P. 1
y

y

|Views: 4|Likes:
y
y

More info:

Published by: Deslia HyunJoong Sianturi on Jan 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2014

pdf

text

original

P

PPE
EED
DDO
OOM
MMA
AAN
NN P
PPE
EEN
NNG
GGE
EEL
LLO
OOL
LLA
AAA
AAN
NN L
LLI
IIM
MMB
BBA
AAH
HH
I
IIN
NND
DDU
UUS
SST
TTR
RRI
II K
KKE
EEL
LLA
AAP
PPA
AA S
SSA
AAW
WWI
IIT
TT



























S
SSU
UUB
BBD
DDI
IIT
TT P
PPE
EEN
NNG
GGE
EEL
LLO
OOL
LLA
AAA
AAN
NN L
LLI
IIN
NNG
GGK
KKU
UUN
NNG
GGA
AAN
NN
D
DDI
IIR
RRE
EEK
KKT
TTO
OOR
RRA
AAT
TT P
PPE
EEN
NNG
GGO
OOL
LLA
AAH
HHA
AAN
NN H
HHA
AAS
SSI
IIL
LL P
PPE
EER
RRT
TTA
AAN
NNI
IIA
AAN
NN
D
DDI
IIT
TTJ
JJE
EEN
NN P
PPP
PPH
HHP
PP,
,, D
DDE
EEP
PPA
AAR
RRT
TTE
EEM
MME
EEN
NN P
PPE
EER
RRT
TTA
AAN
NNI
IIA
AAN
NN


J
JJA
AAK
KKA
AAR
RRT
TTA
AA,
,, T
TTA
AA 2
220
000
006
66

i
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Naha Kuasa karena atas
perkenanNya maka penyusunan buku ¨Pedoman Pengelolaan Limbah !ndustri Ke-
lapa Sawit" dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Tujuan penyusunan buku ini adalah untuk memberikan panduan kepada
aparat pemerintah, pengusaha ataupun masyarakat luas dalam pengelolaan lim-
bah kelapa sawit, sehingga diharapkan limbah buangan Pabrikf!ndustri Kelapa Sa-
wit akan memenuhi baku mutu lingkungan yang ada serta mendapatkan nilai tam-
bah berupa produk samping yang bernilai ekonomi.
Akhirnya semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pekembangan perkela-
pasawitan di !ndonesia dan menjawab tantangan !ndustri Kelapa Sawit di masa
depan yaitu mengembangkan !ndustri Kelapa Sawit yang lebih berwawasan ling-
kungan. Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan buku ini
diucapkan terimakasih.



Wassalam,


Tim Penyusun









1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor Pertanian umumnya dan sektor perkebunanan khususnya memiliki
peran yang penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Dalam kondisi pere-
konomian !ndonesia sekarang ini, akibat nilai tukar dolar terhadap rupiah yang
cenderung meningkat dan tidak menentu, maka harga berbagai kebutuhan impor
kebutuhan konsumsi maupun bahan baku industri nasional semakin mahal,
berbagai jenis industri yang berbahan baku impor terancam bangkrut, bahkan
banyak yang gulung tikar. Untuk itu kita perlu bekerja sama dalam rangka
menggairahkan roda perekonomian nasional yang berdasarkan pada pemanfaatan
sumber daya alam secara lebih produktif dan ekonomis, serta memperhatikan
aspek kelestarian lingkungan.
Nanajemen bisnis yang menggabungkan efisiensi ekonomi dan ekologi
atau lebih dikenal dengan ekoefisiensi merupakan salah satu solusi dari krisis
ekonomi yang berkepanjangan. Prinsip ekoefisiensi adalah memanfaatkan pela-
yanan ekologi lingkungan sebagai masukan produksi sehingga biaya produksi
menjadi lebih rendah, meningkatkan keuntungan dan daya saing terhadap industri
lain yang sejenis.
Saat ini sektor pertanian lebih diwarnai oleh skala usaha yang lebih besar.
Permodalan yang kuat, penggunaan teknologi maju, sistem pengolahan modern,
jangkauan pemasaran yang luas dan adaptif terhadap perubahan-perubahan ke
arah kemajuan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Oleh sebab itu, hal strategis
bagi Perkembangan !ndustri Kelapa sawit adalah pembangunan sistem agribisnis
dengan penekanan pada efisiensi produksi pada sistem agroindustri. Agroindustri
adalah salah satu cabang industri yang mempunyai kaitan ke belakang (industri
hulu) dan kaitan ke depan (industri hilir) yang erat dan langsung dengan
pertanian. Kaitan dengan industri hulu merupakan persyaratan-persyaratan awal
dalam kegiatan pembudidayaan pertanian.
2
Disamping itu, melihat perkembangan harga minyak sawit di pasaran
internasional yang cenderung membaik, industri minyak sawit akan menjadi
andalan devisa di masa depan. Untuk bisa bersaing di pasar global, perkem-
bangan dan persyaratan perdagangan internasional perlu di antisipasi. !ndustri
kelapa sawit nasional mengalami perkembangan menggembirakan. Terbukti dalam
20 tahun terakhir (1985-2005), pertambahan kebun kelapa sawit mencapai lima
juta hektar atau meningkat 837 persen, dan hal itupun dibuktikan juga oleh
kontribusi minyak sawit terhadap ekspor nasional yang mencapai enam persen,
komoditas ini juga nomor satu dari produksi !ndonesia. Selama tahun 2005, mi-
nyak sawit telah menjadi minyak makan terbesar di dunia. Konsumsi minyak sawit
dunia mencapai 26 persen dari total konsumsi minyak makan dunia. Pasokan
crude palm oil (CPO) untuk produksi dalam negeri juga meningkat menjadi 12,8
juta ton pada tahun 2005, bila dibandingkan dengan 12,5 juta ton pada tahun
200+. Diperkirakan, pada tahun 2010, perkebunan kelapa sawit dapat menyerap
hingga 500 ribu tenaga kerja dan menghasilkan 2,7 juta TBS (tandan buah segar)
per tahun dan diperkirakan akan menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia
(Ditjenbun, 2006).
Namun seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dam-
pak positif dari perkembangan Seperti sektor agroindustri umumnya dan
perkebunan kelapa sawit khususnya, juga diikuti oleh dampak negatif
terhadap lingkungan akibat dihasilkannya limbah cair, padat dan gas dari
kegiatan kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Untuk itu tindakan pence-
gahan dan penanggulangan dampak negatif dari kegiatan Perkebunan
Kelapa Sawit dan PKS harus dilakukan dan sekaligus meningkatkan dam-
pak positifnya. Tindakan tersebut tidak cukup dengan mengandalkan per-
aturan perundang-undangan saja tetapi perlu juga didukung oleh penga-
turan sendiri secara sukarela dan pendekatan instrumen-instrumen ekono-
mi. Pengaturan seperti ini dikenal sebagai mixed policy tools.
Kenyataan menunjukkan bahwa sejak masalah lingkungan hidup
mulai diangkat kepermukaan, !ndonesia memiliki berbagai macam prog-
ram yang berkaitan dengan lingkungan yang tidak mencapai sasaran se-
3
cara optimal. Hal ini disebabkan antara lain oleh pendekatannya yang ber-
sifat "pemaksaan" melalui berbagai peraturan perundang-undangan
dengan ancaman sanksi. Belajar dari hal ter
-
sebut, dewasa ini telah terjadi
perkembangan pemikiran dimana limbah yang dulunya dikategorikan
sebagai produk samping yang menimbulkan masalah dan selayaknya ha-
rus ditanggulangi (end-of-pipe), saat ini dianggap sebagai indikator tidak
efisiennya proses produksi. Pemikiran inilah yang mendorong perubahan
strategi penanganan limbah.
Pada awalnya, strategi pengelolaan lingkungan didasarkan pada
pendekatan kapasitas daya dukung (carrying capacity approach). Akibat
terbatasnya daya dukung lingkungan alamiah untuk menetralisir pence-
maran yang semakin meningkat, upaya mengatasi masalah pencemaran
berkembang ke arah pendekatan mengolah limbah yang terbentuk (end--
of-pipe treatment). Pendekatan ini terfokus pada pengolahan dan pembu-
angan limbah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Namun pada kenyataannya pencemaran dan kerusakan lingkungan tetap
terjadi dan cenderung terus berlanjut, karena dalam prakteknya pende-
katan melalui pengolahan limbah menghadapi berbagai kendala. Seperti:
Bersifat reaktif, yaitu bereaksi setelah limbah terbentuk.
Tidak efektif dalam memecahkan masalah pencemaran lingkungan
karena mengolah limbah hanyalah mengubah bentuk limbah dan
memindahkannya dari satu media ke media lain.
Biaya investasi dan operasi pengolahan dan pembuangan limbah bi-
asanya mahal, yang mengakibatkan biaya proses produksi meningkat
dan harga jual produk juga naik. Hal ini yang menjadi salah satu
alasan pengusaha untuk tidak memasang alat pengolah limbah atau
mengoperasikan sekedarnya saja.
Peraturan perundang-undangan yang menetapkan persyaratan limbah
yang boleh dibuang setelah dilakukan pengolahan pada umumnya cen-
derung untuk dilanggar bila pengawasan dan penegakan hukum ling-
kungan tidak efektif dijalankan
4
Secara global timbul pemikiran-pemikiran baru untuk lebih mening-
katkan kualitas lingkungan hidup agar pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan dapat terlaksana, antara lain melalui upaya proaktif.
Suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu
perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup
produk dengan tujuan mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.
Dalil dasar konsep ini menyatakan bahwa proses industri seharusnya tidak
menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena limbah tersebut merupa-
kan bahan baku bagi industri lain. Nelalui penerapan konsep ini, proses-
proses industri akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru serta
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Penggunaan bahan baku secara maksimal berarti penciptaan industri
baru dan lapangan kerja sejalan dengan meningkatnya produktivitas dan
mendukung usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa me-
ngurangi kemampuan produksi sumber daya alam bagi generasi di masa
depan.
Ketergantungan proses produksi terhadap bahan baku impor dapat
menghambat kontinuitas produksi suatu kegiatan usaha. Oleh sebab itu
perlu ditemukan terobosan-terobosan untuk meningkatkan nilai tambah
material yang tidak termanfaatkan, sehingga dapat menjadi bahan baku bagi
industri lain dan mendorong industri untuk menggunakan bahan baku yang
berasal dari kandungan lokal.
1.2. Tujuan
Tujuan Penyusunan dan Penggandaan Pedoman Pengelolaan Limbah !n-
dustri Kelapa Sawit adalah:
Nenyediakan dan menyebarkan Buku Pedoman Pengelolaan Limbah !ndustri
Kelapa Sawit.
Nemberikan arahan kepada Pelaku !ndustri Kelapa Sawit, Aparat Pembina
Perkebunan dan lingkungan hidup mengenai pengelolaan limbah !ndustri Kela-
pa Sawit.
5
Berupaya mewujudkan pembangunan industri pertanian yang ramah
lingkungan dan berkelanjutan.
Nembina Pelaku !ndustri Kelapa Sawit dalam pelaksanaan pengelolaan limbah.
1.3. Ruang Lingkup Panduan
Berisikan tuntunan atau arahan dalam pemanfaatan limbah industri kelapa
sawit pada skala industri dan kelampok tani. Naterinya merupakan kumpulan hasil
penelitian dari pusat-pusat penelitian dan perguruan tinggi yang terkait dengan;
Tekhnologi pemanfaatan limbah !ndustri Kelapa Sawit yang telah teraplikasi
dan teruji dilapangan.
Tekhnologi baru pemanfaatan limbah !ndustri Kelapa Sawit yang belum secara
umum dikenal oleh masyarakat perkelapa sawitan di !ndonesia.
Konsep-konsep tekhnologi pemanfaatan limbah !ndustri Kelapa Sawit yang
dimungkinkan pengembangannya di masa datang demi keberlanjutan kegiatan
tersebut.













6
II. KEGIATAN PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
Tandan buah Segar (TBS) yang telah dipanen di kebun diangkut ke lokasi
Pabrik Ninyak Sawit dengan menggunakan truk. Sebelum dimasukan ke dalam
Loading Ramp, Tandan Buah Segar tersebut harus ditimbang terlebih dahulu pada
jembatan penimbangan (Weighing Brigae) . Perlu diketahui bahwa kualitas hasil
minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisis buah (TBS) yang
diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi
menekan kehilangan didalam pengolahannya, sehingga kualitas hasil tidak sema-
ta-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam Pabrik. Secara garis besar
diagram alir dari proses pengolahan kelapa sawit dan neraca material balance
pengolahan kelapa sawit disajikan pada Gambar 1 dan 2.
!nformasi diagram alir tersebut sebagai berikut:
2.1. Perebusan
Tandan buah segar setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam
lori rebusan yang terbuat dari plat baja berlubang-lubang (cage) dan langsung
dimasukkan ke dalam sterilizer yaitu bejana perebusan yang menggunakan uap
air yang bertekanan antara 2.2 sampai 3.0 Kgfcm
2.
Proses perebusan ini
dimaksudkan untuk mematikan enzim-enzim yang dapat menurunkan kuaiitas
minyak.
Disamping itu, juga dimaksudkan agar buah mudah lepas dari tandannya
dan memudahkan pemisahan cangkang dan inti dengan keluarnya air dari biji.
Proses ini biasanya berlangsung selama 90 menit dengan menggunakan uap air
yang berkekuatan antara 280 sampai 290 Kgfton TBS. Dengan proses ini dapat
dihasilkan kondensat yang mengandung 0.5¾ minyak ikutan pada temperatur
tinggi. Kondensat ini kemudian dimasukkan ke dalam Fat Pit. Tandan buah
yang sudah direbus dimasukan ke dalam Threser dengan menggunakan Hois-
ting Crane.
2.2. Perontokan Buah dari Tandan
Padatahapan ini, buah yang masih melekat pada tandannya akan dipi-
sahkan dengan menggunakan prinsip bantingan sehingga buah tersebut
7
terlepas kemudian ditampung dan dibawa oleh Fit Conveyor ke Digester.
Tujuannya untuk memisahkan brondolan (fruilet) dari tangkai tandan. Alat yang
digunakan disebut thresher dengan drum berputar (rotari drum thresher). Hasil
stripping tidak selalu 100¾, artinya masih ada brondolan yang melekat pada
tangkai tandan, hal ini yang disebut dengan USB (Unstripped Bunch). Untuk
mengatasi hal ini, maka dipakai sistem "Double Threshing". Sisitem ini bekerja
dengan cara janjang kosongfEFB (Empty Fruit Bunch) dan USB yang keluar dari
thresher pertama, tidak langsung dibuang, tetapi masuk ke threser kedua yang
selanjutnya EFB dibawa ketempat pembakaran (incinerator) dan dimanfaatkan
sebagai produk samping.





TANDAN BUAH SEGAR
PEREBUSAN
(Sterilizer)
PERONTOKAN
(Threser)
PENGADUKAN
(Digester)
PENGEPRESAN
(Screw Presser)
Mulsa/Pupuk
Tandan Kosong
PENYARINGAN PEMISAHAN AMPAS
Vibrating Screen
PENGENDAPAN
PEMURNIAN
PENGERINGAN
PENYIMPANAN
CPO
Clarivication Tank
Centrifugal Purifier
Oil Vacum Dryer
Depericarper
PENGERINGAN
PEMECAHAN
PEMISAHAN
PENGERINGAN
PENYIMPANAN
KERNEL
Nut Silo
Nut Cracker
Dry Separator
Winnowing Kernel
hydrocyclon
Cangkang

Gambar 1. Diagram Alir Proses Pengolahan Kelapa Sawit
8
2.3. Pengolahan Minyak dari Daging Buah
Brondolan buah (buah lepas) yang dibawa oleh Fruit Conveyor dimasuk-
kan ke dalam Digester atau peralatan pengaduk. Di dalam alat ini dimaksudkan
supaya buah terlepas dari biji. Dalam proses pengadukan (Digester) ini
digunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil antara 80
º
-
90ºC. Setelah massa buah dari proses pengadukan selesai kemudian dimasuk-
kan ke dalam alat pengepresan (Scew Press) agar minyak keluar dari biji dan
fibre.Untuk proses pengepresan ini perlu tambahan panas sekitar 10¾ sfd 15¾
terhadap kapasitas pengepresan. Dari pengepresan tersebut akan diperoleh
minyak kasar dan ampas serta biji
Sebelum minyak kasar tersebut ditampung pada Crude Oil Tank, harus
dilakukan pemisahan kandungan pasirnya pada Sand Trap yang kemudian
dilakukan penyaringan (vibrating Screen). Sedangkan ampas dan biji yang
masih mengandung minyak (oil sludge) dikirim ke pemisahan ampas dan biji
(Depericarper).
Dalam proses penyaringan minyak kasar tersebut perlu ditambahkan air
panas untuk melancarkan penyaringan minyak tersebut. Ninyak kasar (Crude
Oil) kemudian dipompakan ke dalam Decenter guna memisahkan Solid dan
Liquid. Pada fase cair yang berupa minyak, air dan masa janis ringan
ditampung pada Countnuous Settling Tank, minyak dialirkan ke oil tank dan
pada fase berat (sludge) yang terdiri dari air dan padatan terlarut ditampung
ke dalam Sludge Tank yang kemudian dialirkan ke Sludge Separator untuk
memisahkan minyaknya.
2.4. Proses Pemurnian Minyak
Ninyak dari oil tank kemudian dialirkan ke dalam Oil Purifer untuk me-
misahkan kotoranfsolid yang mengandung kadar air. Selanjutnya dialirkan ke
vacuum Drier untuk memisahkan air sampai pada batas standard. Kemudian
melalui Sarvo Balance, maka minyak sawit dipompakan ke tangki timbun (Oil
Storege Tank).
9




2.5. Proses Pengolahan lnti Sawit
Ampas kempa yang terdiri dari biji dan serabut dimasukkan ke
dalam Depericaper melalui Cake Brake Conveyor yang dipanaskan dengan
uap air agar sebagian kandungan air dapat diperkecil, sehingga Press
Cake terurai dan memudahkan proses pemisahan. Pada Depericaper
terjadi proses pemisahan fibre dan biji. Pemisahan terjadi akibat
perbedaaan berat dan gaya isap blower. Biji tertampung pada Nut Silo
yang dialiri dengan udara panas antara 60 - 80
º
C sefama 18 - 2+ jam
agar kadar air turun dari sekitar 21 ¾ menjadi + ¾.
Sebelum biji masuk ke dalam Nut Craker terlebih dahulu diproses di
dalam Nut Grading Drum untuk dapat dipisahkan ukuran besar kecilnya
TBS 100% PEREBUSAN
PERONTOKAN
Tandan Rebus 88,5 %
PENGADUKAN
Tandan Kosong 21,5%
Mulsa/Pupuk
PENGEPRESAN
Buah 67%
PENYARINGAN
DEPERICARTER I
23,5
KLARIFIKASI
DEPERICARTER II
BOILLER
Ampas 12,9%
10,6%
PEMECAHAN
PEMISAHAN ANGIN
CANGKANG
PENGERINGAN
PEMISAHAN
DENGAN AIR
4,2%
1,2%
4,2%
2,2%
PENYIMPANAN
KERNEL
5,0%
DECANTER
Dikeringkan
Pupuk
VACUM
DRYER
Minyak
Air 9,7%
Air
7,9%
Sludge 26,3%
Minyak
Limbah
Padat
PURIFIER
26,0%
Air
14,4%
TANGKI
PENGUMPULAN
LIMBAH CAIR
39,4%
Air Kondensat 11,1%
Limbah Cair
9,7%
Minyak 0,2%
CPO
22,5%
UNIT INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH (IPAL)
Limbah cair 60%
Minyak
1,0%
Penguapan 0,4%
Air kondensat 11,1%
Tangki
Timbun
CPO

Gambar 2. Naterial Balance Proses Pengolahan Ninyak Sawit
Tangki
Timbun
CPO
10
biji yang disesuaikan dengan fraksi yang telah ditentukan. Nut kemudian
dialirkan ke Nut Craker sebagai alat pemecah. Nasa biji pecah
dimasukkan dalam Dry Seperator (Proses pemisahan debu dan cangkang
halus) untuk memisahkan cangkang halus, biji utuh dengan
cangkangfinti. Nasa cangkang bercampur inti dialirkan masuk ke dalam
Hydro Cyclone untuk memisahkan antara inti dengan cangkang. !nti
dialirkan masuk ke dalam Kernel Drier untuk proses pengeringan sampai
kadar airnya mencapai 7 ¾ dengan tingkat pengeringan 50ºC, 60ºC dan
70ºC dalam waktu 1+ - 16 jam. Selanjutnya guna memisahkan kotoran,
maka dialirkan melalui Winnowing Kernel (Kernel Storage), sebelum
diangkut dengan truk ke pabrik pemproses berikutnya.
Untuk mendapatkan mutu minyak CPO yang baik, maka mutu
tandan yang diolah harus berdasarkan kriteria kematangan yang optimal.
Pada kondisi kandungan minyak dalam TBS relatif tinggi dengan kadar
garam asam lemak bebas (FFA) yang rendah. Pada tandan buah yang
masih mentah kandungan minyak CPO sangat rendah, sedang bila TBS
terlalu matang maka kualitas minyak menjadi rendah karena kadar asam
lemak bebasnya tinggi. Untuk mendapatkan jumlah dan kualitas minyak
CPO yang baik, maka dibutuhkan koordinasi yang baik antara permanen,
pengawas lapangan, bagian fraksi dan staf pabrik. Tandan buah segar
yang telah dipanen harus segera ditangani dan diusahakan secepatnya
diproses dalam pabrik.


11
III. Limbah Kelapa Sawit
3.1. Jenis dan Potensi Limbah Kelapa Sawit
Jenis limbah kelapa sawit pada generasi pertama adalah limbah
padat yang terdiri dari Tandan Kosong, pelepah, cangkang dan lain-lain.
Sedangkan limbah cair yang terjadi pada in house keeping. Limbah
padat dan limbah cair pada generasi berikutnya dapat dilihat pada
Gambar 3. Pada Gambar tersebut terlihat bahwa limbah yang terjadi
pada generasi pertama dapat dimanfaatkan dan terjadi limbah
berikutnya. Pada Gambar + dan Tabel 1 terlihat potensi limbah yang
dapat dimanfaatkan sehingga mempunyai nilai ekonomi yang tidak
sedikit. Salah satunya adalah potensi limbah dapat dimanfaatkan
sebagai sumber unsur hara yang mampu menggantikan pupuk sintetis
(Ure, TSP dan lain-lain).
Tabel 1. Jenis, Potensi dan Pemanfaatan limbah Pabrik Kelapa Sawit
Jenis
Potensi per ton
TBS {%)
Manfaat
Tandan kosong 23,0 Pupuk kompos, pulp kertas,
papan partikel, energi
Wet Decanter Solid 4,0 Pupuk, kompos, makanan
ternak
Cangkang 6,5 Arang, karbon aktif, papan
partikel
Serabut (fiber) 13,0 Energi, pulp kertas, papan,
partikel
Limbah cair 50,0 Pupuk, air irigasi
Air kondensat

Air umpan broiler
Sumber: Tim PT. SP (2000)
12

KelapaSawit
Daging Buah
Biji Sawit
Tandan Kosong
Minyak sawit
Sludge
Serat/sabut
Minyak kasar
Padatan
Sabun
Pakan ternak
Pengisi bahan bangunan
Bahan bakar
Papan partikel
Inti
Tempurung
Bahan organik
Briket
Pakan ternak
Bahan bakar
Pupuk
Mulsa
Industri kimia
Tepung tempurung
Arang
Bricket
Karbon aktif
Asap air
Bahan bakar
Industri pangan
Industri kimia
Industri kimia
Minyak
Bungkil
Minyak goreng
Margarin
e
Salad
dll.
Pakan ternak

Gambar 3. Pohon !ndustri Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit
13

Limbah padat Tandan Kosong (TKS) merupakan limbah padat yang
jumlahnya cukup besar yaitu sekitar 6 juta ton yang tercatat pada tahun
200+, namun pemanfaatannya masih terbatas. Limbah tersebut selama ini
dibakar dan sebagian ditebarkan di lapangan sebagai mulsa. Persentase
Tankos terhadap TBS sekitar 20¾ dan setiap ton Tankos mengandung unsur
hara N, P, K, dan Ng berturut-turut setara dengan 3 Kg Urea; 0,6 Kg C!RP;
12 Kg NOP; dan 2 Kg Kieserit. Dengan demikian dari satu unit PKS kapasitas
olah 30 ton TBSfjam atau 600 ton TBSfhari akan menghasilkan pupuk N, P,
K, dan Ng berturut-turut setara dengan 360 Kg Urea, 72 Kg C!RP; 1.++0 Kg
NOP; dan 2+0 Kg Kiserit (Lubis dan Tobing, 1989). Potensi dan pemanfaatan
TKS dari limbah PKS sebagai hara dalam suata luasan areal tertentu dapat kita
lihat pada Tabel 2 dibawah ini:



TANDAN BUAH
SEGAR (100 %)
PENGUAPAN 0,4%
BLOWDOWN 11,1%
BRONDOLAN
67 %
CPO KASAR
43,5 %
BIJI DAN AMPAS
23,5 %
TANDAN KOSONG
21,5 %
UNSUR N 1,5 %
UNSUR P 0,5 %
UNSUR K 7,3 %
UNSUR Mg 0,9 %
CPO 22,5 %
SOLID 4,1 %
AIR 16,9 %
BIJI 10,4 %
KERNEL 5 %
CANGKANG
5,4 %
AMPAS 12,9 %
SERAT 11,5 %
AIR 1,4%
Gambar +. Fraksionasi Hasil Pengolahan Tandan Buah Segar
14
Tabel 2. Potensi dan pemanfaatan TKS dari limbah PKS sebagai hara dalam suatu
luasan.
Kapasitas Pabrik
(Tonfjam)*
TKS
{tonJth)**
Luasan yang dapat
Diaplikasi TKS {haJth)***
30 31.200 7S0
+5 46.S00 1.170
60 62.400 1.560
Keterangan: * = jam kerja pabrik 2 jam per hari, hari kerja dalam 1 tahun = 260 hari,
** = 20¾ TBS merupakan TKS
*** = dosis +0 ton TKSfha
Sedangkan limbah padat seperti cangkang dan serat sebesar 1,73 juta
ton dan 3,7+ juta ton. Dari hasil perhitungan untuk setiap hektar tanaman
memberikan gambaran dan informasi untuk rnenentukan kelayakan daur ulang
limbah sawit sebagai pupuk tanaman. Pada Tabel 3 dibawah ini disajikan
potensi limbah padat kelapa sawit sebagai hara.
Tabel 3 Potensi limbah padat kelapa sawit sebagai hara
No
Bobot dalam Kgfha tanaman

Limbah Kelapa Sawit dari
Peremajaan dan Bobot
Keringfha tanaman
N P K Mg Ca
1. Batang sawit 7+,+8 ton 36S,2 35,5 527,4 S2,3 166,4
2.
3.
Pelepah 1+,+7
Pangkasan 10,+0 tonfthn
150,1
107,9
13,9
10,0
193,9
139,4
24,0
17,2
35,7
25,6
+. Serat buah 1,63 ton
5,2 1,3 7,6 2,0 1,S
5. Cangkang 0,9+ ton
3,0 0,1 0,S 0,2 0,2
Satu hektar tanaman kelapa sawit rnenghasilkan pelepah daun dengan
bobot kering 1+,+7 ton sekali dalam 30 tahun (peremajaan) dan 10,+0 ton dari
pangkasan setahun. Produksi TBS setahun sekitar 20,08 ton dengan bobot
15
kering 10,59 ton dan tandan kosong 22¾ dari jumlah TBS yaitu +,+2 ton
dengan bobot kering 1,55 ton.
Dalam upaya pemanfaatan limbah kelapa sawit secara optimal untuk
setiap kasus, perlu dikaji beberapa aspek teknis, ekonamis, sosial dan ling-
kungan seperti berikut:
Jumlah, waktu pengadaan dan lokasi limbah maupun fluktuasinya sepan-
jang tahun atau musim.
Pemanfaatan di lapangan, jumlah biomasa, kebutuhan tenaga kerja, pe-
ralatan, kondisi jalan, bahaya, resiko kerusakan atau pelapukan.
Transportasi, volume limbah, jarak sampai ditujuan, kondisi jalan.
Struktur fsik dan komposisi kimia maupun kandungan energi (nilai kalor
bakar) bahan limbah.
Berbagai alternatif pemanfaatan limbah, teknologi yang tersedia, biaya
dan nilai produk yang dihasilkan.
Tingkat pcncemaran lingkungan dan teknologi penanganan untuk keles-
tarian lingkungan hidup.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, maka pemanfaatan
limbah dapat dilakukan secara optimal.
3.2. Karakteristik Limbah Kelapa Sawit
Hampir seluruh air buangan PKS mengandung bahan organik yang dapat
mengalami degradasi. Oleh karenanya dalam pengelolaan limbah perlu diketa-
hui karakteristik limbah tersebut, antara lain yaitu :
Dari Bal ance sheet ekstraksi minyak kelapa sawit diketahui bahwa jumlah
air imbah yang dihasilkan dari 1 ton CPO yang diproduksi adalah 2,50 ton
disajikan pada Tabel-1.


16
Tabel + Komposisi jumlah air limbah dari 1 ton CPO
No. URAIAN KAPASITAS
1.
Air 2.35 ton
2.
NOS (Non Oil Solid) 0,13 ton
3.
Ninyak 0,02 ton
Jumlah 2,50 ton

Efisiensi pabrik kelapa sawit dapat ditingkatkan dengan pemakaian
Decanter yang hanya menghasilkan limbah cair sekitar 0,3-0,+ ton untuk
setiap 1 ton TBS yang diolah, sehingga limbah cair yang dihasilkan dapat
ditekan hanya 2+ tonfjam atau 1,667 m
3
per 1 ton CPO yang dihasilkan. Lim-
bah cair yang akan dihasilkan dari seluruh proses produksi minyak kelapa
sawit diperkirakan maksimal ± 60¾ dari seluruh tandan buah segar yang di-
olah.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap beberapa PKS milik PTP (dianggap
mewakili PKS pada umumnya) oleh Bank Dunia diketahui bahwa kualitas lim-
bah cair (inlet) yang dihasilkan berpotensi mencemari badan air penerima
limbah adalah seperti yang disajikan pada Tabel-5 berikut.
Tabel 5 Kualitas limbah cair (inlet) Pabrik Kelapa Sawit PKS
LIMBAH CAIR
No.

PARAMETER
LINGKUNGAN

SAT.
KISARAN

RATA-RATA

BAKU MUTU
MENLH
1. BOD mgfl S.200 - 35.000 21.2S0 250
2. COD mgfl 15.103 - 65.100 34.720 500
3. TSS mgfl 1.330 - 50.700 31.170 300
+. Nitrogen
Total
mgfl 12 - 126 41 20
17
LIMBAH CAIR
No.

PARAMETER
LINGKUNGAN

SAT.
KISARAN

RATA-RATA

BAKU MUTU
MENLH
5. Ninyak dan
Lemak
mgfl 190 - 14.720 3.075 30
6. PH - 3,3 - 4,6 4.0 6 - 9

Kandungan hara spesifik dari limbah kelapa sawit secara keseluruhan
dapat kita lihat pada Tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6 Kandungan hara limbah kelapa sawit
Kandungan atas dasar % berat kering
No.
Limbah Kelapa
Sawit N P K Mg Ca
1. Batang pohon 0,4SS 0,047 0,699 0,117 0,194
2. -Pelepah
-Daun
2,3S
0,373
0,157
0,066
1,116
0,S73
0,2S7
0,161
0,56S
0,295
3. Tandan Kosong 0,350 0,02S 2,2S5 0,175 0,149
+. Serat buah 0,320 0,0S0 0,470 0,020 0,110
5. Cangkang 0,330 0,010 0,090 0,020 0,020

Kandungan hara dalam abu hasil pembakaran tandan kosong dan serat
serta cangkang dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini:
Tabel 7 Kandungan Tandan Kosong, Serat dan Cangkang
Kandungan hara {%)
Abu hasil pembakaran
P K Ca
Tandan kosong 1,25 - 2,1S 24,9 - 33,2 5,4
Serat dan cangkang 1,74 - 2,61 16,6 - 24,9 7,1

18
Dengan teknologi terkini, kayu sawit yang memiliki sifat dasar atau kualitas
penggunaannya yang rendah dibandingkan dengan kayu biasa ternyata dapat
menjadi bahan baku mebel yang potensial. Kepala Badan Litbang Hutan pun
mengatakan bahwa produk tersebut selama ini banyak dicari pembeli dari luar
negeri, karena selain corak kayunya unik juga memiliki kekuatan yang cukup
bagus. Sehingga batang kelapa sawit ini layak disejajarkan dengan kayu
komersial lain yang harganya lebih mahal. Beliau juga mengatakan bahwa
penggunaan resin dalam pengolahan batang atau kayu kelapa sawit sangat
murah dan mudah digunakan dibandingkan dengan bahan impor yang umum
digunakan dalam modifikasi kayu
Diketahui dari uji panjang serat dan diameter serat metode Franklin dari sifat
fisik dan morfologi serat, serat janjang kosong termasuk serat pendek <1
mm. Kadar selulose 45,19%, menunjukkan bahwa janjang kosong
cukup baik untuk dibuat pulp. Rendemen +5¾, derajat putih 82¾, derajat
giling 33-+3
0
SR dengan kondisi optimum, !ndeks retak, tarik, cukup tinggi,
indeks sobek masih dalam batas yang diijinkan.













19
IV. PENGELOLAAN LIMBAH PKS
Konsep Zero Emissions seyogyanya dapat diterapkan pada !ndustri Kelapa
sawit, karena konsep ini mempunyai falsafah dasar yang menyatakan bahwa pro-
ses industri seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena
limbah tersebut merupakan bahan baku bagi industri lain. Nelalui penerapan
konsep ini, proses-proses industri akan menghemat sumber daya alam, memper-
banyak ragam produk, menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru serta
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Zero Emissions menggambar-
kan perubahan konsep industri dari model linier dimana limbah dipandang sebagai
norma, sistem terintegrasi yang memandang kepada nilai gunanya. Zero Emi-
ssions mengawali revolusi industri selanjutnya, dimana industri meniru siklus ber-
kelanjutan alam dan manusia dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara
terus menerus.
Zero Emissions memperlihatkan keseluruhan input yang dipakai atau
dicetak dalam produk akhir sehingga memiliki nilai tambah sebagai input untuk
industri atau proses lain. Dengan cara ini, industri akan mengorganisasikan
kembali sistemnya menjadi ¨kelompok-kelompok" yang akan menerima masukan
produk sampai atau limbah yang dihasilkan proses sebelumnya. Secara keselu-
ruhan proses ini menjadi proses yang terintegrasi tanpa limbah. !lustrasi yang
terlihat pada Gambar 5 dan 6 dibawah ini dapat menggambarkan perbedaan linear
konvensional dengan model Zero Emissions.
Dari sudut pandang lingkungan, konsep eliminasi limbah Zero Emissions
merupakan solusi akhir dari permasalahan pencemaran yang mengancam eko-
sistem baik dalam skala lokal maupun dalam skala global. Selain itu, penggunaan
maksimal bahan mentah yang dipakai dan sumber-sumber yang terbaharui
(renewable) menghasilkan keberlanjutan (sustainable) penggunaan sumber daya
alam dan penghematan (efisiensi) terutama bagi limbah yang masih mempunyai
nilai ekonomi.

20


B Ba ah ha an n b ba ak ku u
Input
Industri
Produk
Output
polutan
limbah
Gambar 5 Nodel Linier Konvensional
Industri I
(Proses I)
Industri III
(Proses III)
Industri II
(Proses II)
Sumber Daya Alam
(Bahan Baku)
Eco-products
Gambar 6 Nodel Zero Emissions.
21
Aplikasi Zero Emissions pada !ndustri Kelapa Sawit berarti meningkatkan
daya saing dan efisiensi karena semua sumber daya digunakan secara maksimal
yaitu memproduksi lebih banyak dengan dengan bahan baku yang lebih sedikit,
oleh sebab itu Zero Emissions dapat dipandang sebagai suatu standar efisiensi.
Kegiatan kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang
sangat memungkinkan penerapan konsep Zero Emissions, dimana hampir semua
limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali mulai dari pelepah sampai
limbah cair.
Penggunaan bahan baku secara maksimal berarti penciptaan industri baru
dan lapangan kerja sejalan dengan meningkatnya produktivitas, dan mendukung
usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi kemam-
puan produksi sumber daya alam bagi generasi dimasa depan. Secara garis besar,
penerapan konsep Zero Emissions ini akan menyebabkan perubahan pola industri-
alisasi menjadi:
1. Lebih peduli lingkungan (eko product): Dengan mengefisienkan penggunaan
bahan baku dan memaksimalkan nilai gunanya, secara otomatis, emisi gas,
limbah padat dan cair ke lingkungan akan berkurang.
2. Terciptanya lapangan kerja baru: Nelalui proses siklus, limbah suatu proses
menjadi input bagi proses lainnya dan seterusnya. Sehingga akan terjadi
ekspansi dan diversifikasi industri, dimana dampaknya adalah munculnya ke-
butuhan tenaga dan terciptanya lapangan kerja baru.
Keuntungan perusahaan meningkat; Pergeseran paradigma dari share-holders
menjadi stake-holders mengakibatkan suatu produk akan dikonsumsi jika meme-
nuhi norma yang dipakai oleh konsumen. Penerapan konsep Zero Emissions akan
meningkatkan daya saing produk tersebut, karena konsumen hijau akan memilih
memakai produk-produk ramah lingkungan.
Konsep Zero Emissions, yang hakekatnya sejalan dan merupakan kelan-
jutan pelaksanaan program Produksi Bersih yang merupakan bukti penge-
jawantahan pembangunan berwawasan lingkungan. Produksi Bersih adalah suatu
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu
22
diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produksi
dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.
Produksi Bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya
perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan atau pertumbuhan
ekonomi, karena Penerapan Produksi Bersih dapat:
1. Nemberikan peluang keuntungan ekonomi, sebab di dalam Produksi Bersih ter-
dapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya (source reduction dan
in process recycling) yaitu mencegah terbentuknya limbah secara dini, yang da-
pat mengurangi biaya terbentuknya limbah secara dini, yang dapat mengurangi
biaya investasi untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaik-
an lingkungan.
2. Nencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pengu-
rangan limbah, daur ulang, pengolahan dan pembuangan yang aman.
3. Nemelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang me-
lalui penerapan proses produksi dan penggunaan bahan baku dan energi yang
lebih efisien (konservasi sumberdaya, bahan baku dan energi).
+. Nendukung prinsip ¨enviromental equity" dalam rangka pembangunan berke-
lanjutan dimana kita harus memelihara lingkungan agar dapat diwariskan ke-
pada generasi mendatang.
5. Nencegah atau memperlambat terjadinya degradasi lingkungan dan memanfa-
atkan sumberdaya alam melalui penerapan daur ulang limbah di dalam proses,
yang pada akhirnya menuju upaya konservasi sumberdaya untuk mencapai tu-
juan pembangunan berkelanjutan.
6. Nemelihara ekosistem lingkungan.
7. Nemperkuat daya saing produk di pasar internasional.
Strategi Produksi Bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalam-
nya termasuk upaya pencegahan, pencemaran melalui pilihan jenis proses yang
akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup, dan teknologi bersih.
Dengan adanya perkembangan dan perubahan cara pandang dalam pengelolaan
23
limbah, konsep Produksi Bersih menjadi pilihan kebijaksanaan pemerintahan untuk
mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Untuk mengaplikasikan
konsep produksi Bersih, strategi pencegahan pencemaran perlu diprioritaskan
dalam upaya mewujudkan industri berwawasan lingkungan, tetapi bukanlah
merupakan satu-satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti
program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan
sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya.
Upaya-upaya penerapan program Zero Emissions telah cukup banyak
dikembangakan oleh !ndustriawan perkelapasawitan di !ndonesia seperti yang
dilaksanakan di PT. Agricinal, dimana salah satu upayanya adalah melakukanf-
menerapkan Sistem !ntegrasi Sapi-Kelapa Sawit (S!SS). Dalam S!SS kegiatan
pada Pabrik Ninyak Kelapa Sawit (PNKS) dengan mengutip materi organik
tersuspensi pada limbah cair yang keluar dari Continous Settling Tank PNKS untuk
kemudian difermentasikan menjadi pakan ternak. Dan produk samping dari
kegiatan perkebunan, yaitu pelepah dan saun sawit dapat digunakan sebagai pa-
kan ternak. Pakan ternak yang dihasilkan tidak untuk dijual, tetapi digunakan un-
tuk memenuhi kebutuhan pakan ternak di perkebunan kelapa sawit PT. Agricinal
untuk mendukung S!SS yang diterapkan di Agricinal dan perkebunan plasma
masyarakat binaan PT. Agricinal. Sehingga ternak sapi dapat dijadikan sumber
investasi dan tambahan pemasukan bagi pemilik sapi, dimana pada perkebunan
PT. Agricinal dan plasmanya, pemanen adalah pemilik sapi. Saat ini ternak sapi
yang dimiliki PT. Agricinal sebanyak 3.800 ekor, dengan rincian 3000 ekor milik
inti dan 800 ekor tersebar pada plasma. Ternak yang dipelihara oleh pekerja
perkebunan selanjutnya digunakan sebagai alat angkut TBS ke tempat pengum-
pulan hasil. Secara ekonomis, perusahaan diuntungkan dengan luas area yang
bisa digarap setiap pemanen bertambah dari 10 menjadi 15 ha. !ni berarti
pengurangan tenaga kerja yang berdampak bagi pengurangan biaya operasional
untuk pengadaan perumahan, pelayanan kesehatan, penyediaan sarana sosial
seperti sekolah, dll. Hasil penghematan ini sebagian dikembalikan kepada para
pemanen berupa upah dan tunjangan kesejahteraan karyawan. Perdagangan sapi
dan produk hilirnya adalah peluang diversifikasi usaha.
24
Secara sosial, cakupan area kerja yang bertambah luas sehingga dapat
meningkatkan pendapatan pemanen setiap bulannya, penambahan pemasukan
juga didapat dari mengelola peternakan skala kecil dengan ongkos operasi yang
minim karena pakan di diperoleh secara gratis dari kebun dan PKS secara gratis,
pedet (anak sapi ) yang dihasilkan setiap tahunnya merupakan profit bagi para
pemanen yang juga merupakan pemilik sapi. Secara ekologis, sistem pencernaan
sapi akan mempercepat proses dekomposisi material organik dalam limbah cair
yang akan mempercepat atau membuat siklus material menjadi siklik dan cepat.
Sebagian energi pada afdeling yang sebelumnya menggunakan energi fosil
sekarang dapat tergantikan dengan methane yang dihasilkan digester biogas. PT.
Agricinal bekerjasama dengan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi-Bogor dan
Lembaga penelitian dan Pemberdayaan Nasyarakat !TB (LPPN-!TB) menghasilkan
kegiatan yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan produk samping sawit sebagai
pakan sapi serta pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali ke dalam
kegiatan perkebunan. Kegiatan yang dilakukan oleh PNKS Agricinal akan
menghasilkan 2 jenis komoditas yaitu minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO)
dan minyak inti sawit atau Palm Kernell Oil (PKO). Produk samping yang dihasilkan
dari kegiatan tersebut adalah pelepah daun, daun, serabut, tandan kosong, pupuk
organik, cangkang, limbah cair. Pada proses pengelolaan limbah yang baru ada +
unit pengolahan limbah (decanter dan membran keramik untuk pengolahan heavy
phase, inti penukar panas dan tangki pengendap kontinyu untuk pengolahan
kondensat) serta 2 unit kegiatan baru yang ditambahkan, yaitu pabrik pakan
ternak dan pabrik PKO. Produk yang dihasilkan dari kegiatan perkebunan sawit
PT. Agricinal adalah CPO, PKO dan pakan ternak. Di dalam decanter, terjadi
pengutipan padatan (solid) dan light phase dari limbah heavy phase yang keluar
dari continous settling tanks, sehingga dapat mengurangi komposisi bahan
pencemar dalam limbah sebanyak 17,6¾ (minyak dalam light phase dan cake).
Non Oil Solid (blondo) yang dikutip decanter dapat dijadikan sumber pakan
ternak. Dari setiap 30.000 TBS setiap jamnya dapat dihasilkan NOS yang terdapat
pada cake (236,2+ Kg) dan heavy phase 537,51 Kg.

25
Heavy phase yang keluar dari decanter yang memiliki ukuran solid yang sangat
halus dapat dikutip dengan menggunakan membran keramik. Solid yang didapat
dari pengutipan dengan decanter akan difermentasi dengan menngunakan
Aspergilus niger sehingga ada peningkatan kadar protein, penurunan kadar air
dan pengawetan bahan.
PT. Agricinal telah membuat pabrik ferlawit skala pilot project dengan
kapasitas produksi 500 kgfhari. Bahan-bahan yang digunakan untuk ferlawit
adalah solid (hasil dari decanter), bungkil inti sawit dan mineral. Direncanakan
tahun depan PT. Agricinal mulai mengoperasikan pembuatan pellet full-feed dari
sisa industri sawit yang berupa campuran ferlawit, daun dan pelepah. Pabrik pa-
kan sapi skala penuh direncanakan untuk memproduksi 27,595 ton ferlawit setiap
harinya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Balitnak pada sapi dengan bobot
hidup 132 ± 12 kg didapatkan bahwa pertumbuhan optimal didapatkan pertum-
buhan optimal dari pemberian ransum 33¾ pelapah, 33¾ ferlawit setiap harinya
dengan jumlah +,73 kg ransum setiap harinya dapat memenuhi kebutuhan pakan
sapi (dengan bobot hidup 132 ± 12 kg) sejumlah 17.577 ekor. Produksi pakan sa-
pi ini akan didistribusikan kepada pemanen baik dari kebun inti, maupun kebun
plasma yang telah mengirimkan sawit untuk diolah di PNKS PT. Agricinal.
Secara sosial, cakupan area kerja yang bertambah luas sehingga dapat
meningkatkan pendapatan pemanen setiap bulannya, penambahan pemasukan
juga didapat dari mengelola peternakan skala kecil dengan ongkos opeasi yang
minim karena pakan di diperoleh secara gratis dari kebun dan PKS secara gratis,
pedet (anak sapi ) yang dihasilkan setiap tahunnya merupakan profit bagi para
pemanen yang juga merupakan pemilik sapi.
Secara ekologis, sistem pencernaan sapi akan mempercepat proses
dekomposisi material organik dalam limbah cair yang akan mempercepat atau
membuat siklus material menjadi siklik dan cepat. Sebagian energi pada afdeling
yang sebelumnya menggunakan energi fosil sekarang dapat tergantikan dengan
methane yang dihasilkan digester biogas.
26
Pada akhirnya melalui penerapan konsep Produksi Bersih maupun Zero
Emissions diharapkan terjadi efisiensi dalam proses produksi yang senantiasa
memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Dalam kondisis krisis moneter se-
perti saat ini, sektor agroindustri yang merupakan salah satu tulang punggung
pertumbuhan ekonomi dapat lebih berdaya saing dalam menghadapi era perda-
gangan bebas.
Kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan
yang sangat memungkinkan untuk menerapkan konsep Zero Emissions, karena
hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena
itu pemerintah dewasa ini sangat memperhitungkan dan memprioritaskan pene-
rapan Produksi Bersih pada komoditi kelapa sawit. Karena dengan semakin
tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian lingkungan hidup serta
adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk tidak hanya dilihat dari
aspek fisik dan kimianya saja, tetapi juga aspek lingkungannya. Eco products akan
menjadi parameter baru pada mutu produk dimasa depan. Pada prinsipnya
persyaratan untuk mendapatkan eco products adalah proses produksi yang
menerapkan:
Ninimalisasi limbah
Pemanfaatan kembalifrecycle nutrisi
Penggunaan energi terbarukan (biomassa)
Limbah yang dihasilkan oleh !ndustri kelapa sawit terdiri dari limbah cair,
limbah padat, dan limbah gas. Oleh karena itu, berikut ini di uraikan teknik
pengelolaannya.
+.1. Pengelolaan Limbah Cair
Dalam pengolahan limbah cair pada !ndustri Kelapa Sawit dapat
menerapkan teknik sebagai berikut:
+.1.A. Sistem Kolam Stabilisasi Biasa
Berkaitan dengan pengolahan limbah cair terdapat beberapa penelitian yang
dilakukan untuk menurunkan kadar limbah agar memenuhi baku mutu lingkungan
yang disyaratkan. Proses pengolahan Limbah Pabrik Kelapa Sawit (LPKS) terdiri
27
dari perlakuan awal dan pengendalian lanjutan. Perlakuan awal meliputi segre-
gasi aliran, pengurangan minyak di tangki pengutipan minyak (fat-pit), penu-
runan suhu limbah dari 70-80
º
C menjadi +0-+5
º
C melalui menara atau bak
pendingin. Setelah segregasi aliran limbah pada PKS kapasitas olah 60 ton
TBSfjam, volume air limbah yang diolah berkurang menjadi 700-750 m3fhari.
Proses biologis dapat mengurangi konsentrasi B0D limbah hingga 90¾.
Dekomposisi anaerobik meliputi penguraian bahan organik majemuk menjadi
senyawa asam-asam organik dan selanjutnya diurai menjadi gas-gas dan air.
Selanjutnya air limbah dialirkan ke dalam kolam pengasaman dengan waktu
penahanan hidrolis (WPH) selama 5 hari. Air limbah di dalam kolam ini mengalami
asidifikasi yaitu terjadinya kenaikan konsentrasi asam-asam mudah menguap
(volatile fatty acid =FTA), sehingga air limbah yang mengandung bahan organik
lebih mudah mengalami biodegradasi dalam suasana anaerobik. Sebelum diolah di
unit pengolahan limbah (UPL) anaerobik, limbah dinetralkan terlebih dahulu
dengan menambahkan kapur tohor hingga mencapai pH antara 7,0-7,5.
Pengendalian lanjutan dapat dilakukan dengran proses biologis yang direkomendasi
seperti berikut.
+.1.A.i. Proses Biologis Anaerabik Aerasi
Penanganan ini merupakan alternatif pertama yang dianjurkan dan dida-
sarkan atas biaya pembangunan UPL yang cukup efektif dan kemampuan sistem
untuk mengolah air limbah sampai rnencapai baku mutu yang ditetapkan, atau
BOD < 100 mgf1. Neskipun PBAn-Fakultatif merupakan pilihan kedua rnemberikan
biaya operasi dan pemeliharaan yang relatif rendah, namun kemampuan untuk
mengolah limbah masih lebih baik dengan cara PBAn-Aerasi. Disamping itu lahan
yang diperlukan untuk PBAn-Aerasi, sekitar 60¾ lebih kecil dari pada pemakaian
lahan keperluan PBAn-Fak. Penanganan PBAn-Aerasi terdiri dari beberapa kompo-
nen utama berikut:
1) Peralatan pengukur aliran (baskulator atau flow monitoring)
2) Kolam pengasaman 2 unit paralel dengan WPH masing-masing 2,5 hari
3) Kolarn An Primer dan sekunder masing-masing 2 unit dengan vvPH masing-
masing selama +0 dan 20 hari.
28
+) Kolam aerobik dengan aerasi lanjut yang dilengkapi dengan aerator permuka-
an dengan WPH selama 15 hari
5) Kolam pengendapan dengan WPH selama 2 hari
Waktu penahanan hidrolis dengan sistem ini yaitu selama 137 hari, de-
ngan volume kolam antara 95.900-102.750 m
3
. Air limbah yang dibuang dari
UPL ini telah memenuhi baku mutu limbah cair sesuai dengan keputusan Nen-
teri Lingkungan Hidup dengan BOD 100 mgf1 dan pH 6-9. Jika limbah cair
dialirkan ke areal tanaman kelapa sawit, dan tidak menimbulkan dampak yang
merugikan, maka biaya investasi dan pengoperasiannya berkurang antara 50-
60¾. Dengan proses biologis dalam suasana anaerobik dan aerobik, terjadi
biodegradasi bahan organik menjadi senyawa asam-asam dan gas-gas, se-
dangkan mineral sedikit berkurang selama proses tersebut. Ciri utama yang
diusulkan dengan disain tersebut berkaitan dengan bak pengutipan minyak
dengan WPH 2 jam dan susunan UPL anaerobik sebanyak + unit. Bak
pengutipan minyak dengan WPH selama 2 jam dengan kedalaman 1,5 m
dibangun untuk mengutip kembali minyak dan selanjutnya limbah yang berasal
dari stasiun rebusan dan klarifikasi dipisahkan alirannya dengan WPH selama 8
jam. Bak pengutipan minyak dilengkapi dengan pompa untuk mengembali-
kan minyak (resirkulasi) ke tempat pengumpulan. Oleh karenanya, perlu dihin-
darkan agar air pencuci tidak dialirkan ke dalam bak pengumpul untuk
mengurangi volume limbah. Secara skematis disajikan pada gambar 7 Ran-
cangan Sistem Kolam Aerasi Kap. PKS 30 ton TBSfjam dibawah ini. Selain itu
perlu diketahui bahwa dalam mengantisipasi penurunan kualitas air. Peme-
rintah telah mengeluarkan PP No 20fl990 tentang pengendalian pencemar-
an air, dan Nenteri Negara Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Kepu-
tusan Nenteri tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri, seperti
yang tersaji pada Tabel dibawah ini.

2
9

W
P
H

2
,
5

h


W
P
H

2
,
5

h

(
3
0
x
1
0
x
3
)

m
3

K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

P
r
i
m
e
r

1


W
P
H

=

4
0

h

(
1
2
0
x
3
0
x
5
,
5
)

m
3

K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

P
r
i
m
e
r

2


W
P
H

=

4
0

h


K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

S
e
k
u
n
d
e
r

2


W
P
H

=

2
0

h


K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

S
e
k
u
n
d
e
r

1


W
P
H

=

2
0

h

(
6
0
x
2
0
x
5
,
5
)

m
3

A
e
r
a
s
i
-
A
e
r
o
b
i
k

W
P
H

=

1
5

h

(
1
0
0
x
3
0
x
3
,
5
)

m
3

W
P
H

2

h


(
1
0
x
4
x
1
,
5
)

m
3

4

1

2

3



A
i
r

r
e
b
u
s
a
n



L
i
m
b
a
h

K
l
a
r
i
f
i
k
a
s
i



A
i
r

h
i
d
r
o
s
i
k
l
o
n



A
l
a
t

p
e
n
g
u
k
u
r

a
l
i
r
a
n

D
a
s
a
r

P
e
r
a
n
c
a
n
g
a
n

:



K
a
p
.

O
l
a
h

P
K
S

3
0

t
o
n

T
B
S
/
j
a
m



P
e
n
g
o
p
e
r
a
s
i
a
n

m
a
k
s
.

2
0

j
a
m
/
h



L
a
j
u

a
l
i
r

l
i
m
b
a
h

=

1
,
0

m
3
/
t
o
n

T
B
S



L
u
a
s

a
r
e
a
l

p
e
n
g
o
l
a
h
a
n

l
i
m
b
a
h

=

5
0
.
0
0
0

m
2




V
o
l
u
m
e

l
i
m
b
a
h

=

6
0
0

m
3
/
h
a
r
i


G
a
m
b
a
r

7


D
a
s
a
r

P
e
r
a
n
c
a
n
g
a
n

S
i
s
t
e
m

K
o
l
a
m

A
n
a
e
r
o
b
i
k

A
e
r
a
s
i
.

K
a
p
.

P
K
S

3
0

t
o
n

T
B
S
/
j
a
m

3
0

m

1
2
0

m

8

m

6
0

m

8

m

1
0
0

m

8

m

8

m

1
0

m

1
0

m

B
O
D

=

2
5
.
5
0
0

m
g
/
l

1
2
0

m
3
/
/
h

4
5
0

m
3
/
/
h

3
0

m
3
/
/
h


W
P
H


2

h


B
u
a
n
g

k
e

S
u
n
g
a
i

B
O
D

=

5
0

m
g
/
l

(
3
0
x
3
0
x
2
)

m
3

R
e
s
i
r
k
u
l
a
s
i

5
0
%





L
u
m
p
u
r

p
e
n
g
e
n
d
a
p
a
n


K
o
l
a
m

A
n
a
e
r
o
b
i
k

(
3
0
x
2
0
x
0
,
5
)

m
3

B
i
o
s
o
l
i
d
s

d
i
k
e
r
i
n
g
k
a
n

8

m

3
0

m

1
0

m

B
a
k

P
e
n
g
u
t
i
p
a
n

B
a
k

P
e
n
g
a
s
a
m
a
n

K
.

P
e
n
g
e
n
d
a
p
a
n

30
Tabel S Baku Mutu Limbah Industri Minyak Sawit

Debit limbah maksimum sebesar 2,5 m
3
per ton CPO
Parameter Kadar
Maks.
Satuan Beban
Penc.
Maks.
Satuan
BOD 100 mgfl 0,25 kgfton
COD 350 mgfl 0,88 kgfton
TSS 250 mgfl 0,63 kgfton
Minyak &
Lemak
25 mgfl 0,0631 kgfton
Total N 50 mgfl 0,125 kgfton
pH 6-9 - - kgfton
Sumber: Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Air, Bapedal (1995)
Adapun Komposisi nutrisi dari LPKS sebelum dan setelah diolah disajikan Pada
Tabel 9 dibawah ini:
Tabel 9 Kisaran Komponen Kimia Limbah Cair PKS Sebelum dan
Setelah Penanganan

Uraian

WPH
{hari)


BOD
{mgJl)


P
{mgJl)

N
{mgJl)

K
{mgJl)

Mg
{mgJl)
Limbah
(fat-pit)
- 25.000 500-900 90-1+0 1.000-1.975 250-3+0
Kolam
pengasaman
5 25.000 500-900 90-1+0 1.000-1.975 250-3+0
Kolam
Anaerob
Primer
75 3500-5000 675 90-110 1000-1850 250-320
Kolam
Anaerob
Sekunder
35 2.000-3.500 +50 62-85 875-1250 160-215
Kolam
Aerobik
15-21 100-200 80 5-15 +20-670 25-55
Kolam
Pengendapan
2 100-150 +0-70 3-15 330-650 17-+0
Sumber: Pamin, Siahaan, dan Tobing (1996)
31
+.1.A.ii. Proses Biologis Anaerobik-Fakultatif
Proses ini merupakan pilihan kedua yang mempunyai biaya operasi dan
pemeliharaan relatif rendah. Hanya saja diperlukan energi untuk memindahkan
pompa untuk mengalirkan limbah dan pembuangan lumpur. Jika kolam sudah
penuh, dan alirannya secara gravitasi, pemakaian energi menjadi berkurang
namun biaya operasi dan pemeliharaan secara periodik masih diperlukan Jika
biaya pembebasan lahan tidak termasuk dalam pembangunan UPL tersebut, maka
biaya investasi dengan cara ini sebanding dengan alternatif pertama. Proses Anae-
robik-Fakultatif kurang mantap dalam penurunan kualitas air limbah, terutama pa-
da panen puncak dan kondisi fluktuasi, dan hal ini merupakan salah satu kerugian
yang ditimbulkan oleh sistem tersebut. Pengamatan lainnya yang menimbuikan
kerugian adalah luas areal yang diperlukan untuk UPL. Oleh karenanya dianjurkan
proses anaerobik-fakultatif digunakan hanya untuk mengolah limbah PKS saja.
Proses yang berlangsung dalam sistem ini sama dengan PBAn-Aerasi lanjut.
Peralatan dan komponen yang diperlukan adalah seperti berikut:
1) Fasititas pengukur aliran
2) Bak pengutipan minyak, 1 unit dengan WPH selama 2 jam
3) Kolam pengasaman 2 unit paralel dengan WPH selama 2,5 hari
+) Kolam anaerobik primer, dan sekunder masing-masing 2 unit dengan W.PH
berturut-turut selama +0 dan 20 hari
5) Kolam fakultatif, 1 unit dengan WPH selama 15 hari
6) Kolam algafaerobik, 3 unit dengan WPH masing-masing 7 hari
7) Bak penampung dan pengering lumpur
Secara umum skematis Gambar Dasar Perancangan Sistem Kolam Anaerobik
Fakultatif disajikan pada gambar 8 berikut:






3
2

W
P
H

2
,
5

h


W
P
H

2
,
5

h

(
3
0
x
1
0
x
3
)

m
3

K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

P
r
i
m
e
r

1


W
P
H

=

4
0

h

(
1
2
0
x
3
0
x
5
,
5
)

m
3

K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

P
r
i
m
e
r

2


W
P
H

=

4
0

h


K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

S
e
k
u
n
d
e
r

2


W
P
H

=

2
0

h


K
.

A
n
a
e
r
o
b
i
k

S
e
k
u
n
d
e
r

1


W
P
H

=

2
0

h


(
6
0
x
2
0
x
5
,
5
)

m
3

K
.

F
a
k
u
l
t
a
t
i
f

W
P
H

=

1
5

h

(
1
2
5
x
4
0
x
2
,
5
)

m
3

W
P
H

2

h


(
1
0
x
4
x
1
,
5
)

m
3

4

1

2

3



A
i
r

r
e
b
u
s
a
n



L
i
m
b
a
h

K
l
a
r
i
f
i
k
a
s
i



A
i
r

h
i
d
r
o
s
i
k
l
o
n



A
l
a
t

p
e
n
g
u
k
u
r

a
l
i
r
a
n

D
a
s
a
r

P
e
r
a
n
c
a
n
g
a
n

:



K
a
p
.

O
l
a
h

P
K
S

3
0

t
o
n

T
B
S
/
j
a
m



P
e
n
g
o
p
e
r
a
s
i
a
n

m
a
k
s
.

2
0

j
a
m
/
h



L
a
j
u

a
l
i
r

l
i
m
b
a
h

1
,
0

m
3
/
t
o
n

T
B
S



L
u
a
s

a
r
e
a
l

p
e
n
g
o
l
a
h
a
n

l
i
m
b
a
h

8
3
.
0
0
0

m
2




V
o
l
u
m
e

l
i
m
b
a
h

6
0
0

m
3
/
h
a
r
i


G
a
m
b
a
r

8


D
a
s
a
r

P
e
r
a
n
c
a
n
g
a
n

S
i
s
t
e
m

K
o
l
a
m

A
n
a
e
r
o
b
i
k

F
a
k
u
l
t
a
t
i
f
.

K
a
p
.

P
K
S

3
0

t
o
n

T
B
S
/
j
a
m

3
0

m

1
2
0

m

8

m

6
0

m

8

m

1
2
3

m

8

m

8

m

8

m

1
0

m

1
0

m

B
O
D

=

2
5
.
5
0
0

1
2
0

m
3
/
/
h

4
5
0

m
3
/
/
h

3
0

m
3
/
/
h

K
.

A
l
g
a

7

h


K
.

A
l
g
a

2

7

h


K
.

A
l
g
a

3

7

h


B
u
a
n
g

B
O
D

=

5
0

m
g
/
l

(
9
0
x
3
0
x
2
)

m
3

R
e
s
i
r
k
u
l
a
s
i

5
0
%





l
u
m
p
u
r

d
a
r
i

k
o
l
a
m

A
n
a
e
r
o
b
i
k

(
3
0
x
2
0
x
0
,
5
)

m
3

B
a
k

p
e
n
g
e
r
i
n
g
a
n

l
u
m
p
u
r

8

m

9
0

m

9
0

m

1
0

m

8

m


B
a
k

P
e
n
g
u
t
i
p
a
n

B
a
k

P
e
n
g
a
s
a
m
a
n

33
+.1.B. Proses Biologis Anaerobik-Aplikasi Lahan
Proses bologis dan aplikasi lahan (Land Appl i cati on System=LAS), me-
rupakan salah satu sistem yang mernberikan keuntungan dalam Penanganan
limbah. Limbah yang diolah dengan cara tersebut dapat dimanfaatkan seba-
gai bahan pupuk. Air limbah yang langsung keluar dari fat-pit tidak sesuai untuk
diaplikasikan ke areal tanaman kelapa sawit, karena menimbulkan masalah ter-
hadap lingkungan seperti timbulnya bau yang tajam, meningkatnya populasi ulat
dan lalat, tertutupnya pori-pori tanah oleh padatan tersuspensi, minyak dan lain
sebagainya.
Pada Prinsipnya konsep pemakaian limbah ke areal tanaman kelapa sawit
adalah pemanfaatan dan bukan pembuangan atau mengalirkan sewenang-we-
nang. Pemanfaatan ini meliputi pengawasan terhadap pemakaian limbah di areal,
agar diperoleh keuntungan dari segi agronomis dan tidak menimbulkan dampak
yang merugikan (Huan, 1987).
Pemilihan teknik aplikasi yang sesuai untuk tanaman keiapa sawit sangat
tergantung kepada kondisi dan luas areal yang tersedia maupun faktor berikut:
Jenis dan volume limbah cair, topografi lahan yang akan dialiri,
Jenis tanah dan kedalaman permukaan air tanah, umur tanaman Kelapa
Sawit,
Luas lahan yang tersedia dan jaraknya dari pabrik, dekat tidaknya dengan air
sungai atau pemukirnan penduduk.
Tekhnik aplikasi lahan telah banyak dikembangkan di beberapa negara.
Pemilihan teknik aplikasi tergantung kepada kondisi topografi areal kebun. Ditjen
PPHP, Dit. Pengolahan hasil Pertanian subdit Pengelolaan Lingkungan
menganjurkan teknik aplikasi sebagai berikut:
4.1.B.a). Teknik penyemprotanJsprinkler. Limbah cair yang sudah diolah
dengan PBAn dengan WPH selama 75-80 hari diaplkasikan ke areal tanaman
kelapa sawit dengan penyemprotanfsprinkler berputar atau dengan arah pe-
34
nyemprotan yang tetap. Sistem ini dipakai untuk lahan yang datar atau sedikit
bergelombang, untuk mengurangi aliran permukaan dari limbah cair yang di-
gunakan. Setelah penyaringan limbah kemudian dialirkan ke dalam bak air yang
dilengkapi dengan pompa setrifugal yang dapat memompakan lumpur dan me-
ngalirkannya ke areal melalui pipa PvC diameter 3". Kelemahan sistem ini adalah
sering tersumbatnya nozzle sprinkler oleh lumpur yang dikandung limbah cair
tersebut. Disamping itu biaya pembangunan instalasi sistern sprinkler relatif
mahal.
4.1.B.b). Sistem Flatbed atau teknik parit dan teras. Sistem ini digunakan
di lahan berombak-bergelombang dengan membuat konstruksi diantara baris
pohon yang dihubungkan dengan saluran parit yang dapat mengalirkan limbah
dari atas ke bawah dengan kemiringan tertentu. Sistem ini dibangun mengikuti
kemiringan tanah. Teknik aplikasi limbah adalah dengan mengalirkan limbah
(kadar BOD 3.500-5.000 mgfl), dari kolam limbah melalui pipa ke bak-bak
distribusi, berukuran +m x +m x 1m, ke parit sekunder (flatbed) berukuran 2,5m
x 1,5m x 0,25m, yang dibuat setiap 2 baris tanaman.

Gambar 9 Bak Distribusi +m x +m x 1m

35

Gambar 10 Parit Sekunder (flatbed) 2,5m x 1,5m x 0,25m
Sistem ini dapat dibangun secara manual atau dengan mekanis menggunakan
back-hoe. Flatbed dibangun dengan kedalaman yang cukup dangkal. Limbah cair
yang akan diaplikasi dipompakan melalui pipa ke atas atau ke dalam bak
distribusi. Setelah penuh, lalu dibiarkan mengalir ke bawah dan masing-masing
teras atau flatbed diisi sampai ke tempat yang paling rendah. Seperti pada gam-
bar dibawah ini aplikasi tergantung kepada kecepatan alir, dan dapat dialirkan
secara simultan melalui beberapa baris flatbed dalam areal tanaman. Dengan
teknik pengaliran ini, secara periodik lumpur yang tertinggal pada flatbed dikuras
agar tidak tertutup lumpur.
36


Parit Utama LPKS
Jalan Panen

Gambar Pengaliran limbah cair pada areal kebun kelapa sawit dengan Sistem flat bed
daerah perakaran
10 cm
15 cm
A
A
7,7 m
Gambar Pengaliran limbah cair pada areal kebun kelapa sawit dengan Sistem flat bed
37

a) Teknik parit atau alur {long bed). Ada dua pola parit yang digunakan
untuk distribusi limbah yaitu parit yang lurus, dan berliku-liku. Parit berliku-
liku digunakan untuk lahan yang curam atau berbukit. Teknik seperti ini dila-
kukan dengan memompakan limbah ke tempat yang tinggi, lalu dialirkan ke
bawah dengan kemiringan tertentu di dalam alur. Parit dibangun dengan
kedalaman dan lebar tertentu. Kecepatan aliran diatur agar perlahan-lahan,
untuk memungkinkan perkolasi ke dalam tanah. Dengan aliran larnbat juga
dapat rnencegah erosi. Parit yang lurus memanjang dapat dibangun di lahan
sedikit miring, dan limbah dialirkan hingga ke ujung parit. Jadi seperti aplikasi
flatbed, limbah cair dipompakan melalui pipa ke tempat yang relatif tinggi dan
didistribusikan ke dalam parit primer. Jumlah parit tergantung kepada
tropografi. Teknik aplikasi seperti ini biayanya lebih murah, tetapi masalah
yang ditimbulkan ialah distribusi aliran tidak sama rata, kemiringannya ter-
batas, dan akhirnya parit tertimbun lumpur. Pembangunan parit tidak terlalu
dalam, sekitar 20cm atau 30cm dengan lebar sekitar 30cm. Parit ini dapat

Gambar Penampang flatbed berukuran 2,5 x 1,25 x 0,1 m
10 cm
A
A
38
dibangun secara manual atau mekanis di sepanjang baris tanaman, namun
tidak mengganggu jalan pemanenan dan transportasi TBS.
b) Teknik traktor-tanki. Sistem aplikasi limbah dengan cara ini yaitu dengan
mengangkut limbah cair dari !PAL (!nstalasi Pengolahan Air Limbah) atau UPL
(Unit Pengolahan Limbah) ke areal tanaman dengan menggunakan traktor
yang menarik tangki. Limbah berbentuk cair Limbah cair diaplikasikan dengan
bantuan Pompa sentrifugal yang dihubungkan dengan lobang (Chasis) ke
tangki. Peralatan yang digunkan adalah traktor, tangki, dan pompa setrifugal.
Untuk mengurangi biaya transportasi aplikasi limbah, areal tanaman sebaiknya
berdekatan dengan !PALfUPL.Traktor berjalan pada jalan pikul dan lirnbah
disemprotkan sepanjang baris pohon tempat tumpukan pelepah yang
dipangkas. Gambaran Aplikasi limbah cair PKS dengan traktor tangki sebagai
berikut:

Gambar . Aplikasi limbah cair PKS dengan cara traktor-tangki

guwungun
guwungun
Truktor meIuIui guIun punen
Truktor meIuIui guIun punen
39
Pada saat ini di !ndonesia Proses Biologis An-Aplikasi Lahan digunakan
dengan teknik parit dan teras, maupun teknik parit panjang-alur. volume limbah
cair yang dialirkan disesuaikan dengan curah hujan sepanjang tahun dan
kandungan unsur hara terkandung. Dasar disain proses disajikan pada gambar
disamping. Hasil Penelitian di Nalaysia menunjukkan adanya kenaikan produksi
TBS hingga 2+¾ dengan mengaplikasikan limbah ke tanaman kelapa sawit.
Kecepatan optimum aplikasi adalah sekitar 36 cm curah hujan pertahun. Namun
karena kondisi tanah yang berbeda, dapat dilakukan percobaan untuk
menetukan frekuensi aplikasinya per tahun. Di !ndonesia dengan dosis 15,2 cm
curah hujan Pertahun dengan frekuensi aplikasi sekali dalam dua hulan dan dosis
pupuk 50¾ dari pemberian rekomendasi, menunjukkan adanya kenaikan
produksi antara 10-15¾.
Aplikasl limbah cair dengan kecepatan aliran yang optimum tanpa pemu-
pukan, rnemberikan praduksi yang lebih tinggi dari pada areal tanaman kelapa
sawit yang dipupuk. Kenaikan produksi tersebut berkaitan dengan pengaruh
nutrisi terkandung di dalarn air limbah.
Keuntungan pemanfaatan timbah cair PKS secara umum adalah seperti
berikut:
Nemperbaiki struktur fisik tanah
Neningkatkan aerasi, peresapan, retensi, dan kelembaban.
Neningkatkan perkembang-biakan dan perkembangan akar.
Neningkatkan kandungan organik tanah, pH tanah dan kapasitas tukar kation
tanah.
Neningkatkan populasi mikroflora dan mikrofauna tanah maupun aktivitasnya.
(Huan, 1987).
Untuk rnenentukan kecepatan aliran yang optimum ke areal tanaman,
terlebih dahulu dilakukan pengamatan tentang kondisi lokasi dan lingkungan
lahan setempat oleh para pakar Agronomi di !ndonesia.
40
Pertama-tama ditentukan curah hujan pertahun, kebutuhan nitrogen oleh
tanaman dan jenis teknik aplikasinya. Sebagai indikator pembatas aplikasi adalah
jumlah maksimum nitrogen sebanyak 650 kgfhafthn untuk tanaman kelapa
sawit.
Tabel Baku mutu limbah cair untuk aplikasi limbah cair

No. Uraian Batasan Kepekatan
1. BOD (mgfl) < 3.500
2. Ninyak dan lemak (mgfl) < 3.000
3. pH 6.0
Sumber: Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Air, Bapedal (1995)
Pemanfaatan limbah cair sebagai pupukfbahan pembenah tanah di
pertanaman kelapa sawit sangat dimungkinkan atas dasar adanya kandung-
an hara dalam limbah tersebut. Pemanfaatan limbah ini, disamping sebagai
sumber pupuk bahan organik, juga akan mengurangi biaya pengolahan
limbah, biaya tersebut diperkirakan dapat diturunkan sebesar 50 - 60¾.
Penurunan biaya ini disebabkan limbah cair yang digunakan adalah limbah
yang masih memiliki nilai BOD antara 3.500 - 5.000 mgf! yang berasal dari
kolam anaerobik primer. Hal tersebut masih memenuhi persyaratan yang
telah diatur dalam Peraturan Nenteri Pertanian No. KB.310f+52fNENTANf-
X!!f95 tentang standarisasi pengolahan limbah PKS terutama untuk aplikasi
lahan (land application) sebagai sumber air dan pupuk (Tabel di atas).
Aplikasi limbah cair sebagai pupuk tidak boleh menyebabkan penurunan
mutu air tanah, kerusakan tanah, dam penurunan mutu air tanah pada
sumber-sumber air yang berasal dari air larian dari kegiatan pernanfaatan
pupuk tersebut, sehingga diperlukan sumur pantau yang berfungsi untuk
memantau kemungkinan terjadinya pencemaran pada air tanah. Penetapan
41
titik sumur pantau dilaksanakan dengan melibatkan instansi terkait seperti
Bapedalda dan dicantumkan dalam suatu berita acara.


Gambar contoh sumur pantau


Gambar skema contoh sumur pantau

60 cm
Paralon 6''
Penampang
tanah
Kedalaman
sampai
air tanah
Max 0,25''
Lubang
pori uJ
rembesan
air
Dasar sumur
sampai air
permanen
Permukaan tanah
42

+.1.C. Proses Biologis Tangki Anaerobik-Aerasi lanjut
Gasbio merupakan gas yang dihasilkan dengan proses biologis dalam
kondisi anaerobik. Gas yang dihasilkan berupa karbondioksida dan metan. Kom-
posisi rata-ratanya adalah 60-70¾ gas metan, 20-+0¾ gas karbondioksida,
antara 0,2-0,3¾ hidrogen sulfida, dan gas lainnya. Proses produksi gasbio ini se-
cara mikrobiologis dikenal dengan istilah fermentasi metan. Bakteri yang berpe-
ran dalarn proses tersebut adalah bakteri metan, terutama Nethanobacillus
omelianskii, dan bakteri metan lainnya sepe.rti Nethanobacterium formicum,
Nethanosarcina methanica, dan methanococcusmazeki (Djokowibowo, 1992).
Pemilihan teknik ini memberikan keuntungan seperti pemanfaatan gasbio dan
lahan tidak perlu luas. Jika sistem tangki tertutup dan proses biologis menggu-
nakan bakteri termofil pada suhu 50-57
0
C, reaksi biologis berlangsung lebih
cepat dibandingkan dengan proses biologis menggunakan bakten mesofil. Nasa
retensi dengan sistem tangki antara 10-17 hari. Kecepatan aliran dengan bahan
organik > +,8 kg padatan mudah menguap (volatile solids =vS) m
3
fhari atau 2,5
kg BODfm
3
fhari dengan ukuran tangki antara 1500-+200 m
3
.
Pengadukan di dalam tangki dilakukan dengan resirkulasi gasbio sebagai
pengganti pengaduk mekanis dan temasuk penghematan biaya sekitar 12
kwf1000 m
3
kapasitas tangki anaerobik. Pengadukan dengan, mengalirkan
atau resirkulasi gasbio hanya memerlukan 1,8 kwf1000m
3
kapasitas tangki.
Produksi gasbio diperkirakan 28 m
3
per ton limbah yang diolah.
Banyaknya gasbio yang dihasilkan dari perombakan limbah merupakan
sumber energi yang potensial. Jumlah gasbio yang dihasilkan oleh PKS
kapasitas olah 60 ton TBSfjam dengan waktu operasi 20 jamfh dengan
siklus 10 hari akan menghasilkan 20.000 m
3
fhari atau +,5 juta meterkubik
pertahun. Apabila gasbio langsung dibakar, setara dengan 3 juta liter bahan
bakar solar perrtahun (nilai kalor 5.300 kkalfm
3
). Gasbio juga dapat diguna-

43



WPH
1 h

(16x10x3) m
3
4
1
2
3
• Air rebusan dr oil trap (5 jam)
• Limbah Klarifikasi dr oil trap (8
jam)
• Air hidrosiklon
• Alat pengukur aliran
Dasar Perancangan :

• Kap. Olah PKS 30 ton TBS/jam
• Pengoperasian maks. 20 jam/hari
• Laju alir limbah dari St. Klarifikasi & air kondensat 0.8 m3/ton TBS

Laju alir limbah hidrosiklon 0,05 m3/ton TBS

• Laju alir limbah total 0,85 m3/hari
• Volume total limbah 510 m3/hari
• Luas areal pengolahan limbah 25.000 m2

20 m
8 m
20 m 8 m 16 m 10 m
Bak Pengumpul

Pengendapan
Anaerob
1 h

Gambar. Rancang bangun Sistem Tangki Anaerobik Tertutup (Resirkulasi Gas)/
Aerasi-Aerobik. Dirancang untuk PKS kapasitas 30 ton TBS ton TBS/jam
4

3600 L
Tangki
AnC
15h

3600 L
Tangki
AnC
15h

Pemanfaatan
Gasbio

Perangkap
kondensat

Kompressor dan
resirkulasi gas

kondensat

(20x12x2,5) m
3
Biosolid
Ke Sand Bed



Aerasi-Aerobik
(120x30x3,5) m
3
WPH = 20 h


Pengendapan
Aerobik
2 h

(30x15x2,5) m
3
Biosolid
dikeringkan

Buang ke
Sungai
BOD = 50 mg/l




Lumpur anaerob & Biosolid
Bak Pengeringan lumpur (30x20x0,5)
8 m

44 m

16 m

8 m

8 m
120 m
8 m 36 m
10 m
44
kan langsung untuk menggerakkan generator dengan efisiensi bahan bakar
sekitar 33¾, dan memberikan daya sebesar 1000 kw secara kontinyu.
Suatu percobaan dengan gas generator ((jenset) 250 kw, dioperasikan
oleh Perkebunan Sime Darby di Nalaysia selama 6 tahun, dengan waktu
20.000 jam operasi dan tidak menimbulkan masalah besar selama operasi.
Genset perlu dibersihkan dari endapan hidrogensulfida. Energi gasbio dari
limbah PKS belum dimanfaatkan secara luas sebagai pengganti bahan bakar,
atau menggerakkan diesel untuk menghasilkan listrik yang murah dan mudah
dioperasikan. Teknik tangki anaerobik ini merupakan energi alternatif untuk
dipakai di kebun dan PKS yang terpencil lokasinya, karena dapat digunakan
sebagai pembangkit tenaga.
Limbah yang telah mengalami biodegradasi di dalarn tangki dengan B0D
< 2000 mgfl dapat diaplikasikan untuk tanaman kelapa sawit, atau diolah
lebih lanjut agar dapat memenuhi baku mutu untuk dibuang ke sungai. Jika
sistem tangki anaerobik dilanjutkan dengan aplikasi limbah di lahan kebun,
maka seluruh limbah yang dihasilkan oleh PKS dapat dimanfaatkan.


+.1.D. RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap)
+.1.D.i. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) secara Anaerobik
Secara konvensional pengolahan LCPKS dilakukan dengan sistem kolam yang
terdiri dari kolam anaerobik dan aerobik dengan total waktu retensi sekitar 90-120
hari. Keuntungan dari cara ini antara lain adalah:
Sederhana
Biaya investasi untuk peralatan rendah
Kebutuhan energi rendah
Akan tetapi bila ditelaah lebih lanjut, sistem kolam mempunyai beberapa
kerugian antara lain:
45
Kebutuhan areal untuk kolam cukup luas (sekitar 5 ha untuk PKS dengan kap.
30 tonfjam).
Perlu biaya pemeliharaan untuk pembuangan dan penanganan lumpur dari ko-
lam. Untuk PKS yang menggunakan separator 2 fase, praktis semua Lumpur
(sludge) yang berasal dari buah mengalir ke kolam. Padatan tersuspensi dari
lumpur ini tidakfsedikit didegradasi sehingga konsentrasinya akan semakin me-
ningkat dan akan mengendap di dasar kolam. Kolam akan semakin dangkal, a-
pabila tidak dilakukan pembuangan Lumpur secara periodik. Akibatnya volume
efektif kolam akan semakin menurun sehingga waktu rentensi limbah akan tu-
run dan kapasitas perombakan kolam juga turun. Disamping itu pembuangan
lumpur juga dapat dilakukan pada semua bagian kolam karena luas dan
dalamnya kolam.
Hilangnya nutrisi
Semua nutrisi yang berasal dari limbah (N, P, K, Ng, Ca) akan hilang pada wak-
tu limbah dibuang ke sungai. Pembuangan limbah juga dapat menyebabkan
pencemaran sungai.
Emisi gas metana ke udara bebas.
Hampir semua bahan organik terlarut dan sebagian bahan organik tersuspensi
didegradasi secara anaerobik menjadi gas metana dan karbondioksida. Emisi
gas metana ke udara bebas dapat menyebabkan efek rumah kaca yang
besarnya 20 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan karbondioksida. Jumlah
gas metana yang diproduksi kolam limbah anaerobik sekitar 10 m
3
setiap ton
TBS diolah.
Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian
lingkungan hidup serta adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk
tidak hanya dilihat dari aspek fisik dan kimianya saja, tetapi juga aspek
lingkungannya. Eko label akan menjadi parameter baru pada mutu produk dimasa
depan. Pada prinsipnya persyaratan untuk mendapatkan eko label adalah proses
produksi yang menerapkan:
46
Ninimalisasi limbah
Pemanfaatan kembalifrecycle nutrisi
Penggunaan energi terbarukan (biomassa)
Dalam hal ini sistem kolam anaerobik tidak dapat memenuhi persyaratan
tersebut. Oleh karena itu perlu dikembangkan konsep alternatif dan penanganan
LCPKS. Adapun konsep alternatif tersebut antara lain berupa:
+.1.D.ii. RANUT (Reaktor Anaerobik Unggun Tetap)
Pada tahap pertama, lumpurfpadatan tersuspensi dipisahkan dengan dekan-
ter atau dissolved air floatation dengan tujuan:
Nengurangi kandungan COD, BOD, nitrogen dan pasir.
Nengurangi masalah pada proses pengolahan berikutnya seperti foaming,
sedimentasi dan penyumbatan pipa outlet reaktor karena adanya lumpur.
Setelah lumpur dipisahkan, limbah cair yang kandungan utamanya adalah
padatan terlarut dipompakan ke reaktor anaerobik (unggun tetapffixed bed, upflow
anaerobik sludge blanket atau lainnya), dimana akan terjadi:
Perombakan bahan organik menjadi biogas.
Proses perombakan terjadi dalam waktu yang singkat dengan kinerja yang ting-
gi.
Biogas yang dihasilkan dapat ditampung dan disimpan.
LCPKS yang telah didegradasi secara anaerobik dapat digunakan sebagai air
irigasi (aplikasi lahanf land application) untuk:
Nemanfaatkan nutrisis dalam limbah.
Nenghemat areal untuk kolam.
Ninimalisasi pencemaran dan konsumsi energi.
Apabila aplikasi lahan tidak dapat dilakukan, limbah dapat diolah lebih lanjut
secara aerobik (kolam aerobik atau activated sludge system) sampai memenuhi
baku mutu lingkungan sebelum dibuang ke sungai.
47
Apabila energi menjadi faktor yang penting, fraksi lumpur dapat diolah
secara anaerobik dalam reaktor anaerobik berpengaduk untuk produksi biogas
lumpur yang telah diolah dapat digunakan sebagai pupuk bersama dengan limbah
cair untuk memanfaatkan nutrisinya. Lumpur juga dapat dikeringkan dengan drum
drier untuk dijadikan pakan ternak. Pemanfaatan lain dari lumpur adalah untuk
produksi kompos bersama-sama dengan tandan kosong. Lumpur dicampur dengan
TKS yang telah dirajang dan dibiarkan beberapa minggu sampai menjadi kompos.
Dengan cara ini akan terjadi penguapan air pada lumpur. Tumpukan kompos ini
harus dibalik secara periodik agar proses penguapan maksimal.
Pada Gambar "Konsep pengolahan limbah terpadu (PKS dengan separator 2
fase)" terlihat beberapa variasi dan konsep alternatif pengolahan LCPKS ini. Apabila


pabrik menggunakan sistem dekanter 3 fase, maka tidak diperlukan proses pemi-
sahan lumpur, tetapi proses pengolahan lumpur dan limbah cair adalah serupa.
L LC CP PK KS S
Pemisah
lumpur
Perombakan
anaerobik
Perombakan
aerobik
S Su un ng ga ai i
T TK KS S
Pencacahan
Perombakan
anaerobik
Pengeringan
dengan panas
Pengomposan/
Pengeringan
biologis
P Pe em ma an nf fa aa at ta an n
B Bi io og ga as s
K Ko om mp po os s
L Li im mb ba ah h C Ca ai ir r
L L
u u
m m
p p
u u
r r
A Ap pl li ik ka as si i
l la ah ha an n
G Ga as s B Bi io o
Gambar . Konsep pengolahan limbah terpadu (PKS dengan separator 2 fase)
48
Proses utama dalam konsep ini adalah pengolahan secara anaerobik dan
pemisahan lumpur. Kedua proses tersebut diuraikan dalam percobaan berikut ini:
Penanganan LCPKS secara anaerobik dengan Reaktor Anaerobik Unggun Tetap
(RANUT) (Gambar Konsep RANUT seperti disajikan dibawah ini)
1. Keunggulan utama RANUT ialah kebutuhan energi yang rendah, mudah dalam
pengoperasian, mudah dalam start up, serta kinerjanya tinggi. Beberapa aspek
yang harus dikaji dalam penerapannya antara lain:
Kinerja reaktor (laju pembebanan maksimum, efisiensi, waktu retensi hidrolik
minimum).
Resiko penyumbatan
Produksi biogas spesifik dan komposisi biogas.
Kesetimbangan nutrisi pada lumpur dan fasa cair.
Penelitian oleh PPKS pada skala pilot plant dengan menggunakan Limbah cair
yang diambil dari PKS Pagar Nerbau, PTP Nusantara !! yang menggunakan
separator 2 fasa (lihat Gambar Konsep pengolahan limbah terpadu (PKS dengan
separator 2 fase)). LCPKS yang merupakan campuran dari lumpur separator, air
kondensat dan air cucian diambil dari fat pit (komposisi limbah bervariasi
tergantung pada kondisi proses.
Pada skala ini pengolahan limbah secara anaerobik dengan menggunakan
Reaktor Anaerobik Unggun Tetap (RANUT) ditetapkan di PKS Pagar Nerbau PTP
Nusantara !!. Reaktor terdiri dari dua digester D1 yang dioperasikan secara upflow
(aliran ke atas) dan digester D2 yang dioperasikan secara down flow (aliran ke
bawah) Gambar 'Diagram pilot plant (D1 aktif, D2 tidak aktif)' menunjukan diagram
reaktor apabila D1 dioperasikan secara upflow. Adapun data teknis pilot plant
adalah sebagai berikut:



49
Tangki penyimpanan {S1 dan S2) dengan volume 335 literftangki
Digester {D1 dan D2)

volume total 275 literftangki
volume aktif 250 literftangki
Diameter +0 cm
Tinggi total 250 cm
Tinggi unggun tetap 200 cm
Bahan stainless steel

Pompa
Type Progressing cavity pump
Laju alir 60 lfjam
50

Gambar . Diagram pilot plant (D1 aktif, D2 tidak aktif)
L Li im mb ba ah h c ca ai ir r
T Ta an ng gk ki i
P Pe en ny yi im mp pa an na an n

V V1 1
V V
2 2
S S
1 1
S S2 2
V V3 3
P P R R
P Po om mp pa a u um mp pa an n
P Po om mp pa a r re es si ir rk ku ul la as si i
D D
1 1
D D2 2





P Pe en ng gu uk ku ur r
g ga as s
K Ke el lu ua ar ra an n
V V5 5
V V6 6
V V4 4
V V7 7
V V
8 8
51

Pengukur gas

Produsen Ritter
Type Wet gas flow meter, drum type
Adapun Pengoperasian Pilot Plant (D1 secara upflow) sebagai berikut (lihat
Gambar): Tangki penyimpanan S1 dan S2 diisi dengan limbah segar dimana akan
terjadi pendinginan limbah sampai mencapai suhu kamar. Sisa minyak akan
mengapung dan diambil secara manual. Limbah dari S2 di pompakan ke digester D1
dari bagian bawah. Limbah akan mengalir ke atas melewati unggun tetap (yang
berisi matrix) dan keluar dari bagian atas. Sebagian limbah dikembalikan kembali
ke digester oleh pompa sirkulasi P2 untuk pengenceran, menaikan pH serta untuk
distribusis subtrat di dalam digester. Kelebihan limbah akan mengalir ke digester D2
agar digester ini tetap aktif. Limbah akan melewati unggun tetap secara downflow
dan akhirnya keluar dari digester. Biogas yang dihasilkan diukur dengan alat pengu-
kur gas. Pengoperasian reaktor dilakukan pada suhu kamar (26-28
o
C). Pengamatan
dilakukan terhadap jumlah limbah yang dialirkan setiap hari dan laju sirkulasi, COD
terlarut dan COD total limbah segar dan limbah terolah, pH umpan dan limbah
terolah serta produksi gas setiap hari dan komposisi metananya.
Jumlah lumpur di dalam digester diukur dengan cara mengeluarkan limbah
secara bertahap dan pada saat bersamaan ketinggiian muka air di dalam digester
diukur. Perbedaan antara volume cairan dan volume teoritis digester dikurangi
volume bahan pendukung merupakan volume lumpur tetap.
Fungsi bahan pendukung adalah untuk menyangga bakteri yang aktif di da-
lam digester dan meningkatkan kinerjanya. Bakteri tumbuh di permukaan bahan
pendukung dan membentuk biofilm. Karena bakteri menempel, maka bakteri tidak
akan tercuci walaupun laju alir umpan tinggi. Kedua digester diisi dengan bahan
pendukung sampai dengan 90¾ volumenya. Bahan pendukung terdiri dari potong-
an pipa plastik bulat yang beralur.
Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:
52
Teknologi unggun tetap sangat cocok untuk pengolahan LCPKS secara an-
aerobik.
Laju pembebanan COD sebesar 8-10 kg O
2
f (m
3
*hari) dan efisiensi perombakan
90¾ dapat dijadikan parameter untuk perancangan reaktor skala penuh.
Produksi gas spesifik sekitar 560 Lfkg COD terdegradasi dengan kandungan gas
metana sebesar 62¾.
Aliran upflow lebih cocok apabila limbah mengandung padatan tersuspensi,
sedangkan down flow lebih cocok digunakan untuk limbah yang tidak mengan-
dung padatan tersuspensi.
2. Pemisahan lumpur dengan teknik pengapungan (flotation)
Pada dasarnya padatan tersuspensi dalam LCPKS dapat dipisahkan dengan
continuous separator atau dekanter. Kedua alat ini ternyata cukup mahal serta
memerlukan pemeliharaan dan energi yang tinggi. Teknologi pengapungan da-
pat menjadi alternatif proses. Aspek-aspek yang harus dikaji dalam penerapan
konsep proses pemisahan ini antara lain:
Jumlah padatan yang mengapung.
Kecepatan proses pengapungan.
Konsentrasi lumpur yang mengapung.
Konsep pemisahan Lumpur dari LCPKS diikaji di laboratorium dengan meng-
gunakan prinsip dissolved air floatation (pengapungan dengan udara terlarut
atau juga disebut pengapungan dengan tekanan).
Prinsip pengapungan dengan Udara Terlarut sebagai berikut (lihat
Gambar sistem pengapungan dengan udara terlarut diatas):
Limbah cair dibagi menjadi dua, 80¾ mengalir ke tangki penga-
pungan dan 20¾ dipompakan ke tangki lain dimana udara dilarutkan ke da-
lamnya pada tekanan tinggi (6 bar). Air yang mengandung udara terlarut dialir-
kan ke tangki pengapungan melalui nozzle yang terletak diujung pipa inlet.
Pada waktu keluar dari nozzle, air tidak lagi bertekanan sehingga udara yang
53
terlarut akan melepaskan diri dalam bentuk gelembung udara yang sangat
halus. Gelembung udara ini naik ke atas sambil membawa partikel sehingga
partikel mengapung di permukaan. Partikel tersebut selanjutnya dapat
diambil dengan scrapper.
Seperti terlihat pada Gambar ¨Sistem Pengapungan dengan Udara
Terlarut" di atas, gelas ukur volume 2 liter dan bejana bertekanan 2 bar di-
gunakan dalam penelitian ini. Gelas ukur diisi dengan 80¾ limbah, sedang-
kan bejana diisi air dan dipompa sampai tekanan sekitar 2 bar. Air dari be-
janan ini selanjutnya dimasukkan ke dalam gelas ukur melalui nozzle
sampai volume gelas ukur 100¾. Percobaan dilakukan dengan limbah suhu
60
o
C dan 28
o
C. Sebagai control dilakukan percobaan pengendapan dengan
jumlah limbah yang sama.
Pengamatan dilakukan terhadap:
Konsentrasi padatan tersuspensi pada limbah.
volume lumpur yang mengapung
Padatan total lumpur yang mengapung
volume lumpur yang mengendap sebagai fungsi waktu
Kandungan nutrisi limbah, lumpur dan fasa cair
Gambar Sistem Pengapungan dengan Udara Terlarut
1 10 00 00 0
ml
8 80 0
0 0
54
Dari hasil percobaan menyatakan bahwa kecepatan pengapungan
dan sedimentasi untuk limbah segar adalah:
Hampir semua padatan tersuspensi dapat dipisahkan dengan teknik pe-
ngapungan.
Tidak ada pengaruh suhu terhadap proses pengapungan sepanjang suhu
air yang mengandung udara terlarut adalah suhu kamar.
Dengan tekanan udara tangki sebesar 2 bar, dibutuhkan cairan yang
mengandung udara terlarut sebanyak 20¾ dari total aliran limbah cair.
Diperkirakan kebutuhan cairan yang mengandung udara terlarut akan
lebih kecil jika tekanan yang digunkan sebesar 6 bar.
Lumpur yang mengapung memiliki kandungan padatan minimum 3,2¾
setelah waktu pengapungan 60 menit. Diperkirakan kecepatan penga-
pungan dan kandungan padatan dapat ditingkatkan dengan peningkatan
tekanan pada tangki.
Hasil uji pengapungan menunjukan bahwa teknologi pengapungan ini me-
rupakan alternatif yang menarik untuk memisahkan lumpur dari LCPKS dibanding-
kan teknologi pemisahan lainnya, meskipun hal ini dibutuhkan penelitian yang le-
bih rinci lagi. Aplikasi hasil penelitian tersebut sebagai berikut:
Pada konsep baru pengolahan LCPKS, perlu dilakukan pemisahan lumpur
buah sawit dari limbah cairnya, karena:
COD dapat diturunkan hingga 30-50¾
Kandungan N dapat diturunkan hingga 60-70¾
Kapasitas untuk pengolahan limbah berikutnya menjadi lebih kecil dan
kondisi operasi dapat lebih dioptimalkan.
Pemisahan lumpur pada awal proses pengolahan juga dapat dikaji untuk
PKS yang memiliki sistim kolam, karena efisiensi kolam dapat ditingkatkan dan ke-
butuhan biaya perawatan dapat dikurangi. Lebih lanjut, pemisahan lumpur LCPKS
pada awal proses pengolahan lebih tepat dibandingkan dengan pembuangan
lumpur dari kolam yang besar. Teknologi yang dibutuhkan untuk pemisahan
lumpur telah ada dan tersedia secara komersil, namun tampaknya teknologi
pengapungan dapat menjadi salah satu alternatif untuk separator dan dekanter.
55
Dalam Aplikasinya Pengolahan Anaerobik RANUT sebagai berikut:
Pengolahan LCPKS secara anaerobik dapat dilakukan dengan digester ung-
gun tetap. Untuk minimalisasi resiko penyumbatan dan pembentukan buih, parti-
kel lumpur terlarut harus dipisahkan pada awal proses. Kira-kira 90¾ COD dapat
terdegradasi dan dirombak menjadi biogas. Konsentrasi COD pada LCPKS berkisar
antara 1500-+000 mgfl dan pH 6,5 atau bahkan lebih tinggi. Oleh karena itu
LCPKS dapat digunakan untuk aplikasi lahan.
Di samping aspek pengolahan LCPKS, produksi energi juga merupakan hal
yang penting bagi PKS. Jika biogas yang dihasilkan dari proses pengolahan LCPKS
ini seluruhnya digunakan untuk mesin genset, maka dapat dihasilkan tenaga listrik
sebesar 26 kWh per ton TBS, sedangkan kebutuhan spesifik per ton TBS diperki-
rakan hanya 15-17 kWh.
Secara ringkas kegiatan di atas adalah sebagai berikut: Pengolahan LCPKS
secara konvensional yang dilakukan dengan sisitem kolam anaerobik dan aerobik
memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu rentensi yang
relative lama (90-120 hari), membutuhkan areal dan biaya pemeliharaan kolam
yang tinggi, hilangnya nutrisi, serta pencemaran udara dan air. Untuk antisipasi
persaingan pasar global, maka mutu produk juga diukur berdasarkan aspek ling-
kungannya. Oleh karena itu, pengembangan konsep alternative harus dikembang-
kan, yakni pemisahan Lumpur dan diikuti dengan pengolahan fase cair LCPKS
pada Reaktor Anaerobik Unggun Tetap (RANUT). Pemisahan Lumpur dapat
dilakukan dengan decanter atau teknologi pengapungan (dissolved air floatation),
yang bertujuan mengurangi kandungan COD, BOD, nitrogen dan pasir, serta
mengurangi masalah pada proses pengolahan berikutnya (foaming, sedimentasi
dan penyumbatan karena adanya Lumpur). Teknologi pengapungan tampaknya
lebih cocok dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memisahkan Lumpur
LCPKS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemisahan Lumpur dari limbah cairnya
dapat menurunkan COD dan N, serta memperkecil kapasitas pengolahan limbah
selanjutnya. Lumpur yang dipisahkan mengandung protein yang cukup tinggi,
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Selain itu Lumpur juga
dapat ditambahkan pada proses pengomposan sebagai sumber N dan dapat
56
meningkatkan kandungan nutrisi kompos. Pengolahan fase cair pada RANUT
bertujuan untuk merombak bahan organik menjadi biogas dalam waktu singkat
dan kinerja yang tinggi. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan tenaga listrik sebesar 26 kWh per ton TBS, dan LCPKS dapat
digunakan untuk aplikasi lahan.
+.2. Pengelolaan limbah padat
!ndustri Kelapa Sawit dapat menerapkan teknik-teknik berikut ini dalam pe-
ngelolaan limbah padat yang dihasilkan.
+.2.A. Pengelolaan Tandan Kosong
+.2.A.i. Tandan Kosong sebagai Nulsa
Tandan kosong berfungsi ganda yaitu selain menambah hara ke dalam
tanah, juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang sangat
diperlukan bagi perbaikan sifat fisik tanah. Dengan meningkatnya bahan
organik tanah maka struktur tanah semakin mantap, dan kemampuan tanah
menahan air betambah baik, perbaikan sifat fisik tanah tersebut berdampak
positif terhadap pertumbuhan akar dan penyerapan unsur hara.
Persentase Tankos terhadap TBS sekitar 20¾ dan setiap ton Tankos
mengandung unsur hara N, P, K, dan Ng berturut-turut setara dengan 3 Kg
Urea; 0,6 Kg C!RP; 12 Kg NOP; dan 2 Kg Kieserit. Dengan demikian dari satu
unit PKS kapasitas olah 30 ton TBSfjam atau 600 ton TBSfhari akan
menghasilkan pupuk N, P, K, dan Ng berturut-turut setara dengan 360 Kg
Urea, 72 Kg C!RP; 1.++0 Kg NOP; dan 2+0 Kg Kiserit.
Nelalui kegiatan mikroorganisme tanah atau proses mineralisasi, unsur
hara yang didapati pada Tankos kembali ke dalam tanah. Namun unsur hara
tersebut tidak seluruhnya dapat diserap oleh akar tanaman disebabkan
beberapa hal berikut:
Unsur hara N terimmobilisasi (digunakan langsung oleh mikroorganisme
tanah untuk menunjang kelangsungan hidupnya), tercuci oleh air perko-
lasi ke lapisan tanah yang lebih dalam.
57
Unsur hara P terimmobilisasi dan berubah menjadi senyawa yang sukar
larut.
Unsur K dan Ng tercuci oleh air perkolasi ke lapisan tanah yang lebih da-
lam.
Persentase yang terimmobilisasi, mengendap ataupun tercuci dari ma-
sing-masing unsur hara yang berasal dari mineralisasi Tankos belum
diketahui secara tepat. Namun jumlah unsur K dan Ng yang tersedia hagi
tanaman cukup menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman. Hal ini terli-
hat dari beberapa percobaan yang dilakukan Loong di Nalaysia dan N.N.
Siahaan di !ndonesia, dimana pupuk N dan P masih diberikan sehagai pupuk
tambahan. Sedangkan pupuk K dan Ng tidak diberikan lagi. Penempatan
Tankos pada tanaman belum menghasilkan (TBN) dapat dilakukan dengan
cara meletakkannya atau menyusun dipiringan pada jarak ± 30 cm dari
pangkal batang pada TBN 0, dan pada jarak ± 50 cm dari pangkal batang
pada TBN 1-3 jarak ini dimaksudkan sebagai tempat menaburkan pupuk.
Tankos disusun selapis untuk mencegah agar Tankos tidak menjadi sarang
kumbang Oryctes. Hasil pengamatan di lokasi percobaan menunjukkan adanya
telur, larva, maupun imago kumbang Oryctes pada tankos yang disusun selapis
pada piringan pohon.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam satu hari kerja, satu orang
tenaga kerja dapat menyusun 700-750 kg tankos dipiringan dengan ketentuan
bahwa tankos sudah terkumpul di gawangan. Jika jumlah yang digunakan
sekitar 35 tonfha maka dibutuhkan tenaga 20-22 HKfha. Tankos dalam jangka
waktu 7-10 bulan sudah hancur dan menyatu dengan tanah.
Penebaran tankos di areal tanaman menghasilkan, dilaksanakan tanpa
berlapis digawangan. Penebaran dilakukan merata hingga ke pinggir piringan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dalam satu hari kerja, satu orang
tenaga kerja rata-rata dapat menebarkan tankos digawangan sebanyak 3.000
kg, atau dengan menggunakan alat berat seperti pada gambar dibawah ini:


58


Gambar contoh penebaran tankos di areal tanaman meghasilkan


Gambar sebulam kemudian setelah
penebaran tankos
+.2.A.ii. Tandan Kosong Sawit (TKS) sebagai Kompos dan Pupuk Organik
Pengkomposan merupakan salah satu cara pemanfaatan limbah padat
yang sudah lama dikenal. Salah satu faktor yang penting dalam proses
pengkomposan ialah nisbah C dan N. Sebenarnya setiap limbah padat yang
dibuang ke tanah akan selalu diikuti pembusukan yang dilakukan oleh mikro-
ba, baik oleh mikroba tanah ataupun mikroba yang berasal dari limbah itu
sendiri. Pertumbuhan mikroba membutuhkan nitrogen, dan jika nisbah CfN
dalam limbah terlalu besar berarti N tidak mencukupi, dan mikroba akan
rnenggunakan cadangan N yang terdapat dalarn tanah tersebut. Akibatnya ta-
nah pada daerah tempat pembuangan limbah padat akan mengalami defisiensi
N.
Lebar 120 CM
59
Jika nisbah CfN bernilai sekitar 20 akan terjadi proses pengkomposan
limbah atas kekuatan limbah sendiri tanpa mengganggu keseimbangan cadangan
nitrogen setempat. Untuk tujuan penyediaan pupuk alam, pengkomposan harus
dikerjakan dengan nisbah CfN antara 15-20. Apabila limbah memiliki nisbah CfN
terlalu besar, dapat diperbaiki dengan cara mencampurkan limbah lain yang
mempunyai nisbah CfN yang relatif rendah, agar diperoleh nisbah CfN yang
sesuai. Bahan pencampur tersebut dapat berupa lumpur sisa penjernihan air
buangan, yang mengandung nisbah CfN +,9 atau kotoran ternak dengan CfN 2,3
atau jika diperlukan dengan rnenambahkan pupuk nitrogen.
Sebelum melakukan pengkomposan Tankos, bahan baku ini dirajang
terlebih dahulu dengan ukuran antara 3-5 cm dengan memakai mesin rajang agar
dekomposisi dapat dipercepat (adapun kelebihan dan kekurangan proses
perajangan TKS disajikan pada tabel dibawah ini). Penguraian bahan organik
tergantung kepada kelembaban lingkungan. Kelernbaban optimum antara 50-60¾,
dan jika kadar air bahan >85¾, perlu ditambahkan aktifator untuk mengurangi
kadar air, agar masa fermentasi lebih cepat. Selanjutnya dilakukan pengaturan pH
antara 6,8-7,5.
Tabel Kelebihan dan kekurangan TKS yang dirajang dan yang tidak dirajang untuk
dimanfaatkan sebagai KONPOS

Jenis Kelebihan Kekurangan
TKS utuh Biaya rendah volume dan massa TKS yang besar pada pengang-
kutan
Penanganan TKS yang sulit pada perkebunan (be-
rat, sulit ditangani)
Bahaya hama dan penyakit (Kumbang tanduk, dll)
Tidak memungkinkan untuk didistribusikan secara
teratur.
Degradasi lambat.
Nenjadi penghambat pada area perkebunan.
TKS yang
dirajang
Struktur yang homogen.
Penanganannya mudah.
Nemungkinkan untuk mekani-
sasi penyebarannya di perke-
bunan (dengan blower)
Nemungkinkan untuk didistri-
busikan secara teratur
Biaya yang lebih tinggi dibandingkan TKS utuh
(membutuhkan mesin perajang).
volume dan massa TKS yang besar pada pengang-
kutan.
Bahaya hama dan penyakit (kumbang tanduk, dll).
60
Kompos
TKS tanpa
perajangan
Biaya yang lebih rendah di-
bandingkan kompos TKS de-
ngan perajangan.
Nengurangi volume dan ma-
ssa pada pengangkutan (10-
50¾).
Struktur yang tidak homogen.
Bahaya hama dan penyakit (kumbang tanduk, dll).
Kompos
TKS
dengan
perajangan
Nengurangi volume dan
massa pada pengangkutan
(10-50¾)
Struktur yang homogen
Penanganan yang mudah
Nemungkinkan untuk
mekanisasi penyebarannya di
perkebunan (dengan blower)
Nemungkinkan untuk
didistribusikan secara teratur.
Dapat digunakan sebagai
subtrat tanaman
Produk yang dapat dijual
Biaya relatif tinggi

Kompos merupakan limbah padat yang mengandung bahan organik yang
telah mengalami pelapukan, dan jika pelapukannya berlangsung dengan baik
disebut sebagai pupuk organik. !nokulum yang digunakan dapat berasal dari
bakteri yang diisolasi atau kotoran ternak sebanyak 15-20¾, dan dicampurkan
dengan pupuk urea sebagai sumber nitrogen, lalu diaduk secara merata dengan
Tankos. Limbah padat ini kemudian dimasukkan ke dalam fermentor yang disebut
tromol dengan kapasitas 3 m
3
. Waktu fermentasi berlangsung cukup lama yaitu
antara 1+-21 hari dengan menggunakan bakteri mesofil dan termofil. Tromol
diputar selama 5-7 jam perhari dengan kecepatan 2-3 rpm, dan suhu fermentasi
antara +5-60
o
C. Pemutaran tromol bertujuan untuk mempercepat homogenasi dan
penguraian bahan organik majemuk menjadi bahan organik sederhana. Setelah
fermentasi, dan limbah mengalami biodegradasi menjadi kompos, lalu dikeluar-
kan dari dalam tromol, dan selanjutnya ditimbun dengan ketinggian 1 meter, atau
volume 1 m
3
. Tinggi rendahnya timbunan ini berpengaruh terhadap suhu fermen-
tasi selama penimbunan.
Fermentasi di tempat terbuka ini masih berlangsung antara 5-7 hari pada
suhu antara 60-70
º
C. Selanjutnya timbunan kompos ditebarkan pada hamparan
yang cukup luas untuk menurunkan suhunya, dan diayak dengan ukuran tertentu
61
dan dikering anginkan. Setelah pupuk organik menjadi dingin, dan ditimbang
dengan ukuran 1,5 dan 10 kg dan dimasukan ke dalam kemasan polyetylene.
Sehingga disimpulan bahwa:
Pada PKS yang berwawasan lingkungan, limbah cair (dan lumpur) dapat ditam-
bahkan pada kompos untuk pemanfaatan kembali harafnutrien dari perkebun-
an.
Pada PKS yang berwawasan lingkungan (green label) dengan daur ulang
nutrien dan subtansi organik ke perkebunan, sebagian serat mesokarp dapat
digunakan sebagai bahan mulsa atau untuk pembuatan kompos. Sebagian
lainnya dapat digunakan untuk kebutuhan energi, selain sumber energi biogas
yang diperoleh dari pengolahan limbah cair secara anaerobik.
Dengan penambahan 1-2 kg Nfton TKS, dapat diperoleh kompos dengan rasio
CfN < 20 dalam waktu 2 minggu.
Tanpa penambahan N, nilai rasio CfN yang sama baru dapat diperoleh setelah
lebih 10 minggu waktu pengomposan.
Penambahan air selama pengomposan TKS dibutuhkan untuk meningkatkan
aktifitas mikroorganisme.
Contoh gambar tahapan proses pembuatan kompos:
Tandan Kosong
Sawit (TKS)

Penyiraman Kompos
dengan
Limbah Cair PKS

Perajangan TKS dengan
Mesin Perajang

Pembalikan Kompos
dengan Mesin Pembalik
Kompos
Tandan Kosong (TKS)
Pembuatan Tumpukan

62

+.2.A.iii. Pembuatan Kompos Bokasih dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit
Sebagai dampak kebijaksanaan nasional yaitu pencabutan subsidi pupuk
menyebabkan harga pupuk menjadi mahal. Oleh karena itu perlu dicarikan solusi
dan upaya untuk mengatasinya, antara lain perlu diterapkan suatu teknologi baru
yang murah, tepat guna dan mudah tersedia bagi petani, khususnya dengan
memanfaatkan seluruh potensi sumber daya alam, salah satunya pembuatan
bokasih.
Bokasih merupakan hasil fermentasi bahan organik yang terdiri dari jerami,
sampah, pupuk kandang, sekam padi, serbuk gergaji, rumput-rumputan dan lain-
lain. Bokasih terdiri dari beberapa macam yaitu: bokashi jerami, bokashi pupuk
kandang, bokashi pupuk kandang arang, bokashi pupuk kandang tanah dan
bokashi ekspress 2+ jam. Adapun cara pembuatan pupuk organik bokashi dengan
memanfaatkan limbah hasil pertanian berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit
dengan sebagai berikut:
1. Tandan kososng kelapa sawit yang telah dirajang ditambah dedak dan sekam
padi dicampur rata menjadi adonan.
2. Gula pasir, EN-+ dan air dicampur lalu disiram perlahan-lahan ke adonan sam-
pai kandungan air adonan mencapai 50¾. Bila adonan dikepal dengan ta-
ngan, air tidak keluar dari adonan dan bila kepalan dilepas maka adonan akan
megar.
3. Adonan dibungkus atau ditutup dengan plastik atau karung goni selama + ha-
ri.
+. Kontrol suhu setiap hari.
5. Pertahankan suhu adonan +0-50
o
C. Jika suhu lebih dari 50
o
C maka adonan di-
dinginkan kembali dengan cara membuka karung dan adonan dibalik-balik, ke-
mudian ditutup lagi. Pengecekan dilakukan setiap 5 jam.
6. Adonan disimpan dalam ruangan terbuka namun tidak boleh terkena sinar
matahari dan hujan.
7. Adonan dapat digunakan selama + hari.
63
4.2.A.iv. Pembuatan Papan Semen Dari Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit Yang
Disediakan Secara Bioteknologi
Papan Semen pulp (Pulp Cemen Board) merupakan papan buatan dimana
bahan bakunya adalah pulp yang berasal dari berbagai jenis serta lignoselulosa
atau kertas bekas yang dicampur dengan semen atau bahan pengisi lainnya. Bila
bahan bakunya berupa potongan kayu yang kecil seperti serpihan dan serbuk
gergaji maka disebut papan semen patikel.
Tahapan Pengambilan Serat Tandan Kosong Sawit
Tandan kosong sawit bagian tangkainya dipotong dengan sudut kemiringan
+5
o
dan ukuran panjang 2 cm. Potongan ini kemudian dibelah menjadi lempengan
(chip) dengan ketebalan 1 cm. Lempengan ini kemudian dimasak dalam larutan
NaOH pada suhu sekitar 100
0
C selama 105 menit. Bahan yang telah dicuci
tersebut kemudian dicuci dan diblender sampai terpisah menjadi serat-serat. Serat
yang dihasilkan kemudian dibilas sampai bersih dan disaring lalu dikeringkan
sampai kondisi kering udara. Adapun diagram alir proses mesin pengurai serat TKS
64


seperti pada gambar di atas ini. Dengan deskripsi mesin sebagai berikut : Nesin
pengurai untuk menguraikan serat dan bukan untuk memotong
serat tandan kosong sawit (TKS). Kapasitas mesin ini umumnya sebesar 1
ton TKSfjam dengan tenaga penggerak generator. Nesin ini terdiri atas tiga
bagian utama, yaitu pisau pengurai, dinding pelindung dan tenaga pengan-
rak.
1. Pisau pengurai didisain untuk mendapatkan serat TKS dengan ukuran
yang relatif panjang. Pisau ini terbuat dari SN steel. Sistem kerja pisau
pengurai adalah mencabik TKS tanpa memotong. Pisau pengurai serat
perlu diganti apabila pisau semakin tajam akibat pemakaian. Ketajaman
pisau yang tinggi akan mengubah fungsi pisau dari pengurai serat
menjadi pemotong serat. Pisau pengurai terdiri atas anak-anak pisau
yang
,
ditempatkan pada suatu poros.
2. Dinding pelindung berbentuk silinder yang berfungsi sebagai pelindung
dan penahan serat pada proses penguraian serat TKS serta sebagai
penyaring kotoran.
Tandan kosong
Mesin crusher
Mesin pencacah
Cacahan
Serat
Pembersihan akhir
Serat
bersih
Pengeringan
Serat kering
Penggulungan
& pengikat serat
Gambar Diagram alir proses mesin pengurai
65
3. Nesin pengurai serat TKS ini digerakan oleh motor diesel ber
-
kekuatan
18 HP dengan kecepatan putaran 300 rpm.
Nesin pengurai serat TKS berfungsi untuk mersiapkan bahan baku dari
TKS untuk produk-produk berbasis serat, seperti serat berkaret dan produk-
produk panel.
Kegunaan pengurai serat TKS adalah untuk menguraikan serat
tandan kosong sawit dengan ukuran serat yang relatif panjang (10 cm-30
cm). Pemanfaatan serat TKS antara lain untuk kertas cetak, kertas kraft, dan
kertas
industri, briket arang dan produk-produk berbasis serat ' lainnya
seperti serat berkaret, polipot, papan serat, pengisi kasur, jok mobil
dan bahan pengepak industri.
Perhitungan Bahan yang digunakan dalam pembuatan contoh papan semen
adalah:
Ukuran papan yang dibuat adalah 32 x 32 x 1,2 cm
3
.
Kerapatan papan yang diharapkan adalah 1gfcm
3
.
Berat papan contoh adalah 1228,8 gflembar.
Perbandingan serat tandan kosong sawit (berat kering) dan semen
adalah 1:3.
Berat serat tandan kosong sawit yang dibutuhkan adalah ¼ x 1228,8g =
307,2g.
Berat semen yang dibutuhkan = 3f+ x 1228,8g = 921,6g.
Perbandingan air dengan semen adalah 1:2.
Bahan kimia tambahan adalah 2¾ kalsium hidroksida (Ca(OH)
2
) dan
1¾ Aluminium Sulfat (AL
2
(SO
+
)
3
dari berat semen.
Tahapan Pembuatan Papan Semen
1. Penyediaan air sesuai jumlah yang dibutuhkan, kemudian dilarutkan di
katalisator.
2. Serat kemudian dibasahi dengan larutan tersebut sampai merata.
3. Kemudian ditambahkan semen ke serat yang telah dibasahi tersebut, ke-
mudian diaduk dengan cepat sampai campuran kelihatan homogen dan
sempurna.
66
+. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang telah
diolesi dengan minyak pelumas, kemudian dikempa sampai tercapai tebal
papan 1,2 cm.
5. Papan yang dihasilkan dibiarkan dalam ruangan yang sirkulasi udara
yang baik selama 28 hari.
+.2.A.iv. Pembuatan Kompos Bokasih dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit
Sebagai dampak kebijaksanaan nasional yaitu pencabutan subsidi pupuk
menyebabkan harga pupuk menjadi mahal. Oleh karena itu perlu dicarikan solusi
dan upaya untuk mengatasinya, antara lain perlu diterapkan suatu teknologi baru
yang murah, tepat guna dan mudah tersedia bagi petani, khususnya dengan
memanfaatkan seluruh potensi sumber daya alam, salah satunya pembuatan
bokasih.
Bokasih merupakan hasil fermentasi bahan organik yang terdiri dari jerami,
sampah, pupuk kandang, sekam padi, serbuk gergaji, rumput-rumputan dan lain-
lain. Bokasih terdiri dari beberapa macam yaitu: bokashi jerami, bokashi pupuk
kandang, bokashi pupuk kandang arang, bokashi pupuk kandang tanah dan
bokashi ekspress 2+ jam. Adapun cara pembuatan pupuk organik bokashi dengan
memanfaatkan limbah hasil pertanian berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit
dengan sebagai berikut:
1. Tandan kososng kelapa sawit yang telah dirajang ditambah dedak dan sekam
padi dicampur rata menjadi adonan.
2. Gula pasir, EN-+ dan air dicampur lalu disiram perlahan-lahan ke adonan sam-
pai kandungan air adonan mencapai 50¾. Bila adonan dikepal dengan ta-
ngan, air tidak keluar dari adonan dan bila kepalan dilepas maka adonan akan
megar.
3. Adonan dibungkus atau ditutup dengan plastik atau karung goni selama + ha-
ri.
+. Kontrol suhu setiap hari.
5. Pertahankan suhu adonan +0-50
o
C. Jika suhu lebih dari 50
o
C maka adonan di-
dinginkan kembali dengan cara membuka karung dan adonan dibalik-balik, ke-
mudian ditutup lagi. Pengecekan dilakukan setiap 5 jam.
67
6. Adonan disimpan dalam ruangan terbuka namun tidak boleh terkena sinar
matahari dan hujan.
7. Adonan dapat digunakan selama + hari.
+.2.A.v. Tandan Kosong sebagai Bubur Kertas (Pulp)
Pembuatan pulp dan kertas dari tankos dilakukan dengan proses soda-
soda AQ. Untuk pulp yang belum putih rnaupun yang sudah putih pada proses
pemasakan dengan Sodium hidroksida sebagai alkali aktif antara 16-2+¾ (PT
Bosto-Leces).
Sejalan dengan laju perkembangan industri, kebutuhan akan kertas
semen dan kertas industri seperti pembungkus, dan kertas karton terus
meningkat. Kertas kraft sering digunakan sebagai kantong semen. Secara
tradisional bahan baku untuk mernbuat kertas ini adalah kayu Pinus merkusii,
sedangkan untuk kertas industri lainnya sebagai bahan baku adalah kayu
berserat panjang. Pencampuran pulp dari Tankos dan pulp dari Pinus merkusii
atau dengan kayu lain untuk pembuatan kertas industri sangat dimungkinkan.
Pada tahun 1993f199+ PT Bosto-Leces telah melakukan penelitian pembuatan
pulp janjang kosong kelapa sawit dengan proses soda-soda AQ.
Pada tahun 1995, Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah melakukan
penelitian untuk memproduksi kertas cetak dan memanfaatkan 78,22¾ Pulp
Tankos dengan 21,78¾ pulp Pinus merkusii. Kadar kotoran kertas cetak yang
dihasilkan yaitu +6,76 mm
2
fm
2
masih dibawah persyaratan Standar Nasional
!ndonesia (SN!) yaitu 50 mm
2
fm
2
. Walaupun demikian kadar kotoran pulp putih
yaitu 271,95 mm
0
fm
2
masih berada diluar persyaratan SN1. Nembersihkan
serpihan Tankos, penyaringan dan pencucian pulp yang balk sangat dianjurkan
untuk mengurangi kandungan kotoran di pulp. Kertas cetak yang dihasilkan
mempunyai gramatur 83,5 gfm
2
.
Hasil evaluasi dan resume PT Bosto-Leces mengenai pembuatan pulp dari
tankos diuraikan seperti berikut;
1) Bahan baku tankos diambil, dibersihkan dari buah sawit dan kotoran, karena
hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas kertas terutama warna. Kemudian
68
dilakukan pemotongan bahan atau penyerpihan dengan rnemakai mesin
chipper. Ukuran serpihan untuk skala laboratorium antara 3-8 cm, sedangkan
untuk pilot plant berukuran 5-10 cm. Ukuran serpihan ini dimaksudkan untuk
mendapatkan kemasakan pulp yang merata. Selanjutnya dilakukan
pemisahan pith (sari, ampas) yang bertujuan untuk mengurangi pemakaian
soda pada saat masak, menurunkan angka kemasakan (bilangan Kappa), dan
menghindari kotoran yang terikut di dalam pulp. Penyaringan dalam skala
laboratorium dengan ayakan berukuran 20 mesh.
2) Pada percobaan pembuatan kertas dari pulp janjang kosong dilakukan
dengan proses soda dan soda-aq, dan untuk pulp yang belum dan sudah
putih memakai Na0H sebagai alkali aktif.
3) Analisis fisik kayu dan morfologi serat. Pengujian terhadap massa tumpukan
serpih menurut S!! 0835-83, rapat serat yaitu 6+,+8 kgfm
3
dan sebagai
bandingan, rapat serat ampas tebu = 7+,17 kgfm
3
. Uji panjang serat dan
diameter serat dengan metode Franklin, serat janjang kosong termasuk serat
pendek <1 mm. Perbandingan tebal dinding serat dengan lumen = Bilangan
Runkel dan cukup baik, dan makin kecil bilangan Runkel semakin baik (<1) .
+) Analisis komposisi kimia menurut S!! dan TAPP!. Kadar sellulosa +5,19¾, dan
sebagai bandingan kadar selulosa ampas tebu +9¾ dan cukup baik untuk
pembuatan pulp. Kelarutan air panas, air dingin, Na0H cenderung turun
setelah mengatami pemisahan Pith. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa
fraksi ekstraksi yang terikut pada air, sebagian terekstraksi bersama pith. zat
ekstraktif yang tinggi dapat menyebabkan penambahan bahan kimia pada
saat pemasakan dan menyulitkan proses pemutihan.
5) Pemasakan dilakukan dengan proses soda dan soda antrakinon (soda-aq).
Pada proses soda-aq terlihat bahwa Bilangan Kappa menurun yaitu 1+-16¾,
dengan alkali aktif yaitu 16-18¾, dan rendemen putih +5º,¾. Dengan
penambahan antrakinon, angka kemasakan (Bil. Kappa) turun 2 satuan,
sedangkan rendemen naik.
6) Pada skala laboratorium pemasakan memakai digester mini berkapasitas
1.350 gr (6 tabung), Bil Kappa 15-19, rendemen putih +3,25¾-++,69¾,
69
dengan alkali aktif 20-22¾. Pada skala pilot, dilakukan dengan sistem
kontinu pada digester, dan Bil Kappa 21,3+ dan pada proses alkali aktif 20¾,
rendemen +1,25 dan +3,5¾. Kondisi masak dengan alkali aktif pada skala
laboratorium menggunakan lima jenis konsentrasi NaOH yaitu 16, 18, 20, 22,
dan 2+¾, sedangkan pada skala pilot memakai 23¾ (20¾ soda aq). Dari
konsentrasi berbeda tersebut, ditentukan bilangan Kappa (angka kemasakan)
pada tingkat yang mash bisa diputihkan untuk digunakan pada kondisi operas
di skala pilot dengan digester sistem kontinyu. Nilai banding serpih dengan
cairan pemasak 1:+, antraqinon 0,2¾ suhu 170"C kondisi ini sama pada
skala lab dari pilot, namun waktunya berbeda yaitu 2 jam menuju maksimum
dan selama 2 jam lagi Pada suhu maksimum dengan skala laboratorium,
sedangkan skala pilot hanya 20 menit.
7) Pemutihan dan lembaran pulp. Dilakukan pemutihan dengan tiga tahapan
yaitu CfEfH atau Chlorinasi, Ekstraksi, dan Hipoklorit. Setelah proses
pemasakan pada pilot plant dilanjutkan dengan proses pencucian,
penyaringan dan pemutihan secara laboratorium. Lembaran pulp dibuat
sesuai dengan S!! 0525-81. Proses pengiilingan dilakukan dengan valley
Beater atau alat gilingan kayu, dan derajat giling diukur dengan satuan SR
(Schropper Riegler). Waktu yang diperlukan untuk penggilingan pulp putih
janjang kosong, lebih lama dari pada pulp putih ampas tebu.
8) Pengujian. Uji ketahanan fsik meliputi !ndeks sobek, retak, tarik, opasitas,
dan derajat putih sesuai dengan S!! dan standar TAPP!, dan diperoleh
rendemen +1,31,+3,+2 pada skala lab., sedangkan skala pilot rendemennya
38,+8-+0,+6. Perbedaan rendemen ini disebabkan pada skala lab, pemisahan
pith lebih baik.
9) Evaluasi sifat fisik. Kondisi yang cukup baik untuk kekuatan fisik lembaran
pulp putih janjang kosong pada proses soda maupun soda-aq adalah derajat
giling 33-+3"SR. Indeks retak dan tarik cukup tinggi, sedangkan
indeks sobek masih dalam batas yang diijinkan, dan jika dibandingkan
dengan pulp ampas tebu, pulp putih janjang kosong masih mempunyai
indeks sobek yang lebih tinggi. Lindi hitam hasil pernasakan secara lab.
70
dan pilot dilakukan analisis yang meliputi TSS, sisa alkali total, sisa alkali
aktif, viskositas, masa jenis dan pH. Pada skala lab dan pilot, masih dijumpai
sisa alkali aktif dan alkali total. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian bahan
kimia pada waktu masak cukup baik
10) Kesimpulan. Dari sifat fisik dan morfologi serat yang diketahui dari uji
panjang serat dan diameter serat metode Franklin, serat janjang kosong
termasuk serat pendek <1 mm. Kadar selulose 45,19%,
menunjukkan bahwa janjang kosong cukup baik untuk dibuat pulp.
Rendemen +5¾, derajat putih 82¾, derajat giling 33-+3
0
SR dengan kondisi
optimum, !ndeks retak, tarik, cukup tinggi, indeks sobek masih dalam batas
yang diijinkan.
+.2.B. Pengelolaan Sabut Kelapa Sawit
+.2.B.i. Pembuatan Papan Partikel dari Sabut Kelapa Sawit
Sabut kelapa sawit merupakan salah satu limbah terbesar yang dihasilkan
dalam proses pengolahan minyak sawit. Kebanyakan limbah berupa sabut ini
biasanya hanya dijadikan bahan bakar, dibuang atau ditimbun di dalam tanah
saja. Sabut kelapa sawit ini bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan papan
partikel yang berarti bisa mengatasi masalah pembuangan limbah sabut kelapa
sawit sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi. N!nyak yang terdapat
pada sabut kelapa sawit dapat mengganggu proses perekatan dalam pembuatan
papan partikel. Oleh karena itu kadar minyak harus dikurangi seminimal mungkin.
Pengurangan kadar minyak dapat dilakukan salah satunya dengan memasak sabut
kelapa sawit dalam larutan NaOH 10¾ selama 1 jam.

71

Tahapan Pembuatan Papan Partikel Sebagai berikut:
Serat dari sabut kelapa sawit yang akan digunakan dalam pembuatan papan
partikel baik yang belum mengalami proses pengurangan kadar minyak
ataupun yang sudah mengalami proses pengurangan kadar minyak, dibilas
dan dicuci sampai bersih dan dikeringanginkan hingga kadar air maksimal
10¾.
Timbang sabut kelapa sawit sesuai kebutuhan.
Perekat diteteskan sedikit demi sedikit pada sabut kelapa sawit dan diaduk
secara merata. Nasukan adonan ke dalam cetakan di atas plat besi dan dipa-
datkan secara merata.
Kemudian ditambahkan semen ke serat yang telah dibasahi tersebut, kemu-
dian diaduk dengan cepat sampai campuran kelihatan homogen dan sempur-
na.
Gambaran diagram alir pelaksanaan pembuatan papan partikel
Limbah sabut kelapa sawit
Fraksinasi
-Kulit buah
-Cangkang
-Inti sawit kecil
sabut kelapa sawit
Analisa sifat fisik
(dimensi serat)
Analisa sifat kimia
(selulosa, hemiselulosa, lignin, dll)
Tepung sagu
Dikeringkan
Dekstrin sagu
Pembuatan perekat
(campuran dekstrin)
Analisa sifat
perekat
Tentukan kombinasi
perekat Dekstrin sagu
Perlakuan Pendahuluan
Sabut kelapa sawit dengan
kadar minyak lebih rendah
Papan partikel sabut
kelapa sawit
Analisa sifat fisik
papan partikel
Analisa sifat mekanis
papan partikel

kadar minyak tinggi
72
Campuran tersebut kemudian dimasukan ke dalam cetakan yang telah diolesi
dengan minyak pelumas, kemudian dikempa sampai tercapai tebal papan 1,2
cm.
Papan dikempa selama 2+ jam.
Papan yang dihasilkan dibiarkan dalam ruangan yang sirkulasi udaranya baik
selama 28 hari.

+.3.B.i. Pembuatan Pulp dari Sabut Kelapa Sawit
Kertas adalah salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan modern.
Peranannya sangat penting baik dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dan
kebudayaan maupun untuk keperluan industri, rumahtangga serta keperluan lain
yang sesuai dengan kemajuan zaman. Pemanfaatan sabut kelapa sawit meru-
pakan alternatif bahan baku bagi pabrik-pabrik kertas untuk hasilkan kertas HvS,
doorslag, manila, karton, duplicatorfcycto style dll.
Tahapan pembuatannya sebagai berikut:
1. Sediakan sabut kelapa sawit kurang lebih 0,5 kg yang bersih dari daunnya.
2. Potong sabut kelapa sawit dengan ukuran panjang 3 cm.
3. Ambil kurang lebih 5 gr sabut kelapa sawit yang telah bersih kemudian
dipotong halus dengan pisau.
+. Timbang berat sabut kelapa sawit yang telah dihaluskan tadi dengan
ketelitian + desimal.
5. Tentukan kadar air dengan metode Oven (dipanaskan sekaligus selama +
jam dan ditimbang beratnya).
6. Hitung kadar air bahan dan persentase Berat Bahan Kering (BBK).
7. Ambil serabut kelapa yang tersedia dari sabut kelapa sawit yang bersih
(point 1).
8. Hitung kebutuhan NaOH yaitu 12¾ dari BBK.
9. Hitung kebutuhan air untuk pemasakan jika perbandingan bahan (BBK)
dengan air (ratio pemasakan) 1 : 10.
10. Hitung kebutuhan air yang ditambahkan yaitu kebutuhan air sesungguhnya
dikurangi dengan air dalam bahan.
73
11. Larutkan NaOH yang telah dipersiapkan ke dalam air (point 10).
12. Nasak sabut kelapa sawit (point 7) di dalam larutan NaOH selama 3,5 jam
dalam suasana mendidih.
13. Cuci pulp yang diperoleh sampai netral.
1+. saring.
15. Peras air yang masih ada dalam pulp sekaligus pulp yang didapat dijadikan
1 gumpalan.
16. Tibang gumpalan pulp tersebut (ketelitian dua desimal).
17. Ambil 10 gr dari gumpalan pulp dan keringkan dalam Oven 105
o
C (selama
+ jamfberat konstan). Hitung BBK yang diperoleh dalam persentase.
18. Dengan bantuan angka pada point di atas dapat diketahui berat pulp yang
diperoleh sesungguhnya pada point 16.
+.2.C. Pengelolaan Batang Sawit
(Batang Sawit Bahan Baku !ndustri Nebel yang Potensial)
Batang kelapa sawit yang sudah membusuk merupakan sarang bagi kum-
bang Oryctes rhinoceros dan penyakit Ganoderma yang potensial menyerang
tanaman muda. Karena itu, pengelola atau pemilik kebun kelapa sawit selalu beru-
saha menyingkirkan limbah batang kelapa sawit ini dengan berbagi cara. Salah sa-
tu cara yang paling mudah dan murah adalah dengan membakarnya. Namun
sejak ada larangan membakar oleh pemerintah, kegiatan pemusnahan limbah
batang kelapa sawit dengan cara tersebut tidak ada lagi atau sangat jarang.
Akibatnya limbah batang pohon itu menjadi masalah yang sangat dilematis
bagi pengelola maupun pemilik kebun. Tapi siapa sangka limbah batang pohon
yang selama ini menjadi persoalan serius bagi pengelola kebun ternyata bisa di-
manfaatkan sebagai bahan baku produk furnitur dan kayu pertukangan lainnya.
Potensi ini belum banyak diketahui orang padahal selain bisa dijadikan bahan baku
industri pengolahan kayu, stok limbah kayu di Tanah Air sangat melimpah. Limbah
yang tidak pernah diperhitungkan orang sebelumnya ini bisa dijadikan bahan baku
alternatif di tengah kondisi kelangkaan bahan baku kayu dari hutan alam.
Seperti diketahui, belakangan ini sebagian besar industri kehutanan me-
ngalami krisis bahan baku. Kelangkaan bahan baku kayu ini bahkan sudah sampai
74
mengancam kelangsungan usaha sektor kehutanan. Kelangkaan kayu itu, selain
disaebabkan semakin turunnya potensi sumber daya hutan juga dikarenakan pe-
ngaruh operasi anti pembalakan liar (illegal logging) bersandi Operasi Hutan
Lestari. Operasi ini telah berdampak pada menurunnya kinerja produksi sektor ke-
hutanan karena pergerakan kayu dari kayu menuju pabrik terhenti akibat panjang-
nya proses pemeriksaan. Kalaupun ada bahan baku kayu, harganya sudah sangat
mahal.
Karena itu, ditemukan limbah batang kayu kelapa sawit sebagai bahan
baku industri pengolahan kayu akan membantu mengatasi krisis bahan baku
disektor kehutanan. Apalagi selain mudah didapat, proses perlakuan yang menja-
dikan batang kelapa sawit itu menjadi bahan baku kayu tidak membutuhkan biaya
tinggi. Untuk membuat kayu kelapa sawit bisa menjadi bahan baku kayu ber-
kualitas memang diperlukan teknologi, artinya perlu rekayasa manusia untuk
membuat kayu yang selama ini dibuang percuma diubah menjadi barang berhar-
ga.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan (Puslitbang
THH), Badan Litbang Kehutanan (Balitbanghut), belum lama berhasil menemukan
teknologi itu. Nelalui teknologi temuannya, kayu sawit memiliki sifat dasar atau
kualitas penggunaannya yang rendah dibanding dengan kayu biasa kini menjadi
bahan baku kayu pertukangan atau memebel yang potensial. Padahal sebelumnya
batang kelapa sawit ini tidak pernah digunakan masyarakat dan dibiarkan
teronggok percuma di kebun. Balitbanghut melalui Puslitbang THH telah berhasil
mengaplikasikan modifikasi Resin JRP2 yang memungkinkan batang itu menjadi
kayu berkualitas baik setara dengan kayu komersial seperti meranti, kruing dan
kamper.
Kepala Puslitbang THH, menjelaskan resin adalah padatan dari tumbuhan
berupa ikatan kimia polimer. Contohnya, damar, kopal gondorukem dan keme-
nyan. Senyawa itu disuntikan pada bagian lunak batang kelapa sawit sehingga
bagian tengah batang sawit itu mengeras. Setelah mengeras seperti kayu pada
umumnya batang kelapa sawit bisa digunkan untuk bahan baku industri kayu
olahan. Selanjutnya batang kelapa sawit yang sudah dimodifikasi itu bisa diguna-
kan untuk berbagai keperluan terutama sebagai bahan baku kayu pertukangan
(woodworking) dan keperluan kontruksi. Bahkan produk yang dihasilkan dari ba-
75
tang kelapa sawit kemudian menjadi komoditas ekspor yang sangat potensial
seperti daun pintu, fancy panel, mebel, dan perabot rumah tangga lain.
Kepala Badan Litbang Hutan pun mengatakan bahwa produk tersebut sela-
ma ini banyak dicari pembeli dari luar negeri, karena selain corak kayunya unik
juga memiliki kekuatan yang cukup bagus. Sehingga batang kelapa sawit ini layak
disejajarkan dengan kayu komersial lain yang harganya lebih mahal. Beliau juga
mengatakan bahwa penggunaan resin dalam pengolahan batang atau kayu kelapa
sawit sangat murah dan mudah digunakan dibandingkan dengan bahan impor
yang umum digunakan dalam modifikasi kayu seperti acetic anhydride, furfuryl
alcohol, methyl methacrylate, polyethylene, glycol dan sebagainya.
Nenurutnya, kayu kelapa sawit yang sudah mengalami modifikasi memiliki
sifat penggunaan lebih baik dari pada produk kayu rakitan seperti papan partikel
(particle board) dan papan blok (blockboard). Kualitas kedua produk itu sangat
tergantung pada kualitas perekat yang digunkan dalam pembuatannya. Dia juga
mengatakan untuk membuat limbah batang kelapa sawit menjadi bahan baku
setara kayu komersil dibutuhkan biaya rata-rata Rp 300.000 per meter kubik. Bia-
ya produksi ini bisa menjadi lebih rendah jika sistem produksinya mengacu pada
pola yang lazim digunakan oleh industi kayu konvensional. Dengan penambahan
biaya perlakuan sebesar itu, harga kayu berasal dari batang kelapa sawit yang
kualitas sudah setara kamper dan kruing masih lebih rendah daripada kedua kayu
komersial tersebut.
Berdasar informasi yang diperoleh dari Dephut pada harga kayu dari batang
kelapa sawit berkisar US$ 300 - US$ 1,000 per m
3
. Sementara kamper pada
waktu itu sudah mencapai US$ 5,000 per m
3
dan Kruing US$ 2,500 m
3
. Dengan
demikian ditinjau dari segi harga dan kualitas batang sawit lebih efisien dijadikan
bahan baku industri mebel.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa melalui teknologi baru, kayu sawit
yang memiliki sifat dasar atau kualitas penggunaannya yang rendah dibandingkan
dengan kayu biasa ternyata dapat menjadi bahan baku mebel yang potensial.
Selama ini batang kelapa sawit yang dihasilkan dari peremajaan kebun sawit tidak
pernah dilirik orang, bahkan keberadaannya justru dianggap sangat mengganggu
pemilik atau pengelola kebun.
76
+.2.D. Pengelolaan cangkang (dan TKS) sebagai arang dan arang akif
Pembuatan arang meliputi proses tradisional, dinidng bata dan beton, atau
terbuat dari besi, dengan retort maupun tanur. Tanur arang spesifik untuk pem-
buatan arang dari ukuran serpihan kayu, kulit, dan limbah industri perkayuan,
sedangkan arang limbah hasil pertanian umumnya berukuran kecil dan disesuaikan
dengan karakteristik bahan bakunya seperti arang sekam, tempurung kelapa
serbuk gergaji dan lain sebagainya. Proses pembuatan arang terdiri dari empat
tahap yaitu;
Pada suhu 100-120
0
C terjadi penguapan air sampai suhu 270
º
C mulai terjadi
peruraian selulosa. Destilat mengandung asam organik dan sedikit metanol.
Asam cuka terbentuk pada suhu 220-270
o
C.
Pada suhu 270-310
0
C reaksi eksotermik berlangsung yaitu peruraian selulosa
secara intensif rnenjadi larutan pirolginat, gas kayu dan sedikit tar. Asam pirilgi-
nat merupakan asam organik dengan titik didih rendah, sedangkan gas kayu
terdiri dari CO dan CO
2
.
Pada suhu 310-500
0
C, terjadi peruraian lignin, dihasilkan lebih banyak tar, se-
dangkan larutan pirolginat menurun. Gas CO
2
menurun sedangkan gas CO, CH
+
,
dan H
2
meningkat.
Pada suhu 500-1000
0
C mcrupakan tahap pemurnian arang atau peningkatan
kadar karbon. Teknik pembakaran pertama-tama, lubang udara, lubang asap
dan cerobong dibuka. Kayu dimasukkan ke dalam alat setelah terlihat bahan
terbakar seluruhnya, pembakaran kayu umpan dihentikan. Selanjutnya lubang
pembakaran ditutup sebagian, dan ditinggalkan sedikit tcrbuka atau 5 x 5 cm.
Lubang udara yang berdekatan dengan cerobong asap ditutup sampai bara api
kelihatan pada lubang udara yang berdekatan dengan lubang pcmbakaran.
Apabila terlihat asap hitam tebal, lubang penguapan ditutup agar seluruh asap
keluar mclalui cerobong asap. Waktu yang diperlukan rnulai pernbakaran hingga
keluar asap hitam adalah 8 jarn. Selanjutnya dilakukan pengaturan lubang
udara berdasarkan pengamatan terbakarnya bahan rnelalui lubang udara. Salah
satu cara untuk mengetahui proses pembakaran berlangsung sempurna yaitu
dengan mengambil sampel asap dan dimasukkan ke dalam kantung plastik
tembus pandang. Jika pada waktu 10 menit asap tidak mengembun, maka
proses pembakaran telah sempurna. Tahap berikutnya adalah menutup seluruh
77
lubang udara, lubang pembakaran, dan cerobong asap agar proses
pengarangan berlangsung sempurna. Setelah selesai, arang dikeluarkan dari
alat (tanur) dan segera disiram dengan air agar tidak terbakar. Setelah arang
bongkah menjadi dingin, dilanjutkan dengan proses pengaktifan yaitu
penghancuran bongkahan rnenjadi granular, perendeman dengan bahan
pengaktif dan pemberian uap panas.
Pembuatan arang rnenjadi arang aktif. Pada prinsipnya adalah membu-
ka pori-pori arang agar rnenjadi luas yaitu dari luas 2 m2fg pada arang yang
sifatnya inert menjadi 300-2000 m
2
fg pada arang aktif. Arang aktif disusun
oleh atom karbon yang terikat secara kovalen dalam kisi heksagonal di mana
molekulnya berbentuk amorf yaitu merupakan plat datar. Kanfigurasi molekul
herbentuk plat ini bertumpuk satu sama lain dengan gugus hidrokarbon pada
permukaannya. Dengan menghilangkan hidrogen dari gugus hidrokarbon maka
permukaan dan pusat menjadi iuas. Dikenal dua cara untuk pengaktifan arang
yaitu proses oksidasi lemah dengan menggunakan uap air pada suhu 900-
1000
º
C dan dengan proses dehidrasi menggunakan bahan kimia atau garam-
garam seperti kalsiumklorida, sengklorida, asamfosfat, sodiumhidroksida, dan
lain-lain. Namun banyak perusahaan yang menggabungkan kedua cara
tersebut. Perendaman dengan bahan kimia dapat dilakukan sebelum proses
karbinisasi yang dilanjutkan dengan pengaktifan menggunakan uap air. Kunci
keberhasilan pembuatan arang aktif ialah suhu karbonisasi dan uap air antara
900-1000
º
C.
Pembuatan Arang Aktif dari Cangkang Kelapa Sawit
Arang aktif atau karbon aktif adalah karbon dengan struktur amorf yang
dengan perlakuan khusus akan memiliki luas permukaan yang besar sehingga
memiliki kemampuan penyerapan lebih besar dibandingkan dengan arang biasa.
Luas permukaan arang biasa 2 x 10
+
cm
2
fgr.
Arang aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik
maupun anorganik asal bahan tersebut memiliki struktur berpori. Adapun tahapan
pembuatan arang aktif dengan memanfaatkan cangkang kelapa sawit sebagai
berikut:
A. Proses Karbonasi
78
Tujuan: Untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang mudah menguap dalam
bentuk unsur-unsur non karbon, hidrogen dan oksigen.
1. Cangkang kelapa sawit yang sudah kering dimasukan ke dalam drum atau
kaleng yang telah dibuang tutup bagian atasnya dan diberi lubang sebanyak +
buah dengan jarak yang sama pada tutup bagian bawahnya.
2. Ukuran lubang harus cukup besar agar memungkinkan udara masuk.
3. Drum ditempatkan pada 2 pipa di atas tanah dan dibakar.
+. Selama api menyala ditambahkan cangkang sawit sedikit demi sedikit sampai
setinggi permukaan drumfkaleng.
5. Penambahan dilakukan dengan api yang menyala kecil.
6. Setelah itu drumfkaleng ditutup dengan pelepah pisang atau karung basah
dan dilapisi dengan penutup dari logam yang ditutupkan rapat.
7. Biarkan sampai menjadi dingin selama semalam.
Catatan: Proses karbonasi dipengaruhi oleh pemanasan dan tekanan. Semakin
cepat pemanasan semakin sukar diamati tahap karbonasi dan rendeman
arang yang dihasilkan lebih rendah sedangkan semakin tinggi tekanan
semakin besar rendeman arang.
B. Proses Aktifasi
Tujuan: Untuk meningkatkan keaktifan dengan adsorbsi karbon dengan cara
menghilangkan senyawa karbon pada permukaan karbon yang tidak
dapat dihilangkan pada proses karbonasi. Proses aktifasi dapat dilakukan
secara kimia menggunakan aktifator HNO
3
1¾ atau dapat juga dilakukan
proses dehidrasi dengan garam mineral seperti NgCL
2
10¾ dan ZnCL
2
10¾.
1. Arang hasil pembakaran dihaluskan dan diayak dengan ukuran 150 µm.
2. Untuk aktifasi atau menghilangkan ion logam yang terdapat pada arang
cangkang sawit, material direndam dengan HNO
3
1¾ atau NgCL
2
10¾ dan
ZnCL
2
10¾ selama 3 jam.
3. Kemudian dicuci dengan aquades hingga pH netral.
+. Dikeringkan pada temperatur kamar 1 minggu sebelum digunakan.
C. Manfaat dan Kegunaan Arang
79
Bahan bakar alternatif
Zat penghilang bau
Pengontrol kelembaban yang efektif
!ndustri rumah tangga
Pemanasan di industri peternakan

Contoh gambar :


+3. Limbah Gas
Limbah udara berasal dari pembakaran solar dari generating set dan
pembakaran janjang kosong dan cangkang di incenerator. Gas buangan ini
dibuang ke udara terbuka. Umumnya limbah debu dan abu pembakaran janjang
kosong dan cagkang sebelum dibuang bebas ke udara dikendalikan dengan
pemasangan dust collector, untuk menangkap debu ikutan dalam sisa gas pem-
bakaran, kemudian dialirkan melalui cerobong asap setinggi ± 25 meter dari
permukaan tanah. Debu dari dust collector secara reguler ditampung dan dibu-
ang ke lapangan untuk penimbunan daerah rendahan sekitar kebun.







Cangkang
Limbah Kelapa Sawit
Arang Aktif Cangkang
Limbah Kelapa Sawit
80
DAFTAR PUSTAKA


Bapedal. 1995. Keputusan Nenteri Negara Lingkungan Hidup No. 51fKep-NenLHf-
10f1995. Jakarta. Lampiran B.!v
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Kelapa Sawit 2005. Departemen
Pertanian.
Dolman, N.T., K. H. Lim, Z. Z. Zakaria, dan A. H. Hasan. 1987. Recent studies on
the effect of land application on palm oil mill effluent on oil palm
and environment. Proc. POR!N oil palmfpalm oil international.
Guritno, P., Darmoko, P.N. Naibaho dan W. Pratiwi. 1995. Produksi pulp dan
kertas cetak dari Tandan Kosong Sawit pada skala pilot. Jurnal
Penelitian Kelapa Sawit, 3(l): 89-100
Goenadi, D. H., Y. Away, Y. Sukin, H. H. Yusuf, Gunawan and P. Aritonang (1998).
Teknologi produksi kompos bioaktif Tandan Kosong kelapa sawit.
Dalam Pertemuan teknis bioteknogi pewrkebunan untuk praktek,
Bogor 6-7 Nei 1998. Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan,
Bogor.
Huan, Lim Kim. 1987. Trial on longterm effects of application of PONE on soil
properties, oil palm nutrition and yields. Proc. Of the 1987
!nternational Oil PalmfPalm Oil Conference POR!N.
Kepala Direktorat Pengendalian Pencemaran Air dan Tanah BAPEDAL 1999.
Peraturan perundang-undangan dan prosedur pengurusan ijin
penerapan Land Application di perkebunan kelapa sawit.
Loong, S.G., N. Nazeeb, A. Letchumanan, dan B. J. Wood. 1989. Underplanting as
a means to shorten the non-productive period of oil palm. !n
Proceedings of the 1989 POR!N !nternational Palm Oil
Development Conference, Nodule !! -Agriculture (Jalani, S.
et.al., eds). Palm Oil Research !nstitute of Nalaysia, Kuala
Lumpur.
81
Pamin, K., N. N. Siahaan, dan P. L. Tobing, 1996. Pemanfaatan limbah cair PKS
pada perkebunan kelapa sawit di !ndonesia. Lokakarya Nasional
Pemanfaatan Limbah Cair cara Land Application.
Schuchardt, F., E. Susilawati, dan P. Guritno. 1998. !nfluence ef CfN ratio and
inoculum. Upon rotting characteristics ef oil palm empty fruit
bunch. Proc. 1998 !nternational Oil palm Conference. Bali,
!ndonesia.
Singh, Gurmit., S. Nanoharan, dan T. T. San. 1989. United Plantation approach to
palm oil mill by product management and utilization. Proc. Of
palm oil, POR!N !nternasional Development Conference.
Tang, N. K., N. Nazeeb, dan S.G. Loong,.1999. An !nsight !nto Fertilizer Type and
Application Nethods in Nalaysian Oil Palm Plantation. The
Planter, 75 (876): 115-137. Kuala Lumpur.
Tim PT SP. 2000. Produksi bersih pengolahan tandan buah segar di pabrik kelapa
sawit (pengalaman PT Salim !ndoplantation di Riau). Nakalah
Lokakarya Pelaksanaan Produksi Bersih pada !ndusti Ninyak
Sawit. Pekanbaru, 2-3 Naret 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->