P. 1
PLTMH

PLTMH

|Views: 68|Likes:
Published by dbijisman
Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro

More info:

Categories:Types, Research
Published by: dbijisman on Jan 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.1. Proses Pembangkitan Energi Listrik
  • 2.2. Potensi Tenaga Air
  • 2.3. Pembangkit Listrik Tenaga Air
  • 2.4. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro-Hidro (PLTMH)
  • 2.5. Komponen-komponen PLTMH
  • 2.6.1. Rugi-rugi (losses) dan ketebalan Steel Penstock1
  • 2.6.2. Diameter Penstock
  • 2.7.1.1.Turbin Impuls
  • 2.7.1.2. Turbin Reaksi
  • 2.7.1.3. Turbin Crossflow
  • 2.7.2.1 Rasio Kecepatan )
  • 2.7.2.2. Kecepatan satuan )
  • 2.7.2.3 Debit satuan (Qu)
  • 2.7.2.4. Daya satuan (Pu)
  • 2.7.2.5 Kecepatan spesifik (Ns)
  • 2.7.2.6. Diameter spesifik (Ds)
  • 2.7.3. Seleksi awal jenis turbin
  • 2.7.4. Dimensi dasar Turbin Cross Flow5
  • 2.7.5. Efisiensi Turbin
  • 2.8.1. Konstruksi Generator Sinkron
  • 2.8.2. Prinsip Kerja Generator Sinkron
  • 2.8.3. Kecepatan Putar Generator Sinkron
  • 2.8.4. Alternator tanpa beban
  • 2.8.5. Alternator Berbeban
  • 2.8.6. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron
  • 2.8.7. Daya Elektromagnetik dan Torsi
  • 2.8.8. Menentukan Parameter Generator Sinkron
  • 2.8.9.Diagram Fasor
  • 2.8.10.Pengaturan Tegangan (Regulasi Tegangan)
  • 2.8.11. Kerja Paralel Alternator
  • 3.1. Letak geografis
  • 3.2. Survey Potensi Daya (Potensial Site Survey)
  • 3.4. Gambar desain (Desain Drawing)
  • 3.5. Estimasi Anggaran biaya Pembangunan (Estimate Bill of Quantity)
  • 3.6.1. Tinggi jatuh / Head gross (Hg)
  • 3.6.2. Panjang pipa penstock (Lp)
  • 3.6.3. Debit desain (Q)
  • 4.1.Perhitungan Daya kotor (P gross)
  • 4.2. Perencanaan pipa pesat (Penstock)
  • 4.3.1. Friction head loss (f
  • 4.3.2 Net Head & Penstock efficiency
  • 4.3.3. Faktor Keselamatan ( Safety Factor )
  • 4.3.4. Penstock Expansion
  • 4.4.1 Jenis Turbin
  • 4.4.2. Data teknis turbin Crossflow yang dipergunakan
  • 4.4.3. Perhitungan daya turbin ( turbin mechanical/shaft power )
  • 4.4.4. Kecepatan putar turbin / turbin speed
  • 4.4.5. Shaft Torque dan Shaft Force
  • 4.4.6. Daya terbangkit dalam operasi penuh
  • 4.4.7. Daya terbangkit dalam beberapa kondisi debit / flow
  • 4.5.1. Rasio kecepatan / Speed ratio
  • 4.5.2. Data teknis Flat Belt
  • 4.5.3. Dimensi Flexible Coupling
  • 4.5.4. Karakteristik Coupling
  • 4.6. Generator

1

BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1. Proses Pembangkitan Energi Listrik
Pembangkitan tenaga listrik sebagaian besar dilakukan dengan cara
memutar generator sinkron sehingga didapat tenaga listrik dengan tegangan bolak
balik tiga fasa. Energi mekanik yang diperlukan untuk memutar generator sinkron
didapat dari mesin penggerak generator atau penggerak mula (prime mover).
Mesin penggerak generator dalam praktiknya banyak digunakan : mesin diesel,
turbin uap, turbin air dan turbin gas. Energi yang didapat mesin-mesin penggerak
generator ini didapat dari
1. Proses pembakaran bahan bakar ( untuk mesin-mesin termal )
2. Air terjun ( untuk turbin air )
Dengan demikian mesin penggerak generator sesungguhnya melakukan
konversi energi primer menjadi energi mekanik penggerak generator.




Gambar 2.1. Diagram alir proses pembangkitan energi listrik

2.2. Potensi Tenaga Air
Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapat,
karena pada air tersimpan energi potensial (pada air jatuh) dan energi kinetik
(pada air mengalir). Tenaga air (Hydropower) adalah energi yang diperoleh dari
air yang mengalir. Energi yang dimiliki air dapat dimanfaatkan dan digunakan
dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik. Pemanfaatan energi air
banyak dilakukan dengan menggunakan kincir air atau turbin air yang
memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di sungai.


2






Besarnya tenaga air yang tersedia dari suatu sumber air bergantung pada
besarnya head dan debit air. Dalam hubungan dengan reservoir air maka head
adalah beda ketinggian antara muka air pada reservoir dengan muka air keluar
dari kincir air/turbin air. Total energi yang tersedia dari suatu reservoir air adalah
merupakan energi potensial air yaitu :
mgh E = ............................................................................. (2.1)
dengan
m adalah massa air
h adalah head [m]
g adalah percepatan gravitasi [m
2
/ s ]
Daya merupakan energi tiap satuan waktu
|
.
|

\
|
t
E
, sehingga persamaan (2.1) dapat
dinyatakan sebagai :
gh
t
m
t
E
=
Dengan mensubsitusikan P terhadap
|
.
|

\
|
t
E
dan mensubsitusikan Q µ
terhadap |
.
|

\
|
t
m
maka :
h g Q P . . . µ = ……………………………………………..(2.2)
dengan :
P adalah daya [watt]
Q adalah kapasitas aliran ] / [
3
s m
µ adalah densitas air ] / [
3
m kg
Selain memanfaatkan air jatuh hydropower dapat diperoleh dari aliran air datar.
Dalam hal ini energi yang tersedia merupakan energi kinetik
2
2
1
mv E = .......................................................................... (2.3)
dengan
v adalah kecepatan aliran air ] / [ s m
Daya air yang tersedia dinyatakan sebagai berikut :


3






2
2
1
Qv P µ = ........................................................................ (2.4)
atau dengan menggunakan persamaan kontinuitas Av Q = maka
3
2
1
Av P µ = ......................................................................... (2.5)

dengan A adalah luas penampang aliran air ] [
2
m

2.3. Pembangkit Listrik Tenaga Air
Dalam PLTA, potensi air dikonversikan menjadi tenaga listrik, mula-mula
potensi air dikonversikan menjadi tenaga mekanik dalam turbin air, kemudian
turbin air memutar generator yang membangkitkan energi listrik.
Gambar 2.2. menggambarkan secara skematis bagaimana potensi tenaga
air, yaitu sejumlah air yang terletak pada ketinggian tertentu diubah menjadi
tenaga mekanik dalam turbin air.









Gambar 2.2.. Proses konversi energi dalam PLTA / PLTMH
Perhitungan daya yang dibangkitkan adalah :
Daya teoritis P = k . H. Q [kW]...........(2.6)
Daya turbin P = k .
t
q . H . Q [kW]...........(2.7)
H(m)
Q(m3/det)
Turbin / Generator P(kW)


4






Daya generator P = k .
t
q
g
q . H .Q [ kW]..........(2.8)
dimana :
P = daya [kW]
H = tinggi jatuh efektif maksimum [meter]
Q = debit maksimum turbin [m
3
/s]
t
q = efisiensi turbin
g
q = efisisensi generator
k = konstanta
Konstanta k dihitung berdasarkan pengertian bahwa 1 daya kuda = 75
kgm/detik dan 1 daya kuda = 0,736 kW sehingga apabila ingin dinyatakan dalam
kW, sedangkan tinggi terjun H dinyatakan dalam meter dan debit air dinyatakan
dalam m
3
/s, maka,
konstanta k =
det
3
m
×
3
1000
m
kg
× m ×
det
75
1
kgm
dk
× 0.736
dk
kW
= 9,813 = 9,8

2.4. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro-Hidro (PLTMH)
Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit
listrik yang mengunakan energi air. Kondisi air yang bisa dimanfaatkan sebagai
sumber daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki kapasitas aliran dan
ketinggian tertentu dari instalasi. Semakin besar kapasitas aliran maupun
ketinggiannya dari instalasi maka semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan
untuk menghasilkan energi listrik.
Biasanya Mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataan bahwa adanya air
yang mengalir di suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggian yang memadai.
Istilah kapasitas mengacu kepada jumlah volume aliran air persatuan waktu (flow
capacity) sedangan beda ketingglan daerah aliran sampai ke instalasi dikenal
dengan istilah head. Mikrohidro juga dikenal sebagai white resources dengan
terjemahan bebas bisa dikatakan "energi putih". Dikatakan demikian karena
instalasi pembangkit listrik seperti ini mengunakan sumber daya yang telah
disediakan oleh alam dan ramah lingkungan. Suatu kenyataan bahwa alam


5






memiliki air terjun atau jenis lainnya yang menjadi tempat air mengalir. Dengan
teknologi sekarang maka energi aliran air beserta energi perbedaan ketinggiannya
dengan daerah tertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi
energi listrik,
Seperti dikatakan di atas, Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro
artinya kecil sedangkan hidro artinya air. Dalam, prakteknya istilah ini tidak
merupakan sesuatu yang baku namun bisa dibayangkan bahwa Mikrohidro, pasti
mengunakan air sebagai sumber energinya. Yang membedakan antara istilah
Mikrohidro dengan Minihidro adalah output daya yang dihasilkan. Mikrohidro
menghasilkan daya lebih rendah dari 1 MW, sedangkan untuk minihidro daya
keluarannya berkisar antara 1 sampai 5 MW. Secara teknis, Mikrohidro memiliki
tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang
mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dari ketinggian tertentu menuju
rumah instalasi (rumah turbin / power house ). Di rumah instalasi air tersebut akan
menumbuk turbin dimana turbin sendiri, dipastikan akan menerima energi air
tersebut dan mengubahnya menjadi energi mekanik berupa berputarnya poros
turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian ditransmisikan ke generator
dengan mengunakan kopling. Dari generator akan dihasilkan energi listrik yang
akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau
keperluan lainnya (beban).








