Uji Asumsi Klasik Pengukuan asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, uji

multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokolerasi. (Imam Ghozali, 2009:107) a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel independent dan variabel dependent atau keduanya terdistribusikan secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Untuk mendeteksi normalitas data dapat diuji dengan analisis grafik dan uji statistik. 1. Analisis Grafik Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas adalah melihat histogram yang membandingkan antara data observasi dengan 42

Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks kolerasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance. Uji multikolinieritas pada penelitian dilakukan dengan matriks kolerasi.5 maka dapat dikatakan data yang akan dianalisis terlepas dari 43 . padahal secara statistic bisa sebaliknya. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika distribusi data adalah normal. Secara visual kelihatan normal. b.distribusi yang mendekati dengan distribusi normal. maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Analisis Statistik Uji normalitas residual dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. 2.nya. Dalam penelitian ini. Jika terjadi kolerasi. Oleh sebab itu disamping dengan uji grafik juga dilakukan uji statistik. maka dinamakan terdapat problem Multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. uji statistic yang digunakan adalah Uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila nilai matriks korelasi tidak ada yang lebih besar dari 0.

gejala multikolinearitas. Jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen. maka diambil kesimpulan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolineritas. jika variabel bebas tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen. d. Kemudian apabila nilai VIF berada dibawah 10 dan nilai tolerance mendekati 1. 2001). terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Sebaliknya. Dan jika varians berbeda. Uji ini dilakukan dengan cara melakukan regresi variabel bebas dengan nilai absolut dari residualnya. Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi. 2001). Uji Autokorelasi Bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier berganda terdapat korelasi antara residual pada periode t dengan 44 . maka disebut Homokedastisitas. maka ada indikasi terjadi heterokedaskitas. maka ada indikasi tidak terjadi heterokedaskitas (Imam Gozali. Jika varians dari residul dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap. Salah satu cara untuk melihat ada tidaknya heterokedaskitas adalah menggunakan uji Glejser. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas (Imam Gozali. disebut Heterokedastisitas. c.

Artinya variabel bebas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. a. artinya ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji dua arah dengan hipotesis sebagai berikut: a. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk menilai t hitung digunakan rumus : Kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut : 1.2 Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan pengujian secara parsial (Uji t) dan penyajian secara simultan (Uji F). Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung < t tabel. b. 3.h ng f 1 1 residualperiode t-1 (sebelumnya). Ho = b1 ≠ 0.6. Pengujian Secara Parsial (Uji t) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara parsial variabel bebas berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap variabel terikat. 45 . Ho = b1 = 0. artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

Pengujian Secara Simultan (Uji F) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara bersama-sama apakah variabel bebas berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap variabel terikat (Imam Ghozali:2007). artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas secara bersama-sama. Penentuan besarnya Fhit menggunakan rumus : Keterangan : R = koefisien determinan n = jumlah observasi k= jumlah variable 46 . Ho diterima dan Ha ditolak apabila t hitung > t tabel. Artinya variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Ho : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0. Ho : b1 = b2 = b3 = 0.𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑅2/ 𝑘 𝑅2 𝑛 𝑘 2. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji dua arah dengan hipotesis sebagai berikut: a. artinya ada pengaruh secara signifikan dari variabel bebas secara bersama-sama. b. b.

koefisien determinasi (R2) dipergunakan untuk mengetahui persentase perubahan variabel tidak bebas (Y) yang disebabkan oleh variabel bebas (X). Artinya variabel bebas secara bersamasama tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. maka dapat dikatakan bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Analisis Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat ketepatan paling baik dalam analisa regresi. 2006 : 204) adalah: 47 . Artinya variabel bebas secara bersamasama berpengaruh secara signifikan terhadap variable terikat.3 Analisis Regresi Sederhana Persamaan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu Average Collection Period terhadap likuiditas perusahaan (Sugiyono. 3. Ho diterima dan Ha ditolak apabila F hitung < F tabel. Ho diterima dan Ha ditolak apabila F hitung > F tabel. 2. berarti variabel independen sama sekali tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. c. Apabila koefisien determinasi mendekati satu.Kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut : 1. Koefisien determinasi (R2) nol. dimana hal yang ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi (R 2) antara 0 (nol) dan 1 (satu).6. Selain itu.

net profit margin. earning power X = Average Collection Period b = Perkiraan koefisien regresi untuk mengukur besarnya pengaruh X terhadap Y a = Konstanta ℮ = Epsilon atau variabel pengganggu a.Y = a + bX + ℮ Dimana: Y = Cash ratio. Pengaruh Average Collection Period terhadap Cash Ratio Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang (receivable turnover ratio) terhadap rasio kas (cash ratio) digunakan persamaan sebagai berikut: Y = a + bX + ℮ Dimana: Y = Rasio kas (cash ratio) X = Average Collection Period b = Perkiraan koefisien regresi a = Konstanta ℮ = Epsilon atau variabel pengganggu 48 .

Pengaruh Average Collection Period Terhadap Net Profit Margin Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang (receivable turnover ratio) terhadap net profit margin digunakan persamaan sebagai berikut: Y = a + bX + ℮ Dimana: Y = Net Profit Margin X = Average Collection Period b = Perkiraan koefisien regresi a = Konstanta ℮ = Epsilon atau variabel pengganggu c.b. Pengaruh Average Collection Period Terhadap Earning Power Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang (receivable turnover ratio) terhadap earning power digunakan persamaan sebagai berikut: Y = a + bX + ℮ Dimana: Y = Earning Power X = Average Collection Period b = Perkiraan koefisien regresi a = Konstanta ℮ = Epsilon atau variabel pengganggu .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful