P. 1
difraksi 1

difraksi 1

|Views: 67|Likes:
Published by Iman Haerudin

More info:

Published by: Iman Haerudin on Jan 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/12/2013

pdf

text

original

PERCOBAAN 5 DIFRAKSI CAHAYA PADA CELAH TUNGGAL I.

TUJUAN Mempelajari difraksi cahaya oleh tepi tajam dan celah tunggal serta pola distribusi intensitasnya. II. RUANG LINGKUP Dengan melewatkan berkas sinar laser yang koheren dan monokromatik pada sebuah epi t tajam maka akan terbentuk pola difraksi pada layar. Pola difraksi juga dapat terjadi jika sinar laser dilewatkan pada celah tunggal, lebar dari celah tunggal yang digunakan dapat diukur dengan mengamati pola difraksi yang terjadi. Pola distribusi intensitas difraksi baik oleh tepi tajam maupun oleh celah tunggal dapat diketahui dengan menggunakan photocell. A. TEORI SINGKAT • Difraksi oleh tepi tajam Difraksi atau pembelokkan (pelenturan) cahaya merupakan salah satu cara untuk menguji apakah cahaya merupakan suatu gelombang. Difraksi cahaya sebenarnya sudah ditemukan sejak pertengahan abad ke-17 oleh Fransesco Grimaldi. Namun baru 10 tahun setelah penemuan Young, orang mengakui bahwa cahaya mempunyai sifat gelombang. Augustin Fresnel dan Francois Argo menunjukkan sederetan percobaan difraksi dan interferensi yang menyimpulkan bahwa cahaya adalah gelombang. Gambar 5.1 merupakan suatu tepi tajam yang menghalangi sumber cahaya dengan layar.

Jika tidak ada difraksi kita mengharapkan pada layer akan gelap. Namum kenyataannya pada layer terdapat pola gelap dan terang, pola-pola tersebut timbul karena adanya peristiwa pelenturan (difraksi) cahaya oleh tepi tajam tersebut.

sin( kx − ωt ) j B = B m . Sinar laser merupakan gelombang elektromagnetik yaitu bentuk gelombang yang berupa rambatan medan listrik dan medan magnet di mana arah dari medan listrik.• Difraksi oleh celah tunggal Apabila suatu cahaya dengan panjang gelombang ë mengenai suatu celah sempit. Kalau di depan celah pada suatu jarak tertentu ditempatkan suatu layer.1) dimana S : Vektor Poyenting (Watt/m2 ) µ0 : Permeabilitas ruang hampa (Wb/A. serta arah rambatannya saling tegak lurus.m) E : Vektor medan listrik B : Vektor medan magnet (N/C) (Wb/m2 ) Persamaan untuk gelombang elektromagnetik jika arah rambatannya dalam arah sumbu x adalah : E = E m .sin( kx − ωt )k dan (5. medan magnet. maka menurut Christian Huygens setiap titik pada celah dapat dianggap sebagai sumber gelombang cahaya yang memancar ke segala arah dengan sudut fase yang sama dan kecepatan yang sama pula.2) . yaitu suatu besaran vector yang menggambarkan besar energi persatuan waktu persatuan luas. maka pada layer akan terbentuk suatu pola difraksi (lenturan cahaya) sebagai akibat yang ditimbulkan oleh interferensi dari sumber-sumber cahaya tersebut yang berasal dari celah itu. Pada gelombang elektromagnetik dikenal istilah vector Poyenting. didefinisikan sebagai : S= ExB µ0 (5.

6) Karena sinar laser bersifat koheren dan monokromatik maka amplitude dan frek uensi sinarsinar yang berasal dari celah tersebut sama namum memiliki fase yang berbeda. Karena E dan B harus selalu tegak lurus.5) ë sehingga beda fase antara kedua sinar tersebut: ∆φ = (5. sin( kx − ωt ) i µ0 c (5. c adalah kecepatan cahaya (3.3) didapatkan: I =S = E 2m atau I ≈ E 2 m 2µ 0 c (5.masing elemen berjarak ∆x . Gambar 5. dari hubungan: beda fase = beda lintasan optis 2∏ 2∏ ∆x.4) sehingga dapat disimpulkan : “Intensitas dari cahaya sebanding dengan kuadrat amplitudo dari medan listrik.sinθ . Sehingga besar total dari amplitude medan listrik yang jatuh pada layer dengan menggunakan prinsip . Pada Gambar 5.sin θ λ (5.Maxwell mendapatkan bahwa B = E c .3 celah tunggal kita bagi menjadi elemen -elemen kecil sebanyak N buah elemen yang masing.4 terlihat bahwa beda lintasan optis anatara kedua sinar yang terpisah pada jarak ∆ x adalah ∆ x .108 m/det).3) Intensitas dari gelombang elektromagnetik didefinisikan sebaga rata-rata dari vector poyenting maka dari persamaan (5.4 adalah perbesaran dari salah satu elemen dan menggambarkan jalannya sinar. maka nilai dari vektor poyenting adalah : S= E 2 m.’’ Pada Gambar 5.

Perhatikan Gambar 5.7) (5. Jika lebar setiap elemen celah kita terus perkecil sampai menuju nol maka akan terdapat jumlah elemen celah mendekati tak terhingga.superposisi merupakan jumlah dari amplitude masing.8) E0 = 2 R.masing sinar yang berasal dari celah. sin = Em φ 2 φ2 2 dengan menggunakan persamaan (5.6.11) .6 dari rumus geometris pada lingkaran didapatkan: φ= α= Em R φ 2 atau atau R= Em φ (5.8) didapatkan: 2E φ E φ E0 = m .10) Sehingga didapatkan rumus intensitas pola difraksi oleh celah tunggal :  sin φ    2  Iθ = I m  φ     2  (5.9) 2  sin φ    2 =  φ     2  2 2 (5. pada kondisi ini maka penjumlahan vector medan listrik akan menjadi seperti Gambar 5. sin α dengan menggabungkan persamaan (5. sin = m . amplitude medan listrik yang jatuh pada titik P maka akan didapatkan Gambar 5.4) diperoleh: Iθ  E   = I m  Em    θ sin φ 2 φ 2 (5.7) dan persamaan (5.5.

φ ∏ = a . 2. 4.6). Dan dari persamaan (5. . 2 m = 1. terjadi jika : dIθ =0 dφ φ ∏ = a .sin θ 2 λ φ φ = tan 2 2 x = tan x di mana x= (5.11) intensitas minimum akan terjadi jika: sin φ =0 2 yang berarti φ = m∏ . 3.47 Ï. maka didapatkan rumus untuk pola difraksi minimum : λ a.7 di atas didapatkan titik perpotongannya pada : X = 1. sin θ = m ∏ .sin θ = mλ φ =0 2 (5.. 4.Dari persamaan (5. intensitasnya mencapai maksimum yang disebut 2 dengan terang pusat. 3. Dari Gambar 5.479 Ï.12)  φ  sin  2  = I = Im I 0 = lim I m  m φ  φ  −>0 2    2  Jika maka Jadi pada φ = 0 yang berarti θ = 0 o .. Terang yang terjadi selain terang pusat disebut terang sekunder.13) untuk mendapatkan jawaban dari persamaan di atas kita memplot dua buah grafik y = x dan y = tan x dan mencari titik potong keduanya (lihat Gambar 5. 2.7).43 Ï. sin θ 2 λ sehingga : ∏ a.495 Ï.

5. 1. 8.0 mW dengan Holder f = -50 mm 1m 300 x 300 mm Dengan single slit On stem dengan Amplifier 0. Red 0. adjustable Lensa Meter Scale Screen. Nama Alat Laser He-Ne Slit. metal Screen Photocell Selenium Multirange Meter Connecting Cord Connecting Cord Kode LASER-02 SLIT-01 LENSA-10 MISTAR-02 LAYAR-06 LAYAR-07 FOTOSEL-01 MMFIS-01 KABEL-14 KABEL-15 Tipe 1. 10.Gambar 5. B. 5 dan 10. 2.75. 4.10 merupakan pola distribusi intensitas difraksi oleh celah tunggal dengan perbandingan lebar celah dan panjang gelombang cahaya 1. Blue Konfigurasi Laser He-Ne Tripod Base Slit Barrel Base Lensa Lens Holder Barrel Base Meter Scale Bench Clamp.75 m. small Barrel Base 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Multirange Meter Dry Cell 1.9. 5.5 V 1 6 . 5. 7. 6. 3.8. DAFTAR ALAT No. 9.

182256 0. terang sekunder 2 = 2.17775 2 3 4 Tabel 5. R = 316.200472 + 0 .43.178214 + 0.459.7 2.47. Edition 94/95.2 Pola distribusi intensitas difraksi oleh celah tunggal y (mm) 0 10 20 V (mV) 133. 2. terang sekunder 3 = 3.182251 0.17775 8 Ym (cm) 1 2.5 1.182256 + 0.85 4. terang sekunder 4 = 4. University Laboratory Experiments.200472 0.1 Pola gelap dan terang pada difraksi oleh celah tunggal Pola Difraksi m 1 2 Minimum 3 4 1 Maksimum sekunder Lebar celah rata-rata (mm) : Ë = 632.III.6 71 7.182251 + 0.178214 0. Yohanes Surya M.172975 + 0 .3 4.Sc.16752 = 0 . Volume 1-5.35 a (mm) 0.47 Rata – rata = 0 .8 Diffration of Light at slit and edge • Diktat Training Tim Olimpiade Fisika Indonesia 1996.D.1 5.169681 0.169681 + 0 .Sc IV.8 cm.8 nm. Ph. REFERENSI • PHYWE.16752 0.168634 + 0. kmà terang sekunder 1 = 1. Agus Ananda M.8 . DATA HASIL PERCOBAAN Tabel 5.168634 0.2 3.172975 0.

2 0.5 0.3 Pola distribusi intensitas difraksi oleh tepi tajam y (mm) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 y : jarak pola difraksi diukur dari terang pusat V : Tegangan yang terbaca pada multimeter 1 0.8 0.2 0.2 0.5 0.3 0.2 0.5 0.2 .5 0.5 0.1 30 2.30 40 50 60 70 80 90 100 y : jarak pola difraksi diukur dari terang pusat V : Tegangan yang terbaca pada multimeter Tabel 5.2 0.1 0.2 V (mV) 96.6 0.

muncul pertanyaan apakah cahaya itu merupakan suatu gelombang atau partikel. Padahal pada 1803. AUGUSTIN FRESNEL. pada akhirnya diterima setelah seorang ilmuwan Perancis. Newton kesulitan menjelaskan tentang fenomena interferensi cahaya. Percobaan ini meruntuhkan teori gelombang. Reputasi Newton dan adanya kesulitan menjelaskan tentang polarisasi. Sebagai akibatnya. SIR ISAAC NEWTON menyatakan bahwa cahaya adalah partikel. Selama waktu antara Newton dan Fresnel. Teori gelombang. Kemudian Maxwell berhasil menemukan beberapa persamaan (The Four Maxwell’s Equations) untuk menjelaskan electromagnet. Fresnel dan penggantinya berhasil menggunakan tehnik matematika ini untuk membuat sebuah teori tentang gelombang transversal yang akan menjelaskan fenomena polarisasi. THOMAS YOUNG sudah menganalisa jenis baru dari interferensi menggunakan teori gelombang. Sedangkan pada saat yang sama HUYGENS berpendapat bahwa cahaya adalah gelombang. mengklarifikasi hubungan antara gelombang dan partikel dengan mengembangkan teori yang melibatkan optic dan mekanik. TEORI KLASIK Pada akhir tahun 1600-an. seperti adanya gelombang yang dapat merambat melalui udara. Ahli matematika Irlandia. SIR WILLIAM HAMILTON. teori gelombang dapat diterima. ilmuwan-ilmuwan mengembangkan tehnik matematika untuk menjelaskan fenomena gelombang dalam zat cair dan benda padat. Teori Hamilton menjadi penting dalam perkembangan mekanik kuantum. ANALISIS HASIL PERCOBAAN 1. Persamaan Maxwell ternyata bersesuaian dengan persamaan persamaan sebelumnya tentang cahaya. Penjelasan Newton menjelaskan adanya sifat gelombang (wavelike property) dalam penjelasan partikel. mendukung ide dari Young. Kemudian JAMES CLERK MAXWELL memulai percobaan elektromagnetik. Sementara itu.V. Teori Maxwell juga berhasil mengungkap kecepatan . Pada saat itu teori gelombang tidak dapat menjelaskan polarisasi karena gelombang yang dikenal oleh para ilmuwan bergerak secara pararel. menyebabkan para ilmuwan menganggap teori partikel lah yang paling benar. Maxwell menunjukkan bahwa listrik dan magnet saling mempengaruhi. Fresnel mendukung ide Young dengan perhitungan matematik (1815) dan memperkirakan adanya efek baru yang mengejutkan.

ilmuwan Jerman. mendeteksi electromagnet pada frekuensi yang lebih rendah (dari perkiraan teori Maxwell). Hertz memastikan kebenaran dari teori Maxwell. 2. para ilmuwan tetap menganggap semua teori fisika bersesuaian dengan teori Planck. Dia menyatakan keberadaan dari kuantum cahaya (light quantum). TEORI MODERN Teori Planck tetap bertahan demikian sampai EINSTEIN menunjukkan cara menjelaskan efek foto elektrik. Pada tahun 1900. Menurut Einstein. teori-teori terpenting dihasilkan oleh Maxwell dengan 4 persamaannya. namun tergantung dari frekuensi electron-elektron tsb. Teori dari Einstein bersesuaian dengan Planck. sejumlah energi yang kemudian diketahui sebagai photon. Planck. • Slit Adjustable (SLIT-01) dengan konfigurasi : * 1 buah Slit * 1 buah Barrel Base Berfungsi sebagai celah yang bias diatur lebar/sempitnya (adjustable). Teori-teori yang ada kemudian saling melengkapi satu sama lain.cahaya. Maxwell meninggalkan sebuah persoalan yang tidak terpecahkan tentang teori gelombang. GUSTAV HERTZ. Sampai dua decade kemudian. Walaupun demikian. yaitu cahaya dipandang sebagai gelombang maupun sebagai partikel. kecepatan electron yang dipancarkan tidak tergantung dari intensitas cahaya. karena masing. MAX PLANCK memecahkan masalah tersebut. dan Einstein dengan teori kuantumnya. Einstein akhirnya berpendapat tentang dualisme cahaya.masing teori didukung dengan sejumlah percobaan. • Lensa (LENSA-10) dengan konfigurasi : * 1 buah Lensa . • Laser He-Ne (LASER-02) dengan konfigurasi : * 1 buah Laser He-Ne * 1 buah Tripod Base Berfungsi sebagai sumber cahaya. Semua teori ini adalah benar pada masanya.

misal ym = 3. 3. . Untuk minimum → a= mλ ym k mλ ym 2 ym + R 2 Untuk maksimum → a = 2 ym + R 2 Kita melihat bahwa antara a (lebar celah) dan ym (jarak pola minimum/maksimum ke-m dari terang pusat/terang sekunder)) selalu berbanding terbalik.5 V Untuk mengukur intensitas cahaya. Jadi semakin besar a. • Meter Scale (MISTAR-02) dengan konfigurasi : * 1 buah Meter Scale * 1 buah Bench Clamp. maka akan semakin kecil ym. yaitu pola difraksi akan membesar. small * 1 buah Barrel Base Berfungsi untuk mengukur jarak celah – layer. • Photocell Sele nium (FOTOSEL-01) Berfungsi untuk menangkap cahaya. Sebagai buktinya. jika kita memperbesar lebar celah maka pola difraksi akan mengecil. lihat ilustrasi berikut. Untuk minimum. • 2 buah Connecting Cord (KABEL-14-15) Berhubungan dengan Multirange Motor.5 cm . • 2 buah Screen (metal) (LAYAR-06-07) Berfungsi untuk menangkap pola difraksi. Pada pola difraksi. Berfungsi sebagai penghubung antara Multirange Meter dengan objek. • Multirange Meter (MMFIS-01) dengan konfigurasi : * 1 buah Multirange Meter * 6 buah Dry Cell 1. Dari rumus kita akan membuktikan hal tersebut.* 1 buah Lens Holder * 1 buah Barrel Base Berfungsi untuk menyebarkan cahaya. Sedangkan jika kita mempersempit lebar celah maka akan terjadi kebalikannya.

8 0.5 0.2) 160 140 120 V (mV) 100 80 60 40 20 0 0 10 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 y (mm) Grafik Pola Distribusi Intensitas oleh Tepi Tajam (Tabel 5.5 0.8 × 10 −7 3.2 0. tetapi memakai lilin atau lampu sebagai sumber cahaya maka pola difraksi tidak dapat diamati. karena itu pola difraksi tidak dapat diamati.5 0. frekuensi.6 0.5 2 + 300 2 = 0 .a= 5 × 632 .2 0.5 0.8 1 0.2 Untuk grafik dengan skala yang lebih detail. 6. Sumber cahaya lilin atau lampu tidak monokromatis. Sumber cahaya yang polikromatis tidak akan menghasilkan panjang gelombang. sumber cahaya yang digunakan harus monokromatis dan koheren. dan amplitude yang sama.1 0.2 0.5 3. 5. melainkan polikromatis. Jika pada praktikum tidak digunakan sinar laser.027 cm sekarang ym kita jadikan 7 cm (2 x lipat yang di atas) 5 × 632.2 0.5 kali yang di atas) jika nilai ym kita besarkan. Grafik Pola Distribusi Difraksi Oleh Celah Tunggal (Tabel 5.2 y (mm) V (mV) 134 71 7.5 0. Agar pola difraksi dapat diamati.2 0.3) 120 100 V (mV) 80 60 40 20 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 10 Series1 96 30 2. lihat lampiran.8 ×10 −7 7 2 + 3002 = 0. Perbedaan-perbedaan pada peristiwa difraksi dan interferensi Hal Difraksi Interferensi . a= 4.0135 cm --à terlihat bahwa a akan semakin kecil 7 (menjadi 0.3 0.

Rumus terang Sumber cahaya Adanya konstanta km Satu sumber cahaya yang koheren dan monokromatis Tidak ada konstanta km Dua sumber cahaya yang saling koheren dan saling monokromatis.Intensitas Terang pusat lebih besar intensitasnya (paling terang). Setelah spherical waves ini melewati sebuah hambatan akan menghasilkan sebuah pola difraksi Fresnel pada layar atau tembok di mana mereka sampai. semakin ke luar semakin kecil (karena intensitas yang tidak sama) 7. Sebuah sumber cahaya akan menghasilkan spherical waves. Pada jarak yang cukup besar (dibandingkan dengan ukuran dari hambatan) akan ada pola iluminasi gelap dan terang. kemudian akan akan berkurang (terang ke 3 akan lebih gelap daripada terang ke 2 dst). gelombang akan mempunyai pola yang berbeda dengan pola asalnya. seperti batu karang. Gelombang ini dapat menabrak hambatan. Difraksi jenis ini bisa terjadi jika jarak antara sumber dan hambatan dekat. • Difraksi Fresnel Cahaya dapat berupa gelombang yang berpola lingkaran (spherical wave). Dari terang pusat ke terang selanjutnya sama besarnya. Untuk grafik pola intensitas untuk n = 3. lihat lampiran. Jenis difraksi yang lain : • Difraksi Fraunhofer Difraksi ini bias diilustrasikan sebagai berikut. 8. Pola inilah yang disebut dengan pola difraksi Fraunhofer. • Difraksi Sinar X (X-Ray) Adalah metode untuk menentukan struktur atom dan molekul dengan mengukur pola sinar X yang tersebar setelah sinar X tsb melewati kristal. Setelah menabrak. Dapat pula diilustrasikan sebagai gelombang lingkaran yang terbentuk akibat sebuah kerikil yang kita jatuhkan ke dalam air. Cahaya dapat diibaratkan sebagai gelombang laut (gelombang yang datar / plane wave). Sama (karena intensitasnya di manamana sama besar) Pola Tidak sama. .

masing celah = a... efek ini adalah gejala lompatan elektron dari permukaan logam.. Energi tersebut terkonsentrasi dalam foton.. Tetapi Maxwell tidak bisa menjelaskan tentang adanya spektrum radiasi dari benda hitam. . Menurut Planck. • Efek fotolistrik Cahaya dianggap sebagai partikel. Einstein berpendapat bahwa energi yang keluar dar muka gelombang tidaklah terpisah-pisah. cahaya adalah paket-paket energi (yang disebut juga dengan kuanta)... Dua percobaan yang tidak dapat dijelaskan oleh keempat persamaan Maxwell dan cara ahli fisika menjelaskannya • Spektrum radiasi benda hitam.. Lompatan elektron ini bisa terjadi jika ada gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi jatuh di permukaan logam tsb. + En E = Em (1 + e i δ + e 2 iδ + e 3 iδ + . Lompatan ini akan terjadi jika adanya ambang batas dari cahaya yang menyinari logam tsb. adanya getaran muatan listrik akan membangkitkan gelombang elektromagnetik..... jarak antar celah = d. Hal ini menjadi dasar lahirnya teori kuantum.Jumlah celah = n . Penurunan rumus intensitasnya : E = E1 + E2 + E3 + E 4 + . Kemud ian Max Planck berusaha menyempurnakan hasil penelitian Maxwell tsb.. lebar masing. Menurut Maxwell..) − Em e inδ (1 + e iδ + e 2 i δ + e3 i δ + ..) E = Em (1 − e inδ )(1 − e inδ ) (Hukum binomial Newton) E= 1 − eiNδ 1 − ei δ E= e iNδ 2 (e −iN δ −i δ 2 −e −e iNδ 2 ) e iδ 2 (e 2 iδ E =e i (n −1)δ 2 2 )  sin( N δ )   2   sin δ     2  ( ) Jadi intensitas untuk n = 3 :  sin( N δ )  2  I = Im  sin δ     2  2 ( ) 9. + e (n −1) iδ E = Em (1 + eiδ + e 2 i δ + e3 i δ + . + e ( n −1 )i δ + e niδ + e ( n +1) iδ + .) − Em ( einδ + e 2 i δ + e 3i δ + . Menurut Einstein.) E = Em (1 + e i δ + e 2 i δ + e 3i γ + .

Jadi yang masih harus dicari adalah y dan R. ym + R 2 ym a= Sesuai rumus di atas. sehingga lebar celah dapat dihitung. yaitu untuk ë (362.47). Setelah itu lampu dinyalakan. Lampu ruangan dimatikan. Jawab : . km (1.8 nm). Kemudian tandai terang 1. A = gelap kedua.sin θ = mλ ym sin θ = ym 2 + R 2 a= mλ . lalu percobaan dilakukan. Cara mengukur lebar celah pada praktikum Untuk pola gelap : a. Lebar celah kita atur sedemikian rupa sehingga pola difraksinya menjadi jelas. dst pada layer (dalam percobaan kita gunakan kertas). Kemudian R dapat dikethui. panjang gelombang = ë. 2.47. Tandai pula gelap 1. Jika A = terang sekunder ketiga. lalu ukurlah jarak dari terang/gelap pusat ke terang/gelap lainnya. 2.43. maka kita harus mengetahui terlebih dahulu nilai-nilai dari variable yang digunakan untuk menghitung lebar celah ( a). 3. m(1 s/d 5). 3.10. jarak celah – layer = d. Langkah berikutnya adalah mencari ym. berapa kali ë harus diperbesar ? (Anggap letak terang sekunder berada di tengah-tengah antara dua gelap). sudah ada beberapa yang diketahui.459. 4. dengan m mengukur menggunakan meter scale. 3. dst. Dengan demikian kita telah menemukan ym. Dari beberapa variable tersebut. 11. 2. ym 2 + R 2 ym Untuk pola terang sekunder : k m .λ .

2. 6. dst). KESIMPULAN 1.47 VI. Pola difraksi dapat diamati bila sumber cahaya monokromatis dan koheren. Besarnya pola difraksi berlawanan dengan lebar celah.layar. 5. . Dilhat dari tabel (5. intensitas terang pusat lebih besar daripada terang-terang selanjutnya (terang 1. 3. Pada pengukuran lebar celah untuk difraksi. Pada difraksi.47 λ a ym + d 2 2 2ëa = 3. jarak pola minimum/maksimum dari terang pusat/sekunder.Untuk minimum → a= mλ ym kmλ ym 2λ a 2 ym + d 2 − − − − > Ym = mλ a a ym + d 2 2 Untuk maksimum → a = 2 y m + d 2 − −− > Ym = kmλ y 2 m +d2 Ym = Ym ym + d 2 = 2 3. 2. konstanta untuk maksimum sekunder (yang terakhir khusus untuk pola terang sekunder). demikian pula sebaliknya. dipenagruhi oleh beberapa factor. Jika celah dilebarkan maka pola difraksi akan mengecil. 3. Difraksi adalah peristiwa pelenturan cahaya dengan sumber cahaya tunggal.576369 ëa 3 .47ëb λb = 2 λ a = 0. 4. yaitu : jarak celah.1) maka dapat disimpulkan bahwa ym berbanding terbalik dengan a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->