79Mata Kuliah Kritik Sastra

MATA KULIAH KRITIK SASTRA PADA PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA JEPANG UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA Oleh

FAIRUZ M.Hum

PENDAHULUAN Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang berdiri sejak tahun 1985 dengan visi menjadi pusat

pengembangan dan pendidikan Ilmu Bahasa dan Sastra Jepang di Indonesia. Sedangkan misinya adalah untuk menyelenggarakan pendidikan dalam bidang kebahasaan, kesastraan dan kebudayaan kepada para mahasiswa secara profesional yang didukung oleh suasana akademik yang sehat dan dinamis. Sejak didirikan hingga sekarang, kurikulum Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang telah mengalami beberapa kali perubahan sehingga menjadi kurikulum yang berbasis kompetensi. Perubahan ini disesuaikan dengan kebutuhan pengguna lulusan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terbaru. Adapun tujuan dari visi dan misi tersebut di atas adalah untuk mewujudkan lulusan yang menguasai dan trampil dalam bidang bahasa, sastra dan budaya Jepang. Untuk mencapai tujuan tersebut maka Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang menyusun kurikulum dengan 3 bidang konsentrasi yaitu Sastra, Budaya dan Linguistik. Ketiga bidang ini mendapat porsi dan tempat yang penting dalam kurikulum Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Nasional yang berbasis kompetensi.. MATA KULIAH KRITIK SASTRA Posisi kritik sastra dalam studi kesusastraan termasuk dalam wilayah studi keilmuan yaitu wilayah kajian yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sastra, yang memuat berbagai pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami, menelaah, mencari makna dan mengevaluasi suatu karya sastra. Dengan kata lain, wilayah studi keilmuan banyak membicarakan konsep, kaidah-kaidah atau asas-asas umum dalam menelaah karya sastra. Rene Wellek dan Austen Warren(1973:37-46 ) membagi wilayah keilmuan menjadi tiga bidang wilayah studi sastra, yaitu :

1) Teori sastra adalah bidang studi sastra yang memusatkan perhatian pada konsep, prinsip, kategori dan
kriteria kesusastraan.

2) Kritik sastra adalah bidang studi sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra, mendeskripsikan,
menganalisis, menginterpretasikan, memberi komentar, dan memberi penilaian pada karya sastra, dan

1

3) Agar mahasiswa memahami dan dapat mengaplikasikan berbagai kritik sastra dalam berbagai karya sastra 4) Agar mahasiswa dapat mengaplikasikan kritik sastra yang diminati pada tugas akhir/skripsi. Ketiga mata kuliah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang bersifat knowledge untuk melengkapi mata kuliah yang bersifat skill yang mereka dapatkan terkait dengan kejepangan. Mata kuliah Kritik Sastra diberikan pada semester IV setelah mereka mendapatkan mata kuliah Kesusastraan Jepang pada semester sebelumnya. khususnya bagi mahasiswa yang memilih bidang konsentrasi Sastra dan Budaya 2 . Bidang konsentrasi Sastra pada Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Nasional terdiri dari tiga mata kuliah yaitu: 1) Kesusastraan Jepang 3 sks. tetapi pada prakteknya ketiga bidang studi keilmuan ini tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Perbedaan ketiga wilayah studi di atas sangat jelas. Tujuan khusus diadakannya mata kuliah kritik sastra ini adalah sebagai berikut.3) Sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan perkembangan karya sastra dari satu periode ke periode berikutnya. Dapat dikatakan membicarakan kritik sastra berarti juga membicarakan teori sastra dan sejarah sastra tersebut. Sedangkan penyusunan SAP mata kuliah ini dilakukan oleh tim dosen yang membidangi sastra. yang meliputi sastra. aliran sastra. Kritik sastra tidak dapat dilakukan tanpa adanya teori dan sejarah sastra. 2) Agar mahasiswa memahami dan menguasai berbagai pendekatan-pendekatan yang dipakai untuk menganalisis sebuah karya sastra secara kritis. genre sastra. 2) Kritik Sastra 3 sks dan 3) Telaah Karya Sastra 4 sks. Kita tidak dapat menyusun teori sastra tanpa adanya hasil kritik sastra dan sejarah sastra. 1) Agar mahasiswa mengetahui dan memahami sastra dan manfaatnya secara umum. Kritik sastra diberikan 1 TM= 3 sks per minggu. dan gaya-gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra. dengan perincian 2 sks beupa kuliah atau ceramah di kelas dan 1 sks berupa tugas terstruktur. Begitu juga sejarah sastra tidak dapat disusun tanpa adanya teori sastra dan kritik sastra.

istilah multikultural mulai diperkenalkan di Amerika untuk mengugat dominasi budaya kelompok berkulit putih. Pelopor kritik eksistensialisme adalah Jean –Paul Sartre. Kritik Strukturalisme adalah kritik yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk karya sastra. mengugat stereotip-stereotip dan konstruksi sosial budaya yang rasis dan esensialis. 4. kritik feminis Marxis. 7. serta menilai karya-karya penulis wanita. Kritik Eksistensialisme adalah kritik yang berdasarkan pada filsafat eksistensialisme. berorientasi Anglo-sakson dalam berbagai bidang termasuk kesusastraan. Dalam bidang kesusastraan multikultural membahas permasalahan lintas budaya. Tzvetan Todorov mengembangkan tiga aspek dasar tata satra yaitu aspek sintaksis. feminis psikoanalitik. dan Nietzsche. Pendekatan semiotik sastra dimaksudkan 3 . Kritik Multikulturalisme. Kritik Psikoanalisis adalah kritik sastra yang menerapkan kaidah-kaidah psikoanalisis dalam membicarakan karya sastra. 3. semiotik adalah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang. Pada awalnya kritik feminis adalah mengali. 2. menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu merupakan kenyataan sosial (Damono. Psikologi sastra menganalisis secara terperinci pengalaman emosional yang dapat menjadi sumber gangguan jiwa tokohnya. Karya sastra merupakan suatu eksperimen moral yang dituangkan oleh pengarang melalui bahasa. dan proses perlambangan. 1978:1) 6. Jaspers. feminis ideologis dan sebagainya. mengkaji. Kritik Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi atau cerminan masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis. Psikoanalisis pertamakali di perkenalkan oleh Sigmund Freud. Pelopornya adalah Ferdinand de Saussure dan diteruskan oleh Roland Barthes yang mengembangkan teori sintakmatik dan paradikmatik. Kritik Semiotik.MATERI PENGAJARAN KRITIK SASTRA Berikut ini beberapa materi kritik sastra yang pernah diajarkan pada mata kuliah Kritk Sastra: 1. Ajaran pokok eksistensialisme adalah manusia harus hidup seorang diri di alam semesta. Kehidupan manusia akan memiliki makna apabila ia dapat melepaskan diri dari semua ikatan sosial dan kebiasaan yang ada pada masyarakat. Kritik Feminis adalah kritik sastra yang mengarahkan telaahnya kepada wanita. semantik dan verbal. Kierkegaard. 5. Selanjutnya berkembang berbagai ragam kritik feminis antara lain.

TAHAP-TAHAP PENGAJARAN KRITIK SASTRA Untuk dapat melakukan kritik sastra secara baik harus melalui langkah-langkah atau tahapan tahapan yang sistematis. isi atau tema dan amanatnya. Interprestasi meliputi penjelasan pada semua aspek karya sastra. dan mendeskripsikan alurnya. maupun struktur yang membentuknya. mendata latar ruang dan waktu atau sosial tokoh.untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan sastra mempunyai makna. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perbaikan kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Jepang. Dalam tahap ini dapat dilakukan pujian terhadap suatu karya sastra atau malahan sebaliknya PENUTUP Dalam pengajaran kritik sastra hampir tidak menemukan kendala yang berarti. Demikianlah makalah ini saya sampaikan. 4 . Hal ini untuk memaksimalkan pemahaman mahasiswa terhadap kritik sastra yang diajarkan. yaitu : 1) Tahapan Deskripsi yaitu tahap kegiatan memaparkan data sebuah karya sastra berdasarkan urutan cerita. mendeskripsikan tokoh baik secara fisik maupun psikis. Kendala yang ada hanyalah minat baca para mahasiswa yang rendah. Dalam satu semester hanya dipilih antara 4 atau 5 macam kritik sastra untuk diajarkan. baik dari segi bahasanya. Untuk mensiasati hal tersebut saya sebagai pengajar setiap kali tatap muka memberikan tugas meresume suatu buku atau bacaan yang berhubungan dengan kritik sastra yang sedang diajarkan. Dalam metode pengajaran tidak semua kritik sastra diajarkan dalam satu semester. sejarah. 2) Tahapan Penafsiran atau Interprestasi untuk menangkap makna yang tersirat dengan mengemukakan pendapat sendiri. atau dengan kenyataan yang ada pada masyarakat dengan mengunakan teori sastra yang tepat. Maka diharapkan wawasan dan pemahaman mahasiswa bertambah. harapan saya dalam forum ini kita dapat bertukar pendapat dan berbagi pengalaman. membandingkan dengan karya sastra lain. 3) Tahapan Analisis merupakan tahap penguraian untuk mencari makna. Kegiatan deskripsi ini hanya sekedar membaca atau memaparkan data tanpa menafsirkan dan menganalisis. 4) Tahapan Penilaian atau Evaluasi yang merupakan tahap akhir.

1973 RIWAYAT HIDUP PENULIS ( kalau diperlukan) 1991 2007 : Tamat S1 pada Fakultas Sastra Program Studi Jepang Uiversitas Nasional : Tamat S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Tata Sastra. 1985 Tong. 2004 Santosa. Teori. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. John. Soenarjati. Yogyakarta: Kanisius. Ratna. _____________. Teori & Praktik.Zaimar dkk. 2004 Djayanegara. Tzvetan. Puji Drs. Hellwig. Program studi Ilmu 5 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cultural Studies. 1993. 1998 Wellek. Modul kuliah Kritik Sastra. 2000. Todorov. Sapardi. Terjemahan Okke K. Rosemarie Putnam. Jakarta: Universitas Nasional. 2005 Storey. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Rene and Austin Warren. Sosiologi Sastra : Sebuah Pengantar. Damono. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Metode dan Teknik Penulisan Ilmiah Sastra: Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Persfektif Wacana Naratif.S. Membaca Sastra: Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Melani ed.REFERENSI Budianta.Terjemahan Melani Budianta. In the Shadow of Change: Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia. 2003. Nyoman Kutha. Hall Calvin S & Gardner lindzey. Depok: Desantara. Barker. 2010. Jakarta: Gramedia. 1993. Chris. Teori-Teori Psikodinamik. 1978. 2003. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar.Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Jalasutra. Cultural studies dan kajian Budaya Pop. Jakarta: ILDEP dan Jambatan. Yogyakarta: Jalasutra. Jakarta:Indonesiatera. Kreasi Wacana. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Tineke. Bandung: Angkasa. Yogyakarta.

Susastra 6 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful