Lembah Berkabut Lembah Berkabut

Karya : B. Muryono & S. Tijab

Tutur Tiinullar 04 Tutur T nu ar 04

Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info

TUTUR TINULAR 4 Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-Undang Nomor 12 tahun 1997 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta ’Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu clptaan atau memberi izin untuk itu. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). TUTUR TINULAR 4 Lembah Berkabut TUTUR TINULAR 4 Lembah Berkabut Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas, Juni 2001 PT Kompas Media Nusantara Jl. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270 e-mail: buku@kompas.com

KMN. 2070201015 Desain sampul: Eko Soenardjadi Ilustrasi sampul: Firman Gondez Penata teks: Tim Penerbit Buku Kompas Hak Cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Buanergis Muryono & S. Tidjab, Tutur Tinular 4, cet 1 Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001 vi + 104 hlm.; 11 x 17,5 cm ISBN : 979-9251-70-2 Isi di luar tanggung jawab Percetakan SMK Grafika Mardi Yuana Bogor Lembah Berkabut Hati dan pikiran yang bening seumpama petualang menemukan secercah cahaya setelah sekian lama terkurung dalam lembah berkabut. dw

Sementara itu, Wirot yang berada di bawah bersama Mpu Ranubhaya melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ke bawah. Wirot cemas dan panik sekali, hingga ia berteriak histeris, "Ohh, Guru... lihat Angger Kamandanu!" "Diamlah, Wirot! Jangan bersuara apa-apa." "Tapi, Guru." "Diam kataku!" suara Mpu Ranubhaya berat dan sangat dalam tanpa memandang muridnya yang sangat cemas melihat Arya Kamandanu melayang, meluncur dari pucuk bambu petung. Meluncur makin lama makin deras dan membuat Wirot menutup kedua mata dengan kedua tangannya. Suasana malam kian mencekam, suara jeng-kerik, kelelawar dan serangga malam terdengar merintih-rintih meningkahi lolongan anjing liar dan burung hantu yang terus bersahut-sahutan. Beberapa saat lamanya lelaki tua itu tetap berdiri pada tempatnya sambil memperhatikan Arya Kamandanu. Wirot ternganga keheranan ketika kedua tangannya dia buka dan melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ringan ke bawah. Terasa lama tubuh itu mencapai tanah yang banyak ditumbuhi tanaman liar. Wirot tidak berani berbuat apa-apa karena gurunya masih berdiri tenang di sampingnya. Karena terlalu lama Mpu Ranubhaya membiarkan tubuh Arya Kamandanu akhirnya jejaka tua itu berpaling pada gurunya. "Ohh, Guru! Angger Kamandanu tidak apa-apa. Ya, tidak apa-apa? Tubuhnya masih utuh."

Sejenak mereka saling berpandangan di bawah penerangan pelita minyak jarak yang tergantung di sisi dinding gua."Tentu saja tidak apa-apa. tubuh pemuda itu dibaringkan di atas lempengan batu yang senantiasa dipergunakan untuk semadi Mpu Ranubhaya. Wirot mengusap keringat yang mengembun di hidung dan dahinya. Napas mereka terengah-engah mengangkat beban tubuh Arya Kamandanu yang cukup berat. Cahaya itu sesekali berkedip-kedip ditiup angin yang masuk dari mulut gua. Wirot melangkah mendekati Arya Kamandanu ketika ia melihat pemuda itu perlahan membuka matanya dan . Kau tentu heran bukan? Mari kita tolong Kamandanu keluar dari semak belukar itu. Wirot. sedangkan Mpu Ranubhaya menopang kedua paha Arya Kamandanu. dan nanti semuanya akan kujelaskan pada kalian. Mpu Ranubhaya tersenyum memandang sekilas pada Wirot yang masih kelihatan heran. Kelelawar-kelelawar juga saling menjerit setiap kali terbang berpasangan dengan sesamanya. Suaranya menggema di dalam gua meningkahi tetes-tetes air yang selalu jatuh dari langit-langit gua." Kemudian kedua lelaki itu menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak liar. Keringat bercucuran di pelipis kedua lelaki itu. Mereka menggotong tubuh pemuda itu ke daam gua. Setelah sampai di dalam gua. Arya Kamandanu masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Wirot yang lebih muda memegang bagian dada dan leher.

"Di situlah letak rahasianya. Mendesah lirih sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Wirot. semakin banyak kehilangan bobot tubuhnya. Ia hanya tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya. Hal itu membuat Mpu Ranubhaya yang duduk setengah tombak di samping kanan Arya Kamandanu harus menjelaskan tentang ajian Seipi Angin kepada mereka. Nah." jawab pemuda itu tenang dan sangat dalam. Semakin orang itu menguasai ilmu Seipi Angin ini. tanpa sedikit pun mempengaruhi keadaan tubuhnya. Antara sadar dan tidak. Sudah masa bodoh. Dalam sekali ia menghela napas serta menyimpannya di perut. Wirot berjongkok dan berbisik pada pemuda itu tanpa menghiraukan gurunya yang duduk bersila di samping kanan tempat Arya Kamandanu berbaring. dalam keadaan seperti itu tubuh manusia akan kehilangan bobotnya. "Jadi. Lelaki tua itu memperhatikan kedua muridnya sebelum akhirnya membuka bibirnya yang hitam dan mengeriput. mengusap kedua matanya dengan punggung tangan kanannya seperti seorang yang baru saja bangun tidur. Saya sudah pasrah. Paman Wirot. "Boleh dikatakan setengah sadar. Ia mendesah. bertopang pada kedua tangannya dan condong ke belakang. Apa . Alisnya tebal menaungi bola matanya. Angger Kamandanu tidak sadar begitu melayang dari atas pucuk bambu?" Arya Kamandanu tidak segera menjawab pertanyaan Wirot. Maka tidak heran kalau ada orang berilmu tinggi mampu menyeberangi sungai atau pun masuk dalam kobaran api. mengembuskan napas dengan menggelembungkan pipinya.perlahan-lahan menggerakkan kedua tangannya. dalam bahasa orang-orang tua disebut lali eling pewatesane. Matanya yang bersinar cemerlang itu mengerjap-ngerjap. Antara sadar dan tidak.

mau tidak mau harus melewati tahap ini." Lelaki tua itu kemudian bangkit. lalu menimang buah kelapa itu dan mengayun-ayunkan dengan tangan kanannya. Sekarang saya baru benar-benar meyakininya. Buah kelapa. tidak. "Lihat. Tapi cara ini membutuhkan waktu yang agak lama.atas pohon bambu. Lelaki tua itu selalu tersenyum dan sesekali mengangguk-angguk sebelum akhirnya melanjutkan kembali penjelasannya." jawabnya dengan nada diyakin-yakinkan hingga terdengar dibuat-buat. Guru." "Apakah tidak ada cara lain selain tidur di. Kau bisa mengganti alas tidurmu dengan buah kelapa. Wirot. Wirot bisa menggunakan cara ini.yang telah dialami Kamandanu merupakan bukti nyata dari apa yang telah kuajarkan ini. ilmu meringankan tubuh seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh lagi. "Buah kelapa. Paman. "Ada. kembali duduk di tempat semula. "Ya. meraih sebutir kelapa yang ada di dekatnya. karena hati dan kepercayaannya masih setengah-setengah. apakah sekarang kau masih meragukannya. apa yang ada di tanganku ini?" tanyanya pada kedua muridnya." . Kembali Mpu Ranubhaya memandang kedua muridnya berganti-ganti. melangkah beberapa tindak ke sudut gua." jawab Arya Kamandanu mantap." "Nah. "Di dalam dunia kependekaran. "Ehh. Setiap calon pendekar yang ingin menempuh pelajaran kanuragan tingkat tinggi. Wirot?" Wirot menjadi sedikit gugup dan menunduk ketika gurunya memandangnya sambil tersenyum dingin. Paman?" tanya Arya Kamandanu lirih.

" Sejak saat itu." "Setiap malam? Sampai kapan. Kedua tangannya terjalin dan meremas-remas." jawab Wirot dengan bersemangat. sekedar untuk melatih pintu kesadaranmu. Cara seperti ini cocok untukmu. Paman. Guru. Pemuda itu bersungguh-sungguh. Ia benar-benar tergugah untuk mengikuti petunjuk gurunya. Kemudian ia ingin mengerti apa yang harus dilakukannya setelah berhasil menjalani ujian tidur di pucuk bambu petung. "Sampai kau mengalami suatu keadaan seperti yang telah dialami Kamandanu baru saja tadi." "Hmm. Paman?" "Kau boleh meneruskan berlatih tidur di atas pucuk bambu. Saya akan mengerjakan semua petunjuk Paman Ranubhaya. Cara seperti yang dipakai Wirot boleh juga kau gunakan. Tak ada sedikit pun waktu dibiarkan percuma. Bahkan karena terlalu asyik dengan latihan-latihan itu keduanya semakin akrab dengan suasana malam di sekitar gua batu payung yang . Kemudian letakkan berjajar di tanah dan pergunakanlah untuk alas tidurmu setiap malam. Suatu keadaan antara sadar dan tidak. setelah keduanya mendapat petunjuk Mpu Ranubhaya maka Wirot dan Arya Kamandanu semakin bersungguh-sungguh mempelajari olah kanuragan."Ehh." "Baik. Mereka berlatih sangat keras hingga jauh malam. ambillah buah kelapa seperti ini tujuh biji. Guru?" tanya Wirot. "Lalu bagaimana dengan saya. Saya akan mulai mencobanya. Sementara Arya Kamandanu turut senang mendengar pernyataan Wirot. Kau mempunyai keberanian dan tekad yang besar. maksud Guru?" "Begini. baiklah.

Mengetahui Mpu Hanggareksa terus memburu bayangannya. Sejenak lamanya ia merunduk dengan hati berdebar-debar.. Arya Kamandanu berjalan mengendap-endap mendekati jendela kamarnya.. hanya empat belas hari dia mengalami kemajuan yang amat pesat dibanding Wirot. mendadak telinganya mendengar suara ayahnya membentak dari arah serambi depan. dan tak seorang pun mengetahuinya. Memang benar apa yang dikatakan Mpu Ranubhaya. Arya Kamandanu diam-diam ternyata mempunyai bakat besar untuk mendalami ilmu kanuragan. matanya melotot dan lehernya terjulur seperti leher penyu yang mencari mangsa.. Denyut jantungnya semakin menggemuruh karena khawatir ayahnya mengetahuinya. Arya Kamandanu masih berjingkat-jingkat dan merunduk di antara semak dan bunga ganyong di samping rumahnya. Lehernya menjulur seperti leher seekor ular yang melongok di antara rumpun ganyong dan kelerut.!" Mpu Hanggareksa dengan cepat melompat dan berusaha mengejar bayangan seseorang yang melintas di pekarangan rumahnya. Pandangannya menyapu ke dalam kegelapan. "Haaaaiii. jangan lariiii.telah lama dipergunakan Mpu Ranubhaya sebagai sanggar pamujan pribadinya. Dahinya beranyam kerutan. ketika baru saja kembali dari gua di mana biasanya berlatih dengan Mpu Ranubhaya. Ketika ia melihat ayahnya semakin mendekati tempat persembunyiannya ia semakin merunduk tanpa bergerak sambil menahan napas. Pada saat kakinya menapak di atas batu-batuan halaman rumahnya. siapa itu? Awas.. Suatu malam. Dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selama ini memang dia selalu pergi diam-diam dari rumahnya. Setiap saat langkahnya terhenti. Sebaliknya. Arya Kamandanu ingin menghilangkan .

Dengan menghentakkan kaki kanannya ia kembali ke halaman depan rumah. menoleh ke kanan dan ke kiri. Huuuhhh!" Kesal sekali lelaki tua itu karena benar-benar kehilangan jejak. Sebilah pedang yang terselip di pinggangnya masih digenggam erat-erat gagangnya." pemuda itu sekarang bertengger di atas pohon sawo seperti seekor kera. Dan agaknya maling itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan.jejak. Ia kehilangan jejak. "Kurang ajar! Mau apa orang itu datang ke rumahku? Pasti pencuri barang-barang pusaka. Mpu Hanggareksa berhenti tepat di bawah pohon sawo cukup lama sambil mengawasi segala arah. Mpu Hanggareksa sang ayah masih celingukan. Kalau hanya orang biasa-biasa saja pasti sudah kuringkus batang hidungnya. berbalik ke belakang dan menyamping. Beberapa kali ia mendengus dan menghempaskan napas kesal. Ia tak ingin mendapatkannya. Sementara Arya Kamandanu enak-enak duduk di dahan pohon sawo. Huuupph. tetapi pemuda itu kembali cemas dan berdebar-debar ketika ayahnya semakin mendekati pohon sawo tempat persembunyiannya. ayahnya marah sekali jika "Aku harus bersembunyi di atas pohon Itu.. Arya Kamandanu menahan napas. Kemudian lelaki tua itu melangkah kembali dengan pandangan tajam.. Melihat kesempatan bagus itu Arya kamandanu segera melesat dari atas pohon menuju samping rumah tepat di dekat kamarnya. Ia beruntung karena dengan ajian Seipi Angin dapat mencapai dahan pohon sawo tanpa menimbulkan suara berisik. menggigit bibir sambil memanjatkan doa agar ayahnya tidak menengok ke atas. Cepat sekali ia membuka jendela dan .

Kalau tidak. yaitu kayu jati muda sebesar lengan sepanjang dua jengkal yang dihaluskan terlebih dahulu itu diangkat dan diletakkan di balik daun pintu. Kamandanu!" Arya Kamandanu pura-pura menguap." Begitu ia mendengar suara langkah menuju kamarnya. Suara itu berat dan dalam. Apalagi kalau ayah tahu bahwa aku belajar kanuragan dari Paman Ranubhaya.melompat ke kamarnya Perlahan sekali daun jendela itu ditutup seperti semula tanpa menimbulkan suara. lirih dan hati-hati sekali. Bahkan napasnya diatur sehalus mungkin agar tidak mendengkur. Dia pasti akan marah sekali. Pengetuk pintu kamarnya terdengar memanggilmanggil namanya. pasti Ayah akan tahu apa yang kulakukan selama ini setiap malam. Arya Kamandanu berpura-pura tidur. kau tidak mendengar suara apa-apa?" . Di luar kamarnya ia mendengarkan langkah-langkah semakin dekat. Arya Kamandanu mengerutkan dahinya setelah melihat ayahnya dengan pandangan serius. Kancing pintu yang terbuat dari dolog. Untung aku bisa tiba lebih cepat di kamarku. "Kamandanu. Pemuda itu melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya perlahan. Dengan berjingkat ia menuju pembaringannya dan segera meringkuk di bawah selimut. aman sekarang. Ketukan pintu menggema di seluruh kamarnya. Bahkan pintu kamarnya diketuk-ketuk seseorang dari luar. Dengan menahan geli pemuda itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. bangkit perlahan sambil tetap berkerudung selimut yang semampir di pundaknya. "Kamandanu! Buka pintunya! Buka pintu. "Nah.

"Ehh. Ehh. Ayah. Ayah. tidak. Mungkin dia pencuri!" "Pencuri? Kalau begitu mari kita tangkap. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah menjadi ahli senjata Singasari." "Nah. Dalam hati kecilnya berkecamuk perasaan curiga pada saudara seperguruannya yang selama ini menentang kehendaknya mengabdi pada pemerintahan Singasari. Dia agaknya menguasai ilmu meringankan tubuh yang cukup baik. Nah. bagaimana mau mengejar pencuri? Lagi pula pencuri itu bukan pencuri sembarangan. Karena itu saya tidur pulas." "Huuhh! Kau sudah menjadi penidur sekarang. Saya tidur pulas sekali. Ayah. Mungkin ada orang-orang yang mengincar benda-benda pusaka yang kita miliki." Mpu Hanggareksa pun meninggalkan putra bungsunya dengan hati kesal." "Sudahlah." "Baru saja tadi ada suara ribut dan kau tidak mendengarnya?" "Ehh. sudahlah? Mulai sekarang kita harus hati-hati. Baru saja kau bangun tidur. Kalau tidur jangan lupa menutup jendela dan mengunci pintu kamarmu " "Baik." "Jangan bodoh! Pencuri itu sudah tak ada di sini lagi. Tak sabar dengan perasaan hatinya yang sangat kesal dan resah maka lelaki tua itu segera bersidekap. memang ada apa. saya lelah. Kalau ada suara gempa bumi apa kau juga tidak mau bangun?" "Saya. Ayah. teruskan tidurmu. Mungkin dia belum lari jauh dari rumah kita ini. Ayah. . tidak. Ayah?" "Ada orang mengintip kamarmu. Dia sudah kabur. Ayah." "Kita bisa mengejarnya.

memejamkan mata. Rasa dingin itu segera menyebar ke seluruh jaringan darah. Mpu Hanggareksa melihat saudara seperguruannya duduk bersila sambil menggores-goreskan patrem pada sebuah lempengan batu pipih. "Kakang Ranubhaya! Aku mengenal desa Kurawan ini seperti aku mengenal jari-jari tanganku sendiri. Malam itu juga ia berangkat ke gua batu payung tempat saudara seperguruannya tinggal. Aku tahu. tak seorang pun orang desa ini yang mempunyai ilmu meringankan tubuh kecuali kita berdua. Mata kelelawar yang bergelantungan di langitlangit gua tampak berpijar. menyala seperti batu permata." . Itulah ajian Seipi Angin. Mulut gua itu menganga bagaikan mulut naga yang memamerkan taring-taringnya. Ia merunduk dan hatihati melangkahkan kakinya pada dasar gua yang licin. Dengan ajian Seipi Angin itu Mpu Hanggareksa segera melompat dan melesat lenyap ditelan kegelapan malam. Kemudian ia rasakan tubuhnya menjadi ringan sekali. Namun setelah beberapa saat lamanya ia dibiarkan seperti itu maka pertentangan batinnya tak mampu dikendalikan lagi. Bahkan berjalan dan melangkah di depannya. Lelaki tua itu akhirnya sampai di depan mulut gua batu payung yang tampak angker. Semakin lama ia rasakan pusarnya dingin sekali. Tetes-tetes air dari langit-langit gua semakin jelas menggema. Dalam gua yang sangat gelap itu hanya berpenerangan pelita yang tergantung di sisi dinding gua. Mpu Hanggareksa bersabar menunggu kakak seperguruannya tetap sibuk. Lelaki tua berpakaian compang-camping itu seolah-olah tidak tahu kehadiran seseorang yang sudah berada di sampingnya. Tanpa ragu-ragu Mpu Hanggareksa memasuki mulut gua yang berhias stalagtit dan stalagnit.

Ia segera pamit pada Mpu Ranubhaya yang memandangnya dengan tatapan dingin. Mpu Ranubhaya menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang punggung Mpu Hanggareksa yang semakin lenyap di dalam gelap lorong gua itu." bisik hatinya menyesali sikap dan sifat adik seperguruannya yang kini benar-benar berubah. "Aku hanya sekadar ingin tahu saja. Hanggareksa?" suara itu terdengar parau. kau mencurigai aku." Untuk kesekian kali Mpu Hanggareksa kecewa karena tidak tahu siapa yang datang ke rumahnya malam itu. Mungkin orang dari desa yang jauh. "Alangkah piciknya seseorang yang telah mabuk harta benda. aku ingin tahu apa maksudmu mengunjungi rumahku di tengah malam buta?" "Aku memang tidak mempunyai alasan untuk berkunjung ke rumahmu. serak berat. mabuk kehormatan dan mabuk keinginan inderawi. Aku sendiri sibuk. Kalau memang Kakang Ranubhaya. Banyak yang harus kukerjakan " "Kalau begitu baiklah! Maafkan aku. . Adik seperguruannya datang dengan prasangka buruk. Ini yang perlu kau ingat. Kukira wajar kalau ada satu dua orang bermaksud singgah di rumahmu tatkala kau sedang tidur. "Jadi." "Hanggareksa! Sekarang ini kau sudah menjadi orang kaya dan ternama." "Terima kasih atas peringatanmu. Ia pandang adik seperguruannya dengan mata berpijar. Hati lelaki tua itu sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya.Mendengar kata-kata adik seperguruannya mau tidak mau Mpu Ranubhaya menghentikan pekerjaannya.

. Dengan Seipi Banyu seorang pendekar bisa berjalan di atas air. walaupun tidak jarang pendekar tingkat tinggi yang memilikinya. Mpu Ranubhaya mendengarkan dengan saksama dan pura-pura belum mengerti. Jika seorang pendekar sudah menguasai Seipi Angin dengan sempurna. Aji Seipi Angin bukanlah sembarang ilmu." Wirot yang ikut mendengarkan penuturan Kamandanu berkomentar kagum. "Menurut sepengetahuanku hanya ada tiga orang manusia yang mempunyai ketiga ilmu itu sekaligus. Paman Wirot. "Ya. sedang Seipi Geni membuat si pendekar tidak mempan termakan kobaran api. Arya Kamandanu menghela napas." jelas Mpu Ranubhaya. luar biasa pendekar yang sudah menguasai ketiga macam ilmu itu." "Wah. ketika Arya Kamandanu kembali belajar olah kanuragan pada Mpu Ranubhaya. maka dia pun langsung menguasai aji Seipi Banyu dan Seipi Geni. ia menyampaikan apa yang dialaminya pada gurunya.Pada malam yang lain. memandang gurunya dan beralih pada Wirot yang mengangguk-angguk. bahkan ia menyimpan rapi perihal Hanggareksa yang datang padanya dengan pikiran buruk. "Wah! Kalau begitu Angger Kamandanu sudah maju dengan pesat. Karena Ayah juga mempunyai ilmu meringankan tubuh. "Kalau tidak hati-hati saya bisa tertangkap. sampai ayahanda sendiri tidak mampu menangkap. "Seipi Banyu dan Seipi Geni?" tanya Wirot dan Kamandanu berbareng. bulat tanpa cacat celanya." tukas Arya Kamandanu." "Memang.

Ia melompat ke atas sebuah batu padas di sebelah selatan lempengan batu yang selama ini berfungsi sebagai tempat bersemadi. apakah Paman juga saudara seperguruan dengan Ayah?" "Apakah ayahmu tidak pernah menceritakannya?" "Tidak. Pandangan dan perhatian keduanya tercurah pada gurunya yang bersidekap dengan kedua kaki seolah-olah terpancang di atas padas." "Siapa Mpu Lunggah itu. . tapi dalam hal kanuragan dia jauh di atasku. Tak ada manfaatnya. Mpu Sasi. "Memang tidak perlu hal itu diceritakan. Lebih baik kau sekarang menekuni ilmu yang kuajarkan berikut ini. Perut kencang membesar ketika menyimpan udara lalu mengembuskannya perlahan-lahan." "Paman Ranubhaya! Ayah sering kali mengatakan bahwa Paman Ranubhaya adalah sahabatnya paling dekat. Dia juga seorang pembuat senjata pusaka. Tapi sampai sekarang aku tidak pernah tahu tempat tinggalnya. Lelaki tua berpakaian compang-camping itu menghela napas dan berkata lirih. Paman. Dia murid paling disayangi oleh guruku." jawab Arya Kamandanu sambil memperhatikan Mpu Ranubhaya yang mengerutkan dahinya. Mereka berdiri dengan sikap kuda-kuda.Pertama adalah Mpu Sasi. Paman?" tanya Kamandanu sambil membetulkan posisi duduknya." Selesai berkata demikian. Mpu Ranubhaya langsung bangkit. Arya "Kakak seperguruanku. Ayah tidak pernah menceritakannya. Kedua adalah Prabu Seminingrat atau Ranggawuni. guruku sendiri. Wirot dan Arya Kamandanu pun mengikuti langkah gurunya. dan ketiga adalah Mpu Lunggah. Kedua tangan mereka mengepal. dada mereka mengembang saat menghirup napas. Dalam membuat senjata pusaka dia di bawahku.

ulu hati. Benar-benar luar biasa. pusar. Arya Kamandanu duduk bersila mendengarkan dengan khidmat. Mpu Ranubhaya lalu mengadakan persiapan untuk memberikan pelajaran jurus Naga Puspa tahap kedua pada Arya Kamandanu sedangkan Wirot masih diharuskan belajar menguasai dasar-dasar aji Seipi Angin. alat kemaluan dan tengkuk. Lelaki tua itu pun duduk di atas batu padas sambil memandang kedua muridnya. Lelaki tua itu bergerak lincah sekali tanpa memperdengarkan suara.Beberapa gerakan lembut dipertontonkan pada kedua muridnya. ulu hati. mata kiri-kanan. pelipis kiri-kanan. Kedua muridnya mengikutinya dengan saksama. "Tahap kedua jurus Naga Puspa ini terdiri dari sebelas jurus. Dalam hal mempertahankan diri pun kau dapat menggunakan sebelas jurus itu untuk menangkis . Jika gagal mencapai salah satu titik serangan. dada. "Tiap-tiap jurus mempunyai titik serangan yang berbeda. Setelah cukup ia pun melepas kedua tangannya ke depan seperti cakar naga dan kembali pada posisi semula. Dahi. Hening. Titik serangan yang paling berbahaya adalah dahi. maka serangan berikutnya bisa memilih titik serangan yang lain. dan harus dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. hanya napas-napas malam dengan selimut pekatnya berbisik pada ketiga insan yang ingin mendapatkan jatining ngaurip. Beberapa saat suasana di dalam gua itu sepi sekali. Kehidupan sejati yang tidak dinodai oleh hawa nafsu dan keinginankeinginan duniawi. alat kelamin dan terakhir tengkuk. pangkal leher. Jadi. seluruhnya ada sebelas titik serangan yang dijadikan sasaran. Suaranya serak dan berat. Sebelas jurus itu merupakan serangan berantai." Mpu Ranubhaya memulai ajarannya. tenggorokan atau pangkal leher.

. Tapi. Paman. Kakinya menyepak tinggi-tinggi. Kau bisa menggunakan dua belas jurus tahap pertama untuk memukul aku. Siap?" "Saya siap. mulai!" Kemudian Arya Kamandanu menerjang dan menjotos Mpu Ranubhaya dengan sasaran ulu hati.." Kembali Arya Kamandanu menyerang Mpu Ranubhaya. Paman. Pemuda itu heran sekali karena dengan gerakan-gerakan yang cukup gesit dan lincah gurunya menghindar. lalu dengan gerakan memutar ia berusaha menyarangkan pukulan-pukulannya. "Kamandanu! Jangan sungkan-sungkan memukulku! Ayo." jawab Arya Kamandanu mantap. Tapi sebelumnya saya minta maaf. kali ini ia lebih sungguh-sungguh. Nah. sambil ganti menyerang dengan memilih titik sasaran yang paling mudah dicapai. sekarang berdirilah! Aku akan memberimu contoh. Paman. mencakar dan mencecar. melompat." "Ya. Tapi buru-buru Mpu Ranubhaya menghentikan tindakan pemuda itu.. mulai lagi. "Sekarang pukullah aku semaumu." "Baik. Yahh.serangan lawan." Arya Kamandanu bangkit mengikuti perintah gurunya. "Buatlah kuda-kuda yang bagus untuk membuka serangan. bahkan tanpa disadarinya beberapa kali . tapi." "Tapi apa? Kau pikir karena aku sudah tua bangka begini." "Baik. maka kau merasa mampu menandingi kelincahanku? Ayo pukullah aku! Lebih cepat lebih baik. merunduk.. Lelaki itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tangannya berganti-ganti menjotos. Paman.

Mpu Ranubhaya tersenyum sambil mengatur napasnya yang terengah karena usianya." "Naahh. Anu. Mpu Ranubhaya melompat mundur untuk memberikan isyarat berhenti. "Satu.. tiga. Arya Kamandanu merunduk memberi hormat dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya sebelum akhirnya berdiri tegak dengan kuda-kuda." "Hhh! Dada saya terasa pegal. "Itu berarti pusarmu sudah terkena.. Kamandanu?" "Ahh. Ada beberapa titik serangan yang telah kutandai dengan baik oleh jari-jari tanganku ini. Paman. Keringatnya berleleran hingga tubuhnya yang padat tampak berkilat-kilat ditimpa cahaya pelita di dinding gua.. eh anu. Gurunya tertawa panjang melihatnya. perutku terasa agak mual. "Bagus? Sekarang periksalah tubuhmu." dengan tangan kanannya Arya Kamandanu meraba perutnya. Alat kelaminmu pun menjadi korban jarijari tanganku yang nakal ini.pukulannya bersarang pada tubuhnya." "Ehh." Arya Kamandanu meraba dadanya dengan telapak tangan kirinya... Paman. Dua!" "Ahh.. ahh." Arya Kamandanu tiba-tiba jongkok dengan meringis menahan sakit. Dadamu sudah terkena serangan. Masih ada lagi?" . "Mengapa kau tiba-tiba jongkok di depanku? Apanya yang terasa sakit. maaf Paman.

Kamandanu. Arya Kamandanu selalu mengulangi apa yang baru diajarkan gurunya sehingga jurus demi jurus tampak melekat di benaknya dan dalam waktu singkat ia lebih menguasai jurus Naga Puspa bagian dua. ini ada yang menyekat di pangkal leher. Ehh. Baiklah! Kau istirahat dulu sejenak. Pangkal lehermu pun ternyata tidak bisa lolos dari gebrakan sebelas jurus ini tadi. Mari kita teruskan. Wirot harus menghadapi gurunya untuk meningkatkan kemampuannya berolah kanuragan Setiap selesai latihan. Namun.."Ehh. Paman. Paman." "Baiklah." Begitulah setiap malam." Arya kamandanu segera melompat dan menyiapkan ajian Seipi Angin. Pada malam itu. supaya sakitmu berkurang dan nanti kita teruskan lagi. Berdirilah!" "Baik. Wirot belum tampak hingga Mpu Ranubhaya menanyakan hal itu pada Arya kamandanu. Sekarang tiba giliranmu. sepertinya. Saya siap. Bila Arya Kamandanu lelah." Anginmu untuk menangkis "Baik." "Baik." "Empat. Ia bersidekap ." "Pergunakanlah Seipi serangan-seranganku ini. ketika Arya Kamandanu kembali menghadap gurunya di gua batu payung ia benar-benar telah siap berlatih.. dapat dilihat betapa Arya Kamandanu menunjukkan kemajuan yang luar biasa dibandingkan dengan Wirot. sepertinya saya agak susah untuk bernapas dan berbicara. "Di mana pamanmu Wirot?" "Sepertinya sudah tidur di bawah sana. di dalam gua itu Arya Kamandanu dan Wirot mendapat gemblengan dari Mpu Ranubhaya secara bergiliran. Paman. Paman. Paman.

kemudian rasa dingin itu merayap ke seluruh jaringan nadi darahnya. menotok dan menendang Arya Kamandanu sambil memberi aba-aba. bahkan Mpu Ranubhaya kini kelihatan belepotan dan repot menghadapi muridnya. Napasnya .sambil memejamkan matanya. tupai pohon yang pandai menyusuri ranting-ranting. Bagus! Terus! Bagus! Awas mata kanan! Tenggorokan. berhenti! Berhenti dulu!" lelaki tua itu melompat mundur sambil mengangkat kedua tangannya. menangkis dan membalas serangan gencar gurunya. Ia pusatkan segala hati dan pikirannya. Ia berusaha keras menghindari. mencakar. Mpu Ranubhaya sudah menyiapkan serangan-serangan gencar. Dalam ruangan gua yang tidak seberapa luasnya itu Mpu Ranubhaya terus melatih Arya Kamandanu sebelas jurus tahap kedua. Mpu Ranubhaya sangat puas melihat kemajuan Arya Kamandanu. Keuletannya sudah tak mampu dihadapi oleh Wirot yang lebih dahulu mempelajari ilmu Naga Puspa. Kadang-kadang menunjukkan gerakan-gerakan yang luar biasa lincahnya. Arya Kamandanu benar-benar berbakat dalam olah kanuragan setelah mendapat latihan berat. Pusarnya mulai terasa dingin sekali. mata kirimu! Pusar! Baguuss! Dada! Tenggorokan. alat kelamin! Terus makin cepat lagi! Makin cepat lagi!" Arya Kamandanu melompat-lompat seperti bajing. Pada saat ia benar-benar siap maka ia pun melakukan langkah-langkah zik-zak mundur. "Baguuss? Awaaass. Dengan tekun dan ulet Arya Kamandanu mengikuti latihan. Setelah itu. Alat kelamin! Dada! Pusar! Pelipis kiri! Dahi! Pelipis kanan! Yahh! Makin cepat! Huupph. setelah tujuh hari lamanya berlatih ia memiliki kemampuan di atas rata-rata sebagai calon pendekar. Sebaliknya. tubuhnya terasa ringan sekali. "Yah. Menjotos.

Kamandanu." Arya Kamandanu tidak segera menyerang. Ditimang-timangnya benda itu. bukan?" dengan cepat Mpu Ranubhaya mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya. Kau masih ingat?" "Ingat. Hal itu membuatnya kurang memusatkan seluruh gerakannya. jangan sombong! Kau masih muda. Paman." "Baik. Paman. Paman telah mencuri batu itu dari tangan saya beberapa waktu yang lalu. Sekarang kau bersiap lagi.terengah-engah.. Arya Kamandanu mengerutkan dahinya sambil memelototkan matanya karena bayangan masa lalunya menyeruak di dalam angannya. Sehingga saat ia mulai bergerak dan berusaha merebut batu itu buru-buru gurunya melompat menjauh dan membentak keras . Kita akan lanjutkan latihan ini sambil menguji kecepatan dan ketepatan gerakanmu. "Ohh. itu batu nirmala." "Nah. tentu saja tenagamu masih besar." "Dulu aku pernah berkata. Arya Kamandanu masih tenang saat gurunya menatapnya lekat-lekat dengan dada kembang kempis. bahwa tak seorang pun memperoleh hasil memuaskan tanpa lebih dulu bermandikan keringat. sebaliknya ia seolah-olah melihat wajah Nari Ratih dalam batu nirmala di tangan gurunya.. Paman?" "Hoohh. cadangan napasmu masih panjang. Kau pasti masih ingat benda ini. sekarang peraslah keringatmu. "Mengapa berhenti. keringatnya membasahi tubuhnya yang kini menunjukkan garis-garis usianya. Kamandanu! Kuraslah peluh yang ada di tubuhmu untuk dapat merebut batu nirmala ini dari tanganku.

menyerang dengan gebrakan gencar sekali berusaha merebut batu nirmala di tangan gurunya. Sementara Mpu Ranubhaya dengan pengalamannya berusaha mempertahankan benda tersebut. sampai tengah hari besok dia akan tetap di tanganku. Sudah beberapa kali dia hampir saja menyambar benda itu. Sementara gurunya berusaha menghindari serangannya dengan gerakan-gerakan mundur tak kalah gesit. Di . tubuhnya telah bersimbah peluh." Tidak ragu-ragu lagi. maksud Paman?" "Lebih gesit! Lebih sigap dan lebih bersemangat! Ayo mulai lagi!" "Baik. tapi apa yang terlihat tidak begitu jelas. Arya Kamandanu berusaha menyerang lebih gencar dengan menggunakan aji Seipi Anginnya. Menukik. Sesekali kedua tangannya terbuka. Paman. Hanya sosok-sosok manusia yang bergerak dengan cepat sekali. napasnya mulai terengah-engah. mencakar. seperti dua setan yang berebut makanan. Tangguh dan ulet sekali. Arya Kamandanu menyerang dengan gencar untuk merebut batu nirmala dari tangan Mpu Ranubhaya. Hatinya benarbenar teguh dan tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada. menyahut cekatan sekali. Arya Kamandanu tidak tahu mengapa gurunya begitu lincah dan gesit. seperti tercambuk ingatan dan batinnya Arya Kamandanu melesat bagaikan seekor burung srikatan mengejar serangga."Tunggu! Kalau kau merebut batu nirmala ini dengan gerakan seperti itu. Keringatnya kini bercucuran. tapi Mpu Ranubhaya dengan lincah selalu dapat menepiskannya. Suasana dalam gua menjadi sangat gaduh. Lelaki tua itu masih memiliki kelebihan yang luar biasa." "Ehh. Bahkan terasa sulit mengimbanginya. mencabik.

Akhirnya Arya kamandanu harus mengakui kelebihan dan keunggulan gurunya.. Bahkan dengan kelebihan dan kesaktiannya itulah benturan-benturan peperangan dalam batin muridnya kembali mencuat di benak. Seringkah kau mati langkah akibat kecepatanmu sendiri. berhenti?" bagaimana. Bagaimana kau bisa merebut batu nirmala ini kalau gerakanmu seperti babi hutan? Cepat tapi tidak terkendali. Bagaimana?" "Baik." Dengan napas yang lebih teratur Arya Kamandanu melirik gurunya yang berdiri di atas batu padas. Lompatanlompatannya menjadi ringan sekali. Paman. Tangan dan kakinya menjadi hidup seperti punya mata." "Hehehe. Ia merasa aneh karena kekuatannya seperti bertambah dan seperti memiliki tenaga cadangan sehingga tenaganya menjadi berlipat ganda.. Kamandanu? Mengapa "Rasanya masih sulit untuk mengungguli gerakan paman Ranubhaya. Suatu ketika orang tua itu agak lengah. Ia ingin mendekati gurunya tetapi ketika ia melompat ke sana gurunya sudah melesat jauh di ujung gua sambil tersenyum menggoda..situlah ia mampu melihat keuletan dan ketangguhan gurunya di balik hidupnya yang rendah hati dan lembut. Sekarang mulailah lagi! Cepat. Jiwa yang penuh kasih lelaki tua itu semakin cemerlang dengan kesahajaannya. tapi tetap tenang dan yakin bahwa kau akan berhasil. Kembali ia menyerang Mpu Ranubhaya dengan berusaha tetap mengendalikan gerakannya yang cepat bagaikan kitiran. dan pada saat itu bagaikan seekor . tentu saja. Mpu Ranubhaya tampak kewalahan.. "Hehehee.

Wirot mengangguk hormat dan menyongsong mereka dengan hati bergembira." "Tapi Angger Kamandanu. Matanya sampai berkaca-kaca. ada apa. tangan kiri Arya Kamandanu menjulur ke depan bagaikan mematuk. Arya Kamandanu melompat mendekatinya. Paman!" teriak Arya Kamandanu setelah berhasil menyambar batu nirmala dari tangan gurunya." Arya Kamandanu masih sibuk mengelap keringatnya."kenaaaa! Aku berhasil. "Ah. Paman. Berarti Angger kamandanu benar-benar berbakat besar dalam ilmu kanuragan. Kau sudah berhasil menyerap sebelas jurus tahap kedua ilmu Naga Puspa ini.burung elang menyambar mangsanya." "Yah. Hanya agak lelah. Paman Wirot jangan terlalu memuji. kalau tidak salah hanya membutuhkan 35 hari. dan . Mari kita istirahat barang sejenak. "Saya berhasil. "Eh. Saya berhasil! Lihat. Aku takut nanti menjadi sombong. Guru. "Aku merasa puas karena kau sudah mampu menyerap apa yang kuajarkan.. batu nirmala ini sudah berada di tanganku. Paman?" "Tidak apa-apa. kau memang berhasil. Arya Kamandanu girang sekali.. Kamandanu. Sebelas jurus tahap kedua ilmu pukulan Naga Puspa ini sebenarnya membutuhkan waktu paling sedikit seratus hari untuk menguasainya." Keduanya lalu melompat ke atas batu pipih dan beristirahat di sana sambil mengelap keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka.." Mpu Ranubhaya terengah-engah dan terbatuk. . Kamandanu. Kamandanu." tukas Wirot.

Diam-diam putra Hanggareksa itu merindukan kehidupan lain yang harus diciptakannya sendiri. Tapi semua itu dia lakukan dengan diam-diam. Kalau kau menuruti kata-kataku ini. atau kadangkala di halaman rumahnya sendiri. Ilmu tanpa latihan betapa pun tingginya ilmu itu. . tapi takaran yang kau miliki perlu terus-menerus ditambah dengan latihan-latihan keras. Pukulan dua belas jurus tahap pertama perlu kau matangkan lagi untuk memperkuat tubuhmu. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Yang terakhir. Setiap malam Arya Kamandanu makin giat berlatih di gua batu payung bersama wirot. karena semua itu merupakan penyakit berbahaya bagi para pendekar di segala jaman. Kamandanu. Jumlahnya sudah cukup. Di samping itu." "Apa yang sudah berhasil kau kuasai ini belum seberapa banyak. Bukan kemajuan. akhirnya akan sia-sia.Mpu Ranubhaya memperhatikan pemuda itu. dan memandangnya penuh saksama tampak senang melihat sikap rendah hati pemuda itu. Jangan sampai ada waktu yang terbuang percuma. keangkuhan. Kemampuan meringankan tubuh dengan aji Seipi Angin juga perlu kaulatih lagi dengan sungguh-sungguh. Sebab memang demikianlah hukumnya suatu ilmu. ketamakan." Nasihat Mpu Ranubhaya tidak berlalu begitu saja di hati Arya Kamandanu. Kau harus hati-hati sekali agar jangan sampai jatuh ke dalam kesombongan. aku yakin dalam satu dua surya lagi kau akan menjadi pendekar yang diperhitungkan di Singasari." "Saya akan selalu ingat pesan Paman Ranubhaya. tempat yang sepi. Tekunlah berlatih. "Kesombongan akan membawa kemunduran. dia juga dengan tekun berlatih sendiri di tempat lain. setiap hari. pukulan sebelas jurus tahap kedua tidak boleh kau telantarkan begitu saja.

tempat yang sangat istimewa di hatinya. aku mau lewat!" "Lewat saja kalau kau mau lewat!" Arya Kamandanu baru saja akan melangkah di jalan yang sempit itu. aku mau lewat!" "Ah. Kamandanu! Apa sekarang kau sudah menjadi seorang gembel pengelana? Mana kudamu?" "Kebetulan aku sedang menyukai perjalanan dengan kaki. Minggirlah. Di tengah jalan ada seorang pemuda menghadang langkahnya. Ia berjalan kaki tanpa kuda kesayangannya. Kamandanu? Tidak! Sampai kapan pun Dangdi tetap bermusuhan dengan Arya Kamandanu!" "Rupanya kau seorang yang senang adanya keributan. jangan membuat keributan lagi denganku!" "Kau kira aku sudah cukup puas setelah membuatmu babak belur dulu. kau jangan membuat gara-gara denganku! Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di rumah!" . Minggirlah.dw Pada suatu hari. sekarang rupanya kau pun tidak dipercaya lagi menunggang kuda oleh ayahmu. Nari Ratih sudah terlepas dari tangan. Ketika Arya Kamandanu mendongak siapa pemuda itu. ketika mendadak kuda Dangdi memutar tubuhnya. aku tidak sudi melayanimu. "Dangdi. Arya kamandanu pergi ke tepi padang ilalang." "Dangdi. Dangdi. "Aha. Dangdi putra Kepala Desa Manguntur duduk di punggung kudanya dengan pongah dan sombong sekali. ia tersenyum dingin. Tapi sayang sekali. kasihan sekali kau kawan.

Kalau kau tidak mau meminggirkan kudamu. Ia tersenyum dingin. ada kesempatan bagus untuk melampiaskan dendam pada Arya Kamandanu. penakut seperti tikus. Nari Ratih. "Aneh sekali. raib dari pandangan matanya. Dangdi mencari-cari Arya Kamandanu dengan terus memutar-mutarkan kudanya. kau tidak akan bisa memancingku untuk membuat keributan lagi. hingga kuda itu terus meringkik-ringkik karena perlakuan tuannya sangat kasar. Di samping kiri jalan setapak yang dilaluinya adalah jurang Kurawan yang sangat dalam dan berbahaya. "Hm." "Dangdi. di mana Kamandanu?" Dangdi terus menengok ke sana kemari mencari Arya Kamandanu. Dangdi heran karena Arya Kamandanu tidak mau melayaninya. Lehernya dipanjangkan melongok ke segala . menganga lebar bagaikan mulut naga yang siap menelan siapa saja."Pekerjaan apa? Huuuh! Paling-paling mengintip kakakmu yang sedang bermesraan dengan isterinya." Arya Kamandanu mundur dan menghindari Dangdi Ia berjalan cepat meninggalkan anak Kepala Desa Manguntur itu yang berteriak-teriak memakinya. Ia anggap Arya Kamandanu sebagai pengecut. Ia beranggapan bahwa Putra Hanggareksa itu masih belum sembuh benar dari luka-lukanya ketika ia gebuki bertiga dengan Jaruju dan Balawi. baiklah aku mengambil jalan lain saja. ke mana orang itu?" Dangdi kebingungan karena Arya Kamandanu menghilang dengan tiba-tiba. Ia lalu menghela kudanya ke arah perginya Arya Kamandanu. Ringkik kuda memecah kesunyian tepi padang ilalang.

"Hiya. Dia sama sekali tidak menduga. Satu langkah ia dapat menaati perintah gurunya. Dangdi memutar kudanya lalu menghelanya dengan kencang. ." Menyadari tempat yang dilaluinya adalah daerah angker. Dengan menggunakan aji Seipi Angin. hiyaaaaa!" Dia beranggapan telah bertemu dengan hantu yang menyerupai Arya Kamandanu. mana mungkin dia tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi? Jangan-jangan orang itu tadi hantu. bahwa orang yang dicarinya berada di bawahnya." "Aku tidak percaya ada hantu berkeliaran di siang hari bolong. Arya Kamandanu tersenyum geli melihat Dangdi buruburu mengaburkan kudanya meninggalkan tempatnya. Ya. tidak sembarangan mempertontonkan jurus Naga Puspa kepada sembarangan orang. Ah. hatinya mulai dihantui ketakutan. Dangdi yang berkuda dengan kencang segera menemui dua kawannya. "Masak aku berdusta pada kalian? Aku jelas bertemu dengan Kamandanu di sini. Mereka dia ajak kembali ke tempat di mana ia bertemu dengan Arya Kamandanu. Dangdi mulai cemas.arah. Dia sempat bersitegang denganku. Ia bersyukur karena berhasil mengendalikan diri dengan tidak melayani tantangan anak Kepala Desa Manguntur. Arya Kamandanu melekatkan tubuhnya di sebuah tumbuhtumbuhan yang menjalar di tepi tebing yang curam sekali." tukas Jaruju.

"Aku terus mengejarnya ke arah sana." Jaruju sudah tidak sabar. Kuda mereka berlari bagaikan terbang melintasi semak belukar. padahal tak ada jalan lain. Mungkin kau kurang teliti mencarinya. terus kejaaar!" seru Dangdi pada kedua kawannya." usul Balawi. "Heya. Ayo kita kejar! Cepat." "Ya." Jaruju berpikir keras. Jaruju dan Balawi terus memacu kuda menguber Arya Kamandanu. "He. Arya Kamandanu tidak mau ribut." sambung Balawi. Mereka benar-benar seperti melihat babi hutan. Hanya ada jurang di depan yang menganga lebar. "Kita sikat saja beramai-ramai di tempat ini. Bahkan mereka mulai meraba senjata masing- . "Kebetulan sekali. Jaruju. Dan mendadak dia lenyap begitu saja. Baru saja berdebat. Dengan kedua tangannya ia memberi isyarat pada dua kawannya. Mereka menyaksikan Arya Kamandanu berjalan dengan santai ke arah mereka. heyaaaaa."Ya. Balawi. Dangdi!" sambung Balawi. "Sekarang kita cari saja dia ke tepi padang ilalang. Mungkin dia sekarang ada di sana. dia memotong jalan ke arah kiri. dikejar dan diburu. Itu dia. kejar dia!" Dangdi. ia mengambil jalan pintas memotong ke arah kiri sebelum berpapasan dengan komplotan Dangdi. Dangdi melihat bayangan Arya Kamandanu di kejauhan. kita tidak usah jauh-jauh mencari ke tepi padang ilalang.

Bahkan seperti tidak peduli dengan apa yang mereka lontarkan. ia tersenyum dan menunjuk dengan tangannya bahwa Arya Kamandanu bertengger di atas sebuah pohon. Itu bukan salah kita!" . karena Arya Kamandanu di pucuk trembesi seperti tidak mendengarkan seruannya. Ia sudah ancang-ancang untuk melepaskan anak panah. Namun. rupanya musuh besarmu keturunan monyet juga.masing. Ketiga pemuda itu makin marah dan memaki-maki Arya Kamandanu. bingung dan tidak tahu harus bagaimana. "Dia lenyap lagi!" serunya. Jaruju melihat bayangan Arya Kamandanu berkelebat di balik pohon besar. Dangdi menyiapkan anak panah pada busurnya. Balawi mulai tidak sabar. Maka Balawi memeriksa tempat itu. agar dia jatuh seperti buah kelapa." Dangdi jadi pusing. ia segera meraba busur dan memasang anak panah yang tergantung di pelana kuda. aku akan memaksamu dengan anak panahku ini!" Balawi tidak sekadar mengancam. "Wah. "He monyet buduk! Kalau kau tidak mau turun juga. Dia bisa naik pohon trembesi sampai ke pucuknya!" celetuk Jaruju sambil menghunus pisau lemparnya. "Bidik saja kakinya." Dangdi tidak sabar melihat Balawi ragu-ragu tidak jadi melepaskan anak panah "Tapi bagaimana kalau sampai dia kelenger atau mati?" tanya Balawi. "Haiiiiiii! Kamandanu! Ayo turunlah! Jangan membuat tontonan yang memuakkan ini! Turunlah kalau kau memang jantan. ia kehilangan jejak Arya Kamandanu. "Biar saja.

Ingin membuat tontonan menarik di antara kedua kawannya. Balawi sendiri kesal dan gusar. ia meminta Jaruju tidak menghalangi langkahnya ketika mencari posisi yang tepat membidikkan anak panah. Ia membidik mata kaki Arya Kamandanu. "Kurang ajar. Anak panah Balawi segera meluncur dari busurnya tepat mengenai sasaran ke tubuh Arya Kamandanu. "Ah. dia diam saja!" bisik Dangdi. "Ah. "Mampus kamu!" seru Balawi sambil melepaskan anak panah dari tali busurnya. Kau tahu sendiri burung terbang pun bisa kubidik dan terjatuh tanpa nyawa lagi." Dangdi makin geram . tidak mungkin. Dangdi dan Jaruju tentu gelisah karena Arya Kamandanu sedikit pun tidak bereaksi. Balawi!" seru Dangdi. Kalian lihat dengan cermat. bagaimana bidikanmu. "Barangkali panahmu meleset!" sambung Jaruju yang ikut penasaran sekali. "Baik. aku jadi penasaran." "Coba kau bidik lagi. Tiga kali anak panah meluncur ke tubuh Arya Kamandanu.Balawi lalu membidik dengan saksama. Tetap diam bagaikan kalong mati. mana bisa bidikanku meleset?" kembali Balawi memasang anak panah dan membidik sasaran di atas pohon trembesi setinggi seratus depa dari atas mereka. namun sasaran itu tidak terlihat oleh mereka bereaksi apa pun. Anak panahku tidak pernah meleset. Balawi? Mengapa tidak seperti biasanya?" Jaruju kesal karena ketiga anak panah Balawi tidak mempengaruhi sasaran. "Balawi.

"Sudahlah! Sudah. Enam buah anak panah Balawi yang berhasil ditangkap terselip di ketiaknya. Dangdi. mau ke mana lagi dia kalau tidak turun? Nah. mengapa kita menjadi orang-orang yang bodoh." rutuk Dangdi makin kesal. Ambil pedang kalian! Kita tebang saja pohon ini!" Mereka setuju dan membenarkan pendapat Dangdi untuk menebang pohon itu agar bisa membuktikan siapa di . Sekarang kita tunggu saja."Bidik saja tubuhnya. jangan-jangan orang yang di atas itu hantu!" "Tidak mungkin. "Jangan-jangan sambung Balawi. Hantu takut berkeliaran di bawah sinar matahari. Dia pasti akan lelah juga. Tak ada gunanya membuang-buang anak panah percuma. biar mampus sekalian!" Balawi makin marah dan geram. "Aaah. "Kita tunggu di bawah pohon ini saja. Tiga kali kembali ia hajar Arya Kamandanu dengan anak panah tertajam. kembali ia memasang anak panah pada tali busurnya. "Aaakh. pada saat itulah baru kita hantam dia sepuas-puasnya." tukas Jaruju." "Dari tadi dia sama sekali tidak bergerak." Dangdi menghunus pedangnya. Dan kalau sudah lelah. Sementara orang yang di atas pohon. "Maksudmu?" tanya Jaruju belum paham benar dengan gerutuan Dangdi. Maka setelah matahari sudah condong ke arah barat Dangdi makin kesal. yang tak lain adalah Arya Kamandanu masih juga belum bergeser dari tempatnya. bukan orang tapi orang-orangan." Dangdi dan kedua kawannya menunggu di bawah pohon dengan kesal.

"Aneh sekali? Mestinya dia gepeng tertimpa batang pohon besar ini. Jaruju dan Balawi memeriksa pucuk pohon di mana mereka menyaksikan orang bertengger di sana. Jaruju pun bengong.atas pohon itu. benar-benar orang atau orang-orangan. Maka mereka segera mulai membacoki pohon trembesi sebesar rangkulan orang dewasa itu bersama-sama. "Mana dia? Mana Kamandanu?" Dangdi celingukan. mungkin sekarang kalian baru percaya apa yang kukatakan. dan sebentar kemudian pohon itu pun berkeretak roboh! Arya Kamandanu dengan gesit melompat ke belukar tanpa sepengetahuan ketiga pemuda yang memburunya. Jelas orang itu bukan Kamandanu. Ia memandang kedua temannya dengan cemas. lihat! Ini anak panahku ada di sini. Senja mulai meremang ketika pohon itu tampak bergerak-gerak." Balawi gemetar mencabut enam anak panah yang tertancap di batang pohon tempat di mana Arya Kamandanu bertengger. melongok ke setiap sudut tindihan pohon. . Dengan semangat. dan ia mendekati Balawi yang menghitung anak panahnya. Mungkin dia benar-benar hantu yang mau menakut-nakuti kita" Dangdi makin cemas. Matahari makin condong ke barat. "Nah." "Oh. Dangdi. marah dan gusar ketiganya terus menebas pohon secara bergantian. sinarnya mulai lemah menembus sela-sela rerimbunan pohon. Namun mereka tidak menemukan apa-apa dan siapa pun. Ia tidak melihat Arya Kamandanu di rerobohan pohon yang mereka tebang. Mereka berharap jika pohon itu ditebang bisa menimpa Arya Kamandanu dan tewas tertimpa batangnya.

siang hari aku harus melayani Ayah membuat rencana tentang usaha beliau. melompat dengan ajian Seipi Angin meninggalkan tempat angker menuju rumahnya." "Apakah bukan karena sesuatu yang lain. Bi. Arya Kamandanu segera mandi dan ganti pakaian. Tapi semua menancap di batang pohon. Mungkin karena terlalu lelah. Ngger?" ." Balawi membenarkan pendapat Dangdi. geleng-geleng kepala dan keluar dari belukar. yang jaraknya seperti diatur saja. Ketika baru saja keluar ia tersenyum karena Bibi Rongkot hampir menabraknya seraya melepas susur dan memukul sayang bahunya. Angger kurang tidur. Ia beranggapan tidak ada gunanya berlama-lama di tempat itu. kita pergi saja!" seru Dangdi yang mulai bersimbah keringat dingin. "Ayo. Sampai di rumah suasana sudah benar-benar gelap. Panahku tidak ada yang hilang. Hanya waktu-waktu tertentu saja Ayah tidak menyertakan aku dalam bekerja. bahwa mereka sedang berhadapan dengan makhluk halus yang suka menggoda manusia. Angger Kamandanu?" "Ya. Masih lengkap enam buah. ya?" "Aku memang kurang istirahat. ada apa?" "Angger kelihatan kurus sekarang. Bi. "Oh."Memang aneh. Arya Kamandanu tersenyum. Lihat saja. Mereka buru-buru melompat ke kuda masing-masing. malamnya aku tak bisa tidur nyenyak. tidak lama kemudian mereka bertiga sudah meninggalkan tempat itu.

begitulah suasana pengantin baru. Angger Dwipangga kelihatan sangat menyayangi Nini Ratih. "Tampaknya sedang ada persoalan di antara mereka. karena ia sebetulnya kurang tertarik pada kegiatan ayahnya Ia lebih mencintai belajar dari Mpu Ranubhaya untuk meningkatkan olah kanuragan. Bi?" "Ada." Arya Kamandanu lalu meninggalkan perempuan tua itu menuju ruang kerja ayahnya yang ada di rumah bagian belakang." Arya Kamandanu menghela napas dan mengelus pundak perempuan tua itu. Itu urusan pribadi mereka. "Apakah Ayah ada di ruang kerjanya. Bi. Aku tidak mau ikut campur." "Aku harus menemui Ayah. Nari Ratih sudah kurelakan menjadi istri Kakang Dwipangga. tidak. Ngger." Bi Rongkot agak berbisik. Tapi semalam mereka tampaknya bertengkar. . namun ia kian cemas setiap malam bertambah larut. Bibi bisa memahami perasaanmu."Maksudmu. Kelihatan gelisah. biar saja. Ngger." "Ah. bahkan sekarang aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri. Ngger. Bi?" "Yah. Sejak pesta pernikahan Angger Dwipangga dulu. Sudah beberapa malam terakhir ia sering dipanggil ayahnya." "Ah. "Bertengkar?" Arya Kamandanu mengerutkan dahi dan merasa tidak perlu mengorek keterangan dari Bibi Rongkot." "Ya. Dan kulihat mereka kelihatan sangat bahagia. Bi. Sejak sore tadi ayahanda belum keluar lagi dari ruang kerja beliau. Angger Kamandanu kelihatan murung.

Arya Kamandanu melihat wajah ayahnya dari balik keremangan sinar lampu minyak jarak yang tergantung di tengah ruangan. kau menyimpan batu nirmala itu?" "Benar." "Dwipangga tahu bahwa kau menyimpan batu nirmala pemberian istrinya. "Kalau kau tidak mau berterus-terang padaku. Mpu Hanggareksa menoleh ketika melihat pintu ruang kerjanya terbuka. dia marah-marah. tapi Nari Ratih menolak. entah cemburu atau apa. Sampai sekarang mereka masih dalam suasana yang tidak enak. "Mengapa kau tidak mau berterus-terang?" tanya Mpu Hanggareksa sambil meletakkan patrem di atas daun tal. Ayah. Ayah." Arya Kamandanu duduk di sisi kiri ayahnya." "Mana benda itu? Aku mau lihat. Kamandanu!" "Ya.Dengan perlahan Arya Kamandanu mendorong pintu ruang kerja ayahnya. Kemarin mereka bertengkar. benar. saya akan mengembalikan batu nirmala itu pada Nari Ratih." "Kalau Kakang Dwipangga keberatan. Dwipangga." . Ayah." "Jadi. lebih baik aku yang menyimpannya. Ia tidak ingin mengganggu ayahnya yang masih memegang patrem dan beberapa lembaran daun tal basah. "saya belum jelas duduk perkaranya. agak jauh. Kalau memang benda itu nantinya membuat keributan di rumah ini. berarti kau tidak lagi menganggapku sebagai orang tuamu " Arya Kamandanu celingukan dan agak bingung. "Duduklah. Dwipangga mau mengambil batu nirmala itu.

Ia keluarkan dari kantong kulit kecil yang sengaja dibuatnya untuk menyimpan benda itu. "Inilah! Tapi saya keberatan Ayah menyimpan benda ini. saya keberatan sekali. kalau Ayah memaksa saya membicarakan masalah ini. Ayah. Hmhh! Baiklah. "Saya sudah berjanji pada Nari Ratih akan menyimpan batu nirmala ini. "Kamandanu!" "Ya. Aku tahu. "Yah." . Merasakan sesuatu yang perih di dada putra bungsunya. Ayah." "Sebabnya?" Arya Kamandanu memperhatikan Mpu Hanggareksa yang menimang-nimang dan memperhatikan dengan saksama batu nirmala." Arya Kamandanu mengeluarkan batu nirmala dari balik bajunya. kecuali bahwa ia sudah menjadi kakak ipar saya." "Tapi dulu kau pernah ada hubungan dengannya?" "Saya tak mau mengungkit-ungkit yang dulu-dulu. Aku tahu sekarang. Maaf."Ayah boleh melihat batu birmala itu." Lelaki tua itu menyerahkan batu nirmala kembali pada Arya Kamandanu yang segera menyimpannya di dalam kantong kulit dan dimasukkan di balik bajunya." "Kamandanu! Ada hubungan apa kau sebenarnya dengan istri kakakmu itu?" "Sekarang saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Nari Ratih. Permata yang putih bersih. bening nyaris seperti kaca." Mpu Hanggareksa mendesah panjang. Kecuali dia sendiri yang menghendaki agar saya mengembalikannya.

" Arya Kamandanu mengangguk lemah. di mana Nari Ratih berada di kamar berdua dengan suaminya." "Kamandanu! Sekarang kaulah anakku satu-satunya yang bisa kuharapkan. "Sebaiknya kita pulang ke Manguntur. Kuharap kau tidak membuat ayahmu ini kecewa. Kau harus bisa mewarisi apa yang kumiliki sebagai seorang pembuat senjata pusaka." "Saya tidak pernah mengganggu mereka. Aku tak ingin apa yang sudah kucapai ini akhirnya hancur dan direbut orang lain. Makin berat menanggung beban kehidupan yang tidak pernah dimengerti siapa pun termasuk ayahnya yang selalu memaksakan kehendak dan keinginannya. Di ruang tengah yoso dalem rumah Mpu Hanggareksa. Sekarang ia sudah resmi menjadi isteri kakakmu. Setiap saat biasanya ia mendengarkan syair-syair baru yang meluncur deras dan indah dari bibir suaminya."Kau harus bisa melupakan Nari Ratih." "Kau tidak kerasan di rumah ini karena ada Kamandanu? Karena kau masih menyimpan perasaan cinta pada adikku itu?" . Bahkan saya akan ikut merasa bahagia kalau Nari Ratih bahagia menjadi istri Kakang Dwipangga. Kamandanu. Kau tidak boleh mengganggu ketenangan dan kebahagiaan mereka. Kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia di sana. Sudah dua malam Arya Dwipangga kurang bersikap manis padanya. Ia pandang Arya Dwipangga yang berbantal tangan. ayah. Bahkan berlaku dingin padanya. kini ia didiamkan saja. Kepalanya seperti tertimpa bandul besi. Kakang. ia tampak gelisah sekali. bersandar di sandaran tepi tempat tidur.

Batu nirmala itu sudah kuberikan. tentu saja seorang istri hanya akan mencintai suaminya " "Lalu apa alasanmu untuk tidak merasa kerasan tinggal di Kurawan?" "Aku ingin melahirkan di Manguntur. Tentu dia akan sangat bangga dan bahagia kalau kita tinggal bersamanya." "Di sini Ayah masih mempunyai Kakang Kamandanu dan Bibi Rongkot yang setia." . Aku mau tinggal di Manguntur tapi dengan syarat. Kakang. bagaimana aku harus memintanya kembali?" "Kau masih ingin dikenang oleh Kamandanu. Tentu dia merasa sangat kesepian. Aku juga ingin membuat ayahku yang sudah semakin tua itu bahagia. karena ayahku mempunyai lahan pertanian yang cukup luas. tapi ayahku? Dia hanya tinggal sendirian di Manguntur. Itulah yang membuat aku tidak senang Kebahagiaanku merasa terganggu. kau keterlaluan sekali. Kakang. Sekarang aku sudah sepenuhnya menjadi istrimu."Kau keterlaluan. seperti dulu ibuku melahirkan aku. Kakang?" "Batu nirmala itu harus kau minta kembali dari Kamandanu." "Kakang Dwipangga." "Baiklah." "Syarat apa." "Oh." "Aku juga berhak membuat ayahku bahagia. Aku tidak mau menjadi orang yang tidak berperasaan. Kita bisa bertani di Manguntur. kau terlalu cemburu Cemburu yang tidak pada tempatnya.

Nari Ratih. persyaratan yang diajukan pada Nari Ratih tidak bisa ditawar. "Baiklah. Dengan berat. Ia terisak-isak. berkat ilmu yang telah dipelajari dari Mpu Ranubhaya. ia dengarkan desah lembut napas seseorang di depan pintu kamarnya.." Nari Ratih bangkit dari sisi suaminya. Namun. melangkah keluar kamar.Arya Dwipangga ngotot. Ia tersenyum pahit karena benda itu habis diciuminya. Kakang. kalau memang begitu keinginanmu. dengan perasaan yang sangat tidak enak perempuan cantik yang wajahnya tampak pucat tertimpa pendaran cahaya lampu minyak jarak itu bagaikan seekor domba yang siap dipancung lehernya. air mata mulai meluncur di kedua pipinya. Nari Ratih menangis. Ia siap berangkat ke Manguntur jika batu nirmala ada di tangannya. Arya Kamandanu membuka pintu kamarnya dan ia heran melihat kakak iparnya ada di depannya. Sampai di depan kamar Arya Kamandanu Nari Ratih ragu-ragu ketika hendak mengetuk pintu bekas kekasihnya. Mendengar kekerasan suaminya. aku akan memintanya kembali batu nirmala itu. "Nari Ratih!" Nari Ratih menarik lengan Arya Kamandanu dan mengajaknya masuk ke kamar lalu menyampaikan maksud kedatangannya di malam itu. Aku tidak ingin melihatmu menderita. keangkuhan dan sikapnya yang makin kurang manis. Aku akan menyerahkan kembali pemberianmu. ia menuju kamar Arya Kamandanu yang terletak di rumah bagian belakang dekat penyimpanan senjata pilihan. "Betapa berat bebanmu. Arya Kamandanu bangkit. Lalu mengulurkan batu nirmala itu pada Nari Ratih Ia serahkan ." Arya Kamandanu lalu mengambil batu nirmala yang baru saja ia simpan di bawah bantal..

" "Ohh. Nari Ratih menunduk dan berkata lirih pada bekas kekasihnya yang kini menjadi adik iparnya. Nari Ratih. Kakang. Aku benar-benar merasa malu. aku tak ingin melihat kebahagiaan kalian tercemar oleh batu nirmala ini. "Mengapa tidak. Aku tidak bisa membuat Kakang Dwipangga mengerti persoalan ini Dia tetap menginginkan batu nirmala ini..benda itu penuh dengan ketulusan. Kakang Kamandanu?" suara itu tercekat. akhirnya jemarinya terbuka menyambut uluran tangan Arya Kamandanu.. aku . lalu menjalar dan menyusup ke ulu hatinya. maafkan aku. "Ratih! Aku sudah berjanji dalam hati. Aku.. Arya Kamandanu tetap tersenyum. Mata elang pemuda itu begitu tajam menghunjam ke mata Nari Ratih. Kakang. kecuali kau yang memintanya kembali. "Kau . "Seharusnya aku tidak melakukannya. Kakang." ... Mengapa harus minta maaf?" "Ohh. Jari-jemari mereka bersentuhan hingga tanpa disadarinya butiran-butiran bening meluncur dari manik-manik mata Nari Ratih. Mata elang itu tampak penuh dengan luka. kau bisa memahami perasaanku. Kakang. Sudahlah. Bawalah kembali benda ini!" Setelah cukup lama Nari Ratih ragu-ragu menerima batu nirmala itu. serak dan gemetar. Maafkan aku." "Kau tidak bersalah. sungguh mulia hatimu. aku tidak akan memberikan pada siapa pun batu nirmala ini. Hidungnya memerah dan kembang kempis. Aku sudah memberikannya padamu. tapi.." ucapnya lembut di tengah isak. malu sekali..

Arya Kamandanu mengangguk perlahan mempersilakan Nari Ratih segera meninggalkan kamarnya. Ratih. Ratih. Memandang sejenak Nari Ratih yang ragu-ragu melangkah kembali meninggalkannya. aku akan merasa bahagia jika kalian berdua bahagia. membalikkan tubuhnya dan memandang Arya Kamandanu dengan tatapan pilu."Ratih! Tak ada satu pun yang dilakukan oleh manusia ini sempurna adanya. dan kalian berdua bisa terus hidup berdampingan selamanya. menggoreskan sejarah hidup yang penuh air mata. Sungguh. terima kasih. Baiklah. Karena itu tak perlu kau menyesalinya. Arya Dwipangga baru merasa puas setelah batu nirmala itu terlepas dari tangan adiknya. Arya Dwipangga memboyong istrinya ke desa Manguntur. dan jatuh ke tangannya. terimalah batu nirmala ini kembali." Arya Kamandanu melepaskan pegangan jemari Nari Ratih. kuharap kau menjadi istri yang baik. tak baik kita lama-lama berbicara seperti ini. Tapi baru tiga langkah ia menghentikan langkahnya. "Ohh." kasih atas "Kukira lebih tepat kalau Kakang Dwipangga yang menyimpan batu nirmala itu. setelah memperoleh izin dari Mpu Hanggareksa dan mendapat nasihat-nasihat seperlunya. Nari Ratih berusaha tersenyum sekalipun dengan derai air mata Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Nanti kalau Kakang Dwipangga melihat bisa menimbulkan salah paham lagi. Mereka menelan ludah kegetiran. Kakang. Terima pengertianmu yang amat besar ini." Sejenak lamanya pandangan mata mereka beradu. Arya Kamandanu ditugaskan ayahnya mengawal . Sekarang kau sudah menjadi istri Kakang Dwipangga. Nah. Maka sehari kemudian. Nah. Arya Kamandanu memejamkan mata dan menunduk sambil menggigit bibir.

Kereta kuda yang mereka tumpangi berjalan menyusuri jalanan desa yang amat indah pemandangannya. Hari-hari sekarang inilah sesungguhnya milikku. "Ahh? Tempat ini. yang setia. Nari Ratih kelihatan gelisah walaupun ia berusaha menyembunyikan perasaan itu dari suaminya. Aku tak akan pernah bisa melupakan tempat ini. Tapi aku yakin kau kelak akan menemukan seorang gadis yang sesuai untukmu. Kereta kuda yang mereka tumpangi semakin menjauh meninggalkan desa Kurawan. Hatinya teriris-iris mengenang kisah manis yang selalu dilalui bersama Nari Ratih di tepi padang ilalang yang kini dilaluinya. itu di dalam kereta kuda yang terus menggelinding di atas jalanan berbatu. Dia terus mengikuti laju kereta kuda yang membawa Nari Ratih dan Arya Dwipangga. maka aku tak boleh menyiamenyiakannya. Tepi padang ilalang ini. Semua begitu cepat berlalu. Arya Kamandanu terus mengawal dengan mengendarai seekor kuda perkasa berwarna cokelat tua. Aku akan selalu berdoa dan mudah-mudahan para dewa di atas langit mengabulkan . Tapi kenangan akan lenyap bersama deru sang waktu. Betapa indahnya kenangan masa lalu." gumam Arya Kamandanu perih. Berdesir hati Arya Kamandanu begitu melihat pemandangan di sekitarnya. "Ahh? Kakang Kamandanu.perjalanan mereka. yang mencintaimu untuk selamanya. Gunung-gunung membiru di kejauhan seperti melambai ke arah mereka. Tentu hatinya hancur sekali. Arya Kamandanu memegang kendali kuda dengan kendor agar kudanya tidak terlalu cepat berlari. perjalanan mereka sampai di tepi padang ilalang. Seorang gadis yang manis. Tak lama kemudian. Kakang. Sementara. Kasihan kau. Dan harihari besok masih belum menentu. Dan apa yang sudah berlalu tak mungkin bisa kuraih lagi.

Dengan manja Nari Ratih merebahkan kepalanya di bahu suaminya. Kakang. Pandang matanya kosong dan selalu diam sepanjang perjalanan hari itu. "Ratih!" "Ehh.doaku ini. "Bagaimana perasaanmu? Kau bahagia dalam perjalanan ke Manguntur ini?" "Bagaimana aku tidak bahagia. lalu menyibakkan tirai kereta dan . Kakang? Tidak lama lagi aku akan segera menjadi ibu dari anakmu. Tangan Arya Dwipangga merengkuh pundaknya. namun di balik hatinya teriris kepedihan yang luar biasa perih. berbicara tentang kasih di dasar hati mereka yang paling dalam. Mereka mengerutkan dahi ketika melihat beberapa orang berkuda menghadang jalan kereta." "Ahh. kemudian mengusap dan membelai rambutnya yang hitam panjang bergelombang Arya Dwipangga pun dengan lembut menjatuhkan kepalanya di atas kepala istrinya. Kakang?" Nari Ratih terkejut ketika suaminya menegurnya. Arya Dwipangga dan Nari Ratih saling pandang sejenak. Tubuh mereka berguncang-guncang karena jalan-jalan yang bert>atu-batu. kemesraan itu tiba-tiba terhempas tatkala tukang sais menghentikan kereta yang mereka tumpangi. Jemari tangan mereka terjalin erat." Beberapa kali kata bahagia itu ia ulangi." bisik hati Nari Ratih dengan perasaan tidak menentu. ia luncurkah di antara bibir mungil nan manis. ya." "Ratih! Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik dari anak-anak yang kau lahirkan nanti. Namun. Arya Dwipangga melepaskan jalinan jemarinya. Aku bahagia sekali.

Kamandanu. "Heee. "Siapa mereka itu. Melihat siapa yang menghampiri mereka. "Ohh. salah seorang di antara ketiga penghadang itu setengah terkejut dan mencibir sinis. Mereka adalah pengantin baru. bukankah dia itu Dangdi? Siapa dua orang temannya itu?" Arya Kamandanu mengangkat tangan kirinya. Kamandanu? Mengapa mereka menghadang perjalanan kita?" "Kakang Dwipangga tidak usah turun dari kereta! Biar aku saja yang menghadapi mereka " Nari Ratih dengan saksama memperhatikan penghadang kereta.melongokkan kepalanya ke belakang di mana adiknya selalu mengawal perjalanan mereka. Kakakku Arya Dwipangga dan istrinya Nari Ratih. Mengapa sekarang pangkatmu semakin merosot? Mestinya kau yang berada dalam kereta itu. Pemuda Kurawan itu memicingkan kedua matanya dan memandang tiga penghadang di depannya berganti-ganti. Tapi rupanya kau harus cukup puas menjadi pengawal pribadi kakakmu itu." "Hahahaha? Kasihan sekali kau. Kamandanu! Bukankah yang berada dalam kereta itu pasangan pengantin baru?" "Ya." Arya Kamandanu menyentakkan tali kekang kudanya hingga kuda tunggangannya meringkik panjang dan melompat ke arah tiga orang yang menghadang kereta yang ditumpangi kakaknya. sampai ia terpekik. Dangdi. Hahahaaha!" . agaknya mereka bermaksud membuat gara-gara lagi denganku. "Kalian berdua diam saja dalam kereta.

Kamandanu! Kalau kau bisa mengalahkan kami bertiga.. Kamandanu! Jangan mencoba mengancam kami! Ayoo. Dangdi mencibir dan melambaikan tangan seraya menarik ke arah dalam jari tengahnya menantang Arya Kamandanu. kalau memang itu kemauanmu. Arya Kamandanu tetap tenang duduk di punggung kuda sekalipun hewan tunggangannya itu sesekali meringkikringkik. Ketiga penghadang itu memasang kuda-kuda dan berkacak pinggang memandang enteng pada Arya Kamandanu. "Turun. ."Dangdi! Kami sedang dalam perjalanan ke Manguntur. barulah kami akan memberi kalian jalan untuk lewat. Setelah itu ia melompat turun dari punggung kuda diikuti kedua kawannya." "Jadi. Lalu ia melompat ke depan Dangdi. kuharap kau tidak mengganggu perjalanan kami ini." "Baiklah. Aku akan turun!" Arya Kamandanu menggerakkan tali kekang kudanya hingga si cokelat tua meringkik panjang. kalian bertiga tidak mau memberi kami jalan untuk lewat?" "Hee." "Mana bisa kami lewat kalau kalian bertiga menghadang di jalan begitu?" "Hahaha! Kalau memang kalian tidak bisa ya mau bagaimana? Kembali saja ke Kurawan atau carilah jalan lain.. turun kau dari kudamu!" Dangdi makin sinis dan tangan kirinya memberi isyarat penghinaan dengan menunggingkan ibu jari.silakan saja lewat." "Siapa yang mengganggu kalian? Kalau kalian mau lewat yaaa.

Tapi karena kali ini aku ditugaskan mengawal saudara tuaku ke Manguntur." tawa Dangdi diikuti dua temannya yang makin lebar memamerkan mulut mereka. serangan licik itu dapat diatasi Kamandanu dengan sedikit mengelak ke samping. Dengan mudah Arya Kamandanu menangkis dan menghindari seranganserangan lawannya. menghindar ataupun .. tetapi tak terarah. baru aku merasa puas! Hiaaaa.. Arya Kamandanu begitu lincah bergerak menghindar. Dangdi berhenti menyerang dengan napas terengah lalu tangan kanannya melambai pada kedua kawannya. Gebrakan pertama itu membuat Dangdi naik pitam karena tendangan dan pukulannya menyapu sasaran kosong. Semula dia hanya bertahan dengan menepis. maka tak ada pilihan lain kecuali melayani kesombonganmu."Baguuss! Tapi aku masih meragukan keberanianmu. kalian jangan diam saja! Kita bikin sekali lagi babak belur orang ini. Ia pun kembali melompat dan menerjang dengan pukulan-pukulan keras. Kamandanu.. Hahahah.." "Jangan banyak mulut! Hiaaaa!" Dangdi langsung menerjang Arya Kamandanu ketika baru saja ia melangkah beberapa tindak mendekatinya. "Sebenarnya aku sudah muak melihat kelakuanmu ini. Selama ini aku masih mencoba bersabar.. Dangdi. Namun. Suaranya terdengar parau sekali "Jaruju! Balawi? Ayo. Jaruju dan Balawi secara serentak menyerang Arya Kamandanu yang melayaninya dengan tenang.!" Dangdi. Jangan-jangan hanya untuk mencari muka di depan pengantin wanita. Hal itu membuat Dangdi benar-benar sangat marah dan kurang bisa mengendalikan dirinya.

.. Arya Kamandanu tersenyum dingin sambil mengatur napasnya. cukup. bangunlah kalau kalian masih mempunyai nyali untuk bertempur. Balawi. ahh.. Ehhh. shshsss!" Balawi terbata menjawab dengan kedua tangan ...." "Ehh.. akhirnya Arya Kamandanu terpaksa mengeluarkan pukulan dua belas jurus tahap pertama ilmu Naga Puspa pemberian Mpu Ranubhaya. sehingga Jaruju tersepak meluncur keras jatuh di semak belukar menyusul dua rekannya. tidak. tidak. Jaruju agaknya mempunyai kemampuan lebih tinggi dibanding Balawi." langsung saja Jaruju menggebrak Arya Kamandanu tanpa perhitungan masak sehingga yang terjadi adalah senjata makan tuan. kau akan bernasib sama dengan dua orang temanmu itu. Dengan gebrakannya yang keras dan sembrono itu membuat Arya Kamandanu mendapatkan peluang memberikan pukulan telak tepat ke ulu hatinya.. kami menyerah kalah. Pada gebrakan pertama Dangdi menjadi korban tendangan pada pelipis kirinya.addduuuhhh.. Kamandanu. Tapi karena serangan itu datang terus-menerus." "Jangan sombong kau. jangan! Cukup. Gebrakan kedua Balawi terpaksa meraung kesakitan sambil mendekap alat kelaminnya. Kamandanu! Hiaaaa..... kalau masih penasaran aku pun tidak keberatan melayanimu satu jurus lagi.." "Ehh.." Jaruju meringkuk di semak dengan napas terasa sesak. Kamandanu. Jaruju kurang menyadari apa yang dilakukan lawannya. Kedua kakinya masih siap dengan kuda-kuda. "Dan kau.melompat kiri kanan. "Ayo. Giliran Jaruju terkena gebrakan ketiga.. "Jaruju! Kalau kau masih nekad menyerang... Pandangannya sangat tajam memandang ketiga lawannya satu per satu berganti-ganti.

Dangdi. Manguntur sudah tidak terlalu jauh dari sini. Baik Nari Ratih.memegang kelaminnya yang terasa melesak kena sodokan maut Arya Kamandanu. Lalu ia membalikkan tubuh melangkah menghampiri kereta yang ditumpangi kakaknya. jangan mencoba membuka persoalan lagi denganku. Arya Dwipangga maupun tukang sais itu tidak berkomentar apa- . kau tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa. Marilah kita lanjutkan perjalanan. Arya Kamandanu berkacak pinggang sambil tersenyum getir. Dangdi.. "Bagaimana. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian lagi. Balawi dan Jaruju segera naik ke punggung kuda dan segera menyentak tali kuda masing-masing dengan hati dongkol. kau pasti berhadapan dengan Arya Kamandanu!" Dengan meringis dan langkah tertatih ketiga penghadang itu berjalan menghampiri kuda mereka." "Kakang Kamandanu. Arya Dwipangga melongokkan kepalanya memandang penuh rasa kagum dan terima kasih pada adiknya yang memiliki kemampuan olah kanuragan mumpuni.. Kalau kau sampai berani mengganggu ketenteraman mereka. Kereta kuda itu tampak terseok-seok melalui jalan berbatu. Ratih. karena sekarang dia sudah menjadi istri saudara tuaku. menggerutu dan sangat malu." Arya Kamandanu memberi isyarat pada kusir kereta agar segera melanjutkan perjalanan. Kamandanu?" "Kakang tidak usah khawatir. Jangan mengganggu Nari Ratih. Menggeleng-geleng kepala karena merasakan kebebalan tiga pemuda Manguntur yang selalu memusuhinya. "Kalau demikian. cepat pergi dari sini! Dan ingat! Terutama kau.

Hari itu juga Arya Kamandanu kembali ke Kurawan. di rumah Mpu Hanggareksa. dw Sementara itu.apa. di ruangan pembuatan senjata. hutan-hutan kecil. kadang-kadang ia hanya pasrah pada keadaannya. lelaki tua itu menimang-nimang sebuah senjata pusaka. Mereka hanya membisu karena hati dan pikiran mereka dipenuhi oleh angan masing-masing. Kemudian penuh dengan perasaan ia memegang gagang pusaka itu serta mencabutnya perlahan-lahan. Kehadiran Dangdi dan komplotannya seolah-olah membuka luka lama yang selama ini dipendamnya dalam-dalam di lubuk hatinya. Rekyan Wuru menyambut dengan ramah dan gembira. dan sebentar kemudian sudah meninggalkan tugu-batas desa Manguntur. "Hhhh! Bagaimanapun juga senjata pusaka buatanku masih di bawah tingkatan Kakang Ranubhaya. Menyunggingkan senyuman di bibirnya yang mulai mengeriput. Kuda yang ditunggangi Arya Kamandanu berlari bagaikan terbang melintasi daerah persawahan. . Arya Kamandanu menunggang kuda lima tombak di belakang kereta. Mereka mengantar sampai ke pagar halaman. Hatinya perih seperti teriris karena ia selalu saja mengalami kegetiran dalam hidupnya Kadang-kadang ia membenarkan Dangdi. Akhirnya mereka tiba dengan selamat di Manguntur. bukit-bukit. Suara berdencing mengiringi senjata itu ketika keluar dari wrangkanya. tapi tak jarang ia berusaha untuk memenangkan kerendahan hati dan kesabaran dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Arya Kamandanu menolak ketika orang tua itu menyuruhnya menginap barang semalam.

Suatu ketika Kakang Ranubhaya bisa menjadi batu sandungan di tengah jalan. Sekarang kau istirahat.' "Bagaimana? Manguntur?" "Sudah. Sudah berapa kali kucoba untuk menariknya kerja sama. "Kaukah itu.Bagaimanapun juga dia lebih ahli. Ayah. dia tetap tidak bersedia. Lelaki itu segera memasukkan senjata pusaka ke dalam wrangkanya dan melangkah ke arah pintu sambil mengerutkan dahinya. Belum lagi memasukkan senjata itu ke dalam wrangkanya ia dikejutkan oleh suara pintu yang berderit panjang sekalipun perlahan-lahan. Aku mau pergi barang dua tiga hari. Ayah?" "Ke Singasari. Kalau dengan cara yang halus tidak berhasil." "Ke mana. Ia melihat jemari menyengkeram daun pintu dari luar. tapi aku tidak akan kehabisan cara. Merasa lebih hebat. dan besok kau harus menjaga rumah bersama Nyi Rongkot. Dan inilah yang membuatku tidak senang. Huuuuhh! Orang tua itu sangat kokoh pendiriannya." "Bagus. Lagi-lagi ia tersenyum sendiri. Bahkan aku bisa menggunakan cara yang paling kasar!" Mpu Hanggareksa berbicara sendiri sambil mengusap-usap senjata pusaka di tangannya. aku bisa menggunakan cara yang lebih kasar. Kurang ajar! Dia merasa lebih pintar.'. Tidak seperti hari-hari biasanya." Arya Kamandanu dapat meraba ada yang terjadi di balik wajah ayahnya. tampak Sudah kau antar kakakmu sampai . Kamandanu?" "Ya. Ayah.

sekarang kakakmu sudah hidup sendiri bersama istrinya. Ia menghela napas dan menghempaskannya kuat-kuat. . Tinggal kau yang kuharapkan bisa membantu usahaku ini. Berat dan sesak. Terutama sekali kau harus menjaga dan mengawasi tempat menyimpan senjata pesanan. ia dengar ringkikan panjang kuda ayahnya. terharu karena alis mata dan bibir putra bungsunya itu persis seperti ibunya. Memandangnya sangat tajam dengan sekali-kali menghela napas tertahan. Hatinya terenyuh." "Kamandanu. Arya Kamandanu melihat kabut persoalan mengambang di permukaan wajah ayahnya. Ayah. orang tuanya berbicara tidak seperti biasanya. Kemudian terdengar juga derap kakinya yang dipacu semakin menjauh. "Kulihat kau sudah mengantuk dan lelah sekali. Tapi Arya Kamandanu tidak berani menanyakan pada ayahnya. Seperti isterinya yang telah lama meninggalkannya. Ayah. Ia pandangi putra bungsunya penuh kelembutan dan kasih sayang." "Baik." "Ya. Tidurlah! Biarkan aku sendiri di ruangan ini. Saya tidak akan kemana-mana. Kepedihan menyuruk-nyuruk dan mengiris hatinya. ”Selama aku pergi kau harus lebih berhati-hati." kembali Mpu Hanggareksa menghela napas dalam sekali." Belum lama Arya Kamandanu berada dalam kamarnya sendiri.sekali ayahnya tengah mempunyai persoalan yang berat.

Pada ujung tikarnya sudah robek dan putusputus. karena tikar itu buatan buah tangan Nari Ratih. pasti ada hubungannya dengan rencana ke Singasari besok. Ia nyengir dan memoncongkan bibirnya seraya melangkah seenaknya." Arya Kamandanu menyorongkan kancing jendelanya agar lebih kencang lagi. Ia berdiri sejenak menyandarkan punggungnya di balik daun pintu yang sangat tabal itu. Bahkan pada tepi-tepinya tampak jamuran karena terlambat tak dijemur. memperhatikan tempatnya berbaring yang kusut. Aku harus mendampinginya dan membesarkan hatinya. . "Aku mendengar suara kuda Ayah. Ke mana dia pergi malam-malam begini? Ahhh. Kembali lagi ia melangkah mondar-mandir seperti orang bingung. Ia perhatikan pakaiannya yang kotor tergantung di ujung kamar. Arya Kamandanu beranjak meninggalkan kamarnya. tak tahu apa sebetulnya yang mengganjal di hatinya. Karena tak bisa tidur lagi. Rongga dadanya dipenuhi oleh bau logam karatan. akhirakhir ini dia tampak semakin tua. Beberapa saat lamanya ia berdiri di ambang pintu. Kasihan ayah. Bersandar sejenak pada dinding papan kamarnya. Ia tersenyum. kemudian menutup pintu itu kembali seperti sedia kala. bau apek dan warangan cairan pembasuh senjata yang menyengat.Dahinya beranyam kerutan kemudian menggigit bibirnya sendiri sambil melangkah beberapa tindak sambil memeriksa jendelanya. Ia hirup udara kamarnya yang apek dan kurang sedap karena lama tak dibereskan dan dibersihkan. Sebentar kemudian dia sudah berada di ambang pintu ruang kerja ayahnya Terdengar pintu ruang kerja itu dibukanya perlahan menimbulkan derit panjang memecah kesunyian malam. Tikar tanda persahabatan pertama ia mengenal gadis yang merebut seluruh hatinya.

"Ampun Sri Baginda! Hamba mohon Sri Baginda sudi membaca laporan hamba. jantungnya berdebardebar mengetahui isi surat itu. Arya Kamandanu membungkuk dan membaca tulisan yang tertera pada potongan-potongan rontal di tempat kerja ayahnya. Namun. namun dia menolak. Di samping hamba juga dipercaya mengelola senjata pusaka di ruang penyimpanan senjata Istana Singasari. Usianya habis untuk membuat senjata-senjata pusaka pesanan pemerintah Singasari. Selama ini hamba telah dipercaya sebagai pembuat senjata pusaka untuk perlengkapan tentara Singasari. Dia sebenarnya ahli dalam pembuatan senjata pusaka. Kurawan. Ia mengeraskan rahangnya . Ayah memang pekerja yang ulet. bahkan menghina Sri Baginda Kertanegara sendiri. kembali daun-daun tal itu seperti sedia kala. Sebab kalau dibiarkan. hamba khawatir kelak kemudian hari bisa merongrong kewibawaan Sri Baginda. ada seorang Mpu yang bernama Ranubhaya. dan selanjutnya mengambil tindakan yang tegas demi tegaknya wibawa pemerintah Singasari. Tapi tampaknya dia tidak begitu cocok dengan Paman Ranubhaya. Malah akhir-akhir ini dia berani menghina pemerintah Singasari." Arya Kamandanu meletakkan. Darahnya tersirap. Hamba telah berulang kali mengajak kerjasama. Lalu ia membacanya dengan saksama."Ahh! Selama berpuluh surya Ayah terbenam di ruangan ini." Arya Kamandanu mengerutkan dahi memperhatikan ada selembar daun tal? Ia makin memperhatikan selembar rontal itu ketika melihat goresangoresan di atasnya ada tulisan ayahnya. sekarang ini hamba mempunyai kesulitan yang bisa menghambat tugas-tugas yang dipercayakan pada hamba. Dia tekun dan selalu bersungguh-sungguh. Di desa hamba. Untuk itu hamba mohon Sri Baginda menindak orang tersebut. Hamba telah berjanji akan bekerja sebaik-baiknya.

namun pikiran-pikiran buruk menghantuinya hingga sampai pagi hari ia belum juga sempat memicingkan matanya. Tapi. Ia berjingkat. Suara-suara ternak juga meramaikan suasana di pagi itu. Pemuda itu tersenyum melihat Bibi Rongkot sudah bangun. surat ini berbahaya sekali. Buruburu ia keluar dari ruang kerja ayahnya menuju bilik Bibi Rongkot pembantunya yang setia. Aku tidak tahu harus memihak pada siapa. Paman Ranubhaya sangat baik menurut penilaianku. Kemudian pemuda itu kembali ke kamarnya sendiri dengan hati resah. Paman Ranubhaya bisa dihukum mati. Untuk itulah ia segera bangkit dari pembaringan setelah mendengar kokok ayam ketiga. Aku tak habis pikir mengapa ayah membencinya dan menganggapnya sebagai orang yang harus disingkirkan? Apakah ayah takut suatu ketika Paman Ranubhaya menjadi saingan berat dalam pembuatan senjata pusaka? Ohh. Perlahan ia mendorong daun pintu perempuan tua itu yang selama ini tidak pernah dikancing dari dalam. Tapi kalau memang keadaan mendesak. mengapa Ayah sampai hati melaporkannya? Apakah ada suatu sebab yang membuat mereka bermusuhan sampai begini? Ahh. Didorong oleh rasa penasaran yang bersarang di hatinya ia segera menuju bilik Bibi Rongkot. "Ohh. aku harus berbuat sesuatu untuk menolong Paman Ranubhaya. Ia tersenyum ketika melihat perempuan tua itu sudah tidur. Perempuan tua itu . Ia berusaha agar cepat tidur." Arya Kamandanu segera mengambil tindakan.hingga tampak menonjol kukuh. matanya yang tajam berkilat-kilat. aku jadi serba salah. aku tidak mau ikut campur. melangkah hati-hati sekali agar tidak membuat perempuan tua itu terkejut dibuatnya. kalau sampai terbukti menghina Prabu Kertanegara. Ia harus melakukan sesuatu untuk gurunya yang terancam bahaya.

Ia buru-buru memandang perempuan tua itu dengan mulut . karena bibi tidak mendengar apa-apa lagi sampai menjelang pagi." "Lama perginya." "Ayahanda sudah berangkat. Perempuan tua itu segera menghentikan kunyahannya ketika tahu siapa yang mendorong pintu kamarnya. "Menemui ayahanda. Ngger. bibi mendengar suara pintu ruang kerja beliau terbuka dan tertutup. Mungkin beliau langsung tidur di ruang kerja. Ngger?" Setelah mendengar keterangan Bibi Rongkot pemuda itu langsung membalikkan badannya. Bibi terbangun dan mendengar Ayahanda menuntun kuda ke kandangnya. Bi?" "Barangkali tidak terlalu lama. menjawab pertanyaan perempuan itu sambil lalu. Ngger." Arya Kamandanu mau membalikkan tubuh tapi perempuan itu menegornya." "Bibi tahu ke mana Ayah pergi semalam?" "Katanya beliau pergi ke rumah salah seorang sahabatnya. "Bi Rongkot?" "Ya. "Ehh. Beliau hanya berpesan. Entah sahabat yang mana Bibi tidak tahu. Setelah itu.menatap ke dinding dengan pandangan mata kosong seperti melamun. Ia sedang menikmati kinang sirih sambil melamun duduk di bibir dipan. mau ke mana. agar Angger Kamandanu berhati-hati selama beliau tidak di rumah. Bi. begitu." Arya Kamandanu tidak melanjutkan langkahnya. Ngger. Sepertinya Bibi hanya terlelap sebentar.

Terdengarlah gong dipukul dua kali pertanda tiba saatnya Sang Prabu Kertanegara bersabda. Kuda itu berlari semakin lama semakin cepat hingga akhirnya lenyap di balik tikungan jalan yang menuju kotaraja Singasari. Dalam hati dia sudah bertekad akan memfitnah sahabatnya sendiri. dengan istirahat sejenak di beberapa desa yang dilewatinya. Ia melangkah lemas sambil memukul jidatnya dengan telapak tangan kanannya saking kesalnya.setengah menganga dan dahi berkerut hingga kedua alisnya yang tebal nyaris menyatu. Seketika itu suasana menjadi hening dan sunyi. Dia langsung menemui Pranaraja dan menginap di wisma pembesar Singasari itu. Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dalam diam. marah dan kurang tidur. yang kemudian keesokan harinya membawanya menghadap Sang Prabu di Paseban Agung. Di belakangnya meninggalkan kepulankepulan debu yang menghalangi pandangan mata. Udara pagi yang dingin tak mampu mendinginkan hati pemuda itu yang dilanda keresahan. bahwa tingkat kemampuannya membuat senjata pusaka masih di bawah sahabatnya itu. Setelah berkuda hampir satu hari lamanya. . Di samping sebenarnya dia merasa iri. Pagi itu segenap pejabat istana berkumpul di hadapan takhta Sang Prabu Kertanegara yang telah menerima laporan tertulis dari Mpu Hanggareksa. Kuda cokelat tua itu membawa Mpu Hanggareksa menuju ke Singasari. Matanya merah karena lelah. Mpu Hanggareksa terus memacu kudanya menuju kota Singasari. Mpu Hanggareksa dengan selamat bisa memasuki pintu gerbang Istana Singasari. Khidmat penuh penghormatan. Dia merasa sakit hati dan merasa usahanya dijegal oleh Mpu Ranubhaya. Terdengar suara mendengung bisik-bisik dan geremeng obrolan mereka sebelum mendengarkan titah Sang Prabu Kertanegara.

baiklah. "Aku sudah membaca dengan saksama laporan yang ditulis Paman Hanggareksa.Sang Prabu Kertanegara menghela napas dalam-dalam ketika hendak menyampaikan titahnya. Tapi begitulah. Jelas aku akan mengambil tindakan yang tegas. hamba justru ingin merangkul dan mengajak dia untuk kerja sama mengabdi pada pemerintah Singasari. Hamba tidak sanggup mengulangi perkataannya di depan para hadirin yang berkumpul di balai paseban agung ini." Prabu Kertanegara menghela napas dan pandangannya tertuju pada seorang perwira gagah perkasa dengan kumis melintang tebal menghiasi bibirnya. Karena hamba rasa perkataan itu sangat tidak pantas. Apa yang sudah dikatakannya itu?" "Ampun. Tak ada perlunya hamba memfitnah seorang kawan. Hmmmm! Apakah laporan ini bisa kupercaya?" "Ampun. Mpu Ranubhaya orangnya keras. Aku memang tidak akan tinggal diam. Apa yang diandalkannya hingga dia berani menghina Kertanegara? Hmmm. bahkan telah berani menghina aku. kalau hamba tidak boleh menyebut sebagai sangat kotor. Gusti Prabu. Laporan itu hamba tulis berdasarkan kenyataan yang ada. Yang merasa dilihat menunduk sambil menghaturkan sembah dengan melipat . Gusti. Hatinya sudah membeku seperti sebongkah es!" kembali Mpu Hanggareksa menghaturkan sembah sampai jidatnya menyentuh lantai paseban yang terbuat dari papan-papan jati yang sudah dihaluskan." "Hhhh? Kurang ajar benar si Ranubhaya itu. Sebagai seorang kawan baik. "Paman katakan Mpu Ranubhaya telah menghina pemerintah Singasari. Paman Hanggareksa.

kuperintahkan agar kau membunuhnya. Dengan matanya yang tajam ia mencuri pandang ke arah junjungannya. Ranggalawe adalah seorang kepala pasukan yang membawahi dua ratus orang prajurit. Gusti Prabu. Kau bisa bersama-sama Hanggareksa sebagai penunjuk jalan. Gusti. Kalau dia melawan. ." suara itu besar.tangan dan diangkat "Ranggalawe!" tepat di depan dadanya." "Hamba. Arya Wiraraja atau Banyak Wide telah dilorot kedudukannya sebagai Demung. Lalu kapan hamba harus berangkat?" "Sekarang juga. Kau kuperintahkan untuk menasihati orang yang bernama Mpu Ranubhaya." "Kalau dia tidak mau kaunasihati dan tidak mau mencabut kata-katanya yang telah menghina pemerintah Singasari dan bahkan menghina pribadi Kertanegara." lagi-lagi Ranggalawe menghaturkan sembah. Dia adalah putra Arya Wiraraja. Gusti. mantap dan dalam." Paman "Baik. "Berangkatlah ke Kurawan! Bawalah serta dua puluh orang prajurit. Perintah Gusti Prabu hamba junjung tinggi. Kemudian ia duduk seperti posisi sebelumnya dengan sekali-kali melirik ke arah Mpu Hanggareksa yang juga duduk menunduk penuh hormat." "Baik. "Hamba. Sekali lagi Ranggalawe menghaturkan sembah. Gusti Prabu. tangkaplah orang itu. Kali ini jidatnya sampai menyentuh ke lantai. Hamba siap menjalankan perintah Gusti. dan sekarang menjadi seorang adipati di Sumenep.

Hari itu juga. barulah mereka sampai di suatu tempat yang memaksa mereka menginap di sana. Dua puluh lima orang penunggang kuda itu begitu bersemangat mengendarai kuda hingga kuda yang ditunggangi mereka saling dahulu mendahului. yang lebih merupakan tempat tinggal penduduk biasa yang membuka warung di dalam rumah. sambil sekali-sekali menengok ke dua puluh orang prajurit di belakangnya Ketika matahari sudah mencapai ujung langit barat. Sementara di belakangnya Mpu Hanggareksa yang berkuda berdampingan dengan Pranaraja. begitu keluar dari paseban agung Istana Singasari. dengan mengendarai kuda hitam yang bernama Nila Ambara. Ranggalawe berada paling depan barisan. Debu-debu beterbangan di jalan ketika kuda-kuda mereka melewati pusat kota Singasari. perampok dan para penjahat sering kali terjadi di sepanjang jalan menuju desa itu. yang dengan tangkas mengendarai kudanya masing-masing. dw Rombongan berkuda terus bergerak meninggalkan perbatasan kota Singasari. sebab perjalanan menuju desa Kurawan tidak bisa dilalui dengan aman. Selain melewati tebing-tebing terjal gangguan begal. Ranggalawe langsung mengumpulkan orangorangnya Ikut dalam rombongan itu Pranaraja. Derap kaki kuda terdengar riuh rendah diselingi ringkikan-ringkikan perkasa. Jarawaha dan Ganggadara. Rombongan yang terdiri dari dua puluh lima orang itu pun berangkat ke Kurawan. Petang itu tampak . Di belakang mereka Jarawaha dan Ganggadara. jika malam hari. Rombongan itu berhenti di depan sebuah penginapan.

kalau begitu bisa.beberapa orang duduk di serambi penginapan. Hanya ada lima belas ruangan. siapa kedua prajurit Singasari itu. Tuan. Itu pun ada dua kamar yang tidak bisa ditempati. "Oooo. Kami semua ada dua puluh lima orang. Tuan. jadi Tuan satu rombongan dengan prajurit-prajurit Singasari itu? Wah. ehh. Baik. hanya lima ruangan yang harus kami siapkan? Baik. Tentu saja bisa. pelayan.. "Ehh. Sikap pelayan itu membuat kurang senang kedua prajurit Singasari itu.. Jadi. "Bukan berdua." "Kami hanya membutuhkan lima kamar saja. Apa yang bisa saya bantu. wah. mana mungkin kami bisa menampung semuanya? Rumah penginapan ini kecil. Salah seorang yang berbadan tegap dengan otot-otot menonjol itu kasar . Dua orang yang duduk di sana adalah pelayan penginapan itu... "Kau tidak usah pusing memikirkan di mana prajuritprajurit itu akan tidur malam ini. Kedua orang itu sudah tahu. Kami prajurit Singasari." Percakapan antara pelayan dengan Jarawaha dan Ganggadara itu didengarkan dengan baik oleh orang yang duduk di sudut serambi penginapan itu. hehe. Tuan. maka seorang di antara mereka ingin membuat gara-gara. "Ohh." jawab Jarawaha kasar. Mereka bisa memasang tenda di halaman rumah penginapan ini. karena membutuhkan perbaikan." jelas Jarawaha ketus dan angkuh." tukas Ganggadara. sedangkan dua orang lainnya adalah prajurit Singasari yang diutus Ranggalawe memesan kamar untuk beristirahat. Tuan? Tuan berdua membutuhkan ruangan untuk istirahat malam ini?" tanya seorang pelayan yang sengaja dibuat-buat agar kelihatan sopan.

"Jangan takut kami tidak akan membayar. akan saya ambilkan tuak buatan desa Apajeg yang paling enak. "Pelayan! Bukan hanya mereka itu yang menjadi tamu di rumah penginapan ini. "Ehh. ya.. Kami pun berhak untuk dilayani dengan baik. Bukankah yang ini Jaran Bangkai?" sahut Jarawaha sambil menunjukkan telunjuk tangan kirinya." "Jangan terlalu lama!" bentak pemuda yang tadi menggebrak meja. Sabar. Tuan berdua membutuhkan apa?" tanya pelayan dengan wajah pucat pasi karena pelayan itu sudah tahu persis siapa kedua pemuda berotot itu." Lelaki berotot itu bangkit dan melotot pada pelayan. Kita bertemu di desa Jasun Wungkal beberapa waktu yang lalu. pelayan. Mereka memang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Tuan. baik. eh. Terdengar suara berderak karena ada cangkir yang menggelinding. Ganggadara mengingat keduanya dengan baik dan ia melihat mereka dengan pandangan dingin. "Tambah lagi mangkuk tuakku itu!" pinta yang seorang dengan kasar sekali. ya. Ya.. Silakan menunggu sebentar. Tuan. Keduanya saling bisik. Beberapa saat mereka saling pandang dan tersenyum-senyum dengan angkuh. Aku ingat. "Hmmm.sekali menggebrak meja.. bahwa sebelumnya mereka pernah bertemu dengan kedua prajurit Singasari yang memesan kamar. "Oh." "Aku juga masih belum lupa siapa kalian berdua ini.ya. ." kata yang seorang yang lebih pendek. Tuan.

Lalu pelayan itu menaruh sekendi tuak itu ke atas meja tepat di depan Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Soalnya sekarang ini sedang ada banyak tamu. Di atas nampan itu terletak sekendi tuak murni.. yang penting aku akan bayar tuakmu!" jawab Jaran Lejong tanpa menghiraukan pelayan itu lagi. "Apakah tuan-tuan kali ini juga mau ke Kurawan?" tanya Jaran Lejong berlagak bodoh.. "Bukan begitu. "Ahh." .. Tapi.. bahwa tuan-tuan sebagai prajurit tidak boleh berbicara sembarangan." tukas Jaran Bangkai sinis sekali."Ingatan Tuan berdua masih cukup baik.ehh." kata Jaran Bangkai nyinyir." "Tapi apa?" bentak Jaran Lejong tak sabar. yaaaa. "Kalian tidak perlu tahu tujuan perjalanan kami.. tuan-tuan adalah prajurit. Ini tuaknya. Tuan jangan sampai mabok!" katanya terdengar ketakutan dan mundur beberapa tindak melirik ke arah prajurit Singasari dan kembali beralih pada Jaran Bangkai dan Jaran Lejong yang sudah meraih kendi tuak itu serta menuangkan isinya ke mangkuknya masing-masing. "Tapi maaf. Kami lupa. Kebetulan mereka adalah prajurit-prajurit Singasari. Pelayan itu menunduk sambil mencuri-curi pandang pada kedua berandal itu. tapi.. "Heheheh. Sejenak mereka diam karena pelayan tadi telah kembali dengan membawa tuak di nampan.." jawab Jarawaha ketus. "Apa urusanmu? Mau mabok atau mau jungkir balik. Tuan. Tuan! Hehehehe... silakan minum.

Prajurit Singasari mendirikan terida darurat di halaman rumah penginapan desa Apajeg." "Jangan cerewet. Dan tidak ada peraturan minum tuak sampai mabok di rumah penginapan mana pun juga. Jangan hiraukan mereka itu. "Bukan begitu." tukas Jaran Lejong kasar sekali dan meneguk tuak langsung dari kendi.... "Ayo. Pagi hari pun tiba. ehh. Mpu Hanggareksa baru saja selesai membersihkan badannya ketika mendadak terdengar keributan di halaman penginapan. Jaran Lejong segera menuangkan kendi tuak yang masih digenggamnya pada mangkuk Jaran Bangkai Ia letakkan kendi tuak itu pada meja agak kasar. Jaran Bangkai menyorongkan mangkuknya yang sudah kosong dan minta dituangkan lagi. Pranaraja memandang Mpu Hanggareksa dan . Kakang Jaran Bangkai! Kita minum sepuas hati kita. Ganggadara. Kami juga tamu di sini." Demikianlah kedua berandal itu tidak menghiraukan kata-kata pelayan. Mereka minum tuak sampai matanya merah dan mulutnya berbusa karena terlalu banyak minum. Mpu Hanggareksa dan Ranggalawe istirahat di ruangan tidur masing-masing. Jarawaha."Aku tidak peduli. Sementara itu Pranaraja. pelayan! Nanti kusumbat mulutmu dengan kepalan tanganku ini!" bentak Jaran Bangkai dengan mulut masih penuh tuak sehingga cairan itu muncrat dari bibirnya. Kami punya hak yang sama dengan mereka. Keduanya memandang sinis sekali pada kedua prajurit Singasari yang berdiri dan melangkah pergi karena tidak ingin terjadi keributan di penginapan itu. Tuan. Lalu mengangkat mangkuknya sendiri dan menenggak isinya sekali tenggak hingga asat. Maksud saya.

!" mendengar cemoohan itu." Pranaraja segera melompat meninggalkan Mpu Hanggareksa. "Hahahah! Dulu kami berdua pernah kalian kalahkan di desa Jasun Wungkal." Melihat kehadiran Jarawaha dan Ganggadara dua berandal itu makin beringas dan tertawa lebar. Kami berdua tidak membutuhkan prajurit! Kalau hanya untuk menghajar dua perampok tengik macam mereka ini. keduanya mengganggu prajurit Singasari. Ia . Jaran Bangkai dan Jaran Lejong membuat keributan.. "Kurang ajar! Hiaaaaa. "Minggir! Kalian semua minggir! Masukkan kembali senjata kalian ke dalam sarungnya. Tuan Pranaraja?" "Ada keributan di halaman rumah penginapan ini. "Tuan! Tuan Hanggareksa?" "Ada apa. saya akan melaporkan hal ini pada Gusti Ranggalawe. Sementara itu. di pelataran penginapan desa Apajeg telah terjadi perkelahian sengit. "Dan sekarang kalian akan kami ringkus!" tukas Ganggadara tak kalah sengit. Ganggadara terpancing dan menjadi naik pitam. kalau sampai kita buat babak belur?" ejek Jaran Bangkai disusul dengan ledakan tawanya. Beberapa prajurit menghunus pedang dan siap bertarung. Melihat kejadian itu. Ia tersenyum sinis pada Jaran Bangkai dan Jaran Lejong yang sudah siap menyambutnya dengan kuda-kuda. Jarawaha segera menyibak di tengah kerumunan mereka..berusaha menajamkan pendengarannya. Tuan segera saja berpakaian." ujar Jaran Bangkai sombong sekali. "Hehehehe? Dengar Adi Jaran Lejong! Mereka akan meringkus kita katanya? Apakah mereka ini tidak malu dilihat anak buahnya. Keduanya buruburu memandang ke arah datangnya suara keributan itu.

Apakah Tuan bermaksud turun ke gelanggang juga?" "Jaran Bangkai! Dulu kau dan kawanmu itu pernah kuampuni. kami tidak sudi menyerah. "Hentikan! Hentikan! Jarawaha. Dua penjahat seperti mereka ini sudah sepantasnya diremukkan tulang-belulangnya. besok atau pun lusa.. mestinya kalian berdua sudah tidak mempunyai tangan lagi untuk membuat kejahatan-kejahatan yang baru. "Heheheh. Gebrakannya disambut oleh Jaran Lejong dengan tangkisan pedangnya hingga kedua senjata itu berdenting hebat. "Huuuh! Sombong! Lakukanlah kalau kalian bisa!" "Jaran Lejong! Kalau kalian tidak mau mengalah.. baru satu gebrakan saja mereka terpaksa menghentikan-pertarungan." "Sekarang kita tidak perlu mengampuninya lagi." "Perkataanmu semakin tidak sopan saja! Hiaaaa." timpal Jarawaha menahan marah. Kedua berandal itu masih juga menjadi biang keributan seperti beberapa waktu yang lalu. Tuan Pranaraja.!" Jarawaha tak sabar lagi. kalian akan berhadapan dengan pemerintah Singasari. Benturan dua senjata itu menimbulkan percikan api. bukankah kalian Jaran Bangkai dan Jaran Lejong?" Pranaraja setengah tak percaya melihat siapa yang ada di depan matanya. Ganggadara! Apa yang kalian lakukan? Heh.menggebrak dengan tebasan pedangnya yang sangat tajam." "Tuan Pranaraja! Baik sekarang. benar. . Namun. tanpa menunggu perintah atasannya ia langsung melompat dan menerjang dengan tebasan pedangnya.

Hanya dalam satu gebrakan saja bayangan itu sudah berhasil membuat jungkir balik dua orang prajurit Singasari. Karena itu dia harus berhadapan dengan prajurit-prajurit Singasari. kemudian dilanjutkan dengan empat atau lima orang prajurit lainnya. Dengan pedang panjangnya mereka berusaha membendung serangan yang datang beruntun.!" Prajurit Singasari yang berjumlah dua puluh orang itu secara bergantian menyerang Jaran Bangkai dan Jaran Lejong. Keadaan sejenak menjadi sunyi. "Hentikan! Mundur semua! Munduuurrr. Jarawaha."Hentikan!" bentak Pranaraja sehingga Jarawaha melompat mundur dan menjejakkan kakinya di sisi Pranaraja beberapa langkah. Kadangkala lima orang prajurit menyergap serentak." Seketika para prajurit Singasari pun mundur menjauhi medan perkelahian. kalian jangan hanya menonton! Tangkap dua orang ini! Ringkus merekaaa. Pranaraja marah. "Kau jangan bertindak atas nama pribadimu sendiri.. Kedua prajurit Singasari itu menjerit roboh dan tertelungkup mencium tanah.. Mendadak sebuah bayangan berkelebat ringan dan langsung terjun ke gelanggang pertempuran. Dua orang ini jelas mau menghina pemerintah Singasari. Ayo. Tapi Jaran Bangkai dan Jaran Lejong memang tangkas dan mempunyai kepandaian di atas rata-rata prajurit Singasari. Pranaraja membelalakkan matanya melihat ke arena. Melihat pemandangan seperti itu Pranaraja memberikan aba-aba pada bawahannya. Pertempuran pun berhenti. Di sana berdiri seseorang yang tampaknya pernah dilihatnya. . Darah pun muncrat dari perutnya membasahi tanah.

Tawanya melengking tinggi. dan bila terdengar pada malam hari bisa membangunkan bulu roma. Siapa kau?" bentaknya penasaran melihat sosok orang itu. Sebelum pergi mereka menyebutkan nama mereka lebih dulu. "Kau sudah lupa siapa namaku. Wanita itu mendengus.. "Kauu. Bayangan yang ternyata adalah seorang wanita berwajah cantik itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah Pranaraja. Mereka yang berkumpul di halaman hanya melihat sambil bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya. Tuan. benar. Kau prajurit yang baik. kau pun sepertinya pernah kulihat. "Aku ingat. tapi mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menyeramkan. Pranaraja melompat ke depan. "Ya."Ada yang ikut campur urusan ini. dw Wanita berparas cantik itu terus tertawa memperhatikan kerumunan orang-orang yang menontonnya menjadi tampak bodoh. .." geram sekali Pranaraja menghardik wanita cantik di depannya. Tuan Prajurit?" wanita cantik itu berkata sinis dengan bibir mencibir pada Pranaraja. Senyuman itu sangat manis. Ya. Di tempat yang sama. Kau dan teman laki-lakimu datang dan membawa mereka pergi. Waktu itu aku hampir saja memotong lengan dua perampok itu. Bukankah benar itu namamu?" Jarawaha mengingatkan Pranaraja pada peristiwa beberapa waktu yang lalu." Dewi Sambi mengibaskan rambutnya yang menutupi kening. Dewi Sambi. Wanita berparas cantik itu masih tertawa.

Jaran Lejong?" . saat ini disertai gerakan kaki mengukuhkan kudakuda. "Apakah kau bermaksud membela anak buahmu yang telah membuat kesalahan?" semakin tak sabar Pranaraja bertanya. "Kau telah berkata apa." Dewi Sambi tetap menunjukkan wajah asam.. Jaran Bangkai dan Jaran Lejong pun turut mengangguk dan memberikan hormat pada pimpinannya.. Adi Jaran Lejong yang telah bertengkar dengan orang itu. berpaling pada anak buahnya tanpa menggeser dari tempatnya berdiri dengan kedua kaki kukuh terpancang di tanah. "Apa yang telah kaukatakan pada mereka sehingga mereka merasa terhina. Jaran Bangkai?" "Saya tidak mengatakan apa-apa. Setiap persoalan yang menyangkut diri mereka. apa benar begitu? Biarlah aku akan tanyakan pada yang bersangkutan. Aku pasti ikut campur." telah menghina kami. "Mereka membuat kesalahan? Kesalahan apa?" "Mereka Singasari."Lalu mengapa kau ikut campur urusan kami lagi?" tanya Pranaraja dengan suara berat dan dalam. aku tidak akan berpangku tangan. Tuanku Putri Sambi. "Jaran Bangkai dan Jaran Lejong sudah menjadi orangorangku. Jaran Bangkai dan Jaran Lejong seketika memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan badan mereka." jawab wanita cantik itu tegas. Dewi Sambi memandang Jaran Lejong dengan ekor matanya.. prajurit-prajurit "Hmm. lugas dan penuh kebanggaan.." jawab Jaran Bangkai tegas dan kembali membungkuk hormat.

" "Mengapa tidak mau?" "Soalnya saya tidak berbakat menjadi prajurit. Tapi kalau misalnya saya disuruh menjadi prajurit. daripada menjadi prajurit Singasari. saya. Saya tidak tertarik sama sekali. Kalian saja yang mudah tersinggung. Saya katakan lebih baik saya menjadi seorang pedagang makanan. "Jelas dia sudah menghina kami Dia katakan lebih baik menjadi pedagang makanan. kalian tidak bisa berbuat banyak menghadapi kami berdua?" ejek Jaran Bangkai sambil memegang gagang pedang yang terselip di pinggangnya. Tapi isinya kosong melompong. Bwaaahhh!" ejek Jaran Lejong sambil meludah ke tanah. Jarawaha menerjang sangat kuat ke arah perut dan menghantamkan tangan kanannya pada leher Jaran Bangkai." sahut Dewi Sambi ketus. "Naah! Itu berarti kau menghina kami."Saya.. "Kurang ajar. Hiaaaahhhh!" Jarawaha benar-benar tidak dapat menahan diri. namun ia terkejut karena yang dipukulnya dapat ." tukas Jarawaha dengan suara parau "Yaaa! Prajurit Singasari hanya mentereng pakaiannya." potong Ganggadara menahan amarah. Buktinya.. mudah terhina. "Tidak! Kurasa dia tidak bisa dikatakan menghina. Gentong nasi yang hanya menghabiskan kekayaan negara. "Kalian hanyalah prajurit pajangan. Apalagi prajurit Singasari sekarang ini. saya tidak akan mau. Pemuda berotot itu langsung menggebrak Jaran Lejong yang dianggapnya sangat sombong." Selesai menjawab Jaran Lejong kembali memberi hormat. prajurit-prajurit Singasari. hanya berkata bahwa prajurit Singasari berpakaian bagus.

"Tunggu! Kau tidak usah terburu nafsu menunjukkan ketajaman mata pedangmu!" bentak Dewi Sambi membuat keduanya menghentikan perkelahian. Pemuda berotot itu terhuyung dan roboh ke tanah dengan mendekap dadanya yang terasa sesak. Ia berdiri tegak dan memasang kudakuda sambil mencabut pedangnya. Kalau masih ada yang nekad. Mereka saling menatap tajam dan akhirnya keduanya sama-sama menyabetkan pedang itu. Dari kedua telapak tangan itu meluncurkan tenaga yang sangat dahsyat dan menghantam tepat di dada Ganggadara. Pedang yang sangat tajam itu berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. aku akan mengambil tindakan demi keadilan. akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang . Bahkan wanita cantik itu melompat dan berdiri di antara keduanya.berkelit begitu rupa." "Jangan banyak mulut! Minggir atau ujung pedangku ini akan mencoreng moreng wajahmu dengan darah! Hiaaa!" tiba-tiba Ganggadara ikut menyerang dan menggebrak dengan sabetan pedangnya yang sangat tajam. "Barangsiapa yang masih mau mencoba menyerang kami. "Ohh! Aji Tapak Wisa?" Pranaraja ikut terkejut melihat kenyataan itu. Jaran Bangkai melakukan hal yang sama. Tapi pemuda itu betul-betul terkejut sebab wanita cantik itu sekalipun dibokong dari belakang dapat berkelit dari serangannya. "Minggir kau perempuan! Jangan berdiri di hadapanku!" hardik Jarawaha dengan menggeretakkan giginya. "Aku tidak ingin melihat kalian menyakiti anak buahku. Suara berdenting menambah keriuhan perkelahian itu. bahkan kedua tangannya ditarik tepat di depan dadanya dan kedua tangan itu dihempaskan kearahnya dengan jemari terbuka.

Suaranya nyaring dan mengerikan." keluh Ganggadara makin mendelik. Pranaraja benar-benar penasaran .ini!" ancam Dewi Sambi dengan memandang rendah pada Ganggadara yang matanya mendelik. Pedang itu berkilat-kilat... silakan!" "Huuuh! Kau memang hebat. karena mempunyai pukulan Tapak Wisa... "Hii. Tapi kalau kau sampai kalah. Tapi bukan berarti aku menjadi gentar!" Pranaraja mencabut pedangnya yang tipis tetapi berpamor tinggi. "Dewi Sambi! Kau sudah berani melukai anak buahku. Setiap kali bergerak disertai dengan pekikan-pekikan berkekuatan tinggi. rasanya panas sekali. Dewi Sambi! Kita adu kesaktian! Kalau aku sampai kalah.. dadaku.. "Ayo.. Nah.hii. kalian bertiga harus menyerah dan mau kubawa ke kota Singasari sebagai tawanan!" "Hihihii. supaya tidak mengecewakan anak buahmu yang sekarang melihat tingkah lakumu." Pranaraja tak sabar lagi. boleh! Boleh? Ayo. Ia langsung menggebrak wanita itu dengan tebasan-tebasan maut.. kau boleh pergi bersama dua orang kawanmu itu dan kami mengaku bersalah. "Ehh.. Tahukah kau apa artinya?" tanya Pranaraja dengan sikap waspada. eehh.. napasku. mulailah! Kerahkanlah seluruh kepandaianmu. Dewi Sambi melompatlompat lincah sekali bagaikan burung srikatan bermainmain dengan kutu terbang.. Telapak tangan kirinya terbuka lalu pedang itu ditumpangkan di sana sambil ditarik perlahan seperti mengasahnya. artinya kau mau membelanya bukan? Kau mau turun tangan demi menjaga harga diri seorang prajurit. hidungnya kembang kempis dan bibirnya meletat-meletot karena menahan dada yang sangat sesak akibat pukulan aji Tapak Wisa..

Kedua belah tangan Dewi Sambi terjulur ke depan. lawannya kelihatan belum ada tanda-tanda bisa dikalahkan. Mata Dewi Sambi melotot.. wanita cantik itu terkejut karena hantamannya membentur tenaga dalam yang sangat dahsyat.dan sangat gusar dibuatnya. Angin pedang Pranaraja bersuitan membabat kiri kanan. "Ohh. Sementara Pranaraja dengan cepat memberikan hormat. Sudah lebih dari sepuluh jurus Pranaraja menyerang. berdengung panjang seperti suara gangsingan. "Hiaaaaaiiihhhh!" Dewi Sambi menghantamkan aji Tapak Wisa tepat ke arah dada Pranaraja yang membabibuta menyerangnya. Suara pedang itu bersiut kencang sekali. Ia tidak mau dibikin malu di depan musuh dan anak buahnya. manakala wanita berwajah cantik itu mulai membuka serangan dengan jurus-jurus andalannya. hiaaaaahh!" perwira itu melenting ke udara dan menghempaskan pedangnya ke arah leher wanita itu. Namun. sambil mempererat genggamannya pada gagang pedang maka ia langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Tuanku telah menyelamatkan nyawa saya!" . dan telapak tangannya mengembang. Tapi sekali lagi tebasannya hanya menyambar angin. Bahkan keadaan menjadi berbalik. Pukulannya terbendung oleh sesuatu yang melesat cepat menghadang di depannya. Mulut mungilnya setengah terbuka ketika memperhatikan lelaki tinggi besar berjambang lebat yang berdiri di depannya. Prajurit-prajurit yang melihat menjadi bangga mempunyai seorang panglima muda seperti Pranaraja. Pranaraja menganggap kelakuan Dewi Sambi benar-benar kurang ajar. "Hiaaaa. napasnya terengah-engah menahan geram. Tapi mereka heran sekali. Tuanku..

" lelaki tinggi besar itu menoleh pada Pranaraja yang kuwalahan memapah Ganggadara. aku akan memberimu kesempatan. supaya Paman Hanggareksa melihat luka dalamnya. "Pranaraja! Minggirlah sebentar! Ajaklah Ganggadara ke serambi depan." suaranya yang berat kembali memberi perintah. Siapa tahu pukulanmu lebih lezat dibanding semangkuk arak yang paling enak. "Sabar. "Kalau begitu ampuh sekali pukulanmu itu. Lelaki itu mengangkat dagunya yang kukuh." tukas Dewi Sambi mencibir." Pranaraja tanpa komentar langsung melakukan perintah lelaki tinggi besar dan berwibawa itu. Dewi Sambi! Semua nanti bisa kita selesaikan dengan sebaik-baiknya. "Dia akan mampus kalau aku menggunakan pukulan ilmu Tapak Wisa seluruhnya. Dewi Sambi."Kurang ajar! Siapa kau berani menghadang jurusku yang berbahaya ini?" hardik Dewi Sambi sambil menjejakkan kaki kanannya. "Siapa kau berani turun gelanggang membela prajurit Singasari itu?" tanyanya dengan nada penasaran dan melangkah dua tindak mendekat." "Hmmm." "Kalau kau ingin mencicipinya." "Kau akan menyesal karena kesombonganmu!" . boleh juga. "Cepatlah angkat Ganggadara! Mudah-mudahan luka dalamnya tidak terlalu parah. Suaranya yang berat dan dalam sempat menggetarkan hati Dewi Sambi yang memuji di dalam hati.

"Aku tidak kulakukan!" pernah menyesali apa yang pernah "Hiaaaaihhh! Heeiit! Hiaaaatttt!" Dewi Sambi tak sabar lagi menghadapi musuh barunya. di pihak lelaki perkasa itu tidak kurang herannya. kemampuan Dewi Sambi tak boleh dianggap enteng. Tanpa diminta ia menghentikan serangannya dan memandang serius ke arah lawan barunya sambil menghardik. "Baguuusss! Agaknya kali ini aku mendapat lawan yang seimbang. Karena itu Ranggalawe terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan arus pukulan yang terasa semakin panas dan berbahaya. bisa roboh menjadi korban pukulan maut itu. Sekalipun seorang wanita. Awasss! Berhati-hatilah! Sekarang kau tak bakalan bisa lolos dari jurus berantaiku ini! Hiiaaaaihhh! Heeiiit! Hiaaaah? Hiih! Hiih. Terdengarlah benturan dahsyat yang menggema akibat dua tenaga dalam yang dilontarkan kedua tokoh tangguh itu. Apalagi pukulan Aji Tapak Wisa yang mengandung racun." Dalam gebrakan yang kedua itu Dewi Sambi berputar-putar dengan gerakan-gerakan sangat cepat dan sulit dilihat dengan mata biasa Setiap kali mendapat peluang kedua tangannya dihempaskan ke depan tepat ke arah lawan tangguhnya. kalau sampai dia lengah. laki-laki tegap perkasa yang kini menjadi lawan tandingnya itu ternyata memiliki kepandaian yang mampu mengimbangi permainan jurus-jurus mautnya. Sementara itu. Memang benar apa yang dikatakan wanita berparas cantik yang bernama Dewi Sambi itu. Satu gebrakan pukulannya dapat dielakkan dengan mudah sehingga serangannya hanya terhempas di udara. Ia mundur beberapa tindak dan berusaha melabrak lelaki tinggi besar itu. "Heeeeiiiittt! Hiaaaaaahh!" kembali lagi wanita cantik itu melancarkan serangannya dengan jurus-jurus mautnya. .

Ia melihat prajurit yang dihadapi Dewi Sambi memang prajurit pinilih. Tuan." . tersenyum dingin dan menatap Ranggalawe." "Bukan begitu caranya bercanda. Lelaki cebol itu membenarkan bisikannya. Di punggungnya tergantung tongkat panjang berkepala ular sendok. Dia mampu menahan pukulan Aji Tapak Wisaku. Kata-katanya sudah tidak bisa digolongkan bercanda. Tidak semua prajurit Singasari adalah gentong nasi dan tidak becus bekerja. Kakang. "Hebat! Hebat! Sungguh suatu tontonan yang menarik sekali!" Dewi Sambi menghentikan serangan. tentu saja tidak semuanya. "Orang ini mempunyai tingkat kemampuan cukup tinggi." bisik Dewi Sambi setelah melompat mundur dan menghentikan serangannya. Wanita itu berdiri di samping laki-laki cebol dengan napas memburu.." "Hehehee. Mereka ini kan hanya bercanda saja. Aku akan membuktikan. Tuan tidak perlu merasa tersinggung. Ia melompat ke sisi lelaki cebol bertongkat di punggungya itu. Ketika keduanya semakin sengit bertarung tiba-tiba mendekatlah seorang cebol dengan bertepuk tangan menyaksikan pertarungan itu. bahwa prajurit Singasari tidak seperti yang dikatakan dua orang anak buahmu itu. Akulah pemimpin mereka..Lelaki tegap perkasa itu memagari dirinya dengan tenaga dalam dan mengimbangi serangan dengan jurus-jurus andalannya. Si Cebol itu melangkah. Ia menilai lelaki tinggi besar berjambang lebat itu sebagai pimpinan rombongan. "Tuan! Bukankah Tuan adalah pimpinan rombongan prajurit Singasari ini?" "Ya.

Kemudian mereka akan kubawa ke kota Singasari untuk kuserahkan pada petugas keadilan. bagaimana kalau kita buat semacam taruhan? Mari kita berlaga di atas gelanggang ini. Kalau aku kalah. lelaki cebol dan Dewi Sambi saling pandang sejenak dengan dahi beranyam ." "Hmmmm. Tuan boleh membawa dua orangku itu. Tapi kalau Tuan ternyata dapat kukalah-kan. kejam sekali. Tuan boleh berbuat apa saja atas diri mereka. "Tentu saja aku akan memberinya maaf. Tuan harus membebaskan mereka. sekaligus menganggap persoalan ini selesai sampai di sini." "Taruhan apa itu?" "Kalau kau kalah. Tapi bukan berarti mereka bisa pergi begitu saja. "Maksud Tuan?" "Kedua orang anak buahmu itu akan kuikat dan kuseret dengan kuda sepanjang perjalananku menuju desa Kurawan. Tapi aku menghendaki taruhan yang lebih besar." "Kalau kau membela mereka. aku minta maaf atas kelancangan mereka!" ujar laki-laki cebol itu merendah dengan suaranya yang cempreng."Baiklah." "Ahh. kau dan kawan-kawanmu itu harus mati di tanganku!" Mendengar tantangan yang berat itu." tukas lelaki perkasa itu. Kurasa hukuman dan perlakuan seperti itu tidak mencerminkan keadilan." "Tantanganmu kuterima. dan menganggap mereka tidak bersalah. kau akan mendapat hukuman yang serupa.

tak seorang pun berani mengeluarkan katakata. Ia menghela napas sangat dalam hingga dadanya yang bidang semakin mengembang besar menunjukkan keperkasaannya." Setelah berunding dengan Dewi Sambi. sementara tangan kanannya terletak di atas gagang pedang yang besar. Dewi Sambi melangkah dua tindak mendekati lakilaki cebol itu seraya berbisik. Dia melihat peristiwa di halaman dengan penuh perhatian. maka aku akan meletakkan jabatanku sebagai panglima perang kerajaan Singasari. gagah. Ia serahkan tongkat dari punggungnya pada perempuan cantik di sisinya. sebelum kuserahkan nyawaku padamu!" Suasana terasa sangat panas. Dewi Sambi pun bergidik menerima tongkat berkepala ular sendok dari Bajil. Demikian pula wajah lelaki tegap itu seperti terbakar. Karena begitu tegangnya sampai mereka tidak melihat kehadiran seorang penunggang kuda. . Prajurit-prajurit Singasari. mereka semua yang berkerumun di halaman rumah penginapan itu. "Kakang Bajil! Orang ini menantangmu perang tanding sampai mati!" "Akan kulayani. Orang itu tidak segera turun dari punggung kudanya. Semua menahan napas melihat kedua orang pendekar pilih tanding yang sekarang sudah siap mengadu nyawa. Penunggang kuda yang baru datang itu tinggi. lelaki cebol yang dipanggil Bajil itu tersenyum dingin pada Ranggalawe. Bulu romanya terasa tegak berdiri. Merah padam muka lelaki cebol itu.kerutan. yang terselip di pinggangnya. Matanya menatap tajam. bertubuh tegap perkasa. "Baiklah! Lalu apa yang Tuan pertaruhkan?" "Kalau kau dapat mengalahkan aku.

. Laki-laki tegap perkasa itu merasa tidak repot melayaninya.. Si cebol murka. Karena serangan-serangannya selalu ditelan udara kosong. Hiaaaaiihhh! Huuuuu. Tidak percuma kau memperoleh jabatan itu. Kembali si cebol melompat mundur dengan mengangguk-angguk mengakui lawan tandingnya.. heheheeee.. Ia tersenyum penuh rasa bangga. Si cebol matanya mendelik bagai terbalik hingga yang tampak warna putihnya saja.? Hiaaaaaiihhhh! Wuuuussshhh! Haaaaaiiiihhhh" sambil tertawa-tawa latah si cebol itu menyerang lawannya yang tiga kali lebih tinggi dari tubuhnya. Tetapi ia tidak bisa meremehkan lawannya yang juga memiliki kepandaian tinggi. Tawanya terkekeh cempreng sambil memandang lawannya. hiaaaaahhhhh!" si cebol itu semakin gencar menyerang dengan jurus-jurus mautnya. dan tangan pendek itu begitu gesit menangkapnya. sambil mendengus keras ia melompat ke belakang . "Hhhhh! Pantas kau diangkat menjadi panglima perang Singasari. Sambi! Lemparkan tongkatku!" "Terimalah. Tangan kanannya mengelus tongkat berkepala ular itu dari ujung sampai pangkal. "Babo! Baboo! Tenagamu seperti tenaga dua ekor banteng jantan ditumpuk menjadi satu. mau tak mau ia melompat mundur dengan tawa terkekeh-kekeh dan mengangguk-angguk kagum. terimalah seranganku yang kedua ini. "Majulah! orangmu!" Kau akan kutangkap bersama orang- "Heheheheee.. Tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini. Kakang!" Dewi Sambi melemparkan tongkat panjang berkepala ular sendok."Apakah Tuan sudah siap?" suara cebol itu lantang sekali.. Nah.

"Luar biasa permainan tongkatnya. Tongkat panjangnya berputar kencang sekali bagaikan kitiran. yang tampaknya bisa diangkat dan . Menyambar kiri kanan. Rupanya si cebol ingin melanjutkan dua jurus permainannya yang terdahulu. Tapi lawan tandingnya kelihatan cukup tangguh untuk mengimbangi jurus-jurus maut pendekar dari Gunung Tengger itu. Barangkali hanya Gusti Lembu Sora yang pantas disejajarkan dengan beliau. Kibasan-kibasannya sangat berbahaya." Hati Mpu Hanggareksa agak tenang mendengar penjelasan Pranaraja.. Tongkat panjang yang berputar-putar itu semakin dahsyat sekali. Gusti Ranggalawe bukanlah seorang pendekar sembarangan. heeeaaahhhh!" tanpa menunggu lawannya si cebol langsung menyerang dengan dahsyat. kini ia memainkan tongkat panjang dengan luar biasa. Hati saya menjadi was-was juga.. Ia unjukkan kemahiran yang luar biasa bagaimana tongkat panjang di tangannya bekerja. Tuan Pranaraja. "Hiaaaaihhh. Tuan Hanggareksa." "Jangan cemas.sejauh lima batang tombak. Di istana Singasari beliau tergolong pendekar kelas satu. sekalipun masih belum bisa melihat kenyataan pertarungan keduanya. suaranya membuat kecut hati mereka yang berada di pihak lawannya. Tongkat panjang dengan gagang besi kuningan itu sudah mulai berputar makin lama makin kencang. dan suasana pagi yang cerah mendadak diwarnai udara pembunuhan. Debu mengepul di halaman rumah penginapan itu. Mpu Hanggareksa dan Pranaraja yang menyaksikan pertarungan dari serambi rumah penginapan kelihatan cemas. Ia terus merangsek lawan tandingnya tanpa ampun. Baru pertama ia lihat ada seorang bertubuh cebol.

dilemparkan ke sana kemari dengan mudah, tapi nyatanya pendekar seperti Ranggalawe bisa dibuat kerepotan. Mpu Hanggareksa dan Pranaraja hanya bisa menyaksikan pertarungan itu dengan menahan napas penuh harap cemas. Lebih-lebih si cebol terus menyerang junjungannya dengan gencar. "Haaaaiiiiit! Hiaaatttt! Hiaaaahhhh!" si cebol melenting ke udara undur dari kancah perkelahian. Ia berdiri tepat di sisi Dewi Sambi yang sejak tadi hanya menonton dengan mata melotot. "Bagaimana, Kakang Bajil?" "Panglima perang Singasari ini memang benar-benar tangguh!" "Tapi Kakang masih belum dikalahkan bukan? Kakang masih sanggup melawan?" "Heheheeee...? Napasku masih panjang. Tenagaku masih mampu untuk bertempur dua hari dua malam. Jangan khawatir, Sambi. Kalaupun aku tidak bisa mengalahkan orang ini, dia pun juga tidak bisa mengalahkan aku." Si cebol itu melangkah dua tindak mendekati lawannya. "Bagaimana, Tuan? Apakah masih akan kita teruskan tontonan mengasyikkan ini?" "Huuuh, Bajil! Aku bukan sedang membuat tontonan di halaman rumah penginapan ini. Aku akan menangkapmu dan orang-orangmu itu." "Heheheh! Rupanya Tuan mempunyai pendirian kokoh seperti sebongkah batu karang. Baiklah! Kalau memang demikian, aku terpaksa menggunakan jurus andalanku. Sebab kalau hanya dengan cara seperti ini, aku kira kita bisa bertempur sampai besok lusa, dan tak akan ada yang keluar

sebagai pemenangnya." Bajil tersenyum pada perempuan cantik itu dan mengulurkan tongkatnya, "Peganglah tongkatku ini, Sambi!" si cebol mengulurkan tongkat berkepala ular sendok itu dengan tangan kirinya. Dewi Sambi menyambar tongkat Mpu Bajil kemudian melompat mundur. Sementara Mpu Bajil berdiri tegak sambil meletakkan telapak tangannya di atas dada. Itulah pertanda pendekar Gunung Tengger telah bersiap mengeluarkan jurus pamungkas, yang bernama Aji Segara Geni. Si cebol bibirnya mengatup rapat dengan mata sebentar terpejam dan terbuka kembali dengan mendelik. Si cebol itu sambil tetap menyilangkan tangan di depan dada, mulai menyedot napas perlahan-lahan. Mendadak tubuh orang cebol itu bergetar hebat sekali. Rambutnya seperti ikut bergetar. Panglima Singasari itu tahu bahwa musuhnya kali ini benar-benar unjuk gigi, ingin mengadu kekuatan yang paling dalam dengan adu kesaktian. Maka dia pun segera membuat persiapan. Kedua tangannya membuat suatu gerakan melingkar tiga kali, dan akhirnya bersidekap, sementara kedua matanya terus memancar dengan tajam ke arah lawannya. "Heeeeiiiitt...! Hiaaahhhh! Ajjjii Segarrraa Gennnniiii!" Bersamaan dengan kedua tangan si cebol yang dihempaskan ke depan tepat ke arah dada lawannya terdengarlah ledakan dahsyat karena Aji Segara Geni membentur ajian Zirah Waja yang dikeluarkan Ranggalawe untuk membentengi serangan itu. Dua tenaga dalam yang bertabrakan itu menimbulkan asap tebal hingga membuat para penonton cemas sekali menunggu apa yang akan terjadi pada kedua pendekar tangguh itu. "Ooooohhhh...?" desah mereka berbareng dengan mata melotot. Sebagian ingin melihat dengan jelas. Ada yang

mengucek-ucek matanya dengan punggung tangan, ada yang mendongakkan kepala. "Gusti! Gusti tidak apa-apa?" Pranaraja menyeruak ke depan dan menghampiri junjungannya. Namun, junjungannya menghela dengan tangan kirinya tanpa berkedip memandang si cebol. "Minggirlah, Pranaraja!" Pranaraja dengan cepat melompat minggir dari sisi Ranggalawe. "Heeeeh, Bajil! Kalau kau benar-benar mau mengadu kesaktian dengan Ranggalawe, Ayoooo..., kerahkan seluruh ilmu yang kau miliki! Tapi kau pasti akan binasa di tanganku." Selesai mengucapkan kata-katanya, Ranggalawe segera-menghunus kerisnya yang sudah terkenal ampuh, yang bernama Megalamat. Terdengar suara berdencing mengerikan. Lebih-lebih pamor senjata pusaka itu lambat laun menjalar pada pemiliknya. Setelah menghunus keris Megalamat, mendadak penampilan Ranggalawe berubah. Wajahnya berapi-api dan seluruh tubuhnya seperti bergetar dengan hebatnya. Sementara keris Megalamat tampak mengeluarkan cahaya kemerah-merahan, yang membuat Mpu Bajil sedikit geragapan. Pada saat itulah orang yang duduk di atas punggung kuda melompat ke tengah gelanggang. Ia berdiri membelakangi panglima perang Singasari, lalu perlahan memutar dan terseyum sangat dingin. Melangkah perlahan menghampiri Ranggalawe! dw Bersambung ....

BIODATA PENULIS Buanergis Muryono Buanergis Muryono (Mas Yono), lahir di Jepara 11 Oktober 1966. Lulus dari Fakultas Sastra Jurusan Sejarah disiplin Ilmu Sastra dan Filsafat di Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1991. Ia sangat aktif berteater dari kecil sampai sekarang. Kariernya dimulai sebagai penulis cerita Sanggar Shakuntala, Surakarta (1989-1992), Sanggar Cerita Prathivi Grup, Jakarta (1992-1998), Studio Icons, Bandung (1996-1999). Saat ini ia bekerja sebagai penulis cerita lepas antara lain di Studio Red Rocket, Bandung (1999-sekarang), Studio Duta Animasi Nusantara, Jakarta (1999-sekarang), Studio Wissta Animation & Emperor P.T. UCP, Jakarta (2000-sekarang), dan mengasuh Sanggar Akting Mariska, Jakarta. Karya-karya sandiwara radionya antara lain Misteri Villa Baiduri, Ketiban Pulung (bahasa Jawa), Refangga, Dasa Ratna, Wahyu Astabrata, Kembar Mayang, Kembang Wiswayana, Sauh Kala Bendu, dan masih banyak lagi. Ia juga banyak terlibat dalam penulisan karya animasi dan serial TV, antara lain Timun Mas, Joko Tingkir, 13 Real World Story Dongeng untuk Aku dan Kau, Petualangan Kyko, Ande-Ande Lumut, Nyai Lara Kidul, Lima Pohon Sorga, Ajisaka, Kodok Ngorek, dan Puteri dalam Lukisan. Aktif menulis buku-buku panduan yang telah diterbitkan di beberapa penerbit antara lain: Teater untuk Anak (1997), Menjadi Artis Dubber Professional (1997), Menjadi Artis Ngetop (2000), Menjadi Artis Model, (2000) dan Seni Produksi Animasi (2000). Cerita, Screenplay, dan design produksi animasi Mas Yono dalam Dewi Mayangsari produksi Emperor Home Video, WISSTA FILM, dan DOT menjadi Pemenang

ia juga mengolah naskah serial sandiwara radio dari novel Nagasasra Sabuk Inten. ia berantologi dalam Graffiti Gratitute. dan Pangeran Jaya Kusuma (Herman Praktikto). menerbitkan dua album Puisi Nurani yang Tercerabut dan Suara Sahabatku (1997). . Mintardja). sebagai penulis dan sutradara. Sepasang Ular Naga di Satu Sarang (SH. Bersama penyair Cyber.Festival Film Animasi 2001 kategori VCD. Selain itu. ia telah aktif bergumul di dunia kesenian sejak remaja. Tidjab lahir di Solo. Tidjab S. ia juga sangat aktif membuat lakon/cerita panggung. S. Di samping itu. Karya tulisannya untuk sinetron TVRI antara lain: Pasien Terakhir. Kesejahteraan Tani dan Desa versi Jawa dan Indonesia. 2001. Mahkota Mayangkara (720 seri). Menulis dan menyutradarai video dokumenter Penyu Laut dalam Bahaya. Kaca Benggala (720 seri). Sopir Opelet. dan Becak untuk Sanggar Prathivi. Pelangi di Langit Singasari. Salah satu pendiri Teater Kecil ini memiliki pengalaman yang cukup matang sebagai penulis. Cerita Film dan Video Si Pahit Lidah (1999) dan Surat dari Ibunda (1996) mendapat penghargaan dari Deppen RI. Sang Guru. yaitu Klilip dan Putri Bulan (script) produksi Red Rocket Animation dan Son of Earth (cerita dan screenplay). Karya tulisannya dalam sandiwara radio adalah serial Tutur Tinular (720 seri). Pohon Anggur. Dua karyanya menjadi Nominator Festival Film Animasi 2001 kategori TV seri. ia mengasuh program ABC Drama. Menjadi Karyawan Sanggar Prathivi tahun 1983-1990. Kidung Keramat (720 seri).

26 episode untuk RCTI. Mahkota Majapahit. Mahkota Mayangkara 52 episode untuk TPI. .Menulis skenario Film Tutur Tinular I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful