P. 1
Makalah Mar

Makalah Mar

|Views: 124|Likes:
Published by Maureen Espinoza

More info:

Published by: Maureen Espinoza on Jan 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Saluran pencernaan berasal dari foregut, midgut dan hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pankreas. Midgut membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum, appendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon transversum. Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka, membrana ini tersusun dari endoderm kloaka, dan ektoderm dari protoderm/analpit . Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut sebagai primitif gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis

menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter.

B. Perumusan masalah 1. Mengetahui pengertian malformasi anorektal 2. Mengetahui proses terjadinya malformasi anorektal 3. Mengetahui proses asuhan keperawatan pada anak dengan malformasi anorektal

1

Pada tahun 1950an. C. maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia. agenesis rekti dan atresia rekti. B. Renal. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa 2 . Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara malformasi anorektal dengan pasien dengan trisomi 21 (Down's syndrome). Etiologi Atresia ani atau anus imperforata dapat disebabkan karena: 1) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur. dibandingkan dengan populasi umum sekitar 1 dalam 5000 kelahiran. Salah satunya adalah komponen genetik. Patofisiologi Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional. sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur 2) Gangguan organogenesis dalam kandungan 3) Berkaitan dengan sindrom down Malformasi anorektal memiliki etiologi yang multifaktorial. Pada perempuan. muntah dengan segala akibatnya. didapatkan bahwa risiko malformasi meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan kelainan malformasi anorektal yakni 1 dalam 100 kelahiran. Pada laki-laki umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat (rektovesika) bila kelainan merupakan letak tinggi. Definisi Atresia ani atau anus imperforata atau malformasi anorektal adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak sempurna. Limb). termasuk didalamnya agenesis ani. Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen. Esofageal.BAB II TINJAUAN TEORI A. sebaliknya feses mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. pada letak rendah fistula menuju ke uretra (rektouretralis). Anal. 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Cardial. sekuestrasi cairan.

intermedia dan letak rendah. 3) Letak rendah apabila akhiran rektum berakhir bawah muskulus levator ani. D. Gambaran Malformasi Anorektal Pada Laki-Laki Normal male anatomy (High) Recto urethral bulbar fistula (Low) Recto bladder neck fistula Gambaran Malformasi Anorektal Pada Perempuan Normal female anatomy Cloaca Vestibular fistul High Imperforate anus Typical 3 . Akan tetapi. Klasifikasi Klasifikasi yang paling sering digunakan untuk malformasi anorektal adalah klasifikasi Wingspread yang membagi malformasi anorektal menjadi letak tinggi. 2) Letak intermediet apabila akhiran rektum terletak di muskulus levator ani. Melbourne membagi berdasarkan garis pubokoksigeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut: 1) Letak tinggi apabila rektum berakhir diatas muskulus levator ani (muskulus pubokoksigeus).mutasi dari bermacam-macam gen yang berbeda dapat menyebabkan malformasi anorektal atau dengan kata lain etiologi malformasi anorektal bersifat multigenik. untuk tujuan terapi dan prognosis digunakan klasifikasi yang dibuat berdasarkan jenis.

diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular septal defect.60%. 3) Bising usus meningkat. Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan malformasi anorektal adalah: 1) Kelainan kardiovaskuler Ditemukan pada sepertiga pasien dengan anus imperforata. 7) Perut kembung 8) Tidak bisa buang air besar 9) Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan. Insidennya berkisar antara 50% . Makin tinggi letak abnormalitas berhubungan dengan malformasi yang lebih sering. 2) Kejang usus. mulai dari anus imperforata letak rendah dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit sehingga feses bayi tidak dapat melaluinya. malformasi anorektal intermedia dimana ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal letak tinggi dimana anus sama sekali tidak ada. 2) Kelainan gastrointestinal Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%). Jenis kelainan yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten ductus arteriosus. obstruksi duodenum (1%-2%) 4 . (Betz. Sebagian besar bayi dengan anus imperforata memiliki satu atau lebih abnormalitas yang mengenai sistem lain. akan tetapi beberapa diantaranya dapat mengancam nyawa seperti kelainan kardiovaskuler. 6) Mekonium keluar pada anus seperti pasta gigi. 2002 ): 1) Muntah. Malformasi anorektal sangat bervariasi. Manifestasi klinis Gejala yang menunjukan terjadinya malformasi anorektal terjadi dalam waktu 24-48 jam. 4) Distensi abdomen.E. Gejala itu dapat berupa. Kebanyakan dari kelainan itu ditemukan secara kebetulan. disertai cairan muntah berwarna hijau kemudian bercampur tinja. 5) Keluar mekonium baik dari vagina atau bersama urine (tergantung letak fistel).

dan teratoma intraspinal. skoliosis. Pada anamnesis dapat ditemukan : 1. Anorectal. Bila ada fistula pada perineum maka mekoneum (+) dan kemungkinan kelainan adalah letak rendah Pena menggunakan cara sebagai berikut : 1. Bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urin bila : a) Fistel perianal (+). dan hemisacrum.3) Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan lumbosakral seperti hemivertebrae. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan adalah myelomeningocele. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan urogeital dengan malformasi anorektal letak tinggi antara 50 % sampai 60%. anal stenosis atau anal membran berarti atresia letak rendah maka dilakukan minimal Postero Sagital Anorektoplasti (PSARP) tanpa kolostomi b) Bila mekoneum (+) maka atresia letak tinggi dan dilakukan kolostomi terlebih dahulu. butterfly vertebrae. Renal and Limb abnormality). Cardiovascular. 4) Kelainan traktus genitourinarius Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan pada malformasi anorektal. 5 . dengan malformasi anorektal letak rendah 15% sampai 20%. setelah 8 minggi kemudian dilakukan tindakan definitif. F. meningocele. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Kelainan tersebut dapat berdiri sendiri ataupun muncul bersamaan sebagai VATER (Vertebrae. Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan VACTERL (Vertebrae. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir 2. kemungkinan juga ditemukan adanya fistula 3. Anorectal. Tracheoesophageal. bucket handle. Tidak ditemukan anus.

Bila Pada pemeriksaan fistel (-) maka kelainan adalah letak tinggi atau rendah. Tekanan intrabdominal harus cukup tinggi untuk menandingi tonus otot yang mengelilingi rektum. > 1 cm dari kulit Leape (1987) menyatakan bila mekonium didadapatkan pada perineum. harus ditunggu selama 16-24 jam untuk menentukan jenis malformasi anorektal pada bayi untuk menentukan apakah akan dilakukan colostomy atau anoplasty. Bila fistel rektovaginal atau rektovestibuler dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Mekonium biasanya tidak terlihat pada perineum pada bayi dengan fistula rektoperineal hingga 16-24 jam. Pada pemeriksan klinis. pasien malformasi anorektal tidak selalu menunjukkan gejala obstruksi saluran cerna. Hal ini dikarenakan bagian distal rektum pada bayi tersebut dikelilingi struktur otot-otot volunter yang menjaga rektum tetap kolaps dan kosong. a) Bila ditemukan fistel perineal (+) maka dilakukan minimal PSARP tanpa kolostomi. vestibulum atau fistel perianal maka kelainan adalah letak rendah . apabila akhiran dilakukan kolostomi terlebih dahulu.Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram. b) Bila fistel (-) maka dilakukan invertrogram: apabila akhiran < 1 cm dari kulit dilakukan postero sagital anorektoplasti. diagnosis harus ditegakkan pada pemeriksaan klinis segera setelah lahir dengan inspeksi daerah perianal dan dengan memasukkan termometer melalui anus. rektouretralis dan rektoperinealis. Oleh karena itu. Untuk itu. dengan cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi badan vertikal dengan kepala dibawah) atau knee chest position (sujud) dengan bertujuan agar udara berkumpul didaerah paling distal. Bila akhiran rektum < 1cm dari kulit maka disebut letak rendah. 6 . Pemeriksaan foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar usus terisis\ udara. Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel. Bila terdapat fistula lakukan fistulografi. 2. Akhiran rektum > 1cm disebut letak tinggi. Distensi abdomen tidak ditemukan selama beberapa jam pertama setelah lahir dan mekonium harus dipaksa keluar melalui fistula rektoperineal atau fistula urinarius. Pada laki-laki fistel dapat berupa rektovesikalis.

H. meliputi anatomisnya. "bucket-handle" (skin tag yang terdapat pada anal dimple). 3) Urogram intravena. yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rektum dan pemotongan fistel. Tanda ini berhubungan dengan malformasi anorektal letak tinggi dan harus dilakukan colostomy. 5) Pemeriksaan inspeksi dan palpasi daerah perineum secara dini. ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple mengindikasikan bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat sedikit. 4) Rontgenologis kolumna vertebralis: untuk mengetahui kelainan yang menyertai yaitu anomali vertebra. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan colok dubur.5 cm. Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya secara jangka panjang.Inspeksi perianal sangat penting. Tanda pada perineum yang ditemukan pada pasien dengan malformasi anorektal letak rendah meliputi adanya mekonium pada perineum. radiografi lateral terbalik. pada atresia rektum jari tidak masuk lebih 1–2 cm. dan adanya membran pada anus (tempat keluarnya mekonium). fungsi fisiologisnya. defek itu disebut defek tingkat tinggi. G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. anoskopi. Untuk menangani secara tepat. Pena dan Defries pada tahun 1982 memperkenalkan metode operasi dengan pendekatan postero sagital anorektoplasti. sistourethrogram: dilakukan pada waktu miksi harus dilakukan karena seringnya malformasi traktuf urinarius menyertai anomali ini. Flat "bottom" atau flat perineum. Ultrasound: dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rektal. 6) Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rektal dengan cara menusukkan jarum tersebut sambil melakukan aspirasi. bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur abdominoperineal pullthrough. Pada atresia ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. tapi metode ini banyak menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. harus ditentukankan ketinggian akhiran rektum yang dapat 7 . jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1. 2) Protosigmoidoskopi.

4) Dibelah jaringan subkutis. dimana sebelumnya dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas otot sfingter ani ekternus 3) Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion 4) Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin. persiapan operasi yang tidak adekuat. Teknik Operasi 1) Dilakukan dengan general anestesi. Jika bayi tumbuh dengan baik. setelah 6 –12 bulan baru dikerjakan tindakan definitif (PSARP) 2) Atresia letak rendah dilakukan perineal anoplasti. 2) Stimulasi perineum dengan alat Pena Muscle Stimulator untuk identifikasi anal dimple. laparotomi atau laparoskopi diperlukan untuk menemukan memobilisasi rektum bagian distal. Saat ini teknik yang paling banyak dipakai adalah posterosagital anorektoplasti. limited atau full postero sagital anorektoplasti. Dari berbagai klasifikasi penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran rektum dan ada tidaknya fistula. Anoplasty : “PSARP adalah metode yang ideal dalam penatalaksanaan kelainan anorektal. 5) Os koksigeus dibelah sampai tampak muskulus levator. 8 . operasi definitif dapat dilakukan pada usia 3 bulan.ditentukan dengan berbagai cara antara lain dengan pemeriksaan fisik. parasagital fiber dan muscle complex. berbeda dengan Pena dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi. Komplikasi yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan menentukan letak kolostomi. serta ketrampilan operator yang kurang serta perawatan post operasi yang buruk. Demikian juga pada pasien kloaka persisten dengan saluran kloaka lebih dari 3 cm”. Leape (1987) menganjurkan pada : 1) Atresia letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi atau TCD dahulu. Operasi definitif setelah 4 – 8 minggu. radiologis dan USG. dengan intubasi endotrakeal. keterbatasan pengetahuan anatomi. 3) Insisi bagian tengah sakrum kearah bawah melewati pusat spingter dan berhenti 2 cm didepannya. baik minimal. dengan posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan. lemak. dan muskulus levator dibelah tampak dinding belakang rektum. Pada kasus fistula rektovesikal. Kontrindikasi dari PSARP adalah tidak adanya kolon. selain PSARP. Pena secara tegas menjelaskan bahwa pada atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan diversi.

h. Dilakukan anoplasti dan dijaga jangan sampai tension. Prinsip penatalaksanaan malformasi anorektal pada bayi perempuan hampir sama dengan bayi laki-laki. 9 . 7) Rektum ditarik melewati levator. Penatalaksanaan Malformasi Anorektal Bayi Laki-Laki Gambar 1 : Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus laki-laki Dengan inspeksi perineum dapat ditentukan adanya malformasi anorektal pada 95% kasus malformasi anorektal pada bayi perempuan.6) Rektum dibebas dari jaringan sekitarnya. muscle complex dan parasagital fiber.

Businasi dihentikan bila busi nomor 13-14 mudah masuk. Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah mengejakan serta tidak ada rasa nyeri bila dilakukan 2 kali sehari selama 3-4 minggu merupakan indikasi tutup kolostomi.Penatalaksanaan Malformasi Anorektal Pada Bayi Perempuan Gambar 2 : Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus perempuan Penatalaksanaan Post-operatif Perawatan Pasca Operasi PSARP a) Antibiotik intravena diberikan selama 3 hari . b) 2 Minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation. 10 .salep antibiotik diberikan selama 810 hari. 2 kali sehari dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang dinaikan sampai mencapai ukuran yang sesuai dengan umurnya. secara bertahap frekuensi diturunkan.

I. Komplikasi. Aloe. Drainase suprapubik diindikasikan pada pasien persisten kloaka dengan saluran lebih dari 3 cm. 2002 ). Untuk pertama kali dilakukan oleh ahli bedah. Setelah dilakukan penutupan kolostomi. eritema popok sering terjadi karena kulit perineum bayi tidak pernah kontak dengan feses sebelumnya. neomycin dan desitin dapat digunakan untuk mengobati eritema popok ini. Setiap minggu lebar dilator ditambah 1 mm tercapai ukuran yang diinginkan. 11 . (Betz. Salep tipikal yang mengandung vitamin A. Setelah ukuran yang diinginkan tercapai. dan antibiotik topikal berupa salep dapat digunakan pada luka. dilakukan penutupan kolostomi. kateter foley dipasang hingga 10-14 hari. kateter foley dipasang hingga 5-7 hari. Dilatasi anus dimulai 2 minggu setelah operasi.Pada kasus fistula rektouretral. Antibiotik intravena diberikan selama 2-3 hari. Sedangkan pada kasus loaka persisten. D. Kemudian dilatasi dilakukan sekali sehari selama sebulan diikuti dengan dua kali seminggu pada bulan berikutnya. Komplikasi jangka pendek : 1) Asidosis hiperkloremia 2) Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan 3) Kerusakan uretra ( akibat prosedur bedah ) Komplikasi jangka panjang : 1) Eversi mukosa anal 2) Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis) 3) Impaksi dan konstipasi (akibat dilatasinya sigmoid) 4) Masalah atau keterlambatan yg berhubungan dg toilet training 5) Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi) 6) Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten) 7) Fistula kambuhan (karena tegangan diarea pembedahan dan infeksi ). sekali seminggu dalam 1 bulan kemudian dan terakhir sekali sebulan selama tiga bulan. kemudian dilatasi dua kali sehari dilakukan oleh petugas kesehatan ataupun keluarga. Dilatasi harus dilanjutkan dua kali sehari sampai dilator dapat lewat dengan mudah.

anaknya sudah dioperasi kolostomi sejak usia 1 bulan (2009) di RSHS dan operasi PSARP + Cystostomi + repair uretra di RSHS pada tanggal 11 – 8 – 2012. Keluhan Utama Keluarga mengatakan bahwa klien ( an. 12 .BAB III PEMBAHASAN A. H : Bandung : 3 Tahun : laki – laki : 1 (satu) : MAR B. Riwayat kesehatan Sejak lahir orang tua klien jengatakan anaknya tidak memiliki lubang anaus. Identitas Anak Identitas anak Nama/inisial Tempat/tgl lahir Usia Jenis kelamin Anak ke Diagnosa medis : An. H ) tidak memiliki lubang anus II. Asuhan keperawatan I. BAB dari penis.

III. ANALISA DATA SYMPTOM DO :  Ibu klien tampak bingung BAB masih keluar melalui kolostomi DS :   Keluarga mengatakan jika belum ada kejelasan mengenai jadwal operasi Ibu klien mengatakan khawatir akan keadaan anaknya Pre operasi penutupan kolostomi Kurang pengetahuan orang tua terkait tindakan operasi Ansietas DO :   DS :  MAR BAB lewat lubang kolostomi Ketidak adaan lubang anus Perubahan pola eliminasi gangguan pola eliminasi fekal ETIOLOGI Anak dengan Mars PROBLEM Ansietas Ibu klien mengatakan anaknya masih BAB melalui lubang kolostomi BAB lewat lubang kolostomi Gangguan pola eliminasi fekal DO :    DS :  Distensi abdomen BB : 23 kg TB : 151 cm Klien mengeluh nyeri Klien dengan MAR dan lubang kolostomi Resti Infeksi Adanya luka kolostomi Paparan dari lingkungan sekitar Adanya tanda-tanda infeksi Resti Infeksi 13 .

Gangguan pola eliminasi fekal berhubungan dengan ketidadaan lubang anus. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua tentang tindakan operasi 2.Prioritas diagnosa keperawatan 1. BAB lewat kolostomi 3. Resti Infeksi berhubungan dengan adanya luka kolostomi 14 .

IV. Diagnosa keperawatan Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua tentang tindakan operasi. yang ditandai dengan : DO : −  BAB lewat lubang kolostomi  Ketidak adaan lubang anus/ lubang anus belum sempurna DS :  Orang tua klien mengatakan anaknya BAB melalui lubang anus Setelah dilakukan asuhan keperawatan klien tidak mengalami gagguan eliminasi fekal dengan Kriteria Hasil :  Aliran pengeluaran feses baik  BAB lewat anus 15 . Gangguan pola eliminasi fekal berhubungan dengan ketidakadaan lubang anus. ekspresi wajah menunjukan berkurangnya kecemasan NIC :  Gunakan pendekatan yang menenangkan  Nyatakan dengan jelas harapan terhadapprilaku klien  Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur  Temani klien untuk member ketenangan  Berikan informasi factual mengenai diagnosis  Intruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi  Dengarkan dengan penuh perhatian  Identifikasi tingkat kecemasan  Berikan penjelasan pada keluarga mengenai indikasi dan prosedur tindakan  Kaji mengenai karakteristik dan konsistensi feses yang keluar  Ganti kantong kolostomi  Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Tujuan dan kriteria hasil intervensi 2. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN No. Dx 1. NOC :  Control kecemasan  Koping Setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan klien teratasi dengan criteria hasil:  Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala kecemasan  Klien mampu mengontrol kecemasan  Vital sign dalam batas normal  Postur tubuh.

3. yang ditandai dengan :  Luka kolostomi (+)  Luka kemerahan Setelah dilakukan asuhan keperawatan klien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil :    Tanda-tanda infeksi(-) Leukosit dalam batas normal Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi  Pertahankan teknik aseptik  Monitor tanda dan gejala infeksi  Ajarkan klien tanda dan gejala infeksi  Kolaborasi pemberian anti biotic  Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan 16 . Resti infeksi berhubungan dengan adanya luka kolostomi.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI No.V.6 C  R : 26 x /menit  N : 100 x/menit  Luka kolostomi A: masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan : 2. Sabtu  Identifikasi tingkat kecemasan klien  Mengkaji keadaan dan S: karakteristik feses yang  Keluarga mengatakan keluar anaknya BAB masih  Memberikan penjelasan lewat lubang kolostomi pada keluarga mengenai dan melalui wash out prosedur tindakan O:  Feses lembek  Darah (-) A: masalah belum teratasi P: intervensi dilanjutkan  Mengkaji keadaan dan karakteristik feses yang keluar S: Menganjurkan keluarga menggunakan teknik O: aseptik  Kolostomi (+)  Memonitoring tanda dan gejala infeksi  Hari Tanda dan gejala infeksi(-)  Mengajarkan klien tanda dan gejala infeksi  A : masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan  Monitoring tanda dan gejala infeksi 17 3 Sabtu . Jumat Implementasi  Menggunakan pendekatan yang menenangkan  Menjelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur  Memberikan informasi factual mengenai diagnosis  Mendengarkan dengan penuh perhatian  Mengidentifikasi tingkat kecemasan Evaluasi Paraf S:  keluarga mengatakan gelisah menunggu jadwal operasi klien O:  k/u : Baik  kes : Composmentis  TD :100/70 mmhg  S : 36. Hari/tgl dx 1.

1 Senin  Mendengarkan dengan S : penuh perhatian   Mengidentifikasi tingkat kecemasan O:  Keluarga mengatakan anaknya operasi hari rabu 2 senin Tingkat kecemasan berkurang A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi  Mengkaji keadaan klien S : saat di wash out  keluargamengatakan anaknya tidak menangis saat di wash out dan tidak ada darah O :A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi 18 .

Kesimpulan Dengan melihat data maupun keterangan yang telah dijabarkan diatas. Selain itu juga.BAB IV PENUTUP A. jelaslah bahwa penyakit Malformasi anorektal merupakan penyakit yang sangat serius yang harus segera di tangani karena mengganggu sitem pencernaan khusunya untuk BAB. 19 . Saran Agar anak-anak kita semua kelak terhindar dari penyakit Malformasi anorektal untuk para ibu-ibu hamil dijaga pola dan nutrisi makannya agar dapat terhindar dari penyakit hisprung. olahraga dan aktifitas-aktifitas yang lainnya juga harus di jaga agar ibu menjadi sehat bayinya pun ikut sehat juga. B.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->