Bayu Wibowo MK/0220110046

Tipe-Tipe Kepemimpinan
1 Gaya Kepemimpinan Autokratis (Otoriter) Menurut Rivai (2003), kepemimpinan autokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan

pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi (p. 61). Robbins dan Coulter (2002) menyatakan gaya kepemimpinan autokratis

mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat keputusan secara sepihak, dan meminimalisasi partisipasi karyawan (p. 460). Lebih lanjut Sukanto (1987) menyebutkan ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis (pp. 196-198): 1. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin. 2. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas. 3. Pemimpin biasanya membagi tugas kerja bagian dan kerjasama setiap anggota. Sedangkan menurut Handoko dan Reksohadiprodjo (1997), ciri-ciri gaya

kepemimpinan autokratis (p. 304): 1. Pemimpin kurang memperhatikan kebutuhan bawahan. 2. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja. 3. Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota. 4. Pemimpin mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukan keahliannya 2 Gaya kepemimpinan Demokratis / Partisipatif Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang

pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri (Rivai, 2006, p. 61).

Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Handoko dan Reksohadiprodjo. Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan. Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas. 3. 3 Gaya Kepemimpinan Laissez-faire (Kendali Bebas) Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan pemimpin yang secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut karyawannya paling sesuai (Robbins dan Coulter. dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan(p. mendelegasikan kekuasaan. 2. Menurut Sukanto (1987) ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (pp. 2. 1987. gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan. 1997. 196-198) : 1. Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Sukanto. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi. Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan kreativitas untuk meningkatkan servis. p.Menurut Robbins dan Coulter (2002). 304) : 1. 3. 2002.196-198) : . Kegiatan-kegiatan didiskusikan. langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat. mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.203). dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja (p. pp. dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih. p. 460). mengembangkan usaha. 460).

Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas. 3. 1997.1. 3. Mereka mendorong para anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. 2. Gaya pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “partisipatif” karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum. Hal ini terutama penting manakala pemikiran kreatif diperlukan untuk memecahkan masalah yang kompleks atau membuat keputusan yang akan berdampak pada anggota tim. 304): 1. Dengan penggunaan gaya partisipatif ini. Tipe Kepemimpinan Partisipatif Mitch Mc Crimmon (2007) menulis bahwa menjadi pemimpin yang partisipatif berarti melibatkan anggota tim dalam pembuatan keputusan. pemimpin yang menerapkan gaya ini cenderung berorientasi kepada bawahan dengan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibandingkan mengawasi mereka dengan ketat. pemimpin dan bawahan saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri. Gaya kepemimpinan partisipatif lebih menekankan pada tingginya dukungan dalam pembuatan keputusan dan kebijakan tetapi sedikit pengarahan. p. 2. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya. Dalam aktivitas menjalankan organisasi. 4. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin. menciptakan suasana persahabatan serta . Ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (Handoko dan Reksohadiprodjo.

Gaya kepemimpinan partisipatif menyangkut usaha-usaha seorang pemimpin untuk mendorong dan memudahkan partisipasi oleh orang lain dalam membuat keputusankeputusan yang tidak dibuat oleh pemimpin itu sendiri. yang merupakan proses pemberian feedback yang berkelanjutan dan pengkaitan misi organisasi dengan kebutuhan individual sang anak buah. desentralisasi dan manajemen yang demokratis. dan bentuk organisasi yang ada. Hal ini tercermin dari persepsi anak buah yang merasa bahwa sang pemimpin mampu memahami dirinya sebagai individu. pemimpin terus merangsang kreativitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama. Gaya kepemimpinan partisipatif adalah seorang pemimpin yang mengikutsertakan bawahan dalam pengambilan keputusan (Yukl. kepercayaan. didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. harapan. Melalui gaya ini. membagi kekuasaan. Dengan demikian anak buah akan merasakan pentingnya berusaha dan bekerja semaksimal mungkin atau menunjukkan kinerja yang tinggi karena itu terkait langsung dengan kebutuhannya sendiri. sistem nilai. 1998). Pemimpin gaya partisipatif menunjukkan perilaku dan perhatian terhadap anak buah yang sifatnya individual (individual consideration). Indikator langsung dari adanya kepemimpinan partisipatif ini . Selain itu gaya ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat perspektif baru.hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok. Bawahan didorong untuk melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri. pengambilan keputusan bersama. Bawahan lebih merasa memiliki respek terhadap atasan yang kompeten dibandingkan atasan yang lebih mengedepankan aspek struktur. Perhatian individual dapat berupa aktivitas pembimbingan dan mentoring. bawahan diberi kesempatan untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya melalui tugas-tugas yang dihadapinya. Setiap anak buah merasa dekat dengan pemimpinnya dan merasa mendapat perhatian khusus. Bawahan didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara. Adapun aspek-aspek dalam gaya kepemimpinan partisipatif mencakup konsultasi. Artinya dia bisa memahami dan peka terhadap masalah dan kebutuhan tiap-tiap anak buahnya. Dengan kata lain.

tanpa mengarahkan. Gaya ini disebut partisipatif karena pemimpin atau pengikut selain tukar-menukar ide dalam pembuatan keputusan. Gaya ini melibatkan perilaku hubungan kerja yang tinggi dan perilaku berorientasi tugas yang rendah. Pada gaya kepemimimpinan ini. agar bisa dilihat sebagai manager yang efektif. dimana mereka memiliki kemampuan yang setiap saat dapat diberdayakan pemimpin bagi kemajuan kelompok dan organisasi yang dikutinya. Dalam kasus-kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dau arah dan secara aktif mendengar dan mendukung usaha-usaha para pengikut untuk menggunakan kemampuan yang telah mereka miliki. tegar. apakah kita akan melibatkan anggota tim ataukah kita buat keputusan sendiri dengan alasan untuk menghemat waktu ? Seorang pemimpin yang partisipatif berarti melibatkan tim dalam membuat beberapa keputusan kunci. dengan peranan pimpinan yang utama memberikan fasilitas dan berkomunikasi. seorang pengikut memungkinkan untuk mengemukakan ide atau gagasan yang dimilikinya sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk mewujudkan perannya dalam kelompok. Seorang pengikut atau bawahan pada tingkat perkembangan ini memiliki kemampuan tetapi tidak berkeinginan untuk melakukan suatu tugas yang diberikan. independen dan tegas. mari kita lihat mengapa ada manager yang tidak terlalu partisipatif ? Alasan utama ialah karena mereka berpikir bahwa mereka harus terlihat kuat. Tapi pertama-tama.terletak pada perilaku para pengikutnya yang didasarkan pada persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan yang digunakan (Riyono dan Zulaifah. partisipatif mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi untuk diterapkan bagi individu dengan tingkat kematangan seperti ini. Tetapi ketika kita akan membuat keputusan. Alasan kenapa harus kepemimpinan partisipatif : Secara sadar kita ingin membangun kemampuan tim kita. bukan seluruh keputusan. Ketidakinginan mereka itu seringkali disebabkan karena kurangnya keyakinan. Mereka merasa bahwa kalau menerapkan kepemimpinan partisipatif maka mereka terlihat lemah atau tidak . Namun bila mereka yakin atas kemampuannya tetapi tidak mau maka keengganan mereka untuk melaksanakan tugas tersebut lebih merupakan persoalan motivasi dibandingkan persoalan keamanan. Partisipatif adalah berkaitan dengan tingkat kematangan dari sedang ke tinggi. Dengan demikian gaya yang mendukung. 2001).

meningkatkan produktivitas atau efektivitas program. Tidak ada yang lebih sederhana dan baik untuk membuat mereka merasa dihargai selain meminta mereka. Mengapa kita perlu mengadopsi gaya kepemimpinan partisipatif? Sekarang ini. begitu banyak staf yang pandai. maka cara terbaik untuk mencapai mental work melalui staf adalah dengan meminta saran mereka. Yang terakhir. secara ikhlas. Hal ini mutlak diperlukan karena kadang atau bukan tidak mungkin. Bila suatu tim perlu berpikir kreatif untuk memecahkan masalah. Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah kita sudah benar-benar menerapkan kepemimpinan partisipatif? Bila kita meminta saran dan masukan dari staf untuk meningkatkan kualitas keputusan yang akan dibuat. Memotivasi para staf yang pandai dan profesional bisa dimulai dengan membuat mereka merasa dihargai. apakah itu dapat kita sebut sebagai kepemimpinan partisipatif ? Ada hal penting yang harus dimiliki seorang manager untuk bisa menerapkan kepemimpinan partisipatif secara pas. Kita bisa menepuk punggung mereka dan menghargai apa yang sudah mereka lakukan tetapi ini tidak seefektif memotivasi melalui pelibatan mereka dalam pembuatan keputusan. Seorang manager harus menempatkan atau memandang staf sebagai kekayaan/asset yang mampu (capable) memberikan sumbangan pemikiran. memberikan saran. Alasan kedua pada dasarnya merupakan akibat dari yang pertama. Tambahan lagi. Memang pada organisasi yang anggotanya masih memiliki pandangan "bergaya lama". Seorang manager juga perlu open minded atau berpikiran terbuka. sebagian besar pekerjaan kita sehar-hari menuntut orang untuk berpikir dan memecahkan masalah. masukan dari staf berdeda atau bahkan bertentangan dengan pemikiran awal . Di pihak lain. Staf yang terlibat dalam pembuatan keputusan akan lebih merasa memiliki terhadap program. beberapa manager memang masih senang dengan perasaan memiliki kontrol dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Dia harus memiliki pandangan positif tentang staf. keterbatasan waktu kerap mendorong para manager untuk membuat keputusan sendiri.tegas. tetapi pada akhirnya kita mementahkan segala masukan itu. Pekerjaan kita pada dasarnya juga adalah pekerjaan mental (mental work). anggota tim atau pekerja/staf berharap agar manager mereka mampu membuat keputusan dan tidak perlu meminta masukan dari anggotanya. profesional yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang tinggi. Konsep kepemimpinan partisipatif tentunya diperkenalkan karena sejumlah keunggulan yang dimilikinya.

Manager yang pikirannya diwarnai dengan segala macam hal negatif tentang staf. Kepemimpinan partisipatif hanya bisa dijalankan oleh manager yang telah memiliki kesiapan dan kematangan. Bukan yang sebenarnya. akan sulit menerima saran dan masukan dari staf. Bila ini terjadi. Pada akhirnya. pandangan 'curiga' dan 'tidak percaya' pada kesungguhan dan kemurnian pemikiran staf. yang dicirikan oleh ketidaksiapan menerima masukan yang berbeda. tim atau perusahaan. . Singkat kata. maka pelibatan staf dalam pembuatan keputusan hanya bersifat semu.para manager. Hanya manager yang berpikiran positif yang akan mampu membaca "kemurnian" ide dan saran staf. Alih-alih merasa dihargai. staf justru akan merasa dipermainkan dan tidak dihargai. justru akan menjadi bumerang bagi organisasi. positive thinking. Sikap dan pandangan manager yang belum siap dan matang. Apalagi bila kita belum bisa 'membaca' dan 'memahami' staf atau anggota tim kita. Yang terakhir. Manager yang memiliki pikiran positif tidak akan secara serta merta menduga apalagi menuduh staf yang berpikiran 'berbeda' sebagai penentang. masukan dari staf tidak dijadikan bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan. Sudahkah kita menjalankan kepemimpinan partisipatif ? Tentu tidak mudah kita menemukan jawabannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful