P. 1
Makala h

Makala h

|Views: 136|Likes:
Published by Vivi Meylani Putri

More info:

Published by: Vivi Meylani Putri on Jan 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

MAKALAH FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI II “ ANTHELMINTIK “

OLEH : FARMASI C

VIVI MEYLANI PUTRI (70100110165) WATRI RATNASARI (70100110119)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA-GOWA

2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................. i KATA PENGANTAR ........................................................................ ii DAFTAR ISI ..................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... A. Latar Belakang ................................................................................ B. Rumusan Masalah ........................................................................... BAB II PEMBAHASAN........................................................................ A. Pengertian Antelmintik.................................................................... B. Daur hidup cacing............................................................................ C. Penggolongan Antelmintik............................................................... D. Hubungan dengan Al-quran............................................................. BAB III PENUTUP................................................................................. A. Kesimpulan...................................................................................... B. Saran ............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah Farmakologi dan Toksikologi II yang berjudul “ ANTHELMINTIK ” ini dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hj.Gemy Nastity Handayani, S.Si., M.Si., Apt. selaku dosen mata kuliah Farmakologi dan Toksikologi II dan pihak-pihak lain yang turut membantu dalam proses penyelesaian tugas ini. Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah Farmakologi dan Toksikologi II yang diberikan oleh Hj.Gemy Nastity Handayani, S.Si., M.Si., Apt. ,selaku dosen pengampu mata kuliah Farmakologi dan Toksikologi II Dalam hal ini kami fokuskan pada dampak penyakit cacingan dan penggolongan obat antelmintik. Demikianlah makalah ini kami buat dengan harapan dapat memperluas pengetahuan serta wawasan pembaca. Kami sadar dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu, segala bentuk kritik dan saran sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.

Samata, 16 Januari 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Cacing adalah hewan beruas yang memiliki bentuk silinder dan panjang, cacing termasuk dalam hewan inverbrata dan merupakan hewan yang hermaprodyte aliasa memiliki kelamin ganda meskipun demikian mampu membuahi sesamanya untuk menghasilkan keturunan. Infeksi oleh cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar di dunia, di Indonesia termasuk penyakit rakyat yang umum dan sampai saat ini diperkirakan masih cukup banyak anak-anak di Indonesia yang menderita infeksi cacing . Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit ini. (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:1 ). Oleh karena itu, untuk mencegah penyakit cacing dan untuk mengetahui seluk beluk mengenai penyakit cacingan. gejala yang ditimbulkan , cara mencegah dan mengatasi penyakit cacingan dan yang terpenting adalah mengetahui dan memahami dampak penyakit cacingan. Makalah ini

juga bertujuan menambah pengetahuan kita terhadap penyakit cacingan.

B. Rumusan masalah 1.Pengertian Antelmintik 2. Daur hidup cacing 3. Penggolongan Antelmintik 4. Hubungan dengan Al-quran

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Antelmintik Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Sebagian besar obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing, sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Diagnosis dilakukan dengan menemukan cacing, telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita. Sebagian besar obat cacing diberikan secara oral yaitu pada saat makan atau sesudah makan dan beberapa obat cacing perlu diberikan bersama pencahar. B. Daur hidup cacing Di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit cacing merupakan penyakit rakyat umum. Infeksinya pun dapat terjadi secara simultan oleh beberapa cacing sekaligus. Infeksi cacing umumnya terjadi melalui mulut, kadang langsung melalui luka di kulit (cacing tambang, dan benang) atau lewat telur (kista) atau larva cacing, yang ada dimana-dimana di atas tanah. Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar di dunia dan jumlah manusia yang dihinggapinya semakin bertambah akibat migrasi, lalu lintas dan turisme udara modern. Terutama dinegara – negara berkembang seperti indonesia. Penyakit cacing adalah suatu penyakit rakyat umum yang sama pentingnya dengan misalnya malaria atau TBC . diperkirakan bahwa lebih dari 60% dari anak indonesia menderita suatu infeksi cacing. Jenis – jenis cacing yang biasa menyerang tubuh mansia adalah cacing pita, cacing gelang, cacing hati, cacing tambang.

1. Cacing pita (taenia sp) Pada manusia cacing pita hidup dan berkembang di dalam saluran pencernaan. Di dalam usus, telur cacing (proglotid gravid) akan menetas membentuk larva yang disebut onkosfer. Larva cacing pita ini berbentuk bulat telur berukuran 10 x 5 mm, berwarna jernih dan mengandung cairan yang khas. Sel larva yang masih muda ini kemudian akan berkembang menjadi cacing pita dewasa. Selanjutnya, cacing pita dewasa akan melekat dan tinggal di dalam usus kecil, panjang cacing pita dewasa sendiri dapat mencapai 2 sampai 5 meter. Sedangkan sebagian larva cacing lainnya akan berkembang menjadi sistiserkus, dan menginvasi jantung, hati , otot, dan organ-organ lainnya pada tubuh sehingga mengakibatkan infeksi sistemik. Daur hidup cacing pita tidak berhenti sampai disini saja, dalam waktu kurang dari dua hingga tiga bulan cacing telah matang secara seksual dan mampu menghasilkan telur lagi untuk melanjutkan keturunannya. Untuk satu cacing pita saja dapat menghasilkan rata-rata 1000 telur. Telur-telur tersebut kemudian dikeluarkan bersama dengan tinja. Di lingkungan telur cacing pita dapat bertahan selama beberapa hari hingga berbulan-bulan lamanya. Infeksi cacing pita pada saluran pencernaan manusia dapat terjadi karena mengkonsumsi daging mentah yang terkontaminasi atau dimasak kurang matang. Gejala yang ditimbulkan sering kali berbeda-beda atau tidak patognomonis (khas), seperti nyeri abdominal, anoreksia, penurunan berat badan dan malaise. Namun, pada beberapa kasus cacing pita dapat ditemukan di bagian apendiks, kandung empedu, dan duktus pankreatikus. Oleh karena itu, untuk mencegah penularannya adalah dengan memutus jalur daur hidup

cacing pita, contohnya dengan memasak terlebih dahulu daging dengan matang sebelum dikonsumsi. 2. Cacing gelang (Ascaris lumbricoides) Bentuk infektif bila tertelan oleh manusia dengan menetas diusus halus. Larvanya akan menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru, larva yang ada di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus kemudian masuk naik ke rongga trakea alveolus melalui

bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga ak an menimbulkan rangsangan pada faring. Selanjutnya larva akan masuk ke saluran pencernaan dan di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa akan melakukan perkawinan sehingga cacing betina akan gravid dan bertelur. Telur cacing akan bercampur dengan faeces manusia. Pada saat buang air besar telur keluar bersama faeces dan berada di alam (tanah) untuk menjadi matang. Telur matang tertelan kembali oleh manusia melalui makanan yang terkontaminasi telur. Satu putaran siklus hidup Ascaris lumbricoides akan berlangsung kurang lebih selama dua bulan.

3. Cacing hati (Fasciola hepatica) Siklus hidup cacing adalah cacing ditularkan pada waktu ternak

memakan rumput atau meminum air yang terkontaminasi atau tercemar oleh ternak lain dengan telur cacing. Bisa juga cacing disebarkan dari induk ke anaknya. Cacing hidup di usus ternak dan memproduksi banyak telur. Masalah ini biasa terjadi pada musim hujan. Cacing memang memerlukan kondisi lingkungan yang basah, artinya cacing tersebut bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila tempat hidupnya berada pada kondisi yang basah atau lembab. Pada kondisi lingkungan yang basah atau lembab, perlu juga diwaspadai kehadiran siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak. 4. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale)

Cacing dewasa merupakan ektoparasit dalam usus halus manusia. Telur cacing dapat keluar bersama feses manusia. Pada daerah yang sesuai yaitu daerah lembap, telur yang sudah dibuahi akan menetas dan dalam

sehari menghasilkan larva filariform. Larva ini dapat menembus kulit manusia melalui kulit yang tidak beralas kaki. Bersama aliran darah, larva sampai di jantung dan paru-paru. Dari paru-paru, larva menembus dinding paru-paru sampai ke trakea kemudian ke faring. Setelah itu larva kemudian masuk lagi ke dalam usus halus dan tumbuh menjadi cacing tambang dewasa. Cacing betina dan jantan dewasa dapat melakukan perkawinan. Cacing betina menghasilkan ribuan telur perhari. Telur tersebut keluar bersama feses, dan siklus itu berulang kembali.

C. Terapi anthelmintik a. Obat cacing kremi  Mebendazol Efektif mengobati cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang dan T.trichiura, cacing pita. Merusak subseluler dan : mebendazol dan piperazin

menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing, menghambat ambilan glukosa. Absorpsi oral buruk, ekskresi terutama lewat urin dalam bentuk utuh.  Piperazin Efektif terhadap A. lumbricoides dan Enterobius vermicularis. Menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin  paralisis, dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus, cacing keluar 1-3 hari setelah pengobatan. Absorpsi melalui saluran cerna, ekskresi melalui urine. Dosis untuk ascariasis 75 mg/kg (max.3,5 g) oral satu kali sehari selama 2 hari. Untuk infeksi berat , pengobatan harus dilanjutkan selama 3-4 hari atau diulang setelah 1 minggu

b. Obat cacing gelang  Levamizol Dosis tunggal

:

levamizol

diigunakan

unttuk

Ascaris

dan

Triichosttrongyllus, efektiftas sedang untuk A. duodenale dan rendah untuk N.americanus. Meningkatkan aksi potensial dan menghambat transmisi neuromuskular  cacing paralisis. Absorpsi oral cepat dan lengkap, 60% obat diekskresi bersama ureum. c. Obat cacing pita  Niklosamid Untuk cacing pita (Cestoda), E. granulosus dan E.vermicularis. Menghambat fosforilasi anaerobik ADP. Dosis untuk dewasa 2 g sekali, diberikan pada pagi hari pada saat perut kosong. d. Obat cacing tambang  Pirantel pamoat Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. Dosis standar 11 mg/kg (max.1 g) diberikan secara oral sekali dengan atau tanpa makanan. Untuk infeksi berat khususnya pada N. Americanus diberikan selama 3 hari dan dapat diulang selama 2 minggu : pirantel pamoat : niklosamid dan prazikuantel

D. Hubungan ayat al-quran dengan anthelmintik

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah mengarahkan perhatian manusia supaya memperhatikan binatang-binatang yang bermacammacam jenis dan bentuknya. Dia telah menciptakan semua jenis binatang dari air ternyata memang air itulah yang menjadi pokok bagi kehidupan binatang. Diantara binatang-binatang itu ada yang melata bergerak dan berjalan dengan perutnya seperti ular dan cacing. Diantaranya ada juga yang berjalan dengan dua kaki dan empat kaki, bahkan kita lihat pula diantara binatang-binatang itu yang banyak kakinya. Tetapi tidak disebutkan dalam ayat ini karena Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan apa yaang dikehendakiNya bukan saja binatang-binatang yang berkaki banyak tetapi mencakup semua binatang dengan berbagai macam bentuk. Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.” Dan hadits:

“Al-Qur`an adalah obat.” Keduanya adalah hadits yang dha‟if, telah dilemahkan oleh AlAllamah Al-Albani rahimahullahu dalam Dha‟if Al-Jami‟ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Mekanisme kerja obat cacing yaitu dengan menghambat proses penerusan impuls neuromuskuler sehingga cacing dilumpuhkan.

Mekanisme lainnya dengan menghambat masuknya glukosa dan mempercepat penggunaan (glikogen) pada cacing.

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna SG, editor. Farmakologi dan terapi. Edisi 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003: 529-30. Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat – Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta Katzung, G, Bertram. 2001. Farmakologi dasar dan klinik Jilid 1. PT. Salemba Medika : Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->