BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kader Posyandu 2.1.1. Pengertian Kader adalah seseorang yang karena kecakapannya atau kemampuannya diangkat, dipilih atau ditunjuk untuk mengambil peran dalam kegiatan dan pembinaan Posyandu, dan telah mendapat pelatihan tentang KB dan Kesehatan (Depkes RI, 1993). Sebagian besar kader kesehatan adalah wanita dan anggota PKK yang sudah menikah dan berusia 20-40 tahun dengan pendidikan sekolah dasar (Depkes RI, 1995). Syarat-syarat untuk memilih calon kader menurut Depkes RI, (1996) adalah; dapat membaca dan menuulis dengan bahasa Indonesia, secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader, mempunyai penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa yang bersangkutan, aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun pembangunan desanya, dikenal masyarakat dan dapat bekerjasama dengan masyarakat calon kader lainnya dan berwibawa, sanggup membina paling sedikit 10 KK (Kepala Keluarga) untuk meningkatkan keadaan kesehatan lingkungan diutamakan mempunyai keterampilan Menurut Bagus yang dikutip dari pendapat Zulkifli (2003) bahwa pendapat lain mengenai persaratan bagi seorang kader antara lain; berasal dari masyarakat setempat, tinggal di desa tersebut, tidak sering meninggalkan tempat untuk waktu yang lama, diterima oleh masyarakat setempat, dan masih cukup waktu bekerja untuk masyarakat disamping mencari nafkah lain. Persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli diatas dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan antara lain,

Universitas Sumatera Utara

sanggup bekerja secara sukarela, mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai krebilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, mempunyai penghasilan tetap, pandai baca tulis, sanggup membina masayrakat sekitarnya. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan baik di posyandu. Sesuai dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 9 kategori kader yaitu: 1. Kader Pembangunan Desa (KPD) yaitu orang yang mempunyai kemampuan bekerja secara sukarela untuk kepentingan pembangunan desanya yang mempunyai jiwa pelopor, pembaharu dan penggerak pembangunan di desa keseluruhan. KPD merupakan kader yang bersifat umum yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar melalui latihan kader pembangunan desa. 2. Kader teknis yaitu kader pembangunan desa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis tertentu dari sektor pembangunan, yang merupakan “tenaga spesialis” dan dibina oleh suatu instansi atau lembaga kemasyarakatan. 2.1.2. Tujuan Pembentukan Kader Pada hakekatnya pelayanan kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Keikutsertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya dan dana didalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan demikian dilibat- aktifkannya masyarakat tahun 1990 ada dua

Universitas Sumatera Utara

akan memanfaatkan sumber daya yang ada dimasyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan (Zulkifli, 2004). Pembentukan kader merupakan salah satu metode pendekatan edukatif, untuk mengaktifkan masyarakat dalam pembangunan khususnya dalam bidang kesehatan. Disamping itu pula diharapkan menjadi pelopor pembaharuan dalam pembangunan bidang kesehatan. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat tersebut, maka dilakukan latihan dalam upaya memberikan keterampilan dan pengetahuan tentang pelayanan kesehatan disesuaikan dengan tugas yang diembannya. Para ahli mengemukakan bahwa untuk menimbulkan partisipasi dan

menggerakkan masyarakat perlu di bentuk wakilnya dalam bidang kesehatan yang nantinya akan membantu program pelayanan guna mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal (Haryuni, dkk, 1997). Pola pikir pembentukan kader kesehatan berdasarkan prinsip: Pertama, dari segi pengorganisasian, bentuk pengorganisasian yang seperti itu diaplikasikan dalam bentuk kegiatan keterpaduan KB kesehatan yang telah dikenal dengan nama Posyandu. Adapun kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat, dapat diterapkan pada masyarakat pedesaan dan perkotaan, pelayanan yang murah dapat dijangkau oleh setiap penduduk. Kedua, dari segi kemasyarakatan, perilaku kesehatan tidak terlepas daripada kebudayaan masyarakat. Dalam upaya untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat

Universitas Sumatera Utara

kegiatan pada hari Posyandu meliputi kegiatan pendaftaran pada pengunjung.3. tidak akan membawa hasil yang baik bila prosesnya melalui pendekatan instruktif. 2000). 2. ibu hamil. Akan tetapi lebih berhasil bila proses pendekatan dengan edukatif yaitu berusaha menimbulkan kesadaran untuk dapat memecahkan permasalahan dengan memperhitungkan sosial budaya setempat. tetapi juga mitra pembangunan itu sendiri. ibu menyusui dan PUS. Sehingga untuk mengikutsertakan masyarakat dalam upaya pembangunan khususnya dalam bidang kesehatan. pemberitahuan sasaran kegiatan Posyandu pada ibu yang mempunyai bayi dan balita. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek pembangunan.1. pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat dibantu oleh masyarakat. Dengan terbentuk kader kesehatan. Pertama. Universitas Sumatera Utara . jelaslah bahwa pembentukan kader adalah perwujudan pembangunan dalam bidang kesehatan (Depkes RI. Selanjutnya dengan adanya kader maka pesan-pesan yang diterima tidak akan terjadi penyimpangan. sebelum hari pelaksanaan Posyandu meliputi kegiatan pencatatan sasaran yaitu pada bayi dan balita. Sehinga pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna berkat adanya kader. Kedua.harus pula diperhatikan keadaan sosial budaya masyarakat. Adapun yang menjadi tugas kader pada kegiatan Posyandu adalah. ibu menyusui dan PUS. ibu hamil. Tugas Kader Posyandu Mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan untuk itu pula perlu adanya pembatasan tugas yang diemban baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan.

penimbangan terhadap bayi dan balita. 2. Gizi dan penanggulangan diare. melaksanakan penimbangan bayi dan balita. melaksanakan pencatatan hasil penimbangan. kegiatan yang dapat dilakukan kader diluar Posyandu KB-kesehatan adalah. melaksanakan pendaftaran. Universitas Sumatera Utara .4. memberikan penyuluhan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban. kegiatan yang dapat dilakukan kader di Posyandu adalah.1. Mengajak ibu-ibu untuk datang para hari kegiatan Posyandu. penyuluhan pada ibu yang mempunyai bayi dan balita. Kegiatan kader Posyandu Kegiatan kader akan ditentukan. pencatatan KMS bayi dan balita. ibu hamil dan menyusui dan PUS. Ketiga. Kedua. baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan. dan merujuk. Ketiga. mendatangi sasaran yang mempunyai masalah untuk diberikan penyuluhan. Imunisasi. KIA.2001). Adapun kegiatan pokok yang perlu diketahui oleh dokter kader dan semua pihak dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan baik yang menyangkut didalam maupun diluar Posyandu antara lain yaitu: Pertama. menentukan tidak lanjut kasus (rujukan) yang mempunyai masalah setelah diperiksa dan tidak bisa ditangani oleh kader (Depkes. kegiatan sesudah hari Posyandu meliputi kegiatan pencatatan dan pelaporan. mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. mendatangi sasaran yang tidak hadir. memberi dan membantu pelayanan. pemberian vitamin. bersifat yang menunjang pelayanan KB. pemberian alat kontrasepsi.

pembuatan sarana pembuangan air limbah. Kegiatan yang menunjang upanya kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang ada yaitu . memberikan pertolongan pada kecelakaan dan lainnya. Keempat. pemberian pertolongan pertama pada penyakit dan P3K. jumlah peserta aktif dsb. mempunyai KMS. informasi dan motivasi tatap muka (kunjungan).Keempat. Kedua. membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan. Imunisasi untuk mengetahui jumlah imunisasi TT bagi ibu hamil dan jumlah bayi dan balita yang diimunisasikan. dana sehat dan kegiatan pengembangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan. melakukan komunikasi. penyehatan rumah. antara lain: menyiapkan dan melaksanakan survei mawas diri. penderita yang ditemukan Universitas Sumatera Utara . KIA :jumlah ibu hamil. Tiga. pembuangan sampah. pembersihan sarang nyamuk. yaitu Pertama. menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat desa. pemberantasan penyakit menular. melakukan pencatatan. menggerakkan masyarakat dengan mendorong masyarakat untuk gotong royong. memberikan pertolongan pemantauan penyakit. yaitu. gizi: jumlah bayi yang ada. memberikan pelayanan yaitu. vitamin A yang dibagikan. membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja. alat peraga dan percontohan. merencanakan kegiatan. KB atau jumlah PUS. diare: jumlah oralit yang dibagikan. balita yang ditimbang dan yang naik timbangan. membagi obat. membahas hasil survei. Selain itu peranan kader diluar posyandu KB-kesehatan. penyediaan sarana air bersih. mengawasi pendatang didesanya dan melapor. memberikan informasi dan mengadakan kesepakatan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan lain-lain. menyediakan sarana jamban keluarga. menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat.

Selain itu menurut pendapat Winardi (2006) bahwa partisipasi secara formal dapat didefenisikan sebagai turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbagsih pada proses pembuatan keputusan. melakukan pertemuan kelompok.dan dirujuk. Partisipasi Kader dalam Kegiatan Posyandu Menurut Terry (1982) bahwa partisipasi didasarkan atas prinsip psikologis yang menyatakan bahwa orang lebih dimotivasi kearah tujuan-tujuan untuk membantu dan menetapkannya serta adanya perhatian dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. melakukan kunjungan rumah kepada masyarakat terutama keluarga binaan. Peran kader secara umum yaitu melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan bersama dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat sedangkan peran kader secara khusus terdapat beberapa tahap yang meliputi: Universitas Sumatera Utara .5. Menurut Depkes RI (1989) yang dikutip dari pendapat Widiastuti (2006) bahwa partisipasi kader adalah keikutsertaan kader dalam suatu kegiatan kelompok. masyarakat atau Pemerintah. melakukan pembinaan mengenai laima program keterpaduan KB-kesehatan dan upanya kesehatan lainnya. Selain itu adanya keluarga binaan yang untuk masing-masing untuk berjumlah 10-20KK atau diserahkan dengan kader setempat hal ini dilakukan dengan memberikan informasi tentang upanya kesehatan dilaksanakan. 2.1. terutama mengenai persoalan-persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan terdapat dan yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut.

Pertama. maka partisipasi kader dalam kegiatan di desa akan dapat dilestarikan. Kelima.Tahap pembinaan. faktor tokoh masyarakat dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat melihat bahwa tokoh-tokoh masyarakat yang disegani ikut serta maka mereka akan tertarik juga untuk berpartisipasi. Jika rasa memiliki bisa ditumbuhkan dengan baik. untuk ikut berpartisipasi. mengelola kegiatan UKBM 3). Partisipasi kader didalam suatu kegiatan posyandu dapat dibagi dalam beberapa tingkat yaitu. Ketiga. membina kemampuan diri melalui pertukaran pengalaman antar kader. yaitu memiliki sikap yang baik seperti akrab Universitas Sumatera Utara . yaitu kegiatan yang dilaksanakan membuktikan orang-orang dengan memiliki ketrampilan tertentu. adanya kesempatan untuk berperan serta kesediaan berpartisipasi juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan atau ajakan untuk berpartisipasi dan kader melihat bahwa memang ada hal-hal yang berguna dalam kegiatan itu. Kedua.Pertama. yaitu memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dan bersama-sama masyarakat merencanakan kegiatan pelayanan kesehatan ditingkat desa. yaitu menyelenggarakan pertemuan bulanan dengan dasawisma untuk membahas perkembangan program dan masalah yang dihadapi keluarga. tahap persiapan. Keempat. maka hal ini akan menarik bagi orang-orang yang memiliki ketrampilan tersebut. rasa memiliki yaitu suatu kegiatan akan tumbuh jika sejak awal kegiatan masyarakat sudah diikutsertakan. tahap pelaksanaan. melakukan kunjungan ke rumah pada keluarga binaannya. memiliki keterampilan tertentu yang bisa disumbangkan. yaitu melaksanakan penyuluhan kesehatan secara terpadu. faktor petugas. Kedua.

Motivasi Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan.dengan masyarakat.2. sasaran dan dorongan. Selain itu menurut Terry (1997) bahwa motivasi yang berasal dari luar diri seseorang menyebabkan orang tersebut melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan organisasi. menunjukkan perhatian pada kegiatan masyarakat dan mampu mendekati para tokoh masyarakat untuk berpartisipasi. Menurut Siagian (1997) bahwa motivasi sebagai keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan. Ada beberapa motivasi instrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi kinerja kader posyandu yaitu : Universitas Sumatera Utara .stainer yang mengutip pendapat Soedarmayanti (2001) bahwa motivasi merupakan kondisi mental yang mendorong aktifitas dan member energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. tujuan. karena adanya rangsangan dari luar yang dapat berwujud benda maupun bukan benda. 2. Berbagai hal yang biasanya terkandung dalam berbagai defenisi tentang motivasi antara lain adalah keinginan. Menurut Bernard Berndoom dan Gary A. kebutuhan.

Menurut Widayatun (1999) tahapan perkembangan masa dewasa tengah yaitu pada usia 36 – 45 tahun mengalami perkembangan di dalam mencapai tanggung jawab Universitas Sumatera Utara . 2) Masa dewasa madya Masa dewasa madya masa dimulai pada umur 41 tahun sampai pada umur 60 tahun. Umur Umumnya umur sangat mempengaruhi di dalam bermasyarakat.1. Kemampuan fisik maupun psikologis menurun. Motivasi Instrinsik Motivasi instrinsik merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri individu. minat dan kemampuan) a. 3) Masa dewasa lanjut (usia lanjut) Masa dewasa lanjut – senescence. saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai dan berkurangnya kemampuan reproduktif. Hurlock (1980) pembagian masa dewasa diantaranya : 1) Masa dewasa dini Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun.2. lama menjadi kader. lama pekerjaan. yaitu saat menurunnya kemampuan fisik maupun psikologis yang jelas nampak pada setiap orang. Motivasi instrinsik kader posyandu meliputi faktor umur. atau usia lanjut dimulai umur 61 tahun sampai kematian. Menurut Elizabeth B. tingkat pendidikan.2. karena hal tersebut merupakan suatu ukuran untuk menilai tanggung jawab seseorang dalam melakukan suatu kegiatan ataupun aktivitas.

Pengalaman melaksanakan tugas tertentu secara terus menerus untuk waktu yang lama biasanya meningkatkan kedewasaan teknisnya (Widiastuti. Umur mempunyai kaitan erat dengan tingkat kedewasaan seseorang yang berarti kedewasaan teknis dalam arti ketrampilan melaksanakan tugas maupun kedewasaan anggapan kedewasaan psikologis. seseorang bahwa makin teknisnya pun mestinya meningkat. 2003) Pendidikan dalam arti formal adalah proses penyampaian materi pada pendidikan oleh pendidik kepada sasaran guna mencapai perubahan perilaku atau tindakan. Sumardilah (1985) menyatakan ciri-ciri kader yang aktif sebaiknya berumur antara 25-35 tahun. bahwa proses belajar berada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. memang kedua pengertian itu identik. kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo. mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir dan pekerjaan. karena pada masa muda kader mempunyai motivasi yang positif. b. yang berlaku Dikaitkan ialah dengan tingkat lama kedewasaan seseorang teknis. bekerja. Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah segala cara yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu. Universitas Sumatera Utara . mengembangan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa. kadang-kadang antara proses belajar dengan pengajaran disamakan dengan pendidikan. merasa lebih bertanggung jawab dan inovatif. 2006).sosial sebagai warga negara. Menurut Bahri (1981). Pendidikan tidak terlepas dari proses belajar.

Menurut L. pengetahuan dan sikap seseorang menjaga kesehatan. termasuk cara menjaga bayi dan balita. baik dari petugas kesehatan maupun dari media-media lain.Green (1980) menyatakan bahwa gangguan terhadap penyakit juga disebabkan oleh manusia itu sendiri.Menurut konsep Amerika. Begitu juga dalam mengkonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi dan cukup kalori sehingga dapat menjaga kesehatan balitanya. Pengamatan di Kenya mencatat Universitas Sumatera Utara . Menurut Grant (1984) yang mengutip dari pendapat Kardjati (2000) pada pendidikan di 11 negara oleh pusat Demografi Amerika Latin menunjukkan pengaruh pendidikan ibu terhadap kesempatan hidup anak ternyata lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh tingkat pendapatan di rumah tangga. keterampilan dan sikap seseorang. bila pendidikan tinggi. mengatur gizi seimbang. Menurut Azwar (2007) bahwa pendidikan merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan untuk memperoleh hasil berupa pengetahuan. Pendidikan yang tinggi yang dimiliki seseoarang akan lebih mudah memahami suatu informasi. terutama menyangkut pendidikan. Belajar pada hakekatnya adalah penyempurnaan potensi atau kemampuan pada organisme biologis dan psikis yang diperlukan dalam hubungannya dengan manusia luar. maka dalam menjaga kesehatan sangat diperhatikan. sehingga mempunyai kesadaran tinggi terhadap kesehatan.W . Sebaliknya dengan pendidikan rendah sangat sulit menterjemahkan informasi yang didapatkan. baik kesehatan pribadi maupun keluarga. pengajaran diperlukan untuk memperoleh keterampilan yang dibutuhkan manusia dalam hidup bermasyarakat.

Universitas Sumatera Utara . Pekerjaan Lamanya seseorang bekerja dapat berkaitan dengan pengalaman yang didapat di tempat kerjanya. tidak bekerja. mempunyai rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Menurut kajian pelaksanaan revitalisasi posyandu pada masyarakat nelayan dan petani di Proponsi Jawa Barat. ibu rumah tangga. bahwa salah satu syarat calon kader adalah wanita yang mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan semua tugas kader yang telah ditetapkan. pendidikan tamat SLTP dan sederajaat. termasuk kader posyandu. Sebaiknya kader posyandu tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. bahwa kader yang diikutsertakan dalam kegiatan posyandu haruslah berpendidikan SLTA. dapat mengikuti kegiatan sosial masyarakat. Apabila seorang kader bekerja. Karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan kader karena kesibukan membuat seseorang terabaikan akan kesehatannya. mempunyai motivasi yang positif. dimana kegiatan posyandu biasanya dilaksanakan pada hari dan jam kerja. Menurut Depkes RI (1996). Kesibukan akan pekerjaan terkadang seorang ibu lupa terhadap tugas dan tanggungjawab yang diemban padanya. maka ia tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk melaksanakan kegiatan posyandu. 2002). agar dapat lebih mudah memahami dan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan posyandu (Ira. Menurut Hartono (1978) dan Sumardilah (1985) di Kebayoran Lama Jakarta menemukan ciri-ciri kader yang aktif adalah berumur 25-34 tahun. c. tinggal di RW/RT posyandu berada. inovatif.adanya penurunan tingkat kematian bayi sebesar 86% setelah dilaksanakan program peningkatan pendidikan bagi kaum wanita.

Studi yang dilakukan di Kabupaten Garut jawa Barat menunjukkan gambaran lamanya menjadi kader dikategorikan kurang dari 1 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Purnomowati (1993) menyatakan bahwa ada pengaruh yang jelas antara masa kerja seseorang dengan kinerjanya. dan tidak ada pergantian kader dalam satu tahun. Lamanya menjadi kader Kinerja masa lalu cenderung dihubungkan pada hasil seseorang. 5 sampai 10 tahun. 15 sampai 20 tahun dan lebih 20 tahun. 1997). 2005). semakin lama seseorang bekerja menjadi kader posyandu maka keterampilan dalam melaksanakan tugas pada saat kegiatan Universitas Sumatera Utara .2005). d. 10 sampai 15 tahun. Begitu juga dengan kader posyandu. semakin lama ia bekerja maka semakin terampil dalam melaksanakan tugasnya sehingga senioritas dalam bekerja akan lebih terfokus jika dibandingkan dengan orang yang baru bekerja (Robbins. Menurut Widiastuti (2006) yang mengutip pendapat Sondang (2004) bahwa seseorang dalam bekerja akan lebih baik hasilnya bila memiliki keterampilan dalam melaksanakan tugas dan keterampilan seseorang dapat terlihat pada lamanya seseorang bekerja. Dari studi tersebut didapatkan 60% kader bekerja lebih dari 5 tahun adalah hasil yang menggambarkan lama kerja dengan kinerja kader (Depkes RI. Hubungan antara jenis pekerjaan dengan keaktifan kader dicontohkan dengan seorang ibu yang dengan kesibukan tertentu akan mempengaruhi keaktifan posyandu sesuai dengan jadwal yang ditentukan setiap bulannya (Notoadmodjo.dan mempunyai pengalaman menjadi kader sekurang-kurangnya 60 bulan. serta jumlah kader setiap posyandu lima orang (Benny. 1996). 1 sampai 5 tahun.

234 pengguna posyandu menemukan bahwa ciri-ciri kader yang aktif sebaiknya tidak mempunyai pekerjaan tetap. Berdasarkan penelitian Anies dan Irawati (2000) di Sukabumi dan Kerawang yang meneliti masyarakat nelayan dan petani sebanyak 67 posyandu. tidak ada pergantian kader sedikitnya dalam setahun. e. pendidikan kader harus SLTA ke atas. Layanan yang diharapkan pengguna posyandu agar mendapatkan PMT untuk balita. Menurut Razak (2006) dalam penelitiannya di Makasar menemukan bahwa kader posyandu sebaiknya tidak mempunyai pekerjaan tetap. mengatakan bahwa minat merupakan motivasi yang kuat dalam bekerja. mempunyai pengalaman menjadi kader sekurangnya 60 bulan. Menurut Greenleaf dalam bukunya Occupations. pekerjaan atau objek berharga atau berarti bagi dirinya. jumlah kader sedikitnya 5 orang. kesediaan pengguna memberi imbalan untuk kader yang bekerja secara sukarela. 170 kader. A Basic Source for Counselor yang dikutip oleh Efriyani Djuwita (2003).posyandu akan semakin meningkat sehingga nantinya partisipasi kader dalam kegiatan posyandu akan semakin baik. dan jumlah kader setiap posyandu 5 orang. tidak ada pergantian kader sedikitnya dalam setahun. Universitas Sumatera Utara . Minat Minat menurut JP Chaplin (1995) dalam Dictionary of Psychology bahwa minat (interest) adalah sebuah perasaan yang menilai suatu aktivitas. membatasi minat sebagai kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. sedangkan Winkell (1984). 50 pembina dan 1. mempunyai pengalaman menjadi kader sekurang-kurangnya 60 bulan.

adalah : (1) Expressed Interest (minat yang diekspresikan). Seseorang dapat memiliki banyak minat. Menurut Greenleef. yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan obyek Universitas Sumatera Utara . Minat merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang melakukan sesuatu. Menurut Hurigck (1978) dalam Gunarso (1985) bahwa minat merupakan salah satu aspek psikologis yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap sikap perilaku seseorang. Seseorang dapat mempunyai banyak alasan berminat pada suatu pekerjaan. Minat latent ini hanya akan muncul jika kita memberi kesempatan diri kita untuk mencoba banyak hal atau aktivitas baru. yaitu minat yang disadari. yaitu minat yang diwujudkan dengan tindakan. yaitu minat yang dapat diukur dan dinilai melalui kegiatan menjawab sejumlah pernyataan tertentu atau urutan pilihannya untuk kelompok aktivitas tertentu.Macam-macam minat menurut Dewa Ketut (1988). Mengetahui minat sama pentingnya dengan mengetahui bakat. tetapi sedikit yang menyadari minatnya. jika seorang hobi menggambar kemungkinan besar akan berminat dengan bentuk pekerjaan yang ada kaitannya dengan hobinya itu. Seseorang dapat memiliki dua jenis minat . perbuatan dan ikut serta berperan aktif dalam aktivitas tertentu. (2) Manifest Interest (minat yang diwujudkan). tetapi dapat juga hanya karena alasan tertentu. seperti hobi dan minat latent (minat yang tidak disadari). Sebagai contoh. Setiap orang memiliki perbedaan dalam menjelaskan alasan berminat pada suatu pekerjaan. minat dapat diketahui lewat hobi seorang yang dimiliki. (3) Inventoried Interest (minat yang diinventarisasikan). yaitu minat yang diungkapkan dengan kata-kata tertentu atau diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukan seseorang lebih menyukai sesuatu hal dari pada hal lain.

mengikutsertakan perhatian individu dalam memilih obyek yang dirasakan menarik bagi dirinya dan minat juga merupakan suatu keadaan dari motivasi yang mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu. Secara umum dapat dikatakan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk bertindak dan bertingkah laku terhadap obyek yang menarik perhatian disertai dengan perasaan senang. dkk (Ratnawati. Seseorang yang mempunyai minat terhadap sesuatu maka akan menampilkan suatu perhatian. menurut Chaplin (1995) minat merupakan suatu sikap yang kekal. 1992) mengemukakan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan untuk bertingkah laku yang berorientasi pada obyek. Dalam hal intensitasnya. perasaan dan sikap positif terhadap sesuatu hal tersebut. mungkin lebih besar intensitasnya atau lebih kecil tergantung pada masing-masing orangnya. menyelidiki atau mengerjakan suatu aktivitas yang menarik baginya. Apabila individu menaruh minat terhadap sesuatu. Apabila sudah terbentuk pada diri seseorang maka sesuatu minat cenderung menetap sepanjang obyek minat tersebut efektif baginya. selanjutnya menjelaskan bahwa intensitas kecenderungan yang dimiliki seseorang berbeda dengan yang lainnya. kecenderungan untuk memeriksa. Eysenck. kegiatan dan pengalaman tertentu. sehingga apabila obyek minat tersebut tidak efektif lagi maka minatnya pun cenderung berubah. Oleh karena itu minat dikatakan sebagai suatu dorongan untuk berhubungan dengan lingkungannya. Universitas Sumatera Utara . hal ini disebabkan obyek itu berguna untuk menenuhi kebutuhannya.yang menarik baginya.

yaitu minat spontan dan minat dengan sengaja. Minat dengan Universitas Sumatera Utara . Blum dan Balinsky (Sumarni. Minat instrinsik yaitu minat yang berhubungan dengan aktivitas itu sendiri dan merupakan minat yang tampak nyata.Minat Menurut Holland (1985) yang mengutip pendapat Sudjani (2008) bahwa untuk mengukur minat seseorang berdasarkan pandangan psikologis. Syamsudin yang mengutip pendapat Lidyawati (1998) menyatakan bahwa minat terbagi menjadi dua jenis. tentunya pemilihan terhadap minat dalam tradisi psikologis dan kepribadian yang mempelajari tipe-tipe kepribadian yang mengasumsikan bahwa orang yang memiliki minat yang berbeda-beda dan bekerja dalam lingkungan yang berlainan sebenarnya adalah orang yang berkepribadian lain-lain dan mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda. Minat obyektif adalah suatu reaksi menerima atau menolak suatu obyek disekitarnya. Para ahli mengelompokkan jenis minat berdasarkan aspeknya. 2000) membedakan minat menjadi dua. maka minat akan hilang. Minat ekstrinsik yaitu minat yang disertai dengan perasaan senang yang berhubungan dengan tujuan aktivitas. yaitu minat yang secara spontan timbul dengan sendirinya. yaitu minat subyektif dan obyektif. sedangkan pada minat ekstrinsik kemungkinan bila tujuan tercapai. Antara kedua minat tersebut seringkali sulit dipisahkan pada minat intrinsik kesenangan itu akan terus berlangsung dan dianjurkan meskipun tujuan sudah tercapai. Menurut Jones yang mengutip pendapat Handayani (2000) membagi minat menjadi minat instrinsik dan ekstrinsik. Minat spontan. Minat subyektif adalah perasaan senang atau tidak senang pada suatu obyek yang berdasar pada pengalaman.

Dengan demikian tingkat pendidikan. yaitu minat yang timbul karena sengaja dibangkitkan melalui rangsangan yang sengaja dipergunakan untuk membangkitkannya. Ability is an individual's capacity to perform the various task in a job. dan ketrampilan-ketrampilan yang serupa. Kemampuan dapat dibagi menjadi dua tipe. yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik yang harus disesuaikan dengan pekerjaannya. f. Seberapa jauh kemampuan dapat Universitas Sumatera Utara . Pendapat Fremont yang disadur oleh Moh. Kinerja akan sangat tergantung pada faktor kemampuan individu itu sendiri seperti tingkat pendidikan. menurut Robbins (1996). " Kemampuan adalah kapasitas seseorang dalam mengerjakan berbagai macam tugas dalam pekerjaannya" dengan kemampuan yang ada diharapkan kegiatan individu tidak akan menyimpang jauh dari kegiatan badan usaha. pengalaman dimana dengan tingkat kemampuan yang semakin tinggi akan mempunyai kinerja semakin tinggi pula. sehingga bukan hal yang aneh apabila badan usaha memberi harapan kepada individu agar tujuan dapat tercapai. Kemampuan Kemampuan berkaitan dengan tingkat kemampuan individu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. pengetahuan dan pengalaman yang rendah akan berdampak negatif pada kinerja.sengaja. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. pengetahuan. sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk suatu tugas yang membutuhkan stamina kekuatan. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan aktivitas-aktivitas mental. Yasin (1986) mengemukakan bahwa kemampuan digambarkan oleh kapasitas manusia dan teknik.

Seseorang yang mempunyai kemampuan yang rendah. 15 sampai 20 tahun dan lebih 20 tahun. 2009). kemampuan seseorang akan mempengaruh kinerja. Kemampuan dalam bekerja disuatu bidang tertentu dapat dijadikan tombak untuk memudahkan dalam pencapaian tujuan organisasi (Hartoyo. 1996). Dari studi tersebut didapatkan 60% kader bekerja lebih dari 5 tahun adalah hasil yang menggambarkan lama kerja dengan kinerja kader (Depkes RI. Universitas Sumatera Utara . Seperti yang dikemukakan oleh Thoha (2000) bahwa kemampuan adalah suatu kondisi yang menunjukkan unsur kematangan yang berkaitan pula dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dapat di peroleh dari pendidikan. 1 sampai 5 tahun. akan menghasilkan kinerja yang lebih rendah dan seseorang yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. latihan dan pengetahuan”. Penelitian yang dilakukan oleh Purnomowati (1993) menyatakan bahwa ada pengaruh yang jelas antara masa kerja seseorang dengan kinerjanya. Studi yang dilakukan di Kabupaten Garut jawa Barat menunjukkan gambaran lamanya menjadi kader dikategorikan kurang dari 1 tahun. semakin lama ia bekerja maka semakin terampil dalam melaksanakan tugasnya sehingga senioritas dalam bekerja akan lebih terfokus jika dibandingkan dengan orang yang baru bekerja (Robbins.diciptakan tergantung pada tingkat dimana individu dan atau kelompok dapat dimotivasikan untuk menghasilkan kemampuan." Menurut Baron dan Greenberg (1990). 5 sampai 10 tahun. 1997). 10 sampai 15 tahun. Lamanya menjadi kader Kinerja masa lalu cenderung dihubungkan pada hasil seseorang. g.

Universitas Sumatera Utara .234 pengguna posyandu menemukan bahwa ciri-ciri kader yang aktif sebaiknya tidak mempunyai pekerjaan tetap. 50 pembina dan 1. Menurut Razak (2006) dalam penelitiannya di Makasar menemukan bahwa kader posyandu sebaiknya tidak mempunyai pekerjaan tetap. Begitu juga dengan kader posyandu. Berdasarkan penelitian Anies dan Irawati (2000) di Sukabumi dan Kerawang yang meneliti masyarakat nelayan dan petani sebanyak 67 posyandu. dan jumlah kader setiap posyandu 5 orang. tidak ada pergantian kader sedikitnya dalam setahun. jumlah kader sedikitnya 5 orang. mempunyai pengalaman menjadi kader sekurangnya 60 bulan. Layanan yang diharapkan pengguna posyandu agar mendapatkan PMT untuk balita. kesediaan pengguna memberi imbalan untuk kader yang bekerja secara sukarela. tidak ada pergantian kader sedikitnya dalam setahun. semakin lama seseorang bekerja menjadi kader posyandu maka keterampilan dalam melaksanakan tugas pada saat kegiatan posyandu akan semakin meningkat sehingga nantinya partisipasi kader dalam kegiatan posyandu akan semakin baik.Menurut Widiastuti (2006) yang mengutip pendapat Sondang (2004) bahwa seseorang dalam bekerja akan lebih baik hasilnya bila memiliki keterampilan dalam melaksanakan tugas dan keterampilan seseorang dapat terlihat pada lamanya seseorang bekerja. pendidikan kader harus SLTA ke atas. 170 kader. mempunyai pengalaman menjadi kader sekurang-kurangnya 60 bulan.

bahwa sarana dan prasarana kurang memadai seperti meja. dana rutin untuk pemberian makanan tambahan (PMT).2. 2003). timbangan. yang meliputi fasilitas posyandu. Seperti yang dikeluhkan oleh pembina kader tingkat Kecamatan Cipayung. insentif dan dukungan masyarakat yang diberikan kepada kader. alat tulis dan terutama tempat posyandu akan menghambat kinerja kader posyandu (Syahmasa. Keaktifan seorang kader dalam melakukan kegiatan di Posyandu dipengaruhi oleh adanya sarana. alat-alat yang diperlukan misalnya : dacin. Penyediaan fasilitas kerja adalah bahwa fasilitas kerja yang disediakan harus cukup dan sesuai dengan tugas dan fungsi dan harus dilaksanakan serta tersedia pada waktu dan tempat yang tepat Fasilitas posyandu yaitu segala sesuatu yang dapat menunjang penyelenggaraan kegiatan Posyandu seperti tempat atau lokasi yang tetap. pelatihan kader. Menurut Siagian (1998). meja. Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan yang berasal dari luar diri individu berpengaruh terhadap kinerja kader. buku register dan lain-lain.2. kursi. KMS. pembinaan kader. kegiatan-kegiatan posyandu tidak akan dapat berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh adanya fasilitas yang memadai. a. Fasilitas Untuk memotivasi pekerjaan hendaknya dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana yang baik untuk digunakan dalam melaksanakan tugas. bentuk penghargaan kepada Universitas Sumatera Utara . fasilitas Posyandu yang memadai. kursi.2.

Pelatihan Pelatihan adalah suatu upaya kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan. Pengetahuan dan keterampilan juga didapat dari teman sekerja. pengetahuan. makanan pendamping ASI untuk yang pertumbuhannya tidak sesuai. 1990). sikap petugas kesehatan dan adanya pembinaan. Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sekaligus dedikasi kader agar timbul kepercayaan diri untuk melaksanakan tugas sebagai kader Universitas Sumatera Utara . Menurut Frank Sherwood dan Wallas Best dalam (Moekijat. tindakan dan keterampilan.kader. membantu pemeriksaan ibu hamil dan menyusui serta membuat laporan. cara menyiapkan kegiatan pelayanan sesuai dengan kebutuhan anak dan ibu. (Junadi. skill. and attitudes (pelatihan adalah proses membantu pegawai untuk memperoleh efektivitas dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang melalui penggembangan kebiasaan-kebiasaan pikiran. knowlwdge. 1999). cara yang benar dalam melakukan penimbangan balita. Pengetahuan akan bertambah berkat kemauan dokter dan staf puskesmas untuk memberikan tambahan pada waktu mereka datang melakukan supervisi. menyiapkan beragam cara pemberian makanan tambahan (PMT). menilai pertumbuhan anak baik fisik maupun mental. Materi pelatihan kader dititik beratkan pada keterampilan teknis menyusun rencana kegiatan di posyandu. 1981). keterampilan teknis dan dedikasi kader (Depkes. 2005). pelatihan yang diberikan kepada kader (Warta Posyandu. b. Training is the process of aiding employes to gain effectiviness in their present of future work through the development habits of thought and action. pelatihan adalah.

(pelatihan berhubungan dengan menambah pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Pengetahuan itu bertambah berkat kemauan dokter dan staf puskesmas untuk memberikan tambahan pada waktu mereka datang melakukan supervisi. untuk mengembangkan keahlian seseorang sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan efektif. 1990). pendidikan berhubungan dengan penambahan pengetahuan umum dan pengertian tentang seluruh lingkungan kita). baik di posyandu maupun saat melakukan kunjungan rumah (Depdagri & Otda. Ketiga. 2001). Pelatihan bagi kader sangat diperlukan dari petugas kesehatan yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. education is concerned with increasing general knowledge and understanding our total environment”. Menurut Martoyo (2000) mengutip pendapat Moekijat (1981) tujuan utama pelatihan adalah: Pertama. Ibu balita yang Universitas Sumatera Utara . Kurangnya kemampuan kader dalam memberikan penyuluhan kemungkinan menyebabkan ibu balita kurang berminat untuk mengunjungi posyandu. Pengetahuan dan keterampilan juga didapat dari teman sekerja (Junadi. untuk mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Pilippo dalam Moekijat (1981) membedakan antara pelatihan (training) dengan pendidikan adalah “training is concerrned with increasing knowledge and skill in doing a particular job. sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.posyandu dalam melayani masyarakat. Kedua. mengembangkan sikap sehingga menimbulkan kemajuan kerja sama dengan sesama teman sekerja dan diluar kerja serta dengan pemimpin.

yakni melalui pendampingan dan bimbingan. 1990). d. lebih memilih untuk mengunjungi dokter untuk memantau pertumbuhan balitanya (Basyir. 1997). 2008). adanya pelatihan dan pembinaan dari tenaga kesehatan dan tenaga lain yang terkait (Nurhayati. berpenghasilan.mampu. Pelatihan kader diberikan secara berkelanjutan berupa pelatihan dasar dan berjenjang yang berpedoman pada modul (Nilawati. c. Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tegal Sari II Sumatera utara menemukan bahwa ciri-ciri kader aktif adalah: sudah menikah. ada sarana dan fasilitas posyandu. karena pada tahap awal latihan kader hanya sekedar memperoleh informasi sehubungan dengan peningkatan pengetahuan. maka diperlukan unsur pelatih kader yang mampu berdedikasi dalam memberikan pelatihan secara efektif dan berkesinambungan. Pembinaan sangat penting artinya untuk kelangsungan kegiatan yang telah dijalankan. juga untuk memberikan motivasi kepada kader supaya keaktifan kader dapat lestari. Dengan adanya pembinaan-pembinaan yang dilakukan diharapkan kader berperan aktif dalam kegiatan posyandu (Junadi. Agar pelatihan kader berjalan efektif. Pembinaan Pembinaan dilakukan dengan tujuan untuk memantapkan dan meningkatkan pengetahuan. dkk 2008). sikap serta keterampilan terhadap kegiatan yang telah berjalan. Insentif Pemberian insentif merupakan bayaran pokok untuk memotivasi para pegawai agar lebih maju dalam pekerjaan dengan keterampilan dan tanggung jawab yang lebih besar Universitas Sumatera Utara .

Insentif yang diberikan kepada kader sangat memotivasi keaktifannya. Alasan utama penggunaan insentif upah adalah jelas. sertifikat sebagai tanda jasa. status ini tidak diperoleh karena partisipasi mereka dalam program kemasyarakatan yang berprioritas tinggi tersebut tetapi juga karena penghargaan tinggi yang diberkan oleh pihak pemerintah. Menurut Aprillia (2009) bahwa rendahnya jumlah insentif yang diterima kader posyandu. Untuk para kader Posyandu. ada perasaan puas yang timbul dari penyelesaian pekerjaan yang dilakukan dengan baik. insentif hendaknya cukup sederhana. Akan tetapi salah satu faktor penting dalam keuntungan yang diperoleh para kader adalah setatusnya. 1995). dan peralatan rumah tangga kecil-kecilan. Insentif yang berhasil dapat menimbulkan imbalan psikologis dan juga imbalan ekonomi. dirasakan masih kurang untuk memotivasi kinerja dan partisipasi aktif kader dalam Universitas Sumatera Utara . Insentif adalah salah satu jenis penghargaan yang dikaitkan dengan prestasi kerja (Mutiara. Agar berhasil. Dalam kehidupan bekerja persepsi itu dikaitkan dengan berbagai hal yaitu mengenai insentif dan jumlah jam kerja (Sondang. kebanyakan para kader tidak menerima pembayaran tunai untuk pelayanan mereka tetapi mereka mendapat upah dalam bentuk lain seperti seragam sebagai tanda penghargaan. 2004). sehingga mereka yakin prestasi kerja yang akan menghasilkan imbalan. Sebagai imbalan dari pekerjaanya.(Davis. insentif hampir selamanya meningkatkan produktifitas. 2002) Secara sederhana dinyatakan bahwa biasanya seseorang akan merasa diperlakukan secara tidak adil apabila perlakuan itu dilihatnya sebagai suatu hal yang merugikan.

supervisi teratur dari puskesmas yang dirasakan oleh para kader sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan. buku laporan. bentuk insentif yang menurut para kader membawa dampak positif bagi prestasi mereka adalah: Pertama. mangkok. kertas. pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas. Keempat. Penghargaan Keberadaan kader hendaknya mendapat pengakuan dan penghargaan yang wajar dan tulus. Kelima. Semua orang memerlukan pengakuan atas keberadaannya dan statusnya oleh orang lain. dan adanya pakaian seragam kader (Depkes. alat tulis. Ketiga. pasokan peralatan untuk Posyandu seperti alat timbangan. penggantian biaya transport. yang membuat mereka merasa memiliki wewenang dan pembenaran untuk berbicara serta memberikan instruksi pada penduduk desa untuk melakukan suatu tugas tertentu. seragam. Universitas Sumatera Utara . kursi. Keberadaan dan status seseorang tercermin pada berbagai lambang yang penggunaannya sering dipandang sebagai hak seseorang (Siagian. Keenam. Ketujuh. meja. e. 1955). Kedua. 1997). honorarium bagi kader yang agak kaya hanya akan diterima kalau ditawarkan. peralatan untuk pemberian makanan tambahan seperti sendok. Menurut Merry Judd (1997). lencana dan sertifikat seperti seragam. piring dll. Pengakuan terhadap keberadaan kader dari Pembina kader di kecamatan perlu diwujudkan dengan prioritas pelayanan kesehatan gratis.kegiatan posyandu sehingga tanggung jawab terhadap suksesnya program. cakupan dan kegiatan posyandu menjadi kurang maksimal. keterampilan dan rasa percaya diri mereka dalam menjalankan tugas-tugasnya. lencana menambah sifat resmi pada pekerjaan mereka.

f. menggerakkan partisipasi masyarakat merupakan usaha untuk mendapatkan dukungan masyarakat dalam rangka mensukseskan program-program pemerintah. Partisipasi juga diartikan sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri. diumumkan kepada rekan-rekan sekerjanya. merupakan keinginan dari kebutuhan egoistis. prestasi.Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow (1996) diawali dari kebutuhan primer (kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman) akan dominan sampai kebutuhan tersebut dirasakan cukup terpenuhi. Dalam hal ini. dan pengakuan oleh pihak lain. Setelah itu barulah individu termotivasi untuk mencapai kebutuhan yang bersifat skunder seperti kebutuhan kasih sayang. melengkapi atribut saat bertugas akan membuat kinerja kader semakin meningkat. Dukungan Masyarakat Dukungan masyarakat dapat dilihat pada partisipasi masyarakat yang didefinisikan sebagai pengambilan bagian dalam kegiatan bersama. Kebutuhan akan penghargaan dicerminkan oleh kebutuhan akan respek terhadap diri sendiri. yang diwujudkan dalam pujian. Kebutuhan akan penghargaan merupakan kebutuhan dasar manusia tingkat keempat. Menurut Ranupandojo dan Husnan (1993) penghargaan terhadap pekerjaan yang dijalankan. Menurut Suryatim (2001) pemberian penghargaan terhadap loyalitas kader akan sangat membantu untuk mempertahankan keaktifan kader posyandu. dan kebutuhan aktualisasi. kebutuhan penghargaan. Universitas Sumatera Utara . pemberian tugas yang tidak membosankan disertai pujian. hadiah (dalam bentuk uang ataupun tidak).

termasuk petugas kesehatan. dan KB yang meningkat. Dukungan suasana (social support) ditunjukkan oleh masyarakat. keterlibatan dalam pengambilan keputusan. pemeriksaan ibu hamil. keterlibatan dalam melakukan hal-hal teknis. dan keterlibatan dalam menilai pembangunan. sesuai dengan tanggung jawabnya masing- Universitas Sumatera Utara . hanya sebagai fasilitator untuk lebih memberdayakan masyarakat dalam kegiatan posyandu. pemantauan tumbuh kembang balita. Kinerja Kader Posyandu Kinerja (performance) adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi. Kegiatan posyandu dikatakan meningkat jika peran serta masyarakat semakin tinggi yang terwujud dalam cakupan program kesehatan seperti imunisasi. Menurut Widyastuti dan Kristiani (2006) bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat sangat ditentukan oleh peran kader sebagai motor penggerak dan mendapatkan dukungan oleh tokoh masyarakat (TOMA). Partisipasi merupakan hasil stimulasi atau motivasi yang dilakukan oleh penggerak pembangunan. Mereka ini adalah tokoh masyarakat dan pembuat opini umum. Hal tersebut dikarenakan salah satu tugas utama kader adalah menggerakkan masyarakat untuk datang ke posyandu. Peran pemerintah.3. keterlibatan dalam perencanaan.Dukungan masyarakat dapat berupa tanggapan atau respon terhadap informasi yang diterimanya. partisipasi masyarakat dapat digerakkan atau dibangun. 2. Ndraha (1990) memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat berfungsi sebagai masukan dan keluaran. kepentingan. keterlibatan dalam memelihara dan mengembangkan hasil pembangunan. Sebagai keluaran. adatistiadat dan sifat-sifat komunal yang mengikat setiap anggota masyarakat. Dukungan masyarakat dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat.

fasilitas kerja dan iklim organisasi. seperti perilaku. pengetahuan. sikap dan tindakan-tindakan rekan kerja. keterampilan. Jadi kinerja yang optimal didorong oleh kuatnya motivasi seseorang. kemampuan. Menurut Timple (1993). sosial budaya.masing. seperti . tanggung jawab. Dengan demikian kinerja merupakan kondisi yang harus diketahui dan diinformasikan kepada pihak-pihak tertntu untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi. Faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. bawahan atau pimpinan. Universitas Sumatera Utara . faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara legal tidak melanggar hokum dan sesuai dengan moral maupun etika (Prawira sentosno. 1999). ketrampilan. kepemimpinan dan tehnologi serta faktor di luar lingkungan organisasi yaitu seperti nilai sosial ekonomi. sikap. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan . dan sikap kerja. misalnya kinerja seseorang baik disebabkan karena kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras. Faktor lingkungan dalam organisasi yaitu situasi kerja. sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak berusaha untuk memperbaiki kemampuan. pengalaman. Menurut Salim (1989) faktor yang mempengaruhi penampilan kerja sumber daya manusia yang salah satunya kualitas kekaryaan yang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor pribadi seperti kecerdasan. perilaku.

2007). dengan pengertian : Ability (kemampuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh kader untuk usaha melanjarkan proses pelayanan di posyandu. pemberian buku panduan. Universitas Sumatera Utara . Incentive (insentif material dan non material). pelatihan dan refreezing secara berkala dari segi pengetahuan. Penurunan kinerja kader disebabkan karena posyandu tidak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. kepercayaan yang diterima kader dalam memberikan pelayanan mempengaruhi aktif/tidaknya seorang kader posyandu. Environment (lingkungan tempat kerja karyawan). Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kader dengan cara mengikuti kursus. Evaluation (adanya umpan balik hasil kerja). Aktif tidaknya kader posyandu dipengaruhi oleh fasilitas (mengirim kader ke pelatihan kesehatan.Hal serupa juga dikemukakan oleh Notoatmodjo (1992) bahwa penampilan kerja (performance) itu dipengaruhi oleh faktor fisik dan non fisik. tidak semua kader mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan (Mastuti. pembawa). Proses kelancaran pelayanan posyandu di dukung oleh keaktifan kader. Capacity (kemampuan yang bisa dikembangkan). Help (dukungan/bantuan untuk mewujudkan perfomance). teknis dari beberapa sektor sesuai dengan bidangnya. Penghargaan bagi kader dengan mengikutkan seminar dan pelatihan serta pemberian modul-modul panduan kegiatan pelayanan kesehatan dengan beberapa kegiatan tersebut diharapkan kader merasa mampu dalam memberikan pelayanan dan aktif datang di setiap kegiatan posyandu (Koto dkk. 2003). Validity (pedoman/petunjuk dan uraian kerja). mengikutkan seminar-seminar kesehatan) penghargaan. Istilah yang dikemukannya yaitu: “ACHIVE” .

ekonomi dan masalah-masalah praktis mempengaruhi kualitas posyandu dan partisipasi masyarakat. sarana pendukung merupakan kunci keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan. Menurut pendapat Widagdo (2006) yang merupakan satu-satunya faktor dari masyarakat yang masih mungkin dapat melakukan dorongan/motivasi secara berkesinambungan dalam pemberdayaan masyarakat adalah faktor tokoh masyarakat. perlu juga mencari bentuk penghargaan lain atas usaha dan prestasi untuk memperkuat sikap-sikap dan perilaku yang diberdayakan (Winardi. 2004). karena merupakan alat yang membuat penting dalam melaksanakan pekerjaan sehingga dapat memudahkan untuk bekerja dan pekerjaan lebih cepat serta meningkatkan efektifitas pekerjaan. dan dalam Universitas Sumatera Utara . 2005). karena rata-rata pendapatan masyarakat sangat rendah dan penting memberikan arti kehidupan baginya. faktor budaya. sosial. 2006). Pertama. Dengan memenuhi segala hal yang mereka perlukan dan keadaaan lingkungan yang memadai untuk menjamin keberhasilan dalam kegiatan (Dwiantara. sering menghadiri pertemuan-pertemuan. Selain ganjaran-ganjaran financial. Pelatihan dilakukan berdasarkan kebutuhan yang akan dicapai berdasarkan identifikasi kebutuhan yang sesungguhnya (Stewart. Keempat. pelatihan untuk membentuk seseorang menjadi mandiri tersebut meliputi kemandirian berfikir. Peranan pemimpin dan tokoh masyarakat akan sangat penting apabila mereka aktif untuk mendatangi masyarakat. Kedua. strategi pemberian insentif akan cukup termotivasikan oleh gaji atau upah yang memadai dan oleh rasa puas atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Ketiga. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.Untuk itu diperlukan strategi yang berkaitan dengan partisipasi kader antara lain.

2. Tokoh masyarakat seperti kepala desa selalu mengadakan peninjauan terhadap pelaksanaan kegiatan posyandu dan mengikuti kegiatan lain. 1987). namun di lain kesempatan kades tersebut telah baik kembali malah kader tersebut diberinya imbalan. misalnya suatu ketika kader berbuat kesalahan. maka masyarakat pun akan tertarik untuk ikut serta. maka kader tersebut mendapat teguran yang sangat keras. Penilaian Kinerja Kader Posyandu Penilaian terhadap kinerja merupakan suatu evaluasi proses terhadap penentuan dari berbagai nilai dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Kron. Apabila masyarakat melihat bahwa tokoh mereka yang disegani ikut serta dalam kegiatan tersebut. sehingga kader akan malu kalau tidak turut serta dan hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Melalatoa dan Swasono dalam penelitian Widagdo (2006) bahwa kades selalu memberi tugas kepada kader dalam pelaksanaan kegiatan posyandu yang dirasa oleh para kader sebagai suatu perhatian yang dapat merupakan dorongan bagi kader untuk selalu melakukan kegiatan posyandu. Jika kurang Universitas Sumatera Utara . Untuk kinerja kader posyandu. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan dalam penelitian Pramuwito (1998) bahwa kebiasaan kades untuk selalu mau memperbaiki hubungan dengan kader.setiap kesempatan selalu menjelaskan manfaat program program posyandu. Para pimpinan masyarakat ini aktif pula dalam mengajak warga masyarakat untuk mengelola kegiatan Posyandu. indikator penilaian kinerja kader telah disusun berdasarkan telaah kemandirian posyandu (TKP) dalam buku Pedoman ARRIF dikatakan bahwa frekuensi penyelenggaran posyandu ada 12 kali setiap tahun dan sedikitnya dikatakan posyandu cukup baik bila frekuensi 8 kali setiap tahun.4.

Menurut Timple terdapat dua kategori dasar atribusi yang bersifat internal atau disposisional dan yang bersifat eksternal atau situasional yang dapat mempengaruhi kinerja. Selain kehadiran kader penilaian kinerja kader juga dapat dilihat dari peran dan fungsi kader posyandu yang dijabarkan dalam kegiatan pelaksanaan posyandu seperti melaksanakan pencatatan dan pelaporan. Demikian juga keberadaan kader di posyandu. sistem. sasaran/kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Landasan Teori Menurut Timple (1992) bahwa kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan. target.5. merujuk bila ada masalah kesehatan pada balita dan ibu hamil dan lain sebagainya. tim dan situasional. 2. Kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya. sedangkan faktor eksternal (situasional) yaitu faktor- Universitas Sumatera Utara . Faktor internal (disposisional) yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang.. melakukan penimbangan balita. misalnya kinerja seseorang baik disebabkan karena kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras.dari angka tersebut dianggap posyandu tersebut masih rawan. membuat absensi kehadiran. melaksanakan penyuluhan kesehatan. Faktor-faktor tersebut terdiri atas faktor instrinsik individu atau SDM (Sumber Daya Manusia) dan ekstrinsik yaitu kepemimpinan. bila kader kurang aktif dinyatakan jika tidak hadir untuk bekerja di posyandu kurang dari 8 kali dalam satu tahun. seperti standar hasil kerja.

seperti perilaku. fasilitas kerja dan iklim organisasi. Jenis-jenis atribusi yang dibuat para karyawan memiliki sejumlah akibat psikologis dan berdasarkan kepada tindakan.1.faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Faktor internal dan faktor eksternal ini merupakan jenis-jenis atribusi yang mempengaruhi kinerja seseorang.6. 2. bawahan atau pimpinan. sikap dan tindakan-tindakan rekan kerja. Kerangka Konsep Penelitian Universitas Sumatera Utara . Kerangka Konsep Penelitian Variabel Independen Motivasi Intrinsik Minat Kemampuan Variabel Dependen Motivasi Ekstrinsik Fasilitas Pelatihan Pembinaan Insentif Penghargaan Dukungan masyarakat Kinerja Kader Posyandu Gambar 2.