LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. akseptabilitas Dinas Kesehatan. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. Surabaya. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. Desember 2012 Tim Peneliti ix . Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Laporan ini.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Provider (RS dan Puskesmas). Akhir kata. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini.

x .

nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. Lintas sektor. saat. nifas. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.bersalin.bersalin.bersalin. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. nifas. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.bersalin. Toga. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. xi . LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS.

Direktur / Wadir Pelayanan RS. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Bidan Koordinator. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . Obsgyn. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . berdasarkan perhitungan simple random sampling.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. cek list dan data sekunder. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Pengelola Jampersal RS. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Kepala desa/lurah & aparat desa. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. dan kader Posyandu. pedoman wawancara.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas.

Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Secara umum provider (bidan. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. penyediaan sarana. b. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. c. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. xiii . SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. dibatasi pada jumlah anak. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. 3. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Kab. 2. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. kurang pada substansi.

Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. e. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. kartu keluarga. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. d. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. f. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. 4. g. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. habis pakai dsb. KTP suami. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. ibu bersalin. surat ijin mengemudi. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. h. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. surat keterangan domisili.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal.

hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. 5. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. Terutama di daerah kepulauan sarana. bahkan tidak ada SPOG tetap. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. c. b. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. misalnya di kota Ambon. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Sisanya masih di xv . o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. d. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan.3%) sudah di fasilitas kesehatan. b.

LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. 8.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Jamkesda. c. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. b. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). 6. Dari penelitian disimpulkan : xvi . d. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Lintas sektor. c. Dari data sasaran didapatkan : a. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Toga.

b. lebih senang dengan KB suntik. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. provider dan masyarakat. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. d. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. obat. bahan habis pakai. c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. IUD). c. xvii . Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Toga . Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. brosur. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana.a. Ada keterlibatan Toma . Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang.

4. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. pelibatan lintas program. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. 5. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Jamkesmas. 2. 3. lintas sektor dan masyarakat (Toma. o Menyediakan rumah singgah. xviii . dll. seperti BOK. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Jamkesda. 6. dengan menerapkan inform consent. Toga. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi.

b. 1. Kementerian Perhubungan. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. dan kepulauan. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. perbatasan. sarana. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . baik aspek tenaga.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. obat dan peralatan. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. d. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. c. 2. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. khususnya di daerah tertinggal. xix .

xx .

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. NTB. bidan koordinator. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. dukun dll). Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. SIM. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). pengelola program KIA dan verifikator). Puskesmas (kepala puskesmas. kader. Sulawesi Tenggara. SPOG). Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. Maluku. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). KTP suami. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. Jawa Barat. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Kartu Keluarga. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. verifikator independen. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. cakupan program). Surat keterangan domisili. pengelola Jampersal. sasaran (ibu hamil. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi.toga. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. xxi . pengelola Jampersal dan bidan desa). Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . bidan dan dr. pengelola Jamkesmas/Jampersal.

Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Askes dan Jamsostek. Jamkesda. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii . Hal ini dikarenakan menurut provider. masyarakat dan sasaran. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal.

It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. Southeast Sulawesi. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. independence verificator. and financing. a domicile explanation letter. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. hospital (director/head of division for health services. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. questionnaire structurely. Results of the study shows that In general. and village midwives). It was covered based on Minister Decree of Health No. and verificator for health office). health program coverage. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. Driver’s License. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. 2012. Health Center (head. post natal) including communities (TOMA. Furthermore. FGD. birth. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. and the others). Childbirth Insurance managements. and obstetric specialists). West Java. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. and mayor decrees. Each area were taken 2 (two) districts/cities. Moreover. cildbirth Insurance management. materials in medical services. targets (pregnant women. Husband ID. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. coordinator midwife. East Kalimantan and Riau archipelago. public health insurance/childbirth insurance managements. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). cadres. West Nusa Tenggara. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. Student Card and passport. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. Family Card. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. Maluku.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. TOGA. maternal and neonatal management. midwives.

shelter home. On the other hand. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. local health insurance. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. health insurance. Key words: Childbirth Insurance Program. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. or one stop service. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. In general. xxiv . Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance.package. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. communities.

Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. Tety Rachmawati.. magister Sains Peran P.Psi.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. S. M.. 1 Nama dr. S. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10. SKM. 5. S.Sos Wening Widjajanti. Drs. SKM. S. M. Rukmini. 9. M. Msi Kepakaran Dokter.KG Dra. drg. 7. M. Master Kesehatan Peneliti 6.Wasis. Setia Pranata.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4.Psi.M.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17.M. Kes. Dr. drg. Pratiwi.Kes dr. Yunita Fitrianti.Ant Sri Handayani.MPH Peneliti 11. Ir. SKM. Psikolog. S.I.. 2.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. 13.. 16. Peneliti 12. 15. Agung Dwi Laksono. Selma Siahaan. Yurika F. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . M. 14. R. Niniek L.S.KM Rozana Ika Agustiya. Muhammad Agus Mikrajab.Vita K.Sp. Msi Ingan Ukur Tarigan. Apt. Epid.

xxvi .

....... 2.................................................. PERTANYAAN PENELITIAN ......................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) .......... DAFTAR ISI............................................. 2....2 1................................................................................................................................................................................................................................................. FOKUS BIDANG PENELITIAN ..... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ........................................................................................... 2...............................................1 1.........................1 PENDAHULUAN .........1 JAMPERSAL ..................................2 SASARAN JAMPERSAL ........................... LATAR BELAKANG ..........................................2.........................1.. RINGKASAN EKSEKUTIF .....................3 FASILITAS KESEHATAN ................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ...................6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ..............................................................................1............................................................................................. TINJAUAN PUSTAKA .....................1.... KATA PENGANTAR ...........................................................................................................1.............. 2...........1 TUJUAN JAMPERSAL ................... BAB I 1..... 2..............................................................2............DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............ 2............................................................ DEFINISI ........................3 BAB II 2............................................... 2............................................................... DAFTAR ANGGOTA PENELITI .... SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ....................................... 2......... DAFTAR LAMPIRAN ................................................1.........................................................2 PERJANJIAN KERJA SAMA .............................................. 2.............. ABSTRAK ................................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) .................................................... DAFTAR TABEL...1............................................................... DAFTAR GAMBAR ..........

........................................................... 3.......4.......2 BAB IV 4. xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ...........................1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ....... 4....................4 4............6................................................ TUJUAN PENELITIAN .............. KERANGKA OPERASIONAL.......................................3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL .........3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ........ 4....... 3....... 2........................................................................................3 DATA SEKUNDER .3.... 2.................................... DESAIN/JENIS PENELITIAN .... CARA PENGUMPULAN DATA .........................2 4... 3...1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ..............1 DEFINISI MATERNAL ............. 2.............8 4...............................................2.......... RESPONDEN PENELITIAN .......................................... 2...................... 2..........................................2....4 PENDANAAN JAMPERSAL ............1 TUJUAN UMUM ..............................2 TUJUAN KHUSUS ... 2.........2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ............................................................................................................................................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ..............1 4................... TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ................3................ 4....................................4...........................1........................................... KERANGKA TEORI ...........3..................... DEFINISI OPERASIONAL ................................3 KEMATIAN MATERNAL ................................. 4......6........... 4.....................9 VARIABEL PENELITIAN ..................................1 TUJUAN DAN MANFAAT..................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN ...... 2......................................7 4.....................1............2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ...............6........................9........... 2........6 MANFAAT PENELITIAN ...............2................................................... KERANGKA PIKIR .............3 TEORI KEBIJAKAN .................... BAB III 3............................................. 2.3 4...............4......................................................... METODOLOGI ..................................................5 4......2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN .....

......................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ..............2.... 5..2 PAKET PELAYANAN ................................2......2..........1...............3 KOTA MATARAM .....................2.. 5.1..... 5..................10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA . 5...................... 5.......................1.......7 PENDANAAN ........................ 4........ 5..2... 4... 5.................1.2............2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ...........2................. 5................1 SASARAN ......2........1...4.................................2...............1.......2................1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ..... xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 .....6 BESARAN TARIF PELAYANAN ..........8 PROSES PENGAJUAN KLAIM .............. 4................11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ..................................3 KEPESERTAAN ....... 5................2.........3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN…………….............................9.................................2............ 4.5 PEMBERI LAYANAN ...........2....... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .......................1...........................1.............. 5...............1.................4 PERSYARATAN KLAIM ..5 KOTA BANDUNG ..........................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ............... 5.................... 5........................... 5................2.................................4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ............2.......................2.... 5................2....... BERSALIN DAN NIFAS ...6 KABUPATEN BOGOR ..2.... 5..............2..........2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN..........9.......................................2....7 KOTA AMBON ..................2. 5.......................................... 5.....................................2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ..1 KABUPATEN SAMPANG .1.........................2..... 5....2.......1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL.....................2 KOTA BLITAR ................................... 5............ 29 29 30 30 31 33 5..............12 JADWAL KEGIATAN ....2............. 5..................

.....................3....................3..2..........2..4............1 PAKET LAYANAN.........................................3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5. SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ...............3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ................... 95 xxx .........5 JASA PELAYANAN ..4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..3..........................2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.......2.......... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5....2..2.................... 5.......3 SYARAT KLAIM........1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5.................2 KEPESERTAAN/SASARAN ......................................2.... 5............4..1 DUKUNGAN MANAJEMEN.......... 5....5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)...................................... 5.2...................................12 KABUPATEN PASSER .......3....................3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.................1 PAKET PELAYANAN .. 5.....................4 BESARAN TARIF PELAYANAN .......... 5...............13 KOTA BATAM .......2...14 KABUPATEN NATUNA ...................4.......10 KABUPATEN WAKATOBI .4.. 5...............4. 5..................2........2....4.4.... 5..9 KOTA KENDARI .........4....4..4.2.......................8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU .......3................... 5.............2 KEPESERTAAN .........................5......2..11 KOTA BALIKPAPAN ............ 5..2........4......2......................... 5. AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .......... 5............. 5..............4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5....................4.........2......2...............2........ 5............2.. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5.. 5........................................2.......

...................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH ........................ 5......3 ANTARA BUDAYA...................8.....2......................................... 5......................................... 5.....1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN .............................................................1 HARAPAN MASYARAKAT ..........................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .....................................................8....2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN ...........................................................6....................................... SARAN/REKOMENDASI ........ 5.........6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ............................................ 5............. 5......................... LINTAS SEKTOR................................9....................5...... 5....... 5....9 AKSEPTABILITAS TOMA...... BAB VI 6....... 6........6................................. 6.........................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH ........................................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU .................................1 JANGKA PENDEK ...2 KESIMPULAN DAN SARAN .........2 AKSESIBILITAS JARAK ..7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ........................................................ KESIMPULAN ........................5.....8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .................... xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ............................8.................5...... DAFTAR KEPUSTAKAAN ......... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN ....1 6................. 5.................. 5. TOGA.......1 JANGKA PANJANG ................................2........................ 5.............

xxxii .

1 Gambar 5.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .11 Diskusi Kelompok pada Bidan. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.9 Gambar 5.12 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.3 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.7 Gambar 5.10 Gambar 5.8 Gambar 5.4 Gambar 5.

14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.21 Gambar 5. Kab.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .Juni 2012 Gambar 5.18 Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.19 Gambar 5.Gambar 5. Kab.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.16 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.15 Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .20 Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 . Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.Juni 2012 Gambar 5.

43 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.40 Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.46 Gambar 5. Th 2010 s.34 Gambar 5.50 Kunjungan K1.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.48 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.Gambar 5.45 Gambar 5.44 Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.49 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.Juni 1012 131 Gambar 5.33 Gambar 5.38 Kunjungan K1. K4.47 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.42 Gambar 5.

54 Gambar 5.52 Gambar 5. kader.51 Gambar 5. TOGA.55 Gambar 5.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .Gambar 5.53 Gambar 5.

1 Tabel 5. Tabel 5.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. 121 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal. K4. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.2 Tabel 4.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573).3 Tabel 5.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii . 27 31 47 95 Tabel 5. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.

xxxviii .

Menurut data Kemenkes. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . lingkungan. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. jumlah itu masih sangat tinggi. (Kemenkes. sehingga diperlukan (SDKI.. kecukupan fasilitas kesehatan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. pendidian masyarakat. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal.1. pengetahuan. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). 2011). Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk.R. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya.BAB I PENDAHULUAN 1. sumberdaya manusia dll. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.I. Dengan program jampersal. 2007).

Oleh karena itu.R. saat persalinan. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil.I.R.I. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. Selain itu. 2011)..3 triliun rupiah. bagi siapa saja. 2011). dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan.di 80 kabupaten/kota (Gani. (Kemenkes R. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. 2 . Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. 2011). ibu bersalin.I.

Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. Tahun 2011. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. memastikan memastikan bidan tinggal di desa.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . K4. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.7 juta ibu hamil pertahun. 3 . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.6 juta ibu hamil.

Lintas sektor.2. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma.bersalin. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. nifas. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB.1. Toga. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. Pertanyaan penelitian 1. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. akseptabilitas provider dan masyarakat. 4 . pertolongan persalinan. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia.3. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6.

1. 2.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. 5 . 2.1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. TNI/POLRI. 2.1.1.2.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. 2. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. pertolongan persalinan.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 2. dan Swasta.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. nifas. persalinan. baik promotif.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif.1. preventif. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. 2.1.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.

Agar pemahaman menjadi lebih jelas.2.1.2. transparan. nifas. persalinan. Tujuan Jampersal 1. c. b. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Tujuan Khusus a. Ibu bersalin 3. 2. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. dan akuntabel. nifas. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Ibu hamil 2. 2.2. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. bersalin. pertolongan persalinan.2. dan bayi baru lahir. efektif. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.

Penyediaan obatobatan. 1 kali pada triwulan kedua c. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. bersalin. persalinan dan nifas. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. pre eklamsi dan eklamsi 7 . Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. 2.3. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. 1 kali pada triwulan pertama b. 2. dimana selama hamil. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan.2.

f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. 3. dan 8 . Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. masing-masing satu kali pada : 1. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. dan Kohort ibu. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. Kartu Ibu. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Implant.

2002). sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan.2. (Winkjosastro (Ed).3.2. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya.1. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. 2002) 2. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. 2. 2. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100.4. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. KEMATIAN MATERNAL 2.c) Suntik. (Winkjosastro (Ed). Pendanaan Jaminan Persalinan 1. Hal ini disebabkan 9 . Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio.000 kelahiran hidup.3.3. 2. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil.

Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . (Winkjosastro (Ed). Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian.3. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. A. dibeberapa daerah. 2002) 2. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan.4. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.

retensio plasenta. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. robekan vagina. 3) Trauma persalinan.Retensio plasenta tanpa perdarahan. . . Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar.Plasenta manual dengan segera dilakukan. terbanyak dalam dua jam pertama. Grandemultipara. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. Jarak hamil kurang dari 2 tahun. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. b) Faktor predisposisi : Anemia. . sisa plasenta. dan robekan jalan lahir. 2. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . plasenta akreta. plasenta inkreta dan perkreta. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi.Grandemultipara 11 .c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. penyebab utama adalah atoni uteri.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan.

TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. Kejadian abortus sulit diketahui. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. keguguran mengancam. . Selain perdarahan antepartum dan postpartum.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Keguguran buatan terapeutik 2.4. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. kemiskinan. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. lembaga pendidikan atau rumah sakit. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. keguguran tak terhalangi.. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. (Manuaba. 2001) 2. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. keguguran tidak lengkap. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. keguguran dengan infeksi. perusahaan multi-nasional atau local. anemia. missed abortion. keguguran habitualis. Keguguran spontan 2.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . status gizi. B. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. Keguguran buatan atas indikasi medis.

Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. pelayanan. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. 2012). 2. sebagai berikut: 13 . Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. sosial atau budaya. dinegosiasikan. Selanjutnya. Organisasi. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. yaitu: 1. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. dilaksanakan. 2005). Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. ekonomi. dikomunikasikan. organisasi.1. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . dikembangkan atau disusun.4.. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan.

sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. TB. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. dan dikomunikasikan 3. disetujui. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. Identifikasi masalah/isu. 2005). Pelaksanaan kebijakan. 4. Evaluasi kebijakan. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. Perumusan kebijakan. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. 2007) cit Walt et al (2008). Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. bagaimana kebijakan dihasilkan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan.1.. 14 . Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). bagaimana pengawasannya. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). reformasi sektor Kesehatan.

b. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.3.4. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. Dalam teori ini. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975).3. sumber daya material (material resources).2. 1994) cit. yaitu: agenda setting.4. 2. yaitu: a. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson.1.4. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. 15 . ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan.2. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. Teori Kebijakan 2. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). Greena et al (2011). dan sumber daya metoda (method resources). Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable).

yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. Teori Weimer & Vining (1999.2. 2. 16 . Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. c) intensitas disposisi implementor. Kondisi sosial. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.3. 2010) Menurut Weimer & Vining.4.c. f. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. e. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. dan 3) Kemampuan pelaksana. b) kondisi. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. ekonomi. d.

Menganalisa akseptabilitas Toma.bersalin. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3.bersalin. Toga. nifas. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.1.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3.1. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.2.bersalin. Lintas sektor. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. nifas. Menganalisis ketersediaan (availability). 17 . LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Tujuan Khusus 1. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. nifas.bersalin. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil. nifas.1 Tujuan Penelitian 3. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4.1.

2. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. 18 . B.3. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.

KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. 19 . ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. Ketepatan program dan Sasaran.BAB IV METODOLOGI 4. 3. yang terdiri dari variabel kemiskinan. Akseptabilitas Kebijakan. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. ketersediaan fasyankes. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. 4. Kapasitas Manajerial. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan.1. Faktor Kontekstual. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. 2. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto.

Pusat dan Daerah : . INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. biaya dan jenis pelayanan .Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. pelayanan KB pasca persalinan 6. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. Proses dan Output. ibu bersalin. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. nifas. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . prasarana. 2.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. 3.4. dan bayi baru lahir. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin.2. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . 4.Ibu hamil. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . SDM. 7.

dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi.4.1. Tabel 4.3. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini. tahun 2007).

2. 4. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . dan kader Posyandu. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas.4. kriteria administrasi kota dan kabupaten. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. 4. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. kriteria daratan dan kepulauan.5. RESPONDEN PENELITIAN 1. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). 22 .Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). Bidan Koordinator. Kepala desa/lurah & aparat desa. b) Kelompok PKK. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. daerah yang tidak menggunakan Jampersal. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS).

Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. Sementara itu. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. 4. Kader Posyandu. verifikator independen. Pengelola Jampersal RS. PKK. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara.TOMA/TOGA. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. dan wawancara mendalam (Indepth interview). CARA PENGUMPULAN DATA 4. 3.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. bidan kepala ruangan.1. Penanggung Jawab program KIA.6. dokter kandungan dan kebidanan. Observasi partisipasi dilakukan 23 .6. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. c) Verifikator 4. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. LSM dll.

2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak.6. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. Bulin dan Bufas) : Data sikap. 24 .2. ibu melahirkan.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. 4. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil.

2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. tahun 2010 dan 2011 25 . n = Z2 1 .2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . 2) Data sikap. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal.6.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. Data sekunder ini meliputi: 1. 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini.3.

VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. Pembiayaan Jampersal 5. pelayanan nifas. 4. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. pelayanan bayi baru lahir. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. 4. dan Puskesmas. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. 5. Pelayanan Jampersal 6. persalinan. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. 3. pertolongan persalinan. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2.7. Rumah Sakit. persalinan di 4. Pemberdayaan Masyarakat 26 . KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan.2. nifas dan bayi baru lahir. SDM yang terkait dengan Jampersal. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit.

3. SDM . 6. peraturan pemerintah. keputusan presiden. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. 1. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. Kabupaten Kota (Perda. prasarana. 7.4. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. tokoh adat. 9. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . Definisi Operasional No. masyarakat.8. keputusan menteri. 10. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. SK Bupati/Walikota. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.2. Variabel Kebijakan Tk. 5. Pusat Definisi Operasional 2. perangkat desa dll. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. Balai Praktek Swasta. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Jampersal Rumah Sakit. 8. 11.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. Puskesmas. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . 4.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011.

Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .RS. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.9. 4. KERANGKA OPERASIONAL 4.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.3 Kerangka Operasional 28 .Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.1. sedang.9.

4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif .ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi. 4.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih . Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2. Melakukan uji coba kuesioner.4.9. Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.9.3.2. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : .

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing.11. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC).masing provinsi 6. yaitu analisis domain. analisis taksonomi. 4. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif.5. analisis komponensial. Bidan Puskesmas. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. 30 .10. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Sementara itu. Bidan desa) 7. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. dan analisis tema.

4. JADWAL KEGIATAN Tabel 4. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .3.12.

32 .

1. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. Dengan kata lain. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. 5. rumah sakit dan puskesmas. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. lintas sektor. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. dan 9) akseptabilitas Toma. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. Salah satunya adalah faktor letak geografi.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. Toga. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik.

sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA.14). dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. yaitu Jawa Timur (33.94). NTB (45. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. Sulawesi Tenggara (74. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.38).000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57.25. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota.56) dan Kalimantan Timur (52. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. Jawa Barat (24.67) dan Kepulauan Riau (64. Dalam hal ini. Menurut Badan PPSDMK. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. yaitu Maluku (74. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota. Namun. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.56).25).09). menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan. Selain itu.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional.

02%). yaitu Jawa Barat (81. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. dan Kalimantan Timur (85.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.28%) dan Kepulauan Riau (97. Menurut Badan PPSDMK. Maluku (77. Nusa Tenggara Barat (82.- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Namun. apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.44%). Sulawesi Tenggara ( 85. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.39%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional. untuk rasio 35 .30 %).84%).35%).49%). yaitu Jawa Timur (95.

NTB (45. Karakteristik meliputi umur. sulawesi Tenggara (74.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.38).49%).28%). Kepulauan Riau (97. Sulawesi Tenggara ( 85. Maluku (77. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.94).787 orang.25.35%) masih dibawah angka Nasional.1. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak.56) dan Kalimantan Timur (52. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Karakteristik Responden Ibu Hamil. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil. yaitu Jawa Timur (33.09).44%) dan Kalimantan Timur (85. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. Jawa Barat (24. 5. Nusa Tenggara Barat (82.39%). Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal.56).84%) sedangkan Jawa Barat (81.14). yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.25). Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . Bersalin. pendidikan dan jumlah anak (paritas). Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.1.30 %.67) dan kepulauan Riau (64. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.02%).

787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. Kota Bandung. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%).Gambar 5. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Wakatobi dan Kota Batam. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun. kepulauan Aru.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . kira .2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Kota Mataram. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.

2004).kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang.3. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Oleh karena itu pada usia reproduksi. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. Gambar 5. Bahkan di 38 . Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. 2005). (Rukmini dkk. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun).

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. 5. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. atau pun atas. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun.2%). Namun. mencapai 17.1. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. Namun. baik dari kelas bawah. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 .70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut.6%). menengah. ada 17.2. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun.9%) dan > 35 tahun (25. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%.70 adalah cukup tinggi. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.

254 Selain berdasarkan umur.10% saja.Gambar 5. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan. 40 . Berdasarkan pendidikan. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Sementara itu. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP.4. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.

Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak .254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. 41. 2010). ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. Berdasarkan hasil penelitian.5%. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10. Namun.9% pada usia 15 -19 tahun).10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang.8% pada usia 10 – 14 tahun. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Selain faktor umur dan pendidikan. masih 12. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas.Gambar 5.5. 41 .

42 . padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil.Gambar 5. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Dengan kata lain. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.6.

biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan.5.2.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. nifas. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. persalinan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. 5. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011.

dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.1. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 5.a. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. nifas. Pertolongan persalinan normal. 5. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. b.1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. efektif. 4. transparan. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. Deteksi dini faktor risiko. ibu bersalin. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. c. 6. ibu nifas dan bayi baru lahir. 2. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1.2.2. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.2. b. Paket Pelayanan a. dan bayi baru lahir.1. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. dan akuntabel. 7. bersalin. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. pertolongan persalinan. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. 5.

Untuk 45 . Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan.1. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. 4. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. nifas. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan.2.4. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. 5.1. 3.2.2. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan.3. pelayanan nifas. 5. 1. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. b. 5. persalinan.

1. Klinik Bersalin. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. c. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri.pemenuhan buku KIA di daerah.2. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. d. 2. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya).5.

000 Jumlah 80.1.000 80. wajib segera dirujuk 5. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5.000 650.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. 3.000 20.6.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s.000 500. 1 kali 650. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. 5.2. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1. Pendanaan 1.1. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program.1. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. 5. bersalin. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi. 2.2.000 500. 1 kali 100.7. Pelayanan pasca keguguran. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. 47 .000 100.

terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. 48 . maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). 7. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. 5. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. 4. 3.2. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. 6. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD.21/PB/2011). pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit.

8. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah.2. 10. 49 . Transport rujukan risti.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah. Proses Pengajuan Klaim 1. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. bersalin. 11. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil.1. nifas). Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5.8. 9.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. 2. swasta. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. 5.2. 55 . 3. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas.2.5. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. 4.Jampersal. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili.

Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal.2. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. dan bahan habis pakai. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. yang sudah diberikan adalah obat. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. 5. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. jumlah yang di verifikasi. dan jumlah yang harus dibayar.5. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal.6. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. jumlah yang diperbaiki. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. Dengan adanya protap adalah 56 . Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim.2. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. Bogor. 6. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu.

Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. SMS langsung ke Kepala Dina. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Pelaksanaan mengikuti juknis. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. 57 . Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. catatan pelayanan ANC. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. Protap tersebut. dan email. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. dll. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. namun diantara 18 RS tersebut. Kepesertaan adalah ibu hamil. Untuk jasa medis.2. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda.7. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. Syarat klaim adalah fotokopi KTP.2. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. kota Bogor. via SMS. 5.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. partograf dan catatan nifas. seperti Tangerang. atau lewat Koran.

pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. 5.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. 58 . Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. tapi karena kondisi di Kab. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu.2. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan.2. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair.8. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan.

Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. di desa Ujir. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Aru).” (RS. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Di Kab. baik yang kaya maupun yang miskin. Masalahnya. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. Syarat klaim tersebut adalah partograf. 59 . Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. terutama mereka yang berada di pedalaman. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. “. tidak semua masyarakat punya KTP... Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. Kep. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. Kab. buku KIA.beberapa bulan kemaren.

35.000.10..2. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250.dan perawatan bayi Rp. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis.2. sedangkan ANC gratis. uang makan Rp. Dengan demikian .000. Rp. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. 5.000.. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama.5. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. bidan desa.-. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. Kepesertaan adalah ibu hamil.2. 55. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan..per hari. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota. 2) pembebasan biaya pengobatan dan. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp.9.000.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. 50. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat.2. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 . Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. puskesmas poned. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas).

Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. 61 . Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Sebelum ada program Jampersal. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan.Kesehatan. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Kepesertaan sesuai juknis. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan.

2.000. surat domisili). Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah.11. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya.. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis.2. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2.500. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. 62 . 5.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal.

. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan.12. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. Paser)..2.2. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Kab.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.” (Dinas kesehatan. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Dengan BPS tidak ada MoU. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. 5. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. “. ini karena adanya perbedaan tarif.2.5..2. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. terkadang kurang tepat sasaran.13.

000.000.. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI.yang dianggap terlalu rendah. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. paspor.Jampersal. mulai th 2011.500. surat domisili oleh RT/RW. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. SIM. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). 64 .. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan.350. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp.

klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam.2. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.2. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Kebijakan Dinas kesehatan. 5.14. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan.

Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. Karena mereka juga abdi masyarakat. potongan yang terbesar sampai 50%. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. Potongan bervariasi. setiap bulan dipotong 3%. yaitu untuk anggota TNI/Polri. 66 . Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. SK Direktur. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. 2) Perbub untuk tarif di RS. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. sedangkan mereka bukan peserta Askes. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. 5) Jasa Pelayanan. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. sesuai dengan kemampuan membayar pasien.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati.

1. 5 tahun 2011.5.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . 1) Bebas kematian ibu melahirkan. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. peralatan dan bahan habis pakai dll. 4) Bebas TB. SDM. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana.3. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. 2) bebas kematian bayi. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. Program ini merupakan program Bupati . rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. Dukungan Manajemen. 5. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. 3) bebas gizi buruk.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. kepolisian. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal.. kecamatan. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. kepala desa. dukun. Di Kota Ambon. fatayat atau aisiyah.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. muslimat. “. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. PKK. mulai dari kabupaten sampai desa. 73 . namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. kader kesehatan. dukun dan Toma.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa..

2. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada... Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. 74 .. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. 3) Sosialisasi Jampersal.” (RSUD. Kota Mataram). bidan praktek swasta. 4) dukungan sarana.untuk sosialisasi jampersal di RS. 6) tugas sebagai penolong persalinan. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. “. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja.4. Pada bulan November 2011 di Bali. bidan puskesmas. bidan desa. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. Kab Sampang). puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan.“. 5. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012.. 5) kendala implementasi Jampersal. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. Waktu itu awal-awal juknis 2011.” (Dinkes. 2) dukungan Jampersal pada program KIA. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal.

9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. Ternyata 35. budaya untuk bersalin di non nakes.4% responden bidan juga kurang memadai. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. 94.6%). Selain itu 94.Gambar 5.

Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81.hal diatas 94. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut.. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. 76 . namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a).5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. “. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan.4.2.1. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali. dimana selama hamil.paket pelayanan yang diberikan program jampersal.cuma gini pak. b). ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. namun ya tergantung dari Kemenkes. “. Bogor). 1 kali pada triwulan kedua. bisa tiap bulan. secara umum bidan dapat menerima. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh.” (Bidan Kab. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. 1 kali pada triwulan pertama.. 82. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T.” (Bidan Kab. Dua kali pada triwulan ketiga . didapatkan 85.. sebenarnya sudah bagus.. hasil penelitian 5. untuk masalah ANC. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah.6% bidan menyatakan baik. Sampang). yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. c).

Kompetensi bidan. Kab. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED.. misalnya manual plasenta. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. Kita kembalikan ke program.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. tapi kalau Poned terlalu jauh. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari.. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. bisa melakukan tindakan selain itu. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari .bidan melaksanakan pelayanan. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. Apabila hal tersebut diterapkan. bahkan di Aru 77 . Sampang). Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan.” (Dinkes. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. boleh mengklaim. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. tidak semua bisa diklaim. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan.

PNC. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp.. temuan BPK. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan.” (Kepala Puskesmas di Kab.000.. mungkin merasa lebih enak di rumah.” (Bidan Kab. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan.300. Kep. Kalau sudah mulai sakit. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan).000. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. Berbeda dengan Kab. OH tdk boleh lebih. “.. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. dan pelayanan KB pasca salin. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. “. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . 150.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah... “. pelayanan bayi baru lahir. Aru). Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Jadi klo OH 78 . Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas.. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. “. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan..keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah..

” (Bidan Kab Lombok Tengah). “. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi.. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi.000. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter.... terutama jika ada kasus.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). 79 .lebih dari 30 hari tidak dibayar. pasien lebih baik membayar sendiri. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja.. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. bukan termasuk KB diluar itu. Padahal klo KN harus dikunjungi. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. “.000.” (Dinkes. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. Kab.

nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. “.” (Bidan Kep.. “. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik.. 2). ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4)... Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda... selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. neonatal (0-28 hari). “. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. “..5. mau buat anak berapa juga tetap gratis.” (Bidan Kota Ambon). Aru). 80 . ibu hamil . Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.2. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak. Biasanya langsung ke nakersos saja. Supaya program KB berjalan dengan baik. ibu bersalin. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. 3). terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1).kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali.4.program jampersal ini disambut baik.” (Bidan Kota Blitar).2. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu.beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. Kota Balikpapan).” (dinkes..

3. KK juga harus disyahkan camat. KTP suami (Kota Blitar).masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. Surat Ijin Mengemudi (kab.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC.2. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili.. Kartu pelajar (Kab. paspor (Kab. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP)...jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP). Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat.” (Bidan Kota Ambon). misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. Lombok Tengah).” ( Bidan Kota Ambon). kartu mahasiswa. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. Lombok Tengah). tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. Batam). 81 . masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. Kartu Keluarga (kota Ambon).4. “. Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. 5.. “. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP.

Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. 82 . maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah.10. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan.

Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien.. identitas. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. “.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan.” (Pengelola Jampersal.” (Pengelola Jampersal. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan.” (Bidan Kota Blitar). setelah selesai diverifikasi.. bukti kb dll. 83 . tetapi hal tersebut menjadi temuan.Gambar 5... Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. Kab Paser). Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim.. disimpan di Puskesmas. jenis tindakan dan besaran tarif. Aru). Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. pengisian teknis. dientry data soft ware Jampersal. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. kelayakan.Kalau tahun yang lalu 2011. partograf.. Kab. tidak ada potongan dari dinas kesehatan. “. “.

Kalau mau klaim harus telpon dulu. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama.” (Puskesmas.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. “. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. Kab.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim.000 untuk jasa. 5000. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. “. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.... Proses pengajuan klaim susah.” (Dinas kesehatan. soalnya petugasnya tidak stand by.. “.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Kota Bandung).. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal. Di daerah uji coba penelitian Kab. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP.” (Kepala Dinas. Mojokerto. Kota Bandung). Klaim bisa satu minggu aja. Ada penggantian obat dan lainnya.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu.. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi.. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. “. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya..

Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya..000 sampai dengan Rp. PNC Rp. persalinan normal Rp. 20.4. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD.. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp. 100..4. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.” (Puskesmas. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku.000... 5.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi.000.-).sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. “. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.500. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.000.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp.000. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 . 20. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). 200.” (Dinkes Kota Balikpapan). Kota Balikpapan).000. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek..2.700..dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali .-.

karena membayar dukun. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. Minta ditambah. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan..sudah sesuai mulai dari ANC. kalo bisa sampe 700 rb. krn BHP sendiri. 86 .menurut saya kalau persalinan normal. persalinan sampai PNC. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. dengan tarif bidan yang tinggi. tapi ternyata dibayar cuma segitu..berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. jadi bidan hanya 400 rb.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. BHP dll. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. “.” (Bidan kab. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani.. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan..000. “. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah. Sampang). “.” (Bidan Kab. kab. Bogor). paket pelayanan sudah cukup.” (Puskesmas. Paser). Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang.000. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. Kota Batam). Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun. makan minum pasien. Batam.. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif.000 untuk persalinan oleh bidan. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. “.” (Puskesmas. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien.. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500.000. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350.. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan..keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. Bandung dll. kami menanganinya.

Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.perlu ada regionalisasi tarif. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu..-.2. 1).bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. Aru).. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk .000.000. 5. 87 . Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser... sedang tarif umum tidak ada.1. “.-. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan .-. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan. 500. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . “. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup.. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam.”(Puskesmas. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan. 3.000. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. Aru dan kabupaten Wakatobi..“. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai.4. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri.000.5. 350. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp.000..pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. Kota Kendari). Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.000. Kota kendari).tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan.” (Dinas kesehatan. Kab. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada.” (Bikor.

Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Ambon. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Blitar. Mataram. Lombok tengah.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. 88 . Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Kabupaten Kepulauan Aru. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali.

Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. Sering timbul masalah 89 . ditanggung oleh Jampersal. Namun kenyataannya tidak demikian. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. 5.3.. “. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG.. Kab. Sampang) Provider (Bidan.” (RSUD.5.3.4. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis..pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. Kab. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama.1. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. Kecuali untuk kasus ginekologi.4.” (RSUD. Sampang). Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. “. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan..

Padahal. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit.2. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB .” (NN. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. 5. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. RSUD).3. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. nifas. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB.. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit.4. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 .. “. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. bersalin. baik negeri maupun swasta).

yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf .. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya.” (RSUD. Selain itu pasien membawa rujukan.adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. “. RSUD ). banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. Sampang). “. “. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf.. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. tetapi tetap tidak bisa menolak. Namun dalam kenyataannya. Kab. kartu pelajar.” (Pengelola.” (SPOG. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. KK. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. persyaratannya KTP dan rujukan. Sampang).sungsang ini tidak masuk akal. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. RSUD). Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. “. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram).” (Pengelola Jampersal. Kab... Kep. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori.3. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. kartu domisili.hambatannya sebetulnya tidak ada.3.. keterangan RT. buku nikah. Kab. SIM. 5. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada.4.. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun.. 91 . Aru).. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon.

Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s. kota Bandung). surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. “. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.”(verifikator independen. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. 5.4. jadi setelah pasien masuk.Mekanismenya. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD.. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 .outnya dikirim. “..4. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan.” (SPOG. Kab. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.3. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat.klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. Sampang)...

” (Pengelola Jampersal RS. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya.000 itu Cuma habis untuk obat saja. Sepaket 2. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya.program dan tujuan MDG’s.. jadi yang diterima nakes kecil. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.. Masa 1 sectio saya dibayar 150. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. RSUD). supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.yang saya tahu.083..2 atau 1.. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku.” (bidan RS.. tapi dengan jampersal kan hanya 1. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah..” (SPOG. Obgyn sectio semua. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.000 . RSUD). Bedanya sampai 1 juta per pasien.. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. Wakatobi). kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. dan bahan habis pakai. Kota Ambon).083.000. Ini masalah personal. namun kalau boleh kami memberikan saran... bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan. “. 93 . harus ikhlas. apa itu manusiawi. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). “... Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. belum untuk bahan habis pakai.” (SPOG.8 juta lah. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. “. “. kab..pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs.tidak manusiawi.tarif sedikit. “.” (NN. Kota Bandung). karena terlalu rendah. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan.

RSUD). Kota Ambon). khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal.000 .2 jt..RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). Dokternya hanya dapat 750. Kota Blitar).000 – 1250000.. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1. SPOG. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu..” (RS. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.000.. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III.. “.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. Kota Kendari).. maka para bidan. itu sudah pas-pasan.. “. “. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan. “.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta. 94 . Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.” (dr.” (SPOG. Contoh: kasus angina pectoris. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal.” (RS. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3..

6. 7. sarana dan prasarana yang memadai. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). 12. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. 13. Disamping itu untuk Jampersal. 4. Klinik bersalin. 11. Tabel 5. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. 9. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan.depkes. rumah sakit pemerintah dan swasta. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www.5. 2. 14.5.bppsdmk.id 95 . Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10.5.go. 3.2. 5. 8. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).

Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Kota Ambon. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Kabupaten kepulauan Aru).pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian.. baik itu dokter maupun bidan. Karena dari 22 puskesmas yang ada. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. kabupaten Bogor. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Kabupaten Kepulauan Aru. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Kabupaten Wakatobi. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Kepulauan Aru jumlah bidan kurang.. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “.” (Pengelola Jampersal. Kota Bandung. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 .

2011).. SPOG terutama di kabupaten.” (Puskesmas. sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas.puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP). Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. “. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). SPOG. bisa melahirkan di polindes. “.7%..mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. poskesdes maupun pustu. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr.”(Direktur RSUD Paser). Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31... Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal.6% sementara di perdesaan 21. Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Kota Ambon). Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. (RIFASKES. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. 97 . Propinsi dan Pusat.

ruangan ICU. ventilator yang kurang dsb. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. diruangan harus diawasi oleh perawat. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. “.” (dr. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan.. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. mulai pada saat setelah tidakan.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . SGOG... Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. “.” (dr SPOG. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. Kota Ambon). Lombok Tengah). Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas.. Tapi listrik itu yang masalah. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. Lombok Tengah).penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. Dan tenaga tersebut (dr. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit. “.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik.” (dr. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu.. pengawasan post operasi yang baik. SPOG. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. bagaimana dia mau care dengan pasien.

implant. 99 . pil .. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. Kab. “. suntik. “.ketersediaan alat..Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. laparatomi.” (Bidan RS. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. Kota kendari). kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB. Bogor). tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB.” (Puskesmas.. MOW..

Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 . Ruang ICU.11.

Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon.12.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Kota Blitar. Bogor. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. 101 . Lombok Tengah.Gambar 5. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Kepulauan Aru.5. Paser. Kota Kendari. Balikpapan. Kota Mataram. Kota Bandung.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan.

102 .Gambar 5. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. Sesuai namanya. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

108 .Gambar 5. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar.

yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. 109 . Kecamatan Aru Tengah.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. Gambar 5. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Kab. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Dobo.18 Puskesmas Benjina. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. Kepulauan Aru. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.

terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). yaitu di Namara. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Jadi bila sakit saat baru 110 . Dalam forum diskusi yang sama. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Dusun Papakula Kecil. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. dua lainnya masih kosong. Jadi. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. Selibatabata dan Fatujuring. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO.

sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Desa Fatujuring. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). Bersabarlah kek. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Desa Gulili.. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. bersabarlah. Desa Selilau. Desa Namara.. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. Dan betapa Mbak Ning.000. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. 600. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi.saja ada kunjungan Posyandu. 111 . Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. tetapi seringkali juga mundur. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. dan wilayah Trans-Maijurung. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Setidaknya membutuhkan Rp.. yaitu Desa Benjina. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi.

Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. 250. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali.000.800. Pada saat pengambilan keputusan. 1. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.-. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp.-. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 .000.-.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp.000. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini.600. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.000. 600.000. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp. 21. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri.

dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Pulau Tomia. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. Gambar 5. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur. serta hari Sabtu via Kendari.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. laut dan udara. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. Pulau Kaledupa.Pulau Wangi-wangi.

Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. tapi perlu ditingkatkan lagi. nanti akan dijemput ambulan. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi.. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. itupun hanya beroperasi 114 . Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut.. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang.000. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. rujukan harus ke Baubau. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. bahkan untuk sekedar bank darah. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah. Kab. terutama untuk transfusi darah.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. 130. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. “. “.” (Toma.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. karena tinggal lapor. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.di sini. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. “.. Sebagai gambaran. tokoh agama.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun..-. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini.. tetapi sarananya yang masih belum tersedia.

Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. 10. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Waitii. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Di wilayah ini. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau.per kali sewa. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. 115 . Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama.. Jadi. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. seberang Pulau Tomia. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya.000.000.sekali sehari. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia.

jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. Untuk sarana bangunan Puskesmas. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang.Gambar 5. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. wilayah Barat pulau. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. 116 . 4 orang tidak tinggal di tempat. mereka tinggal di pulau seberang. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. di Waitii. PTT dari pusat. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut.20. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. Sedang sisanya adalah perawat.

Karena meski tempatnya juga tidak strategis. serta satu staf Dinas Kesehatan.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. salah satu staf Puskesmas. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. 117 . berada di ujung desa. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. Dalam sebuah kesempatan. Karena kalaupun ditempati.

Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal.Gambar 5.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. 5. Bila manajemen berkenan memberikan ijin. 5.6. Kab. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. Puskesmas Onemobaa.21.

Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012.36.6%. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan. kota Mataram. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Bogor. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. 119 .masing-masing kabupaten / kota.22.. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5.

36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. prasarana. Gambar 5. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Sasaran yang diambil adalah 120 . Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. Tidak seperti di wilayah non kepulauan.23. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. di kep. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional.

8%.5% 14.4% 68.7% 87.7% 33. persalinan dan PNC.0% 55.7% 33.0% 87.0% 72.1% 50. K4 dan persalinan 59.3.3% 63.5% 33.3% 63.2% 59.2% 27.9%.8% 62.9% 33.7% 72.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.8% 74. Di Sampang.8% K1 + K4 + Persalinan 71.1% 66.7% 77. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.0% 43. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.5% 14.3% 66. Tabel 5. bahkan di Kota Kendari 100%.3% 87. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.6% 64.9% K1 + K4 72.2% 61.1% 66.9% dan pelayanan K1. pelayanan K1.0% 90.3% 39.3% 41.1% 68.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.5% 14.4% 76.0% 94. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .4% 59.2% 86.8% 58.3% 66. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57. K4.3% 39.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.8% 58.2% 25.3% 100.0% 43.8% 33.6% 14.4% 59.9% 72.0% 52.2% 27. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.9%. K4 .0% 50.0% 57.3% 39. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1. K4.

4% 3. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. persalinan dan PNC. Di Bogor juga sudah cukup baik.Tabel 5. Aru. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC.7% 5. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.9% C 4.1% 0% 3.3% 6.8% 0% 2% 58.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal. Kep. Kota Ambon.4. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47.K4. Kota Batam 122 . Wakatobi.2% 4.6% 15% B 1.2% 50% 7.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2.8% 2.7% 0% 0% 3.7% 0% 0% 0% 22.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.5% 4% 9.2% 0% 0% 0% 0% 16. Bogor. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.3% 8.7% 0% 1.

5%) 54 (100. KotaBatam 12. Kota Bandung 6.0%) 0 (0.0%) 60 (100. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.0%) 0 (0. Kab Sampang 2. Kab Wakatobi 11. Kab Kep Aru 9.5%) 0 (0. Kota Blitar 3.0%) 0 (0.0%) 119 (97.3%) 0 (0.0%) 3 (2.6%) 0 (0. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.5%) dan Paser (25. Kota Kendari 10.0%) 33 (100. Tabel 5. Wakatobi (2.0%) 11 (100.0%) 0 (0. Kota Balikpapan 13. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27.3%) 726 (95.7%) 1. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .0%) 0 (0.0%) 26 (74. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 0 (0. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 65 (100.0%) 0 (0.0%) 9 (25. Kab Bogor 7.0%) 58 (100. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal.8%).0%) 51 (100.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan.5.0%) 64 (100.7%) 36 (4.0%) 63 (72. Kab Lombok Tengah 5. Kota Ambon 8. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100. Kota Mataram 4. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik.0%) 24 (27. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.4%) 47 (100.2%.

Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 . ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Gambar 5.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan.24. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC.

50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Kepulauan Aru. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. Bogor.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . Bahkan di kepulauan Aru. Kota Kendari.Gambar 5. 125 . Kota Batam.

(Direktorat Ibu. Infeksi .Gambar 5. 2007).26. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. eklamsi. infeksi 11 %. preeklampsi/eklampsi 24 %. 2012). Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. 126 . Kemenkes.

2.Gambar 5. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.6. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. 5. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Saat ini. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. 127 . Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia.27.

kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). kematian maternal >24 jam.. Paser.” (Bidan RS. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. Kab Bogor). Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). Loteng. Bogor). 128 . persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. “. Sampang.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal.28..

Bahkan di RSUD Blitar. RSUD Prov Ambon 8. terutama di RSUD Kota Blitar. RSUD Kota Kendari 10. RSUD Kota Mataram 4. RSUD Kota Blitar 3. Loteng.29. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012).Bogor 7. RSUD Kab. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. Sampang 2. RSUD kab. Tabel 5. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1.6. RSUD kab. Kep Aru 9.Gambar 5. RSUD Lombok Tengah 5. RSUD Kota Bandung 6. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 .

Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. “. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.RSUD Kota Batam 12. RSUD Prov Balikpapan 13.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi..”(SPOG. Paser 14. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. kab. 130 .30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : .sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. RSUD Sampang. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. Sampang) Gambar 5. RSUD Kab.11.. RSUD Kab.

Juni 1012 131 . Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.Gambar 5. Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. prasarana dan SDM di rumah sakit.

tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.7. Gambar 5. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Tapi di Kota Bandung. 5. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. bersalin. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 .33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun.

Askes. Jamkesda. Karena untuk sasaran Jampersal. karena kartu di simpan di Kepala Desa. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. PNC. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. 133 . Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua).kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. persalinan. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. Kenyataan di lapangan. harus dilakukan pemilahan dulu. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. KB) dibiayai dengan Jampersal. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Jamsostek. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC.

Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. 134 .8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. Yang menarik ada 0.Gambar 5. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.

” (NN. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua.. “. bahkan Kota Balikpapan sampai 84.. Kota Balikpapan). 135 . Kota Bandung. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.di sini kan mahal apa2 bu.3%. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Kota Mataram.Gambar 5.

“. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “.Jampersal tidak semua gratis. 5. “. sudah ada patokan dari pemerintah. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. Kota Blitar)..... Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . Jampersal punya syarat – syarat khusus. 136 ..PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. yaitu IUD dan implant. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. tokoh masyarakat Kota Bandung). obat B yang dibayar. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda.” (NN.” (NN. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. Kalo ada tindakan lebih dari itu. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. masyarakat menanggung.. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus.” (Toma. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. hanya untuk warga miskin saja. ternyata ada tambahan obat B. yaitu ikut KB jangka panjang. tokoh masyarakat Kota Bandung).

1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar.467282 (peringkat ke 286 nasional). Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. 5. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Selain kesehatan.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.8.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. 3) Antara Budaya.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. yaitu Desa Lamanggau. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.

4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2)Pemberian vitamin A . 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali.8 milyar pada thn 2011. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama.Kecamatan Praya dan Kopang. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). 2008) : 139 .37. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). Namun demikian.Gambar 5. Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik.

Di tingkat provinsi : 1). membina administrasi kegiatan. pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. Camat. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. pengendalian laporan keuangan. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. 4). 6). bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. 2). Fasilitator Kabupaten. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Spesialis PNPM GSC. Di tingkat kabupaten : 1). memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. 5). Spesialis manajemen informasi sistem. Unit Pengelola Kegiatan (UPK). 2). 3). Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. 3). 4). mengembangkan. Fasilitator Kecamatan (FK). merupakan 140 . Kelompok Kerja (Pokja). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. 2). Fasilitator Keuangan. Di tingkat kecamatan : 1). Tim Koordinasi Kabupaten. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. Bupati. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan.pertemuan di kecamatan. Puskesmas. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. membina pengembangan peran serta masyarakat.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

” Gambar 5.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan.40. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 ..000. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan..

Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. terpilih melalui voting. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas.. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. tanpa dipastikan atau di tes. Pada awalnya. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. oh kamu hamil. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD).

” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 .kandungannya hilang.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. kita ajarkan senam.” Gambar 5.. Tapi sekarang sudah tidak. sampai KB harus ke tenaga kesehatan. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “... Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan.

Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.4%. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.42 Kunjungan K1. Berikut ini adalah tabel data K1. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. video player. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. televisi. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.melahirkan di tenaga kesehatan. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. K4.000 dari dana PNPM GSC.

Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 .. “.. kepala desa. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil.7% pada tahun 2012.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah.” Selain merenovasi polindes. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan.menjadi 105. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil.

PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah.5 kg.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. kalau yang 200 gram untuk empat hari.ibu yang mendaftar. ikan teri. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. telur empat butir. ikan kering seperti cumi.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang.. kacangkacangan. telur. gula. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. minyak goreng sebanyak 1. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan... Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. telur rebus satu butir dan biskuit. berikut penuturannya: “. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari.. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu.

2007).” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. melindungi. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . Menurut Notoatmodjo. dan desentralisasi. tidak seberapa. menggali kontribusi masyarakat.kompasiana. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “.com). pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. (http://edukasi. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. mengatasi...memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur.Gambar 5. mengembangkan gotong-royong masyarakat. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. memelihara. menjalin kemitraan. kemauan.

Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. itu mungkin yang terus dilakukan..yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. Seperti penjelasannya berikut ini: “.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan. dia rasakan karena dia yang merencanakan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. 153 .” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan.. dia yang melanjutkan. dia yang memantau. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. dia yang melaksanakan. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC.

Hanya saja. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Oleh karena itu. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Berikut pernyataannya: 154 .Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait.

kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh.pasca.. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. (http://www.. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. Selanjutnya ketiga tahap 155 . 2.awalnya ego dari dinas itu. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “.unand..id).” Menurut Ericson (dalam Slamet. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu.. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan. dukungan layanan. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus. yaitu : 1.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat..ac. “. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal.“..” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan.

saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. 80% dan 100%. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. bagaimana cara membuat proposal. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. 1. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan.

partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. material. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 . Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. 2. “. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga.PNPM GSC. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga.. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat.

Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.” 158 .. Desa Langko berikut ini : “. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC..000 per harinya.000. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa. Seperti pernyataan informan IT. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun. seorang kader dari Dusun Lengarak. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader..kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. berikut uraiannya: “.

masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. 5. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. 3. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. Kabupaten Wakatobi.900 km2 serta panjang garis pantai 251. kebanyakan kader adalah perempuan. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Provinsi Sulawesi Tenggara.96 km. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. 159 .8.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia.

000 perorang.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang. yaitu pada pukul 09. Pulau Wangi-wangi.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan.-.com/2012/04/peta-wakatobi.000. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 . yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari.15. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.blogspot. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang.00 pagi. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). Apabila pada pukul 09. Namun. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii.Gambar 5. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo. Setelah tiba di Dermaga Waitii. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. 8 kelurahan. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali.

Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun Ketapang. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. Secara administratif. yaitu Desa Lamanggau. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. Gambar 5. Kabupaten Wakatobi. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Sementara itu. dan Dusun Dunia Baru. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo.000 per orang. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. terletak di daratan yang agak tinggi.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. yaitu Dusun Lasoilo.

Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. Untuk desa Lamanggau.perkawinan. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Selain Desa Lamanggau.00. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. Bantuan tersebut bermacam-macam. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Dengan kata lain.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Namun. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR.00 hingga 06. yaitu jalur darat dan jalur laut. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. tepatnya di sebelah selatan DWR. sehingga banyak wisatawan. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20.

Setelah sampai di gerbang resort. Dari dermaga. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort.46 dan 5. November 2012 163 . Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. tibalah di Puskesmas Onemobaa. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Setelah tiba di pos satpam. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Gambar 5.mencapai pos satpam DWR. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa.

Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. Menurut penuturan kepala puskesmas. namun jika melewati jalan belakang. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. 164 . Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. Namun karena tidak dipakai. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. poli gigi. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. bersalin. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. dan loket pendaftaran. gunting. Memang jika dilihat dari depan. sampah tersebut tidak terlihat.

dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). ruang tamu. 5. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Menurut kepala puskesmas.48. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. 165 .Gambar 5. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Namun.49 dan 5. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. kamar mandi. dan dapur. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. November 2012 Selain bangunan puskesmas. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri).

Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. dari lima petugas kesehatan tersebut. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Namun. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. Dengan kata lain.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. tiga orang perawat. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . yaitu dua orang perawat. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Sementara itu. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a.

bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. 167 . Dari empat orang yang ditolong tersebut. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Namun menurutnya. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. sejak September 2012. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. Kini.Puskesmas Osuku. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. Menurut cerita bidan tersebut. Oleh sebab itu. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal.00 malam hari. Jadi. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. Selain itu. bukan di fasilitas kesehatan. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari.

Sementara itu. Dari empat persalinan tersebut. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 .00 malam hari. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Dengan kata lain.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Selain itu. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. bidan tersebut berada di seberang pulau. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan.

jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. yang menurut mereka haus akan darah. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. Selain itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Oleh sebab itu. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. 169 . pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan.siap untuk dihubungi kapanpun. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. Sementara itu. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. makanan. listrik. Pada awal pembangunannya. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. dan perlengkapan lainnya. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. Selain pustu. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Apabila melakukan persalinan di rumah. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. Selain tersedia puskesmas. Oleh sebab itu. dan polindes. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Selain itu.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. pustu. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Dengan kata 170 . bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. yaitu Posyandu Cemara I. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Pada awal tahun 171 . terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. Namun. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh.lain. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. khususnya Posyandu Cemara 2. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. dikarenakan ada yang tidak datang. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya.

ibu nifas. Akhirnya. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. dan bayi ke petugas kesehatan. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . Selain itu. pertolongan persalinan. dan petugas kesehatan. Sama halnya dengan pangullieh. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. melarang ibunya untuk menolong persalinan. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. putri pangullieh. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. Menurut pangullieh. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. Ibu Ma. Sejak saat itu. Berbeda dengan pangullieh. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Pada saat itu. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Sama halnya dengan pangullieh. ibu nifas. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ibu bersalin. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. ibu nifas. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. apabila ia menolong persalinan. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha.2010. dan balita. sando. Sejak saat itu. baik pangullieh maupun sando. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. banyak pengetahuan tentang kehamilan.

Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Sebagai contoh. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. 2010:120) 173 . Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. Dengan kata lain.Waha. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. Terlepas dari itu. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. begitu pula sebaliknya. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Namun. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo.

apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Menurut kepercayaan orang Bajo. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Namun. Menurut Ibu Ma. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Menurut mereka. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Oleh sebab itu. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. dan berlantaikan bambu. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan.

5. atau merasa terganggu.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. 5. 1 2 3 4 Gambar 5. November 2012 175 . mencegah. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam).53 dan 5. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah.51. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar).52 . sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.

Berbeda dengan masyarakat Bajo.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Gambar 5. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Namun. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo.

program tersebut mempunyai banyak hambatan. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Namun. Oleh sebab itulah. Bagaimana tidak. Namun. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. Selain itu. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Secara kasat mata. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. dan budaya masyarakat setempat. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. pada implementasinya. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. tenaga kesehatan. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati.oleh tenaga kesehatan. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal.

sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. Atau lokasi fasilitas kesehatan. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Bagaimana bisa. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Jika keadaan darurat terjadi. 178 . Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku.misalnya bidan desa. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan .fasilitas seadanya. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. dalam hal ini pustu. Dalam kasus ini misalnya. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat.

pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. ANTARA BUDAYA. pasti akan digunakan oleh masyarakat. terjadi empat kasus kematian ibu. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. 5. Kejadian tersebut 179 . Bagi teman-teman di Puskesmas. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. tenaga kesehatan. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. dan kondisi sosial budaya masyarakat. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. butuh bidan. Kota Blitar. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. Melalui intervensi Jampersal. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Namun. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. dan selalu ingin gratis. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.3.8.

bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Di tempat kerjanya. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. ritme kerja Px tidak berubah. F. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. RSUD. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. berumur 24 tahun. 3 Puskesmas. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. RS Swasta. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. akan tetapi Px 180 . pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. pendidikan SLTA .

Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. akhirnya Px memuntahkannya.adalah pribadi yang tertutup. tidak biasanya Px bangun siang. akhirnya Px yang mengendarai motor. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. dan suami menyuruh Px ke dokter. padahal waktu hamil pertama. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. sedangkan suaminya yang membonceng. Pagi harinya. Setelah itu Px menyapu halaman. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. Ketika suami membangunkan. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Sepulang dari kerja. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Px tidak mau. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Suami Px tidak mengetahui. Px mengeluh sakit kepala. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Karena ukuran obat yang besar. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Blitar dengan mengendarai motor.30. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. apakah obat tersebut kembali 181 . Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. setelah maghrib. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya.

Waktu suami masuk kamar. karena kondisi Px sudah tidak sadar. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dilihat dari kondisi lingkungannya. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. karena semalam Px pulang larut. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Sesampai di puskesmas. langsung dibawa ke UGD. Dengan mengendarai sepeda motor. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. Px dirujuk ke RS. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman.diminum oleh Px atau dibuang. pucat dan nafas ngorok. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Px muntah-muntah. 182 . • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Suami mengira Px masuk angin. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas.

halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. selama Px hamil. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Menurut kader. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Menurut kader. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu.

KASUS 2 : Ny. Px juga selalu tidur siang. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). Setiap pagi. tinggal bersama Px. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . kader tidak mengetahuinya. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. N.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. umur 33 tahun. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. berumur empat tahun. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Berdasarkan penjelasan di atas. kader tidak mengetahuinya. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Anak pertama laki-laki. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). Anak kedua perempuan. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader.

akan tetapi Px tidak mau. Px jarang keluar rumah saat hamil. Px membeli obat “Trace Minerals”. Px merasa punggungnya sakit. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. tapi tidak lama kemudian sembuh. Keluar rumah seperlunya saja. kondisi Px sudah stres. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Menurut tetangga.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. kemudian meminumnya. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya.kaku di tangannya. Ketika terakhir kali Px kontrol. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. sejak awal kehamilan. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. jenis kelamin bayi perempuan. Sakit di punggungnya sembuh. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Menurut tetangga. beberapa hari setelah kontrol. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. karena Px tidak cerita. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. suami selalu mengantar. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px.

Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak .“puyer 16” di tempat obat. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Px baru bisa tidur. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Ketika akan membuat jus. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. Menurut tetangga. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Jam 4. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Px sudah terbangun. setelah sholat Subuh. Hari sabtu malam. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Px cerita jika tensinya 170. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Di UGD Px diinfus.30. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Pukul 5. Px kejang. Setelah Px dianggap stabil. dokter di RS tidak ada. Px dipindah ke ruang perawatan. karena Px merasa kepalanya masih pusing. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”.30.

Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil.? mmHg. Yang menemukan pertama kali keponakannya.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu... Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Bahkan setelah Px meninggal. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat.• 22-4-2012 jam 07. hasilnya 170/. Setelah ada kasus kematian.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. Berdasarkanpenjelasan di atas. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. • Pukul 10. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah.

sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). umur 31 tahun. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal.KASUS 3 : Nama Ny. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. B. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Px selalu periksa kehamilan di BPS. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS .

Untuk resiko-resiko masa kehamilan. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. selama Px hamil. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Menurut kader. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Kader juga tidak 189 . Menurut kader. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. akan tetapi karena rumah Px yang jauh.

Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Berdasarkan penjelasan di atas. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.

Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. tempat penelitian ini berlangsung.. mereka akan malu.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak.” 191 . dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. beberapa menjawab “tidak tahu”. “. Px selalu periksa kehamilan di BPS.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS.. Takut ada apaapa kalo gak nurut. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan..gak tau mbak. “.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar.

Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses.. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. Lain kasus. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. “. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Di Kota Blitar. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting.. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. Engkuk ujug2 wis lair anake. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Berkaitan dengan kehamilan.embuh prikso nang ndi mbak.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak.wong g tau metu seko ngomah.

suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . Untuk mengantisipasi hal tersebut. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. bidan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. janin sungsang).

Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. jika terjadi keluhan pada istri. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. Di level komunitas.kehamilan istri. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Masalahnya. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. Selain tentang substansi PHBS. Di Puskesmas. Kalau dilihat dari profesinya. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. 194 . Selama hamil. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. bayi dan anak. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga.

silahkan hubungi saya.kalau ada apa-apa. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. “. mereka sering datang dan pergi. ini no HP saya. Ini lho ada pelayanan gratis. Kalau ada sesuatu yang spesial.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader.... Terkait dengan kegiatan Jampersal. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. sampeyan bisa periksa kehamilan.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat.. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. “. “. 195 .. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. Sulit untuk dikasiktahu. Kurang opo. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya. Perasaan tidak enak hati.. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan..

Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi..” “. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan.. bukan orang kesehatan. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader.. kok kenyi banget. Dengan adanya kasus tersebut. “.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT..” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Namun demikian.. Ketika terjadi kasus kematian maternal.setelah ada kasus. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. Hal 196 . Kader juga direpotkan dengan kejadian itu.. ketika terjadi masalah kesehatan.. sopo sih kui.saya tidak enak hati. kok banyak bicara tentang kesehatan.. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya..“.. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut.. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. alamiah dan kodrati.

harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada.58 km². Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Namun. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . semua tidak ada yang lebih dari 2 km. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. faktor geografis dan kendala ekonomi. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Pada keempat kasus kematian. Secara medis.

kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Pada dasarnya. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. Oleh karena itu. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. sosial dan budaya. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. pendidikan. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis.

masa kanak-kanak. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. terutama oleh suami. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. masa remaja hingga dewasa. 199 . Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. Pemberian bekal imu pada ibu hamil.

Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. aparat desa dan dukun. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. 200 . karena dalam Budaya Jawa. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. TOGA. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. kader kesehatan. suami dan keluarganya. 5. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil.9 AKSEPTABILITAS TOMA. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. LINTAS SEKTOR. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. tokoh agama. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal.

Sedangkan di Sampang. 201 . Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal.Gambar 5. selain itu juga melalui media elektronik televisi. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. dari kepolisian juga sering. TOGA. kader.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. memberikan informasi tentang Jampersal. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. ulama dan masyarakat.

” 202 .” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. Di pos kamling. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan.. mereka takut ke RS takut biaya mahal.” ". Kita sampaikan di situ... Menurut Toma. Wakatobi). “. Selain itu.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun. atau langsung dr pintu ke pintu. kadang kita undang kumpul masyarakat. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. “..” (Toma. terjadi di Kabupaten Wakatobi. “..setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. Kita teruskan lagi di masyarakat. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat.. kab.di kelurahan sosialisasinya.. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya..

Masalahnya.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kabupaten Kepulauan Aru. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. Di Blitar. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. diketahui bahwa terdapat 66. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. 203 . Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Masalahnya.

tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.” “. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. “. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal..program jampersal ini disambut baik. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar.” “. ibu bersalin. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal... Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis.. ibu nifas dan bayinya.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. Semua orang yang pernah mendengar. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.” 204 . Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. tidak semua bisa berpendapat.. pertolongan persalinan. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Mengenai persyaratan.

“program untuk masyarakat miskin”. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru. Maluku. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi..program jampersal di masyarakat ini baik. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. saling pandang dan tetap terdiam... “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”.” “. Secara garis besar. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis.“. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa.. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”..jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. sasaran dan persyaratannya. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam. Masyarakat banyak yang 205 . persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. Di kota Bandung.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. jenis pelayanan yang diberikan..

pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.. Tentang pelayanan yang diberikan. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas... bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal. KIA. 206 ..” “. pertolongan persalinan. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan.. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut.” “.” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil...kaya miskin boleh ikut Jampersal. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu.. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. periksa bumil dan KB...” “.” “. masyarakat mengemukakan bahwa: “.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.. Di kota Mataram.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung..yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.

... kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan.. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal…..Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal.untuk ikut jampersal.. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat.program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus. Berikut ini beberapa komentar masyarakat. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis.. kalau negara kurang mampu. untuk pengurusan memerlukan waktu.. Nah.” “.“.. Dengan adanya program Jampersal...” “..” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota.” “. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah...untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.. terutama untuk keluarga miskin saja...masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal. maka perlu dibatasi.” “.program jampersal di masyarakat ini baik.. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP. “.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK... Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani.. kalau negara mampu. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal.” “. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 .. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang.

“. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. Kota Mataram). Dengan merasakan manfaatnya. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya.program Jampersal harus terus dilanjutkan.9. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya.. “. Wakatobi).kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan.karena belum merasa berkepentingan. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal..” ( Toma.. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 . Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. jangan berhenti.. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas.1. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat.. Dalam pelaksanaan suatu program. Dalam pelaksanaan.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan. pelayanan rujukan. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.” (Toma. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP.” (Toma. sebagaimana berikut... Kab. “.. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. 5. Kota Bandung). masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.” “.

belum lagi bidan kecil2.. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. Kab. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. “. misal umurnya sudah banyak. Jadi gimaa mau percaya. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri.” (Toma. Kep. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . “. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. khususnya bagi keluarga tidak mampu.. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Kalau di dukun kampung.Khusus untuk masyarakat di Natuna.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. Natuna). Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. Natuna)..” (Toma. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk.. langsung tindakan saja. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. Kab kep. mereka baru. Pelan-pelan ditolong persalinannya. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan.

210 .

hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Secara umum provider ( bidan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. b. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. SDM. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. peralatan dan bahan habis pakai dll. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. KESIMPULAN 1. dibatasi pada jumlah anak. Materi sosialisasi masih 211 . Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota.1. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. 3. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah.

c. f. ibu bersalin. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. surat keterangan domisili. e. kurang pada substansi. tapi juknis tahun 2012 212 . kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan.. surat ijin mengemudi. perdarahan sebelum melakukan rujukan. d. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. kartu keluarga. habis pakai dsb. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. g. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. KTP suami.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal.

Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas.sudah lebih sederhana. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. misalnya di kota Ambon. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. b. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. c. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. h. 4. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. dan distribusi bidan belum merata. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya.

Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. 95. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Terutama di daerah kepulauan sarana. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1.3% dilakukan di fasilitas kesehatan.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. c. • Untuk pengguna Jampersal. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. 5. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). bahkan tidak ada SPOG tetap. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. b. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . 214 . Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. d.

b. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Toma. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Askes (12. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . 215 . c. Di level komunitas. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. IUD). Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. 8. Jampersal bersifat portabilitas.6%). Dari data didapatkan : a.6. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya.10% dan Jamsostek (11.30%). Toga. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Jamkesda (19. dan lebih senang dengan KB suntik. Lintas sektor. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal.

6. dll. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. pelibatan lintas program. Toga. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. 3. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Jamkesmas.2. Jamkesda. obat. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal.3. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. bahan habis pakai. 2. kader) dalam 216 . lintas sektor dan masyarakat (Toma.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. 4. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. seperti BOK. 5.

Menyediakan rumah singgah. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. dengan menerapkan inform consent. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi.sosialisasi lebih di tingkatkan. c. khususnya di daerah tertinggal. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. 217 . • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”.2. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Kementerian Perhubungan. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. 6. b. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati.

obat dan peralatan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . 218 . dan kepulauan. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. • Melibatkan tokoh masyarakat. baik aspek tenaga. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. sarana. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK.perbatasan. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. tokoh agama. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal.

M. 2.Kes. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. kesempatan dan dukungan yang diberikan. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan.. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. drg. Sampang. DR. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. atas segala perhatian. 4. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. 3. Drg. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Toga. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. atas segala perhatian. 6. Trihono.Sc. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat..UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. dr. Toma. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. 5. selaku Kepala Pusat Humaniora. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012.. RSUD. M. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. 219 . masyarakat. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. Riskiyana. Dengan segala kerendahan hati. Puskesmas. Sandi Iljanto. Usman Sumantri. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Kasubdit Ibu Nifas dr.

7. 220 . Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.

England. Badan Pusat Statistik RI. 1st ed. Macro Internasional. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. and why. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. Yogyakarta. Buse K. Departemen Kesehatan RI. 221 . Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Profil Kesehatan Wakatobi. Andersen. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Mays N. 4th Ed. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Anonym. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Badan Litbangkes. 2003. William. 2007. 2000. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Praya. Walt G.. Graham WJ. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Heddy Shri. Administration & Society. Public Policy Making. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. BPS Kab Lombok Tengah. Badan Litbangkes RI. (2012) Making Health Policy. where. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. England. 2011. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. 1996. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Mitos dan Karya Sastra. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 16: 403. 2010.. Pearson. Jakarta. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. 2012. Analisis Data. Mays N. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Jogjakarta. Praya. 1975.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. (2006) Maternal mortality: who. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Jakarta. 2nd ed. Badan Litbangkes RI. Walt G. Buse K.. J. USAID. Alexander. Dunn. Rajagrafindo Persada. when. Carine Ronsmans C. Jakarta: PT. Strukturalisme Levi Strauss. 368(9542):1189 – 1200. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Yogyakarta: Kepel Press. Nelson: London. Open University Press. Gadjah Mada University Press Emzir. The Lancet. Rencana Strategis Nasional. ER. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. 2012. (2005) Making Health Policy. Open University Press. 1985.

2011d. Volume 7 No. Myfanwy Morgan. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. American Journal of Health Behavior.12 Greena A. Volume 23. Press Release. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Pearsona S. Lawrence W. Mukhopadhyayd M. Inside The Academy: Profiling Dr.. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Niniek L Pratiwi... 2012.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 3 July 2002 Yoni Yulianti. 2007. Martineauc T. 14. Ian. BMC Medicine. Green. Jakarta. Martin. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI. Setia.. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. Rineka Cipta Pranata. Ramanif KV. Barry Gibson1. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Notoatmodjo. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 222 . David Hughes. A Reader.Gordon. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. No. J. Diunduh dari http://www. Gereina N. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. 2011b. Jakarta. Michael (eds). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.. 6. 2011c. Ahmed S. Stanton C. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. India and China. Anhb LV. Jakarta. Roger Beech2. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. 2. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.go. Kebijakan Jaminan Persalinan. Vol. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . Jose Figueroa-Munoz.. Percepatan Penurunan AKI dan AKB.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. 2002. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. Health Policy 100. 2011. The Policy Process. Zahr-CLA. 1993. New York. Gulliford. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. Meryl Hudson. Birda P..67–173. Soekidjo. 2011a. April 2011.id Kementerian Kesehatan RI. Badan Litbangkes. 2011e. Sugeng Rahanto. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. R. Mirzoeva T. 1999. Jampersal Solusi Persalinan.depkes. Qiane X. Administration and Society 6(4):445-8.

detik.id/id/wp.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755.id/index. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice. RSUD Sikka.html.kompasiana.Ratna. Shiffman J. RSUD Padang Pariaman. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9.ac. 2010 Metodologi Penelitian. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan. http://edukasi.Jakarta. & Gilson L. 3rd Ed.depkes. & Vining AR.-Rev. http://buk. KL./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT. Nyoman Kutha. Weimer DL..15. & Vining AR.ac._. Schneider H..com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. http://fp. Rukmini. Walt G.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.5th Ed. RSUD Larantuka dan RSUD Serang.pdf 223 . Wilujeng. Weimer DL. 2005). Health Policy and Planning 23:308–317. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. Pearson. tahun 2007. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI).pdf http://health. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. Prentice-Hall. 2007. http://www.pasca.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No.unram. Murray SF. Brugha R.unand.go. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful