P. 1
EFEK PILOKARPIN DAN ADRENALIN PADA MENCIT

EFEK PILOKARPIN DAN ADRENALIN PADA MENCIT

|Views: 925|Likes:
laporan praktimum anatomi dan fisiologi manusi
laporan praktimum anatomi dan fisiologi manusi

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Budiyanto Tanumihardja on Jan 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN I.1.

LATAR BELAKANG Sistem saraf merupakan sel yang sangat khusus yang dapat menghantarkan dan memicu rangsangan listrik secara hayati. Mereka berkomunikasi dengan sel saraf lain melalui jaringan kerja yang rumit dan dapat mengatur semua jaringan dan organ. Sel saraf dapat terangsang atau di hambat karena membran sel saraf permeabilitasnya pengaruh atau

kepermeabelannya endogen atau obat.

mudah

berubah

karena

neurotrasmitter

Kolenergik atau parasimpatomimetik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.

2 TUJUAN PERCOBAAN a.III PRINSIP PERCOBAAN Perlakuan terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) untuk mengetahui efek pilokarpin dan adrenalin. Mengetahui efek adrenalin pada mencit (Mus musculus) c. . Mengetahui efek pilokarpin pada mencit (Mus musculus) b.2.2.I.1 MAKSUD PERCOBAAN Mengetahui dan memahami efek pilokarpin dan adrenalin pada hewan coba mencit (Mus musculus) I. MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN I. Mengetahui efek NaCl pada mencit (Mus musculus) I.2.

Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek. Selain itu. Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan “nervus vagus” bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung. sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu (4).1 TEORI UMUM Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion (4). Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. dan sekresi keringat. Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. . diantaranya sebagai berikut : 1. fungsi saraf otonom pada sistem saraf simpatik. Di dalam sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan.memperbesar pupil. 2. Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). gerak saluran pencernaan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion.menghambat aliran ludah.

Kelenjar saliva merupakan salah satu kelenjar dalam sistem pencernaan yang akan meningkat aktivitasnya jika distimulasi oleh sistem saraf parasimpatik atau oleh obat-obat parasimpatomimetik.menstimulasi aliran ludah. pernafasan maupun pencernaan makanan. 2. Tetapi sebaliknya. Sedangkan. 6.membesarkan bronkus.mengecilkan pupil. Misalnya detak jantung. kesadaran.menghambat kontraksi kandung kemih. fungsi saraf otonom pada sistem saraf parasimpatik. 4. System saraf otonom adalah system saraf yang bekerja tanpa mengikuti kehendak dan kemauan kita. maka aktivitas kelenjar saliva akan menurun. 3.3. Menurut fungsi dan tanda – tanda morfologinya system saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu.mempercepat denyut jantung.memperlambat denyut jantung. Bila rangsangan tersebut berasal dari saraf simpatis maka neurohormon yang bekerja adalah noradrenalin (adrenalin) atau .menghambat sekresi kelenjar pencernaan. Pada umumnya system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik bekerja berlawanan tetapi dalam beberapa hal bersifat sinergis. 5. Rangsangan dari susunan saraf pusat untuk sampai ke ganglion efektor memerlukan suatu penghantar yang disebut dengan neurotransmiter. diantaranya sebagai berikut : 1.mengecilkan bronkus. system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik (4). 5.mengerutkan kantung kemih (4). 6. 4. jika diberikaan obat-obat yang aktivitasnya berlawanan dengan sistem parasimpatik atau bersifat parasimpatolitik.menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan. mata berkedip.

Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl). Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya. memperlambat pernafasan. memperkuat sirkulasi. gemetaran dan muka merah. antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung. Simpatolitik / adrenolitik. timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. antara lain dengan menciutkan bronchi. propanolol.. dan lain-lain. karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. · Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatis: Para simpatomimetik / kolinergik Kolenergik atau parasimpatomimetik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP). juga sekresi air mata. dilatasi . contohnya alkaloida sekale. Untuk menghindari akumulasi dari neurohormon yang dapat mengakibatkan perangsangan saraf terus menerus maka neurohormon harus diuraikan oleh enzim khusus yang terdapat dalam darah maupun jaringan. terbutalin dan salbutamol. Bila neuron SP dirangsang. gelisah. vasodilatasi. kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin. Sebaliknya apabila rangsangan tersebut berasal dari saraf parasimpatis. sedangkan sekresi dahak diperbesar. singkatnya berfungsi asimilasi.norepinephrin (epinefrin). dll. yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek adrenergik. Turunan yang paling sering digunakan adalah feneterol. kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata. maka neurohormon yang bekerja adalah asetilkolin (4).Efek samping dosis tinggi pada jantung adalah berdebar. dan penurunan tekanan darah.

yaitu suatu alkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu. maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan berinteraksi dengan protein G. Sebagai contoh. dan neuron postganglioner dari SP. sinaps. reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin. Sebaliknya. Kation ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim atau menyebabkan hiperpolarisasi. Dengan menggunakan study ikatan dan panghambat tertentu. Obat-obat yang bekerja muskarinik lebih peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi. dan reseptor M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. selain ikatannya dengan asetilkolin. Reseptor muskarinik dijumpai dalam ganglia sistem saraf tepi dan organ efektor otonom. dan reseptor M 2 terdapat dalam otot polos dan jantung. juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal (4). Secara khusus walaupun kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat dalam neuron. aktivasi . Reseptor kolinergika terdapat dalam semua ganglia.5)bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan inositol (1. Reseptor ini. Sejumlah mekanisme molekular yang berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yang disebabkan setelah asetilkolin mengikat reseptor muskarinik. Akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol-(4. otot polos.4. sekresi atau kontraksi. namun reseptor M1 ditemukan pula dalam sel parietal lambung.5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. tetapi dalam kadar tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula (5).pembuluh dan kotraksi otot kerangka. otak dan kelenjar eksokrin. M3. mengikat pula muskarin. M4. M5. maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor muskarinik seperti M1. bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan. M2. menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya (4). yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. seperti jantung. Sebaliknya.

Tahap awal nikotin memang memacu reseptor nikotinik. sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara spesifik dihambat oleh turbokurarin (5). kecuali arekolin (4). Stimulasi reseptor ini oleh kolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika. Sebagai contoh. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi ringan. dan arekolin (alkaloid dari pinang.subtipe M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan mempertinggi konduktan K+. dan sambungan neuromuskular. Areca catechu). jadi bersifat berlawanan sama sekali. sedangkan pada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan blokade neuromuskuler (4). reseptor ganglionik secara selektif dihambat oleh heksametonium. Reseptor nikotinik ini terdapat di dalam sistem saraf pusat. juga stimulasi SSP ringan. sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan menurun (5). Pada dosis rendah. Kolinergika yang bekerja secara langsung meliputi karbachol. penguatan kegiatan jantung. Semuanya adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dan sukar larut memasuki SSP. . yaitu zat-zat dengan kerja langsung dan zat-zat dengan kerja tak langsung. dapat pula mengenal nikotin. pilokarpin. Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya. muskarin. Reseptor nikotinik pada ganglia otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat pada sambungan neuromuskulular. tetapi afinitas lemah terhadap muskarin. Reseptor ini selain mengikat asetilkolin. Obat-obat yang bekerja nikotinik akan memacu reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi. namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. timbul kontraksi otot lurik. Zat-zat ini bekerja secara langsung terhadap organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip efek muskarin dari ACh. ganglia otonom. medula adrenalis.

dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu. dan sebagainya 4). sehingga tekanan bola mata turun dengan segera akibat cairan humor keluar dengan lancar. Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier dan stabil dari hidrolisis oleh asetilkolenesterase. ada pula zat-zat yang mengikat enzim secara irreversibel. Obat-obat ini merintangi penguraian ACh secara reversibel. misalnya parathion dan organofosfat lainnya.Sedangkan kolinergika yang bekerja secara tak langsung meliputi zat-zat antikolinesterase seperti fisostigmin. karena bertahan sampai enzim baru terbentuk lagi. tetapi obat ini tidak digunakan untuk maksud demikian. Pilokarpin juga merupakan salah satu pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat. Salah satu kolinergika yang sering digunakan dalam pengobatan glaukoma adalah pilokarpin. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi. Setelah zat-zat tersebut habis diuraikan oleh kolinesterase. senyawa ini ternyata sangat lemah. neostigmin. Disamping itu. Obat . Obat ini sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular di sekitar kanal Schlemm. Zat ini banyak digunakan sebagai insektisid beracun kuat di bidang pertanian (parathion) dan sebagai obat kutu rambut (malathion). misalnya Sarin. Soman. dan piridogstimin. dan saliva. Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat yang dapat menurunkan tekanan bola mata baik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar. Pilokarpin menunjukkan aktivitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftamologi. air mata. ACh segera akan dirombak lagi. sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Kerjanya ini dapat berlangsung sekitar sehari dan dapat diulang kembali. Gas saraf yang digunakan sebagai senjata perang termasuk pula kelompok organofosfat ini. Penggunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. yakni hanya untuk sementara. Kerjanya panjang. Dibandingkan dengan asetilkolin dan turunannya.

Parasimpatolitik / anti kolinergik yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek kolinergik.2 URAIAN HEWAN COBA II. tetapi pada dosis besar dapat menyebabkan dilatasi pupil mata. Karakteristik hewan coba 1. Masa hidup : 4 – 5 hari (poliestrus) : 7 – 18 bulan : 19 – 21 hari : 10 – 12 ekor : 1. mepenzolat. misalnya atropin hanya menekan sekresi liur. Khasiat antikolinergiknya lemah dengan kerja spasmolitik yang lebih kuat dari atropin dan efek samping lebih ringan. Dimana pilokarpin dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP.penyekat kolinesterase. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: propantelin. isopropamida dan ipratropium (5) II. Antikolinergik juga memperlihatkan efek sentral yaitu merangsang pada dosis kecil tetapi mendepresi pada dosis toksik (5) Penggunaan Senyawa ini mengandung Nitrogen bervalensi bersifat basa kuat dan terionisasi baik. Jumlah sekali lahir e. oksifenium. bekerja lebih lama lagi. Semua antikolinergik memperlihatkan kerja yang hampir sama tetapi daya afinitasnya berbeda terhadap berbagai organ. Mencit (Mus musculus) a. gangguan akomodasi dan penghambatan saraf fagus pada jantung. 2.0 tahun .2. seperti isoflurofat dan ekotiofat. Masa pubertas b. Masa beranak c. Masa hamil d. maka sulit melewati sawar darah otak sehingga tidak memiliki efek sentral. mukus bronkus dan keringat pada dosis kecil. Obat ini merangsang keringat dan salivasi yang berlebihan (5).5 – 3. pilokarpin juga mempunyai efek samping. Penggunaan untuk meredakan peristaltik lambung-usus dan meredakan organ dalam. Disamping kemampuannya dalam mengobati glaukoma.1.

2.02 : Cairan jernih tidak berwarna. Masa menyusui h. Mencit (Mus musculus) Filum Kelas Ordo Family Subfamily Genus Spesies II. Klasifiasi hewan coba a. Frekuensi kelahiran i. Luas permukaan tubuh II.0 0 C : 163 x / mn : 113-147/81-106 mm Hg : 76 – 80 mg/kg : 20 g : 36 cm k.5 -38. Tekanan darah l. Volume darah m. Penyimpanan K/P : dalam wadah yang tertutup baik : Pelarut . j.f.3 URAIAN BAHAN 1. Suhu tubuh Laju respirasi : 50 hari : 21 hari : 6 – 10 kali kelahiran : 36. Aquadest (FI edisi III hal 96) Nama resmi Nama lain Rumus Kimia Berat molekul Pemeriaan : Chordata : Mamalia : Rodentia : Muridae : Murinae : Mus : Mus musculus : AQUA DESTILLATA : Air suling : H2O : 18. tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Masa tumbuh g.2.

2. ALAT YANG DIGUNAKAN Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah papan datar bulat. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b. BAHAN YANG DIGUNAKAN Adapun nahan yang di gunakan pilokarpin. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e.BAB III METODE KERJA III.2. CARA KERJA III. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest f.1. dan gelas ukur B. PENGENCERAN LARUTAN PILOKARPIN a. adrenalin dan larutan NaCl fisiologis steril III.1. Dihitung dosis parenteral c. labu ukur 10 ml. gelas kimia. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. Larutan siap digunakan . ALAT DAN BAHAN A.alat kasar. spoit 1 cc.

3. Diambil 1 ml larutan adrenalin dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. Diambil 1 ml larutan NaCl dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e. Larutan siap digunakan III. Diambil 1 ml larutan adrenalin dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest f.III.2. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b. Diambil 1 ml larutan NaCl dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest .2. PENGENCERAN LARUTAN NaCl FISIOLOGIS STERIL a. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b. Dihitung dosis parenteral adrenalin c. Diambil 1 ml larutan NaCl dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. PENGENCERAN LARUTAN ADRENALIN a. Dihitung dosis parenteral c. Diambil 1 ml larutan adrenalin dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e.2.

grooming.tremor. saliva.ADRENALIN DAN NaCl PADA MENCIT a.f.midriasis. Diberi perlakuan yang sama pada mencit betina dan jantan dengan menggunakan larutan adrenalin dan NaCl . PEMBERIAN PARENTERAL PILOKARPIN.4. Diambil larutan pilokarpin 1 ml dengan menggunakan spoit 1cc b.2.vasodilatasi. Larutan siap digunakan III.straub dan diare d.vasokonstriksi. Disuntikkan pada mencit (Mus musculus) jantan dan betina larutan pilokarpin sesuai dengan perhitungan dosis berdasarkan berat badan mencit c. Diamati gejala yang timbul pada hewan percobaan seperti miosis.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV.1. TABEL HASIL PENGAMATAN Efek 5‟ Mioisis Midriasis Vasokonstriksi Vasodilatasi Tremor Grooming Saliva Straub Diare + pilokarpin 10 „ + + + 15‟ + + + + + 5‟ + + + NaCl 10‟ + + 15‟ + + 5‟ + Adrenalin 10‟ + + + 15‟ + + + + + - .

penggunaan mencit betina dan jantan bertujuan sebagai hewan pembanding Dilakukan pengenceran pilokarpin dengan mengambil 1cc cairan pilokarpin dengan menggunakan spoit kemudian memasukkannya kedalam gelas ukur 4 ml dicukupkan dengan menggunakan aquadest selanjutnya cairan yang berada didalam gelas ukur di ambil 1cc kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml dan dicukupkan lagi dengan menggunakan aquadest untuk yang terakhir larutan pilokarpin yang sudah diencerkan 2 kali ini diambil lagi 1cc kemudian dimasukkan kedalam labu ukur yang terakhir kemudian dicukupkan hingga 10 ml. perlakuan yang sama di lakukan pada bahan yang lain seperti adrenalin dan NaCl. Untuk penimbangan pada hewan coba terlebih dahulu diberi tanda untuk mencit betina pertama di beri tanda pada ekor satu garis dengan menggunakan spidol. hewan betina kedua diberi tanda dua garis dan begitu seterusnya begitu juga pada hewan coba jantan pemberian tanda ini dilakukan agar hewan coba lebih mudah di tandai bobotnya sehingga dalam pemmberian parenteral volume yang akan diberikan telah diketahui berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan perhitungan berat badan mencit . pertama – tama yang dilakukan adalah menimbang hewan coba mencit jantan dan mencit betina kemudian di hitung dosis parenteral pilokarpin. adrenalin dan NaCl untuk pemberian parenteral.BAB V PEMBAHASAN Adapun percobaan yang akan dilakukan pada praktikum kali ini adalah untuk mengetahui efek pilokarpin dan adrenalin pada mencit serta menggunakan larutan NaCl sebagai larutan pembanding.

dan NaCl Berdasarkan hasil pengamatan gejala yang timbul berbeda-beda pada menit kelima. adrenalin.Selanjutnya pemberian parenteral perlakuan sedapat mungkin di lakukan secara steril karena sediaan-sediaan yang digunakan adalah sediaan steril dan bertujuan penggunaan secara parenteral setelah mencit jantan dan mencit betina di suntik hewan coba diamati gejala-gejala yang ditimbul dari efek efek pemberiaan sediaan pilokarpin.kesepuluh dan kelima belas data dapat dilihat pada table hasil pengamatan .

KESIMPULAN Berdasarkan data pengamatan dapat disimpulkan bahwa terjadi perbedaan gejala pada hewan percobaan mencit setelah pemberian pilokarpin.1. .BAB VI PENUTUP VI. adrenalin dan larutan NaCl fisiologis steril pada menit 5‟10‟ dan 15‟ hal ini disebabkan adanya efek farmakodinamik system saraf otonom mencit jantan dan betina setelah pemberiaan ketiga sediaan VI. agar kesalahan menjadi sekecil mungkin saat praktikum.2. SARAN Diharapkan agar asisten selalu mendampingi praktikan saat praktikum dilaksanakan.

Biologi 2. Analisis metabolit sekunder. Pearce.2002 5. Pratiwi. Mursyidi achmad. com/2012/03/ sistem syara fotonom. UGM. 3. Anonim: system saraf otonom: http://khairulanas. Yogyakarta. Dirjen POM.html#ixzz0VGzVxRIE diakses tanggal 8/4/11 2. Farmakope Indonesia Edisi III. DA. Anatomi dan fisiologis PT.Evelyn.. 6. jakarta: 4. Obat-obat penting. 2002.Jakarta: Depkes RI.gramedia pustaka utama. 1989. .1979. Jakarta: Gramedia. blogspot. Jay.DAFTAR PUSTAKA 1.2006 untuk paramedis. Jakarta: Erlangga.1996.than hoon dkk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->