dengan mujtahid fatwa. Kelompok mujtahid ini terbagi dua: 1. dan 2. D.Empat tokoh madzhab fiqh terkenal seperti Abu Hanifah. jika seorang muslim dihadapkan kepada suatu peristiwa. Dalil qoth‟i al subut wal dalalah tidaklah termasuk lapangan ijtihad. wajib kifayat. bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mujtahid yang dimintai fatwa hukum atas suatu peristiwa yang terjadi dan ia khawatir peristiwa itu akasn hilang begitu saja tanpa kepastian hukumnya maka hukum ijtihad menjadi wajib „ain. tetapi juga dapat dilakukan secara kelompok (ijtihad jama‟i). Al. sunnat atau haram. Artinya sekelompok ulama dengan disiplin ilmu yang berbeda secara bersama-sama melakukan ijtihad. sesuatu yang tidak dijelaskan samasekali oleh Allah dan Nabi dalam Al-Qur‟an dan Sunnah (ma la nasha fi ashlain). Mujtahid tahkrij. Kedua mujtahid mutlaq muntasib yaitu mujtahid yang telah mencapai derajat mutlaq mustaqil tetapi ia tidak menyusun metode tersendiri.Muzami dari madzhab Syafi‟i dan Al-Hasan bin Ziad dari madzhab Hanafi mujtahid fi – al madzhab ialah mujtahid yang mampu mengeluarkan hukum-hukum agama yang tidak atau belum di keluakan oleh madzhabnya itu. puasa pada bulan Ramadhan. E. oleh kaena itu ijtihad tidak hanya dapat di lakukan oleh perorangan (ijtihad faridah). Secara lebih jelas. HUKUM IJTIHAD Ulama berendapat. .

Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pejaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan (QS. IJTIHAD NABI MUHAMMAD SAW Pembicaraan mengenai ijtihad Rasululloh SAW di kalangan para ulama ternyata sangat pelik dan berbelit-belit. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS. sesungguhnya pada yang dmikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati (QS. Yusuf {12}: 111). Al-Hayr{59}: 2). (Wahbah Al Juhaili 1978:498-9 dan Muhaimin dkk. Pertama. ahli kalam. Al-Imran {3}: 13). Ketiga. 1994:189).Kedua. bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mutahid yang dimintai fatwa hukum atas suatu peristiwa yang terjadi maka hukum ijtihad menjadi wajib kifayat. Artinya. baik dalam Al-Qur‟an maupun Sunnah. jika semua mujtahid tidak ada yang melakukan ijtihad atas kasus tersebut. hukum ijtihad menjadi haram jika dilakukan atas peristiwa yasng sudah jelas hukumnya secara qath‟i. kebanyakan pengikut As Syariah. maka semuanya berdosa. Akan tetapi perbedaan pendapat mereka mengenai ijtihaj Rasulullah SAW dalam hukum agama (wahbah al zuhaili 1978:499. atau ijtihad atas peristiwa yang hukumnya telah ditetapkan secara ijma‟. Keempat. Dalam menanggapi ijtihad dalam hukum agama ulama berbeda pendapat. Ketiga. beliau khawatir peristiwa itu lenyap begitu saja. Sebaliknya jika salah seorang dari mereka melakukan ijtihad atas kasus tersebut maka yang lainnya tidak berdosa. F. Berikut dalil-dalil yang dikemukakan kelompok pertama. hukum berijtihad menjadi sunnat jika dilakuakn atas persoalan atau kejadian yang tidak atau belum terjadi.th:234). Secara umummereka menyepakati dalam urusan keduniawiyaan (al mashalih ad dunyawiyati) pengaturan taktik dan keputusan yang berhubungan dengan persengketaan (al aqdiah wa al kushumah). Kedua. ahli ushul fiqh membolehkan karena ini pernah di lakukan oleh Rasulullah SAW. pengikut Hanifah berpendapat Rasulullah SAW diperintah untuk berijtihad setelah beliau menunggu wahyu untuk menyelesaikan peristiwa yang terjadi. asy syaukani. kebasnyakan pengikut uktazilah tidak setuju ijtihad Rasulullah daslam urusan hukum agama. . t.

Ulama yangmenolak adanya ijtihad Rasulullah SAW juga menjadikan Al-Qur‟an sebagai dalil : Dan tidaklah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Kepentingannya disebabkan oleh hal-hal berikut: 1. Menurut kelompok ini ayat diatas mengisyaratkan adanya ijtihad karena musyawarah hanya berlaku menyelesaikan urusan yang hukumnya tidak ditunjuk secara jelas jelas oleh Nas. Jarak entara kita antara kita dengan masa tasyiri semakin jauh. Allah SWT berfirman: Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT kamu belaku lemah lembut terhadap mereka sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. Dalam surat Al-Imrasn {3}: 159. khsusunya dalam as-sunnah yaitu masuknya hadist-hadist palsu dan perubahan pemahaman terhadap nass. Yunus {10}: 15). ucapkanlah itu tiadas hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya) (QS An-Najm {53}: 3 . mohon ampun bagi merekas dan bermusyawarahlah dengasn mereka daslam urusan itu. . G. “tiada patut bagiku menggantkannya dari pihak diriku sendiri aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. Di balik itu kata Roter Garaudy. ibram pada ayat terdahulu tidak hanya berlaku bagi khitab ketika ayat itu diturunkan tetapi berlaku bagi khitab ketika ayat itu diturunkan tetapi berlasku juga bagi Rasulullah SAW karena sesungguhnya beliaulah yang lebih tepast disebut ulul abshar dan ulul al basb. uamt islam dituntut untuk keluar dari kemelut itu dengan cara melakukan ijtihad. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya. IJTIHAD: SUMBER DINAMIKA Dewasa ini umat islam dihadapkasn dengan sejumlah peristiwa yang menyangkut aspek kehidupan. Kata –kata tersebut menggambarkan suatu perintah memprediksi masa depan cara perbandingan dengan cara istilah ushul adalah Qiyas adalah bagian dari kegiatan ijtihad. taqlid kepada barat dan taqlid kepada masa lalu. Ijtihad itu penting meskipun tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. yang di kutip oleh Jalaluddin Rahmat (1983:39) tantangan umat sekarang ada dua macam. kemudian aspabila kamu telah membulatkan tekasd.Kata-kata ulul Al-Abshar ulu al albab. Katakanlah. Melihat persoalan-persoalan diatas. karenas itu maafkanlah mereka . (QS. maka bertaqwalah kepada Allah. Oleh karena itu pera mujtahid dituntut secara bersungguh-sungguh menggali ajaran agama islam yang sebenarnya melalui kerja ijtihad. Jarak yang jauh ini memungkinkan terlupakan beberapa nass. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.4).

Demikian ijtihad dibutuhkan sebagai metode menerangkan suatu persoalan yang tidak ada atau secara jelas tidak terdapat dalam Al-Qur‟an dan sunnah. Menurut Muhammad Syaltut. IJTIHAD Islam sebagai agama yang adil dan berlaku untuk seluruh umat manusia. ijtihad artinya sama dengan ar-ra‟yu yang perinciannya berarti: . serta yang lainya yang memerlukan penjelasan rapa mujtahid. Semua itu memerlukan jawaban apakah dibolehkan atau tidak.2. pemindahan kornea mata. bagaimana sebenarnya menurut konsep ajaran agama islam. Sumber ajaran islam adalah Al-Qur‟an dan sunnah yang sangat lengkap. mutlaq da muqayyad. Pertanyaan timbul mengapa ijtihad dijadikan sebagai sumber hukum atas sumber ajaran agama islam. hakim dan mahkum. Didalamnya terdapat yang „am dan khas. timbul masalah bayi tabung. karena perkembanganya zaman banyak masalah yang tidak terdapat dalam Al-Qur‟an dan as-sunnah. padahal Al-Qur‟an dan sunnah sudah cukup lengkap. PENGERTIAN IJTIHAD Ijtihad menurut bahasa ialah percurahan segenap kesanggupan untuk mendatangkan sesuatu dari berbagai urusan atau perbuatan. Berasal dari kata ja-ha-da yang artinya berusaha keras atau berusaha sekuat tenaga: ijtihad secara harfiah mengndung arti yang sama. Dalil-dalil Qully dan maqasyid as-syari‟at yang merupakan aturan-aturan pengarah dalam hidup. Syariat disampaikan dalam Al-Qur‟an dan sunnah secara komprehensif: memerlukan penelaahan dan pengkajian yang sungguh-sungguh. Jawabanya bagaimana dan sejauh mana islam secara tegas menetapkan dan menyelesaikan persoalan. sedangkan penjelasannya banyak diterangkan dan dilengkapi oleh sunnah. Dilihat dari fungsinya. Seperti diketahui bahwa Al-Qur‟an adalah merupakan sumber ajaran yang bersifat pedoman pokok dan global. Ijtihad diperlukan untuk menumbuhkan kembali ruh islam yang dinamis menerobos kejumudan dan kebekuan memperoleh manfaat yang besar dari ajaran islam mencari pemecahan islami dari masalah kehidupan kontemporer. I. nasikh dan mansukh. ijtihad berperan sebagai penyalur kreatifitas pribadi atau kelompok dalam merespon peristiwa yang di hadapi sesuai dengan pengalaman mereka. Sebagai contoh akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ijtihad juga adalah saksi bagi kehidapan islam atas agama-agama lainnya (ya‟lu wala yu‟la „alaih) H.

Pencerahan seganap kesanggupan untuk mendapatkan hukum syara‟ amali tentang masalah yang tidak ditunjukan hukunya oleh suatu nass secara langsung. Tidakan Abu Bakar tidak disetujui oleh Umar bin Khatab dengan alasan menggunakan sabda Nabi SAW yang artinya: . LANDASAN IJTIHAD Dalam islam akal sangat dihargai. Mendapat ketentuan hukum sesuatu yang tidak diajukan oleh nass dengan suatu masalah yang hukumnya ditetapkan oleh nass. nabi berkata: „bagaimana kalau kau tidak mendapati dalam Al-Qur‟an?‟. jawabnya: „saya akan mengerahkan kesanggupan saya untuk menetapkan hukum dengan pikiran saya‟. Abu Bakar bertindak memerangi mereka. pada massa nabi sekalipun hadist yang di riwayatkan oleh Al-Baghawi dari Mu‟adz bin Jabal yang artinya sebagai berikut: ً‫تى ت قضً؟ قال : تًا فً كتاب هللا، قال : فاٌ نى تجد فً كتاب هللا؟ قال : اقضً تًا قض‬ ‫تّ زسىل هللا، قال : فاٌ نى تجد فيًا قضً تّ زسىل هللا؟، قال : اجتهد تسأيً، قال : انحًد‬ ّ‫هلل انري وفق زسىل زسىن‬ “Pada waktu Rosulullah SAW mengutusnya (Mu‟adz bin Jabal) ke Yaman. Banyak ayat-ayat Al-Qur‟an yang menagtaka suruhan untuk mempergunakan akal. jawabnya: „dengan sunnah nabi‟. c.a. waktu itu terdapat sekelompok yang tidak mambayar zakat fitrah. akhirnya nabi Muhammad SAW menepuk dada dengan mengucapkan segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq (kecocokan) pada utusan Rosulullah (Mu‟adz) Sebagai bukti bahwa ijtihad yang dilakukan para sahabat adalah ketika Abu Bakar menjadi khalifah. jawabnya: „saya menetapkan perkara berdasarkan Al-Qur‟an‟. J. selanjutnya nabi berkata: „bila dalam sunnah pun tidak kau dapati?‟. Nabi Mahammad SAW berkata: „bagaimana jika engkau diserahi urusan peradilan?‟. b.S 8:22) Untuk memberikan bukti bahea ijtihad pernah dilakukan para sahabat.S 8:22) “Sesungguhnya bunatang (makhluk) yang seburuk-buruknya disisi Allah ialah orang yang peka dan tuli yang mengerti apapun” (Q. Pemikiran arti yang mengandung oleh Al-Qur‟an dan sunnah. sebagaimana dapat dilihat dari terjemaahan ayatayat ini: “Sesungguhnya pencptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (Q.

Dalam kata-kata itu menunaikan zakat adalah sebagaimana mengerjakan shalat termasuk haq. MACAM-MACAM IJTIHAD Ditinjau dari segi pelakunya ijtihad dibagi menjadi dua. ruang dan waktu. dibatasi oleh tempat. Ijtihad bi ar-ra‟i yaitu ijtihda yang berpegang pada tanda-tanda dan wasilah yang telah ditetapkan syara‟ untuk menunjuk pada suatu hukum. terjagalah darah dan harta mereka. L. Ijtihad suatu daerah belum tentu berlaku di daearah lain. Ijtihad untuk mencapai suatu hukum syara‟ dengan penetapan kaidah kulliyah yang bisa diterapkan tanpa adanya suatu nass. Proses ijtihad harus mempertimbangkan motifasi. yaitu: a. maka sesuai dengan sifat dari akal manusia sendiri yang relatif. Ijtihad pada masalah-masalah yang ada nassnya tapi bersifat zhanni. Dalam ketentuan ini generasi terhadap suatu masalah tidak dapat dilakukan. Ijtihad perorangan yaitu suatu ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid dalam suatu persoalan hukum. ILLAHI HAQQIKA. Dilihat dari lapangannya ijtihad dibagi menjadi tiga macam. K. maka hasilnya relatif pula. Pada saat sekarang bisa berlaku dan pada saatnya yang lain bisa tidak berlaku. yaitu: ijtihad perorangan dan ijtihad jam‟i. Hasil ijihad tidak berlaku umum. Umat islam bertebaran diseluruh dunia dalam berbagai situasi dan kondisi alamiah yang berbeda. Dalam hal itu Umar berpendirian bahwa merupakan suatu kebaikan bagi kepentingan umat islam dan umat mukmin. Kalau mereka telah mengucapkannnya. b.“Saya diperintahkan untuk memerangi orang banyak (yang mengganggu islam) sehingga mereka mau mengucapkan syahadat. b. Lungkungan sosial dan budayanya pun sangan beraneka ragam. KEDUDUKAN IJTIHAD a. c. c. Hasil ijtihad tidak mutlak/relatif bisa berubah bahwa ijtihad tidak mutlak karena mengingat hasil ijtihad merupakan analisa akal. Sedangkan ijtihad jam‟i atau ijtihad kelompok adalah ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok mujtahidin dalam menganalisa suatu masalah untuk menentukan suatu hukum. akibat dan permasalahan umum (umat) . kecuali dengan cara yang benar” Dalam peristiwa itu Abu Bakar berargumen berdasarkan sabda nabi SAW.

METODE IJTIHAD a. M. Disamping itu masih terdapat metode ijtihad yang lain. Untuk ini terdapat kaidah. yaitu menyusun dan mengatur sesuatu hal yang tidak teratur. d. dan apabila berlawanan antara mafsadat dan maslahat dahulukanlah menolak mafsadat”. c. Al-Urf dan Istishab. sebagai cotoh adalah peristiwa Ummar bin hatab yang tidak melaksanakan hukum potong tangan kepada seorang pencuri pada masa peceklik. Kata ijma‟ berasal dari kata jam‟un yang artinya menghimpun atau mengumpulkan. berarti didasarkan atas kepentingan umum atau kepentingan keadilan. QIYAS. istihsan artinya preference. Hasil ijtihad tidak boleh berlaku untuk masalah ibadah mahdhlah. makna aslinya ialah menganggap baik suatu barang atau menyukai barang itu menurut terminlogi para ahli hukum.d. Contoh: pada masa nabi ada belum ada permasalahan padi. “menolak kerusakan lebih diutamakan dari pada menarik kemaslahatannya. dan berarti pula sepakat atau bersatu dalam pendapat. Oleh sebab itu. b. Kepentingan umum yang menjadi dasar pertimbangan maslahat dari suatu peristiwa. B A B III . seperti istidlal. Ijma‟ atau konsensus. di dahulukan menolak mafsadat. Dengan demikian kaidah yang penting dalam melakukan ijtihad adalah bahwa ijtihad tersebut tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur‟an dan sunnah. Contoh metode ini adalah tentang khamar dan judi. Persetujuan pendapat berdasarkan dengan hasil ijma‟ ini contohnya bagaimana masalah kelurga berencana. Makna aslinya adalah mengukur atau membandingkan atau menimbang dengan menimbangkan sesuatu. ia berarti menetapkan dan memutuskan suatu perkara. tetapi bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. MASLAHAT AL-MURSALAT artinya : keputusan yang berdasarkan guna dan manfaat sesuai dengan tujuan hukum syara‟. sebab masalah tersebut telah ada ketetapannya dalam Al-Qur‟an dan sunnah. Dengan demikian diperlukan ijtihad dengan jalan qiyas dalam menentukan zakat. Ijma‟ mempunyai dua makna. Qiyas artinya reasoning by analogy. Dala ketentuan nash bahwa khamar dan judi itu manfaat bagi manusia. ISTIHSAN. Dari sebuah nash dapat dilihat bahwa suatu masalah yang mengandung masalahat dan manfaat.

bergantung pada kapasitas orang tersebut. oleh karena itu.KESIMPULAN Ijtihad merupakan suatu proses pengadilan hukum islam yaqng berkaitan erat dengan bidang fiqih. . ijtihad tidak terdapat dalam ilmu kalam dan tasawuf. karena ijtihad hanyas berkenaan dengasn dalil-dalil zhanni. menurut ulama fiqih. Sunat atau haram. Ijtihad digambarkan ada beberapa persamaan dan perbedaan dan adapun yang menjadi dasar hukum ijtihad ialah Al-Qur‟an dan Sunnah. Melihat persoalan-persoalan diatas umat islam dituntut untuk keluar dari kemelut itu. Karena itu ijtihad menjadi sangat penting meskipun tidask bisa dilakukan oleh setiap orang. wajib kifayat. bidang hukum yasng berkenaan dengan amal atau perbuatan. Dewasa ini umat islam dihadapkan kepada sejumlah peristiwa keinginan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan. Hukum ijtihad bagi orang itu bisa wajib „ain. baik dalam Al-Qur‟an mapun Sunnah. sedangka ilmu kalam menggunakan dalil yasng qhati‟.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful