P. 1
Filosofi Ilmu Pengetahuan Dan Etika Penelitian

Filosofi Ilmu Pengetahuan Dan Etika Penelitian

|Views: 157|Likes:

More info:

Published by: Filscha Osbourne Nurprihatin on Jan 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2015

pdf

text

original

Sections

  • AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMIAH
  • MASALAH BEBAS NILAI
  • TEKNOLOGI YANG TAK TERKENDALI
  • TANDA-TANDA YANG MENIMBULKAN HARAPAN
  • DIMENSI ETIS DAN DIMENSI PRAGMATIS
  • Oleh: Hasan Baharun, Mpi
  • MODEL LOGIKA
  • HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DAN PENELITIAN
  • Ontologi
  • Epistimolgi
  • Aksiologi
  • HUBUNGAN FILSAFAT ILMU, LOGIKA DAN PENELITIAN
  • PENELITIAN KUANTITATIF VS KUALITATIF
  • MENENTUKAN JENIS PENELITIAN KUANTITATIF ATAU
  • KUALITATIF
  • PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
  • MACAM-MACAM PARADIGMA PENELITIAN
  • PERBEDAAN PENDEKATAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN
  • DESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATATIF &
  • MACAM-MACAM DESAIN PENELITIAN
  • Strategi penelitian Desain penelitian
  • MENGGABUNGKAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
  • KARAKTERISTIK DISAIN KUALITATIF
  • TAHAPAN RISET KUALITATIF
  • DAFTAR PUSTAKA
  • WILHELM WUNDT, PERINTIS PENELITIAN PERCOBAAN
  • KARAKTERISTIK
  • HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN
  • JENIS
  • PENELITIAN LABORATORIUM
  • PENELITIAN LAPANGAN
  • TIPE-TIPE DESAIN
  • ETIKA

ETIKA ILMU PENGETAHUAN

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan ilmiah dan teknologi mengubah banyak sekali kehidupan manusia dan memunculkan masalah-masalah etis yang tidak pernah terduga sebelumnya. Masyarakat modern telah menjadi sebuah tempat di mana tak seorang pun bertanggung jawab untuk berbagai hasil percobaan teknologi. Ia bahkan berbicara tentang organized irresponsibility, yaitu suatu situasi ketika secara sistemik tidak seorang pun dapat bertanggung jawab atas bencana yang terjadi. Para politisi misalnya, menolak bertanggung jawab karena mereka tidak menghasilkan teknologi tersebut dan paling jauh hanya bertanggung jawab secara tidak langsung untuk

pengembangannya. Sementara para ilmuwan dan teknolog mengklaim bahwa tugas mereka semata-mata melaksanakan penelitian dan menciptakan

kemungkinan-kemungkinan teknologi baru. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab mengenai penerapan teknologi ciptaan mereka. Sementara para tokoh bisnis yang memasarkan teknologi menyatakan bahwa mereka tidak ikut menentukan apa yang terjadi dan tidak terjadi, maka pasar yang menjadi penentu dan konsumenlah yang mempunyai kata akhir mengenai apa yang dipilih. Apakah ini berarti seluruh beban jatuh ke pundak pengguna? Satu hal yang utama adalah bagaimana membawa lingkungan teknologis kembali ke wilayah tanggung jawab manusia, sebuah lingkungan tempat manusia bisa mengklaim kembali kebebasan individu, sekaligus menentukan tanggung jawabnya. Jika ribuan tahun lalu manusia berjuang membebaskan diri dari lingkungan alamiah lewat penemuan teknologi sederhana (api, bajak, dan lainlain), kini tantangan utama manusia modern adalah pembebasan dari lingkungan teknologis.

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMIAH Kemajuan yang dicapai berkat ilmu dan teknologi memiliki akibat positif dan juga banyak akibat negatif. Penggunaan teknologi tanpa batas akhirnya membahayakan kelangsungan hidup itu sendiri. Yang dibawa oleh teknologi

bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran, bahkan kehancuran, jika manusia tidak segera tahu membatasi diri. Sejak setelah Perang Dunia II, perkembangan dan penerapan teknologi senantiasa diikuti dengan dua pandangan yang saling bertentangan. Pandangan optimis menekankan keyakinan bahwa kita mampu mengontrol teknologi yang dihasilkan. Kitalah yang memberikan nilai-nilai di dalam menentukan teknologi apa yang akan dipergunakan, dan bagaimana. Teknologi ibarat alat pasif yang dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Visi optimistik ini menjadi bagian dominan dari kebudayaan teknologis-kapitalis, yang nyata sekali di dalam setiap iklan-iklan pemasaran barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar problem kehidupan manusia sehari-hari seakan-akan bisa diselesaikan lewat teknologi. Visi ini memang memahami bahwa teknologi mengandung bukan hanya konteks material yang dapat ditransfer begitu saja dari satu masyarakat ke masyarakat, dari satu kebudayaan ke kebudayaan, melainkan juga mengandung konteks sosio-kultural. Namun, dampak sosio-kultural muncul sebagai akibat pemakaian dan pengembangan tak bertanggung jawab. Manusia didefinisikan sebagai Homo Faber, yaitu pembuat dan pemakai alat, atau Homo Sapiens, yaitu si bijak atau si pemikir, dan terakhir Homo Symbolicum, yaitu si pencipta dan pengguna simbol. Apapun definisi manusia itu, semuanya menunjukkan sentralitas pengetahuan dan teknologi di dalam kegiatan manusia. Laju perkembangan teknologi demikian pesat sehingga melahirkan bukan hanya kemudahan tetapi juga berbagai masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kecanggihan teknologi informasi telah memungkinkan bentuk-bentuk komunikasi yang secara virtual mengecilkan dunia, tetapi itupun tidak tanpa diikuti oleh problem etis. Teknologi (modern) dapat menimbulkan kerugian tanpa satu orang dapat ditunjuk melakukan kesalahan. Bahkan ketika ketelitian, kecermatan, sudah dijalankan, bencana besar atau kecil bisa saja berlangsung. Pandangan optimis terhadap teknologi cenderung menaruh beban tanggung jawab di pundak pengguna, sementara yang berpandangan pesimis cenderung mengecilkan beban tanggung jawab tersebut. Seringkali bahkan pengguna individu di sebuah wilayah,

khususnya negara berkembang, dihadapkan pada tiadanya pilihan sama sekali, atau pilihan dan tindakan sebagai pengguna individu di wilayah tertentu tidak berpengaruh sama sekali terhadap sistem teknologi yang demikian sinambung dan perpetual, yang ditentukan oleh pengguna lain di negara-negara maju. Kemajuan teknologi seringkali justru membuat kita melakukan hal-hal bodoh dengan cara yang cerdik. Menghadapi situasi ini, satu-satunya sikap kritis yang pada akhirnya tetap harus dipertahankan adalah bahwa sangat tidak realistik untuk berpikir bahwa teknologi, di dalam menawarkan solusi terhadap situasi problematik, betapapun maju dan canggihnya teknologi tersebut, tidak mempunyai efek samping, yang akan menimbulkan masalah baru. Di lain pihak, kita juga tidak bisa meremehkan ketergantungan kita ke teknologi modern. Sikap utama yang harus dibentuk di dalam adalah kesadaran bahwa teknologi tetap harus terikat ke aspirasi kita sebagai umat manusia, dengan impian dan cita-cita akan masa depan yang lebih baik di dalam kebudayaan teknologi. Sebuah imperatif yang harus dipegang adalah, tidak pernah seorang manusia pun boleh dijadikan tujuan di luar dirinya sendiri.

MASALAH BEBAS NILAI Pada saat-saat tertentu dalam perkembangannya ilmu dan teknologi bertemu dengan moral. Nilai moral yang utama adalah: apakah ilmu itu bebas nilai. Ternyata penelitian ilmiah yang amat terspesialisasi menjadi usaha yang semakin mahal, sehingga ketersediaan dana yang besar sangat dibutuhkan. Yang membiayai penelitian ilmiah tentu sudah mempunyai maksud dan harapan tertentu. Sehingga pada zaman ini perkembangan ilmu dan teknologi hampir tidak dapat dipisahkan lagi dari kepentingan bisinis dan politik/militer. Ilmu pada dirinya sendiri tidak langsung berhubungan dengan nilai-nilai moral. Masalahnya tujuan ilmu sekarang ini bukan lagi sekedar menjawab bagaimana-mengapa, atau semata memenuhi semangat ingin tahu. Ilmuwan pun tak bisa lagi naif mengumandangkan, 'kami hanya mencari kebenaran'. Mereka dengan rendah hati harus mengakui, di balik karya yang menampilkan daya agung memahami alam, tersembunyi tangan kuat ekonomi,

politik, atau militer. Ilmuwan tak dapat berkarya tanpa dana untuk penelitian mereka yang mahal. Einstein pernah berkata, 'ilmuwan adalah orang yang secara ekonomi paling tidak bebas'; sukses Wilmut didukung Pharmaceutical Proteins Ltd. yang mengharap penerapan komersialnya. Ilmu menjawab mengapa, tetapi ilmu dan terutama teknologi, terikat pada konteks. Ketika dimensi pragmatik memasuki wilayah ilmu, yang mungkin terjadi adalah pencampuran asas kebenaran dengan manfaat. Ketika itulah muncul pertanyaan, untuk siapa? Sering untuk siapa melegitimasi proyek keilmuan yang ujungnya kepentingan politik atau militer. Tak terbayangkan kalau manusia klon terlaksana atas nama untuk siapa yang eksklusif.

TEKNOLOGI YANG TAK TERKENDALI Saat ini banyak sekali dana, tenaga dan perhatian dikerahkan untuk menguasai daya-daya alam melalui ilmu dan teknologi namun hanya sedikit yang dilakukan untuk mereflekfsikan serta mengembangkan kualitas etis dari usahausaha raksasa itu. Implisit di belakang pandangan ini adalah bahwa pengembangan dan pemakaian teknologi harus diikuti dengan kontrol terhadap siapa-nya. Contohnya adalah di dalam pemakaian energi nuklir. Weinberg mengamati bahwa pengembangan teknologi nuklir untuk kepentingan militer menciptakan kelompok-kelompok yang menentukan negara mana yang boleh dan tidak boleh mengembangkan teknologi ini. Sebuah paranoia sosial tumbuh bersama munculnya kelompok-kelompok pemilik dan penjaga keahlian senjata nuklir. Pengontrolan terhadap teknologi memunculkan pengontrolan terhadap semua orang yang dinilai tidak memiliki nilai-nilai dan tujuan yang sama. Contoh sederhana terlihat dari pengamatan terhadap lingkungan kerja yang memperlihatkan bagaimana teknologi komputer meningkatkan kontrol manajerial terhadap pekerja, baik di kantor maupun industri. Tampilan kerja (kecepatan, efisiensi, kesalahan, ketidakcermatan, dan lain-lain) dapat dimonitor terus menerus, dan tercatat dengan rinci. Efisiensi meningkat, namun kontrol terhadap sesama manusia diperketat dan seringkali menghilangkan sentuhan manusiawi.

Persoalan memang, ketika problem bersifat manusiawi juga diselesaikan lewat pendekatan teknologis. Ideal masyarakat bebas dan terbuka yang dicita-citakan melalui pengembangan teknologi, justru menjadi kebalikannya. Dengan landasan inilah kritik teknologi hendak menunjukkan

ketidakberdayaan kita berhadapan dengan teknologi yang ironisnya adalah buah pikir kita sendiri. Teknologi boleh jadi adalah hasil manusia, namun perkembangannya telah menjadi demikian otonom melampaui kemampuan manusia individu atau kolektif, untuk mengontrolnya. Teknologi modern berperilaku seperti sebuah ekosistem. Campur tangan di satu titik akan memunculkan konsekuensi di bagian lain.

TANDA-TANDA YANG MENIMBULKAN HARAPAN Kondisi yang ideal adalah pemikiran etis mendahului dan mengarahkan perkembangan ilmiah-teknologi. Walaupun sulit untuk dilakukan namun sudah banyak munculnya komisi-komisi etika. Sudah dimulai keikutsertaan etika dalam penelitian-penelitian ilmiah, misalnya dalam Komisi Bioetika Nasional. Pemerintah Indonesia membentuk Komisi Bioetika Nasional (KBN) pada tanggal 12 Oktober 2004 yang terdiri atas 33 anggota berkantor di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. Para anggotanya adalah ahli di bidang kedokteran, biologi dan ilmu-ilmu hayati lain, hukum, etika, teologi, agama, ilmu sosial, dan lain-lain. KBN dibentuk berdasarkan surat keputusan bersama tiga menteri: Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Kesehatan, dan Menteri Pertanian. Dalam surat keputusan bersama ini KBN diberi tiga tugas. Pertama, memajukan telaah masalah yang terkait dengan prinsip-prinsip bioetika. Kedua, memberi pertimbangan kepada pemerintah mengenai aspek bioetika dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada ilmu-ilmu hayati. Ketiga, menyebarluaskan pemahaman umum mengenai bioetika. Dengan demikian, Indonesia bergabung dengan negara-negara yang sudah memiliki sebuah komisi bioetika. Sudah sejak dasawarsa 1970-an hampir setiap presiden Amerika Serikat membentuk komisi macam itu walaupun istilah bioetika

kita boleh mengambil organ-organnya untuk ditransplantasi pada pasien lain yang . jika pasien hanya bernapas dengan bantuan mesin. yaitu mati otak: manusia adalah mati jika seluruh otaknya mati atau tidak memiliki aktivitas lagi. Namun. Di samping itu komisi-komisi diharapkan akan memajukan serta menyosialisasikan pemikiran bioetika dalam masyarakat dan menjalin hubungan dengan forum-forum internasional di bidang yang sama. K. Presiden George W Bush dalam periode pertama pemerintahannya membentuk The President’s Council on Bioethics (2001).baru dipakai di dalam nama komisi-komisi terakhir. Permasalahan ini agak cepat mengakibatkan munculnya pengertian baru tentang kematian. Bila mesin dihentikan. ada juga negara yang menganggap tidak perlu membentuk komisi bioetika khusus karena sudah memiliki organ-organ lain yang memungkinkan tujuan dimaksudkan tercapai. Presiden Bill Clinton mendirikan National Bioethics Advisory Commission (1995). Di Eropa banyak negara memiliki suatu komisi bioetika. Namun. pasien langsung meninggal karena ia tidak lagi bisa bernapas secara spontan. Dengan teknologi baru ini dimungkinkan bahwa fungsi pernapasan dan peredaran darah diambil alih oleh mesin. apakah dapat dikatakan bahwa ia masih "hidup" dalam arti yang sebenarnya? Perbatasan antara hidup dan mati menjadi kacau. mulai dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Bertens dalam tulisannya Bioetika dan Globalisasinya menerangkan bahwa bioetika adalah refleksi etis atas pertanyaan-pertanyaan baru yang ditimbulkan oleh life sciences dan teknologi biomedis sejak kira-kira pertengahan abad ke-20. Kalau pasien dengan kondisi itu sudah sungguh mati otak. Sebagai contoh problem-problem baru yang muncul berhubungan dengan pengembangan Intensive Care Unit (ICU) yang memakai alat-alat canggih seperti respirator. Tujuan komisi-komisi macam itu adalah menjadi think tank untuk pemerintah di bidang ilmu dan teknologi biomedis serta pelayanan kesehatan dalam arti yang paling luas dan dalam hal itu terutama menyoroti aspek-aspek etisnya. Perkembangan yang begitu cepat dan kadang-kadang sungguh revolusioner mengundang kalangan ilmiah untuk juga memikirkan implikasiimplikasi etisnya.

yang mungkin terjadi adalah pencampuran asas kebenaran dengan manfaat. kalau perguruan tinggi giat mengembangkan ilmu-ilmu biomedis. sebaliknya. umpamanya. Karena itu. bioetika dapat dipandang sebagai perluasan etika kedokteran yang tradisional. Di Indonesia sudah tidak dapat dihindarkan. bioetika dalam arti akademis belum mendapat banyak perhatian.membutuhkan. terikat pada konteks. kita bertemu dengan bioetika di bidang praktis. Ilmuwan pun tak bisa lagi naif mengumandangkan. tetapi dalam perspektif baru yang tidak dibayangkan sebelumnya. melainkan juga karena ditandai ciri-ciri baru yang akan dibahas lagi lebih lanjut. kita menyiksa pasien terminal dengan memakai terus alat-alat bantu hidup itu. Ketika dimensi pragmatik memasuki wilayah ilmu. atau semata memenuhi semangat ingin tahu. Namun. tetapi ilmu dan terutama teknologi. pemakaian alat bantu hidup dalam ICU menimbulkan banyak masalah etis baru lagi. DIMENSI ETIS DAN DIMENSI PRAGMATIS Ilmu pada dirinya sendiri tidak langsung berhubungan dengan nilai-nilai moral. kalau kita menghentikan alat bantu hidup seperti respirator. Meski demikian. 'kami hanya mencari kebenaran'. sedang pasien sudah tidak dapat disembuhkan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan ini memang menyangkut hubungan dokterpasien. Masalahnya tujuan ilmu sekarang ini bukan lagi sekedar menjawab bagaimana-mengapa. Peranan praktis bioetika tentu akan lebih berbobot kalau didukung oleh peranan akademis yang kuat. tapi di lain pihak ada juga perspektif baru. Ketika itulah muncul pertanyaan. untuk siapa? Sering untuk siapa melegitimasi proyek keilmuan yang ujungnya . Mempelajari aspek-aspek ini secara serius. apakah kita tidak membunuh pasien? Atau. kita tidak boleh menutup mata untuk aspekaspek etisnya. Selain mengubah definisi kematian itu sendiri. Ilmu menjawab mengapa. bukan saja karena menyoroti masalah-masalah baru. Dengan demikian. Demikian memang prosedurnya dalam transplantasi jantung. Misalnya. di satu pihak ada kesinambungan dengan tradisi etika kedokteran sejak zaman Hippokrates. dengan sendirinya berarti terjun dalam bioetika.

Pertanyaannya. dan prosedur atau orientasi terhadap solusi yang mungkin sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. yaitu sebagai elemen di dalam sebuah sistem komprehensif. menyangkut metode. Sistem itu sendiri mengandung di dalamnya nilai-nilai dan seluruh paradigma yang ditentukan oleh kepentingan mereka yang paling menguasai jaringan secara komprehensif. metode keilmuan dicampuri. Namun putusan obyektif yang tidak emosional memerlukan ilmuwan yang bersedia memberi informasi sebenarnya. Tak terbayangkan kalau manusia klon terlaksana atas nama untuk siapa yang eksklusif. adakah masyarakat didengar? Dunia memerlukan kemauan keras bersama yang memungkinkan secara kongkret diputuskan. apakah gambaran tentang manusia yang secara moral mempunyai tanggung jawab otonom sudah selesai karena ia melepas tanggung jawab sebagai bagian dari sistem kolektif terintegrasi. kebutuhan. Khususnya dalam memilah dan mengenali situasi problematik. pengembangan dan perubahan teknologi tidak lepas dari kegiatan saling berhubungan yang melibatkan prosedur pengambilan keputusan dan evaluasi. Namun. baru setelah itu ditentukanlah sarana. kekhawatiran atas dampak etis tidak mengizinkan atas nama apapun. Jika ditinjau. demi kemanusiaan itu sendiri. Manusia dan benda-benda masuk ke dalam sistem terintegrasi dan mempunyai fungsi yang sama. karena itulah saat ilmu berjumpa nilainilai moral. Masyarakat berhak khawatir dan ikut memutuskan ketika temuan keilmuan dicantumkan dalam penerapan. Pengenalan ini menyangkut keyakinan sekelompok orang bahwa saat yang tepat telah tiba untuk menyelesaikan situasi problematik tersebut. Norma tindakan manusia diasalkan ke pertimbangan rasional infrastruktur kolektif. ilmu adalah otonom. Bagaimanapun. dan dengan begitu memberikan sepenuhnya kontrol moral dan pemanduannya ke sistem itu? Sistem etika yang berkembang menjadi etika adaptasi.kepentingan politik atau militer. tujuan. dan kepentingan yang berkaitan dengan sifat solusi yang diterima. . metode. di mana adaptif terhadap lingkungan menjadi keseluruhan dasar pertimbangan. batas yang masih dan tidak boleh dilampaui. Selanjutnya ada harapan.

Dari sini dapat diketahui bahwa tugas logika adalah memberikan penerangan bagaimana orang seharusnya .HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN LOGIKA Oleh: Hasan Baharun. aturan-aturan atau kaidah-kaidah tentang berpikir yang harus ditaati supaya kita dapat berpikir tepat dan mencapai kebenaran. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa. Logika adalah ilmu yang merumuskan tentang hukum-hukum. asas-asas. Dengan demikian filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang mengkaji dasar dan hakekat ilmu untuk mencapai kebenaran dan kenyataan yang tidak akan habis difikirkan dan tidak selesai diterangkan. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa. sifat dan fungsinya bagi kehidupan manusia. etika dan kesusilaan. Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan menurut the Liang Gie. filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. dari kata sifat logike yang berhubungan dengan kata benda logos yang berarti 'perkataan' atau 'kata' sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Mpi Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran mengenai apa dan bagaimana pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta landasan. Atau dapat pula didefinisikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas akal atau rasio manusia dipandang dari segi benar atau salah. Filsafat ilmu memberikan kerangka dasar dalam berolah ilmu agar proses dan produk keilmuan yang dihasilkan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah moral. Logika berasal dari bahasa Yunani.

Mulai abad ini ditemukan sistem baru. menganalisis. Cara pertama disebut berfikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum. Hal inilah yang merupakan inti daripada logika Proses berfikir yang ada pada diri manusia adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin dengan manifestasinya adalah mempertimbangkan merenungkan. yakni cara berfikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. tetapi masih mengikuti sistem logika Aristoteles. Cara berfikir induktif dipergunakan dalam logika material. yang mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan. maka dapat diketahui bahwa. membuktikan sesuatu. menunjukan alasan-alasan. . Apabila logika tersebut dilihat dari obyeknya akan dikenal sebagai logika formal dan logika material. dan obyek forma logika adalah mencari jawaban tentang bagaimana manusia dapat berpikir dengan semestinya. membahas secara realitas dan sebagainya. Dari definisi tersebut di atas. Logika tradisional adalah logika Aristiteles. menggolong-golongkan. logika materia disebut logika mayor. dilihat dari metodenya dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern.berpikir. Ia menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris. mencari kausalitasnya. dan logika dari logika logikus yang lebih kemudian. membanding-bandingkan. Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda. rumusrumus. Cabang logika formal disebut juga logika minor. Logika modern tumbuh dan dimulai pada abad VIII. Para logikus sesudah Aristoteles tidak membuat perubahan atau mencipta sistem baru dalam logika kecuali hanya membuat komentar yang menjadikan logika Aristoteles lebih elegan dengan sekedar mengadakan perbaikan-perbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari logika Aristoteles. patokan-patokan berfikir benar. metode baru yang berlain dengan sistem logika Aristoteles. meneliti sesuatu jalan fikiran. menarik kesimpulan.

dan bahwa dua kenyataan yang bertetangan tidaklah sama. menarik kesimpulan. Di dalam aktivitas berpikir itulah ditunjukkan dalam logika wawasan berpikir yang tepat atau ketepatan pemikrian/kebenaran berpikir yang sesuai dengan penggarisan logika yang disebut berpikir logis. mecari kausalitasnya. Kemampuan berlogika naturalis pada tiap-tiap orang berbeda-beda tergantung dari tingkatan pengetahuannnya. logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan tergantung dari mana kita meninjaunya. 3. Dilihat dari segi kualitasnya. manunjukkan alasan-alasan. meskipun barangkali mereka belum pernah membuka buku logika sekalipun. membuktikan sesuatu. merenungkan. yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akan bawaan manusia. meneliti suatu jalam pikiran. Alasan-alasan yang dikemukakan haruslah tepat dan kuat. ada 3 (tiga) syarat pokok yang harus dipenuhi: 1.Dengan berpikir. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai dengan hukum-hukum logika dasar. 2. logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis. Tetapi dalam menghadapi yang rumit dan dalam berfikir manusia banyak dipengaruhi oleh kecenderungan pribadi. Jalan pikiran haruslah logis. valid dan sahih. Pemikiran haruslah berpangkal pada kenyataan atau kebenaran. menggolong-golongkan. Agar supaya pemikiran dan penalaran kita dapat berdaya guna dengan membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang benar. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain. Berkaitan dengan hal tersebut. disamping bahwa pengetahuan . merupakan suatu bentuk kegiatan akal atau rasio manusia dengan mana pengetahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. menganalisis. membahas secara realitas dan lain-lain. Kita dapati para ahli pidato politikus dan mereka yang terbiasa bertukar pikiran dapat mengutarakan jalan pikiran dengan logis. membanding-bandingkan. Aktivitas berpikir adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin dengan manifestasinya yaitu mempertimbangkan.

Untuk mengatasi kenyataan yang tidak dapat ditanggulangi oleh logika naturalis. Dilihat dari segi kualitasnya. Dari hal tersebut di atas. Dengan kata lain hubungan filsafat ilmu dengan logika adalah filsafat ilmu sebagai tolak ukur atau alat penilaian dari proses menggunakan rasio. yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akan bawaan manusia. kaum sofis Skortes dan Plato harus dicatat sebagai perintis lahirnya logika. istilah logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan tergantung dari mana kita meninjuanya. tetapi masih mengikuti sistem logika Aristoteles. moral dan kesusilaan. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai dengan hukum-hukum logika dasar. MODEL LOGIKA Secara historis. filsafat ilmu sebagai penopang dalam kerangka menggunakan rasio guna berpikir agar suapaya tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah etika. Theoprotus dan kaum Stoa. efisien. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles. mudah dan aman sehingga tercapai tujuan dari apa yang diinginkan. Logika ini disebut logika artifisialis atau logika ilmiah yang bertugas membantu logika naturalis. manusia menyusun hukum-hukum. mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti. Dalam perjalanannya. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain. dan logika dari logika logikus yang lebih kemudian. rumus-rumus berfikir lurus. patokan-patokan. dapat diketahui bahwa logika adalah salah satu cabang atau bagian dari filsafat ilmu yang mempelajari tentang aktivitas akal atau rasio manusia dipandang dari segi benar atau salah. Sedangkan apabila dilihat dari metodenya dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern.manusia terbatas mengakibatkan tidak mungkin terhindar dari kesalahan. Logika ini memperluas. dan bahwa dua kenyataan yang bertentangan tidaklah sama. Atau dengan kata lain. Logika tradisional adalah logika Aristoteles. istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium. logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis. Para logikus sesudah Aristoteles tidak membuat perubahan .

Jika dilihat dari obyeknya dikenal sebagai logika formal dan logika material. rumus-rumus. Sebuah syllogisme terdiri atas 3 (tiga) buah proposisi. Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang berlawanan dengan penalaran induktif. menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Logika formil Aristoteles dikenal dengan nama syllogisme. Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda. Cara pertama disebut berfikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum. Disamping logika tersebut ada pula logika deduktif yaitu bertolak dari asumsi umum (teori) menuju ke pembuktian secara khusus (fakta empiris). yaitu dua buah proposisi yang diberikan atau disajikan dan sebuha proposisi yang ditarik dari kedua proposisi yang disajikan itu. yakni cara berfikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. Deduksi adalah penalaran atau cara berpikir yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Jadi syllogisme hanya mempersoalkan 'kebenaran formal' (kebenaran bentuk) tanpa mempersoalkan 'kebenaran material' (kebenaran isi). . Ini berarti bahwa konklusi memang sudah didasari oleh kondisi kebenaran. patokanpatokan berfikir benar. Yang penting kita ketahui dari syllogisme dan bentukbentuk inferensi atau penalaran deduktif yang lain adalah bahwa masalah-masalah kebenaran dan ketidakbenaran pada premis-premis yang selalu diambil adalah yang benar. Proposisi yang disajikan disebut 'premis mayor' dan 'premis minor' dan kesimpulan yang ditarik disebut 'konklusi'. Syllogisme tersusun dari dua buah pernyataan (premise) dan sebuah kesimpulan (konklusi). Syllogisme adalah suatu bentuk penarikan kesimpulan atau konklusi secara deduktif dan tidak langsung yang kesimpulan atau konklusinya ditarik dari dua buah premis yang disediakan sekaligus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya memakai pola berpikir yang disebut syllogisme.atau mencipta sistem baru dalam logika kecuali hanya membuat komentar yang menjadikan logika Aristoteles lebih elegan dengan sekedar mengadaka perbaikanperbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari logika Aristoteles.

Penalaran ini diawali dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi dan diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DAN PENELITIAN Dalam kaitannya dengan hubungan filsafat ilmu dan penelitian. Induktif atau logika induktif adalah penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata (khusus) menjadi kesimpulan yang bersifat umum. epistimologi dan aksiologi dikaitkan dengan logika yang digunakan untuk pembuktian. etik dan transcendental/metafisik. terdapat tiga komponen dasar yang erat kaitannya dengan penelitian yaitu: ontologi. bahkan merupakan dasar daripada metode ilmiah. epistimologi. memunculkan logika penomenologik. sangat tergantung pada fenomena yang dijadikan sasaran risetnya.Logika induktif yaitu berdasarkan fenomena khusus (fakta empiris). rinci. Induksi sangat erat hubungannya dengan metode ilmiah (scientific method). memunculkan jenis penelitian kuantitatif. Ontologi membahas tetantang yang ada yang tidak . Ontologi Sebagai komponen dasar filsafat. Istilah ontologi ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Studi tentang yang ada pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. memunculkan jenis penelitian kualitatif. Logika phenomenologik menghendaki perancanaan riset yang longgar dan luwes. empirisme dan rasionalisme/rasionalisme menghendaki kebenaran empiric logic. dan aksiologi. sebab data yang dicari tidak pasti. Pada logika positivistic menghendaki perencanaan riset yang rigor/ketat. baik mengenai kenyataan. kebenaran dan tingkat kepastian. Dalam pembahasan ontologi. ontologi memiliki obyek telaah yaitu yang ada. menuju kekesimpulan secara umum (teori yang berlaku umum). terkontrol dan penetapan data yang konkrit yang teramati. dapat dikelompokkan menjadi dua aliran filsafat ilmu yaitu. terukur.

Epistimologi atau teori pengetahuan. telaahnya akan menjadi telaah monisme. Bagi pendekatan kuantitaif. Bagi pendekatan kualitatif. berarti teori pengetahuan. realita tampil dalam kuantitas atau jumlah. Sedangkan yang merupakan obyek formal ontologi adalah hakekat seluruh realitas. membahas secara menadalam segenap proses yang terlihat alam usaha kita untuk memperoleh pengetauan. Epistimologi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu epistimologi subyektif dan epistimologi pragmatik. Epistimolgi Istilah epistimologi berasal dari kata episteme yang bebarti pengetahuan dan logos yang berarti pengetahuan. Ontologi membahas yang ada yang universal. yaitu: abstraksi fisik. metode. Sejarah mengatakan bahwa tokoh epistimologi prakmatig adalah Wiliams Jams dan juga John Dewey yang menyarankan agar pencarian pada yang kekal . Bagaimana tata cara memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan ini dipengaruhi oleh ontologi yang dipilihnya. susunan. Jadi epistimologi merupakan cabang atau bagian dari filsafat yang membahas maslaah-masalah pengetahuan. abstraksi bentuk dan abstraksi metafisik. dan logos yang berarti teori.terikat oleh satu perwujudan tertentu. Sebagai komponen dasar selanjutnya adalah epistimologi yaitu pembahasan tentang bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan. menampilkan pemikiran semesta universal. paralenisme. Epistimologi subyektif memberikan implikasi pada standar rasional tentang hal yang duyakini. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. Epistimologi merupakan cabang filsafat yang mempersoalakan atau menyelidiki tentang asal. atau pluralisme. naturalisme atau hylomorphisme. serta kebenaran pengetahuan. Menggunakan standar rasional bearti bahwa sesuatu yang diyakini sebagai benar itu tentunya memiliki sifat reliabel (ajek). Dalam hal ini ada tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. idialisme. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalaui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Secara etimologis.

yang merupakan esensi dari keilmuan itu sendiri. Hal ini merupakan bukti bahwa ontology merupakan bagian penting dari filsafat. Dalam perjalanan keilmuan yang terjadi pada masa dahulu.hendaknya diganti dengan pencermatan realistik mengkritik ide palsu. yang sakral. seperti yang suci. value sensual. sampelnya itu. belum menjangkau kebenaran substantif hakiki. Kedua. Ketiga. diganti dengan pencermatan eksperimental dan empirik. dalam tampilan seperti menyenangkan dan tak menyenangkan. Keempat nilai religius. menggunakan means mencari ins untuk selanjutnya menjadi means. Pertama. Aksiologi Komponen dasar selanjutnya dalam filsafat adalah aksiologi yaitu pembahasan tentang bentuk ilmu yang dihasilkan dari penelitian. nilai kejiwaan seperti nilai estetis. dan nilai instrinsik ilmu. Dengan demikian kebenaran yang diperoleh dengan cara kerja demikian adalah kebenaran epistimologik. Menurut Scheler ada empat jenis values dalam aksiologi. desainnya demikian dan seterusnya. Dari telaah yang dilakukan oleh Scheler tentang etik kontras dengan Kant. sedangkan Scheller memandang bahwa kemestian itu sesuatu yang dibuat-buat. Ontologi yang memahami sesuatu itu tunggal penelitiannya jenis kuantitatif. Inipun dipengaruhi oleh ontologi yang digunakan. Ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang dengan metodologi yang kita kenal sekarang ini lebih banyak menjangkau kebenaran epistimologik. . maka ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai (value). nilai benar salah. membuktikan bahwa ilmuwan terdahulu menampilkan tesis dan teori yang secara berkelanjutan disanggah atau dimodifikasi atau diperkaya oleh ilmuwan berikutnya. Kebenarankebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang bersifat kondisional sejauh medianya demikian. nilai hidup seperti edel (agung) atau gemein (bersahaja). Kant berbicara sollen (kemestian).

Berfikir positivistik adalah bersifat spesifik berpikir tentang empiris yang teramati. menurut Muhadjir (2000)–yang guru besar filsafat ilmu dan metode penelitian–tidak mempertentangkan antara logika induktif atau . metafisika. Filsafat ilmu yang membahas tentang ontologi. Positivisme. baik mengenai kenyataan. sarana yang dapat dilakukan untuk melakukan kajian ilmiah ialah: pengamatan. yakni: jenjang teologi. dapat diketahui bahwa antara filsafat ilmu. Sumber kebenaran semata-mata berasal dari realitas empiris-sensual. dan metode historis. dan bahwa kajian harus mengarah kepada kepastian dan kecermatan. yang teratur. LOGIKA DAN PENELITIAN Dari kajian tentang filsafat ilmu. Sunarto (1993) menjelaskan. kebenaran dan tingkat kepastian. Bertolak dari hukum-hukum ilmiah. dan positivis.HUBUNGAN FILSAFAT ILMU. logika dan penelitian memiliki hubungan yang sinergi. pada jenjang kedua mengacu kepada kekuatankekuatan metafisik. dan dapat dieliminasi serta dimanupulasikan dari satuan besarnya. dapat dikelompokkan menjadi dua aliran filsafat ilmu yaitu empirisme dan rasionalisme atau realisme yang merupakan aliran yang berbeda. Dalam filsafat rasionalisme atau realisme lebih menekankan pada cara berfikir positivistik paradigma kuantitatif. Menurut Comte. epistimologi dan aksiologi dikaitkan dengan logika yang digunakan untuk pembuktian. positivisme menekankan bahwa obyek yang dikaji harus berupa fakta. demikian pandangan positivisme. logika dan penelitian. Manusia pada jenjang pertama mengacu kepada hal-hal yang bersifat adikodrati. Hal ini tercermin dari cara manusia menjelaskan berbagai gejala sosial ekonomi. August Comte yang dianggap sebagai peletak dasar positivisme memperkenalkan “hukum tiga jenjang” perkembangan intelektual manusia. Positivisme tidak mengakui–atau setidaknya menganggap rendah-hal-hal yang di luar empiris-sensual manusia. eksperimen. dan pada jenjang ketiga mengacu pada deskripsi dan hukumhukum ilmiah. Penelitian dalam konteks ini dapat dipahami sebagai proses epistemologis untuk mencapai kebenaran. Penelitian berusaha untuk mencapai kebenaran atau menemukan teori-teori ilmiah. perbandingan.

Karena itu. pemahaman intelektual dan kemampuan argumentatif perlu didukung data empirik yang relevan. peninggalan sejarah masa lampau. Berbeda dengan aliran empirik logik yang pada akhirnya memunculkan logika phenomologik. yang diharapkan dapat memberikan inferensi. agar produk ilmu yang berlandaskan rasionalisme betul-betul ilmu. Dalam aliran positivistik logik sangat menolak terhadap etik transendental yang berada di kawasan metafisik. 2000: 81-2). dan empirik etik. yang penting bagi rasionalisme ialah ketajaman dalam pemaknaan empiri. Muhadjir (2000) menegaskan. empirik teoritik. Apakah sesuatu dideskripsikan sebagai benar dalam menggunakan proposisi atau bentuk lain. Realisme metafisik Popper berangkat dari filsafat positivistik analitik. Para penganut neo-kantian dikenal sebagai epistimologi positivistik yang menolak segala bentuk etik transenden. melainkan lebih menekankan fakta empiris yang menjadi sumber teori dan penemuan ilmiah. melainkan ada empirik logik. Bertemu dengan filsafat phenomologi Hussert antara lain pada pengakuan tentang kebenaran obyektif universal. mencari sifat generatif. rasionalisme mengakui realitas empirik teoritik dan empiris logik (Muhadjir. Yang obyektif universal tersebut menurut Hussert dan juga .deduktif. semuanya merupakan realitas tetapi tidak mudah dihayati secara sensual melainkan dapat dihayati secara teoritik. Salah satu prinsip utama dalam positivisme adalah penerapan prinsip variabilitas terhadap sesuatu sebagai benar. Bagi rasionalisme fakta empirik bukan hanya yang sensual. mencari kesimpulan idiografik. memprediksikan untuk kasus lain. Dalam berfikir dalam phenomologi antrophologi mengarah kearah mencari esensi. Sesuatu deskripsi yang benar mungkin sekali dikembangkan menjadi hukum. bukan fiksi. rasionalisme menekankan bahwa ilmu berasal dari pemahaman intelektual yang dibangun atas kemampuan argumentasi secara logik. perlu diverifikasi benar salahnya. dan jarak sekian tahun juta cahaya. Berbeda dengan positivisme. Karena itu. Misalnya: ruang angkasa. dan filsafat yang memberikan landasan adalah phenomologi Hussert. atau kasus mendatang.

dimana generalisasi tersebut dikonstruksikan dari strata keragaman individual. yang empirik sensual. Pembuktiannya sebatas pada kasus. kausalitas. bahwa sesuatu itu benar bila ada ke sesuaian antara pernyataan verbal dengan realita empiric (empiric sensual). Keempat. dengan istilah pengukuran yang bersifat normative. metodologi kuantitatif menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikasikan obyeknya secara eksplisit dieliminasikan dari obyekobyek lain yang tidak teliti. Menurut Noeng Muhajir tentang penelitian kuantitatif yaitu: pertama. yaitu dengan menentukan formula statistik dan kuesioner. Kedua jenis ini akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Teori kebenarannya adalah teori korespondensi. PENELITIAN KUANTITATIF VS KUALITATIF Dalam penelitian. Kebenaran dicari lewat hubungan kausal linier sebab akibat. yakni ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya. pola pikir kuantitatif adalah mengejar yang teratur yang teramati. Tujuan dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan positivisme adalah untuk menyusun ilmu nomotheuk. kelima. metodologi kuantitatif mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata pikir logika. yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. menggunakan logika matematis dan membuat generalisasi. filsafat mengembangkan metodologi atas dasar logika induktif.Popper merupakan suatu abstraksi yang tidak dapat dibuktikan. intervalisasi dan kontinuasi. interaksi. artinya bahwa ilmu bergerak dari fakta khusus fenomena ke generalisasi teoretik. penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme. Dalam penelitan kuantitatif diasosiasikan. terdapat dua hal yang berbeda. Ketiga. Penelitian kuantitatif. . Kedua. korelasi.

setidaknya semakin menipis. Lexsy Moleong mengemukakan berbagai ciri dalam pendekatan penelitian kualitatif ini. Penelitian kualitatif. Demikian halnya perbedaan antara paradigma ilmiah dengan paradigma alamiah menjadi hilang. menurut Kirk dan Miller adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. dan obyektivitas. Dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini cenderung menggunakan pendekatan interpretive. realibilitas. Perbedaan antara kualitatif dengan kuantitatif menjadi tidak nampak. rancangan penelitiannya bersifat sementara dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua . membatasi studi dengan fokus. bahwa penelitian kualitatif itu berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan. sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar. bersifat deskriptif. manusia sebagai alat (instrument). MENENTUKAN KUALITATIF JENIS PENELITIAN KUANTITATIF ATAU Setelah diadakan pembedaan secara konseptual antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. kepala kualitatif mendefinisikan validitas.2. desain bersifat sementara dan lain-lain. memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data. Karena itu. Adapun jenis penelitian kualitatif tidak menggunakan statistik atau pengukuran angka. dapat diketahui bahwa antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif mengandung perbedaan antara keduanya. deskiptif. mengadakan analisis data secara induktif. analisis data secara induktif. yaitu: latar alamiah. mengandalkan manusia sebagai alat penelitian. kedua penelitian kuantitatif dan kualitatif saling melengkapi satu sama lain yang sama-sama diperlukan. lebih mementingkan proses dari pada hasil.

dan analisis lain yang juga masih bersifat deskriptif adalah analisis deskriptif kualitatif yang tujuan akhirnya memberikan predikat kepada variable yang diteliti sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan. Ada bermacam-macam paradigma. Dalam melakukan analisis deskriptif kuantitatif peneliti mencari jumlah frekuensi dan mencari persentasenya. menurut Lincoln dan Guba. hal ini dilakukan. langkah yang dilalui adalah mengadakan pengukuran secara kuantitas terhadap variable. konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan dalam melakukan penelitian kualitatif dilakukan pada latar alamiah atau konteks dari suatu keutuhan. karena ontology alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteks. menurut Bogdan dan Biklen adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama. maupun oleh para praktisi melalui model-model tertentu. peneliti. kemudian baru mentransfer harga kuantitas tersebut menjadi predikat. namun untuk memudahkan penulis menerjemahkannya secara harfiah sebagai paradigma ilmiah . tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigm (paradigma keilmuan). pada hakekatnya wahana untuk menemukan kebenaran atau lebih membenarkan kebenaran. penelitian evaluasi merupakan jenis penelitian yang banyak menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif ini. Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas bebrapa asumsi yaitu: tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat. dan bertumpu pada pendekatan fenomenologi.belah pihak peneliti dan objek penelitian. karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks untuk keperluan pemahaman. Konteks yang menentukan dalam menentapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainya. yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filosof. Paradigma. PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Dalam bidang kajian penelitian.

ada bermacam-macam paradigma. tetapi tidak mengeliminasi konteksnya. bukan kejadian atau frekuensinya. Meminjam istilah Moleong (1989). Paradigma dalam kaitannya dengan penelitian pada hakekatnya merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau lebih membenarkan suatu kebenaran. Tujuannya adalah menyimpulkan sistem karaktristik atau hubungan antara ubahan dengan populasi induk. Secara epistemologis. Disamping itu sepanjang penelitian kualitatif mempunyai tujuan yang bersifat teoritis. penelitian kualitatif bertolak dari paradigma alamiah. Paradigma penelitian kualitatif di antaranya diilhami falsafah rasionalisme yang menghendaki adanya pembahasan holistik. bukan deskriptif. tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigma keilmuan. sedangkan pandangan alamiah bersumber pada padangan fenomenologis sebagai yang telah dikemukakan.dan naturalistik paradigm atau paradigma alamiah. Sedangkan dalam penelitian kualitatif konsep dan kategori. ini khususnya dalam studi kasus yang menggunakan metode kualitatif. Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan postivisme. Paradigma ilmiah bersumber pandangan positivisme. dengan kata lain penelitian kualitatif tidak meneliti suatu lahan kosong tetapi ia menggalinya. metodologi penelitian dengan pendekatan rasionalistik menuntut agar obyek yang diteliti tidak dilepaskan dari konteksnya. fenomenologi. atau setidaknya obyek diteliti dengan fokus atau aksentuasi tertentu. maka pengujuan teorinya yang lebih penting. Artinya. Dalam kaitannya dengan penelitian kuantitatif terkait secara khas dengan proses induksi enumeratif (induksi yang ditarik atas dasar penghitungan) salah satu tujuan utamanya adalah menemukan beberapa banyak dan jenis manusia apa saja dalam populasi umum dan populasi induk yang mempunyai karaktristik khusus yang ditemukan ada dalam populasi sampel. penelitian ini mengasumsikan bahwa realitas empiris terjadi dalam suatu konteks sedangkan pandangan alamiah bersumber pada pandangan . sistemik. dan mengungkapkan makna di balik fakta empiris sensual. paradigma ilmiah dan naturalistik paradigma atau paradigma alamiah.

disini biasanya tidak begitu berkembang dengan pertanyaan teoritis sentral dari penelitisn dan lebih sering menyangkut variasi-variasi yang diharapkan dalam populasi umum ynag ingin diamati peneliti dalam pengujian hipotesis. peniliti harus menggunakan diri sebagai instrumen mencapai wawasan-wawasan imajinatif kedalam dunia sosial responden. misalnya: apabila masalah yang diteliti telah ditentukan dengan jelas dan pertanyaan yang diajukan kepada para responden memerlukan jawaban yang tidak ambigu. adalah persoalan generalisasian. maka metode kuantitatif seperti kuesioner boleh jadi memang tepat digunakan dalam kondisi seperti ini. peneliti diharapkan fleksibel dan reflektif tetapi tetap mengambil jarak. Karena itu.sosio-kultural. masukan imajinatif dan refleksifitas. yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam . Berkaitan dengan hal tersebut di atas. masalah kegeneralisasian tidak muncul dengan model yang sama. Perbedaan yang paling esensial dari kedua penelitian tersebut adalah dalam tradisi kualitatif. setiap fenomena sosial harus diungkap secara holistik. perlu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan menyangkut kelompok-kelompok pembanding keputusan-keputusan. sedang dalam penelitian kualitatif yang tidak didasarkan pada sample statistic. Sedangkan pada tradisi kuantitatif instrumen tersebut adalah alat teknologis yang telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibilitas. Kirk dan Miller memberi definisi bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial. perhatianya berkisar pada replikasi temuan-temuan dalam kasus-kasus lain yang serupa atau inferensiinferensi biasanya bersifa teoritis atau kausal kecuali jika tentu saja kasus-kasus dipilih menurut sampel probabilitas. Berkaitan dengan logika penelitian menurut paradigma kuantitatif. Sedangkan logika penelitian menurut paradigma kuantitatif. saling terkait satu sama lain. Konsekuensi dari pendekatan ini adalah metode penelitian kualitatif per excellence merupakan observasi partisipatoris. pertanyaan-pertanyaannya agak berbeda.

penegas. penyederhanaan. inferensial dan hipotesis deduktif. menuntut adanya rancangan kerangka teoritis. obyektif. mengeneralisasikan sebagai studi kasus. Menurut Noeng Muhadjir metodologi penelitian kuantitatif ringkasnya yaitu: penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme. Dalam metode kualitatif. kriteria dan tehnik pemeriksaan data. analisia dan penafsiran data. tahap-tahap penelitian. dan dapat dikontrol. bersifat khusus dan bertitik tolak pada anggapan bahwa realitas itu stabil. menggunakan logika positivisme dan menghindari sifat-sifat subyektif. dapat dipelajari secara independen. perumusan masalah. harus obyektif agar supaya hasil yang dicapai maksimal Berangkat dari hal tersebut di atas. dengan pendekatan positivisme yaitu untuk menyusun ilmu nomothetik (empiric sensual) dan hasil penelitian harus bebas nilai. korelasi. dapat ditarik kesimpulan bahwa elemen pokok didalam paradigma penelitian baik kualitatif atau kuantitatif menyangkut tiga hal yaitu ontologi. epistemologi dan metodologi. tehnik penelitian. paradigma penelitian. Sedangkan Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penilaian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati secara cermat dan detail. dapat dipandang dari sudut pandang (visi) orang luar atau peneliti. pola fakir kuantitatif empris sensual. mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata fakir logika. dan asumsi-asumsi yang . interaksi.kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasanya dan dalam peristiwanya. Lexy Moleong mengemukakan bahwa penelitian kualitatif di dasarkan pada: pondasi penelitian. berorientasi pada tujuan akhir. realitas menuntut positivisme dapat dipecah-pecah. berwawasan verifikasi. menggunakan pengukuran yang terkendali. data merupakan replika. Sedangkan ciri dari penelitian kuantitatif menurut Abdullah Kadjar memiliki beberapa ciri yaitu: dapat menyokong pengguna metode kualitatif. kausalitas. karena secara onologis. dieliminasikan dari obyek lain. terpercaya. intervaliasi dan kontinuasi.

Berbeda dengan fenomenologi dalam kaitannya paradigma positivistic. paradigma penelitian dibagi menjadi dua. Positivisme membatasi penyelidikan atau studinya hanya kepada bidang gejala-gejala saja. Paradigma positivistic dipelopori oleh August Comte dalam pemikirannya. tidak kepada studi yang lain. yang berdasarkan data-data yang nyata. terutama dalam masalahmasalah kemasyarakatan banyak dipengaruhi oleh Saint Simon. kemudian dikembangkan oleh Marx Scheler (1874-1928). Dari berbagai prosedur yang ada. positivisme sebagai filsafat mengemukakan pandangannya. yaitu yang mereka namakan positif. Fenomenologi lebih menunjukkan suatu metode filsafat dibanding dengan suatu ajaran. di luar itu kita tidak perlu mengetahuinya. prosedur ilmu pengetahuan tidak memberi peluang untuk tidak menguji teori-teori secara langsung dalam pengalaman. Dalam pendidikan yang . Apa yang kita ketahui itu hanyalah yang tampak saja. Selanjutnya menurut Simon bahwa penjelasan suatu masyarakat secara ilmiah dapat ditentukan dengan mengemukakan hukum perubahan historis atas dasar induksi sebagai postulat. Ilmu pengetahuan harus diyakini. Dalam hal ini. Metode fenomenologis ini berasal dari Edmund Hussrl (1859-1938). Menurut Simon bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan hukum-hukum yang dapat dibuktikan dengan observasi dan percobaan. dan tidak perlu untuk diketahui. bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum-hukum yang dapat dibuktikan dengan observasi. yaitu positivistic dan non-positivistic.digunakan akan menentukan jenis penelitian. Paradigma ini dikatakan positivisme. eksperimen dan verivikasi. MACAM-MACAM PARADIGMA PENELITIAN Dari berbagai macam paradigma yang ada. bisa kuantitatif dan juga bisa kualitatif. karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita selidiki dan yang dapat kita pelajari hanyalah berdasarkan faktafakta. baik untuk mencapai generalisasi deskriptif maupun memperoleh penjelasan-penjelasan yang dapat diversifikasi secara langsung agar validitasnya terbukti.

seperti dengan observasi dan eksperimen. yakni hanya mencari fokus kecil di antara berbagai fenomena sosial yang sesuai dengan teori yang hendak dibuktikannya. Dapat dipahami bahwa satu paradigma menghendaki metodologi tertentu yang paling tepat. Sedangkan paradigma lain yang menuntut pemahaman lebih mendalam untuk menguak makna dibalik fakta dan menuntut kewajaran alamiah serta pemaknaan arti menurut subyek pelakunya.pertama kali menerapkan metode fenomenologis adalah Langeveld. yaitu model penelitian kuantitatif bertujuan mengetahui hubungan sebab-akibat. maupun dengan menggunakan pendekatan empiris. yaitu elemen ontologi. Kenyataan atau realisasi tidak harus didekati dengan argumen-argumen. peneliti kuantitatif berpendirian reduksionis. lalu dikenal dengan paradigma alamiah (naturalistic paradigm). Karena itu. harus memilih paradigma penelitian terlebih dahulu. kemudian diturunkan menjadi hipotesis yang dilakukan pengujian berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan. kemudian paradigma ini menjadi ciri dari model kualitatif. Positivistic menghendaki model penelitian kuantitatif. Sebelum peneliti menyusun desain. Hal ini mengakibatkan jenis penelitian ini harus berangkat dari teori yang diterjemahkan ke dalam proposisi (pernyataan yang dapat diuji kebenarannya). semakin jelas penggunaan paradigma ini menjadi ciri suatu model penelitian. epistimologi dan metodologinya. konsep dan teori umum. Perlu dijelaskan. karena tiap paradigma mempunyai pandangan tersendiri tentang ontologi. elemen epistimologi dan elemen metodologi. menjadi paradigma penelitian kuantitaif. . rinci dan pasti. Paradigma positivistic yang menuntut segalanya serba konkrit. Namun dalam perkembangannya. Paradigma ini kemudian dikenal dengan paradigma ilmiah (scientific paradigm). bahwa paradigma itu terdiri dari tiga elemen. Ketiga elemen tersebut harus sinkron. Dalam setiap model penelitian. Paradigma fenomenologi ini mengemukakan bahwa kita harus memperkenalkan gejala-gejala dengan menggunakan intuisi. sedangkan paradigama non-positivistic bisa menggunakan model penelitian kualitatif.

perlakuan. yaitu: 1. menggunakan logika matematis dan membuat generalisasi. PERBEDAAN KUALITATIF PENDEKATAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN Ada hal mendasar yang membedakan antara pendekatan penelitian kuantitif dengan penelitian kualitatif. pengukuran dan uji-uji statistik. Karena itu. Dalam penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivistik-ilmiah. dan cenderung dengan menggunakan angkaangka. peneliti kualitatif berpendirian ekspansionis. filsafat mengembangkan metodologi atas dasar logika induktif. Ia tidak menggunakan proposisi yang berangkat dari teori melainkan menggunakan pengetahuan umum yang sudah diketahui serta tidak mungkin dinyatakan dalam bentuk proposisi dan hipotesis. Dalam penelitan kuantitatif diasosiasikan dengan istilah pengukuran yang bersifat normative. Karena itu.Sebaliknya penelitian kualitatif. Karena itu. paradigma ilmiahpositivisme melahirkan berbagai bentuk percobaan. Menurut Noeng Muhajir penelitian kuantitatif dapat dilihat dari ciri-cirinya sebagai berikut. Segala sesuatu dikatakan ilmiah bila dapat diukur dan diamati secara objektif yang mengarah kepada kepastian dan kecermatan. ia mengembangkan perspektif yang akan digunakan untuk memahami dan menggambarkan realitas. . dalam penelitian kualitatif tidak terdapat hipotesis tentatif yang hendak diuji berdasarkan data lapangan. artinya bahwa ilmu bergerak dari fakta khusus fenomena ke generalisasi teoritik. Pola pikir kuantitatif adalah mengejar yang teratur yang teramati. Hal ini karena ilmu benar (valid) adalah ilmu yang dibangun dari kenyataan empiris. tidak reduksionis. yang empirik sensual. yaitu dengan menentukan formula statistik dan kuesioner. dimana generalisasi tersebut dikonstruksikan dari strata keragaman individual. 2. Penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme.

merumuskan hipotetis. 6. 5. Agar hasil penelitian dapat diperoleh secara objektif. Berangkat dari asumsi di atas. merumuskan problematika penelitiannya. menentukan teknik analisis. dapat dipelajari secara independen. menentukan teknik sampling. Metodologi kuantitatif mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata pikir logika. bahwa sesuatu itu benar bila ada kesesuaian antara pernyataan verbal dengan realita empiric (empiric sensual). harus objektif. yakni ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya. secara garis besar proses penelitian terdiri dua tahapan yakni tahap teoritis dan tahap empiris.3. dapat berlaku kapan dan dimana saja (bebas waktu dan tempat). Teori kebenarannya adalah teori korespondensi. menentukan instrumen pengumpulan data. maka dapat diketahui bahwa. Metodologi kuantitatif menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikasikan objeknya secara eksplisit dieliminasikan dari objekobjek lain yang tidak teliti. subjektif dan objek yang diteliti harus terpisah. interaksi. 7. Kebenaran di cari lewat hubungan kausallinier sebab akibat. sebab secara ontologism. Langkah penelitian: penetapan obyek yang spesifik terpisah dari totalitas. Pada tahap teoritis peneliti menyusun kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk menghubungkan kenyataan yang akan diteliti dengan alam pemikiran peneliti. Hal itu karena pada hakekatnya penelitian merupakan usaha untuk menjembatani dunia konseptual dengan dunia empiris. kausalitas. penyususnan kerangka teoritis sesuai dengan kekhususan objek studi. realitas menurut positivisme dapat dipecah-pecah. intervalisasi dan kontinuasi. Tujuan dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan positivisme adalah untuk menyusun ilmu nomotheuk. korelasi. Demikian juga kerangka teoritis perlu dirumuskan sespeksifik mungkin. dieliminasikan dari objek lain dan dapat dikontrol. 4. Selanjutnya dengan berpedoman kepada kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk menghubungkan pada . Hasil penelitian harus bebas nilai.

Analisis induktif digunakan karena ada beberapa pertimbangan. karena tindakan pengamatan mempengaruhi obyek yang dilihat. akan tetapi hanya dinyatakan dengan bentuk sistematika analisa terhadap berbagai hal. peneliti mengabstraksikan gejala-gejala empiris sehingga menjadi konsep. 2. Penelitian ini cenderung menggunakan pendekatan interpretive. Analsis data secara induktif. Berbeda dengan penelitian kualitatif yang tidak menggunakan statistik atau pengukuran angka. ini berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti secara keseluruhan yang terkait dengan pengaruh lapangan. menurut Lexsy Moleong ada beberapa ciri pendekatan ini: 1. kemudian menggeneralisasikan konsep sehingga menjadi konsepsional dengan dunia empiris itu peneliti melakukan penerapan dua sistem logika yakni logika induktif dan logika deduktif. Latar alamiah.tahap empiris. karena lebih dapat membuat hubungan peneliti dengan responden menjadi eksplisit dan lain-lain. karena proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagai yang terdapat dalam data. Hal ini dilakukan karena jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik. . Menurut Kirk dan Miller adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orangorang tersebut dalam bhasanya dan dalam peristilahanya. maka tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada dilapangan. Manusia sebagai alat (instrument). dan konteks sangat menentukan penetapan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya. 3. Artinya melakukan pada latar alamiah atau pada konteks dari satu keutuhan (entity). hal ini dimaksudkan agar kenyataan sebagai satu keutuhan tidak akan dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.

dapat diketahui bahwa penelitian kualitatif disebut sebagai paradigma alamiah. kriteria kualitas lebih ditekankan pada relevansi. yakni signifikasi dan kepekaan individu terhadap lingkungan sebagaimana adanya. menggantikan angka atau menggabungkan olahan statistik dengan olahan verbal. Disamping pendekatan positivistic. Jika dideskripsikan dengan langkah-langkah yang terstruktur teramati. Karena itu. Kualitatif mendefinisikan validitas. terdapat pula pendekatan rasionalistik. . Peneliti berusaha menggambarkan fenomena sosial secara holistik tanpa perlakuan manipulatif. realibilitas. Keaslian dan kepastian merupakan faktor yang sangat ditekankan. Dari hal tersebut di atas.4. yang memori sensual. reliabilitas instrumen dan objektivitas. Sebaliknya penelitian kuantitatif disebut sebagai paradigma ilmiah lebih ditekankan pada validitas internal dan eksternal. Berangkat dari perbedaan yang sangat esensial antara penelitian kuantitatif dengan peneiltian kualitatif maka dapat diketahui bahwa landasan berfikir penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan positivistic adalah falsafah positivisme dengan memanfaatkan metode kuantitatif. Pendekatan ini juga mengejar diperolehnya generalisasi atau hukum-hukum baru. karena penelitian ini menggunakan teknik kualitatif. Bedanya positivistic karena ia bertitik tolak dari grand concept. Desain bersifat sementara dan lain-lain. dan obyektivitas. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata. 5. dokumen dan sebagainya dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas. yakni pengungkapan realitas tanpa melakukan pengukuran yang baku dan pasti. membuat generalisasi. gambar dan bukan angka. mengakomodasi deskripsi verbal. adalah metodologi penelitian kualitatif yang berlandaskan filsafat rasionalisme dan tidak sekedar menggunakan rasio. Deskiptif. 6.

bisa ditentukan data (variable) apa saja yang akan dicari guna dijadikan sebagai pedoman penelitian. M. Bagaimana menghubungkan desain dengan paradigma? Dalam upaya menghubungkan desain dengan paradigma. bisa lembaga dan sebagainya.Sc sebagai berikut: Dari paradigma ilmiah.DESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATATIF & MACAM-MACAM DESAIN PENELITIAN Dalam upaya mendesain penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dari pola pikir dan pola hubungan antar konsep inilah. individu. Bila siapa yang menjadi sumber data. H. responden. informannya sesuai dengan model penelitian dan kebutuhannya di lapangan. Di bawah ini terdapat strategi penelitian sekaligus desain penelitiannya yang kami kutip dari Prof. 3. yaitu: 1. kita bisa mengenal pola pikir yang digunakan dalam menyusun proposisi dan pola hubungan antar konsep dalam fenomena yang dihadapi. muncul beberapa strategi penelitian antara lain: . maka bisa ditentukan populasi. Mengenai apa dan siapa ini. maka dalam hal ini terdapat beberapa macam strategi penelitian yang dapat digunakan agar supaya hasil penelitiannya valid dan dapat diverifikasi. Drs. bisa kelompok. sampel. Menurut Norman dan Yvona. maka diperlukan data yang menggunakan perspektif teoritik tertentu. 2. setiap desain harus menjawab empat pokok pertanyaan yang sangat erat kaitannya dengan pembentukan desai penelitian. Kasiram. Strategi apa yang akan digunakan dalam meneliti? Berkaitan dengan strategi yang akan digunakan oleh peneliti untuk meneliti objek kajiannya. maka ada beberapa langkah yang perlu dijawab untuk melakukan penelitian dengan menggunakan kedua pendekatan tersebut. Apa dan siapa yang akan diteliti? Pertanyaan ini berusaha untuk menjawab tentang objek kajian yang akan diteliti oleh peneliti yang berkaitan dengan tujuan penelitian. bisa berupa benda-benda. M.

Metode apa yang akan digunakan? Setelah kita mendesaian penelitian yang akan kita lakukan. MENGGABUNGKAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Berbicara mengenai upaya penggabungan antara penelitian kuantitaif dan penelitian kualititaif. Desain yang ada tersebut akan memberikan kemudahan dalam proses mencari dan menganalisa data. Ternyata hasilnya tidak memuaskan karena tidak ada hubungan. maka nantinya akan didapatkan suatu titik temu yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti.Strategi penelitian Deskriptif Korelasi Kausal Komparatif Eksperimen Desain penelitian Desain diskriptif Desain korelasi Desain kausal Desain komparatif Desain eksperinmental Quasi eksperimental Desain quasi eksperimental Action research Desain action research 4. peneliti kuantitatif biasanya tidak puas dengan hasil analisis statistik. analisis statistik dilakukan untuk menemukan hubungan antara dua atau lebih variabel. yang pada akhirnya memberikan kemudahan kepada para peneliti. Misalnya dengan data yang dikumpulkan dengan kuesioner. Peneliti meragukan hasilnya karena hipotesisnya tidak teruji. untuk itu ia lalu mengadakan wawancara mendalam untuk melengkapi penelitiannya. Biasanya. maka langkah selanjutnya adalah. sehingga peneliti tidak akan menemukan kesulitan yang berarti dalam pelaksanaan penelitiannya kelak. maka berdasarkan sumber data dan variable/data yang akan diacari. maka dengan mudah pula ditentukan metode pengumpulan datanya. dan sekaligus metode analisis data yang akan digunakan dalam proses pelaksanaan penelitiannya. instrumen pengumpulan data. Hal ini mengindikasikan bahwa peneliti .

perbedaan yang terpenting adalah cara masing-masing memperlakukan data. jika tujuan survey lapangan kualitatif untuk memperjelas dan memperluas temuan survey. jangka waktu untuk mana kedua metode ditempuh secara simultan. Teknik kuantitatif seperti wawancara mendalam lebih dibutuhkan. dapat dikatakan bahwa kedua pendekatan tersebut dapat diguinakan apabila desainnya adalah memanfaatkan satu paradigma sedangkan paradigma lainya hanya sebagai pelengkap saja. dapat dijelaskan bahwa perbedaan antara kedua paradigma itu terkait dengan tingkat pembentukan pengetahuan dan proses penelitian. Dari upaya proses penggabungan kedua jenis penelitian tersebut. peneliti kualitatif sering menggunakan data kuantitatif. menyangkut urutan waktu. maka hal itu harus dilakukan setelah survey. Disamping itu. yaitu kuantitatif dan kualitatif. Dalam proses penggabungan pendekatan dan metode disusun menurut beberapa faktor: pertama. masukan imajinatif dan refleksitas. Dalam tradisi kualitatif peneliti harus menggunakan diri mereka sebagai instrumen. Begitu juga sebaliknya terjadi. namun yang sering terjadi pada umumnya tidak menggunakan analisis kuantitatif bersama-sama.berusaha menggabungkan dua karakteristik penlitian yang berbeda. Jelaslah bahwa konstribusi metode kualitatif terhadap perumusan masalah teoritis yang dikaji oleh survey menuntut dilakukannya survey lapangan secara intensif sebelum survey. Kedua. Dari sebagian besar uraian metodologi tampaknya sepakat bahwa sepanjang dua paradigma yang berbeda dianggap ada. Dalam tradisi kuantitatif instrumen tersebut adalah alat teknologis yang telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibelitas. Ketiga juga terkait dengan urutan waktu dan menyangkut tahap . Penggabungan dua metode yang berbeda dalam sebuah rangkaian penelitian memunculkan persoalan gerak antara paradigma-paradigma pada tingkat epistemologi dan teori dalam praktisnya. menyangkut arti penting yang diberikan kepada masingmasing pendekatan dalam keseluruhan proyek. antara kuantitatif dengan kualitatif. Jadi. mengikuti asumsi-asumsi kultural sekaligus mengikuti data konsekuensi dari pendekatan ini adalah metode penelitian kualitatif merupakan observasi partisipatoris (pengamatan terlibat).

pendekatan di dalam metode dapat mencakup pengulangan metode yang sama pada jumlah kesempatan dan bias pula menghasilkan penilaian yang berbeda tentang situasi pada saat-saat yang berbeda. masalah yang substantif. sementara metode berarti pemakaian metode yang berbeda dalam kaitan dengan obyek studi sama. Bahwa terminologi yang lebih tua usianya dan digunakan lebih luas dijumpai dalam literatur yang menyebut strategi ini sebagai “triangulasi” yaitu: 1. apakah lebih cenderung kepada penelitian kuantitif atau lebih cenderung kepada penelitian kualitatif dalam menganalisa data yang didapat dari hasil penelitiannya. Dari kedua penggabungan jenis penelitian tersebut. Dari proses penggabungan tersebut. organisasi penelitian adalah bagian penting dari . Misalnya. Dalam metode ganda atau tringulasi ini bisa terjadi antara metode atau bisa juga didalam metode. 2. dapat diketahui bahwa kehadiran dan keberadaan dua paradigma yang berbeda mengesankan adanya sesuatu yang menjadi pedoman para peneliti. tergantung kepada individu peneliti dalam menggunakan dan melaksanakan penelitiannya. Keempat yang menentukan pemakaian metode menyangkut pembagian keterampilan dalam tim penelitian. tetapi hanya satu metode yang diperhitungkan dalam penulisan laporan penelitian. kedua metode dapat diakses ke dalam proyek pada tahap pembuatan desain.dalam proses penelitian saat kedua metode digunakan atau dihentikan. Ini tidaklah mengherankan karena kumpulan teks-teks metodologi yang mengesankan keberadan dua paradigma tersebut. Pedekatan mencakup metode yang sama yang digunakan pada kesempatan yang berbeda. Oleh karena itu dalam kasus terakhir observasi partisipatoris dalam lingkup ruang kelas bisa digabungkan dengan survey kuesioner para siswa dan guru. terutama bagi praktek-praktek mereka. Peneliti gabungan disni dimaksudkan bahwa personel yang melakukan tahapan penelitian ini dilakukan oleh kemitraan atau kelompok bukan oleh orang perorang. Peneliti-peneliti gabungan. Metode-metode ganda.

disamping itu data kadang-kadang terkait dengan tingkat-tingkat analisa sosial yang berbeda. Teori-teori gabungan. dan tata pikir timbal-balik atau interaktif. tingkat individual. Ini pada gilirannya dapat diuji pada data. Sekumpulan data gabungan. bisa menghasilkan sejumlah kemungkinan teori dan hipotesis tentang masalah yang diteliti. Data bisa dikumpulkan pada titik-titik waktu yang berbeda dan konteks situasi ataupun latar yang bervariasi. 4. jika tidak pengujian penelitian sebelumnya dapat menuntun peneliti untuk menguji sejumlah hipotesis yang logis dan mungkin kontras dengan temuan-temuannya. dapat ditempatkan dalam sebuah grand .strategi penelitian individu-individu yang berbeda dan gabungan orang membawa perspektif yang berbeda kedalam penelitian. seperti nampak dalam model-model uji statistik inferensial. juga melalui penggunaan metode yang sama pada waktu yang berbeda atau sumber-sumber yang berbeda. sebab akibat. analisa data awal. Sebagai misal menurut Stacey (1960) mengomentari studi pertamanya tentang Banbury. 3. bersama dengan wawasan-wawasan dari proses penelitian itu sendiri. kelas menengah dan kelas pekerja. Dari beberapa sekumpulan data gabungan. menurut Muhadjir. menunjukan bahwa tiga peneliti yang tergabung dalam tim peneliti mencerminkan tiga kelas sosial yang berbeda kelas merupakan kunci utama studi Banbury kelas atas. Peneliti dalam melaksanakan penelitiannya bisa menggunakan teoriteori gabungan. Justru sebaliknya kini antara keduanya saling mendekat dan melengkapi satu sama lain. Tapi sebenarnya antara kedua penelitian itu tidak terdapat perbedaan yang cukup jauh. Tata pikir logika penelitian positivisme-kuantitatif yang meliputi tata pikir korelasi. Antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif seakan-akan terdapat perbedaan paradigmatif yang tidak ada titik temu. tingkat interaktif dan kolektif yang berbeda pula. kumpulan data yang berbeda disamping bisa diperoleh melalui penerapan metode-metode yang berbeda.

dapat kita pahami bahwa di dalam penggabungan antara kedua metode itu membutuhkan kecermatan dan ketepatan seperti diperlukan pada setiap tahap proses penelitian. Berangkat dari hal tersebut di atas. Sudah diketahui umum bahwa bentuk penelitian kuantitatif terdiri dari penelitian deskriptif. pragmatik dan pola pikir kontekstual. seperti pola pikir sistemik.theory artau grand concept agar data empirik sensual dapat dimaknai dalam cakupannya yang lebih luas. Muhadjir mengusulkan agar logika mikro kuantitatif ditempatkan dalam kerangka logika makro. misalnya. Apa yang dimaksud dengan grand theory. Keempat. mengapa dan kapan saatnya menggunakan sampelsampel probalitas dan konsekuensi jenis data yang dihasilkan dari keputusan tersebut. baik statika maupun dinamika sosial. dari tahap pembuatan desain sampai penulisan. pola pikir yang terkait dengan sistematisasi pengetahuan. seperti korelasi dan hubungan sebab akibat. pola pikir yang mengarah dari kutub statika sosial seperti struktur sosial kepada dinamika sosial. sesungguhnya tiada lain ialah teori-teori besar yang menjadi kunci analisis untuk memahami fenomena sosial. Ketiga. sedangkan penelitian kualitatif seringkali tertarik pada logika makro. sehingga dapat menjaga terhadap kualitas dan validitas hasil penelitian. Penempatan tata pikir mikro yang bersifat korelasional dan eksperimental dalam sebuah konteks grand theory. korelasional dan eksperimen. barangkali akan lebih jelas jika dirinci untuk masing-masing bentuk penelitian kuantitatif positivistik. Ini merupakan logika makro yang menjadi pijakan analisis. Karena itu. Di antara logika makro itu ialah: Pertama. pola pikir yang menggambarkan keterkaitan antara berbagai fenomena dengan asumsi bahwa suatu fenomena terkait dengan fenomena yang lain. walaupun dalam pengembangannya terjadi perbedaan pendapat. Penelitian kuantitatif hanya menggunakan logika mikro. Kedua. karena desain penelitian kualitatif sering menggunakan strategi sampling non probilitas maka penting diperjelas pada tahapan pembuatan desain. Masing-masing bentuk penelitian tersebut kita tempatkan dalam logika penelitian kualitatif. fungsional. pola pikir historik atau proses perkembangan. .

Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas beberapa asumsi bahwa: a. Tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat. c. yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan. karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagi keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Peneliti yang mengadakan penelitian terhadap mahasiswa kedokteran. misalnya mengikuti mahasiswa sebagai subjek penelitiannya ke dalam ruang kuliah. Konteks sangat menentukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya. laboratorium. apakah itu penelitian kuantitaif ataupun kualitatif. tetangga. Hal ini dilakukan. Adapun ciri-ciri dari desain penelitian kualitiatif yaitu: 1. Sebagian struktur nilai kontekstual bersifat determinatif terhadap apa yang akan di cari dlaam proses penelitiannya. Latar alamiah. penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). dalam hal ini penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri-ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. . Dari hasil penelaahan kepustakaan ditemukan bahwa Bogdan dan Biklen mengajukan lima buah ciri yang membedakan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitaif. keluarga. Sedangkan Lincoln dan Guba mengulas sepuluh buah ciri penelitian kualitatif. karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks untuk keperluan pemahaman. Dalam latar alamiah ini. akan dapat membawa peneliti untuk memasuki dan melibatkan sebagian waktunya apakah di sekolah. menurut Lincoln dan Guba (1985: 39). b. Dari beberapa uraian tersebut di atas.KARAKTERISTIK DISAIN KUALITATIF Berkaiatan dengan karakteristik yang dimiliki oleh setiap penelitian. Uraian di bawah ini merupakan hasil pengkajian dan sintesis kedua versi tersebut. dam lokasi lainnya untuk meneliti masalah pendidikan atau sosiologi.

4. maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyatan dilapangan. menyesuaikan metode kualitatif apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pada pelaksanaan penelitian kualitatif. metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola nilai-nilai yang dihadapi oleh peneliti. hanya “manusia sebagi alat” sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya. dan tempat-tempat yang biasanya di gunakan oleh mereka untuk berkumpul seperti kafetaria. Metode Kualitatif. dan Ketiga. tempat-tempat pertemuan dan sebagainya. Dalam pelaksanaan penelitian.rumah sakit. peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. 2. Hal ini dilakukan karena. Pertama. Penulis menamakan cara pengumpulan data demikian “pengamtan berperan serta atau participant-observation”. Manusia sebagai alat (instrument). Oleh karena itu pada waktu mengumpulkan data di lapangan. asrama. Analisis data secara Induktif. penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif dalam analisa datanya. peneliti berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan. dan hanya manusia sebagai alat sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau obyek lainnya dan hanya manusialah yang mampu memahami kenyataan-kenyataan di lapangan. Kedua. metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dengan responden. Selain itu. Dalam proses pelaksanaan analisis data yang diperoleh oleh peneliti. 3. jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkan terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik. Analisis data induktif ini digunakan karena beberapa . maka analisis yang harus digunakan oleh peneliti adalah analisis data secara induktif.

alasan. Jadi peneliti dalam hal ini menyusun . Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdsarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan. Kedua. analisis demikian lebih dapat menguraikan latar secara penuh dan dapat menbuat keputusan-keputusan tentang dapat-tidaknya pengalihan kepada suatu latar lainnya. b. Tidak ada teori apriori yang dapat mencakupi kenyataan-kenyataan ganda yang mungkin akan dihadapi. dan accountable. analisis demikian dapat memperhitungan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik. Penelitian ini mempercayai apa yang dilihat sehingga ia berusaha untuk sejauh mungkin menjadi netral. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: a. Jadi. Setelah melaksanakan penelitian dengan menggunakan analisis induktif. penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas. c. dapat dikenal. analisis induktif lebih dapat membuat hubungan peneliti–responden menjadi eksplisit. analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan. Teori dari dasar (grounded theory). proses induktif lebih dapat menemukan kenyataankenyataan ganda sebagai yang terdapat dalam data. Kelima. Jika peneliti merencanakan untuk menyusun teori arah penyusunan teori tersebut akan menjadi jelas sesudah ada data dikumpulkan. Pada pelaksanaan penelitian kualitiatif. 5. berarti bahwa pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan. pertama. biasanya yang sering dilakukan oleh para peneliti pada bidang penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori subsantantif yang bersal dari data. kemudian dikelompok-kelompokan. Teori-teori dari dasar lebih dapat responsif terhadap nilai-nilai kontekstual. Keempat. Ketiga. yaitu dari sejumlah bagian yang banyak data yang dikumpulkan dan yang saling berhubungan.

. alasan apa. Dengan demikian peneliti tidak akan memandang bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya. peneliti menganalisis data yang sangat kaya tersebut dan sejauh mungkin dalam bentuk aslinya. 7. Berkaitan dengan penelitian karakteristik pada penelitian kualitatif. gambar dan bukan angka-angka. Pertanyaan dengan kata tanya “mengapa”. dokumen pribadi. Peneliti mengamatinya dalam hubungan sehari-hari. Dengan demikian. catatan lapangan. dan dokumen resmi lainnya. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara. Lebih mementingkan proses dari pada hasil. dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan aspek proses dari pada hasil. foto. Data ini biasanya dikumpulkan dan dioleh dengan berupa kata-kata. Pada penulisan laporan demikian. Deskriptif.atau membuat gambaran yang makin menjadi jelas sementara data dikumpulkan dan bagian-bagiannya diuji. laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Bogdan dan Biklen memberikan contoh seorang peneliti yang menelaah sikap guru terhadap jenis siswa tertentu. kemudian menjelaskan tentang sikap yang diteliti. Data diskriptif adalah data yang tidak nampak. Selain itu semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti oleh peneliti yang berkaitan dengan obyek dan tujuan penelitiannya. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. 6. Hal itu hendaknya dilakukan seperti orang merajut sehingga setiap bagian ditelaah satu demi satu. video tape. catatan atau memo. dan bagaimana terjadinya akan senantiasa dimanfaatkan peneliti. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.

b. Keempat. Dengan hal itu dapatlah peneliti menemukan lokasi penelitian yang memudahkan seorang peneliti dalam melakukan tugas penelitiannya. kreteria objektifitas gagal karena penelitian kualitatif justru memberi kesempatan interaksi antara peneliti-responden dan peranan nilai dalam prose penelitiannya. Penetapan fokus dapat lebih dekat dihubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Batas menentukan kenyataan ganda yang kemudian mempertajam fokus. kreteria realibilitas gagal karena mempersyaratkan stabilitas dan keterlaksanaan secara mutlak dan keduanya tidak mungkin digunakan dalam paradigma yang didasarkan atas dasar desain yang dapat berubah-rubah. reliabilitas. Kedua. 9.8. pasti akan dibutuhkan beberapa kriteria yang berkaitan dengan jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Adanya batas yang ditentukan fokus. Ketiga. bagaimanapun penetapan fokus sebagai masalah penelitian penting artinya dalam usaha menemukan batas penelitian. validitas eksternal gagal karena tidak taat asas dengan aksioma dasar dari generalisasinya. Dengan kata lain. Penelitian kualitatif meredefisikasikan validitas. dan objektifitas dalam versi lain dibandingkan dengan lazim digunakan dalam penelitian klasik. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data. Apapun jenis penelitiannya. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal: a. . Menurut Lincoln dan Guba hal itu disebabkan oleh: Pertama. Pada karaketristik penelitian kualitatif ditetapkannya mengenai batasanbatasan dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. validitas internal cara lama telah gagal karena hal itu menggunakan isomorfisme antara hasil penelitian dan kenyataan tunggal di mana penelitian dapat dikonvergensikan.

susunan kenyataan dari merekalah yang akan diangkat oleh peneliti. sekalipun prosesnya dilakukan secara induktif. tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi. Pertama. Isi rancangan . atau setidaknya ia membaca hasil-hasil penelitian yang memiliki kedekatan dengan penelitian yang dilakukan. Ia dapat memilih permasalahan penelitian. tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan.10. TAHAPAN RISET KUALITATIF Dalam tahapan riset penelitian kualitatif. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Ketiga. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama. 11. Penelitian harus dilakukan melalui beberapa tahapan. Kedua. Ketiga. Kedua. Salah satu tahapan penting. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. hasil penelitian bergantung pada hakikat dan kualitas hubungan antara pencari dan yang dicari. tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataankenyataan ganda di lapangan. Pertama. Desain yang bersifat sementara. tidak berarti peneliti tanpa memiliki perspektif. konfirmasi hipotesis kerja akan menjadi lebih baik verifikasinya apabila diketahui dan dikonformasikan oleh orangorang yang ada kaitannya dengan yang diteliti oleh peneliti pada bidang garapannya. Konsep dalam penelitian kualitatif ini menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. bermacam sistem nilai yang terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi. menurut Moleong ialah menyusun rancanan penelitian. pendekatan sebagai perspektif dalam memahami gejala sosial keagamaan karena memahami berbagai teori. Karakteristik desain penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data.

Sedangkan menurut Janice dalam Norman dan Yvonna (1994: 220-232) terdapat enam tahap dalam menyusun rancangan riset kualitatif yakni: 1. (5) mencatat dengan hati-hati (loging data). (6) memikirkan satuan.penelitian sebenarnya tidak ada yang baku. Studi kepustakaan diharapkan akan menghasilkan: (a) rumusan masalah dan fokus penelitian. (b) pertanyaan-pertanyaan penelitian. Tahap-tahap penelitian kualitatif dengan salah satu ciri pokoknya peneliti menjadi sebagai alat penelitian. Usaha mempelajari penelitian kualitatif tidak terlepas dari usaha mengenal tahap-tahap penelitian. (2) menilai latar penelitian. 4. 3. (4) penentuan jadwal penelitian. The stage of planning. (8) menjadi tertarik. (10) menulis laporan dan. Akan tetapi secara umum rancangan tersebut berisi: (1) latar belakang masalah. The stage of reflection. Lofland (1984) mengajukan 11 tahap. (2) tinjauan pustaka. Sedangkan menurut Kirk dan Miller (1986) menyatakan adanya empat tahapan. The stage of entry. The stage of productive data collection. . (5) rancangan pengumpulan data. dan (c) signifikasi penelitian. (3) penafsiran. (11) membimbng akibat. menjadi berbeda dengan tahaptahap penelitian non-kualititif. (4) eksplanasi. 2. dan (6) rancangan prosedur analisis data. Menurut Bogdan dalam Lexy J Moleong (2003: 85) bahwa terdapat tiga tahapan dalam riset kualitatif yakni: (1) pra lapangan. Hal itu sangat membedakannya dengan pendekatan yang menggunakan eksperimen. (3) masuk lapangan. (4) bersama lapangan. The stage of writing. The stage of withdrawal. 5. Khususnya analisa data ciri khasnya sudah dimulai sejak awal pengumpulan data. (9) mengembangkan analisis. (2) kegiatan lapangan (3) analisis intensif. 6. yaitu: (1) mulai dari tempat anda berada. yaitu: (1) invensi (2) temuan. (7) mangajukan pertanyaan. (3) pemilihan lapangan penelitian (jika akan penelitian lapangan).

Mengurus perizinan. Izin penelitian ini diperlukan dalam rangka untuk kepentingan kelancaran penelitian yang akan dilakukan. yaitu etika penelitian lapangan. cara terbaik yang perlu diperhatikan dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif. Tahap pra lapangan. b. perlu pula dijadikan pertimbangan dalam menentukan lokasi penelitian. c. paling tidak berisi (1) latar belakang masalah dan alasan pelaksanaan penelitian (2) kajian kepustakaan yang menghasilkan (3) pemilihan lapangan penelitian (4) penentuan jadwal penelitian (5) pemilihan alat penelitian (6) rancangan pengumpulan data (7) rancangan prosedur analisis data (8) rancangan perlengkapan (9) rancangan pengecekan kebenaran data. Kegiatan dan pertimbangan tersebut diuraikan berikut ini: a. Keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu. biasanya izin ini akan dikeluarkan oleh instansi terkait atau badan yang memiliki kewenangan atas hal tersebut . Menyusun rancangan penelitian. Dalam mengurus perizinan ini harus mencantumkan tujuan dan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. tenaga. Dengan kata lain peneliti mencantumkan keinginannya untuk mengadakan penelitian. Mengurus perizinan sangat diperlukan sekali dalam upaya melaksanakan penelitian. 1. biaya. Untuk memilih lapanan penelitian. Memilih lapangan penelitian. Dalam proses penyusunan rancangan suatu penelitian kualitatif biasanya dinamakan dengan usulan penelitian.Dalam tema ini. penulis hanya membatasi pembahasan secara singkat pada tahapan riset yang dikemukakan oleh Bogdan dengan disentesiskan dengan uraian dari sumber lain. terdapat enam kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti dan dalam tahapan ini pula ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami. Dalam tahap pra lapangan ini. pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada di lapangan.

bahkan izin itu dimintakan di lokasi dimana akan penelitian itu dilakukan. Selain itu pemanfaatan informan agar dalam waktu yang relatif singkat dapat diketahui informasi yang banyak. Kegunaan informan bagi peneliti adalah membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan diri dalam konteks setempat terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi. Menjajaki dan menilai keadaan lapangan. Hal ini dimaksudkan agar supaya peneliti tidak bertindak ceroboh dan sesuka hati. . Syarat lainnya yang perlu dimiliki oleh peneliti adalah terbuka. objektif dalam menghadapi konflik. Penjajakan dan penilaian lapangan akan terlaksana dengan baik apabila peneliti sudah membaca terlebih dahulu dari kepustakaan atau mengetahui melalui orang dalam hal situasi dan kondisi daerah tempat penelitian dilakukan. Dalam hal tertentu. simpatik dan empatik. Karena itu peneliti juga perlu mengetahui siapa yang paling berhak mengeluarkan izin tersebut. Upaya untuk menemukan informan yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan dapat dilakukan dengan cara. jujur bersahabat. Memilih dan memanfaatkan informan yang ada sangat berguna sekali dalam membantu proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti. serta menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. mental maupun fisik. d. Jika penelitiatelah mengenalnya. melalui keterangan orang yang berwewenang. Memilih dan memanfaatkan informan. Maksud dan tujuan penjajakan dan penilaian lapangan adalah berusaha mengenal segala unsur lingkungan sosial. melalui wawancara pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. informan perlu direkrut seperlunya dan diberi tahu tentang maksud tujuan penelitian jika mungkn dilakukan. maksud dan tujuan lainnya ialah untuk membuat peneliti mempersiapkan diri. e. berlaku adil dan sikap positif lainnya. tidak pandang bulu. fisk dan keadaan alam lainnya.

Persoalan etika penelitian.f. karena baik buruknya hasil penelitian ditentukan oleh faktor ini. apakah ia sebagai peneliti yang dikenal atau tidak. wawancara mendalam. Etika merupakan hal yang paling esensial dalam penelitian. Karena itu. penting kiranya bagi setiap peneliti untuk memahami kondisi sosio-cultural tempat dimana penelitian itu dilakukan sehingga sikap etik harus menyertai peneliti yang disesuaikan dengan kondisi tersebut. dengan harapan agar supaya kebutuhan dari peneliti dapat terpenuhi secara keseluruhan. peneliti perlu memahami latar penelitian terlebih dahulu. Memasuki lapangan. Pemahaman teradap latar penelitian diperlukan untuk memasuki pekerjaan di lapangan. Memahami latar penelitian dan persiapan diri. g. Disamping itu ia perlu mempersiapkan dirinya baik secara fisik maupun mental disamping ia harus mengingat persoalan etika sebagai yang telah diuraikan sebelumnya. Tahap pekerjaan lapangan. Menyiapkan perlengkapan penelitian. maka hendaknya peneliti membina hubungan berupa raport. a. dalam arti hubungan antara peneliti dan . foto. Yang penting ialah peneliti sejauh mungkin sudah menyiapkan segala alat dan perlengkapan penelitian yang diperlukan sebelum ia terjun ke dalam kancah penelitian. b. Hal itu dilakukan dalam pengamatan berperan serta. Ketika seorang peneliti telah memasuki lapangan. Salah satau ciri utama dari penelitian adalah orang sebagai alat mengumpulkan data. Seluruh metode itu pada dasarnya menyangkut hubungan peneliti dengan orang atau subjek penelitian. dan sebagainya. tetapi segala macam perlengkapan penelitian yang diperlukan. 2. pengumpulan dokumen. peneliti hendaknya tahu menempatkan diri. Peneliti hendaknya menyiapkan tidak hanya perlengkapan fisik. Penyiapan perlengkapan penelitian harus dilakukan sesegera mungkin. Disamping itu. Peneliti hendaknya mengenal adanya latar terbuka dan latar tertutup.

karena dikhawatirkan data-data yang ada akan hilang atau berantakan. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti. Analisa dalam hal ini mengatur urutan data. Analisa ini bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif. Analisis data bermaksud pertamatama mengorganisasikan data. kategori. 3.subjek yang diteliti melebur menjadi satu sehingga seolah-olah tidak ada lagi dinding pemisah di antara keduanya. Tahap analisa data. . Dalam hal ini dianjurkan agar analisa data dan penafsirannya secepat mungkin dilakukan oleh penulis. mengorganisasikannya dalam suatu pola. biografi. artikel. sehingga sangat memungkinkan kualitas data penelitiannya akan menjadi berkurang dan bahkan tidak sesuai dengan target atau tujuan dari penelitian yang dilakukan semula. dan satuan uraian dasar. jangan sampai menjadi kadaluwarsa. dokumen berupa laporan. memberikan kode dan mengkategorikannya. Dengan demikian subjek dengan sukarela dapat menjawab pertanyaan atau memberikan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Tahapan akhir dari prosedur penelitian ini adalah analisa data. Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data. yaitu sesudah meninggalkan lapangan. foto. Dari sini dapat ditarik suatu benang merah bahwa analisa data itu dilakukan dalam suatu proses. gambar.

dan Sari Knopp Biklen. 1982. Julia Brannen. Rineka Cipta. Sumartoyo Harjosatoto dan Endang Daruni Asydi. Boston: Allyn and Bacon. Syracuse Universiti Press. Jakarta. Syracuse. Jakarta. Yvonna Sebagai. PT Raja Grafindo Persada. Bina Aksara. Memadu Metode Penelitan Kualitatif dan Kuantitatif. ___________. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. _______________. Jakarta. Liberty. 1997. George Allen dan Unwin. Jakarta. Lincoln. Partisipant Opservation in Organizational Setting. 1982. Poedjawijatna. 1986. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset Yogyakarta. jilid I. . dan Egon G. Suharsimi Arikunto. Bandung. Logika Materil : Filsafat Ilmu Pengetahuan. ___________. Pengantar Logika Moder. The Liang Gie. 1974. N. 1997. PT Raja Grafindo Persada. Rineka Cipta. London. Moleong. Yogyakarta. Yogyakarta. Logika Formal (Filsafat Berpikir). Strategi Penelitian Tesis Program Magister By Research. 1997. Logika : Filsafat Berpikir. Kasiram. Bina Aksara. Sudarto. PT Remaja Rosdakarya. Inc. M. 1996. Liberty. Pengantar Filasafat Ilmu.DAFTAR PUSTAKA Bertran Russel. Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda. Metodologi Penelitian Filsafat. Manajemen Penelitian.Y. Pustaka Pelajar. 1985. PPS UIIS Malang. 2003. Qualitative Research of Education: An introductions to Theory and Methods. 1997. Tim Dosen Filsafat Ilmu. 2000.. 1979.R. I. Metodologi Penelitian Filsafat. 2001. Karya Kencana. Burhanuddin Salam. History of Western Philosophy. Lexy J. Fakultas filsafat UGM. Sudarto. Guba. ___________. Filsafat ILmu. 2000. 1988. Naturalistic Inquiry Beverly Hills : Sage Publications. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2002. Jakarta.

yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala. Wilhelm M. peneliti dari Amerika dan berbagai universitas di dunia mendirikan laboratorium psikologi untuk melakukan penelitian eksperimen. Perluasan penggunaan metode eksperimen pada era ini ditandai dengan: 1. Wundt mendirikan sebuah laboratorium eksperimen dan dijadikan sebagai contoh oleh para ilmuwan sosial. Behaviorisme. Dalam ilmu sosial. penghitungan berbasis angka banyak diterapkan dalam statistika sosial. Kelahiran penelitian eksperimen dalam ilmu sosial telah mengubah pendekatan ilmu sosial yang filosofis. Dalam penelitian ini.PERCOBAAN Percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan. Pada masa Perang Dunia II. Jerman sebagai pusat pengetahuan berhasil mengundang para ilmuwan sosial dari seluruh dunia untuk mempelajari metode tersebut. WILHELM WUNDT. 2. seorang psikolog dari Jerman. Penelitian ini banyak digunakan untuk memperoleh pengetahuan dalam bidang ilmu alam dan psikologi sosial. sebab dari suatu gejala akan diuji untuk mengetahui apakah sebab (variabel bebas) tersebut mempengaruhi akibat (variabel terikat). memperkenalkan metode eksperimen ke dalam studi psikologi. introspektif. penelitian eksperimen mulai banyak digunakan dalam bidang sosial untuk menjelaskan studi mengenai mental manusia dan kehidupan sosial secara objektif dan tidak bias. Kuantifikasi. . yang menekankan penghitungan fenomena sosial dengan angka-angka. Akhir abad 18. Wundt. dan integratif menjadi interpretif. Menjelang tahun 1900. PERINTIS PENELITIAN PERCOBAAN Penelitian eksperimen semula diambil dari Ilmu Alam dan dimulai dalam studi ilmu psikologi. yang menekankan pada studi mengenai pengukuran tingkah laku sebagai ekspresi mental seseorang.

Contoh: dalam sebuah penelitian yang menguji mengenai pengaruh tayangan kriminalitas terhadap tingkat agresifitas anak. sederhana. penelitian eksperimen semakin banyak digunakan untuk mengevaluasi penelitian. Tahun 1950 dan 1960. penelitian eksperimen merupakan penelitian yang banyak digunakan karena sifatnya yang logis. . Perubahan dalam subjek penelitian. 3. subjek penelitian eksperimen berupa orang-orang awam yang belum dikenalnya. Namun dalam perkembangannya. Kelompok pertama dimasukkan ke dalam sebuah ruangan selama beberapa waktu dan sengaja hanya diberikan tayangan kriminalitas. memerlukan sedikit biaya. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental. Setelah beberapa waktu. Berfokus pada keabsahan ke dalam (internal validity). 4. Memasuki tahun 1970. dan secara jelas menggambarkan hubungan sebab akibat antar gejala. Menggunakan sedikitnya dua kelompok percobaan. 2. Dan sampai saat ini. dapat dibandingkan hasil percobaan yang telah kita lakukan terhadap kelompok pertama dan kelompok kedua. metode penelitian eksperimental ini sudah banyak digunakan dalam peneliti sebagai cara untuk menguji hipotesa dengan standard error yang kecil.3. Aplikasi praktis. sehingga objektifitas dari hasil penelitian tersebut lebih terjamin. yakni: 1. Penelitian eksperimen pada awalnya menekankan peneliti profesional sebagai subjek dari penelitian tersebut. KARAKTERISTIK Penelitian percobaan setidaknya memiliki 3 (tiga) ciri utama. konsisten. sedangkan kelompok kedua dibiarkan untuk memilih menonton tayangan apa saja. Penelitian eksperimen diterapkan secara praktis dalam berbagai hal untuk menguji hubungan sebab akibat. terdapat dua kelompok yang masing-masing beranggotakan 15 orang.

Secara garis besar. pihak peneliti akan melakukan test awal (pretest) untuk mengamati gejala variable terikat sebelum diberikan stimulus. langkah yang ditempuh dalam penelitian percobaan adalah: 1. 6. HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN Langkah awal melakukan penelitian percobaan adalah dengan menentukan kelompok mana yang menjadi kelompok eksperimen (kelompok yang diberi stimulus). kelompok mana yang menjadi kelompok kontrol (kelompok yang tidak diberi stimulus). peneliti membandingkan hasil percobaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah membagi ke dalam dua kelompok tersebut. . pihak peneliti akan melakukan test akhir (posttest) untuk membandingkan adanya pengaruh variable sebab terhadap variable akibat. Menentukan kapan dan bagaimana memasukkan stimulus. Sebelum melakukan percobaan. hubungan sebab akibat antar gejala akan teruji. Menetapkan berapa jumlah kelompok. 4. Menyempitkannya dalam pertanyaan penelitian. Pengambilan berdasarkan pencocokkan ini jarang dilakukan karena sulitnya peneliti untuk menemukan kesamaan antara subjek-subjek penelitian. 7. Cara pengambilan sampel tersebut dibedakan menjadi pembagian acak (random assignment) dan pencocokkan (matching). Mengembangkan hipotesa. dan cara pengambilan sampel tersebut. Merancang desain penelitian eksperimen yang baik. Menetapkan topik penelitian. Dari sana. Pencocokkan berarti membagi sampel tersebut berdasarkan kesamaan karakteristik tertentu. apa stimulus yang diberikan. 3. Setelah percobaan berakhir. Membuat analisa dan kesimpulan akhir. 5. tanpa berdasar pada urutan tertentu dengan tujuan pembandingan. 8. Menentukan kapan melakukan pengukuran variable terikat. 2. Pembagian acak berarti membagi sampel yang telah dipilih menjadi dua kelompok secara acak.

PENELITIAN LABORATORIUM Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan tertutup.JENIS Secara garis besar. . Kelemahan penelitian laboratorium adalah penelitian ini belum tentu dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kelebihan penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya karena hanya memfokuskan pada pengujian hubungan sebab dan akibat. Kelemahan penelitian lapangan adalah tingkat kepastian hubungan sebab akibat tidak sebesar pada penelitian laboratorium karena sulitnya untuk mengontrol variabel-variabel pengganggu. Masing-masing penelitian tersebut memliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. PENELITIAN LAPANGAN Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan terbuka. penelitian percobaan (eksperimen) terbagi menjadi penelitian laboratorium (laboratory experiment) dan penelitian lapangan (field experiment). dimana kelompok eksperimen masih dapat berhubungan dengan faktorfaktor luar. dimana kelompok eksperimen dijauhkan dari variable pengganggu sebab dapat memengaruhi hasil dari pengujian hubungan sebab akibat. Kelebihan penelitian lapangan adalah hasil penelitian ini dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah etika penelitian percobaan: . pengamatan hanya diberikan satu kali saja. Pada kelompok eksperimen langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir. Tipe ini merupakan penggabungan dari tipe desain klasik dan tipe pengamatan akhir. Dalam tipe ini. Pada kelompok eksperimen kedua. pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment). lalu diberikan stimulus. lalu diberikan stimulus. dan untuk mengetahui hasilnya dilakukan pengamatan akhir. Tipe pengamatan akhir (two group posttest only). Pada kelompok kontrol. langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir tanpa pengamatan awal. Dalam tipe ini. terdapat etika dan aturanaturan yang harus diperhatikan oleh sang peneliti karena menyangkut kebebasan dan hak asasi subjek penelitian. Untuk kelompok kontrol kedua. Tipe empat kelompok (solomon four group). pengamatan hanya diberikan satu kali saja. Pada kelompok eksperimen pertama. Tipe desain klasik (classical experimental design). 3. ETIKA Dalam melakukan sebuah penelitian percobaan. tanpa dilakukan pengamatan awal. dan dilakukan pengamatan akhir. dilakukan pengamatan terlebih dahulu. pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment). terdapat dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol. tanpa diberikan stimulus tertentu. yakni: 1. dilakukan pengamatan di awal dan di akhir. dilakukan pengamatan awal dan pengamatan akhir. Pada kelompok eksperimen. 2. Pada kelompok kontrol.TIPE-TIPE DESAIN Ada beberapa tipe desain yang biasa digunakan oleh para peneliti dalam penelitian eksperimen. pertama-tama dilakukan pengamatan awal. Dalam tipe ini. Untuk kelompok kontrol pertama.

Mengirimkan hasil penelitian kepada subjek. 6. 7. seperti indera melemah.1. baik secara fisik atau psikis dari penelitian. Memberitahukan secara jujur dan jelas kepada subjek tentang prosedur penelitian yang telah dilakukan. serta memar atau luka fisik. 5. 3. sampai kembali sehat seperti semula. 2. Memberikan hal subjek dan meminta persetujuan terlebih dahulu untuk kesediaan menjadi subjek penelitian. Kebebasan bagi publik untuk mengakses hasil penelitian. Memberikan terapi atau bantuan pemulihan kepada subjek yang mengalami akibat negatif. menyendiri. Penelitian yang melibatkan binatang harus memperhatikan akibat negatif yang mungkin dialami binatang. 4. dengan memberitahukan konsekuensi yang muncul dalam penelitian. . Hal ini dilakukan setelah penelitian percobaan (eksperimen) selesai dilakukan. Menjaga kerahasiaan (privacy) subjek penelitian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->