LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Provider (RS dan Puskesmas).KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Surabaya. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. akseptabilitas Dinas Kesehatan. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. Laporan ini. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. Akhir kata. Desember 2012 Tim Peneliti ix . memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah.

x .

dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. nifas. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.bersalin. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. nifas. Lintas sektor. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. xi . nifas. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. 4) Menganalisis ketersediaan (availability).bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. nifas. Toga.bersalin.bersalin. saat.

Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Bidan Koordinator. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. Pengelola Jampersal RS. Direktur / Wadir Pelayanan RS. cek list dan data sekunder. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. berdasarkan perhitungan simple random sampling. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. pedoman wawancara. dan kader Posyandu. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Obsgyn. Kepala desa/lurah & aparat desa. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil.

Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. penyediaan sarana. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Secara umum provider (bidan. 3. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. dibatasi pada jumlah anak. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. xiii . SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. 2. kurang pada substansi.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Kab. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. b. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. c. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain.

ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. d. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. kartu keluarga. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. h. surat keterangan domisili. KTP suami. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. e. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. surat ijin mengemudi. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. f. ibu bersalin. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. habis pakai dsb. 4. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. g. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana.

hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95.3%) sudah di fasilitas kesehatan. Sisanya masih di xv . Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. b. Terutama di daerah kepulauan sarana. b. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. c. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. bahkan tidak ada SPOG tetap. misalnya di kota Ambon. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. 5. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. d.

6. Dari penelitian disimpulkan : xvi .7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. c. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Jamkesda. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. d.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. 8. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. b. Dari data sasaran didapatkan : a. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Toga. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Lintas sektor. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. c.

b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. IUD). Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. provider dan masyarakat.a. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Ada keterlibatan Toma . bahan habis pakai. b. Toga . xvii . Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. lebih senang dengan KB suntik. obat. d. brosur. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. c. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah.

xviii . Jamkesmas. 6. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Jamkesda. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Toga. 3. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. seperti BOK. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. dll. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. 2. dengan menerapkan inform consent. o Menyediakan rumah singgah. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. lintas sektor dan masyarakat (Toma. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. 5. pelibatan lintas program. 4. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil.

sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . sarana. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. khususnya di daerah tertinggal. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. c. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. obat dan peralatan. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. perbatasan. 1. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. d. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. dan kepulauan. baik aspek tenaga. 2. b. xix . Kementerian Perhubungan.

xx .

SPOG). cakupan program). FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Jawa Barat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Sulawesi Tenggara. pengelola Jampersal. pengelola program KIA dan verifikator). sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. Puskesmas (kepala puskesmas. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. verifikator independen. xxi . bidan dan dr. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. NTB. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. pengelola Jampersal dan bidan desa). Maluku. SIM. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. bidan koordinator.toga. Surat keterangan domisili. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). pengelola Jamkesmas/Jampersal. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Kartu Keluarga. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. sasaran (ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . KTP suami. kader. dukun dll). Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif.

kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. Jamkesda. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Hal ini dikarenakan menurut provider. masyarakat dan sasaran. Askes dan Jamsostek. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .

It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. Husband ID. Maluku. Southeast Sulawesi. a domicile explanation letter. questionnaire structurely. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. targets (pregnant women. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. West Java. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. cildbirth Insurance management. Childbirth Insurance managements. public health insurance/childbirth insurance managements. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. It was covered based on Minister Decree of Health No. coordinator midwife. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. independence verificator. post natal) including communities (TOMA. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. and mayor decrees. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). and the others). Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. TOGA. birth. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. health program coverage. Results of the study shows that In general. FGD.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. 2012. and verificator for health office). Driver’s License. and village midwives). cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. West Nusa Tenggara. and obstetric specialists). Each area were taken 2 (two) districts/cities. Health Center (head. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. maternal and neonatal management. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. East Kalimantan and Riau archipelago. midwives. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. Furthermore. hospital (director/head of division for health services. materials in medical services. Family Card. Moreover. cadres. and financing. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. Student Card and passport.

communities. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. xxiv . It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. health insurance.package. or one stop service. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. Key words: Childbirth Insurance Program. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. shelter home. In general. local health insurance. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. On the other hand. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers.

Psi. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . Agung Dwi Laksono. 1 Nama dr..Vita K.. M.Kes dr. Yurika F. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.KG Dra. Ir. Setia Pranata. Niniek L. M.. 5. S. 7. SKM. drg. 14. M.. Selma Siahaan. Rukmini. magister Sains Peran P. Master Kesehatan Peneliti 6. Yunita Fitrianti. 2. SKM.S. Muhammad Agus Mikrajab.MPH Peneliti 11. S. Epid.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. R. Drs. S. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. 15.Sp.Ant Sri Handayani.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. S.Wasis.Psi. 13. M.I.M. S.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. Dr. SKM. Peneliti 12. drg. Msi Kepakaran Dokter.Sos Wening Widjajanti. Tety Rachmawati.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No.KM Rozana Ika Agustiya. M. Msi Ingan Ukur Tarigan. Pratiwi.M. Psikolog. Kes. 9. 16. Apt.

xxvi .

1 1................................................................... 2......................................................................................1.........1..................................................1.......1........ 2........................................................................................................................... FOKUS BIDANG PENELITIAN ................ BAB I 1........... TINJAUAN PUSTAKA ........................ 2................................................2...............1............... KATA PENGANTAR .................. xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 .................2 PERJANJIAN KERJA SAMA ............................ PERTANYAAN PENELITIAN .................................................................................... RINGKASAN EKSEKUTIF ...............................................3 BAB II 2............................................................................................................................................................................................................2 SASARAN JAMPERSAL ......................... 2..........3 FASILITAS KESEHATAN .................. ABSTRAK ......1 JAMPERSAL ....................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) .................. DAFTAR GAMBAR .. 2...............................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ................................................................ 2..1 PENDAHULUAN .............. DAFTAR TABEL......2 1............................................. DEFINISI ..... SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ..............................................................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ........2...... DAFTAR ISI...................................................... 2................................ 2......................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ......... LATAR BELAKANG ........................ DAFTAR LAMPIRAN ............ DAFTAR ANGGOTA PENELITI ...... 2...........................................................................................................................................................................................1.....................6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ............1 TUJUAN JAMPERSAL .........................................................................................................................................................................

...................................... KERANGKA OPERASIONAL............1............................................ 2........................ 4.............. TUJUAN PENELITIAN .....3........................................ KERANGKA PIKIR ....... KERANGKA TEORI ................................... 3.......2 TUJUAN KHUSUS ................................4..................... 4...2 BAB IV 4.................2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ....................... 2.................................................1 TUJUAN DAN MANFAAT................5 4........4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK .... 2.................. 2.......................................................................................3........................................................................4 PENDANAAN JAMPERSAL ...............................................2...................... RESPONDEN PENELITIAN .......................................2...... 2........2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN .......3 KEMATIAN MATERNAL ....7 4..2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF .................... 4..........3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL .....1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ........4..................8 4..............9................4 4......................3 TEORI KEBIJAKAN ........................ 2...1............ xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 .............6.......................... 2....... CARA PENGUMPULAN DATA ..........................1 DEFINISI MATERNAL .....3 4....................... 4....................... 3.2...........1 TUJUAN UMUM ...... 2...................... 4.9 VARIABEL PENELITIAN .....1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN .............................................. BAB III 3..................................................................1 4........................3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL .............. 2........6 MANFAAT PENELITIAN ...................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ......... 3......................................................... METODOLOGI ........4...................3................................................................................2 4................................................. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ......................................6................6.........1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN . DEFINISI OPERASIONAL ...................3 DATA SEKUNDER ...........................................................................................................

.........................6 BESARAN TARIF PELAYANAN ......... 5...6 KABUPATEN BOGOR ..............1............1..............................................2.......................................2........ 5...1 KABUPATEN SAMPANG ................ 5........................................2............. 5.........................................3 KOTA MATARAM .................12 JADWAL KEGIATAN ..............................5 PEMBERI LAYANAN .......... 5........2................ 4..........11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ..................7 PENDANAAN ............... 4.................8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ........10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA .2...................................2..7 KOTA AMBON ...... 29 29 30 30 31 33 5.........1......... 5......................2....2....................9...........5 KOTA BANDUNG ..........2...................2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ...................................... 5.......... 5..................... BERSALIN DAN NIFAS ..1........................... xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 .......... 5....... 5...2...........1..2.2...1 SASARAN .2.......................................2.............1........................1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL............................................3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………....4............................................. 4.....2.....1.1.........................1.2...................9.2...................4 PERSYARATAN KLAIM ....2 KOTA BLITAR .... 5. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ......2.........2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ................. 5.............1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN .............. 5....................... 4................2... 5.... 5....2........2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN...........2 PAKET PELAYANAN ... 5....................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ... 5..2..3 KEPESERTAAN ............................... 5.............2...4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ............. 5...........2....................1....................2.....................1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ......... 5...

.............2.............. 5........3..2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.. 5..5.............................2 KEPESERTAAN .......2...............2 KEPESERTAAN/SASARAN ........4...................13 KOTA BATAM ...........................1 PAKET LAYANAN..............4..... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .......................... 5...2..3.........4....................... 5.3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5.......................4.....2.....................................................4............... 5....1 DUKUNGAN MANAJEMEN................2..........1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5.........3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ...10 KABUPATEN WAKATOBI ...2.11 KOTA BALIKPAPAN ............. 5..... 5........1 PAKET PELAYANAN .4.........................2.............................................14 KABUPATEN NATUNA ....2.......4....2...................................... 5.4 BESARAN TARIF PELAYANAN .............. 5....9 KOTA KENDARI ....................5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).... 5........3.............8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ............2...........3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5...........2.4..................4...... 5............................................... 5..5 JASA PELAYANAN ..............4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5....................4............3...3 SYARAT KLAIM... 5...3....2............... 5..2..2.......... SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ............ 95 xxx ....2.......2........................ 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5.............2.................... 5........12 KABUPATEN PASSER .....2...........4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..4....4........ 5.2....

.......................... SARAN/REKOMENDASI .............1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ............................... TOGA......................... 5....... xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 .............. 5.......1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH ......................... 5.............................................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .............2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ...5....... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN .. 5.................................... 5..............7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .... DAFTAR KEPUSTAKAAN ............................................................................1 JANGKA PENDEK .............................................................................2 AKSESIBILITAS JARAK ............2..............1 HARAPAN MASYARAKAT .....................................................9......6............................9 AKSEPTABILITAS TOMA..........5.................1 JANGKA PANJANG ..... 5.......................2 KESIMPULAN DAN SARAN ..................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR ......................................... KESIMPULAN .........................3 ANTARA BUDAYA................6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ....................2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .................................2.......1 6............... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ................................ 5.......5...... LINTAS SEKTOR..... 6............ 5.....................8. 5............................. 5......................8......... BAB VI 6................... 5.....................................6................................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH ................ 6..8...

xxxii .

4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.3 Gambar 4.2 Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.1 Gambar 4.4 Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.9 Gambar 5.8 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .7 Gambar 5.10 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.1 Gambar 5.12 Gambar 5.

Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.21 Gambar 5. Kab.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.20 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .16 Gambar 5.Gambar 5.15 Gambar 5. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.19 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.18 Gambar 5. Kab.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.

Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.43 Gambar 5.45 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.48 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5.33 Gambar 5.38 Kunjungan K1.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 . Lombok Tengah 139 Gambar 5. K4.46 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.34 Gambar 5.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5. Th 2010 s.49 Gambar 5.50 Kunjungan K1.40 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.42 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.47 Gambar 5.44 Gambar 5.

TOGA.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .51 Gambar 5.53 Gambar 5.54 Gambar 5. kader.52 Gambar 5.55 Gambar 5.

K4.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii .5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573).4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5. 27 31 47 95 Tabel 5. Tabel 5.1 Tabel 5. 121 Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 5.

xxxviii .

jumlah itu masih sangat tinggi. kecukupan fasilitas kesehatan. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). 2007). 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan.I. Menurut data Kemenkes.R. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.BAB I PENDAHULUAN 1. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. pengetahuan. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015.. 2011).1. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . Dengan program jampersal. sehingga diperlukan (SDKI. (Kemenkes. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. sumberdaya manusia dll. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. lingkungan. pendidian masyarakat.

2011).R. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). 2011). bagi siapa saja. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai.3 triliun rupiah.di 80 kabupaten/kota (Gani. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan.. Selain itu. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. ibu bersalin. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.I. saat persalinan.R. 2011). pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan.I. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. 2 . Oleh karena itu. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2. (Kemenkes R.I. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes.

serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY .6 juta ibu hamil. Tahun 2011. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. 3 . Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. K4. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1.7 juta ibu hamil pertahun. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten.

dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. Toga. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. pertolongan persalinan.bersalin. Lintas sektor. Pertanyaan penelitian 1. 4 . Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. akseptabilitas provider dan masyarakat.2. nifas.1. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan.3. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia.

3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan. preventif. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. nifas. baik promotif. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. dan Swasta. 2.1.1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.1. 2. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. 5 . TNI/POLRI.2.1. 2. 2. pertolongan persalinan. 2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1. persalinan. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan.

pertolongan persalinan. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. efektif. dan bayi baru lahir. 2. nifas. Tujuan Jampersal 1. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. dan akuntabel.2.2. Tujuan Khusus a.2. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Ibu bersalin 3. b. persalinan. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. c.2. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . bersalin. 2. Agar pemahaman menjadi lebih jelas. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Ibu hamil 2. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. transparan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.1. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. nifas.

pre eklamsi dan eklamsi 7 . reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. 2. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini.3. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. dimana selama hamil. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. 2.2. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. persalinan dan nifas. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. 1 kali pada triwulan kedua c. bersalin. 1 kali pada triwulan pertama b. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. Penyediaan obatobatan.

Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. dan Kohort ibu. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. masing-masing satu kali pada : 1. 3. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. Implant. dan 8 . Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Kartu Ibu. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali.

Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas.000 kelahiran hidup. Hal ini disebabkan 9 .2. melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. 2002) 2. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional.3. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. 2. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. 2002).2. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. Pendanaan Jaminan Persalinan 1. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil.1. KEMATIAN MATERNAL 2.4. 2.3.3. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. (Winkjosastro (Ed). 2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. (Winkjosastro (Ed).c) Suntik. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100.

3. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan.4. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. dibeberapa daerah. A. (Winkjosastro (Ed). Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. 2002) 2. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1.

retensio plasenta. plasenta akreta.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. sisa plasenta. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. . terbanyak dalam dua jam pertama.Plasenta manual dengan segera dilakukan. dan robekan jalan lahir. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. . Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. robekan vagina. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. Grandemultipara. penyebab utama adalah atoni uteri. Jarak hamil kurang dari 2 tahun. b) Faktor predisposisi : Anemia. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. .Grandemultipara 11 . plasenta inkreta dan perkreta. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : .Retensio plasenta tanpa perdarahan. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. 2. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan. 3) Trauma persalinan.

keguguran tidak lengkap. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . lembaga pendidikan atau rumah sakit.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Keguguran spontan 2. .. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. keguguran dengan infeksi. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. keguguran tak terhalangi. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. 2001) 2. Kejadian abortus sulit diketahui.4. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. status gizi. Keguguran buatan terapeutik 2. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. B. keguguran mengancam. perusahaan multi-nasional atau local. Keguguran buatan atas indikasi medis. (Manuaba. keguguran habitualis. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. missed abortion. kemiskinan. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. anemia.

Organisasi. Selanjutnya. organisasi. pelayanan. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. 2. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005.1.. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al.4. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. dilaksanakan. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. sosial atau budaya. 2005). sebagai berikut: 13 . serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. yaitu: 1. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. dikembangkan atau disusun. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. 2012). ekonomi.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . Dalam ilmu kesehatan masyarakat. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. dikomunikasikan. dinegosiasikan.

menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. bagaimana kebijakan dihasilkan. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. disetujui. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. 4. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Evaluasi kebijakan. TB. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. 2005). 14 .. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. Identifikasi masalah/isu. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. Pelaksanaan kebijakan. reformasi sektor Kesehatan. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. dan dikomunikasikan 3. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Perumusan kebijakan. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. bagaimana pengawasannya. 2007) cit Walt et al (2008).1.

yaitu: a. yaitu: agenda setting. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson.1. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. 15 . sumber daya material (material resources). Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable). 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). Greena et al (2011).2. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. Teori Kebijakan 2. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan.4. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. 1994) cit. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). dan sumber daya metoda (method resources).3.4. 2. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). b.4.2. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan.3. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. Dalam teori ini.

karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. Kondisi sosial. dan 3) Kemampuan pelaksana. Teori Weimer & Vining (1999. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.3. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. e. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. d. b) kondisi. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. 2.2. f. ekonomi. 2010) Menurut Weimer & Vining.c. 16 .4. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. c) intensitas disposisi implementor.

Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2.1 Tujuan Penelitian 3.bersalin.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. Menganalisa akseptabilitas Toma. Lintas sektor.bersalin. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8.2.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana.1.1. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil. 17 . dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. nifas. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3.1. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. Menganalisis ketersediaan (availability). LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Tujuan Khusus 1. nifas. nifas.bersalin. Toga. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. nifas.

Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.2. B.3. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A. 18 .

1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. 4. Faktor Kontekstual.BAB IV METODOLOGI 4. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. Kapasitas Manajerial. ketersediaan fasyankes. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. 3. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. Akseptabilitas Kebijakan. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1.1. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. yang terdiri dari variabel kemiskinan. 19 . Ketepatan program dan Sasaran. 2. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan.

7. SDM. pelayanan KB pasca persalinan 6. nifas. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. 3. prasarana. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA.2. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. Pusat dan Daerah : .Ibu hamil. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran .2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. 2. Proses dan Output. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah.4. biaya dan jenis pelayanan . mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . dan bayi baru lahir. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. 4. ibu bersalin. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 .

Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. tahun 2007). Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. Tabel 4. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi.3.4. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut.1.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. kriteria administrasi kota dan kabupaten. 4. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. Kepala desa/lurah & aparat desa. 2. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’).Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. 4. dan kader Posyandu. daerah yang tidak menggunakan Jampersal.5. 22 . Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas.4. Bidan Koordinator. b) Kelompok PKK. RESPONDEN PENELITIAN 1. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. kriteria daratan dan kepulauan. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran).

Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah.1. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. CARA PENGUMPULAN DATA 4. Sementara itu. 3. c) Verifikator 4. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. dokter kandungan dan kebidanan. verifikator independen. Penanggung Jawab program KIA. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota.6. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. Pengelola Jampersal RS.TOMA/TOGA. Observasi partisipasi dilakukan 23 .6. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. bidan kepala ruangan. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). dan wawancara mendalam (Indepth interview). PKK. Kader Posyandu. 4. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. LSM dll.

4. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. ibu melahirkan. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas).6. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. Bulin dan Bufas) : Data sikap.2. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. 24 . pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal.

Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. 2) Data sikap. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data.6. tahun 2010 dan 2011 25 . n = Z2 1 . Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Data sekunder ini meliputi: 1. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei).2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian.3. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat.

Pembiayaan Jampersal 5. Pemberdayaan Masyarakat 26 . 4. pelayanan bayi baru lahir. pertolongan persalinan. 4.7. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. pelayanan nifas. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. persalinan di 4. Pelayanan Jampersal 6. persalinan.2. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. 3. Rumah Sakit. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. dan Puskesmas. SDM yang terkait dengan Jampersal. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. 5. nifas dan bayi baru lahir.

SK Kepala Dinas Kesehatan dll. SK Bupati/Walikota. SDM . keputusan presiden. 7. 8. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. peraturan pemerintah. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4.2. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . Jampersal Rumah Sakit. 6. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. Variabel Kebijakan Tk. 11.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. keputusan menteri. Puskesmas. 1. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . perangkat desa dll. tokoh adat. prasarana. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri.4. Kabupaten Kota (Perda.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. Pusat Definisi Operasional 2. masyarakat. 9. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.8. 5. Balai Praktek Swasta. Definisi Operasional No. 3. 4. 10.

4. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi.3 Kerangka Operasional 28 . KERANGKA OPERASIONAL 4.1. sedang. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.9. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.RS.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.9.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .

9.9. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4.3. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : . 4.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif . Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.4. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 .menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3. Melakukan uji coba kuesioner.2.

Bidan Puskesmas. 30 . Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. Bidan desa) 7.10. yaitu analisis domain. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis.11. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. analisis komponensial. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif.5. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Sementara itu. dan analisis tema. 4. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. analisis taksonomi.masing provinsi 6.

12. JADWAL KEGIATAN Tabel 4.3.4. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .

32 .

lintas sektor. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. Toga. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. dan 9) akseptabilitas Toma. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal.1. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. 5. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. Dengan kata lain. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. rumah sakit dan puskesmas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). Salah satunya adalah faktor letak geografi. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal.

lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.25).09). Sulawesi Tenggara (74. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. Selain itu. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Namun.94).56) dan Kalimantan Timur (52.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57.67) dan Kepulauan Riau (64. yaitu Maluku (74. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. NTB (45. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. Dalam hal ini. Menurut Badan PPSDMK. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.38).14). Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Jawa Barat (24. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan.56). kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. yaitu Jawa Timur (33. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota.25. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional.

apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5. dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional.30 %).49%). Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. yaitu Jawa Barat (81.02%). untuk rasio 35 .44%). Maluku (77.- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86.28%) dan Kepulauan Riau (97. dan Kalimantan Timur (85. yaitu Jawa Timur (95. Sulawesi Tenggara ( 85.84%). Nusa Tenggara Barat (82. Menurut Badan PPSDMK.39%). Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Namun.35%).

Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95.25. pendidikan dan jumlah anak (paritas). ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal. Karakteristik meliputi umur. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 .67) dan kepulauan Riau (64. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. sulawesi Tenggara (74.28%). Karakteristik Responden Ibu Hamil. Kepulauan Riau (97.84%) sedangkan Jawa Barat (81. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil. Bersalin. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100.39%).44%) dan Kalimantan Timur (85.56) dan Kalimantan Timur (52.09).1. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86. Sulawesi Tenggara ( 85. Jawa Barat (24.02%).787 orang. Maluku (77.56). Kementerian Kesehatan Tahun 2012.1.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. 5. Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.38). dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak.49%).25). yaitu Jawa Timur (33. Nusa Tenggara Barat (82.30 %. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012. NTB (45.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.14).94).35%) masih dibawah angka Nasional.

Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. kepulauan Aru.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Wakatobi dan Kota Batam.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . Kota Bandung. Kota Mataram. kira .Gambar 5. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%).

Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun). Gambar 5. 2005). 2004). Bahkan di 38 . banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. (Rukmini dkk.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang.3. Oleh karena itu pada usia reproduksi. Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI.

Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur.2.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.2%). ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70.1. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. Namun. mencapai 17. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.6%). Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun.9%) dan > 35 tahun (25. menengah. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat.70 adalah cukup tinggi. ada 17. Namun.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. 5. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. baik dari kelas bawah. atau pun atas.

pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Berdasarkan pendidikan.254 Selain berdasarkan umur.10% saja. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.Gambar 5. Sementara itu.4. 40 .

10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas.5%.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4.8% pada usia 10 – 14 tahun. 41.Gambar 5. Berdasarkan hasil penelitian. masih 12. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10. 41 . Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.9% pada usia 15 -19 tahun). Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. Namun.5. Selain faktor umur dan pendidikan. 2010).

ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. 42 . Dengan kata lain. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.Gambar 5.6.

bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.1. persalinan.5. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. nifas. 5. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011.2.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.

5.1. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.2. 6. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. nifas. transparan. ibu nifas dan bayi baru lahir.a. Paket Pelayanan a. 7. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. pertolongan persalinan. dan akuntabel. efektif. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. ibu bersalin. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 2.2. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. c. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. 5. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. bersalin. b.2. Deteksi dini faktor risiko. 5. 4. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. b. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. Pertolongan persalinan normal.1. dan bayi baru lahir. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED.1.

Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan.1. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 1. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). 4. 5.2. b.3.1. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. nifas. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya).4. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. 3. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.2. persalinan. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. pelayanan nifas. Untuk 45 .2. 5. 5.

pemenuhan buku KIA di daerah. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 .1. 2.5. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya.2. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. d. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. c. Klinik Bersalin. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.

Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5.000 80.7.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. 2.000 Jumlah 80.1. 3. 1 kali 650. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil.1.2.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s.000 650.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. bersalin. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir.000 500. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar. Pelayanan pasca keguguran. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program.000 20. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1. 5.000 100. 5.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. wajib segera dirujuk 5. 47 .2.6. 1 kali 100.000 500. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.1. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. Pendanaan 1.

6. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas.21/PB/2011). selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. 48 . Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas.2. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. 7. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). 3. 4. 5. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.

nifas). Proses Pengajuan Klaim 1. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. bersalin. Transport rujukan risti. 8.2. 9.8. 11.1. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. 49 . 10. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. 4. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal.2.2. 55 . dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. swasta. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. 2. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. 5. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. 3.Jampersal. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS.5. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan.

belum diterbitkan Perda atau SK di kab. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Bogor. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. 5. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. jumlah yang di verifikasi. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. dan jumlah yang harus dibayar. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. Dengan adanya protap adalah 56 .5. jumlah yang diperbaiki. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal.2. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim.6. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. dan bahan habis pakai. yang sudah diberikan adalah obat. 6.2. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk.

jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. Pelaksanaan mengikuti juknis. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. catatan pelayanan ANC. atau lewat Koran. dll.2. via SMS. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. partograf dan catatan nifas. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. Kepesertaan adalah ibu hamil. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda.7.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. 57 . namun diantara 18 RS tersebut. dan email. SMS langsung ke Kepala Dina. 5. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. kota Bogor. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. seperti Tangerang. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. Untuk jasa medis. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Protap tersebut.2.

2. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi.2. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. 58 . Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. 5.8.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. tapi karena kondisi di Kab. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab.

RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. baik yang kaya maupun yang miskin. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal..beberapa bulan kemaren. Kep. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo.. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. di desa Ujir. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. Di Kab. buku KIA. “.” (RS. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Masalahnya. terutama mereka yang berada di pedalaman. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. tidak semua masyarakat punya KTP. Aru). Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. 59 . Syarat klaim tersebut adalah partograf. Kab. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan.

Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama.2. Kepesertaan adalah ibu hamil. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. 50. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250.-. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas). yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 . 2) pembebasan biaya pengobatan dan. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.per hari.2.. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku.000.35. bidan desa.2. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. 5. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.000. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat.000.10.2.dan perawatan bayi Rp. puskesmas poned. Rp.9. sedangkan ANC gratis. Dengan demikian .. uang makan Rp.5. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. 55.000..

Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. 61 . Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Kepesertaan sesuai juknis. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Sebelum ada program Jampersal. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal.Kesehatan. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal.

Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah.000. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.2. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. surat domisili).. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin.500. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis.11.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan.2. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. 62 . yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya. 5. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal.

tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Paser). Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.2. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. ini karena adanya perbedaan tarif. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. Dengan BPS tidak ada MoU.2. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil.. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati ..2. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.” (Dinas kesehatan. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. “.13.12. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. terkadang kurang tepat sasaran.5. 5.2.. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Kab.

Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang.500.000. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp.. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. paspor.yang dianggap terlalu rendah. mulai th 2011. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek.000.. SIM.Jampersal. 64 .350. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. surat domisili oleh RT/RW.

pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. Kebijakan Dinas kesehatan. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan.14. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan.2. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 .2. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. 5.

sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. 66 . Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. 2) Perbub untuk tarif di RS. Karena mereka juga abdi masyarakat. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. potongan yang terbesar sampai 50%.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. setiap bulan dipotong 3%. SK Direktur. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. 5) Jasa Pelayanan. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. yaitu untuk anggota TNI/Polri. sedangkan mereka bukan peserta Askes. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. Potongan bervariasi.

SDM. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 .5. 2) bebas kematian bayi.1. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. 5 tahun 2011.3. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD. 3) bebas gizi buruk. Dukungan Manajemen. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. 5. peralatan dan bahan habis pakai dll. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. 4) Bebas TB. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. Program ini merupakan program Bupati . sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. fatayat atau aisiyah.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. “. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. kepala desa.. kader kesehatan. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. Di Kota Ambon. PKK. 73 . kepolisian. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. dukun. dukun dan Toma. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. mulai dari kabupaten sampai desa. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten.. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. muslimat. kecamatan.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar.

2.. 5. “. bidan puskesmas. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012.. 6) tugas sebagai penolong persalinan. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. Waktu itu awal-awal juknis 2011. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter.” (RSUD. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. 2) dukungan Jampersal pada program KIA.untuk sosialisasi jampersal di RS. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan. 5) kendala implementasi Jampersal.” (Dinkes.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA.“.. 4) dukungan sarana. Kab Sampang). dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. bidan praktek swasta. 3) Sosialisasi Jampersal. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada.4. Pada bulan November 2011 di Bali. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. 74 .. bidan desa. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. Kota Mataram). Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal.

6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. 94. Selain itu 94. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. Ternyata 35.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.Gambar 5. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin.6%). budaya untuk bersalin di non nakes. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.4% responden bidan juga kurang memadai.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA.

Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a).7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. b).2. 1 kali pada triwulan kedua. untuk masalah ANC.cuma gini pak. c). 82.. Dua kali pada triwulan ketiga . dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut.” (Bidan Kab. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. Sampang). ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. didapatkan 85. secara umum bidan dapat menerima. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. 76 . Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.4. Bogor). hasil penelitian 5. dimana selama hamil. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan... Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. 1 kali pada triwulan pertama.. bisa tiap bulan. sebenarnya sudah bagus. namun ya tergantung dari Kemenkes. “. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan.” (Bidan Kab.hal diatas 94. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali.6% bidan menyatakan baik. “.1.

.” (Dinkes. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari.. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. Kompetensi bidan. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . misalnya manual plasenta. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. Apabila hal tersebut diterapkan. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. boleh mengklaim. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. bahkan di Aru 77 . bisa melakukan tindakan selain itu. Kab. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. Sampang). maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED.bidan melaksanakan pelayanan. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. Kita kembalikan ke program. tidak semua bisa diklaim. tapi kalau Poned terlalu jauh.

000. pelayanan bayi baru lahir.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. 150.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. “.PNC. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.” (Bidan Kab. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. Jadi klo OH 78 . Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA...belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Berbeda dengan Kab. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan.” (Kepala Puskesmas di Kab.300. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien.. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). “. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir..000. Kep. Aru). jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas.. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Kalau sudah mulai sakit. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. “. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan.. temuan BPK. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. dan pelayanan KB pasca salin.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan).. mungkin merasa lebih enak di rumah.. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. “. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya).masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. OH tdk boleh lebih..

masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter.000..” (Dinkes.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung).. Padahal klo KN harus dikunjungi. 79 .. bukan termasuk KB diluar itu. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. “.” (Bidan Kab Lombok Tengah).lebih dari 30 hari tidak dibayar.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. terutama jika ada kasus.000. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. pasien lebih baik membayar sendiri. Kab. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. “. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan... tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja.

Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.2. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar.” (Bidan Kota Blitar). Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja.. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. 2)..” (Bidan Kota Ambon).. 3). Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja.” (dinkes. 80 . “. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4). selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana.” (Bidan Kep. ibu hamil . Kota Balikpapan).kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali.2. mau buat anak berapa juga tetap gratis. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. “.5... Aru)..beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. ibu bersalin. “.4. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu... Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. “. neonatal (0-28 hari). Biasanya langsung ke nakersos saja. Supaya program KB berjalan dengan baik.program jampersal ini disambut baik.

2. kartu mahasiswa. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. Lombok Tengah).. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. 5. masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. KTP suami (Kota Blitar). “. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. Batam). Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. Kartu pelajar (Kab. paspor (Kab.4.” (Bidan Kota Ambon). Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. KK juga harus disyahkan camat.” ( Bidan Kota Ambon).. Kartu Keluarga (kota Ambon).. Surat Ijin Mengemudi (kab. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. “. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP)..3. 81 .Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Lombok Tengah).

Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. 82 . Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%.10. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah.

berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. Aru). “. kelayakan..bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. 83 . bukti kb dll. partograf. identitas. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. dientry data soft ware Jampersal.. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . pengisian teknis.. “. setelah selesai diverifikasi.. Kab Paser). tetapi hal tersebut menjadi temuan.” (Bidan Kota Blitar). Kami menerima dana jasa pelayanan penuh.” (Pengelola Jampersal. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien.Gambar 5. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim.. jenis tindakan dan besaran tarif.. Kab.” (Pengelola Jampersal. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal.Kalau tahun yang lalu 2011. “. disimpan di Puskesmas.

.000 untuk jasa.” (Kepala Dinas.” (Dinas kesehatan. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas. Kota Bandung). “.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. Proses pengajuan klaim susah. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp.. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. “. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot.. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 .maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. 5000. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. Ada penggantian obat dan lainnya..Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Kota Bandung). Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. soalnya petugasnya tidak stand by. Kab. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi.. Mojokerto. Kalau mau klaim harus telpon dulu. Di daerah uji coba penelitian Kab.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50.. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan.” (Puskesmas. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. Klaim bisa satu minggu aja. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab.. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain.. “. “. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan.

Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota)..000 sampai dengan Rp. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal..000.. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.-).000.” (Puskesmas.000.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut. 20..700.000..4. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.-. 5. Kota Balikpapan). Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . “.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp. 20. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku..000.2. persalinan normal Rp. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 .sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair.” (Dinkes Kota Balikpapan).500.4. 100. PNC Rp. 200. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari.

” (Bidan Kab. kalo bisa sampe 700 rb. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. Paser). “. persalinan sampai PNC. Kota Batam). kab. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar.” (Puskesmas. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. BHP dll. jadi bidan hanya 400 rb. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien. 86 . maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500..besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. Batam. “. Bandung dll. Minta ditambah.. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500.” (Puskesmas. Bogor).. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan.. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis.” (Bidan kab. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan.karena membayar dukun.. kami menanganinya. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. krn BHP sendiri.. tapi ternyata dibayar cuma segitu. “. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350.menurut saya kalau persalinan normal. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif.000. paket pelayanan sudah cukup.sudah sesuai mulai dari ANC. “.000..000 untuk persalinan oleh bidan. Sampang).000.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. makan minum pasien.. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. dengan tarif bidan yang tinggi.

Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep.000. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda.” (Dinas kesehatan.4.000. 87 . 1). Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.perlu ada regionalisasi tarif. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. Kota kendari).5. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser.”(Puskesmas. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. sedang tarif umum tidak ada. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. “. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.” (Bikor... Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 .000. Aru dan kabupaten Wakatobi. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri.. Aru). Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp.. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada.000.. 3. 350. 5..“.-.000. 500. “.1. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp.-. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam.2. Kota Kendari).tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas.-. Kab.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp.000..

Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. Kabupaten Kepulauan Aru. 88 . hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Lombok tengah. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. Ambon. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Mataram. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Blitar. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sampang) Provider (Bidan. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs.” (RSUD. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. Sering timbul masalah 89 .pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. “..4. “..3. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. Namun kenyataannya tidak demikian. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan..5.” (RSUD. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. Kab.1. 5.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. ditanggung oleh Jampersal. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG.4. Kab.3. Kecuali untuk kasus ginekologi. Sampang)..

Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. bersalin.2.” (NN. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 .dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit.. 5.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. nifas. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB . baik negeri maupun swasta). sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. RSUD). Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. Padahal. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui.3. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit.4.. “.

SIM. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal.. Kab. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. Sampang).pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan.. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. Kep. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon.” (SPOG. buku nikah. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. “. “. Aru). Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. RSUD).. persyaratannya KTP dan rujukan. RSUD )..” (Pengelola. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. tetapi tetap tidak bisa menolak.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda.3. kartu pelajar. keterangan RT. kartu domisili. Selain itu pasien membawa rujukan.3. 91 .4. “. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD.” (RSUD. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun... Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori.. Kab. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. Sampang). partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram). 5. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya.” (Pengelola Jampersal.. “. Kab.sungsang ini tidak masuk akal. Namun dalam kenyataannya. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan.hambatannya sebetulnya tidak ada. KK.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf .adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan.

jadi setelah pasien masuk.. “.outnya dikirim.Mekanismenya. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik.4. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS.”(verifikator independen.4. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. “.” (SPOG... Kab. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan.. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s. 5.3. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat.klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Sampang). kota Bandung). Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012.

. 93 . karena terlalu rendah. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah.tarif sedikit. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Obgyn sectio semua. harus ikhlas. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.000 itu Cuma habis untuk obat saja.. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.. “.2 atau 1. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. Wakatobi). Sepaket 2. RSUD). Kota Bandung).” (bidan RS.. jadi yang diterima nakes kecil.yang saya tahu.8 juta lah.” (Pengelola Jampersal RS. RSUD)..083. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. dan bahan habis pakai. “. “.” (SPOG. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku. belum untuk bahan habis pakai. Ini masalah personal. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada..program dan tujuan MDG’s. “.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. Bedanya sampai 1 juta per pasien. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.” (SPOG. tapi dengan jampersal kan hanya 1. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya.. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%).000 . namun kalau boleh kami memberikan saran.” (NN. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. kab... Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. apa itu manusiawi... jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. Masa 1 sectio saya dibayar 150.000.tidak manusiawi. Kota Ambon). Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. “.083.

premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1.” (SPOG... Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1.000.. itu sudah pas-pasan. Kota Kendari).2 jt.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5. “.” (RS... Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III..” (RS. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3. maka para bidan.. “. “.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal.. RSUD). Kota Blitar). “. Contoh: kasus angina pectoris. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.” (dr.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio. SPOG. 94 . Itu kalau di swasta standar tarifnya itu.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.000 . Kota Ambon). Dokternya hanya dapat 750. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.000 – 1250000.

8.go. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. 13. 2. Klinik bersalin. 3. 12. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5. sarana dan prasarana yang memadai.5. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS).depkes. Disamping itu untuk Jampersal. 14.5.id 95 . 11. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar.5. Tabel 5. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY). AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. 4.bppsdmk. rumah sakit pemerintah dan swasta.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. 6.2. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. 7. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. 5. 9.

padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Kabupaten kepulauan Aru). bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Kota Ambon.. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Kabupaten Kepulauan Aru. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. kabupaten Bogor. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Kabupaten Wakatobi. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini).” (Pengelola Jampersal. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Kota Bandung. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Karena dari 22 puskesmas yang ada.. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. baik itu dokter maupun bidan. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan.

Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. Kota Ambon). bisa melahirkan di polindes.” (Puskesmas. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah).”(Direktur RSUD Paser). sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. “. (RIFASKES.. Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). “. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP).puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten... Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr.7%. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya.6% sementara di perdesaan 21. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. SPOG.. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. SPOG terutama di kabupaten. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. 2011). 97 . Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. Propinsi dan Pusat. poskesdes maupun pustu. Kota Batam (RS Camatha Sahidya).

. SGOG. Lombok Tengah). Tapi listrik itu yang masalah. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. “. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan.. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. Lombok Tengah). Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan... ruangan ICU. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. “. bagaimana dia mau care dengan pasien.” (dr SPOG.. SPOG. diruangan harus diawasi oleh perawat. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . mulai pada saat setelah tidakan.” (dr.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. ventilator yang kurang dsb.” (dr. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. “.. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Kota Ambon). Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. Dan tenaga tersebut (dr. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. pengawasan post operasi yang baik. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas.

99 .. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB..” (Bidan RS.ketersediaan alat. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP. “. suntik.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana.. implant.” (Puskesmas. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. Bogor). Kota kendari). kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB. “. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. MOW.. laparatomi. pil .Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. Kab.

Gambar 5. Ruang ICU.11. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .

Kepulauan Aru. Balikpapan.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Lombok Tengah. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon.5. 101 . Kota Mataram. Kota Blitar. Kota Bandung.Gambar 5. Paser. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Kota Kendari. Bogor.12.

14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.Gambar 5. Sesuai namanya. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. 102 . sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar. 108 .17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah.Gambar 5. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya.

Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Kab. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. Kecamatan Aru Tengah. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Kepulauan Aru. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. 109 . sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.18 Puskesmas Benjina. Dobo. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Gambar 5.

jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. dua lainnya masih kosong. Jadi. Jadi bila sakit saat baru 110 . yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Dalam forum diskusi yang sama. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Dusun Papakula Kecil. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. yaitu di Namara. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Selibatabata dan Fatujuring. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut.

dan wilayah Trans-Maijurung. Desa Gulili. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. Bersabarlah kek. Desa Selilau. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek.. 111 .saja ada kunjungan Posyandu. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. Setidaknya membutuhkan Rp. 600. Dan betapa Mbak Ning. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu.. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Desa Namara. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). bersabarlah. tetapi seringkali juga mundur. Desa Fatujuring.. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. yaitu Desa Benjina. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami.000.

Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. 1. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan.000.000. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur.-.-. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.600. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut.800. Pada saat pengambilan keputusan.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%.000. 600. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp.000. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. 250. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp. 21.-. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp.000.

Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. laut dan udara. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis.Pulau Wangi-wangi. Pulau Tomia. Gambar 5. serta hari Sabtu via Kendari. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Pulau Kaledupa. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya.

Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. Kab.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. tapi perlu ditingkatkan lagi..-. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat.di sini. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya.. nanti akan dijemput ambulan.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. tokoh agama. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. itupun hanya beroperasi 114 .000. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. Sebagai gambaran. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. “.. “.. rujukan harus ke Baubau. karena tinggal lapor.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. “. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. terutama untuk transfusi darah.. bahkan untuk sekedar bank darah.” (Toma. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini.. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. 130. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah.

Di wilayah ini. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Waitii.000. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia.per kali sewa. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau.000. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Jadi. 115 . terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong .. 10. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting .sekali sehari. seberang Pulau Tomia.

seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. mereka tinggal di pulau seberang.20. Untuk sarana bangunan Puskesmas. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. 116 . Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. di Waitii.Gambar 5. Sedang sisanya adalah perawat. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. PTT dari pusat. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. 4 orang tidak tinggal di tempat. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. wilayah Barat pulau. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk.

Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. Karena meski tempatnya juga tidak strategis. Karena kalaupun ditempati. salah satu staf Puskesmas. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. serta satu staf Dinas Kesehatan. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. 117 . berada di ujung desa. Dalam sebuah kesempatan.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor.

Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. Bila manajemen berkenan memberikan ijin.21. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk. Puskesmas Onemobaa. Kab. 5.Gambar 5. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan.6.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. 5.

masing-masing kabupaten / kota..22. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran.36. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. kota Mataram. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. Bogor. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. 119 .6%.

Tidak seperti di wilayah non kepulauan. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. Sasaran yang diambil adalah 120 . 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. di kep.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional.23. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Gambar 5. prasarana.

K4 .8% 33.8% 74.9%.8%.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.5% 14.3% 100.5% 33.0% 43. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.7% 33.5% 14.1% 50.0% 55.3. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.9% 72. K4.0% 72.9%.6% 64.0% 90.4% 59.5% 14.7% 77.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.8% 58.4% 59.1% 68.3% 66.8% 58.3% 66.1% 66. Tabel 5.9% 33.3% 39.2% 27.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 . K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.3% 39. persalinan dan PNC.2% 61.3% 87. Di Sampang.0% 87.6% 14.2% 25.0% 43. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.0% 94.0% 57.9% K1 + K4 72. K4.2% 27.2% 59. bahkan di Kota Kendari 100%.7% 87. pelayanan K1.0% 52. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.7% 33.0% 50.3% 41.8% 62. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.8% K1 + K4 + Persalinan 71. K4 dan persalinan 59.4% 68.4% 76.1% 66.9% dan pelayanan K1.3% 63. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.3% 63.7% 72.3% 39.2% 86.

Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.5% 4% 9. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.8% 0% 2% 58.8% 2.7% 5. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC.2% 0% 0% 0% 0% 16. Di Bogor juga sudah cukup baik. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.2% 50% 7.7% 0% 0% 3.3% 8.4% 3. Wakatobi.7% 0% 0% 0% 22.4.7% 0% 1.3% 6.Tabel 5. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Bogor.1% 0% 3. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1.2% 4. Kep.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan).K4. persalinan dan PNC. Kota Batam 122 .9% C 4.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47. Aru.6% 15% B 1. Kota Ambon.

0%) 64 (100. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan.0%) 0 (0. KotaBatam 12. Kota Kendari 10. Kab Kep Aru 9. Tabel 5.5%) 0 (0. Kab Wakatobi 11.5%) dan Paser (25.8%).0%) 63 (72.0%) 51 (100.0%) 9 (25.0%) 0 (0. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.0%) 26 (74.0%) 119 (97. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.5.0%) 58 (100.0%) 65 (100. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%). Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal. Kota Mataram 4.0%) 0 (0.4%) 47 (100.0%) 0 (0.7%) 36 (4. Kota Ambon 8. Kota Balikpapan 13.0%) 3 (2.0%) 0 (0. Kab Sampang 2. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.0%) 11 (100.0%) 60 (100. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik.3%) 0 (0. Kota Blitar 3.0%) 0 (0.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22. Kab Bogor 7. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Wakatobi (2.0%) 33 (100. Kota Bandung 6. Kab Lombok Tengah 5.6%) 0 (0. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 0 (0.5%) 54 (100.0%) 24 (27.3%) 726 (95.2%.7%) 1.

seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. Gambar 5.24. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 . Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.

ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. 125 .25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Kota Kendari. Kota Batam.Gambar 5. Bahkan di kepulauan Aru.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Bogor. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. Kepulauan Aru.

2007).Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. Infeksi . (Direktorat Ibu. preeklampsi/eklampsi 24 %. eklamsi. Kemenkes. 126 . Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. 2012). Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan.Gambar 5.26. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. infeksi 11 %.

sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. 5. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia.6.Gambar 5. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. 127 . Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. Saat ini. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .27.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun.2. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.

Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. Sampang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. Loteng. Paser.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi. Bogor)..” (Bidan RS. Kab Bogor). selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. “. kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5..28. 128 .adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). kematian maternal >24 jam.

RSUD kab.29. Kep Aru 9. Tabel 5.6. RSUD Kota Bandung 6. Sampang 2.Bogor 7. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). RSUD Kota Kendari 10. RSUD Kab. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. RSUD Prov Ambon 8.Gambar 5. RSUD Lombok Tengah 5. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . Loteng. Bahkan di RSUD Blitar. RSUD Kota Mataram 4. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. RSUD kab. RSUD Kota Blitar 3. terutama di RSUD Kota Blitar.

RSUD Kab. RSUD Prov Balikpapan 13. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. 130 .”(SPOG.11. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : . kab.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. Sampang) Gambar 5.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna.. Paser 14. RSUD Kab.. “. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. RSUD Sampang. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012.RSUD Kota Batam 12.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.

32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.Juni 1012 131 . Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.Gambar 5. prasarana dan SDM di rumah sakit.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. Gambar 5.

5. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . Gambar 5. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat .243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. bersalin. Tapi di Kota Bandung. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN.7.

133 . Jamsostek. PNC. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua).kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Kenyataan di lapangan. Karena untuk sasaran Jampersal. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. persalinan. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Jamkesda. KB) dibiayai dengan Jampersal. harus dilakukan pemilahan dulu. Askes.

Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. Yang menarik ada 0. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal. 134 .8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66.Gambar 5.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.

Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar. Kota Balikpapan).35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.” (NN.. 135 . Kota Bandung. Kota Mataram.3%. “.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal..di sini kan mahal apa2 bu.Gambar 5. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal. bahkan Kota Balikpapan sampai 84.

obat B yang dibayar.. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “.” (NN. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. Jampersal punya syarat – syarat khusus.” (NN. 136 . Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. yaitu ikut KB jangka panjang.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. ternyata ada tambahan obat B. sudah ada patokan dari pemerintah. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. “. hanya untuk warga miskin saja.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. “...” (Toma. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar. yaitu IUD dan implant..PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.. tokoh masyarakat Kota Bandung). Kota Blitar). Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah. tokoh masyarakat Kota Bandung). Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. 5. masyarakat menanggung.Jampersal tidak semua gratis. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. Kalo ada tindakan lebih dari itu..

Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. 5. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. Selain kesehatan.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah.8.467282 (peringkat ke 286 nasional). yaitu Desa Lamanggau. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. 3) Antara Budaya.

4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%.Kecamatan Praya dan Kopang. 2)Pemberian vitamin A . 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan.8 milyar pada thn 2011. Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar .

Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). 2008) : 139 . Namun demikian.Gambar 5. Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A).37. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten).

2). Fasilitator Keuangan. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. 4). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. membina administrasi kegiatan. memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. merupakan 140 .Di tingkat provinsi : 1). Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. Kelompok Kerja (Pokja). tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Camat. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus.pertemuan di kecamatan. pengendalian laporan keuangan. Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). Spesialis manajemen informasi sistem. 3). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. Di tingkat kecamatan : 1). Bupati. 6). Spesialis PNPM GSC. 2). pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. Fasilitator Kabupaten. Tim Koordinasi Kabupaten. Fasilitator Kecamatan (FK). membina pengembangan peran serta masyarakat. 4). Di tingkat kabupaten : 1). meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. Puskesmas. 3). 5). mengembangkan. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. 2). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes.” Gambar 5.40.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.000. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011.. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “.

(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Pada awalnya. tanpa dipastikan atau di tes. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . terpilih melalui voting. Ketua PK Desa Langko yang sekarang.. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). oh kamu hamil. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC.

” Gambar 5. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil.. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 .kandungannya hilang.. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan.” Untuk mengubah pandangan masyarakat.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan. Tapi sekarang sudah tidak. sampai KB harus ke tenaga kesehatan. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil.. kita ajarkan senam.

3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.melahirkan di tenaga kesehatan. televisi. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. K4. video player. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.000 dari dana PNPM GSC. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber.4%. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105.42 Kunjungan K1. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5. Berikut ini adalah tabel data K1.

untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. kepala desa.” Selain merenovasi polindes. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko.. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan.menjadi 105. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. “.7% pada tahun 2012. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko.. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu.

ikan kering seperti cumi. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah. kalau yang 200 gram untuk empat hari.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. gula.5 kg..” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. ikan teri.. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. telur.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. berikut penuturannya: “.. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. telur empat butir. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. telur rebus satu butir dan biskuit.ibu yang mendaftar. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan.. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. minyak goreng sebanyak 1.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. kacangkacangan. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 .

Gambar 5. kemauan. menggali kontribusi masyarakat. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran.kompasiana. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. Menurut Notoatmodjo..” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. (http://edukasi. melindungi.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. menjalin kemitraan. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur. tidak seberapa. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. 2007). mengembangkan gotong-royong masyarakat.com). mengatasi. memelihara.. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . dan desentralisasi.

Seperti penjelasannya berikut ini: “. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. dia yang melaksanakan.. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. itu mungkin yang terus dilakukan. 153 .dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan.. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. dia yang melanjutkan. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka.. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. dia yang memantau. dia rasakan karena dia yang merencanakan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU.

menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Berikut pernyataannya: 154 . Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Hanya saja. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Oleh karena itu.

.” Menurut Ericson (dalam Slamet..pasca. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus. “.ac. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat.id).. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. (http://www.. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. Selanjutnya ketiga tahap 155 .kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu.“. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. Partisipasi di dalam tahap perencanaan.unand. yaitu : 1. dukungan layanan... Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap.awalnya ego dari dinas itu. 2. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”.

bagaimana cara membuat proposal. 1. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. 80% dan 100%. saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%.

Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. material. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. 2. “. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu.. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga.. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 .PNPM GSC.

Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. berikut uraiannya: “.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun.000 per harinya. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15..yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader. Seperti pernyataan informan IT.. seorang kader dari Dusun Lengarak. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen.” 158 . Desa Langko berikut ini : “.000.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa.. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.

Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. 5. 3. Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak.96 km. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). Kabupaten Wakatobi. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia.8. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan.900 km2 serta panjang garis pantai 251. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. kebanyakan kader adalah perempuan. 159 .

5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono. Namun.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari.15. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. 8 kelurahan.000 perorang. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.-. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 . Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. Apabila pada pukul 09. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.com/2012/04/peta-wakatobi. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci.000.00 pagi.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan.Gambar 5.blogspot. Pulau Wangi-wangi. yaitu pada pukul 09. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali. Setelah tiba di Dermaga Waitii.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang.

Dusun Ketapang.000 per orang. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Secara administratif. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Kabupaten Wakatobi. Gambar 5. terletak di daratan yang agak tinggi. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Sementara itu. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. yaitu Dusun Lasoilo. yaitu Desa Lamanggau. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. dan Dusun Dunia Baru.

Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Namun. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. tepatnya di sebelah selatan DWR. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Selain Desa Lamanggau. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Untuk desa Lamanggau. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Bantuan tersebut bermacam-macam. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. sehingga banyak wisatawan. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR.00 hingga 06. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana.perkawinan. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Dengan kata lain. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. yaitu jalur darat dan jalur laut. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang.00.

47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. Dari dermaga. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Setelah sampai di gerbang resort.46 dan 5. tibalah di Puskesmas Onemobaa. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. Gambar 5. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit.mencapai pos satpam DWR. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Setelah tiba di pos satpam. November 2012 163 .

Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. Memang jika dilihat dari depan. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. sampah tersebut tidak terlihat. poli gigi. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. bersalin. 164 . Menurut penuturan kepala puskesmas. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. Namun karena tidak dipakai. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. namun jika melewati jalan belakang. gunting. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. dan loket pendaftaran. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi.

Namun.49 dan 5. ruang tamu. kamar mandi. Menurut kepala puskesmas. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. 5. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung.Gambar 5. dan dapur. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). November 2012 Selain bangunan puskesmas. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. 165 .48.

dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. dari lima petugas kesehatan tersebut. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Namun. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. Dengan kata lain. tiga orang perawat. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Sementara itu. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. yaitu dua orang perawat. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas.

sejak September 2012. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Selain itu. bukan di fasilitas kesehatan. Namun menurutnya. 167 . ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Dari empat orang yang ditolong tersebut. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan.Puskesmas Osuku.00 malam hari. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Jadi. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. Menurut cerita bidan tersebut. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. Kini. Oleh sebab itu.

agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Dari empat persalinan tersebut. Selain itu. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. bidan tersebut berada di seberang pulau. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan.00 malam hari. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 .Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). dari tahun 2011 hingga tahun 2012. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. Sementara itu. Dengan kata lain. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat.

Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. 169 . yang menurut mereka haus akan darah. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. Oleh sebab itu. Sementara itu. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. Selain itu. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.siap untuk dihubungi kapanpun. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan.

tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. listrik. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. Oleh sebab itu. dan perlengkapan lainnya. makanan. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Selain pustu. pustu. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. Apabila melakukan persalinan di rumah. Pada awal pembangunannya. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. Selain itu. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. Dengan kata 170 . dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). dan polindes. Selain tersedia puskesmas. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas.

sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. yaitu Posyandu Cemara I. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau.lain. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. Namun. Pada awal tahun 171 . Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. dikarenakan ada yang tidak datang. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. khususnya Posyandu Cemara 2.

dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. banyak pengetahuan tentang kehamilan.2010. Sama halnya dengan pangullieh. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. baik pangullieh maupun sando. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. ibu bersalin. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. dan balita. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ibu nifas. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. Sejak saat itu. Sama halnya dengan pangullieh. pertolongan persalinan. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. ibu nifas. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. melarang ibunya untuk menolong persalinan. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. Pada saat itu. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. ibu nifas. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. Ibu Ma. sando. Selain itu. Berbeda dengan pangullieh. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. dan petugas kesehatan. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Menurut pangullieh. dan bayi ke petugas kesehatan. apabila ia menolong persalinan. Sejak saat itu. putri pangullieh. Akhirnya. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan.

asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dengan kata lain. begitu pula sebaliknya. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Sebagai contoh. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut.Waha. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. Namun. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. Terlepas dari itu. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. 2010:120) 173 .

setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Menurut kepercayaan orang Bajo. Menurut mereka. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. dan berlantaikan bambu. Namun. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Menurut Ibu Ma. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Oleh sebab itu. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo.

Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. 1 2 3 4 Gambar 5. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. 5.51. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). 5.53 dan 5. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter.52 . November 2012 175 . atau merasa terganggu. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. mencegah. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut.

Berbeda dengan masyarakat Bajo. Namun. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. Gambar 5. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat.

Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Namun. Oleh sebab itulah. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. tenaga kesehatan. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya.oleh tenaga kesehatan. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Namun. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. pada implementasinya. Bagaimana tidak. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. Secara kasat mata. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. dan budaya masyarakat setempat. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. program tersebut mempunyai banyak hambatan. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . Selain itu.

178 . Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan .misalnya bidan desa. Jika keadaan darurat terjadi. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil.fasilitas seadanya. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. Bagaimana bisa. Atau lokasi fasilitas kesehatan. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. dalam hal ini pustu. Dalam kasus ini misalnya. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam.

tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan.3. Melalui intervensi Jampersal. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. tenaga kesehatan. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal.8. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. dan selalu ingin gratis. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. Namun. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. Kota Blitar. 5. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. butuh bidan. Kejadian tersebut 179 .Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. dan kondisi sosial budaya masyarakat. Bagi teman-teman di Puskesmas. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. terjadi empat kasus kematian ibu. ANTARA BUDAYA.

RS Swasta. berumur 24 tahun. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. 3 Puskesmas. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. pendidikan SLTA . F. ritme kerja Px tidak berubah. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. RSUD. Di tempat kerjanya. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. akan tetapi Px 180 . Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur.

Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Pagi harinya.30. Px tidak mau. Blitar dengan mengendarai motor. setelah maghrib. Karena ukuran obat yang besar. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. padahal waktu hamil pertama. Setelah itu Px menyapu halaman. akhirnya Px memuntahkannya. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. apakah obat tersebut kembali 181 . Sepulang dari kerja. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. sedangkan suaminya yang membonceng. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. dan suami menyuruh Px ke dokter. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. tidak biasanya Px bangun siang. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. akhirnya Px yang mengendarai motor. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Px mengeluh sakit kepala. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Suami Px tidak mengetahui. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. Ketika suami membangunkan.adalah pribadi yang tertutup.

pucat dan nafas ngorok. Sesampai di puskesmas. Dilihat dari kondisi lingkungannya. Waktu suami masuk kamar. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. 182 . karena kondisi Px sudah tidak sadar. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Dengan mengendarai sepeda motor. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. karena semalam Px pulang larut.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. langsung dibawa ke UGD. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman.diminum oleh Px atau dibuang. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Px muntah-muntah. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Px dirujuk ke RS. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Suami mengira Px masuk angin. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Menurut kader. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Menurut kader. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. selama Px hamil. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px.

Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . Setiap pagi. kader tidak mengetahuinya. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Px juga selalu tidur siang. tinggal bersama Px. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). sehingga ketika Px tertimpa musibah. N. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. Berdasarkan penjelasan di atas. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. KASUS 2 : Ny. umur 33 tahun. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Anak pertama laki-laki. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Anak kedua perempuan. kader tidak mengetahuinya. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. berumur empat tahun.

Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. kemudian meminumnya. Menurut tetangga. Keluar rumah seperlunya saja. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. karena anak 1 dan 2 juga operasi. tapi tidak lama kemudian sembuh. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. sejak awal kehamilan. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Px membeli obat “Trace Minerals”. jenis kelamin bayi perempuan. kondisi Px sudah stres. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Px merasa punggungnya sakit. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. beberapa hari setelah kontrol. Menurut tetangga. Ketika terakhir kali Px kontrol. karena Px tidak cerita. Suami menyuruh Px untuk ke dokter.kaku di tangannya. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. suami selalu mengantar. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. akan tetapi Px tidak mau. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Sakit di punggungnya sembuh. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 .Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. Px jarang keluar rumah saat hamil.

Px dipindah ke ruang perawatan. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. Px baru bisa tidur. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Hari sabtu malam. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur.“puyer 16” di tempat obat. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. Di UGD Px diinfus. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Ketika akan membuat jus. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Px sudah terbangun. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Jam 4. Pukul 5.30. Px cerita jika tensinya 170. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. setelah sholat Subuh. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. karena Px merasa kepalanya masih pusing. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. dokter di RS tidak ada. Menurut tetangga. Setelah Px dianggap stabil. Lalu Px menyetrika baju semalaman. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. Px kejang.30.

anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Bahkan setelah Px meninggal.• 22-4-2012 jam 07. hasilnya 170/.? mmHg. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. Yang menemukan pertama kali keponakannya. Setelah ada kasus kematian. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. • Pukul 10. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. Berdasarkanpenjelasan di atas.. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil.. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas.

akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px).KASUS 3 : Nama Ny. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. umur 31 tahun. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. B. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS.

“Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Menurut kader. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. selama Px hamil. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Menurut kader. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Kader juga tidak 189 . akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal.

Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . Berdasarkan penjelasan di atas. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga sangat senang ketika Px hamil.

tempat penelitian ini berlangsung. beberapa menjawab “tidak tahu”.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. mereka akan malu. Px selalu periksa kehamilan di BPS. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar. “. “.” 191 .00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar. Takut ada apaapa kalo gak nurut.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut.. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas.gak tau mbak.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS.. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil...

Lain kasus. “.. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi.wong g tau metu seko ngomah. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya.. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. Dalam situasi yang sulit dan mendesak.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Berkaitan dengan kehamilan. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya.embuh prikso nang ndi mbak. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. Engkuk ujug2 wis lair anake. Di Kota Blitar. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil.

Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. janin sungsang). Untuk mengantisipasi hal tersebut. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. bidan. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil.

Selama hamil. 194 . Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Kalau dilihat dari profesinya. bayi dan anak. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. Masalahnya. Di level komunitas. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. Selain tentang substansi PHBS. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Di Puskesmas. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan.kehamilan istri. jika terjadi keluhan pada istri.

” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat.. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. 195 . khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. Kalau ada sesuatu yang spesial.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus.. Sulit untuk dikasiktahu. Ini lho ada pelayanan gratis. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. Kurang opo. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.kalau ada apa-apa.. Perasaan tidak enak hati. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. silahkan hubungi saya. Terkait dengan kegiatan Jampersal.. “.. “. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. sampeyan bisa periksa kehamilan.. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. mereka sering datang dan pergi.. “.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. ini no HP saya.

saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau.. alamiah dan kodrati. ketika terjadi masalah kesehatan. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT. bukan orang kesehatan. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.. kok kenyi banget...” “.“. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal..” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader.. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada.. Dengan adanya kasus tersebut.. Hal 196 . Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka.. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu.saya tidak enak hati.. “. kok banyak bicara tentang kesehatan. Namun demikian. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi. Ketika terjadi kasus kematian maternal. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter.setelah ada kasus. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui.. sopo sih kui.

58 km². Pada keempat kasus kematian. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Namun. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Secara medis. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. faktor geografis dan kendala ekonomi. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.

mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Pada dasarnya. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. sosial dan budaya. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. pendidikan. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. Oleh karena itu.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis.

Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. masa kanak-kanak. 199 . suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. terutama oleh suami. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. masa remaja hingga dewasa. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya.

tokoh agama. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. aparat desa dan dukun. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan.9 AKSEPTABILITAS TOMA. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. TOGA. LINTAS SEKTOR. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. suami dan keluarganya. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. kader kesehatan. 200 . 5. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. karena dalam Budaya Jawa. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil.

Sedangkan di Sampang. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. 201 . memberikan informasi tentang Jampersal. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah.Gambar 5. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. dari kepolisian juga sering. ulama dan masyarakat. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. kader. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. selain itu juga melalui media elektronik televisi. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. TOGA. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya.

Di pos kamling. kab. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut..perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan... Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. Menurut Toma. “. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. Wakatobi).” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal.” 202 . karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun.. Kita teruskan lagi di masyarakat. mereka takut ke RS takut biaya mahal. “. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan. Kita sampaikan di situ. terjadi di Kabupaten Wakatobi. “.di kelurahan sosialisasinya. Selain itu.” (Toma. kadang kita undang kumpul masyarakat.. atau langsung dr pintu ke pintu.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya.. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat..setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal..” ". masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya.

diketahui bahwa terdapat 66. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Masalahnya. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. Masalahnya. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. Di Blitar. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. Kabupaten Kepulauan Aru. 203 . Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal.

program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.. pertolongan persalinan. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.” “.” 204 .” “. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. ibu bersalin. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal.... Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. ibu nifas dan bayinya.program jampersal ini disambut baik. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. tidak semua bisa berpendapat. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. Mengenai persyaratan. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. “.. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Semua orang yang pernah mendengar.

. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Di kota Bandung. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP.. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. Masyarakat banyak yang 205 ..” “. saling pandang dan tetap terdiam. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru.“. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. Maluku. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. sasaran dan persyaratannya.. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”.. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru.. Secara garis besar.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa. “program untuk masyarakat miskin”. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis. jenis pelayanan yang diberikan.program jampersal di masyarakat ini baik.

untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal.....” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan. KIA. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil.kaya miskin boleh ikut Jampersal. 206 .setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik.” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram. periksa bumil dan KB.” “.. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir... masyarakat mengemukakan bahwa: “.. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. Di kota Mataram. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.. Tentang pelayanan yang diberikan. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu.” “.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal..” “.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD.. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu.” “. pertolongan persalinan.

.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.. Berikut ini beberapa komentar masyarakat.” “... seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP.. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal.” “. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. untuk pengurusan memerlukan waktu. “.” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal. kalau negara kurang mampu... Nah. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan...” “. Dengan adanya program Jampersal....untuk ikut jampersal. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani. kalau negara mampu. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat. terutama untuk keluarga miskin saja. maka perlu dibatasi. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis...program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal…..program jampersal di masyarakat ini baik.. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah... Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK.. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 ..masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal..” “.Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal..” “..“..

sebagaimana berikut. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar.” (Toma.” (Toma.program Jampersal harus terus dilanjutkan. jangan berhenti. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 .. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi..” ( Toma. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah.. Kota Bandung). “. “.. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. Dalam pelaksanaan suatu program. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan..kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. Dengan merasakan manfaatnya. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya. Dalam pelaksanaan. Kab.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas.1.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan..9.karena belum merasa berkepentingan. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Kota Mataram)..” “.. “. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Wakatobi). harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. 5. pelayanan rujukan. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan.

termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Natuna).masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. misal umurnya sudah banyak. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. mereka baru. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . Kep. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan.Khusus untuk masyarakat di Natuna. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia..” (Toma. Kab. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Kalau di dukun kampung. Natuna). “. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. “. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Pelan-pelan ditolong persalinannya. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung.” (Toma.. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri.belum lagi bidan kecil2.. langsung tindakan saja. Jadi gimaa mau percaya.. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. Kab kep.

210 .

KESIMPULAN 1. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. peralatan dan bahan habis pakai dll. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. b. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. SDM. Materi sosialisasi masih 211 . hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. dibatasi pada jumlah anak. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. 3. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Secara umum provider ( bidan. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal.

lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. surat ijin mengemudi. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. habis pakai dsb.. ibu bersalin.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. KTP suami. kurang pada substansi. kartu keluarga. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. g. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. tapi juknis tahun 2012 212 . Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. surat keterangan domisili. d. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. f. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. c. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. perdarahan sebelum melakukan rujukan. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. e.

• Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN.sudah lebih sederhana. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . satu desa dapat terdiri beberapa pulau. c. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. 4. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. dan distribusi bidan belum merata. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. b. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. misalnya di kota Ambon. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1.

dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . 5. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. bahkan tidak ada SPOG tetap. d.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. 214 . Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1.3% dilakukan di fasilitas kesehatan. 95. • Untuk pengguna Jampersal. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Terutama di daerah kepulauan sarana. c. b.

Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. 215 .30%). Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal.10% dan Jamsostek (11. Lintas sektor. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang.6. Askes (12. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan.6%). Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . Jampersal bersifat portabilitas. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Toga. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. 8. b. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Dari data didapatkan : a. Toma. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. c. Di level komunitas. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. IUD).7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Jamkesda (19. dan lebih senang dengan KB suntik.

4. pelibatan lintas program. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. bahan habis pakai. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. 2. dll. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. kader) dalam 216 . bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. 6. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Toga.3. seperti BOK. 3. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Jamkesda.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 5. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Jamkesmas. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai.2. obat.

Menyediakan rumah singgah. Kementerian Perhubungan. c. dengan menerapkan inform consent. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.sosialisasi lebih di tingkatkan. 217 . • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. b. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. khususnya di daerah tertinggal.2. 6.

• Melibatkan tokoh masyarakat. sarana. tokoh agama. baik aspek tenaga. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. 218 . • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. obat dan peralatan. dan kepulauan. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling.perbatasan.

5. Puskesmas. Riskiyana. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. Sandi Iljanto. Usman Sumantri. dr. 6. atas segala perhatian. Trihono.. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1.. 219 . DR. Dengan segala kerendahan hati. masyarakat. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. RSUD. Drg. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. Kasubdit Ibu Nifas dr. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. M. 2.. 4. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. selaku Kepala Pusat Humaniora. 3.Sc. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. drg. Toma.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. M. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Sampang. Toga.Kes. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. atas segala perhatian. kesempatan dan dukungan yang diberikan.

Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.7. 220 .

Walt G. Administration & Society. Praya. (2005) Making Health Policy. The Lancet. Open University Press. Analisis Data. Departemen Kesehatan RI. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Jogjakarta. 2nd ed. Yogyakarta: Kepel Press. J. Badan Litbangkes. Badan Litbangkes RI. Jakarta: PT. Dunn. 2010. USAID. 2011. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. Andersen. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010.. 2003. 1996. 2007. 1985. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Carine Ronsmans C. Mays N. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. where. England. Mitos dan Karya Sastra. Heddy Shri. 368(9542):1189 – 1200. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Anonym. Rajagrafindo Persada. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. 1st ed. ER. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. 1975. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Strukturalisme Levi Strauss. Mays N. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Badan Litbangkes RI. and why. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 221 . Badan Pusat Statistik RI.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. Jakarta. Depkes RI (2008a) Permenkes No. (2012) Making Health Policy. Pearson.. William. Rencana Strategis Nasional. Nelson: London. Buse K. Open University Press. 2012. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Macro Internasional. Public Policy Making. Jakarta. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. BPS Kab Lombok Tengah. 2000. 4th Ed. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Alexander. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu.. Walt G. 16: 403. when. Buse K. Praya. Profil Kesehatan Wakatobi. Yogyakarta. (2006) Maternal mortality: who. 2012. England. Gadjah Mada University Press Emzir. Graham WJ.

Martin. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Green. Roger Beech2. Gereina N. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . No. Qiane X. Diunduh dari http://www. Rineka Cipta Pranata. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Administration and Society 6(4):445-8. Ahmed S. Notoatmodjo. Ian. India and China.. Myfanwy Morgan.12 Greena A. Kementerian Kesehatan RI.. Barry Gibson1.Gordon. Lawrence W. 2011b. Anhb LV. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Meryl Hudson. Inside The Academy: Profiling Dr. J. BMC Medicine. Martineauc T. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. 2. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. The Policy Process. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. Badan Litbangkes. Zahr-CLA. Setia. Jakarta. Niniek L Pratiwi. 2011c.67–173. Stanton C. Soekidjo. 2012. Michael (eds).. Jakarta. 3 July 2002 Yoni Yulianti.. 2011. 222 .id Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.go. David Hughes. Vol. Gulliford. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. R. Kebijakan Jaminan Persalinan. Birda P. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”... 2011e.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. 14. 6. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. New York. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. American Journal of Health Behavior.. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Pearsona S. Volume 7 No. 2011d. 1993. Jampersal Solusi Persalinan. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. 1999. Mirzoeva T. 2007. Jose Figueroa-Munoz. Volume 23. Mukhopadhyayd M.depkes. Sugeng Rahanto. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. Press Release. 2002. Health Policy 100. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. A Reader. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. April 2011. Ramanif KV. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. 2011a.

_.pdf http://health. & Vining AR.. RSUD Larantuka dan RSUD Serang. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435.ac. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. Rukmini.unand.kompasiana. Wilujeng. http://buk.5th Ed.id/index.pasca. KL. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. 2010 Metodologi Penelitian.depkes. Weimer DL.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. http://fp. Weimer DL. 3rd Ed.-Rev.unram. tahun 2007. http://www. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). & Vining AR. Nyoman Kutha. RSUD Sikka. Walt G. Health Policy and Planning 23:308–317.. RSUD Padang Pariaman. & Gilson L.ac. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges.detik. Prentice-Hall. 2005). Murray SF. Shiffman J.Ratna. Schneider H.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No. http://edukasi./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT.html.pdf 223 .15. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pearson.id/id/wp. Brugha R.go. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. 2007. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice.Jakarta.

224 .