P. 1
Laporan Genetika

Laporan Genetika

|Views: 991|Likes:
Published by wahyudiana44489
Morfologi dan Siklus hidup Drosophila sp, Analisis pedigree, alel ganda, TesX2 (chi aquare test), genetika populasi dan poligen
Morfologi dan Siklus hidup Drosophila sp, Analisis pedigree, alel ganda, TesX2 (chi aquare test), genetika populasi dan poligen

More info:

Published by: wahyudiana44489 on Jan 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2013

pdf

text

original

1. Morfologi Drosophil sp

Pada hasil pengamatan Drosophil melanogaster jantan merupakan

senagga yang masuk kedalam ordo diptera. Pada Drosophil melanogaster

jantan terdapat sisir kelamin dan 3 buah ruas abdomen, sedangkan pada yang

betina ditemukan 6 ruas abdomen dan tidak ditemukan sisir kelamin.

45

45

Hal ini sesuai dengan leteratur yaitu Pada Drosophila lalat jantan dapat dengan

midah dibedakan dari lalat betina dengan melihat kaki depannya,alat

kelaminnya dan ujung abdomennya maupun bentuk abdomennya. Pada kaki

hewan jantan terdapat sekom, koksa, femur tibia, tersus dan pada tarsal

keduanya terdapat sekelompok rambut yang agak tepat tersusun seperti sisir

yang disebut sisir kelamin. Selain itu hewan jantan berukuran lebih kecil

mempunya ujung abdomen yang tumpul dan berwarna hitam. Jumlah segmen

hewan jantan hanya 7 buah karna segmen terakhirnya bersatu.

Drosophila memiliki ciri morfologi yang berdeba antara jantan dan

betinanya. Pada Drosophila jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila

dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan

memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada yang betina ukuran relative lebih besar,

memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin.

Drosophilla jantan umumnya berwarna sedikit lebih gelap bila dibandingkan

dengan yang betina. Sisir kelamin pada hewan jantan berguna untuk membantu

kopulasi.

2. Siklus hidup Drosophila sp.

Pada hasil pengamatan praktikan media di dalam botol. Lalat yang telah

dimasukkan ke dalam botol media, mati hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Hal ini dapat disebabkan karena adanya air di dalam botol media. Karena telah

dicampur beberapa bahan untuk mencegah kontaminasi mutan lain seperti

46

46

bakteri, tungau, atau jamur. Alkohol yang berasal dari bahan anti jamur

menyebabkan lalat tidak dapat bertahan lama.

Pada hari pertama dimasukkan ke dalam botol media sekitar 13 ekor.

Hingga pada hari kedua, mulai ditemukan beberapa bercak-bercak putih.

Menurut literatur, bercak-bercak putih berukuran kurang dari 0.5 mm tersebut

tidak lain adalah telur dari Drosophila melanogaster. Pengamatan dilanjutkan

lagi hingga mulai muncul larva instar 1 setelah 1 hari. Larva instar 1 berwarna

putih dan terlihat adanya pergerakan (motil). Perubahan berikutnya terlihat saat

larva instar 1 mulai membesar ukurannya pada hari ke 3, inilah yang disebut

larva instar 2. Selain itu, pergerakannya terlihat lebih aktif dibanding larva

instar 1. Saat mengamati munculnya larva instar 2, terlihat adanya kontaminasi

jamur. Hari berikutnya, ukuran larva makin bertambah besar dan fase larva

instar 3 mulai muncul. Pergerakan larva ini aktif di atas media maupun di

dinding botol. Saat pengamatan larva instar 3, media di dalam botol mengalami

kenaikan permukaan akibat gas yang menekan di bagian dasar. Gas tersebut

diperkirakan dari adanya hasil fermentasi oleh jamur yang tumbuh di sekitar

permukaan media. Namun setelah larva berubah menjadi larva instar 3, jamur

yang ada di permukaan media menghilang. Larva-larva tersebut yang memakan

jamur yang tumbuh di atas permukaan media. Namun, setelah hilangnya jamur

bagian dasar media mulai berair. Selanjutnya, larva instar 3 mulai melakukan

pergerakan ke bagian atas botol, mengurangi pergerakannya dan diam

menempel pada bagian dinding atas botol. Larva instar 3 ini mulai akan

47

47

berubah menjadi prepupa yang berwarna putih. Prepupa kemudian berubah

menjadi fase pupa. Dan imago pun akhirnya muncul setelah 13 hari lamanya.

Waktu yang diperlukan Drosophila melanogaster untuk pergiliran keturunan

dilakukan adalah 13 hari.

3. Analisis pedigree

Pada praktikum ini analisis pedigree merupak analisis silsilah keluarga

yang memiliki tujuan untuk menganalisis pewarisan suatu sfiat yang terdapat

pada manusia, pola pewarisan sifat pada manusia terutama pentakit menurung

mempunyai kendala tersendiri minsalnya tidak munggkin melakukan uji coba

perkawinan secara sesuai kehendak dan adanya pembatasan jumlah anak karena

pertimbangan. Pertimbangan terdapat pewarisan dalam silsilah keluarga yang

mudah diamati antara pola pewarisan dominan autosomal dan pola resisif

autosomal. Salah satu sifat pewarisannya dominan autosomal yaitu bentuk

telingga yang menggantung. Dan sifat kemampuan adalah lidah yang dapat

melipat.

Pada praktikum dilakukan uji telingga mengantung dan lidah melipat

dalam satu kelompok hal ini terjadi karena adanya penentuan sek pada makhluk

hidup yang ditentuka oleh kromosom seksnya. Terdapat beberapa macam cara

yang digunakan untuk menetukan jenis kelamin makhluk hidup berdasarkan

kromosom seksnya. Kromosom seks pada manusia juga memiliki banyak gen,

khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya sama dengan pewarisan

yang lain. Namun perlu diketahui bahwa alel terpaut seks dari seorang ayah

48

48

akan diwarisakan kepada seluruh nakan perempuannya, tetapi anak laki-lakinya

tidak akan memperoleh satupun dari alel tersebut. Selain gen-gen yang terdapat

pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen yang dipengaruhi oleh jenis

kelamin, tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih

besar dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. Keadaan yang demikian

disebut sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhin

jenis kelamin.

Ada banyak sifat keturunan yang ditentuka oleh gen autosomal yang

ekspresinya dipengaruhi oleh seks. Sifat itu tampak pada dua macam seks,

penetuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya.

Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis

kelamin, makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Misalnya pada

manusia sistem yang digunakan yaitu X-Y. Akan menghasilkan betina normal

jika kromosom seksnya XX dan dihasilkan jantan normal jika kromosom

seknya XY. Umumnya, penetuan sifat terpaut pada msnusia ditentukan oleh

kromosom kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada

kromosom Y.

4. Alel ganda

Pada percobaan ini dilakukan untuk mengetahui sifat keturunan manusia

yang ditentukan oleh alel ganda. Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan

yang terlah dilakukan, dapat diketahui bahwa darah pada manusia bersifat

herediter yang ditentukan oleh alel ganda dan golongan darah seseorang dapat

49

49

mempunyai arti yang peting dalam kehidupan. Dari hasil pengamatan diperoleh

golongan darah A dan B sebanyak 16,6% dan golongan arah 0 sebanyak 33,3%.

Dan untuk golongan darah AB tidak ada. Golongan darah manusia AB0

ditentukan oleh alel-alel I0

, IA

, dan IB

. Alel I0

resesif terhadap IA

dan IB

. Alel IA

dan IB

bersifat kodamin, sehingga IB

tidak dominan terhadap IA

dan sebaliknya

IA

tidak dominan terhadap IB

. Interaksi antara alel I0

, IA

dan IB

menghasilkan 4

fenotip golongan darah yaitu, 0, A, B dan AB. Sedangkan genotifnya yaitu A =

IA

IA

/ IA

I0

, B = IB

IB

/ IA

I0

, 0 = I0

I0

, dan AB = IA

IB
.

Apabila antigen bertemu dengan anti A dalam darah seseorang, maka

akan terjadi penggumpalan darah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini

berarti golongan darah orang tersebut adalah A. Apabila antigen bertemu

dengan anti B dalam darah seseorang, maka akan terjadi penggumpalan darah

dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini berarti golongan darah orang tersebut

adalah B. Apabila dalam darah seseorang zat anti A, maka akan terjadi

penggumpalan. Begitu juga bila darah orang tersebut diberi zat anti B. Hal ini

berarti golongan darah orang itu adalah AB. Apabila dalam darah seseorang

diberi zat anti A dan zat anti B dan tidak mengalami penggumpalan, maka

golongan darah orang tersebut adalah 0.

Berdasarkan hal ini golongan darah penting sekali untuk diperhatikan,

terutama dalam tranfusi darah. Golongan darah seseorang harus diperiksa

terlebih dahulu sebelum melakukan transfusi darah baik darah si pemberi

50

50

(donor) mupun si penerima (resepien) untuk menghindari terjadinya

penggunpalaan atau aglunitasi.

5. Tesx2

(chi square test)

Uji chi kuadrat adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan

antara frekuensi observasi yang benar-benar terjadi/ aktual dengan frekuensi

harapan/ ekspekrasi. Frekuensi observasi nilainya di dapat dari hasil percobaan

(o) sedangkan frekuensi harapan (e) nilianya dapat dihitung secara teoritis. Pada

praktikum ini disilangkan lalat jantan dan lalat betina yang menghasilkan F2

dengan perbandingan betina : jantan 9 : 6 dan yang diharapkan adalah

perbandingan normal 50 : 50.

Diama menurut Wildan Yatim, sesungguhnya rasio fenotipe F2 3 : 1

hanya merupakan perhitungan secara teoritis, ratio ini diperoleh dari ratio

genotipenya. Sebetulnya dalam kenyataan sehari-hari, rasio fenotipe yang di

dapat tidaklah persis demikian. Kalau umpamanya species F2 yang dihitung

adalah 1000 ekor, maka tidak akan selalu persis bahwa yang jantan 740 ekor

dan yang betina 250 ekor. Apabila makin dekat nilai ratio kenyataan yang di

sebut o (observation) terhadap ratio teoristis yang disebut e (expected), makin

sempurna data yang dipakai, berarti semakin bagus pernyataan fenotipenya.

Kalau perbandingan o/e mendekati angka 1 berarti data yang didapat makin

bagus dan pernyataan fenotipe tentang karakter yang diselidiki semakin

51

51

sempurna. Akan tetapi, jika o/e menjahui 1, data itu buruk dan pernyataan

fenotipe tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh suatu faktor

lain. Entah karna faktor lingkungan atau jumlah objek yang di amati terlalu

sedikit.

Dari hasil perhitungan kami sebesar 10, 8 berada di bawah data. Hal ini

menandakan bahwa hasil akhir tidak signifikan yang berarti jauh dari yang

diharapkan.

6. Genetika populasi

Genetika populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari

gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari

keturunan pada tingkat populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila

frekuensi gen dan frekuensi genetik berada dalam keadaan tetap dari setiap

generasi. Berdasarkan hasil pengamatan golongan darah A homozigot 0,022

sedangkan A heterozigot adalah 0,045. Golongan darah B homozigot adalah

0,022 sedangkan B heterozigot adalah 0,213. Golongan darah AB adalah 0,213

dan golongan darah O adalah 0,504. Semua data di atas berdasarkan frekuensi

genotipe. Berdasarkan hasil frekuensi fenotipe untuk golongan darah A adalah

22,727%, untuk golongan darah B adalah 27,727%, untuk golongan darah AB

tidak ada (0) sedangkan untuk golongan darah O adalah 50%.

Frekuensi perbandingan suatu alel setiap individu dalam suatu kelas

terhadap jumlah suatu individu. Frekuensi alel sangat penting dalam genetika

52

52

populasi karena alel dapat mengakibatkan individu memiliki sifat bervariasi.

Prinsip populasi tersebut di atas disebut dengan prinsip “Equilibrum Hardy –

Weinberg”. Populasi yang termasuk dalam hukum Hardy – Weinberg adalah

populasi yang jumlah frekuensi gen atau alel tetap pada setiap generasi. Jadi

memenuhi syarat hukum Hardy – Weinberg.

7. Poligen

Pada pewarisan sifat, kita dapat menemukan adanya variasi sifat yang

diturunkan. Hal ini disebabkan oleh gen ganda (multiple gen/ poligen). Poligen

merupakan suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif.

Dalam hal ini, pewarisan sifat dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus

yang berbeda dalam kromosom yang sama atau berlainan. Pewarisan sifat yang

dikendalikan oleh poligen dapat terjadi baik pada tumbuhan, hewan, maupun

manusia. Contoh poligen pada tumbuhan adalah warna biji pada tanaman

gandum,panjang bunga tembakau serta berat buah tomat. Contoh poligen pada

manusia adalah perbedaan pigmentasi kulit, jumlah rigi dermal dan tinggi

badan.

Adanya pengaruh gen ganda pada pigmentasi dikemukakan oleh C.B

Davenport dengan mengukur intensitas warna kulit manusia. Selain pigmentasi

kulit, poligen juga dapat mempengaruhi tinggi badan manusia. Gen yang

mempengaruhi pewarisan sifat tinggi badan terdiri dari empat gen. Dalam

pewarisan sifat tersebut dipengaruhi oleh gen-gen dasar dan gen-gen ganda.

53

53

Gen dasar merupakan gen yang menentukan tinggi dasar seseorang sedangkan

gen ganda memberi tambahan pada gen dasar.

Adapun hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa poligen yang

terdapat pada data kelas sangat bervariasi. Poligen tinggi badan yang paling

pendek adalah 145 cm dan yang paling tinggi adalah 1,75 cm. Dari data di atas

yang mempunyai poligen tinggi badan terbanyak adalah 148 yaitu sebanyak 6

orang, menyusul 160 cm sebanyak 4 orang. Hal ini menunjukkan bahwa

poligen tinggi badan seseorang sangat bervariasi. Poligen tinggi badan juga

dapat diwariskan.

54

54

BAB V

PENUTUP

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->