P. 1
Riset Evaluasi Jampersal

Riset Evaluasi Jampersal

4.5

|Views: 2,363|Likes:
sebuah evaluasi kebijakan pembiayaan kesehatan
sebuah evaluasi kebijakan pembiayaan kesehatan

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.3.4. Penyebab Kematian Maternal
  • 2.4.1. Analisis Kebijakan Kesehatan
  • 2.4.2. Analisis Implementasi Kebijakan
  • BAB III TUJUAN DAN MANFAAT
  • 3.1.2. Tujuan Khusus
  • 3.2. Manfaat Penelitian
  • BAB IV METODOLOGI
  • 4.2. KERANGKA PIKIR
  • 4.3. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
  • 4.6.2. Pengumpulan data kuantitatif
  • 4.6.3. Data sekunder
  • 4.7. VARIABEL PENELITIAN
  • 4.8. DEFINISI OPERASIONAL
  • 4.10. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
  • 4.11. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN
  • 4.12. JADWAL KEGIATAN
  • BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 5.1.2. Karakteristik Pengguna Jampersal
  • 5.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH
  • 5.2.1.2. Paket Pelayanan
  • 5.2.1.3. Kepesertaan
  • 5.2.1.5. Pemberi Layanan
  • 5.2.1.6. Besaran Tarif pelayanan
  • 5.2.1.7. Pendanaan
  • 5.2.1.8. Proses Pengajuan Klaim
  • 5.2.2.1. Kabupaten Sampang
  • 5.2.2.4. Kabupaten Lombok Tengah
  • 5.2.2.6. Kabupaten Bogor
  • 5.2.2.8. Kabupaten Kepulauan Aru
  • 5.2.2.10. Kabupaten Wakatobi
  • 5.2.2.11. Kota Balikpapan
  • 5.2.2.12. Kabupaten Paser
  • 5.2.2.13. Kota Batam
  • 5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit
  • 5.4.2. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar
  • 5.4.2.4. Besaran Tarif Pelayanan
  • 5.4.2.5. Jasa Pelayanan
  • 5.4.3. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan
  • 5.4.3.1. Paket Layanan
  • 5.4.3.2. Kepesertaan
  • 5.4.3.3. Syarat Klaim
  • 5.4.3.4. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan
  • 5.5.2 Aksesibilitas jarak
  • 5.6.1 Utilitas di Pelayanan Dasar
  • 5.8.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU
  • 5.9.1. Harapan Masyarakat
  • 3.2 SARAN/REKOMENDASI
  • 3.2.1 Jangka pendek
  • UCAPAN TERIMA KASIH
  • DAFTAR KEPUSTAKAAN

i

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF

IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan

Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176
Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749

JANUARI 2013

ii

iii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iv

v

vi

vii

viii

ix

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan
penelitian ini. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan
Persalinan
” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna, masih
diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini.
Laporan ini, memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan
sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di
daerah, akseptabilitas Dinas Kesehatan, Provider (RS dan Puskesmas),
masyarakat sebagai sasaran dan TOMA, TOGA dan lintas sektor terhadap
kebijakan Jampersal, ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana
serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam
pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk
mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota
ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku
kebijakan di tingkat kabupaten/kota, provider pelayanan kesehatan dan sasaran
Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan
Jampersal.

Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam
penyusunan laporan ini. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, semoga
hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas
Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan
dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal
dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam
mewujudkan target MDGs.

Surabaya, Desember 2012

Tim Peneliti

x

xi

RINGKASAN EKSEKUTIF

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN
DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012

Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan
untuk menekan angka kematian ibu bersalin. Program Jampersal dipergunakan
untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum, saat, hingga
setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. Diharapkan dengan
diluncurkannya Jampersal, angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian
bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015.
Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam
upaya mencapai target MDGS.

Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan
Persalinan. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan
Jaminan Persalinan di daerah, 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota
terhadap program Jaminan Persalinan, 3) Menganalisis akseptabilitas
provider(pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu
(hamil,bersalin, nifas, dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap
program Jaminan Persalinan, 4) Menganalisis ketersediaan (availability), akses
(accessibility) terhadap sarana dan prasarana, SDM terhadap program Jaminan
Persalinan, 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil,bersalin,
nifas, dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah
dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan, 6 ) Menganalisis
akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil,bersalin, nifas, dan
KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan, 7)
Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan
pelayanan kesehatan Ibu (hamil,bersalin, nifas, dan KB pasca persalinan) dan
bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa
akseptabilitas Toma, Toga, Lintas sektor, LSM dan organisasi stakeholder lainnya
dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.

xii

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. Disain
penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan
penelitian kualitatif dan kuantitatif. Responden penelitian adalah 1) Pengguna
program Jampersal yaitu ibu hamil, ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu
yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama
periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Besar sampel adalah 70
orang untuk masing-masing Puskesmas, berdasarkan perhitungan simple random
sampling
. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masing-
masing Kabupaten/Kota. Cara pengambilan sampel adalah dengan
mengidentifikasi Ibu hamil, ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang
sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6
bulan terakhir yaitu Oktober 2011 - April 2012 di seluruh desa wilayah kerja
Puskesmas. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list, kemudian diambil 70
responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai
dengan jumlah Ibu hamil, ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang
sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing
desa wilayah kerja Puskesmas, 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA, Kepala
desa/lurah & aparat desa, dan kader Posyandu, 3) Responden sebagai pelaksana
program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar
(Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas, Bidan Koordinator, Pengelola Jampersal
dan Bidan desa, b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr.
Obsgyn, Direktur / Wadir Pelayanan RS, Pengelola Jampersal RS, verifikator
independen dan bidan Kepala Ruangan, 4) Responden sebagai pemegang
kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan, pengelola
Jampersal Dinas Kesehatan, verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang
Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Pengumpulan data dengan wawancara dan
FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur, pedoman wawancara, cek list
dan data sekunder. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di
Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan
Puskesmas dan Toma. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara

xiii

dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Analisis data kualitatif dan
kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal.
Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di
Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut :
1. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati
atau Peraturan walikota. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan
kebijakan lokal. Kab. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal.
2. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap
Jampersal walaupun belum optimal. Muatan politik mempengaruhi
dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam
bentuk sosialisasi, penyediaan sarana. Dukungan pembiayaan belum
banyak terlihat, bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa
daerah dialihkan menjadi Jampersal. Jampersal juga dapat menjadi sumber
pendapatan daerah.
3. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal :
a. Secara umum provider (bidan, SPOG) mendukung terhadap kebijakan
jampersal, hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin, dibatasi
pada jumlah anak.
b. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Keterbatasan
/tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang
fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Materi sosialisasi masih
lebih kearah pertanggungjawaban administrasi, kurang pada substansi.
c. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik
diterima bidan. Hal khusus yang menjadi masukkan :
• Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali.
• Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari
pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai
kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu
misalnya manual plasenta, penanganan perdarahan sebelum
melakukan rujukan.

xiv

• Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari.
• Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi, ada daerah yang
menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB
Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal.
d. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah
satu persyaratan seperti KTP, KTP suami, surat keterangan domisili,
kartu keluarga, surat ijin mengemudi, kartu mahasiswa/pelajar dan
paspor. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik.
e. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara
umum sudah cukup, hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat
ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah.Untuk
daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang
menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal.
f. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya
dianggap terlalu kecil, sehingga beberapa RS terpaksa menarik
tambahan biaya untuk obat, habis pakai dsb.
g. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama, hal ini
disebabkan persyaratan dianggap membebani, tapi juknis tahun 2012
sudah lebih sederhana. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga
verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator.
h. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. Masalah terjadi
untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui
mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. Di
beberapa daerah kesulitan dalam pencairan.
4. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi
ada beberapa hal perlu diperhatikan :
a. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan, satu desa dapat
terdiri beberapa pulau. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali

xv

di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang, dan distribusi bidan belum
merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya.
b. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat
terbatas, hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat
melakukan PKS disebabkan antara lain :
o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan
puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka.
o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi,
misalnya di kota Ambon, Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan
masih lulusan D1.
o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan
bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya
persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN, harus aktif dan
telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu.
o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik.
c. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk
menolong persalinan, di beberapa lokasi kepala Dinas membuat
kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk
persalinan. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas.
d. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS
dengan Dinas Kesehatan. Terutama di daerah kepulauan sarana,
prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas, bahkan tidak ada SPOG
tetap.
5. Pemanfaatan layanan Jampersal :
a. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan
pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam
pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai
dengan KB paska nifas.
b. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan
pada umumnya (95,3%) sudah di fasilitas kesehatan. Sisanya masih di

xvi

tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di
kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses, dan juga
ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Hal ini misalnya terjadi di
Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser.
c. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan
komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat
rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012
dibanding tahun sebelumnya.
d. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit
pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun
sebelumnya.
6. Dari data sasaran didapatkan :
a. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan
lain (Jamkesmas, Jamkesda, Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan
Jampersal (95%), sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum
mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai.
b. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66,7% karena belum
tersosialisasi Jampersal.
c. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang
memanfaatkan pelayanan Jampersal
7. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung
pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Selain pemberdayaan dari
masyarakat langsung melalui kader kesehatan, juga terdapat pembiayaan
kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian
Dalam Negeri.
8. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma, Toga, Lintas sektor, LSM dan
organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh
tenaga kesehatan. Dari penelitian disimpulkan :

xvii

a. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang, diperlukan sarana
pendukung sosialisasi seperti leaflet, brosur. Ada keterlibatan Toma ,
Toga , kader dalam sosialisasi pada masyarakat.
b. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka
panjang (mis. IUD), lebih senang dengan KB suntik.
c. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk
rujukan masih menjadi kendala.
d. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat
terutama masyarakat tidak mampu

Rekomendasi dari penelitian ini adalah :

Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah, provider dan masyarakat.
Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam
pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan
Persalinan adalah sbb:

Jangka pendek

1. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan

lokal
a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati
atau Peraturan Walikota.
b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana
prasarana, obat, bahan habis pakai, dan peralatan kesehatan Puskesmas
dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di
Puskesmas dan Poskesdes secara memadai.
c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi
perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan
yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai
ketentuan yang berlaku.

xviii

d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan
sesuai juknis, bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil, bersalin dan
nifas yang belum mempunyai jaminan.
e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung
pelaksanaan Jampersal, seperti BOK, Jamkesmas, Jamkesda, dll.
f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan
pembayaran klaim Jampersal.
2. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan, pelibatan lintas
program, lintas sektor dan masyarakat (Toma, Toga, kader) dalam sosialisasi
lebih di tingkatkan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk
sosialisasi.
3. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia
pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari
penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”.
4. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu
khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati, di
antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat
keterbatasan tenaga sesuai kompetensi.
5. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan
bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk
penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang, dengan menerapkan
inform consent.
6. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus
dipertimbangkan beberapa pilihan :
o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila
diperlukan.
o Menyediakan rumah singgah.

xix

o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’, dalam pengertian memenuhi
ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan
rujukan.

Jangka Panjang

Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan
kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan.
1. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM
a. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan,
dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur
jalan dan transportasi yang memadai, khususnya di daerah tertinggal,
perbatasan, dan kepulauan, dalam rangka memudahkan proses rujukan
KIA.

b. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK, baik aspek tenaga, sarana,
obat dan peralatan, serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia
layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan
komprehensif.
c. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas
PONED dan RS PONEK.
d. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan
yang harus diperhatikan, sehingga diupayakan adanya pendamping di
wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan .
2. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan
kebijakan Jampersal. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui
pemberian KIE (Konseling, Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk
mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial, seperti hambatan
kultural dan hambatan informasi.

xx

xxi

ABSTRAK

Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan
nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s), pada tahun 2011 Kementerian
Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Kebijakan Jaminan
Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari
tahun 2012. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi
Jaminan Persalinan.

Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi
kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur, Jawa
Barat, NTB, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang
masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. Disain Penelitian secara potong lintang
Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes, pengelola Jampersal,
pengelola program KIA dan verifikator), rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan,
pengelola Jamkesmas/Jampersal, verifikator independen, bidan dan dr. SPOG),
Puskesmas (kepala puskesmas, bidan koordinator, pengelola Jampersal dan bidan desa),
sasaran (ibu hamil, melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma,toga, kader, dukun
dll). Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara
mendalam, FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil
kab/kota, cakupan program). Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam
dilakukan secara content analysis, dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan
mendeskripsikannya dalam bentuk naratif, sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara
diskriptif.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota
mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan
mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan
kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan
Bupati/walikota. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat, bahan habis
pakai dan pembiayaan masih kurang optimal.
Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap
akseptabilitas provider, sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal.
Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP, KTP suami, Surat
keterangan domisili, SIM, Kartu Keluarga, Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor.
Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan.
Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan , kecuali KB paska nifas
perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan
inform consent. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat
transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri
dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi, rumah singgah atau one
stop service
untuk pelayanan dasar dan rujukan.
Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung
kebijakan Jampersal, kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan
jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Besaran klaim di
rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan
kondisi saat ini.

xxii

Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti
Jamkesmas, Jamkesda, Askes dan Jamsostek. Sehungga hanya terjadi pergeseran
pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal.
Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan
penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. Hal ini dikarenakan menurut
provider, masyarakat dan sasaran, kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam
meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada

masyarakat kurang mampu.

Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota

xxiii

Abstract

In order to accelerate achievement of the National Health Development
and Millenium Development Goals, In 2011 Ministry of Health has been released
a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as
“Jampersal”). It was covered based on Minister Decree of Health No.
631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No.
2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance
which was launched January 1, 2012. This study aims to analyze implementing
Childbirth Insurance Program.
It was a applied study to know how implementation of Childbirth
Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java,
West Java, West Nusa Tenggara, Maluku, Southeast Sulawesi, East Kalimantan
and Riau archipelago. Each area were taken 2 (two) districts/cities. Study design
was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head,
cildbirth Insurance management, maternal and neonatal management, and
verificator for health office), hospital (director/head of division for health
services, public health insurance/childbirth insurance managements,
independence verificator, midwives, and obstetric specialists), Health Center
(head, coordinator midwife, Childbirth Insurance managements, and village
midwives), targets (pregnant women, birth, post natal) including communities
(TOMA, TOGA, cadres, and the others). All data were gathered qualitatively
whereas quantitative data with In-depth interview, FGD, questionnaire
structurely, and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities, health
program coverage. Moreover, Qualitative data of FGD and In-depth interviews
results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts
and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively.
Results of the study shows that In general, cities/districts have been
supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5
MDGs goals. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been
assorted every study area. It was caused by conditions and policy local such as it
has been released regent, and mayor decrees; lack of Local Goverment supports
concerns availability of pharmacies, materials in medical services, and financing;
lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that
influences to provider acceptability, targets and communities toward Childbirth
Insurance Program Policy. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID
Card, Husband ID, a domicile explanation letter, Driver’s License, Family Card,
Student Card and passport. Furthermore, Childbirth Insurance portability has
been ran in basic services and referrals. and also Childbirth Insurance Benefit

xxiv

package, except implementation of Family Planning for post natal care has been
stressed in implementation for example applying inform consent special for
remote areas such as islands where transportation and cost have became
barriers. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics
and referrals services for transportation, shelter home, or one stop service. In
general, provider for basic services and referral levels have supported the
Childbirth Insurance Program Policy.
On the other hand, Disbursement of claims is late on provider at Health
Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth
Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied
INA-CBGs. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already
been others Insurance such as public health insurance, local health insurance,
health insurance, and Social Security Programs for Workers so that It just moved
financing from an insurance to Childbirth Insurance.
It suggested that we are need sustainability concerns financing and
revised technical guidance were caused by providers, communities, and targets
that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that
implicated to increase public access to facilities health services mainly family
poors.

Key words: Childbirth Insurance Program, Evaluation of implementing Childbirth
Insurance of 14 Districts/Cities.

xxv

DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI

SUSUNAN TIM PENELITI

No.

Nama

Kepakaran

Peran

1

dr. Tety Rachmawati, Msi

Dokter, magister Sains

P.I.

2. Dr. drg. Niniek L. Pratiwi,
M.Kes

Pemberdayaan Masyarakat

Peneliti

3.

4.

Agung Dwi Laksono,
SKM.,M.Kes
Drs. Setia Pranata, Msi

Analis Kebijakan
Magister sains

Peneliti
Peneliti

5. Ingan Ukur Tarigan, SKM, M.
Epid.

Master Kesehatan

Peneliti

6. Ir.Vita K.M, M.Kes

Master Kesehatan

Peneliti

7. dr. Rukmini, M. Kes.

Manajemen dan Kebijakan
Kesehatan

Peneliti

8. drg. R.Wasis.S.Sp.KG

Pemberdayaan Masyarakat

Peneliti

9. Dra. Selma Siahaan, Apt.,
MHA

Manajemen dan Kebijakan
Kesehatan

Peneliti

10. Muhammad Agus Mikrajab,
SKM.,MPH

Manajemen dan Kebijakan
Kesehatan

Peneliti

11. Yurika F. S.Psi. M.Psi.,
Psikolog.

Perilaku dan Pelayanan
Kesehatan

Peneliti

12. Yunita Fitrianti, S.Ant

Antropologi

Peneliti

13. Sri Handayani. S.Sos

Sosiologi

Peneliti

14. Wening Widjajanti, S.KM

Kesehatan Masyarakat

Peneliti

15. Rozana Ika Agustiya, S.Psi

Psikologi

Peneliti

16. Nugroho Winarto

Pembantu
Administrasi

17. Susilo

Pembantu
Administrasi

18 Supriyadi

Pembantu
Administrasi

xxvi

xxvii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ..............................................................................................

i

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ..................................................................

ii

KATA PENGANTAR ........................................................................................

ix

RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................................

xi

ABSTRAK .......................................................................................................

xxi

DAFTAR ANGGOTA PENELITI ........................................................................

xxv

DAFTAR ISI ....................................................................................................

xxvii

DAFTAR GAMBAR .........................................................................................

xxxiii

DAFTAR TABEL..............................................................................................

xxxvii

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................

xxxix

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................

1

1.1 LATAR BELAKANG ......................................................................

1

1.2 PERTANYAAN PENELITIAN .........................................................

4

1.3 FOKUS BIDANG PENELITIAN .......................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................

5

2.1 DEFINISI .....................................................................................

5

2.1.1 JAMPERSAL ......................................................................

5

2.1.2 PERJANJIAN KERJA SAMA .................................................

5

2.1.3 FASILITAS KESEHATAN .....................................................

5

2.1.4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI
DASAR (PONED) ................................................................

5

2.1.5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI
KOMPREHENSIF (PONEK) ..................................................

5

2.1.6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ................................................

5

2.2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ......................................

6

2.2.1 TUJUAN JAMPERSAL ........................................................

6

2.2.2 SASARAN JAMPERSAL ......................................................

6

xxviii

2.2.3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN
JAMPERSAL .......................................................................

7

2.2.4 PENDANAAN JAMPERSAL .................................................

9

2.3 KEMATIAN MATERNAL ...............................................................

9

2.3.1 DEFINISI MATERNAL .........................................................

9

2.3.2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ......................................

10

2.3.3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ...................................

10

2.4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ...........................................................

13

2.4.1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN ....................................

13

2.4.2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ...............................

15

2.4.3 TEORI KEBIJAKAN .............................................................

15

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT.............................................................

17

3.1 TUJUAN PENELITIAN ..................................................................

17

3.1.1 TUJUAN UMUM ...............................................................

17

3.1.2 TUJUAN KHUSUS ..............................................................

17

3.2 MANFAAT PENELITIAN ...............................................................

18

BAB IV

METODOLOGI ............................................................................

19

4.1 KERANGKA TEORI .......................................................................

19

4.2 KERANGKA PIKIR ........................................................................

20

4.3 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN .............................................

21

4.4 DESAIN/JENIS PENELITIAN .........................................................

22

4.5 RESPONDEN PENELITIAN ...........................................................

22

4.6 CARA PENGUMPULAN DATA ......................................................

23

4.6.1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ..................................

23

4.6.2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ...............................

24

4.6.3 DATA SEKUNDER ..............................................................

25

4.7 VARIABEL PENELITIAN ................................................................

26

4.8 DEFINISI OPERASIONAL ..............................................................

27

4.9 KERANGKA OPERASIONAL ..........................................................

28

4.9.1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ......................

28

xxix

4.9.2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN .......

29

4.9.3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN…………….

29

4.10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ...........................................

30

4.11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ..............................................

30

4.12 JADWAL KEGIATAN ....................................................................

31

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................

33

5.1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK
RESPONDEN ................................................................................

33

5.1.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL, BERSALIN DAN
NIFAS ...............................................................................

36

5.1.2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL .........................

39

5.2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ........

43

5.2.1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ....................................

43

5.2.1.1 SASARAN ............................................................

44

5.2.1.2 PAKET PELAYANAN .............................................

44

5.2.1.3 KEPESERTAAN ....................................................

45

5.2.1.4 PERSYARATAN KLAIM .........................................

45

5.2.1.5 PEMBERI LAYANAN ............................................

46

5.2.1.6 BESARAN TARIF PELAYANAN ..............................

47

5.2.1.7 PENDANAAN ......................................................

47

5.2.1.8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ...............................

49

5.2.2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI
PENELITIAN ......................................................................

49

5.2.2.1 KABUPATEN SAMPANG .......................................

50

5.2.2.2 KOTA BLITAR .......................................................

52

5.2.2.3 KOTA MATARAM .................................................

53

5.2.2.4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ...........................

54

5.2.2.5 KOTA BANDUNG .................................................

55

5.2.2.6 KABUPATEN BOGOR ............................................

56

5.2.2.7 KOTA AMBON .....................................................

57

xxx

5.2.2.8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ............................

58

5.2.2.9 KOTA KENDARI ....................................................

60

5.2.2.10 KABUPATEN WAKATOBI ......................................

60

5.2.2.11 KOTA BALIKPAPAN ..............................................

62

5.2.2.12 KABUPATEN PASSER ...........................................

63

5.2.2.13 KOTA BATAM ......................................................

63

5.2.2.14 KABUPATEN NATUNA .........................................

65

5.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM
JAMPERSAL ................................................................................

67

5.3.1 DUKUNGAN MANAJEMEN, SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN
LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ........................

67

5.4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU
DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN
PERSALINAN ...............................................................................

70
5.4.1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71
5.4.2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.....

74

5.4.2.1 PAKET PELAYANAN .............................................

76

5.4.2.2 KEPESERTAAN/SASARAN ....................................

80
5.4.2.3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 81
5.4.2.4 BESARAN TARIF PELAYANAN ..............................

85

5.4.2.5 JASA PELAYANAN ...............................................

87

5.4.3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN

89

5.4.3.1 PAKET LAYANAN.................................................

89

5.4.3.2 KEPESERTAAN ....................................................

90

5.4.3.3 SYARAT KLAIM....................................................

91
5.4.3.4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92
5.5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY), AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP
SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP
PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .............................................

95

xxxi

5.5.1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN
RUJUKAN ....................................................................................

95

5.5.2 AKSESIBILITAS JARAK .......................................................

101

5.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH
PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN
PERSALINAN ...............................................................................

118

5.6.1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR ..................................

118

5.6.2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .............................

127

5.7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU
DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .......

132

5.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN
PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP
PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .............................................

136

5.8.1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA
MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI
KABUPATEN LOMBOK TENGAH ......................................

137

5.8.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU .............

159

5.8.3 ANTARA BUDAYA, TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI
KOTA BLITAR ...................................................................

179

5.9 AKSEPTABILITAS TOMA, TOGA, LINTAS SEKTOR, LSM DAN
ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN
JAMINAN PERSALINAN ...............................................................

200

5.9.1 HARAPAN MASYARAKAT .................................................

208

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................

211

6.1 KESIMPULAN ..............................................................................

211

6.2 SARAN/REKOMENDASI ..............................................................

216

6.2.1 JANGKA PENDEK ..............................................................

216

6.2.1 JANGKA PANJANG ...........................................................

217

UCAPAN TERIMA KASIH ...............................................................................

219

DAFTAR KEPUSTAKAAN ................................................................................

221

xxxii

xxxiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Nama

Halaman

Gambar 4.1 Kerangka teori penelitian

19

Gambar 4.2 Kerangka pikir penelitian

20

Gambar 4.3 Kerangka operasional penelitian

28

Gambar 4.4 Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan

29

Gambar 5.1 Peta Wilayah Indonesia

35

Gambar 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran
Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012

37

Gambar 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada
Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012

39

Gambar 5.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan
Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal
Tahun 2012

40

Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan
Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi
Jampersal Tahun 2012

41

Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan
Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi
Jampersal Tahun 2012

42

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan.

71

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota

71

Gambar 5.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan

75

Gambar 5.10 Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal di
Pelayanan Dasar

83

Gambar 5.11

Gambar 5.12

Ruang ICU, tempat cuci kamar Operasi di Ruang
kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon
Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit

99-100

101

Gambar 5.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di
kabupaten/Kota “Daratan”

102

xxxiv

Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal
di Kabupaten/Kota “Kepulauan”

102

Gambar 5.15 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

103

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

106

Gambar 5.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru

108

Gambar 5.18 Puskesmas Benjina, Kab. Kepulauan Aru

109

Gambar 5.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi

113

Gambar 5.20 Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia

116

Gambar 5.21
Gambar 5.22

Puskesmas Onemobaa, Kab. Wakatobi
Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di
Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012

118
119

Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota
“Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012

120

Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non
Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober
2011 April 2012

124

Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non
Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober
2011-April 2012

125

Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 - Juni
2012

126

Gambar 5.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 - Juni
2012

127

Gambar 5.28

Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan
Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun
2012

128

Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa
Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun
2012

129

xxxv

Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di
Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012

130

Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di
Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012

