P. 1
terpenoid

terpenoid

|Views: 70|Likes:
Published by Fibri Cahya

More info:

Published by: Fibri Cahya on Jan 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

ISSN 1907-9850

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA TERPENOID YANG AKTIF ANTIBAKTERI PADA HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri Linn) I W. G. Gunawan, I G. A. Gede Bawa, dan N. L. Sutrisnayanti Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran

ABSTRAK
Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa terpenoid antibakteri dari herba meniran (Pyllanthus niruri Linn) dengan metode Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa. Ekstraksi senyawa dilakukan dengan dua cara yaitu maserasi dengan pelarut metanol dan sokletasi dengan pelarut n–heksanaa. Hasil uji fitokimia menggunakan pereaksi Lieberman-Burchard pada ekstrak n–heksanaa hasil maserasi dan ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi menunjukkan bahwa kedua ekstrak tersebut positif mengandung senyawa terpenoid. Hasil uji aktivitas ekstrak n–heksanaa terhadap bakteri Escherichia coli ATCC® 25292 dan Staphylococcus aureus ATCC® 25293 menunjukkan fraksi n–heksanaa hasil sokletasi memberikan daya hambat yang lebih baik. Daya hambat fraksi n–heksanaa hasil maserasi adalah 1 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 0,5 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan daya hambat fraksi n–heksanaa hasil sokletasi yaitu 10 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 12 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi dimurnikan dengan menggunakan kromatografi kolom dan diidentifikasi dengan Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa. Data Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa, menunjukkan kemungkinan ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi mengandung dua buah senyawa yaitu phytadiene [M+] 278 dan senyawa 1,2-seco-cladiellan m/z 335 [M+- H]. Kata kunci : Phyllanthus niruri Linn, terpenoid, aktif antibakteri

ABSTRACT
Isolation and identification of terpenoid, antibacterial compounds meniran herb (Phyllanthus niruri Linn) by Gas Chromatography – Mass Spectroscophy were carried out. Two kinds of extraction, i.e. maseration using methanol and the sochlet using n-hexane were employed. The extract obtained were contains terpenoids basedon fitochemical test of Liberman-Burchard n-hexane extract was tested for antimicrobial activity against Escherichia coli ATCC® 25292 and Staphylococcus aureus ATCC® 25293. In this study we obtained that n-hexane extract by sochlet extraction showed greater activity compared to the extract by maseration with methanol, as indiated by disc diameter of inhibition zone. Diametric inhibition zone for these two extract are 1 mm for Escherichia coli and 0,5 mm for Staphylococcus aureus, for methanol extract, and where are 10 mm for Escherichia coli and 12 mm for Staphylococcus aureus for n-hexane extract. The n-hexane extract was then purified using column chromatography. The pure extract was analyzed using Gas Chromatography - Mass Spectroscophy. Gas Chromatography - Mass Spectroscophy data indicated that the extract contains two compounds, i.e. phytadiene [ M+ ] 278 and 1,2 seco – cladiellan m/z 335 [ M+ - H ]. Keyword : Phyllanthus niruri Linn, terpenoid, active againts bacteria

31

refluks. 2003). 2007. kanker. Bigham et al. 32 Peralatan Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : neraca analitik. Herba meniran dikeringkan kemudian diblender sampai berbentuk serbuk. 2000. Anonim. 2007) Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah herba meniran (Phyllanthus niruri Linn) mengandung senyawa terpenoid antibakteri. Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan dalam 50 mL KOH 10%. kalium bromida. Meniran adalah herba yang berasal dari genus Phyllanthus dengan nama ilmiah Phylanthus niruri Linn (Heyne. 1995).a). Ekstrak metanol dipekatkan lalu dihidrolisis dalam 100 mL HCl 4 M. botol reagen. 1987). Herba meniran mengandung metabolit sekunder plavonoid.. Suspensi bakteri homogen yang telah diinkubasi siap dioleskan pada permukaan media Mueller-Hinton agar. Anonim.. 2. 2006. Sokletasi Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran disokletasi dengan 5 L pelarut n – heksana. Kabupaten Badung. JANUARI 2008 : 31-39 PENDAHULUAN Perkembangan penggunaan obat-obatan tradisional khususnya dari tumbuh-tumbuhan untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sudah cukup meluas. Lim et al. radang selaput lendir mata. peluruh haid. MATERI DAN METODE Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh bagian herba meniran segar (Phyllanthus niruri Linn) yang diperoleh dari Kelurahan Kerobokan Kelod. 2003. kertas saring. Bahan . labu ukur. Maserasi Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran dimaserasi menggunakan pelarut metanol. sariawan. ayan. 3. Mangan. kloroform (p. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri Ekstrak n-heksanaa diuji aktivitasnya terhadap bakteri Eschericia coli dan Staphyloccocus aureus dengan tahap – tahap sebagai berikut : 1. nheksana (p. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri. virus hepatitis. sokhlet dan lampu ultra violet 254 nm dan 366 nm. penguap putar vakum. seperangkat alat gelas. akuades. Cara Kerja Ekstraksi Ekstraksi senyawa terpenoid dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. blender.a). 2. diterpenoid (-) hardwicklic acid. corong pisah. Propinsi Bali. nyeri gigi. kalsium klorida anhidrat. terpenoid.JURNAL KIMIA 2 (1). Beberapa hasil penelitian menunjukkan senyawa terpenoid memiliki aktivitas sebagai antibakteri yaitu monoterpenoid linalool.a). HCl 4 M. pipet ukur. sakit kuning.a). Herba ini secara tradisional dapat digunakan sebagai obat radang ginjal. triterpenoid saponin dan triterpenoid glikosida (Grayson. kromatografi gas-spektroskopi massa. dan infeksi saluran kencing (Anonim. antibakteri. silika GF254.a). 2005. secara merata dengan menggunakan lidi kapas yang steril. Diambil sebanyak satu koloni biakan bakteri Eschericia coli dengan menggunkan jarum ose yang dilakukan secara aseptis. alkaloid dan steroid (Kardinan dan Kusuma. peluruh dahak. kromatografi kolom. Salah satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat adalah meniran (Osward. benzena (p. Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan dalam 10 mL KOH 10%. Hasil hidrolisis diekstraksi dengan 5 x 50 mL n – heksana. Dimasukkan ke dalam tabung yang berisi 2 mL Mueller-Hinton broth kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35ºC . Kecamatan Kuta Utara. 2004). asam asetat anhidrida (p. seperangkat alat kromatografi lapis tipis. silika G60. Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian terdiri dari metanol (p. phytol. KOH 10%. H2SO4 pekat. labu erlenmeyer.

Tabel 2. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap ekstrak n-heksana hasil sokletasi memberikan daya hambat yang lebih besar dibandingkan ekstrak n-heksana hasil maserasi.725 2 B (28-33) 2 0. 5.580 Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa fraksi A dan fraksi C positif terpenoid yaitu memberikan warna merah muda (positif diterpenoid) pada fraksi A dan warna ungu muda (positif triterpenoid) pada fraksi C setelah direaksikan dengan pereksi Lieberman-Burchard. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap fraksi A dan fraksi C dipaparkan pada Tabel 3. Kemudian ditempelkan disk yang berisi sampel. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri. Kelompok fraksi hasil kromatografi kolom No Fraksi Jumlah Noda Rf 1 A (1-27) 1 0. Isolat yang relatif murni selanjutnya diidentifikasi menggunakan kromatogafi gas – spektroskopi massa. 6. standar tetrasiklin serta pelarutnya (n-heksana) yang digunakan sebagai kontrol. 33 . Warna Ekstrak Kuning Kuning Muda Kuning Muda Tabel 1. Terhadap ekstrak n-heksana hasil sokletasi dipisahkan mengunakan kromatografi kolom menghasilkan tiga buah fraksi yang dipaparkan pada Tabel 1. namun suhunya berbeda yaitu pada suhu 37ºC Ekstrak yang positif terpenoid dan paling aktif antibakteri dipisahkan mengunakan kromatografi kolom dengan fase diam silika gel 60 dan fase gerak kloroform : metanol (3 : 7). Fraksi yang positif terpenoid dan paling aktif antibakteri dilanjutkan ke tahap pemurnian menggunakan kromatograi lapis tipis. Hasil ini dipaparkan pada Tabel 2. Dilakukan pengukuran daya hambat zat terhadap bakteri. Untuk biakan bakteri Staphyloccocus aureus dilakukan dengan cara yang sama seperti biakan bakteri Eschericia coli.690 dan 0. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna ungu setelah ekstrak nheksana direaksikan dengan Pereaksi Lieberman Burchard.600 3 C (34-) 1 0. 7. Hasil uji fitokimia masing – masing fraksi hasil kromatografi kolom Nama fraksi Warna larutan Warna larutan sebelum direaksikan sebelum direaksikan dengan pereaksi dengan pereaksi Lieberman-Burchard Lieberman-Burchard Fraksi A kuning muda merah muda Fraksi B Fraksi C kuning muda kuning hijau kebiruan ungu muda Keterangan Positif terpenoid (diterpenoid) Negatif terpenoid (steroid) Positif terpenoid (triterpenoid) Fraksi yang positif terpenoid selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ekstraksi dengan cara sokletasi dan maserasi menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana pada kedua cara tersebut positif mengandung senyawa terpenoid.ISSN 1907-9850 4. Lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35ºC .

Berdasarkan data di atas senyawa tersebut mengandung dua buah senyawa. 123. 2. 82. 109. Senyawa tersebut adalah phytol dengan berat molekul m/z 296[M+]. spektrum massanya ditampilkan pada Gambar 2 dan strukturnya ditampilkan pada Gambar 3..74 menit. 4.. 1996). 4. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi A dan fraksi C Ekstrak n-heksana Kontrol n-heksana Akuades Standar tetrasiklin 30 µg Fraksi A 30 µg Fraksi C 30 µg Diameter Hambatan Masing-Masing Zona Bakteri ( mm ) Staphyloccocus aureus ATCC® 25923 0 0 42 19 12 Escherichia coli ATCC® 25922 1. 3. 179. 57 (Nguyen et al. Kromatogram gas fraksi n-heksana positif terpenoid dan aktif antibakteri ditampilkan pada Gambar 4 yang menunjukkan terdapatnya dua buah puncak dengan waktu retensi berturut-turut : 25. Grossi et al. senyawa pada puncak I mempunyai berat molekul m/z 278.93 menit. A B Gambar 1 Spektrum massa senyawa puncak I (A) dan spektrum massa phytol (B) Spektrum massa senyawa puncak I ditampilkan pada Gambar 2. Data spektroskopi massa dari phytadiene yaitu m/z 278[M+]. Berdasarkan data base kromatografi gas . 2.spektroskopi massa ditampilkan senyawa yang memiliki kemiripan 83% dengan senyawa pada puncak I. 3. 5. 263. No 1. 95. 34 . 5. Pada spektrum massa Gambar 1 Kromatogram gas fraksi A Identifikasi senyawa pada puncak I tr 25. Spektrum massa phytadiene menyerupai spektrum massa senyawa puncak I m/z 278[M+]. JANUARI 2008 : 31-39 Tabel 3. Dari hasil uji aktivitas antibakteri fraksi A memberikan daya hambat yang lebih baik sehingga fraksi A dilanjutkan ke tahap pemurnian. Hal ini dapat dikatakan fraksi A relatif murni secara KLT. Isolat yang relatif murni diidentifikasi menggunakan kromatografi gas – spektroskopi massa. Fukushima et al. 68. 1992.74 dan 21. Hasil pemurnian menunjukkan noda tunggal. Berdasarkan data spektrum. Phytol dapat mengalami dehidrasi secara alami menjadi phytadiene pada kelompok B dari Botryococcus braunii dimana Botryococcus braunii merupakan salah satu spesies dari alga hijau (Zang dan Sach.JURNAL KIMIA 2 (1). 2002). 2006..

15-56-28-56-14 CH2 + 95 M .15-56-28-56-14-14 CH2 71 M+ . struktur phytadiene mengikuti pola fragmentasi senyawa pada puncak I. Pola fragmentasi senyawa phytadiene ditampilkan pada Tabel 4 dan Gambar 5.15-56-28-56-14-14-24-14 CH2 43 M+ . Hal ini berarti senyawa puncak I mempunyai gugus seperti dodekane.ISSN 1907-9850 dodekane terdapat puncak dasar m/z 57 yang diapit oleh puncak tinggi lainnya yaitu puncak m/z 43 dan m/z 71 (Baker.15-56-28 2CH2 123 M+-15-56-28-56 C4H8 109 M+ . Pola pemenggalan spektrum massa senyawa pada puncak I Berat M+ -Pemenggalan Rumus Molekul Molekul Pemenggalan 278 (M+) 263 M+ . Setelah difragmentasi. 2000) yang merupakan puncak khas dodekane. HO Gambar 3 Struktur senyawa phytol Gambar 4 Struktur senyawa phytadiene Tabel 4. hal ini juga terlihat pada struktur phytadiene yang tersusun atas 20 atom C dan dua buah ikatan rangkap yang ditampilkan pada gambar 4. Dengan demikian senyawa pada puncak I m/z 278 diduga sebagai senyawa phytadiene berdasarkan data Spektroskopi Massa.15-56-28-56-14-14-24-14-14 CH2 Rumus Molekul Penggalan C20H38 C19H35+ C15H27+ C13H23+ C9H15+ C8C13+ C7H11+ C5H11+ C4H9+ C3H7+ 35 . Pada spektrum massa puncak I terdapat puncak m/z 71 sebagai puncak dasar dan muncul pula puncak khas lainnya dari dodekane yaitu puncak m/z 43 dan m/z 57 dengan kelimpahan yang cukup tinggi. phytadiene dan dodekane.15 CH3 + 207 M . pola fragmentasi dan hubungan antara senyawa puncak I dengan phytol. Dodekane memiliki 20 atom C dan adanya ikatan rangkap (Baker.15-56 C4H8 179 M+ .15-56-28-56-14-14-24 2C 57 M+ . 2000).

Dari data spektrum. 4-metoksi-4-metil-1-(4-nitrophenyl)-decane-1.3-dione.JURNAL KIMIA 2 (1).4dimethoxyanilino)-2-oxoethyl}cyclohexyl}acetic acid. 2-{1-[2-(3.93 menit Gambar 6 Spektrum Massa senyawa puncak II 36 Spektrum senyawa pada puncak II ditampilkan pada gambar 6. 2-(acetylamino)-3-{3(cyclopentylmethoxy)-2methoxyphenyl}propanoic acid. Berdasarkan hasil penelusuran internet. senyawa puncak II memiliki berat molekul m/z 335. JANUARI 2008 : 31-39 CH3 m/z 278 _ C 4 H8 m/z 263 _ 2 CH 2 m/z 207 _ C 4 H8 m/z 179 _ m/z 123 C H2 m/z 109 _ CH 2 m/z 95 H _ 2C _ m/z 71 CH 2 m/z 57 _ CH 2 m/z 43 Gambar 5 Pola fragmentasi spektrum massa senyawa pada puncak I Identifikasi Senyawa Pada Puncak II tr 21. Senyawasenyawa tersebut memang memiliki berat molekul m/z 335 sesuai dengan m/z senyawa pada puncak II tetapi pola fragmentasi senyawa– . terdapat beberapa buah senyawa dengan m/z 335 diantaranya DL-Leucyl-glycyl-DLphenylalanine.

2-seco-cladiellan (Friedal et al.31 C4H4 + 107 [M -H].43 . 1986)..43 . 2005) dimana karvon merupakan senyawa golongan monoterpenoid yang mengandung gugus keton (Ikan.43 . Senyawa tersebut adalah 1.ISSN 1907-9850 senyawa tersebut tidak memenuhi pola fragmentasi senyawa pada puncak II.17 .31 OCH3 189 [M+-H]. Berdasarkan data di atas ditarik suatu kesimpulan yaitu senyawa puncak II diduga sebagai senyawa 1. terdapat struktur senyawa yang memiliki berat molekul m/z 336 dengan gugus dan pola fragmentasi yang memenuhi gugus dan pola fragmentasi senyawa pada puncak II. 1976).43 .43 .27 . Berdasarkan data hasil penelusuran internet. strukturnya ditampilkan pada gambar 7.43) yang kehilanganmolekul C3H7.27 . Pola pemenggalan spektrum massa senyawa pada puncak II Rumus molekul Berat [M+-H] . Oleh karena itu ditelusuri senyawa yang memiliki berat molekul m/z 336 yang memiliki pola fragmentasi yang memenuhi pola fragmentasi senyawa puncak II dengan asumsi bahwa senyawa dengan berat molekul m/z 336 adalah senyawa yang memiliki berat molekul m/z 335 [M+ .H].17 ..17 OH 217 [M+-H].27 . 2005). Pada senyawa puncak II terlihat adanya puncak m/z 55 dan pemecahan ikatan C – C sebelah atom oksigen dapat terlihat pada m/z 292 (M+.2–seco–cladiellan.30 2CH3 Rumus molekul penggalan C20H32O4 C20H31O4 C17H24O4+ C15H21O4+ C15H20O3+ C14H17O2+ C12H13O2+ C8H9O+ C7H7O+ C5HO+ 37 .17 .2-seco-cladiellan terbentuk dari karvon (Friedal et al.27 C2H3 248 [M+-H].27 .31 .pemenggalan pemenggalan molekul 336[M+] 335[M+-H] 292 [M+-H].H .31 – 14 CH2 77 [M+-H]. karena struktur senyawa ini memenuhi pola fragmentasi senyawa puncak II. Terdapatnya gugus keton pada sebuah spektrum massa suatu senyawa terlihat pada puncak m/z 55 dan adanya pemecahan yang terjadi pada ikatan C – C sebelah atom oksigen (Silverstain et al.17 .17 ..27 .43 C3H7 265 [M+-H]. Senyawa 1.43 .31 2CH2 121 [M+-H].27 .14 .43 .2-seco-cladiellan Tabel 5. OH OCH 3 O O Gambar 7 Struktur senyawa 1.

di mana campuran kedua senyawa ini aktif terhadap bakteri Escherichia coli ATCC® 25292 dan bakteri Staphylococcus aureus ATCC® 25293. M..pdpersi. Ibu Ida Ayu Gede Widihati.2-seco cladiellan.Si..php3?id =1012.. 2005. JANUARI 2008 : 31-39 OCH OH 3 OC 3 H OH O OH OCH 3 O O C3 H 7 O O C2 H 3 O + m/z 335[M . S. 5 Desember 2005 38 . atas masukan dan sarannya sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik. M. http:/www. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Meniran. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Ketut Ratnayani.JURNAL KIMIA 2 (1). S.Si. S. Saran Perlu dilakukan uji aktivitas lain untuk mengetahui keaktifan dari isolat terpenoid dari Herba meniran (Phyllanthus niruri Linn). M.Si. dan Ibu Ni Luh Putu Rustini.Si. co.Si....H] m/z 265 m/z 292 OC H 3 OH O O O O CH 3 O O CH 3 OH m/z 248 O OH O O OC H 3 O O OC H 3 O C O CH3 2 CH2 O O O C O m/z 21 7 m/z 189 C 4 H4 O O m/z 12 1 C 3 H8 m/z 77 O O Gambar 8.Si. Pola fragmentasi spektrum massa senyawa pada puncak II SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Herba meniran (Phyllanthus niruri Linn) mengandung dua senyawa terpenoid yang diduga jenis phytadiene dan 1.id/pdpersi/news/alternative.

. P.. 24 : 833-839 Heyne. M. R. IN 47809. A. H. and Browne. Cambridge. T. Bauermeister. Dublin 2.. Academic Press. Mass Spectrometry.. Ohio State University. Departement of Life Science. Department Earth Atmospheric and Plenetary Sciences. M. Melbourn University.. Phytol-Based Novel Adjuvants in Vaccine Formulation: 2.b. 2003. A. and Gosh. V. S. smbh. Munro. Colombus. Prevention of algaenan and proteinaceous material during the oxic decay of Botryococcus braunii as revealed by pyrolisis–gas chromatography/mass spectrometry and 13C NMR Spectroscopy.. Klein Breteler. 1987. 2000.. M. F... 3010. Yayasan Sauna Wana Jaya. Jakarta Silverstain. J. De Leeuw.. New Neoclerodane Diterpenoid from the controlled sage Silvia divinorum. Jakarta Lim. N. N.. Schogt. Hartono.. John Wiley & Sons Ltd. M. C. Jakarta Nguyen. A.. J.. Muto. A. G.. H.. R.. Organic Geochemistry. M. Y. Ireland Grossi. T.. 1986. England Bigham.. Y. and Ishiwatari.. M. Baas.fu. and Lauffen. R. Uemura. T.. Zur Synthese des Diterpenoids Eleutherobin aus Weichkorallen der Gattung Eleutherobia und Synthese der Aminosäure 2-Aminohomohistidin. K.berlin. Hetenyi. 18 : 83-91 Grayson. S. Victoria. Spectrometric Identification of Organic Compounds. Monoterpenoid. dumenat..H. 1995.. Jilid II. P. London Kardinan.. Kjonaas. München Fukushima. 2007.. Cara Bijak Menaklukan Kanker. 2007. Formation of C20 Isoprenoid Thiophenes in Modern Sediment. K.. M. Zang.ISSN 1907-9850 Anonim. 2000. a. Yakusawa.. 1992. Trinity College. and Sach. D. and Rontani.. Agromedia Pustaka. Australia Friedal. 2003. Jakarta Ikan. A.htm. T. Hydrogen Isotop Fractination In Fresh Water Algae: I Variation Among Lipids And Species. M.. Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami. Tumbuhan Obat. R.. C. de/2003/81/koehler 7. 2005. United State America 39 .. 24 Januari 2007 Baker. R. Indiana State University. Eclipta prostata. T. 1996. Bassler. www. Roy.. T.G.diss. Terre Haute. J. R..... Heemst. K. X. A. Agromedia Pustaka. A. C. Rizzacasa. Formation of Phytadienes in water column : myth or reality? Organic Geochemistry. W. 4th ed.. Z.. R. USA Osward. and Hatcher. 4 januari 2007 Anonim. J. Universität München. 2006. 2006.pdf-332k. R. University Chemical Laboratory. Baratha.. Tetra pleura.. Neckar.fr/med/tradmed200 1. 1976. USA Mangan. Assessment of Efficacy in the Induction of Protective Immune Responses to Lethal Bacterial Infections in Mice. 2002. Harvey. 2004. W. J.. dan Kusuma. Jakarta Zang.D. Natural Product A Laboratory Guide. J. and Morrill. Tumbuhan Berguna Indonesia. dkk. Erlangga. Divinatorins A-c. F.Univ_paris13.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->