ETIKA ILMU PENGETAHUAN

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan ilmiah dan teknologi mengubah banyak sekali kehidupan manusia dan memunculkan masalah-masalah etis yang tidak pernah terduga sebelumnya. Masyarakat modern telah menjadi sebuah tempat di mana tak seorang pun bertanggung jawab untuk berbagai hasil percobaan teknologi. Ia bahkan berbicara tentang organized irresponsibility, yaitu suatu situasi ketika secara sistemik tidak seorang pun dapat bertanggung jawab atas bencana yang terjadi. Para politisi misalnya, menolak bertanggung jawab karena mereka tidak menghasilkan teknologi tersebut dan paling jauh hanya bertanggung jawab secara tidak langsung untuk

pengembangannya. Sementara para ilmuwan dan teknolog mengklaim bahwa tugas mereka semata-mata melaksanakan penelitian dan menciptakan

kemungkinan-kemungkinan teknologi baru. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab mengenai penerapan teknologi ciptaan mereka. Sementara para tokoh bisnis yang memasarkan teknologi menyatakan bahwa mereka tidak ikut menentukan apa yang terjadi dan tidak terjadi, maka pasar yang menjadi penentu dan konsumenlah yang mempunyai kata akhir mengenai apa yang dipilih. Apakah ini berarti seluruh beban jatuh ke pundak pengguna? Satu hal yang utama adalah bagaimana membawa lingkungan teknologis kembali ke wilayah tanggung jawab manusia, sebuah lingkungan tempat manusia bisa mengklaim kembali kebebasan individu, sekaligus menentukan tanggung jawabnya. Jika ribuan tahun lalu manusia berjuang membebaskan diri dari lingkungan alamiah lewat penemuan teknologi sederhana (api, bajak, dan lainlain), kini tantangan utama manusia modern adalah pembebasan dari lingkungan teknologis.

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMIAH Kemajuan yang dicapai berkat ilmu dan teknologi memiliki akibat positif dan juga banyak akibat negatif. Penggunaan teknologi tanpa batas akhirnya membahayakan kelangsungan hidup itu sendiri. Yang dibawa oleh teknologi

bukan saja kemajuan, melainkan juga kemunduran, bahkan kehancuran, jika manusia tidak segera tahu membatasi diri. Sejak setelah Perang Dunia II, perkembangan dan penerapan teknologi senantiasa diikuti dengan dua pandangan yang saling bertentangan. Pandangan optimis menekankan keyakinan bahwa kita mampu mengontrol teknologi yang dihasilkan. Kitalah yang memberikan nilai-nilai di dalam menentukan teknologi apa yang akan dipergunakan, dan bagaimana. Teknologi ibarat alat pasif yang dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Visi optimistik ini menjadi bagian dominan dari kebudayaan teknologis-kapitalis, yang nyata sekali di dalam setiap iklan-iklan pemasaran barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar problem kehidupan manusia sehari-hari seakan-akan bisa diselesaikan lewat teknologi. Visi ini memang memahami bahwa teknologi mengandung bukan hanya konteks material yang dapat ditransfer begitu saja dari satu masyarakat ke masyarakat, dari satu kebudayaan ke kebudayaan, melainkan juga mengandung konteks sosio-kultural. Namun, dampak sosio-kultural muncul sebagai akibat pemakaian dan pengembangan tak bertanggung jawab. Manusia didefinisikan sebagai Homo Faber, yaitu pembuat dan pemakai alat, atau Homo Sapiens, yaitu si bijak atau si pemikir, dan terakhir Homo Symbolicum, yaitu si pencipta dan pengguna simbol. Apapun definisi manusia itu, semuanya menunjukkan sentralitas pengetahuan dan teknologi di dalam kegiatan manusia. Laju perkembangan teknologi demikian pesat sehingga melahirkan bukan hanya kemudahan tetapi juga berbagai masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kecanggihan teknologi informasi telah memungkinkan bentuk-bentuk komunikasi yang secara virtual mengecilkan dunia, tetapi itupun tidak tanpa diikuti oleh problem etis. Teknologi (modern) dapat menimbulkan kerugian tanpa satu orang dapat ditunjuk melakukan kesalahan. Bahkan ketika ketelitian, kecermatan, sudah dijalankan, bencana besar atau kecil bisa saja berlangsung. Pandangan optimis terhadap teknologi cenderung menaruh beban tanggung jawab di pundak pengguna, sementara yang berpandangan pesimis cenderung mengecilkan beban tanggung jawab tersebut. Seringkali bahkan pengguna individu di sebuah wilayah,

khususnya negara berkembang, dihadapkan pada tiadanya pilihan sama sekali, atau pilihan dan tindakan sebagai pengguna individu di wilayah tertentu tidak berpengaruh sama sekali terhadap sistem teknologi yang demikian sinambung dan perpetual, yang ditentukan oleh pengguna lain di negara-negara maju. Kemajuan teknologi seringkali justru membuat kita melakukan hal-hal bodoh dengan cara yang cerdik. Menghadapi situasi ini, satu-satunya sikap kritis yang pada akhirnya tetap harus dipertahankan adalah bahwa sangat tidak realistik untuk berpikir bahwa teknologi, di dalam menawarkan solusi terhadap situasi problematik, betapapun maju dan canggihnya teknologi tersebut, tidak mempunyai efek samping, yang akan menimbulkan masalah baru. Di lain pihak, kita juga tidak bisa meremehkan ketergantungan kita ke teknologi modern. Sikap utama yang harus dibentuk di dalam adalah kesadaran bahwa teknologi tetap harus terikat ke aspirasi kita sebagai umat manusia, dengan impian dan cita-cita akan masa depan yang lebih baik di dalam kebudayaan teknologi. Sebuah imperatif yang harus dipegang adalah, tidak pernah seorang manusia pun boleh dijadikan tujuan di luar dirinya sendiri.

MASALAH BEBAS NILAI Pada saat-saat tertentu dalam perkembangannya ilmu dan teknologi bertemu dengan moral. Nilai moral yang utama adalah: apakah ilmu itu bebas nilai. Ternyata penelitian ilmiah yang amat terspesialisasi menjadi usaha yang semakin mahal, sehingga ketersediaan dana yang besar sangat dibutuhkan. Yang membiayai penelitian ilmiah tentu sudah mempunyai maksud dan harapan tertentu. Sehingga pada zaman ini perkembangan ilmu dan teknologi hampir tidak dapat dipisahkan lagi dari kepentingan bisinis dan politik/militer. Ilmu pada dirinya sendiri tidak langsung berhubungan dengan nilai-nilai moral. Masalahnya tujuan ilmu sekarang ini bukan lagi sekedar menjawab bagaimana-mengapa, atau semata memenuhi semangat ingin tahu. Ilmuwan pun tak bisa lagi naif mengumandangkan, 'kami hanya mencari kebenaran'. Mereka dengan rendah hati harus mengakui, di balik karya yang menampilkan daya agung memahami alam, tersembunyi tangan kuat ekonomi,

politik, atau militer. Ilmuwan tak dapat berkarya tanpa dana untuk penelitian mereka yang mahal. Einstein pernah berkata, 'ilmuwan adalah orang yang secara ekonomi paling tidak bebas'; sukses Wilmut didukung Pharmaceutical Proteins Ltd. yang mengharap penerapan komersialnya. Ilmu menjawab mengapa, tetapi ilmu dan terutama teknologi, terikat pada konteks. Ketika dimensi pragmatik memasuki wilayah ilmu, yang mungkin terjadi adalah pencampuran asas kebenaran dengan manfaat. Ketika itulah muncul pertanyaan, untuk siapa? Sering untuk siapa melegitimasi proyek keilmuan yang ujungnya kepentingan politik atau militer. Tak terbayangkan kalau manusia klon terlaksana atas nama untuk siapa yang eksklusif.

TEKNOLOGI YANG TAK TERKENDALI Saat ini banyak sekali dana, tenaga dan perhatian dikerahkan untuk menguasai daya-daya alam melalui ilmu dan teknologi namun hanya sedikit yang dilakukan untuk mereflekfsikan serta mengembangkan kualitas etis dari usahausaha raksasa itu. Implisit di belakang pandangan ini adalah bahwa pengembangan dan pemakaian teknologi harus diikuti dengan kontrol terhadap siapa-nya. Contohnya adalah di dalam pemakaian energi nuklir. Weinberg mengamati bahwa pengembangan teknologi nuklir untuk kepentingan militer menciptakan kelompok-kelompok yang menentukan negara mana yang boleh dan tidak boleh mengembangkan teknologi ini. Sebuah paranoia sosial tumbuh bersama munculnya kelompok-kelompok pemilik dan penjaga keahlian senjata nuklir. Pengontrolan terhadap teknologi memunculkan pengontrolan terhadap semua orang yang dinilai tidak memiliki nilai-nilai dan tujuan yang sama. Contoh sederhana terlihat dari pengamatan terhadap lingkungan kerja yang memperlihatkan bagaimana teknologi komputer meningkatkan kontrol manajerial terhadap pekerja, baik di kantor maupun industri. Tampilan kerja (kecepatan, efisiensi, kesalahan, ketidakcermatan, dan lain-lain) dapat dimonitor terus menerus, dan tercatat dengan rinci. Efisiensi meningkat, namun kontrol terhadap sesama manusia diperketat dan seringkali menghilangkan sentuhan manusiawi.

Persoalan memang, ketika problem bersifat manusiawi juga diselesaikan lewat pendekatan teknologis. Ideal masyarakat bebas dan terbuka yang dicita-citakan melalui pengembangan teknologi, justru menjadi kebalikannya. Dengan landasan inilah kritik teknologi hendak menunjukkan

ketidakberdayaan kita berhadapan dengan teknologi yang ironisnya adalah buah pikir kita sendiri. Teknologi boleh jadi adalah hasil manusia, namun perkembangannya telah menjadi demikian otonom melampaui kemampuan manusia individu atau kolektif, untuk mengontrolnya. Teknologi modern berperilaku seperti sebuah ekosistem. Campur tangan di satu titik akan memunculkan konsekuensi di bagian lain.

TANDA-TANDA YANG MENIMBULKAN HARAPAN Kondisi yang ideal adalah pemikiran etis mendahului dan mengarahkan perkembangan ilmiah-teknologi. Walaupun sulit untuk dilakukan namun sudah banyak munculnya komisi-komisi etika. Sudah dimulai keikutsertaan etika dalam penelitian-penelitian ilmiah, misalnya dalam Komisi Bioetika Nasional. Pemerintah Indonesia membentuk Komisi Bioetika Nasional (KBN) pada tanggal 12 Oktober 2004 yang terdiri atas 33 anggota berkantor di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. Para anggotanya adalah ahli di bidang kedokteran, biologi dan ilmu-ilmu hayati lain, hukum, etika, teologi, agama, ilmu sosial, dan lain-lain. KBN dibentuk berdasarkan surat keputusan bersama tiga menteri: Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Kesehatan, dan Menteri Pertanian. Dalam surat keputusan bersama ini KBN diberi tiga tugas. Pertama, memajukan telaah masalah yang terkait dengan prinsip-prinsip bioetika. Kedua, memberi pertimbangan kepada pemerintah mengenai aspek bioetika dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada ilmu-ilmu hayati. Ketiga, menyebarluaskan pemahaman umum mengenai bioetika. Dengan demikian, Indonesia bergabung dengan negara-negara yang sudah memiliki sebuah komisi bioetika. Sudah sejak dasawarsa 1970-an hampir setiap presiden Amerika Serikat membentuk komisi macam itu walaupun istilah bioetika

Bila mesin dihentikan. Permasalahan ini agak cepat mengakibatkan munculnya pengertian baru tentang kematian. apakah dapat dikatakan bahwa ia masih "hidup" dalam arti yang sebenarnya? Perbatasan antara hidup dan mati menjadi kacau. ada juga negara yang menganggap tidak perlu membentuk komisi bioetika khusus karena sudah memiliki organ-organ lain yang memungkinkan tujuan dimaksudkan tercapai. Namun. Perkembangan yang begitu cepat dan kadang-kadang sungguh revolusioner mengundang kalangan ilmiah untuk juga memikirkan implikasiimplikasi etisnya. jika pasien hanya bernapas dengan bantuan mesin. Dengan teknologi baru ini dimungkinkan bahwa fungsi pernapasan dan peredaran darah diambil alih oleh mesin. Kalau pasien dengan kondisi itu sudah sungguh mati otak. Presiden Bill Clinton mendirikan National Bioethics Advisory Commission (1995). Presiden George W Bush dalam periode pertama pemerintahannya membentuk The President’s Council on Bioethics (2001). Di samping itu komisi-komisi diharapkan akan memajukan serta menyosialisasikan pemikiran bioetika dalam masyarakat dan menjalin hubungan dengan forum-forum internasional di bidang yang sama. mulai dasawarsa 1950-an dan 1960-an. pasien langsung meninggal karena ia tidak lagi bisa bernapas secara spontan.baru dipakai di dalam nama komisi-komisi terakhir. Sebagai contoh problem-problem baru yang muncul berhubungan dengan pengembangan Intensive Care Unit (ICU) yang memakai alat-alat canggih seperti respirator. Namun. Bertens dalam tulisannya Bioetika dan Globalisasinya menerangkan bahwa bioetika adalah refleksi etis atas pertanyaan-pertanyaan baru yang ditimbulkan oleh life sciences dan teknologi biomedis sejak kira-kira pertengahan abad ke-20. Tujuan komisi-komisi macam itu adalah menjadi think tank untuk pemerintah di bidang ilmu dan teknologi biomedis serta pelayanan kesehatan dalam arti yang paling luas dan dalam hal itu terutama menyoroti aspek-aspek etisnya. kita boleh mengambil organ-organnya untuk ditransplantasi pada pasien lain yang . K. yaitu mati otak: manusia adalah mati jika seluruh otaknya mati atau tidak memiliki aktivitas lagi. Di Eropa banyak negara memiliki suatu komisi bioetika.

Selain mengubah definisi kematian itu sendiri. tetapi dalam perspektif baru yang tidak dibayangkan sebelumnya. 'kami hanya mencari kebenaran'. sedang pasien sudah tidak dapat disembuhkan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan ini memang menyangkut hubungan dokterpasien. Karena itu. Mempelajari aspek-aspek ini secara serius. kita bertemu dengan bioetika di bidang praktis. Ilmuwan pun tak bisa lagi naif mengumandangkan. DIMENSI ETIS DAN DIMENSI PRAGMATIS Ilmu pada dirinya sendiri tidak langsung berhubungan dengan nilai-nilai moral. kalau perguruan tinggi giat mengembangkan ilmu-ilmu biomedis. Namun. tetapi ilmu dan terutama teknologi. Meski demikian. Peranan praktis bioetika tentu akan lebih berbobot kalau didukung oleh peranan akademis yang kuat. tapi di lain pihak ada juga perspektif baru. kita menyiksa pasien terminal dengan memakai terus alat-alat bantu hidup itu. Misalnya. umpamanya. dengan sendirinya berarti terjun dalam bioetika.membutuhkan. di satu pihak ada kesinambungan dengan tradisi etika kedokteran sejak zaman Hippokrates. apakah kita tidak membunuh pasien? Atau. kita tidak boleh menutup mata untuk aspekaspek etisnya. Masalahnya tujuan ilmu sekarang ini bukan lagi sekedar menjawab bagaimana-mengapa. Dengan demikian. Demikian memang prosedurnya dalam transplantasi jantung. Ilmu menjawab mengapa. atau semata memenuhi semangat ingin tahu. kalau kita menghentikan alat bantu hidup seperti respirator. untuk siapa? Sering untuk siapa melegitimasi proyek keilmuan yang ujungnya . Di Indonesia sudah tidak dapat dihindarkan. Ketika dimensi pragmatik memasuki wilayah ilmu. Ketika itulah muncul pertanyaan. yang mungkin terjadi adalah pencampuran asas kebenaran dengan manfaat. pemakaian alat bantu hidup dalam ICU menimbulkan banyak masalah etis baru lagi. bukan saja karena menyoroti masalah-masalah baru. melainkan juga karena ditandai ciri-ciri baru yang akan dibahas lagi lebih lanjut. bioetika dapat dipandang sebagai perluasan etika kedokteran yang tradisional. bioetika dalam arti akademis belum mendapat banyak perhatian. terikat pada konteks. sebaliknya.

Khususnya dalam memilah dan mengenali situasi problematik. batas yang masih dan tidak boleh dilampaui. yaitu sebagai elemen di dalam sebuah sistem komprehensif. menyangkut metode. metode. Sistem itu sendiri mengandung di dalamnya nilai-nilai dan seluruh paradigma yang ditentukan oleh kepentingan mereka yang paling menguasai jaringan secara komprehensif. Manusia dan benda-benda masuk ke dalam sistem terintegrasi dan mempunyai fungsi yang sama.kepentingan politik atau militer. pengembangan dan perubahan teknologi tidak lepas dari kegiatan saling berhubungan yang melibatkan prosedur pengambilan keputusan dan evaluasi. demi kemanusiaan itu sendiri. kebutuhan. Tak terbayangkan kalau manusia klon terlaksana atas nama untuk siapa yang eksklusif. metode keilmuan dicampuri. di mana adaptif terhadap lingkungan menjadi keseluruhan dasar pertimbangan. karena itulah saat ilmu berjumpa nilainilai moral. ilmu adalah otonom. tujuan. dan kepentingan yang berkaitan dengan sifat solusi yang diterima. Pertanyaannya. dan prosedur atau orientasi terhadap solusi yang mungkin sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Bagaimanapun. apakah gambaran tentang manusia yang secara moral mempunyai tanggung jawab otonom sudah selesai karena ia melepas tanggung jawab sebagai bagian dari sistem kolektif terintegrasi. Namun. . Masyarakat berhak khawatir dan ikut memutuskan ketika temuan keilmuan dicantumkan dalam penerapan. Norma tindakan manusia diasalkan ke pertimbangan rasional infrastruktur kolektif. baru setelah itu ditentukanlah sarana. Selanjutnya ada harapan. Namun putusan obyektif yang tidak emosional memerlukan ilmuwan yang bersedia memberi informasi sebenarnya. kekhawatiran atas dampak etis tidak mengizinkan atas nama apapun. adakah masyarakat didengar? Dunia memerlukan kemauan keras bersama yang memungkinkan secara kongkret diputuskan. dan dengan begitu memberikan sepenuhnya kontrol moral dan pemanduannya ke sistem itu? Sistem etika yang berkembang menjadi etika adaptasi. Pengenalan ini menyangkut keyakinan sekelompok orang bahwa saat yang tepat telah tiba untuk menyelesaikan situasi problematik tersebut. Jika ditinjau.

aturan-aturan atau kaidah-kaidah tentang berpikir yang harus ditaati supaya kita dapat berpikir tepat dan mencapai kebenaran. dari kata sifat logike yang berhubungan dengan kata benda logos yang berarti 'perkataan' atau 'kata' sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Logika berasal dari bahasa Yunani. filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. asas-asas. Atau dapat pula didefinisikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas akal atau rasio manusia dipandang dari segi benar atau salah. Filsafat ilmu memberikan kerangka dasar dalam berolah ilmu agar proses dan produk keilmuan yang dihasilkan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah moral. Logika adalah ilmu yang merumuskan tentang hukum-hukum. Sedangkan menurut the Liang Gie. Dengan demikian filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang mengkaji dasar dan hakekat ilmu untuk mencapai kebenaran dan kenyataan yang tidak akan habis difikirkan dan tidak selesai diterangkan. etika dan kesusilaan. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa. sifat dan fungsinya bagi kehidupan manusia.HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN LOGIKA Oleh: Hasan Baharun. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa. Dari sini dapat diketahui bahwa tugas logika adalah memberikan penerangan bagaimana orang seharusnya . Mpi Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran mengenai apa dan bagaimana pembentukan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta landasan.

Mulai abad ini ditemukan sistem baru. membanding-bandingkan. rumusrumus. Logika modern tumbuh dan dimulai pada abad VIII. menggolong-golongkan. dan obyek forma logika adalah mencari jawaban tentang bagaimana manusia dapat berpikir dengan semestinya. menarik kesimpulan. menganalisis. yang mempelajari dasar-dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan. meneliti sesuatu jalan fikiran. membuktikan sesuatu. tetapi masih mengikuti sistem logika Aristoteles. Cara berfikir induktif dipergunakan dalam logika material. Logika tradisional adalah logika Aristiteles. yakni cara berfikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. maka dapat diketahui bahwa. membahas secara realitas dan sebagainya. dan logika dari logika logikus yang lebih kemudian. Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda. Dari definisi tersebut di atas. . menunjukan alasan-alasan. Ia menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji benar tidaknya dengan kenyataan empiris. Cabang logika formal disebut juga logika minor.berpikir. Hal inilah yang merupakan inti daripada logika Proses berfikir yang ada pada diri manusia adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin dengan manifestasinya adalah mempertimbangkan merenungkan. Para logikus sesudah Aristoteles tidak membuat perubahan atau mencipta sistem baru dalam logika kecuali hanya membuat komentar yang menjadikan logika Aristoteles lebih elegan dengan sekedar mengadakan perbaikan-perbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari logika Aristoteles. Apabila logika tersebut dilihat dari obyeknya akan dikenal sebagai logika formal dan logika material. Cara pertama disebut berfikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum. metode baru yang berlain dengan sistem logika Aristoteles. dilihat dari metodenya dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern. patokan-patokan berfikir benar. mencari kausalitasnya. logika materia disebut logika mayor.

meneliti suatu jalam pikiran. membuktikan sesuatu. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain. Aktivitas berpikir adalah berdialog dengan diri sendiri dalam batin dengan manifestasinya yaitu mempertimbangkan. merupakan suatu bentuk kegiatan akal atau rasio manusia dengan mana pengetahuan yang kita terima melalui panca indera diolah dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran.Dengan berpikir. Kita dapati para ahli pidato politikus dan mereka yang terbiasa bertukar pikiran dapat mengutarakan jalan pikiran dengan logis. 3. Berkaitan dengan hal tersebut. disamping bahwa pengetahuan . Kemampuan berlogika naturalis pada tiap-tiap orang berbeda-beda tergantung dari tingkatan pengetahuannnya. Jalan pikiran haruslah logis. Tetapi dalam menghadapi yang rumit dan dalam berfikir manusia banyak dipengaruhi oleh kecenderungan pribadi. ada 3 (tiga) syarat pokok yang harus dipenuhi: 1. valid dan sahih. menggolong-golongkan. manunjukkan alasan-alasan. menganalisis. Di dalam aktivitas berpikir itulah ditunjukkan dalam logika wawasan berpikir yang tepat atau ketepatan pemikrian/kebenaran berpikir yang sesuai dengan penggarisan logika yang disebut berpikir logis. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai dengan hukum-hukum logika dasar. 2. merenungkan. mecari kausalitasnya. Alasan-alasan yang dikemukakan haruslah tepat dan kuat. logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis. dan bahwa dua kenyataan yang bertetangan tidaklah sama. Dilihat dari segi kualitasnya. yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akan bawaan manusia. menarik kesimpulan. membahas secara realitas dan lain-lain. Agar supaya pemikiran dan penalaran kita dapat berdaya guna dengan membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang benar. membanding-bandingkan. logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan tergantung dari mana kita meninjaunya. Pemikiran haruslah berpangkal pada kenyataan atau kebenaran. meskipun barangkali mereka belum pernah membuka buku logika sekalipun.

yaitu kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akan bawaan manusia. moral dan kesusilaan. patokan-patokan. mudah dan aman sehingga tercapai tujuan dari apa yang diinginkan. logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis. Untuk mengatasi kenyataan yang tidak dapat ditanggulangi oleh logika naturalis. Dari hal tersebut di atas. istilah logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan tergantung dari mana kita meninjuanya. istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium. Atau dengan kata lain. efisien. tetapi masih mengikuti sistem logika Aristoteles. Logika ini disebut logika artifisialis atau logika ilmiah yang bertugas membantu logika naturalis. Logika ini memperluas. manusia menyusun hukum-hukum.manusia terbatas mengakibatkan tidak mungkin terhindar dari kesalahan. Dalam perjalanannya. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles. dan bahwa dua kenyataan yang bertentangan tidaklah sama. Para logikus sesudah Aristoteles tidak membuat perubahan . dan logika dari logika logikus yang lebih kemudian. Logika tradisional adalah logika Aristoteles. filsafat ilmu sebagai penopang dalam kerangka menggunakan rasio guna berpikir agar suapaya tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah etika. dapat diketahui bahwa logika adalah salah satu cabang atau bagian dari filsafat ilmu yang mempelajari tentang aktivitas akal atau rasio manusia dipandang dari segi benar atau salah. rumus-rumus berfikir lurus. kaum sofis Skortes dan Plato harus dicatat sebagai perintis lahirnya logika. Bagaimanapun rendahnya intelegensi seseorang ia dapat membedakan bahwa sesuatu itu adalah berbeda dengan sesuatu yang lain. Sedangkan apabila dilihat dari metodenya dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern. Dilihat dari segi kualitasnya. mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai dengan hukum-hukum logika dasar. Dengan kata lain hubungan filsafat ilmu dengan logika adalah filsafat ilmu sebagai tolak ukur atau alat penilaian dari proses menggunakan rasio. MODEL LOGIKA Secara historis. Theoprotus dan kaum Stoa.

Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk yang berbeda. menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang berlawanan dengan penalaran induktif. Syllogisme adalah suatu bentuk penarikan kesimpulan atau konklusi secara deduktif dan tidak langsung yang kesimpulan atau konklusinya ditarik dari dua buah premis yang disediakan sekaligus. yaitu dua buah proposisi yang diberikan atau disajikan dan sebuha proposisi yang ditarik dari kedua proposisi yang disajikan itu. . Yang penting kita ketahui dari syllogisme dan bentukbentuk inferensi atau penalaran deduktif yang lain adalah bahwa masalah-masalah kebenaran dan ketidakbenaran pada premis-premis yang selalu diambil adalah yang benar.atau mencipta sistem baru dalam logika kecuali hanya membuat komentar yang menjadikan logika Aristoteles lebih elegan dengan sekedar mengadaka perbaikanperbaikan dan membuang hal-hal yang tidak penting dari logika Aristoteles. Deduksi adalah penalaran atau cara berpikir yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Jadi syllogisme hanya mempersoalkan 'kebenaran formal' (kebenaran bentuk) tanpa mempersoalkan 'kebenaran material' (kebenaran isi). Proposisi yang disajikan disebut 'premis mayor' dan 'premis minor' dan kesimpulan yang ditarik disebut 'konklusi'. patokanpatokan berfikir benar. Sebuah syllogisme terdiri atas 3 (tiga) buah proposisi. Disamping logika tersebut ada pula logika deduktif yaitu bertolak dari asumsi umum (teori) menuju ke pembuktian secara khusus (fakta empiris). Cara pertama disebut berfikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan mempergunakan hukum-hukum. Logika formil Aristoteles dikenal dengan nama syllogisme. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya memakai pola berpikir yang disebut syllogisme. Jika dilihat dari obyeknya dikenal sebagai logika formal dan logika material. yakni cara berfikir dari umum ke khusus dan cara berfikir dari khusus ke umum. rumus-rumus. Syllogisme tersusun dari dua buah pernyataan (premise) dan sebuah kesimpulan (konklusi). Ini berarti bahwa konklusi memang sudah didasari oleh kondisi kebenaran.

empirisme dan rasionalisme/rasionalisme menghendaki kebenaran empiric logic. dapat dikelompokkan menjadi dua aliran filsafat ilmu yaitu. terdapat tiga komponen dasar yang erat kaitannya dengan penelitian yaitu: ontologi. epistimologi. bahkan merupakan dasar daripada metode ilmiah. epistimologi dan aksiologi dikaitkan dengan logika yang digunakan untuk pembuktian. Induksi sangat erat hubungannya dengan metode ilmiah (scientific method). baik mengenai kenyataan. Penalaran ini diawali dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi dan diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DAN PENELITIAN Dalam kaitannya dengan hubungan filsafat ilmu dan penelitian. Ontologi Sebagai komponen dasar filsafat. terukur. dan aksiologi. Ontologi membahas tetantang yang ada yang tidak . terkontrol dan penetapan data yang konkrit yang teramati. memunculkan jenis penelitian kualitatif. Pada logika positivistic menghendaki perencanaan riset yang rigor/ketat. etik dan transcendental/metafisik. ontologi memiliki obyek telaah yaitu yang ada. kebenaran dan tingkat kepastian. sebab data yang dicari tidak pasti. Istilah ontologi ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Studi tentang yang ada pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. memunculkan logika penomenologik. Logika phenomenologik menghendaki perancanaan riset yang longgar dan luwes. sangat tergantung pada fenomena yang dijadikan sasaran risetnya.Logika induktif yaitu berdasarkan fenomena khusus (fakta empiris). Dalam pembahasan ontologi. Induktif atau logika induktif adalah penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata (khusus) menjadi kesimpulan yang bersifat umum. memunculkan jenis penelitian kuantitatif. rinci. menuju kekesimpulan secara umum (teori yang berlaku umum).

Secara etimologis. telaahnya akan menjadi telaah monisme. atau pluralisme. idialisme. Sedangkan yang merupakan obyek formal ontologi adalah hakekat seluruh realitas. Epistimologi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu epistimologi subyektif dan epistimologi pragmatik. paralenisme. membahas secara menadalam segenap proses yang terlihat alam usaha kita untuk memperoleh pengetauan. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. serta kebenaran pengetahuan. Sebagai komponen dasar selanjutnya adalah epistimologi yaitu pembahasan tentang bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan. menampilkan pemikiran semesta universal.terikat oleh satu perwujudan tertentu. Sejarah mengatakan bahwa tokoh epistimologi prakmatig adalah Wiliams Jams dan juga John Dewey yang menyarankan agar pencarian pada yang kekal . abstraksi bentuk dan abstraksi metafisik. naturalisme atau hylomorphisme. realita tampil dalam kuantitas atau jumlah. Epistimolgi Istilah epistimologi berasal dari kata episteme yang bebarti pengetahuan dan logos yang berarti pengetahuan. Menggunakan standar rasional bearti bahwa sesuatu yang diyakini sebagai benar itu tentunya memiliki sifat reliabel (ajek). Epistimologi merupakan cabang filsafat yang mempersoalakan atau menyelidiki tentang asal. yaitu: abstraksi fisik. Jadi epistimologi merupakan cabang atau bagian dari filsafat yang membahas maslaah-masalah pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalaui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. susunan. Ontologi membahas yang ada yang universal. Bagi pendekatan kuantitaif. Bagi pendekatan kualitatif. berarti teori pengetahuan. dan logos yang berarti teori. metode. Epistimologi subyektif memberikan implikasi pada standar rasional tentang hal yang duyakini. Bagaimana tata cara memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan ini dipengaruhi oleh ontologi yang dipilihnya. Epistimologi atau teori pengetahuan. Dalam hal ini ada tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi.

. belum menjangkau kebenaran substantif hakiki. dalam tampilan seperti menyenangkan dan tak menyenangkan. Ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang dengan metodologi yang kita kenal sekarang ini lebih banyak menjangkau kebenaran epistimologik. yang merupakan esensi dari keilmuan itu sendiri. sampelnya itu. membuktikan bahwa ilmuwan terdahulu menampilkan tesis dan teori yang secara berkelanjutan disanggah atau dimodifikasi atau diperkaya oleh ilmuwan berikutnya. yang sakral. Dengan demikian kebenaran yang diperoleh dengan cara kerja demikian adalah kebenaran epistimologik. maka ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai (value). Kant berbicara sollen (kemestian). nilai benar salah. Ketiga. nilai hidup seperti edel (agung) atau gemein (bersahaja).hendaknya diganti dengan pencermatan realistik mengkritik ide palsu. menggunakan means mencari ins untuk selanjutnya menjadi means. Keempat nilai religius. value sensual. Ontologi yang memahami sesuatu itu tunggal penelitiannya jenis kuantitatif. Hal ini merupakan bukti bahwa ontology merupakan bagian penting dari filsafat. nilai kejiwaan seperti nilai estetis. Pertama. desainnya demikian dan seterusnya. Dalam perjalanan keilmuan yang terjadi pada masa dahulu. Aksiologi Komponen dasar selanjutnya dalam filsafat adalah aksiologi yaitu pembahasan tentang bentuk ilmu yang dihasilkan dari penelitian. Dari telaah yang dilakukan oleh Scheler tentang etik kontras dengan Kant. dan nilai instrinsik ilmu. Menurut Scheler ada empat jenis values dalam aksiologi. Inipun dipengaruhi oleh ontologi yang digunakan. seperti yang suci. Kedua. Kebenarankebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang bersifat kondisional sejauh medianya demikian. sedangkan Scheller memandang bahwa kemestian itu sesuatu yang dibuat-buat. diganti dengan pencermatan eksperimental dan empirik.

eksperimen. pada jenjang kedua mengacu kepada kekuatankekuatan metafisik. Penelitian berusaha untuk mencapai kebenaran atau menemukan teori-teori ilmiah. yang teratur. dan metode historis. Menurut Comte. dapat dikelompokkan menjadi dua aliran filsafat ilmu yaitu empirisme dan rasionalisme atau realisme yang merupakan aliran yang berbeda. LOGIKA DAN PENELITIAN Dari kajian tentang filsafat ilmu.HUBUNGAN FILSAFAT ILMU. Bertolak dari hukum-hukum ilmiah. perbandingan. Dalam filsafat rasionalisme atau realisme lebih menekankan pada cara berfikir positivistik paradigma kuantitatif. dan pada jenjang ketiga mengacu pada deskripsi dan hukumhukum ilmiah. Positivisme. positivisme menekankan bahwa obyek yang dikaji harus berupa fakta. Berfikir positivistik adalah bersifat spesifik berpikir tentang empiris yang teramati. sarana yang dapat dilakukan untuk melakukan kajian ilmiah ialah: pengamatan. demikian pandangan positivisme. epistimologi dan aksiologi dikaitkan dengan logika yang digunakan untuk pembuktian. baik mengenai kenyataan. Manusia pada jenjang pertama mengacu kepada hal-hal yang bersifat adikodrati. logika dan penelitian memiliki hubungan yang sinergi. kebenaran dan tingkat kepastian. Filsafat ilmu yang membahas tentang ontologi. Sumber kebenaran semata-mata berasal dari realitas empiris-sensual. Penelitian dalam konteks ini dapat dipahami sebagai proses epistemologis untuk mencapai kebenaran. logika dan penelitian. menurut Muhadjir (2000)–yang guru besar filsafat ilmu dan metode penelitian–tidak mempertentangkan antara logika induktif atau . Sunarto (1993) menjelaskan. August Comte yang dianggap sebagai peletak dasar positivisme memperkenalkan “hukum tiga jenjang” perkembangan intelektual manusia. Positivisme tidak mengakui–atau setidaknya menganggap rendah-hal-hal yang di luar empiris-sensual manusia. dan bahwa kajian harus mengarah kepada kepastian dan kecermatan. Hal ini tercermin dari cara manusia menjelaskan berbagai gejala sosial ekonomi. dan dapat dieliminasi serta dimanupulasikan dari satuan besarnya. dapat diketahui bahwa antara filsafat ilmu. yakni: jenjang teologi. metafisika. dan positivis.

Realisme metafisik Popper berangkat dari filsafat positivistik analitik. Karena itu. dan filsafat yang memberikan landasan adalah phenomologi Hussert. melainkan ada empirik logik. agar produk ilmu yang berlandaskan rasionalisme betul-betul ilmu. Misalnya: ruang angkasa. Sesuatu deskripsi yang benar mungkin sekali dikembangkan menjadi hukum. mencari sifat generatif. Bagi rasionalisme fakta empirik bukan hanya yang sensual. Berbeda dengan aliran empirik logik yang pada akhirnya memunculkan logika phenomologik. Bertemu dengan filsafat phenomologi Hussert antara lain pada pengakuan tentang kebenaran obyektif universal. Salah satu prinsip utama dalam positivisme adalah penerapan prinsip variabilitas terhadap sesuatu sebagai benar. pemahaman intelektual dan kemampuan argumentatif perlu didukung data empirik yang relevan. Yang obyektif universal tersebut menurut Hussert dan juga . Apakah sesuatu dideskripsikan sebagai benar dalam menggunakan proposisi atau bentuk lain. perlu diverifikasi benar salahnya. dan jarak sekian tahun juta cahaya. Para penganut neo-kantian dikenal sebagai epistimologi positivistik yang menolak segala bentuk etik transenden. peninggalan sejarah masa lampau. memprediksikan untuk kasus lain. dan empirik etik. mencari kesimpulan idiografik. semuanya merupakan realitas tetapi tidak mudah dihayati secara sensual melainkan dapat dihayati secara teoritik. empirik teoritik. atau kasus mendatang. Berbeda dengan positivisme.deduktif. yang penting bagi rasionalisme ialah ketajaman dalam pemaknaan empiri. 2000: 81-2). yang diharapkan dapat memberikan inferensi. Muhadjir (2000) menegaskan. Dalam aliran positivistik logik sangat menolak terhadap etik transendental yang berada di kawasan metafisik. Karena itu. bukan fiksi. rasionalisme menekankan bahwa ilmu berasal dari pemahaman intelektual yang dibangun atas kemampuan argumentasi secara logik. Dalam berfikir dalam phenomologi antrophologi mengarah kearah mencari esensi. rasionalisme mengakui realitas empirik teoritik dan empiris logik (Muhadjir. melainkan lebih menekankan fakta empiris yang menjadi sumber teori dan penemuan ilmiah.

Dalam penelitan kuantitatif diasosiasikan. Keempat. menggunakan logika matematis dan membuat generalisasi. metodologi kuantitatif mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata pikir logika. yakni ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya. korelasi. . filsafat mengembangkan metodologi atas dasar logika induktif. intervalisasi dan kontinuasi. penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme. Pembuktiannya sebatas pada kasus. Menurut Noeng Muhajir tentang penelitian kuantitatif yaitu: pertama. kausalitas. Kedua jenis ini akan dijelaskan sebagai berikut: 1. interaksi. kelima. Teori kebenarannya adalah teori korespondensi. pola pikir kuantitatif adalah mengejar yang teratur yang teramati. artinya bahwa ilmu bergerak dari fakta khusus fenomena ke generalisasi teoretik. dengan istilah pengukuran yang bersifat normative. yang empirik sensual. Kebenaran dicari lewat hubungan kausal linier sebab akibat. Tujuan dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan positivisme adalah untuk menyusun ilmu nomotheuk. PENELITIAN KUANTITATIF VS KUALITATIF Dalam penelitian.Popper merupakan suatu abstraksi yang tidak dapat dibuktikan. terdapat dua hal yang berbeda. Penelitian kuantitatif. dimana generalisasi tersebut dikonstruksikan dari strata keragaman individual. Ketiga. Kedua. bahwa sesuatu itu benar bila ada ke sesuaian antara pernyataan verbal dengan realita empiric (empiric sensual). metodologi kuantitatif menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikasikan obyeknya secara eksplisit dieliminasikan dari obyekobyek lain yang tidak teliti. yaitu dengan menentukan formula statistik dan kuesioner. yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

Karena itu. Lexsy Moleong mengemukakan berbagai ciri dalam pendekatan penelitian kualitatif ini. Penelitian ini cenderung menggunakan pendekatan interpretive. mengandalkan manusia sebagai alat penelitian. setidaknya semakin menipis.2. kedua penelitian kuantitatif dan kualitatif saling melengkapi satu sama lain yang sama-sama diperlukan. mengadakan analisis data secara induktif. realibilitas. manusia sebagai alat (instrument). Dalam penelitian kualitatif. sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar. bahwa penelitian kualitatif itu berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan. desain bersifat sementara dan lain-lain. dapat diketahui bahwa antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif mengandung perbedaan antara keduanya. Perbedaan antara kualitatif dengan kuantitatif menjadi tidak nampak. kepala kualitatif mendefinisikan validitas. Demikian halnya perbedaan antara paradigma ilmiah dengan paradigma alamiah menjadi hilang. Adapun jenis penelitian kualitatif tidak menggunakan statistik atau pengukuran angka. Penelitian kualitatif. dan obyektivitas. membatasi studi dengan fokus. bersifat deskriptif. memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data. rancangan penelitiannya bersifat sementara dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua . menurut Kirk dan Miller adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. lebih mementingkan proses dari pada hasil. analisis data secara induktif. yaitu: latar alamiah. MENENTUKAN KUALITATIF JENIS PENELITIAN KUANTITATIF ATAU Setelah diadakan pembedaan secara konseptual antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. deskiptif.

Sedangkan dalam melakukan penelitian kualitatif dilakukan pada latar alamiah atau konteks dari suatu keutuhan. Dalam melakukan analisis deskriptif kuantitatif peneliti mencari jumlah frekuensi dan mencari persentasenya. karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks untuk keperluan pemahaman. penelitian evaluasi merupakan jenis penelitian yang banyak menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif ini. hal ini dilakukan. Ada bermacam-macam paradigma. maupun oleh para praktisi melalui model-model tertentu. Konteks yang menentukan dalam menentapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainya. kemudian baru mentransfer harga kuantitas tersebut menjadi predikat. Paradigma. PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Dalam bidang kajian penelitian. menurut Lincoln dan Guba. menurut Bogdan dan Biklen adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama. peneliti. yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan.belah pihak peneliti dan objek penelitian. namun untuk memudahkan penulis menerjemahkannya secara harfiah sebagai paradigma ilmiah . dan bertumpu pada pendekatan fenomenologi. Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas bebrapa asumsi yaitu: tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan oleh para filosof. dan analisis lain yang juga masih bersifat deskriptif adalah analisis deskriptif kualitatif yang tujuan akhirnya memberikan predikat kepada variable yang diteliti sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan. karena ontology alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteks. pada hakekatnya wahana untuk menemukan kebenaran atau lebih membenarkan kebenaran. tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigm (paradigma keilmuan). langkah yang dilalui adalah mengadakan pengukuran secara kuantitas terhadap variable. konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.

dengan kata lain penelitian kualitatif tidak meneliti suatu lahan kosong tetapi ia menggalinya. paradigma ilmiah dan naturalistik paradigma atau paradigma alamiah. Paradigma dalam kaitannya dengan penelitian pada hakekatnya merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau lebih membenarkan suatu kebenaran. ini khususnya dalam studi kasus yang menggunakan metode kualitatif. bukan deskriptif. bukan kejadian atau frekuensinya. tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientific paradigma keilmuan. dan mengungkapkan makna di balik fakta empiris sensual.dan naturalistik paradigm atau paradigma alamiah. fenomenologi. Tujuannya adalah menyimpulkan sistem karaktristik atau hubungan antara ubahan dengan populasi induk. penelitian kualitatif bertolak dari paradigma alamiah. penelitian ini mengasumsikan bahwa realitas empiris terjadi dalam suatu konteks sedangkan pandangan alamiah bersumber pada pandangan . Meminjam istilah Moleong (1989). Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan postivisme. atau setidaknya obyek diteliti dengan fokus atau aksentuasi tertentu. Disamping itu sepanjang penelitian kualitatif mempunyai tujuan yang bersifat teoritis. sistemik. Paradigma penelitian kualitatif di antaranya diilhami falsafah rasionalisme yang menghendaki adanya pembahasan holistik. Dalam kaitannya dengan penelitian kuantitatif terkait secara khas dengan proses induksi enumeratif (induksi yang ditarik atas dasar penghitungan) salah satu tujuan utamanya adalah menemukan beberapa banyak dan jenis manusia apa saja dalam populasi umum dan populasi induk yang mempunyai karaktristik khusus yang ditemukan ada dalam populasi sampel. maka pengujuan teorinya yang lebih penting. tetapi tidak mengeliminasi konteksnya. ada bermacam-macam paradigma. Artinya. Paradigma ilmiah bersumber pandangan positivisme. Secara epistemologis. sedangkan pandangan alamiah bersumber pada padangan fenomenologis sebagai yang telah dikemukakan. metodologi penelitian dengan pendekatan rasionalistik menuntut agar obyek yang diteliti tidak dilepaskan dari konteksnya. Sedangkan dalam penelitian kualitatif konsep dan kategori.

Berkaitan dengan logika penelitian menurut paradigma kuantitatif. Kirk dan Miller memberi definisi bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial. misalnya: apabila masalah yang diteliti telah ditentukan dengan jelas dan pertanyaan yang diajukan kepada para responden memerlukan jawaban yang tidak ambigu. perhatianya berkisar pada replikasi temuan-temuan dalam kasus-kasus lain yang serupa atau inferensiinferensi biasanya bersifa teoritis atau kausal kecuali jika tentu saja kasus-kasus dipilih menurut sampel probabilitas. Konsekuensi dari pendekatan ini adalah metode penelitian kualitatif per excellence merupakan observasi partisipatoris. adalah persoalan generalisasian. setiap fenomena sosial harus diungkap secara holistik. Karena itu.sosio-kultural. pertanyaan-pertanyaannya agak berbeda. peniliti harus menggunakan diri sebagai instrumen mencapai wawasan-wawasan imajinatif kedalam dunia sosial responden. masukan imajinatif dan refleksifitas. yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam . disini biasanya tidak begitu berkembang dengan pertanyaan teoritis sentral dari penelitisn dan lebih sering menyangkut variasi-variasi yang diharapkan dalam populasi umum ynag ingin diamati peneliti dalam pengujian hipotesis. Perbedaan yang paling esensial dari kedua penelitian tersebut adalah dalam tradisi kualitatif. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. maka metode kuantitatif seperti kuesioner boleh jadi memang tepat digunakan dalam kondisi seperti ini. saling terkait satu sama lain. sedang dalam penelitian kualitatif yang tidak didasarkan pada sample statistic. Sedangkan pada tradisi kuantitatif instrumen tersebut adalah alat teknologis yang telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibilitas. masalah kegeneralisasian tidak muncul dengan model yang sama. perlu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan menyangkut kelompok-kelompok pembanding keputusan-keputusan. Sedangkan logika penelitian menurut paradigma kuantitatif. peneliti diharapkan fleksibel dan reflektif tetapi tetap mengambil jarak.

perumusan masalah. terpercaya. Lexy Moleong mengemukakan bahwa penelitian kualitatif di dasarkan pada: pondasi penelitian. Sedangkan Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penilaian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati secara cermat dan detail. interaksi. korelasi. dengan pendekatan positivisme yaitu untuk menyusun ilmu nomothetik (empiric sensual) dan hasil penelitian harus bebas nilai. dan dapat dikontrol. kausalitas. dapat dipandang dari sudut pandang (visi) orang luar atau peneliti. Dalam metode kualitatif.kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasanya dan dalam peristiwanya. pola fakir kuantitatif empris sensual. dieliminasikan dari obyek lain. mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata fakir logika. bersifat khusus dan bertitik tolak pada anggapan bahwa realitas itu stabil. menggunakan logika positivisme dan menghindari sifat-sifat subyektif. menuntut adanya rancangan kerangka teoritis. epistemologi dan metodologi. menggunakan pengukuran yang terkendali. dan asumsi-asumsi yang . Sedangkan ciri dari penelitian kuantitatif menurut Abdullah Kadjar memiliki beberapa ciri yaitu: dapat menyokong pengguna metode kualitatif. karena secara onologis. berwawasan verifikasi. mengeneralisasikan sebagai studi kasus. realitas menuntut positivisme dapat dipecah-pecah. tahap-tahap penelitian. paradigma penelitian. intervaliasi dan kontinuasi. harus obyektif agar supaya hasil yang dicapai maksimal Berangkat dari hal tersebut di atas. tehnik penelitian. dapat ditarik kesimpulan bahwa elemen pokok didalam paradigma penelitian baik kualitatif atau kuantitatif menyangkut tiga hal yaitu ontologi. analisia dan penafsiran data. data merupakan replika. obyektif. penyederhanaan. dapat dipelajari secara independen. penegas. kriteria dan tehnik pemeriksaan data. Menurut Noeng Muhadjir metodologi penelitian kuantitatif ringkasnya yaitu: penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme. berorientasi pada tujuan akhir. inferensial dan hipotesis deduktif.

yaitu yang mereka namakan positif. Apa yang kita ketahui itu hanyalah yang tampak saja. MACAM-MACAM PARADIGMA PENELITIAN Dari berbagai macam paradigma yang ada. prosedur ilmu pengetahuan tidak memberi peluang untuk tidak menguji teori-teori secara langsung dalam pengalaman. karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita selidiki dan yang dapat kita pelajari hanyalah berdasarkan faktafakta. tidak kepada studi yang lain. bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum-hukum yang dapat dibuktikan dengan observasi. Menurut Simon bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan hukum-hukum yang dapat dibuktikan dengan observasi dan percobaan. bisa kuantitatif dan juga bisa kualitatif. Ilmu pengetahuan harus diyakini. di luar itu kita tidak perlu mengetahuinya. terutama dalam masalahmasalah kemasyarakatan banyak dipengaruhi oleh Saint Simon. Paradigma ini dikatakan positivisme. yang berdasarkan data-data yang nyata. baik untuk mencapai generalisasi deskriptif maupun memperoleh penjelasan-penjelasan yang dapat diversifikasi secara langsung agar validitasnya terbukti. Fenomenologi lebih menunjukkan suatu metode filsafat dibanding dengan suatu ajaran.digunakan akan menentukan jenis penelitian. Dari berbagai prosedur yang ada. Dalam hal ini. Berbeda dengan fenomenologi dalam kaitannya paradigma positivistic. paradigma penelitian dibagi menjadi dua. Paradigma positivistic dipelopori oleh August Comte dalam pemikirannya. eksperimen dan verivikasi. kemudian dikembangkan oleh Marx Scheler (1874-1928). Metode fenomenologis ini berasal dari Edmund Hussrl (1859-1938). Selanjutnya menurut Simon bahwa penjelasan suatu masyarakat secara ilmiah dapat ditentukan dengan mengemukakan hukum perubahan historis atas dasar induksi sebagai postulat. positivisme sebagai filsafat mengemukakan pandangannya. yaitu positivistic dan non-positivistic. Positivisme membatasi penyelidikan atau studinya hanya kepada bidang gejala-gejala saja. Dalam pendidikan yang . dan tidak perlu untuk diketahui.

karena tiap paradigma mempunyai pandangan tersendiri tentang ontologi. seperti dengan observasi dan eksperimen. Sebelum peneliti menyusun desain. Dapat dipahami bahwa satu paradigma menghendaki metodologi tertentu yang paling tepat. konsep dan teori umum. kemudian paradigma ini menjadi ciri dari model kualitatif. Sedangkan paradigma lain yang menuntut pemahaman lebih mendalam untuk menguak makna dibalik fakta dan menuntut kewajaran alamiah serta pemaknaan arti menurut subyek pelakunya. yakni hanya mencari fokus kecil di antara berbagai fenomena sosial yang sesuai dengan teori yang hendak dibuktikannya. . semakin jelas penggunaan paradigma ini menjadi ciri suatu model penelitian. maupun dengan menggunakan pendekatan empiris. epistimologi dan metodologinya. Namun dalam perkembangannya. lalu dikenal dengan paradigma alamiah (naturalistic paradigm). Positivistic menghendaki model penelitian kuantitatif. Ketiga elemen tersebut harus sinkron. Perlu dijelaskan. kemudian diturunkan menjadi hipotesis yang dilakukan pengujian berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan. menjadi paradigma penelitian kuantitaif. Dalam setiap model penelitian. Paradigma ini kemudian dikenal dengan paradigma ilmiah (scientific paradigm). harus memilih paradigma penelitian terlebih dahulu. Paradigma fenomenologi ini mengemukakan bahwa kita harus memperkenalkan gejala-gejala dengan menggunakan intuisi. Kenyataan atau realisasi tidak harus didekati dengan argumen-argumen. Karena itu. peneliti kuantitatif berpendirian reduksionis. Hal ini mengakibatkan jenis penelitian ini harus berangkat dari teori yang diterjemahkan ke dalam proposisi (pernyataan yang dapat diuji kebenarannya). yaitu model penelitian kuantitatif bertujuan mengetahui hubungan sebab-akibat. yaitu elemen ontologi. sedangkan paradigama non-positivistic bisa menggunakan model penelitian kualitatif. Paradigma positivistic yang menuntut segalanya serba konkrit.pertama kali menerapkan metode fenomenologis adalah Langeveld. bahwa paradigma itu terdiri dari tiga elemen. rinci dan pasti. elemen epistimologi dan elemen metodologi.

peneliti kualitatif berpendirian ekspansionis. dalam penelitian kualitatif tidak terdapat hipotesis tentatif yang hendak diuji berdasarkan data lapangan. PERBEDAAN KUALITATIF PENDEKATAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN Ada hal mendasar yang membedakan antara pendekatan penelitian kuantitif dengan penelitian kualitatif. yaitu dengan menentukan formula statistik dan kuesioner. Menurut Noeng Muhajir penelitian kuantitatif dapat dilihat dari ciri-cirinya sebagai berikut. tidak reduksionis. artinya bahwa ilmu bergerak dari fakta khusus fenomena ke generalisasi teoritik. ia mengembangkan perspektif yang akan digunakan untuk memahami dan menggambarkan realitas. Penelitian kuantitatif bersumber pada wawasan filsafat positivisme. Karena itu. Segala sesuatu dikatakan ilmiah bila dapat diukur dan diamati secara objektif yang mengarah kepada kepastian dan kecermatan. Karena itu. pengukuran dan uji-uji statistik. Dalam penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivistik-ilmiah.Sebaliknya penelitian kualitatif. filsafat mengembangkan metodologi atas dasar logika induktif. yang empirik sensual. Dalam penelitan kuantitatif diasosiasikan dengan istilah pengukuran yang bersifat normative. 2. Karena itu. perlakuan. yaitu: 1. dimana generalisasi tersebut dikonstruksikan dari strata keragaman individual. . paradigma ilmiahpositivisme melahirkan berbagai bentuk percobaan. menggunakan logika matematis dan membuat generalisasi. dan cenderung dengan menggunakan angkaangka. Pola pikir kuantitatif adalah mengejar yang teratur yang teramati. Hal ini karena ilmu benar (valid) adalah ilmu yang dibangun dari kenyataan empiris. Ia tidak menggunakan proposisi yang berangkat dari teori melainkan menggunakan pengetahuan umum yang sudah diketahui serta tidak mungkin dinyatakan dalam bentuk proposisi dan hipotesis.

realitas menurut positivisme dapat dipecah-pecah. Selanjutnya dengan berpedoman kepada kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk menghubungkan pada . Demikian juga kerangka teoritis perlu dirumuskan sespeksifik mungkin. 7. kausalitas. interaksi. menentukan teknik analisis. Metodologi kuantitatif mengembangkan teknik analisis dengan membatasi pada tata pikir logika. Agar hasil penelitian dapat diperoleh secara objektif. Hasil penelitian harus bebas nilai. menentukan teknik sampling. penyususnan kerangka teoritis sesuai dengan kekhususan objek studi. merumuskan problematika penelitiannya. sebab secara ontologism. Hal itu karena pada hakekatnya penelitian merupakan usaha untuk menjembatani dunia konseptual dengan dunia empiris. Tujuan dari penelitian kuantitatif dengan pendekatan positivisme adalah untuk menyusun ilmu nomotheuk. 4. intervalisasi dan kontinuasi.3. harus objektif. dapat berlaku kapan dan dimana saja (bebas waktu dan tempat). Pada tahap teoritis peneliti menyusun kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk menghubungkan kenyataan yang akan diteliti dengan alam pemikiran peneliti. yakni ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya. Metodologi kuantitatif menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikasikan objeknya secara eksplisit dieliminasikan dari objekobjek lain yang tidak teliti. korelasi. Kebenaran di cari lewat hubungan kausallinier sebab akibat. maka dapat diketahui bahwa. dapat dipelajari secara independen. Langkah penelitian: penetapan obyek yang spesifik terpisah dari totalitas. merumuskan hipotetis. subjektif dan objek yang diteliti harus terpisah. secara garis besar proses penelitian terdiri dua tahapan yakni tahap teoritis dan tahap empiris. Teori kebenarannya adalah teori korespondensi. 6. Berangkat dari asumsi di atas. 5. dieliminasikan dari objek lain dan dapat dikontrol. menentukan instrumen pengumpulan data. bahwa sesuatu itu benar bila ada kesesuaian antara pernyataan verbal dengan realita empiric (empiric sensual).

menurut Lexsy Moleong ada beberapa ciri pendekatan ini: 1. Hal ini dilakukan karena jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik. 3. karena lebih dapat membuat hubungan peneliti dengan responden menjadi eksplisit dan lain-lain. akan tetapi hanya dinyatakan dengan bentuk sistematika analisa terhadap berbagai hal. Berbeda dengan penelitian kualitatif yang tidak menggunakan statistik atau pengukuran angka. Latar alamiah. . karena proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagai yang terdapat dalam data. Menurut Kirk dan Miller adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orangorang tersebut dalam bhasanya dan dalam peristilahanya. karena tindakan pengamatan mempengaruhi obyek yang dilihat. Manusia sebagai alat (instrument). 2. hal ini dimaksudkan agar kenyataan sebagai satu keutuhan tidak akan dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Penelitian ini cenderung menggunakan pendekatan interpretive. dan konteks sangat menentukan penetapan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya. Artinya melakukan pada latar alamiah atau pada konteks dari satu keutuhan (entity). kemudian menggeneralisasikan konsep sehingga menjadi konsepsional dengan dunia empiris itu peneliti melakukan penerapan dua sistem logika yakni logika induktif dan logika deduktif. peneliti mengabstraksikan gejala-gejala empiris sehingga menjadi konsep. Analisis induktif digunakan karena ada beberapa pertimbangan.tahap empiris. Analsis data secara induktif. ini berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti secara keseluruhan yang terkait dengan pengaruh lapangan. maka tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada dilapangan.

Jika dideskripsikan dengan langkah-langkah yang terstruktur teramati. realibilitas. Peneliti berusaha menggambarkan fenomena sosial secara holistik tanpa perlakuan manipulatif. Pendekatan ini juga mengejar diperolehnya generalisasi atau hukum-hukum baru. . Bedanya positivistic karena ia bertitik tolak dari grand concept. Keaslian dan kepastian merupakan faktor yang sangat ditekankan. reliabilitas instrumen dan objektivitas. Deskiptif. 6. adalah metodologi penelitian kualitatif yang berlandaskan filsafat rasionalisme dan tidak sekedar menggunakan rasio. menggantikan angka atau menggabungkan olahan statistik dengan olahan verbal. Desain bersifat sementara dan lain-lain. kriteria kualitas lebih ditekankan pada relevansi. Kualitatif mendefinisikan validitas. dan obyektivitas. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata. gambar dan bukan angka. Karena itu. dokumen dan sebagainya dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas. Berangkat dari perbedaan yang sangat esensial antara penelitian kuantitatif dengan peneiltian kualitatif maka dapat diketahui bahwa landasan berfikir penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan positivistic adalah falsafah positivisme dengan memanfaatkan metode kuantitatif. Dari hal tersebut di atas. 5. karena penelitian ini menggunakan teknik kualitatif. yakni pengungkapan realitas tanpa melakukan pengukuran yang baku dan pasti. mengakomodasi deskripsi verbal. Disamping pendekatan positivistic. Sebaliknya penelitian kuantitatif disebut sebagai paradigma ilmiah lebih ditekankan pada validitas internal dan eksternal. terdapat pula pendekatan rasionalistik. yakni signifikasi dan kepekaan individu terhadap lingkungan sebagaimana adanya. dapat diketahui bahwa penelitian kualitatif disebut sebagai paradigma alamiah. yang memori sensual. membuat generalisasi.4.

sampel. Mengenai apa dan siapa ini. maka bisa ditentukan populasi. yaitu: 1. maka ada beberapa langkah yang perlu dijawab untuk melakukan penelitian dengan menggunakan kedua pendekatan tersebut. Kasiram. H. bisa kelompok. Di bawah ini terdapat strategi penelitian sekaligus desain penelitiannya yang kami kutip dari Prof. Bagaimana menghubungkan desain dengan paradigma? Dalam upaya menghubungkan desain dengan paradigma. maka dalam hal ini terdapat beberapa macam strategi penelitian yang dapat digunakan agar supaya hasil penelitiannya valid dan dapat diverifikasi. muncul beberapa strategi penelitian antara lain: . setiap desain harus menjawab empat pokok pertanyaan yang sangat erat kaitannya dengan pembentukan desai penelitian. 2. kita bisa mengenal pola pikir yang digunakan dalam menyusun proposisi dan pola hubungan antar konsep dalam fenomena yang dihadapi. responden. individu. Apa dan siapa yang akan diteliti? Pertanyaan ini berusaha untuk menjawab tentang objek kajian yang akan diteliti oleh peneliti yang berkaitan dengan tujuan penelitian. informannya sesuai dengan model penelitian dan kebutuhannya di lapangan. Drs. maka diperlukan data yang menggunakan perspektif teoritik tertentu. Dari pola pikir dan pola hubungan antar konsep inilah. bisa ditentukan data (variable) apa saja yang akan dicari guna dijadikan sebagai pedoman penelitian.DESAIN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATATIF & MACAM-MACAM DESAIN PENELITIAN Dalam upaya mendesain penelitian kuantitatif dan kualitatif.Sc sebagai berikut: Dari paradigma ilmiah. Strategi apa yang akan digunakan dalam meneliti? Berkaitan dengan strategi yang akan digunakan oleh peneliti untuk meneliti objek kajiannya. M. Bila siapa yang menjadi sumber data. bisa lembaga dan sebagainya. bisa berupa benda-benda. M. 3. Menurut Norman dan Yvona.

Peneliti meragukan hasilnya karena hipotesisnya tidak teruji. Hal ini mengindikasikan bahwa peneliti . Ternyata hasilnya tidak memuaskan karena tidak ada hubungan. MENGGABUNGKAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Berbicara mengenai upaya penggabungan antara penelitian kuantitaif dan penelitian kualititaif. yang pada akhirnya memberikan kemudahan kepada para peneliti. dan sekaligus metode analisis data yang akan digunakan dalam proses pelaksanaan penelitiannya. Metode apa yang akan digunakan? Setelah kita mendesaian penelitian yang akan kita lakukan. untuk itu ia lalu mengadakan wawancara mendalam untuk melengkapi penelitiannya. analisis statistik dilakukan untuk menemukan hubungan antara dua atau lebih variabel. Biasanya. maka dengan mudah pula ditentukan metode pengumpulan datanya. peneliti kuantitatif biasanya tidak puas dengan hasil analisis statistik. Desain yang ada tersebut akan memberikan kemudahan dalam proses mencari dan menganalisa data.Strategi penelitian Deskriptif Korelasi Kausal Komparatif Eksperimen Desain penelitian Desain diskriptif Desain korelasi Desain kausal Desain komparatif Desain eksperinmental Quasi eksperimental Desain quasi eksperimental Action research Desain action research 4. sehingga peneliti tidak akan menemukan kesulitan yang berarti dalam pelaksanaan penelitiannya kelak. instrumen pengumpulan data. maka langkah selanjutnya adalah. maka berdasarkan sumber data dan variable/data yang akan diacari. maka nantinya akan didapatkan suatu titik temu yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Misalnya dengan data yang dikumpulkan dengan kuesioner.

Jadi.berusaha menggabungkan dua karakteristik penlitian yang berbeda. Kedua. masukan imajinatif dan refleksitas. peneliti kualitatif sering menggunakan data kuantitatif. antara kuantitatif dengan kualitatif. Begitu juga sebaliknya terjadi. Penggabungan dua metode yang berbeda dalam sebuah rangkaian penelitian memunculkan persoalan gerak antara paradigma-paradigma pada tingkat epistemologi dan teori dalam praktisnya. yaitu kuantitatif dan kualitatif. Dalam tradisi kualitatif peneliti harus menggunakan diri mereka sebagai instrumen. Jelaslah bahwa konstribusi metode kualitatif terhadap perumusan masalah teoritis yang dikaji oleh survey menuntut dilakukannya survey lapangan secara intensif sebelum survey. Dalam tradisi kuantitatif instrumen tersebut adalah alat teknologis yang telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibelitas. Ketiga juga terkait dengan urutan waktu dan menyangkut tahap . Dari sebagian besar uraian metodologi tampaknya sepakat bahwa sepanjang dua paradigma yang berbeda dianggap ada. namun yang sering terjadi pada umumnya tidak menggunakan analisis kuantitatif bersama-sama. dapat dijelaskan bahwa perbedaan antara kedua paradigma itu terkait dengan tingkat pembentukan pengetahuan dan proses penelitian. perbedaan yang terpenting adalah cara masing-masing memperlakukan data. Dalam proses penggabungan pendekatan dan metode disusun menurut beberapa faktor: pertama. jangka waktu untuk mana kedua metode ditempuh secara simultan. menyangkut arti penting yang diberikan kepada masingmasing pendekatan dalam keseluruhan proyek. jika tujuan survey lapangan kualitatif untuk memperjelas dan memperluas temuan survey. mengikuti asumsi-asumsi kultural sekaligus mengikuti data konsekuensi dari pendekatan ini adalah metode penelitian kualitatif merupakan observasi partisipatoris (pengamatan terlibat). Teknik kuantitatif seperti wawancara mendalam lebih dibutuhkan. menyangkut urutan waktu. Disamping itu. dapat dikatakan bahwa kedua pendekatan tersebut dapat diguinakan apabila desainnya adalah memanfaatkan satu paradigma sedangkan paradigma lainya hanya sebagai pelengkap saja. Dari upaya proses penggabungan kedua jenis penelitian tersebut. maka hal itu harus dilakukan setelah survey.

Pedekatan mencakup metode yang sama yang digunakan pada kesempatan yang berbeda. tergantung kepada individu peneliti dalam menggunakan dan melaksanakan penelitiannya. Peneliti-peneliti gabungan. dapat diketahui bahwa kehadiran dan keberadaan dua paradigma yang berbeda mengesankan adanya sesuatu yang menjadi pedoman para peneliti. Bahwa terminologi yang lebih tua usianya dan digunakan lebih luas dijumpai dalam literatur yang menyebut strategi ini sebagai “triangulasi” yaitu: 1. Dalam metode ganda atau tringulasi ini bisa terjadi antara metode atau bisa juga didalam metode. organisasi penelitian adalah bagian penting dari . Keempat yang menentukan pemakaian metode menyangkut pembagian keterampilan dalam tim penelitian. pendekatan di dalam metode dapat mencakup pengulangan metode yang sama pada jumlah kesempatan dan bias pula menghasilkan penilaian yang berbeda tentang situasi pada saat-saat yang berbeda. kedua metode dapat diakses ke dalam proyek pada tahap pembuatan desain. Peneliti gabungan disni dimaksudkan bahwa personel yang melakukan tahapan penelitian ini dilakukan oleh kemitraan atau kelompok bukan oleh orang perorang. Dari kedua penggabungan jenis penelitian tersebut. tetapi hanya satu metode yang diperhitungkan dalam penulisan laporan penelitian. 2. apakah lebih cenderung kepada penelitian kuantitif atau lebih cenderung kepada penelitian kualitatif dalam menganalisa data yang didapat dari hasil penelitiannya.dalam proses penelitian saat kedua metode digunakan atau dihentikan. sementara metode berarti pemakaian metode yang berbeda dalam kaitan dengan obyek studi sama. Metode-metode ganda. Ini tidaklah mengherankan karena kumpulan teks-teks metodologi yang mengesankan keberadan dua paradigma tersebut. Misalnya. Dari proses penggabungan tersebut. terutama bagi praktek-praktek mereka. masalah yang substantif. Oleh karena itu dalam kasus terakhir observasi partisipatoris dalam lingkup ruang kelas bisa digabungkan dengan survey kuesioner para siswa dan guru.

tingkat individual. dan tata pikir timbal-balik atau interaktif. Teori-teori gabungan.strategi penelitian individu-individu yang berbeda dan gabungan orang membawa perspektif yang berbeda kedalam penelitian. menurut Muhadjir. Justru sebaliknya kini antara keduanya saling mendekat dan melengkapi satu sama lain. Sebagai misal menurut Stacey (1960) mengomentari studi pertamanya tentang Banbury. jika tidak pengujian penelitian sebelumnya dapat menuntun peneliti untuk menguji sejumlah hipotesis yang logis dan mungkin kontras dengan temuan-temuannya. disamping itu data kadang-kadang terkait dengan tingkat-tingkat analisa sosial yang berbeda. analisa data awal. bersama dengan wawasan-wawasan dari proses penelitian itu sendiri. seperti nampak dalam model-model uji statistik inferensial. Tapi sebenarnya antara kedua penelitian itu tidak terdapat perbedaan yang cukup jauh. kumpulan data yang berbeda disamping bisa diperoleh melalui penerapan metode-metode yang berbeda. 4. Tata pikir logika penelitian positivisme-kuantitatif yang meliputi tata pikir korelasi. Antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif seakan-akan terdapat perbedaan paradigmatif yang tidak ada titik temu. menunjukan bahwa tiga peneliti yang tergabung dalam tim peneliti mencerminkan tiga kelas sosial yang berbeda kelas merupakan kunci utama studi Banbury kelas atas. juga melalui penggunaan metode yang sama pada waktu yang berbeda atau sumber-sumber yang berbeda. Peneliti dalam melaksanakan penelitiannya bisa menggunakan teoriteori gabungan. dapat ditempatkan dalam sebuah grand . sebab akibat. 3. bisa menghasilkan sejumlah kemungkinan teori dan hipotesis tentang masalah yang diteliti. Sekumpulan data gabungan. tingkat interaktif dan kolektif yang berbeda pula. Ini pada gilirannya dapat diuji pada data. Dari beberapa sekumpulan data gabungan. kelas menengah dan kelas pekerja. Data bisa dikumpulkan pada titik-titik waktu yang berbeda dan konteks situasi ataupun latar yang bervariasi.

Masing-masing bentuk penelitian tersebut kita tempatkan dalam logika penelitian kualitatif. Keempat. seperti korelasi dan hubungan sebab akibat. Karena itu. barangkali akan lebih jelas jika dirinci untuk masing-masing bentuk penelitian kuantitatif positivistik. sesungguhnya tiada lain ialah teori-teori besar yang menjadi kunci analisis untuk memahami fenomena sosial.theory artau grand concept agar data empirik sensual dapat dimaknai dalam cakupannya yang lebih luas. Penelitian kuantitatif hanya menggunakan logika mikro. korelasional dan eksperimen. fungsional. Apa yang dimaksud dengan grand theory. walaupun dalam pengembangannya terjadi perbedaan pendapat. karena desain penelitian kualitatif sering menggunakan strategi sampling non probilitas maka penting diperjelas pada tahapan pembuatan desain. misalnya. Berangkat dari hal tersebut di atas. sehingga dapat menjaga terhadap kualitas dan validitas hasil penelitian. dari tahap pembuatan desain sampai penulisan. Kedua. Di antara logika makro itu ialah: Pertama. Sudah diketahui umum bahwa bentuk penelitian kuantitatif terdiri dari penelitian deskriptif. Penempatan tata pikir mikro yang bersifat korelasional dan eksperimental dalam sebuah konteks grand theory. seperti pola pikir sistemik. mengapa dan kapan saatnya menggunakan sampelsampel probalitas dan konsekuensi jenis data yang dihasilkan dari keputusan tersebut. Ketiga. pragmatik dan pola pikir kontekstual. Ini merupakan logika makro yang menjadi pijakan analisis. pola pikir yang terkait dengan sistematisasi pengetahuan. dapat kita pahami bahwa di dalam penggabungan antara kedua metode itu membutuhkan kecermatan dan ketepatan seperti diperlukan pada setiap tahap proses penelitian. Muhadjir mengusulkan agar logika mikro kuantitatif ditempatkan dalam kerangka logika makro. baik statika maupun dinamika sosial. . sedangkan penelitian kualitatif seringkali tertarik pada logika makro. pola pikir yang mengarah dari kutub statika sosial seperti struktur sosial kepada dinamika sosial. pola pikir yang menggambarkan keterkaitan antara berbagai fenomena dengan asumsi bahwa suatu fenomena terkait dengan fenomena yang lain. pola pikir historik atau proses perkembangan.

apakah itu penelitian kuantitaif ataupun kualitatif. menurut Lincoln dan Guba (1985: 39). Dalam latar alamiah ini. dalam hal ini penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri-ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks untuk keperluan pemahaman. yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan. Hal ini dilakukan. karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagi keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.KARAKTERISTIK DISAIN KUALITATIF Berkaiatan dengan karakteristik yang dimiliki oleh setiap penelitian. Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas beberapa asumsi bahwa: a. Adapun ciri-ciri dari desain penelitian kualitiatif yaitu: 1. Sebagian struktur nilai kontekstual bersifat determinatif terhadap apa yang akan di cari dlaam proses penelitiannya. Uraian di bawah ini merupakan hasil pengkajian dan sintesis kedua versi tersebut. Dari hasil penelaahan kepustakaan ditemukan bahwa Bogdan dan Biklen mengajukan lima buah ciri yang membedakan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitaif. Tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat. . Dari beberapa uraian tersebut di atas. Latar alamiah. b. laboratorium. c. misalnya mengikuti mahasiswa sebagai subjek penelitiannya ke dalam ruang kuliah. akan dapat membawa peneliti untuk memasuki dan melibatkan sebagian waktunya apakah di sekolah. penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Peneliti yang mengadakan penelitian terhadap mahasiswa kedokteran. keluarga. Sedangkan Lincoln dan Guba mengulas sepuluh buah ciri penelitian kualitatif. tetangga. dam lokasi lainnya untuk meneliti masalah pendidikan atau sosiologi. Konteks sangat menentukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya.

tempat-tempat pertemuan dan sebagainya. Dalam pelaksanaan penelitian. Dalam proses pelaksanaan analisis data yang diperoleh oleh peneliti. 2. peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. dan Ketiga. maka analisis yang harus digunakan oleh peneliti adalah analisis data secara induktif. 3. Penulis menamakan cara pengumpulan data demikian “pengamtan berperan serta atau participant-observation”. 4. jika memanfaatkan alat yang bukan manusia dan mempersiapkan terlebih dahulu sebagai yang lazim digunakan dalam penelitian klasik. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. hanya “manusia sebagi alat” sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya. peneliti berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan. Hal ini dilakukan karena. Selain itu. Kedua. asrama.rumah sakit. maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyatan dilapangan. Metode Kualitatif. Pada pelaksanaan penelitian kualitatif. menyesuaikan metode kualitatif apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Manusia sebagai alat (instrument). dan hanya manusia sebagai alat sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau obyek lainnya dan hanya manusialah yang mampu memahami kenyataan-kenyataan di lapangan. Analisis data secara Induktif. Analisis data induktif ini digunakan karena beberapa . metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola nilai-nilai yang dihadapi oleh peneliti. Oleh karena itu pada waktu mengumpulkan data di lapangan. dan tempat-tempat yang biasanya di gunakan oleh mereka untuk berkumpul seperti kafetaria. metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dengan responden. Pertama. penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif dalam analisa datanya.

Jadi. Penelitian ini mempercayai apa yang dilihat sehingga ia berusaha untuk sejauh mungkin menjadi netral. b. Kelima. Kedua. analisis induktif lebih dapat membuat hubungan peneliti–responden menjadi eksplisit. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: a. Teori dari dasar (grounded theory). Pada pelaksanaan penelitian kualitiatif. yaitu dari sejumlah bagian yang banyak data yang dikumpulkan dan yang saling berhubungan. Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdsarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan. pertama. Jadi peneliti dalam hal ini menyusun . Setelah melaksanakan penelitian dengan menggunakan analisis induktif. analisis demikian dapat memperhitungan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik. 5. proses induktif lebih dapat menemukan kenyataankenyataan ganda sebagai yang terdapat dalam data. Teori-teori dari dasar lebih dapat responsif terhadap nilai-nilai kontekstual. analisis demikian lebih dapat menguraikan latar secara penuh dan dapat menbuat keputusan-keputusan tentang dapat-tidaknya pengalihan kepada suatu latar lainnya. Tidak ada teori apriori yang dapat mencakupi kenyataan-kenyataan ganda yang mungkin akan dihadapi. c. Jika peneliti merencanakan untuk menyusun teori arah penyusunan teori tersebut akan menjadi jelas sesudah ada data dikumpulkan. Keempat. Ketiga. kemudian dikelompok-kelompokan. biasanya yang sering dilakukan oleh para peneliti pada bidang penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori subsantantif yang bersal dari data. dan accountable. berarti bahwa pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan. analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan. penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas.alasan. dapat dikenal.

dan dokumen resmi lainnya. Selain itu semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti oleh peneliti yang berkaitan dengan obyek dan tujuan penelitiannya. dokumen pribadi. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Lebih mementingkan proses dari pada hasil.atau membuat gambaran yang makin menjadi jelas sementara data dikumpulkan dan bagian-bagiannya diuji. catatan atau memo. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara. . video tape. Data ini biasanya dikumpulkan dan dioleh dengan berupa kata-kata. kemudian menjelaskan tentang sikap yang diteliti. Data diskriptif adalah data yang tidak nampak. gambar dan bukan angka-angka. Peneliti mengamatinya dalam hubungan sehari-hari. laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. peneliti menganalisis data yang sangat kaya tersebut dan sejauh mungkin dalam bentuk aslinya. 7. dan bagaimana terjadinya akan senantiasa dimanfaatkan peneliti. Hal itu hendaknya dilakukan seperti orang merajut sehingga setiap bagian ditelaah satu demi satu. Pertanyaan dengan kata tanya “mengapa”. Dengan demikian peneliti tidak akan memandang bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya. Deskriptif. Bogdan dan Biklen memberikan contoh seorang peneliti yang menelaah sikap guru terhadap jenis siswa tertentu. Pada penulisan laporan demikian. dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan aspek proses dari pada hasil. catatan lapangan. alasan apa. Dengan demikian. 6. Berkaitan dengan penelitian karakteristik pada penelitian kualitatif. foto.

Batas menentukan kenyataan ganda yang kemudian mempertajam fokus. 9. b.8. Adanya batas yang ditentukan fokus. dan objektifitas dalam versi lain dibandingkan dengan lazim digunakan dalam penelitian klasik. validitas internal cara lama telah gagal karena hal itu menggunakan isomorfisme antara hasil penelitian dan kenyataan tunggal di mana penelitian dapat dikonvergensikan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal: a. Apapun jenis penelitiannya. kreteria objektifitas gagal karena penelitian kualitatif justru memberi kesempatan interaksi antara peneliti-responden dan peranan nilai dalam prose penelitiannya. Kedua. pasti akan dibutuhkan beberapa kriteria yang berkaitan dengan jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Penetapan fokus dapat lebih dekat dihubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Dengan kata lain. Ketiga. kreteria realibilitas gagal karena mempersyaratkan stabilitas dan keterlaksanaan secara mutlak dan keduanya tidak mungkin digunakan dalam paradigma yang didasarkan atas dasar desain yang dapat berubah-rubah. Pada karaketristik penelitian kualitatif ditetapkannya mengenai batasanbatasan dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data. Menurut Lincoln dan Guba hal itu disebabkan oleh: Pertama. . Dengan hal itu dapatlah peneliti menemukan lokasi penelitian yang memudahkan seorang peneliti dalam melakukan tugas penelitiannya. bagaimanapun penetapan fokus sebagai masalah penelitian penting artinya dalam usaha menemukan batas penelitian. reliabilitas. Keempat. Penelitian kualitatif meredefisikasikan validitas. validitas eksternal gagal karena tidak taat asas dengan aksioma dasar dari generalisasinya.

Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. Jadi. 11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama. menurut Moleong ialah menyusun rancanan penelitian. atau setidaknya ia membaca hasil-hasil penelitian yang memiliki kedekatan dengan penelitian yang dilakukan. Desain yang bersifat sementara. Karakteristik desain penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data. Salah satu tahapan penting. sekalipun prosesnya dilakukan secara induktif. TAHAPAN RISET KUALITATIF Dalam tahapan riset penelitian kualitatif.10. pendekatan sebagai perspektif dalam memahami gejala sosial keagamaan karena memahami berbagai teori. Kedua. Isi rancangan . tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. susunan kenyataan dari merekalah yang akan diangkat oleh peneliti. Ia dapat memilih permasalahan penelitian. Kedua. Pertama. tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan. Konsep dalam penelitian kualitatif ini menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataankenyataan ganda di lapangan. tidak berarti peneliti tanpa memiliki perspektif. Penelitian harus dilakukan melalui beberapa tahapan. bermacam sistem nilai yang terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan dalam waktu yang relatif singkat. konfirmasi hipotesis kerja akan menjadi lebih baik verifikasinya apabila diketahui dan dikonformasikan oleh orangorang yang ada kaitannya dengan yang diteliti oleh peneliti pada bidang garapannya. Ketiga. Pertama. Ketiga. hasil penelitian bergantung pada hakikat dan kualitas hubungan antara pencari dan yang dicari.

yaitu: (1) mulai dari tempat anda berada. Usaha mempelajari penelitian kualitatif tidak terlepas dari usaha mengenal tahap-tahap penelitian. (9) mengembangkan analisis. (4) bersama lapangan. (10) menulis laporan dan. (2) tinjauan pustaka. (4) penentuan jadwal penelitian. (2) kegiatan lapangan (3) analisis intensif. 2. menjadi berbeda dengan tahaptahap penelitian non-kualititif. Lofland (1984) mengajukan 11 tahap. Khususnya analisa data ciri khasnya sudah dimulai sejak awal pengumpulan data. The stage of writing. The stage of productive data collection. . yaitu: (1) invensi (2) temuan. (5) mencatat dengan hati-hati (loging data). (7) mangajukan pertanyaan. The stage of reflection. Studi kepustakaan diharapkan akan menghasilkan: (a) rumusan masalah dan fokus penelitian. Akan tetapi secara umum rancangan tersebut berisi: (1) latar belakang masalah. 3. Menurut Bogdan dalam Lexy J Moleong (2003: 85) bahwa terdapat tiga tahapan dalam riset kualitatif yakni: (1) pra lapangan. (2) menilai latar penelitian. 5. (3) masuk lapangan. (5) rancangan pengumpulan data. The stage of withdrawal. (4) eksplanasi. Hal itu sangat membedakannya dengan pendekatan yang menggunakan eksperimen. The stage of entry. (3) penafsiran. (11) membimbng akibat. (3) pemilihan lapangan penelitian (jika akan penelitian lapangan). (b) pertanyaan-pertanyaan penelitian. dan (6) rancangan prosedur analisis data. dan (c) signifikasi penelitian. Sedangkan menurut Janice dalam Norman dan Yvonna (1994: 220-232) terdapat enam tahap dalam menyusun rancangan riset kualitatif yakni: 1. (8) menjadi tertarik. 4.penelitian sebenarnya tidak ada yang baku. 6. (6) memikirkan satuan. Tahap-tahap penelitian kualitatif dengan salah satu ciri pokoknya peneliti menjadi sebagai alat penelitian. The stage of planning. Sedangkan menurut Kirk dan Miller (1986) menyatakan adanya empat tahapan.

Dalam tema ini. perlu pula dijadikan pertimbangan dalam menentukan lokasi penelitian. pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada di lapangan. Dalam mengurus perizinan ini harus mencantumkan tujuan dan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. cara terbaik yang perlu diperhatikan dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif. Dalam proses penyusunan rancangan suatu penelitian kualitatif biasanya dinamakan dengan usulan penelitian. biasanya izin ini akan dikeluarkan oleh instansi terkait atau badan yang memiliki kewenangan atas hal tersebut . 1. tenaga. b. Mengurus perizinan sangat diperlukan sekali dalam upaya melaksanakan penelitian. terdapat enam kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti dan dalam tahapan ini pula ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami. Untuk memilih lapanan penelitian. Kegiatan dan pertimbangan tersebut diuraikan berikut ini: a. c. Dalam tahap pra lapangan ini. Memilih lapangan penelitian. penulis hanya membatasi pembahasan secara singkat pada tahapan riset yang dikemukakan oleh Bogdan dengan disentesiskan dengan uraian dari sumber lain. Menyusun rancangan penelitian. Tahap pra lapangan. Dengan kata lain peneliti mencantumkan keinginannya untuk mengadakan penelitian. Keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu. paling tidak berisi (1) latar belakang masalah dan alasan pelaksanaan penelitian (2) kajian kepustakaan yang menghasilkan (3) pemilihan lapangan penelitian (4) penentuan jadwal penelitian (5) pemilihan alat penelitian (6) rancangan pengumpulan data (7) rancangan prosedur analisis data (8) rancangan perlengkapan (9) rancangan pengecekan kebenaran data. Izin penelitian ini diperlukan dalam rangka untuk kepentingan kelancaran penelitian yang akan dilakukan. Mengurus perizinan. biaya. yaitu etika penelitian lapangan.

Menjajaki dan menilai keadaan lapangan. maksud dan tujuan lainnya ialah untuk membuat peneliti mempersiapkan diri. Dalam hal tertentu. Jika penelitiatelah mengenalnya. Maksud dan tujuan penjajakan dan penilaian lapangan adalah berusaha mengenal segala unsur lingkungan sosial. Memilih dan memanfaatkan informan. . Kegunaan informan bagi peneliti adalah membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan diri dalam konteks setempat terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi. Penjajakan dan penilaian lapangan akan terlaksana dengan baik apabila peneliti sudah membaca terlebih dahulu dari kepustakaan atau mengetahui melalui orang dalam hal situasi dan kondisi daerah tempat penelitian dilakukan. melalui keterangan orang yang berwewenang.bahkan izin itu dimintakan di lokasi dimana akan penelitian itu dilakukan. Karena itu peneliti juga perlu mengetahui siapa yang paling berhak mengeluarkan izin tersebut. informan perlu direkrut seperlunya dan diberi tahu tentang maksud tujuan penelitian jika mungkn dilakukan. serta menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. e. Hal ini dimaksudkan agar supaya peneliti tidak bertindak ceroboh dan sesuka hati. berlaku adil dan sikap positif lainnya. Memilih dan memanfaatkan informan yang ada sangat berguna sekali dalam membantu proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti. jujur bersahabat. objektif dalam menghadapi konflik. Upaya untuk menemukan informan yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan dapat dilakukan dengan cara. Syarat lainnya yang perlu dimiliki oleh peneliti adalah terbuka. melalui wawancara pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. tidak pandang bulu. d. fisk dan keadaan alam lainnya. mental maupun fisik. simpatik dan empatik. Selain itu pemanfaatan informan agar dalam waktu yang relatif singkat dapat diketahui informasi yang banyak.

Karena itu. g. dengan harapan agar supaya kebutuhan dari peneliti dapat terpenuhi secara keseluruhan. peneliti perlu memahami latar penelitian terlebih dahulu. Pemahaman teradap latar penelitian diperlukan untuk memasuki pekerjaan di lapangan. Ketika seorang peneliti telah memasuki lapangan. maka hendaknya peneliti membina hubungan berupa raport. Etika merupakan hal yang paling esensial dalam penelitian. wawancara mendalam. peneliti hendaknya tahu menempatkan diri. Memahami latar penelitian dan persiapan diri. a. dalam arti hubungan antara peneliti dan . Tahap pekerjaan lapangan. Peneliti hendaknya mengenal adanya latar terbuka dan latar tertutup. foto. tetapi segala macam perlengkapan penelitian yang diperlukan. Peneliti hendaknya menyiapkan tidak hanya perlengkapan fisik. penting kiranya bagi setiap peneliti untuk memahami kondisi sosio-cultural tempat dimana penelitian itu dilakukan sehingga sikap etik harus menyertai peneliti yang disesuaikan dengan kondisi tersebut. Hal itu dilakukan dalam pengamatan berperan serta. 2. Seluruh metode itu pada dasarnya menyangkut hubungan peneliti dengan orang atau subjek penelitian. Menyiapkan perlengkapan penelitian. pengumpulan dokumen. karena baik buruknya hasil penelitian ditentukan oleh faktor ini. Yang penting ialah peneliti sejauh mungkin sudah menyiapkan segala alat dan perlengkapan penelitian yang diperlukan sebelum ia terjun ke dalam kancah penelitian. apakah ia sebagai peneliti yang dikenal atau tidak. Disamping itu. Penyiapan perlengkapan penelitian harus dilakukan sesegera mungkin. b. Disamping itu ia perlu mempersiapkan dirinya baik secara fisik maupun mental disamping ia harus mengingat persoalan etika sebagai yang telah diuraikan sebelumnya. Persoalan etika penelitian. Salah satau ciri utama dari penelitian adalah orang sebagai alat mengumpulkan data. dan sebagainya.f. Memasuki lapangan.

dokumen berupa laporan. artikel. Tahap analisa data. Dalam hal ini dianjurkan agar analisa data dan penafsirannya secepat mungkin dilakukan oleh penulis. Analisa ini bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif. 3. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif. Dengan demikian subjek dengan sukarela dapat menjawab pertanyaan atau memberikan informasi yang diperlukan oleh peneliti.subjek yang diteliti melebur menjadi satu sehingga seolah-olah tidak ada lagi dinding pemisah di antara keduanya. dan satuan uraian dasar. foto. mengorganisasikannya dalam suatu pola. Analisa dalam hal ini mengatur urutan data. yaitu sesudah meninggalkan lapangan. sehingga sangat memungkinkan kualitas data penelitiannya akan menjadi berkurang dan bahkan tidak sesuai dengan target atau tujuan dari penelitian yang dilakukan semula. Analisis data bermaksud pertamatama mengorganisasikan data. biografi. Dari sini dapat ditarik suatu benang merah bahwa analisa data itu dilakukan dalam suatu proses. memberikan kode dan mengkategorikannya. karena dikhawatirkan data-data yang ada akan hilang atau berantakan. Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data. . Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti. jangan sampai menjadi kadaluwarsa. gambar. Tahapan akhir dari prosedur penelitian ini adalah analisa data. kategori.

1974. Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda. Syracuse. Manajemen Penelitian. Liberty. 1996. Sudarto. 1988. 1997. N. ___________. PT Raja Grafindo Persada. 2003. Bandung. The Liang Gie. Pustaka Pelajar. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. 2001. Burhanuddin Salam. Yvonna Sebagai. Yogyakarta. Moleong. Jakarta. Lincoln.R. PPS UIIS Malang. 1982. Bina Aksara. I. Guba. Strategi Penelitian Tesis Program Magister By Research. Jakarta. Yogyakarta. History of Western Philosophy. Qualitative Research of Education: An introductions to Theory and Methods. .. Memadu Metode Penelitan Kualitatif dan Kuantitatif. PT Raja Grafindo Persada. Liberty. 1979. Metodologi Penelitian Filsafat. Inc. jilid I. Jakarta. Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta. Filsafat ILmu. Partisipant Opservation in Organizational Setting. Sudarto. 1982. 2000. Pengantar Filasafat Ilmu. 1985. 1986. ___________. Pengantar Logika Moder. Logika : Filsafat Berpikir. Julia Brannen. Rineka Cipta. PT Remaja Rosdakarya. Logika Materil : Filsafat Ilmu Pengetahuan. _______________. ___________. Yogyakarta. Rineka Cipta. Metodologi Penelitian Kualitatif. Karya Kencana. 1997. Boston: Allyn and Bacon. dan Egon G. Sumartoyo Harjosatoto dan Endang Daruni Asydi. Bina Aksara. Syracuse Universiti Press. Suharsimi Arikunto. Jakarta. Lexy J. George Allen dan Unwin. Poedjawijatna. M.Y. London.DAFTAR PUSTAKA Bertran Russel. Logika Formal (Filsafat Berpikir). dan Sari Knopp Biklen. 2000. 1997. Kasiram. Pustaka Pelajar Offset Yogyakarta. Fakultas filsafat UGM. 1997. 2002. Tim Dosen Filsafat Ilmu. Naturalistic Inquiry Beverly Hills : Sage Publications.

Kelahiran penelitian eksperimen dalam ilmu sosial telah mengubah pendekatan ilmu sosial yang filosofis. Wundt. penelitian eksperimen mulai banyak digunakan dalam bidang sosial untuk menjelaskan studi mengenai mental manusia dan kehidupan sosial secara objektif dan tidak bias. dan integratif menjadi interpretif. Wilhelm M. memperkenalkan metode eksperimen ke dalam studi psikologi. sebab dari suatu gejala akan diuji untuk mengetahui apakah sebab (variabel bebas) tersebut mempengaruhi akibat (variabel terikat). yang menekankan pada studi mengenai pengukuran tingkah laku sebagai ekspresi mental seseorang. introspektif. Dalam ilmu sosial. PERINTIS PENELITIAN PERCOBAAN Penelitian eksperimen semula diambil dari Ilmu Alam dan dimulai dalam studi ilmu psikologi.PERCOBAAN Percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan. Pada masa Perang Dunia II. WILHELM WUNDT. . peneliti dari Amerika dan berbagai universitas di dunia mendirikan laboratorium psikologi untuk melakukan penelitian eksperimen. 2. Kuantifikasi. Behaviorisme. yang menekankan penghitungan fenomena sosial dengan angka-angka. Perluasan penggunaan metode eksperimen pada era ini ditandai dengan: 1. Jerman sebagai pusat pengetahuan berhasil mengundang para ilmuwan sosial dari seluruh dunia untuk mempelajari metode tersebut. yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala. Dalam penelitian ini. seorang psikolog dari Jerman. Akhir abad 18. Wundt mendirikan sebuah laboratorium eksperimen dan dijadikan sebagai contoh oleh para ilmuwan sosial. penghitungan berbasis angka banyak diterapkan dalam statistika sosial. Penelitian ini banyak digunakan untuk memperoleh pengetahuan dalam bidang ilmu alam dan psikologi sosial. Menjelang tahun 1900.

memerlukan sedikit biaya. Berfokus pada keabsahan ke dalam (internal validity). Dan sampai saat ini. 2. . penelitian eksperimen merupakan penelitian yang banyak digunakan karena sifatnya yang logis. 4. penelitian eksperimen semakin banyak digunakan untuk mengevaluasi penelitian. Setelah beberapa waktu. KARAKTERISTIK Penelitian percobaan setidaknya memiliki 3 (tiga) ciri utama. Kelompok pertama dimasukkan ke dalam sebuah ruangan selama beberapa waktu dan sengaja hanya diberikan tayangan kriminalitas. subjek penelitian eksperimen berupa orang-orang awam yang belum dikenalnya. 3. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental. Namun dalam perkembangannya. konsisten. dapat dibandingkan hasil percobaan yang telah kita lakukan terhadap kelompok pertama dan kelompok kedua. metode penelitian eksperimental ini sudah banyak digunakan dalam peneliti sebagai cara untuk menguji hipotesa dengan standard error yang kecil. Penelitian eksperimen pada awalnya menekankan peneliti profesional sebagai subjek dari penelitian tersebut. terdapat dua kelompok yang masing-masing beranggotakan 15 orang. sehingga objektifitas dari hasil penelitian tersebut lebih terjamin. yakni: 1. Penelitian eksperimen diterapkan secara praktis dalam berbagai hal untuk menguji hubungan sebab akibat. Tahun 1950 dan 1960. dan secara jelas menggambarkan hubungan sebab akibat antar gejala. Perubahan dalam subjek penelitian. Aplikasi praktis. Contoh: dalam sebuah penelitian yang menguji mengenai pengaruh tayangan kriminalitas terhadap tingkat agresifitas anak. sedangkan kelompok kedua dibiarkan untuk memilih menonton tayangan apa saja. Memasuki tahun 1970. Menggunakan sedikitnya dua kelompok percobaan. sederhana.3.

Menetapkan berapa jumlah kelompok. HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN Langkah awal melakukan penelitian percobaan adalah dengan menentukan kelompok mana yang menjadi kelompok eksperimen (kelompok yang diberi stimulus). Sebelum melakukan percobaan. Setelah membagi ke dalam dua kelompok tersebut. Pembagian acak berarti membagi sampel yang telah dipilih menjadi dua kelompok secara acak. 5. 4. tanpa berdasar pada urutan tertentu dengan tujuan pembandingan. peneliti membandingkan hasil percobaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 6. Cara pengambilan sampel tersebut dibedakan menjadi pembagian acak (random assignment) dan pencocokkan (matching). apa stimulus yang diberikan. Setelah percobaan berakhir. 3. pihak peneliti akan melakukan test awal (pretest) untuk mengamati gejala variable terikat sebelum diberikan stimulus. 7. Menentukan kapan dan bagaimana memasukkan stimulus. Menyempitkannya dalam pertanyaan penelitian. Menentukan kapan melakukan pengukuran variable terikat. Merancang desain penelitian eksperimen yang baik. Membuat analisa dan kesimpulan akhir. Mengembangkan hipotesa. Pencocokkan berarti membagi sampel tersebut berdasarkan kesamaan karakteristik tertentu. 8. . hubungan sebab akibat antar gejala akan teruji. Pengambilan berdasarkan pencocokkan ini jarang dilakukan karena sulitnya peneliti untuk menemukan kesamaan antara subjek-subjek penelitian. kelompok mana yang menjadi kelompok kontrol (kelompok yang tidak diberi stimulus).Secara garis besar. dan cara pengambilan sampel tersebut. pihak peneliti akan melakukan test akhir (posttest) untuk membandingkan adanya pengaruh variable sebab terhadap variable akibat. Menetapkan topik penelitian. langkah yang ditempuh dalam penelitian percobaan adalah: 1. 2. Dari sana.

Kelemahan penelitian laboratorium adalah penelitian ini belum tentu dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing penelitian tersebut memliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Kelebihan penelitian lapangan adalah hasil penelitian ini dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. dimana kelompok eksperimen masih dapat berhubungan dengan faktorfaktor luar. penelitian percobaan (eksperimen) terbagi menjadi penelitian laboratorium (laboratory experiment) dan penelitian lapangan (field experiment). . PENELITIAN LABORATORIUM Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan tertutup.JENIS Secara garis besar. PENELITIAN LAPANGAN Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan terbuka. Kelemahan penelitian lapangan adalah tingkat kepastian hubungan sebab akibat tidak sebesar pada penelitian laboratorium karena sulitnya untuk mengontrol variabel-variabel pengganggu. dimana kelompok eksperimen dijauhkan dari variable pengganggu sebab dapat memengaruhi hasil dari pengujian hubungan sebab akibat. Kelebihan penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya karena hanya memfokuskan pada pengujian hubungan sebab dan akibat.

Dalam tipe ini. Pada kelompok kontrol. 2. dan dilakukan pengamatan akhir. Pada kelompok kontrol. lalu diberikan stimulus. dilakukan pengamatan awal dan pengamatan akhir. dilakukan pengamatan terlebih dahulu. tanpa diberikan stimulus tertentu. pengamatan hanya diberikan satu kali saja. dan untuk mengetahui hasilnya dilakukan pengamatan akhir. Pada kelompok eksperimen. Pada kelompok eksperimen pertama. pertama-tama dilakukan pengamatan awal. Pada kelompok eksperimen langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir. Tipe empat kelompok (solomon four group). Untuk kelompok kontrol pertama. Tipe desain klasik (classical experimental design). 3. pengamatan hanya diberikan satu kali saja. dilakukan pengamatan di awal dan di akhir. terdapat etika dan aturanaturan yang harus diperhatikan oleh sang peneliti karena menyangkut kebebasan dan hak asasi subjek penelitian. langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir tanpa pengamatan awal. Tipe pengamatan akhir (two group posttest only).TIPE-TIPE DESAIN Ada beberapa tipe desain yang biasa digunakan oleh para peneliti dalam penelitian eksperimen. Tipe ini merupakan penggabungan dari tipe desain klasik dan tipe pengamatan akhir. tanpa dilakukan pengamatan awal. Dalam tipe ini. Dalam tipe ini. pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment). terdapat dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol. yakni: 1. pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment). lalu diberikan stimulus. Berikut adalah etika penelitian percobaan: . ETIKA Dalam melakukan sebuah penelitian percobaan. Pada kelompok eksperimen kedua. Untuk kelompok kontrol kedua.

Kebebasan bagi publik untuk mengakses hasil penelitian. Memberikan terapi atau bantuan pemulihan kepada subjek yang mengalami akibat negatif. Memberikan hal subjek dan meminta persetujuan terlebih dahulu untuk kesediaan menjadi subjek penelitian. 7. serta memar atau luka fisik. Mengirimkan hasil penelitian kepada subjek. Menjaga kerahasiaan (privacy) subjek penelitian. 5. Penelitian yang melibatkan binatang harus memperhatikan akibat negatif yang mungkin dialami binatang. seperti indera melemah.1. 6. dengan memberitahukan konsekuensi yang muncul dalam penelitian. . menyendiri. Hal ini dilakukan setelah penelitian percobaan (eksperimen) selesai dilakukan. 2. baik secara fisik atau psikis dari penelitian. 3. 4. sampai kembali sehat seperti semula. Memberitahukan secara jujur dan jelas kepada subjek tentang prosedur penelitian yang telah dilakukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful