LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Provider (RS dan Puskesmas). masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Laporan ini. Desember 2012 Tim Peneliti ix . ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. Akhir kata. Surabaya. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. akseptabilitas Dinas Kesehatan. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal.

x .

bersalin.bersalin. nifas. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. saat. nifas. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. Lintas sektor. nifas. xi . Toga. 4) Menganalisis ketersediaan (availability).bersalin. nifas. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan.bersalin.

Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Direktur / Wadir Pelayanan RS. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Pengelola Jampersal RS. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Obsgyn. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Bidan Koordinator. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Kepala desa/lurah & aparat desa. cek list dan data sekunder. pedoman wawancara. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. berdasarkan perhitungan simple random sampling. dan kader Posyandu. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr.

Kab. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. xiii . Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. b. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. kurang pada substansi. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. 3.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. penyediaan sarana. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Secara umum provider (bidan. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. dibatasi pada jumlah anak. 2. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. c. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi.

Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. 4. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. h.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. f. habis pakai dsb. surat keterangan domisili. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. kartu keluarga. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. d. g. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. surat ijin mengemudi. ibu bersalin. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. e. KTP suami.

5. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. b. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. misalnya di kota Ambon. c.3%) sudah di fasilitas kesehatan. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Terutama di daerah kepulauan sarana. bahkan tidak ada SPOG tetap. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. d. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Sisanya masih di xv . o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. b.

7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. Dari penelitian disimpulkan : xvi . Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). d. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. b. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. 8. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. c. c. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. 6. Toga. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. Jamkesda. Lintas sektor. Dari data sasaran didapatkan : a.

Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Ada keterlibatan Toma . Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. brosur. obat.a. bahan habis pakai. IUD). Toga . lebih senang dengan KB suntik. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. xvii . Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. d. c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. b. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. c. provider dan masyarakat.

Jamkesmas. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. pelibatan lintas program. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. xviii . o Menyediakan rumah singgah. lintas sektor dan masyarakat (Toma. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. 2.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. 3. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. dll. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. seperti BOK. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. dengan menerapkan inform consent. Toga. 4. 6. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Jamkesda. 5.

dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. b. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. dan kepulauan. xix . sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. sarana. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Kementerian Perhubungan. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. 2. khususnya di daerah tertinggal. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. c.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. baik aspek tenaga. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. d. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. perbatasan. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. obat dan peralatan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. 1.

xx .

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. pengelola Jampersal. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. bidan dan dr. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. bidan koordinator. Jawa Barat. Maluku. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. pengelola Jamkesmas/Jampersal. NTB. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. verifikator independen. SPOG). Surat keterangan domisili. Kartu Keluarga. sasaran (ibu hamil. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.toga. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. kader. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. KTP suami. Puskesmas (kepala puskesmas. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). dukun dll). Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Sulawesi Tenggara. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. cakupan program). Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. xxi . Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. pengelola Jampersal dan bidan desa). FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. pengelola program KIA dan verifikator). SIM. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis.

Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Hal ini dikarenakan menurut provider. Jamkesda. Askes dan Jamsostek. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. masyarakat dan sasaran. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal.

targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. public health insurance/childbirth insurance managements. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. It was covered based on Minister Decree of Health No. 2012. maternal and neonatal management. East Kalimantan and Riau archipelago. post natal) including communities (TOMA. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. and mayor decrees. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. cildbirth Insurance management. materials in medical services. and verificator for health office). birth. West Java. and the others). health program coverage. midwives. and financing. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii .Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. and obstetric specialists). Moreover. TOGA. hospital (director/head of division for health services. Driver’s License. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. Childbirth Insurance managements. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. targets (pregnant women. coordinator midwife. Health Center (head. Maluku. questionnaire structurely. Southeast Sulawesi. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. Husband ID. Family Card. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. Each area were taken 2 (two) districts/cities. and village midwives). Results of the study shows that In general. a domicile explanation letter. FGD. West Nusa Tenggara. independence verificator. cadres. Student Card and passport. Furthermore.

shelter home. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. In general. or one stop service. Key words: Childbirth Insurance Program. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. xxiv .package. On the other hand. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. local health insurance. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. communities. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. health insurance. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors.

SKM.Ant Sri Handayani. Msi Ingan Ukur Tarigan.Psi.MPH Peneliti 11. Setia Pranata. 2. M. 9. Apt. 14. magister Sains Peran P. R. Rukmini. Dr. S. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. Yunita Fitrianti.. Psikolog... Agung Dwi Laksono. 16.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. 7. Drs. M. Pratiwi. Epid. 1 Nama dr..KM Rozana Ika Agustiya. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . Msi Kepakaran Dokter.M.KG Dra. 13.Wasis. 15.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. Peneliti 12. S.Sp.M.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. Yurika F. drg.Psi. S. M.S. SKM.I. Tety Rachmawati. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8.Kes dr. S. M. Kes. M.Vita K.Sos Wening Widjajanti. Master Kesehatan Peneliti 6. SKM. Ir. drg. Selma Siahaan. Muhammad Agus Mikrajab. S. 5. Niniek L.

xxvi .

..........................................................1............ RINGKASAN EKSEKUTIF ......................................................................................................................................3 FASILITAS KESEHATAN ..............6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI .............. 2....................... BAB I 1....................... 2................................................................................ 2..................................... 2.............................................2 1... DAFTAR ISI........................ ABSTRAK ...1 PENDAHULUAN ................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................2 SASARAN JAMPERSAL .................................................................................................3 BAB II 2.2 PERJANJIAN KERJA SAMA .................................... TINJAUAN PUSTAKA ....... 2...1......... DAFTAR TABEL.......1 TUJUAN JAMPERSAL ...................................................................................................................................... DAFTAR ANGGOTA PENELITI ............1 1.......2....................................................................................................................... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ...............4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ..................................................... SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ...................................1................. DEFINISI ...........................................................1........... DAFTAR GAMBAR ....... FOKUS BIDANG PENELITIAN ..............1..................................... LATAR BELAKANG ............................................... KATA PENGANTAR ................... 2............................................................... 2............ PERTANYAAN PENELITIAN ..................................................1 JAMPERSAL ......................................................................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ......................1...............................2....................... 2.....................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .. 2..................................

..................1 4.................................. BAB III 3............................................................ KERANGKA TEORI .......................... 2................. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ...8 4..................................3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ............................ 2......................... 4..............................2.......1...................1 TUJUAN UMUM ........................6...........4...9 VARIABEL PENELITIAN ........6 MANFAAT PENELITIAN ...............4 PENDANAAN JAMPERSAL ......... 2...................................................3 TEORI KEBIJAKAN ........................2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ............................................................ xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ................................2 BAB IV 4............... KERANGKA OPERASIONAL........... 2........... RESPONDEN PENELITIAN .............. 2.7 4.........1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ........................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ..1 TUJUAN DAN MANFAAT.. TUJUAN PENELITIAN .............3 KEMATIAN MATERNAL .......... 2.......................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK .... KERANGKA PIKIR .......................................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ..................................3 DATA SEKUNDER ............................................................. 4............ 2...1...........2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL .....6..... CARA PENGUMPULAN DATA ......................... METODOLOGI ...........................................5 4...3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ...................................1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN .................................................2 TUJUAN KHUSUS ....... 3.................................................................4 4.......4... 4. 4............................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN .......2 4.... 2...3.........................................3 4.............. 2......... 4..................................................................................................2.....2........3.......................................................... DEFINISI OPERASIONAL ................6...................................4........ 3................1 DEFINISI MATERNAL ............................................3...........................................9............................................... 3....................................

1...1........1.......................4 PERSYARATAN KLAIM ...2..........2.... 5..............2................. 5.2..................................1..........................9.......... 5..................2..2................1.....2 PAKET PELAYANAN .. 5.....................1................2..................... 4...........3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN…………….......2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN........................ 5......2.. 5................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH .........2................. 4........................... 5.7 PENDANAAN .............................................2 KOTA BLITAR .... BERSALIN DAN NIFAS ..............3 KOTA MATARAM ................2................................1..........4.............. 5.................2...1.....2..............2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ....2..3 KEPESERTAAN .................2... 5.................9.................1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ..2................................1................................. 5...2..........8 PROSES PENGAJUAN KLAIM .. 5.....5 KOTA BANDUNG ...... 5....................................................................... 4..... 5....2.................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ........... 5.4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ....1 SASARAN .........................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ............. 29 29 30 30 31 33 5....... 5......2....2........... xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 .2.11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN .................5 PEMBERI LAYANAN ......... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL..........2...................................6 BESARAN TARIF PELAYANAN ...............10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA . 5...............................................1.........................2.........6 KABUPATEN BOGOR ...................... 5........................................ 4............2..................... 5...........................12 JADWAL KEGIATAN ............2........... 5.............1 KABUPATEN SAMPANG ........7 KOTA AMBON ........ 5........

...........................3.................................. 5... 5....2..............2..................5............................... 5..................4........................3. 5..................4.........2.2....3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5.3.... 5..................... 5..............2...........4.......................4...........11 KOTA BALIKPAPAN . 5....................4.4.......................... 5.....................1 PAKET PELAYANAN ..... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5............... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .4................2..................2........ 95 xxx ................................2............2......3 SYARAT KLAIM..................................................2.. 5...........2.....2. SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ..........4.................. 5.......2..........2.....3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .......9 KOTA KENDARI .........2......8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ..................1 PAKET LAYANAN.....................4..............3....... 5.......14 KABUPATEN NATUNA .........................4.....1 DUKUNGAN MANAJEMEN................5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)....4....... 5.13 KOTA BATAM ...2 KEPESERTAAN .........12 KABUPATEN PASSER ........ 5...2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR...... 5............. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5....2..3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.....4......3.5 JASA PELAYANAN ......... 5...2..4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ......2....2.....1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5.......4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5............4 BESARAN TARIF PELAYANAN ..........................................2 KEPESERTAAN/SASARAN .......... 5.......10 KABUPATEN WAKATOBI ..

...................1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ............. 5.............................9...................................................................... 5........................................ 5......5............ 5............................................................................................. xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ..... 5..............................2 KESIMPULAN DAN SARAN .......... LINTAS SEKTOR.......................... BAB VI 6...6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH ........................... 5...2....................................................2 AKSESIBILITAS JARAK .......................2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN ........1 6............ TOGA................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ............. DAFTAR KEPUSTAKAAN ................ 6... SARAN/REKOMENDASI .......................... UCAPAN TERIMA KASIH .........................1 HARAPAN MASYARAKAT . 5..... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN . 5.. 5....................................... KESIMPULAN ................................................6........................................................................ 5......................1 JANGKA PANJANG ...............9 AKSEPTABILITAS TOMA..8.........................1 JANGKA PENDEK ............2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ............................. 6.........8..........5..............8................... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ...5.................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .......................3 ANTARA BUDAYA.......................................................6.........2................ 5..........

xxxii .

4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.10 Gambar 5.7 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.3 Gambar 4.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.2 Gambar 4.4 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .12 Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.9 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.1 Gambar 4.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.8 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.1 Gambar 5.

Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.21 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.20 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.16 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .18 Gambar 5. Kab.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv . Kab. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.19 Gambar 5.17 Gambar 5.15 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .

37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.38 Kunjungan K1.48 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.45 Gambar 5.34 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.43 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.Gambar 5.47 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5. K4.42 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5.50 Kunjungan K1.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.44 Gambar 5.46 Gambar 5.49 Gambar 5.40 Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.33 Gambar 5. Th 2010 s.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.

Gambar 5.53 Gambar 5.55 Gambar 5. TOGA.54 Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .52 Gambar 5. kader.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.51 Gambar 5.

DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.2 Tabel 4.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii .1 Tabel 5. 121 Tabel 5.3 Tabel 5. K4.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal. 27 31 47 95 Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1. Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.

xxxviii .

pengetahuan. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). Menurut data Kemenkes.I. (Kemenkes. jumlah itu masih sangat tinggi. 2011). sehingga diperlukan (SDKI. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.R. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . 2007). pendidian masyarakat. Dengan program jampersal. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. sumberdaya manusia dll.BAB I PENDAHULUAN 1. lingkungan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. kecukupan fasilitas kesehatan. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.1. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal)..

I. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. saat persalinan. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan.R. Selain itu. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. 2011). Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. bagi siapa saja. Oleh karena itu. 2011).di 80 kabupaten/kota (Gani. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi.3 triliun rupiah. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes.I. 2011).R.. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). ibu bersalin. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. 2 .I. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. (Kemenkes R.

6 juta ibu hamil. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal.7 juta ibu hamil pertahun. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. 3 . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Tahun 2011. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. K4. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

nifas. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. Toga. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan.2. akseptabilitas provider dan masyarakat. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. 4 . dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. Lintas sektor. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6.3. Pertanyaan penelitian 1. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia.bersalin.1. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. pertolongan persalinan. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan.

pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. 2.1.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1. 2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2.2. 2. nifas. 2. pertolongan persalinan. TNI/POLRI. dan Swasta.1. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. persalinan.1. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 5 . baik promotif. 2. preventif. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. 2.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.1.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.

2. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. persalinan. Tujuan Jampersal 1. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. c. b. Agar pemahaman menjadi lebih jelas.1. 2. bersalin. 2. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. dan akuntabel. efektif. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. pertolongan persalinan.2. nifas. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Ibu bersalin 3. dan bayi baru lahir. transparan. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. Tujuan Khusus a.2. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Ibu hamil 2. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.

pre eklamsi dan eklamsi 7 . ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. Penyediaan obatobatan. 2. persalinan dan nifas. bersalin.3. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. 1 kali pada triwulan pertama b. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. 1 kali pada triwulan kedua c.2. 2. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. dimana selama hamil. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1.

Kartu Ibu. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. dan 8 .f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. dan Kohort ibu. 3. Implant. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. masing-masing satu kali pada : 1. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit.

3. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. 2. 2. 2002).c) Suntik. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.3. melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. KEMATIAN MATERNAL 2.3. 2. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). Pendanaan Jaminan Persalinan 1. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat.2.000 kelahiran hidup. (Winkjosastro (Ed). percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan.2.4. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. (Winkjosastro (Ed). 2002) 2. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas.1. Hal ini disebabkan 9 .

Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan.3.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. (Winkjosastro (Ed). Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. A. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.4. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. dibeberapa daerah. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. 2002) 2. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup.

Grandemultipara. retensio plasenta. robekan vagina. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : .Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. plasenta akreta. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. dan robekan jalan lahir.Plasenta manual dengan segera dilakukan. sisa plasenta.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. 2. terbanyak dalam dua jam pertama. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : .c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. penyebab utama adalah atoni uteri.Grandemultipara 11 . b) Faktor predisposisi : Anemia. . perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. 3) Trauma persalinan. . plasenta inkreta dan perkreta. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. . Jarak hamil kurang dari 2 tahun. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama.Retensio plasenta tanpa perdarahan.

perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. 2001) 2. keguguran tak terhalangi.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. B.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. Keguguran spontan 2. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. keguguran mengancam. missed abortion. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. Keguguran buatan atas indikasi medis. lembaga pendidikan atau rumah sakit. Keguguran buatan terapeutik 2. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. (Manuaba. keguguran dengan infeksi. perusahaan multi-nasional atau local.. kemiskinan. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . keguguran habitualis. anemia. keguguran tidak lengkap. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. .4. status gizi. Kejadian abortus sulit diketahui.

baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. organisasi. sosial atau budaya. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. 2. dinegosiasikan. yaitu: 1. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan.. sebagai berikut: 13 . dikembangkan atau disusun. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. dilaksanakan. ekonomi. Selanjutnya.4. pelayanan. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. Organisasi. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Dalam ilmu kesehatan masyarakat.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . 2012). dikomunikasikan. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. 2005).1. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan.

TB. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. 2005). temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. 14 . yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. 2007) cit Walt et al (2008). 4. Perumusan kebijakan. Identifikasi masalah/isu. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. disetujui. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif.. reformasi sektor Kesehatan. bagaimana kebijakan dihasilkan. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. Pelaksanaan kebijakan. bagaimana pengawasannya. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. dan dikomunikasikan 3. Evaluasi kebijakan.1.

2.2. dan sumber daya metoda (method resources).3. 1994) cit. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya).4.1. 2. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. yaitu: agenda setting.3. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). 15 . Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable). Teori Kebijakan 2.4.4. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. sumber daya material (material resources). yaitu: a. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). Greena et al (2011). pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. b. Dalam teori ini.

Kondisi sosial. 16 . dan 3) Kemampuan pelaksana. ekonomi. f. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. b) kondisi. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan.2. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan.4. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan.3. d. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. 2010) Menurut Weimer & Vining. 2. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan.c. e. c) intensitas disposisi implementor. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. Teori Weimer & Vining (1999.

dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3.1. Menganalisis ketersediaan (availability).bersalin. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil. Tujuan Khusus 1. 17 . dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8.1. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. Toga. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6.1 Tujuan Penelitian 3. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. Menganalisa akseptabilitas Toma. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.bersalin. nifas.2. nifas.bersalin. nifas. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. Lintas sektor.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3.1.bersalin. nifas. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.

18 . Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A.3. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan.2. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut. B.

yang terdiri dari variabel kepemimpinan. ketersediaan fasyankes. Ketepatan program dan Sasaran. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. Kapasitas Manajerial. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. 4. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. yang terdiri dari variabel kemiskinan. Faktor Kontekstual. Akseptabilitas Kebijakan.BAB IV METODOLOGI 4. 3. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. 2. 19 .1. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak.

2. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. prasarana. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA.4. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. SDM. 2) Upaya pelayanan dan rujukan.2. dan bayi baru lahir. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . nifas. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. Proses dan Output. 3.Ibu hamil. 7. Pusat dan Daerah : .Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . 4. biaya dan jenis pelayanan . pelayanan KB pasca persalinan 6. ibu bersalin. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal .

TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut.3. tahun 2007). Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih.4. Tabel 4. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi.1.

daerah yang tidak menggunakan Jampersal. 22 . Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. dan kader Posyandu. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). b) Kelompok PKK. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. RESPONDEN PENELITIAN 1. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. Kepala desa/lurah & aparat desa. 4. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran).5. 4.Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). kriteria daratan dan kepulauan. kriteria administrasi kota dan kabupaten. 2. Bidan Koordinator.4. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia.

bidan kepala ruangan. Sementara itu.1. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. LSM dll. dokter kandungan dan kebidanan. 3. CARA PENGUMPULAN DATA 4. c) Verifikator 4. 4. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. Pengelola Jampersal RS. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). Observasi partisipasi dilakukan 23 . Kader Posyandu. PKK. dan wawancara mendalam (Indepth interview). verifikator independen. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. Penanggung Jawab program KIA. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi.6.TOMA/TOGA.6.

yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. Bulin dan Bufas) : Data sikap. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan.2.6. ibu melahirkan. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil. 24 . a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. 4. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah.

Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. tahun 2010 dan 2011 25 .2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan.3. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort).2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini.6. 2) Data sikap. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Data sekunder ini meliputi: 1. 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. n = Z2 1 . Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) .

SDM yang terkait dengan Jampersal. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. 4. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. 3. pelayanan nifas. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. pertolongan persalinan. Rumah Sakit. Pemberdayaan Masyarakat 26 .7. 4. persalinan. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. Pembiayaan Jampersal 5. dan Puskesmas. nifas dan bayi baru lahir. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. 5. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3.2. persalinan di 4. pelayanan bayi baru lahir. Pelayanan Jampersal 6. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1.

Variabel Kebijakan Tk. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. prasarana. Kabupaten Kota (Perda. perangkat desa dll. 6.2. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. peraturan pemerintah. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. SDM . Pusat Definisi Operasional 2. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. Definisi Operasional No. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . SK Bupati/Walikota. Puskesmas. keputusan presiden. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. 8. 3. 10. 11. 4. 7. masyarakat. 1. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Jampersal Rumah Sakit. Balai Praktek Swasta. 5. 9. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana.4. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. keputusan menteri. tokoh adat. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011.8.

9.RS.1.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4. KERANGKA OPERASIONAL 4.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi. 4. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.9. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.3 Kerangka Operasional 28 . sedang.

Melakukan uji coba kuesioner.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. 4.2.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .3.9.9.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif . Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : . Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.4. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih .

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. yaitu analisis domain. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. dan analisis tema. Bidan desa) 7. 30 . Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. analisis komponensial.masing provinsi 6. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC).11. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif.10. Sementara itu. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif.5. analisis taksonomi. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. 4. Bidan Puskesmas. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis.

Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 . JADWAL KEGIATAN Tabel 4.12.3.4.

32 .

terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut.1. 5. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. Salah satunya adalah faktor letak geografi. Toga. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. rumah sakit dan puskesmas. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. dan 9) akseptabilitas Toma. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. lintas sektor. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. Dengan kata lain.

Namun. Sulawesi Tenggara (74. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. yaitu Maluku (74. Menurut Badan PPSDMK.56). yaitu Jawa Timur (33. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. Selain itu.25. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Jawa Barat (24. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota.25).56) dan Kalimantan Timur (52. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 .38). lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.14). kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. NTB (45.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal.94). menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan.67) dan Kepulauan Riau (64.09). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Dalam hal ini.

30 %). yaitu Jawa Timur (95.28%) dan Kepulauan Riau (97.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Nusa Tenggara Barat (82.49%). Namun. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. yaitu Jawa Barat (81.84%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Maluku (77.39%).02%). Menurut Badan PPSDMK. Sulawesi Tenggara ( 85. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.44%). apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5. dan Kalimantan Timur (85.35%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional. untuk rasio 35 .

bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. Maluku (77.49%).02%). dibahas juga karakteristik responden ibu hamil.1.38). Karakteristik meliputi umur.56) dan Kalimantan Timur (52. yaitu Jawa Timur (33. Nusa Tenggara Barat (82. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100.44%) dan Kalimantan Timur (85. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . pendidikan dan jumlah anak (paritas).14).35%) masih dibawah angka Nasional.25.67) dan kepulauan Riau (64. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.84%) sedangkan Jawa Barat (81.56). Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57. Bersalin. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.30 %. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.787 orang. sulawesi Tenggara (74. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.94). Karakteristik Responden Ibu Hamil. 5.09). NTB (45. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Kepulauan Riau (97. Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.28%).25). ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal. Jawa Barat (24.1.39%). Sulawesi Tenggara ( 85.

Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang.Gambar 5.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar. Kota Mataram.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Kota Bandung. kepulauan Aru. Wakatobi dan Kota Batam. kira .

Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. (Rukmini dkk.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. 2005). Gambar 5.3. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun).10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Oleh karena itu pada usia reproduksi. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Bahkan di 38 . Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. 2004).

baik dari kelas bawah. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. ada 17. mencapai 17.2. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut.1. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Namun. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%.9%) dan > 35 tahun (25. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.2%). Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. menengah. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6. Namun.70 adalah cukup tinggi.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. atau pun atas. 5. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia.6%).

10% saja. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Berdasarkan pendidikan. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.254 Selain berdasarkan umur. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Sementara itu. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.4. 40 . pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.Gambar 5.

Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10. Selain faktor umur dan pendidikan. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang.5.Gambar 5. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. masih 12. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. 41 . Berdasarkan hasil penelitian. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. 2010).8% pada usia 10 – 14 tahun.5%.9% pada usia 15 -19 tahun). Namun. 41.

Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden.Gambar 5. Dengan kata lain. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil.6. 42 . Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.

Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan.5. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan.2. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. 5.1. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. persalinan. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. Adapun tujuan khususnya adalah 43 .2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012.

Deteksi dini faktor risiko.2. dan akuntabel. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. 5. efektif. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. Pertolongan persalinan normal. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya. 4. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. dan bayi baru lahir. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. ibu nifas dan bayi baru lahir. transparan. Paket Pelayanan a. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. 6. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. 2. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. b. 5. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3.1. c. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. pertolongan persalinan. b.1. bersalin. 7. ibu bersalin.a. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi.2. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 .1. nifas. 5.

5. 5. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. nifas.3.2. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani.1. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu.2. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Untuk 45 . Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. 4.2. pelayanan nifas. persalinan. 3.4. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. 1. b. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). 5.1.

dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. d. 2. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. Klinik Bersalin.2.5. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 .pemenuhan buku KIA di daerah. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga.1. c. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.

6. wajib segera dirujuk 5.000 500.000 Jumlah 80.1. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi.000 100.000 80. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. 2.000 650.2. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir.000 20. 3. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5. 1 kali 650. Pelayanan pasca keguguran. bersalin. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan.1.000 500.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s. 5.7. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. Pendanaan 1. 1 kali 100. 5.1.2. 47 .

5. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan.2. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. 3. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”.21/PB/2011). pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. 7. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). 6. 48 . Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. 4.

8. bersalin. 11. 49 . Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. nifas). Transport rujukan risti. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah.1. 10. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. Proses Pengajuan Klaim 1. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran.2. 8. 9. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

swasta. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung.2.Jampersal. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. 2. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. 4. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. 5. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. 3.5.2. 55 .

2. jumlah yang di verifikasi. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. 6. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas.6. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. Dengan adanya protap adalah 56 . Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi.5. jumlah yang diperbaiki. Bogor. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. yang sudah diberikan adalah obat.2. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. dan bahan habis pakai. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. dan jumlah yang harus dibayar. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. 5. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya.

catatan pelayanan ANC. SMS langsung ke Kepala Dina.7. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. via SMS. seperti Tangerang.2. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Kepesertaan adalah ibu hamil. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. kota Bogor. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. partograf dan catatan nifas.Dalam mengurus Surat Ijin praktek.2. dll. atau lewat Koran. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. Untuk jasa medis. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Protap tersebut. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. 5.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. namun diantara 18 RS tersebut. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. 57 . Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. dan email. Pelaksanaan mengikuti juknis. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III.

Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan.8.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan.2. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. 58 . Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab.2. tapi karena kondisi di Kab. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. 5.

Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. terutama mereka yang berada di pedalaman.” (RS. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. “. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo.beberapa bulan kemaren. Masalahnya. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. tidak semua masyarakat punya KTP. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal.. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. baik yang kaya maupun yang miskin. Di Kab. buku KIA. Karena dari 22 puskesmas yang ada. di desa Ujir. Kep. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal.. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Aru). Kab. 59 .

dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan.-. Kepesertaan adalah ibu hamil.5. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas).2. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .per hari. Dengan demikian . bidan desa.2.2.000.9. Rp. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.dan perawatan bayi Rp. 5.10. 55. 50. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan. 2) pembebasan biaya pengobatan dan.. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada.2.. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp. uang makan Rp. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. puskesmas poned.000. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku.000.35. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus.000. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. sedangkan ANC gratis.

Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Kepesertaan sesuai juknis. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Sebelum ada program Jampersal. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. 61 . yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas.Kesehatan.

saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP.2.2. 5. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah.11. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2.. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.000. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya.500. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. 62 . surat domisili). Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal.

“. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga.12. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan.13.2.2..” (Dinas kesehatan. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. 5. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.2. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal. ini karena adanya perbedaan tarif. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. Paser). tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.2. Kab. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . terkadang kurang tepat sasaran.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal..5.. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. Dengan BPS tidak ada MoU.

Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis.500. 64 . Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. paspor.. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS.. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). mulai th 2011.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI.Jampersal.350. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. SIM.000. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011.yang dianggap terlalu rendah. surat domisili oleh RT/RW.000.

Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. Kebijakan Dinas kesehatan. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan.2. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . 5.2. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal.14. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal.

yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. 2) Perbub untuk tarif di RS. SK Direktur. setiap bulan dipotong 3%. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. yaitu untuk anggota TNI/Polri. 5) Jasa Pelayanan. sedangkan mereka bukan peserta Askes. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. Karena mereka juga abdi masyarakat. Potongan bervariasi. 66 . 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. potongan yang terbesar sampai 50%. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat).

bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. Program ini merupakan program Bupati . rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. 5 tahun 2011. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. peralatan dan bahan habis pakai dll. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen.5. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.1.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . 2) bebas kematian bayi. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. SDM. 5. 4) Bebas TB. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. Dukungan Manajemen. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. Pembiayaan di tingkat Kabupaten.3. 3) bebas gizi buruk. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

dukun. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. “.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. mulai dari kabupaten sampai desa. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. kepala desa.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. dukun dan Toma. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. Di Kota Ambon. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. 73 . kecamatan. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang.. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. muslimat. kader kesehatan.. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. kepolisian. PKK. fatayat atau aisiyah.

6) tugas sebagai penolong persalinan. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. 5. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan. 74 . Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. 4) dukungan sarana.4.. 3) Sosialisasi Jampersal.“. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012.” (RSUD.. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. Kab Sampang). Waktu itu awal-awal juknis 2011. Pada bulan November 2011 di Bali. 5) kendala implementasi Jampersal. bidan praktek swasta. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan.” (Dinkes.untuk sosialisasi jampersal di RS. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. “. 2) dukungan Jampersal pada program KIA. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. bidan desa. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini..2. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. bidan puskesmas.. Kota Mataram).

Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. Ternyata 35.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. 94. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan.6%). akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. Selain itu 94.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. budaya untuk bersalin di non nakes. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44.4% responden bidan juga kurang memadai.Gambar 5. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan.

“. 1 kali pada triwulan pertama. namun ya tergantung dari Kemenkes. sebenarnya sudah bagus. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal.. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. 82.2. untuk masalah ANC. c). Sampang). Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. b).” (Bidan Kab.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. secara umum bidan dapat menerima. Dua kali pada triwulan ketiga .. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a). Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. bisa tiap bulan.6% bidan menyatakan baik.4. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. Bogor).1. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal.cuma gini pak. didapatkan 85. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. “.hal diatas 94. hasil penelitian 5. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali..paket pelayanan yang diberikan program jampersal. 76 .” (Bidan Kab.. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. 1 kali pada triwulan kedua.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. dimana selama hamil. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu.

karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. tapi kalau Poned terlalu jauh. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. misalnya manual plasenta.. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan.bidan melaksanakan pelayanan. Kompetensi bidan. bisa melakukan tindakan selain itu. Sampang). Kab. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan.” (Dinkes. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. Apabila hal tersebut diterapkan. tidak semua bisa diklaim. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. bahkan di Aru 77 .. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. Kita kembalikan ke program. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. boleh mengklaim. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan.

” (Kepala Puskesmas di Kab. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan). Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir.. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan..” (Bidan Kab.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah. Kalau sudah mulai sakit. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. OH tdk boleh lebih.. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya)... sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah.000. “. “. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat.300. 150. Kep. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. “. dan pelayanan KB pasca salin. mungkin merasa lebih enak di rumah.. temuan BPK.000.PNC. Aru). Berbeda dengan Kab. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien.. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan. Jadi klo OH 78 . pelayanan bayi baru lahir. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . “.. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan..masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah.

Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. Padahal klo KN harus dikunjungi. “.” (Bidan Kab Lombok Tengah).000. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung..000..kita hanya membatasi KB pasca persalinan. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. “. 79 .” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). terutama jika ada kasus. bukan termasuk KB diluar itu. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.” (Dinkes. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini.. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Kab.lebih dari 30 hari tidak dibayar.. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. pasien lebih baik membayar sendiri. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100.. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter.

Supaya program KB berjalan dengan baik. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu.” (dinkes. 3).4. “. “. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). “.beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja....menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. Aru).. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan.program jampersal ini disambut baik. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. ibu hamil . selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. “...” (Bidan Kota Blitar).5. Biasanya langsung ke nakersos saja. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. ibu bersalin.2.” (Bidan Kep. mau buat anak berapa juga tetap gratis. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali. neonatal (0-28 hari). 2). 80 .. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4)..” (Bidan Kota Ambon). Kota Balikpapan). terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik.2. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi.

Lombok Tengah). tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. Kartu pelajar (Kab. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP). “.4. Surat Ijin Mengemudi (kab. Lombok Tengah).” ( Bidan Kota Ambon). karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP..2.” (Bidan Kota Ambon). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. tp sampai melahirkan belum juga mengurus.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. 81 . masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. KK juga harus disyahkan camat. KTP suami (Kota Blitar). paspor (Kab. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC.. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. “. Kartu Keluarga (kota Ambon).3. kartu mahasiswa.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP).. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. 5. Batam).

Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan.10. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. 82 . Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD).

tetapi hal tersebut menjadi temuan. “. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. jenis tindakan dan besaran tarif. identitas. “. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh.Kalau tahun yang lalu 2011.. 83 . Aru). kelayakan. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. partograf..jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan.. dientry data soft ware Jampersal. tidak ada potongan dari dinas kesehatan...” (Pengelola Jampersal. disimpan di Puskesmas.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. setelah selesai diverifikasi. Kab Paser). Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana.Gambar 5. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien. Kab..” (Pengelola Jampersal. pengisian teknis. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim. “. bukti kb dll.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim.” (Bidan Kota Blitar).

. “. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu. 5000. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan.. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Di daerah uji coba penelitian Kab. Mojokerto.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Kota Bandung). Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. “. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Kota Bandung). Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp... “.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Ada penggantian obat dan lainnya. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas.. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal. Kab. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. soalnya petugasnya tidak stand by. Proses pengajuan klaim susah..” (Puskesmas. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 .. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan.” (Kepala Dinas.000 untuk jasa. Klaim bisa satu minggu aja. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn.” (Dinas kesehatan. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. “.. Kalau mau klaim harus telpon dulu.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya.

.2. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 .000.4.000. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.000 sampai dengan Rp. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal.000. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes..” (Dinkes Kota Balikpapan).dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp.700. 20.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair.-). Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD.000.000.” (Puskesmas..500. 100.dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . 5. Kota Balikpapan). puskesmas akan mengikuti aturan tersebut. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp. 20. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi..dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari.. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan. 200. persalinan normal Rp.-. PNC Rp. “..4.

” (Puskesmas. makan minum pasien. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. tapi ternyata dibayar cuma segitu. jadi bidan hanya 400 rb..000 untuk persalinan oleh bidan. kalo bisa sampe 700 rb.. “. paket pelayanan sudah cukup. Minta ditambah..” (Bidan kab. persalinan sampai PNC. krn BHP sendiri. Kota Batam). Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. “.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun. Bandung dll.000. dengan tarif bidan yang tinggi. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. 86 . maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan. Batam.” (Bidan Kab. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. kami menanganinya. “.000. BHP dll. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah.” (Puskesmas..sudah sesuai mulai dari ANC.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. Sampang).karena membayar dukun. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. Paser). Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. Bogor).besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang.. kab.000..menurut saya kalau persalinan normal. “. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350.. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan..

.. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.perlu ada regionalisasi tarif. 1).”(Puskesmas.5.. “.2. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep.000.-. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.000. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 .bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. Aru). Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan..000. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri. Kota kendari). Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . 350. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . sedang tarif umum tidak ada.000.4. Kota Kendari). 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. 87 . dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. 5. 500. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. “.000. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. Aru dan kabupaten Wakatobi. Kab.-. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan. 3. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai.. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam.“.” (Dinas kesehatan. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp.000.” (Bikor..tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas.1.-..

Blitar. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. Kabupaten Kepulauan Aru. 88 . sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Mataram. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Lombok tengah. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Ambon.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%.

. Sampang). demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Sering timbul masalah 89 . Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.5. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. 5.4. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Kecuali untuk kasus ginekologi. Namun kenyataannya tidak demikian.” (RSUD. Kab. “. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. ditanggung oleh Jampersal.. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan.3. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Sampang) Provider (Bidan. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat.” (RSUD. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama.. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. “.. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan.3.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes.4. Kab. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG.1.

Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. 5.4. baik negeri maupun swasta).2. RSUD).dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. nifas.” (NN. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. Padahal. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit.3. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko.. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. “. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. bersalin. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama.. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB . Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 .

adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan. “.hambatannya sebetulnya tidak ada.3.. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. Kab.4. Kab. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. “. “. buku nikah..” (Pengelola Jampersal.. Kab.” (RSUD. Selain itu pasien membawa rujukan. 5. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal.3. Sampang).. SIM.. “...pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. 91 .” (Pengelola. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya.” (SPOG. Kep. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram). kartu pelajar. Namun dalam kenyataannya. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. kartu domisili. KK.. RSUD ). Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf . persyaratannya KTP dan rujukan.sungsang ini tidak masuk akal. Aru). Sampang). RSUD). tetapi tetap tidak bisa menolak. keterangan RT. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III.

kota Bandung). Sampang). Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012.4. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. “. “..3. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Kab. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). jadi setelah pasien masuk. 5.klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS.4..” (SPOG. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.Mekanismenya. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan.outnya dikirim.. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s.”(verifikator independen.. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK.

” (bidan RS. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah..tidak manusiawi. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal.000.tarif sedikit. “.000 .. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. namun kalau boleh kami memberikan saran. Kota Bandung). Besaran Jasa medik untuk untuk bidan.2 atau 1. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.” (Pengelola Jampersal RS. apa itu manusiawi. Wakatobi)..083.000 itu Cuma habis untuk obat saja. Masa 1 sectio saya dibayar 150. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.yang saya tahu. Sepaket 2. “.083. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya... kab. RSUD).pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs... Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2.” (SPOG. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). “. “. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. dan bahan habis pakai. Ini masalah personal. Kota Ambon).” (SPOG.. tapi dengan jampersal kan hanya 1.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. karena terlalu rendah.program dan tujuan MDG’s. Obgyn sectio semua. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. “. 93 . jadi yang diterima nakes kecil. RSUD). harus ikhlas.. Bedanya sampai 1 juta per pasien.” (NN.8 juta lah... Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku. belum untuk bahan habis pakai.

tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.2 jt. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. Kota Blitar). Dokternya hanya dapat 750.” (dr.” (RS.. “. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.. Contoh: kasus angina pectoris. “. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien. “.. RSUD).apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio... maka para bidan.” (RS. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III.000 .000 – 1250000.” (SPOG. “. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. Kota Ambon). 94 .. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1.000.. SPOG. itu sudah pas-pasan. Kota Kendari). premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5.

Tabel 5. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5.5. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. rumah sakit pemerintah dan swasta.2. 12.depkes. 2. 7.5. 6. sarana dan prasarana yang memadai. 5. 4. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1.bppsdmk.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. Disamping itu untuk Jampersal. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).5.id 95 .go. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. 11. 14. Klinik bersalin. 3. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. 9. 13. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. 8.

Kabupaten Kepulauan Aru. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. baik itu dokter maupun bidan. Kabupaten kepulauan Aru). Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. kabupaten Bogor.. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal.. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Kabupaten Wakatobi. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa.” (Pengelola Jampersal. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. Kota Bandung. Kota Ambon. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata.

poskesdes maupun pustu.”(Direktur RSUD Paser). sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. SPOG.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP). Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr.” (Puskesmas. SPOG terutama di kabupaten.. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. bisa melahirkan di polindes.7%. Propinsi dan Pusat. 97 . bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). Kota Ambon). (RIFASKES. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD.puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. “.6% sementara di perdesaan 21. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa).. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. “... peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. 2011).

bagaimana dia mau care dengan pasien. pengawasan post operasi yang baik. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. Kota Ambon). Dan tenaga tersebut (dr. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi.” (dr. ruangan ICU. Tapi listrik itu yang masalah.. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya.” (dr. “. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit.. diruangan harus diawasi oleh perawat. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. “. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten.. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. Lombok Tengah). mulai pada saat setelah tidakan. ventilator yang kurang dsb. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut).sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. “.. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan.” (dr SPOG. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. Lombok Tengah).. SGOG. SPOG.. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan.

. 99 . laparatomi. implant.ketersediaan alat. suntik. Kota kendari). obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.. “. pil .. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain.” (Bidan RS.Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. Bogor).seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. “. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP.. Kab. MOW. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB.” (Puskesmas.

Ruang ICU.11. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .Gambar 5.

Balikpapan.Gambar 5.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km.5. Kota Mataram. Bogor. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. 101 . Kepulauan Aru.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Kota Bandung. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri.12. Lombok Tengah. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Kota Blitar. Kota Kendari. Paser.

102 .Gambar 5. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. Sesuai namanya.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. 108 .Gambar 5. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar.

yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. 109 . Kab. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa.18 Puskesmas Benjina. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. Kepulauan Aru. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Dobo. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Kecamatan Aru Tengah. Gambar 5.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja.

terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. yaitu di Namara. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. Jadi. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. dua lainnya masih kosong. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Selibatabata dan Fatujuring. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Jadi bila sakit saat baru 110 . banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Dalam forum diskusi yang sama. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). Dusun Papakula Kecil. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Menurut pengakuan rekan Puskesmas.

Desa Selilau. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. 111 . Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. Bersabarlah kek. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu.. Dan betapa Mbak Ning. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. Setidaknya membutuhkan Rp. yaitu Desa Benjina.. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. 600. Desa Fatujuring. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. Desa Namara. bersabarlah. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin.000. tapi juga tergantung ketersediaan uang. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. Desa Gulili.saja ada kunjungan Posyandu. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. tetapi seringkali juga mundur. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan.. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia).sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. dan wilayah Trans-Maijurung. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan.

1.000.600.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan.-. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. 21. Pada saat pengambilan keputusan. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.000.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. 250.-. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.800. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu.-. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.000.000.000. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. 600.

yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Pulau Kaledupa. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya.Pulau Wangi-wangi. Gambar 5. Pulau Tomia. laut dan udara. serta hari Sabtu via Kendari. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur.

karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang..di sini. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. terutama untuk transfusi darah. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun.. “. 130.-. Sebagai gambaran. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. itupun hanya beroperasi 114 .. bahkan untuk sekedar bank darah. tapi perlu ditingkatkan lagi.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. Kab. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi.. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi. “. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. rujukan harus ke Baubau.000. tokoh agama. nanti akan dijemput ambulan. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut.” (Toma. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah..” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. “. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang. karena tinggal lapor..” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami.

Waitii. 10. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp.sekali sehari. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau.000. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. seberang Pulau Tomia. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 115 . terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . Di wilayah ini.000. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama.. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan.per kali sewa. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Jadi.

Gambar 5. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. Sedang sisanya adalah perawat. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa.20. PTT dari pusat. 4 orang tidak tinggal di tempat. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. mereka tinggal di pulau seberang. wilayah Barat pulau. di Waitii. 116 . Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. Untuk sarana bangunan Puskesmas.

berada di ujung desa. salah satu staf Puskesmas. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. 117 . serta satu staf Dinas Kesehatan. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. Karena kalaupun ditempati. Karena meski tempatnya juga tidak strategis. Dalam sebuah kesempatan. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati.

maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. 5.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. Kab. 5.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.Gambar 5.21. Bila manajemen berkenan memberikan ijin.6. Puskesmas Onemobaa. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit.

masing-masing kabupaten / kota. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. 119 . Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran.6%.22. Bogor.. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. kota Mataram. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan.36.

tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda.23. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. di kep. Sasaran yang diambil adalah 120 . di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. prasarana. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. Gambar 5. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan.

8% 33.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.2% 27. K4. pelayanan K1.0% 72.4% 59.0% 43.3% 100.7% 33. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.3% 41. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1. K4.0% 55.0% 94.3.5% 14. Di Sampang.3% 39.8% 58. bahkan di Kota Kendari 100%.3% 87.1% 66.9% 72. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.0% 57.7% 87.0% 43.0% 50.0% 52.4% 76.0% 87.5% 14.9%.5% 14. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.2% 59.8% 74. K4 dan persalinan 59.3% 63.3% 39.9%.0% 90.3% 66.2% 86. persalinan dan PNC.5% 33.8%.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.3% 63.7% 77.9% dan pelayanan K1.3% 66. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.8% 58. K4 .4% 59.1% 50.8% K1 + K4 + Persalinan 71. Tabel 5.6% 64.1% 68.2% 61.7% 33. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .9% 33.4% 68.1% 66.2% 25.8% 62.2% 27.6% 14.3% 39.9% K1 + K4 72.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.7% 72.

(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.3% 6. persalinan dan PNC.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47.5% 4% 9. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.7% 0% 1.6% 15% B 1.2% 0% 0% 0% 0% 16. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.2% 4.7% 5. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal. Kota Batam 122 .8% 0% 2% 58. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC. Aru.9% C 4. Bogor. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.2% 50% 7.4% 3. Kota Ambon.8% 2. Wakatobi.K4.3% 8.7% 0% 0% 3. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Kep.1% 0% 3.Tabel 5.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2. Di Bogor juga sudah cukup baik.7% 0% 0% 0% 22.4.

Kota Bandung 6.5%) 54 (100. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100. Kota Mataram 4. Kota Kendari 10. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.8%).0%) 0 (0. Kab Lombok Tengah 5.5. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).6%) 0 (0.0%) 60 (100. Wakatobi (2. Kota Ambon 8. Kab Kep Aru 9.0%) 58 (100.0%) 33 (100.2%. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik.0%) 3 (2.7%) 36 (4.0%) 51 (100.7%) 1. Kab Sampang 2.5%) dan Paser (25. Kota Balikpapan 13. KotaBatam 12. Tabel 5.0%) 24 (27.0%) 64 (100. Kab Bogor 7.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan.0%) 63 (72. Kab Wakatobi 11.0%) 9 (25.5%) 0 (0. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 0 (0.0%) 26 (74.0%) 0 (0. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal.0%) 0 (0. Kota Blitar 3.0%) 65 (100. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .0%) 119 (97.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 11 (100.0%) 0 (0.0%) 0 (0.0%) 0 (0.4%) 47 (100.3%) 726 (95.3%) 0 (0. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.

24. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 .24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Gambar 5. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.

Kepulauan Aru. Kota Batam.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram.Gambar 5. Kota Kendari. Bogor.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Bahkan di kepulauan Aru. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. 125 .

eklamsi. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. 2007).Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun.26. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. (Direktorat Ibu. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. Kemenkes. preeklampsi/eklampsi 24 %. infeksi 11 %. Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . 2012).Gambar 5. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. 126 . Infeksi .

Gambar 5. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk.27. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Saat ini. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi.2. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi.6. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. 5.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. 127 . Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat.

“.” (Bidan RS. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi).28. kematian maternal >24 jam. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5.. kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. Kab Bogor). Paser. Bogor). Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi.. 128 .Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. Sampang. Loteng.

RSUD Kab. RSUD Kota Kendari 10. Sampang 2.29. Kep Aru 9. RSUD Kota Blitar 3.Bogor 7.Gambar 5. RSUD kab. RSUD Kota Bandung 6. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). Tabel 5. Bahkan di RSUD Blitar. Loteng. RSUD Kota Mataram 4.6. RSUD Lombok Tengah 5. terutama di RSUD Kota Blitar. RSUD Prov Ambon 8. RSUD kab.

RSUD Prov Balikpapan 13.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.. RSUD Kab. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. “. Paser 14.. kab. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : .tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. RSUD Kab.”(SPOG.RSUD Kota Batam 12. 130 . RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. Sampang) Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. RSUD Sampang.11. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit.

32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. prasarana dan SDM di rumah sakit.Juni 1012 131 .31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. Gambar 5.Gambar 5. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.

7. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat .Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. bersalin. Gambar 5. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. 5. Tapi di Kota Bandung.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun.

Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). KB) dibiayai dengan Jampersal. karena kartu di simpan di Kepala Desa. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. persalinan. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Askes. Karena untuk sasaran Jampersal. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. 133 . Jamkesda. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. harus dilakukan pemilahan dulu. PNC. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. Jamsostek. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. Kenyataan di lapangan. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas.

sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. Yang menarik ada 0.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.Gambar 5.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. 134 .

3%.di sini kan mahal apa2 bu. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal. bahkan Kota Balikpapan sampai 84. Kota Balikpapan). Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5.” (NN.Gambar 5. “..36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal.. Kota Mataram. Kota Bandung. 135 . Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.

” (NN. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. ternyata ada tambahan obat B. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah.. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. “.. 5. Kalo ada tindakan lebih dari itu.” (Toma.” (NN. Jampersal punya syarat – syarat khusus. yaitu IUD dan implant.Jampersal tidak semua gratis. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal.. hanya untuk warga miskin saja. tokoh masyarakat Kota Bandung). Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. Kota Blitar).. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “. obat B yang dibayar. tokoh masyarakat Kota Bandung). Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. masyarakat menanggung.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar. yaitu ikut KB jangka panjang.. “. sudah ada patokan dari pemerintah.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. 136 ..PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan .

yaitu Desa Lamanggau.8.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Rata-rata pendidikan masyarakat 5. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007.467282 (peringkat ke 286 nasional). Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. Selain kesehatan. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. 5. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. 3) Antara Budaya. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi.

Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 2)Pemberian vitamin A . 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan.Kecamatan Praya dan Kopang.8 milyar pada thn 2011.

Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). Namun demikian.37. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC.Gambar 5. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. 2008) : 139 .

memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). 5). 6). Bupati. pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. Camat. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten.Di tingkat provinsi : 1). Fasilitator Kabupaten. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. 4). Unit Pengelola Kegiatan (UPK). membina pengembangan peran serta masyarakat. mengembangkan. 2). 2).pertemuan di kecamatan. Fasilitator Keuangan. Puskesmas. membina administrasi kegiatan. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. Tim Koordinasi Kabupaten. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). 3). Di tingkat kecamatan : 1). Spesialis manajemen informasi sistem. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. 4). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Fasilitator Kecamatan (FK). 2). bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Kelompok Kerja (Pokja). bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. Di tingkat kabupaten : 1). Spesialis PNPM GSC. 3). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. pengendalian laporan keuangan. merupakan 140 .

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .” Gambar 5. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011.40. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes.. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.000..sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan.

Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. terpilih melalui voting. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko.. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 .(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. Pada awalnya. tanpa dipastikan atau di tes. oh kamu hamil. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama.

sampai KB harus ke tenaga kesehatan.” Untuk mengubah pandangan masyarakat.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.kandungannya hilang.” Gambar 5. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. Tapi sekarang sudah tidak. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil.... Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 . kita ajarkan senam.

Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.melahirkan di tenaga kesehatan. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. televisi. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang.4%.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012.42 Kunjungan K1. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. K4. Berikut ini adalah tabel data K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012).000 dari dana PNPM GSC. video player. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 .

menjadi 105.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil.. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil.” Selain merenovasi polindes. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes.7% pada tahun 2012. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat.. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . kepala desa. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. “.

minyak goreng sebanyak 1. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. kacangkacangan.ibu yang mendaftar. telur empat butir. telur rebus satu butir dan biskuit.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. ikan kering seperti cumi.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . kalau yang 200 gram untuk empat hari. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram.. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “...5 kg. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan. ikan teri. gula. tiap bulan dapat PMT ibu hamil.. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. telur. berikut penuturannya: “. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau.

memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur.. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. Menurut Notoatmodjo. dan desentralisasi. menjalin kemitraan. 2007). kemauan. menggali kontribusi masyarakat. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. (http://edukasi. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali. memelihara. mengembangkan gotong-royong masyarakat.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. tidak seberapa. mengatasi.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu.kompasiana.com).. melindungi.Gambar 5.

. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan.. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Seperti penjelasannya berikut ini: “.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. 153 . Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. dia rasakan karena dia yang merencanakan. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. dia yang memantau.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. dia yang melanjutkan..” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. dia yang melaksanakan. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. itu mungkin yang terus dilakukan.

dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Oleh karena itu. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Berikut pernyataannya: 154 . pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Hanya saja. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus.

indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal. yaitu : 1.. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. Selanjutnya ketiga tahap 155 . Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. 2. “..... Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. dukungan layanan. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan.. Partisipasi di dalam tahap perencanaan.ac. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria.unand. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi.id).“.pasca. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan.” Menurut Ericson (dalam Slamet. (http://www.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh.awalnya ego dari dinas itu. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3.

Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. 80% dan 100%. bagaimana cara membuat proposal. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. 1. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan.

PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. “. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 ...PNPM GSC. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. material. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). 2. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu.

Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa.. berikut uraiannya: “.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen... Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. seorang kader dari Dusun Lengarak. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya. Seperti pernyataan informan IT. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.000 per harinya.000..” 158 . KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan. Desa Langko berikut ini : “.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15.

Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. kebanyakan kader adalah perempuan. 5.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. 159 . 3. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. Kabupaten Wakatobi. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil.900 km2 serta panjang garis pantai 251. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). Provinsi Sulawesi Tenggara.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.96 km. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader.8.

Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali.Gambar 5.000. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011).15. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. 8 kelurahan. Namun. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. yaitu pada pukul 09. Setelah tiba di Dermaga Waitii.000 perorang. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. Pulau Wangi-wangi. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan.blogspot. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .-.com/2012/04/peta-wakatobi. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp.00 pagi. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono. Apabila pada pukul 09.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.

Gambar 5. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. terletak di daratan yang agak tinggi. yaitu Desa Lamanggau.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. dan Dusun Dunia Baru. Kabupaten Wakatobi. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. Secara administratif. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada.000 per orang.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun Ketapang. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Sementara itu. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. yaitu Dusun Lasoilo. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo.

Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an.00 hingga 06. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau.perkawinan. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. Bantuan tersebut bermacam-macam. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. sehingga banyak wisatawan.00. tepatnya di sebelah selatan DWR. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. Dengan kata lain. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. Namun. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. yaitu jalur darat dan jalur laut. Selain Desa Lamanggau. Untuk desa Lamanggau.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa.

Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Setelah sampai di gerbang resort. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Dari dermaga. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. November 2012 163 . Setelah tiba di pos satpam. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan.mencapai pos satpam DWR. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. tibalah di Puskesmas Onemobaa. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR.46 dan 5. Gambar 5. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas.

Menurut penuturan kepala puskesmas. namun jika melewati jalan belakang. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. dan loket pendaftaran. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. 164 . Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. Memang jika dilihat dari depan. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. gunting. sampah tersebut tidak terlihat. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. Namun karena tidak dipakai. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. bersalin. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. poli gigi.

49 dan 5. ruang tamu. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. kamar mandi. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Menurut kepala puskesmas. Namun. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah).50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). November 2012 Selain bangunan puskesmas. dan dapur. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. 5. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa.Gambar 5.48. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. 165 .

satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Sementara itu. Dengan kata lain. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. yaitu dua orang perawat. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. dari lima petugas kesehatan tersebut. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. tiga orang perawat.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Namun. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 .

167 . Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. Menurut cerita bidan tersebut. Selain itu. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal.Puskesmas Osuku. Dari empat orang yang ditolong tersebut. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. sejak September 2012. Kini. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau.00 malam hari. Jadi. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. Namun menurutnya. bukan di fasilitas kesehatan. Oleh sebab itu.

keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. Dengan kata lain. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Selain itu.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). Sementara itu. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. bidan tersebut berada di seberang pulau. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 .00 malam hari. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Dari empat persalinan tersebut.

orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut.siap untuk dihubungi kapanpun. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. Oleh sebab itu. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. 169 . tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. Selain itu. Sementara itu. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. yang menurut mereka haus akan darah.

yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. Pada awal pembangunannya. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. listrik. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. pustu. Oleh sebab itu. dan polindes.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. makanan. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. Dengan kata 170 . Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. Selain pustu. Apabila melakukan persalinan di rumah. Selain tersedia puskesmas. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. Selain itu. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. dan perlengkapan lainnya.

Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. dikarenakan ada yang tidak datang. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. khususnya Posyandu Cemara 2. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. yaitu Posyandu Cemara I. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. Namun. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Pada awal tahun 171 . Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau.lain. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita.

Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. baik pangullieh maupun sando. Sejak saat itu. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. pertolongan persalinan. apabila ia menolong persalinan. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . dan balita. Menurut pangullieh. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Akhirnya. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. Sama halnya dengan pangullieh. ibu nifas. banyak pengetahuan tentang kehamilan. Sejak saat itu. Berbeda dengan pangullieh. ibu bersalin. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. Sama halnya dengan pangullieh. putri pangullieh. dan petugas kesehatan. ibu nifas. dan bayi ke petugas kesehatan. Selain itu. sando. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. ibu nifas.2010. melarang ibunya untuk menolong persalinan. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Ibu Ma. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Pada saat itu. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya.

begitu pula sebaliknya. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. Terlepas dari itu. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Dengan kata lain. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. 2010:120) 173 . Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. Namun. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. Sebagai contoh. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto.Waha. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda.

maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Menurut Ibu Ma. dan berlantaikan bambu. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Oleh sebab itu. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. Menurut mereka. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Namun. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Menurut kepercayaan orang Bajo. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut.

2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). atau merasa terganggu. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga.51. 5. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah.53 dan 5.52 . November 2012 175 . Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. mencegah. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. 5. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. 1 2 3 4 Gambar 5.

Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. Namun. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.Berbeda dengan masyarakat Bajo. Gambar 5. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut.

ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. tenaga kesehatan. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. Bagaimana tidak. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. dan budaya masyarakat setempat. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. Selain itu. program tersebut mempunyai banyak hambatan. pada implementasinya. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Secara kasat mata.oleh tenaga kesehatan. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . Namun. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. Oleh sebab itulah. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. Namun. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau.

Dalam kasus ini misalnya. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. 178 . Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. Atau lokasi fasilitas kesehatan.misalnya bidan desa. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. dalam hal ini pustu. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada.fasilitas seadanya. Bagaimana bisa. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Jika keadaan darurat terjadi. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk.

Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. tenaga kesehatan. dan selalu ingin gratis. dan kondisi sosial budaya masyarakat. terjadi empat kasus kematian ibu. Namun.3. Kejadian tersebut 179 . ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. 5. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter.8. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. butuh bidan. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Melalui intervensi Jampersal. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Bagi teman-teman di Puskesmas. Kota Blitar. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. ANTARA BUDAYA. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis.

Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. pendidikan SLTA . 3 Puskesmas. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. F. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. berumur 24 tahun. RSUD. akan tetapi Px 180 . Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. Di tempat kerjanya. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. ritme kerja Px tidak berubah. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. RS Swasta. tetapi kejadian itu masih saja di temui. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal.

Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Karena ukuran obat yang besar. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. Ketika suami membangunkan. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. apakah obat tersebut kembali 181 . Px mengeluh sakit kepala. Setelah itu Px menyapu halaman. akhirnya Px yang mengendarai motor. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Px tidak mau. tidak biasanya Px bangun siang. dan suami menyuruh Px ke dokter. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Pagi harinya.30. Blitar dengan mengendarai motor. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Suami Px tidak mengetahui. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. padahal waktu hamil pertama.adalah pribadi yang tertutup. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. setelah maghrib. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Sepulang dari kerja. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. sedangkan suaminya yang membonceng. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. akhirnya Px memuntahkannya. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja.

rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Waktu suami masuk kamar. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Dilihat dari kondisi lingkungannya. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga.diminum oleh Px atau dibuang. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. karena semalam Px pulang larut. langsung dibawa ke UGD. karena kondisi Px sudah tidak sadar. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Dengan mengendarai sepeda motor. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Px muntah-muntah. Sesampai di puskesmas. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. 182 . Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Suami mengira Px masuk angin. Px dirujuk ke RS. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. pucat dan nafas ngorok. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas.

Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Menurut kader. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Menurut kader.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. selama Px hamil. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil.

Anak pertama laki-laki. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). KASUS 2 : Ny. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. N. sehingga ketika Px tertimpa musibah. tinggal bersama Px. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. kader tidak mengetahuinya. umur 33 tahun. Anak kedua perempuan. kader tidak mengetahuinya. berumur empat tahun. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. Setiap pagi. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Px juga selalu tidur siang. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. sehingga ketika Px tertimpa musibah.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Berdasarkan penjelasan di atas. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 .

karena Px tidak cerita. tapi tidak lama kemudian sembuh. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. akan tetapi Px tidak mau. Menurut tetangga. Px merasa punggungnya sakit. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. Menurut tetangga. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. suami selalu mengantar. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. beberapa hari setelah kontrol. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. Setiap kali Px kontrol ke dokter. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. kondisi Px sudah stres. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan.kaku di tangannya. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Sakit di punggungnya sembuh. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Ketika terakhir kali Px kontrol. kemudian meminumnya. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Keluar rumah seperlunya saja. sejak awal kehamilan.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. Px membeli obat “Trace Minerals”. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. jenis kelamin bayi perempuan. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Px jarang keluar rumah saat hamil. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya.

Ketika akan membuat jus. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Jam 4. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor.30. Setelah Px dianggap stabil. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . Lalu Px menyetrika baju semalaman. Px baru bisa tidur. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Px cerita jika tensinya 170. Px dipindah ke ruang perawatan. dokter di RS tidak ada. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Di UGD Px diinfus. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja.30. Px kejang. Px sudah terbangun. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Hari sabtu malam. Menurut tetangga. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing.“puyer 16” di tempat obat. karena Px merasa kepalanya masih pusing. Pukul 5. setelah sholat Subuh. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil.

• 22-4-2012 jam 07. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 .30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. Yang menemukan pertama kali keponakannya. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal.. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. Bahkan setelah Px meninggal. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px..30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. hasilnya 170/. Setelah ada kasus kematian. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. Berdasarkanpenjelasan di atas. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. • Pukul 10.? mmHg.

umur 31 tahun. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. B. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri.KASUS 3 : Nama Ny. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00.

Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Menurut kader. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Menurut kader.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. selama Px hamil. Kader juga tidak 189 . Untuk resiko-resiko masa kehamilan. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari.

Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Berdasarkan penjelasan di atas. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B.

” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak.. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil.... Takut ada apaapa kalo gak nurut. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan.gak tau mbak.” 191 . pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. beberapa menjawab “tidak tahu”. mereka akan malu. tempat penelitian ini berlangsung.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. “. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. “.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain.

program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses.. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. Di Kota Blitar. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. Lain kasus.wong g tau metu seko ngomah..” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Berkaitan dengan kehamilan. Engkuk ujug2 wis lair anake. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak.embuh prikso nang ndi mbak. “. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya.

Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. janin sungsang). suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. Untuk mengantisipasi hal tersebut. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. bidan. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua.

Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Selain tentang substansi PHBS. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Masalahnya.kehamilan istri. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Di level komunitas. Selama hamil. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. 194 . Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. jika terjadi keluhan pada istri. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Di Puskesmas. bayi dan anak. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. Kalau dilihat dari profesinya. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan.

maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. ini no HP saya. Perasaan tidak enak hati. Sulit untuk dikasiktahu. Kalau ada sesuatu yang spesial..” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. “. Kurang opo.. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan.. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. “. “. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. silahkan hubungi saya. mereka sering datang dan pergi. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. Ini lho ada pelayanan gratis.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong.. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS.kalau ada apa-apa..Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. 195 . sampeyan bisa periksa kehamilan. Terkait dengan kegiatan Jampersal. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan...

. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. Hal 196 .. bukan orang kesehatan. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada... Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau.“. Dengan adanya kasus tersebut.. “. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa. alamiah dan kodrati.saya tidak enak hati. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. kok banyak bicara tentang kesehatan..” “. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu.. ketika terjadi masalah kesehatan. Ketika terjadi kasus kematian maternal. sopo sih kui... Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. Namun demikian. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi.. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter.setelah ada kasus.. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. kok kenyi banget.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader.

Secara medis. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. Pada keempat kasus kematian. Namun. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. faktor geografis dan kendala ekonomi. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 .ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.58 km². suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi.

maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Pada dasarnya. Oleh karena itu. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . pendidikan. sosial dan budaya. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk.

melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. terutama oleh suami. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. masa remaja hingga dewasa. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. 199 . masa kanak-kanak. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. Pemberian bekal imu pada ibu hamil.

kader kesehatan. TOGA. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. 200 . Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. aparat desa dan dukun. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. 5. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. suami dan keluarganya. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. tokoh agama.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. karena dalam Budaya Jawa. LINTAS SEKTOR. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil.9 AKSEPTABILITAS TOMA.

Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. TOGA.Gambar 5. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. dari kepolisian juga sering.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. ulama dan masyarakat. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. kader. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. Sedangkan di Sampang. 201 . selain itu juga melalui media elektronik televisi. memberikan informasi tentang Jampersal.

” (Toma. Di pos kamling.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. “.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. terjadi di Kabupaten Wakatobi. Kita teruskan lagi di masyarakat. Kita sampaikan di situ. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan.. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. kadang kita undang kumpul masyarakat. Selain itu.... “. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun.” ".” 202 . ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. mereka takut ke RS takut biaya mahal. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun... Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. kab. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat.. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. Menurut Toma.. atau langsung dr pintu ke pintu. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. “. Wakatobi).di kelurahan sosialisasinya.setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm.

Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. Di Blitar. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. Masalahnya. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. 203 . Masalahnya. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. Kabupaten Kepulauan Aru.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. diketahui bahwa terdapat 66.

. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. ibu nifas dan bayinya. “. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.” “. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat.. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. Semua orang yang pernah mendengar.. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis.program jampersal ini disambut baik. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan.. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. pertolongan persalinan. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar.. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal. tidak semua bisa berpendapat.. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.” 204 . Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu.” “. Mengenai persyaratan. ibu bersalin. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.

“. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. “program untuk masyarakat miskin”... seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP.program jampersal di masyarakat ini baik. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa.. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru.. saling pandang dan tetap terdiam. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. sasaran dan persyaratannya. Masyarakat banyak yang 205 . Secara garis besar.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. jenis pelayanan yang diberikan... Maluku. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi.” “. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. Di kota Bandung. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru.

KIA. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir..” “. 206 .. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.. pertolongan persalinan. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan.kaya miskin boleh ikut Jampersal. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik... Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. periksa bumil dan KB.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan.. Tentang pelayanan yang diberikan. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal..” “. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal.. masyarakat mengemukakan bahwa: “. Di kota Mataram. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.” “.” “.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.....

. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. “. kalau negara mampu.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan..” “.” “.. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat.program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal.” “.“... Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 .. Dengan adanya program Jampersal. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani.. kalau negara kurang mampu.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal…..” “..masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal.. maka perlu dibatasi. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP.. terutama untuk keluarga miskin saja...program jampersal di masyarakat ini baik.. Berikut ini beberapa komentar masyarakat... Nah... kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal..untuk ikut jampersal..” “.... untuk pengurusan memerlukan waktu.” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota.

. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. “. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan..” ( Toma. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal.” “.9. Wakatobi). harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 .karena belum merasa berkepentingan.” (Toma. 5. Kota Mataram).kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. sebagaimana berikut. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. jangan berhenti. Dalam pelaksanaan suatu program. Dengan merasakan manfaatnya. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. pelayanan rujukan. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. “. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. Kota Bandung).. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan.. Dalam pelaksanaan. “..program Jampersal harus terus dilanjutkan. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.1.” (Toma.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas.. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten.. Kab. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu..

Khusus untuk masyarakat di Natuna.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. Kab.. “.. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Natuna). Kalau di dukun kampung. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. Program Jampersal diharapkan dapat 209 .belum lagi bidan kecil2.” (Toma. misal umurnya sudah banyak. Jadi gimaa mau percaya. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung.. Kab kep.. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. khususnya bagi keluarga tidak mampu. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. langsung tindakan saja. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan.” (Toma. mereka baru. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Natuna). Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Pelan-pelan ditolong persalinannya. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. Kep. “. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang.

210 .

1. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. SDM. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. b. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. KESIMPULAN 1. Materi sosialisasi masih 211 . Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. dibatasi pada jumlah anak. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Secara umum provider ( bidan. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. 3. peralatan dan bahan habis pakai dll. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal.

hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. habis pakai dsb. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. kurang pada substansi. e. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. ibu bersalin.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. c. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. f. surat keterangan domisili. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. kartu keluarga. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. d. surat ijin mengemudi. g.. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. tapi juknis tahun 2012 212 . Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. KTP suami. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. perdarahan sebelum melakukan rujukan.

• Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . misalnya di kota Ambon. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011.sudah lebih sederhana. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. dan distribusi bidan belum merata. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. 4. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. c. b.

• Untuk pengguna Jampersal. b. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Terutama di daerah kepulauan sarana. 214 . Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. 5. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. c. d.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. bahkan tidak ada SPOG tetap. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1).9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan .3% dilakukan di fasilitas kesehatan. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. 95.

hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. 215 . IUD). selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Toma. c. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . Jamkesda (19. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. 8.6%). Dari data didapatkan : a.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Lintas sektor. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal.10% dan Jamsostek (11. b. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. Askes (12. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. dan lebih senang dengan KB suntik. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . Di level komunitas. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan.30%). Toga.6. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Jampersal bersifat portabilitas. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang.

5. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. 3.3. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Jamkesda. 2. bahan habis pakai. dll. seperti BOK. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. lintas sektor dan masyarakat (Toma. Jamkesmas. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. kader) dalam 216 .2. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. 4. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. obat. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. 6. Toga. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. pelibatan lintas program.

Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. b.sosialisasi lebih di tingkatkan. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. Menyediakan rumah singgah. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. 217 . 6. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.2. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. dengan menerapkan inform consent. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. khususnya di daerah tertinggal. Kementerian Perhubungan. c. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati.

tokoh agama. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. dan kepulauan. • Melibatkan tokoh masyarakat.perbatasan. sarana. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. baik aspek tenaga. 218 . kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. obat dan peralatan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan.

kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. selaku Kepala Pusat Humaniora..UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. masyarakat.Kes. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung.. Kasubdit Ibu Nifas dr. 5. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. Puskesmas. 6. atas segala perhatian. Trihono. Sampang.Sc. 3. DR. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. Dengan segala kerendahan hati. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Drg. M. 4. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. M. kesempatan dan dukungan yang diberikan. atas segala perhatian. drg. Toma.. 2. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. RSUD. Riskiyana. 219 . Usman Sumantri. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. Sandi Iljanto. Toga. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. dr.

Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.7. 220 .

Praya. where. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. 2011. Jakarta Badan Pusat Statistik RI.. 221 . Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Rencana Strategis Nasional. Badan Pusat Statistik RI. Departemen Kesehatan RI. Yogyakarta: Kepel Press. USAID. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. (2005) Making Health Policy. 2012. Andersen. Anonym. Jakarta. 16: 403. 2007. Open University Press. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. Praya.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. 1975. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Pearson. Walt G. when. Yogyakarta. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. Public Policy Making. (2006) Maternal mortality: who. ER. 1985. England. 2012. Mays N. Open University Press. 1st ed. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011.. Alexander. Graham WJ. Profil Kesehatan Wakatobi. Jakarta: PT. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). 4th Ed. Macro Internasional. BPS Kab Lombok Tengah.. Carine Ronsmans C. William. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Jogjakarta. J. (2012) Making Health Policy. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Mays N. 1996. Buse K. 368(9542):1189 – 1200. The Lancet. 2nd ed.. Walt G. Analisis Data. Heddy Shri. 2000. Gadjah Mada University Press Emzir. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Administration & Society. and why. Badan Litbangkes RI. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Jakarta. Nelson: London. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Dunn. Depkes RI (2008a) Permenkes No. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. Strukturalisme Levi Strauss. Badan Litbangkes RI. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Rajagrafindo Persada. England. Mitos dan Karya Sastra. 2010. Badan Litbangkes. 2003. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Buse K.

Niniek L Pratiwi. Inside The Academy: Profiling Dr.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. 2011d.Gordon. Ramanif KV. Roger Beech2. Martineauc T. 2011e. Zahr-CLA. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Gulliford. Volume 7 No. Myfanwy Morgan. Soekidjo. No. 2011.. 2012. Sugeng Rahanto.id Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. Kebijakan Jaminan Persalinan. R. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI.12 Greena A. Ian. 2011b. April 2011. Percepatan Penurunan AKI dan AKB.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. 14.. The Policy Process. Qiane X. Press Release.67–173. Martin. Meryl Hudson. Pearsona S. Vol.. India and China. 1999. Jampersal Solusi Persalinan..depkes. Diunduh dari http://www. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. 222 . Jakarta. 6. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. 2011c. 2002. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Mirzoeva T. Health Policy 100. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Green. J. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. A Reader. Administration and Society 6(4):445-8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. BMC Medicine. Gereina N. Jakarta.. David Hughes. 2007. Notoatmodjo. 2011a. Lawrence W. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Rineka Cipta Pranata. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Ahmed S. 1993. Michael (eds). halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI.. 2. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI.go. Jose Figueroa-Munoz.. Birda P. New York. Volume 23. American Journal of Health Behavior. Kementerian Kesehatan RI. Setia. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Badan Litbangkes. Anhb LV. Stanton C. Mukhopadhyayd M. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Barry Gibson1.

Walt G. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). & Gilson L.kompasiana./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT.html. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. http://edukasi.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No.go. Pearson. Health Policy and Planning 23:308–317. RSUD Padang Pariaman. 2010 Metodologi Penelitian.pasca. Murray SF.id/id/wp. Schneider H. & Vining AR. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 3rd Ed. Nyoman Kutha.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. 2005).5th Ed._. http://www.depkes. Weimer DL. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan. http://fp. Prentice-Hall. Brugha R.id/index. Wilujeng. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice.pdf 223 .. http://buk. Weimer DL.15. Shiffman J. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. & Vining AR. RSUD Larantuka dan RSUD Serang.unand.ac.. RSUD Sikka. Rukmini.Jakarta.unram. 2007. tahun 2007.ac.detik. KL.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9.-Rev.pdf http://health.Ratna.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful