LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Desember 2012 Tim Peneliti ix . Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. Surabaya. Akhir kata.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Laporan ini. Provider (RS dan Puskesmas). akseptabilitas Dinas Kesehatan.

x .

nifas. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. nifas.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. saat. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan.bersalin. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah.bersalin. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. Toga. nifas. nifas. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. xi . dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. Lintas sektor. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum.bersalin.bersalin. 4) Menganalisis ketersediaan (availability).

Bidan Koordinator. Kepala desa/lurah & aparat desa. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Pengelola Jampersal RS. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. pedoman wawancara. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Direktur / Wadir Pelayanan RS. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Obsgyn. berdasarkan perhitungan simple random sampling.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. cek list dan data sekunder. dan kader Posyandu. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . pengelola Jampersal Dinas Kesehatan.

Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. b. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. c. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Kab. xiii . Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. penyediaan sarana. Secara umum provider (bidan. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. 2. kurang pada substansi. dibatasi pada jumlah anak. 3. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan.

satu desa dapat terdiri beberapa pulau. d. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. f. surat keterangan domisili. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. kartu keluarga. KTP suami. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. h. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. e.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. habis pakai dsb. g. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. surat ijin mengemudi. 4. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. ibu bersalin. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil.

3%) sudah di fasilitas kesehatan. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Sisanya masih di xv . o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. bahkan tidak ada SPOG tetap. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. d. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. c. misalnya di kota Ambon. b. Terutama di daerah kepulauan sarana. 5. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. b.

Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Dari penelitian disimpulkan : xvi . Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. Jamkesda. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. c. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. 6.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Lintas sektor. 8. Dari data sasaran didapatkan : a. Toga. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. c. d. b. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma.

Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. IUD). b. Toga . Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. brosur. xvii . Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. d. provider dan masyarakat. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. Ada keterlibatan Toma . c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet.a. bahan habis pakai. c. lebih senang dengan KB suntik. obat.

dll. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. seperti BOK. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. o Menyediakan rumah singgah. Jamkesda. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 6. 3. Jamkesmas. 2. dengan menerapkan inform consent.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. 5. pelibatan lintas program. 4. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. xviii . Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Toga. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil.

obat dan peralatan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. perbatasan. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. Kementerian Perhubungan. 1. xix . dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. sarana. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. d. khususnya di daerah tertinggal. dan kepulauan. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. c. b. baik aspek tenaga. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. 2. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan .

xx .

Jawa Barat. pengelola Jampersal dan bidan desa). xxi . bidan koordinator. sasaran (ibu hamil. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. pengelola Jampersal. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan .ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). KTP suami. Sulawesi Tenggara. pengelola Jamkesmas/Jampersal. kader. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. bidan dan dr. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. Surat keterangan domisili.toga. cakupan program). Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. SIM. Maluku. SPOG). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. Kartu Keluarga. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. NTB. pengelola program KIA dan verifikator). Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. verifikator independen. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. dukun dll). Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Puskesmas (kepala puskesmas.

Askes dan Jamsostek.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. Hal ini dikarenakan menurut provider. Jamkesda. masyarakat dan sasaran. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .

Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. Husband ID. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. and mayor decrees. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. Furthermore. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. Driver’s License. questionnaire structurely. birth. post natal) including communities (TOMA. hospital (director/head of division for health services. and verificator for health office). Each area were taken 2 (two) districts/cities. It was covered based on Minister Decree of Health No. FGD. health program coverage. Southeast Sulawesi. independence verificator. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . targets (pregnant women. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. West Java. cildbirth Insurance management. 2012. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. West Nusa Tenggara. cadres. midwives. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. and village midwives). Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. Maluku. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. public health insurance/childbirth insurance managements. Moreover. and obstetric specialists). In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). Results of the study shows that In general. Student Card and passport. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. coordinator midwife. and financing. maternal and neonatal management. Health Center (head. and the others). materials in medical services. Childbirth Insurance managements. Family Card. a domicile explanation letter. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. East Kalimantan and Riau archipelago. TOGA.

xxiv . and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. local health insurance.package. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. or one stop service. communities. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. health insurance. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. In general. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. On the other hand. shelter home. Key words: Childbirth Insurance Program.

Tety Rachmawati.. Yurika F. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. drg. M. Drs.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. Kes. 7. M. Niniek L. Epid. Yunita Fitrianti.. Master Kesehatan Peneliti 6. Muhammad Agus Mikrajab. Setia Pranata. 15. drg. SKM. 5. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . M.M.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. Selma Siahaan.Kes dr. Pratiwi.Sp. Msi Kepakaran Dokter. Apt.Psi. Peneliti 12. Msi Ingan Ukur Tarigan. M. 14. magister Sains Peran P. SKM. 1 Nama dr. M. Rukmini..Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. S. Psikolog. Dr. Agung Dwi Laksono. 9. 16.Vita K.Ant Sri Handayani. S. S. 2. S. 13.M. Ir.Wasis. R.KG Dra.Sos Wening Widjajanti.MPH Peneliti 11.S. S.. SKM.I.Psi.KM Rozana Ika Agustiya.

xxvi .

...................................................................................6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI .............................2 SASARAN JAMPERSAL . 2............................................... DAFTAR TABEL........... 2.....2................................ 2.......................1........................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ..... LATAR BELAKANG ........................2............................................... DAFTAR ISI... BAB I 1........ 2.......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ......1 JAMPERSAL ...... RINGKASAN EKSEKUTIF ....................1 PENDAHULUAN ...........................................................................................1 TUJUAN JAMPERSAL ............................................................................... 2.....1.... 2................................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) .................................................................... 2...................................... 2.5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) .......................... FOKUS BIDANG PENELITIAN ... TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................1.............................................3 FASILITAS KESEHATAN ................................... KATA PENGANTAR .................................................. xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ..................................................2 PERJANJIAN KERJA SAMA . SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ........................................................................................................................................ PERTANYAAN PENELITIAN .......................................................................................................... 2......................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .. ABSTRAK ..........1 1...................................1................................................................. DAFTAR ANGGOTA PENELITI .................................................................3 BAB II 2.........................................1......................................2 1............... DEFINISI .....................................................1............................................................................. DAFTAR GAMBAR .........................................................

....................................................2..................................... KERANGKA PIKIR ...............................................2.................. 2...........3.....6 MANFAAT PENELITIAN ..... 3................... 4.................................................. 2.............................................................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF .....9..... DEFINISI OPERASIONAL .................. KERANGKA TEORI ............................ 4..... 2.................... 2......... METODOLOGI ........2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ..............................................3...... 2............................................... KERANGKA OPERASIONAL................................ 4................ 2.. 4.................... CARA PENGUMPULAN DATA ........................................................2 4..................4 PENDANAAN JAMPERSAL ......................................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ...........1 TUJUAN UMUM . TUJUAN PENELITIAN ...........................2 BAB IV 4.. 2..................................................................................3 TEORI KEBIJAKAN ............9 VARIABEL PENELITIAN .4 4...................................2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ...................2.......................................................3 KEMATIAN MATERNAL ........................................... 2...............1 DEFINISI MATERNAL ..........6............................... RESPONDEN PENELITIAN ......................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN .................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ...........................3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ...1 TUJUAN DAN MANFAAT...... 2.............2 TUJUAN KHUSUS ..... 4...................................................7 4........3 DATA SEKUNDER ............1 4.....6..................3..1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF .6. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ............................................ 3.. 3.........................4............3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ....................................................................8 4..................1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ..........................................................................5 4...4....................................4....... xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ....................................3 4.............1......................... BAB III 3......................1.

..9...2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL .......................2...................2..........1......1.......9..........2 KOTA BLITAR ........10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ..1........................... 5..........6 KABUPATEN BOGOR ...............4...................................6 BESARAN TARIF PELAYANAN ................2......2.................1............. 5.....2 PAKET PELAYANAN ....7 KOTA AMBON ..... 5................. xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 ................. 5.....2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN .. 5................................2............2........................11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ........2...............2........................1.2................. BERSALIN DAN NIFAS ........2.................................2........ 4....1................... 5..... 4...............2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN...........2...... 5...........................2.....1 SASARAN ................. 5...... 5.1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ..... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .....................2.3 KEPESERTAAN .................4 PERSYARATAN KLAIM .............1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL.......................2................ 5.................3 KOTA MATARAM ....................................... 5...............5 KOTA BANDUNG .1............. 5....... 5............... 5........... 5.......2. 5................................ 5......2... 4...7 PENDANAAN .......................................................8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ..............12 JADWAL KEGIATAN ........2.......2...1.1............5 PEMBERI LAYANAN .............1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT .................1....................................................2...................... 4..1 KABUPATEN SAMPANG ...........................3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN…………….......4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH .........2............... 5................................................... 29 29 30 30 31 33 5.... 5...........2..........2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH .............2..... 5.................2...................................

........2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.........2.................5.... 5........ 5..............................1 PAKET LAYANAN.................... 5........2......................12 KABUPATEN PASSER ............ 5....2........................................ 5. 5..........................2........2................2........................4................3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL . SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL .5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..3....... 5.........................11 KOTA BALIKPAPAN ......8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ..2. 5...4....4......................2....4.........4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .....3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5..........2 KEPESERTAAN/SASARAN ...........1 DUKUNGAN MANAJEMEN.......4...3.......2......... 5. 5. 5...14 KABUPATEN NATUNA .....3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5..........2..................................4..4.....4...............................1 PAKET PELAYANAN .....2........3.................................10 KABUPATEN WAKATOBI ........... 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5.......................3...2........ 5..2 KEPESERTAAN ..........4...2...2.......2.............4 BESARAN TARIF PELAYANAN . 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5.9 KOTA KENDARI ...........13 KOTA BATAM ........................2..2............ 95 xxx ........2....2.. 5.............................. 5...5 JASA PELAYANAN ............................................................4.................................. 5........3 SYARAT KLAIM..........................3............ 5.......1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5..4.....4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5.4..................

....2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN ..1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH .................... 5........................... KESIMPULAN ...........................................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .................................. UCAPAN TERIMA KASIH ... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN ................................................5....2 AKSESIBILITAS JARAK ....................1 HARAPAN MASYARAKAT .........................1 6.....................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN . 5....................................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .........................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ...................8..9....8.........9 AKSEPTABILITAS TOMA....... 5.. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ...................................1 JANGKA PENDEK ...........3 ANTARA BUDAYA........................................6......................................... DAFTAR KEPUSTAKAAN ............ 5....................6.................... 5..1 JANGKA PANJANG ................................. 5..............................1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ................. SARAN/REKOMENDASI .......................................... 5...............................8...................................... 5..............2 KESIMPULAN DAN SARAN ................2..................2...... TOGA.........6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ................................................... 5...........5......................... 6.....5..... LINTAS SEKTOR............................... 5................................................... 5................... BAB VI 6............... xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ................................................................ 6....

xxxii .

1 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.10 Gambar 5.8 Gambar 5.7 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.2 Gambar 4.12 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.4 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.9 Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.3 Gambar 4. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.1 Gambar 4.

23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.Juni 2012 Gambar 5. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.19 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.21 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.20 Gambar 5.15 Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.18 Gambar 5. Kab.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.16 Gambar 5.17 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 . Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.Gambar 5. Kab.

35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5. Th 2010 s.40 Gambar 5.50 Kunjungan K1. K4.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 . K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.48 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.44 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.34 Gambar 5.45 Gambar 5.38 Kunjungan K1.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.43 Gambar 5.49 Gambar 5.33 Gambar 5.46 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.Juni 1012 131 Gambar 5.47 Gambar 5.42 Gambar 5.

kader. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi . TOGA.Gambar 5.54 Gambar 5.51 Gambar 5.53 Gambar 5.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.55 Gambar 5.52 Gambar 5.

1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.2 Tabel 4.3 Tabel 5. 27 31 47 95 Tabel 5.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1. K4.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.1 Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii . 121 Tabel 5.

xxxviii .

Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. pengetahuan.BAB I PENDAHULUAN 1. 2011). kecukupan fasilitas kesehatan.R. jumlah itu masih sangat tinggi.I.1. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). sehingga diperlukan (SDKI. Menurut data Kemenkes. Dengan program jampersal. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . pendidian masyarakat. sumberdaya manusia dll. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. lingkungan. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. 2007). (Kemenkes.. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ).

dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. (Kemenkes R. 2011).R. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.3 triliun rupiah. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC).di 80 kabupaten/kota (Gani. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan.. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. Selain itu. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. saat persalinan.R. 2011). Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB.I.I. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. 2011). Oleh karena itu. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. bagi siapa saja. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. ibu bersalin.I. 2 . persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan.

Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya .Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Tahun 2011. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal.7 juta ibu hamil pertahun. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . 3 . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. K4. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang.6 juta ibu hamil. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten.

3. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. Lintas sektor. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan.2. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. Pertanyaan penelitian 1. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Toga. 4 . akseptabilitas provider dan masyarakat. pertolongan persalinan.1. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. nifas. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1.bersalin.

6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. 2. 2.2. 2.1.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. 2.1.1. 2. preventif.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar. pertolongan persalinan. persalinan.1. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. TNI/POLRI.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif. nifas.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. 5 .3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. dan Swasta. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan.1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.1. baik promotif. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

dan akuntabel. Ibu bersalin 3. c. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan.1. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. bersalin. Ibu hamil 2.2. pertolongan persalinan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 2.2. nifas. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Tujuan Khusus a. b. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. nifas. Agar pemahaman menjadi lebih jelas.2. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.2. efektif. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. transparan. persalinan. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Tujuan Jampersal 1. dan bayi baru lahir. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. 2.

2. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. bersalin. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. persalinan dan nifas. Penyediaan obatobatan. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. pre eklamsi dan eklamsi 7 . 1 kali pada triwulan pertama b. 1 kali pada triwulan kedua c. 2. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. 2. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan.3. dimana selama hamil. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a.

Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. dan 8 . terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. dan Kohort ibu. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. masing-masing satu kali pada : 1.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Kartu Ibu. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. 3. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Implant.

melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. (Winkjosastro (Ed). Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat.2. Hal ini disebabkan 9 . tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. 2002). disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. 2. KEMATIAN MATERNAL 2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program.000 kelahiran hidup.2. 2. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. 2002) 2. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. (Winkjosastro (Ed). 2.3.4.3. Pendanaan Jaminan Persalinan 1.c) Suntik. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.1.3.

menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. dibeberapa daerah. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. 2002) 2.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. A. (Winkjosastro (Ed).3. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.4.

plasenta inkreta dan perkreta. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. Jarak hamil kurang dari 2 tahun.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . retensio plasenta. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. dan robekan jalan lahir. Grandemultipara. b) Faktor predisposisi : Anemia. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : .Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. . robekan vagina. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama.Plasenta manual dengan segera dilakukan. penyebab utama adalah atoni uteri. . Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. terbanyak dalam dua jam pertama. sisa plasenta.Grandemultipara 11 . 3) Trauma persalinan.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. plasenta akreta.Retensio plasenta tanpa perdarahan. . 2. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi.

2001) 2. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. anemia.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. kemiskinan. (Manuaba.4. B. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. lembaga pendidikan atau rumah sakit. keguguran dengan infeksi. . keguguran tak terhalangi. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. keguguran tidak lengkap. perusahaan multi-nasional atau local. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . Kejadian abortus sulit diketahui. Keguguran spontan 2. status gizi. missed abortion. keguguran habitualis.. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. Keguguran buatan atas indikasi medis. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. Keguguran buatan terapeutik 2. keguguran mengancam.

dikembangkan atau disusun.4. pelayanan. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. sebagai berikut: 13 . atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. yaitu: 1. 2012). Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. 2. Organisasi. 2005).1. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. dikomunikasikan. sosial atau budaya. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. organisasi. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. dilaksanakan. dinegosiasikan. Selanjutnya.. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. ekonomi. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2.

sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan.. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. 2007) cit Walt et al (2008). Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. bagaimana kebijakan dihasilkan. disetujui. 4. dan dikomunikasikan 3. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. 2005). Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. Identifikasi masalah/isu. Perumusan kebijakan. Pelaksanaan kebijakan. reformasi sektor Kesehatan. bagaimana pengawasannya. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan.1. TB. 14 . sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. Evaluasi kebijakan. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif).

2. sumber daya material (material resources). dan sumber daya metoda (method resources). 1994) cit. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). b.4.4. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. yaitu: a. Teori Kebijakan 2. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Dalam teori ini. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan.2.3. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.2. Greena et al (2011). Sumber daya Meliputi SDM (human resources).1.4. 15 . proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable).3. yaitu: agenda setting.

2. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. f. c) intensitas disposisi implementor. e. ekonomi. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. 2.3. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. Kondisi sosial. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. b) kondisi. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. dan 3) Kemampuan pelaksana. 16 . d. Teori Weimer & Vining (1999. 2010) Menurut Weimer & Vining.4.c. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya.

Menganalisa akseptabilitas Toma. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. Lintas sektor. nifas. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis ketersediaan (availability).1. Toga. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. 17 . nifas. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. Tujuan Khusus 1. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil.bersalin. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. nifas.1 Tujuan Penelitian 3.1. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. nifas.2. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.bersalin.bersalin.1. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8.bersalin. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7.

Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut. B. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A. 18 .3.2.

yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. Faktor Kontekstual. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. Kapasitas Manajerial. 2. Akseptabilitas Kebijakan.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. 4. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. 3.BAB IV METODOLOGI 4. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. 19 . Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. yang terdiri dari variabel kemiskinan. Ketepatan program dan Sasaran. kondisi geografis setempat dan peran keluarga.1. ketersediaan fasyankes. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen.

3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . biaya dan jenis pelayanan . penanganan komplikasi ibu hamil bersalin.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. SDM. nifas. prasarana. dan bayi baru lahir. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. ibu bersalin. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . 3. 2. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana.2. 4. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . Proses dan Output.Ibu hamil. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) .4. Pusat dan Daerah : . ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. 7. pelayanan KB pasca persalinan 6.

Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut).4. tahun 2007).Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . Tabel 4. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi.1. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini. sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi.3. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut.

Bidan Koordinator. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). kriteria daratan dan kepulauan. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. b) Kelompok PKK. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. dan kader Posyandu. daerah yang tidak menggunakan Jampersal. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). RESPONDEN PENELITIAN 1. kriteria administrasi kota dan kabupaten. 4. Kepala desa/lurah & aparat desa. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna.5. 22 .Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . 4. 2.4.

yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD).6. Sementara itu. 3.TOMA/TOGA. 4. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. dan wawancara mendalam (Indepth interview). Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara.6. Pengelola Jampersal RS.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. dokter kandungan dan kebidanan. CARA PENGUMPULAN DATA 4. Penanggung Jawab program KIA. c) Verifikator 4. bidan kepala ruangan.1. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. verifikator independen. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. PKK. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. Observasi partisipasi dilakukan 23 . Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. LSM dll. Kader Posyandu.

2. 4. Bulin dan Bufas) : Data sikap. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. 24 .6. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. ibu melahirkan.

Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei).2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4.3.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. Data sekunder ini meliputi: 1. n = Z2 1 . Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 2) Data sikap.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. tahun 2010 dan 2011 25 .6.

SDM yang terkait dengan Jampersal. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. 4. Rumah Sakit. 3. Pembiayaan Jampersal 5. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. pelayanan nifas. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. 5. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. persalinan di 4. dan Puskesmas. pelayanan bayi baru lahir. Pelayanan Jampersal 6. pertolongan persalinan. persalinan. 4.7. nifas dan bayi baru lahir.2. Pemberdayaan Masyarakat 26 .

SK Kepala Dinas Kesehatan dll. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. keputusan presiden. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. Balai Praktek Swasta. 4. keputusan menteri. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. tokoh adat. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. SDM . Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. 11. peraturan pemerintah. Pusat Definisi Operasional 2. 8.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. 5. prasarana. perangkat desa dll. 10. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana.8. SK Bupati/Walikota. 7. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. 1. Puskesmas. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Variabel Kebijakan Tk.2.4. 3. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . 9. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . Kabupaten Kota (Perda. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. 6. Definisi Operasional No. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. masyarakat. Jampersal Rumah Sakit. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011.

: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas . KERANGKA OPERASIONAL 4. 4. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi.RS. sedang. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.9.9.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.3 Kerangka Operasional 28 .1. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.

4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih .3. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner. Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1. 4. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.4.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : .2.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih . Melakukan uji coba kuesioner.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif .9.9.

maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. analisis komponensial. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. analisis taksonomi. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. 4. 30 . Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif.5.10. Bidan desa) 7. Sementara itu. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8.masing provinsi 6. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. dan analisis tema. Bidan Puskesmas. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis.11. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. yaitu analisis domain.

4.3. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .12. JADWAL KEGIATAN Tabel 4.

32 .

Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. lintas sektor. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). Salah satunya adalah faktor letak geografi. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Toga. dan 9) akseptabilitas Toma. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. rumah sakit dan puskesmas. 5. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. Dengan kata lain.1. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal.

Namun. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional.56). Menurut Badan PPSDMK. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.38). Jawa Barat (24.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan.25. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Selain itu. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100.25).tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 .14). Sulawesi Tenggara (74.09). NTB (45. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota. Dalam hal ini.67) dan Kepulauan Riau (64. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.94). yaitu Maluku (74. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.56) dan Kalimantan Timur (52. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. yaitu Jawa Timur (33. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’.

02%).84%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional.39%).49%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.28%) dan Kepulauan Riau (97. Sulawesi Tenggara ( 85.- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Nusa Tenggara Barat (82. Menurut Badan PPSDMK. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. yaitu Jawa Barat (81.30 %).44%). apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.35%). Namun. Maluku (77. dan Kalimantan Timur (85. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. yaitu Jawa Timur (95. untuk rasio 35 .

30 %.94). Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.44%) dan Kalimantan Timur (85.14). Jawa Barat (24. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. 5. Sulawesi Tenggara ( 85. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1.09).38). Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100. Maluku (77. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal. Bersalin. yaitu Jawa Timur (33. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal.787 orang.28%). Nusa Tenggara Barat (82.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.39%). dibahas juga karakteristik responden ibu hamil.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.02%).1. Karakteristik Responden Ibu Hamil.49%). pendidikan dan jumlah anak (paritas).56). dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil.1. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.84%) sedangkan Jawa Barat (81. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.25). diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota. NTB (45. Kepulauan Riau (97.56) dan Kalimantan Timur (52. Karakteristik meliputi umur. sulawesi Tenggara (74. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.67) dan kepulauan Riau (64.25.35%) masih dibawah angka Nasional.

Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun. Wakatobi dan Kota Batam. Kota Bandung.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. kepulauan Aru. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). Kota Mataram. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya.Gambar 5. kira .

Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. 2005). Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. Bahkan di 38 .3. 2004). banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun). (Rukmini dkk.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Gambar 5. Oleh karena itu pada usia reproduksi. Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang.

1. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat.2. menengah. 5. baik dari kelas bawah.6%). mencapai 17.9%) dan > 35 tahun (25.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. atau pun atas. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur.2%). disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun.70 adalah cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . Namun. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. ada 17. Namun. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%.

4.Gambar 5. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. Sementara itu.10% saja.254 Selain berdasarkan umur. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. 40 . Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Berdasarkan pendidikan.

41. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. 41 . Berdasarkan hasil penelitian.9% pada usia 15 -19 tahun). Namun. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar.Gambar 5.5%. Selain faktor umur dan pendidikan.8% pada usia 10 – 14 tahun. 2010).5. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. masih 12.

Dengan kata lain. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil.Gambar 5. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal.6. 42 .

bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian.2.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. 5.1. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.5. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. persalinan. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. nifas. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. Adapun tujuan khususnya adalah 43 .

Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. ibu bersalin.2. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1.a.1.2.1. pertolongan persalinan. efektif. Pertolongan persalinan normal. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. c. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. 5. b. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. transparan.2. bersalin. 5. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Deteksi dini faktor risiko. 6. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya.1. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. b. nifas. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. ibu nifas dan bayi baru lahir. Paket Pelayanan a. 7. 4. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya. dan akuntabel. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. dan bayi baru lahir. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. 2. 5. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED.

Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. 3.2.1. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. b.4. 4.2. pelayanan nifas. 5. 1. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. 5. nifas. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti).2. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. persalinan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi.3. 5. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. Untuk 45 . Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.1.

d. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. 2. c. Fotokopi/tembusan surat rujukan. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran.2. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA).5. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga.pemenuhan buku KIA di daerah. Klinik Bersalin.

7. wajib segera dirujuk 5. 1 kali 100. Pendanaan 1.000 Jumlah 80.000 80. 3. 5.000 500.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s.1. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. bersalin. 2.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. 47 . Besaran Tarif pelayanan Tabel 5.2. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil.1. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. 1 kali 650.000 100. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.000 650. 5.000 500.1.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir.000 20. Pelayanan pasca keguguran. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.2.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1.6.

selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. 6.2. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. 48 . bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER.21/PB/2011). pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. 3. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. 7. 4. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. 5. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas.

sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. nifas). 8. bersalin. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. 10. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. 11.8. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. 49 . Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah.1.2. 9. Proses Pengajuan Klaim 1. Transport rujukan risti.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

2. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. 3. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal.5. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan.2. 5.2. swasta. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. 55 . Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. 4. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK.Jampersal. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas.

Dengan adanya protap adalah 56 . karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. jumlah yang diperbaiki. 5. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Bogor. yang sudah diberikan adalah obat. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya.2. dan bahan habis pakai.6. jumlah yang di verifikasi. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. dan jumlah yang harus dibayar. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali.5. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu.2. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. 6. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal.

padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. dll. 57 .7. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. kota Bogor. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Protap tersebut. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. namun diantara 18 RS tersebut. Untuk jasa medis. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Kepesertaan adalah ibu hamil. SMS langsung ke Kepala Dina. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. 5. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. seperti Tangerang. dan email.2. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas.2.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. Pelaksanaan mengikuti juknis. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. catatan pelayanan ANC. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. partograf dan catatan nifas. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. via SMS. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. atau lewat Koran. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan.

8.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan.2. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu.2. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. 5. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. 58 . tapi karena kondisi di Kab. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal.

kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. Di Kab. tidak semua masyarakat punya KTP. terutama mereka yang berada di pedalaman. Kab.. Masalahnya. di desa Ujir. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. Aru). hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP.. baik yang kaya maupun yang miskin. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili.” (RS. “. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. 59 . Karena dari 22 puskesmas yang ada.beberapa bulan kemaren. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. buku KIA. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Kep.

Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. Rp.9.2. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku.35. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada.2.per hari. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. uang makan Rp. 2) pembebasan biaya pengobatan dan.. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.dan perawatan bayi Rp. Kepesertaan adalah ibu hamil. 55. 5. sedangkan ANC gratis.000. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan.5. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp.000.10. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250.000.-. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.2. puskesmas poned.000.2. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 . 50. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. bidan desa. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas). Dengan demikian ..

karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. Sebelum ada program Jampersal. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. 61 . Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas.Kesehatan. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Kepesertaan sesuai juknis. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP.

maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal.11. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP.. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. surat domisili). yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah.500.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal.2. 62 . saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. 5. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.2. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas.000. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal.

pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Kab. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati .2. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah.13.2. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. “.2. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.. 5. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. Dengan BPS tidak ada MoU. terkadang kurang tepat sasaran. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.” (Dinas kesehatan.5.2... ini karena adanya perbedaan tarif. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. Paser).12. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah.

64 .500. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. paspor. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. SIM.yang dianggap terlalu rendah.. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. surat domisili oleh RT/RW.000. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes.350. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek.. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. mulai th 2011.000.Jampersal. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK).ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan.

baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.2. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan.14. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. Kebijakan Dinas kesehatan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. 5. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan.2. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 .

sedangkan mereka bukan peserta Askes. 2) Perbub untuk tarif di RS. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. setiap bulan dipotong 3%. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. 5) Jasa Pelayanan. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). yaitu untuk anggota TNI/Polri. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. SK Direktur. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. 66 . sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. potongan yang terbesar sampai 50%. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Karena mereka juga abdi masyarakat. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. Potongan bervariasi. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. sesuai dengan kemampuan membayar pasien.

tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. 5.5.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. peralatan dan bahan habis pakai dll.3. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. Program ini merupakan program Bupati . 1) Bebas kematian ibu melahirkan. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. SDM. 5 tahun 2011. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. 2) bebas kematian bayi. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. 3) bebas gizi buruk. Dukungan Manajemen.1. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. 4) Bebas TB. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. Di Kota Ambon. kepolisian.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. kader kesehatan. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. fatayat atau aisiyah. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. kepala desa. dukun. kecamatan.. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. “. PKK. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. muslimat.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. dukun dan Toma. mulai dari kabupaten sampai desa. 73 .

8) Persepsi tentang merujk pasien dan.4.” (RSUD. bidan praktek swasta. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal..untuk sosialisasi jampersal di RS. “. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. Kab Sampang)..“. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. 3) Sosialisasi Jampersal. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. Pada bulan November 2011 di Bali. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. 5.. 5) kendala implementasi Jampersal.” (Dinkes. bidan puskesmas. 74 . 2) dukungan Jampersal pada program KIA. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan. bidan desa. 4) dukungan sarana. 6) tugas sebagai penolong persalinan.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. Kota Mataram). Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.. Waktu itu awal-awal juknis 2011.2.

6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA.Gambar 5.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . budaya untuk bersalin di non nakes. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.4% responden bidan juga kurang memadai. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Ternyata 35.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal.6%). Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. Selain itu 94. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. 94. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin.

Sampang).1. c). tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. didapatkan 85.2.” (Bidan Kab.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. 76 .7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. bisa tiap bulan..cuma gini pak. untuk masalah ANC.” (Bidan Kab. Bogor). namun ya tergantung dari Kemenkes. 82. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah.6% bidan menyatakan baik. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. “. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. b).. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali.hal diatas 94. 1 kali pada triwulan kedua. dimana selama hamil.. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a). Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T.4. 1 kali pada triwulan pertama. Dua kali pada triwulan ketiga . Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan.. secara umum bidan dapat menerima. hasil penelitian 5. sebenarnya sudah bagus. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. “. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu.

. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. Kompetensi bidan. Kita kembalikan ke program. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. misalnya manual plasenta. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. boleh mengklaim. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim.bidan melaksanakan pelayanan. Apabila hal tersebut diterapkan. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana.” (Dinkes. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan.. tidak semua bisa diklaim. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. tapi kalau Poned terlalu jauh. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. bisa melakukan tindakan selain itu. Sampang). Kab. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. bahkan di Aru 77 . Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan.

150. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah..masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan.. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). Kep. pelayanan bayi baru lahir.000.. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir.. “. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. Berbeda dengan Kab.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . OH tdk boleh lebih. mungkin merasa lebih enak di rumah.” (Kepala Puskesmas di Kab. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas... Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan. Jadi klo OH 78 .PNC. “.300.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. “. temuan BPK.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan). Kalau sudah mulai sakit... Aru).” (Bidan Kab. dan pelayanan KB pasca salin. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.000. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan.. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. “.

Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. 79 . Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. terutama jika ada kasus. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. Kab. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100.000.” (Bidan Kab Lombok Tengah). bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung).lebih dari 30 hari tidak dibayar.. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Padahal klo KN harus dikunjungi.. pasien lebih baik membayar sendiri. “. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD.000. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan. “.” (Dinkes.. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. bukan termasuk KB diluar itu.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi..

. 3). tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu. ibu bersalin.” (dinkes. 2).. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda.5. “..menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu.” (Bidan Kota Ambon). “.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali. Supaya program KB berjalan dengan baik.2. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak.” (Bidan Kep. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan..... Sasaran pengguna Jampersal adalah 1).4. Aru).beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. “.” (Bidan Kota Blitar). Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. Kota Balikpapan). ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4). 80 . Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan.program jampersal ini disambut baik. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. Biasanya langsung ke nakersos saja. “. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja.2. ibu hamil . neonatal (0-28 hari). mau buat anak berapa juga tetap gratis.. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi.

Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. Lombok Tengah). tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. KTP suami (Kota Blitar). Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. “. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili.2. kartu mahasiswa. Surat Ijin Mengemudi (kab.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal.. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. 5. Lombok Tengah). 81 .4.” (Bidan Kota Ambon). Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas.. paspor (Kab.. KK juga harus disyahkan camat. “. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP).” ( Bidan Kota Ambon). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. Kartu Keluarga (kota Ambon). Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.3. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. Batam). Kartu pelajar (Kab.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat..jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP).

Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan.10. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. 82 . maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD).

. “. Kab Paser). jenis tindakan dan besaran tarif. tetapi hal tersebut menjadi temuan. dientry data soft ware Jampersal. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. kelayakan. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA.” (Pengelola Jampersal. partograf... “. “. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien. disimpan di Puskesmas.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah.” (Pengelola Jampersal. 83 . jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. Kab.” (Bidan Kota Blitar).Kalau tahun yang lalu 2011. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal.. bukti kb dll.. identitas. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. pengisian teknis. setelah selesai diverifikasi. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. Aru).Gambar 5..jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan.

” (Dinas kesehatan.. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. Kota Bandung). Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. “.” (Puskesmas.” (Kepala Dinas. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu. soalnya petugasnya tidak stand by. Kalau mau klaim harus telpon dulu. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas..Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon.000 untuk jasa.. Ada penggantian obat dan lainnya. Proses pengajuan klaim susah. “..maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. 5000. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Mojokerto. “. Kab. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab.. Kota Bandung). Di daerah uji coba penelitian Kab.. “. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan.. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. Klaim bisa satu minggu aja. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu.

dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali .. “.-.000. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.500.. 20. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 .dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari. 20.000.-).” (Dinkes Kota Balikpapan). Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan.” (Puskesmas.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. Kota Balikpapan). 100.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut.000. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. persalinan normal Rp.000 sampai dengan Rp. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal.. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota).000. 200.. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp. 5.700.000. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.4.2.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp.. PNC Rp. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD.4.. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.

. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta.000 untuk persalinan oleh bidan. jadi bidan hanya 400 rb.000. makan minum pasien.. 86 .. Batam. krn BHP sendiri. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan. dengan tarif bidan yang tinggi.” (Puskesmas. persalinan sampai PNC. Paser). Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. BHP dll.menurut saya kalau persalinan normal.. Kota Batam). Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien. kami menanganinya.000. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang.” (Bidan kab.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda.000. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini.. paket pelayanan sudah cukup.karena membayar dukun. “. kalo bisa sampe 700 rb. kab. Bandung dll.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. “.” (Puskesmas. “. Bogor). geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun.” (Bidan Kab.. Minta ditambah. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien.. tapi ternyata dibayar cuma segitu. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. “. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis.sudah sesuai mulai dari ANC. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. Sampang).. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan.

.-. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan. “. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk .000. 87 .“.000.” (Bikor. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.5.-. 5..4.000. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . 3.-.000. “.. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp.000. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri.000.tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas..2.” (Dinas kesehatan. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai. sedang tarif umum tidak ada. Kota Kendari). Aru). 1). Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 .pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp.perlu ada regionalisasi tarif. 350.1. Kota kendari).. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser... karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam.”(Puskesmas. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. Kab. 500. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. Aru dan kabupaten Wakatobi.

Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Ambon. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. Mataram. Kabupaten Kepulauan Aru. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Lombok tengah. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. 88 . Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Blitar.

Kab..” (RSUD.. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua.5. “. Kecuali untuk kasus ginekologi.3. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.. Sampang) Provider (Bidan. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu.1.” (RSUD. 5. Sering timbul masalah 89 . ditanggung oleh Jampersal.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak. Namun kenyataannya tidak demikian. Sampang).4.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. “.4.. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. Kab.3.

Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. nifas. baik negeri maupun swasta). bersalin. RSUD). Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. “.2.. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. 5. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 .” (NN. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB .3.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal.4. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes.. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. Padahal.

Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP..semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. Aru).. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. keterangan RT..hambatannya sebetulnya tidak ada.3.” (Pengelola. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. 5..” (SPOG.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. Sampang). kartu domisili.adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan.4. Namun dalam kenyataannya. “.. RSUD)..yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf . banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. buku nikah. “. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. “.. Selain itu pasien membawa rujukan.” (RSUD. 91 .” (Pengelola Jampersal. “.. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. SIM. RSUD ). Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. persyaratannya KTP dan rujukan. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. Kab. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. kartu pelajar.sungsang ini tidak masuk akal. Kab. Kep. Kab. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram). Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. Sampang). Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. tetapi tetap tidak bisa menolak. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang.3. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. KK.

biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.3.outnya dikirim. Kab.4. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan.Mekanismenya. “. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD...4. surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. kota Bandung). Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012. “.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). jadi setelah pasien masuk. Sampang).. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK..klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat. 5.” (SPOG.”(verifikator independen. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 .

“.. kab.. Obgyn sectio semua. karena terlalu rendah. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. Wakatobi).083. “... lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya.. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2.” (NN.. namun kalau boleh kami memberikan saran.8 juta lah.” (SPOG.. “. “. apa itu manusiawi. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. dan bahan habis pakai. RSUD). Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.yang saya tahu.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap.000.. tapi dengan jampersal kan hanya 1. jadi yang diterima nakes kecil. “.tarif sedikit. 93 . belum untuk bahan habis pakai. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya.. Kota Bandung). RSUD). kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr.” (SPOG. harus ikhlas.2 atau 1.” (Pengelola Jampersal RS.. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.” (bidan RS.. Sepaket 2. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. Kota Ambon). Ini masalah personal.083. Bedanya sampai 1 juta per pasien. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.tidak manusiawi. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya.000 .000 itu Cuma habis untuk obat saja.program dan tujuan MDG’s. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.. Masa 1 sectio saya dibayar 150.

asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1.. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1. “. 94 . masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.. “. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien..” (RS.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). “. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. “. Kota Kendari). Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP.000 . Dokternya hanya dapat 750.. maka para bidan. Contoh: kasus angina pectoris. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III. Kota Blitar).. itu sudah pas-pasan.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio.2 jt.” (RS. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.000 – 1250000. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.” (dr. Kota Ambon).menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5..000... RSUD). Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi. SPOG.” (SPOG.

6. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. 12. 3. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. 2. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5. 14.5. Klinik bersalin.id 95 .depkes. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY). rumah sakit pemerintah dan swasta. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini.bppsdmk. 13. 5. sarana dan prasarana yang memadai.2. 11. Tabel 5. 9.5. 7. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. Disamping itu untuk Jampersal. 4. 8. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www.go.5. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10.

tetapi pada kenyataannya terutama di kab.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. kabupaten Bogor. baik itu dokter maupun bidan. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Kabupaten kepulauan Aru). Kota Bandung. Kabupaten Wakatobi. Kabupaten Kepulauan Aru. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Karena dari 22 puskesmas yang ada. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal.” (Pengelola Jampersal. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional.. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku.. Kota Ambon. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “.

Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP). Propinsi dan Pusat. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). poskesdes maupun pustu. SPOG terutama di kabupaten.. 97 ..”(Direktur RSUD Paser). SPOG. sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal..dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr.6% sementara di perdesaan 21.. 2011). Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Kota Ambon). “.puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. (RIFASKES. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. “.7%. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. bisa melahirkan di polindes. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal.” (Puskesmas.

Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. bagaimana dia mau care dengan pasien. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu.” (dr..resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. ruangan ICU. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Lombok Tengah). Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan..Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. “. “. Dan tenaga tersebut (dr. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. SPOG. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. pengawasan post operasi yang baik. diruangan harus diawasi oleh perawat. SGOG. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas...” (dr. ventilator yang kurang dsb. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas.. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Tapi listrik itu yang masalah. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. mulai pada saat setelah tidakan. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten.. “. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. Kota Ambon). di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . Lombok Tengah). peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut).” (dr SPOG.

implant. Kab. “.Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. MOW. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP. pil .ketersediaan alat. suntik.. laparatomi.. “.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. Bogor). 99 .. Kota kendari). kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.” (Puskesmas.. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain.” (Bidan RS.

tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .Gambar 5. Ruang ICU.11.

bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km.12.5. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. Bogor. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Lombok Tengah. Kota Kendari. Paser. Kota Blitar. Balikpapan. Kota Bandung. Kepulauan Aru.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Kota Mataram. 101 . Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5.Gambar 5.

sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. 102 . Sesuai namanya.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna.Gambar 5. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. 108 .17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar.Gambar 5. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya.

yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. 109 . Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Kecamatan Aru Tengah. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Kepulauan Aru. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. Kab. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina.18 Puskesmas Benjina. Dobo. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. Gambar 5.

Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Jadi. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Jadi bila sakit saat baru 110 . yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu).Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Dusun Papakula Kecil. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. dua lainnya masih kosong. Selibatabata dan Fatujuring. Dalam forum diskusi yang sama. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. yaitu di Namara. Menurut pengakuan rekan Puskesmas.

. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan.. Setidaknya membutuhkan Rp. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. Desa Fatujuring. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. bersabarlah. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. Desa Gulili. Bersabarlah kek. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. tetapi seringkali juga mundur. 111 . Desa Namara. 600.000. Desa Selilau. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu.saja ada kunjungan Posyandu. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami.. Dan betapa Mbak Ning. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. yaitu Desa Benjina. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. dan wilayah Trans-Maijurung. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan.

-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.-. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.-.-. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri.000. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut.800. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama.000. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp.000. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.000. Pada saat pengambilan keputusan. 21. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan.000. 600. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 .600. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. 250. 1.

Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Pulau Kaledupa. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya.Pulau Wangi-wangi. Gambar 5. serta hari Sabtu via Kendari. laut dan udara. Pulau Tomia.

Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat.” (Toma.di sini.. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa.-. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. tokoh agama. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. “. bahkan untuk sekedar bank darah. Kab. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini.. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah. itupun hanya beroperasi 114 . terutama untuk transfusi darah. “. karena tinggal lapor. nanti akan dijemput ambulan. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun... “. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang. rujukan harus ke Baubau.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami.. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. tapi perlu ditingkatkan lagi. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. Sebagai gambaran. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. 130.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik.. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.000.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar.

kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau.. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp.000. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. seberang Pulau Tomia. 115 . Jadi. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Di wilayah ini. Waitii. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama.sekali sehari.000. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . 10.per kali sewa.

Sedang sisanya adalah perawat. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. wilayah Barat pulau. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. 116 . Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk.20. PTT dari pusat. Untuk sarana bangunan Puskesmas. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa.Gambar 5. mereka tinggal di pulau seberang. di Waitii. 4 orang tidak tinggal di tempat. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut.

barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. berada di ujung desa. 117 . Karena kalaupun ditempati. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. Dalam sebuah kesempatan.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. serta satu staf Dinas Kesehatan. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. salah satu staf Puskesmas. Karena meski tempatnya juga tidak strategis.

Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal.Gambar 5.21. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. Bila manajemen berkenan memberikan ijin.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan.6. 5. Kab. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk. Puskesmas Onemobaa.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. 5.

Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% .. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang.6%.masing-masing kabupaten / kota.22.36. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. 119 . Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. kota Mataram. Bogor. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan.

Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Gambar 5. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. di kep. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. prasarana. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. Tidak seperti di wilayah non kepulauan.23. Sasaran yang diambil adalah 120 .36 (Ditjen Gikia Kemenkes. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat.

5% 14.9% 72.2% 25.4% 76.0% 50. bahkan di Kota Kendari 100%.3% 100.5% 14.0% 90.8%. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .3% 87.7% 33.4% 59. K4 .2% 61.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.3.8% 58.7% 87.8% 74. K4.7% 72.0% 87. Di Sampang.3% 66.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.3% 41.4% 68. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.5% 33.7% 33.0% 55. persalinan dan PNC.2% 27.8% 62. K4. K4 dan persalinan 59.3% 39.8% 33. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.0% 52. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.9% K1 + K4 72.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.3% 63.2% 59.7% 77. pelayanan K1.9%.1% 66.4% 59. Tabel 5. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.9%.9% 33.0% 72.6% 64.8% 58.1% 66.0% 43.8% K1 + K4 + Persalinan 71.5% 14.2% 27.0% 57. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.0% 43.0% 94. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.3% 39.1% 50.6% 14.1% 68.3% 39.3% 63.9% dan pelayanan K1.3% 66.2% 86.

persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47. Wakatobi.5% 4% 9. Di Bogor juga sudah cukup baik. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4. Aru.3% 8. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.2% 4. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.7% 5.2% 0% 0% 0% 0% 16. Kota Ambon.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC.8% 0% 2% 58.8% 2. persalinan dan PNC.Tabel 5. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.K4.6% 15% B 1.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). Kep.3% 6.1% 0% 3. Bogor.7% 0% 1. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.7% 0% 0% 0% 22.2% 50% 7.9% C 4.7% 0% 0% 3. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Kota Batam 122 .4% 3. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal.4.

Kota Kendari 10.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Kota Bandung 6.0%) 0 (0.8%). Kab Bogor 7.0%) 0 (0.0%) 51 (100.0%) 0 (0.3%) 0 (0.5%) 0 (0. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik.5%) 54 (100. Kab Kep Aru 9. KotaBatam 12. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan. Tabel 5.4%) 47 (100. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.0%) 119 (97. Kota Blitar 3.0%) 0 (0.0%) 60 (100.0%) 3 (2. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100. Kota Mataram 4.0%) 0 (0.0%) 33 (100.0%) 24 (27.3%) 726 (95. Kab Wakatobi 11.5%) dan Paser (25.0%) 26 (74. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 64 (100. Kota Ambon 8.0%) 58 (100.0%) 0 (0. Kab Lombok Tengah 5. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 . Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.2%.0%) 0 (0.0%) 63 (72. Kab Sampang 2.7%) 1.5.6%) 0 (0. Kota Balikpapan 13. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.7%) 36 (4. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.0%) 9 (25. Wakatobi (2.0%) 11 (100.0%) 65 (100.

ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Gambar 5. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 .24.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya.

125 . ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas.Gambar 5.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Bahkan di kepulauan Aru. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% .25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Kepulauan Aru. Bogor. Kota Kendari. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Kota Batam.

(Direktorat Ibu. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. 126 . sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. 2007). 2012). Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . preeklampsi/eklampsi 24 %.26.Gambar 5. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. Infeksi . infeksi 11 %. Kemenkes. eklamsi.

27. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. Saat ini. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. 127 . Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .Gambar 5. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi.2.6. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. 5. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.

Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi. 128 . Paser. kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. kematian maternal >24 jam. Sampang.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota.28. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit).” (Bidan RS. Bogor).. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. Kab Bogor). Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. Loteng. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). “..

Tabel 5. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012).Bogor 7. RSUD Prov Ambon 8.29. RSUD Kota Blitar 3. Loteng. RSUD Kota Bandung 6. RSUD Kab. Kep Aru 9. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . terutama di RSUD Kota Blitar.6. Sampang 2. RSUD Kota Kendari 10.Gambar 5. RSUD kab. RSUD Lombok Tengah 5. RSUD Kota Mataram 4. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. Bahkan di RSUD Blitar. RSUD kab.

”(SPOG. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : . Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal..sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. RSUD Sampang.. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. 130 .30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar.RSUD Kota Batam 12. RSUD Kab. RSUD Prov Balikpapan 13. RSUD Kab. Sampang) Gambar 5. Paser 14. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. “. kab. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit.11. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.

prasarana dan SDM di rumah sakit.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.Juni 1012 131 .Gambar 5.

bersalin. 5.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . Gambar 5. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Tapi di Kota Bandung. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.7. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun.

Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. harus dilakukan pemilahan dulu. Askes. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). Jamkesda. persalinan.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Jamsostek. KB) dibiayai dengan Jampersal. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. PNC. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. Kenyataan di lapangan. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. 133 . Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Karena untuk sasaran Jampersal. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal.

Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. 134 . Yang menarik ada 0. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.70% karena tidak tahu adanya Jampersal.Gambar 5.

Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut..36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. “. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua. bahkan Kota Balikpapan sampai 84. 135 .di sini kan mahal apa2 bu.Gambar 5. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal. Kota Balikpapan). Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar.” (NN.3%.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Kota Mataram. Kota Bandung..

Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus.. tokoh masyarakat Kota Bandung). Jadi kalau bisa ada batasan-batasan .Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. yaitu ikut KB jangka panjang. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah. tokoh masyarakat Kota Bandung). yaitu IUD dan implant. Kalo ada tindakan lebih dari itu. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. “. sudah ada patokan dari pemerintah.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. 136 ...PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.” (Toma. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. masyarakat menanggung.. ternyata ada tambahan obat B.. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal.” (NN. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “. hanya untuk warga miskin saja. 5. Jampersal punya syarat – syarat khusus. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar.” (NN. “. Kota Blitar). obat B yang dibayar. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda.Jampersal tidak semua gratis.. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan.

Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. 3) Antara Budaya.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. Selain kesehatan. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah.467282 (peringkat ke 286 nasional).8. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. yaitu Desa Lamanggau. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. 5. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.

2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2)Pemberian vitamin A . Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan.Kecamatan Praya dan Kopang. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.8 milyar pada thn 2011. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar .

Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. 2008) : 139 . dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A).37. Namun demikian. Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC.Gambar 5. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4).

Kelompok Kerja (Pokja). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten.pertemuan di kecamatan.Di tingkat provinsi : 1). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. Fasilitator Kecamatan (FK). Spesialis manajemen informasi sistem. 4). mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. membina administrasi kegiatan. 2). pengendalian laporan keuangan. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Tim Koordinasi Kabupaten. membina pengembangan peran serta masyarakat. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Di tingkat kecamatan : 1). merupakan 140 . Puskesmas. 3). 4). pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Fasilitator Keuangan. 6). Camat. Di tingkat kabupaten : 1). Spesialis PNPM GSC. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. 3). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. 2). Bupati. 5). 2). Fasilitator Kabupaten. mengembangkan.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

” Gambar 5.40.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes.000. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 . awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes.

Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. oh kamu hamil. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. terpilih melalui voting.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Pada awalnya. Ketua PK Desa Langko yang sekarang.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan.. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. tanpa dipastikan atau di tes. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC.

” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan..” Gambar 5. Tapi sekarang sudah tidak.kandungannya hilang. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 . Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan. sampai KB harus ke tenaga kesehatan.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.. kita ajarkan senam.. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas.

Berikut ini adalah tabel data K1. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. K4.000 dari dana PNPM GSC. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. televisi. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20.4%. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. video player. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.42 Kunjungan K1. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 .melahirkan di tenaga kesehatan. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang.

Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA.7% pada tahun 2012. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan.menjadi 105. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . kepala desa. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. “...” Selain merenovasi polindes. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu.

Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu.ibu yang mendaftar. ikan kering seperti cumi. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. ikan teri. kacangkacangan. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. telur empat butir. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil.. kalau yang 200 gram untuk empat hari. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 .. berikut penuturannya: “. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. telur rebus satu butir dan biskuit. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. telur. gula. minyak goreng sebanyak 1. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan.5 kg. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang..” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil..kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan.

Gambar 5. dan desentralisasi. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali..kompasiana. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. 2007).com). (http://edukasi. kemauan. mengembangkan gotong-royong masyarakat. tidak seberapa. menjalin kemitraan. melindungi.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. Menurut Notoatmodjo.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . mengatasi. memelihara. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. menggali kontribusi masyarakat..

itu mungkin yang terus dilakukan. 153 . Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. dia yang melaksanakan. Seperti penjelasannya berikut ini: “. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. dia yang memantau. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. dia rasakan karena dia yang merencanakan..” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. dia yang melanjutkan. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC.. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan.

Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Berikut pernyataannya: 154 . Hanya saja. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Oleh karena itu.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan.

Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. “. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. dukungan layanan.. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3.. 2.. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu..” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. (http://www. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus..“. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan.” Menurut Ericson (dalam Slamet. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “.ac.unand.awalnya ego dari dinas itu. Selanjutnya ketiga tahap 155 .id). indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana..pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat.pasca. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. yaitu : 1. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan.

Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. 1. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. 80% dan 100%. bagaimana cara membuat proposal. saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa.

Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan.PNPM GSC.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa.. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). material.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 .. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. 2. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. “.

seorang kader dari Dusun Lengarak.” 158 .” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC. berikut uraiannya: “. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun.. Desa Langko berikut ini : “.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.. Seperti pernyataan informan IT. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan..kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC.000. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya.000 per harinya. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC.

Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa.8. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia.96 km. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.900 km2 serta panjang garis pantai 251. 159 . Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. 5. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. kebanyakan kader adalah perempuan. 3. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. Kabupaten Wakatobi. Provinsi Sulawesi Tenggara. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti.

00 pagi. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 . 8 kelurahan.blogspot.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan. Setelah tiba di Dermaga Waitii. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.000 perorang.-. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari.com/2012/04/peta-wakatobi. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.000. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang. Apabila pada pukul 09.Gambar 5. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120.15. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. Pulau Wangi-wangi. Namun. yaitu pada pukul 09.

dan Dusun Dunia Baru. Secara administratif. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak.000 per orang. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. Sementara itu. yaitu Dusun Lasoilo. Gambar 5. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Dusun Ketapang.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. terletak di daratan yang agak tinggi. Kabupaten Wakatobi. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. yaitu Desa Lamanggau. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo.

Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Selain Desa Lamanggau. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan.perkawinan. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Dengan kata lain. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. yaitu jalur darat dan jalur laut. tepatnya di sebelah selatan DWR. Untuk desa Lamanggau. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Bantuan tersebut bermacam-macam.00. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan.00 hingga 06. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. sehingga banyak wisatawan. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. Namun.

pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.46 dan 5. Setelah tiba di pos satpam. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. November 2012 163 . Dari dermaga. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa.mencapai pos satpam DWR. tibalah di Puskesmas Onemobaa. Gambar 5.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). Setelah sampai di gerbang resort. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit.

Namun karena tidak dipakai. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. dan loket pendaftaran. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. namun jika melewati jalan belakang. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. poli gigi. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. bersalin. gunting. sampah tersebut tidak terlihat. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. Memang jika dilihat dari depan. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. Menurut penuturan kepala puskesmas. 164 . Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau.

sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. November 2012 Selain bangunan puskesmas. ruang tamu.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri).48. kamar mandi. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. dan dapur.Gambar 5. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. Namun.49 dan 5. 165 . dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). 5. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Menurut kepala puskesmas. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama.

Namun. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. dari lima petugas kesehatan tersebut. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. yaitu dua orang perawat. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Dengan kata lain. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Sementara itu. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. tiga orang perawat. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a.

bukan di fasilitas kesehatan. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. sejak September 2012. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. Namun menurutnya. 167 . Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.Puskesmas Osuku. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. Dari empat orang yang ditolong tersebut. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. Kini. Menurut cerita bidan tersebut. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa.00 malam hari. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Jadi. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Selain itu. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. Oleh sebab itu.

Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan.00 malam hari. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). Dengan kata lain. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. Sementara itu. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Selain itu. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. bidan tersebut berada di seberang pulau. Dari empat persalinan tersebut.

169 . Selain faktor letak fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat.siap untuk dihubungi kapanpun. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Selain itu. Sementara itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. yang menurut mereka haus akan darah. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. Oleh sebab itu. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas.

Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. Apabila melakukan persalinan di rumah. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. Pada awal pembangunannya. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. makanan. Selain itu. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). Selain tersedia puskesmas. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh sebab itu. Selain pustu. dan perlengkapan lainnya. dan polindes. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Dengan kata 170 . listrik. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. pustu. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal.

Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali.lain. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Namun. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. dikarenakan ada yang tidak datang. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Pada awal tahun 171 . Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. yaitu Posyandu Cemara I. khususnya Posyandu Cemara 2.

dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. ibu nifas. Ibu Ma. Berbeda dengan pangullieh. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. dan balita. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. ibu nifas. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. apabila ia menolong persalinan. Pada saat itu. dan petugas kesehatan. Sejak saat itu. Selain itu. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. pertolongan persalinan. Sejak saat itu. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. sando. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. putri pangullieh. Akhirnya. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. baik pangullieh maupun sando. Menurut pangullieh. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. banyak pengetahuan tentang kehamilan. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. ibu bersalin. dan bayi ke petugas kesehatan. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh.2010. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. ibu nifas. Sama halnya dengan pangullieh. melarang ibunya untuk menolong persalinan. Sama halnya dengan pangullieh.

Dengan kata lain. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. begitu pula sebaliknya.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. 2010:120) 173 . Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan.Waha. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. Terlepas dari itu. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. Namun. Sebagai contoh. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa.

maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Namun. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. dan berlantaikan bambu. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Oleh sebab itu. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Menurut mereka. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. Menurut kepercayaan orang Bajo. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Menurut Ibu Ma. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan.

Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter.52 . Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. 5.51. mencegah. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah. November 2012 175 .53 dan 5. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. 1 2 3 4 Gambar 5. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). 5. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). atau merasa terganggu.

sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Gambar 5. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Namun. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara.Berbeda dengan masyarakat Bajo. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut.

Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Namun. program tersebut mempunyai banyak hambatan. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. Oleh sebab itulah. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Namun. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Selain itu. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . pada implementasinya. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. Secara kasat mata. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. dan budaya masyarakat setempat. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. tenaga kesehatan. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka.oleh tenaga kesehatan. Bagaimana tidak. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi.

Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat.fasilitas seadanya. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Jika keadaan darurat terjadi. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. dalam hal ini pustu. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka.misalnya bidan desa. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. Dalam kasus ini misalnya. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. 178 . Atau lokasi fasilitas kesehatan. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. Bagaimana bisa. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku.

TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. ANTARA BUDAYA. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kota Blitar. 5. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. Kejadian tersebut 179 . Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas.3. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. tenaga kesehatan. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. Melalui intervensi Jampersal.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. dan selalu ingin gratis. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. Namun. terjadi empat kasus kematian ibu. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.8. Bagi teman-teman di Puskesmas. dan kondisi sosial budaya masyarakat. butuh bidan.

RS Swasta. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. pendidikan SLTA . F. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. RSUD. akan tetapi Px 180 . 3 Puskesmas. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. berumur 24 tahun. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Di tempat kerjanya.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. ritme kerja Px tidak berubah. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta.

Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. Karena ukuran obat yang besar. Px tidak mau. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. tidak biasanya Px bangun siang. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Sepulang dari kerja. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. apakah obat tersebut kembali 181 . akhirnya Px memuntahkannya. Px mengeluh sakit kepala. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. dan suami menyuruh Px ke dokter. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air.30. Pagi harinya. Blitar dengan mengendarai motor.adalah pribadi yang tertutup. Suami Px tidak mengetahui. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. padahal waktu hamil pertama. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. setelah maghrib. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. sedangkan suaminya yang membonceng. Setelah itu Px menyapu halaman. Ketika suami membangunkan. akhirnya Px yang mengendarai motor.

diminum oleh Px atau dibuang. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. karena kondisi Px sudah tidak sadar. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. Dengan mengendarai sepeda motor. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. 182 . Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Px muntah-muntah. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Suami mengira Px masuk angin. Waktu suami masuk kamar. Sesampai di puskesmas. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. langsung dibawa ke UGD. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. karena semalam Px pulang larut.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Px dirujuk ke RS. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. pucat dan nafas ngorok. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Dilihat dari kondisi lingkungannya. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga.

Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. selama Px hamil. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Menurut kader. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Menurut kader. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil.

tinggal bersama Px. Berdasarkan penjelasan di atas. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . umur 33 tahun. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore).menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Anak kedua perempuan. Anak pertama laki-laki. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. Setiap pagi. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. kader tidak mengetahuinya. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px juga selalu tidur siang. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. sehingga ketika Px tertimpa musibah. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. berumur empat tahun. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. KASUS 2 : Ny. N. kader tidak mengetahuinya. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti.

Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 .Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Menurut tetangga. jenis kelamin bayi perempuan. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. suami selalu mengantar. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Px membeli obat “Trace Minerals”. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Sakit di punggungnya sembuh. Ketika terakhir kali Px kontrol. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. kemudian meminumnya. sejak awal kehamilan. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. tapi tidak lama kemudian sembuh. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. karena anak 1 dan 2 juga operasi. beberapa hari setelah kontrol. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. Px merasa punggungnya sakit. karena Px tidak cerita. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. Keluar rumah seperlunya saja. Menurut tetangga. kondisi Px sudah stres. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Px jarang keluar rumah saat hamil. akan tetapi Px tidak mau.kaku di tangannya. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah.

Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Lalu Px menyetrika baju semalaman. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut).“puyer 16” di tempat obat. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Setelah Px dianggap stabil. Px dipindah ke ruang perawatan. setelah sholat Subuh. Px kejang. Di UGD Px diinfus. Ketika akan membuat jus. Px sudah terbangun. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. Hari sabtu malam. Px cerita jika tensinya 170. Pukul 5. dokter di RS tidak ada. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Menurut tetangga. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. Px baru bisa tidur.30. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak .30. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Jam 4. karena Px merasa kepalanya masih pusing.

sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. Berdasarkanpenjelasan di atas. Setelah ada kasus kematian. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. hasilnya 170/. • Pukul 10. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. Bahkan setelah Px meninggal.? mmHg.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px.. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah.• 22-4-2012 jam 07. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas.. Yang menemukan pertama kali keponakannya. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . Sampai di rumah ibu mengalami kejang. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil.

Keluarga sangat senang ketika Px hamil. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri.KASUS 3 : Nama Ny. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. umur 31 tahun. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. B. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px.

Menurut kader. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. selama Px hamil. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Menurut kader. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Kader juga tidak 189 . akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil.

permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Berdasarkan penjelasan di atas. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal.

ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil. “. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak.. Takut ada apaapa kalo gak nurut.. beberapa menjawab “tidak tahu”. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Px selalu periksa kehamilan di BPS.” 191 . mereka akan malu. tempat penelitian ini berlangsung. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain.gak tau mbak... Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. “.

sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil.wong g tau metu seko ngomah. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. Berkaitan dengan kehamilan. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat.. Engkuk ujug2 wis lair anake.embuh prikso nang ndi mbak. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil.. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. “. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. Lain kasus. Di Kota Blitar. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil.

Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. bidan. Untuk mengantisipasi hal tersebut. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. janin sungsang). suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS.

Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. 194 . memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. Selama hamil. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Di Puskesmas.kehamilan istri. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Masalahnya. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Selain tentang substansi PHBS. Kalau dilihat dari profesinya. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. jika terjadi keluhan pada istri. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. bayi dan anak. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Di level komunitas. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan.

. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan.. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. “. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. “. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. mereka sering datang dan pergi..kalau ada apa-apa. Terkait dengan kegiatan Jampersal. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. 195 . “... Kalau ada sesuatu yang spesial. Ini lho ada pelayanan gratis.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. Kurang opo. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. sampeyan bisa periksa kehamilan.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi.. silahkan hubungi saya. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. Sulit untuk dikasiktahu. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader. Perasaan tidak enak hati. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan.. ini no HP saya.

. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. Hal 196 . sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. bukan orang kesehatan. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT.“...saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi.. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader.. Dengan adanya kasus tersebut. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka.setelah ada kasus. Namun demikian.. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. kok banyak bicara tentang kesehatan.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi.... alamiah dan kodrati. “. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa. sopo sih kui.. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. Ketika terjadi kasus kematian maternal. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian.” “. kok kenyi banget.saya tidak enak hati. ketika terjadi masalah kesehatan..

Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Pada keempat kasus kematian. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. juga berkontribusi terhadap kasus ini. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. faktor geografis dan kendala ekonomi. Secara medis. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Namun. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta.58 km². Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 .ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. semua tidak ada yang lebih dari 2 km.

Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Oleh karena itu.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Pada dasarnya. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. pendidikan. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. sosial dan budaya. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan.

ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. terutama oleh suami. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. 199 . melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. masa kanak-kanak. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. masa remaja hingga dewasa. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut.

Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. tokoh agama.9 AKSEPTABILITAS TOMA. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. 5. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. kader kesehatan.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. aparat desa dan dukun. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. 200 . Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. LINTAS SEKTOR. karena dalam Budaya Jawa. suami dan keluarganya. TOGA. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil.

kader. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum.Gambar 5. memberikan informasi tentang Jampersal. selain itu juga melalui media elektronik televisi. ulama dan masyarakat. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Sedangkan di Sampang. 201 . dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. dari kepolisian juga sering. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. TOGA.

masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal.” 202 . “.” ". Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak... Kita teruskan lagi di masyarakat. Kita sampaikan di situ. kadang kita undang kumpul masyarakat. mereka takut ke RS takut biaya mahal. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. terjadi di Kabupaten Wakatobi. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan. Di pos kamling.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan.di kelurahan sosialisasinya. kab.setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm.. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Menurut Toma. “. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini. Wakatobi).pokja 4 bisa bantu sosialisasi. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun... “. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal.” (Toma.. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi... Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. Selain itu. atau langsung dr pintu ke pintu.

Kabupaten Kepulauan Aru.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. Masalahnya. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Masalahnya. Di Blitar.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. diketahui bahwa terdapat 66. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. 203 . harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan.

terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. Semua orang yang pernah mendengar.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. Mengenai persyaratan.. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. ibu nifas dan bayinya.” “. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal.. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. ibu bersalin. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar.” 204 . perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. “.. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan.program jampersal ini disambut baik. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. tidak semua bisa berpendapat. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal.” “. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat... tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. pertolongan persalinan.

sasaran dan persyaratannya. jenis pelayanan yang diberikan.. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. Di kota Bandung.” “. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan.“.. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. saling pandang dan tetap terdiam.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru.program jampersal di masyarakat ini baik. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru... Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa. Masyarakat banyak yang 205 .. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. “program untuk masyarakat miskin”. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. Secara garis besar. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru.. Maluku. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo.

yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal. Tentang pelayanan yang diberikan.. periksa bumil dan KB. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal. Di kota Mataram.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD.. KIA.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. pertolongan persalinan.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan.” “..” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram.. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu.. masyarakat mengemukakan bahwa: “. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. 206 ..yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu.” “...” “. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.kaya miskin boleh ikut Jampersal.” “.. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal..yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.

“..” “.” “. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani..” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota.program jampersal di masyarakat ini baik.. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili.. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat. untuk pengurusan memerlukan waktu..” “. Nah.. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal... kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal... Dengan adanya program Jampersal. Berikut ini beberapa komentar masyarakat. maka perlu dibatasi. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis.... Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 .. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal….Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal...” “. kalau negara kurang mampu. terutama untuk keluarga miskin saja. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang..” “.. kalau negara mampu... Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.untuk ikut jampersal.. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP..program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal... “.

ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. “... Dalam pelaksanaan suatu program. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah.kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. jangan berhenti. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. “. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.1. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar.. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Kota Mataram).9... Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan.. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. Kota Bandung). Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. sebagaimana berikut. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya. 5.karena belum merasa berkepentingan. Kab.program Jampersal harus terus dilanjutkan. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. pelayanan rujukan. Wakatobi). Dalam pelaksanaan. “.” “. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 .di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan.. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal.” (Toma. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas..” ( Toma.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. Dengan merasakan manfaatnya. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal.” (Toma.

Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung.. “.. “. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Kep.Khusus untuk masyarakat di Natuna. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal.” (Toma. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam.. Kab.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan..belum lagi bidan kecil2. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Natuna). Kab kep.” (Toma. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. mereka baru. misal umurnya sudah banyak. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. langsung tindakan saja. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. Pelan-pelan ditolong persalinannya. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. Natuna). Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Jadi gimaa mau percaya. Kalau di dukun kampung. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang.

210 .

Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. peralatan dan bahan habis pakai dll. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. 3. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . KESIMPULAN 1. SDM. Secara umum provider ( bidan. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. b.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. dibatasi pada jumlah anak.1. Materi sosialisasi masih 211 .

KTP suami. surat keterangan domisili. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. surat ijin mengemudi.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. kartu keluarga. habis pakai dsb.. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. c. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. g. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. kurang pada substansi. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. tapi juknis tahun 2012 212 . d. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. e. ibu bersalin. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. perdarahan sebelum melakukan rujukan. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. f. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama.

hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. h. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 .sudah lebih sederhana. b. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. misalnya di kota Ambon. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. dan distribusi bidan belum merata. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. c. 4. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik.

Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. Terutama di daerah kepulauan sarana. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. 5. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Pemanfaatan layanan Jampersal : a.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. bahkan tidak ada SPOG tetap. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses.3% dilakukan di fasilitas kesehatan. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. • Untuk pengguna Jampersal.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. c. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . b. d. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. 214 . 95. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.

Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Di level komunitas.6%).7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Lintas sektor.10% dan Jamsostek (11. dan lebih senang dengan KB suntik. 215 . Dari data didapatkan : a.30%). 8. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi .6. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. c. Jampersal bersifat portabilitas. Jamkesda (19. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. b. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Toma. IUD). sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Askes (12. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . Toga.

3. bahan habis pakai. Jamkesda. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Toga. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. dll. kader) dalam 216 . Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. 6. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. seperti BOK. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. 2. Jamkesmas.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. 3. 4. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil.2. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 5. obat. pelibatan lintas program. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal.

6.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. b.sosialisasi lebih di tingkatkan. Kementerian Perhubungan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi.2. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. khususnya di daerah tertinggal. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. Menyediakan rumah singgah. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. dengan menerapkan inform consent. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. c. 217 .

serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. sarana. obat dan peralatan. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. baik aspek tenaga. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . tokoh agama. • Melibatkan tokoh masyarakat. 218 . kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. dan kepulauan.perbatasan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial.

Sc. kesempatan dan dukungan yang diberikan. Dengan segala kerendahan hati. DR. atas segala perhatian.. 219 . Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. Trihono. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr.. 3. masyarakat. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. 2.. Drg. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. Puskesmas. M. dr. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto.Kes. atas segala perhatian. M. Sandi Iljanto. Usman Sumantri. Toga. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Riskiyana. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. 5. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. 6. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. Kasubdit Ibu Nifas dr. Sampang. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. 4. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Toma. selaku Kepala Pusat Humaniora. RSUD. drg. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini.

220 . Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.7.

Open University Press. J. 2000. Anonym. when. USAID. Praya. Strukturalisme Levi Strauss. Graham WJ. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. 2012. 221 . 368(9542):1189 – 1200. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Jakarta. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. 1996. Jakarta: PT. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 16: 403. Badan Pusat Statistik RI.. Alexander. Buse K.. Jogjakarta. (2006) Maternal mortality: who. William. 2011. Badan Litbangkes. 1975. Departemen Kesehatan RI. 2010. England. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.. Mays N. 2012. 2007. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. The Lancet. Mitos dan Karya Sastra. Macro Internasional. Yogyakarta: Kepel Press. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. Badan Litbangkes RI. and why. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. ER. Dunn. Pearson. 2003. Heddy Shri. Walt G. 1985. Analisis Data. (2012) Making Health Policy. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Carine Ronsmans C. Profil Kesehatan Wakatobi. Andersen. Nelson: London. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. BPS Kab Lombok Tengah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Open University Press. Badan Litbangkes RI. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Praya. Jakarta. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Rencana Strategis Nasional. (2005) Making Health Policy. 4th Ed. Public Policy Making. 2nd ed. Buse K. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. England.. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press Emzir. where. Administration & Society. Mays N. 1st ed. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Rajagrafindo Persada. Walt G.

David Hughes. No. Mirzoeva T. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. The Policy Process. Notoatmodjo. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries.. Myfanwy Morgan. 2011b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 14. J. Gereina N. Jakarta.id Kementerian Kesehatan RI. 2011. New York. 2011d. Rineka Cipta Pranata.67–173. Birda P. 6. Ramanif KV. Kementerian Kesehatan RI. Administration and Society 6(4):445-8. R. Anhb LV. Press Release. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. BMC Medicine. American Journal of Health Behavior. Kebijakan Jaminan Persalinan. India and China. Qiane X. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Green. Volume 7 No. April 2011. 3 July 2002 Yoni Yulianti.. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Badan Litbangkes. Vol. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Jakarta.go. Sugeng Rahanto. Stanton C. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. Volume 23. Lawrence W. A Reader. 2. 2007. Barry Gibson1.. Jampersal Solusi Persalinan. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku ..Gordon. Inside The Academy: Profiling Dr. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Jose Figueroa-Munoz. Setia.. Ian. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI. 2011a.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.depkes. Pearsona S. Meryl Hudson. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 1993. 2012. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Zahr-CLA. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. 2002. 2011c. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. 222 .12 Greena A. Gulliford. Martineauc T. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Mukhopadhyayd M.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Ahmed S. 1999. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Health Policy 100. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. Niniek L Pratiwi... Martin. Roger Beech2. 2011e. Soekidjo. Diunduh dari http://www. Michael (eds).

Weimer DL. 2005). Prentice-Hall.pasca. Pearson. & Vining AR.detik. Weimer DL.go.Jakarta. & Gilson L.unram.depkes. Walt G. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. http://www. 3rd Ed. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012.html. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010 Metodologi Penelitian./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT.Ratna.kompasiana.id/id/wp.5th Ed.ac.id/index.ac. http://fp. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan. Brugha R. RSUD Larantuka dan RSUD Serang. Schneider H.15. tahun 2007. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice.pdf 223 . KL.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. RSUD Sikka. 2007.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755.. Wilujeng.pdf http://health.-Rev. http://edukasi. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)._. Rukmini. Nyoman Kutha. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. http://buk. RSUD Padang Pariaman.unand. & Vining AR.. Murray SF. Shiffman J. Health Policy and Planning 23:308–317.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful