P. 1
5.Hidrometri

5.Hidrometri

|Views: 766|Likes:
Published by Jayuz Tawi Putra

More info:

Published by: Jayuz Tawi Putra on Jan 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2014

pdf

text

original

HIDROMETRI

Teknik Hidrologi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Pokok Bahasan
1. Prinsip Hidrometri 2. Pengukuran Muka Air 3. Pengukuran Debit 4. Liku Kalibrasi

1. Prinsip Hidrometri
Hidrometri
ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran air. (air permukaan dan caraair. air bawah permukaan termasuk air di danau, rawa dan di formasi geologi dibawah permukaan) permukaan) ilmu untuk mengumpulkan data dasar bagi analisis hidrologi.

Cakupan Hidrometri
kegiatan pengukuran air permukaan dan air bawah permukaan termasuk air di danau, rawa dan deformasi geologi di bawah permukaan.
Dalam analisis hidrologi, atau khusus hidrograf aliran, ada dua data dasar yang diperlukan yaitu tinggi muka air dan debit.

PENDAHULUAN
Menurut (Chow 1988) pengukuran besaran-besaran hidrologi besarandapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu : pengukuran terusterusmenerus pada tempat tertentu, seperti hanya pengukuran hujan distasiun tertentu, yang akan menghasilkan data runtun-waktu (time runtunseries) dan sejalan dengan perkembangan teknologi, dimungkinkan pengukuran sample terdistribusi pada waktu spesifik, yang akan menghasilkan data runtun-ruang (space series). runtun-

STASIUN HIDROMETRI
Dalam penempatan atau pemilihan stasiun hidrometri, terdapat dua pertimbangan yang perlu diperhatikan, yaitu : jaringan hidrologi di seluruh Daerah Aliran Sungai, dan kondisi lokasi yang harus memenuhi syarat tertentu. syarat Dalam penempatan dan pemilihan lokasi untuk stasiun hidrometri, harus memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal dibawah ini : Kebutuhan Data, Keterikatan satu stasiun dengan stasiun lain dan status keberadaan stasiun hidrometri. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi penempatan stasiun hidrometri (Boyer, 1964, Horst, 1978), antara lain :

Beberapa metode pengukuran dalam hidrometri
pengukuran dengan ultrasonik. pengukuran dengan elektromagnetik. pengukuran dengan optik. pegukuran dengan memakai frictionless contacts dan electronic counter dalam current meter. pengukuran dengan menggunakan perahu. pengukuran dengan memanfaatkan telemetri. pengukuran dengan menggunakan transducers, digital recorders, transducers, recorders, dan remote sensing. sensing.

Mudah dicapai setiap saat dan dalam segala macam kondisi. Status keberadaan stasiun hidrometri. 2. Keterikatan satu stasiun dengan stasiun lain. 1978 dalam Sri Harto. 4. maka diperlukan suatu ketepatan yang sangat tinggi dalam menentukan posisi stasiun hidrometri. maka penampang sungai / sungai dapat diperkuat dengan pasangan batu / beton. 2000) 1. 1964 dan Horst. Dalam hal pengelolaan air. Tidak diganggu oleh pertumbuhan tanaman air. 6. akan tetapi didasarkan atas pertimbangan setempat dan sesaat. 5. 3. baik untuk kepentingan sekarang maupun untuk rencana pengembangan yang akan datang.Pertimbangan dalam Pemilihan Lokasi Stasiun Hidrometri (Sri Harto. (backwater). Syarat yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi stasiun hidrometri (Boyer. Tidak terganggu oleh pembendungan di sebelah hilir (backwater). 7. atau stasiun sekunder atau stasiun khusus. 2000) 1. apabila pada sungaisungaisungai kecil atau saluran tidak dijumpai penampang yang stabil. Masing-masing Masingmempunyai maksud pemasangan yang berbeda-beda. apakah merupakan stasiun dasar. Di bagian sungai yang peka. berbedaPenempatan stasiun hidrometri di Indonesia saat ini belum didasarkan atas pertimbangan hitungan-hitungan jaringan. Di bagian sungai dengan penampang stabil. Di bantaran sungai apabila tidak terjadi aliran pada saat banjir besar. musim hujan maupun musim kemarau. dalam satu jaringan jaringan hidrometri yang terpadu. 2. Di bagian sungai yang lurus dan aliran yang sejajar dengan jangkau jangkau tinggi permukaan yang dapat dijangkau oleh alat yang tersedia. 3. . Kebutuhan data.

Contoh Penempatan Stasiun Hidrometri 2. karena hampir semua variabilitas unsur aliran lainnya dikaitkan dengan variabilitas tinggi muka air. Alat pencatat elevasi muka air dapat berupa papan duga dengan meteran (staff gauge) atau alat pengukur elevasi muka air otomatis (staff gauge) (AWLR). Elevasi tersebut dapat diukur terhadap datum (elevasi referensi) yang bisa berupa elevasi muka air laut rerata atau datum lokal (bench mark). bangunan pengambilan air atau tempat penting lainnya. mark). . Pengukuran Muka Air Elevasi muka air merupakan salah satu unsur aliran yang sangat penting. Pengamatan muka air dilakukan di lokasi di mana akan dibuat bangunan air seperti bendungan.

Jenis Tekanan air . Pencatat Muka Air Otomatis (AWLR) 4.Metode Pengukuran Elevasi Muka Air 1. Jenis Pelampung 3. Papan Duga 2.

Jenis Papan Duga (Sri Harto. 2000) Papan Duga Tunggal Papan Duga Miring Papan Duga Bertingkat .

maka harus dipilih tempat yang memungkinkan pengamatan seluruh keadaan permukaan air. Tidak terdapat banyak sampah dan sejenisnya. Untuk pemasangan alat ukur permukaan air sungai. yang dapat mengganggu pembacaan. Dapat dibaca sedekat mungkin oleh petugas. yang dapat dipasang di tepi sungai atau pada suatu bangunan seperti jembatan. sehingga ketinggiannya terhadap ketinggian referensi tidak berubah. Bahan dari kayu atau plat baja yang diberi ukuran skala dalam sentimeter. Pemasangan Papan Duga Pemasangan di atas landasan (pondasi yang kokoh. bendungan.Alat Ukur Elevasi Muka Air tipe Papan Duga Papan duga merupakan alat paling sederhana untuk mengukur elevasi muka air. dan sebagainya. Sebaiknya ketinggian di masing-masing papan duga telah diikat dengan ketinggian referensi. . dari batas terendah sampai batas tertinggi.

2. Alat Ukur Elevasi Muka Air Jenis Pelampung Jenis Richard : jenis ini mempunyai alat yang mencatat perubahan permukaan muka air pada kertas pencatat yang dilingkarkan pada drum / silinder dengan sumbu vertikal yang diputar oleh jam. Drum dengan kertas pencatat ini digerakkan oleh roda sebanding dengan permukaan air. Jenis Roll : jenis ini mempunyai peralatan yang menggerakkan putaran sudut roda pemutar yang mengikuti perubahan permukaan air menjadi pergerakan roda ulat (worm gear) sehingga pena (worm gear) pencatat itu bergerak horisontal yang mencatat perubahan permukaan air itu pada kertas pencatat yang dilingkarkan pada drum dengan sumbu horisontal. Pencatatan dilakukan oleh pena pencatat yang merubah permukaan air itu menjadi putaran sudut. Jenis Fuess : jenis ini mempunyai peralatan yang mencatat perubahan permukaan air pada kertas pencatat yang dilingkarkan pada drum / silinder yang berputar. Jenis ini mempunyai arah pencatatan yang langsung mudah dibaca.2. Alat Ukur Tipe Pelampung .

Pelampung tersebut mengikuti gerak naik turunnya muka air dan gerak tersebut ditransfer ke roda gigi yang mereduksi fluktuasi muka air (fluktuasi muka air biasanya lebih besar dari tinggi kertas kertas pencatat). pipa penghubung dan sumur harus bebas dari lumpur papan duga acuan harus selalu tepat sesuai dengan tinggi acuan . maka diperlukan diperlukan satu alat yang dapat merekam setiap gerakan muka air secara otomatik yang otomatik disebut Automatic Water Level Recorder (AWLR). Hasil pencatatan berupa grafik fluktuasi muka air sungai sebagai fungsi waktu. Automatic Water Level Recorder Elevasi muka air sungai dapat tercatat secara kontinyu sepanjang waktu. Dalam pemakaian terdapat beberapa jenis AWLR baik yang menggunakan pelampung maupun pneumatik.2. sebagai berikut : berikut o o o sumur penenang harus selalu dalam keadaan terpelihara. Lambie (1978) memberikan beberapa petunjuk dalam operasional alat jenis AWLR.3. Untuk mendapatkan data yang akurat. Roda gigi tersebut dihubungkan dengan pena pencatat yang mencatat pada kertas grafik yang digulung pada silinder yang yang berputar. Alat ukur yang banyak digunakan di Indonesia adalah dengan menggunakan pelampung yang dilindungi dengan sumur pengamatan agar gelombang dan aliran tidak mengganggu pada saat pencatatan. Automatic Water Level Recorder (AWLR) Apabila data tinggi muka air di perlukan disuatu sungai.

S tilling w ell R ecorder F lcod stage G round surface F lusing tank W ater surface V alpes Intakes Hasil Rekaman Alat Ukur Otomatis (Sri Harto. 1987) . 2000) Alat Pencatat Muka Air Otomatis (Sosrodarsono.

.4. Alat pengukur ini tidak menghalangi aliran sungai dan dapat meneruskan tekanan air melalui pipa tekan. Alat pengukur tekanan diletakkan di dasar sungai. Alat ini dapat ditempatkan pada bagian yang terdalam dari sungai dan alat ini dapat digunakan pada sungai-sungai kecil di pegunungan yang sungaipada musim kemarau airnya menjadi kecil.2. ditiadakan). Alat Ukur Elevasi Tipe Tekanan Prinsip kerja: hubungan yang linier antara tinggi muka air dan tekanan air (jika gaya gelombang ditiadakan).

Alat Ukur Jenis Tekanan (Sosrodarsono.V dengan : Q = debit (m3/s) A = luas penampang (m2) V = kecepatan air rata-rata (m/s) . Q=A. Kedua parameter tersebut dapat diukur pada suatu tampang melintang sungai. Pengukuran Debit Debit aliran dapat diperoleh dengan mengalikan luas tampang aliran dan kecepatan aliran. 1987) 3.

Dalam praktek terdapat dua cara pengukuran debit yaitu pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. maka pengukuran debit sungai dilakukan dengan membagi tampang sungai menjadi sejumlah pias. 6. 7. Metode Pengukuran Debit 1. Slope Area Method 2. 5. Pengukuran Langsung 1. 4. 2.Mengingat bahwa sungai mempunyai bentuk tampang lintang yang tidak teratur dan kecepatan aliran juga tidak seragam pada seluruh tampang. Di setiap pias diukur luas tampang dan kecepatan reratanya. 3. Pengukuran dengan Current Meter Pengukuran Dengan Pelampung Pengukuran Dengan Velocity Head Rod Pengukuran Dengan Thrupp’s wake (ripple) meter Thrupp’ Pengukuran Elektromagnetik Pengukuran Ultrasonik Pengukuran Dengan Bahan Terlarut 2 Pengukuran Tidak Langsung 1. Bangunan Ukur .

maka pengukuran dilakukan dengan membagi penampang saluran dalam beberapa bagian. Meter. Velocity Head Rod atau dengan memanfaatkan Pelampung. Terlarut. Untuk memperoleh kecepatan pada seluruh penampang sungai. Metode Pengukuran Langsung Metode Pengukuran Langsung digunakan jika kedua parameter pengukuran (kecepatan dan luas tampang) dapat diukur.1. Current meter Current meter merupakan alat untuk mengukur kecepatan arus Current meter hanya dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pada suatu penampang sungai. Pengukuran kecepatan dengan bantuan Current Meter. Pelampung. 2. . sistim Elektromagnetik dan Ultrasonik maupun dengan dengan Bahan Terlarut.

Pengukuran Dengan “Current Meter” Meter” Alat ini pada dasarnya hanya mampu mengukur kecepatan air tepat dititik tengah Propeller atau titik tengah cup (mangkok).8 H 2 . maka dapat dilakukan pengukuran pada dua titik dengan kedalaman masing-masing 0. PENGUKURAN SECARA LANGSUNG 1. = jumlah putaran dalam waktu tertentu.8 H dan kecepatan masingrata-rata dihitung dengan persamaan : rata- V = V0.PENGUKURAN DEBIT SUNGAI A.B = kecepatan arus sungai dalam m/det.6 H. Kecepatan Rata-rata Mengacu pada profil teoritik distribusi kecepatan vertikal. maka kecepatan rata-rata vertikal dapat dianggap sama dengan ratakecepatan yang terukur pada kedalaman 0.2 H dan 0. ditentukan dari kalibrasi. = tetapan.2 H + V0. sehingga kecepatan arus air diperoleh sebagai fungsi jumlah putaran propeller atau cup dengan persamaan berikut : V = A+ nB dimana : V n A. Apabila dikehendaki pengukuran yang lebih dari satu titik.

V = V0.8 H 3 Untuk pengukuran 4 dan 5 titik dapat digunakan persamaan sebagai berikut: V + 2V0. 2 H 4 V = V p + 3V0.8 H + Vd 10 Ada dua tipe alat ukur current meter yaitu tipe mangkok (Price cup current (Price meter) dan tipe balingmeter) balingbaling (Propeller current (Propeller meter).6 H + V0. . Jumlah putaran per satuan waktu dapat dikonversi menjadi kecepatan arus. dapat dipergunakan persamaan untuk pengukuran tiga titik.2 H + V0.2 H + 2V 0.6 H + V0.6 H +3V0. sedang tipe kedua balingbalingbaling berputar terhadap sumbu horizontal.Kecepatan Rata-rata Apabila dikehendaki pengukuran di lebih banyak vertikal. mangkok-mangkok berputar mangkokterhadap sumbu vertikal. meter).8 H V = 0. Pada tipe pertama.

Meskipun demikian. maka pengukur masih diperbolehkan melakukan pengukuran dengan cara ini. hal ini bukan merupakan patokan karena meskipun kedalamnya kurang dari satu meter.Perhitungan Debit Debit penampang sungai dihitung dengan persamaan: dengan : Q = debit penampang sungai (m3/s) qi = debit tiap segmen (m3/s) Q = ∑ qi Untuk mean area method: qi = b ⋅ d n + d n+1 Vn +V n+1 ⋅ 2 2 Untuk mid area method: qi = Vn ⋅ d n ⋅ (0. – Apabila kedalaman air masih sekitar satu meter.5bn + 0. di hilir current meter dengan sudut 45º sepanjang lengan. tetapi kecepatan airnya besar. maka hal ini akan membahayakan pengukur atau pengukur tidak dapat melakukan pengukuran dengan ketelitian tinggi. Biasanya pengukur berdiri menghadap arus.5bn+1 ) q i = Vn ⋅ d n ⋅ bn Pelaksanaan Pengukuran 1. . Dengan cara menyeberang (wading) (wading) – Cara ini dilakukan oleh pengukur dengan cara menyeberang sungai dan mengukur di vertikal yang telah ditetapkan sebelumnya. 45º – Pengukuran dengan cara ini hanya dapat dilakukan pada kedalaman dan kecepatan yang sedemikian sehingga tidak membahayakan pengukur.

Pelaksanaan Pengukuran 2. Untuk pengukuran ini current meter dipasang pada kabel yang digulung pada satu penggulung yang dapat diketahui.6 H + 3V0. Dengan kabel (cable gauging) – Pengukuran dengan kabel pada dasarnya dilakukan dengan cara yang sama. Apabila dikehendaki pengukuran 5 titik.2 H + 2V0.8 H + Vd 10 . Perbedaanya terletak pada penggantung untuk current meternya. Pengukuran dengan cara ini dapat dilakukan dari atas jembatan atau dengan menggunakan perahu. maka persamaan menjadi : V= V p + 3V0.

Dalam lainprakteknya terdapat beberapa jenis pelampung yang disarankan. dan pelampung jenis batang. tandai kedua titik tersebut dengan bagian hulu sebagai titik 1 dan bagia dan hilir sebagai titik 2. : pelampung jenis permukaan. yaitu : yaitu 1. Pengukuran Menggunakan Type Pelampung Pada dasarnya semua benda yang dapat mengapung seperti kayu. pelampung dengan pemberat. Prinsip kerja menggunakan pelampung dapat diuraikan sebagai berikut berikut awal langkah adalah menentukan dua titik atau garis tegak lurus dengan arah aliran sungai. . pelampung ditempatkan pada garis 1 dan dibiarkan hanyut sampai pada garis 2. bola bola plastik dan lain-lain dapat digunakan sebagai alat ukur kecepatan. dimana kedua titik memiliki jarak (L) tertentu.2. 2. 3.

85 untuk keadaan normal α ~ 0.5 meter α ~ 0. Horst (1979) mengusulkan besar koefisien koefisien sebagai berikut : Pelampung permukaan : α ~ 0. bola plastik dan lain-lain. Pada dasarnya semua benda yang mengapung. Biasanya cara ini dilakukan pada waktu banjir di mana pemakaian current meter sulit dilakukan. tandai kedua titik tersebut dengan bagian hulu sebagai titik 1 dan bagia dan hilir sebagai titik 2. Meskipun demikian dalam praktek terdapat beberapa jenis pelampung yang disarankan seperti sketsa berikut: . besaran tersebut perlu dikalikan dengan koefisien aliran α < 1. dari hasil praktek ini diperoleh kecepatan aliran menggunakan persamaan berikut : V = L t Besaran kecepatan yang diperoleh adalah kecepatan permukaan air dan untuk memperoleh kecepatan penampang.dalam proses mengalirnya pelampung dari titik 1 hingga titik 2 dihitung dihitung waktu (t) yang diperoleh menggunakan stop watch. seperti kayu. Nilai α tergantung dari jenis pelampung yang digunakan. dapat digunakan sebagai alat untuk lainmengukur kecepatan.90 untuk kedalaman 3 – 4 meter 2. Pengukuran Dengan Pelampung Prinsip kerja: Mengukur selang waktu yang diperlukan oleh Mengukur pelampung untuk menempuh suatu jarak tertentu.60 untuk kedalaman < 0. atau pada survei pendahuluan.

00 A B C A: Pelampung permukaan B: pelampung dengan pemberat C: Pelampung batang Gambar beberapa jenis pelampung (Sri Harto.Pelampung dengan pemberat α ~ 1. Alat ukur ini dimasukkan kedalam saluran dengan sisi tajam menghadap ke hulu dan tinggi air dibaca (H1). yaitu : H= V2 2g dengan : H v g : : : tinggi kecepatan dalam meter kecepatan dalam m/det. Alat ini hanya direkomendasikan untuk kecepatan antara 0. Pengukuran dengan cara ini memanfaatkan prinsip yang digunakan dalam pitot meter.85 – 1.5 m/dtk. Pengukuran Menggunakan Velocity Head Rod Alat ukur ini terdiri dari papan berskala. selanjutnya alat tersebut diputar 90o tegak lurus arah aliran dan tinggi air dibaca (H2).5 – 2. 2000) 3. α ~ 0. mirip dengan papan duga yang duga salah satu sisinya dipertajam. Tinggi kecepatan diperoleh dari selisih dua pengukuran tinggi permukaan air ( permukaan H2 . gravitasi .H1 ).00 Pelampung jenis batang.

yaitu : H= V2 2g .H1 H2 90o Pengukuran Dengan Velocity Head Rod Prinsip pengukuran didasarkan pada persamaan pitot meter.

Pengukuran Dengan Thrupp’s wake (ripple) meter Alat ukur ini dapat dimanfaatkan untuk pengukuran dengan ketelitian yang cukup. terbentuk. Pengukuran Menggunakan Thrupp’s Wake Meter Thrupp’ Sistem kerja alat ini adalah dua batang tegak lurus dengan aliran air aliran ditancapkan dengan jarak tertentu (W). Karena dalam pengukuran sudut di sungai sulit dilakukan. maka digunakan dua batang yang dipasang dengan jarak tertentu dan pengukuran sudut diganti dengan pengukuran jarak antara sumbu penghubung dua batang tersebut dengan titik potong antara dua gelombang yang terbentuk. titik- W H = C + X . 4. untuk kecepatan di atas 1 m/det. Maka pengukuran sudut diganti diganti dengan pengukuran jarak antara sumbu penghubung dua batang tersebut tersebut dengan titik-potong antara dua gelombang yang terbentuk.L L .

280 0. : tetapan sebesar 0.109 Pengukuran Elektromagnetik Prinsip dasar dari pengukuran ini adalah pengukuran tegangan yang yang ditimbulkan oleh aliran air melewati medan magnet (Herschy.dengan : V C X : kecepatan permukaan dalam ft/det.161 0. 2000). 1982 dalam Sri Harto.206 0.145 0. rata- . Tegangan ini sebanding dengan kecepatan air rata-rata.40 : variabel yang besarnya tergantung dari nilai W W ( Inchi ) 4 6 8 9 12 X 0.

baik kearah tranducers di sebelah hulu maupun tranducers ke arah hilir.Pengukuran dengan Ultrasonik Pada dasarnya pengukuran dengan ultrasonik memperoleh besaran kecepatan dari perbedaan waktu yang diperlukan oleh pulsa ultrasonik yang diarahkan secara diagonal. Pengukuran Dengan Bahan Terlarut Prinsip pengukuran ini adalah dengan menginjeksikan bahan terlarut (tracer) di titik injeksi dan mengambil sampelnya di (tracer) sebelah hilir dalam jarak tertentu. . Pengukuran ini hanya dapat dilakukan dalam satu penggal sungai yang mungkin sampai beberapa kilometer saja.

3.1.2. Slope Area Method Cara ini baik digunakan untuk bagian sungai yang lurus dan seragam untuk menghitung debit puncak. Dengan Bangunan Ukur 3. Tinggi muka air maksimum yang diperlukan untuk hitungan ini dapat diperoleh dari data banjir pada suatu tebing sungai setelah terjadi banjir. Ponce (1989) dan Mosley dan Mc Kerchar (1993) menunjukkan beberapa cara pengukuran secara tidak langsung. Pengukuran tidak langsung terbagi atas dua cara yaitu: 1. Boyer prinsip(1964). Barnes dan Davidian (1978). Dengan Slope Area Method 2. Kecepatan aliran dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan Manning: Manning: v=C 1 2 / 3 1/ 2 R⋅ S ⋅ n v = kecepatan (m/s) C = tetapan = 1 untuk unit metrik R = radius hidraulik S = kemiringan dasar saluran n = kekasaran manning .2 Pengukuran Tidak langsung Pengukuran secara tidak langsung memiliki pengertian sebagai upaya memperoleh besaran debit yang dilakukan setelah kejadian banjir yang sangat cepat dengan memanfaatkan prinsip-prinsip hidraulika.

3. Pengukuran Dengan “Slope-Area Method” SlopeMethod” Tinggi muka air maksimum yang diperlukan untuk hitungan ini dapat diperoleh dengan data dari ‘crest gauge’ atau data bekas banjir yang dapat diperoleh di tebing sungai setelah terjadi banjir. beda ketinggian paling sedikit 15 cm. beda ketinggian paling sedikit sama dengan tinggi kecepatan. . 1. Luas penampang melintangsungai diperoleh dari rat-rata tiga penampang sungai dan kecepatan Menurut Barnes (1978) dan Ponce (1989) menunjukkan bahwa dalam persamaan Manning mengandung beberapa faktor yagn spesifik terhadap sifat saluran yang disebut ‘conveyance’ .1. panjang penggal sungai hendaknya paling sedikit 75 x kedalaman air ratarata. 2. Dengan demikian persamaan debit menjadi Q=K S Dari beberapa pertimbangan Barnes (1978) menyarankan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan penggal sungai untuk pengukuran.

Bangunan Ukur Debit dapat diperoleh dengan memanfaatkan bangunanbangunanbangunan ukur seperti bendung. Barnes (1978). Pengukuran ini dilakukan bila cara-cara yang lain tidak caramenguntungkan. Boyer (1964 ). sehingga ada hubungan antara debit dan tinggi muka air. contracted gorong opening (penyempitan) dan flume. gorong-gorong. Bendung . flume. yaitu : a. Penyempitan b. Horst (1979) dan penulis lain menunjukkan berbagai cara konvensional untuk memperkirakan debit sungai dengan beberapa macam bangunan ukur. Bangunan ukur dapat dibuat sedemikian rupa.

K + L ⎛Q ⎞ hf = Lw ⎜ Q ⎜ K ⎟ Kh k ⎟ k ⎠ ⎝ ⎝ ⎠ 2 dengan : Lw = panjang beda tinggi muka air di hulu dan di penyempitan. Δh = beda tinggi muka air di hulu dan dipenyempitan. VA = kecepatan rata-rata di hulu. hf = kehilangan energi akibat gesekan Barnes memberikan persamaan untuk kehilangan energi (hf) yang terjadi : ⎛ 2 ⎞ . VA = kecepatan rata-rata di hulu.a. Penyempitan Pada kondisi seperti ini Boyer dan Barnes menyarankan agar menggunakan persamaan berikut : 2 ⎛ VA − hf 2 g ⎜ Δh + α ⎜ 2g ⎝ Q = C . Kh = conveyance di bagian hulu. Ac = luas penampang minimum pada penyempitan. α = pertimbangan kecepatan rata-rata dihulu. hf = kehilangan energi akibat gesekan . L = panjang kontraksi. Ac ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ dengan : C = koefisien debit. Kk = conveyance di kontraksi.

021 0.588 0.064 0.9 9.018 0.5 0. Bendung White memberikan persamaan umum untuk pelimpah ambang lebar berbentuk persegi sebagai berikut : Q = (2 / 3) F . 5 .8 0.2 0.1 0 0.599 0.602 0.023 H/p H/p H/p H/p H/p H/p H/p H/p H/p H/p H/p Kindsvate dan Carter (Bos.848 Persamaan umum untuk pelimpah ambang lebar berbentuk persegi sebagai sebagai berikut : 2 Q= C 3 2 g L H 1.6 0.002 0.7 0.045 0.4 0.011 0.589 0.595 0.006 0.030 0.075 0.592 0. L gh3/ 2 3/ 2 dengan koefisien F bernilai 1 dan koefisien Cd dengan nilai : 0. 1978) memberikan persamaan penampang bentuk segitiga : Q= 8 C 15 2 g tan θ 2 H e2 .591 0.590 0.018 0.a.587 + + + + + + + + + + + C 0.0 0.593 0.597 0.5 Bos (1978) memberikan nilai koefisien C yang merupakan fungsi b/B dan H/p dalam bentuk tabel berikut Tabel Nilai Koefisien C sebagai fungsi b/B dan H/p b/B 1.3 0.Cd .

yaitu menghubungkan titik-titik pengukuran dengan garis lengkung di atas kertas titikgrafik. su Hubungan grafis antara variabel tinggi muka air dan debit dapat dilakukan dengan cara sederhana. Liku Kalibrasi Liku kalibrasi adalah hubungan grafis antara tinggi muka air dan debit Liku kalibrasi dapat diperoleh dengan sejumlah pengukuran yang terencana.H h b 4. . dan mengkorelasikan dua variabel yaitu tinggi ti muka air dan debit di suatu stasiun hidrometri.

B H ∆H tetapan tinggi muka angka koreksi. antara nol papan duga dan angka papan duga dengan Q = 0 Contoh kalibrasi untuk DAS Progo Di Bantar .Persamaan yang selama ini banyak dipakai untuk menggambarkan liku kalibrasi adalah : Q = A (H+∆H)B (H+∆ Q debit (m3/s) A.

Sekian & Terima Kasih .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->