P. 1
Hdr

Hdr

|Views: 48|Likes:
Published by Imas Purwati

More info:

Published by: Imas Purwati on Jan 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang Masalah
  • 1.2.1 Tujuan Umum
  • 1.2.2 Tujuan Khusus
  • 1.3 Rumusan Masalah
  • 2.1.1 Pengertian Keperawatan Gerontik
  • 2.1.2 Batasan Lanjut Usia
  • 2.1.3 Proses Menua
  • 2.1.4 Teori Proses Menua
  • 2.1.5 Stereotipe Psikologik Orang Lanjut Usai
  • 2.1.6 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia
  • 2.1.7 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
  • 2.1.8 Perubahan – Perubahan Pada Lansia
  • 2.2.1 Definisi
  • 2.2.2 Etiologi
  • 2.2.3 Tanda dan Gejala
  • 2.2.4 Mekanisme Koping
  • 2.2.5 Klasifikasi
  • 2.2.6 Rentang Respon
  • 2.2.7 Proses
  • 2.2.8 Pohon Masalah
  • 2.2.9 Penatalaksanaan
  • 2.3.1 Pengkajian
  • 2.3.2 Masalah keperawatan
  • 2.3.3 Intervensi
  • 3.1 Skenario
  • 3.2 Jawaban Skenario
  • 4.1 Kesimpulan
  • 4.2 Saran
  • 5. Carpenito, Lynda Juall. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta
  • 6. Keliat, Budi Anna.(1999). Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. EGC: Jakarta
  • 7. Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa. (2005). Modul Community Mental Health
  • 8. NANDA International. (2008). Nursing Diagnoses: Definition and Classification

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Harga diri merupakan suatu nilai yang terhormat atau rasa hormat yang dimiliki seseorang terhadap diri mereka sendiri. Hal ini menjadi suatu ukuran yang berharga bahwa mereka memiliki sesuatu dalam bentuk kemampuan dan patut dipertimbangkan (Townsend, 2005). Harga diri rendah adalah suatu masalah utama untuk kebanyakan orang dan dapat diekspresikan dalam tingkat kecemasan yang tinggi. Harga diri rendah kronik merupakan suatu keadaan yang maladaptif dari konsepdiri, dimana perasaan tentang diri atau evaluasi diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Termasuk didalam harga diri rendah ini evaluasi diri yang negatif dan dihubungkan dengan perasaan lemah, tidak tertolong, tidak ada harapan, ketakutan, merasa sedih, sensitif, tidak sempurna, rasa bersalah dan tidak adekuat. Harga diri rendah kronik merupakan suatu komponen utama dari depresi yang ditunjukkan dengan perilaku sebagai hukum dan tidak mempunyai rasa (Stuart & Laraia, 2001). Jika individu sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, merasa gagal mencapai keinginan (Kelliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini jika tidak segera ditanggulangi sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda- tanda harga diri rendah yaitu rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial, kurang percaya diri kadang sampai mencederai diri sendiri (Townsend, 1998). Dalam hal ini penulis mengambil kasus harga diri rendah dikarenakan masalahmasalah kejiwaan bisa muncul lebih serius itu dimulai dari harga diri rendah. Kasus ini juga dapat memberikan gambaran bagaimana seseorang mengalami gangguan pada konsep dirinya yaitu harga diri rendah dan dampak apa saja yang bisa ditimbulkan jika masalah tersebut tidak teratasi.

1

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami serta dapat mengaplikasikan konsep keperawatan pada lansia dengan masalah harga diri rendah. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu untuk mengetahui dan memahami tujuan perawatan lansia. b. Mahasiswa mampu untuk mengetahui dan memahami konsep harga diri rendah. 1.3 Rumusan Masalah a. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tujuan perawatan lansia. b. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami konsep harga diri rendah.

2

BAB II PEMBAHASAN MATERI 2.1 Konsep Dasar Keperawatan Gerontik 2.1.1 Pengertian Keperawatan Gerontik Keperawatan Gerontik adalah Praktek perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua (KOZIER, 1987). Menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik adalah ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi. Menua (= menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo, 2004; 3) Menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU no 13 tahun 1998 dikutip dari Maryam (2008:32) tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Lansia masa dimana proses produktifitas berfikir berakhir, mengingat, menangkap dan merespon sesuatu sudah mulai mengalami penurunan secara berkala (Muhamad:15). Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia menurut Keliat (1999) dikutip dari Maryam (2008:32 2.1.2 Batasan Lanjut Usia DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut: 1. Kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. Kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. Kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi: 1) Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun. 3

2) Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun 3) Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun 4) Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun 2.1.3 Proses Menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan: 1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial, 2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, 3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996) Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbulah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu: 1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain, 2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya, 3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah,

4

Berkaitan dengan perubahan fisk. ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein. 1994) adalah: 1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Berkaitan dengan perubahan.4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak dan 5) Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa. 6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. terakhir minta terhadap kegiatan – kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. 5) Kurang ada motivasi. 5 . Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. 2) Penarikan diri ke dalam dunia fantasi 3) Selalu mengingat kembali masa lalu 4) Selalu khawatir karena pengangguran. kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. dan 7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan. Munandar. Ciri – ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock. 1992) Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. 1979. Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan. Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.

terjadai kesalahan dalam proses transkripsi (DNA RNA maupun dalam proses translasi RNA protein/ enzim). 2. ketidaktergantungan secara ekonomi. pencegahan penyakit dll. b) The Error Theory Terjadi mutasi progresif pada DNA sel somatic.Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat.1. menikmati kerja dan hasil kerja. kontak sosial luas. menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain. Secara teoritis dapat dimungkinkan kita memutar jam ini lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh – pengaruh dari luar berupa peningkatan kesehatan. namun kemampuan untuk memperbaiki sifatnya terbatas pada kesalahan dalam proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tentu menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim yang dapat menghasilkan zat berbahaya. Jadi menurut konsep ini kita akan meninggal dunia meskipun tidak disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit Teori ini didukung oleh kenyataan mengapa beberapa spesies mempunyai perbedaan umur harapan hidup yang nyata.4 Teori Proses Menua 1) Teori – Teori Biologi a) Hayflick Limit Teori (Biological Clock = Genetic Theory = Celluler Aging) Tiap spesies di dalam inti sel mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi Jam ini menghitung mitosis dan menghentikan replikasi. “Error Catastophe” adalah menua disebabkan oleh kesalahan – kesalahan beruntun dalam waktu yang lama. Walaupun dalam batas tertentu kesalahan dapat diperbaiki. c) Wear And Tear Theory 6 . akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan sel.

e) Immunity Theory Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi.Menurut teori ini meninggal adalah suatu hasil penggunaan jaringan yang berlebihan karena mereka tidak dapat meremajakan kembali karena pemakaian secara terus nmenerus dan tak ada habis – habisnya. Vitamin E. Zat tersebut adalah superoksida. maka hal ini menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel mengalami perubahan sebagai sel asing dan menghancurkannya. dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). provitamin A (beta karoten). d) Free Radical Theory Radikal bebas bersifat merusak karena sangat reaktif. Ada sebagian masih tetap lolos dan makin lanjut usia makin bertambah banyak sehingga proses pengrusakan terjadi. Mutasi menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel. peroksida. Teori ini mewakili kepercayaan bahwa suatu organ atau jaringan mempunyai program jumlah energi untuk mereka. kerusakan makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati. asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel. hidrogen dan radikal hidroksil. sehingga data bereaksi dengan DNA. Menua dapat dipandang sebagai suatu proses fisiologi yang ditentukan oleh jumlah pemakaian dan kerusakan yang seorang telah digunakan. 7 . protein. Rasikal bebas juga dapat dinetralkan menggunakan senyawa nonenzymatic seperti vitamin C. Radikal bebas dihasilkan sebagai zat antara oleh proses respirasi mengubah bahan bakar menjadi ATP yang melibatkan oksigen. enzim katalase yang berunsur Fe dalam bentuk Haem. Walaupun tubuh mempunyai zat penangkal yaitu: superoksida dismutase (SOD). enzim glutation peroksidase.

Setelah agen menyerang seharusnya mitosis terjadi tetapi dalam hal ini tidak. 2) Teori Sosiologi a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Hal ini menyebabkan penurunan dari fungsi struktur. f) Cross Linkage Theory Yang memisahkan struktur molekuler adalah loncatan bersama reaksi kimia. Pada lansia terjadi penurunan efisiensi sistem imun pertahanan tubuh untuk mengankat agen rantai silang. Teori ini menjelaskan penyebab utama arteriosklerosis. Hasil akhir rantai silang adalah peningkatan kepadatan molekul kolagen yang menyebabkan penurunan kapasitas untuk transport nutrisi dan untuk mengangkut produk sisa dari sel. daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun sehingga sel kanker leluasa membelah. penurunan sistem imun dan penurunan elastisitas pada usia lanjut. sehingga menyebabkan rantai silang. Fiber yang baru terbentuk kemudian ditangkap fiber yang tua membentuk rantai silang. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia b) Kepribadian berlanjut (continuity theory) 8 . Terutama adalah kolagen yang relatif panjang dan lamban dihasilkan oleh fibroblast.Dipihak lain imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia.

Demikian juga jika menderita penyakit maka kemampuan akan terbatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki. kesehatan biologis individu. Lansia mungkin mengalami penurunan untuk kemampuan yang dengan mempengaruhi kemampuannya berhubungan lingkungannya. dan harapan. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun. kehilangan peran 2. Lingkungan juga menjadi lebih mengancam dan mungkin tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berhubungan dengan lingkungan. baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss). Jika mereka memberikan reaksi terhadap stres. kognitif dan sensori persepsi. c) Teori pembebasan (disengagement theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia. hambatan kontak sosial 3. tantangan atau ketakutan untuk melepaskan diri dari interaksi. yakni : 1. pada situasi sekarang sering menghasilkan beberapa respon karena lansia adalah individual. seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Respon lansia dari sekarang didasarkan pada kehidupan yang telah dialami. tingkat ketrampilan motorik. Setiap orang meliputi: kekuatan ego. berkurangnya kontak komitmen d) Person – Environment Fit Theory Teori ini menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara kemampuan suatu kelompok dalam masyarakat dan lingkungan sosial mereka.Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. responnya harus dihormati 9 . kepercayaan.

ketika seseorang telah memenuhi kebutuhan dasar maka akan mancapai kebutuhan yang lebih tinggi. Lima fase perkembangan itu yaitu : (1) Masa Kanak – kanak: tidak mempunyai tujuan hidup yang realistis (digambarkan waktu tidak jelas) 10 . c) Course of Human Life Theory Fokus pada teori ini adalah mengidentifikasi dan pencapaian tujuan kehidupan seseorang menurut lima fase perkembangan. kepribadian sering dimulai perubahan dari luar difokuskan dan perhatian kemandirian dirinya dimasyarakat ke yang lebih dalam seperti individu mencari jawaban dari dalam diri. Kunci dari perkembangan kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan diri.3) Teori Psikologi a) Maslow’s Hierarchy of Human Needs Theory Menurut teori ini tiap individu mempunyai hirarki kebutuhan dan semua individu berusaha untuk memenuhinya. Kebutuhan individu mempunyai prioritas yang berbeda. Seseorang yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang paling tinggi aktualisasi diri. b) Jung’s Theory of Individualism Teori ini menjelaskan bahwa kepribadian seseorang digambarkan tidak hanya berorientasi pada dunia luar (Extroved) tetapi juga pengalaman pribadi (introved) keseimbangan antar keduanya merupakan faktor yang penting untuk kesehatan mental. Kebutuhan dasar digambarkan dalam segitiga. Individu dapat menerima prestasi dan ketrebatsannya. Perjalanan proses menua. Menua dikatakan sukses ketika seseorang melihat ke dalam dan menilai dirinya lebih dari kehilangan atau pembatasan fisiknya.

5 Stereotipe Psikologik Orang Lanjut Usai Biasanya sifst –sifat stereotipe para lansia ini sesuai dengan pembawaannya pada waktu muda. Beberapa tipe dikenal adalah sebagai berikut: 1) Tipe Konstruktif 11 . pencapaian tugas perkembangan memberi kontribusi kebahagian dan perasaan sukses individu.1. Tugas perkembangan khusus beberapa sumber yaitu: (1) Kematangan fisik (2) Pengharapan budaya masyarakat (3) Nilai dan aspirasi individual Tugas perkembangan lansia meliputi: (1) Pengaturan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan (2) Pengaturan dari pengunduran diri dan penurunan penghasilan (3) Pengaturan meninggalnya suami / istri (4) Mendirikan perkumpulan kelompok umur. mengevaluasi apakah mempunyai atau tidak prestasi dan sering mulai merubah tujuan hidup (rencana untuk selanjutnya) (5) Fase Terakhir (Usia lanjut): merupakan waktu untuk menghentikan mencapai cita – cita tujuan hidup d) Developmental Theory Setiap individu harus belajar tugas perkembangan yang khusus pada berbagai tingkat kehidupan.(2) Remaja dan dewasa muda: mulai mempunyai konsep yang spesifik mengenai tujuan hidup (3) Usia 25 tahun: mulai lebih konkret tentang tujuan hidup dan aktif bekerja untuk mencapainya (4) Usia pertengahan: melihat kebelakang kehidupannya. adaptasi tugas masyarakat (5) Membuat perencanaan kehidupan fisik yang memuaskan 2.

dan tahu diri.. curiga. 3) Tipe Defensif Orang ini biasanya dulunya mempunyai pekerjaan / jabatan tak stabil. Biasanya mempunyai perkawinan yang tak bahagia. mereka sudah cukup mempunyai apa yang ada. selalu mengeluh. Biasanya sifat – sifat ini dibawanya sejak muda. Mereka dapat menerima fakta – fakta proses menua. merasa menjadi korban dari keadaan. fleksibel (luwes). Ia senang mengalami pensiun. 2) Tipe Ketergantungan (Dependent) Orang lansia ini masih dapat diterima di tengah masyarakat. tak mempunyai ambisi. juga dalam menghadapi masa akhir. sering kali emosinya tak dapat dikontrol.. tidak suka bekerja dan senang untuk berlibur. tak berambisi. takut mati. Mereka menganggap 12 . memegang teguh pada pada kebiasaannya. Anehnya mereka takut menghadapi ”menjadai tua” dan tak menyenangi masa pensiun. dapat menikmati hidupnya. tak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis. Biasanya pekerjaan waktu dulunya tidak stabil. Menjadi tua dianggapnya tidak ada hal – hal yang baik. mengalami masa pensiun dengan tenang. malahan biasanya banyak makan dan minum. tetapi selalu pasif. tidak iri hati pada orang yang berusia muda. humoristik. bersifat kompulsif aktif.Orang ini mempunyai integritas baik. mempunyai toleransi tinggi. bersifat agresif. bersifat selalu menolak bantuan. Biasanya orang ini dikuasai oleh istrinya. mengalami penurunan kondisi sosio – ekonomi. mempunyai sedikit “hobby”. 4) Tipe Bermusuhan (Hostility) Memreka mengannggap orang lain penyebab kegagalannya.. 5) Tipe Membenci / Menyalahkan Diri Sendiri (Selfhaters) Orang ini bersifat kritis terhadap dan menyalahkan diri sendiri. iri hati pada orang yang muda. namun mereka menerima fakta pada proses menua. masih tahu diri. senang mengadu untung pada pekerjaan – pekerjaan aktif untuk menghindari masa yang sulit / buruk.

c.1. d. Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia 2. mental maupun sosial. dihargai dan dihormati. c.kematian sebagai suatu kejadian yang membebaskannya dari penderitaanya. b. Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia. antara lain: 1) Permasalahan umum a. 2) Permasalahan khusus : a. Lahirnya kelompok masyarakat industri.7 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan 1) Hereditas atau ketuaan genetik 2) Nutrisi atau makanan 13 .1. d. Statistik kasus bunuh diri menunjukkan angka yang lebih tinggi persentasenya pada golongan lansia ini. Banyaknya lansia yang miskin. apalagi pada mereka yang hidup sendirian. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan . 2. e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia. terlantar dan cacat. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. Rendahnya produktifitas kerja lansia.6 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia. e. f. b.

3) Terjadinya pengumpalan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin. c. 3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler. mengecilnya saraf pencium dan perasa. lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. khususnya dengan stres. Sistem pendengaran 1) Presbiakus (gangguan pada pendengaran). b. Sistem persyarafan 1) Cepatnya menurun hubungan persarafan. 50 % terjadi pada usia di atas umur 65 tahun. 2) Membran tympany menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.1.8 Perubahan – Perubahan Pada Lansia 1. Sel 1) Lebih sedikit jumlahnya 2) Lebih besar ukurannya.3) Status kesehatan 4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan 6) Stres 2. d. Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam. suara yang tidak jelas. hilangnya pendengaran. Sistem penglihatan 1) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar 14 . sulit mengerti kata-kata. 3) Mengecilnya saraf panca indera. Perubahan Fisik Berbagai perubahan anatomik / fisiologik akibat proses menua dan akibat patologiknya a. terutama terhadap bunyi suara/nada-nada yang tinggi. Berkurangnya penglihatan. 2) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi.

reaksi sifatnya lebih alkali. BJ urine menurun. terjadi perubahan-perubahan warna. kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni. 6) fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi menurun) 7) Lever (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan dan berkurangnya tempat aliran darah. e. vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin.2) Kornea lebih berbentuk sferis (bola) 3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) 4) Meningkatnya ambang pengamatan sinar. BUN meningkat sampai 21 mg %. Sistem genito urinaria 1) Ginjal Mengecil dan nefron menjadi atropi. sekresi menjadi berkurang. f. daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam kegelapan. Sistem endokrin 1) Produksi dari hampir semua hormon menurun 2) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah. 5) Hilangnya daya akomodasi. 15 . 3) Pembesaran prostat ± 75 % dialami oleh pria usia diatas 65 tahun. tetapi kapasitasnya untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua. proteinuria (biasanya + 1). 2) Vesika urinaria (kandung kemih) : otot-otot menjadi lemah. aliran darah ke ginjal menurun sampai 50& fungsi tubulus berkurang akibatnya : kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urine. nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. 4) Vagina : Selaput lendir menjadi kering dan elastisitas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus. 5) Daya seksual : Orang-orang yang makin menua masih juga membutuhkannya tidak ada batasan umur tertentu dimana fungsi seseorang berhenti : frekuensi seksual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun.

FSH dan LH. TSH. 7) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya. 16 . misalnya : progesteron. lutu dan jari-jari pergelangan terbatas. Sistem muskuloskeletal (musculosceletal system) 1) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh. Sistem kulit 1) Kulit mengerut/keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Menurunnya BMR (basal metababolic rate) dan menurunnya daya pertukaran zat.3) Pituitari : Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah. estrogen dan testeron. g. 2) Kifosis 3) Pinggang. 5) Kuku jari menjadi keras dan rapuh. 5) Persendian membesar dan menjadi kaku. 7) Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil) : serabut-serabut otot mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban. 4) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi. Menurunnya sekresi hormon kelamin. 6) Tendon mengerut dan mengalami sklerosis. 2) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu. h. 5) Menurunnya produksi aldosteron. 3) Rambut dalam hidung dan telinga menebal. 4) Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang). 6) Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk. 4) Menurunnya aktivitas tiroid. berkurangnya produksi dari ACTH.

Pensiun: bila seseorang pensiun dia akan kehilangan finansial. Tingkat pendidikan d. Gangguan saraf panca indera. status. Penyakit kronis dan ketidakmampuan e. Berkurangnya penampilan. Kenangan jangka panjang Berjam – jam sampai berhari – hari yang lalu mencakup beberapa perubahan. Perubahan Psikososial Perubahan psikosial meliputi: a. Merasakan/sadar akan kematian c. Pertama-tama perubahan fisik khususnya organ perasa b. Perubahan cara hidup d. Perubahan Mental  Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental : a. Keturunan (herediter) e. Kesehatan umum c. 3.2. pekerjaan/kegiatan b. kenangan buruk  IQ (intelegency Quation) a. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal b.  Kenangan (memori) Kenangan lama tidak berubah a. persepsi dan ketrampilan psikomotor : terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan – tekanan dai faktor waktu. Kenangan jangka panjang 0 – 10 menit. Lingkungan  Perubahan kepribadian yang drastis. teman/relasi. Keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang ketakutan mungkin oleh faktor lain seperti penyakit. timbul kebutaan dan ketulian 17 . b.

Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. 2000). Semakin matur dalam kehidupan keagamaan c. 2. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri. Individu cenderung untuk menilai dirinya negatif dan merasa lebih rendah dari orang lain (Depkes RI. yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. Harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen. gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan. perubahan konsep diri 4. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga.f. 1998) Menurut Schult & Videbech (1998). perubahan gambaran diri.2 Konsep Dasar Harga Diri Rendah (HDR) 2. yang dapat di ekspresikan secara langsung maupun tidak langsung. (Budi Ana Keliat.1 Definisi Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri/perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu yang lama (NANDA. 1999). merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat. 1998). perasaan dan pengalaman tentang diri atau kemampuan diri yang negatif. 2005). tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjang akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Perkembangan Spiritual Perubahan spiritual meliputi: a. Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri.2. Menurut Fowler (1991): perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan keadilan. 1998 :227) 18 . termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. merasa gagal menapai keinginan. (Towsend. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi b.

Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri. Ada tiga jenis transisi peran :  Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. 1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang megancam.2 Etiologi Penyebab terjadinya harga diri rendah antara lain : a. 2) Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Setiap perkembangan harus dilalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda-beda. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan normanorma budaya. misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Faktor predisposisi ( Stuard and Sudeen. 1998 ) Stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti . Faktor presipitasi ( Stuard and Sudeen. bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian. Perubahan status menyebabkan perubahan 19 peran yang dapat menimbulkan .  Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian. nilai-nilai tekanan untuk penyesuaian diri. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. 1998 )  Penolakan orang tua  Harapan orang tua yang tidak realistis  Kegagalan yang berulang kali  Kurang mempunyai tanggung jawab personal  Ketergantungan pada orang lain  Ideal diri tidak realistis b.2. Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan.2.

namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. bentuk.  Gangguan berhubungan social seperti menarik diri. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh. lebih suka menyendiri dan tidak ingin bertemu orang lain.  Rasa bersalah terhadaap diri sendiri. 2. 20 . Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis. menganggap dirinya berada dibawah orang lain. perubahan ukuran. cenderung bingung dan ragu-ragu dalam memilih sesuatu. prosedur medis dan keperawatan.  Sukar mengambil keputusan.  Menciderai diri sendiri sebagai akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram sehingga memungkinkan untuk mengakhiri kehidupan.3 Tanda dan Gejala Menurut Keliat (1999) tanda dan gejala yang dapat muncul pda pasien harga diri rendah adalah :  Perasaan malu terhadap diri sendiri. individu yang selalu gagaal dalaam meraih sesuatu.2.  Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. peran tidak jelas atau peran berlebihan. perubahan fisik. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri. merasa tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki.  Rasa percaya diri kurang . Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. sosiologi atau fisiologi. identitas diri peran dan harga diri.  Merendahkan martabat diri sendiri.ketegangan peran yaitu konflik peran. penampilan dan fungsi tubuh. individu mempunyai perasaan kurang percaya diri.

misalnya penyalahgunaan obat.  Aktifitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu. bekerja keras. misalnya olah raga yang kompetitif. c. tanpa memperhatikan kondisi dirinya. menonton televisi  Aktifitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara.2. Pertahanan jangka pendek  Aktifitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas. misalnya main musik.  Identitas negatif yaitu klien beranggapan bahwa identifikasi yang tidak wajar akan diterima masyarakat.  Pandangan hidup pesimis.  Keluhan fisik  Penolakan terhadap kemampuan personal  Destruktif terhadap diri sendiri  Menarik diri secara social  Penyalahgunaan zat  Menarik diri dari realitas  Khawatir 2. b. Mudaah tersinggung atau marah yang berlebihan. Pertahanan yang berorientasi ego. misalnya ikut dalam aktifitas sosial.  Ketegangan peran yang dirasakan. pencapaian akademik / belajar giat. yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental :  Disosiasi 21 .  Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri. Pertahanan jangka panjang  Penutupan identitas yaitu adapsi identitas pada orang yang menurut klien penting.4 Mekanisme Koping a. keagamaan  Aktifitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri.

tergantung pada pendapat orang lain. kreativitas g. Harga diri rendah situasional suatu keadaan dimana seseorang memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang dirinya dalam berespon terhadap peristiwa (kehilangan.dan sangat ingin mencari ketentraman. ragu-ragu untuk mencoba sesuatu yang baru. a. ekspresi rasa malu/ bersalah. penilaian diri seakan-akan tidak mampu menghadapi kejadian tertentu. Harga diri rendah kronis adalah suatu kondisi penilaian diri yang negatif berkepanjangan pada seseorang atas dirinya. tidak asertif bimbang. Karakteristiknya antara lain :  Mayor: untuk jangka waktu lama / kronis : Pernyataan negatif atas dirinya.  Minor: Seringnya menemui kegagalan dalam pekerjaan. 2001 ). Isolasi  Proyeksi  Displacement Sumber-sumber koping : a. kecerdasan f. seni yang ekspresif d. kesehatan e. b.2. aktifitas olah raga b. Karakteristiknya :  Mayor : Kejadian yang berulang / berkala dari penilaian diri yang negatif dalam berespon terhadap peristiwa yang pernah dilihat secara 22 .5 Klasifikasi Harga diri ada 2 macam: harga diri rendah kronis dan harga diri rendah situasi (Carpenito. hobi dan kerajinan tangan c. presentasi tubuh buruk. perubahan). hubungan interpersonal 2.

 Konsep diri positif Klien mampu pengalaman yang positif perwujudan dirinya. tidak berguna).6 Rentang Respon Rentang respon harga diri rendah berfluktuasi dari rentang adaptif sampai rentang maladaftif (Stuard dan Sundeent. 2. kepribadian pada masa dewasa secara harmonis. Respon maladptif meliputi:  Harga Diri Rendah Transisi antara adaptif dan maladptif sehingga individu cenderung berfikir kearah negatif.  Minor : Pernyataan negatif atas dirinya. Respon adaptif meliputi:  Aktualisasi diri Pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman yang sukses. penilaian diri tidak mampu mengatasi peristiwa/situasi kesulitan membuat keputusan.2. 23 .  Kekacauan Identitas Kegagalan individu mengintegrasi aspek-aspek masa kanak-kanak dalam pematangan aspek psikologis.positif. mengekspresikan rasa mal/bersalah. dapat mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan secara jujur dalam menilai suatu norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat jika menyimpang merupakan respon maladaptif. b. mengesolasi diri. Respon adaptif Aktualisasi diri Konsep diri + Harga diri rendah Kekacauan Identitas respon maladaptif Depersonalisasi a. menyatakan perasaan negatif tentang dirinya ( putus asa.1998) Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma.

Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah.7 Proses Berdasarkan hasil riset Malhi (2008. dan tidak dapat membedakan dirinya dari orang lain sehingga tidak dapat mengenali dirinya sendiri 2.8 Pohon Masalah Resiko Perilaku Kekerasan Gangguan konsep diri Harga Diri Rendah 24 .2. pekerjaan.2. Tantangan yang rendah menyebabkan upaya yang rendah.tqm. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai. Dalam tinjauan life span history klien. kepanikan. dalam http:www.com) menyimpulkan bahwa harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang. hal ini menyebabkan penampilan seseorang yang tidak optimal. Depersionalisasi Perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya. tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. penyebab terjadinya harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan. Hal ini mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. ada empat cara dalam meningkatkan harga diri yaitu: 1) Memberikan kesempatan berhasil 2) Menanamkan gagasan 3) Mendorong aspirasi 4) Membantu membentuk koping 2. Dalam Purba (2008). Selanjutnya. atau pergaulan. jarang diberi pujian atas keberhasilannya.

termasuk pascaa enchepalitis dan idiopatik. Efek saamping : sedasi. Penatalaksanaan Medis 1) Clorpromazine ( CPZ ) Indikasi untuk sindrom psikosis yaitu berat dalam kemampuan menilai realitas.2. fisik maupun mental dengan menggunakan aktivitas terpilih sebagai media. Efeksamping : hypersensitive terhadap trihexyphenidyl. Efek samping : sedasi. Psikoterapi 25 .9 Penatalaksanaan a. kesadaran diri terganggu. gangguan otonomik serta endokrin. halusinasi. psikoneurosis dan obstruksi saluran cerna. waham. Terapi okupasi / rehabilitasi Terapi yang terarah bagi pasien. Aktivitas tersebut berupa kegiatan yang direncanakan sesuai tujuan ( Seraquel. 2) Haloperidol ( HPL ) Indikasi : berdaya berat dalam kemampuan menilai realitaas dalaam fungsi netral serta fungsi kehidupan sehari-hari. gangguan perasaan dan perilaku aneh.2. 2004 ) d. c. tidak bekerja. Penatalaksanaan Keperawatan Keliat (1999) menguraikan empat cara untuk meningkatkan harga diri yaitu : 1) Memberi kesempatan untuk berhasil 2) Menanamkan gagaasan 3) Mendorong aspirasi 4) Membantu membentuk koping b. psikosis berat. hubungan sosial dan melakukan aktivitas rutin. gangguan otonomik dan endokrin. 3) Trihexyphenidyl ( THP ) Indikasi : segala jenis penyakit Parkinson.

Terapi psikososial Kaplan and Sadock ( 1997 ). rewncana pengobatan untuk skizofrenia harus ditujukan padaa kemampuan daan kekurangan pasien. yang diarahkan untuk strategi penurunan stress dan mengatasi masalah dan perlibatan kembali pasien kedalam aktivitas. Selain itu juga perlu dikembangkan terapi berorientasi keluarga.1 Pengkajian a.3. 2004 ) e. 2. Identitas a) Klien Nama Umur Jenis kelamin Agama Status Suku banga Pekerjaan Pendidikan Alamat Tanggal masuk : : : : : : : : : : Tanggal pengkajiaan : b) Penanggung Jawab Nama Umur Jenis kelamin Agama Status Suku banga : : : : : : 26 .3 Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah (HDR) 2.Psikoterapi yang dapat membantu penderita adalah psikoterapi suportif dan individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat ( Seraquel.

Riwayat Penyakit 1. Alasan Masuk Rumah Sakit c. Payudara i. Perineum k.Pekerjaan Pendidikan Alamat : : : Hub. Hidung d. Abdomen j. Mulut e. Leher g. Head to Toe a. Riwayat Penyakit Dahulu 3. Mata c. Dada h. Riwayat Penyakit Sekarang 4. Telinga f. Dengan klien : b. Riwayat Penyakit Keluarga d. Keluhan Utama 2. Kepala b. Ekstremitas 27 . Penampilam KU : Kesadaran : TTV : TD : Nadi: suhu: RR : 2. Pemeriksaan Fisik 1.

Personal Hygiene 3. Hubungan Sosial a) Orang yang berarti: b) Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain 4. Pembicaraan: 3. Tidur dan Istirahat 2. Konsep Diri a) Citra tubuh b) Identitas c) Peran d) Ideal Diri e) Harga diri 3. Alam perasaan: 28 . Riwayat gangguan jiwa dimasa lalu 2. Penampilan: 2. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan g.e. Spiritual a) Nilai dan Keyakinan b) Kegiatan Ibadah: h. Seksualitas f. Nutrisi dan Metabolisme 4. Eliminasi 5. Aktivitas motorik: 4. Genogram 2. Status Mental 1. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa 3. Faktor Predisposisi 1. Psikososial 1. Pola-Pola Fungsi Kesehatan 1.

Aktivitas di dalam rumah 8. Mandi: 4.5.3. Proses berpikir: 9. BAB/BAK: 3. Tingkat kesadaran: 11. Tingkat konsentrasi dan berhitung 13. Kebutuhan Persiapan Pulang 1. 2. Aspek Medik 2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional. Klien dapat membina hubungan saling percaya 29 . Pemeliharaan kesehatan: 7. b.2 Masalah keperawatan a. Aktivitas di luar j. Mekanisme Koping k. Interaksi selama wawancara: 7. Istirahat dan tidur: 5. Memori: 12. Afek : 6. Isi pikir: 10.3.3 Intervensi a. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Kemampuan menilai 14. Persepsi : 8. Makan: 2. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Penggunaan Obat: 6. Tujuan umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan Khusus : 1. Daya tilik diri i.

3.  Utamakan memberikan pujian yang realistik. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. 2. 30 .  Sapa klien dengan ramah. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya Intervensi  Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat di lakukan setipa hari sesuai kemampuan.  Hindari penilaian negatif terhadap klien .  Perkenalkan diri dengan sopan. 4.  Memberi contoh cara pelaksanaan yang telah direncanakan 5. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.  Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. Intervensi  Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.Intervensi  Bina Hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.  Beri pujian atas keberhasin klien.  Tunjukkan sikap empati.  Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.  Jelaskan tujuan pertemuan dan menepati janji. Intervensi  Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. Klien melakukan kegiatan sesuai kemampuannya. Intervensi  Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat di gunakan selama sakit.  Tanyakan nama lengkap dan panggilan.

Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung ada. buat kontrak yang jelas (waktu. utamakan memberi pujian yang realistis  Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3. Intervensi 31 .  Bantu keluarga dalam membri dukungan. 6. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Intervensi  Klien dapat menilai kemampuan yang dapat diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki  Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional. perkenalan diri. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. Intervensi  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah. ciptakan lingkungan yang tenang. 2. b. tempat dan topik pembicaraan)  Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya  Sediakan waktu untuk mendengarkan klien  Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. jelaskan tujuan interaksi.  Beritahu keluarga dalam menyiapkan lingkungan di rumah. Klien dapat membina hubungan saling percaya Intervensi  Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya. Tujuan khusus : 1.

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Intervensi  Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan  Beri pujian atas keberhasilan klien  Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 6. P (25 tahun) yang 32 .  Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.1 Skenario Suatu hari Puskesmas X sedang melakukan pemeriksaan kesehatan keliling. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Intervensi  Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan  Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien  Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Intervensi  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien. ketika berkunjung disebuah rumah perawat menerima laporan dari Tn.  Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki  Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah 4. BAB III PEMBAHASAN KASUS 3.  Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.

R yang membuka warung. Buatlah asuhan keperawatan lansia dengan menggunakan konsep-konsep dasar keperawatan gerontik dan sesuai dengan langkah-langkah proses keperawatan dari mulai pengkajian sampai evaluasi! 3. Istri Tn. kontak mata kurang. P mengusulkan agar Tn.2 Jawaban Skenario A. afek tumpul. Pengkajian 1) Identitas Klien Nama Umur Alamat Pendidikan Tanggal masuk ke panti Jenis kelamin Suku 33 : Tn. Dari hasil pengkajian perawat. Setelah pension Tn. Dan merasa hanya membebani keluarganya tanpa bisa melakukan apa-apa. P sebagai honorer dan Ny. bicara dengan nada tidak jelas. M (70 tahun) sering menyendiri dikamar. M : 70 tahun : : : - : laki-laki : - . Klien juga mempunyai riwayat Diabetes Melitus (DM) sehingga membutuhkan susu khusus penderita DM yang harganya mahal sehingga isteri dan anaknya yang harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhannya. jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dan tetangga disekitar rumah. R (65 tahun) mengatakan bahwa suaminya melakukan perilaku seperti itu sejak pension dari Perusahaan Otomotif sebagai kepala bidang atau manajer 6 bulan yang lalu.mengatakan bahwa ayahnya Tn. Keluarga klien merasa bingung harus berbuat bagaimana dengan kondisi klien. M yaitu Ny. Klien mengatakan bahwa malu dengan istri dan anaknya karena tidak bisa memberi nafkah seperti dulu ketika masih bekerja sebagai menejer. Respirasi: 18 x/menit. sering menunduk. P hanya diam saja dirumah dan pendapatan keluarga bergantung dari Tn. Nadi:80 x/menit. PERTANYAAN 1. M dimasukkan saja ke panti jompo agar bisa mendapatkan perawatan lebih intensif. ditemukan data: tensi: 130/90 mmHg. bahkan Tn. Suhu:350C.

Riwayat kesehatan sekarang keluarga mengatakan klien menyendiri dikamar. d. Sistem Persarafan 34 . Sistem Endokrin h. Sistem Perkemihan f. Keadaan umum : tingkat kesadaran: Penampilan:TTV: -TD: 130/90 mmHg RR: 18 x/menit Nadi:80x/menit Suhu: 350C b. Sistem Gastrointestinal i. jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dan tetangga disekitar rumah b. Sistem Integumen e. c. Sistem Reproduksi j. tekanan darah 130/90 mmHg.Agama Status perkawinan Tanggal pengkajian 2) Riwayat kesehatan : - : menikah : 3 januari 2013 a. Sistem MuskuloSkeletal g. Sistem Kardiovaskuler: Frekuensi nadi 80 x/menit. Riwayat kesehatan dahulu Klien memiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus (DM). c. Riwayat kesehatan keluarga 3) Tinjauan sistem (jelaskan tentang kondisi system-system dibawah ini yang terhadap pada klien) : a. Sistem Pernafasan Frekuensi nafas 18 x/menit.

Dan merasa hanya membebani keluarganya tanpa bisa melakukan apa-apa.k. Ditandai dengan: DS : keluarga mengatakan klien menyendiri dikamar. Diagnosa Keperawatan a. NCP 35 - . Ditandai dengan: DS: Klien mengatakan bahwa malu dengan istri dan anaknya karena tidak bisa memberi nafkah seperti dulu ketika masih bekerja sebagai menejer. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Identifikasi Masalah Emosional c. Sistem Penglihatan l. Ditandai dengan: DS : . Pengkajian Fungsional Klien d. Pengkajian Psikososial & Spiritual a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi . Sistem Pendengaran m. Psikososial b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis. DO: C. Keluarga klien merasa bingung harus berbuat bagaimana dengan kondisi klien. DO: - c. jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dan tetangga disekitar rumah DO : b. Sistem Pengecapan 5. Pengkajian keseimbangan B.

Klien dapat membina hubungan saling percaya Intervensi  Bina Hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.  Hindari penilaian negatif terhadap klien .a. Intervensi  Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat di gunakan selama sakit. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.  Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.  Tunjukkan sikap empati.  Perkenalkan diri dengan sopan. 2. 4.  Jelaskan tujuan pertemuan dan menepati janji. jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain dan tetangga disekitar rumah DO : Tujuan umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan Khusus : 1. Ditandai dengan: DS : keluarga mengatakan klien menyendiri dikamar. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Intervensi  Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya Intervensi 36 .  Sapa klien dengan ramah. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.  Utamakan memberikan pujian yang realistik. 3.  Tanyakan nama lengkap dan panggilan.

Intervensi  Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. Intervensi  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah. perkenalan diri. buat kontrak yang jelas (waktu. Klien dapat membina hubungan saling percaya Intervensi  Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. tempat dan topik pembicaraan) 37 .  Beri pujian atas keberhasin klien.  Memberi contoh cara pelaksanaan yang telah direncanakan 5.  Bantu keluarga dalam membri dukungan. ciptakan lingkungan yang tenang. Tujuan khusus : 1. Ditandai dengan: DS: Klien mengatakan bahwa malu dengan istri dan anaknya karena tidak bisa memberi nafkah seperti dulu ketika masih bekerja sebagai menejer.  Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. Klien melakukan kegiatan sesuai kemampuannya. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis. b. DO: - Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya. 6. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat di lakukan setipa hari sesuai kemampuan.  Beritahu keluarga dalam menyiapkan lingkungan di rumah.  Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi. jelaskan tujuan interaksi. Dan merasa hanya membebani keluarganya tanpa bisa melakukan apa-apa. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung ada.

Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Intervensi  Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan  Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien  Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5. Intervensi  Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki  Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah 4. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Intervensi  Klien dapat menilai kemampuan yang dapat diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki  Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien. utamakan memberi pujian yang realistis  Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya  Sediakan waktu untuk mendengarkan klien  Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. 2. 38 . Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Intervensi  Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan  Beri pujian atas keberhasilan klien  Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Intervensi  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal b. tanda dan gejala. hilangnya kepercayaan diri. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat. beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya D. Kriteria Hasil : Keluarga dapat menyebutkan pengertian. Evaluasi Evaluasi setelah dilakukan intervensi pada klien lansia. penyebab. perawatan. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi. BAB IV PENUTUP 4. a. c.1 Kesimpulan Harga diri rendah adalah suatu perasaan negatif terhadap diri sendiri. Ditandai dengan: DS : . Pengetahuan keluarga bertambah. Keluarga klien merasa bingung harus berbuat bagaimana dengan kondisi klien.  Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.  Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. DO: - Tujuan : Kurang pengetahuan teratasi. Intervensi :    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit. dan gagal mencapai tujuan yang diekspresikan secara langsung 39 . Klien akan meningkat harga dirinya c.

NANDA International. Towsend. 6. Jakarta. diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri. Edisi 1. Carpenito. 1998. Modul Community Mental Health Nursing 8. Stuart and Sundeen. 1987. EGC: Jakarta 7. Lynda Juall.(1999).maupun tidak langsung. Kelompok Keilmuan Keperawatan Jiwa. 1998. 40 .2 Saran DAFTAR PUSTAKA 1. (2005). Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Proses kesehatan jiwa. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Keperawatan Jiwa. penurunan harga diri ini dapat bersifat situasional maupun kronis atau menahun. Jakarta 4. Jakarta. 2000. Jakarta. Nursing Diagnoses: Definition and Classification .Philadelphia:USA. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Kaplan. Egc 3. Awalnya individu berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis). Keliat. (2008). Mary C. Budi Anna. (1998). EGC: Jakarta. Widya Medika 5. Depkes RI. individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan peran 4. Egc 2. Harrol.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->