P. 1
Pola-pola Pikir (Kajian Antropologi)

Pola-pola Pikir (Kajian Antropologi)

|Views: 74|Likes:
Published by Hadi Saputra
Pola Pikir
Pola Pikir

More info:

Published by: Hadi Saputra on Jan 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

POLA-POLA PIKIR

Dipresentasikan oleh:

Hadisaputra
Nomor Pokok: P1900212006

Hipotesis Whorf
 Terdapat suatu hubungan erat antara kategori

dan struktur bahasa dengan cara-cara manusia mengalami dunia ini.  Misalnya orang Hopi dan Orang Eropa mengalami dunia yang berbeda, karena bahasa orang Hopi berkiblat pada proses dan terpusat pada gerakan, sedangkan bahasa orang Eropa pada umumnya berkiblat pada benda.  Bahasa dari suatu suku bangsa merupakan sumber pengetahuan yang signifikan menyangkut pola pikir mereka, kosmologi serta kehidupan mereka sehari-hari

Akal Budi Pra-Logis
 Apakah semua manusia berpikir dalam cara yang

kurang lebih sama? Atau Apakah terdapat polapola pikir khas secara budaya?  Jawaban yang disepakati oleh hampir semua antropolog, bahwa setiap perbedaan menyangkut pola-pola pikir bukanlah bawaan---pola-pola pikir itu tidak disebabkan oleh perbedaan “rasial”.

Kesatuan Mental Umat Manusia
 Kelompok-kelompok manusia di seantero dunia

dikaruniai dengan berbagai kecakapan serta potensi bawaan yang kurang lebih sama dan setaraf.  Variasi budaya mesti dijelaskan dengan merujuk pada berbagai peristiwa yang terjadi setelah kelahiran.

Sihir dan Pengetahuan (Orang-orang Azande)
 Kosmologi orang Azande mengandaikan adanya

sejumlah roh yang berlainan jenisnya, termasuk roh-roh para leluhur.  Sihir dilihat sebagai kemampuan orangperorangan untuk menimpakan kemalangan atau nasib-nasib sial kepada orang dengan cara-cara gaib.Bagi orang Azande, sihir itu merupakan aktivitas spiritual dan pada hakikatnya tidak dikehendaki, di luar kemauan: kekuatan sihir seringkali bergiat ketika si tukang sihir sedang tertidur pulas.  Pranata sihir memberi jawaban atas pertanyaanpertanyaan penting serta menjelaskan mengapa

Pandangan Evans Pritchard tentang Orang Azande
 Pritchard memilah secara tajam antara antara

paham mistik dan paham yang berlandaskan pada akal sehat/paham ilmiah. Baginya sihir itu tidak kasat mata, dan bercorak adikodrati, makanya sihir dianggap mistik, dan kurang absah bila ditilik berdasarkan landasan-landasan obyektif. Malah ia sering meyatakan bahwa “sihir itu tidak ada”.  Keyakinan akan sihir dan pranata-pranata sejenis pada ujungnya ada karena pranata-pranata itu memberi andil bagi integrasi sosial dan memeriksa perilaku menyimpang---bukan karena pranata-pranata itu menghasilkan wawasan dan

Kritik Peter Winch
 Mengkritik Evans Pritchard yang membedakan

antara paham mistik dan paham ilmiah.  Ilmu pengetahuan sama seperti sihir berpijak di atas aksioma-aksioma yang tidak dapat dibuktikan keabsahannya. Contohnya: kenapa banyak orang yang percaya pada ramalan cuaca? Apakah mereka benar-benar memahami prinsip-prinsip meteorologi?  Semua pengetahuan dirancang secara kultural, pengetahuan itu bisa dinyatakan benar atau salah hanya dalam konteks budayanya sendiri

 Mengapa antropologi berkembang di Eropa Barat

dan Amerika serikat, bukan di Kepulauan Trobriand atau di negeri-negeri Azande? Bayangkan kalau ada anropolog dari Azande yang tiba di Inggris dan memperlajari kosmologi dan paham budaya lokal tentang kematian. Ia akan menemukan bahwa pranata sihir tidak ditemukan di negeri itu.  Bila antropolog tersebut adalah pendukung paham fungsionalisme-struktural, maka ia mungkin akan menarik kesimpulan bahwa penolakan terhadap sihir, atau kepercayaan pada “sebab-sebab alami dari kematian”, memperkokoh integrasi sosial dalam masyarakat

Klasifikasi
 Durkheim dan Mauss dalam “Primitive Classification”

menjelaskan bahwa pola-pola pikir merupakan sebuah produk sosial, karenanya masyarakat menghasilkan jenis-jenis pola pikir yang berbeda.  Klasifikasi, dalam pengertian antropologi, adalah ihwal membagi rupa-rupa obyek , orang binatang, dan fenomena lainnya seturut aneka kategori atau tipe yang sudah dimapankan secara sosial.  Untuk waktu yang lama, para antropolog berupaya memperlihatkan bahwa logika di balik setiap sistem klasifikasi secara intrinsik berkaitan dengan kegunaan tumbuhan dan binatang itu; logika itu semata-mata merupakan satu piranti fungsional bagi produksi materiil masyarakat. Gagasan ini akhirnya harus ditinggalkan, dan kini antropolog harus menunjukkan mengapa sampai demikian.

Anomali dalam Klasifikasi
 Orang-orang

Lele di Kasai (Kongo) sangat cermat membuat pemilahan antara kelompokkelompok binatang yang berbeda. Contoh: burung-burung dicirikan oleh bulu-bulunya, kemampuannya untuk terbang dab bertelur, dan karenanya dibedakan dari binatang-binatang yang lain.  Namun terdapat binatang yang tidak sepenuhnya cocok dengan logika ini, misalnya kadal pengintai dan kura-kura darat. Keduanya bertelur, namun berjalan dengan keempat kakinya dan tidak memiliki bulu. Inilah yang disebut ANOMALI oleh Douglas.  Binatang-binatang anomali diperlakukan

 Makhluk

anomali bagi orang-orang Lele adalah Pengolin. Pangolin memiliki ekor dan badan seperti ikan, dan tubuhnya dipenuhi oleh sisik, namun beranak seperti mamalia. Beranak satu setiap kali melahirkan. Ia memiliki empat kaki kecil dan memanjat pohon.  Binatang ini memiliki tempat penting dalam mitologi dan kehidupan ritual orang-orang Lele. Ada kultus kesuburan yang disematkan padanya. Alasannya, menurut Douglas, karena Pangolin adalah binatang anomali. Ia lebih mirip manusia, dan dianggap mediator antara manusia dan dunia binatang.  Berbagai anomali lainnya lazimnya dikaitkan dengan bahaya dan pencemaran. Misalnya babi dalam agama-agama di Timur Tengah; sebagai binatang berkuku belah namun bukan mamalia pemamah biak, babi tidak digolongkan sebagai binatang yang digolongkan binatang yang dapat dimakan, karena

Klasifikasi Totem
 Totemisme adalah kata umum untuk sejenis sistem

pengetahuan dimana setiap sub kelompok dalam satu masyarakat, biasanya satu klen, memiliki relasi ritual yang istimewa dengan satu kelompok fenomena alam, biasanya tumbuhan atau binatang.  Tumbuhan dan binatang totem dipilih karena mereka secara inheren berguna bagi pelestarian masyarakat (Malinowski)  Perilaku terhadap totem disebabkan oleh suatu relasi khusus antara totem dan tatanan sosial, dan fungsi utama totemisme adalah mempertahankan integrasi sosial (Radcliff Brown)  Totem adalah penanda istimewa yang kasatmata

 Binatang-binatang totem tidak dipilih karena mereka

baik untuk dimakan, tapi karena mereka “baik untuk dipikirkan”. Sistem totem dan klen dalam masyarakat selanjutnya dikaitkan secara simbolik melalui dua cara yang saling melengkapi yaitu; metafora dan metonimi. Metafora adalah simbol yang melambangkan sesuatu yang lain, seperti pohon susu di kalangan orang Ndembu, melambangkan kesuburan perempuan. Metonimi adalah bagian yang secara simbolik mewakili keseluruhan. Secara metaforis, raja bisa saja dilambangkan oleh seekor singa, secara metonimis oleh mahkota yang dikenakan di kepalanya. Dalam sebuah sitem totemik, setiap binatang totem secara metonimis mewakili seluruh rantai totem, sama setiap klen mewakili seluruh masyarakat(sama

Levi Strauss dan Totemisme
 Perhatian utama Levi Strauss tentang totemisme

adalah untuk membatalkan berbagai paham yang mengatakan bahwa terdapat suatu “pola pikir pralogis dan primitif”. Levi Strauss berupaya menyingkap prinsip-prinsip dasar universal bagi pemikiran dan simbolisasi.  Proses kognitif fundamental diantara suku-suku bangsa modern dan non-modern persis sama. Orang di semua tempat berpikir dalam bingkai metafora dan metonimi, dan mereka berpikir dalam bingkai pasangan (oposisi biner).  Proses pemikiran yang fundamental identik dimanamana, orang-orang yang memiliki aneka jenis teknologi akan mengungkapkan pikiran mereka secara berbeda. Orang-orang yang bergantung pada huruf dan angka niscaya berpikir menurut alur berbeda daripada orang-orang yang tak beraksara.

 Bila seorang yang tak beraksara, mesti berpikir

secara abstrak maka ia dipaksa menghubungkan berbagai konsep yang dimilikinya dengan bendabenda konkret dan kasat mata. Roh-roh misalnya, adalah abstraksi yang dideskripsikan dalam bingkai manifestasi mereka yang kasat mata. Makanya, banyak misionaris yang salah sangka bahwa suku-suku bangsa Tribal “menyembah pepohonan dan bebatuan”.  Levi Strauss melukiskan cara pikir ini sebagai brikolase (tukang, atau orang serba tahu). Pola pikir yang kreatif, asosiasional serta “penuh guyon” ini bertentangan dengan gaya “insinyur”; sains abstrak yang dominan dalam masyarakat barat dipenjara dan ditertibkan melalui huruf dan

Tulisan sebagai Teknologi
 Levi Strauss membedakan antara “masyarakat dingin” dan

“masyarakat panas”. Masyarakat dingin melihat dirinya tidak berubah, sedangkan masyarakat panas melihat perubahan sebagai sesuatu yang tak terelakkan dan secara potensial membawa keuntungan. Jack Goody: diperkenalkannya tulisan memiliki dampak fundamental atas pikiran dan juga atas organisasi sosial. Tulisan menyanggupkan orang untuk membedakan antara berbagai gagasan dan rujukannya. Tulisan membolehkan kita untuk mengubah kata-kata menjadi kata benda, membekukan kata-kata itu dalam waktu dan ruang. Sementara ujaran itu mengambang dan sementara, dan tidak bisa dimapankan untuk selamalamanya. Tulisan menyiratkan reduksi atas ujaran, sebuah versi tertulis dari sebuah pernyataan kehilangan konteks eksttra linguistiknya---raut muka, situasi sosial, nda suara dll. Tulisan dapat dilihat sebagai semacam budaya materiil; seperti artefak, tulisan itu mapan dan bertahan lama.

 Tulisan membebaskan pikiran dari keniscayaan

mnemoteknik: kita tidak harus mengingat segala sesuatu, namun sebaliknya dapat mencarinya. Implikasinya, tulisan memungkinkan akumulasi sejumlah sangat besar pengetahuan---hal yang tidak mampu dibuat ujaran lisan.  Tulisan bisa dianggap sebagai sejenis teknologi penting dalam administrasi politik masyarakat yang majemuk.  Kegunaan utama tulisan dalam kebanyakan masyarakat beraksara adalah pembangunan arsip, yang sebagian darinya akhirnya berubah menjadi sejarah.  Levi Strauss mengomentari “kekosongan totem” di Asia dan Eropa, karena masyarakat di benua ini lebih memilih sejarah daripada mitos totemik.

Waktu dan Skala
 Waktu

abstrak, yakni jenis waktu yang direpresentasikan dalam jam dan kalender, memiliki dampak yang analog dengan tulisan.  Waktu konkret: waktu itu hanya ada dalam tindakan dan proses, bukan sesuatu yang abstrak dan berada otonom diluar peristiwa yang sedang berlangsung. Ritual tidak berlangsung “pukul 05.00”, tetapi ketika persiapan sudah tuntas, dan para tamu telah hadir.  Dalam masyarakat yang tidak mengenal jam, waktu bukan merupakan sumber daya yang langka, sebab waktu itu ada hanya sebagai peristiwa. Anda tidak akan “kehilangan” atau “membunuh” waktu.  Piranti paling tiran dan otoriter dalam masyarakat modern bukanlah mobil ataupun mesin uap, melainkan jam (Lewis Mumford).

 Apa yang membuat masyarakat modern telah

menjadi budak jam? Sementara masyarakat lainnya tampaknya melakoni hidup secara sempurna tanpa jam?  Gagasan tentang Waktu Abstrak serta kehadiran jam dimana-mana memungkinkan koordinasi atas rupa-rupa tindakan dari jauh lebih banyak jumlah orang, daripada dalam sebuah masyarakat yang tidak memiliki paham waktu bersama dan yang dapat dihitung.  Jadi baik aksara maupun waktu abstrak menciptakan integrasi sosial pada skala seluas mungkin

Pengetahuan dan Kekuasaan
Orwell dalam novel “1984” melukiskan sebuah masyarakat dimana bahasa secara sengaja diubah oleh kaum elite penguasa guna menampik muunculnya pemikiran kritis dikalangan warga. Misalnya, kata “kebebasan” telah kehilangan maknanya menjadi “kebebasan individual”, seperti dalam kalimat “anjing itu telah bebas dari kutukutunya”.  Dalam Homo Academicus, Bourdieu melukiskan pengetahuan akademis sebagai sumber daya politik. Ia melukiskan bahasa “sukar” yang cuma dituturkan para akademisi, berbagai ritual dan pertemuan angkuh di seputar kehidupan akademisi di Perancis---yang sering mengatasnamakan “kemajuan sains”-- George

Sekian dan Terima Kasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->