BAB I PENDAHULUAN I.1.

LATAR BELAKANG Sistem saraf merupakan sel yang sangat khusus yang dapat menghantarkan dan memicu rangsangan listrik secara hayati. Mereka berkomunikasi dengan sel saraf lain melalui jaringan kerja yang rumit dan dapat mengatur semua jaringan dan organ. Sel saraf dapat terangsang atau di hambat karena membran sel saraf permeabilitasnya pengaruh atau

kepermeabelannya endogen atau obat.

mudah

berubah

karena

neurotrasmitter

Kolenergik atau parasimpatomimetik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.

Mengetahui efek pilokarpin pada mencit (Mus musculus) b.I.III PRINSIP PERCOBAAN Perlakuan terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) untuk mengetahui efek pilokarpin dan adrenalin.1 MAKSUD PERCOBAAN Mengetahui dan memahami efek pilokarpin dan adrenalin pada hewan coba mencit (Mus musculus) I. MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN I.2. Mengetahui efek adrenalin pada mencit (Mus musculus) c. Mengetahui efek NaCl pada mencit (Mus musculus) I.2 TUJUAN PERCOBAAN a.2. .2.

menghambat aliran ludah. . Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan “nervus vagus” bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung. diantaranya sebagai berikut : 1. Selain itu. Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek. dan sekresi keringat. 2.memperbesar pupil. gerak saluran pencernaan. sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu (4). Di dalam sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan.1 TEORI UMUM Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. fungsi saraf otonom pada sistem saraf simpatik. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion (4).

6. 5. Pada umumnya system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik bekerja berlawanan tetapi dalam beberapa hal bersifat sinergis.memperlambat denyut jantung. mata berkedip. Kelenjar saliva merupakan salah satu kelenjar dalam sistem pencernaan yang akan meningkat aktivitasnya jika distimulasi oleh sistem saraf parasimpatik atau oleh obat-obat parasimpatomimetik.mengecilkan bronkus. maka aktivitas kelenjar saliva akan menurun.menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan. Sedangkan.3. Menurut fungsi dan tanda – tanda morfologinya system saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu. Tetapi sebaliknya.menghambat kontraksi kandung kemih. Rangsangan dari susunan saraf pusat untuk sampai ke ganglion efektor memerlukan suatu penghantar yang disebut dengan neurotransmiter. pernafasan maupun pencernaan makanan. 4.mengerutkan kantung kemih (4). 3. 4.menstimulasi aliran ludah. 5. system saraf simpatik dan system saraf parasimpatik (4).mengecilkan pupil. diantaranya sebagai berikut : 1. Misalnya detak jantung. fungsi saraf otonom pada sistem saraf parasimpatik.mempercepat denyut jantung. System saraf otonom adalah system saraf yang bekerja tanpa mengikuti kehendak dan kemauan kita.menghambat sekresi kelenjar pencernaan.membesarkan bronkus. jika diberikaan obat-obat yang aktivitasnya berlawanan dengan sistem parasimpatik atau bersifat parasimpatolitik. 2. kesadaran. Bila rangsangan tersebut berasal dari saraf simpatis maka neurohormon yang bekerja adalah noradrenalin (adrenalin) atau . 6.

dilatasi . gemetaran dan muka merah. kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata. antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung. memperkuat sirkulasi. Efek kolinergis faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl). propanolol. singkatnya berfungsi asimilasi. contohnya alkaloida sekale. sedangkan sekresi dahak diperbesar. vasodilatasi. karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. memperlambat pernafasan. dll. antara lain dengan menciutkan bronchi. Turunan yang paling sering digunakan adalah feneterol. dan penurunan tekanan darah. Untuk menghindari akumulasi dari neurohormon yang dapat mengakibatkan perangsangan saraf terus menerus maka neurohormon harus diuraikan oleh enzim khusus yang terdapat dalam darah maupun jaringan. yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek adrenergik. timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur.Efek samping dosis tinggi pada jantung adalah berdebar. juga sekresi air mata. · Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatis: Para simpatomimetik / kolinergik Kolenergik atau parasimpatomimetik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP).norepinephrin (epinefrin). terbutalin dan salbutamol. dan lain-lain. maka neurohormon yang bekerja adalah asetilkolin (4).. kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya. Sebaliknya apabila rangsangan tersebut berasal dari saraf parasimpatis. Bila neuron SP dirangsang. Simpatolitik / adrenolitik. gelisah.

Akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol-(4. seperti jantung. yaitu suatu alkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu.5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. otak dan kelenjar eksokrin. Reseptor ini. sinaps. mengikat pula muskarin. otot polos. bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan. dan neuron postganglioner dari SP. dan reseptor M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. selain ikatannya dengan asetilkolin. M3. aktivasi .4. Sebaliknya. namun reseptor M1 ditemukan pula dalam sel parietal lambung. maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan berinteraksi dengan protein G. M4. Sejumlah mekanisme molekular yang berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yang disebabkan setelah asetilkolin mengikat reseptor muskarinik. menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya (4). Obat-obat yang bekerja muskarinik lebih peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi.5)bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan inositol (1. Dengan menggunakan study ikatan dan panghambat tertentu. Kation ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim atau menyebabkan hiperpolarisasi. Sebagai contoh. M2. Reseptor kolinergika terdapat dalam semua ganglia. reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin. Secara khusus walaupun kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat dalam neuron. tetapi dalam kadar tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula (5). juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal (4). Reseptor muskarinik dijumpai dalam ganglia sistem saraf tepi dan organ efektor otonom. yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. sekresi atau kontraksi.pembuluh dan kotraksi otot kerangka. M5. Sebaliknya. maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor muskarinik seperti M1. dan reseptor M 2 terdapat dalam otot polos dan jantung.

kecuali arekolin (4). Tahap awal nikotin memang memacu reseptor nikotinik.subtipe M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan mempertinggi konduktan K+. jadi bersifat berlawanan sama sekali. Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya. Reseptor nikotinik pada ganglia otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat pada sambungan neuromuskulular. reseptor ganglionik secara selektif dihambat oleh heksametonium. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi ringan. Obat-obat yang bekerja nikotinik akan memacu reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi. Pada dosis rendah. dan sambungan neuromuskular. sedangkan pada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan blokade neuromuskuler (4). penguatan kegiatan jantung. Kolinergika yang bekerja secara langsung meliputi karbachol. medula adrenalis. juga stimulasi SSP ringan. Reseptor ini selain mengikat asetilkolin. namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. Areca catechu). yaitu zat-zat dengan kerja langsung dan zat-zat dengan kerja tak langsung. timbul kontraksi otot lurik. Reseptor nikotinik ini terdapat di dalam sistem saraf pusat. muskarin. pilokarpin. sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan menurun (5). dan arekolin (alkaloid dari pinang. sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara spesifik dihambat oleh turbokurarin (5). Zat-zat ini bekerja secara langsung terhadap organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip efek muskarin dari ACh. . tetapi afinitas lemah terhadap muskarin. Sebagai contoh. dapat pula mengenal nikotin. ganglia otonom. Stimulasi reseptor ini oleh kolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika. Semuanya adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dan sukar larut memasuki SSP.

Obat ini sangat efektif untuk membuka anyaman trabekular di sekitar kanal Schlemm. Soman. dan saliva. Zat ini banyak digunakan sebagai insektisid beracun kuat di bidang pertanian (parathion) dan sebagai obat kutu rambut (malathion). Dibandingkan dengan asetilkolin dan turunannya. ACh segera akan dirombak lagi. Penggunaan topikal pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris.Sedangkan kolinergika yang bekerja secara tak langsung meliputi zat-zat antikolinesterase seperti fisostigmin. Kerjanya panjang. Obat . senyawa ini ternyata sangat lemah. Disamping itu. misalnya parathion dan organofosfat lainnya. Kerjanya ini dapat berlangsung sekitar sehari dan dapat diulang kembali. Setelah zat-zat tersebut habis diuraikan oleh kolinesterase. Salah satu kolinergika yang sering digunakan dalam pengobatan glaukoma adalah pilokarpin. Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat yang dapat menurunkan tekanan bola mata baik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar. karena bertahan sampai enzim baru terbentuk lagi. Pilokarpin menunjukkan aktivitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftamologi. ada pula zat-zat yang mengikat enzim secara irreversibel. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi. air mata. dan sebagainya 4). misalnya Sarin. Gas saraf yang digunakan sebagai senjata perang termasuk pula kelompok organofosfat ini. dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu. tetapi obat ini tidak digunakan untuk maksud demikian. yakni hanya untuk sementara. neostigmin. sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. sehingga tekanan bola mata turun dengan segera akibat cairan humor keluar dengan lancar. dan piridogstimin. Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier dan stabil dari hidrolisis oleh asetilkolenesterase. Obat-obat ini merintangi penguraian ACh secara reversibel. Pilokarpin juga merupakan salah satu pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat.

Khasiat antikolinergiknya lemah dengan kerja spasmolitik yang lebih kuat dari atropin dan efek samping lebih ringan. Karakteristik hewan coba 1. Antikolinergik juga memperlihatkan efek sentral yaitu merangsang pada dosis kecil tetapi mendepresi pada dosis toksik (5) Penggunaan Senyawa ini mengandung Nitrogen bervalensi bersifat basa kuat dan terionisasi baik.penyekat kolinesterase. 2. Masa pubertas b. pilokarpin juga mempunyai efek samping. Obat ini merangsang keringat dan salivasi yang berlebihan (5). Dimana pilokarpin dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP. mepenzolat. mukus bronkus dan keringat pada dosis kecil. Mencit (Mus musculus) a. Penggunaan untuk meredakan peristaltik lambung-usus dan meredakan organ dalam. Masa beranak c. misalnya atropin hanya menekan sekresi liur. seperti isoflurofat dan ekotiofat. isopropamida dan ipratropium (5) II.1. gangguan akomodasi dan penghambatan saraf fagus pada jantung. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: propantelin.2 URAIAN HEWAN COBA II. Disamping kemampuannya dalam mengobati glaukoma. oksifenium.2. Masa hidup : 4 – 5 hari (poliestrus) : 7 – 18 bulan : 19 – 21 hari : 10 – 12 ekor : 1. Masa hamil d. tetapi pada dosis besar dapat menyebabkan dilatasi pupil mata.5 – 3. Parasimpatolitik / anti kolinergik yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek kolinergik. maka sulit melewati sawar darah otak sehingga tidak memiliki efek sentral.0 tahun . bekerja lebih lama lagi. Semua antikolinergik memperlihatkan kerja yang hampir sama tetapi daya afinitasnya berbeda terhadap berbagai organ. Jumlah sekali lahir e.

Aquadest (FI edisi III hal 96) Nama resmi Nama lain Rumus Kimia Berat molekul Pemeriaan : Chordata : Mamalia : Rodentia : Muridae : Murinae : Mus : Mus musculus : AQUA DESTILLATA : Air suling : H2O : 18.02 : Cairan jernih tidak berwarna.2. Masa tumbuh g.5 -38. Penyimpanan K/P : dalam wadah yang tertutup baik : Pelarut . Masa menyusui h. Suhu tubuh Laju respirasi : 50 hari : 21 hari : 6 – 10 kali kelahiran : 36. j. Frekuensi kelahiran i.0 0 C : 163 x / mn : 113-147/81-106 mm Hg : 76 – 80 mg/kg : 20 g : 36 cm k.2. Volume darah m. Tekanan darah l. Mencit (Mus musculus) Filum Kelas Ordo Family Subfamily Genus Spesies II. tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.f. Klasifiasi hewan coba a.3 URAIAN BAHAN 1. Luas permukaan tubuh II.

2.alat kasar. dan gelas ukur B.1. labu ukur 10 ml. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b.2. BAHAN YANG DIGUNAKAN Adapun nahan yang di gunakan pilokarpin. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest f. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e.BAB III METODE KERJA III. Diambil 1 ml larutan pilokarpin dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. PENGENCERAN LARUTAN PILOKARPIN a. gelas kimia. spoit 1 cc.1. ALAT YANG DIGUNAKAN Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah papan datar bulat. Dihitung dosis parenteral c. adrenalin dan larutan NaCl fisiologis steril III. ALAT DAN BAHAN A. Larutan siap digunakan . CARA KERJA III.

3. Diambil 1 ml larutan NaCl dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e.2. PENGENCERAN LARUTAN NaCl FISIOLOGIS STERIL a.III. Dihitung dosis parenteral c.2. Diambil 1 ml larutan adrenalin dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest f. Diambil 1 ml larutan NaCl dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. PENGENCERAN LARUTAN ADRENALIN a. Diambil 1 ml larutan adrenalin dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 4 ml lalu di cukupkan hingga 4 ml dengan menggunakan aquadest d. Dihitung dosis parenteral adrenalin c.2. Larutan siap digunakan III. Diambil 1 ml larutan NaCl dari labu ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest . Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan b. Diambil 1 ml larutan adrenalin dari gelas ukur dengan menggunakan spoit kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di cukupkan hingga 10 ml dengan menggunakan aquadest e.

2. Diamati gejala yang timbul pada hewan percobaan seperti miosis.ADRENALIN DAN NaCl PADA MENCIT a.vasokonstriksi.tremor.grooming.midriasis. PEMBERIAN PARENTERAL PILOKARPIN. Disuntikkan pada mencit (Mus musculus) jantan dan betina larutan pilokarpin sesuai dengan perhitungan dosis berdasarkan berat badan mencit c.4. Diberi perlakuan yang sama pada mencit betina dan jantan dengan menggunakan larutan adrenalin dan NaCl .vasodilatasi. Larutan siap digunakan III.straub dan diare d. saliva. Diambil larutan pilokarpin 1 ml dengan menggunakan spoit 1cc b.f.

1. TABEL HASIL PENGAMATAN Efek 5‟ Mioisis Midriasis Vasokonstriksi Vasodilatasi Tremor Grooming Saliva Straub Diare + pilokarpin 10 „ + + + 15‟ + + + + + 5‟ + + + NaCl 10‟ + + 15‟ + + 5‟ + Adrenalin 10‟ + + + 15‟ + + + + + - .BAB IV HASIL PENGAMATAN IV.

Untuk penimbangan pada hewan coba terlebih dahulu diberi tanda untuk mencit betina pertama di beri tanda pada ekor satu garis dengan menggunakan spidol. pertama – tama yang dilakukan adalah menimbang hewan coba mencit jantan dan mencit betina kemudian di hitung dosis parenteral pilokarpin. perlakuan yang sama di lakukan pada bahan yang lain seperti adrenalin dan NaCl.BAB V PEMBAHASAN Adapun percobaan yang akan dilakukan pada praktikum kali ini adalah untuk mengetahui efek pilokarpin dan adrenalin pada mencit serta menggunakan larutan NaCl sebagai larutan pembanding. penggunaan mencit betina dan jantan bertujuan sebagai hewan pembanding Dilakukan pengenceran pilokarpin dengan mengambil 1cc cairan pilokarpin dengan menggunakan spoit kemudian memasukkannya kedalam gelas ukur 4 ml dicukupkan dengan menggunakan aquadest selanjutnya cairan yang berada didalam gelas ukur di ambil 1cc kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml dan dicukupkan lagi dengan menggunakan aquadest untuk yang terakhir larutan pilokarpin yang sudah diencerkan 2 kali ini diambil lagi 1cc kemudian dimasukkan kedalam labu ukur yang terakhir kemudian dicukupkan hingga 10 ml. adrenalin dan NaCl untuk pemberian parenteral. hewan betina kedua diberi tanda dua garis dan begitu seterusnya begitu juga pada hewan coba jantan pemberian tanda ini dilakukan agar hewan coba lebih mudah di tandai bobotnya sehingga dalam pemmberian parenteral volume yang akan diberikan telah diketahui berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan perhitungan berat badan mencit .

dan NaCl Berdasarkan hasil pengamatan gejala yang timbul berbeda-beda pada menit kelima. adrenalin.Selanjutnya pemberian parenteral perlakuan sedapat mungkin di lakukan secara steril karena sediaan-sediaan yang digunakan adalah sediaan steril dan bertujuan penggunaan secara parenteral setelah mencit jantan dan mencit betina di suntik hewan coba diamati gejala-gejala yang ditimbul dari efek efek pemberiaan sediaan pilokarpin.kesepuluh dan kelima belas data dapat dilihat pada table hasil pengamatan .

BAB VI PENUTUP VI.2. agar kesalahan menjadi sekecil mungkin saat praktikum. KESIMPULAN Berdasarkan data pengamatan dapat disimpulkan bahwa terjadi perbedaan gejala pada hewan percobaan mencit setelah pemberian pilokarpin. adrenalin dan larutan NaCl fisiologis steril pada menit 5‟10‟ dan 15‟ hal ini disebabkan adanya efek farmakodinamik system saraf otonom mencit jantan dan betina setelah pemberiaan ketiga sediaan VI. .1. SARAN Diharapkan agar asisten selalu mendampingi praktikan saat praktikum dilaksanakan.

. blogspot. 2002. Mursyidi achmad.Jakarta: Depkes RI. Analisis metabolit sekunder.2006 untuk paramedis. 1989. UGM. jakarta: 4.1996. Jakarta: Erlangga. 6.1979. Biologi 2. DA. 3. Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi III.than hoon dkk.2002 5. Anonim: system saraf otonom: http://khairulanas. Pratiwi.Evelyn.DAFTAR PUSTAKA 1. . Anatomi dan fisiologis PT. Pearce. Obat-obat penting.html#ixzz0VGzVxRIE diakses tanggal 8/4/11 2. Jay.gramedia pustaka utama. Jakarta: Gramedia. com/2012/03/ sistem syara fotonom. Yogyakarta.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.