P. 1
laporan farmasetika

laporan farmasetika

|Views: 847|Likes:
Published by yuliana2012
farmasetika sediaan
farmasetika sediaan

More info:

Categories:Types, Research
Published by: yuliana2012 on Jan 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2013

pdf

text

original

SEMISOLIDA

Diajukan Untuk Memenuhi Laporan Akhir Praktikum Farmasetika IA Tahun Akademik 2007/2008

Disusun Oleh : Fikri M Yuliana Juasa Refiany Puspitasari : 10060307065 : 10060307067 : 10060307068 : 10060307075

Kelas Kelompok Assisten

: Farmasi B :6 : Nongki

LABORATORIUM FARMASETIKA JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG BANDUNG 2010

SEMISOLIDA
I. Data Preformulasi Zat Aktif
a) Asam Salisilat/Acidum Salicylicum

Pemerian

: Serbuk hablur berwarna putih atau hampir putih, agak manis dan asam, serta tidak berbau.

Kelarutan

: Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%)P, mudah larut dalam kloroform Pdan dalam eter P, larut dalam larutan amonium, asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P, dan dalam natrium sitrat P .

Polimorfisme Ukuran Partikel

::-

Titik lebur/titik didih: 150,5 0C dan 161 0C pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas :: 138,12 gr/mol : 1,44 gr/ml : Higroskopis dan mudah terurai dengan adanya udara dari luar ketika ditambahkan suatu suspensi terjadi penguraian asam salisilat dan pelekatan partikel obat Inkompatibilitas : Terjadi reaksi dipikal dari asam organik dengan alkali atau logam berat, aktivitas sebagai pengawet berkurang jika berinteraksi dengan koolin Sumber : FI edisi III hal : 56dan Handbook of pharmaceutical exipient, hal : 50

sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan berfluoresensi lemah jika dicairkan. Data Preformulasi Zat Tambahan Salep a) Vasellin Flavum Pemerian : Massa lunak. Dapat teroksidasi dengan adanya cahaya dan dapat berubah warna serta baunya. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)P. hampir tidak berasa.815 dan 0. lengket. warna bening. Inkompatibilitas Sumber : Inkompatibel dengan beberapa material yang lemah : FI edisi III hal : 633 dan Handbook of pharmaceutical exipient. dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P. larut dalam kloroform P. Masalah kestabilan terjadi dikarenakan kualitas yang kecil dan kemurnian. dan tidak berbau. Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: antara 38 0C dan 56 0C pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas :: 0. hal : 421 b) Propilen Glikol . larutan kadang-kadang berfluoresensi lemah.880 gr/mol :: Material stabil yang tidak dapat dipisahkan dari komponen hidrokarbon yang tidak bereaksi secara alami.II. putih atau kekuningan.

dengan etanol (95%) P dan dengan kloroform. Propilen glikol stabil bila dicampurkan dengan etanol (95%) P. Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: -59 0C pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas :: 1.Pemerian : cairan kental dan jernih. Inkompatibilitas : Propilen glikol inkompatibel dengan reagen pengoksidasi seperti potasium permanganat. asam laktat dan asam asetat.036 gr/ml :: Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar. gliserin. minyak tanah dan minyak lemak. tetapi pada suhu tinggi dapat mengalami oksidasi dan menimbulkan produk seperti propionaldehid. tidak bercampur dengan eter. tidak berwarna. tidak berasa. agak manis. Sumber : FI IV hal : 713 dan Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 521-522 Cream a) Oleum Cocos Pemerian : Cairan jernih. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air. dan bau khas dan tidak tengik. dan tidak berbau. . larut dalam 6 bagian eter. air dan dengan air yang steril dengan menggunakan autoclav. pada temperatur rendah propilen glikol sangat stabil pada wadah tertutup. tidak berwarna.

Inkompatibilitas : Oleum cocos inkompatibel dengan basis zat-zat organik. Kelarutan : Bebas larut dalam propelan aerosol. sangat mudah larut dalam kloroform P dan eter P. b) Emulgid Pemerian : Berupa cairan lilin berwarna putih atau hampir putih. Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: 23-25 0C pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas :::: Pemanasan dilakukan lebih dari 76 0C pada saat pembuatan supositoria. Sumber : FI edisi III hal : 456 dan Handbook of pharmaceutical exipient hal : 639. karbonat. kloroform dan hidrokarbon. cukup larut dalam etanol (95%). dan bau khas. larut dalam bagian eter dan tidak dapat larut dalam air. zat pengoksidasi kuat. tidak berasa.Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (95%) P pada suhu 60 0C. basis kuat sulfida. Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: 50-54 0C pKa/pKb :- . hampir tidak berwarna.

::- Titik lebur/titikdidih: 100 0C Pka/Pkb Bobot jenis pH larutan Stabilitas :: 1 gr/cm3 : antara 5 dan 7 : Stabil pada semua bentuk seperti panas. Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipients hal : 685 c) Aquadestilata Pemerian : Cairan tidak berwarna/jernih. dingin dan uap. Dapat mengurangi kemampuan antibakteri dan senyawa ammonium.Bobot Jenis pH larutan Stabilitas ::: Stabil dan dapat disimpan dalam wadah yang tertutup baik. fenol. dalam keadaan dingin dan tempat yang kering. tidak berasa dan tidak berbau Kelarutan Polimerfisme Ukuran Partikel : Dapat bercampur dengan beberapa pelarut polar. Inkompatibilitas : Dalam formula pharmaceutical air dapat bereaksi dengan obat dan zat tambahan lainnya yang dapat dengan mudah terhidrolisis dengan adanya suhu yang tinggi. Inkompatibilitas : Ketidakcampuran dengan tannin. . dan senyawa fenol dan benzokain.

metanol dan diklorometol. Kelarutan : Larut dalam air dingin. Peningkatan temperatur menurunkan kekentalan larutan. praktis tidak larut dalam kloroform. Inkompatibilitas : HPMC inkompatibel dengan beberapa agen pengoksidasi karena HPMC bersifat nonionik. . mengalami perubahan dan padat menjadi gel pada pemanasan dan pendinginan berturut-turut. tidak berasa dan tidak berbau.0 : merupakan material yang stabil walaupun higroskopis sebelum dikeringkan. maka HPMC tidak akan kompleks dengan garam-garam metal atau ion organik dapat memperlambat kecepatan melarut. Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas ::: 5. Stabil pada pH 5-11. larut dalam bentuk koloidal viskositas. etanol (95%) P dan eter tetapi larut dalam campuran etanol dan diklorometan. Sumber : Handbook of pharmaceutical exipient hal : 297.5 – 8.Sumber : FI III hal : 96 dan Handbook Of Pharmaceutical Exipient hal : 112 Gel a) HPMC/Hydromellose Pemerian : Serbuk granul berwarna putih atau putih cream.

Alat dan Bahan . Polimorfisme Ukuran Partikel ::- Titik lebur/titik didih: pKa/pKb Bobot Jenis pH larutan Stabilitas :: 0. Sumber : FI IV hal : 63 dan Handbook of Pharmaceutical Excipients hal : 13 – 14 III.8139 gr/ml :: Alkohol mengandung air yang disterilkan oleh autoclav atau dari filtrat dan harus dapat disimpan pada wadah kedap udara. Etanol ini kompatibel dengan alumunium dan berhubungan dengan beberapa obat. rasa panas.b) Alkohol Pemerian : Cairan jernih mudah menguap. mudah rusak dengan adanya cahaya. Inkompatibilitas : Dalam kondisi asam. dan bau khas.8119 – 0. Garam organik dan akasia dapat mempercepat dari air atau tercampur. tidak berwarna. etanol mungkin cepat bereaksi dengan metenal pengoksidasi bercampur dengan alkali mungkin menggelapkan warna. dalam kloroform P dan dalam eter P. bergerak dan mudah terbakar. berhubungan dengan suatu reaksi dengan aldehid yang bersifat basa. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.

Salep • • Asam salisilat 10% = 10/100 x 50 gr = 5 gr Propilen glikol 5 % = 5/100 x 50 gr = 2.5 gr .a) b) - Alat : Mortir dan stemper Gelas ukur Beker gelas Penangas air Stirrer Batang pengaduk Matkan Bahan : Asam salisilat Vasellin flavum Propilen glikol Oleum cocos Emulgid HPMC/Hypromellase Alkohol/etanol Aquadestilata - IV. Perhitungan dan Penimbangan a) Perhitungan 1.

5/100 x 50 gr = 3.5 gr)  = 22.5 gr  50 gr – (asam salisilat 10% + propilen glikol 10%) = 50 gr – (5 gr + 5 gr) = 40 gr 2.75 gr Emulgid 15% = 15/100 x 50 gr = 7.5% = 50 gr – (asam salisilat 10% + oleum cocos 30% + emulgid 7.5 gr 3.25 gr  Emulgid 15%  = 50 gr – (asam salisilat 10% + oleum cocos 30% + emulgid 15%)  = 50 gr –(5 gr + 15 gr + 7.75 gr) = 26.5 gr) = 42.• • Propilen glikol 10 % = 10/100 x 50 gr = 5 gr Vasselin flavum  50 gr – (asam salisilat 10 %) = 50 gr – 5 gr = 45 gr  50 gr – (asam salisilat 10% + propilen glikol 5 %) = 50 gr – (5 gr + 2.5 % = 7.5 gr Aguadest  Emulgid 7.5%) = 50 gr –(5 gr + 15 gr + 3. Gel • • Asam salisilat 10 % = 10/100 x 50 gr = 5 gr HPMC 10 % = 10/100 x 50 gr = 5 gr Aquadest = 50 gr – (asam salisilat 10% + HPMC 10 %) = 50 gr – (5 gr + 5 gr) • . Cream • • • • • Asam salisilat 10 % = 10/100 x 50 gr = 5 gr Oleum cocos 30% = 30/100 x 50 gr = 15 gr Emulgid 7.

a) Salep 1) Sediaan 1 • Asam salisilat digerus halus sesuai dengan ukuran partikel yang diinginkan .5 gr dan 40 gr Asam salisilat 10% = 5 gr  2x Oleum cocos 30% = 15 gr  2x Emulgid 7.5 gr dan 22. Prosedur Timbang masing-masing bahan yang akan digunakan.5% dan 15% = 3.= 40 gr • Alkohol + aquadest = 50 gr – (asam salisilat 10% + HPMC 10 %) = 50 gr – (5 gr + 5 gr) = 40 gr/2 = 20 gr • Air : Alkohol 1 : 1 Air = 20 gr : Alkohol = 20 gr b) Penimbangan bahan 1) Salep • Asam salisilat 10% = 5 gr  3x Propilen glikol 5% dan 10% = 2.75% dan 7. 42.5 gr Asam salisilat 10% = 5 gr  2x HPMC 10% = 5 gr Aquadest = 40 gr Aquadest : Alkohol = 20 gr : 20 gr • • • • 2) Cream • • 3) Gel • • • • 4.5 gr Aquadest = 26.5 gr dan 5 gr Vasselin flavum = 45 gr.

Massa semisolida yang sudah terbentuk dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam asam salisilat sambil diaduk sampai homogen kemudian dimasukkan kedalam pot salep. Kemudian masukkan asam salisilat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan tercampur rata Kemudian masukkan kedalam pot salep • • c) Gel 1) Sediaan 1 • HPMC yang telah ditimbang ditaburkan diatas air lalu diaduk cepat dengan stirer (beker gelas ditutup ketika diaduk untuk menghindari banyaknya jumlah udara yang terjebak) • • HPMC dimasukkan kedalam asam salisilat yang telah digerus dengan etanol kemudian diaduk perlahan-lahan.• Vasselin flavum dicampurkan kedalam asam salisilat sedikit demi sedikit. • • b) Cream • • • • Asam salisilat digerus halus dan ditambahkan etanol 95% sampai larut Campurkan emulgid dan oleum cocos kemudian panaskan pada suhu 70 0C Air panaskan pada suhu 70 0C Masukkan campuran emulgid dan oleum cocos serta air kedalam mortir. Kemudian masukkan kedalam pot salep. gerus sampai terbentuk massa cream yang homogen. 2) Sediaan 2 dan 3 • • Asam salisilat digerus halus sesuai dengan ukuran partikel yang diinginkan Propilen glikol dan vasselin flavum dipanaskan kedalam cawan penguap yang berbeda diatas penangas air sampai suhu 70 0C Setelah panas kedua bahan dicampur didalam mortir panas sambil diaduk homogen sampai dingin dan terbentuk massa semisolida. kemudian diaduk sampai homogen lalu masukkan kedalam pot salep. 2) Sediaan 2 .

• HPMC yang telah ditimbang ditaburkan diatas campuran airalkohol (1:1) kemudian diaduk cepat dengan stirer (beker gelas ditutup) • • HPMC dimasukkan kedalam asam salisilat yang sudah digerus dengan etanol kemudian diaduk perlahan-lahan. Kemudian masukkan kedalam pot salep. Hasil Pengamatan a) Salep Sediaan Salep 1 Waktu 1 jam 2 jam 3 jam 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 1 jam 2 jam 3 jam 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 1 jam 2 jam 3 jam 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari Homogenitas + Pertumbuhan - Salep 2 + Salep 3 + Keterangan: + : homogen/tumbuh mikroba . V.: tidak homogen/tidak tumbuh mikroba b) Cream Sediaan Waktu Homogenitas Pemisahan Pertumbuhan Penetuan .

yang dapat digunakan secara topikal. Asam salisilat merupakan asam yang bersifat iritan lokal. sedangkan pertumbuhan mikroba . krim dan gel. pada ketiga sediaan salep tersebut homogenitas atau ketercampuran zat aktip dalam formulasi telah terjadi mulai 1 jam penelitian dan seterusnya hingga pengamatan pada hari ke-4. Pembahasan Sediaan semisolid merupakan sediaan setengah padat yang dibuat untuk pengobatan melalui kulit. Sediaan ini harus mempunyai sifat mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini di cuci atau di hilangkan. serta diamati juga pemisahan fase dan penentuan tipe emulsi pada sediaan krim. Zat aktif yang digunakan pada masing-masing sediaan yaitu asam salisilat.fase Cream 1 1 jam 2 jam 3 jam 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 1 jam 2 jam 3 jam 1hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari + - Cream 2 + mikroba - emulsi M/A A/M Keterangan : A/M : air dalam minyak M/A : minyak dalam air VI. pada praktikum ini akan dilakukan pembuatan tiga sediaan semisolid. yaitu: salep. a) Salep Pada salep dibuat tiga sediaan dengan formula dan dosis yang berbeda dari tiap bahan yang dipakai. yang kemudiaan akan diamati homogenitas serta ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba pada sediaan tersebut.

karena penggunaan dasar salep sebagai zat pembawa tidak boleh kurang atau lebih dari 80-90%. dan sebagai menghambat fermentasi dan pertumbuhan jamur. sedikit atau tidak mengandung air.. desinfektan. basis hidrokarbon bersifat kompatibel dengan banyak zat aktif karena inert.pada sediaan tersebut setelah diamati tidak terjadi. Pola perubahan viskositas salep dengan penambahan berbagai kadar propilen glikol telah diteliti. Tidak bercampur dengan air sehingga sulit dicuci dan memberi kemungkinan waktu kontak yang panjang antara zat aktif dengan kulit yang diobati. 1983). sedangkan pada sediaan salep ke-2 dan ke-3 digunakan propilen glikol sebagai Propilen glikol dalam sediaan farmasi berfungsi sebagai humektan. pelarut. 1994). hal ini terjadi karena basis pada sediaan salep tersebut hanya menyerap atau mengabsorbsi sedikit air dari formulasi. Daya absorpsi terhadap air juga rendah hanya mencapai 5-10% sehingga daya absorpsinya terhadap eksudat yang mengalir dari luka juga kecil. Tertahannya air pada permukaan kulit menimbulkan rasa panas yang kurang menyenangkan. dan untuk meningkatkan kelarutan (Weller. jadi lebih tepat digunakan pada bagian kulit yang kering. Basis salep hidrokarbon termasuk dalamnya vaselin flavum/vaselin album tetap tinggal di permukaan kulit dan tidak berpenetrasi ke dalam kulit dan mampu mencegah menguapnya air dari permukaan kulit menyebabkan kulit menjadi lunak. tidak membantu penetrasi zat aktif sehingga cocok untuk salap emolien atau salap pelindung atau untuk terapi permukaan. Mengandung banyak rantai hidrokarbon jenuh sehingga tidak mudah tengik dan tahan panas sehingga dapat disterilkan. Pada sediaan salep ke-1 tidak ditambahkan propilen glikol dan vaselin tidak dilelehkan terlebih dahulu. Selain itu juga penambahan propilen glikol pada sediaan topikal juga dapat meningkatkan laju difusi (Agoes dkk. serta tidak mengabsorbsi air dari lingkungannya. Viskositas basis yang mengandung berbagai kadar propilen glikol diamati dengan menggunakan pelicin. tidak mudah mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu yang lama. kadar vaselin yang ditambahkan sekitar 90% hal ini dimaksudkan agar zat aktif dapat terserap pada basis/dasar salep yang di maksud. Pada praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sediaan salep tersebut merupakan basis salep hidrokarbon karena ketika dioleskan pada kulit sukar untuk di cuci. .

Penurunan viskositas terjadi secara eksponensial atau mengikuti kinetika orde pertama dengan harga tetapan penurunan viskometer adalah 7. distribusi yang merata dan teratur dari fase terdispersi serta penghalusan parikel primer yang besar. dimana pada sediaan krim ini tidak adanya agregasi partikel sekunder. Sedangkan menurut Formularium Nasional krim adalah sediaan setengah padat. tingkat kerja optimal dan bebas pengganggu ( Voigt. Pada percobaan sediaan krim setelah dilakukan penelitian homogenitas terjadi mulai dari 1 jam pertama setelah pembuatan. Ini menunjukan bahwa sediaan tersebut masih baik dan belum rusak. Penambahan propilen glikol dalam vaselin agar campuran stabil paling banyak 10 persen. sediaan salep ke-2 dan ke-3 dengan penambahan propilen glikol dalam konsentrasi yang berbeda pada formulasinya memberikan data homogenitas yang positif dan data pertumbuhan mikroba yang negatif. b) Cream Menurut Farmakope Indonesia III definisi krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Perubahan yang terjadi dikarenakan penambahan salahsatu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya . Ukuran partikel menentukan tingkat homogenitas zat aktif. Hasil perubahan menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar propilen glikol dalam basis salep vaselin memberikan viskometer basis yang semakin menurun. Sebagaimana pada sediaan salep ke-1.viskometer Brokfield VT 04. dimana krim dianggap rusak apabila terganggu sistem campurannya terutama disebabkan oleh perubahan suhu serta perubahan komposisi. Dan menurut Farmakope Indonesia IV.4x10-2 persen-1. krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Yang menjadi tujuan dari pembuatan salep adalah Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsang kulit. Sedangkan pemisahan fase dan pertumbuhan mikroba tidak terjadi hingga hari ke-4 pengamatan. Sebagai bahan pelumas pada kulit. 1984 ).

umumnya mengandung obat tunggal yang dimaksudkan untuk melawan diagnosis khusus. oleum cocos sebagai pembawa.25 gr. Krim adalah sediaan obat untuk pemakaian pada kulit.5%. Sediaan ini digunakan pada kulit antara lain untuk efek fisik. pelincir. emulgid 7.tidak tercampurkan satu sama lain ( Anonim. Krim pada umumnya merupakan absorpsi perkutan dari bahan obat ada pada prepat dermatologi yang tidak hanya tergantung dari sifat kimia dan fisika dari bahan obat saja. dibutuhkannya zat ini dalam sediaan krim karena ketidakcampuran zat aktif dengan zat pembawa sehingga sediaan krim akan berupa emulsion. pelembut. Sedangkan pada sediaan krim ke-2 hanya dibedakan konsentrasi emulgid dan aquadestnya. akan sampai pada pembuluh darah kapiler dan mengisi jaringan subkutan dan absorpsi masuk kedalam sirkulasi umum bukan tidak mungkin. oleum cocos 30%. yaitu kemampuan bekerja sebagai pelindung kulit. 1979 ). hal ini menunjukan bahwa komposisi dari fase air dan minyak akan menjadikan konsistensi dari sediaan tersebiut bervariasi. atau efek khusus dari bahan obat yang ada. Bagaimanapun juga sekali obat ini melewati epidermis. biasanya tidak dimasudkan (kecuali untuk sistem pengobatan melalui kulit) bahwa pengobatan masuk kedalam sirkulasi umum. disebut sebagai absorpsi perkutan. Setelah dilakukan penelitian dapat diketahui kalau sediaan pertama tipe emulsinya adalah M/A sedangkan yang kedua bertipe emulsi A/M. tapi juga pada sifat apabila dimasukkan kedalam pembawa farmasetika dan pada kondisi dari kulit. Walaupun pada umumnya diinginkan dalam pengobatan penyakit. Absorpsi bahan dari luar ke posisi di bawah kulit tercakup masuk kedalam aliran darah. dan aquadest 26. baik emulsi bertipe M/A atau emulsi bertipe A/M. Pada praktikum ini dibuat 2 sediaan krim dengan konsentrasi masingmasing bahan yang berbeda. dimana pada sediaan pertama terdiri dari asam salisilat 10%. Pada permukaan kulit ada lapisan dari bahan yang diemulsikan terdiri dari . untuk obat yang dalam pemakaiannya mengandung bahan obat supaya meresap melalui permukaan dan masuk kedalam kulit. yaitu emulgid 15% dan aquadest 22.5 gr. Pemakaian pada kulit yang memerlukan resep. zat pengering dan lain-lain. dan emulgid sebagai zat pengemulsi. Bahan yang dipakai pada pembuatan krim ini terdiri dari asam salisilat sebagai zat aktif.

minyak dan air merupakan difusi melalui stratum corneum seperti juga melalui epidermis dan lapisan kulit. menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat. Staratum corneum terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada umumnya keratin) dan 40% air dengan lemak berupa perimbangannya terutama sebagai trigliserida. . keringat dan lapisan tanduk yang dapat terkelupas. dan dermis secara bersama-sama dapat dianggap merupakan lapisan penghalang. dibawah lapisan tanduk secara teratur ada “lapisan penghalang” lapisan yang hidup stratum germinativum. asam lemak bebas. epidermis yang yang hidup. dan dermis atau kulit sesungguhnya. jumlah obat yang pindah. Sekali molekul obat melalui stratum corneum kemudian dapat terus melalui jaringan epidermis yang lebih dalam dan masuk kedalam dermis apabila obat mencapai lapisan pembuluh kulit maka obat tersebut siap untuk diabsorpsi kedalan sirkulasi umum. Penetrasi lapisan ini dapat terjadi dengan cara difusi. Jadi.Pembuluh darah kapiler dan serabut-serabut saraf timbul dari jaringan lemak subkutan masuk kedalam dermis dan sampai pada epidermis. Kandungan lemak dipekatkan dalam fase eksraselular starum corneum dan begitu jauh membentuk membran yang mengelilingi sel. Absorpsi perkutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi langsung obat melaui stratum corneum 10-15µm. Walaupun kulit dibagi secara histology kedalam stratum corneum. dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif. 1. 2. kelarutannya dalam air dan koefisien partisi minyak atau airnya.Penetrasi transelular (menyebrangi sel). Komponen lemak dipandang sebagai faktor utama yang secara langsung bertanggung jawab terhadap rendahnya penetrasi obat melalui stratum corneum.Penetrasi intraselular (antarsel).campuran kompleks dari cairan berlemak. tebal lapisan datar mengeringkan sebagaian demi sebagian jaringan mati yang membentuk permukaan kulit paling luar. Bahan –bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya. Stratum corneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permiabel. yang terakhir dari lapisan sel epidermis yang telah mati yang disebut “lapisan tanduk” dan stratum corneum dan letaknya langsung dibawah lapisan yang diemulsikan. kolestrol dan fosfat lemak.

Dengan mengganti cairan dengan gas dimungkinkan pula untuk membentuk aerogel ('gel udara'). namun mereka juga memiliki sifat seperti benda padat. pada sedioaan gel ke-1 terdiri dari asam salisilat 10%. tergantung pada berbagai faktor seperti sifat zat terapeutik yang akan dimasukan ke dalam emulsi. karena ia mencegah mengeringnya kulit dan tidak mudah hilang bila kena air. Tujuan dari pembuatan sediaan krim adalah untuk mendapatkan efek emolien atau pelembut jaringan dari sediaan tersebut dan keadaan permukaan kulit. Tentu saja dapat bercampurnya dan kelarutan dalam air dan dalam minyak dari zat obat yang digunakan dalam sediaan yang di emulsikan menentukan banyaknya pelarut yang harus ada dan sifatnya yang meramalkan fase emulsi yang dihasilkan . kelenjar lemak dan perlengkapan pilo sebaceous). Pada praktikum yang telah dilakukan. Pada kulit yang tidak luka. hidroxy propyl methyl celulosa (HPMC) 10%. luas permukaan yang sangat besar. Zat obat yang akan mengiritasi kulit umumnya kurang mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit. Suatu emulsi air dalam minyak juga lebih lembut ke kulit. Berdasarkan berat.: thyxotropy) : menjadi cairan ketika digoyang. Beberapa gel juga menunjukkan gejala histeresis. pada gel dibuat dua sediaan gel dalam dua formulasi yang berbeda.3. yang merupakan bahan dengan sifat-sifat yang khusus. namun pada rentang suhu tertentu dapat berperilaku seperti fluida (mengalir). dan isolator panas yang sangat baik. keringat. Sebaliknya jika diinginkan sediaan yang mudah dihilangkan dari kulit dengan air. dan gel rambut. tetapi kembali memadat ketika dibiarkan tenang. suatu emulsi air dalam minyak biasanya dapat dipakai lebih rata karena kulit diselaputi oleh suatu lapisan tipis dari sabun dan permukaan ini lebih mudah dibasahi oleh minyak daripada oleh air. Karena emulsi yang dipakai pada kulit sebagai obat luar bisa dibuat sebagai emulsi m/a ( minyak dalam air ) atau emulsi a/m ( air dalam minyak ). seperti massa jenis rendah. harus dipilih suatu emulsi minyak dalam air. sebagai zat aktif.Penetrasi transappendageal (melaluifolikel rambut. kebanyakan gel seharusnya tergolong zat cair. dan . Penampilan gel seperti zat padat yang lunak dan kenyal (seperti jelly). Biasanya gel memiliki sifat tiksotropi (Ing. Contoh gel adalah gelatin. c) Gel Gel adalah campuran koloidal antara dua zat berbeda fase: padat dan cair. agar-agar.

namun perbedaan antar batch dalam hal rata-rata berat molekul mungkin terjadi sehingga dapat berpengaruh terhadap karakteristik reologi dari karbomer. namun suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 70°C. Sebagai contoh hidroksietilselulosa bersifat inkompatibel dengan beberapa garam. metilselulosa dan hidroksipropilselulosa incompatible dengan preservatif golongan paraben. Kulit . dimana perbandingan air : alkohol = 1 : 1 = 20 gr : 20 gr.air sebanyak 40 gr. dimana dengan penambahan HPMC diharapkan konsistensi sediaan gel lebih baik. sedangkan pada sediaan gel ke-2 ditambahkan alkohol. Keberadaan bahan oksidator dalam formulasi gel yang mengandung selulosa juga harus dihindari karena degradasi oksidatif pada rantai polimer dapat menyebabkan penurunan secara cepat viskositas.Pada 1 jam pertama setelah pembuatan sediaan ini. Dikarenakan karbomer merupakan polimer sintetik maka variasi spesifikasi antar lot relative kecil. Perbedaan dari sediaan salep. hal ini dimungkinkan karena sifat asam dari zat aktif. serta fungsi masing-masing dari lapisan tersebut dan bagaimana proses absorpsi perkutan dari kulit tersebut. Bahasan mengenai sediaan semisolid tidak lepas dari konsep dasar mengenai kulit yang mencakup lapisan. Sebagai contoh jika diinginkan gel yang transparan maka penggunaan hidroksipropilmetilselulosa sebagai bahan pengental lebih cocok jika dibandingkan dengan metilselulosa. serta daya absorpsi dari masing-masing sediaan tersebut. Dalam pengembangan prototype formula gel perlu dilakukan evaluasi type dan grade selulosa yang digunakan. Penggunaan HPMC dalam sediaan gel yaitu sebagai gelling agen atau merupakan selulosa semisintetik yang banyak digunakan sebagai pengental dalam formulasi gel. dimana basis gel hanya dapat bercampur dengan suatu zat pada tingkat keasaman tertentu. seperti pada sediaan salep dan krim mulai dilakukan pengamtan dimana homogenitas dari sediaan tersebut terlihat baik. absorpsi sediaan ini pada kulit sama seperti pada sediaan krim. krim dan gel adalah dari basis atau bahan dasar yang digunakan sebagai bahan pembawa zat aktif yang dimaksudkan untuk pengobatan secara topikal. Pemanasan dapat mempercepat proses gelasi pada karbomer. Faktor inkompatibilitas juga harus diperhatikan dalam pemilihan bahan pengental. sediaan ini baik digunakan untuk luka yang berair karena basis gel dapat menyerap air lebih banyak dari basis salep atau krim. akan tetapi setelah 1-5 hari pengamatan basis gel tidak homogen lagi dengan zat aktifnya.

4) Stratum spinosum (stratum malphigi) atau disebut pula pricle cell layer (lapisan akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.50-1. berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. 2000). 5) Stratum basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). 2001). Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian. yaitu: 1) Pars papilare. yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1. dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). tidak berinti.elemen seluler dan folikel rambut.merupakan pembungkus elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen. Sel-sel spinosum mengandung banyak glikogen. Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah (Djuanda. 2) Stratum lusidium terdapat langsung di bawah lapisan korneum. yaitu: a. . yaitu bagian yang menonjol ke epidermis. merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin.75m2 . Kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama. Lapisan epidermis Lapisan epidermis terdiri atas: 1) Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati. b. Lapisan dermis Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya. Rata-rata tebal kulit 1-2 mm (Harahap. 3) Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti diantaranya.

Fungsi proteksi. kulit yang sehat tidak mudah menyerap air. 4. ada pun fungsinya yaitu : 1. tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap. . Fungsi absorpsi. yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan. memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik. urea. Fungsi ekskresi. misalnya tekanan. Kulit memiliki beberapa fungsi. Lapisan subkutis Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis. 5. Fungsi persepsi. 2001). gesekan. misalnya zat.zat kimia terutama yang bersifat iritan. kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl. 7. asam urat. kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis. c. elastin.ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. dan amonia.dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah (Djuanda. Fungsi keratinisasi. larutan dan benda padat. 2. sel pembentuk pigmen (melanosit). kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit. terletak di lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen (melanosomes) menentukan warna kulit ras maupun individu. Sel-sel lemak merupakan sel bulat. tarikan. kulit mengandung ujung.bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termolegulasi). 2001). dan retikulin (Djuanda. 3. terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. besar. Badan-badan krausea berperan dalam perangsang dingin yang terletak di dermis. Perbandingan jumlah sel basal dengan melanosit adalah 10 : 1. begitupun yang larut lemak. Fungsi pembentukan pigmen. Badan-badan Ruffini berperan dalam perangsang panas yang terletak di dermis dan subkutis.2) Pars retikulare. gangguan kimiawi. 6.

misalnya membran polimer (Martin et al. Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans. 1995). Rute penetrasi obat ke dalam kulit Penetrasi obat ke dalam kulit dimungkinkan melalui dinding folikel rambut.membran bagi . epidermis yang utuh. Absorpsi Perkutan Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis. Fungsi pembentukan vitamin D.. Penetrasi ke dalam kulit ini dapat terjadi dengan cara difusi melalui penetrasi transeluler (menyeberangi sel). b. c. kemudian bergerak menjauhi permuk aan memasuki pelarut (Martin et al. Disolusi Disolusi didefinisikan sebagai tahapan dimana obat mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya (Martin et al. keringat. Dalam sistem biologis pelarut obat dalam media aqueous merupakan bagian penting sebelum kondisi absorpsi sistemik (Shargel et al. 2001).. Supaya partikel padat terdisolusi molekul solut pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan padat. 1993). Difusi Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekul secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas. Absorpsi melalui epidermis relatif lebih cepat karena luas permukaan epidermis 100 sampai 1000 kali lebih besar dari rute lainnya (Lachman et al. penetrasi transepidageal (melalui folikel rambut.. dimungkinkan dengan mengubah dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari (Djuanda. Apabila kulit utuh maka cara utama untuk penetrasi masuk umumnya melalui lapisan epidermis lebih baik dari pada melalui folikel rambut atau kelenjar keringat (Ansel. Absorpsi perkutan didefinisikan sebagai absorpsi menembus stratum korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut menembus lapisan di bawahnya dan akhirnya masuk ke sirkulasi darah. 1994).. dan dermis merupakan lapisan penghalang penetrasi obat ke dalam kulit. 1994). Stratum korneum.8. 1993). dan perlengkapan pilo sebaseus) (Ansel.. 2005). a. penetrasi interseluler (antar sel). 1993) atau suatu proses dimana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam pelarut. Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat (Lachman et al.. 1995).

Menurut hukum difusi Fick. cetostearylalcoholum. Dalam formula ini merupakan krim tipe air – minyak. campurannya merupakan fase minyak. vasselin album terlihat lebih baik dari pada vasselin flavum sebagai dasar basis salep hidrokarbon.umumnya obat. paraffinum liquidum. 2005). dan vaselinum album. usulan formula yang kita usulkan pada sediaan tersebut terdapat Betamethasonum sebagai zat berhasiat dari krim ini. juga terdapat propilen glikol sebagai humektan pada sediaan tersebut. Selain itu pada sediaan ini terdapat vasselin album. karena fase minyak bertindak .. Cetomacrogolum1000. yang dapat digunakan secara topikal.2 g Paraffinum liquidum 1 g Vaselinum album 2. VII. b) Cream Formulasi cream asam salisilat : Komposisi : Tiap 50 g mengandung : Betamethasonum 1 gr Cetomacrogolum-1000 300 mg Cetostearylalcoholum 1. Aqua destillata merupakan fase air. molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah (Shargel et al. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel.5 g Aqua destillata hingga 10 g Pada sediaan krim. dimana asam salisilat merupakan asam yang bersifat iritan lokal. Usulan Formula a) Salep Formulasi salep Asam salisilat : Komposisi : Tiap 50 gr mengandung : Asam salisilat 10% Propilen glikol 5% Vasselin album 10% Pada formula yang kita usulkan dalam pembuatan sediaan salep terdapat asam salisilat sebagai zat aktif.

c) Gel Formulasi Gel asam salisilat : Komposisi : Tiap 50 gr mengandung : VIII. Weller. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB.sebagai fase kontinyu dan fase air didispersikan sebagai bola. Daftar Pustaka 1. Agoes G. 8. Anonim. MIMS Bahasa Indonesia Vol. Ilmu Meracik Obat. Farmasetika. 2nd ed. Dytha Andri Deswati. Teknologi Farmasi Likuida Dan Semi Solida. Anief. Anief Apt.T. edisi II.J. 1993. 1994. The Pharmaceutical Press London. 1978. Bandung. Prof.2007. Formularium Nasional. Wade. Drs. Farmakope Indonesia.Apt. Jakarta 5. Departemen Kesehatan RI. 1979. 2000. tahun 1995 2. 1997. Farmakope Indonesia Edisi III. UGM Press.Jakarta 7. UNFARI. Edisi III. Farmasetika II. Farmakope Indonesia Edisi IV. 6.9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. tahun 2008 4. & P. 10. Moh. Anonim. Moh.bola kecil ke seluruh fase kontinyu. Handbook of Pharmaceutical Excipients. . Gajah Mada University Press : Yogyakarta 9. tahun 1979 3. A. S.Far. Darijanto S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->