P. 1
Sodagarship : Jalan Menggapai KayaSejati

Sodagarship : Jalan Menggapai KayaSejati

|Views: 334|Likes:
Worldview dan Paradigma dalam menggapai kekayaan yang berkah dan melimpah, menurut tradisi Islam.
Worldview dan Paradigma dalam menggapai kekayaan yang berkah dan melimpah, menurut tradisi Islam.

More info:

Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jan 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2014

pdf

text

original

Dr. Hilmy Bakar Almascaty, MBA.

Panduan
Menggapai Kekayaan Berlimpah dan Berkah Dengan 7 Prinsip Sodagarship Nusantara

(SINOPSIS)

Tentang Penulis
Hilmy Bakar Almascaty, adalah seorang pendakwah, peneliti, aktivis dan pengusaha. Pendiri dan Presiden Al-Hilal Group yang bermula dari pembentukan Hilal Merah (Red Crescent) sebagai rekomendasi Mudzakarah Nasional Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim ke XI di Medan Sumut pada tahun 2003. Pernah menjabat sebagai: Panglima Operasi Kemanusiaan Ormas Islam di Aceh (2004-2005), Ketua DPP Front Pembela Islam (2004-2005), Wakil Ketua PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah (2002-2005), Ketua Umum Aliansi Peduli Aktivis (2005-2006), Kordinator Nasional Mudzakarah Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim (20022006), Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim (2000-2003), Direktur R&D Universitas Islam Azzahra (2005-2006), Anggota Pleno Partai Bulan Bintang (2002-2003), Bendahara Umum Partai Daulat Rakyat (1998-2000), Preskom Madani Group (1999-2004), Pendiri dan Deputy Presiden Intelektual Muda Muslim Asia Tenggara (1995-1997), Direktur di beberapa Perusahaan Multinasional Malaysia dan beberapa jabatan dan konsultan di swasta dan pemerintah. Menjadi dosen dan Direktur Institut Pendidikan Islam Safa Malaysia dan Ketum Yayasan Islam An-Nur. Lahir di Mataram NTB pada 01 Agustus 1966. Mendapat Pendidikan di SD Kristen Jayapura-Papua, Madrasah Diniyah dan Tsanawiyah Mataram NTB, Madrasah Aliyah Jogyakarta, Islamic College Malaysia, Ma‟had Aly Al-Dakwah - Sekolah Tinggi Islam, Diploma Madya Pentadbiran Perniagaan Institut Tun Abdul Razak (ITTAR) Malaysia, Pasca Sarjana Fakultas Pentadbiran Perniagaan (MBA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Doktor Administrasi Bisnis (DBA) Manajemen, Institute of Management Studies-American World University, Program Doktor Falsafah (Ph.D) bidang Sejarah Melayu pada Institutut Tamadun Melayu Antarabangsa (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dan sedang menyelesaikan program Doktor Falsafah (Ph.D) bidang Peradaban Islam di CASIS-Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Menulis Risalah: Problematika Umat Islam Indonesia (Furqon Press, Yogya-1983), Studi Kritis Terhadap Idiologi Pancasila di Zaman Soeharto (Tanpa Penerbit, Yogya-1983), Risalah Panduan Jihad (Annur, 1987). Menulis buku : Ummah Melayu Kuasa Baru Abad 21 (Berita Publ. Malaysia1994), Generasi Penyelamat Ummah (Berita Publ. Malaysia-1995), Panduan Jihad untuk Aktivis Islam (GIP-JKT, 2001), Membangun Kembali Sistem Pendidikan Kaum Muslimin (Azzahra Press, 2002). Dan 20 buku lainnya di web : www.scribd.com/hilmy bakar Menulis di berbagai koran dan majalah nasional dan regional, terutama Malaysia. Menjadi nara sumber di berbagai seminar/konferensi nasional dan regional. Pernah diwawancarai media masa lokal dan internasional seperti CNN, BBC, CNBC, Al-Jazeera, Spain TV, La Monde, The Washington Post, Newsweek dll. Pada November 2001 majalah internasional ASIAWEEK meletakkannya sebagai cover (sampul depan) dan menjuluki sebagai tokoh jembatan Moderat Islam dengan Radikal Islam di Asia Tenggara. Sekarang aktiv sebagai pengusaha, peneliti, relawan kemanusiaan dan penggerak pembangunan ekonomi & peradaban di Alam Melayu (Nusantara).

SODAGARSHIP
Keterpurukan bangsa Indonesia akibat krisis moneter yang menerpanya sejak akhir tahun 90an lalu telah mendatangkan bencana ekonomi dan sosial dengan segala dampak negatifnya, seperti merebaknya pengangguran, meningginya kemiskinan, berjangkitnya kerusakan moral, kriminalitas dan masalah-masalah sosial lainnya. Namun di sisi lain kita perlu melihat sisi positipnya, bahwa bencana ekonomi ini telah melahirkan generasi muda yang memiliki kesadaran dan pencerahan akibat tekanan-tekanan ekonomi yang timbul pasca krisis yang hampir mengantarkan bangsa dan negara menuju kebangkrutan. Dengan sisa-sisa semangat dan kemampuan yang ada, generasi terpilih dan tegar ini berjuang keluar dari gelombang resesi, badai moneter dan topan krisis global ekonomi dunia. Merekalah generasi muda yang memiliki watak wirausaha tangguh yang akan menjadi cikal bakal pengusahapengusaha yang diharapkan berhasil menjadi orang-orang kaya, yang akan mengeluarkan bangsa dan negara Indonesia dari keterpurukannya saat ini. Meningginya gairah dan semangat wirausaha di kalangan generasi muda muslim ini telah mendorong mereka untuk mencari berbagai referensi untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya. Ironisnya, sebagian besar buku referensi ataupun contoh kesuksesan dan orang kaya yang ditampilkan berdasarkan pada sistem nilai Barat sekuleristik, yang budaya, etos kerja, filsafat ataupun pandangan dan cara hidup orang-orang kafir yang sangat jauh berbeda bahkan bertentangan dengan budaya, sejarah, peradaban dan ajaran agama generasi muslim tersebut. Yang memandang sebuah kesuksesan hanya sebatas kesuksesan di dunia fana ini saja, tanpa memandang berat moral dan akhlak mulia sebagaimana pandangan hidup yang ditawarkan Barat sekuler yang akan menambah kesesatan dan keterbelakangan spiritual generasi Islam. Membanjirnya buku-buku panduan cepat kaya yang ditulis oleh para pemikir Barat seperti Norman V. Peale, Dale Carnegie, Ziz Ziglar, Stephen R. Covey, Robert T. Kiyosaki, Rich Devos, Denis Waitley, Jack M. Zufelt sampai Peter Drucker dan lainnya hanya memberikan contoh-contoh keberhasilan pada masyarakat bebas nilai seperti di Amerika pada umumnya, yang mana hal ini masih perlu dipertanyakan urgensinya ataupun kesesuainnya dengan ajaran Islam. Demikian pula jalan sukses yang ditempuh para kapitalis seperti Henry Ford (Pendiri Ford Corp), Bill Gates (Pendiri MicroSoft), Rich Devos (Pendiri Amway), Sam Walton (Wal Mart) dan lainnya apakah dapat ditiru oleh generasi muda muslim dalam menggapai citacitanya sebagai seorang pengusaha muslim dan dapat menyandang predikat pelaku jihad ekonomi yang akan memperoleh kemenangan dan kesuksesan dunia akhirat. Tidak dinafikan memang ada usaha-usaha serius beberapa penulis muslim untuk mengisi kekosongan tersebut, baik penulis dari Timur Tengah seperti Aid al-Qarny, Ibrahim AlQuayyid, Asyraf Muhammad Dawabah, Ibrahim El-Fiky ataupun beberapa nama penulis lokal seperi Ary Ginanjar, Rhenal Kasaly, Farid Poniman, M. Syafii Antonio, Laode Kamaluddin, Syahrial Yusuf dan lainnya. Namun sejauh ini saya belum menemukan sebuah literatur khusus

yang membahas karakteristik jihad iqtishady dan konsep pembinaan mujahid iqtishady dalam arti yang sebenarnya dengan sebuah lembaga pendidikan dan pelatihannya yang menerapkan sebuah tata cara Islam berdasarkan pengalaman hidup para sahabat sebagai seorang mujahid fi sabilillah. Jika adapun, masih juga berputar-putar pada dataran teori yang belum dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Padahal literatur Islam dipenuhi dengan berbagai ajaran dan nilai-nilai yang sangat kaya raya, termasuk bagaimana cara melahirkan manusia-manusia unggul dan sempurna sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, terutama dalam bidang spiritualitas Islam yang menjadi fondasi utama dalam pembentukan managerialship, leadership dan entrepreneurship yang saat ini sangat diminati oleh masyarakat Barat. Demikian pula dalam sejarah perkembangan Islam telah lahir para pengusa-pengusaha agung yang disegani seperti Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Sa‟ad bin Rabi‟ dan lainnya. Nabi Muhammad saw sendiri adalah seorang pengusaha besar yang berpengaruh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Sementara nenek moyang bangsa Indonesia terkenal sebagai pedagang-pedagang ulung yang mampu berlayar sampai ke benua Amerika, Timur Tengah dan Afrika sejak ribuan tahun sebelum masehi. Mereka menjadi pedagang-pedagang besar yang menghubungkan peradaban-peradaban besar dunia dan mengembangkan sistemnya tersendiri sehingga mampu membentuk kerajaan-kerajaan besar jauh sebelum bangsa Eropa dan Amerika menemukan kemajuannya. Namun penaklukan dan penjajahan telah membalik keadaan, menjadikan bangsa Indonesia tertinggal dan terbelakang. Banyak tradisi agung yang terlupakan, bahkan dengan tersistematis dirancang penjajah agar tidak lagi menjadi bagian dari tradisi bangsa Indonesia, termasuk tradisi dan sepangat kewirausahaan yang telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Sudah menjadi kebiasaan umum sebuah bangsa untuk menjadi peniru bangsa yang lebih maju darinya dan meninggalkan tradisi mereka, dengan anggapan bahwa tradisi bangsa maju diharapkan dapat menjadikan mereka sebagai bangsa maju seperti bangsa yang ditirunya. Ketika bangsa Yunani dan Romawi mengalami kemajuan, maka banyak bangsabangsa lainnya meniru kemajuan mereka. Demikian pula ketika bangsa Arab Muslim mengalami kemajuan peradaban, maka bangsa-bangsa Eropa menjadi peniru dari peradaban bangsa Arab Muslim dan mengembangkan sehingga mereka mengalami kemajuan. Setelah bangsa Eropa mengalami kemajuan dan bangsa-bangsa Muslim mengalami kemunduran, maka bangsa-bangsa Muslim menjadi peniru bangsa Eropa. Namun dalam hal ini, peniruan bangsabangsa Muslim terhadap bangsa Eropa menimbulkan dilema spiritual kepada kaum Muslimin, karena kemajuan Eropa disertai dengan proses sekulerisasi, atau mencampakkan agama dari ranah duniawi. Kasus peniruan bangsa Muslim Turki terhadap bangsa Eropa telah mendatangkan krisis spiritual bangsa Turki, yang tidak menjadi maju seperti Eropa setelah mengadopsi sekulerisme dan meninggalkan peradaban Islam. Bangsa Turki bukannya menjadi bangsa Muslim yang maju, namun hanya menjadi bangsa Muslim karikatur Eropa. Demikian pula hanya dengan generasi Muslim kontemporer yang selalu beranggapan bahwa peradaban bangsa-bangsa maju, mesti ditiru apa adanya, agar mereka dapat maju

seperti bangsa-bangsa Eropa. Maka berbagai paham pemikiranpun menjadi anutan kaum muda Muslim, termasuk dalam bidang pemikiran ekonomi dan bisnis. Dengan merujuk kepada keberhasilan bangsa Amerika dalam membangun kemajuan peradaban, yang kononnya digerakkan oleh segolongan pengusaha yang biasanya dikenal dengan entrepreneur sebagaimana dikatakan begawan Ilmu Menejemen Amerika Pieter F. Drucker, maka berbondong-bondonglah generasi muda Muslim mempelajari entrepreneurship dan berbagai pengetahuan entrepreneuer dengan tidak lupa membuat lembaga seperti entrepreneur university, entrepreneur college, spiritual entrepreneur quotion dan sejenisnya. Dengan bangganya para generasi muda Muslim ini menyebarkan aliran dan faham pemikiran yang bukan berasal dari budaya, tradisi dan peradaban mereka. Karena tidak diragukan bahwa setiap pemikiran memiliki landasan teologis dan idiologis yang menyertainya, dan sehubungan dengan entreprenership ala Amerika, tidak diragukan muatan sekulerisme dan liberalisme pasti menyertainya. Ironisnya, setelah generasi muda Muslim mengamalkan pemikiran sekuler Barat ini, mereka tidak dapat mencapai kesuksesan sebagaimana bangsa yang ditirunya, kecuali mengikuti semua ajaran pemikirannya secara total, termasuk meninggalkan ajaran agama, budaya dan tradisi yang mereka anut. Maka bermunculanah para enterpreneur Muslim yang berwajah Islam, beragama Islam namun perilaku sekuler dan hedonisnya seperti entrepreneur Barat. Banyak juga yang mengalami krisis spiritual, seperti krisisnya bangsa Turki yang meniru bangsa Barat dan mencampakkan Islam. Kenapa untuk menjadi seorang Muslim yang sempurna saat ini kita mesti menolak faham-faham sekuler yang telah mengantarkan kemajuan peradaban Barat sebagaimana dipromosikan bangsa-bangsa Barat? Menjawab pertanyaan tersebut, cukuplah apa yang dikemukakan tokoh cendekiawan Nusantara Prof. SMN al-Attas, mengenai akar peradaban Barat beliau menulis : peradaban yang telah tumbuh dari peleburan historis dari kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi kuno beserta perpaduannya dengan ajaran Yahudi dan Kristen yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik. Dari Yunani kuno diperoleh unsur-unsur filosofis dan epistemologis dan landasan-landasan pendidikan dan etika serta estetika. Dari Romawi unsur-unsur hukum dan ilmu tata negara serta pemerintahan, dari ajaran Yahudi dan Kristen unsur-unsur kepercayaan relegius dan dari rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik nilai-nilai semangat dan tradisi mereka yang bebas dan nasionalis. Mereka ini mengembangkan serta memajukan ilmu-ilmu pengetahuan alam, fisika dan teknologi. Bersamasama dengan rakyat Slavia, mereka telah mendorong peradaban Barat ke puncak-puncak menara kekuatan. Islam juga telah memberikan sumbangan-sumbangan pengetahuan, menanamkan semangat rasional dan ilmiyah. Mereka telah melebur dan memadukan semua unsur yang membentuk watak serta kepribadian peradaban Barat. Peleburan dan pemaduan yang berlangsung ini menghasilkan suatu dualisme yang khas dalam pandangan dunia dan nilai-nilai kebudayaan dan peradaban Barat.(Islam and Secularism, hlm. 136) Dengan landasan filsafat yang dualistik inilah Barat modern kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi mengembangkan dan menguasai sains-teknologi dalam hampir semua bidang

kehidupan manusia. Akibat dualisme pada landasan filsafat pemikirannya ini, maka terjadilah kepincangan-kepincangan pada peradaban Barat yang membawa dampak sangat serius bagi keselamatan umat manusia di muka bumi ini. Akhirnya peradaban yang dibangun Barat modern dengan segala timbunan materinya yang sangat menyilaukan sebagian besar para cendikiawan Muslim telah mengalami kegagalan seperti yang digambarkan Sayyid Hossein Nasr; Peradaban yang berkembang di Barat sejak zaman Renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya sehingga umat manusia menjadi ragu apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di masa yang akan datang. Sangatlah tidak ilmiyah apabila kita menganggap peradaban modern ini dengan segala gambaran mengenai sifat manusia dan alam semesta yang mendasarinya, bukan sebagai sebuah eksperimen yang gagal. Dan sesungguhnya penelitian ilmiyah, jika tidak menjadi jumud karena rasionalisme dan empirisme yang totalarian seperti yang kami katakan di atas, sudah tentu merupakan cara termudah untuk menyadarkan manusia sekarang bahwa peradaban modern sesungguhnya telah gagal karena kesalahan konsep-konsep yang melandasinya. Peradaban modern telah ditegakkan di atas dasar konsep mengenai manusia yang tidak menyertakan hal yang paling mendasar bagi manusia.( Islam and The Plight of Modern Man, London : Longman, 1975, hlm.12) Kegagalan peradaban Barat modern, baik secara teori maupun praktek adalah tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia dan harus segera diatasi secepat mungkin, karena tantangan telah menjadi sumber segala problematika umat manusia, seperti dikatakan oleh Prof. SMN. al-Attas; Banyak tantangan yang timbul di tengah-tengah kebingungan manusia sepanjang zaman, tetapi tidak satupun yang lebih serius dan sangat destruktif kepada manusia sekarang selain yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Saya berpendapat bahwa tantangan yang paling besar yang secara sembunyi-sembunyi telah muncul pada zaman kita adalah tantangan pengetahuan (knowledge), tidak seperti berperang melawan kejahilan; tapi sebagai pengetahuan yang disusun dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia oleh peradaban Barat; sifat dasar pengetahuan menjadi permasalahan setelah ia kehilangan tujuan sebenarnya karena disusun secara tidak adil yang dengan begitu justru menimbulkan kekacauan pada kehidupan manusia, dan lebih jauh pada kedamaian dan keadilan; pengetahuan menganggap diri sesuai dengan kenyataan, padahal ia adalah produk dari rasa kebingungan dan skeptisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan pada tingkat ilmiyah dalam metodeloginya dan memandang keraguan sebagai epistemologi paling tepat dalam mencari kebenaran; pengetahuan, untuk pertama kali dalam sejarah, telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam; binatang, tumbuhan dan mineral.( Nature of Knowledge and The Definition and Aim of Education,(Jeddah : King Abdul Aziz Univ, 1979). hlm. 19-20.) Asumsi-asumsi seperti inilah yang dijadikan alasan utama oleh para cendikiawan Muslim kontemporer seperti Sayyid Hossein Nasr, Syed Muhamad Naquib al-Attas, Ismail R. Faruqi dan lain-lainnya dalam mengembangkan metodelogi pemikiran yang bertujuan untuk mengislamisasikan pengetahuan (Islamization of Knowledge) yang dimiliki peradaban Barat Modern. Karena bagaimanapun peradaban Barat telah menghasilkan pengetahuan yang luar biasa dalam segala aspek kehidupan dan sangat bermanfaat untuk kepentingan umat manusia.

Itulah sebabnya, pengetahuan modern Barat perlu diislamisasikan agar sesuai dengan kehendak dan tujuan mulia ajaran Islam. Tentang permusuhan Barat terhadap Islam, Prof. Naquib al-Attas. Beliau menulis: "Islamlah agama yang mula-mula mendakwahkan peranannya sebagai agama yang bersifat menyeluruh bagi anutan segenap masyarakat insani; agama yang merupakan fitrah atau mengandung bawaan asal sifat insani; yang mula-mula menda'wa bagi membetul dan melengkapkan agama-agama lampau, khususnya agama Yahudi dan Kristian; yang mula-mula menggugat dan melabrak dasar-dasar akidah agama Kristian. Kemudian gugatan serta labrakan batin terhadap agama Kristian itu disusuli segera dengan cabaran zahir yang merupakan perkobaran Islam, dalam masa sejarah yang sesingkat lebih kurang lima puluh tahun sahaja, laksana api yang merebak menjalar keluar dari tanah Arab ke Mesir; ke Afrika Utara; ke Spanyol; ke Iraq; ke Syiria; ke Farsi; ke India dan China sehingga sampai juga ke Kepulauan MelayuIndonesia ini! Dalam masa hampir dua ratus tahun sesudah Hijratu'l-Nabiy saw, maka jajahan dan kawasan Islam itu luasnya lebih jauh besar dari jajahan dan kawasan agama dan imperaturia manapun dalam dunia, dan melingkungi kawasan-kawasan Eropa Barat dan Timur termasuk negeri Turki. Orang-orang Islamlah yang pertama mena'lukkan orang Barat; yang pertama memainkan peranan besar dalam menyanjung tinggi pelita ilmu pengetahuan ke Eropa dan dengan demikian menerangi suasana gelap gulita yang menyelubingi dunia Barat dewasa itu; yang pertama melangsungkan pembicaraan akliah menerusi ilmu kalam dengan para failusuf dan ahli teologi agama Kristian Barat. Pukulan zahir batin yang mahahebat yang telah dikenakan oleh Islam kepada agama Kristian dan Kebudayaan Barat itu tentulah terasa oleh hati sanubarinya bagai sebatan cemeti yang terlalu amat pedih menggeleparkan, hingga lalu memaksa meragut keluar dari dalam kunhi jiwanya satu laungan mahadahsyat yang ngilunya masih dirasai olehnya kini! Shahdan, maka sesungguhnya tiada hairan bagi kita jikalau agama Kristian Barat dan orang Barat yang menjelmakan Kebudayaan Barat itu, dalam serangbalasnya terhadap agama dan orang Islam, akan senantiasa menganggap Islam sebagai bandingnya, sebagai tandingnya, sebagai taranya dan seterunya yang tunggal dalam usaha mereka untuk mencapai kedaulatan duniawi. Dan kita pun tahu bahawa tiadalah dapat Islam itu bertolak-ansur dalam menghadapi serangan Kebudayaan Barat, justru sehingga Kebudayaan Barat itu tentulah menganggap Islam sebagai seterunya yang mutlak; dan kesejahteraannya hanya akan dapat terjamin dengan kemenangannya dalam pertandingan mati-matian dengan Islam, sebab selagi Islam belum dapat ditewaskan olehnya maka akan terus ada tanding dan seteru yang tiada akan berganjak daripada mencabar dan menggugat kedaulatan serta faham dasar-dasar hidup yang dida'yahkan olehnya itu." (Risalah untuk Kaum Muslimin,KL:ISTAC, 2001, hal 16) Maka sehubungan dengan masalah di atas, sudah saatnya kini generasi muda Muslim khususnya di Nusantara kembali kepada sejarah kegemilangan nenek moyang mereka yang terkenal sebagai sodagar-sodagar ulung yang telah melanglang buana sampai ke benua Arab dan Afrika sejak ribuan tahun sebelum masehi. Para sodagar inilah yang menjadi katalis

pembangunan peradaban Nusantara. Membawa kemajuan dan peradaban bangsa lain kepada bangsanya, atau sebaliknya. Namun para ahli sejarah biasanya memberikan peran yang luar biasa besar kepada golongan selain sodagar dalam pembangunan sebuah peradaban, katakanlah seperti dalam pembentukan peradaban Islam Nusantara yang dikenal dengan Islamisasi. Tokoh Orientalis Snouck berpendapat bahwa Islamisasi Nusantara dipelopori oleh kelompok Sufi pada abad ke 13 M, yang datang dari Gujarat. Pendapat ini diikuti oleh penerusnya dan masih tetap mendapat dukungan dari peneliti Muslim. Demikian pula halnya teori Arab, yang berpendapat Islamisasi langsung dari Arab, pada umumnya menunjuk kepada pendakwah Arab dari kalangan ahli agama sebagai pendakwah utama Islam, bukan dari kalangan sodagar. Para sodagar memang tidak menonjolkan diri dalam peranannya sebagai pembangun peradaban, tidak menulis sejarah perjuangannya sebagaimana para cendekia dan penguasa, namun mereka berjuang dengan caranya sendiri membangun jaringan perdagangan sebagai pelopor dalam pembangunan peradaban. Peran Sodagar Dalam Transformasi Peradaban : Kasus Islamisasi Nusantara Dalam sejarah kemanusiaan, tidak diragukan peran para sodagar dalam pembangunan sebuah peradaban. Penelitian Prof. Robert Dick-Read, The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Time telah membuktikan hubungan yang erat antara Indonesia dengan benua Afrika sejak berabad-abad sebelum masehi dengan kapal laut. Sekaligus membuktikan peran para sodagar dalam mentransformasikan peradaban, dari dunia maju di sebelah barat seperti Yunani, Romawi, Persia maupun Mesir dan India. Sementara Peter Bellwood dalam Prehistory of the Indo-Malaysia Archipelago, menyebutkan sekitar 35.000 tahun yang lalu, para pelaut dari Asia Tenggara berhasil mencapai Kepulauan Solomon, dan menetap di wilayah tersebut hingga beberapa ribu tahun berikutnya. Penelitian Prof. Read di atas, mencatat bahwa 3.500 tahun lalu, timbul budaya baru yang luar biasa di Indonesia bagian timur yang disebut sebagai orang-orang ”Lapita”, yang dikenal melalui barang-barang gerabah/tembikar khas. Pada tahun-tahun tersebut mereka berdagang obsidian dari pegunungan di New Britain menuju pulau-pulau yang berjarak 1.650 mil. Hingga 1.000 tahun SM, wilayah perdagangan itu bahkan lebih luas: obsidian dari sumber yang sama telah ditemukan di tempat-tempat antara Kalimantan hingga Kepulauan Fiji, menyebrang lautan hingga lebih dari 4.000 mil. Pada 1920, James Hornell, menegaskan bahwa bangsa Polenisia, yang kemungkinan menyebrang dari Sumatra, menempati wilayah India selatan pada akhir 500 tahun SM, pada era pra-Dravida. Pendapat ini didukung arkeolog Nicholas Krom dan Stein Callenfels dan ahli sejarah Asia Tenggara yang berpengaruh, Heine-Geldern. Jadi tak ada alasan untuk ragu bahwa sekitar 2.500 hingga 3.000 tahun yang lalu, menurut Prof. Read kerabat bangsa Polinesia di Samudra Hindia sama aktifnya dengan mereka yang berada di Pasifik. Termasuklah dalam hal ini penduduk bagian utara pulau Sumatra. Prof. Read mencatat perdagangan lewat laut antara Mediterania dengan Samudra Hindia, tentunya melalui Sumatra, sudah cukup mapan selama ribuan tahun. Ketika menggali rumah seorang pedagang yang berasal dari masa 1.700 tahun SM di Terqa Efrat Tengah,

arkeolog Giorgio Buccellati terkagum-kagum ketika menemukan sebuah wadah yang berisi cengkeh. Karena disebabkan di muka bumi hanya ada satu tempat cengkeh dapat tumbuh kala itu, yaitu di Kepulauan Maluku. Penemuan ini diperkuat oleh penemuan ganjil di Indonesia yang mengimbangi penemuan di Timur Tengah tersebut. Julian Reade arkeolog berkebangsaan Inggris menemukan sisa-sisa biri-biri atau kambing di situs bekas permukiman pada masa yang kurang lebih sama (1.500 tahun SM) di pulau yang lebih jauh, yaitu Pulau Timor (di Indonesia) yang berjarak beberapa ratus mil di sebelah selatan Kepulauan Maluku. Secara umum, semua ahli menyetujui bahwa biri-biri dan kambing untuk pertama kalinya diternakkan di Timur Tengah. Menurut Prof. Read, hanya ada satu cara yang masuk akal, yang membawa kepada hipotesis ”Polinesia” yang dikemukakan Hornell: bahwa semua itu disebabkan oleh pergerakan dan pengembaraan para pelaut Austronesia (dari Nusantara menuju India atau sebaliknya) yang segera setelah bereksodus dari Formosa (Taiwan), bergerak melalui kepulauan (Nusantara) ke arah Barat (India). Pliny (23-79 M) dalam Natural History menyebutkan tentang kayu manis (cinnamomun) yang menjadi kegemaran orang-orang kaya Romawi, yang dibawa pedagang-pedagang mereka yang membutuhkan waktu lima tahun untuk pergi dan kembali. Menurut penelitian Prof. Read, tak satupun dari cassia, kayu manis murni, atau tanaman-tanaman lain yang serupa, pernah tumbuh di Arab, Etiopia, Somalia, atau India. Keduanya hanya dapat ditemukan di Asia Tenggara, terutama pulau Sumatra. Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatra sudah dikenal dengan Taprobana. Naskah Yunani tahun 70 M, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, atau „pulau emas‟. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatra. Sebelum abad Masehi para Sodagar Sumatra sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat, Timur Tengah sampai Afrika Timur, tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini itu. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemeus menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Burger dan Prajudi dalam Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, menyebutkan perdagangan antara negara-negara Timur Jauh dengan Timur Tengah dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Sumatra, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah

dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Sumatra (BarusFansur) sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi. Meilink-Roelofsz dalam Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago mencatat karena seringnya terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat di Asia Tengah, perdagangan Timur-Barat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapalkapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Sumatra, terutama di Aceh, baik bagian utara (Perlak, Barus) maupun di bagian selatan (Palembang) yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara -terutama Sumatera- dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts dalam Pre Islamic Arabia and South East Asia,. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi,” Pada abad ke 6 terjadi perkembangan perdagangan yang penting antara Persia Sassaniyah dan Cina. Kargo-kargo dari Persia membawa kayu damar wangi, kacang pistachio, obat-obatan, parfum, dan kain-kain brokat. Oliver Wolters, yang menulis Early Indonesia Commerce, menulis : ”.... perihal pelayaran di Asia pada abad ke 5 dan ke 6, dalam kaitannya dengan hubungan dagang melalui laut antara Indonesia dan Cina, terdapat indikasi bahwa bangsa Cina hanya mengenal pengiriman barang oleh bangsa Indonesia dan bukan bangsa Persia atau India.” Cosmas Indicopleustes, pada paruh pertama abad ke 6, mencatat bahwa Sri Langka memegang posisi sentral dalam perdagangan Persia, barang-barang di bawa dari Sri Langka ke Cina – yang pada saat itu tidak menggunakan kapal-kapal Persia, melainkan kapal-kapan Kun-lun dari wilayah Kepulauan Indonesia. Dari beberapa sumber di atas dapat difahami bahwa para sodagar dan pelaut Nusantara telah mendatangi Jazirah Arabia jauh sebelum kedatangan Islam ataupun Kristen. Bahkan komoditas utama mereka seperti cengkeh, kayu manis, dan terutama kafur dari Barus sangat terkenal dan digemari bangsawan Yunani-Romawi ataupun Mesir. Mereka berdagang sejak ribuan tahun sebelum masehi dengan pengetahuan navigasi kelautan yang mereka kuasai dari Maluku, Sulawesi, Jawa menuju Sumatra melalui India menuju Mesir atau Afrika menyinggahi bandar pelabuhan transit yang terkenal di Aden, Hadramawt yang sekarang menjadi wilayah Yaman. Sementara Aden adalah kota yang sangat terkenal sebagai kota pelabuhan transit

tempat singgahnya para pedagang dan pelaut, termasuk sodagar Nusantara yang sangat terkenal tentunya. Ditengarai para sodagar Nusantara dengan para pelaut dan perahunya telah mengharungi samudra luas, menjelajahi pelabuhan-pelabuhan utama di India, Persia, Jazirah Arabia, Mesir sampai Afrika Selatan sebelum kedatangan Islam di pulau Sumatra. Kegigihan mereka menjelajah dunia telah menjadikan wilayah Sumatra sebagai kawasan transit perdagangan internasional yang sangat kosmopolis, yang pada akhirnya menempatkan wilayah Sumatra, khususnya Aceh sebagai tempat pertemuan peradaban-peradaban besar dunia, baik dari Yunani-Romawi, Mesir, India maupun Cina. Geografis Aceh yang sangat strategis telah menjadikannya sebagai wilayah transit perdagangan para sodagar dunia, yang pada akhirnya melahirkan masyarakat kosmopilis Aceh yang terdiri dari berbagai ras bangsa, Arab, Cina, Eropah dan Hindi (ACEH). Setelah kedatangan Islam, sebuah agama yang diserukan oleh seorang sodagar besar Arabia, Nabi Muhammad saw, serta mendapat dukungan luas para sodagar utama di Jazirah Arabia, maka sodagar Nusantara yang telah berada di pelabuhan Aden Hadramawt, secara otomatis telah berinteraksi dengan agama baru ini. Apalagi sebelum di angkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad saw diketahui beberapa kali mengunjungi wilayah Yaman ini untuk melakukan perdagangan. Tentu sebagai seorang sodagar besar berpengaruh di Jazirah Arabia, Nabi Muhammad telah berhubungan dagang dengan para sodagar dari Sumatra yang singgah di Aden, termasuk dari Barus, Fansur dan sekitarnya. Dalam beberapa hadits, diriwayatkan Nabi Muhammad telah menyebut keutamaan kaum dari sebelah timur (qaum min masyriq). Setelah Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul dan berhijrah ke Madinah, diketahui beliau saw telah mengutus seorang pemuda cerdas sebagai missionaris sekaligus refresentatitive beliau ke Yaman. Dia bernama Muadz bin Jabal yang melegenda itu, karena dido‟akan Rasul segala langkah perjuangannya, dan disebut sebagai tokoh utama ahl al-ra‟yi (ahli nalar) dalam hukum Islam. Kegiatan sahabat Muadz tidak banyak diceritakan di sekitar Yaman, yang pada masa itu terkenal sebagai kota perdagangan internasional, terutama kota pelabuhan Aden. Namun para sahabat menceritakan ketika ketibaan Muadz di Madinah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yang disebutkan sangat kaya raya sebagai hasil perdagangannya selama di Yaman. Jadi selama hampir 10 tahun Muadz di Yaman, sebagai seorang missionaris sekaligus pedagang ulung, tidak pernah diceritakan interaksi beliau dengan para sodagar Sumatra-Nusantara yang sangat terkenal itu?. Ketika menghadapi kebuntuan data dalam masalah ini, saya mengambil falsafah sejarah yang dicanangkan Prof. al-Attas sebagaimana disebutkan Prof. Wan M. Nor, bahwa akibat kurangnya data-data sejarah masa lampau di Nusantara, maka penjelasan tentang peristiwaperistiwa lampau harus bergantung banyak kepada kaidah-kaidah akliah (logical), bukan hanya kepada kaidah indrawiah (empirical). Menurut hemat saya, secara logika, telah terjadi interaksi sahabat Muadz bin Jabal dengan para sodagar Nusantara, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui para murid-murid beliau yang pasti sudah berada di sekitar pelabuhan internasional Aden pada

masa itu. Karena karakteristik seorang muslim, apapun profesinya adalah seorang pendakwah jua, sebagaimana perintah Rasul: ”sampaikan dari ajaranku walaupun satu ayat”. Adalah mustahil bagi kaum muslimin angkatan pertama menyalahi perintah Rasul, terutama bangsa Arab masa itu yang berwatak lurus dan jujur, akan menyampaikan apa adanya ajaran Rasulnya kepada seluruh manusia, bahkan kepada Maharaja sekalipun, sebagaimana diceritakan para ahli sejarah Islam. Maka berdasarkan pada logika ini, saya menyimpulkan bahwa terdapat para sodagar Nusantara yang tercerahkan, dan pada akhirnya telah menerima ajaran Islam karena ketinggian ajaran Islam ataupun karena akhlak mulia para pembawanya. Ketika mereka pulang ke Nusantara, khususnya Sumatra-Aceh, merekapun mengajarkan pengetahuannya yang diterimanya, walau hanya satu ayat dan menyebarkan keagungan ajaran Islam di kalangan masyarakatnya di Nusantara. Maka pada saat itu, sebelum Rasulullah saw meninggal, proses Islamisasi Nusantara telah dimulai yang dipelopori para sodagar dan pelaut agung Nusantara, dan tentunya mendapat dukungan luas para sodagar Arab yang juga telah menerima Islam sebagai agamanya. Atas dasar Islam, telah terjadi kolaborasi (ta‟awun) antara sodagar Arab dengan sodagar Nusantara dalam menyebarkan Islam di sekitar kepulauan Nusantara, bukan hanya di kepulauan Sumatra atau Semenanjung Melayu saja, tapi diyakini menjangkau wilayah Sulawesi (Wajok) sampai Maluku sebagai tempat asal para sodagar ini sebagaimana disebutkan para peneliti terdahulu. Para sodagar biasanya lebih fleksibel dalam pengajaran Islam daripada kaum sufi (bathini) misalnya yang menuntut kedalaman makna dan penyucian batin. Demikian pula, kaum sodagar lebih mudah diterima masyarakat luas, terutama para penguasa dan elit politik karena atas dasar pertimbangan ekonomis. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Nabi Islam, Muhammad saw dibangkitkan dari kalangan sodagar dan kebanyakan para pendukung utamanya adalah para sodagar jua, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Thalhah, Zubair, Hamzah, Arqam dan istri beliau Khadijah. Para sodagar inilah yang dengan kekuatan hartanya menjalankan dakwah Islam, sekaligus membangun jaringan jama‟ah yang akan menguatkan perdagangan mereka. Kebangkitan Islam yang spektakuler, terutama pasca futuhat telah mendorong para sodagar memeluk Islam dan berkoalisi dengan kekuatan dunia baru Islam yang muncul di Madinah dan telah menyebar ke dunia Arab, Romawi, Persia sampai Eropa. Para sodagar Nusantara yang sebelum kedatangan Islam terkenal keuletannya dalam dunia perdagangan, setelah memeluk agama Islam yang mengajarkan tentang kegigihan (jihad) tentu bertambah keuletannya dalam menjalankan perdagangannya ke seluruh penjuru dunia. Kini mereka bukan hanya sebagai sodagar, namun sekaligus pendakwah Islam yang membawa kebenaran dan misi pembebasan umat manusia dari penghambaan sesama makhluknya. Islamisasi yang semakin meluas di Jazirah Arabia, India sampai Afrika maupun Nusantara telah memperluas jaringan perdagangan sodagar Muslim Nusantara di bawah perlindungan para Khalifah Islam. Pengaruh para sodagar Nusantara kemudian memberikan jalan kepada para pendakwah untuk menyebarkan Islam dan selanjutnya mereka saling topang menopang mendirikan kerajaan-kerajaan Islam sebagai penaung dakwah dan sekaligus patron dalam

perdagangan. Maka pada abad ke 7 dan 8 M berdirilah Kerajaan Islam di Sumatra seperti Jeumpa, Barus, Fansur, Perlak, Pasai, dan sekitarnya yang menjadi pusat Islamisasi pertama di Nusantara dan sekaligus sebagai bandar niaga para sodagar Muslim. Di pelabuhan-pelabuhan inilah mereka mendirikan perkampungan para sodagar Muslim sebagai pendukung utama gerakan Islamisasi sebagaimana disebutkan banyak ahli sejarah Islam. Para sodagar Nusantara yang terkenal kegigihan dan keulungannya tentu dengan mudah menerima ajaran Islam, karena Islam diturunkan kepada seorang sodagar besar bangsa Arab, Nabi Muhammad saw, dan selanjutnya disebarkan oleh para sahabat Nabi yang sebagian besarnya adalah sodagar jua. Sesama para sodagar biasanya memiliki kesamaan pandangan dalam menilai hidup dan kehidupan yang penuh dengan kerugian atau keuntungan. Bahasa dan pendekatan al-Qur‟an sebagai sumber utama ajaran Islam jika ditelaah lebih seksama, banyak menggunakan tema-tema yang lebih dekat dengan dunia sodagar dan perdagangan, seperti itilah perniagaan (tijarah), pembelian (ba‟y) dan beberapa tema transaksional yang mudah dimengerti para sodagar. Pola Islamisasi yang dikembangkan para sodagar inilah yang telah melahirkan citra Islam Nusantara yang sangat transaksional atau lebih akomodatif dengan peradaban dan budaya lokal. Atau sebuah pemahaman Islam yang lebih moderat, ramah, damai dan ekonomis, sebuah manhaj Islam yang saya istilahkan sebagai Islam Sodagar, sebagai koreksi dan pembeda dengan Islam Sufi yang berkembang kemudian menjelang abad ke 11. Para sodagar Muslim Nusantara dengan latar belakangnya telah melahirkan sebuah worldview atau pandangan alam keislaman yang khas dalam menjalankan dan menyebarkan Islam di Nusantara. Di mana pandangan alam ini berbeda pada umumnya dengan pemahaman keislaman yang berkembang di dunia Arab pasca penaklukan demi penaklukan yang dimotori dinasti Umayyah dan Abbasiah. Inilah tradisi agung yang diwariskan para sodagar Nusantara terdahulu yang mulai terlupakan oleh generasi masa kini yang lebih mengutamakan pemikiran-pemikiran asing yang tidak bersumber dari tradisi dan ajaran agamanya. Worldview atau pandangan alam para sodagar Nusantara yang telah berjasa menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Asia Tenggara dan terbukti keunggulannya dalam membangun sebuah sistem peradaban Islam, perlu digali kembali dan dikembangkan agar menjadi penggerak generasi muda Islam Nusantara yang tengah mencari jati diri di tengah hempasan gelombang sekulerisasi. Diharapkan keagungan para sodagar yang tangguh mengharungi samudera luas, menjadi pemicu semangat generasi muda Islam Nusantara dalam menghadapi persaingan globalisasi. Berdasarkan pandangan alam dan pengalaman agung para sodagar Muslim Nusantara inilah diharapkan akan muncul sebuah model dan konsep dalam sistem ekonomi kontemporer, yang melahirkan sebuah pengetahuan tentang sodagar, yang saya sebut sebagai sodagarship. Entrepreneurship Vs Sodagarship Bersamaan dengan berkembangnya peradaban manusia, termasuk pengetahuannya, beberapa dekade ini di Dunia Barat telah berkembang pengetahuan baru yang di kenal dengan

entrepreneurship, jika diterjemahkan secara global ke dalam bahasa Indonesia berarti kewirausahaan. Namun jika ditelaah lebih jauh dan mendalam, pengertiannya tidaklah sama dengan sodagarship (kesodagaran) yang menjadi tradisi para pedagang di Nusantara yang akan dijelaskan kemudian. Entrepreneurship adalah cabang ilmu ekonomi modern dari Barat yang berkembang pesat seperti pengetahuan tentang managerialship, leadership dan lainnya. Ilmu entrepreneurship diajarkan pada universitas-universitas terkemuka dunia dan diharapkan dapat melahirkan para entrepreneur, yang dapat mengendalikan revolusi yang mentransformasikan dan memperbaharuai perekonomian dunia. Joseph Schumpeter, ekonom kelahiran Moravian, memberikan definisi entrepreneur, wirausaha sebagai orang yang menghancurkan orde ekonomi yang sudah ada dengan memperkenalkan produk dan jasa baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru, atau dengan mengeksploitasikan bahan baku baru. Orang yang menyelesaikan proses penghancuran tersebut umumnya dengan mendirikan bisnis baru namun juga mungkin melakukannya di dalam bisnis yang sudah ada. Sedangkan dalam The Portable MBA in Entrepreneurship, disebutkan bahwa entrepreneur adalah orang yang memperoleh peluang dan menciptakan suatu organisasi untuk mengejar peluang itu. Dan proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas, dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi untuk mengejarnya. Para entrepreneur yang penuh inovasi diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk mengatasi masalah pengangguran yang terus meningkat. Namun saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai entrepreneurship dari Barat ini, karena sudah banyak para pakar yang telah membahasnya dengan segala detilnya, dan dipromosikan secara besar-besaran oleh penganutnya, sehingga menjadi idiom kramat bagi mereka yang ingin menggapai kejayaan. Bahkan banyak di kalangan generasi muda Muslim yang tergila-gila dengan konsep entrepreneurship Barat ini, sehingga menjadikannya sebagai jalan keluar terbaik bagi krisis nasional, selanjutnya mereka mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan untuk menyebarkan ide-idenya dengan berbagai nama, bahkan ada yang mengkaitkannya dengan idiom Islam, entrepreneurship Islami dan sejenisnya. Inilah yang sering disebutkan oleh pakar Islam sebagai mencampuradukkan antara yang hak dengan yang bathil, antara yang baik dengan yang buruk, seperti mencampurkan antara susu dengan tuba, atau madu dengan racun. Pemikiran dan pemahaman seperti ini harus dicampakkan oleh mereka yang menyatakan dirinya Muslim, yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya. Karena tidak pantas bagi manusia yang beriman mencampuradukkan sesuatu yang datangnya dari Allah dengan pemikiran manusia yang menolak keberadaan Allah (sekuler) Bagi seorang Muslim, ajaran-ajaran Islam yang sempurna akan menjadi rujukan pertama mereka dalam menyelesaikan segala permasalahan hidup dan kehidupan mereka. Termasuk dalam menjalankan usaha menjadi seorang pengusaha yang akan mematuhi semua perintah Allah dan rasul-Nya. Karena Islam adalah agama yang lengkap, maka seluruh masalah manusia akan dapat diselesaikan ajaran Islam. Termasuk bagaimana hakikat dan cara

menjadi seorang wirausaha yang sukses, bukan hanya sukses di dunia saja, tapi juga sukses di akhirat sebagaimana di contohkan oleh generasi Islam pertama. Demikian pula 15 abad silam, Islam telah melahirkan sosok sodagar-sodagar agung, seperti Nabi Muhammad dan juga para sahabatnya seperti Abdurrahman bin Auf yang telah menjadi seorang pengusaha muslim sejati bertaraf mujahid fi sabilillah yang menguasai perdagangan 2/3 dunia di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Islam telah mendidik dan mencetak Abdurrahman bin Auf menjadi sebaik-baik manusia, seunggul-unggul pengusaha dan sesukses-sukses sodagar yang memiliki kiat dan strategi cemerlang dalam menjalankan roda usahannya. Maka merujuk kepada Islamisasi pengetahuan menurut Prof. SMN al-Attas pada hakikatnya adalah proses untuk mengisolasi dan memindahkan segala sesuatu yang tidak Islami, terutama elemen-elemen Barat dan konsep-konsep yang menyertainya. Ini juga berarti memasukkan elemen-elemen kunci Islam dan konsep-konsep yang menyertainya kepada elemen-elemen dan konsep-konsep yang baru ataupun asing. Beberapa elemen dan konsep kunci Islam diantaranya adalah agama (din), manusia (insan), pengetahuan (ilm dan ma‟rifah), kebijaksanaan (hikmah), keadilan („adl), perbuatan benar („amal sebagai adab), dimana semua ini menjadi kesatuan landasan dan dasar yang saling berhubung-kait dengan konsep Tuhan, esensi dan atribut-Nya (tauhid); pengertian dan pesan al-Qur‟an, al-Sunnah dan Syariah. (Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon, op.cit. hlm.37) Dalam situsi seperti sekarang, terutama di Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia yang tengah di landa gelombang pengangguran dan kemiskinan, sementara mayoritas kaum muslimin lemah dalam bidang ekonomi, maka diharapkan munculnya para pengusaha Muslim yang akan menggerakkan kebangkitan Islam dan umatnya. Karena sejarah telah membuktikan, sebagaimana disebut Schumpeter, bahwa para pengusaha adalah diantara kelompok orang-orang yang dapat mengadakan perubahan dan memimpin pergerakan kebangkitan, baik ekonomi, politik, budaya maupun peradaban. Nabi Muhammad saw sendiri adalah seorang pengusaha yang sukses sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Demikian pula dengan beberapa orang sahabatnya utama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah ataupun Abdurrahman bin Auf. Mereka menggerakkan perubahan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat bertauhid dan berperadaban. Pengusaha seperti inilah yang diharapkan tampil membangun umat saat ini. Sebagaimana al-Qur‟an menggambarkan ciri khas mereka; “Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi goncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberikan balasan kepada mereka dengan yang lebihbaik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (An-Nur : 37-38) Diharapkan dengan lahirnya para sodagar muslim yang memiliki ketinggian mentalitas, moralitas dan spiritualitas berdasarkan ajaran Islam, maka bangsa Indonesia akan segera bangkit dari keterpurukannya, terselesaikan segala permasalahannya dan melaju menjadi bangsa yang besar dan maju, bangsa yang adil dan makmur sebagaimana dicita-citakan para

pahlawan dan pendiri bangsa. Sekaligus para sodagar menjadi penggerak perubahan sosialekonomi yang akan menyelesaikan masalah-masalah utama bangsa seperti pengangguran dan kemiskinan yang semakin hari semakin tinggi jumlahnya. Untuk itulah diperlukan sebuah sebuah panduan yang praktis dan strategis yang akan menjadi peta bagi para sodagar muslim dalam membangun dan mengembangkan usahanya, agar mereka menjadi para pemain yang sukses dan menang, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Semua harus di mulai dengan ilmu pengetahuan. Mencari harta dengan menjadi seorang sodagar adalah perilaku umum yang diperintahkan Allah SWT kepada setiap muslim sebagai sebuah ibadah. Oleh karena itu, ibadah tidak bisa direalisasikan kecuali dengan beberapa syarat –yang syarat pertama adalah ilmu-, maka wajib bagi setiap sodagar muslim untuk mengetahui hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan kegiatan bisnis, agar usahanya mendapatkan kehalalan dari Allah SWT, dijauhkan dari keharaman dan terhindar dari hal-hal yang syubhat. Diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra bahwa suatu hari beliau berkeliling di pasar dan memukuli para pedagang dengan cambuk seraya berkata: “Janganlah berjualan di tempat kita kecuali orang yang faqih (mengerti tentang agama), jika tidak niscaya dia akan memakan harta riba disengaja atau tidak”. DAFTAR ISI BUKU : SODAGARSHIP PENDAHULUAN BAB PERTAMA - SODAGARSHIP : WARISAN TRADISI TERLUPAKAN 1. Latar Belakang 2. Tradisi Agung Terlupakan : Sodagar 3. Peran Sodagar Dalam Transformasi Peradaban : Kasus Islamisasi Nusantara 4. Entrepreuneurship Barat Vs Sodagarship Nusantara 5. Sodagarship Sebagai Pengetahuan Dan Strategi Dalam Dunia Bisnis Modern 6. Mengaktualisasikan Konsep Kesodagaran (Sodagarship) Nusantara 7. Kesimpulan BAB KEDUA - SODAGARSHIP 1 # PANDANGAN TERHADAP KAYA 1. Meluruskan Salah Faham Terhadap Kaya 2. Membaca Kehidupan Agung Para Sahabat: Sederhana Tapi Kaya Raya 3. Tingkatan Kaya Menurut Islam 4. KayaSejati 5. Beberapa Dalil Tentang Wajibnya KayaSejati 6. Jalan Meraih KayaSejati 7. Kesimpulan BAB KETIGA - SODAGARSHIP 2 # ILMU KESODAGARAN 1. Kewajiban Mempelajari Ilmu Bermanfaat

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Ilmu Sukses Yang Membawa Kegagalan Islam: Jalan Sukses Terunggul Iman, Hijrah dan Jihad: Pintu Utama Sukses Hakikat Kekayaan Mewarisi Semangat Saudagar Nusantara Raya Kesimpulan

BAB KEEMPAT - SODAGARSHIP 3 # PEMBELAJARAN PARA SODAGAR 1. Belajar KayaSejati Dari Allah Yang Maha Kaya 2. Belajar KayaSejati Dari Muhammad saw 3. Belajar KayaSejati Dari Sahabat Abdurrahman bin Auf ra 4. Belajar KayaSejati Dari Imam Abu Hasan al-Syadzili 5. Belajar KayaSejati Dari Habib Bugak Aceh (Waqif Bayt al-Asyi Mekkah) 6. Belajar KayaSejati Dari Mentor Kaya Masa Kini 7. Kesimpulan BAB KELIMA – SODAGARSHIP 4 # MANHAJ USAHA SODAGAR 1. Merentas Jalan KayaSejati 2. Berusaha Di Jalan Allah Untuk KayaSejati 3. SODAGAR : Entrepreuneur ala Nusantara 4. Karakteristik Pengusaha KayaSejati 5. Tahapan Kejayaan KayaSejati 6. Sodagar KayaSejati = Anti Riba 7. Kesimpulan BAB KEENAM – SODAGARSHIP 5 # TARIQAT SODAGAR KAYASEJATI 1. Thariqat KayaSejati ??? 2. Sirah Thariqat KayaSejati 3. Amalan Thariqat KayaSejati 4. Riyadah Thariqat KayaSejati 5. Maqamat Thariqat KayaSejati 6. Ahwal Thariqat KayaSejati 7. Aurad Thariqat KayaSejati BAB KETUJUH : 33 STRATEGI JIHAD SODAGAR KAYASEJATI KESIMPULAN - PENUTUP

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->