P. 1
Cara Pemeriksaan Neurologi

Cara Pemeriksaan Neurologi

|Views: 8|Likes:
Published by Robby Zayendra

More info:

Published by: Robby Zayendra on Jan 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2014

pdf

text

original

Cara Pemeriksaan Neurologi

CARA PEMERIKSAAN NEUROLOGI : Cara pemeriksaan Anamnesis. : Cara pemeriksaan Kesadaran. : Cara pemeriksaan Rangsang Meningeal. : Cara pemeriksaan Saraf Kranialis. : Cara pemeriksaan sistim Motorik. : Cara pemeriksaan sistim Sensorik. : Cara pemeriksaan Refleks. CARA MELAKUKAN ANAMNESIS . ANAMNESIS yang baik membawa kita menempuh setengah jalan kearah diagnosis yang tepat . • Biasanya pengambilan anamnesis mengikuti 2 pola umum yaitu: -Pasien dibiarkan secara bebas mengemukakan semua keluhan serta kelainan yang dideritanya. -Pemeriksa ( dokter ) membimbing pasien mengemukakan keluhannya atau kelainannya dengan jalan mengajukan pertanyaan tertuju.

CARA MELAKUKAN ANAMNESIS • “ Keluhan utamanya “ yaitu keluhan yang mendorong pasien datang berobat ke dokter. • Kemudian ditelusuri tiap keluhan dengan mencari “Riwayat penyakit yang sedang dideritanya.” • Mulai timbulnya • Krononologi timbulnya gejala gejala. • Perjalanan penyakitnya dimana perlu ditanyakan. – Lokalisasi keluhan atau kelainan. – Bagaimana sifat keluhan atau kelainan? – Seberapa kerasnya keluhan atau seberapa besarnya kelainan itu? – Kapan timbulnya dan bagaimana perjalanan selanjutnya. – Bagaimana mula timbulnya? – Faktor-faktor apakah yang meringankan atau memperberat keluhan, gejala atau kelainan? – Gejala – gejala atau tanda – tanda patologik apakah yang menyertai /mengiringinya? CARA MELAKUKAN ANAMNESIS • Terapi dan segala pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya.

• Diagnosa penyakit penyakit sewaktu di rawat sebelumnya. • Uraian mengenai perjalanan penyakit selama masa diantara perawatan terakhir dan saat pasien diwawancarai ini. • Bagaimana dengan nafsu makan, pola tidur, pekerjaan dan kehidupan sosial keluarga selama ini. • Bagaimana efek psikologi terhadap penyakitnya yang diderita nya. CARA PEMERIKSAAN KESADARAN . • PEMERIKSAAN KESADARAN dapat dinyatakan secara kwantitatif maupun kwalitatif. Cara kwantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale dipandang lebih baik karena beberapa hal. – Dapat dipercaya. – Sangat teliti dan dapat membedakan kelainannya hingga tidak terdapat banyak perbedaan antara dua penilai ( obyektif ). – Dengan sedikit latihan dapat juga digunakan oleh perawat sehingga observasi mereka lebih cermat. CARA PEMERIKSAAN KESADARAN . • CARA PEMERIKSAAN KWANTITATIF (GLASGOW COMA SCALE ) – MEMBUKA MATA. – RESPONS VERBAL ( BICARA ). – RESPONS MOTORIK ( GERAKAN ). PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS) TAMPAKAN SKALA NILAI EYE OPENING SPONTAN 4 DIPANGGIL 3 RANGSANG NYERI 2 TIDAK ADA RESPONSE (DIAM) 1

PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS) TAMPAKAN SKALA NILAI VERBAL RESPONSE ORIENTASI BAIK 5 JAWABAN KACAU 4 KATA-KATA TIDAK PATUT (INAPPROPRIATE) 3 BUNYI TAK BERARTI INCOMPREHENSIBLE 2 TIDAK BERSUARA 1 PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS) MOTOR RESPONSE

Pasien masih dapat dibangunkan dengan rangsang • yang kuat . Refleks kornea positif kedua sisi 2 • negatif 1 • 3. • Sopor • Koma – ringan. Refleks bulu mata positif kedua sisi 2 • negatif 1 • 2.SESUAI PERINTAH 6 LOKALISASI NYERI 5 REAKSI PADA NYERI 4 FLEKSI (DEKORTIKASI) 3 EKSTENSI (DESEREBRASI) 2 TIDAK ADA RESPONSE (DIAM) 1 CARA PEMERIKSAAN KESADARAN . • Somnolen. • SOPOR ( STUPOR ): Kantuk yang dalam. Refleks muntah atau batuk positif 2 • negatif 1 • Interpretasi: Nilai minimum : 6 • Nilai maksimum : 12 ( nilai /skor makin tinggi makin baik ) • CARA PEMERIKSAAN KWALITATIF. Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang . • Tingkat kesadaran dibagi menjadi beberapa yaitu: • Normal : kompos mentis. • Brainstem reflex • 1. Reaksi pupil kanan terhadap cahaya positif 2 • negatif 1 • 5. • Koma. Reaksi pupil kiri terhadap cahaya positif 2 • negatif 1 • 6. • PITTSBURGH BRAIN STEM SCORE. namun kesadarannya segera menurun lagi. mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri. • Cara ini dapat digunakan untuk menilai refleks brainstem pada pasien koma. Ia masih dapat mengikuti . Doll’s eye movement/ice water calories positif kedua sisi 2 • negatif 1 • 4. Tingkat kesadaran ini ditandai oleh mudahnya pasien dibangungkan. Somnolen disebut juga sebagai: letargi. • SOMNOLEN : Keadaan mengantuk .

Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari pasien. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. pupil dsb) masih baik. Tanda pipi .. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . • KOMA-RINGAN ( SEMI – KOMA ) . • KERNIG SIGN. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. maka dikatakan kernig sign positif. Gerakan terutama timbul sebagai respons terhadap rangsang nyeri. pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat. KAKU KUDUK. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 derajat terhadap paha. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Dengan rangsang nyeri pasien tidak dapat dibangunkan sempurna. • KOMA ( DALAM ATAU KOMPLIT). Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135 derajat . Ini meliputi : Tanda leher menurut Brudzinski. Refleks ( kornea. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb: Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring.suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. • . Tidak ada gerakan spontan. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . • BRUDZINSKI SIGN. Pasien tidak dapat dibangunkan. Pada pemeriksaan ini . Tanda tungkai kontralateral menurut Brudzinski. Pada keadaan ini tidak ada respons terhadap rangsang verbal.

Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Penekanan pada simfisis pubis akan disusul oleh timbulnya gerakan fleksi secara reflektorik pada kedua tungkai disendi lutut dan panggul. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . • Tanda pipi menurut Brudzinski. Pasien berbaring terlentang. Tanda Brudzinski 2 ( Brudzinski’s contralateral leg sign) dstnya. Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif. dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring . • Tanda Lasegue..menurut Brudzinski. Penekanan pada pipi kedua sisi tepat dibawah os zygomaticus akan disusul oleh gerakan fleksi secara reflektorik dikedua siku dengan gerakan reflektorik keatas sejenak dari kedua lengan. • Tanda simfisis pubis menurut Brudzinski. .Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik. Tanda simfisis pubis menurut Brudzinski dan istilah ini sering disalahpahamkan dengan Tanda Brudzinski 1 ( Brudzinski’s neck sign). CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. • Tanda Leher menurut Brudzinski Pasien berbaring dalam sikap terlentang. • Tanda tungkai kontra lateral menurut Brudzinski.

Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan.Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai diluruskan ( diekstensikan ) . • Cara pemeriksaan. • Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam • Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka. yaitu halusinasi olfaktorik. Salah satu hidung pasien ditutup. hanya pengenalan nya saja tidak sesuai. • Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan. Sebelumnya periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat. selain itu untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.tembakau. jeruk. CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. tetapi bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis bau ini adalah halusinasi. • SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS ). • Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu. • SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS ). • SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang . Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum mencapai 70 derajat maka disebut tanda Lasegue positif. maka digunakan istilah lain yaitu kakosmia. . pesing dsb. CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Pada keadaan normal dapat dicapai sudut 70 derajat sebelum timbul rasa sakit dan tahanan.sabun. Namun pada pasien yang sudah lanjut usianya diambil patokan 60 derajat. • Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng. kemudian satu tungkai diangkat lurus. • Baik dalam hal parosmia maupun kakosmia adanya perangsangan olfaktorik merupakan suatu kenyataan. misalnya ingus atau polip. dibengkokkan ( fleksi ) persendian panggulnya. Contoh bahan yang sebaiknya dipakai adalah : teh. Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan ekstensi ( lurus ) . kopi. • Jika parosmia dicirikan oleh modalitas olfaktorik yang tidak menyenangkan atau yang memuakan seperti bacin .

Contoh Visus = 3/300 pasien hanya dapat melihat pergerakan tangan pada jarak 3 meter. • Bila terdapat gangguan ketajaman penglihatan apakah gangguan ketajaman penglihatan yang disebabkan oleh kelainan oftalmologik ( bukan saraf ) . contoh visus = 2/60 pasien hanya dapat melihat pergerakan jari pada jarak 2 meter Untuk gerakan tangan harus tampak pada jarak 300 meter. Jika kemampuannya hanya sampai membedakan adanya gerakan . bila dengan sinar lampu masih belum dapat melihat maka dikatakan visus pasien tersebut adalah nol. maka visusnya ialah 1/300. • Cara pemeriksaan. Untuk mempelajari lapang pandang. Namun jika hanya dapat membedakan antara gelap dan terang maka visus nya 1/~. • SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). pemeriksaan penglihatan ( visus ) Ketajaman penglihatan diperiksa dengan : • membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan jalan pasien disuruh melihat benda yang letaknya jauh misal jam didinding. 1. kartu snellen ialah huruf huruf yang disusun makin kebawah makin kecil . membaca huruf di buku atau koran. • menggunakan jari jari yang digerakkan harus dapat dilihat dalam jarak 60 meter. • melakukan pemeriksaan dengan menggunakan kartu Snellen. CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Bila hendak melakukan pemeriksaan pada mata kanan maka mata kiri harus ditutup dengan telapak tangan kanan dan sebaliknya. Pasien diminta untuk melihat huruf huruf sehingga tiap huruf dilihat pada jarak tertentu.• Tujuan pemeriksaan : Untuk mengukur ketajaman penglihatan ( visus) dan menentukan apakah kelainan pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf. barisan paling bawah mempunyai huruf huruf paling kecil yang oleh mata normal dapat dibaca dari jarak 6 meter.

homonymous quadrantanopsia. • . Jika pasien mulai melihat gerakan jari – jari pemeriksa . • . Bila sekiranya ada gangguan kampus penglihatan ( visual field ) maka pemeriksa akan lebih dahulu melihat gerakan tersebut.ABDUSENS) Fungsi N III.IV. binasal ). Setelah pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan pasien dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. pemeriksaan lapang pandang. bitemporalis .homonymous hemianopsia. Jika kita hendak memeriksa mata kanan maka mata kiri pasien harus ditutup. katarak dan kelainan refraksi maka dengan menggunakan kertas yang berlubang kecil dapat memberikan kesan adanya faktor refraksi dalam penurunan visus. ini disebut dengan SKOTOMA. misalnya dengan tangannya pemeriksa harus menutup mata kanannya. ia harus memberitahu. nasal . dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa. • Skotoma negatif: dengan diperiksa pasien baru merasa adanya skotoma. • Skotoma positif : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma. • . apakah iapun telah melihatnya.IV.Dalam hal ini pasien duduk atau berdiri kurang lebih jarak 1 meter dengan pemeriksa. SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ).misalnya kornea.TROKLEARIS. bila dengan melihat melalui lubang kecil huruf bertambah jelas maka faktor yang berperan mungkin gangguan refraksi. • Ada bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat melihatnya. • Macam macam gangguan ”visual field” antara lain. SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). Yang paling mudah adalah dengan munggunakan metode Konfrontasi dari Donder.Gerakan jari tangan ini dilakukan dari semua jurusan dan masing masing mata harus diperiksa. • . uveitis.hemianopsia ( temporal.VI saling berkaitan dan diperiksa bersama . Kemudian pasien disuruh melihat terus pada mata kiri pemeriksa dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien. • pemeriksaan lapang pandang.total blindness dsb SARAF OTAK III.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS.

SARAF OTAK III. SARAF OTAK III. 2. • Bandingkan kiri dengan kanan ( isokor atau anisokor ).ABDUSENS) 3. • Lihat ada/tidaknya nystagmus ( gerakan bola mata diluar kemauan pasien). • Lihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak. – pemeriksaan pupil. dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak terjadi dengan segera.Pemeriksaan pupil • Lihat diameter pupil.IV. Pemeriksaan refleks pupil: refleks cahaya.Pemeriksaan gerakan bola mata. Ptosis adalah kelopak mata yang menutup.IV. Cahaya ditujukan pada satu pupil. • Pasien diminta untuk menggerakan sendiri bola matanya. Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. • Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. Lihat apakah ada hambatan pada pergerakan matanya. • Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS.sama . • Perhatikan juga apakah pupil segera miosis. – pemeriksaan kelopak mata.Pemeriksaan kelopak mata: • Membandingkan celah mata/fissura palpebralis kiri dan kanan .ABDUSENS) refleks akomodasi.ABDUSENS) 1.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. pasien diminta untuk melihat telunjuk pemeriksa pada jarak yang cukup jauh. Serabut otonom N III mengatur otot pupil.TROKLEARIS. Terdiri dari: – pemeriksaan gerakan bola mata. SARAF OTAK III. kemudian dengan tiba – tiba dekatkanlah pada pasien lalu perhatikan reflek konvergensi . Hambatan yang terjadi dapat pada satu atau dua bola mata. • Pasien diminta untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan kesegala jurusan. dan perhatikan pupil sisi yang lain. akibat adanya cahaya maka pupil akan mengecil ( miosis ). Cara pemeriksaan. normal besarnya 3 mm. • caranya .TROKLEARIS.TROKLEARIS.IV. • Normal .

Cara pemeriksaan. • keadaan ini disebut normal. Temporalis. • rangsangan nyeri pada bola mata/daerah sekitarnya. SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). SARAF OTAK III.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. • Reflek akomodasi yang positif pada orang normal tampak dengan miosis pupil. • Atropine dan skopolamine akan memberikan pelebaran pupil/midriasis. kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V).pasien dimana dalam keadaan normal kedua bola mata akan berputar kedalam atau nasal. normal akan memberikan miosis atau midriasis yang segera disusul miosis. besar dan tonus nya sama . a.IV. • rangsangan nyeri pada kulit kuduk akan memberi midriasis ( melebar ) dari pupil homolateral. Sebagai pegangan diambil gigi seri atas dan bawah yang harus simetris.ABDUSENS) refleks okulosensorik. • refleks terhadap obat-obatan. pipi dan rahang bawah.\ . • Pemeriksaan sensorik. • pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada deviasi rahang bawah. Cara pemeriksaan. rahang bawah tidak dapat digerakkan kesamping kiri. • Pilocarpine dan acetylcholine akan memberikan miosis. • pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya. 10/27/2008 20 SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). masseter dan m. kemudian meraba m . jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong kesisi lesi.Bila terdapat parese disebelah kanan .TROKLEARIS. Pemeriksaan refleks. • Pemeriksaan motorik. Cara lain pasien diminta mempertahankan rahang bawahnya kesamping dan kita beri tekanan untuk mengembalikan rahang bawah keposisi tengah. refleks ciliospinal. Normalnya kiri dan kanan kekuatan. – Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu.

SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ). Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V). b. Perhatikan juga lipatan dahi. – Suruh pasien bersiul. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas.masseter.• .Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital. • Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat. • Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu. – Moncongkan bibir atau menyengir. lalu • pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan ”hammer refleks” • normalnya didapatkan sedikit saja gerakan. Refleks supraorbital. Pemeriksaan fungsi motorik. . • Dilakukan pada 2/3 bagian lidah depan. bila normal pasien akan menutup matanya atau • menanyakan apakah pasien dapat merasakan. Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah . normalnya akan menyebabkan mata • menutup homolateral ( tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang lain ). • c. Bila • ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m. Perhatikan wajah pasien kiri dan kanan apakah simetris atau tidak. dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam. tinggi alis. SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ). • .garam atau sesuatu yang pahit. malah kadang kadang tidak ada. lebarnya celah mata. lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut. kemudian pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula. dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat . m pterygoideus • medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut refleks meninggi. m. – Mengangkat alis – Menutup mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa.Kornea disentuh dengan kapas. SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ).Kemudian pasien diminta untuk menggerakan wajahnya antara lain: – Mengerutkan dahi. asam. Pemeriksaan fungsi sensorik. Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi yang lumpuh. temporalis.

• Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu. misal: otitis media kiri . Pemesiksaan Schwabach. SARAF OTAK VIII ( NERVUS KOKHLEARIS. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal. • Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah ) • Ukuran : 0.5 cm • Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 – 15 mm ( lama 5 menit ). Garpu tala dibunyikan dan . • Sekresi air mata. • Pada telinga yang sehat.Garpu tala ditempatkan didahi pasien. • Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat mendengarnya lagi. pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada melalui tulang. c. Kinine 0. Asam sitrat 1 %. • Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien. pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ). Pemeriksaan Rinne. • Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri pasien. Fungsi N. pada test weber dikanan terdengar lebih keras . Fungsi N.• Bahannya adalah:Glukosa 5 %.075 %. Bila terdapat ” nerve deafness ” disebelah kiri . Kokhlearis adalah untuk pendengaran. Kokhlearis adalah untuk pendengaran. Nacl 2.5 cm x 1.5 %. • a. Kokhlearis. Pada ” Conduction deafness ” test Rinne negatif. SARAF OTAK VIII ( NERVUS KOKHLEARIS. Pada orang normal test Rinne ini positif. pada test weber terdengar kiri lebih keras. • b. NERVUS VESTIBULARIS Pemeriksaan N. Kokhlearis. NERVUS VESTIBULARIS Pemeriksaan N. Pemeriksaan Weber.

garpu tala ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Vestibularis. – Bila telinga kiri didinginkan ( diberi air dingin ) timbul nystagmus kekanan. Normal Tuli Konduktif Kiri ** Tuli Sensorik Kiri ** Weber Ki = Ka >Telinga sakit Ki > Ka >Telinga Normal Ka > Ki Rinne Udara > Tulang (+) Tulang > Udara (-) Tulang & Udara ** (-) Scwabach Membanding kan : Pasien & Dokter Hantaran tulang memendek Hantaran udara memendek Test Pendengaran dengan garputala 512 MHz ** Terganggu Pemeriksaan N. a. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa. Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa.kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Pemeriksaan dengan test kalori. Nystagmus ini . Bila telinga kiri dipanaskan ( diberi air panas ) timbul nystagmus kekiri. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi. Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach ( untuk konduksi tulang ) lebih pendek. Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek ( untuk konduksi udara ).

Test Romberg . atau badan terputar lebih dari 30 derajat. sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti jalan biasa. SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS ). Jika ada gangguan maka otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan menyempit dan akibatnya rongga hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga bocor. Normalnya pasien harus dapat melakukannya.disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase cepat dan fase pelan. d. dengan mata tertutup .Selama test ini pasien diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung. • Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari 1 meter dari tempatnya semula. SARAF OTAK IX & X( NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS VAGUS) • Cara pemeriksaan: – Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakan huruf “ a” . lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. misalnya nystagmus kekiri berarti fase cepat kekiri. . kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi. b. • Pasien disuruh berjalan ditempat. Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya. Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih. • Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya. Pemeriksaan “past pointing test”. Test melangkah ditempat ( Stepping test ). – Bila ada gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas memberikan reaksi. – Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynx kanan dan kiri dan bila ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi refleks muntah. Pemeriksaan N. Jadi pada saat mengucapkan huruf ” a” dinding pharynx terangkat sedang yang lumpuh tertinggal. – Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya. Vestibularis. dan tampak uvula tidak simetris tetapi tampak miring tertarik kesisi yang sehat. c.

SARAF OTAK XII ( NERVUS HIPOGLOSUS ). • Gaya berjalan dan tingkah laku. • Dengan adanya gangguan pergerakan lidah. Gerakan Volunter. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa . – Gerakan jari. kemudian dilihat dan diraba tonus dari m. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. . Pengamatan. dll. • Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan. misalnya: – Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.• Cara pemeriksaan. • Memeriksa tonus dari m. • Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit. Sternocleidomastoideus. • Simetri tubuh dan ektremitas. – Mengepal dan membuka jari-jari tangan. maka perkataan perkataan tidak dapat diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri. – Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul. – Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti. Cara pemeriksaan. 2. • Memeriksa m. • Dalam keadaan diam lidah tidak simetris. • Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa.jari kaki. • Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah kesamping pada pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi. 1. Trapezius. biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena tonus disini menurun. – Fleksi dan ekstensi artikulus genu. Dengan menekan pundak pasien dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya. – Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki. • Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah . • Kelumpuhan badan dan anggota gerak. Sternocleidomastoideus.

Tonus otot. • Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot. ini dijumpai pada kelumpuhan UMN. • Kontraktur. 6. – Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis. HNP. • Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Palpasi otot. • Pengukuran besar otot. Kekuatan otot. misal: meningitis. • Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan . – Kontraktur otot. – Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ). • Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. 3. Perkusi otot. – Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ). • Nyeri tekan. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar. • Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut . untuk memeriksa kekuatan otot ada dua cara: . – Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot. • Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada. • Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali ( dijumpai pada kelumpuhan LMN). pasien dengan gizi buruk ). • Hipotoni : tahanan berkurang. – Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di ”motor end plate”. 4. 5. • Konsistensi otot yang menurun terdapat pada. • Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi ( biasanya terdapat pada pasien mixedema. • Konsistensi ( kekenyalan ).

. • Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7. • Pemeriksaan abduksi ibu jari.C8. Anggota gerak atas. Cara menilai kekuatan otot : • Dengan menggunakan angka dari 0-5.8.– Melawan pemeriksa + + .T1. • Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8. -1 = parese ringan. • Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7. • Pemeriksaan otot deltoid ( C5.saraf ulnaris ). CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.Nilai O berarti normal. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. saraf aksilaris ).tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat ( gravitasi ). • Pemeriksaan otot biseps ( C5. – 2 : Didapatkan gerakan.C6. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.T1. saraf muskulokutaneus ).saraf ulnaris) • Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8.saraf radialis ). • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8). • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8).C5. • Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7. saraf ulnaris ). Dengan menggunakan angka dari 0 – minus 4 – Nilai 0 -1 -2 -3 -4 – Gerakan bebas + + + + – Melawan gravitasi + + + . saraf subskapularis). – 5 : Tidak ada kelumpuhan ( normal ). • Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8. • Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8.saraf torakalis ). – Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan. -2 = parese moderat.– Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini. saraf ulnaris ). -3= parese hebat. – 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.T1. -4 paralisis. namun tidak didapatkan gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut.T1 . . – 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot. – 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang diberikan. lumpuh total. Cara menilai kekuatan otot ada dua cara. – 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot.

S2. cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar. Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex ekstrapiramidalis.saraf tibialis ). 7. • Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif. globus pallidus dan lintasan lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan substansia nigra pada sindroma Parkinson. • Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas. nuklues kaudatus. nukleus ventrolateralis thalami substansia retikularis dan serebelum.S1. • Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal. putamen. • Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. yang hanya terhenti pada waktu . disebabkan lesi pada corpus striatum ( nukleus kaudatus. • Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5.• Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8. • Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4. Anggota gerak bawah.L5.saraf femoralis ). nukleus ruber. globus pallidus. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. putamen.S2. saraf radialis ). • Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1.saraf siatika ). saraf obturatorius ).S1. yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus pengontrolnya. biasanya lengan atau tangan. substansia nigra. • Pemeriksaan otot kelompok ” hamstring ” ( L4. disebabkan gangguan mekanisme “feedback” oleh serebellum terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga timbul kekacauan gerakan volunter. Gerakan involunter. saraf tibialis CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. S2. eksplosif. corpus luysi.

hingga menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. terutama lengan atau tangan atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit . • Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra. Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit. Lesi organ akhir sensorik dan lintasan – lintasan yang mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada serebelum dapat mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut “ Cerebellar sign “ . Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nukleus kaudatus. torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu. vertibular apparatus dan korda spinalis. Gerkaan ini dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus. • Myokimia: fasikulasi benigna. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. substansia nigra dan corpus subthalamicus. • Myokloni : gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat. Serebelum adalah pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas motorik dari kortex. aritmik. waktu bergerak maupun waktu istirahat. 8. • Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. siku dan pergelangan tangan. • Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron. Frekwensi keduten tidak secepat fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi. berlangsung sejenak. • Athetose : gerakan involenter pada ektremitas. basal ganglia. Fungsi koordinasi. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus striataum. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.tidur. dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot skelet dan pada setiap waktu. area prerubral dan berkas porel. corpus luysi.

keseimbangan . • Jalan diatas jari kaki. • Jalan diatas tumit. . – Test nistagmus.CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Tandem walking. Gerakan nya kaku dan terpatah-patah. – Test mempertahankan sikap. • Hopping. • Test romberg positif: baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup . Gait dan Station. • Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila keadaan pasein memungkinkan untuk itu. Harus diperhitungkan adanya kemungkinan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan pada orang orang tua atau penyandang cacat non neurologis. – Test tumit – lutut. Pada saat pasien berdiri dan berjalan perhatikan posture. • Jalan lurus lalu putar. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Jalan mundur. ayunan tangan dan gerakan kaki dan mintalah pasien untuk melakukan. – Test romberg. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Pasien sulit berjalan pada garis lurus pada tandem walking. – Test disgrafia. pasien akan jatuh kesisi lesi setelah beberapa saat kehilangan kestabilan ( bergoyang – goyang ). – Test fenomena rebound.lengan atau tungkai dengan halus. tapping jari tangan. • Berdiri dengan satu kaki. • Macam-macam pemeriksaan “ Cerebellar sign” – Test telunjuk hidung. dan menunjukkan gejala jalan yang khas yang disebut “ celebellar gait “ • Pasien tidak dapat melakukan gerakan volunter dengan tangan. – Test jari – jari tangan. – Test diadokinesia berupa: pronasi – supinasi.

rasa raba dalam. kesadaran dll. misalnya otot gluteus. Peroneus. Terdiri dari: – Rasa nyeri. Langkah dilakukan setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek.Sensibilitas diskriminatif – daya untuk mengenal bentuk/ukuran. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.Sensibilitas proprioseptif. .CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. khas untuk kelemahan otot tungkai proksimal. Sensibilitas eksteroseptif atau protopatik. – Mengetahui modalitasnya. • Steppage gait: gaya jalan seperti ayam jago. 2. – Rasa suhu – Rasa raba. • Parkinsonian gait: gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. 3. misalnya spastik paraparese. • Waddling gait: gaya berjalan dengan pantat dan pinggang bergoyang berlebihan. 1. Jenis-Jenis pemeriksaan sensorik yang sering digunakan. – daya untuk mengenal /mengetahui berat sesuatu benda dsb. – Menyimpulkan jenis dan lokasi lesi yang mendasari gangguan sensorik yang akhirnya dinilai bersama sama dengan pemeriksaan motorik . kedua tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut dan panggul. – Menetapkan polanya. Tujuan pemeriksaan sensorik – Menetapkan adanya gangguan sensorik. • Spastik ( scissors gait ): gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai. pada paraparese flaccid atau paralisis n. • Tabetic gait: gaya jalan pada pasien tabes dorsalis. • Macam macam Gait: • Hemiplegik gait: gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara sirkumduksi.

Tahap Pemeriksaan. • Dibandingkan kanan dan kiri. – Bagian tubuh yang tertutup pakaian lebih sensitif dari bagian tubuh yang terbuka. – Pada orang tua sering dijumpai hipestesia yang fisiologik. Alat pemeriksa : bagian tubuh pasien sendiri. Tahap Pemeriksaan. • Perintahkan untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan. Test untuk rasa suhu. Test untuk rasa sikap. . • dari atas ke bawah/ sebaliknya. Alat pemeriksa : kapas. kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada lengan dan tungkai. Alat pemeriksa : jarum bundel Cara pemeriksaan : jarum diletakkan tegak lurus dan cara sama spt diatas. Yang perlu diingat: • Daerah lateral kurang peka dari medial. Test untuk rasa nyeri superficial. • Ada daerah-daerah erotogenik : leher. ujung jari kelingking kiri dsb. – Botol/tabung berisi air dingin : suhu 10-15 derajat celcius. Alat pemeriksa : – Botol/tabung berisi air panas : suhu 40-45 derajat celcius. Cara pemeriksaan : • Tempatkan salah satu lengan/tungkai pasien pada suatu posisi tertentu. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Tahap Pemeriksaan. Tahap Pemeriksaan. Test untuk rasa raba halus. Cara pemeriksaan: • permukaan diraba dengan ujung – ujung kapas tersebut. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Cara pemeriksaan : – Botol botol tersebut harus kering betul. sekitar mammae. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. genetalia.

CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Test untuk rasa getar. Untuk mengenal angka. Test untuk diskriminatif. Tahap Pemeriksaan. – Jari kaki : 3 – 8 mm. kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada diatas atau dibawah atau disamping kanan /kiri. Tahap Pemeriksaan. Cara pemeriksaan : • Rasa stereognosis. jarum bundel. Alat pemeriksa : kunci. kancing . • Alat pemeriksan : sendi sendi/jari jari tangan kaki pasien • Cara pemeriksaan: pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping kanan dan kiri. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. • Rasa diskriminasi 2 titik. Tahap Pemeriksaan. Alat pemeriksa : garpu tala Cara pemeriksaan: Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah pasien menjawab untuk merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut. – Ujung jari tangan : 2 – 7 mm. bentuk yang digoreskan diatas kulit pasien. Rasa Gramestesia. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. . mata uang logam. – Telapak tangan : 8 – 12 mm – Dorsum manus : 20-30 mm – Dada : 40 mm – Paha : 70 – 75 mm.• Test untuk rasa gerak/posisi sendi. Test untuk diskriminatif. – Lidah : 1 mm. aksara. Dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengenal benda – benda yang disodorkan kepadanya.

– distraksi servikal. Nyeri timbul pada pangkal N. Ishiadikus yang sehat pada waktu dilakukan SLRS test. Modifikasi test Laseque yaitu: – Test dari Bragard :Straight Leg Raising Test kemudian diikuti dengan dorsofleksi kaki . abduksi. – Bila hasil nya timbul kesemuten ini berarti adanya regenerasi saraf perifer. Rasa Barognosia. ekso rotasi dan ekstensi dan ini akan menimbulkan rasa nyeri di sendi panggul yang ada kelainannya. Bowtring Sign. Test dari O’CONNEL = test laseque silang. Tahap Pemeriksaan. • Tindakan untuk mengetahui adanya kelainan di daerah tulang belakang servikal. – test menelan. Tanda laseque test akan positif pada derajat yang lebih kecil.misalnya ditelapak tangan pasien. • Dilakukan tindakan kebalikan dari test Patrick lalu timbul . – Test dari Patrick = F-AB-BR-E Sign. Rasa topognosia. – tindakan valsava. Untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien. • Tindakan dari Tinel: untuk mengetahui ” tanda kesemuten akibat lesi susunan saraf perifer.ishiadikus menimbulkan rasa sakit dipunggung atau kaki. Test untuk mengetahui lokalisasi rasa nyeri. • Tumit / maleolus tungkai yang sakit diletakkan pada tungkai yang lain kemudian diadakan penekanan pada lutut yang difleksikan itu kemudian timbul gerakan fleksi. Penekanan pada fossa Poplitea diatas N. – kompresi servikal : tindakan Lhermitte. • Test untuk membangkitkan rasa nyeri di sendi panggul/sakroiliaka. Untuk mengenal berat suatu benda. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. – Test dari contra Patrick.Dengan melakukan penekanan pada saraf perifer: – Bila hasil ya: timbul rasa nyeri ini berarti terjadi lesi irritatif.

pula rasa nyeri di sendi sakroiliaka. – Hilangnya rasa nyeri : ANALGESIA. – Hilangnya rasa suhu : THERMOANESTHESIA. – Berlebihnya rasa raba : HIPERTESIA. – Berkurangnya rasa nyeri : HIPALGESIA. tungkai diluruskan lalu lakukan palpasi pada betis dan sekitarnya kemudian timbul rasa nyeri. Pasien terlentang /berdiri kemudian dilakukan penekanan pada kedua v. – Berkurangnya rasa raba : HIPESTESIA. – nyeri panas dingin yang tidak keruan : DISESTHESIA Rasa PROPIOSEPTIF = RASA RABA DALAM. rasa sikap : STATESTESIA. rasa gerak : KINESTHESIA. – Berkurangnya rasa suhu : THERMOHIPESTHESIA.5 menit . Test dari NAFSIGER . – Hilangnya rasa raba : ANESTESIA. rasa getar : PALESTHESIA. rasa tekan : BARESTHESIA. • a. TOPOGNOSIS. • Rasa eksteroseptif. – Berlebihnya rasa nyeri : HIPERGESIA. • b. Test Homan • Pasien dibaringkan terlentang dan tungkai diluruskan lalu kaki didorsofleksikan pada sendi pergelangan kaki lalu timbul rasa nyeri dibetis. bila tekanan intrakranial meningkat timbul rasa nyeri radikuler yang makin bertambah. • Pasien berbaring terlentang. • Rasa DISKRIMINATIF.5. – Mengenal dan mengetahui berat sesuatu : BAROGNOSIS. • c. • Rasa Nyeri. Nomenklatur untuk pemeriksaan sensorik. – Berlebihnya rasa suhu : THERMOHIPERESTHESIA.2.VIETS. – Mengenal tempat yang diraba : TOPESTESIA. – kesemuten : PARESTHESIA. Nomenklatur untuk pemeriksaan sensorik. • Rasa abnormal dipermukaan tubuh. Jugularis sampai pasien merasa kepalanya penuh sekitar 1. • d. – Mengenal bentuk dan ukuran sesuatu dengan jalan perabaan: STEREOGNOSIS. . • Rasa suhu.

aksara.– Mengenal angka. Oleh karena itu refleks kedua belah tubuh yang dapat dibandingkan harus merupakan hasil perangsangan yang berintensitas sama. intercostal T 5 – 7 ( epigastrik ) n. • Hasil pemeriksaan refleks merupakan informasi penting yang sangat menentukan. intercostal T 9 – 11 ( umbilica ) n. – Mengenal setiap titik dan daerah tubuh sendiri : AUTOTOPOGNOSIS. infra Umbilical dari lateral ke medial. Penilaian refleks selalu berarti penilaian secara banding antara sisi kiri dan sisi kanan. PEMERIKSAAN REFLEKS. Refleks superficial • Refleks dinding perut : Stimulus : Goresan dinding perut daerah. • Refleks fisiologis yang dibangkitkan untuk pemeriksaan klinis meliputi refleks superficial dan refleks tendon atau periosteum. genitofemoralis Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks biseps ( B P R ) : Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada . Respons : kontraksi dinding perut Afferent : n. Pada penderita penyakit syaraf tertentu dapat dibandingkan refleks patologis atau juga refleks primitif. ilioinguinalis Efferent : idem 10/27/2008 45 Refleks superficial Refleks cremaster : Stimulus : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah • Respons : elevasi testis Ipsilateral • Afferent : n.bentuk yang digoreskan di atas kulit : GRAMESTESIA. intercostal T 11 – L 1 ( infra umbilical ) n. – Mengenal diskriminasi 2 titik : DISKRIMINASI SPASIAL. epigastrik. Respon terhadap suatu perangsangan tentu tergantung pada intensitas. ilioinguinal ( L 1-2 ) • Efferent : n. iliohypogastricus n. intercostal T 7 – 9 ( supra umbilical ) n. supraumbilical. Dari penilaian terhadap refleks fisiologis dan patologis ini kita dapat memperkirakan letak / jenis lesi.

ulnaris ( C B-T1 ) Efferent : idem Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks patella ( K P R ) : Stimulus : ketukan pada tendon patella Respons : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m. biseps brachii. radialis ( C 5-6 ) Efferenst : idem Refleks periosto ulnaris : Stimulus : ketukan pada periosteum procesus styloigeus ulnea. Efferent : n. posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi Respons : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi m. tibialis ( L. posisi lengan setengah ditekuk pada sendi siku. posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi – supinasi. 5-S. pronator quadratus Afferent: n. brachioradialis Afferent : n. quadriceps Femoris. posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi Respons : extensi lengan bawah disendi siku Afferent : n. Respons : fleksi lengan pada sendi siku Afferent : n. gastrocnemius Efferent : n. musculucutaneus ( c 5-6 ) Efferenst : idem Refleks triceps ( T P R ) : Stimulus : ketukan pada tendon otot triseps brachii.tendonm. femoralis ( L 2-3-4 ) Afferent : idem Refleks achilles ( A P R ) Stimulus : ketukan pada tendon achilles Respons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. Respons : pronasi tangan akibat kontraksi m. 1-2 ) Afferent : idem Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) . radialis ( C 6-7-8 ) Efferenst : idem Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks periosto radialis : Stimulus : ketukan pada periosteum ujung distal os radii.Klonus lutut : Stimulus : pegang dan dorong os patella ke arah distal .

Schaffer Stimulus : memencet tendon achilles secara keras Respons: seperti babinski -Gonda Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat Respons: seperti babinski .Gordon Stimulus : penekanan betis secara keras Respons : seperti babinski Refleks patologis .Babinski Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior.Stransky Stimulus : penekukan ( lateral ) maksimal jari kaki kelima Respons: seperti babinski . quadriceps femoris selama stimulus berlangsung.Respons : kontraksi reflektorik m. Respons : seperti babinski Refleks patologis . Refleks patologis . sekitar malleolus lateralis dari posterior ke anterior. Respons : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan (fanning) jari – jari kaki. Respons : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung. posisi tungkai fleksi di sendi lutut.Bechterew Stimulus : pengetukan dorsum pedis pada daerah os cuboideum Respons : seperti rossolimo . .Klonus kaki : Stimulus : dorsofleksikan kaki secara maksimal.Rossolimo Stimulus : pengetukan pada telapak kaki Respons: fleksi jari – jari kaki pada sendi interphalangealnya Refleks patologis -Mendel .Oppenheim Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke distal Respons : seperti babinski . .Chaddock Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral.

Graps refleks Stimulus : penekanan / penempatan jari si pemeriksa pada telapak tangan pasien.Hoffman Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien Respons : ibu jari.Snout refleks Stimulus : ketukan pada bibir atas Respons : kontraksi otot – otot disekitar bibir / dibawah hidung (menyusu) Refleks Primitif .Tromner Stimulus : colekan pada ujung jari tengah pasien Respons : seperti Hoffman .Palmo – mental refleks Stimulus : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian Thenar..Sucking refleks Stimulus : sentuhan pada bibir Respons : gerakan bibir. lidah dan rahang bawah seolah – olah menyusu . telunjuk dan jari – jari lainnya berefleksi Refleks patologis . Respons : tangan pasien mengepal . Respons : kontraksi otot mentalis dan orbicularis oris ipsilateral . Respons : tidak terjadi oposisi ibu jari. Refleks Primitif .Leri Stimulus : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan sikap lengan diluruskan dengan bagian ventral menghadap keatas respons : tidak terjadi fleksi di sendi siku -Mayer Stimulus : fleksi maksimal jari tengah pasien kearah telapak tangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->