LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

Surabaya. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Laporan ini. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. Provider (RS dan Puskesmas). masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. akseptabilitas Dinas Kesehatan. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Desember 2012 Tim Peneliti ix . masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. Akhir kata.

x .

LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. Lintas sektor.bersalin. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. nifas. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. nifas. xi .bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan.bersalin. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. Toga. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. nifas. saat. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan.

Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. berdasarkan perhitungan simple random sampling. dan kader Posyandu. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Pengelola Jampersal dan Bidan desa.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Kepala desa/lurah & aparat desa. Bidan Koordinator. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. cek list dan data sekunder. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. Pengelola Jampersal RS. Obsgyn. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Direktur / Wadir Pelayanan RS. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. pedoman wawancara. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan.

Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. kurang pada substansi. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. b. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. 2. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Kab. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. 3. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Secara umum provider (bidan. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. c. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. xiii . Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. penyediaan sarana. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. dibatasi pada jumlah anak.

Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. surat ijin mengemudi. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. ibu bersalin. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. 4. surat keterangan domisili. habis pakai dsb. kartu keluarga. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. KTP suami. satu desa dapat terdiri beberapa pulau.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. g. f. h. d. e. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi.

Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Terutama di daerah kepulauan sarana. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. c. b. 5. misalnya di kota Ambon. d. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Sisanya masih di xv . o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. b. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang.3%) sudah di fasilitas kesehatan. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. bahkan tidak ada SPOG tetap.

Dari data sasaran didapatkan : a. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Jamkesda. c. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. c. Lintas sektor. Dari penelitian disimpulkan : xvi .tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. d. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. Toga. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. b. 8. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. 6. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66.

Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis.a. Toga . brosur. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. bahan habis pakai. IUD). Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. b. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. Ada keterlibatan Toma . xvii . provider dan masyarakat. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. obat. lebih senang dengan KB suntik. d. c. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku.

3. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. Jamkesda. seperti BOK. Toga. pelibatan lintas program. lintas sektor dan masyarakat (Toma. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. dengan menerapkan inform consent. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. 5. dll. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. Jamkesmas. 6. 4. o Menyediakan rumah singgah. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. 2. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. xviii . Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan.

Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. baik aspek tenaga. sarana. khususnya di daerah tertinggal. perbatasan. 1. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. c. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. d. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Perhubungan. dan kepulauan. b. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. xix . Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. 2. obat dan peralatan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi.

xx .

Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. kader. Sulawesi Tenggara. verifikator independen. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. Surat keterangan domisili. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. dukun dll). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. bidan koordinator. pengelola Jamkesmas/Jampersal. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. pengelola program KIA dan verifikator). Jawa Barat. pengelola Jampersal dan bidan desa). rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. pengelola Jampersal.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. bidan dan dr. Puskesmas (kepala puskesmas. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. SPOG). xxi . sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. sasaran (ibu hamil.toga. SIM. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. NTB. cakupan program). Maluku. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. KTP suami. Kartu Keluarga.

Askes dan Jamsostek. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. Hal ini dikarenakan menurut provider. Jamkesda. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. masyarakat dan sasaran. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .

materials in medical services. Furthermore. public health insurance/childbirth insurance managements. Husband ID. and village midwives). coordinator midwife. Each area were taken 2 (two) districts/cities. independence verificator.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. Moreover. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. a domicile explanation letter. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. birth. East Kalimantan and Riau archipelago. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. cadres. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. West Java. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. Southeast Sulawesi. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. West Nusa Tenggara. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. 2012. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. cildbirth Insurance management. and verificator for health office). post natal) including communities (TOMA. It was covered based on Minister Decree of Health No. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. targets (pregnant women. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. FGD. Results of the study shows that In general. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . Family Card. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. maternal and neonatal management. Health Center (head. Childbirth Insurance managements. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. hospital (director/head of division for health services. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. midwives. and obstetric specialists). This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. Student Card and passport. and financing. health program coverage. and the others). and mayor decrees. questionnaire structurely. Driver’s License. Maluku. TOGA.

and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. In general. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. health insurance. Key words: Childbirth Insurance Program. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. communities. On the other hand.package. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. local health insurance. or one stop service. xxiv . and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. shelter home.

SKM.Ant Sri Handayani.I..Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4.Sos Wening Widjajanti..S.Psi.KG Dra. Setia Pranata. 16. Pratiwi. 13. S. S. M. drg.MPH Peneliti 11. drg. Ir..M. Selma Siahaan. Muhammad Agus Mikrajab. 2. Apt.Kes dr. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10. Yurika F. Agung Dwi Laksono. Niniek L. S. M. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. SKM. 9. Yunita Fitrianti. magister Sains Peran P. Tety Rachmawati.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. 15. Drs. Rukmini. Epid. Msi Kepakaran Dokter. M. Master Kesehatan Peneliti 6.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. S.Sp.. 7.KM Rozana Ika Agustiya. Psikolog. Peneliti 12. R. Dr.Psi.M. M. S. SKM. Msi Ingan Ukur Tarigan. M. 1 Nama dr.Wasis.Vita K. 5. 14. Kes.

xxvi .

..............................2............................................................ ABSTRAK .........2 PERJANJIAN KERJA SAMA ......................................1.6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI .................................................................................................................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ..........................................................................................................1 JAMPERSAL ............2......................................................3 BAB II 2..................................................... KATA PENGANTAR ....................................................1 PENDAHULUAN ................................................... 2........1...................................................................1............................... DAFTAR TABEL.................................. LATAR BELAKANG ............................................ 2.................................... PERTANYAAN PENELITIAN ....................................2 SASARAN JAMPERSAL ......................................... 2....... RINGKASAN EKSEKUTIF ......... TINJAUAN PUSTAKA ............... BAB I 1............................................. DAFTAR LAMPIRAN .................. DAFTAR ISI......................................................... 2.........................................................................................................3 FASILITAS KESEHATAN ....................... 2................... 2.................................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) .................................................. 2........... 2................................................................ FOKUS BIDANG PENELITIAN ...................................................................................................................................................... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ...................................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ..............................................1 TUJUAN JAMPERSAL . DAFTAR GAMBAR .................1...1.........2 1.........................1 1.................................................... DEFINISI ................ DAFTAR ANGGOTA PENELITI .DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............... SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ............. 2.....1...............................

............................................................................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ...9 VARIABEL PENELITIAN ...................... 2......4 PENDANAAN JAMPERSAL ...................................................... KERANGKA TEORI ..6 MANFAAT PENELITIAN .............3............ DESAIN/JENIS PENELITIAN ............................... 4..........................3 4......7 4.......... TUJUAN PENELITIAN ...................... 2...........1 DEFINISI MATERNAL ..............................................................................................................................................................................8 4...........2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL .............................. RESPONDEN PENELITIAN ..............................1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ........6...........2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ..........1........2 TUJUAN KHUSUS .................................... DEFINISI OPERASIONAL ...................1 TUJUAN UMUM ............................. METODOLOGI .......................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN .................................3 TEORI KEBIJAKAN ....6..................................................... 4......... TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN .....3 KEMATIAN MATERNAL .................................................. 2..... 4..................................2..................6...4 4.... KERANGKA PIKIR ............................3................. KERANGKA OPERASIONAL....... BAB III 3.............................3.......... 4.......... 2.....4...................3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ................ 4...........................4.....................2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ..................................1.3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ....... 2...2 4......2.................. 2..............................4..... 2...........................1 TUJUAN DAN MANFAAT..........................5 4......................... 3..........1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ............................................................ 3............. CARA PENGUMPULAN DATA ...................................... 3..................................... 2..2............9.................. 2....... xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 .............1 4.....3 DATA SEKUNDER .....................................................................................................................2 BAB IV 4....

............. 5.... 4....1... 5..7 PENDANAAN ........5 PEMBERI LAYANAN .................2........ 5..........1.......9....................................2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ...........................9.1 KABUPATEN SAMPANG .......2.. 5......2...............................1....... 5.............. 29 29 30 30 31 33 5...................11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ........ 5....1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ...................................2 PAKET PELAYANAN .................................................6 BESARAN TARIF PELAYANAN .. 4..............2.........................5 KOTA BANDUNG ..................2...........................1......................................................................................2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN............ 5......8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ....2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ....2..2..... 5................2.........2 KOTA BLITAR .2....4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ...2................2......3 KEPESERTAAN ............1............................2.................1........1..2. 5.................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ............1........................1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL.....................1....... 5..... 5...............2..7 KOTA AMBON .............2..................................3 KOTA MATARAM ................12 JADWAL KEGIATAN ........ 5...................4 PERSYARATAN KLAIM .....................1 SASARAN .............. 5...........................2.................................. BERSALIN DAN NIFAS .2................1.6 KABUPATEN BOGOR ..2..................2....... 5............. 5..... 4............................................................................................... 4........ xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 ..... 5............2.10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA .... 5...3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………......2......4..................2...............................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ..... 5........... 5.......2....... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ...2......... 5.........................

.......................................................3............1 DUKUNGAN MANAJEMEN.....3....11 KOTA BALIKPAPAN ..........3. 5.................5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).............2.................2.....8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ............ 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5.......1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5......... 5...........2...............2 KEPESERTAAN . AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..1 PAKET LAYANAN................. 5...12 KABUPATEN PASSER .4............2.............2............................2.........................4.............5..... 5.................................... 5..................2. 5........2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.........2.......9 KOTA KENDARI ...2................... 5................1 PAKET PELAYANAN ...................2.................14 KABUPATEN NATUNA .13 KOTA BATAM .........4.. 5....4................... 5.5 JASA PELAYANAN .....................4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .3...............4..................4........... 95 xxx .....2................. 5.......3................. 5.2.......4.2 KEPESERTAAN/SASARAN ...... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5......2.......................................3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .............4.4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5...........2......... SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL .....3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5.............................3 SYARAT KLAIM.................................4 BESARAN TARIF PELAYANAN ..10 KABUPATEN WAKATOBI .4......................4..2..............2...............................4..2..... 5... 5.2........4.......3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5..... 5...............2. 5. 5.............

......................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ........ xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ...2 KESIMPULAN DAN SARAN .................................2......5....... UCAPAN TERIMA KASIH .................................. 5................... 6... 5............................................................................ DAFTAR KEPUSTAKAAN ....................1 JANGKA PENDEK ...... SARAN/REKOMENDASI ..... LINTAS SEKTOR...........................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU .................6.............. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR .. 5................ 6........6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ............1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .............. TOGA..............9......................... 5......... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN .............................................6.....................................................................2 AKSESIBILITAS JARAK .. 5...............2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .......9 AKSEPTABILITAS TOMA.................................2...................................8............................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ........... 5................... BAB VI 6............... 5................................8..........................1 6.3 ANTARA BUDAYA..........................................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH ...........5....................... 5.......................................................1 JANGKA PANJANG .................... 5................................. KESIMPULAN ........... 5... 5...5...........1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ................1 HARAPAN MASYARAKAT .......................................................................................8...................

xxxii .

6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.12 Gambar 5.7 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.3 Gambar 4. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.4 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.1 Gambar 4.10 Gambar 5.9 Gambar 5.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.1 Gambar 5.2 Gambar 4.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .8 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.

Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.15 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.18 Gambar 5.19 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina. Kab.16 Gambar 5. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .20 Gambar 5. Kab.21 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.

46 Gambar 5.40 Gambar 5.38 Kunjungan K1.34 Gambar 5.49 Gambar 5.42 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.47 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5. Th 2010 s.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.44 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.43 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.45 Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5.48 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. K4.50 Kunjungan K1.Gambar 5.33 Gambar 5.

TOGA.53 Gambar 5.55 Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .Gambar 5.52 Gambar 5.54 Gambar 5.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.51 Gambar 5. kader.

2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.1 Tabel 5.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). Tabel 5.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii . 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. 121 Tabel 5.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012. 27 31 47 95 Tabel 5.2 Tabel 4. K4.3 Tabel 5.

xxxviii .

90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . kecukupan fasilitas kesehatan. sumberdaya manusia dll. lingkungan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. 2011).1. Dengan program jampersal.I. jumlah itu masih sangat tinggi. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya.. 2007). Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). sehingga diperlukan (SDKI. Menurut data Kemenkes. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015.R. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). pengetahuan.BAB I PENDAHULUAN 1. pendidian masyarakat. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. (Kemenkes. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal.

. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. ibu bersalin. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. 2011). Selain itu. bagi siapa saja. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. 2011). Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. Oleh karena itu.di 80 kabupaten/kota (Gani. (Kemenkes R. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. 2 . 2011). dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). saat persalinan. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC).R.I. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.3 triliun rupiah.I. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2.I. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota.R. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan.

Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. K4. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . memastikan memastikan bidan tinggal di desa. Tahun 2011. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk.7 juta ibu hamil pertahun. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4.6 juta ibu hamil. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. 3 .Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan.1. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. pertolongan persalinan. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3.2. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. nifas. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. akseptabilitas provider dan masyarakat. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. 4 . Lintas sektor. Toga.bersalin. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma.3. Pertanyaan penelitian 1. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1.

1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan.1. 2. preventif.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. 5 .1. dan Swasta. 2.2. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan. baik promotif. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. pertolongan persalinan.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. persalinan.1. 2. nifas. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 2. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. 2.1.1. TNI/POLRI.

c. nifas. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 2. Tujuan Khusus a. dan akuntabel. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan.2.1. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. 2. efektif. pertolongan persalinan. Ibu bersalin 3. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Ibu hamil 2. persalinan.2.2. bersalin. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. transparan. dan bayi baru lahir. b. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. Tujuan Jampersal 1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan.2. Agar pemahaman menjadi lebih jelas.

Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. Penyediaan obatobatan. 2.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. 1 kali pada triwulan pertama b. bersalin. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota.3. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. 1 kali pada triwulan kedua c. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. dimana selama hamil. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. persalinan dan nifas. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. 2.2. pre eklamsi dan eklamsi 7 .

dan Kohort ibu. Kartu Ibu. Implant. dan 8 . 3. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. masing-masing satu kali pada : 1. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan.

000 kelahiran hidup.1. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. Pendanaan Jaminan Persalinan 1. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). 2. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio.c) Suntik.3. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya.3. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas.3.2. 2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. (Winkjosastro (Ed). Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. 2. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. (Winkjosastro (Ed). melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan.2. KEMATIAN MATERNAL 2. 2002) 2. 2002).4. Hal ini disebabkan 9 . disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat.

(Winkjosastro (Ed). menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. A. dibeberapa daerah. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan.4. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . preeklampsia dan eklampsia serta infeksi.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu.3. 2002) 2. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan.

terbanyak dalam dua jam pertama. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. penyebab utama adalah atoni uteri.Retensio plasenta tanpa perdarahan. plasenta inkreta dan perkreta.Plasenta manual dengan segera dilakukan. plasenta akreta. robekan vagina. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. . Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. 2. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. retensio plasenta. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . b) Faktor predisposisi : Anemia. Jarak hamil kurang dari 2 tahun. sisa plasenta. 3) Trauma persalinan.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. . . dan robekan jalan lahir. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. Grandemultipara.Grandemultipara 11 .Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva.

Selain perdarahan antepartum dan postpartum. status gizi. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. keguguran habitualis. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. keguguran tak terhalangi. missed abortion. (Manuaba. Keguguran buatan terapeutik 2. keguguran dengan infeksi. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. 2001) 2. Keguguran spontan 2. anemia.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. keguguran mengancam. perusahaan multi-nasional atau local. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah.. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan.4.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Kejadian abortus sulit diketahui. kemiskinan. B. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . Keguguran buatan atas indikasi medis. lembaga pendidikan atau rumah sakit. keguguran tidak lengkap. . indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus.

Selanjutnya. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. sebagai berikut: 13 . dikomunikasikan. dilaksanakan. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. ekonomi. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. dinegosiasikan.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. sosial atau budaya. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2.4. dikembangkan atau disusun. 2. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai.. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. Organisasi. 2012). 2005). organisasi. pelayanan. yaitu: 1.1.

reformasi sektor Kesehatan. TB. 2005). Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. bagaimana pengawasannya. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. 4. Pelaksanaan kebijakan. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. 14 . Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005).1. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. 2007) cit Walt et al (2008). dan dikomunikasikan 3. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. disetujui. Evaluasi kebijakan. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Identifikasi masalah/isu. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). Perumusan kebijakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al.. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. bagaimana kebijakan dihasilkan.

2. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). yaitu: agenda setting. Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable).4. 15 . pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. Dalam teori ini.1. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian.2. sumber daya material (material resources).3. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. 1994) cit.4. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). Greena et al (2011). Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi.4. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. dan sumber daya metoda (method resources).3. yaitu: a. b. 2. Teori Kebijakan 2.

Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. b) kondisi.2. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. e. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. Kondisi sosial. Teori Weimer & Vining (1999.4. 2010) Menurut Weimer & Vining. ekonomi. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. c) intensitas disposisi implementor. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. 16 . bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. 2. f. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. dan 3) Kemampuan pelaksana. d.3.c.

1.1. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. Tujuan Khusus 1. nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. nifas. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. Menganalisis ketersediaan (availability). Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.1. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. nifas. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4.bersalin.bersalin.bersalin.2. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. Menganalisa akseptabilitas Toma. nifas.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3.1 Tujuan Penelitian 3. 17 . SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. Lintas sektor. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. Toga. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2.

Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A.3. 18 . B.2. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.

yang terdiri dari variabel kemiskinan. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. 2. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. 4.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. ketersediaan fasyankes. Ketepatan program dan Sasaran. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. 3.BAB IV METODOLOGI 4. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. Kapasitas Manajerial. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. 19 .1. Faktor Kontekstual. Akseptabilitas Kebijakan. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen.

3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . prasarana. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . SDM. 3. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. 7.4. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. nifas. 2. Proses dan Output. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . Pusat dan Daerah : . 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. dan bayi baru lahir. pelayanan KB pasca persalinan 6.2.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. biaya dan jenis pelayanan . dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. ibu bersalin.Ibu hamil. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. 4.

sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. Tabel 4. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi.3.4. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012.1. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. tahun 2007). Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

kriteria administrasi kota dan kabupaten. dan kader Posyandu. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. kriteria daratan dan kepulauan. b) Kelompok PKK. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). 4. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). Kepala desa/lurah & aparat desa. RESPONDEN PENELITIAN 1. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. daerah yang tidak menggunakan Jampersal. Bidan Koordinator. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. 2. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . 22 . • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia.4. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota.5. 4.Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian.

TOMA/TOGA. Sementara itu. dan wawancara mendalam (Indepth interview). Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. Observasi partisipasi dilakukan 23 . yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. c) Verifikator 4. 4. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. bidan kepala ruangan. CARA PENGUMPULAN DATA 4. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. Pengelola Jampersal RS.1. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. Penanggung Jawab program KIA. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). Kader Posyandu.6. verifikator independen. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.6. 3. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. dokter kandungan dan kebidanan.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. LSM dll. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. PKK. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota.

2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. Bulin dan Bufas) : Data sikap. 4. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil.2. 24 .6. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. ibu melahirkan. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal.

3. Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan.6. tahun 2010 dan 2011 25 . Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. Data sekunder ini meliputi: 1. Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei).2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. n = Z2 1 . Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data. Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. 2) Data sikap.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil.

Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. persalinan. Pelayanan Jampersal 6. nifas dan bayi baru lahir. 4. 4. dan Puskesmas. pertolongan persalinan. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. Pembiayaan Jampersal 5. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. pelayanan bayi baru lahir. Rumah Sakit. SDM yang terkait dengan Jampersal.2. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. 5. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. Pemberdayaan Masyarakat 26 . Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. persalinan di 4. pelayanan nifas. 3.7. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan.

April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. peraturan pemerintah. masyarakat.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. perangkat desa dll. 3. Definisi Operasional No. Balai Praktek Swasta. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. 9. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. prasarana. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. SK Bupati/Walikota. keputusan presiden. SDM .8. 1. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. 5. keputusan menteri. Kabupaten Kota (Perda. 11. tokoh adat. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. 8. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . 4. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. 7. Puskesmas. Jampersal Rumah Sakit.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Variabel Kebijakan Tk. 10.4. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana.2. 6. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. Pusat Definisi Operasional 2. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan.

KERANGKA OPERASIONAL 4.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.9. 4.3 Kerangka Operasional 28 . Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.1. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat. sedang. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .RS.9.

Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.9. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3. Melakukan uji coba kuesioner. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2.3.2. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.4. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 .menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif .9. 4.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : .

Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. Bidan desa) 7. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8.10. analisis taksonomi. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. 30 . analisis komponensial. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). Sementara itu. yaitu analisis domain.11. Bidan Puskesmas.masing provinsi 6. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. dan analisis tema. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. 4. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis.5.

JADWAL KEGIATAN Tabel 4.3.4.12. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .

32 .

2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. Salah satunya adalah faktor letak geografi. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. dan 9) akseptabilitas Toma. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). 5. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. lintas sektor. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. rumah sakit dan puskesmas. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Dengan kata lain. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal.1. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. Toga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut.

yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 .56) dan Kalimantan Timur (52. NTB (45. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.38). yaitu Maluku (74.14). sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut.25). Sulawesi Tenggara (74. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA.09). lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan.94). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Dalam hal ini.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. Namun. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan.56). yaitu Jawa Timur (33.67) dan Kepulauan Riau (64. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota. Selain itu.25. Menurut Badan PPSDMK. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. Jawa Barat (24.

- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.39%). Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. yaitu Jawa Timur (95. untuk rasio 35 . Sulawesi Tenggara ( 85.35%). dan Kalimantan Timur (85. Menurut Badan PPSDMK.30 %). Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.84%).28%) dan Kepulauan Riau (97. Nusa Tenggara Barat (82. Maluku (77. yaitu Jawa Barat (81. dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional. Namun. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.44%).02%).49%). apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.

Karakteristik meliputi umur.25.94). Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100.25). NTB (45. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut. Sulawesi Tenggara ( 85.49%). pendidikan dan jumlah anak (paritas).bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.38). Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74.44%) dan Kalimantan Timur (85. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Bersalin. sulawesi Tenggara (74. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.30 %.14). 5.56) dan Kalimantan Timur (52. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Kepulauan Riau (97. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95.28%). Nusa Tenggara Barat (82.09). Karakteristik Responden Ibu Hamil. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.1.67) dan kepulauan Riau (64. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil.39%).787 orang. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal.56).1. Maluku (77. yaitu Jawa Timur (33.02%). Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil.35%) masih dibawah angka Nasional.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.84%) sedangkan Jawa Barat (81. Jawa Barat (24. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak.

Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun. Kota Bandung. kira .2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1.Gambar 5.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 .787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. kepulauan Aru. Kota Mataram. Wakatobi dan Kota Batam.

(Rukmini dkk. Bahkan di 38 . Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. Gambar 5.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun). Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI.3. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Oleh karena itu pada usia reproduksi. 2005).kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. 2004). Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun.

Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut.2.9%) dan > 35 tahun (25. ada 17.70 adalah cukup tinggi.6%). Namun.1. menengah. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. mencapai 17. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. atau pun atas. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. Namun. 5. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.2%). disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . baik dari kelas bawah. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP.

yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.254 Selain berdasarkan umur. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan.Gambar 5. Sementara itu. 40 . Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Berdasarkan pendidikan. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.10% saja.4.

Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.5%. masih 12.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . 41.8% pada usia 10 – 14 tahun.9% pada usia 15 -19 tahun). pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. 41 . 2010). Berdasarkan hasil penelitian. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas.5. Namun.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang.Gambar 5. Selain faktor umur dan pendidikan.

42 . padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil.Gambar 5. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.6. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Dengan kata lain. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal.

persalinan.5. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. 5.1. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011.2.

1.1. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. 4. nifas. 2. ibu bersalin. 5. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. 5.2.a.2. transparan. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. c.1. pertolongan persalinan. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pertolongan persalinan normal. ibu nifas dan bayi baru lahir. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Deteksi dini faktor risiko. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. 5. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya. b. Paket Pelayanan a. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. 6. 7. efektif. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. b. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. bersalin. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi.2. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. dan akuntabel. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. dan bayi baru lahir.

Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. 1. 5. 5. pelayanan nifas. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. persalinan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. 4.3. b. 5. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. nifas. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. 3.2.1.2.1.4. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu.2. Untuk 45 .

Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran.5. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. c. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga.1.pemenuhan buku KIA di daerah. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. Klinik Bersalin. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri.2. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). 2. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. d.

000 80.7. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.2.000 500.000 Jumlah 80.000 650.000 100. 1 kali 100. 2.1. 3. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1.1. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20.6.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.000 20. Pendanaan 1.000 500.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. 5.1. 47 .2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. 1 kali 650. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir. 5.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. Pelayanan pasca keguguran. bersalin. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5. wajib segera dirujuk 5.

bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan.21/PB/2011). Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. 48 . Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. 7. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. 3. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. 4.2. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. 5. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. 6. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas.

Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. Transport rujukan risti. nifas). 8.8. 49 .sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5.1. 11. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). 9. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. Proses Pengajuan Klaim 1. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini.2. bersalin. 10. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

55 .5. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. 4. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. swasta. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya.2. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. 3. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan.Jampersal.2. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. 2. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. 5.

Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. Dengan adanya protap adalah 56 . Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011.2. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. Bogor. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. dan bahan habis pakai. jumlah yang diperbaiki.2. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. yang sudah diberikan adalah obat. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. 6. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. jumlah yang di verifikasi. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal.5. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi.6. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. 5. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. dan jumlah yang harus dibayar. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk.

7. partograf dan catatan nifas. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. atau lewat Koran. kota Bogor. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. 5. seperti Tangerang. dll. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). via SMS. dan email. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Kepesertaan adalah ibu hamil. catatan pelayanan ANC. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. 57 . Pengaduan masalah kesehatan dapat online. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah.2.2. Untuk jasa medis. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. Pelaksanaan mengikuti juknis. SMS langsung ke Kepala Dina. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. namun diantara 18 RS tersebut. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. Protap tersebut.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS.

Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini.2. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. tapi karena kondisi di Kab. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi.2. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. 5.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan.8. 58 . bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair.

buku KIA. di desa Ujir. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu.beberapa bulan kemaren. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo.. Syarat klaim tersebut adalah partograf. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. 59 . memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. Masalahnya. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. terutama mereka yang berada di pedalaman. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. “. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Aru). Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. tidak semua masyarakat punya KTP..” (RS. Kep. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Kab. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Di Kab. baik yang kaya maupun yang miskin. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah.

sedangkan ANC gratis.000. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas). Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.. puskesmas poned. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan.000.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan.2.000. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas.5.2. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat.2.2. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.10. Dengan demikian . Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. 2) pembebasan biaya pengobatan dan. uang makan Rp. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .dan perawatan bayi Rp. 50. Kepesertaan adalah ibu hamil.. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. bidan desa. 55. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp.9.000. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.per hari.. 5. Rp.35.-.

Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. 61 . Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Kepesertaan sesuai juknis. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Sebelum ada program Jampersal. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC.Kesehatan. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket.

saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. 62 . surat domisili). Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal.2.000.11. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis.. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. 5. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah.500. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya.2.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.

hanya dalam penyaringan di salahgunakan. ini karena adanya perbedaan tarif.2. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . Dengan BPS tidak ada MoU..2. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.” (Dinas kesehatan.2. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis.13. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga. Kab.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. “.12. 5. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.2. terkadang kurang tepat sasaran. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. Paser). tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah.. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa..5. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan.

Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada..000. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. SIM. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan.Jampersal. mulai th 2011. paspor.yang dianggap terlalu rendah. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis.. 64 . Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011.500. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek.350. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. surat domisili oleh RT/RW. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis.000. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan.

Kebijakan Dinas kesehatan. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. 5.2.2. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun.14. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan.

66 . 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. setiap bulan dipotong 3%. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. Karena mereka juga abdi masyarakat. sedangkan mereka bukan peserta Askes. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. 2) Perbub untuk tarif di RS. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. SK Direktur. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). yaitu untuk anggota TNI/Polri. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. 5) Jasa Pelayanan. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. Potongan bervariasi. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. potongan yang terbesar sampai 50%. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna.

sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. 3) bebas gizi buruk. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. 2) bebas kematian bayi. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota.3.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. 5 tahun 2011. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED.1. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. 4) Bebas TB. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.5. 5. Program ini merupakan program Bupati . walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. SDM.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . peralatan dan bahan habis pakai dll. Dukungan Manajemen. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. kepolisian. dukun. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. kader kesehatan.. 73 .” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. muslimat. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat.. kepala desa. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. dukun dan Toma. fatayat atau aisiyah. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. “. kecamatan. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. Di Kota Ambon. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. mulai dari kabupaten sampai desa. PKK.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal.

bidan praktek swasta. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. 3) Sosialisasi Jampersal. “. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. 6) tugas sebagai penolong persalinan. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. bidan puskesmas. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan.. bidan desa.. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. Kota Mataram). Kab Sampang).” (RSUD.4. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal.. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. 5.” (Dinkes. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. 4) dukungan sarana. Pada bulan November 2011 di Bali. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada.. 2) dukungan Jampersal pada program KIA.untuk sosialisasi jampersal di RS. 5) kendala implementasi Jampersal. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. 74 .“. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. Waktu itu awal-awal juknis 2011. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012.2.

5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. Ternyata 35. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan.6%).Gambar 5. 94. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. budaya untuk bersalin di non nakes. Selain itu 94.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan.4% responden bidan juga kurang memadai. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.

” (Bidan Kab.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah.6% bidan menyatakan baik. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah.4.1. 82. bisa tiap bulan. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. namun ya tergantung dari Kemenkes. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a).” (Bidan Kab. “. 76 . Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. c)..hal diatas 94. hasil penelitian 5. secara umum bidan dapat menerima.. untuk masalah ANC. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.2. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut.. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. b). “.. Sampang). malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali. Bogor). dimana selama hamil.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. sebenarnya sudah bagus. Dua kali pada triwulan ketiga . dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. didapatkan 85.cuma gini pak. 1 kali pada triwulan kedua. 1 kali pada triwulan pertama. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81.

Kab. boleh mengklaim. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. misalnya manual plasenta. tapi kalau Poned terlalu jauh. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. Sampang). Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. Kompetensi bidan. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. tidak semua bisa diklaim. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan.bidan melaksanakan pelayanan. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. bisa melakukan tindakan selain itu... Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. bahkan di Aru 77 . Kita kembalikan ke program. Apabila hal tersebut diterapkan.” (Dinkes.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim.

. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). “. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin..PNC. “. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. Jadi klo OH 78 . tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan.300... mungkin merasa lebih enak di rumah. temuan BPK.. dan pelayanan KB pasca salin. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Kep. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). pelayanan bayi baru lahir.. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan. 150. Kalau sudah mulai sakit.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah.000. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.000. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. “. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan..pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan).” (Kepala Puskesmas di Kab.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah.. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). “. Aru).. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas.” (Bidan Kab. Berbeda dengan Kab. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. OH tdk boleh lebih.

tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. Padahal klo KN harus dikunjungi. terutama jika ada kasus.. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. “. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung).. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB... pasien lebih baik membayar sendiri. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. Kab.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. “. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. 79 . Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi.000.. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan.” (Dinkes.lebih dari 30 hari tidak dibayar. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja.000. bukan termasuk KB diluar itu.” (Bidan Kab Lombok Tengah).

Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Kota Balikpapan).” (dinkes. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. “.. ibu bersalin.” (Bidan Kep. “.2. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.. 2). “. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan.. mau buat anak berapa juga tetap gratis. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. Biasanya langsung ke nakersos saja. Aru). neonatal (0-28 hari).. 3). Supaya program KB berjalan dengan baik.” (Bidan Kota Blitar).beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak.” (Bidan Kota Ambon)..4.5.. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar..program jampersal ini disambut baik.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja.. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu.2.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4). ibu hamil . “. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. 80 .

. Kartu Keluarga (kota Ambon). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. Batam). Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP).jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP). misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili..3. 81 . paspor (Kab. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. Surat Ijin Mengemudi (kab.” (Bidan Kota Ambon).2. KTP suami (Kota Blitar). Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. Lombok Tengah). masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas.. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. Lombok Tengah). Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Kartu pelajar (Kab. KK juga harus disyahkan camat.” ( Bidan Kota Ambon). untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. 5. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. kartu mahasiswa. “. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. “. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP..4.

Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah.10. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. 82 . Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D).

. Kab Paser). sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. Kab.. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas .” (Bidan Kota Blitar). Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. “. “. setelah selesai diverifikasi. disimpan di Puskesmas. dientry data soft ware Jampersal. “.Kalau tahun yang lalu 2011.” (Pengelola Jampersal. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien. 83 . jenis tindakan dan besaran tarif. pengisian teknis. identitas.. tetapi hal tersebut menjadi temuan. partograf..Gambar 5.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. bukti kb dll.. kelayakan.” (Pengelola Jampersal. Aru).. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan.

Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. “. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon.” (Puskesmas. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal.000 untuk jasa. Mojokerto.. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. “. Kota Bandung). Klaim bisa satu minggu aja.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP.. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain.. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. soalnya petugasnya tidak stand by. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah..” (Dinas kesehatan. “. “.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu.. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Ada penggantian obat dan lainnya.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. 5000. Kota Bandung)..” (Kepala Dinas. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Di daerah uji coba penelitian Kab. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan.. Proses pengajuan klaim susah. Kalau mau klaim harus telpon dulu.. Kab.

dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari. “.. 20.-.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair.” (Dinkes Kota Balikpapan). Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.700. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 . Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku.. 20. 200. persalinan normal Rp.000.4. PNC Rp.000.2... dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. Kota Balikpapan).. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut.000. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.000 sampai dengan Rp. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek.dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali .-). Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.000. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal.000. 5.500.” (Puskesmas. 100. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota).. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.4. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD.

Bogor). BHP dll.000.000. Sampang). tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. kami menanganinya.. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis.. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. Kota Batam).000 untuk persalinan oleh bidan. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350. persalinan sampai PNC.. krn BHP sendiri. Paser). Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun.” (Bidan Kab.. paket pelayanan sudah cukup. “. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. kab. Batam. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500..karena membayar dukun. Bandung dll. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. “. tapi ternyata dibayar cuma segitu. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. makan minum pasien..menurut saya kalau persalinan normal. Minta ditambah. 86 . maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan.. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. jadi bidan hanya 400 rb. kalo bisa sampe 700 rb..000. dengan tarif bidan yang tinggi. “.” (Bidan kab.sudah sesuai mulai dari ANC.” (Puskesmas.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. “. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah.” (Puskesmas. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500.

000. 350. Kota kendari). dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai. 5. sedang tarif umum tidak ada.” (Bikor. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.” (Dinas kesehatan.tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp.000. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda.-. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada.. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan .bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. Aru dan kabupaten Wakatobi..000..perlu ada regionalisasi tarif. “. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. 87 .000.000. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.000.. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . Kab.4. 3. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk .5. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. Kota Kendari).. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan..-. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. “.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan..“. Aru). Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu.”(Puskesmas. 500. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri.2.-.1. 1).

Blitar. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Mataram. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. 88 . Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Ambon. Lombok tengah. Kabupaten Kepulauan Aru.

1. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan.. Sampang). tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. “.5. Kecuali untuk kasus ginekologi. ditanggung oleh Jampersal. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Namun kenyataannya tidak demikian. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs..4.” (RSUD. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua.3. Kab.” (RSUD. Sampang) Provider (Bidan.3. Sering timbul masalah 89 .pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes.4. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada.. Kab. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama. “. 5.

Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB . Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. 5. Padahal. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 . dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. baik negeri maupun swasta). Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. bersalin. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit.” (NN. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. nifas. “. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit.. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. RSUD).2.4.3.. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit.

3. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. kartu pelajar..” (Pengelola. “. RSUD).sungsang ini tidak masuk akal.4. “. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur.. Selain itu pasien membawa rujukan.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf . tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. buku nikah.3. tetapi tetap tidak bisa menolak.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. Sampang).hambatannya sebetulnya tidak ada. Kab.” (RSUD. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. “. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram).. KK.... Kab. Kab. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. RSUD ). Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. Kep. 91 . 5. Sampang). Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. persyaratannya KTP dan rujukan. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri.” (SPOG. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. “. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. SIM.adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. Aru). Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori.” (Pengelola Jampersal. kartu domisili. Namun dalam kenyataannya... keterangan RT.

Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. kota Bandung). jadi setelah pasien masuk. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat..klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. “. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan.” (SPOG.. “..outnya dikirim. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.4. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s.3. Sampang). surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS.”(verifikator independen. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Kab.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda.4. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.. 5. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.Mekanismenya. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut.

jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. “. 93 . dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.. Sepaket 2..” (Pengelola Jampersal RS. jadi yang diterima nakes kecil. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2... dan bahan habis pakai.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap.. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku.000 itu Cuma habis untuk obat saja. Obgyn sectio semua. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. “. namun kalau boleh kami memberikan saran.. apa itu manusiawi. belum untuk bahan habis pakai. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah.tarif sedikit.. Kota Ambon). SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. karena terlalu rendah.” (SPOG. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. Ini masalah personal. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. kab.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. “. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu.083. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.” (NN. RSUD). Masa 1 sectio saya dibayar 150.. “.. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.000.” (SPOG.000 .tidak manusiawi.. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan.2 atau 1. RSUD).program dan tujuan MDG’s. Bedanya sampai 1 juta per pasien.. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya. “.8 juta lah.yang saya tahu.083. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. Kota Bandung). Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.” (bidan RS. tapi dengan jampersal kan hanya 1. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. Wakatobi). harus ikhlas..

Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.” (SPOG.” (dr.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio. itu sudah pas-pasan. maka para bidan.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5.. 94 .. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal. “.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III.2 jt.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP.” (RS. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal... “. SPOG.000 ..tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.000 – 1250000. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. “. RSUD). Contoh: kasus angina pectoris.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). Dokternya hanya dapat 750. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.000. Kota Ambon). premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1. “.. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.” (RS. Kota Kendari). asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan. Kota Blitar)..

SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5.bppsdmk. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. Klinik bersalin. 13. 2. 11.depkes.go. 6. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). 3. Tabel 5. 5. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA.5. rumah sakit pemerintah dan swasta. 7. 14.5.id 95 . sarana dan prasarana yang memadai. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. Disamping itu untuk Jampersal. 12.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY). Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar.2. 4. 8.5. 9.

Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Kabupaten kepulauan Aru). Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer.. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. Kabupaten Wakatobi. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. kabupaten Bogor. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Kota Ambon. Kabupaten Kepulauan Aru. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Kota Bandung. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. baik itu dokter maupun bidan. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah.” (Pengelola Jampersal. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). bahkan Kabupaten Lombok Tengah.. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku.

Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa).mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. SPOG. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya.”(Direktur RSUD Paser).7%. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD.. poskesdes maupun pustu. (RIFASKES. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. Kota Batam (RS Camatha Sahidya).. 2011). Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP). peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. SPOG terutama di kabupaten. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. Kota Ambon). bisa melahirkan di polindes. “.6% sementara di perdesaan 21. “. 97 . Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr.” (Puskesmas..puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Propinsi dan Pusat.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas..

sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. diruangan harus diawasi oleh perawat. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi.. Dan tenaga tersebut (dr.. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut).” (dr. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya.. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Kota Ambon). SGOG. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. pengawasan post operasi yang baik. “. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri.. “.” (dr. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu.” (dr SPOG. bagaimana dia mau care dengan pasien.. Lombok Tengah). Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. “.. ruangan ICU. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. mulai pada saat setelah tidakan. ventilator yang kurang dsb. SPOG. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit. Lombok Tengah). Tapi listrik itu yang masalah.

suntik.ketersediaan alat.. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB..Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB. Kota kendari). pil . demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP. “. 99 . terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. Kab. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. “.. laparatomi.. Bogor).” (Bidan RS. implant. MOW.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana.” (Puskesmas.

Ruang ICU.11. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .Gambar 5.

Kota Kendari. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Kepulauan Aru. Bogor. Balikpapan. 101 . Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Kota Bandung. Kota Mataram. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Lombok Tengah. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Paser. Kota Blitar.12.5.Gambar 5.

Gambar 5. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau. Sesuai namanya.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. 102 .14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. 108 . Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah.Gambar 5. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit.

Kab. Kecamatan Aru Tengah. Dobo. Kepulauan Aru. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. dengan bentangan wilayah yang cukup luas.18 Puskesmas Benjina.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. 109 . Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Gambar 5. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini.

terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Dusun Papakula Kecil. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. Dalam forum diskusi yang sama. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa).Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. dua lainnya masih kosong. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. Jadi bila sakit saat baru 110 . Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. yaitu di Namara. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Jadi. Selibatabata dan Fatujuring.

. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. bersabarlah. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. Desa Namara. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Desa Selilau. Dan betapa Mbak Ning. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan.. Desa Gulili. 600. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan.000. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. 111 . Desa Fatujuring. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. dan wilayah Trans-Maijurung. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. tapi juga tergantung ketersediaan uang. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu.. Bersabarlah kek. yaitu Desa Benjina. Setidaknya membutuhkan Rp.saja ada kunjungan Posyandu. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. tetapi seringkali juga mundur.

Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri.000.000. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . 21. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur.-. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp. Pada saat pengambilan keputusan. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu.000. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini.-. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. 600.600.800. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. 250. 1.000.000. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut.-.

serta hari Sabtu via Kendari. laut dan udara. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 .19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. Gambar 5. Pulau Tomia. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur.Pulau Wangi-wangi. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Pulau Kaledupa. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air.

karena tinggal lapor. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. bahkan untuk sekedar bank darah. 130. rujukan harus ke Baubau.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. nanti akan dijemput ambulan. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut.-.. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. tokoh agama. terutama untuk transfusi darah. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. “. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun. “.. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi. tapi perlu ditingkatkan lagi. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang.di sini.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. “.. itupun hanya beroperasi 114 . jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.” (Toma. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah.000. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki.. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah... Kab. Sebagai gambaran.

Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. Di wilayah ini. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Jadi. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau.000. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 115 . tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting .. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Waitii. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. 10.per kali sewa. seberang Pulau Tomia.sekali sehari. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek.000.

Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. 4 orang tidak tinggal di tempat. 116 . Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk.20. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Untuk sarana bangunan Puskesmas. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. PTT dari pusat. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Sedang sisanya adalah perawat. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. di Waitii. wilayah Barat pulau. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. mereka tinggal di pulau seberang. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal.Gambar 5.

117 . Dalam sebuah kesempatan. serta satu staf Dinas Kesehatan. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. Karena kalaupun ditempati.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. Karena meski tempatnya juga tidak strategis. salah satu staf Puskesmas. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. berada di ujung desa.

Bila manajemen berkenan memberikan ijin. 5. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . Kab.6. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan.21. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas.Gambar 5. Puskesmas Onemobaa. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. 5.

Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% .. kota Mataram. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. 119 . Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran.22. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5.36.masing-masing kabupaten / kota.6%. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Bogor.

Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. Gambar 5. Sasaran yang diambil adalah 120 . sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda.23. prasarana. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. di kep.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional.

3. K4.3% 39.7% 77. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.9%.0% 50.0% 90.0% 72.8% 62.0% 87.9% 33.1% 68.3% 39.3% 63.0% 43.2% 86.3% 87.9% K1 + K4 72.8% 74.5% 14.9%. K4 dan persalinan 59.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.3% 41.9% dan pelayanan K1.0% 52.8%.3% 100. pelayanan K1 dan K4 adalah 61. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .6% 14. bahkan di Kota Kendari 100%.7% 87.8% K1 + K4 + Persalinan 71.0% 94.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.2% 25. K4.8% 58.0% 55.7% 72.1% 66.5% 14.0% 57.6% 64.2% 27.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.3% 66. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1. Tabel 5.4% 76.2% 61.1% 50.4% 68.4% 59. K4 . pelayanan K1.3% 63.2% 59.7% 33.3% 66.3% 39.9% 72.5% 33. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74. Di Sampang.8% 58. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.5% 14.7% 33.1% 66.8% 33.2% 27. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91. persalinan dan PNC.4% 59.0% 43.

6% 15% B 1. Bogor.7% 0% 0% 0% 22.7% 0% 0% 3. Di Bogor juga sudah cukup baik. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.7% 5.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal.2% 50% 7. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC.4.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.K4. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.8% 0% 2% 58.8% 2.4% 3.Tabel 5. Wakatobi. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. Aru. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47.5% 4% 9. Kota Batam 122 . Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Kota Ambon.1% 0% 3.2% 4. persalinan dan PNC.2% 0% 0% 0% 0% 16.9% C 4.7% 0% 1.3% 6.3% 8. Kep.

Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27.2%. Kota Kendari 10. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal.0%) 11 (100.0%) 63 (72. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.6%) 0 (0. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 58 (100. Kota Bandung 6.3%) 0 (0. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .7%) 36 (4.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.0%) 0 (0.0%) 0 (0.0%) 119 (97.0%) 0 (0.5%) 54 (100. Kota Blitar 3. Wakatobi (2.3%) 726 (95.0%) 0 (0. Kota Balikpapan 13.0%) 24 (27.8%). Kab Wakatobi 11.5%) 0 (0. Kab Lombok Tengah 5.0%) 51 (100. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. Kota Ambon 8.0%) 33 (100.0%) 64 (100. Kab Sampang 2.4%) 47 (100. Tabel 5.0%) 65 (100. KotaBatam 12.0%) 26 (74.0%) 0 (0.0%) 3 (2. Kab Bogor 7.7%) 1.5.5%) dan Paser (25. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya. Kota Mataram 4. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.0%) 0 (0.0%) 9 (25. Kab Kep Aru 9. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).0%) 60 (100.0%) 0 (0.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100.

Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.24. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 . Gambar 5.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan.

Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . Kota Kendari.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Kota Batam. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas.Gambar 5. Kepulauan Aru. Bahkan di kepulauan Aru. Bogor. 125 .

2007). Kemenkes. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. Infeksi . Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . eklamsi. preeklampsi/eklampsi 24 %.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun.Gambar 5. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. 2012). (Direktorat Ibu.26. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. infeksi 11 %. 126 .

Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia.27. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting. Saat ini. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun.6. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. 5. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .Gambar 5. 127 . tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi.2. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk.

kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi..adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar.. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal.28.” (Bidan RS. Paser. Bogor). Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. Loteng. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). Sampang. “. Kab Bogor).Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. kematian maternal >24 jam. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. 128 .

Bogor 7. RSUD Kota Blitar 3. RSUD Prov Ambon 8. Bahkan di RSUD Blitar. RSUD Kota Bandung 6. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. RSUD Kota Mataram 4.Gambar 5. Kep Aru 9. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012).6. Tabel 5. RSUD Kab. RSUD Kota Kendari 10.29. RSUD kab. Loteng. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. Sampang 2. RSUD kab. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . RSUD Lombok Tengah 5. terutama di RSUD Kota Blitar.

30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar.. RSUD Kab. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : .11. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012. RSUD Kab. “. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. Paser 14. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. 130 . Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal.RSUD Kota Batam 12. Sampang) Gambar 5.”(SPOG. RSUD Sampang. kab.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.. RSUD Prov Balikpapan 13.

Gambar 5. Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.Juni 1012 131 . Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana. prasarana dan SDM di rumah sakit.

33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. bersalin. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.7. Gambar 5. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. Tapi di Kota Bandung. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. 5.

KB) dibiayai dengan Jampersal. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. Jamsostek. Jamkesda. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. 133 . Askes. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Karena untuk sasaran Jampersal. Kenyataan di lapangan. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. harus dilakukan pemilahan dulu. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. persalinan. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. PNC. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya.

Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan.Gambar 5. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. Yang menarik ada 0. 134 . Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal.

Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal.Gambar 5. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.di sini kan mahal apa2 bu.. Kota Mataram.3%. bahkan Kota Balikpapan sampai 84. “. Kota Bandung.” (NN. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. Kota Balikpapan). 135 .35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5.. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar.

yaitu ikut KB jangka panjang. Jampersal punya syarat – syarat khusus. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. Kalo ada tindakan lebih dari itu. tokoh masyarakat Kota Bandung). “. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. “. ternyata ada tambahan obat B. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah... sudah ada patokan dari pemerintah. Kota Blitar).Jampersal tidak semua gratis. tokoh masyarakat Kota Bandung). Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.” (Toma. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. 136 ..” (NN. yaitu IUD dan implant. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus. obat B yang dibayar. 5.... Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . hanya untuk warga miskin saja.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. masyarakat menanggung.” (NN. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar.

Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. 5. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. 3) Antara Budaya. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007.467282 (peringkat ke 286 nasional). Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. yaitu Desa Lamanggau.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. Selain kesehatan. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang.8.

3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. 2)Pemberian vitamin A .8 milyar pada thn 2011. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.Kecamatan Praya dan Kopang.

Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten).Gambar 5. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Namun demikian. dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas.37. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). 2008) : 139 .

Unit Pengelola Kegiatan (UPK). membina pengembangan peran serta masyarakat. Fasilitator Keuangan. 2). bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. Camat. Kelompok Kerja (Pokja). 2). memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. Bupati. 5). Puskesmas. 2).Di tingkat provinsi : 1). memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. 6). mengembangkan. 4). Di tingkat kecamatan : 1). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. membina administrasi kegiatan. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. 4).pertemuan di kecamatan. Tim Koordinasi Kabupaten. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. pengendalian laporan keuangan. merupakan 140 . Fasilitator Kabupaten. 3). meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. Spesialis manajemen informasi sistem. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). 3). Fasilitator Kecamatan (FK). Spesialis PNPM GSC. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Di tingkat kabupaten : 1). bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 . Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%.. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.40..” Gambar 5. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.000. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011.

tanpa dipastikan atau di tes. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Ketua PK Desa Langko yang sekarang.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas.. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. oh kamu hamil. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . terpilih melalui voting. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. Pada awalnya.

sampai KB harus ke tenaga kesehatan.. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 . kita ajarkan senam. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil... Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.” Gambar 5.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas.” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan.kandungannya hilang.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil. Tapi sekarang sudah tidak. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan.

7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. Berikut ini adalah tabel data K1.42 Kunjungan K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). televisi. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105.melahirkan di tenaga kesehatan. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98. K4.4%. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system.000 dari dana PNPM GSC. video player. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.

Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA.7% pada tahun 2012. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. “. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. kepala desa. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan..menjadi 105. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko.” Selain merenovasi polindes. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat..

seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 .. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. kacangkacangan.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan. telur empat butir. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah. minyak goreng sebanyak 1.. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. gula.. ikan kering seperti cumi. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. telur rebus satu butir dan biskuit. berikut penuturannya: “.. ikan teri.ibu yang mendaftar. kalau yang 200 gram untuk empat hari. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. telur. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram.5 kg.

mengatasi. memelihara.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur.com). dan kemampuan masyarakat dalam mengenali.Gambar 5. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. menjalin kemitraan. melindungi. mengembangkan gotong-royong masyarakat. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. 2007).43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 .kompasiana. kemauan. Menurut Notoatmodjo. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. tidak seberapa.. (http://edukasi. dan desentralisasi.. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. menggali kontribusi masyarakat.

untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan. Seperti penjelasannya berikut ini: “... Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. dia yang memantau. 153 . itu mungkin yang terus dilakukan. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. dia yang melanjutkan.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. dia yang melaksanakan. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini.. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. dia rasakan karena dia yang merencanakan. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa.

Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Berikut pernyataannya: 154 . pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Hanya saja. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Oleh karena itu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu.

” Menurut Ericson (dalam Slamet.. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu.. (http://www.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. yaitu : 1.ac. “..unand.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat.pasca.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. Selanjutnya ketiga tahap 155 .” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. Partisipasi di dalam tahap perencanaan.awalnya ego dari dinas itu... Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria.id). kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal. 2. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus..“. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. dukungan layanan.

Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. bagaimana cara membuat proposal. 80% dan 100%. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. 1.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan.

kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage).” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. “.PNPM GSC.. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 . 2. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. material. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga.. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga.

.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC. Seperti pernyataan informan IT. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15.000 per harinya.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. berikut uraiannya: “. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. seorang kader dari Dusun Lengarak. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun.. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan. Desa Langko berikut ini : “...kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.” 158 .000.

Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan. 3.900 km2 serta panjang garis pantai 251. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). kebanyakan kader adalah perempuan. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. 5. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. 159 .8. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak.96 km. Kabupaten Wakatobi.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia.

html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). 8 kelurahan. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.00 pagi. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi.-. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120.000.blogspot.15. Apabila pada pukul 09.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang. Namun. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .000 perorang. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.com/2012/04/peta-wakatobi. yaitu pada pukul 09. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari. Pulau Wangi-wangi. Setelah tiba di Dermaga Waitii. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii.Gambar 5.

terletak di daratan yang agak tinggi. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Gambar 5. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. yaitu Dusun Lasoilo. Sementara itu.000 per orang.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Dusun Ketapang. Kabupaten Wakatobi. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. dan Dusun Dunia Baru. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. Secara administratif. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. yaitu Desa Lamanggau. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3.

sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. yaitu jalur darat dan jalur laut. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20.perkawinan. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Namun. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali.00 hingga 06. sehingga banyak wisatawan. Untuk desa Lamanggau. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Bantuan tersebut bermacam-macam. Dengan kata lain. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Selain Desa Lamanggau. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana.00. tepatnya di sebelah selatan DWR. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini.

47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). Setelah tiba di pos satpam. Gambar 5. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Setelah sampai di gerbang resort. November 2012 163 . Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. tibalah di Puskesmas Onemobaa.mencapai pos satpam DWR. Dari dermaga. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR.46 dan 5. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.

dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. sampah tersebut tidak terlihat. Memang jika dilihat dari depan. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. Namun karena tidak dipakai. namun jika melewati jalan belakang. bersalin. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. dan loket pendaftaran. Menurut penuturan kepala puskesmas. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. 164 . Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. gunting. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. poli gigi.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau.

Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. ruang tamu. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. 5. Namun.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). November 2012 Selain bangunan puskesmas. 165 . dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. kamar mandi. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama.49 dan 5. Menurut kepala puskesmas. dan dapur. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung.48. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah).Gambar 5.

yaitu dua orang perawat. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. Namun. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Dengan kata lain. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. tiga orang perawat. Sementara itu. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. dari lima petugas kesehatan tersebut. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat.

Oleh sebab itu. Menurut cerita bidan tersebut. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Namun menurutnya.Puskesmas Osuku. Jadi. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Selain itu. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. bukan di fasilitas kesehatan. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan.00 malam hari. Dari empat orang yang ditolong tersebut. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Kini. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. sejak September 2012. 167 . meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa.

sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. bidan tersebut berada di seberang pulau. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan.00 malam hari. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. Dari empat persalinan tersebut. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. Selain itu. Sementara itu. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. Dengan kata lain. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat.

tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. yang menurut mereka haus akan darah. 169 . pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Selain itu. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Sementara itu. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. Selain faktor letak fasilitas kesehatan.siap untuk dihubungi kapanpun. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. Oleh sebab itu. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan.

tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. pustu. dan perlengkapan lainnya. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Selain tersedia puskesmas. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. makanan. Selain pustu. Dengan kata 170 . listrik. Oleh sebab itu. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. Pada awal pembangunannya. Selain itu. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. Apabila melakukan persalinan di rumah. dan polindes.

Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Namun. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita.lain. khususnya Posyandu Cemara 2. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. dikarenakan ada yang tidak datang. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Pada awal tahun 171 . yaitu Posyandu Cemara I.

ibu nifas. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. pertolongan persalinan. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. banyak pengetahuan tentang kehamilan. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. ibu nifas. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. Akhirnya. Sama halnya dengan pangullieh. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. melarang ibunya untuk menolong persalinan. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. Ibu Ma. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. dan petugas kesehatan. Sama halnya dengan pangullieh. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Sejak saat itu. ibu bersalin. baik pangullieh maupun sando. ibu nifas. Berbeda dengan pangullieh. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Sejak saat itu. dan balita. sando. Menurut pangullieh. apabila ia menolong persalinan. putri pangullieh. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan.2010. Pada saat itu. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. Selain itu. dan bayi ke petugas kesehatan. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun.

maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. begitu pula sebaliknya. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo.Waha. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Namun. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. Terlepas dari itu. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. Dengan kata lain. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Sebagai contoh. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. 2010:120) 173 .

kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Menurut Ibu Ma.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Menurut kepercayaan orang Bajo. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. dan berlantaikan bambu. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Menurut mereka. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Namun. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Oleh sebab itu. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah.

Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah. November 2012 175 . 5.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. atau merasa terganggu. 1 2 3 4 Gambar 5. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam).53 dan 5. 5.52 .51. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. mencegah. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.

November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Gambar 5. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut.Berbeda dengan masyarakat Bajo. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. Namun. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan.

Selain itu. Oleh sebab itulah. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. program tersebut mempunyai banyak hambatan. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya.oleh tenaga kesehatan. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. pada implementasinya. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Namun. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Secara kasat mata. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. Bagaimana tidak. Namun. dan budaya masyarakat setempat. Namun jika kita lihat langsung di lapangan.

sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. dalam hal ini pustu. Dalam kasus ini misalnya. 178 . Jika keadaan darurat terjadi. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka.fasilitas seadanya. Bagaimana bisa. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan.misalnya bidan desa. Atau lokasi fasilitas kesehatan. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada.

dan selalu ingin gratis. Melalui intervensi Jampersal. terjadi empat kasus kematian ibu. 5. ANTARA BUDAYA.3. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. Kota Blitar. Namun. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. Kejadian tersebut 179 .Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. pasti akan digunakan oleh masyarakat. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Bagi teman-teman di Puskesmas. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan. butuh bidan. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi.8. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. dan kondisi sosial budaya masyarakat. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter.

Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. akan tetapi Px 180 . Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. berumur 24 tahun. Di tempat kerjanya. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. F. RSUD. ritme kerja Px tidak berubah. 3 Puskesmas. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. pendidikan SLTA . Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. tetapi kejadian itu masih saja di temui. RS Swasta. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses.

Ketika suami membangunkan. sedangkan suaminya yang membonceng.30.adalah pribadi yang tertutup. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Karena ukuran obat yang besar. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Blitar dengan mengendarai motor. Px tidak mau. dan suami menyuruh Px ke dokter. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. padahal waktu hamil pertama. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. setelah maghrib. Suami Px tidak mengetahui. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Sepulang dari kerja. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Px mengeluh sakit kepala. akhirnya Px memuntahkannya. Pagi harinya. Setelah itu Px menyapu halaman. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. akhirnya Px yang mengendarai motor. apakah obat tersebut kembali 181 . tidak biasanya Px bangun siang. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja.

Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Px muntah-muntah. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. Px dirujuk ke RS. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. 182 . langsung dibawa ke UGD. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. karena semalam Px pulang larut. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Dengan mengendarai sepeda motor. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. pucat dan nafas ngorok. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Suami mengira Px masuk angin. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08.diminum oleh Px atau dibuang. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Sesampai di puskesmas. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Waktu suami masuk kamar. Dilihat dari kondisi lingkungannya. karena kondisi Px sudah tidak sadar.

Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. selama Px hamil. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. Menurut kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Menurut kader.

Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. tinggal bersama Px. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Setiap pagi. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. Anak pertama laki-laki. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. kader tidak mengetahuinya. N. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). kader tidak mengetahuinya. KASUS 2 : Ny. Anak kedua perempuan.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Berdasarkan penjelasan di atas. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. berumur empat tahun. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. umur 33 tahun. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Px juga selalu tidur siang. sehingga ketika Px tertimpa musibah. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke).

Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Px jarang keluar rumah saat hamil. akan tetapi Px tidak mau. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. sejak awal kehamilan. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. karena Px tidak cerita. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. suami selalu mengantar. Ketika terakhir kali Px kontrol. Sakit di punggungnya sembuh. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal.kaku di tangannya. jenis kelamin bayi perempuan. kondisi Px sudah stres. Px membeli obat “Trace Minerals”.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Menurut tetangga. tapi tidak lama kemudian sembuh. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Px merasa punggungnya sakit. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Menurut tetangga. beberapa hari setelah kontrol. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. kemudian meminumnya. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Keluar rumah seperlunya saja.

Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Px cerita jika tensinya 170. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Jam 4. Pukul 5. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Px baru bisa tidur.30.30. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Menurut tetangga. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Ketika akan membuat jus. Hari sabtu malam. Px sudah terbangun.“puyer 16” di tempat obat. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Setelah Px dianggap stabil. Di UGD Px diinfus. Px dipindah ke ruang perawatan. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Lalu Px menyetrika baju semalaman. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. dokter di RS tidak ada. Px kejang. setelah sholat Subuh. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. karena Px merasa kepalanya masih pusing. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal.

30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . hasilnya 170/..• 22-4-2012 jam 07. Berdasarkanpenjelasan di atas. Bahkan setelah Px meninggal. • Pukul 10. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat.. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu.? mmHg. Setelah ada kasus kematian. Yang menemukan pertama kali keponakannya. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Sampai di rumah ibu mengalami kejang.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px.

Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Px selalu periksa kehamilan di BPS. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. umur 31 tahun. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. B. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00.KASUS 3 : Nama Ny. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.

Untuk resiko-resiko masa kehamilan. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Menurut kader. selama Px hamil. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Menurut kader. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Kader juga tidak 189 . Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga.

permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Berdasarkan penjelasan di atas. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px.

” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut.. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan. tempat penelitian ini berlangsung. Px selalu periksa kehamilan di BPS.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas.. “. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil. beberapa menjawab “tidak tahu”. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak.gak tau mbak.. Takut ada apaapa kalo gak nurut. “. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. mereka akan malu.” 191 . pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px.

Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil.embuh prikso nang ndi mbak. Di Kota Blitar. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya.wong g tau metu seko ngomah. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Berkaitan dengan kehamilan. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. “. Lain kasus. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Engkuk ujug2 wis lair anake.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya.. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil..

bidan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. janin sungsang). berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya.

suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. bayi dan anak. Di level komunitas. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Di Puskesmas. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. Masalahnya. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Selain tentang substansi PHBS. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. jika terjadi keluhan pada istri. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri.kehamilan istri. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. Kalau dilihat dari profesinya. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. pemberdayaan masyarakat dan P3K. 194 . Selama hamil. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan.

Kurang opo.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Sulit untuk dikasiktahu... “. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. Terkait dengan kegiatan Jampersal.kalau ada apa-apa. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan. Ini lho ada pelayanan gratis. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. ini no HP saya. Kalau ada sesuatu yang spesial. 195 .. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus.. Perasaan tidak enak hati... tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon.. “. “.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. mereka sering datang dan pergi. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. sampeyan bisa periksa kehamilan.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. silahkan hubungi saya.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan.

alamiah dan kodrati. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa..setelah ada kasus. sopo sih kui.. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. bukan orang kesehatan..” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Ketika terjadi kasus kematian maternal. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT.. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. kok banyak bicara tentang kesehatan. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader.. Hal 196 .saya tidak enak hati. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi. Namun demikian... Kader juga direpotkan dengan kejadian itu. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian.” “. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada.. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. Dengan adanya kasus tersebut.. “. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau.“.. kok kenyi banget.. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. ketika terjadi masalah kesehatan.

Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. Pada keempat kasus kematian. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Secara medis.58 km². semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Namun. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . faktor geografis dan kendala ekonomi.

Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. Pada dasarnya. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. sosial dan budaya. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 .kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. Oleh karena itu. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. pendidikan.

masa remaja hingga dewasa. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. masa kanak-kanak. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. 199 . Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. terutama oleh suami. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya.

LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. karena dalam Budaya Jawa. 5. 200 .9 AKSEPTABILITAS TOMA. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. TOGA. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. LINTAS SEKTOR. tokoh agama. suami dan keluarganya. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. kader kesehatan. aparat desa dan dukun.

petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. kader. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. dari kepolisian juga sering. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. TOGA. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. selain itu juga melalui media elektronik televisi. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. 201 . Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.Gambar 5. Sedangkan di Sampang. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. memberikan informasi tentang Jampersal. ulama dan masyarakat. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan.

Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat.setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm... masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. Selain itu. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. “. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun.. Kita sampaikan di situ.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal.” ". mereka takut ke RS takut biaya mahal.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan.. Kita teruskan lagi di masyarakat. kab. “. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun. “.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. atau langsung dr pintu ke pintu.” 202 . Menurut Toma. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan.. Wakatobi). kadang kita undang kumpul masyarakat. terjadi di Kabupaten Wakatobi. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal.di kelurahan sosialisasinya. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir.. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. Di pos kamling.. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya.” (Toma.

Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. disana terpampang satu poster tentang Jampersal.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. 203 . Kabupaten Kepulauan Aru. Di Blitar. Masalahnya. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. Masalahnya. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. diketahui bahwa terdapat 66. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina.

. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Semua orang yang pernah mendengar. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis. ibu nifas dan bayinya. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.program jampersal ini disambut baik. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. “.. ibu bersalin. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.” “.. tidak semua bisa berpendapat.” “. pertolongan persalinan. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal.. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar.. Mengenai persyaratan.” 204 .

kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. saling pandang dan tetap terdiam. Di kota Bandung. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. Secara garis besar. Maluku. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi.. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang.“. sasaran dan persyaratannya. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. “program untuk masyarakat miskin”. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat....” “.program jampersal di masyarakat ini baik.. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis. jenis pelayanan yang diberikan. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Masyarakat banyak yang 205 . Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan.. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”.

pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. pertolongan persalinan. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. 206 . semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut.. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal. Di kota Mataram.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan....” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan.” “..kaya miskin boleh ikut Jampersal. masyarakat mengemukakan bahwa: “..setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan..” “. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan..keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal. Tentang pelayanan yang diberikan.” “.. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas. KIA...” “. periksa bumil dan KB.

program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus. Nah.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal.Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal.” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota..“.. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah.. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal….” “..untuk ikut jampersal....” “.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK. untuk pengurusan memerlukan waktu. kalau negara mampu. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal. kalau negara kurang mampu..... kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 . mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani...program jampersal di masyarakat ini baik...” “.” “. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat. Dengan adanya program Jampersal..” “. Berikut ini beberapa komentar masyarakat. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP. maka perlu dibatasi. “. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.... Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.... terutama untuk keluarga miskin saja. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP.. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.

Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. pelayanan rujukan.. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal.kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS.1. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat.program Jampersal harus terus dilanjutkan.9. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. sebagaimana berikut.” ( Toma.. “. “. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.. Dalam pelaksanaan suatu program. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar.” (Toma.. Wakatobi).karena belum merasa berkepentingan. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. 5. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. “. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. Dengan merasakan manfaatnya. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. jangan berhenti.” (Toma... Kota Mataram). Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Kab. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya.” “. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 . Dalam pelaksanaan. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. Kota Bandung)...

Kab kep. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah.” (Toma. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Kep. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. “. misal umurnya sudah banyak. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. Kalau di dukun kampung. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada.belum lagi bidan kecil2. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat.Khusus untuk masyarakat di Natuna. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan.. Natuna).” (Toma. Pelan-pelan ditolong persalinannya.. khususnya bagi keluarga tidak mampu. mereka baru.. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . Kab. Natuna).. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. langsung tindakan saja. Jadi gimaa mau percaya. “. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan.

210 .

dibatasi pada jumlah anak. b. Materi sosialisasi masih 211 . Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. 3. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. KESIMPULAN 1. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. peralatan dan bahan habis pakai dll.1. SDM. Secara umum provider ( bidan. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal.

ibu bersalin. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. perdarahan sebelum melakukan rujukan. e. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. tapi juknis tahun 2012 212 . ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. surat ijin mengemudi. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. g. d.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. surat keterangan domisili. kurang pada substansi. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. f. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. kartu keluarga. KTP suami. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. c. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. habis pakai dsb..

dan distribusi bidan belum merata. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . c. b.sudah lebih sederhana. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. 4. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. misalnya di kota Ambon. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi.

Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. c. Terutama di daerah kepulauan sarana. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. b. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . 95. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. d. Pemanfaatan layanan Jampersal : a.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan.3% dilakukan di fasilitas kesehatan. • Untuk pengguna Jampersal. 214 . 5. bahkan tidak ada SPOG tetap. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas.

LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Jamkesda (19. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya.6%). Toma. Jampersal bersifat portabilitas.6. dan lebih senang dengan KB suntik. c. Dari data didapatkan : a. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Di level komunitas.30%). juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. b. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Toga. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . 8. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . Lintas sektor.10% dan Jamsostek (11. 215 . selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Askes (12. IUD). masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal.

kader) dalam 216 . seperti BOK. 3. Jamkesmas. obat. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. 4. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. dll. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. lintas sektor dan masyarakat (Toma. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. bahan habis pakai. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. pelibatan lintas program.3. 2.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Jamkesda.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. 5.2. Toga. 6.

• Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”.sosialisasi lebih di tingkatkan. c. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi.2. Menyediakan rumah singgah. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. khususnya di daerah tertinggal. 217 . 6. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Kementerian Perhubungan. dengan menerapkan inform consent.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. b.

tokoh agama. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. • Melibatkan tokoh masyarakat. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. dan kepulauan. baik aspek tenaga. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan.perbatasan. obat dan peralatan. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. sarana. 218 . serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK.

Trihono. atas segala perhatian. Toga. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. drg.. 2.Kes. Kasubdit Ibu Nifas dr. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. 3. masyarakat. Drg. 4. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. Usman Sumantri. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. Dengan segala kerendahan hati. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. dr. Riskiyana. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. DR.. 5. Sandi Iljanto. kesempatan dan dukungan yang diberikan.Sc. M. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.. selaku Kepala Pusat Humaniora. M. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. 219 . RSUD. Puskesmas. Toma. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. 6. Sampang.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. atas segala perhatian. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan.

Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan. 220 .7.

Mays N. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Alexander. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Heddy Shri. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. J. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Badan Pusat Statistik RI. 2nd ed.. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. 2003. 2012.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Open University Press. (2012) Making Health Policy. Mays N. William. Buse K. Andersen. Badan Litbangkes RI. (2005) Making Health Policy. Praya. Analisis Data. Rencana Strategis Nasional. 2000. Jakarta. Badan Litbangkes. Gadjah Mada University Press Emzir. Nelson: London. Yogyakarta: Kepel Press.. 2011. England. Departemen Kesehatan RI. Dunn. 2007. Anonym. USAID. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Buse K. Pearson. Rajagrafindo Persada. Strukturalisme Levi Strauss. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. 1975. Macro Internasional. Graham WJ. 1st ed. The Lancet. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. England. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Administration & Society. 2010. Jakarta: PT. 16: 403. Praya. 368(9542):1189 – 1200. Jogjakarta.. (2006) Maternal mortality: who. Badan Litbangkes RI. Profil Kesehatan Wakatobi. and why. ER. Carine Ronsmans C. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. Open University Press. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. Public Policy Making. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Walt G. Yogyakarta. Jakarta. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. 4th Ed. where. Mitos dan Karya Sastra. 2012. 1996. 1985.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. when. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. 221 . Walt G. BPS Kab Lombok Tengah. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat.

Badan Litbangkes. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Soekidjo. Rineka Cipta Pranata. American Journal of Health Behavior.id Kementerian Kesehatan RI. Michael (eds). Gereina N. 2012. Anhb LV.. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Mukhopadhyayd M. Ramanif KV. 2011c. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. No. Gulliford. 2002. Martin. 2. Zahr-CLA. Jampersal Solusi Persalinan. Administration and Society 6(4):445-8.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Pearsona S. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam.. Inside The Academy: Profiling Dr. Barry Gibson1.67–173. Martineauc T. A Reader. Birda P. 1999. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya.. David Hughes. 6. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Lawrence W.. Volume 23. Green. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI. 2011. J. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. 2011e. Setia.. Press Release. Volume 7 No. Kementerian Kesehatan RI. 2011d. 2007. Roger Beech2. Jakarta. 2011a. 1993. Health Policy 100. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Myfanwy Morgan. Qiane X. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Niniek L Pratiwi. 222 . New York. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . Ian. Kebijakan Jaminan Persalinan. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Jose Figueroa-Munoz. Jakarta. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 14.go. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Meryl Hudson. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. The Policy Process. Notoatmodjo. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Ahmed S. Diunduh dari http://www.. Jakarta. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. Sugeng Rahanto. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Vol. BMC Medicine.depkes. India and China. April 2011.12 Greena A.. 2011b.Gordon. R. Mirzoeva T. Stanton C.

detik.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012.-Rev. Brugha R. RSUD Larantuka dan RSUD Serang. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya._.depkes. Pearson. Rukmini.unand. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. Prentice-Hall.Jakarta.pdf http://health. 3rd Ed. Weimer DL. Nyoman Kutha./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. & Vining AR.ac. Murray SF. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010 Metodologi Penelitian. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. KL.html. RSUD Sikka.pdf 223 .id/id/wp.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755. 2007.unram. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice. Health Policy and Planning 23:308–317.ac. Wilujeng.15... & Gilson L.go. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435.kompasiana.5th Ed.id/index. http://edukasi. http://buk. Schneider H. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan. 2005).id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No.Ratna. Shiffman J. Walt G.pasca. tahun 2007. RSUD Padang Pariaman. & Vining AR. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). http://fp. Weimer DL. http://www.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful