P. 1
09_CederaOtakdanPengelolaanya

09_CederaOtakdanPengelolaanya

|Views: 16|Likes:
Published by melz_myself

More info:

Published by: melz_myself on Jan 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya

dr. Leksmono PR*, dr. A Hafid**, dr. M Sajid D**

* Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya
* * Sie Bedah Saraf Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya

PENDAHULUAN

Cedera otak yang akan dibicarakan dalam makalah ini adalah cedera akibat rudapaksa kepala (trauma kapitis). Di negara maju, kecelakan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama pada umur antara 2 - 44 tahun, dimana 70% diantaranya mengalami rudapaksa kepala 1-3 Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis meningkat dengan 18% setiap tahunnya4 Secara klasik kita kenal pembagian : komosio, kontusio dan laserasio serebri. Pada komosio serebri kehilangan kesadaran bersifat sementara tanpa kelainan PA. Pada kontusio serebri terdapat kerusakan dari jaringan otak, sedangkan laserasio serebri berarti kerusakan otak disertai robekan duramater. Pembagian lain menyebutkan bahwa pada komosio serebri, penurunan kesadaran kurang dari 15 menit dan post traumatic amnesia kurang dari 1 jam. Bila penurunan kesadaran melebihi 1 jam dan post traumatic amnesia melebihi 24 jam berarti telah terjadi kontusio serebri. Perlu ditambahkan juga ada atau tidaknya gejala cedera otak fokal yang dini, dan hasil rekaman EEG.5 Pembagian seperti di atas ternyata tidak memuaskan, karena batas antara kontusio dan komosio serebri sering kali sulit PATOFISIOLOGI dipastikan.5,6 Trauma secara langsung akan menyebabkan cedera yang MEKANISME disebut lesi primer. Lesi primer ini dapat dijumpai pada kulit dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf Rudapaksa kepala dapat menyebabkan cedera pada otak otak maupun pembuluh- pembuluh darah di dalam dan di sekitar karena adanya aselerasi, deselerasi dan rotasi dari kepala dan otak. isinya.1,7,8 Karena perbedaan densitas antara tengkorak dan Pada tulang tengkorak dapat terjadi fraktur linier (±70% dari isinya, bila ada aselerasi, gerakan cepat yang mendadak dari fraktur tengkorak), fraktur impresi maupun perforasi. Penelitian tulang tengkorak diikuti dengan lebih lambat oleh otak. Ini pada lebih dari 500 penderita trauma kepala menunjukkan mengakibatkan benturan dan goresan antara otak dengan bagianbahwa hanya ± 18% penderita yang mengalami fraktur bagian dalam tengkorak yang menonjol atau dengan sekat-sekat tengkorak.10 Fraktur tanpa kelainan neurologik, secara klinis duramater. Bita terjadi deselerasi (pelambatan gerak), terjadi tidak banyak berarti.7 benturan karena otak masih bergerak cepat pada saat tengkorak sudah bergerak
32 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984

lambat atau berhenti. Mekanisme yang sama terjadi bila ada rotasi kepala yang mendadak. Tenaga gerakan ini menyebabkan cedera pada otak karena kompresi (penekanan) jaringan, peregangan maupun penggelinciran suatu bagian jaringan di atas jaringan yang lain. Ketiga hal ini biasanya terjadi bersama-sama atau berturutan.7 Kerusakan jaringan otak dapat terjadi di tempat benturan (coup), maupun di tempat yang berlawanan (countre coup). Diduga countre coup terjadi karena gelombang tekanan dari sisi benturan (sisi coup) dijalarkan di dalam jaringan otak ke arah yang berlawanan; teoritis pada sisi countre coup ini terjadi tekanan yang paling rendah, bahkan se-ring kali negatif hingga timbul kavitasi dengan robekan jaringan. Selain itu, kemungkinan gerakan rotasi isi tengkorak pada setiap trauma merupakan penyebab utama terjadinya countre coup, akibat benturan- benturan otak dengan bagian dalam tengkorak maupun tarikan dan pergeseran antar jaringan dalam tengkorak.1,7,8,9 Yang seringkali menderita kerusakan- kerusakan ini adalah daerah lobus temporalis, frontalis dan oksipitalis.

yaitu akibat kerusakan B. Cermin Dunia Kedokteran No. sedangkan yang dari pembuluh darah korteks disebut complicated.Fraktur linier pada daerah temporal dapat merobek atau menimbulkan aneurisma pada arteria meningea media dan cabang. Akibat dari trauma pada pembuluh darah. dapat juga timbul kelemahan dinding arteri.7 —Gangguan pada saraf IX. gelombang tekanan ini akan disebarkan ke dalam kanalis spinalis. Pada jaringan otak akan terdapat kerusakan.3% penderita trauma kapitis dan dapat berakibat fatal bila tidak mendapat pertolongan dalam 24 jam. Robekan pada vena-vena yang menyilang dari korteks ke sinus venosus (bridging veins) akan menyebabkan suatu subdural hematoma.B.7. Fraktur impresi dapat menyebabkan penurunan volume dalam tengkorak. Bagian ini kemudian berkembang menjadi aneurisma. Proses ini selain disebabkan faktor. Saraf VII dapat segera memperlihatkan gejala. terjadi proses gangguan/kerusakan yang akan menimbulkan lesi sekunder.cabangnya. Keadaan ini terdapat pada 1 .7 Dalam perjalanan penyakit selanjutnya bila penderita tidak meninggal oleh lesi primer tersebut di atas. —Banyak didapatkan gangguan saraf VIII pada. dan tidak banyak yang mengalami fraktur di orbita maupun foramen optikum. karena adanya foramen magnum. Robekan langsung pembuluh darah akibat gaya geseran antar jaringan di otak sewaktu trauma akan menyebabkan perdarahan subaraknoid.7 Aneurisma pasca traumatik ini bisa terdapat di semua arteri. Fraktur yang mengenai lamina kribriform dan daerah telinga tengah dapat menimbulkan rinoroe dan otoroe (keluarnya cairan serebro spinal lewat hidung atau telinga. yang sering terkena adalah saraf VI karena letaknya di dasar tengkorak.7 Kerusakan pada saraf otak I kebanyakan disebabkan oleh fraktur lamina kribriform di dasar fosa anterior maupun countre coup dari trauma di daerah oksipital. Bentuk akut dapat juga disebabkan oleh robekan pembuluh darah di korteks. 1984 35 .11 Juga secara langsung menyebabkan kerusakan pada meningen dan jaringan otak di bawahnya akibat penekanan. Sebagai kelanjutan dari kontusio akan terjadi edema otak. dengan piamater yang masih utuh pada kontusio dan robek pada laserasio serebri. dan potensial untuk nantinya menimbulkan perdarahan subaraknoid. hingga menimbulkan herniasi batang otak lewat foramen magnum. Disini dinding kapiler mengalami kerusakan ataupun peregangan pada sel-sel endotelnya.7 Kerusakannya terjadi di kanalis fasialis. misalnya gangguan pendengaran maupun keseimbangan. (blood brain barrier). atau sesudah beberapa hari akibat dari edema otak. dan sering kali disertai perdarahan lewat lubang teli- nga.13. tapi sering kali gejalanya hanya berupa anestesi daerah dahi hingga terlewatkan pada pemeriksaan. 33. atau sesudah beberapa hari kemudian. Penyebab utamanya adalah vasogenik. Hal ini sehubungan dengan ada (complicated) atau tidaknya (simple) kerusakan jaringan otak di bawah hematoma.terjadi dalam 72 jam sesudah trauma.12 Perdarahan epidural biasanya terjadi karena robekan arteri/ vena meningea media atau cabang-cabangnya oleh fraktur linier tengkorak di daerah temporal. herniasi unkus dan akhirnya terjadi kerusakan batang otak. Kumpulan darah di antara duramater dan tulang ini akan membesar dan menekan jaringan otak ke sisi yang berlawanan. Akibatnya terjadi gerakan ke bawah dari batang otak secara mendadak. pada dasar tengkorak dapat merobek atau menimbulkan aneurisma a.11 Gangguan pada saraf V biasanya hanya pada cabang supraorbitalnya.B. ataupun sekunder akibat meningitis atau kenaikan tekanan intrakranial. Bila tekanan arterial meningkat akan mempercepat terjadinya edema dan sebaliknya bila turun akan memperlambat. midriasis dan refleks cahaya negatif sering kali diakibatkan hernia tentorii 2. Asidosis yang terjadi akibat hipoksia ini selanjutnya menimbulkan vasodilatasi dan hilangnya auto regulasi aliran darah. X dan XI jarang didapatkan.7 Saraf otak dapat terganggu akibat trauma langsung pada saraf. maupun intra serebral. subakut dan kronik. selain robekan terbuka yang dapat langsung terjadi karena benturan atau tarikan.9 Tekanan dan trauma pada kepala akan menjalar lewat batang otak kearah kanalis spinalis. Ini sering terjadi pada arteri karotis interna pada tempat masuknya di dasar tengkorak. Yang timbulnya lambat biasanya cepat dapat pulih kembali.faktor intrakranial juga dipengaruhi oleh faktor faktor sistemik.kerusakan yang hemoragik pada daerah coup dan countre coup. hingga mengakibatkan kerusakan-kerusakan di batang otak.11 Ini menyebabkan diplopia yang dapat segera timbul akibat trauma. Kontusio yang berat di daerah frontal dan temporal sering kali disertai adanya perdarahan subdural dan intra serebral yang akut. Cairan akan keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan otak karena beda tekanan intra vaskuler dan interstisial yang disebut tekanan perfusi.2 Dinyatakan bahwa ± 5% penderita tauma kapitis menderita gangguan ini. Akibatnya terjadi iskemia dan hipoksia.7 Dari saraf-saraf penggerak otot mata. trauma kepala. mulut dan telinga. karotis interna dan terjadi perdarahan lewat hidung. Aneurisma arteri karotis interim ini suatu saat dapat pecah dan timbul fistula karotiko kavernosa.14 Edema jaringan menyebabkan penekanan pada pembuluh-pembuluh darah yang mengakibatkan aliran darah berkurang. Ada 3 macam yaitu yang akut . mungkin karena kebanyakan penderitanya meninggal bila trauma sampai dapat menimbulkan gangguan pada sarafsaraf tersebut. Hematoma subdural akibat robekan bridging veins disebut juga hematoma subdural yang simple. Mungkin traumanya hanya ringan saja (terutama pada anak-anak)2 . kerusakan pada batang otak. Pada gangguan yang ringan dapat sembuh dalam waktu 3 bulan.7. karena penyebabnya adalah edema2.7 Gangguan pada saraf otak II biasanya akibat trauma di daerah frontal.2 Edema juga merupakan salah satu penyebab gangguan. Gangguan saraf III yang biasanya menyebabkan ptosis.

meningea media (untuk observasi). yang selanjutnya memperberat edema. baik retrograde oleh lidah. maupun sistemik sesudah trauma kapitis itu merupakan suatu 2. vertigo dan muntah yang Pemeriksaan 5.20 menjadi 400 Celcius selama 2 jam akan menambah edema se.15 memperburuk prognosisnya. waktu kemudian dapat oleh karena edema otak atau kenaikan trauma kepala terbuka untuk mengetahui lokalisasi frakvolume darah otak. untuk dapat memperkirakan intensitas penderita koma. macam kecelakaan : lalu lin• Umum tas.21. Di Bagian Saraf dan Sie Bedah Saraf Bagian arterioskeloris). Akibat lain dari trauma kapitis adalah kenaikan tekanan intra penderita dengan kelainan neurologik. Makin lama amnesia post trau. Gangguan kelainan neurologik. —Obat-obat yang telah/sedang dipergunakan. dikerjakan oleh orang yang berpengalaman. 1. hipertensi. orang disekitar kejadian. 2. bantu mengetahui adanya pergeseran garis tengah otak bila — Brain shift maupun herniasi. 4. 6. penulis lain — perubahan metabolisme. Pada saat trauma. pegawai ambulans. Tungkai yang di atas sebaiknya fleksi. Soetomo dipakai Glasgow Coma Scale (GCS) c) Cairan. Kemungkinan fraktur dasar tengkorak. sehingga edema semakin hebat. Angiografi dan CT Scan — gangguan faal paru-para. Bedah RS Dr. —penyakit yang diderita : epilepsi. pabrik dll. Gangguan ini menyebabkan hipoksia yang akan pada waktu masuk dan kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. dan posisi maupun pasca traumatik. antara lain harus dicari sebab. bila ada dapat lain juga memberikan akibat yang sama. Gangguan kesadaran.diubah setiap 2 jam. polisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu tubuh • X Foto Kepala : sebaiknya dibatasi10. —Tanda-tanda trauma di kepala.22 atau gangguan sirkulasi cairan serebro spinal. Keduanya merupakan cara pemeriksaan yang dapat diandalkan untuk mengetahui adanya massa intrakranial. 10 hari). 34. fraktur. • Anamnesis. terdapat peningkatan tekanan pada adanya fraktur impresi. b) Tekanan darah yang kurang dari 90 mmHg dengan nadi kecil.17. mengenai : Perawatan — Saat terjadinya kecelakaan. muntah. hematoma sekitar mata dan hematoma di belakang telinga. ini untuk mencegah aspirasi dan penyumbatan laring daran sebelumnya.16 kulit kepala.sebabnya diluar kepala. PENGELOLAAN 5. memperberat edema di otak maupun di paru-paru.fungsi vital. Bila ada dibedakan dengan pucat akibat perdarahan). trakea/trakeostomi.18. 1984 34 .sium di kepala. gejala neurologik.19 terus menerus. Hal ini menimbulkan edema paru-paru yang selanjutnya mengganggu Hal ini tergantung pada berat ringannya kerusakan yang terdapat pertukaran gas. Ini terjadi karena kerusakan pada batang otak sesudah trauma Indikasi Masuk Rumah Sakit18 mengakibatkan terjadinya apnea atau takipnea. Dipertimbangkan pada nyeri kepala. Data-data pemeriksaan awal ini penting sebagai dasar observasi anemia harus segera diperbaiki (terutama pada penderita selanjutnya.badannya). Nutrisi. ada tidaknya amnesia. diatas 80 mmHg dan pCO2 antara 25 . kesadaran. —pada penderita yang sadar : ada tidaknya gangguan kesa. Pada umumnya diadakan pembatasan cairan ringan untuk untuk evaluasi kesadaran. Syok harus segera diatasi dan perdarahan dihentikan. pemeriksaan ini dapat mem— aliran darah ke otak menurun. antara lain trauma gejala vegetatif : mual. Hipoksia karena sebab-sebab — Adanya tanda-tanda trauma di tempat lain. • Pemeriksaan Fisik —fungsi. perjelek keadaan penderita ( "lingkaran setan"). Fraktur tulang kepala yang menyilang jalan a.1 Dari hal-hal di atas terlihat bahwa gangguan intrakranial 1. Eko . kranial.trauma kepala tertutup dengan ekskoriasi ataupun hematoma penneabilitas kapiler dan kenaikan metabolisme.Dianjurkan dibuat pada : besar 40% yang mungkin disebabkan oleh karena perubahan -. (dalam hal ini harus abdomen26 . janBila ada fasilitas analisa gas darah. Posisi penderita sebaiknya miring (termasuk trauma dan macam cederanya. darah dari orifisium-orifiCermin Dunia Kedokteran No. lingkaran kejadian sebab akibat yang makin lama makin mem. a) menjaga agar jalan nafas tetap bebas/lancar. Kalau perlu dapat dipertimbangkan pemasangan pipa endomatik. diabetes. p02 arteri dipertahankan tung dan lain-lain. prognosis makin jelek.Ensefalografi Kenaikan tekanan intra kranial ini menyebabkan : Sebagian penulis menyatakan. yaitu terjadi asidosis metabolik berpendapat bahwa pemakaiannya kurang dapat dijamin. terutama bila —cara kecelakaan. Anamnesis dapat diambil dari famili. sisi benturan dan penurunan tekanan pada sisi yang berpenderita akan dioperasi dengan dugaan hematoma intralawanan. Kenaikan tekanan intrakranial yang terjadi beberapa kranial. Fraktur impresi terbuka dan trauma kepala terbuka yang lain. Elektrolit.30 mmHg. Bila timbulnya lebih lambat lagi (lebih dari tur/fragmen-fragmennya. ini mungkin disebabkan oleh adanya hematoma kronik • Pemeriksaan Tambahan 17. pucat.3.

