P. 1
199 Pengaruh Profesionalisme Guru Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru

199 Pengaruh Profesionalisme Guru Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru

|Views: 128|Likes:
Published by Arya Ragil

More info:

Published by: Arya Ragil on Jan 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2013

pdf

text

original

199 Pengaruh Profesionalisme Guru dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru (Studi Kasus Pada SMA Muhammadiyah

2 Surakarta).
Diposting oleh rulam | Tanggal: December 21st, 2011 | Kategori: Artikel 1. A. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa, yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Suatu usaha menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas seperti yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional diatas, maka kualitas pendidikan di Indonesia harus selalu ditingkatkan. Peningkatan kualitas pendidikan tentunya harus didukung dengan adanya peningkatan kualitas tenaga kependidikannya. Adapun yang dimaksud dengan tenaga kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola dan memberikan pelayanan teknis dalam bidang kependidikan (Hamalik 2003 : 9). Guru merupakan tenaga kependidikan yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, melatih, serta mengarahkan peserta didik agar memiliki kesiapan dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat dengan bangsa lain. Oleh karena itu kedudukan guru sebagai tenaga professional sangatalah penting dalam terwujudnya visi dan misi penyelenggaraan pembelajaran pada satuan pendidikan dimana ia melaksanakan tugasnya.

1

Guru profesional adalah guru yang mengedepankan mutu dan kualitas layanandan produknya, layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa, dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No.19/2005 dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi professional dan kompetensi sosial. Semua kompetensi tersebut harus dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan kegiatan mengajar di sekolah. Guru yang bermutu adalah guru yang profesional dalam pekerjaannya karena guru yang profesional senantiasa dapat meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menguasai kompetensi tersebut sehingga peserta didik dapat dengan mudah menyerap ilmu yang didapat. Dewasa ini pendidikan di Indonesia berkembang dengan pesat, dengan kondisi seperti ini guru dituntut memeliki wawasan yang luas dalam perkembangan pendidikan. Peran dari seorang guru dipandang dari sisi tugas dan tanggung jawabnya tidaklah ringan. Untuk itu seorang guru selayaknya mendapatkan perhatian yang ideal.

Kinerja seorang guru dikatakan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur, dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya. Membahas masalah kualitas dari kinerja guru tidak terlepas dari pencapaian hasil belajar. Hal ini karena kinerja guru sangat menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif dan efisien srhingga tujuan pendidikan dapat tercapai dan terwujud dari hasil belajar siswa yang baik yang pada akhirnya dapat mencetak lulusan yang berkualitas. Menurut Robet Bacal (2005:3) kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus menerus, yang dilaksanakan kemitraan, antara seorang guru dan siswa dengan terjadinya proses komunikasi yang baik antar kepala sekolah dengan guru, dan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru, dan ini merupakan suatu sistem kinerja yang memberi nilai tambah bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas siswa dalam belajar. “Kinerja sebagai suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”(Hasibuan (2003:34). Selain itu, kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dalam usaha seseorang guru yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Kinerja yang optimal merupakan harapan semua pihak namun kenyataan dilapangan menunjukkan masih ada beberapa guru yang kinerjanya optimal. Berdasarkan observasi di SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA pada bulan September tahun 2010 terlihat bahwa kinerja guru dirasakan masih belum memuaskan. Dalam realitas sehari-hari masih diketemukan adanya gejala-gejala antara lain : 1) pembuatan kerangka KBM belum optimal bahkan hanyacopy paste perangkat tahun lalu dengan mengganti tahunnya , 2) kurangnya kemauan guru menciptakan pembelajaran yang variatif, 3) masih banyaknya siswa yang tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru sehingga mereka tidak menyerap pelajaran yang didapat, 4) dan masih diketemukan adanya siswa yang tidak lulus ujian akhir nasional yang disebabkan nilai mereka tidak memenuhi standar kelulusan. Belum optimalnya kinerja guru tersebut bukan tanggung jawab sekolah saja, melainkan tanggung jawab bersama antara pihak Depdikanas dan Pemerintah. Menurut Mathis dan Robert L. Jackson (2001:82) banyak faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja, antara lain : 1) kemampuan, 2) motivasi, 3) dukungan yang diterima, 4) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan 5) hubungan mereka dengan organisasi. Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan kinerja guru antara lain dengan peningkatan profesionalitas guru melalui pelatihan-pelatihan, seminar, kursus-kursus atau pendidikan formal yang tinggi serta pembinaan dan pengembangan untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Dalam pelaksanaannya kita tidak hanya menuntut keahlian dari para ahli pengembang kompetensi guru saja melainkan juga harus memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja seorang guru. Dalam tugasnya guru pasti akan menghadapi berbagai masalah. Dalam kondisi seperti itu guru dituntut untuk dapat menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut profesionalitas seorang guru sangat diperlukan. Tuntutan dan pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian global karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era

19/2005. layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat. Dapat diartikan bahwa linkungan pembelajaran di kelas maupun di sekolah mempengaruhi baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan belajar mengajar. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah suasana lingkungan kerja dalam organisasi dimana guru mengaktualisasikan diri. dipundaknya dibebani suatu tanggung jawab atas mutu pendidikan. apabila guru mempunyai keinginan. Aspek penghargaaan terhadap guru sering kali tidak sesuai dengan tuntutan dan peran guru dalam mengemban amanah. aspek yang kurang diperhatikan adalah tingkat kesejahteraan yang seringkali dihadapkan pada standarisasi yang memaksa. motivasi dan lingkungan kerja merupakan faktor yang saling mempengaruhi terhadap kinerja. Maka dari itu profesionalitas seorang guru harus diikuti oleh motivasi kerja guru dalam mengembangkan kurikulum disekolah akan berguna. Tugas guru adalah membantu anak didik agar mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya. Orientasi tersebut mengarah pada peran guru yang sering kali diposisikan sebagai faktor penting untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan profesi. dan mengevaluasi kurikulum yang berlaku disekolah sehingga memperoleh hasil kerja yang maksimal. Sekolah sekarang sudah dihadapkan pada persaingan dan teknologi yang tidak bersekala nasional akan tetapi sudah internasional. mereka akan terdorong dan berusaha meningkatkan kemampuannya dalam merencanakan. Guru memilki peran yang sangat besar dalam pendidikan. dan ketrampilan Guru profesional adalah guru yang ingin mengedepankan mutu dan kualitas layanandan produknya. 2) Kompetensi Paedagogik. minat. penghargaan dan meningkatkan dirinya dalam melaksanakan tugas kegiatan mengajar. Seorang guru harus menunjukkan perilaku yang kuat yang diarahkan untuk menuju suatu tujuan tertentu. melaksanakan. aspek intelektual. Namun seiring dengan perkembangan dan perubahan seringkali posisi guru dihadapkan pada tantangan yang cukup krusial. yaitu adalah : 1) Kompetensi Kepribadian. Maka dari itu guru harus mengembangakan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Apabila para guru mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Selain itu hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai kinerja guru yang tinggi diperlukan adanya motivasi dari guru untuk meningkatkan kinerjanya secara utuh. Pemberdayaan peserta didik itu meliputi aspek-aspek keperibadian. semakin rendah motivasi seseorang maka semakin rendah pula kinerjanya. bangsa dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan pesrta didikberdsar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. Untuk itu perlu didukung pula pola kerja yang saling mendukung. Demikian keterkaitan antara profesionalisme. baik sekolah negeri maupun swata. . 3) Kompetensi Profesional. emosional. adanya keinginan dan hasrat yang lebih mengarah pada tingkah laku yang berorientasi pada tercapainya standar of excellent. Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja guru. Motivasi merupakan kekuatan pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu kegitan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No. sosial. bertanggung jawab. Motivasi kerja guru juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi kinerja guru untuk mencapai tujuan pendidikan. Kemampuan dan motivasi yang tinggi didasarkan pada keinginan yang kuat dari setiap guru untuk berkarya. Dengan demikian semakin tinggi motivasi seseorang maka semakin tinggi pula kinerjanya begitu pula sebaliknya. Keberadaan ini menunjukkan bahwa motivasi guru perlu didukung oleh perangkat yang mengarah pada kebutuhan untuk meningkatkan prestasi yang mengarah pada kinerja guru yang berkualitas. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. dan 4) Kompetensi Sosial.hiperkompetisi.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. Setidaknya guru sebagai status sosial yang seringkali tersingkir oleh kepentingan dasar yang ada pada setiap guru. Guru perlu semangat dan keinginan yang tinggi untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.

Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme. Untuk mengetahui pengaruh profesionalisme terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. kebutuhan akan pengakuan. 2. harus diketahui lebih dahulu permasalahannya akan lebih terarah dan terfokus. Untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. Dalam hal ini penulis membatasi ruang lingkup dan fokus masalah yang diteliti sebagai berikut : 1. kompetensi professional dan kompetensi sosial. lingkungan kerja terhadap kinerja guru di SMA Muhammadiyah Kota Surakarta. tanggung jawab. Berdasarkan latar belakang masalah diatas. B. Oleh karena itu sebelum melakukan penelitian.Demikian halnya dengan kinerja guru ditentukan oleh tingkat sejauhmana profesionalime guru. 3. Profesionalisme guru di batasi pada kompetensi kepribadian. motivasi kerja. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan diatas maka tujuan yang hendak dicapai antara lain: 1. Hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian tentang pengaruh profesionalime dan motivasi terhadap kinerja. 3. Bagaimana pengaruh profesionalisme terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? Bagaimana pengaruuh motivasi terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? Bagaiamana pengaruh profesionalisme dan motivasi secara bersama-sama terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta? 1. 2. sehingga tidak mungkin dari lapangan permasalahan-permasalahan itu dapat terjangkau dan terselesaikan semua. Kinerja guru dibatasi pada faktor kualitas kerja. kecepatan atau ketepatan dan inisiatif dalam bekerja. Berdasarakan latar belakang SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA”. dan kebutuhan akan kemajuan/berkembang. D. pekerjaan itu sendiri. Motivasi dibatasi pada kebutuhan akan prestasi. 1. kompetensi pedagogik. Perumusan Masalah Perumusan masalah atau sering disebut problematika merupakan bagian penting yang harus ada dalam penulisan karya ilmiah. 2. 1. maka yang dijadikan pokok masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:57) “problematika adalah bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian”. Pembatasan Masalah masalah diatas maka dalam penelitian ini mengambil judul : “PENGARUH PROFESIONALIME GURU DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU Pembatasan yang dikaitkan dengan judul diatas sangatlah luas. 3. Oleh karena itu perlu adanya pemabatasan masalah guna menghindari kesalahpahaman sehingga timbul penafsiran yang berbeda-beda yang akan mengakibatkan penyimpangan judul diatas. motivasi dan lingkungan kerjanya. C. .

tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. 1. 1. jujur. pakaian. obyektif.1. kritis. kepercayaan diri. bersifat adil. pemaaf. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal. dan rasional. Tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian penghargaan yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat mereka bekerja. Landasan Teori 1. memiliki dedikasi. 1. 1. tertib. sabar. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. dan hal yang bersifat psikis seperti humor. 3) kemampuan profesional sebagaimana dirumuskan oleh P3G yang meliputi 10 kemampuan profesional guru yaitu: menguasai bidang studi dalam kurikulum sekolah dan menguasai bahan pendalaman/aplikasi . maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para akademis dan para praktisi pendidikan. intelek. F. demokratis. dan cinta anak didik. Definisi Kinerja Dalam bahasa Inggris istilah kinerja adalah performance. bersifat membangun. Pemberian penghargaan yang tidak tepat dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Manfaat Teoritis Menambah khasanah ilmu pengetahuan serta meemberi masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsep-konsep baru terutama untuk pengembangan pemikiran dalam memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan kinerja guru bagi para peneliti berikutnya. pendengaran. Jadi arti Performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi. mata atau pandangan. disiplin. kesehatan. Manfaat Praktis 1. 2) kemampuan sosial antara lain bersifat terbuka. suka menolong. Salah satu entry-nya adalah “thing done” (sesuatu hasil yang telah dikerjakan). sopan. Performance merupakan kata benda. motivasi kerja dan kinerja guru. optimis. rajin. motivasi kerja dan kinerjanya. ramah. Kinerja Guru 1. kreatif. Menurut Mangkunegara (2001:67) kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Memberikan masukan kepada sekolah dan diknas sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berhubungan dengan upaya peningkatan profesionalisme. sehingga dalam melaksanakan tugasnya guru perlu memiliki tiga kemampuan dasar agar kinerjanya tercapai sebagai berikut: 1) kemampuan pribadi meliputi hal-hal yang bersifat fisik seperti tampang. suara. E. Berkaitan erat dengan kinerja guru di dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. 2. tanggung jawab. Memberi masukan kepada guru untuk selalu meningkatkan profesionalisme.

(10) Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan. tanggung jawab. yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan proses belajar mengajar. mengelola program belajar mengajar. Diknas sampai saat ini belum melakukan perubahan yang mendasar tentang standar kinerja guru. Penilaian kinerja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sesuai dengan standar yang dibakukan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi pekerja sendiri untuk dapat mengetahui kelemahan. menguasai landasan-landasan kependidikan. menilai prestasi siswa untuk kepentingan pendidikan. kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya. (7) memahami tingkat perkembangan siswa. (3) menilai prestasi belajar. (6) Memahami kebijakan pendidikan. dan secara garis besar. dan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru. . dan (12) Mengembangkan profesi (Depdikbud. mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah. (5) memahami landasan kependidikan. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya mengadakan penilaian terhadap kinerja organisasi merupakan hal yang penting. 2004:7). Dengan demikian kinerja guru adalah persepsi guru terhadap prestasi kerja guru yang berkaitan dengan kualitas kerja. mengenal fungsi dan program bimbingan penyuluhan. Masih mengacu pada rumusan 12 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru yaitu: (1) menyusun rencana pembelajaran. tanggung jawab dan wewenang guru sudah dilaksanakan atau belum maka perlu adanya penilaian objektif terhadap kinerja. 1. Untuk mengetahui apakah tugas. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban. 2003:34). Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Robet Bacal (2005:3) kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus menerus. mengelola interaksi belajar mengajar. yang dilaksanakan kemitraan. pengalaman dan kesungguhan serta waktu” (Hasibuan. memahami prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan mengajar menurut. Penilaian pelaksanaan pekerjaan ini adalah suatu proses yang dipergunakan oleh organisasi untuk menilai pelaksanaan pekerjaan pegawai. Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugastugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu.bidang studi. antara seorang guru dan siswa dengan terjadinya proses komunikasi yang baik antar kepala sekolah dengan guru. (11) Menguasai keilmuan dan ketrampilan sesuai materi pembelajaran. Penilaian Kinerja Kinerja mempunyai hubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan usaha untuk mencapai tingkat produktivitas organisasi yang tinggi. “Kinerja sebagai suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan. kerjasama dan prakarsa. (4) melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi bbelajar peserta didik. menggunakan media dan sumber. (2) melaksanakan pembelajaran. (9) Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan. (8) Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran. kejujuran.mengelola kelas. dan ini merupakan suatu sistem kinerja yang memberi nilai tambah bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas siswa dalam belajar.

struktur. kepecayaan diri. yaitu: 1) 2) 3) 4) 1. Melaksanakan dan mengelolah proses belajar mengajar. Kinerja merupakan suatu kontruksi multi dimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya. dan dukungan kerja pada guru. sikap. Merencanakan proses belajar mengajar. 2) motivasi. b) Faktor kepemimpinan. meliputi aspek kualitas manajer dan team leader dalam memberikan dorongan. Menurut Gibson. Menurut Sudjana (2002:17) kinerja guru dapat dilihat dari kompetensinya melaksanakan tugas-tugas guru. Aspekaspek APKG secara umum dapat dikelompokkan kedalam tiga kemampuan. 3) dukungan yang diterima. kepribadian. organisasi. Jackson (2001:82) banyak faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja. Ketiga variabel tersebut berhubungan satu sama lain dan saling pengaruh-mempengaruhi. 4) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan 5) hubungan mereka dengan organisasi. imbalan. latar belakang (keluarga. meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim. dan desain pekerjaan 3) Variabel psikologis meliputi persepsi. c) Faktor tim.motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru. jenis kelamin) 2) Variabel organisasional meliputi sumber daya. meliputi unsur pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Menurut Mathis dan Robert L.Ke dua belas kompetensi inilah yang dapat dilihat melalui alat penilaian kemampuan guru (APKG). kemampuan. keterampilan (skill). kepemimpinan. . (3) Kemampuan guru dalam mengadakan hubungan antar pribadi. yaitu : (1) Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pengajaran. (2) Kemampuan guru dalam mengajar di kelas. Menurut Syafri Mangkuprawira dan Aiada Vitayala dalam Yamin (2007 : 155). kekompakan. Menilai kemajuan proses belajar mengajar dan Menguasai bahan pelajaran. faktor tersebut adalah : a) Faktor Personal/individual. et al (2006 : 89) dalam Yamin ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja. tingkat sosial. penggajian) dan demografis (umur. Gabungan variabel individu. asal-usul. antara lain : 1) kemampuan. yaitu: 1) Variabel individual meliputi kemampuan dan ketrampilan (mental dan fisik). semangat. kepercayaan terhadap sesema anggota tim. belajar dan motivasi. dan psikologis sangat menentukan bagaimana seseorang mengaktualisasikan diri. dan keeratan anggota tim. arahan.

2. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. ketakwaan. panggilan jiwa dan idealisme Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. yaitu adalah : . dikemukakan bahwa professional guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksnakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Memiliki bakat. 1. kinerja dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuan individu. meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal. layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri. dan akhlak mulia Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesinalan Memperoleh penghasilan yang ditentukan seuai dengan prestasi kerja Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat 8) 9) Memilki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalisme Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan. Definisi profesionalisme Professional berasal dari kata profesi (profession) yang diartikan sebagai jenis pekerjaan khas yang mana memerlukan pengetahuan. bangsa dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa banyak faktor dan variabel yang mempengaruhi kinerja guru. meliputi system kerja. keahlian atau ilmu pengetahuan yang digunakan dalam aplikasi untuk berhubungan dengan orang lain. Dari pengertian diatas. Disamping itu. keimanan. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa kompetensi. Profesionalisme 1.d) Faktor system. instansi atau lembaga. dan juga dapat berasal dari luar atau faktor situasional. Dalam undang-undang Guru dan Dosen No. fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah. maka guru professional adalah guru yang ingin mengedepankan mutu dan kualitas layanan dan produknya. minat. e) Faktor kontekstual (situasional).19/2005. proses organisasi dan kultur kerja dalam organisasi (sekolah).

dan . Kompetensi Paedagogik : Pemahaman wawasan atau landasan pendidikan Pemahaman terhadap peserta didik Pengembangan kurikulum/silabus Perancangan pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik Evaluasi hasil belajar Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya Kompetensi professional : Konsep struktur dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar Materi ajar ada dalam kurikulum sekolah Hubungan konsep antar mata pelajaran terkait Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. dan Mengembangkan diri secara berkelanjutan.1) a) b) c) d) e) f) g) h) i) 2) a) b) c) d) e) f) g) 3) a) b) c) d) Kompetensi Kepribadian : Mantap Stabil Dewasa Arif dan bijaksana Berwibawa Berakhlak mulia Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat Mengevaluasi kinerja sendiri.

Definisi motivasi kerja Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya potensi bawahan agar mau bekerja secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Sedangkan menurut Robbins (2001:166). Motivasi 1. Menurut Hasibuan (2003:95). 2002:146). Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. Dan tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu. motivasi kerja adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia. Menurut Fattah (2003:19). dan imbalan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif. dan d) 1. Selanjutnya menurut Winardi (2002: 6). Motivasi kerja adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan.e) Kompetensi secara professional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai adan budaya nasional 4) a) b) c) Kompetensi Sosial : Berkomunikasi lisan dan tulisan Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional Bergaul secara efektif dengan peserta didik sesama pendidik. Kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan suatu pekerjaan (Hasibuan. hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. Motivasi kerja terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan kerja. tenaga kependidikan. orang tua/wali peserta didik. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. yang mempunyai arti suatu perangsang. Motivasi kerja guru akan mensuplai energi untuk bekerja / mengarahkan aktivitas selama bekerja. Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama dengan efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. . dan menyebabkan seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. motivasi berasal dari kata dasar motif. 2003:94). mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja (Amirullah dkk. yang dapat dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter. kerja merupakan kegiatan dalam melakukan sesuatu. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud motivasi kerja adalah sesuatu yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap pekerjaan guna mencapai tujuan. Berbagai sikap secara santun dengan masyarakat sekitar 3.

keterlibatan (Involvement). penghargaan (Recognition). Jadi teori–teori ini perlu bagi organisasi dalam memahami karyawan (guru) dan mengarahkan karyawannya (guru) untuk melakukan sesuatu. dan kesempatan (Opportunity). Sedangkan faktor instrinsik (motivator) adalah faktor yang kehadirannya dapat menimbulkan kepuasaan kerja dan meningkatkan prestasi atau hasil kerja individu. Teori-teori motivasi Teori-teori motivasi kerja banyak lahir dari pendekatan–pendekatan yang berbeda–beda. Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya (Hasibuan. . a) Prestasi (achievment) adalah kebutuhan untuk memperoleh prestasi di bidang pekerjaan yang ditangani. kebijakan administratif. pengembangan (Development). tantangan (Challenge). kondisi kerja dan kehidupan pribadi. tanggungjawab. 1) Teori motivasi dua faktor atau teori iklim sehat oleh Herzberg. Menurut siswanto (1990:137). hal itu terjadi karena yang dipelajari adalah perilaku manusia yang komplek.1. dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (penghargaan dan aktualisasi diri). yang meliputi: prestasi (Achievement). Herzberg berpendapat bahwa ada dua faktor ekstrinsik dan instrinsik yang mempengaruhi seseorang bekerja. faktor-faktor motivator meliputi: prestasi. Pekerjaan itu sendiri (the work it self) adalah kebutuhan untuk dapat menangani pekerjaan secara aktif sesuai minat dan bakat. 2003 : 115-116) 2) Teori motivasi prestasi kerja David Mc Clelland. tanggungjawab(Responsibility). kemajuan. pengakuan. c) Tanggung jawab (responbility) adalah kebutuhan untuk memperoleh tanggungjawab dibidang pekerjaan yang ditangani. rasa aman. pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang. teknik supervisi. Dalam teori motivasi Herzberg. motivasi seseorang akan ditentukan motivatornya. f) Kemungkinan berkembang (the possibility of growth) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier. d) e) Kemajuan (advencement) adalah kebutuhan untuk memperoleh peningkatan karier (jabatan). Termasuk dalam faktor ekstrinsik (hygienes) adalah hubungan interpersonal antara atasan dengan bawahan. Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai kebutuhan “need” dapat mendorongnya mencapai sasaran. Frederick Herzberg memilah herarki kebutuhan maslow menjadi kebutuhan tigkat rendah (fisiologis. b) Pengakuan (recoqnition) adalah kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari pimpinan atas hasil karya/hasil kerja yang telah dicapai.

persaingan ini oleh manajer ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya supaya termotivasi untuk bekerja giat. Nilai insentif yang terletak pada tujuan. asalkan kemungkinan untuk hal itu diberi kesempatan. Herzberg mengatakan bahwa memberikan seseorang kenaikan gaji atau kondisi kerja yang baik tidak dapat memotivasinya karena kebutuhan tingkat rendah dapat dipenuhi secara cepat. bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan yaitu: (a). seseorang menyadari bahwa dengan hanya mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Berdasarkan pada dua teori di atas. senang hati. (b).Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Implikasi teori ini ialah bahwa seorang pekerja mempunyai persepsi berkarya tidak hanya sekedar mencari nafkah. dan ia sangat dinilai tinggi oleh orang-orang yang memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan. (4). bagaimanapun kebutuhan itu dikategorisasikan. Pada teori yang dicapai dari Mc. dan dengan dedikasi tinggi sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. maka pada penelitian ini yang sesuai adalah teori dua faktor Herzberg untuk yang motivator. karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi. Motivasi kerja erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang. Pekerjaan itu sendiri. b) Kebutuhan akan afiliasi seseorang karena kebutuhan afiliasi akan memotivasi dan mengembangkan diri serta memanfaatkan semua energinya. Clelland gaji/upah. akan tetapi sebagai wahana untuk memuaskan berbagai kepentingan dan kebutuhannya. kebutuhan ini merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seorang karyawan. G. c) Kebutuhan akan kekuasaan. Kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat. Kebutuhan untuk berkembang/kemajuan. sebagai alat untuk membeli prestise atau mengendalikan pihak lain (Winardi. Karena Herzberg mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi seseorang adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. 1. Pada dasarnya motivasi kerja seseorang itu berbeda-beda. Harapan dan keberhasilannya. Kerangka Pemikiran . bila motivasi kerjanya tinggi maka akan berpengaruh pada kinerja yang tinggi dan sebaliknya jika motivasinya rendah maka akan menyebabkan kinerja yang dimiliki seseorang tersebut rendah. 1. dengan pendapatan yang besar ia dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhannya. dan (c). apabila hal tersebut diberikan sebagai bonus kelompok. (2). penting sebagai suatu sumber umpan balik kinerja untuk kelompok karyawan yang berprestasi tinggi (High Achivers) ia dapat bersifat atraktif bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan tinggi akan afiliasi. dan (5). Tanggung jawab. Menurut Mc Clelland kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah kerja dikelompokkan menjadi tiga yaitu: a) Kebutuhan akan prestasi. (3). Kedudukan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja Motivasi kerja merupakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan. Kebutuhan akan pengakuan. tekun. Kebutuhan akan Prestasi. 2001:156). Ego manusia yang ingin berkuasa lebih dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. Indikator dalam penelitian ini meliputi: (1). Jika guru mempunyai motivasi kerja tinggi maka ia akan bekerja dengan keras. Ada motivasi kerjanya tinggi dan ada motivasi kerjanya rendah.

Hipotesis Menurut Sugiono (2008:93) “hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Motivasi berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Profesionalisme guru dan motivasi kerja secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta 1. maka terlebih dahulu perlu dikemukakan gambaran yang berupa kerangka pemikiran sebagai berikut : Profesionalisme guru (X1) Motivasi Kerja (X2) Kinerja Guru (Y) Gambar Kerangka Pemikiran Keterangan : Uraian kerangka diatas dapat dijelaskan bahwa antara profesionalisme guru (X1). mutu dan profesionalitas maka pada akhirnya akan diperoleh kinerja guru yang optimal. Penelitian komparatif adalah: suatu penelitian yang bersifat membandingkan. berikut : Penelitian deskriptif adalah :penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. Menurut Sugiono (2003:47) kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting Dalam penelitian ini untuk mewujudkan arah dari pemecahan dan penganalisa masalah yang dihadapi. 1. H. Menurut Sugiono (2003:10-11) mengklasifikasikan metode penelitian menjdai tiga bagian sebagai 1. Metode Penelitian 1. Pada penelitian ini dikemukakan hipotesis sebagai berikut : 1. Penelitian asosiatif adalah: merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. 2. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. 3.Kerangka berfikir merupakan alur penalaran yang didasarkan pada tema masalah penelitian yang digambarkan secara menyeluruh dan sistematis setelah mempelajari teori yang mendukung judul penelitian. oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan”. 2. . motivasi kerja (X2) dan kinerja guru (Y) mempunyai hubungan yang dapat dipisahkan artinya apabila proses pembelajaran didukung dengan pemahaman. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif pada dasarnya dapat digunakan dari salah satu metode-metode yang ada. 3. I.

maka penelitian ini adalah penelitian diskriptif. 2. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta yang berjumlah 39 orang. Sampling 1. seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Nasir (2003 : 47). bahwa : Penelitien diskriptif adalah suatu metode dalam meniliti suatu kelompok manusia. 1. faktual dan akurat yang mengenai fakta-fakta. 1. Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data penelitian yang diperoleh menggunakan angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. suatu kondisi. Populasi. suatu obyek. 2008:115). mereka dapat menentukan kurang lebih 2550% dari subyek tersebut. Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 39 guru SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA 1. Sampel. Dari penjelasan diatas maka penelitian ini termasuk jenis penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif atau bisa disebut diskriptif kuantitatif karena pada penelitian ini peneliti menganilisis dan mengklasifikasikan dengan menggunakan angket dan mengungkapan suatu fenomena dengan menggunakan dasar perhitungan. 1.Dalam penelitian ini penulis menganalisa masalah yang ada pada saat sekarang dan membuat gambaran secara sistematis terhadap objek penelitian. ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang untuk membuat diskripsi. . analisa data bersifat kuantitatif atau statistik yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. gambaran atau lukisan yang sistematis. suatu sistem pemikiran. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kaulitas dan karasteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajarai dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono. Seperti yang diungkapkan oleh Sugiyono (2008 : 10) “penelitian diskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud memperoleh data yang berbentuk angka atau data kuantitatif yang diangkakan” Penelitian ini mengukur tentang kinerja guru yang ditinjau dari profesionalisme guru dan motivasi kerjapada guru SMA Muhammadiyah 2 Suarakarta. Dalam penelitian ini semua populasi yaitu guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta semua diteliti. Subyek Penelitian dan Obyek Penelitian 1. teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random. pengumpulan data menggunakan instrument penelitian. Pada pendekatan kuantitatif yang digunakan untuk penelitian adalah populasi atau sampel tertentu. Sampel Menurut Suharsimi Arikunto (2006:73) berpendapat bahwa sampel hanyalah untuk sekedar ancer-ancer jika peneliti mempunyai beberapa ratus subyek dalam populasi.

fovarable dan unfovarable”. Metode Angket (Quisioner) Menurut Suharsini Arikunto (2006:151) “angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Variabel terikat Menurut Sugiono (2008:59) “variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kinerja guru (Y). 1. 1. Dalam penelitian ini metode angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang profesionalisme guru dan motivasi kerja terhadap kinerja guru SMA Muhammadiyah 2 Surakarta angket tersebut terdiri atas pertanyaan dengan empat pilihan jawaban responden yang dikenai angket harus memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam angket.Dalam penelitian ini tidak menggunakan sampel. maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Dalam penelitian ini tidak ada sampling. Menurut Sugiono (2005:74) “Penelitian angket mampu mengacu pada skala likert 1 sampai 4 yang dikelompokan menjadi. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang. karena tidak menggunakan sampel. 1. 1. Sampling Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah profesionalisme guru (X1) dan motivasi kerja (X2). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Bebas Menurut Sugino (2008:59) “variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat”. Dalam penelitian ini scoring masing-masing item favorabel (positif) adalah: 1). Tehnik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian. dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui”. J. obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diatrik kesimpulannya Sugiono (2008:59). karena penelitian ini adalah penelitian populasi. Jika jawaban selalu maka skornya adalah 4 . Untuk menentukan sampel yanga akan digunakan dalam penelitian terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan Sugiono (2008:116).

Motivasi 1. 10 perbedaan − Memahami standar kompetensi dan Mampu berinteraksi dan berkomunikasi 6.8 9.5 Kompetensi Kepribadian peserta didik standar isi mata pelajaran yang tertera. Adapun kisi-kisi angket sebagai berikut : Variabel Profesionalisme guru 1. 2.6 7. 4. − Selalu melaksanakan tugas dengan kemajuan/ berkembang sungguh-sungguh tepat . Konsep ini dijabarkan dalam variabel-variabel dan indikator yang disesuaikan dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai.2 5. Jika jawaban tidak pernah maka skornya adalah 1 Sebelum menyusun angket terlebih dahulu dibuat konsep alat ukur yang mencerminkan isi kajian teori. Kebutuhan akan prestasi − Kebutuhan akan pengakuan Pekerjaan itu sendiri Tanggung jawab Kebutuhan akan − Senang dengan apa yang dikerjakan 5. Kualitas kerja Kecepatan atau ketepatan kerja 1.4 Selalu berusaha menjadi yang terbaik 1. 4. Indikator Kompetensi Paedagogik − Kompetensi Sosial − Kompetensi Profesional − Mampu memahami dan menghargai 7.9. Jika jawaban jarang maka skornya adalah 2 4). Jika jawaban sering maka skornya adalah 3 3).2. 3.7 Sub indikator Memahami potensi dan keberagaman Butir soal 1. 1.3 4.2). 3.8.2 3 − Bekerja dengan harapan ingin diakui 3.10 − Keinginan selalu ingin maju/berkembang dalam berbagai hal Kinerja guru 1.5 siswa − Merencanakan pembelajaran dengan 1. 2. Inisiatif dalam bekerja − Memberi materi ajar sesuai dengan karakter yang dimiliki. − Menggunakan media dan sumber belajar − Melaksanakan penilaian prestasi belajar 4.

Sebaliknya jika rxy < rtable maka butir soal tidak valid sekaligus tidak memiliki persyaratan. Uji validitas Menurut Suharsimi Arikunto (200:208) “Validitas adalh ukuran yang menunjang tingkat kevaliditan dan atau keapsahan suatu instrument”. Suharsimi Arikunto (2002:208) juga menyatakan “Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan”. 1. 1. Cara mengukur validitas dengan rumus product moment angka kasar sebagai berikut: Rumusnya Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara varibel x dan y n x y = jumlah responden = skor butir = skor total Karena dengan angka kasar relative lebih mudah dan akan dapat mennghindari angka pecahan. notulan rapat dan sebagainya”. K. lengkap dan sistematis yang mudah diolah”. buku. Uji Instrumen Menurut Suharsimi Arikunto (2005:97) “instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh paneliti dalam menngumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik dalam arti yang lebih cermat. transkrip. Uji . surat kabar. Variasi jenis instrument yang baik harus memenuhi dua persyaratan yaitu valid dan reliabel. agenda. 1. Sedangkan mengenai perhitungan korelasinya berdasarkan ketentuan bahwa jika rxy > rtable signifikasi 5% berarti item (butir soal) dinyatakan valid. Metode dokumentasi Menurut Suharsimi arikunto (2006:154) “dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan.− Menggunakan berbagai metode pembelajaran 1. majalah. Uji Reliabilitas Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 178) “Uji reliabilitas adalah suatu instrument yang cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik”.

Pengukuran reliabillitas tersebut dilakukan menggunakan rumus: rii = Keterangan : rii = koefisien relliabilitas instrument k = banyaknya soal = jumlah varians butir = varians total Kriteria besarnya koefisien reliabilitas menurut Suharsimi arikunto (2006: 276) adalah 0.…….80 0.20 < r11 ≤ 0. Uji ini di uji cobakan pada subyek penelitian. Z2.60 0. L.0.40 < r11 ≤ 0. Adapun pengujian normalitas ini liliefors.60 < r11 ≤ 0. langkah-langkahnya sebagai berikut : a) Hipotesis Ho= Sampel dari populasi berdistribusi normal HI= Sampel dari populasi tidak berdistribusi normal b) 1) Prosedur Pengujian Hipotesis X1. Menurut Sudjana (2002:466-467).reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu instrument dapat memberikan hasil pengukuran yang konsisten apabila pengukuran dilakukan berulang-ulang. 1.……. Dikatakan tidak realibel jika angka korelasi < rtabel pengujian. Uji Prasyarat Analisis Uji Normalitas Data Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data.Xn dijadikan bilangan baku Z1.20 reliabilitas sangat tinggi reliabilitas tinggi reliabilitas cukup reliabilitas rendah reliabilitas sangat rendah.Zn dengan rumus : . 2.00 0.. Reliabilitas dalm penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows 15.80 < r11 ≤ 1. Dikatakan reliabilitas jika antara korelasi yang diperoleh > rtabel taraf signifikan 5%.00 < r11 ≤ 0. X2.40 0.

Adapun menurut Sudjana (2002 : 330-337) adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) a) Fhitung = Ftabel = (1 – α) (k – 2. 2) Dengan data distribusi normal baku. Uji Linieritas Data Uji linieritas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model persamaan yang kita peroleh cocok atau tidak.0 1.k)s Menghitung : Jika Fhitung > Ftabel. maka Ho ditolak berarti persamaannya tidal linier .….Zn ≤ Z dinyatakan dengan : S (Z1) Maka S(Zi) =banyaknya 4) 5) Menghitung selisih F (Zi) –S (Zi) dan menentukan harga mutlaknya Mengambil harga yang terbesar diantara harga mutlak selisih tersebut dan harga mutlak tersebut disebut Lo. Z2. dihitung peluang : F (Zi0 = p (Zi≥Z)) 3) Menghitung proporsi Z1.Dimana Zi = Bilangan baku Keterangan : Z = Angka Baku = rata-rata S = simpangan baku sampel Dari data sampel tersebut diurutkan dari skor terendah ke skor tertinggi.N. Jika L0hitung < Ltabel maka Hoditerima sebagai distribusi sebaran data normal. Pengujian uji normalitas butir soal dalam penelitian ini penggunakan bantuan SPSS for Windows 15. 6) Kesimpulan Dalam penentuan ditolak atau diterima ditentukan dengan kriteria : a) b) Jika L0hitung > Ltabel maka Hoditerima sebagai distribusi sebaran data tidak normal.

1) Uji t profesionalisme kerja (X1) dengan kinerja guru (Y). Menentukan formulasi Ho dan H1 Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara variable independen dengan variable depanden secara terpisah. sehingga sudah bisa diketahui apakah dugaan yang sudah ada dapat diterima atau ditolak.b) Jika Fhitung < Ftabel.0 M. 2) 3) Level of significant α = 5% Kriteria pengujian . Regresi Linier Berganda Digunakan untuk mengetahui pengaruh profesionalisme guru dan motivasi kerja guru terhadap kinerja guru SMA Muhamaddiyah 2 Surakarta. maka Ho diterima berarti persamaannya linier Pengujian uji linieritas dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS for Windows 15. Tehnik Analisis Data 1. Uji Parsial (Uji t) Digunakan untuk mengetahui signifikasi ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial atau sendiri-sendiri. Langkah-langkahnya : 1. H1 :β ≠0 : berarti ada pengaruh antara variable independen dengan varibel dependen secara terpisah. Adapun menurut Sudjana (2002 : 69) rumusnya adalah sebagi berikut: Y = α + b1X1 + b2X2 Keterangan : Y = Kinerja guru α = Konstanta b1 = Koefisien regresi untuk X1 b2 = Koefisien regresi untuk X1 X1 = Profesionalisme guru X2 = Motivasi kerja 1.

Pangujian uji t dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS for Wondows V 15.t tabel Pengujian nilai t Sudajana (2003 : 70 – 94) Sbi = S2y. n-k-1) -t (a/2.12 = galat baku taksiran dalam populasi Ri2 = koefisien antara X1 dan X2 5) Kesimpulan dengan t maka dapat diketahui ada tidaknya pengaruh profesionalisme Membandingkan antara t hitung tabel kerja (X1) dan kinerja guru (Y).-t (a/2. n-k-1) Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima H0 diterima apabila –t Ho ditolak apabila t 4) t= tabel ≤t hitung ≤t tabel hitung >t tabel atau t hitung >. Menentukan formulasi Ho dan H1 .12 = Keterangan : Sbi = galat baku koefisien bi S2Y.0 1. 1) Uji t motivasi kerja (X2) dengan kinerja guru (Y).

Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara variabel independen dengan variable depanden secara terpisah. n-k-1) -t (a/2. n-k-1) Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima H0 diterima apabila –t Ho ditolak apabila t 4) t= tabel ≤t hitung ≤t tabel hitung >t tabel atau t hitung >.t tabel Pengujian nilai t Sudajana (2003 : 70 – 94) Sbi = S2y.12 = Keterangan : Sbi = galat baku koefisien bi S2Y. H1 :β ≠0 : berarti ada pengaruh antara variable independen dengan varibel dependen secara terpisah.12 = galat baku taksiran dalam populasi Ri2 = koefisien antara X1 dan X2 5) Kesimpulan . 2) 3) Level of significant α = 5% Kriteria pengujian -t (a/2.

Menentukan formulasi Ho dan H1 Ho :β = 0 : berarti tidak ada pengaruh antara profesionalisme (X1) dan motivasi (X2) terhadap kinerja (Y) H1 : β ≠ 0 : berarti ada pengaruh antara profesionalisme (X1) dan motivasi (X2) terhadap kinerja (Y) 1.Membandingkan antara t hitung dengan t tabel maka dapat diketahui ada tidaknya pengaruh profesionalisme kerja (X1) dan kinerja guru (Y). 2. Uji F Uji F digunakan untuk mengetahui signifikasi pengaruh variabel profesionalisme guru (X1) dan motivasi kerja (X2) secara bersama-sama terhadap kinerja guru (Y). dengan: JKR = JKT = Σy2 JKG = JKT – JKR Dimana : k n F = jumlah variable independent = jumlah sampel = F hitung Perhitungan nilai F . Kriteria pengujian Ho diterima apabila :Fhitung ≤ Ftabel Ho ditolak apabila :Fhitung ≥ Ftabel 1. dipilih α = 0.0 1. Penentuan level of significance 5%. 1.05 Daerah tolak H0 0 Daerah terima H0 6. Pangujian uji t dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS for Wondows V 15.

1. (Budiyono. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : Keterangan: R2 = Koefisien determinasi a Y = Koefisien regresi = kinerja guru X1 = profesionalisme guru X2 = motivasi kerja 1. Nilai F Kesimpulan diperoleh kemudian dibandingkan dengan F . Sumbangan efektif adalah sumbangan untuk mengetahui seberapa besar sumabangan yang diberikan masing-masing prediktor terhadap kriterium terlebih dahulu dicari efektif garis regresi dengan rumus : R2 = SE = X 100% Mencari hubungan efektif X1 terhadap Y SE%X1 =SR%. Mencari Sumbangan Relatif (SR) dan Sumbangan Efektif (SE) X1 dan X2 terhadap Y 1.0. 1. Koefisien Determinasi Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan yang diberikan variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditunjukkan dalam prosentase. Apabila H0 ditolak berarti ada pengaruh variabel hitung tebel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Sumbangan relatif adalah untuk mengetahui seberapa besar sumbangan masing-masing prediktor terhadap kriterium Y dengan rumus : Untuk Untuk 1.X2 x R2 .X1 x R2 Mencari hubungan efektif X2 terhadap Y SE%X2 =SR%. 2000: 284-285) Pangujian uji F dilakukan dengan menggunakn bantuan program SPSS for Wondows V 15.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang ganbaran umun pengumpulan data. try out angket. kerangka pemikiran dan hipotesis.com/199-pengaruh-profesionalisme-guru-dan-motivasi-kerjaterhadap-kinerja-guru-studi-kasus-pada-sma-muhammadiyah-2-surakarta. indicator. sampling. sampel. uji prasyarat analisis. uji instrument.Dimana R2 = efektif garis regresi 1. N.infodiknas. teknik pengumpulan data. Sistematika Laporan Sistematika ini merupakan isi yang ada didalam penelitian yang akan dilakukan. sistematika laporan dan jadwal penelitian. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi penjelasan mengenai definisi kinerja guru. definisi motivasi kerja. BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN http://www. definisi profesionalisme guru. variabel penelitian. BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisikan tentang metode penlitian. manfaat penelitian dan sistematika laporan. jenis penelitian. pembatasan masalah. sumbe data. tujuan penelitian. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagi berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang masalah.html . tempat penelitian. dan teknik analisa data. populasi. rumusan masalah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->