PERCOBAAN 5 DIFRAKSI CAHAYA PADA CELAH TUNGGAL I.

TUJUAN Mempelajari difraksi cahaya oleh tepi tajam dan celah tunggal serta pola distribusi intensitasnya. II. RUANG LINGKUP Dengan melewatkan berkas sinar laser yang koheren dan monokromatik pada sebuah epi t tajam maka akan terbentuk pola difraksi pada layar. Pola difraksi juga dapat terjadi jika sinar laser dilewatkan pada celah tunggal, lebar dari celah tunggal yang digunakan dapat diukur dengan mengamati pola difraksi yang terjadi. Pola distribusi intensitas difraksi baik oleh tepi tajam maupun oleh celah tunggal dapat diketahui dengan menggunakan photocell. A. TEORI SINGKAT • Difraksi oleh tepi tajam Difraksi atau pembelokkan (pelenturan) cahaya merupakan salah satu cara untuk menguji apakah cahaya merupakan suatu gelombang. Difraksi cahaya sebenarnya sudah ditemukan sejak pertengahan abad ke-17 oleh Fransesco Grimaldi. Namun baru 10 tahun setelah penemuan Young, orang mengakui bahwa cahaya mempunyai sifat gelombang. Augustin Fresnel dan Francois Argo menunjukkan sederetan percobaan difraksi dan interferensi yang menyimpulkan bahwa cahaya adalah gelombang. Gambar 5.1 merupakan suatu tepi tajam yang menghalangi sumber cahaya dengan layar.

Jika tidak ada difraksi kita mengharapkan pada layer akan gelap. Namum kenyataannya pada layer terdapat pola gelap dan terang, pola-pola tersebut timbul karena adanya peristiwa pelenturan (difraksi) cahaya oleh tepi tajam tersebut.

serta arah rambatannya saling tegak lurus.1) dimana S : Vektor Poyenting (Watt/m2 ) µ0 : Permeabilitas ruang hampa (Wb/A.m) E : Vektor medan listrik B : Vektor medan magnet (N/C) (Wb/m2 ) Persamaan untuk gelombang elektromagnetik jika arah rambatannya dalam arah sumbu x adalah : E = E m .• Difraksi oleh celah tunggal Apabila suatu cahaya dengan panjang gelombang ë mengenai suatu celah sempit. didefinisikan sebagai : S= ExB µ0 (5. Kalau di depan celah pada suatu jarak tertentu ditempatkan suatu layer. Sinar laser merupakan gelombang elektromagnetik yaitu bentuk gelombang yang berupa rambatan medan listrik dan medan magnet di mana arah dari medan listrik.2) .sin( kx − ωt ) j B = B m . maka pada layer akan terbentuk suatu pola difraksi (lenturan cahaya) sebagai akibat yang ditimbulkan oleh interferensi dari sumber-sumber cahaya tersebut yang berasal dari celah itu. yaitu suatu besaran vector yang menggambarkan besar energi persatuan waktu persatuan luas. medan magnet. maka menurut Christian Huygens setiap titik pada celah dapat dianggap sebagai sumber gelombang cahaya yang memancar ke segala arah dengan sudut fase yang sama dan kecepatan yang sama pula. Pada gelombang elektromagnetik dikenal istilah vector Poyenting.sin( kx − ωt )k dan (5.

dari hubungan: beda fase = beda lintasan optis 2∏ 2∏ ∆x. maka nilai dari vektor poyenting adalah : S= E 2 m.4 adalah perbesaran dari salah satu elemen dan menggambarkan jalannya sinar.Maxwell mendapatkan bahwa B = E c . Pada Gambar 5.4) sehingga dapat disimpulkan : “Intensitas dari cahaya sebanding dengan kuadrat amplitudo dari medan listrik.108 m/det).3) Intensitas dari gelombang elektromagnetik didefinisikan sebaga rata-rata dari vector poyenting maka dari persamaan (5.3) didapatkan: I =S = E 2m atau I ≈ E 2 m 2µ 0 c (5.masing elemen berjarak ∆x . Sehingga besar total dari amplitude medan listrik yang jatuh pada layer dengan menggunakan prinsip . sin( kx − ωt ) i µ0 c (5. Gambar 5.sin θ λ (5.3 celah tunggal kita bagi menjadi elemen -elemen kecil sebanyak N buah elemen yang masing.’’ Pada Gambar 5.4 terlihat bahwa beda lintasan optis anatara kedua sinar yang terpisah pada jarak ∆ x adalah ∆ x .sinθ .6) Karena sinar laser bersifat koheren dan monokromatik maka amplitude dan frek uensi sinarsinar yang berasal dari celah tersebut sama namum memiliki fase yang berbeda. Karena E dan B harus selalu tegak lurus.5) ë sehingga beda fase antara kedua sinar tersebut: ∆φ = (5. c adalah kecepatan cahaya (3.