28 Observasi Tujuannya untuk mengikuti perjalanan penyakit penderita.10 hari kemudian perlahan-lahan dihentikan. dan dapat melakukan hal-hal sesuai dengan yang diperintahkan . Cermin Dunia Kedokteran No. Takaran 1 1. yaitu 4 untuk reaksi buka mata. terutama dalam 24 jam pertama.21. c.31 Cairan Hipertonik24 Yang biasa dipakai adalah Manitol 20%. ini mengurangi risiko terjadinya hipoksia. Disini dinilai tiga macam reaksi yaitu reaksi membuka mata. Untuk mencegah dekubitus.24. Kedua pusat ini harus tetap dalam keadaan baik supaya seseorang dapat sadar dengan sepenuhnya.12 mg dilanjutkan dengan 4 mg tiap 6 jam selama 7 . infeksi pm-pm komplikasi trakeostomi. • Khusus/Pengobatan. Sebaiknya diberikan juga antasida dan simetidin untuk mencegah terjadinya perdarahan karena ulkus lambung. dan dapat membantu fungsi membran sel dalam pertukaran ion Na+ K+ (sodium pump)22 Takaran permulaan 8 . Lesi unilateral supratentorial. 5 untuk reaksi verbal dan 6 untuk reaksi motorik. Kemungkinan penyebabnya: penggantian cairan tidak baik. • Kesadaran Kesadaran merupakan hal yang terpenting pada observasi. tromboflebitis.32. 1984 35 . d. Deviasi bola mata ke arah lesi. defekasi. tempat tidur harus rata. mata. luka operasi. dapat dilakukan "hiperventilasi yang terkontrol".33 Skala ini disusun oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974. kesadaran penderita dan gangguan neurologik. Penderita dewasa. Kateter dipakai sesedikit mungkin untuk mencegah bahaya infeksi. (epilepsi traumatik dini). Mata dapat dibasahi dengan larutan asam borat 2%. Penderita koma yang dalam mendapat jumlah nilai 3 yaitu nilai 1 untuk masing-masing reaksi. reaksi verbal dan reaksi motorik (Lihat Tabel) Dalam skala ini seseorang yang sadar sepenuhnya mendapat nilai 15. Diuretik Efeknya dalam menurunkan tekanan intrakranial belum dapat dipastikan. b.59 gr/kg dalam 10 menit. reaksi transfusi. drug fever. sedangkan hemisfer otak menentukan "isi" dari kesadaran tersebut. d) Miksi. Diusahakan untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya. waktu dan tempat). bila diajak berbicara jawabannya berorientasi (mengenal diri. Bila perlu dapat diberikan suntikan klorpromazin 25 mg23 c) Suhu tubuh Kenaikan suhu tubuh dapat memperberat edema otak. e) Hipotermi 28 Dengan penurunan suhu tubuh menjadi 32° C. Marshal13 menganjurkan 0. Jadi penderita dapat membuka mata spontan. kering dan lunak. Dosis untuk anak-anak 1 . Diusahakan tidak terdapat konstipasi yang terlalu lama karena bahaya ileus. mengurangi tonus otot di saluran napas.0.mencegah adanya overhidrasi. Sebagai dasar observasi adalah data-data pemeriksaan fisik mengenai fungsi vital. selanjutnya difenilhidantoin dan fenobarbital. Hemiparesis. Pemberian dapat diulang menurut keperluan. misalnya kandung kemih yang penuh atau ikatan yang terlalu kuat.50 mg/kg/ hari dibagi dalam 4 kali pemberian. a) Kejang-kejang. Kesadaian diatur oleh dua pusat di otak yaitu oleh (Ascending Reticular Activating System (ARAS) yaitu untuk off-on nya misalnya reaksi membuka mata. Urin ditampung untuk memperhitungkan kebutuhan cairan dan menjaga agar tempat tidur tetap kering. misalnya mengangkat tangannya. kebutuhan cairan minimal 2 liter/hari dan tiap kenaikan suhu 1° C ditambah ½ liter. Dipasang kondon atau kateter.25 . Kalori yang dibutuhkan pada penderita koma minimal 2000 kal/hari. Kompresi mesensefalon unilateral --> reaksi pupil abnormal. Di rumah sakit yang lengkap peralatannya. d) Pengobatan edema otak Deksametason Terpenting adalah deksametason karena paling kuat kerjanya diantara obat-obat glukokortikoid.4 mg kemudian 0. kebutuhan 02 otak menurun sebanyak 25%. a. 1. Dengan mengisi tabel ini pada waktu-waktu yang tertentu. insidensi naik menjadi 10%. Diberikan pada penderita yang akan dioperasi dan bila keadaan kritis. 27 Bila keadaan memungkinkan pemberian cairan intravena setelah 2 hari dapat dikombinasi/diganti dengan sonde hidung. • Gangguan Neurologik.29 Bila ada fraktur impresi. gangguan hipotalamus dan batang otak.7 Untuk mengatasi diberikan diazepam. dan mengurangi tekanan intrakranial. 35. kita dapat menilai/mengikuti perkembangan kesadaran penderita. b) Penderita yang mulai sadar sering menjadi gelisah. Sekitar 5% dari penderita mengalami kejang-kejang 6. Harus diusahakan untuk mencari penyebabnya dan mengendalikannya. kulit.39 Disini antara lain diperiksa adanya lesi kompresi yang unilateral dan ada atau tidaknya perkembangan kerusakan dari kranial (hemisfer) ke kaudal (batang otak/medula) --> kematian penderita. mengetahui sedini mungkin terjadinya komplikasi. dimana PaCO dipertahankan 2 30 torr dan PaO2 diatas 150 torr. Untuk dapat memperoleh catatan/gambaran yang cukup obyektif mengenai kesadaran penderita di Bagian Saraf FK Unair dan Sie Bedah Saraf Bagian Bedah FK Unair selama be berapa tahun telah dipakai Glasgow Coma Scale (GCS)4.25 gr/kg. Gangguan saraf fasialis sentral. • Observasi fungsi vital mencakup hal-hal yang tersebut dalam Bab Perawatan. Angkaangka ini untuk kejadian-kejadian pada minggu pertama. Kegelisahan ini dapat menyebabkan peningkatan tensi dan lain-lain hal yang tidak diinginkan. hingga dapat secepatnya diambil tindakan.20 Pada trauma berat dapat diberikan dosis yang lebih besar. infeksi saluran kencing. Selain itu pendinginan tubuh ini juga membantu mengeringkan sekret.

_ • .84 (l Bagian Saraf/Sie Bedah Saraf Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Unair/RS Dr. besar normal/refleks cahaya (+) . Umur Ref. Pada auskultasi di daerah temporal. ta— ~ — ~ . Tn. diobservasi juga gejala-gejala neurologik lain. Selain hal-hal tersebut diatas. Rotasi cepat kepala penderita oleh pemeriksa akan memberi reaksi gerak mata konjugat ke arah yang berlawanan (batang otak masih baik). takipnea dan sesak nafas. Pada pemeriksaan didapatkan pembengkakan dan penonjolan mata yang merah dan berdenyut. hubungan lokalisasi kurang lebih sebagai berikut : 36 Cermin Dunia Kedokteran No. 1984 Cheyne stokes lesi kortikal. Ataksik — Apnea — ~ lesi medula. Iregular lesi tegmentum.4 dan 2. Tes kalori (harus dicek utuhnya membrana Timpani).6. Gerak refleks mata — D o l l 's h e a d e y e m o v e m e n t . ► kaudal). d.. orbita. nyeri kepala dan penglihatan ganda.30 detik akan menimbulkan gerakan mata konjugat tonik ke arah rangsangan (batang otak masih baik). dan diatas arteri karotis dapat terdengar suara bising yang sesuai dengan denyut nadi. Operasi ligasi dilakukan setelah evaluasi dengan arteriografi dan EEG.pin point/refleks (+) ( Normal) —► (lesi di pons) b.7. Mula mula akan timbul sindroma paruparu dengan hipoksia. Penderita mendengar suara bising (bruit) dalam kepalanya. Pupil dan reaksinya : integritas batang otak. c. a. Bila faktor-faktor tersebut dapat disingkirkan. Soetomo Surabaya P Tgl. misalnya kemungkinan timbulnya fistula karotiko kavernosa dan emboli lemak. . (Gangguan kranial — ." Emboli lemak dapat terjadi bila terdapat juga fraktur tulangtulang panjang.TABEL Nama . Reaksi motorik Bila dirangsang nyeri dan lain-lain. suara thd. Hiperventilasi (sentral) —. X 30 tahun 007. Fistula karotiko kavernosa dapat timbul sejak beberapa jam sesudah trauma. nyeri negatif S K A L A K O M A ~.I 1 I 7 berorientasi Reaksi Verbal bingung tidak sesuai tidak dimengerti negatif mengikuti perintah Reaksi Motorik melokalisir nyeri menarik diri fleksi ekstensi negatif j I ~ . Irigasi telinga dengan air dingin sesudah 20 . Gejala dapat timbul dari beberapa jam sampai 3 hari sesudah trauma. posisi penderita akan memperlihatkan gejala-gejala dekortikasi atau deserebrasi atau flaksid. 34. _ • • • i I _ ~ • • • • • 2. lesi mesensefalon. Perkembangan kranio kaudal.5. Dapat ditemukan gangguangangguan saraf kranial berturut-turut saraf 3. Tipe pernapasan Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor matabolik. 9 April 84 10 2 11 3 I 12 4 13 5 • • Hari Senin 1 Reaksi buka mata Spontan thd.

lesi massa. Perdarahan kemudian berhenti oleh karena spasme pemAngiografi karotis cukup bila hanya hematoma subdural yang buluh darah dan pembentukan gumpalan darah. Impresi fraktur tertutup yang menyilang garis tengah merupakan kontra indikasi relatif untuk operasi.cermat. Bila keadaan berlanjut tanpa tindakan. Dari segi bedah saraf sangat penting adalah komplikasi intra. Sering tampak jaringan otak edematous. — x foto kepala terdapat fraktur tulang kepala.dikirim berhubung gejalanya sudah nyata. Pada dakan eksploratif burrhole dilanjutkan tindakan kraniotomi. Pada saat ini diperlukan pemeriksaan tambahan fraktur atau penekanan daerah motorik (hemiparesis dan lainarteriografi atau bila mungkin CT. ialah kosmetik dan kepupil dan atau hemiparesis maka tindakan secepatnya harus mungkinan robekan dura. mempertinggi kepala hebat dan penurunan kesadaran. kalau perlu dengan proyeksi tangensial. Maka sangat penting diagnosis ditegakkan sedini mungkin. Tampak peDisini dura dibiarkan terbuka. atau pelebaran pupil. 34. 1984 37 . saat ini timbul gejala-gejala distorsi otak. Dianjurkan sebelum lewat 24 — pernapasan paralitik. In— Pernapasan Cheyne Stokes. yang berupa gangguan kesadaran yang Maka perjalanan penyakit serta gejala-gejalanya harus dikenal berkelanjutan sejak trauma (tanpa lusid interval) yang sering dengan baik.35 Hasil-hasil observasi sangat menentukan tindakan apa yang selanjutnya harus dikerjakan. Indikasi yang lain (lebih lemah). Beberapa jam didapatkan. maka dipilih tindakan pembedahan. kranial. bradikardi dan akhirnya meninggal. bantuan periost. pembukaan dura. Pada X-foto torak dapat terlihat gambaran snowstorm. keadaan umum penderita dengan cepat menurun. — refleks pupil dan respon kalorik negatif. Perawatan pascabedah ditujukan pada faktor— penurunan kesadaran bertambah. bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi evakuasi hematoma dan hemostasis yang Tindakan bedah darurat. Mengirimkan penderita ke pusat yang lebih lengkap seharus. Diagnosis dengan x foto kepala 2 diambil dengan atau tanpa bantuan sarana diagnosis tersebut. Hematoma subdural12 Hematoma epidural 12 Yang terpenting dalam hal gawat darurat adalah hematoma Adalah komplikasi intrakranial yang paling mudah dicapai dan subdural akut (yang terjadi dalam waktu 72 jam sesudah traupaling baik hasilnya dari tindakan-tindakan bedah trauma kema). Gangguan kesadaran ini membaik tanpa Dalam hal hematoma subdural yang simple dapat terjadi kelainan neurologik. antara lain perlu atau tidaknya seseorang penderita segera dioperasi. penurunan kesadaran sampai koma yang kadang-kadang disertai dengan gejala-gejala fokal misalnya hemiparesis ataupun kejang-kejang. hematoma subkutan. timbul Fraktur impresi terbuka (compound depressed fracture). Gambaran klasik adalah kehilangan kesadaran sementara deserebrasi satu sisi. laserasi kulit. khususnya hematoma intrakranial. evakuasi hematoma dengan irigasi memakai Begitu kemampuan kompensasi ruang intrakranial habis. Operasi secepatnya dikerjakan. Fraktur impresi. — deserebrasi. hap berikutnya terjadi sindroma serebral dengan kegelisahan. yang menyertainya. Sering yang kedua dengan didahului oleh nyeri kepala. indikasi operasi tidak yaitu bila hanya nyeri kepala dan penurunan kesadaran saja mutlak kecuali bila terdapat kemungkinan lesi massa dibawah yang tampak. Pembedahan explorative burrhole. — hemiparesis kontralateral (dapat juga ipsilateral). namun tetap diperlukan penulebaran pupil ipsilateral (80%). tindakan CT Scan adalah ideal. kemudian terjadi perdarahan ulang. dengan ini ditentukan pula apakah fraktur menyilang sinus venosus. yaitu hemiparesis. dia. oleh karena herniasi bagian tupan ruang likuor hingga kedap air. Kemudian terjadi gangguan kesadaran lusid interval bahkan dapat tanpa gangguan kesadaran. Impresi lebih nya pada saat dini tersebut. Pada saat terdapat lesi multiple. terjadi robekan dan perdarahan dari a. faktor sistemik yang memungkinkan lesi otak sekunder. Beberapa petunjuk pembantu menentukan lokalisasi : — biasanya temporal (73%)36 — adanya jejas di kepala. dikasi operasi terutama adalah debridement. atau bila diperkirakan terlambat untuk fraktur. suhu badan meningkat. bersamaan dengan gejala-gejala lesi massa. Bila telah tampak pelebaran lain). sedang geepidural_ini akan melepaskan duramater dari tulang tengkorak. Pada impresi tertutup. Ini dijalankan dengan mesial dari lobus temporalis menekan n. khususnya yang berkomplikasi.7. Tintelah terjadi kenaikan tekanan intrakranial yang kedua. jala dan perjalanan penyakit mengarah pada timbulnya lesi Pada waktu nyeri kepala menghebat dan kesadaran menurun. cairan garam fisiologis. 02 dan hipotermi. pada waktu trauma. X foto juga diperlukan untuk menentukan letak fragmen-fragmen dan perluasan garis melakukan rujukan. — dipilih terutama pada sisi pupil yang melebar. penumpukan darah di ruang Bila kedua hal tersebut tak mungkin dikerjakan. okulomotorius. trauma. ekskoriasi.proyeksi. Pengobatan dengan pemberian kortikosteroid. seyogyanya tindakan bedah dapat dilakukan di RS setempat. mencegah infeksi. perdarahan dari telinga. jam pertama. Bila tidak mungkin kemungkinan robekan dura. Pada umumnya alasan untuk merawat penderita dalam RS gejalanya tak dapat dipisahkan dari kerusakan jaringan otak didasarkan atas kemungkinan timbulnya hematoma ini. Maka. Hematoma epidural terdapat pada/dibawah/sekitar garis fraktur. pala. meningea mekarena juga menetapkan apakah lesi multiple atau single. Hematoma subdural.25. • • • Cermin Dania Kedokteran No. massa intrakranial. yaitu pada saat baru timbul nyeri dari tebal tulang kepala pada x foto tangensial.

terjadi proses lebih lanjut yang dipengaHal-hal yang dapat membantu menentukan prognosis : 38 makin muda usia.dalam arti sebaiknya tidak diangkat bila tidak terdapat gejala yang mengarah pada kemungkinan lesi massa atau penekanan otak.38 Pengelolaan meliputi pemeriksaan. prognosis jelek. Apnea. hiperventilasi. Mekanisme terjadinya cedera akibat benturan kepala mental. akan menghasilkan kerusakan-kerusakan yang disebut lesi makin berkurang pengaruh lamanya koma terhadap restitusi sekunder. perjelek prognosis. negatif. juga Tekanan darah pasca trauma. terjadi cedera pada otak dan jaPROGNOSIS ringan sekitarnya yang disebut dengan lesi primer. pupil tak ada reaksi cahaya. ruhi oleh faktor-faktor intrakranial maupun sistemik. — bila terdapat ketrampilan (skill) dan peralatan yang cukup. — bila angulasi besar. tak ada gerakan apapun merupakan tanda-tanda brain death. gerakan refleks mata Daftar kepustakaan ada pada redaksi/penulis 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 34. 1984 . Hipertermi. Proses ini Usia dan lamanya koma pasca traumatik. penderita.39 menjurus ke arah hidup vegetatif.37 Dalam hal fraktur impresi terbuka yang menyilang sinus venosus maka persyaratan untuk operasi bertambah dengan : — bila luka sangat kotor. Hipertensi pasca trauma memkerusakan-kerusakan pada jaringan sekitar otak.35 RINGKASAN Dibicarakan mengenai cedera otak dan dasar-dasar pengelolaannya. — bila terdapat persediaan darah cukup. observasi dan pengobatPupil lebar dengan fefleks cahaya negatif. Cheyne-Stokes.35 an penderita baik secara konservatif maupun yang memerlukan Reaksi motorik abnormal (dekortikasi/deserebrasi) biasanya tindakan operasi darurat.35 terutama pada saat proses terjadinya lesi-lesi sekunder. Bila korban dapat tetap bertahan. deserebrasi: diharapkan dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya bagi 35. Dengan pengelolaan yang cepat. Akibat benturan kepala. tanda penyembuhan akan tidak sempurna. dan patofisiologik proses selanjutnya telah dibicarakan. Ini perlu dilengkapi dengan EEG yang isoelektrik. sehubungan dengan makin meningkatnya korban kecelakaan lalu lintas dimana banyak diantaranya mengalami cedera otak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->