131

Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi
Penelitian Tahun 2010- Juni 1012

131

Gambar 5.33 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal 132
Gambar 5.34 Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran

134

Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna
Jampersal

135

Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal
pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian

135

Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.
Lombok Tengah

139

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn
2010-2012

143

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010 -
s.d Okt 2012

145

Gambar 5.40 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC

146

Gambar 5.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM
GSC

148

Gambar 5.42
Gambar 5.43

Kunjungan K1, K4, Linakes Desa Langko Thn 2010-2012
PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko

149
152

Gambar 5.44 Peta Kabupaten Wakatobi

160

Gambar 5.45 Peta Desa Lamanggau

161

Gambar 5.46 Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa

163

Gambar 5.47
Gambar 5.48
Gambar 5.49
Gambar 5.50

Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort
Gedung Puskesmas Onemobaa
Tempat pemeriksaan yang berkarat
Rumah tenaga kesehatan

163
165
165
165

xxxvi

Gambar 5.51
Gambar 5.52
Gambar 5.53
Gambar 5.54
Gambar 5.55
Gambar 5.56

Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo”
Kamar untuk bersalin
Kamar untuk bersalin (tampak luar)
Lantai bersalin
Ibu nifas
Diskusi kelompok masyarakat (TOMA, TOGA, kader, dll)

175
175
175
175
176
201

xxxvii

DAFTAR TABEL

Tabel

Nama

Halaman

Tabel 4.1

Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi, Kabupaten dan Kota
berdasarkan kriteria cakupan LINAKES

21

Tabel 4.2

Definisi Operasional

27

Tabel 4.3

Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian

31

Tabel 5.1

Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012

47

Tabel 5.2

Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan
Pelayanan Jampersal.

95

Tabel 5.3

“Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas
Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573).

121

Tabel 5.4

“Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1, K4,
persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian
Tahun 2012

122

Tabel 5.5

Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi
penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.

123

Tabel 5.6

Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit
di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012

129

xxxviii

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan
nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ), pada tahun 2011
Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal).
Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan
Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor
2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.
(Kemenkes.R.I., 2011).

Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang
per 100 ribu penduduk, jumlah itu masih sangat tinggi. Dengan program
jampersal, diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118
per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu
penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai
target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah
budaya, pendidian masyarakat, pengetahuan, lingkungan, kecukupan fasilitas
kesehatan, sumberdaya manusia dll, sehingga diperlukan intervensi khusus
(SDKI, 2007).

Menurut data Kemenkes, 90 persen kematian ibu disebabkan karena
persalinan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu
membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan
fasilitas kesehatan yang baik. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi
adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat
dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.
Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian
Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins
dalam upaya menurunkan kematian maternal. Hasil studi District Health Account

2

di 80 kabupaten/kota (Gani, 2012) menunjukkan rendahnya komitmen
pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang
memadai, termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan
anak. Oleh karena itu, salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses
masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan
pembiayaan untuk ibu hamil. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan
untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan,
persalinan hingga masa nifas termasuk bayi, bagi siapa saja, tidak tergantung
status sosial ekonomi yang bersangkutan. Dengan ketentuan proses persalinan
dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes.R.I., 2011).
Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas
(pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum
memiliki jaminan persalinan, dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh
jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS)
di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim
Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Selain itu, pemeriksaan
kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi
dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan.
(Kemenkes R.I, 2011).

Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah
adalah Antenatal care (ANC), yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali
sebelum persalinan, saat persalinan, dan empat kali kontrol setelah persalinan
sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Dana yang dikeluarkan untuk
program ini diperkirakan mencapai 2,3 triliun rupiah. Program Jampersal
terintegrasi dengan pelayanan KB, sehingga diharapkan dengan diluncurkannya
Jampersal, angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan
menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga
bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes.R.I, 2011).

3

Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas). Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin, sedangkan
Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. Jampersal
ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011, dengan prioritas dalam
perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4,6 juta ibu hamil. Persalinan yang
sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1,7 juta ibu hamil pertahun. Diharapkan
program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa
meningkatkan jumlah penduduk. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan
ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat
dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1, K4, memastikan
memastikan bidan tinggal di desa, meningkatkan persalinan ditolong tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan, meningkatkan cakupan peserta KB terutama
dengan metode kontrasepsi jangka panjang, serta pemberdayaan keluarga dam
masyarakat dalam bidang kesehatan.
Tahun 2011, Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal
di DIY ,Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten, dari hasil
penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. Dan
tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan
sebelumnya . Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal ,
tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian
yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas.
Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal
dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1,
meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan,
meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka
panjang, serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang
kesehatan.

4

1.2. Pertanyaan penelitian

1. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) dan kendala dalam
implementasi Jaminan Persalinan?
2. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan
bayi terhadap program Jaminan Persalinan ?
3. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider
dalam Implementasi Jaminan Persalinan ?
4. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil,bersalin, nifas, dan
KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah
dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan
5. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu
dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ?
6. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma, Toga, Lintas
sektor, LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan
pelayanan Jaminan Persalinan?

1.3. Fokus bidang penelitian

Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah
dalam pembiayaan, ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya
manusia, akseptabilitas provider dan masyarakat, upaya yang dilakukan provider
pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam
upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,
dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka
mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB.

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012)
2.1.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan
yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan
nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru
lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
2.1.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang
ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola
Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan
pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak
dalam jaminan persalinan.
2.1.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat
yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, TNI/POLRI, dan Swasta.

2.1.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED)

adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan
pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.

2.1.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif
(PONEK)
adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam
memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir
emergensi komprehensif.
2.1.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.
2.2. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012)

Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas
dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Manfaat yang diterima oleh
penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan,
persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.

6

2.2.1. Tujuan Jampersal
1. Tujuan Umum

Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan,
nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam
rangka menurunkan AKI dan AKB.

2. Tujuan Khusus

a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan
persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang
kompeten.
b. Meningkatnya cakupan pelayanan :
1) Bayi baru lahir.
2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
c. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.

2.2.2. Sasaran Jampersal

Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah :
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak
mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan
baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI
dan AKB dari suatu proses persalinan. Agar pemahaman menjadi lebih jelas,
batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada

7

ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai
batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses
persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses
persalinan.

2.2.3. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan

Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana
diuraikan dibawah ini, sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai
kelainan dan penyakit. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi:

1. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada
buku Pedoman KIA, dimana selama hamil, ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali
disertai konseling KB dengan frekuensi:
a. 1 kali pada triwulan pertama
b. 1 kali pada triwulan kedua
c. 2 kali pada triwulan ketiga
Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas
pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. Penyediaan obat-
obatan, reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan
kehamilan, persalinan dan nifas, dan KB pasca salin serta komplikasi yang
mencakup seluruh sasaran ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir
menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota.

2. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan
antara lain :

a) Penatalaksanaan abortus imminen, abortus inkompletus dan missed
abortion
b) Penatalaksanaan mola hidatidosa
c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu
e) Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsi

8

f) Perdarahan pada masa kehamilan
g) Decompensatio cordis pada kehamilan
h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia
kehamilan
i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa.

Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan :

1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari
2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua)

hari

3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3
(tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat
pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA, Kartu Ibu, dan
Kohort ibu.

3. Pelayanan nifas (Post Natal Care)

Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali,
masing-masing satu kali pada :
1. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2)
2. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7)
3. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28)
4. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42)
Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali, terkecuali pelayanan
Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit, maka pelayanan nifas
dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut.
Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan
dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Jenis Pelayanan Keluarga
Berencana pasca salin antara lain :
a) Kontrasepsi mantap (Kontap)
b) IUD, Implant, dan

9

c) Suntik.

2.2.4. Pendanaan Jaminan Persalinan

1. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan
rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN
yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program, percepatan
pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan.
2. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu)
adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan
pelayanan dasar peserta Jamkesmas, pelayanan persalinan serta rujukan
risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum
memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.

2.3. KEMATIAN MATERNAL
2.3.1. Defenisi

Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan
atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan, tidak tergantung dari
lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan
kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh
penyebab tambahan lainnya. (Winkjosastro (Ed), 2002)

2.3.2. Tingkat Kematian Maternal

Berdasarkan kesepakatan Internasional, tingkat kematian maternal
didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam
100.000 kelahiran hidup. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut
Maternal Mortality Rasio, sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate
seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah
wanita usia reproduksi (15-44 tahun). (Winkjosastro (Ed), 2002). Data kematian
maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. Hal ini disebabkan

10

oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian, menurut
perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup.
dibeberapa daerah, selain menerima wanita untuk persalinan yang telah
mendaftarkan diri terlebih dahulu, menerima pula penderita-penderita yang
dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. (Winkjosastro
(Ed), 2002)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->