8) didapatkan: 2E φ E φ E0 = m . sin α dengan menggabungkan persamaan (5. Jika lebar setiap elemen celah kita terus perkecil sampai menuju nol maka akan terdapat jumlah elemen celah mendekati tak terhingga.5.6.6 dari rumus geometris pada lingkaran didapatkan: φ= α= Em R φ 2 atau atau R= Em φ (5. sin = m . sin = Em φ 2 φ2 2 dengan menggunakan persamaan (5.9) 2  sin φ    2 =  φ     2  2 2 (5.8) E0 = 2 R.masing sinar yang berasal dari celah. amplitude medan listrik yang jatuh pada titik P maka akan didapatkan Gambar 5.7) dan persamaan (5.11) .superposisi merupakan jumlah dari amplitude masing. pada kondisi ini maka penjumlahan vector medan listrik akan menjadi seperti Gambar 5.7) (5.10) Sehingga didapatkan rumus intensitas pola difraksi oleh celah tunggal :  sin φ    2  Iθ = I m  φ     2  (5. Perhatikan Gambar 5.4) diperoleh: Iθ  E   = I m  Em    θ sin φ 2 φ 2 (5.

sin θ 2 λ sehingga : ∏ a.sin θ 2 λ φ φ = tan 2 2 x = tan x di mana x= (5. Terang yang terjadi selain terang pusat disebut terang sekunder. sin θ = m ∏ .11) intensitas minimum akan terjadi jika: sin φ =0 2 yang berarti φ = m∏ . 3. . 4.43 Ï.. 4. 2 m = 1. 3. 2.495 Ï.Dari persamaan (5. Dan dari persamaan (5. 2. Dari Gambar 5.sin θ = mλ φ =0 2 (5. terjadi jika : dIθ =0 dφ φ ∏ = a . intensitasnya mencapai maksimum yang disebut 2 dengan terang pusat.6).479 Ï.13) untuk mendapatkan jawaban dari persamaan di atas kita memplot dua buah grafik y = x dan y = tan x dan mencari titik potong keduanya (lihat Gambar 5.7).. maka didapatkan rumus untuk pola difraksi minimum : λ a. φ ∏ = a .12)  φ  sin  2  = I = Im I 0 = lim I m  m φ  φ  −>0 2    2  Jika maka Jadi pada φ = 0 yang berarti θ = 0 o .47 Ï.7 di atas didapatkan titik perpotongannya pada : X = 1.

10 merupakan pola distribusi intensitas difraksi oleh celah tunggal dengan perbandingan lebar celah dan panjang gelombang cahaya 1. Red 0. metal Screen Photocell Selenium Multirange Meter Connecting Cord Connecting Cord Kode LASER-02 SLIT-01 LENSA-10 MISTAR-02 LAYAR-06 LAYAR-07 FOTOSEL-01 MMFIS-01 KABEL-14 KABEL-15 Tipe 1. 2. 9.75 m.9. B. 7.Gambar 5. 5. 8. DAFTAR ALAT No. 5 dan 10. 4. 3.5 V 1 6 . 6. 5. Blue Konfigurasi Laser He-Ne Tripod Base Slit Barrel Base Lensa Lens Holder Barrel Base Meter Scale Bench Clamp. small Barrel Base 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Multirange Meter Dry Cell 1. Nama Alat Laser He-Ne Slit. 1. adjustable Lensa Meter Scale Screen. 5.0 mW dengan Holder f = -50 mm 1m 300 x 300 mm Dengan single slit On stem dengan Amplifier 0.75. 10.8.

178214 0. terang sekunder 3 = 3.168634 0.3 4.8 Diffration of Light at slit and edge • Diktat Training Tim Olimpiade Fisika Indonesia 1996. kmà terang sekunder 1 = 1.43.168634 + 0.1 Pola gelap dan terang pada difraksi oleh celah tunggal Pola Difraksi m 1 2 Minimum 3 4 1 Maksimum sekunder Lebar celah rata-rata (mm) : Ë = 632.182256 + 0.8 cm.47 Rata – rata = 0 .182251 + 0. Agus Ananda M.Sc.7 2. terang sekunder 4 = 4.169681 + 0 .1 5.2 3.17775 2 3 4 Tabel 5.2 Pola distribusi intensitas difraksi oleh celah tunggal y (mm) 0 10 20 V (mV) 133.200472 + 0 .Sc IV. DATA HASIL PERCOBAAN Tabel 5.35 a (mm) 0.85 4.6 71 7.182256 0. 2.178214 + 0.8 .16752 0. REFERENSI • PHYWE.459.17775 8 Ym (cm) 1 2.200472 0.D. R = 316.169681 0.III. Ph.8 nm.172975 0.172975 + 0 .5 1. terang sekunder 2 = 2. Volume 1-5.182251 0. University Laboratory Experiments. Yohanes Surya M. Edition 94/95.47.16752 = 0 .

5 0.2 V (mV) 96.2 .5 0.2 0.2 0.1 30 2.5 0.5 0.2 0.1 0.30 40 50 60 70 80 90 100 y : jarak pola difraksi diukur dari terang pusat V : Tegangan yang terbaca pada multimeter Tabel 5.2 0.8 0.6 0.2 0.3 0.3 Pola distribusi intensitas difraksi oleh tepi tajam y (mm) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 y : jarak pola difraksi diukur dari terang pusat V : Tegangan yang terbaca pada multimeter 1 0.5 0.

Maxwell menunjukkan bahwa listrik dan magnet saling mempengaruhi. Newton kesulitan menjelaskan tentang fenomena interferensi cahaya. Padahal pada 1803. muncul pertanyaan apakah cahaya itu merupakan suatu gelombang atau partikel. TEORI KLASIK Pada akhir tahun 1600-an. Pada saat itu teori gelombang tidak dapat menjelaskan polarisasi karena gelombang yang dikenal oleh para ilmuwan bergerak secara pararel. menyebabkan para ilmuwan menganggap teori partikel lah yang paling benar. AUGUSTIN FRESNEL. seperti adanya gelombang yang dapat merambat melalui udara. Persamaan Maxwell ternyata bersesuaian dengan persamaan persamaan sebelumnya tentang cahaya. mengklarifikasi hubungan antara gelombang dan partikel dengan mengembangkan teori yang melibatkan optic dan mekanik. teori gelombang dapat diterima. THOMAS YOUNG sudah menganalisa jenis baru dari interferensi menggunakan teori gelombang. pada akhirnya diterima setelah seorang ilmuwan Perancis. Fresnel dan penggantinya berhasil menggunakan tehnik matematika ini untuk membuat sebuah teori tentang gelombang transversal yang akan menjelaskan fenomena polarisasi. ilmuwan-ilmuwan mengembangkan tehnik matematika untuk menjelaskan fenomena gelombang dalam zat cair dan benda padat. SIR ISAAC NEWTON menyatakan bahwa cahaya adalah partikel. ANALISIS HASIL PERCOBAAN 1. Teori Maxwell juga berhasil mengungkap kecepatan . Ahli matematika Irlandia. Reputasi Newton dan adanya kesulitan menjelaskan tentang polarisasi.V. Kemudian JAMES CLERK MAXWELL memulai percobaan elektromagnetik. Sementara itu. Kemudian Maxwell berhasil menemukan beberapa persamaan (The Four Maxwell’s Equations) untuk menjelaskan electromagnet. Teori gelombang. Percobaan ini meruntuhkan teori gelombang. SIR WILLIAM HAMILTON. Sebagai akibatnya. mendukung ide dari Young. Penjelasan Newton menjelaskan adanya sifat gelombang (wavelike property) dalam penjelasan partikel. Teori Hamilton menjadi penting dalam perkembangan mekanik kuantum. Fresnel mendukung ide Young dengan perhitungan matematik (1815) dan memperkirakan adanya efek baru yang mengejutkan. Selama waktu antara Newton dan Fresnel. Sedangkan pada saat yang sama HUYGENS berpendapat bahwa cahaya adalah gelombang.

ilmuwan Jerman. namun tergantung dari frekuensi electron-elektron tsb. TEORI MODERN Teori Planck tetap bertahan demikian sampai EINSTEIN menunjukkan cara menjelaskan efek foto elektrik. dan Einstein dengan teori kuantumnya. GUSTAV HERTZ.cahaya. MAX PLANCK memecahkan masalah tersebut. para ilmuwan tetap menganggap semua teori fisika bersesuaian dengan teori Planck. kecepatan electron yang dipancarkan tidak tergantung dari intensitas cahaya. karena masing. Pada tahun 1900. 2. • Slit Adjustable (SLIT-01) dengan konfigurasi : * 1 buah Slit * 1 buah Barrel Base Berfungsi sebagai celah yang bias diatur lebar/sempitnya (adjustable). Teori dari Einstein bersesuaian dengan Planck. mendeteksi electromagnet pada frekuensi yang lebih rendah (dari perkiraan teori Maxwell). Walaupun demikian. Einstein akhirnya berpendapat tentang dualisme cahaya. • Lensa (LENSA-10) dengan konfigurasi : * 1 buah Lensa . Maxwell meninggalkan sebuah persoalan yang tidak terpecahkan tentang teori gelombang. Dia menyatakan keberadaan dari kuantum cahaya (light quantum). Menurut Einstein. teori-teori terpenting dihasilkan oleh Maxwell dengan 4 persamaannya. sejumlah energi yang kemudian diketahui sebagai photon. • Laser He-Ne (LASER-02) dengan konfigurasi : * 1 buah Laser He-Ne * 1 buah Tripod Base Berfungsi sebagai sumber cahaya. Semua teori ini adalah benar pada masanya.masing teori didukung dengan sejumlah percobaan. Sampai dua decade kemudian. yaitu cahaya dipandang sebagai gelombang maupun sebagai partikel. Hertz memastikan kebenaran dari teori Maxwell. Teori-teori yang ada kemudian saling melengkapi satu sama lain. Planck.

• Meter Scale (MISTAR-02) dengan konfigurasi : * 1 buah Meter Scale * 1 buah Bench Clamp. yaitu pola difraksi akan membesar. . Berfungsi sebagai penghubung antara Multirange Meter dengan objek. Sedangkan jika kita mempersempit lebar celah maka akan terjadi kebalikannya. 3. Jadi semakin besar a. Pada pola difraksi.5 cm . small * 1 buah Barrel Base Berfungsi untuk mengukur jarak celah – layer. • Multirange Meter (MMFIS-01) dengan konfigurasi : * 1 buah Multirange Meter * 6 buah Dry Cell 1. misal ym = 3.5 V Untuk mengukur intensitas cahaya.* 1 buah Lens Holder * 1 buah Barrel Base Berfungsi untuk menyebarkan cahaya. jika kita memperbesar lebar celah maka pola difraksi akan mengecil. Untuk minimum. Sebagai buktinya. Untuk minimum → a= mλ ym k mλ ym 2 ym + R 2 Untuk maksimum → a = 2 ym + R 2 Kita melihat bahwa antara a (lebar celah) dan ym (jarak pola minimum/maksimum ke-m dari terang pusat/terang sekunder)) selalu berbanding terbalik. • 2 buah Screen (metal) (LAYAR-06-07) Berfungsi untuk menangkap pola difraksi. maka akan semakin kecil ym. • Photocell Sele nium (FOTOSEL-01) Berfungsi untuk menangkap cahaya. • 2 buah Connecting Cord (KABEL-14-15) Berhubungan dengan Multirange Motor. lihat ilustrasi berikut. Dari rumus kita akan membuktikan hal tersebut.

5 0.5 2 + 300 2 = 0 .3) 120 100 V (mV) 80 60 40 20 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 10 Series1 96 30 2.8 0.5 3. melainkan polikromatis. tetapi memakai lilin atau lampu sebagai sumber cahaya maka pola difraksi tidak dapat diamati.6 0.027 cm sekarang ym kita jadikan 7 cm (2 x lipat yang di atas) 5 × 632. Jika pada praktikum tidak digunakan sinar laser. frekuensi.0135 cm --à terlihat bahwa a akan semakin kecil 7 (menjadi 0. sumber cahaya yang digunakan harus monokromatis dan koheren. a= 4.2 Untuk grafik dengan skala yang lebih detail. Sumber cahaya yang polikromatis tidak akan menghasilkan panjang gelombang.5 0.5 0.5 0.5 kali yang di atas) jika nilai ym kita besarkan.2 0.2 0.8 × 10 −7 3. lihat lampiran. dan amplitude yang sama.2 0. Perbedaan-perbedaan pada peristiwa difraksi dan interferensi Hal Difraksi Interferensi .a= 5 × 632 .2) 160 140 120 V (mV) 100 80 60 40 20 0 0 10 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 y (mm) Grafik Pola Distribusi Intensitas oleh Tepi Tajam (Tabel 5.2 0. Sumber cahaya lilin atau lampu tidak monokromatis. Grafik Pola Distribusi Difraksi Oleh Celah Tunggal (Tabel 5. karena itu pola difraksi tidak dapat diamati.8 1 0.2 0. 6. 5.5 0. Agar pola difraksi dapat diamati.1 0.2 y (mm) V (mV) 134 71 7.3 0.8 ×10 −7 7 2 + 3002 = 0.

Dapat pula diilustrasikan sebagai gelombang lingkaran yang terbentuk akibat sebuah kerikil yang kita jatuhkan ke dalam air. Rumus terang Sumber cahaya Adanya konstanta km Satu sumber cahaya yang koheren dan monokromatis Tidak ada konstanta km Dua sumber cahaya yang saling koheren dan saling monokromatis. lihat lampiran. Pola inilah yang disebut dengan pola difraksi Fraunhofer. semakin ke luar semakin kecil (karena intensitas yang tidak sama) 7. gelombang akan mempunyai pola yang berbeda dengan pola asalnya. Pada jarak yang cukup besar (dibandingkan dengan ukuran dari hambatan) akan ada pola iluminasi gelap dan terang. Difraksi jenis ini bisa terjadi jika jarak antara sumber dan hambatan dekat. Sebuah sumber cahaya akan menghasilkan spherical waves. Untuk grafik pola intensitas untuk n = 3. Cahaya dapat diibaratkan sebagai gelombang laut (gelombang yang datar / plane wave). kemudian akan akan berkurang (terang ke 3 akan lebih gelap daripada terang ke 2 dst). Sama (karena intensitasnya di manamana sama besar) Pola Tidak sama. . • Difraksi Fresnel Cahaya dapat berupa gelombang yang berpola lingkaran (spherical wave). Setelah menabrak. Gelombang ini dapat menabrak hambatan. Dari terang pusat ke terang selanjutnya sama besarnya. Setelah spherical waves ini melewati sebuah hambatan akan menghasilkan sebuah pola difraksi Fresnel pada layar atau tembok di mana mereka sampai. Jenis difraksi yang lain : • Difraksi Fraunhofer Difraksi ini bias diilustrasikan sebagai berikut. seperti batu karang. 8.Intensitas Terang pusat lebih besar intensitasnya (paling terang). • Difraksi Sinar X (X-Ray) Adalah metode untuk menentukan struktur atom dan molekul dengan mengukur pola sinar X yang tersebar setelah sinar X tsb melewati kristal.

. Menurut Einstein.... Penurunan rumus intensitasnya : E = E1 + E2 + E3 + E 4 + . adanya getaran muatan listrik akan membangkitkan gelombang elektromagnetik. Lompatan elektron ini bisa terjadi jika ada gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi jatuh di permukaan logam tsb. lebar masing.masing celah = a. Hal ini menjadi dasar lahirnya teori kuantum. • Efek fotolistrik Cahaya dianggap sebagai partikel..) − Em e inδ (1 + e iδ + e 2 i δ + e3 i δ + . Tetapi Maxwell tidak bisa menjelaskan tentang adanya spektrum radiasi dari benda hitam. jarak antar celah = d.) E = Em (1 − e inδ )(1 − e inδ ) (Hukum binomial Newton) E= 1 − eiNδ 1 − ei δ E= e iNδ 2 (e −iN δ −i δ 2 −e −e iNδ 2 ) e iδ 2 (e 2 iδ E =e i (n −1)δ 2 2 )  sin( N δ )   2   sin δ     2  ( ) Jadi intensitas untuk n = 3 :  sin( N δ )  2  I = Im  sin δ     2  2 ( ) 9. + e (n −1) iδ E = Em (1 + eiδ + e 2 i δ + e3 i δ + .) E = Em (1 + e i δ + e 2 i δ + e 3i γ + .Jumlah celah = n . Einstein berpendapat bahwa energi yang keluar dar muka gelombang tidaklah terpisah-pisah. Dua percobaan yang tidak dapat dijelaskan oleh keempat persamaan Maxwell dan cara ahli fisika menjelaskannya • Spektrum radiasi benda hitam.. + En E = Em (1 + e i δ + e 2 iδ + e 3 iδ + . Energi tersebut terkonsentrasi dalam foton.. Lompatan ini akan terjadi jika adanya ambang batas dari cahaya yang menyinari logam tsb. + e ( n −1 )i δ + e niδ + e ( n +1) iδ + . efek ini adalah gejala lompatan elektron dari permukaan logam. Menurut Planck. Menurut Maxwell.. Kemud ian Max Planck berusaha menyempurnakan hasil penelitian Maxwell tsb... cahaya adalah paket-paket energi (yang disebut juga dengan kuanta).) − Em ( einδ + e 2 i δ + e 3i δ + .. ....

Lebar celah kita atur sedemikian rupa sehingga pola difraksinya menjadi jelas. Cara mengukur lebar celah pada praktikum Untuk pola gelap : a. 2. 11. Tandai pula gelap 1. 2. Setelah itu lampu dinyalakan. berapa kali ë harus diperbesar ? (Anggap letak terang sekunder berada di tengah-tengah antara dua gelap). Kemudian tandai terang 1. Dari beberapa variable tersebut. ym 2 + R 2 ym Untuk pola terang sekunder : k m . dst.43. 3. A = gelap kedua. maka kita harus mengetahui terlebih dahulu nilai-nilai dari variable yang digunakan untuk menghitung lebar celah ( a). ym + R 2 ym a= Sesuai rumus di atas.λ . Jadi yang masih harus dicari adalah y dan R. sudah ada beberapa yang diketahui. Langkah berikutnya adalah mencari ym. panjang gelombang = ë. km (1.8 nm). jarak celah – layer = d. Jika A = terang sekunder ketiga. 3. Kemudian R dapat dikethui. m(1 s/d 5). dst pada layer (dalam percobaan kita gunakan kertas).47. yaitu untuk ë (362. 4. lalu ukurlah jarak dari terang/gelap pusat ke terang/gelap lainnya. Dengan demikian kita telah menemukan ym. 3. Lampu ruangan dimatikan. lalu percobaan dilakukan.459. sehingga lebar celah dapat dihitung. 2.47).sin θ = mλ ym sin θ = ym 2 + R 2 a= mλ . Jawab : . dengan m mengukur menggunakan meter scale.10.

konstanta untuk maksimum sekunder (yang terakhir khusus untuk pola terang sekunder). Besarnya pola difraksi berlawanan dengan lebar celah. 4. 5. intensitas terang pusat lebih besar daripada terang-terang selanjutnya (terang 1. Pola difraksi dapat diamati bila sumber cahaya monokromatis dan koheren. Pada difraksi. jarak pola minimum/maksimum dari terang pusat/sekunder.47 λ a ym + d 2 2 2ëa = 3. KESIMPULAN 1. Dilhat dari tabel (5. 6. Jika celah dilebarkan maka pola difraksi akan mengecil. . Pada pengukuran lebar celah untuk difraksi. demikian pula sebaliknya. Difraksi adalah peristiwa pelenturan cahaya dengan sumber cahaya tunggal. dipenagruhi oleh beberapa factor.layar. 3. 2.47ëb λb = 2 λ a = 0.Untuk minimum → a= mλ ym kmλ ym 2λ a 2 ym + d 2 − − − − > Ym = mλ a a ym + d 2 2 Untuk maksimum → a = 2 y m + d 2 − −− > Ym = kmλ y 2 m +d2 Ym = Ym ym + d 2 = 2 3. 2.576369 ëa 3 . dst).1) maka dapat disimpulkan bahwa ym berbanding terbalik dengan a. 3. yaitu : jarak celah.47 VI.