P. 1
emboli air ketuban

emboli air ketuban

|Views: 206|Likes:
Published by Ponco Rosso
review
review

More info:

Published by: Ponco Rosso on Jan 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2015

pdf

text

original

Artikel review

Jurnal reading

Dipresentasikan Oleh: Dr. Andi Wijaya Surakarta

Emboli air ketuban atau amniotic fluid embolism (AFE) merupakan suatu sindrom katastrofik yang terjadi selama kehamilan dan persalinan atau segera setelah melahirkan (postpartum) AFE juga merupakan penyebab penting kematian maternal di negara-negara berkembang. AFE memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi

Sebagian besar kasus (80%) terjadi selama persalinan, namun dapat pula terjadi sebelum persalinan (20%) atau setelah kelahiran bayi. Sekitar 25% pasien akan meninggal dalam onset 1 jam. Manifestasi klinik AFE yang klasik adalah onset dypsnea, kegagalan respiratorik dan hipotensi yang diikuti dengan kolaps cardiovascular, disseminated intravascular coagulation (DIC) dan kematian

maternal mortality rate emboli air ketuban tetap tinggi, sekitar 61%; sebagian besar yang selamat memiliki kerusakan neurologis permanen akibat hypoxia (permanent hypoxia-induced neurological damage). Mortalitas fetal sekitar 21% dan 50% dari yang berhasil selamat mengalami kerusakan neurological permanen

000 cc. dan menghisap air ketuban. Sehingga terhitung sejak pertengahan usia kehamilan. air ketuban sebagian besar terbentuk dari air seni janin . pertukaran air dan molekul kecil lainnya tidak hanya lewat amnion tetapi juga kulit fetal. menelan.    Air ketuban mulai terbentuk pada usia kehamilan 4 minggu dan berasal dari sel darah ibu jumlahnya sekitar 1. Pada pertengahan awal kehamilan. Saat trimester kedua. fetus mulai buang air kecil.

seperti transforming growth factorβ.     Untuk pergerakan janin Sebagai bantalan bagi janin saat pembentukan muskuloskeletal dan melindunginya dari trauma. Mengandung Epidermal Growth Factor (EGF) dan EGF-like growth factors. . Melindungi tali pusat dari kompresi Mempertahankan temperatur Fungsi nutrisi yang minimal.

   Proses pencernaan air ketuban kedalam saluran cerna dan inhalasi ke dalam paru-paru dapat menyebabkan pertumbuhan dan diferensiasi jaringan ini. komponen yang penting untuk perkembangan paru-paru . Sebagai bakteristatik untuk mengurangi potensi terjadinya infeksi Air ketuban mempertahankan tekanan air ketuban dengan mengurangi kehilangan cairan paru-paru.

EMBOLI AIR KETUBAN .

hipoksia. dan koagulopati konsumtif secara mendadak . Emboli cairan ketuban adalah suatu gangguan kompleks yang secara klasik ditandai oleh terjadinya hipotensi.

Insidensi dan Epidemiologi   dilaporkan insidensi AFE berkisar antara 1 : 8000 dan 1 : 80000. Insidensi terjadinya AFE yang sebenarnya tidak diketahui secara pasti akibat ketidakakuratan pelaporan kematian maternal. kurangnya data dari kasus-kasus non-fatal. dan fakta bahwa AFE sulit untuk dideteksi dan tetap merupakan diagnosis eksklusi . dengan mortalitas maternal sebesar 86%.

.Faktor risiko      Overdistensi uterus akibat his/kontraksi persalinan berlebih. Air ketuban yang penuh dengan kotoran bayi inilah yang sering kali menimbulkan kefatalan pada kasus-kasus AFE. Rupture uteri Multiparitas Kehamilan lewat waktu Fetal distress. ditemukannya mekonium atau tinja janin dalam air ketuban. di mana janin dalam keadaan kekurangan oksigen. yang umumnya terjadi pada penggunaan obat-obatan perangsang persalinan yang tidak terkontrol.

Faktor risiko           Persalinan buatan Janin laki-laki Usia maternal yang lanjut Sectio caesaria Polihydramnion Laserasi serviks yang luas Solusio plasenta dan plasenta previa IUFD Bayi besar Eklampsia .

Patogenesis .

dan tidak terduga. dan hipotensi (13%). hipotensi yang diikuti oleh kolaps kardiovaskular. bradikardi fetal (17%). gejala klinik distress pernafasan terjadi pada 51% pasien. kegagalan respiratorik. Analisis Clarke’s national registry (1995) menunjukkan gejala klinik AFE yang terjadi sebelum persalinan adalah kejang (30%). hipotensi 27%. DIC dan kematian. .Gejala Klinik    Manifestasi klasik AFE digambarkan sebagai dyspnea yang tiba-tiba. dan kejang 10%. dyspnea (27%). abnormalitas koagulopati 12%. Menurut Morgan.

Gejala klinis Terdapat tiga fase AFE yang diidentifikasi pada manusia. Fase pertama meliputi : 1. Hemodinamik berupa edema pulmonal dan syok hemoragik 3. Neurologis berupa konfusi dan koma . Sistim respirasi berupa distress pernafasan dan sianosis 2.

diagnosis pasti AFE dibuat hanya setelah otopsi maternal menunjukkan adanya sel skuamous. atau material fetal dan air ketuban lainnya di dalam vaskulatur arterial pulmonal. Meskipun data laboratorium mungkin menunjukkan kemungkinan AFE.diagnosis   Sampai saat ini. tidak ada hasil laboratorium atau tanda klinis yang dapat digunakan untuk mendiagnosis AFE . lanugo.

Pemeriksaan Penunjang:       Electrocardiogram dan pulse oximeter Pemeriksaan Laboratorium Analisa gas darah Foto rontgen thorax CVP (Central Venous Pressure) Penilaian faktor pembekuan darah .

Diagnosis banding .

Kebanyakan pasien akan dirawat di Intensive Care Unit (ICU) setelah dilakukan stabilisasi inisial. tetapi suportif dan terfokus pada stabilisasi jantung dan paru ibu. Breathing. . Prinsip utama dalam menangani kegawatdaruratan obstetric sama dengan gawatdarurat lainnya. and Circulation).Penatalaksanaan     Terapi untuk AFE tidak bersifat kausatif. Tujuan utama terapi adalah menghindari terjadinya tambahan hipoksia dan kegagalan organ. yaitu prinsip ABC (Airway.

Bila secara klinis memungkinkan. Strategi penanganan adalah meningkatkan oksigenasi. tidak ada terapi baru dan tetap bersifat suportif. .Penatalaksanaan   Meskipun terdapat penurunan mortalitas. dan mengoreksi koagulopati. jalur arterial dan kateter arteri pulmonal harus dilakukan untuk menyediakan akses sample darah untuk analisis sitologi air ketuban dan fetal debris. mendukung sirkulasi.

Intubasi trakea dan ventilasi mekanik menggunakan oksigen 100% harus dilakukan pada pasien dengan kejang atau koma.Penatalaksanaan   Oksigenasi maternal dengan tekanan oksigen arterial > 60 mmHg harus dicapai dengan memberikan oksigen melalui face mask kepada seluruh pasien yang sadar. .

pada keadaan syok berat. lebih baik diberikan epinefrin atau norepinefrin. dan sildenafil . Obat-obatan lain yang mungkin dapat berguna untuk hipertensi pulmonal berat antara lain nitric oxide (sebagai vasodilator pulmonal selektif). prostacyclin. dapat diberikan dopamine.Penatalaksanaan   Untuk meningkatkan cardiac output dan menyokong tekanan darah.

Dengan demikian. kelahiran bayi harus segera dilakukan . Kelahiran fetus meningkatkan kesempatan akan prognosis yang baik untuk ibu karena beban uterus gravid pada vena cava inferior berkurang sehingga dapat mengurangi penurunan tekanan darah sistemik.   Bila AFE terjadi sebelum atau selama persalinan. fetus dalam bahaya sejak onset AFE terjadi akibat krisis kardiopulmonal maternal. segera setelah kondisi ibu stabil.

terutama kerusakan neurologis. Meskipun mortalitas telah menurun. . morbiditas tetap tinggi dengan sequel yang berat. Prognosis dan mortalitas AFE telah membaik secara signifikan dengan early diagnosis dan penanganan resusitasi yang cepat dan tepat.Prognosis     Pasien dengan AFE memiliki prognosis yang buruk. AFE tidak dapat diprediksi maupun dicegah. AFE tetap menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang paling ditakuti dan yang paling lethal. Sampai saat ini.

Michael Kramer. Gwyneth Lewis. Jeremy Oats. Catherine Spong. risk factors and outcomes: a review and recommendations (Marian Knight.SEARCH ARTIKEL Amniotic fluid embolism incidence. Elizabeth Sullivan. Peter Brocklehurst. Cynthia Berg. Jos van Roosmalen and Joost Zwart) .Christine L Roberts.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

KESIMPULAN .

kesadaran menurun disertai nistagmus dan kadang-kadang timbul kejang tonikklonik. Penyebabnya adalah masuknya air ketuban melalui vena endoserviks atau sinus vena yang terbuka di daerah tempat perlekatan plasenta.  Emboli air ketuban merupakan salah satu penyebab syok dalam obstetric yang bukan disebabkan karena perdarahan. muntah dan disertai takikardi dan takipnea. Gejala permulaan yaitu penderita tampak gelisah. . nadi cepat dan lemah. diikuti dyspnea dan sianosis. Tekanan darah menurun. mual.

maka diperlukan tindakan yang cepat dan tepat. Karena mortalitasnya yang sangat tinggi.   Penyumbatan kapiler paru-paru tersebut akan menimbulkan edema paru-paru yang luas dan akhirnya mengakibatkan gagal jantung. di mana dalam 60 menit pertama dapat mencapai 50%. Komplikasi yang lain adalah terjadinya gangguan pembekuan darah. .

seksio cesarean harus dilakukan sesegera mungkin. dan koreksi koagulopati Segera setelah keadaan ibu stabil. Semakin segera setelah maternal cardiopulmonary arrest fetus dilahirkan. semakin baik prognosis fetus. Jika fetus telah matur dan belum dilahirkan pada saat maternal cardiac arrest.    Terdapat tiga tujuan utama terapi yaitu oksigenasi. J ika resusitasi ibu tidak berhasil. . mempertahankan cardiac output dan tekanan darah. fokus perhatian ditujukan pada kelahiran bayi. emergency bedside seksio cesarean diperlukan untuk menyelamatkan janin.

.  Berdasarkan National Registry. angka kematian ibu adalah sebesar 60%. Oleh karena itu. kunci agar prognosis yang baik adalah identifikasi pasien dengan risiko tinggi AFE. Mortalitas fetal sekitar 21% dan 50% dari yang berhasil selamat mengalami kerusakan neurological permanen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->