P. 1
39579702 Askep Gangguan Kelenjar Hipofise

39579702 Askep Gangguan Kelenjar Hipofise

|Views: 72|Likes:

More info:

Published by: Dena Paramita Rustandi on Jan 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

ASKEP GANGGUAN KELENJAR HIPOFISE

oleh KELAS SANTA TERESA

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS 2010
1

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang Kelenjar pituitari (hipofisis) berukuran kurang lebih 1 cm dengan berat 500 mg. Terletak di sella tursica dari tulang sphenoid. Sella tursica dekat dengan chiasma opticum. Kelenjar hipofise sebenarnya terdiri dari dua kelenjar, pituitari anterior yang berukuran lebih besar terletak di anterior atau disebut adenohipofise dan pituitari posterior atau neurohipofise. Pituitari anterior biasa juga disebut sebagai Master gland, karena pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. Pengaruh ini dilaksanakan oleh 6 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda- beda yang terdapat di lobus anterior hipofise, dan oleh dua hormon yang diproduksi oleh lobus posterior hipofise.

I.2 Tujuan  Tujuan umum Diharapkan dengan adanya makalah ini mahasiswa mahasiswi dapat memahami serta menerapkan dalam kehidupan sehari ± hari.  Tujuan khusus Mahasiswa progam study D3 keperawatan STIkes St. Borromeus mampu memahami keperawatan. apa yang dimaksud dengan definisi, anatomi fisiologi, patofisiologi, asuhan keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana tindakan

I.3 Metode Penulisan Metode yang kita gunakan dalam menyusunan makalah ini adalah dengan study pustaka dan konsultasi pada dosen pembimbing. Kita juga mencari informasi melalui media webside untuk mendukung sumber makalah yang kita susun

2

I.4 Sistematika penuliasan. Makalah ini terdiri dari 3 bab: Bab I Pendahuluan antara lain: latar belakang, tujuan, metode, dan sistematika penulisan ; Bab II Tinjauan teoretis yang berisikan anatomi fisiologi, disfungsi kelenjar hipofise, asuhan keperawatan yang terdiri dari : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Rencana tindakan keperawatan, Tindakan keperawatan, dan Evaluasi.

3

Sella tursica dekat dengan chiasma opticum. Anatomi dan Fisiologi a. Pituitari anterior biasa juga disebut sebagai Master gland.BAB II Tinjauan Teoretis A. Kelenjar hipofise sebenarnya terdiri dari dua kelenjar. Kelenjar Hipofise Kelenjar pituitari(hipofisis) berukuran kurang lebih 1 cm dengan berat 500 mg. pituitari anterior yang berukuran lebih besar terletak di anterior atau disebut adenohipofise dan pituitari posterior atau neurohipofise. Terletak di sella tursica dari tulang sphenoid. 4 .

Sel-sel hipofisis anterior merupakan sel-sel yang khusus menyekresikan hormon-hormon tertentu. Hormon. Pengaruh ini dilaksanakan oleh 6 hormon yang diproduksi oleh sel yang berbeda. yang semuanya berada di bawah pengawasan hipotalamus. GH. Lobus posterior kelenjar hipofisis atau neurohipofisis terutama berfungsi untuk mengatur keseimabangan cairan. Beberapa hormon ini (ACTH. 5 . Dapat dikatakan bahwa bagian anterior kelenjar hipofisis sesungguhnya merupakan gabungan dari beberapa kelenjar yang berdiri sendiri-sendiri. follicle-stimulating hormone (FSH). growth hormone (GH). TSH). Bagian anterior kelenjar hipofisis mempunyai banyak fungsi dan karena memiliki kemampuan dalam mengatur fungsi-fungsi dari kelenjar-kelenjar endokrin lain. dan LH) merupakan glikoprotein. thyroid-stimulating hormone (thyrotropin. melanocyte-stimulating hormone (MSH). sedangkan hormon yang lainnya (TSH. maka bagian anterior kelenjar hipofisis ini dikenal juga dengan nama kelenjar utama (master of gland). dan gonadotropic hormon disebut tropic hormon karena hormon. Thyroid stimulating hormon (TSH).sel tubuh tertentu. Vasopresin atau hormon antidiuretik (ADH) terutama disintesis dalam nukleus supraoptik dan pareventrikular hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis.karena pengaruhnya pada kelenjar lain dan pada seluruh tubuh. luteinizing hormone(LH).hormon ini menstimulasi hormon lain untuk mensekresi hormon yang aktif yang mempengaruhi perubahan sel. adrenocorticotropic hormon (ACTH). FSH. Penelitian morfologis menemukan bahwa setiap hormon disintesis oleh satu jenis sel tertentu.hormon terssebut adalah adrenocortocotropic hormone (ACTH). dan prolaktin) merupakan polipeptida. Hormon hipofise lain melaksanakan penggaruhnya pada sel tubuh secara langsung ( non tropik ). Tujuh macam hormon dan peranan metabolik fisiologinya telah diketahui dengan baik. MSH.beda yang terdapat di lobus anterior hipofise. dan prolactin (PRL). dan oleh dua hormon yang diproduksi oleh lobus posterior hipofise.

Hipotalamus melaksanakan pengontrolan pada kelenjar hipofise anterior dan terhadap kelenjar lain dan sel-sel tubuh. Hipotalamus (terletak pada jaringan sekitar ventrikel ketiga) dan lobus hipofise anterior dihubungkan oleh sistem perdarahan portal hipotalamus-hipofise (hipotalamus-hipofise portal blood system) dengan demikian neurosekresi releasing factor (RF) dan inhibiting factor (IF) dilakukan dari 6 . Hubungan antar hipotalamus dan kelenjar hipofise . Hipotalamus terdiri dari sebuah nuklei dan berperan sebagai suatu penghubung yang penting antara mekanisme pengaturan neurologis dan hormonal.b.

Hipotalamus juga mengendalikan kelenjar hipofise posterior yang berhubungan dengannya secara struktural. antagonis insulin. Meningkatkan kadar asam lemak bebas. ADH dan oksitosin sebenarnya diproduksi di hipotalamus dalam nuklei paraventrikular dan supraoptik dan dibawa oleh neuron melalui transport aksonal melalui cabang-cabang terminal yang terletak di lobus posterior hipofise. Pengatur fungsi reproduksi pada pria dan wanita. Perlu bagi perkembangan payudara dan laktasi. dan lemak. protein. lipolisis. Meningkatkan mitosis Mempengaruhi metabolisme karbohidrat. dan pembentukan keton. istilah faktor diubah menjadi hormon. Meningkatkan sintesa protein. Meningkatkan glukosa darah dengan menurunkan penggunaan glukosa. tulang. retensi elektrolit dan cairan Prolaktin (PRL) Target organ : payudara dan gonad. Berhubungan dengan pertumbuhan sel. Thyroid Stimulating Hormon (TSH) Target organ : tiroid 7 . Disana mereka disimpan dan kemudian dilepaskan. Hormon Hipofise anterior Growth hormon (GH) Fungsi Target organ : seluruh tubuh. kemungkinan bekerja pada kebanyakan jaringan melalui somatomedin. Dengan diketahuinya struktur kimia dari suatu inhibitory dan releasing factor . Diduga bahwa masing-masing hormon hipofise memiliki RF dan IF yang menstimulir atau menghambat pelepasan hormon-hormon tersebut. dan jaringan lunak. Meningkatkan ekstraseluler.hipotalamus ke hipofise.

dan MSH mempunyai pengaruh metabolik langsung pada jaringan sasaran sebaliknya ACTH. Pada anak-anak. Tanpa IGF-1. Pada orang dewasa. GH atau somatotropin mempunyai pengaruh metabolik utama. Gonadotropin Folikel stimulating hormon (FSH) Luteinizing hormon (LH) Target organ : gonad Menstimulasi gametogenesis dan produksi seks steroid pada pria dan wanita. TSH. GH memproduksi faktor pertumbuhan-1 mirip insulin (IGF-1) yang merantarai efek perangsang-pertumbuhan. GH tidak dapat merangsang pertumbuhan. c. dan pembuluh darah. Corticotropin) hormon Organ target: korteks adrenal Perlu untuk pertumbuhan dan mempertahankan ukuran kortek adrenal. merangsang otot polos usus. Adrenokorticoid-stimulating (ACTH. prolaktin. Hipofise Posterior Antidiuretic hormone (ADH) Merubah membran tubulus ginjal untuk meningkatkan absorpsi air. FSH.Perlu untuk pertumbuhan dan fungsi tiroid. karena itu dikenal sebagai hormon-hormon tropik.baik pada anak -anak maupun orang dewasa. dan LH fungsi utamanya adalah mengatur sekresi kelenjar-kelanjar endokrin lainnya. Sedikit berperan dalam pelepasan mineralokortikoid (aldosteron). Oxitocin Merangsang kontraksi uterus dan pengeluaran air susu. hormon ini berfungsi mempertahankan ukuran orang dewasa normal dan juga berperan dalam pengaturan sintesis protein dan pembuangan zat makanan. hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan somatik. Sekresi GH diatur oleh growth hormone-releasing hormone (GHRH) 8 . Mengontrol pelepeasan glukokorticoid (kortisel) dan androgen adrenal. Peran Fisiologis Dan Metabolik Hormon-Hormon Hipofisis Anterior GH.

Thyrotropin-releasing hormone (TRH) merangsang sekresi prolaktin. suatu hormon penghambat. Jika faktor-faktor penghambat ini tidak ada maka sekresi prolaktin akan meningkat dan dapat terjadi laktasi. pada perempuan FSH merangsang perkembangan folikel dan sekresi estrogen oleh sel-sel folikel. ditambah juga dengan stress dan latihan berat. Pada laki-laki. sedangkan kadar kortisol yang tinggi menekan sekresi hormon ini. TSH merangsang pertumbuhan dan fungsi kelenjar tiroid. Pelepasan FSH dan LH pada perempuan bersifat siklik. ACTH tampaknya tidak mempunyai efek ekstraadrenal yang berarti CRH dan arginine vasopressin (AVP) bekerja secara sinergis untuk merangsang sekresi ACTH. ACTH merangsang pertumbuhan dan fungsi korteks adrenal dan merupakan suatu faktor yang sangat penting pada pengaturan produksi dan pelepasan kortisol. FSH dan LH dikenal juga sebagai gonadotropin. TRH merangsang sekresi TSH. Hormon ini meningkatkan pigmentasi kulit dengan merangsang dispersi granula-granula melanin dalam melanosit. Sekresi MSH diatur oleh corticotropin-releasing hormone (CRH) dan dihambat oleh peningkatan kadar kortisol. FSH dan LH ini akan disekresi secara kontinu atau secara tonik pada laki-laki. selanjutnya hormon-hormon ini akan mengatur sekresi TSH. Pelepasan prolaktin berada di bawah pengaruh penghambatan tonik oleh hipotalamus melalui dopamin yang disekresi oleh sistem neuron dopaminergik tuberohipofisel. TSH ini menyebabkan pelepasan tiroksin (T4) dan tryodo tironin (T3). Pelepasan GH dirangsang oleh hipoglikemia dan oleh asam amino seperti arginin. Sebaliknya.dari hipotalamus dan oleh somatostatin. FSH mempertahankan dan merangsang spermatogenesis. sedemikian pula sehingga kadar kedua hormon 9 . LH menyebabkan ovulasi dan mempertahankan serta merangsang sekresi progesteron oleh korpus luteum yang berkembang dari folikel sesudah ovulasi. sedangakan LH merangsang sekresi testoteron oleh sel-sel Leydig atau sel-sel interstisial testis. Secara tunggal. Defisiensi sekresi kortisol dapat merangsang pelepasan MSH. MSH merupakan suatu unsur pokok dari proopiomelanokortin. Prolaktin merupakan salah satu kelompok hormon yang dibutuhkan untuk perkembangan payudara dan sekresi susu.

LH. sekresi ACTH yang berlebihan akan mengakibatkan hiperfungsi korteks adrenal atau sindrom Cushing. Sebaliknya. dan lesi/ massa setempat yang menyebabkan tekanan pada khiasma optikus atau bagian basal otak.tersebut akan melonjak pada pertengahan siklus dan kemudian sedikit demi sedikit menurun pada akhir siklus. Disfungsi kelenjar hipofise Penyakit hipofise adalah penyakit yang tidak umum terjadi. yang terdiri atas satu jenis sel atau beberapa jenis sel. dan prolaktin semuanya dapat dihitung dalam serum atau plasma. disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10 mm. TSH. PATOFISIOLOGI Hiperfungsi hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk bergantung pada sel mana dari kelima sel-sel hipofise yang mengalami hiperfungsi. Hiperfungsi kelenjar hipofise Sering disebut juga hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofise sehingga menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormon hipofise atau lebih. 1. Sekresi FSH dan LH diatur oleh sekresi (amplitudo dan frekuensi) gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang bersifat pulsatil. dan diikuti oleh menstruasi. d. Kebanyakan adalah tumor 10 . ACTH. hipofungsi hipofise. Diagnosis klinis gangguan hipofisis membutuhkan penegasan biokimia melalui uji khusus yang memperlihatkan fungsi hipofisis abnormal yang merupakan karakteristik keadaan yang dicurigai. FSH. Tidak adanya pelepasan gonadotropin mengakibatkan hipotiroidisme. MSH. Hormon hipofisis yang sudah diterangkan yaitu. Kelenjar biasanya mengalami pembesaran. Konsekuensi klinis defisiensi pelepasan ACTH dan TSH masing-masing berupa insufisiensi adrenal dan hipotiroidisme. namun dapat timbul sebagai kondisi hiperfungsi hipofise. GH. Sindrom kelebihan TSH atau pelepasan gonadotropin jarang ditemukan.

rahang. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan. Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mensekresi hormon pertumbuhan. dan hidung. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadenoma dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit cushing¶s. galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan). Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan.sel pensekresi TSH-. dan infertilitas. 11 . yang ditandai dengan pembesaran ekstermitas (jari. Keadaan ini dapat diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. tangan. Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik. lidah. Gejala yang khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif dan dimana terjadi (tidak menstruasi. Pada pasien ini terdapat hiperplasia hipofisis somatotrop dan hipersekresi GH. Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. atau FSH. adenoma somatotropik mengakibatkan akromegali. Organ -organ dalam juga turut membesar (mis : kardiomegali). Tumor yang kurang umum terjadi adalah adenoma somatotropik. Tumor yang terdiri atas sel. Gejala klinik hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini. Pada klien post pubertas. mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang memanjanng sehingga mengakibatkan gigantisme. yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. kaki). dimana lempeng epifise tulang panjang belum menutup.yang terdiri atas sel-sel laktotropik (juga dikenal sebagai prolaktinomas). LH-. jinak. Misalnya saja pada klien pre pubertas. namun perubahan tulang tidak mengalami regresi. Pada beberapa pasien dapat timbul akromegali sebagai respons terhadap neoplasia yang menyekresi GHRA ektopik. Prolaktinoma (adenoma laktotropin) biasanya adalah tumor kecil.  Gigantisme dan Akromegali Gigantisme dan akromegali disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. yang bersifat primer dan sekunder). seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia.sangat jarang terjadi.

deformitas mandibula ( yang menyerupai bumerang ). Bagian frontal menonjol. Keadaan ini disebut akromegali. perubahan bentuk raut wajah dapat membantu diagnosis pada insepeksi. dan penderita menceritakan mereka harus mengubah ukuran sepatunya. dan terjadi deformitas mandibula disertai timbulnya prognatisme (rahang yang menjorok ke depan) dan gigi geligi tidak dapat menggigit. Penderita mungkin membutuhkan ukuran sarung tangan yang lebih besar. sinus paranasalis dan sinus fr ontalis membesar. mengakibatkan timbulnya nyeri dipunggung dan perubahan fisiologik lengkung tulang belakang. Pasien dengan akromegali memiliki kadar basal GH dan IGF-1yang tinggi dan juga dapat diuji dengan pemberian glukosa oral. Lidah juga membesar. Pemeriksaan radiografik tengkorak pasien akromegali menunjukkan perubahan khas disertai pembesaran sinus paranasalis. penebalan kalvarium. Bila akromegali berkaitan dengan tumor hipofisis. Pembesaran mandibula menyebabkan gigi-gigi renggang. dan pasien akan menjadi seorang raksasa. Kaki juga menjadi lebih besar dan lebar. tonjolan supraorbital menjadi semakin nyata. maka pasien mungkin mengalami nyeri kepala bitemporal dan gangguan penglihatan disertai hemianopsia bitemporal akibat penyebaran supraselar tumor tersebut. dan penekanan kiasma optikum. dan yang paling penting ialah penebalan dan destruksi sela tursika yang menimbulkan dugaan adanya tumor hipofisis. maka pertumbuhan longitudinal pasien sangat cepat. induksi 12 . tetapi menyebabkan penebalan tulang-tulang dan jaringan lunak. Raut wajah menjadi semakin kasar.Bila kelebihan GH terjadi selama masa anak-anak dan remaja. Pembesaran ini biasanya disebabkan oleh pertumbuhan dan penebalan tulang dan peningkatan pertumbuhan jaringan lunak. Deformitas tulang belakang karena pertumbuhan tulang yang berlebihan. sehingga penderita sulit berbicara. Setelah pertumbuhan somatis selesai. dan penderita akromegali memperlihatkan pembesaran tangan dan kaki. Pada subjek yang normal. Suara menjadi lebih dalam akibat penebalan pita suara. Selain itu. hipersekresi GH tidak akan menimbulkan GIGANTISME.

Pengobatan akromegali atau gigantisme lebih kompleks. manifestasi klinis dari panhipopituitarisme merupakan gabungan pengaruh metabolik akibat berkurangnya sekresi masing-masing hormon hipofisis. CT-scan dan MRI pada sela tursika memperlihatkan mikroadenoma hipofisis. dan memperbaiki gambaran klinis. Sebaliknya. Pada anak-anak. mengecilkan ukuran tumor. Dwarfisme hipofisis (kerdil) merupakan konsekuensi dari defisiensi terssebut. suatu analog somatostatin. dan (4) idiopatik atau mungkin penyakit yang bersifat autoimun. (3) penyakit granulomatosa infiltratif. Pengobatan medis dengan menggunakan octreotide. Selain itu. Iridiasi hipofisis. (2) trombosis vaskular yang mengakibatkan nekrosis kelenjar hipofisis normal. maka tanda-tanda seksual sekunder dan genitalia eksterna gagal berkembang.hiperglikemia dengan glukosa akan menekan kadar GH. sering pula ditemukan berbagai derajat insufisiensi adrenal dan hipotiroidisme. pada pasien akromegali atau gigantisme kadar GH gagal ditekan. Hipofungsi kelenjar hipofise Insufisiensi hipofisis pada umumnya mempengaruhi semua hormon yang secara normal disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. Octreoide dapat menurunkan supresi kadar GH dan IGF-1. serta makroadenoma yang meluas ke luar sela mencakup juga sisterna diatas sela. atau sinus sfenoid. mereka mungkin akan mengalami kesulitan di sekolah dan 13 . dan daerah sekitar sela. terjadi gangguan pertumbuhan somatis akibat defisiensi pelepasan GH. Oleh karena itu. pembadahan mengakibatkan penurunan atau perbaikan penyakit. Beberapa proses patologik dapat mengakibatkan insufisiensi hipofisis dengan cara merusak sel-sel hipofisis normal: (1) tumor hipofisis. juga tersedia. 2. Sindrom klinis yang diakibatkan oleh panhipopituitarisme pada anak-anak dan orang dewasa berbeda-beda. Ketika anak-anak tersebut mencapai pubertas.

Hipoglikemia dengan kadar serum glukosa yang kurang dari 40mg/dl. penyebab defisiensi agaknya terletak pada hipotalmus dan mengenai hormon pelepasan yang bersangkutan. Kalau hipopituitarisme terjadi pada orang dewasa. Pada pasien dengan panhipopituitarisme. pasien memperlihatkan kegagalan hormon hipofisis saja. (2) CRH. dan (4) GnRH. pria menunjukan penurunan libido. Kadang kala. (3) TRH. Pada wanita. hipotiroidisme dan insufisiensi adrenal. merupakan tanda awal dari kegagalan hipofisis. sama dengan tingkat produksi hormon kelenjar target yang dikontrol oleh hormonhormon tropik ini. hipogonadisme. dan kortisol. Manifestasi defisiensi GH mungkin dinyatakan dengan timbulnya kepekaan yang luar biasa terhadap insulin dan terhadap hipoglikemia puasa. impotensi dan pengurangan progresif pertumbuhan rambut dan bulu di tubuh. juga tidak merespons terhadap pemberian hormon perangsang sekresi. tingkat dasar hormon tropik ini rendah.memperlihatkan perkembangan intelektual yang lamban. kehilangan fungsi hipofisis sering mengikuti kronologis sebagai berikut : defisiensi GH. Pasien dengan panhipopituitarisme gagal untuk merespons empat perangsang sekresi tersebut. dan berkurangnya perkembangan otot. kulit biasanya pucat karena tidak adanya MSH. jenggot. Dalam keadaan ini. ACTH. Bersamaan dengan terjadinya hipogonadisme. Uji fungsi hipofisis kombinasi dapat dilakukan pada pasien ini dengan menyuntikkan (1) insulin untuk menghasilkan hipoglikemia. Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan berbagai tingkatan hipotiroidisme dan insufisiensi adrenal. Karena orang dewasa telah menyelesaikan pertumbuhan somatisnya. juga disarankan pemeriksaan radiografi kelenjar 14 . maka tinggi tubuh pasien dewasa dengan hipopituitarisme adalah normal. Selain studi biokimia. sedangkan GnRH merangsang pelepasan FSH dan LH. Kemudian diikuti oleh atrofi payudara dan genitalia eksterna. berhentinya siklus menstruasi atau ammanorea. Pasien dengan hipopituitarisme. TRH merangsang pelepasan TSH dan prolaktin. Kurangnya MSH akan mengakibatkan kulit pasien ini kelihatan pucat. selain memiliki tingkat hormon basal yang rendah. normalnya menyebabkan pelepasan GH.

Insufisiensi hipofise menyebabkan hipofungsi organ sekunder. namun dapat saja terjadi dalam setiap kelompok usia. Pemberian androgen dan estrogen dapat mengobati defisiensi gonadotropin . Primer bila gangguannya terdapat pada kelenjar hipofise itu sendiri. insufisiensi adrenal yang disebabkan karena defisiensi sekresi ACTH diobati dengan memberikan hidrokortison oral. Kondisi ini dapat mengenai semua sel hipofise (panhipopituitarisme) atau hanya sel-sel tertentu. Hormon hipofisis hanya dapat diberikan dengan cara disuntikan. Penyebab tersebut termasuk diantaranya :  Defek perkembangan kongenital. GH manusia. dihasilkan dari teknik rekombinasi asam deoksiribonukleat (DNA). GH manusia jika diberikan pada anak-anak yang menderita dwarfisme hipofisis. hanya diberikan sebagai alternatif. Sebagai contoh. hormon yang hanya efektif pada manusia. Sehingga. PATOFISIOLOGI Penyebab hipofungsi hipofise dapat bersifat primer dan sekunder. 15 . dapat diguanakan untuk mengobati pasien dengan defisiensi GH dan hanya dapat dikerjakan oleh dokter spesialis. Pengobatan hipopituitarisme mencakup penggantian hormon-hormon yang kurang. dan sekunder bila gangguan terdapat pada hipotalamus.hipofisis pada pasien yang diperkirakan menderita penyakit hipofisis. seperti pada dwarfisme pituitari atau hipogonadisme. Hipofungsi hipofise jarang terjadi. dapat menyebabkan peningkatan tinggi badan yang berlebihan. terapi harian pengganti hormon kelenjar target akibat defisiensi hipofisis untuk jangka waktu yang lama.namun pemberian gonadotropin tersebut dapat menginduksi ovulasi. karena tumor-tumor hipofisis seringkali menyebabkan gangguan-gangguan ini. Pemberian tiroksin oral dapat mengobati hipotitoidisme yang diakibatkan defisiensi TSH. terbatas pada satu subset sel-sel hipofise anterior (mis: hipogonadisme sekunder terhadap defisiensi sel-sel gonadotropik) atau sel-sel hipofise posterior (mis: diabetes insipidus). Defisiensi GH membutuhkan injeksi GH setiap hari. GH manusia rekombinan juga dapat digunakan sebagai hormon pengganti pada pasien dewasa dengan panhipopituitarisme.

Sekresi AVP diatur oleh rangsangan yang meningkat pada reseptor volume dan osmotik. melalui akson menuju keujung ± ujung saraf yang berada dikelenjar hipofisis posterior tempat penyimpanannya. seperti pada nekrosis postpartum (sindrom sheehan¶s). Akhirnya meningkatkan permeabilitas epitel duktus koligentes ginjal terhadap air. intoleransi terhadap dingin. Panhipopitutarisme. Gangguan ini dapat terjadi akibat dekstrusi nukleus hipotalamik yaitu tempat vasopresin disintesis (DI sentral) atau sebagai akibat tidak responsifnya tubulus ginjal terhadap vasipresin (DI nefrogenik) walaupun kadar hormon ini sangat tinggi. dan hipotensi. napsu makan buruk. 16 . Pada orang dewasa dikenal sebagai (Penyakit simmonds) yang ditandai dengan kelemahan umum. Suatu peningkatan osmolalitas cairan esktraseluler atau penurunan volume intravaskuler akan merangsang sekresi AVP . yaitu neurofisin II. yang akan menunjukan defisiensi hormon. Tumor yang merusak hipofise (mis: adenoma hipofise nonfungsional) atau merusak hipotalamus (mis: kraniofaringioma atau glioma).  Gangguan sekresi Vasopresin Vasopresin arginin ( AVP ) merupakan suatu hormon antideuretik (ADH ) yang dibuat dinukleus supraoptik dan paraventrikuler hipotalamus bersama dengan protein pengikatnya. Diagnosis insufisiensi hipofise dapat diduga secara klinik namun harus ditegakan melaui uji biokimia yang sesuai. Gangguan sekresi AVP termasuk diabetes insipidus (DI) dan sindrom ketidakpadanan sekresi ADH (SIADH).AVP kemudian terikat pada sebuah reseptor yaitu AVPR2. ditubulus ginjal melalui pengaktifan adenilat siklase dan peningkatan turunan siklis adenosin monofosfat (cAMP). AVP dan neurofisinnya yang tidak aktif kemudian disekresi bila ada rangsang tertentu. Vasopresin kemudian diangkut dari badan ± badan sel neuron tempat pembuatannya. penurunan berat badan.  Iskemia. Wanita yang terserang penyakit ini tidak akan mengalami menstruasi dan pada pria akan menderita impotensi dan kehilanngan libido. Insufisiensi hipofise pada masa kanak-kanak akan mengakibatkan dwarfisme.

namun memiliki respon ginjal yang normal terhadap hormon. pengobatan penyakit ginjal yang mendasarinya. trauma kepala. dan penghentian terapi lithium bila memungkinkan. kekacauan mental. Pasien dengan DI mangalami polidipsi dan poliuria dengan volume urine antara 5 ± 10 L/ hari kehilangan cairan yang banyak melalui ginjal ini dapat dikompensasi dengan minum banyak cairan. termasuk tumor ± tumor dihipotalamus. Pasien ± pasien ini mengalami defisiensi vasopresin. Pasien akan mengalami sindrom hipoosmolar dengan kelebihan dan gangguan retensi air. Preparat yang paling sering dipakai 1-deamino8 D-arginin vasopresin (DDAVP). tumor ± tumor besar hipofisis yang meluas ke luar sela tursika dan menghancurkan nukleus hipotalamik. Gejala ±gejalanya merupakan akibat adanya hiponatremia berat dan menyerang sistem saraf pusat sehingga pasien mudah marah. pasien ± pasien ini akan mengeluh penuh pada perut dan anoreksia. SIADH biasanya ditemukan menyertai penyakit ± penyakit hipotalamus atau paru atau terjadi setelah pemberian obat. Pengobatan dengan kombinasi hidroklorotiazid dan amilorid dapat menurunkan beratnya poliuria. DI nefrogenik ditangani dengan penggantian cairan. Volume urine menurun dan berat jenis uerine meningkat segera setelah pemberian vasopresin. Pada anak ± anak dengan DI nefrogenik. kulit dan membran mukosa menjadi kering. terutama 17 . dan koma. DI nefrogenik dapat diturunkan melalui mutasi dalam reseptor vasopresin. DI sentral diobati dngan AVP. Bila pasien tidak mampu mempertahankan masukan air minum.Ada beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan diabetes insipidus. Karena minum banyak air untuk mempertahankan hidrasi tubuh. Rasa haus dan buang air kecil berlangsung terus pada malam hari sehingga pasien akan merasa terganggu tidurnya karena harus sering buang air kecil pada malam hari. cedera hipotalamus pada saat operasi. Sebaliknya pasien dengan DI nefrogenik gagal untuk merespon AVP. berat badannya menurun. kejang. keadaan tersebut akan membaik sesuai dengan keadaan umur. diberikan intranasal atau oral dan memiliki jangka waktu kerja dari 12 jam sampai 24 jam. oklusi pembuluh darah intraserebral dan penyakit ± penyakit granulomatosa.

stalk hipofise. dan tumor sekunder metatasis dari paru-paru dan payudara. Demeklosiklin. hemoragi intrakranial. dan DI yang berkaitan dengan obatobatan diakibatkan oleh pemberian litium karbonat [Eskalith. sekunder (DI yang disebabkan oleh tumor pada daerah hipofise-hipotalamus.bila natrium dan serum menurun dibawah 120 mEq/L osmolalitas serum rendah. Carbolith] dan Demeclocyline [Declomycin] ). atau hipofise posterior. Lihthobid. Terapi penggantian dengan ADH menunjukkan hasil yang efektif dalam mengobati DI. Obat-obatan ini dapat mempengaruhi respons tubulus ginjal terhadap air. yang disimpan dalam bentuk hipertonik. Primer (DI yang disebabkan oleh gangguan pada hipofise). sementara kadar hormon dalam serum normal). infeksi otak atau meningen. Diabetes insipidus dikelompokan menjadi nefrogenik (adalah diabetes insipidus yang terjadi secara herediter dimana tubulus ginjal tidak berespons secara tepat terhadap ADH. Klien dengan diabetes insipidus mengeluarkan urine hipotonik dalam jumlah yang besar (5 sampai 6 liter per hari). dapat dipakai dengan efektif untuk memperbaiki hipoosmolalitas yang terjadi akibat adanya SIADH. Diureti ini akan menginduksi pengeluaran cairan dan NaCl. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tumor.  Diabetes Insipidus (DI) Diabetes Insipidus (DI) ditandai dengan kurangnya ADH sekunder terhadap lesi yang menghancurkan hipotalamus. Insufisiensi hipotalamus membutuhkan terapi penggantian hormon yang sesuai. suatu obat yang secara langsung menghambat efek vasopresin pada tingkat tubulus ginjal. yaitu kurang dari 1000 ml/hari dan pemberian 3% . BUN dan serun keratinin kadarnya rendah dan natrium urine lebih tinggi dari 20 mEq/L. dan osmolalitas urine tinggi dan meningkat diatas osmolalitas serum. Pada pasien ± pasien ini. 18 . atau trauma yang mengenai tulanga bagian dasar tengkorak.5% larutan NaCL yang dicampur dengan furosemid. Pengobatan SIADH didasarkan pada pembatasan pemberian air.

 Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman. 19 .  Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia. tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar.  Nyeri kepala. manifestasi klinis tumor hipofise bervariasi tergantung pada hormon mana yang disekresi berlebihan.B. T. khas pada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar.  Perubahan tingkat energi. Q. dagu menjorok kedepan. jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga. Tanyakan manifestasi klinis dari peningkatan prolaktin. GH dan ACTH mulai dirasakan. dsb. Asuhan Keperawatan Klien dengan Hiperfungsi dan Hipofungsi Hipofise a. Riwayat penyakit . Keluhan utama. kaji P. kelelahan dan letargi. tulang supraorbita menjolok. tangan.  Kesulitan dalam berhubungan seksual. 3. R. S.  Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita) mencakup keteraturan. dsb.  Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman penglihatan. 2. penglihatan ganda. Pemeriksaan fisik mencakup:  Amati bentuk wajah. kesulitan hamil.  Kepala.  Libido seksual menurun  Impotensia. mencakup :  Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ tubuh seperti jari-jari. Hiperfungsi Hipofise I. 4. Pengkajian 1. Kaji usia.

 Suara membesar karena hipertropi laring. Pemeriksaan diagnostik mencakup :  Kadar prolaktin serum : ACTH. Koping individu tak efektif b.  Amati perubahan pada persendian di mana klien mengeluh nyeri dan sulit bergerak. infertilitas.  Hipertensi  Disfagia akibat lidah membesar. 4.d hilangnya kontrol terhadap tubuh. GH  Foto tengkorak  CT Scan otak  Angiografi  Tes supresi dengan Dexamethason  Tes toleransi glukosa. II.  Pada perkusi dada dijumpai jantung membesar 5. Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak tumbuh dengan baik. Nyeri (kepala.d perubahan penampilan fisik. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan utama yang dapat dijumpai pada klien dengan hiperpituitarisme.d ancaman kematian akibat tumor otak. Ansietas b. Disfungsi seksual b. punggung) b.  Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat kompresi saraf optikus.  Pada palpasi abdomen. 2.d penurunan libido. 3. hormon pertumbuhan yang berlebihan. Perubahan citra tubuh b. didapat hepatomegali dan splenomegali. akan dijumpai penurunan visus. 2. Pada pemeriksaan ditemukan mobilitas terbatas.  Peningkatan perspirasi pada kulit menyebabkan kulit basah karena berkeringat. Diagnosa keperawatan tambahan yang juga dijumpai adalah: 1. Takut b. 1.d ancaman terhadap perubahan status kesehatan.d penekanan jaringan oleh tumor. 20 .

Nonpembedahan  Klien dengan kelebihan GH 1. Observasi efek samping pemberian bromokriptin seperti: Hipotensi ortostatik. kram abdomen. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya. merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Intervensi keperawatan : a. Tujuan : Dalam waktu 2-3 minggu klien akan memiliki kembali citra tubuh yang positif. prolaktin adapat normal kembali. III. b. Juga diberikan pada klien dengan akromegali. Keterbatasan aktivitas b. Rencana Tindakan Keperawatan Berikut ini akan diuraikan dua diagnosa keperawatan pertama. 2.d perubahan penampilan fisik. 21 . Kolaborasi pemberian terapi radiasi. 2. letargi. Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya.  Klien dengan kelebihan prolaktin 1. Yakinkan klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang dengan pengobatan (ginekomastia. Diagnosa Keperawatan: Perubahan citra tubuh b.d kelemahan. Pada mikro adenoma. mual. Perubahan sensori-perseptual (penglihatan) b. galaktorea). Bantu klien mengidentifikasi kekuatanya serta segi-segi positif yang dapat dikembangkan oleh klien. untuk mengurangi ukuran tumor. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti: Bromokriptin (Parlodel). Pemberian obat-obatan 1.d gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervus optikus. 3. 6. dan konstipasi. 2. iritasi lambung.5.

2. IV.d hilangnya libido. Diagnosa keperawatan: Disfungsi seksual b. Kolaborasi pemberian obat-obatan bromokriptin. Tindakan Keperawatan dan Pembedahan Hipofisektomi adalah tindakan pengangkatan adenoma hipofise melalui pembedahan.4. 22 . 4. Tujuan : Klien akan mencapai tingkat kepuasan pribadi dari fungsi seksual Intervensi keperawatan: 1. Prosedur operasi tersebut mencakup tindakan transpenoidal hipofisektomi dengan narkose. Kolaborasi tindakan pembedahan. Yang kedua adalah transfrontal kraniotomi yaitu dengan membuka rongga kranium melalui tulang frontal. kerusakan nervus optikus. 3. dan perubahan lapang pandang. Bila masalah ini timbul setelah hipofisektomi. Identifikasi masalah spesifik yang berhubungan dengan pengalaman klien terhadap fungsi seksualnya. kolaborasi pemberian gonadotropin. 5. disfungsi hipotalamus. Secara umum prinsip perawatan kllien dengan hipofisektomi adalah sebagai berikut : y y Pantau status neurologi klien Pantau keseimbangan cairan khususnya terhadap haluaran yang berlebihan dari masukan karena dapat terjadi diabetes insipidus transien. infertilitas dan impotensi. Awasi efek samping terapi radiasi seperti: hipopituitarisme. Dorong agar klien mau mendiskusikan masalah tersebut dengan pasangannya. Insisi pada lapisan dalam bibir atas dan masuk ke sella tursika melalui sinus spenoidalis.

perawat menjelaskan agar klien menghindari aktivitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan. Oleh karena itu anjurkan klien memeriksa gusinya untuk mengetahui adanya lesi dan perdarahan dengan menggunakan cermin setiap hari. Klien tidak menyikat gigi satu sampai dua minggu sampai penyembuhan sempurna. dapat berlangsung 3-4 bulan. y Anjurkan klien untuk tidak batuk. menggosok hidung atau bersin. Menjelaskan penggunaan tampon hidung selama 2-3hari pascaoperasi. pemberian hormon diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan cairan. Menjelaskan penggunaan balut tekan yang ditempatkan dari bawah hidung. batuk. 23 pula . karena hal ini dapat menghambat penyembuhan luka 4. bersin.  Pendidikan kesehatan Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan. hormonal. swab tenggorok untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas.y Dorong klien untuk mempertahankan ventilasi paru dengan latihan nafas dalam. Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang diperlukan sebagai persiapan operasi seperti pemeriksaan neurologik. menggosok gigi. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan dilakukan 2. batuk. Anjurkan klien bernafas melalui mulut selama pemasangan tampon 3. lapang pandang. Jelaskan bahwa sensasi hilang rasa pada daerah insisi adalah biasa.  Perawatan preoperasi 1. cukup berkumur setiap kali setelah makan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi. dll. Jelaskan penggunaan obat-obatan dan jelaskan perlunya tindak lanjut secara teratur. Setelah operasi . Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi.

disorientasi. 24 . Amati pula komplikasi pasca operasi yang lazim terjadi seperti transient insipidus (diabetes insipidus sesaat) : bila terjadi hal tersebut lakukan intervensi sebagai berikut: a. Kaji tanda-tanda infeksi (meningitis ) dengan cermat 8. Amati respons neurologik klien dan catat adalah perubahan penglihatan. Bila diperlukan lakukan pemasangan indwelling kateter untuk memudahkan pemantauan haluan cairan. Hindari batuk. Tinggikan posisi kepala 30-45o. kortisol sebagai dampak V. dan perubahan kesadaran serta penurunan kekuatan motorik ekstremitas. e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vasopresin d. Evaluasi 1. 7. 5. pemberian gonadotropin. Tingkatkan masukan cairan bila ada rasa haus c. Catat cairan yang masuk baik peroral maupun parenteral b. Klien dapat menerima kekurangan (perubahan fisik) dalam dirinya. 6. Kaji drainase nasal terhadap kualitas dan kuantitas terhadap kemungkinan mengandung glukosa. Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat bila terjadi pengeluaran sekret dari hidung ke faring ( post nasal drip) yang kemungkinan mengandung CSF 4. lakukan higyene oral secara teratur karena pernafasan mulut dan penggunaan tampon. Perawatan pascaoperasi 1. 2. Kolaborasi hipofisektomi. ajarkan klien bernafas dalam. Ukur BB setiap hari 3.

3. Tanda-tanda seks sekunder tidak berkembang : tidak ada rambut pubis dan aksila. Sejak kapan keluhan dirasakan. Palpasi kulit. Pengkajian Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini antara lain mencakup : 1. ukuran BB dan TB. payudara tidak tumbuh. pertumbuhan rambut aksila dan pubis. Data penunjang dari hsil pemeriksaan diagnostik eperti : a. Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada klien kretinisme. Keluhan utama klien : a. Pertumbuhan lambat b. amati bentuk dan ukuran buah dada. pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar 7. tidak mendapat haid. 5. 4. serta riwayat radiasi pada kepala. Klien mampu beraktivitas secara mandiri b. Berat dan tinggi badan saat lahir. 8. Klien mampu bersosialisi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. tanpa merasa malu akan perbedaan dalam dirinya 3. Ukuran otot dan tulang kecil c. Amati bentuk dan ukuran tubuh. 2. Pemeriksaan Fisik a. Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita sedang defisiasi gonadotropin nyata pada masa pra remaja. Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita klien. amati pula pertumbuhan rambut di wajah (jenggot dan kumis ) b. Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika 25 . 6. Apakah keluhan terjadi sejak lahir.2. Riwayat penyakit masa lalu. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. dan lain-lain. dan pada klien pria. Hipofungsi Hipofise I. penis tidak tumbuh.

2.d ancaman atau perubahan status kesehatan. II. pengobatan. Pemeriksaan serum darah : LH dan FSH . GH.d menurunnya kekuatan otot. Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari -hari 4. Klien dapat berpartisipasi aktif dalam program pengobatan 3. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat dijumpai pada klien hipopituitarisme adalah : 1. Klien terhindar dari komplikasi 26 . Klien bebas dari rasa cemas.b. Rencana Tindakan Keperawatan Secara umum tujuan yang diharapkan dari perawatan klien dengan hipofungsi hipofisis adalah : 1.d perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat defisiensi gonadotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan. Klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi. 2. prolaktin. 7. testosteron. Koping individu tak efektif 4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit. Disfungsi seksual 3. androgen. 9. 5. 8. Defisit perawatan diri b.d menurunnya kadar hormonal III. kortisol. Harga diri rendah b.d gangguan transmisi implus sebagai akibat penekanan tumor pada nervus optikus . Ansietas b. 6. 5. Gangguan integritas kulit (kekeringan ) b. aldosteron.d perubahan penampilan tubuh. tes stimulasi yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid realising hormon. Gangguan citra tubuh b. Gangguan persepsi sensorik (penglihatan) b. dan perawatan di rumah.

meningkatkan libido. Lebih efektif dengan pemberian intramuskular. aksila. massa otot dan tulang bertambah. Observasi efek samping penggunaan testosteron seperti ginekomastia dan hipertropi inprostat. Tindakan Keperawatan 1. 3. Wanita yang telah mencapai pubertas. Bangkitkan motivasi agar klien mau melaksanakan program pengobatan yang sudah ditentukan. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan (hormonal)  Defisiensi Gonadotropin Pria post pubertas diberikan androgen (testosteron). Ciptakan kondisi agar klien dapat dengan bebas mengungkapkan perasaan dan pikirannya tentang perubahan tubuh yang dialaminya. Pemberian hormon pertumbuhan sintetis (eksogen). Efek maksimal obat ini akan meningkatkan ukuran penis. Somatotropin (Humatrop) harus diberikan sebelum epifise tulang menutup yaitu sebelum masa pubertas. sehingga dapat mengembalikan citra diri dan harga diri. 2. mendapat therapy estrogen dan progesteron. 5. Anjurkan klien memeriksakan diri secara teratur ke tempat pelayanan terdekat. Anjurkan agar melakukan follow up secara teratur. Obat dan dosis biasanya bertahap dengan diawali dosis minimal dan setiap bulannya dinaikan sampai ditemukan dosis yang tepat.IV.  Defisiensi hormon pertumbuhan (GH) 1. serta pubis. 4. Anjurkan pada keluarga untuk dapat membantu klien memenuhi kebutuhan sehari-harinya bila diperlukan serta dapat menciptakan lingkungan yang 27 . kekuatan otot meningkat dan juga pertumbuhan rambut dada. Jelaskan hal-hal yang perlu diwaspadai klien seperti hipertensi dan tromboplebitis. klien diberi chlomiphene citrat (clonid) untuk merangsang ovulasi. Bila menginginkan kehamilan. Jelaskan maksud pemberian obat dan cara penggunaan.

Bila dengan pengobatan tidak berhasil maka bantu pasangan untuk mencari jalan keluar seperti mengadopsi anak atau hal-hal lain yang mereka sepakati. Bantu klien untuk mengembangkan sisi positif yang dimiliki serta membantu untuk beradaptasi. 7. Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakitnya. 8. Evaluasi 1. 2. tidak menggaruk kulit karena kulit sangat mudah mengalami iritasi.tanpa merasa malu akan perbedaan dalam dirinya 3. 6. pengobatan dan kunci keberhasilan pengobatan. Klien mampu bersosialisi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Klien dapat menerima kekurangan (perubahan fisik) dalam dirinya. Klien mampu beraktivitas secara mandiri 28 . V. Ajarkan klien cara melakukan perawatan kulit secara teratur setiap hari. 9. Mengguanakan lotion pelembab sangat dianjurkan.kondusif dalam keluarga seperti menghindarkan persaingan yang tidak sehat antar anggota keluarga. Bagi pasangan yang menginginkan keturunan bangkitkan motivasi mereka untuk dapat mengikuti program pengobatan secara teratur dan berkesinambungan karena untuk upaya ini memerlukan waktu yang lama sehingga butuh kesabaran.

1999. Jakarta: EGC. 2006.Daftar Pustaka  Rumahorbo. Hotma. 2006. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin. 1996. Jakarta: FKUI. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.  Bagian Patologi Anatomik FKUI. Patologi. Jakarta: EGC. 1996.  Syaiffudin. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC. 29 . Patofisiologi vol 2 edisi 6.  Guyton. A Sylvia dan Lorraine M Wilson. Jakarta: EGC.  Price.

30 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->