Gambar 2.3. Skema PLTMH

http://hydropower.com


6






Kebanyakan PLTMH dibangun dengan sistim run off river, tidak dengan
kolam tando ( reservoir ) dimana air sungai dialihkan dengan menggunakan dam
yang dibangun memotong aliran sungai, sehingga daya yang dibangkitkan
tergantung dari debit air sungai. Akan tetapi biaya pembangunan run off river
lebih ekonomis dibandingkan dengan sistim reservoir yang memerlukan
bedungan yang besar dan area genangan yang luas.

2.5. Komponen-komponen PLTMH
Kompoen-komponen besar dari Skema PLTMH terdiri dari :
1. Intake ( Bendungan Pengalih )
Bendung didefinisikan sebagai bangunan yang berada melintang sungai yang
berfungsi untuk membelokkan arah aliran air. Konstruksi bendung bertujuan
untuk menaikkan dan mengontrol tinggi air dalam sungai secara signifikan
sehingga elevasi muka air cukup untuk dialihkan ke dalam pembangkit
mikrohidro. Bendungan pengalih berfungsi untuk mengalihkan air melalui
sebuah pembuka di bagian sisi sungai (‘Intake’ pembuka) ke dalam sebuah
bak pengendap (Settling Basin).
Konstruksi bendung dilengkapi dengan bangunan pengambilan yang berfungsi
mengarahkan air dari sungai masuk ke dalam saluran pembawa .


Gambar 2.4. Konstruksi Bendung



7






Konstruksi intake bertujuan mengambil air dari sungai atau kolam untuk
dialirkan ke saluran, bak penampungan dan pipa pesat. Masalah utama dari
bangunan intake adalah ketersediaan debit air, baik dari kondisi debit rendah
maupun banjir dan seringkali adanya lumpur, pasir dan kerikil atau
dahan/cabang pohon tumbang dari sekitar sungai yang terbawa aliran.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi bendung
dan bangunan intake, antara lain :
a. Aliran Sungai
lokasi bendung intake dipilih pada sungai yang terjamin ketersediaan
airnya, alirannya stabil, terhindar banjir dan pengikisan akibat aliran sungai.
b. Stabilitas Lereng
Pemilihan lokasi PLTMH sangat mempertimbangkan perbedaan ketinggian
air jatuh (head) untuk mendapatkan potensi daya, maka umumnya lokasi
berada di lereng atau bukit yang curam. Pertimbangan pemilihan lokasi
bendung dan intake hendaknya mempertimbangkan stabilitas atau struktur
tanahnya.
c. Pemanfaatan Infrastruktur Saluran Irigasi
Pemanfaatan saluran irigasi dapat dipertimbangkan efisiensi biaya
konstruksi, karena banyak sungai di pedesaan telah ada bangunan sipil
untuk saluran irigasi.

d. Pemanfaatan topografi alami seperti kolam dan lain-lain
Pemanfaatan kondisi alami kolam untuk lokasi intake dapat memberikan
keefektifan yang cukup tinggi untuk mengurangi biaya. Selain itu juga
membantu menjaga kelestarian alam tata ruang sungai dan ekosistem
sungai. Hal yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan kolam dan
pergerakan sedimen.
e. Level/Tinggi Bendung dan Muka Air Banjir
Pembangunan bendung umumnya di bagian sempit dari alur sungai,
maka elevasi muka air banjir pada daerah itu lebih tinggi sehingga
diperlukan daerah bagian melintang bendung yang diperbesar
dimensinya untuk kestabilan.
f. Penentuan Lokasi Bangunan Pengambilan
Pertimbangan lokasi bangunan pengambilan selalu pada sisi
luar dari lengkungan sungai sebagaimana diperlihatkan pada Gambar
6. Hal ini dilakukan untuk memperkecil pengendapan sedimen di
dalam saluran pembawa. Konstruksi umumnya dibuat pintu air
untuk melakukan pembilasan sedimen.


8






intake
(Intake)
(intake)
intake
2. Feeder Canal ( Saluran pembawa )
Saluran pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk menjaga elevasi dari
air yang disalurkan.
3. Forebay ( Bak Penenang )
Fungsi dari bak penenang adalah untuk mengatur perbedaan keluaran air
antara sebuah penstock dan headrace, dan untuk pemisahan akhir kotoran
dalam air seperti pasir, kayu-kayuan.
4. Penstock ( Pipa Pesat )
Pipa pesat (penstock) adalah pipa yang yang berfungsi untuk mengalirkan air
dari bak penenang (forebay tank).
5. Power House ( Rumah Pembangkit ).
















http://hydropower.com


9






Gambar 2.4. Komponen-komponen utama PLTMH

2.6. Pipa pesat ( penstock )
Perencanaan pipa pesat mencakup pemilihan material, diameter, tebal dan
jenis sambungan (coordination point). Pemilihan material berdasarkan
pertimbangan kondisi operasi, aksesibility, berat, sistem penyambungan dan
biaya. Diameter pipa pesat dipilih dengan pertimbangan keamanan, kemudahan
proses pembuatan, ketersediaan material dan tingkat rugi-rugi (friction losses)
seminimal mungkin. Ketebalan penstock dipilih untuk menahan tekanan hidrolik
dan surge pressure yang dapat terjadi.




Gambar 2.5. Pemasangan penstock
2.6.1. Rugi-rugi (losses) dan ketebalan Steel Penstock
1

Untuk mengetahui Tinggi jatuh efektif ( Head net ) dan efisiensi penstock
maka maka dapat dipergunakan persamaan-persamaan empiris berikut :
Velocity in penstock :
V = 1273 |
.
|

\
|
2
d
Q
t
[m/s ]……………………...……..(2.9)
Friction head loss in penstock :

1
Sumber : http://hydro spec/ibex/version:pen.2feb98 PENSTOCK STEEL LOSSES &
THICKNESS CALCULATION
L (panjang penstock)

H (Head )


10






( )
2
9 . 0
2
. 8 . 93
1
37
1
log
1 .
8 , 12
|
|
.
|

\
|
(
¸
(

¸

+
×
|
|
.
|

\
|
× =
d V
d
d
L V
H
f
o [m]...(2.10)
Net Head at end of pensctock :
( )
t f g n
H H H H o o + ÷ = [m]…………………….…..(2.11)
t
H o adalah turbulence losses, dimana rugi ini tergantung pada material dan
konstruksi pemasangan penstock.
Penstock efficiency :
100 × =
g
n
pen
H
H
q [%]………………………..……….(2.12)
dimana :
t
Q = Discharge / Flow
g
H = Gross Head
L = Penstock length
d = Penstock internal diameter
Wave velocity in penstock :

) 100 (
. 10 1 , 2
8
d t
t
V
wave
+
×
= [m/s]…..…..…… (2.13)

Penstock critical time :

wave
crit
V
L
T
2
= [s]…………....….(2.14)
Surge head for
crit close
T T s :

980
. . V z V
H
wave
surge
= [m]…………..…..(2.15)
atau
untuk
crit close
T T > :


11







2
. 980
. .
|
|
.
|

\
|
=
close g
c
T H
V z L
K
Surge head for
crit close
T T > :

|
|
.
|

\
|
+ + =
4 2
.
2
c
c
c
g surge
K
K
K
H H [m]…………..…(2.16)
Total head at surge :

g surge tot
H H H + = [m]………..……(2.17)
Required penstock thickness :

cor
tot tot
req
t
SF d H
t + =
83700
. .
[mm]……..…….(2.18)


dimana :
t = Penstock thickness
z = % o flow stopped
close
T = Valve closure time
cor
t = Corrosion allowance
tot
SF = Overall safety factor
Persamaan tersebut diatas megacu pada nilai konstanta sebagai berikut :
Grafity [g] 9.8 m/s
Bulk modulus of water [
w
K ] 2.1 KN/
2
mm
Density of water [ro] 1000 Kg/
3
m
Kinematic viscosity of water (
0
5 C) [nu] 1.53 cSt

Penstock roughness coefficient [k] 0.1 mm
Penstock Young’s Modulus [
p
E ] 210
2
/ mm KN
Penstock UTS [
ult
o ] 410 N/
2
mm

2.6.2. Diameter Penstock


12






Diameter minimum pipa pesat dapat dihitung dengan persamaan
1875 . 0
2 . 2 . . 3 . 10
|
.
|

\
|
=
H
L Q n
D [mm] …………………..(2.19)
dimana:
n = koefisien kekasaran (roughness)
Q = debit desain sebesar [ s m /
3
]
L = panjang penstock [m ]
H = tinggi jatuhan air (gross head) [m]
Tabel 2.1. Material Pipa Pesat

Material
Young's modulus
of elasticity
E (N/m 2 )E9
linear expansion
a (n/m QC)E6
Ultimate
tensile strength
(N/m 2 )E6
n
Welded steel
206 12 400 0.012
Polyethylene
0.55 140 5 0.009
Polyvinyl chloride (PVC)
2.75 54 13 3,009
Asbestos cenent
n.a 8.1 na 0.011
Cast iron
78.5 10 140 0.014
Dutiie iron
16,7 11 340 0.015


2.7. Turbin Air
Turbin air adalah turbin dengan air sebagai fluida kerja. Air mengalir dari
tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Dalam hal tersebut air
memiliki energi potensial. Dalam proses aliran di dalam pipa, energi potensial
berangsur-angsur berubah menjadi energi kinetik. Di dalam turbin energi kinetik
air diubah menjadi energi mekanis, dimana air memutar roda turbin.
2.7.1. Jenis turbin
Turbin air dibedakan dalam dua golongan utama, yaitu dipandang dari segi
pengubahan momentum fluida kerjanya,
1. Turbin impuls
2. Turbin reaksi




13









Gambar 2.6. Cara kerja turbin Impuls







Gambar2.7. Cara kerja turbin Reaksi
2.7.1.1.Turbin Impuls
Turbin impuls adalah turbin air yang cara bekerjanya dengan merubah
seluruh energi air ( yang terdiri dari energi potensial + tekanan + kecepatan ) yang
tersedia menjadi energi kinetik untuk memutar turbin, sehingga menghasilkan
energi puntir. Contoh turbin jenis impuls adalah turbin Pelton dan turbin Turgo.




NRAES- Small
Hydoelectric plant
NRAES- Small
Hydoelectric plant


14








Gambar 2.8. Turbin Pelton
Sumber : http://rise.org.au/info/tech/hydro/large.html


Turbin Pelton terdiri dari satu set sudu jalan yang diputar oleh pancaran air
yang disemprotkan dari satu atau lebih alat yang disebut nosel. Turbin Pelton
adalah salah satu dari jenis turbin air yang paling efisien. Turbin Pelton adalah
turbin yang cocok digunakan untuk head tinggi.











Gambar 2.8a. Nozle
Sumber: http://europa.eu.int/en/comm/dg17/hydro/layman2.pdf















Gambar 2.8b. Nozle
Sumber: http://europa.eu.int/en/comm/dg17/hydro/layman2.pdf


15






Turbin Turgo dapat beroperasi pada head 30 s/d 300 m. Seperti turbin pelton turbin turgo
merupakan turbin impulse, tetapi sudunya berbeda. Pancaran air dari nozle membentur sudu pada
sudut 20
o
. Kecepatan putar turbin turgo lebih besar dari turbin Pelton. Akibatnya dimungkinkan
transmisi langsung dari turbin ke generator sehingga menaikkan efisiensi total sekaligus
menurunkan biaya perawatan.








Gambar 2.9. Sudu turbin Turgo dan nozle
Sumber: http://europa.eu.int/en/comm/dg17/hydro/layman2.pdf


2.7.1.2. Turbin Reaksi
turbin reaksi adalah turbin air dengan cara kerjanya merubah seluruh energi air yang
tersedia menjadi energi puntir. Turbin air reaksi dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Jenis Francis, contoh : Turbin Francis
2. Jenis Propeller
a. Sudu tetap ( fixed blade ), turbin jenis ini merupakan turbin generasi pertama dari jenis
ini. Karena sudu tidak dapat diatur, maka efisiensinya berkurang jika digunakan pada
kisaran debit yang lebar. Oleh karena itu dikembangkan jenis dengan sudu yang dapat
diatur agar efisiensi tetap tinggi walaupun kisaran debitnya lebar.
b. Sudu dapat diatur ( adjustable blade ), contoh turbin ini : Turbin Kaplan, Nagler, Bulb,
Moody.





16














Gambar 2.10. Turbin Francis
Sumber : http://rise.org.au/info/tech/hydro/large.html
















Gambar 2.11. Turbin Kaplan
Sumber : http://rise.org.au/info/tech/hydro/large.html

2.7.1.3. Turbin Crossflow
Turbin crossflow adalah turbin jenis impuls, juga dikenal dengan nama Turbin Michell-
Banki yang merupakan penemunya. Selain itu juga disebut Turbin Osberger yang merupakan
perusahaan yang memproduksi turbin crossflow. Turbin crossflow dapat dioperasikan pada debit
20 liter/detik hingga 10 m
3
/detik dan head antara 1 s/d 200 m.





17














Gambar 2.12. Turbin Crossflow
Sumber: http://europa.eu.int/en/comm/dg17/hydro/layman2.pdf

Turbin crossflow menggunakan nozle persegi panjang yang lebarnya sesuai dengan lebar
runner. Pancaran air masuk turbin dan mengenai sudu sehingga terjadi konversi energi kinetik
menjadi energi mekanis. Air mengalir keluar membentur sudu dan memberikan energinya (lebih
rendah dibanding saat masuk) kemudian meninggalkan turbin. Runner turbin dibuat dari
beberapa sudu yang dipasang pada sepasang piringan paralel.




Gambar 2.13. Sudu Turbin Crossflow
Sumber: http://home.carolina.rr.com/microhydro








18






Tabel 2.2. Pengelompokan Turbin
High head Medium head Low head
Impulse turbines
Pelton
Turgo
Cross-flow
Multi-jet Pelton
Turgo
Cross-flow
Reaction turbines
Francis Propeller
Kaplan


2.7.2. Karakteristik turbin
Karakteristik suatu turbin dinyatakan secara umum oleh enam buah konstanta yaitu :
1. Rasio Kecepatan ) (|
2. Kecepatan Satuan ) (Nu
3. Debit satuan (Qu)
4. Daya satuan (Pu)
5. Kecepatan spesifik(Ns)
6. Diameter spesifik (Ds)


2.7.2.1 Rasio Kecepatan ) (|
Rasio Kecepatan ) (| adalah perbandingan antara kecepatan keliling linier turbin pada
ujung diameter nominalnya dibagi dengan kecepatan teoritis air melalui curat dengan tinggi
terjun sama dengan tinggi terjun (
netto
H ) yang bekerja pada turbin.
gH
V
linier
2
= |
60
D N
V
linier
t
=
maka :
H
ND
6 . 84
= | ...................................................................(2.20)
dimana :
N adalah putaran turbin [rpm]


19






D adalah diameter karakteristik turbin [m], umumnya diameter nominal
H adalah tinggi terjun netto/sffektif [m]

2.7.2.2. Kecepatan satuan ) (Nu
Kecepatan satuan (Nu) adalah kecepatan putar turbin yang mempunyai putar turbin yang
mempunyai diameter (D) satu satuan panjang dan bekerja pada tinggi terjun (
netto
H ) satu satuan
panjang.
Dari persamaan rasio kecepatan diperoleh korelasi :
D
H
N | 6 . 84 =
Dengan memasukan nilai D = 1 m dan H = 1 m, maka :
| 6 . 84 = Nu
dan didapat persamaan :
H
ND
Nu = ........................................................................(2.21)

2.7.2.3 Debit satuan (Qu)
Debit yang masuk turbin secara teoritis dapat diandaikan sebagai debit yang melalui suatu curat
dengan tinggi terjun sama dengan tinggi terjun (
netto
H ) yang bekerja pada turbin. Oleh karena itu
debit yang melalui turbin dapat dinyatakan sebagai :
gH D C Q
d
2
2
4
1
t =
= H D C
d
2

d
C = koefisien debit
Debit satuan (Qu) adalah debit turbin yang mempunyai diameter (D) satu satuan panjang
dan bekerja pada tinggi terjun (
netto
H ) satu satuan panjang.
g C Qu
d
2
4
1
t =
maka :
H D
Q
Qu
2
= ................................................................(2.22)

2.7.2.4. Daya satuan (Pu)


20






Daya (P) yang dihasilkan turbin dapat dinyatakan sebagai
¸ q H Q P . . =
¸ q H H QuD .
2
= dimana : H QuD
2
adalah Q
maka :
2
3
2
H QuD P q¸ = dimana : Qu q¸ adalah Pu
Dengan qadalah efisiensi turbin, ¸ adalah berat jenis air [ lb/ft
3
] ~62,5 lb/ft
3

Daya satuan (Pu) adalah daya turbin yang mempunyai diameter (D) satu satuan panjang
dan bekerja pada tinggi terjun (
netto
H ) satu satuan panjang.
maka :
2
3
2
H D
P
Pu = ................................................................(2.23)
2.7.2.5 Kecepatan spesifik (Ns)
Elimiasi diameter (D) dari Nu dan Pu menghasilkan korelasi :
P
H
PuNU N
4
5
= dimana PuNu adalah Ns
maka :
4
5
H
P N
Ns = ........................................................................(2.24)
Kecepatan spesifik (Ns) adalah kecepatan putar turbin yang menghasilkan daya sebesar
satuan daya pada tinggi terjun (
netto
H ) satu satuan panjang.
Kecepatan spesifik (Ns) dapat dinyatakan dalam sistim metrik maupun sistim Inggris,
korelasi dari kedua sistem tersebut dinyatakan dalam
Ns (metrik) = Ns (Inggris) x 4.42
Catatan : Satuan daya yang digunakan dalam persamaan di atas adalah daya kuda (DK) atau
horse power (HP).
Kecepatan spesifik (ns), menunjukkan bentuk dari turbin itu dan tidak berhubungan
dengan ukurannya. Hal ini menyebabkan desain turbin baru yang diubah skalanya dari desain
yang sudah ada dengan performa yang sudah diketahui. Kecepatan spesifik merupakan kriteria
utama yang menunjukkan pemilihan jenis turbin yang tepat berdasarkan karakteristik sumber air.


21






Kecepatan spesifik dari sebuah turbin juga dapat diartikan sebagai kecepatan ideal,
persamaan geometris turbin, yang menghasilkan satu satuan daya tiap satu satuan head.
Kecepatan spesifik tubin diberikan oleh perusahaan (dengan penilaian yang lainnya) dan
dan selalu dapat diartikan sebagai titik efisiensi maksimum. Perhitungan tepat ini menghasilkan
performa turbin dalam jangkauan head dan debit tertentu.

2.7.2.6. Diameter spesifik (Ds)
Dari persamaan Pu diperoleh korelasi :
4
3
1
H
P
Pu
D = dimana
Pu
1
adalah Ds
Diameter spesifik (Ds) adalah diameter turbin yang menghasilkan daya sebesar satuan
daya pada tinggi terjun (
netto
H ) satu satuan panjang.
maka :
P
DH
Ds
4
3
= .......................................................................(2.25)
Rumus empiris
2
untuk menghitung diameter spesifik dari diameter debit (discharge
diameter,
3
D ) untuk turbin reaksi adalah sebagai berikut :
Turbin Francis
37 . 0
3
85 . 567
s
s
N
D = [cm]
Turbin propeller
34 . 0
3
72 . 475
s
s
N
D = [cm]
Untuk turbin reaksi, jika diameter spesifiknya telah dihitung dengan persamaan-persamaan di
atas, maka diameter debit dapat dihitung dari persamaan
4
3
1
H
P
Pu
D = ................................................................(2.26)
Diameter debit sangat berguna untuk penentuan dimensi pipa spiral dan pipa isap.
2.7.3. Seleksi awal jenis turbin

2
Dikutip dari buku Hydro Power Engineering, A Textbook for Civil Engineers, James J. Donald, D.Sc., The Ronald
Press company, New York, 1984, hal.77.



22






Seleksi awal dari jenis turbin yang cocok untuk suatu kecepatan paling tepat dilakukan
degan menggunakan kecepatan spesifik (Ns). Dalam tabel 2.3. disajikan nilai kecepatan spesifik
(Ns) untuk berbagai jenis turbin. Tabel 2.3. dapat digunakan sebagai panduan awal pemilihan
jenis turbin yang tepat untuk nilai NS tertentu. Nilai Ns yang tercantum dalam tabel bukan nilai
eksak.
Untuk setiap jenis turbin terdapat suatu nilai kisaran tinggi terjun dan kecepatan spesifik
yang sesuai. Menurut Moody
3
korelasi empiris antara tinggi terjun (H) dan kecepatan spesifik
(NS) sebagaimana disajikan di bawah ini :
Turbin Francis,
84
75 . 9
6803
+
+
=
H
Ns ...........................................................(2.27)
Turbin Propeller,
155
75 . 9
9431
+
+
=
H
Ns ..........................................................(2.28)
Untuk turbin Francis dapat juga mempergunakan korelasi empiris sebagai mana disarankan
White
4
:
H
Ns
1542
= ..........................................................................(2.29)
Dengan H adalah tinggi terjun netto (m) dan Ns adalah kecepatan spesifik metrik.








3
Dikutip dari buku Hydroelectric Handbook, William P. Creager and Joel D. Justin, Second Edition, John Wiley &
Sons, Inc., New York, 1959, hal.826.
4
Dikutip dari buku Water Power Enginnering, H.K. Barrows, S.B., Third Edition, Fourth Impression, McGraw-Hill
Bokk Company, Inc., New York and London, 1943, hal.244.


23







Tabel 2.3. Jenis Turbin Air dan Kisaran Kecepatan Spesifiknya (Ns)
Jenis Turbin Ns (metrik)
1. Turbin Impuls a. Satu jet (turbin Pelton)
b. Banyak jet (turbin Doble)
4-30
30-70
2. Turbin Reaksi a. Francis
Ns rendah
Ns normal
Ns tinggi
Ns Express
b. Propeller
Sudu tetap (turbin Nagler)
Sudu dapat diatur (turbin Kaplan)

50-125
125-200
200-350
350-500

400-800
500-1000


Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air selalu diusahakan agar generator dikopel langsung
dengan turbin. Atau dengan kata lain putaran turbin terbatas pemilihannya agar dapat dikopel
dengan generator. Putaran turbin berhubungan dengan spesifik sebagaimana persamaan 2.24 di
atas, atau menurut referensi yang lain :

4
5
2
1
.
H
P n
ns = [rpm]............................................................(2.30)
dimana :
ns = putaran spesifik [rpm]
n = putaran turbin [rpm]
P = daya turbin [Bhp]
H = tinggi terjun efektif [m]
Dari nilai spesifik ini dapat ditentukan jenis turbin yang digunakan yang dapat dijelaskan
sebagai berikut :
ns = 4 ÷ 7 jenis turbin Pelton
ns = 80 ÷430 jenis turbin Perancis
ns = 300 ÷ 1000 jenis turbin Kaplan atau Propeler
Pemilihan putaran spesifik ini sangat berhubungan dengan dimensi peralatannya, yang
berarti juga mempengaruhi konstruksi dan harga.


24






Pemilihan turbin kebanyakan didasarkan juga pada head air yang didapatkan dan kurang
lebih pada rata-rata alirannya. Umumnya, turbin impuls digunakan untuk tempat dengan head
tinggi, dan turbin reaksi digunakan untuk tempat dengan head rendah. Turbin Kaplan baik
digunakan untuk semua jenis debit dan head, efisiiensinya baik dalam segala kondisi aliran.
Turbin kecil (umumnya dibawah 10 MW) mempunyai poros horisontal, dan kadang
dipakai juga pada kapasitas turbin mencapai 100 MW. Turbin Francis dan Kaplan besar biasanya
mempunyai poros / sudu vertikal karena ini menjadi penggunaan paling baik untuk head yang
didapatkan, dan membuat instalasi generator lebih ekonomis. Poros Pelton bisa vertikal maupun
horisontal karena ukuran turbin lebih kecil dari head yang di dapat atau tersedia. Beberapa turbin
impuls menggunakan beberapa semburan air tiap semburan untuk meningkatkan kecepatan
spesifik dan keseimbangan gaya poros.


















Gambar 2.14. Grafik beberapa aplikasi turbin ( H vs Q )







25






2.7.4. Dimensi dasar Turbin Cross Flow
5

Dimensi dasar dari turbin cross flow selain batasan H
nett
dan Q seperti pada gambar
garfik 2.14, juga tergantung pada runner inlet width (B
t
) dan runner diameter (D
t
).
Persamaan untuk mencari runner inlet width :

nett
t
H
Q
D q
B .
1
. max 11
= …………………………………..(2.31)
dimana :
t
B = runner inlet width [m]
max 11
q = unit discharge (flow)
Sedangkan untuk kecepatan putar dapat mempergunakan persamaan :

nett
H
D
n
n .
11
= ………………………………………….(2.32)
dimana :
n = Kecepatan putar ( rotational speed ) [rpm]
11
n = Unit speed [rpm]

2.7.5. Efisiensi Turbin
Eisiensi turbin tidak tetap nilainya, tergantung dari keadaan beban dan jenis turbinnya.
Kinerja dari suatu turbin dapat dinyatakan dalam beberapa keadaan, yaitu : tinggi terjun
maksimum, tinggi terjun minimum, tinggi terjun normal, tinggi terjun rancangan. Pada tinggi
terjun rancangan turbin akan memberikan kecepatan terbaiknya sehingga efisiesinya mencapai
maksimum. Dalam tabel 2.2 disajikan efisiensi turbin untuk berbagai kondisi sebagai gambaran
mengenai kisaran nilai efisiensi terhadap beban dan jenis turbin.





5
Study on Rural Energy Supply with Utilization of Renewable Energy in Rural Areas in the republic of Indonesia.
Manual for Micro-hydro power Development, chapter 6 ANNEX 1.


26






Tabel 2.4. Efisiensi turbin untuk berbagi kondisi beban
6

Jenis Turbin Ns
% efisiensi pada
% beban
pada
beberapa kondisi beban efisiensi
0.25 0.50 0.75 1.00 max maximum
Impuls (Pelton) 22 81 86 87 85 87.1 70
Francis 75 62 83 88 83 88 75
Francis 110 60 85 90 84 90.2 80
Francis 220 59 83 90 85 91.5 85
Francis 335 54 82 91 86 91.0 87.5
Francis 410 47 71.5 85 87 91.5 92.5
Francis 460 55 74.5 86.5 86 92.5 92
Propeller (sudu tetap) 690 45 70 84.5 82 91.5 92
Propeller (sudu tetap) 800 32 59 78 84 88 96
Propeller (sudu dapat di atur) 750 83.5 91 91.5 87 91.6 70























Gambar2.15.. Grafik efisiensi beberapa jenis turbin terhadap debit air

2.8. Generator Sinkron
Hampir semua energi listrik dibangkitkan dengan menggunakan mesin sinkron.
Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin sinkron yang digunakan untuk

6
Dikutip dari buku Hydroelectric Handbook, William P. Creager and Joel D.Justin, Second Edition, John Wiley &
Sons, Inc., New York, 1950, hal.832.


27






mengubah daya mekanik menjadi daya listrik. Generator sinkron dapat berupa generator sinkron
tiga fasa atau generator sinkron AC satu fasa tergantung dari kebutuhan.
2.8.1. Konstruksi Generator Sinkron
Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk mengahasilkan
medan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover menghasilkan medan magnet
berputar pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi tegangan tiga fasa pada kumparan
stator generator.
Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet yang besar.
Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient (kutub sepatu) dan dan non salient (rotor
silinder). Pada kutub salient kutub magnet menonjol keluar dari permukaan rotor sedangkan
pada kutub non salient konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor. Rotor silinder
umumnya digunakan untuk rotor dua kutub dan empat kutub, sedangkan rotor kutub sepatu
digunakan untuk rotor dengan empat atau lebih kutub.
Pemilihan konstruksi rotor tergantung dari kecepatan putar prime mover, frekuensi dan
rating daya generator. Generator dengan kecepatan 1500 rpm ke atas pada frekuensi 50 Hz dan
rating daya sekitar 10MVA menggunakan rotor 130 silinder. Sementara untuk daya dibawah 10
MVA dan kecepatan rendah maka digunakan rotor kutub sepatu.
Arus DC disuplai ke rangkaian medan rotor dengan dua cara:
1. Menyuplai daya DC ke rangkaian dari sumber DC eksternal dengan sarana slip ring dan sikat.
2. Menyuplai daya DC dari sumber DC khusus yang ditempelkan langsung pada batang rotor
generator sinkron.










28































Gambar 2.16. (a) rotor Non-salient (rotor silinder), (b) penampang rotor

2.8.2. Prinsip Kerja Generator Sinkron
Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet homogen,
maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan magnet dihasilkan
oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap. Pada tipe mesin ini medan magnet
diletakkan pada stator (disebut generator kutub eksternal / external pole generator). Pada
generator tipe ini, energi listrik dibangkitkan pada rotor kumparan rotor. Hal ini menyebabkan
kerusakan pada slip ring dan karbon sikat, sehingga menimbulkan permasalahan pada
pembangkitan daya tinggi.
Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan kutub internal
(internal pole generator). Pada tipe ini, medan magnet dibangkitkan oleh kutub rotor. Kemudian
tegangan AC dibangkitkan pada rangkaian stator. Tegangan yang dihasilkan akan sinusoidal jika
rapat fluks magnet pada celah udara terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan


29






konstan. Pada rotor kutub sepatu, fluks terdistribusi sinusoidal didapatkan dengan mendesain
bentuk sepatu kutub. Sedangkan pada rotor silinder, kumparan rotor disusun secara khusus untuk
mendapatkan fluks terdistribusi sinusoidal ini.
Suplai DC yang dihubungkan ke kumparan rotor melalui slip ring dan sikat untuk
menghasilkan medan magnet merupakan eksitasi daya rendah. Jika rotor menggunakan magnet
permanen, maka tidak slip ring dan sikat karbon tidak begitu diperlukan.
Tegangan AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal dengan tiga
kumparan stator yang diset pada sudut 120°.






Gambar 2.17.Pembangkitan tegangan 3 fasa

2.8.3. Kecepatan Putar Generator Sinkron
Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron dengan kecepatan
putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas rangkaian elektromagnet dengan suplai arus
DC. Medan magnet rotor bergerak pada arah putaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar
medan magnet pada mesin dengan frekuensi elektrik pada stator adalah :
120
.P n
f
m
e
= ………………………………………………(2.33)

dimana :
e
f = frekuensi elektrik [Hz]
m
n = kecepatan medan magnet = kecepatan putar rotor [rpm]
P = jumlah kutub
fasa 1 fasa 2 fasa 3


30






Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan magnet, persamaan
diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan putar rotor dengan frekuensi elektrik yang
dihasilkan. Daya listrik dibangkitkan pada 50 atau 60 Hz, maka generator harus berputar pada
kecepatan tetap tergantung pada jumlah kutub mesin. Sebagai contoh untuk membangkitkan 60
Hz pada mesin dua kutub rotor harus berputar dengan kecepatan 3600 rpm. Untuk
membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub rotor harus berputar pada 1500 rpm.
2.8.4. Alternator tanpa beban
Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus medan (
f
I ),
tegangan (
a
E ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator.
u = cn E
a
…………………………………………..…… (2.34)
dimana :
c = konstanta mesin
n = putaran sinkron
u= fluks yang dihasilkan oleh
f
I
Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, karenanya tidak
terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh arus medan (
f
I ). Apabila arus
medan (
f
I ) diubah-ubah harganya, akan diperoleh harga
a
E seperti yang terlihat pada kurva
sebagai berikut.








Gambar 2.18. Karakteristik generator sinkron tanpa beban


31






2.8.5. Alternator Berbeban
Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan terjadinya
reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena itu dinyatakan sebagai reaktansi, dan disebut
reaktansi magnetisasi (
m
X ). Reaktansi pemagnet (
m
X ) ini bersama-sama dengan reaktansi fluks
bocor (
a
X ) dikenal sebagai reaktansi sinkron (
s
X ) Persamaan tegangan pada generator adalah:
jIXs Ra I V Ea + + = . ..........................................................(2.35)
Xs = Xm + Xa .....................................................................(2.36)
yang mana:
Ea = tegangan induksi pada jangkar
V = tegangan terminal output
Ra = resistansi jangkar
Xs = reaktansi sinkron
Karakteristik eksitasi alternator tanpa beban dan beban penuh pada faktor kerja 0,8 terbelakang
dapat dilihat pada gambar di bawah ini :













Gambar 2.19. Karakteristik eksitasi alternator
Sumber : Power topic #6004 | Technical information from Cummins Power Generation


32






2.8.6. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron
Tegangan induksi Ea dibangkitkan pada fasa generator sinkron. Tegangan ini biasanya
tidak sama dengan tegangan yang muncul pada terminal generator. Tegangan induksi sama
dengan tegangan output terminal hanya ketika tidak ada arus jangkar yang mengalir pada mesin.
Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan antara tegangan induksi dengan tegangan
terminal adalah:
1. Distorsi medan magnet pada celah udara oleh mengalirnya arus pada stator, disebut reaksi
jangkar.
2. Induktansi sendiri kumparan jangkar.
3. Resistansi kumparan jangkar.
4. Efek permukaan rotor kutub sepatu.
Rangkaian ekuivalen generator sinkron perfasa ditunjukkan pada gambar di bawah ini.







Gambar 2.20. Rangkaian ekuivalen generator sinkron perfasa

2.8.7. Daya Elektromagnetik dan Torsi
Jika mesin sinkron dioperasikan sebagai generator dengan diputar oleh prime mover,
dalam keadaan steady state torsi mekanik pada prime mover seimbang dengan torsi
elektromagnetik yang dihasilkan generator ditambah rugi-rugi torsi mekanik ( rugi gesek dan
rugi angin ) :
loss pm
T T T + = ................................................................(2.37)
Dengan persamaan torsi di atas, maka diperoleh persamaan daya :
los em pm
P P P + = ..............................................................(2.38)
dimana :
syn pm pm
T P e = ( daya mekanik prime mover )


33






syn em
T P e = ( daya elektromagnetik generator )
syn loss loss
T P e = ( rugi-rugi daya dalam sistem )
Sedangkan untuk konversi daya elektromagnetik menjadi daya listrik dalam lilitan stator tiga
fasa adalah :
a a
I E a a syn em
I E T P ¢ e cos 3 = = .......................................(2.39)
dimana :
a a
I E
¢ adalah sudut phasor
a
E dan
a
I






Gambar2.21. Mesin sinkron yang beroprasi sebagai generator

Pada generator sinkron, jika
a
R diabaikan karena sangat kecil, maka berlaku hubungan :
a s a a
I jX E V ÷ = ...............................................................(2.40)
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram phasor di bawah ini :






Gambar 2.22. Diagram phasor generator


34






Dari diagram di atas diperoleh persamaan :
¢ o cos sin
a s a
I X E = ...................................................(2.41)
Jika resistansi lilitan fhasa di abaikan, daya output sama dengan daya elektomagnetik, atau :
¢ cos 3
a a out em
I V P P = = ...............................................(2.42)
Sehingga,
o sin
3
s
a a
em
X
V E
P =
dan
o
e e
sin
3
s syn
a a
syn
em
X
V E P
T = = ..............................................(2.43)
dimana o adalah sudut antara tegangan
a
V dan emf (
a
E ).
2.8.8. Menentukan Parameter Generator Sinkron
Harga Xs diperoleh dari dua macam percobaan yaitu percobaan tanpa beban dan
percobaan hubungan singkat. Pada pengujian tanpa beban, generator diputar pada kecepatan
ratingnya dan terminal generator tidak dihubungkan ke beban. Arus eksitasi medan mula adalah
nol. Kemudian arus eksitasi medan dinaikan bertahap dan tegangan terminal generator diukur
pada tiap tahapan. Dari percobaan tanpa beban arus jangkar adalah nol (Ia = 0) sehingga V sama
dengan Ea. Sehingga dari pengujian ini diperoleh kurva Ea sebagai fungsi arus medan ( If ). Dari
kurva ini harga yang akan dipakai adalah harga liniernya (unsaturated). Pemakaian harga linier
yang merupakan garis lurus cukup beralasan mengingat kelebihan arus medan pada keadaan
jenuh sebenarnya dikompensasi oleh adanya reaksi jangkar.
Pengujian yang kedua yaitu pengujian hubung singkat. Pada pengujian ini mula-mula
arus eksitasi medan dibuat nol, dan terminal generator dihubung singkat melalui ampere meter.
Kemudian arus jangkar Ia (= arus saluran) diukur dengan mengubah arus eksitasi medan. Dari
pengujian hubung singkat akan menghasilkan hubungan antara arus jangkar ( Ia ) sebagai fungsi
arus medan ( If ), dan ini merupakan garis lurus. Gambaran karakteristik hubung singkat
alternator diberikan di bawah ini.





35











Gambar 2.23. Karakteristik hubung singkat alternator
Ketika terminal generator dihubung singkat maka tegangan terminal adalah nol.
Impedansi internal mesin adalah:
Ia
Ea
Xs Ra Zs = + =
2 2
.......................................................(2.44)
Oleh karena Xs >> Ra, maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi:
hs
OC
Ia
V
Ia
Ea
Xs = = .....................................................................(2.45)

Jika Ia dan Ea diketahui untuk kondisi tertentu, maka nilai reaktansi sinkron dapat
diketahui. Tahanan jangkar dapat diukur dengan menerapkan tegangan DC pada kumparan
jangkar pada kondisi generator diam saat hubungan bintang (Y), kemudian arus yang mengalir
diukur. Selanjutnya tahanan jangkar perfasa pada kumparan dapat diperoleh dengan
menggunakan hukum ohm sebagai berikut.
DC
DC
I
V
Ra
. 2
= ............................................................................(2.46)
Penggunaan tegangan DC ini adalah supaya reaktansi kumparan sama dengan nol pada saat
pengukuran.

2.8.9.Diagram Fasor
Diagram fasor memperlihatkan bahwa terjadinya pebedaan antara tegangan teminal V
dalam keadaan berbeban dengan tegangan induksi (Ea ) atau tegangan pada saat tidak berbeban.
Diagram dipengaruhi selain oleh faktor kerja juga oleh besarnya arus jangkar ( Ia ) yang
mengalir. Dengan memperhatikan perubahan tegangan V untuk faktor kerja yang berbeda-beda,
karakteristik tegangan teminal V terhadap arus jangkar diperlihatkan pada gambar 2.24.



36







Ea
V
(a)
Ea

jXs Ia

Ia Va Ia Ra
(b)
Ea

jXs Ia
Va
Ia Ra
Ia
(c)

Ia Ea jXs Ia
Ia Ra
Va
(d)

Gambar 2.24.Diagram fasor generator sinkron (a) kondisi floating (b) faktor daya satu (c)
faktor daya lagging (d) faktor daya leading.

2.8.10.Pengaturan Tegangan (Regulasi Tegangan)
Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal alternator antara keadaan
beban nol (VNL) dengan beban penuh (VFL). Keadaan ini memberikan gambaran batasan drop
tegangan yang terjadi pada generator, yang dinyatakan sebagai berikut.
% 100 x
V
V V
VR
FL
FL NL
÷
= …………………………………....(2.47)


37






2.8.11. Kerja Paralel Alternator
Penggabungan alternator dengan cara mempararelkan dua atau lebih alternator pada
sistem tenaga dengan maksud memperbesar kapasitas daya yang dibangkitkan pada sistem.
Selain untuk tujuan di atas, kerja pararel juga sering dibutuhkan untuk menjaga kontinuitas
pelayanan apabila ada mesin (alternator) yang harus dihentikan, misalnya untuk istirahat atau
reparasi, maka alternator lain masih bisa bekerja untuk mensuplai beban yang lain. Untuk
maksud mempararelkan ini, ada beberapa persaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Harga sesaat ggl kedua alternator harus sama dalam kebesarannya, dan bertentangan dalam
arah, atau harga sesaat ggl alternator harus sama dalam kebesarannya dan bertentangan dalam
arah dengan harga efektif tegangan jala-jala.
2. Frekuensi kedua alternator atau frekuensi alternator dengan jala harus sama
3. Fasa kedua alternator harus sama
4. Urutan fasa kedua alternator harus sama
















38






BAB III
STUDI KELAYAKAN ( FEASIBILITY STUDY )
PLTMH

3.1. Letak geografis
secara visual mempunyai potensi sebagai PLTMH dilihat dari letak geografis dari lokasi
yang akan dibangun PLTMH, sehingga layak untuk dikaji dan didesain sebagai pembangkit
tenaga listrik.


3.2. Survey Potensi Daya (Potensial Site Survey)
Pekerjaan Survey Potensi Daya ini berupa kunjungan langsung ke lapangan (site visit)
untuk melakukan:
1. Site Assessment, yaitu kunjungan lapangan untuk dasar perhitungan dan penafsiran
engineering secara kasar bedasarkan pengalaman yang telah dilakukan untuk menentukan
apakah suatu lokasi secara teknik layak untuk dibangun PLTMH. Setelah dilakukan tahap
site assessment diambil kesimpulan bahwa lokasi curug malela dinyatakan layak secara
teknik untuk dijadikan PLTMH.
2. Preliminary Selection, dari perhitungan kasar site assessment lokasi ini dinilai layak secara
teknik, maka dilakukan perkiraan posisi untuk: bendung dan intake, saluran pembawa, bak
penenang, lintasan penstock dan rumah pembangkit. Penentuan posisi di atas dengan
mempertibangkan aspek: teknik hidrolika, keselamatan bangunan terhadap banjir dan
longsor, serta kemudahan pelaksanaan konstruksi.




39






3. Pengukuran topografi calon lokasi PLTMH, meliputi:
a. Peta situasi pada lokasi pembangkit meliputi: bendung dan intake, saluran pembawa, bak
penenang, penstock, rumah pembangkit dan jalur kabel transmisi dari pembangkit ke desa
(konsumen).
b. Potongan melintang (cross-section) dan potongan memanjang (long-section) pada bendung
dan intake ,saluran pembawa, bak penenang, penstock dan rumah pembangkit.
c. Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran ini adalah: Digital Theodolit Leica TS-01,
Digital Pressure Gauge Ashcroft D1005PS, GPS eTrex Vista Garmin dan roll meter.
4. Pengukuran hidrologi calon lokasi PLTMH untuk menentukan Debit Disain. Adapun
pekerjaan yang dilakukan meliputi:
a. On spot flow measurement, yaitu pengukuran debit pada beberapa titik sebagai dasar untuk
menentukan debit disain. Apabila aliran sumber air (sungai atau saluran irigasi) yang hendak
diukur bersifat laminar dengan penampang aliran homogen, maka debit akan diukur dengan
metoda propeller dan metoda salt gulp dilution sebagai pembanding. Sementara bila aliran
sumber air bersifat turbelen dengan kondisi penampang sungai berbatu-batu, sehingga tidak
dimungkinkan pengukuran dengan metoda propeller maka pengukuran hanya dilakukan
dengan metoda salt gulp dilution.
b. Estimasi karakter pola debit pada musim kemarau dan pola debit pada musim hujan, dengan
mengamati jejak pola tinggi muka air pada musim kemarau dan pada musim hujan pada
penampang sungai. Estimasi ini juga menggunakan informasi dari penduduk setempat
sebagai referensi dan sumber informasi sekunder.
c. Evaluasi terhadap kandungan air yang terkait dengan perencanaan PLTMH khususnya
menyangkut: tingkat keasaman air (PH) dan tingkat sedimentasi.


40






d. Evaluasi terhadap penggunaan air yang akan dipakai sebagai dasar debit disain, yaitu
perkiraan debit konservasi yang harus tetap dialirkan ke aliran sungai semula, apabila tipikal
lokasi adalah sungai alami dengan bendung (weir) dan intake sebagai diverting structure
untuk membelokan aliran air ke arah saluran pembuka.
e. Evaluasi terhadap debit desain yang diijinkan untuk digunakan sebagai penggerak turbin,
khususnya pada saluran irigasi dimana keberadaan PLTMH akan merubah pola aliran air
untuk kebutuhan irigasi. Evaluasi ini tidak diperlukan apabila penggunaan air untuk PLTMH
tidak akan merubah pola aliran. Pada kondisi ini hanya dibutuhkan mekanisme pelimpah
dimana apabila turbin berhenti beroperasi karena keperluan perbaikan atau sengaja
diberhentikan, pola aliran tidak berubah dan kebutuhan air untuk irigasi tetap terjamin.
f. Apabila kondisi lokasi dan sumber daya manusia setempat memungkinkan maka akan
dipasang weir measurement untuk memonitor debit secara berkala (debit diukur setiap 2 hari
sekali oleh penduduk setempat). Apabila kondisi medan sungai tidak memungkinkan
pemasangan weir measurement maka akan dipasang rod gauge level untuk memonitor
ketinggian muka air sungai. Level air akam diukur secara bekala 2 hari sekali oleh penduduk
setempat. Data debit dari weir measurement atau data ketinggian muka air sungai dari rod
gauge level akan dipakai sebagai referensi dan cross check data hasil on spot flow
measurement pada saat calon lokasi PLTMH ini jadi dibangun. Hal ini penting sekali
dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam menentukan debit disain.
g. Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran debit ini adalah: MiniAir20 untuk pengukuran
debit dengan metoda propeller, Conductivity Meter CD 4030 atau instrument setara untuk
pengukuran debit dengan metoda salt gulp dilution, PH meter untuk mengukur tingkat
keasaman air, sampling air dan sampling sedimen untuk menentukan jenis sedimentasi, weir


41






profile (rectangular atau triangular) sesuai dengan perkiraan debit dan rod gauge level. Baik
weir profile maupun rod gauge level akan dilengkapi dengan tabel ukur untuk pencatatan
hasil pengukuran secara berkala.

a. Pekerjaan Survey Potensi Ekonomi, Sosial dan Lingkungan.
Survey potensi ekonomi, sosial dan lingkungan ini bertujuan sebagai pelengkap data data
teknis dan non teknis yang dibutuhkan sebagai acuab dalam membuat rencana anggaran biaya
pembangunan dan prakiraan biaya perawatan . Selain itu survey ini juga bertujuan untuk
mendapatkan gambaran yang nyata tentang keadaan sosio structural masyarakat setempat,
sehingga dalam pelaksanaan pembangunan kendala non teknis dapat diminimalisir. Survey yang
dilakukan meliputi:
1. Survey kondisi ekonomi masyarakat
2. Survey kondisi sosial masyarakat
3. Survey kondisi lingkungan
a. Survey Kondisi Ekonomi Masyarakat
Survey ini terkait dengan kondisi perekonomian lokal termasuk sumber pendapatan
masyarakat, pola pemukiman yang ada, fasilitas umum dan fasilitas sosial, tingkat pendidikan,
keterampilan, jumlah rumah yang membutuhkan listrik dan aspek lain yang mungkin terkait
dengan keberadaan PLTMH. Faktor lain yang juga perlu diketahui misalnya masalah sumber
daya manusia, harga tenaga kerja lokal, transportasi material , harga material lokal.


42






b. Survey Kondisi Sosial Masyarakat
Survey ini terkait dengan kondisi sosial masyarakat yang meliputi pola hidup, pola
pemukiman, faktor sumber daya manusia lokal untuk mendukung pelaksanaan proyek.
c. Survey Kondisi Lingkungan
Survey ini terkait dengan pengumpulan data kondisi lingkungan dilokasi pembangkit dan
sekitarnya. Faktor faktor yang diamati meliputi pola aliran sungai, penggunaan air untuk
keperluan lain, kandungan material air, ketersediaan material lokal, pemahaman kelestarian
lingkungan masyarakat.
d. Analisa Dampak Lingkungan
Analisa ini merupakan kajian teoritik yang dilihat dari sudut pandang ekonomi, sosial dan
lingkungan berdasarkan pengamatan lapangan . Analisa ini penting untuk memperkirakan
dampak yang akan timbul pada saat persiapan, pelaksanaan proyek maupun operasional
PLTMH.
e. Pekerjaan Desain Teknik (Technical Design), Gambar desain (Desain Drawing) dan
Estimasi Anggaran biaya Pembangunan (Estimate Bill of Quantity)

Dari hasil pekerjaan Survey Potensi Daya akan dilakukan pekerjaan desain teknik,
gambar disain dan estimasi anggaran biaya yang akan menghasilkan dokumen teknik sebagai
acuan apabila calon PLTMH yang telah disurvey ini jadi dibangun. Adapun lingkup pekerjaan
disain teknik, gambar desain dan estimasi anggaran biaya ini adalah sebagai berikut :
f. Desain Teknik (Technical Design)
Desain Teknik, yaitu untuk melakukan perhitungan engineering untuk menentukan daya
yang dapat dibangkitkan oleh calon lokasi PLTMH yang telah disurvey yang meliputi criteria
desain utama sebagai berikut:


43






1. perhitungan debit desain sesuai dengan potensi yang tersedia dengan memperhitungkan
kebutuhan daya calon pengguna PLTMH
2. Perhitungan tinggi jatuh efektif (head set) dengan memperhitungkan rugi-rugi tinggi jatuh
(head losses) sesuai dengan desain penstock
3. Perhitungan bangunan sipil meliputi: bendung (weir), intake, saluran pembawa (head race),
bak pngendap (silting basin), saluran pelimpah (spill way), bak penenang (fore bay), sliding
block dan thrust block pada penstock, rumah pembangkit (power house) serta saluran
pembuang (tail race). Perhitungan ini meliputi aspek hidrolika dan kekuatan bangunan.
4. Perhitungan penstock meliputi pemilihan diameter optimal rugi gesek (friction losses), rugi
turbelen (turbulent losses), factor keselamatan (safety factor), dan pemuaian penstock akibat
perubahan temperature (temperature expansion).
5. Perhitungan daya terbangkit berdasarkan turbin yang sesuai meliputi: jenis, dimesi dasar,
efisiensi, torsi dan kecepatan putar turbin yang dipilih serta syarat teknis lain yang berkaitan
turbin.
6. Perhitungan system transmisi mekanik yang sesuai meliputi: jenis, dimesi dasar, speed ratio,
efisiensi effective pull dan shaft load serta syarat teknis lain yang berkaitan dengan transmisi
mekanik.
7. Pemilihan generator yang sesuai meliputi: merk yang direkomendasikan, rating daya dan
factor daya, rating tegangan dan system koneksi, rating arus, kecepatan putar dan frekuensi,
insulation class, system bearing dan jenis AVR yang direkomendasikan.
8. Pemilihan pengkabelan rumah pembangkit (power house wiring) yang sesuai meliputi: jenis
dan ukuran kabel daya utama (main power cable) yang direkomendasikan, system untuk


44






grounding, penerangan rumah pembangkit, dan system lightning arrester yang
direkomendasikan.
9. Rekomendasi untuk suku cadang mekanik, suku cadang elektrik, tool kit dan perlengkapan
operator yang harus disediakan.
10. Rekomendasi untuk tata cara uji coba dan commissioning pembangkit serta metoda pelatihan
operator.
11. Pemilihan jaringan distribusi listrik yang sesuai meliputi: perhitungan rugi daya (losses) dan
jatuh tegangan (voltage drop), jenis dan ukuran kabel yang direkomendasikan, jenis tiang dan
aksesorinya serta system pembagian jalur.
12. Rekomendasi untuk instalasi listrik di konsumen meliputi: daya terpasang, rating MCB dan
jumlah titik lampu.
3.4. Gambar desain (Desain Drawing)
Dari hasil perhitungan disain teknik akan dituangkan dalam bentuk gambar disain yang
meliputi :
1. Gambar Sipil
2. General Plan of View
3. Gambar denah bendung & intake
4. Gambar potongan memanjang dan melintang bending & intake
5. Gambar Detail struktur Bendung dan intake
6. Gambar denah bak penenang ( forebay )
7. Gambar potongan melintang dan memanjang forebay
8. Detail struktur forebay
9. Gambar trashrack


45






10. Gambar penstock
11. Gambar potongan penstock
12. Gambar detail pembesian thrust block
13. Gambar denah power house
14. Gambar potongan memanjang dan melintang power house
15. Detail pembesian pondasi turbin
16. Detail kusen ballast load.
17. Gambar Elektrikal dan Mekanikal
1. Gambar arrangement turbin dan generator
2. Gambar single line diagram
3. Gambar lay out panel control
4. Gambar ballast load
5. Gambar wiring diagram
6. Gambar instalasi lay out power house
18. Gambar Transmisi
1. Gambar peta jaringan
2. Gambar konstruksi tiang pada lintasan lurus
3. Gambar konstruksi tiang pada lintasan belok
4. Gambar konstruksi tiang pada percabangan
5. Gambar konstruksi tiang pada ujung jaringan
3.5. Estimasi Anggaran biaya Pembangunan (Estimate Bill of Quantity)

Estimasi Anggaran Biaya Pembangunan, dari hasil perhitungan desain teknik dan gambar
disain akan disusun estimasi anggaran biaya pembangunan serta analisis harga satuan untuk


46






item-item yang terkait dengan pembangunan PLTMH yang telah didisain tersebut. Angaran
meliputi :
1. Daftar harga dasar peralatan mekanikal, elektrikal dan jaringan
2. Daftar harga dasar material dan alat kerja
3. Daftar harga satuan rupiah
4. Analisa harga satuan pekerjaan
5. Analisa perhitungan rencana anggaran biaya ( bil of quantity ) pembangunan.
Anggaran biaya pembangunan PLTMH dibagi menjadi tiga item pekerjaan.
A. Pekerjaan Sipil
1. Pekerjaan Bendung
2. Pekerjaan Intake
3. Pekerjaan Saluran Pembawa
4. Pekerjaan Forebay dan Spillway
5. Pekerjaan Penstock
6. Pekerjaan Power House
7. Pekerjaan tail race
B. Pekerjaan Elektrikal dan Mekanikal
1. Pengadaan Turbin Generator, perlengkapan mekanikal dan elektrikal termasuk
pemasangan .
2. Pengujian system, training operator.
C. Pekerjaan Saluran Transmisi
1. Pengadaan dan Pemasangan Tiang Listrik
2. Pengadaan dan Pemasangan kondukto


47






3. Pengadaan dan Pemasangan Pembumian
D. Dokumentasi
Dokumentasi hasil survey disajikan dalam bentuk gambar, foto, lembar angket, dan
catatan catatan hasil wawancara sebagai berikut:
1. Dokumentasi teknis
a. Foto kegiatan pengukuran ( topografi, debit air, pemasangan alat ukur, dll).
b. Foto lokasi rencana bangunan sipil ( bending, itake, forebay, head race, penstock, power
house, tail race )
c. Foto sekitar lokasi bangunan sipil
d. Peta desa
2. Dokumentasi ekonomi, social dan lingkungan, meliputi :
a. Foto kondisi social dan lingkungan masyarakat yang akan memanfaatkan PLTMH
b. Daftar isian angket yang disebar dan telah diisi oleh masyarakat
c. Daftar harga bahan pokok dan material di pasaran setepat
d. Rekaman atau catatan hasil wawancara dengan masyarakat / tokoh masyarakat / aparat
desa
e. Foto pola permukiman yang ada di desa setempat
f. Dokumen tertulis dalam bentuk surat perjanjian, komitmen dengan masyarakat, dan
persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh masyarakat tentang pembangunan PLTMH
untuk dijadikan sebagai data penunjang dan akan dilampirkan sebagai bab rekomendasi
dalam buku laporan.
3.6. Data teknik hasil survey potensi daya


48






Data data teknik hasil survey potensi daya ini meliputi tinggi jatuh ( Head gross) ,
panjang lintasan penstock dan debit desain sebagai data awal perhitungan sistem pembangkitan.

3.6.1. Tinggi jatuh / Head gross (Hg)
Dari hasil pengukuran tofografi dengan alat ukur yang digunakan dalam pengukuran ini
adalah : dengan menggunakan Total Station Topcon GTS 239 S, Digital Theodolit Leica TS-01,
Digital Pressure Gauge Ashcroft D1005PS, GPS eTrex Vista Garmin dan roll meter.





Gambar 3.1. Persiapan alat ukur topografi dengan menggunakan Total Station Topcon GTS 239 S







Gambar 3.7. Cara pengukuran head elevation
Sumber : McQuigan, Dermott. Harnessing Water Power for Home Energy, Garden Way Publishing, Charlotte, VT 0544

Gambar 3.2. Pengukuran Situasi di Patok ML-1 untuk pengambilan situasi bendung,intake dan forebay




49







3.6.2. Panjang pipa penstock (Lp)
Dari hasil pengukuran panjang penstock dari bak penenang (forebay) sampai dengan
turbin maka selanjutnya dilakukan perhitungan rencana jalur dan panjang penstock sepanjang
dengan pembagian expansion.







Gambar.3.3.. Pengukuran rencana jalur penstock

3.6.3. Debit desain (Q)
Pengukuran debit (On spot flow measurement) dilakukan pada beberapa titik sebagai
dasar untuk menentukan debit disain. Metoda pengukuran yang dipergunakan adalah metoda
pelarutan ( salt gulp dilution ) karena air bersifat turbelen dengan kondisi penampang sungai
berbatu-batu, sehingga tidak dimungkinkan pengukuran dengan metoda propeller maka
pengukuran hanya dilakukan dengan metoda salt gulp dilution, alat ukur yang digunakan adalah
Conductivity Meter CD 4030


50






Ada dua metoda pelarutan mengukur debit sungai berdasarkan konsentrasi bahan kimia
yang dideteksi. (NaCl dan Na
2
Cr
3
O
7
).
7

a. Pemberian terus menerus (Continous Injection)








1 ppb = 0,001 ppm = 0,001 mg/liter



Gambar 3.4 Cara pengukuran debit air sungai Continous Injection

Pemberian serentak (Sudden Injection)








Gambar 3.5 Cara pengukuran debit air sungai Sudden Injection

7
Sumber : Laboratorium teknik pengendalian dan konservasi lingkungan jurusan teknik pertanian FAKULTAS
TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER.
" c
c
q Q - =
L m
Laju injeksi = q (l/det)
Bahan Kimia
Konsentrasi C (ppb)
Bahan Kimia
Konsentrasi C” (ppb)
L m
Konsentrasi
Bahan Kimia
C” (ppb)
Berat bahan kimia
C
v
(ppb)
¿
}
A -
= =
t c
c
d
c
c
Q
V
t
t
V
" "
0


51






Dari hasil pengukuran dan analisa memakai metoda pemberian serentak (Sudden
Injection) dengan langkah sebagai berikut : Pada stasiun hulu diberikan bahan kimia sebanyak 1
kg, kemudian dianalisa konsentrasi bahan kimia di stasiun hilir, dalam waktu 1 jam seperti pada
tabel berikut :
Tabel 3.1 Pengukuran konsentrasi bahan kimia
Waktu ∆ t Konsentrasi Bahan Kimia (C") C" ∆t
(Jam) (Jam) (ppb)
0 0 -
1 1 9,7
2 1 19,3
3 1 48,3
4 1 32,2
5 1 29,0
6 1 25,8
7 1 19,3
8 1 12,9
9 1 06,4
10 1 -
11 1 -
12 1 -
JUMLAH 202,9
Data pengukuran waktu musim kemarau ( 11 September 2006 )
Maka diperoleh debit desain (Q) sebesar :


=
jam ppb
kg
× 9 , 202
1

PERENCANAAN SISTEM PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK
4.1.Perhitungan Daya kotor (P gross)
Sebuah skema hidro memerlukan dua hal utama yaitu debit air (flow)dan ketinggian jatuh
(Head) untuk menghasilkan tenaga yang bermanfaat. Sebuah sistem konversi tenaga, menyerap
tenaga dari bentuk ketinggian dan aliran, dan menyalurkan tenaga dalam bentuk daya listrik atau
¿
}
A -
= =
t c
c
d
c
c
Q
V
t
t
V
" "
0


52






daya mekanik. Tidak ada sistem konversi daya yang dapat mengirim sebanyak yang diserap,
tetapi dikurangi sebagian daya hilang oleh sistem itu sendiri dalam bentuk gesekan, panas, suara
dan sebagainya.
Persamaan konversinya adalah :
Daya yang masuk = Daya yang keluar + Kehilangan (Loss)
atau,
Daya yang keluar = Daya yang masuk × Efisiensi konversi
Persamaan di atas biasanya digunakan untuk menggambarkan perbedaan yang kecil.
Daya yang masuk, atau total daya yang diserap oleh skema hidro, adalah daya kotor,
gross
P .
Daya yang manfaatnya dikirim adalah daya bersih,
nett
P . Semua efisiensi dari skema diatas
disebut
0
E .
net
P =
gross
P x
0
E
Daya kotor adalah head kotor (
gross
H ) yang dikalikan dengan debit air (Q) dan juga dikalikan
dengan sebuah konstanta , persamaan teori dasar dari pembangkit listrik adalah sebagai mana
persamaan 2.6.
P = k . H. Q [kW]
Data yang didapat pada survey potensi daya adalah :
gross
H ( Head gross ) = 55,6 m
Q ( debit terukur ) = 1369 liter/s
dengan konversi 1 liter = 1000
3
cm =
3 3
10 m
÷

Q = 1,369
3
m /s
k ( konstanta ) = 9,8


53






sehingga :
369 , 1 6 , 55 8 , 9 × × =
gross
P = 745,9 kW
4.2. Perencanaan pipa pesat (Penstock)
Dalam perencanaan PLTMH perhitungan tinggi jatuh efektif (head net) dilakukan
dengan memperhitungkan rugi-rugi tinggi jatuh (head losses) sesuai dengan desain penstock.
Dalam perencanaan PLTMH ini direncanakan akan mempergunakan pipa baja spiral ( Spiral
welded pipe ) dengan diameter didapat hasil perhitungan sebagai mana persamaan 2.19 :
1875 . 0
2 . 2 . . 3 , 10
|
.
|

\
|
=
H
L Q n
D
dimana n = koefisien kekasaran (roughness) untuk welded steel adalah 0,012 ( lihat table 2.1. ),
sehingga :
D = |
.
|

\
| × × × × ×
6 , 55
390 2 369 , 1 2 012 , 0 3 , 10
0,1875
= 0,890 m = 890 mm = 35,03”
Dalam analisa perencanaan penstock ini dipergunakan pipa dengan diameter dalam 36” atau
setara dengan 898 mm dan ketebalan 8 mm.
4.3.Analisa Steel penstock
Dengan penentuan penstock di atas, maka perhitungan rugi-rugi dan tinggi jatuh efektif
(head net) dapat diketahui, dengan input data yang diperoleh dari hasil survey potensi daya, dan
spesifikasi material yang akan dipergunakan, dimana :
Debit terukur (flow) Q = 1,369
3
m /s
Debit desain
t
Q = 1,700
3
m /s


54






gross
H ( Head gross )
g
H = 55,6 m
Panjang Penstock L = 390 m
4.3.1. Friction head loss (
f
H o )
Untuk mencari friction head losses maka harus dicari terlebih dahulu kecepatan alir
dalam penstock, yang mana untuk steel penstock dapat menggunakan persamaan empiris 2.9. dan
persamaan 2.10.
V = 1273 |
.
|

\
|
2
d
Q
t

V = 1273 |
.
|

\
|
2
898
1700

= 2,684 mm/s
( )
2
9 . 0
2
. 8 , 93
1
37
1
log
1 .
8 , 12
|
|
.
|

\
|
(
¸
(

¸

+
×
|
|
.
|

\
|
× =
d V
d
d
L V
H
f
o
2
9 , 0
2
)]} 898 ( 684 , 2 [ 8 , 93 {
1
) 898 ( 37
1
log
1
898
390 . ) 684 , 2 (
8 , 12
|
|
.
|

\
|
(
¸
(

¸

+
×
|
|
.
|

\
|
× =
f
H o
= 3,633 m
Jika rugi turbulence (
t
H o ) sebesar 0,808 ( hasil perhitungan dengan aplication program
turbulent flow calculator, http://gcisolutions.com/flow.html ) , maka total head losses ( friction +
turbulance ) :
t f
H H H o o o + =
1

= 3,633 + 0,808
= 4,441 m


55






4.3.2 Net Head & Penstock efficiency
Dengan hasil perhitungan di atas maka Net Head dan efisiensi penstock dapat dicari
berdasarkan persamaan 2.11 dan 2.12.
1
H H H
g n
o ÷ =
= 55,6 – 4,441
= 51,16 m
% 100 x
H
H
g
n
pen
= q
= % 100
60 , 55
16 , 51
x
= 92 %
4.3.3. Faktor Keselamatan ( Safety Factor )
Untuk menentukan safety factor dapat digunakan persamaan 2.18, dengan input data :
Penstock thickness desain
req
t 8 mm
% of flow opened z 100 %
dimana :
) 100 (
. 10 1 , 2
8
d t
t
V
wave
+
×
=
=
898 ) 8 100 (
8 . 10 1 , 2
8
+ ×
x

= 994,68 m/s
980
. . V z V
H
wave
surge
=
=
980
684 , 2 100 68 , 994 × ×



56






= 272,42
g surge tot
H H H + =
= 272,42+ 55,60
= 328,02


Sehingga :
d H
t
SF
tot
req
tot
.
. 83700
=
=
898 02 , 328
8 83700
×
×

= 2,27



4.3.4. Penstock Expansion
Dalam perencanaan PLTMH Curug Malela ini, pemasangan penstock dari bak penenang
sampai power house direncanakan dibagi menjadi empat expansion dengan Thrust block cor
beton sebagai dudukan.





83700
. .
tot tot
req
SF d H
t =


57






Power House
8,21
0

Expansion joint
Expansion joint
Expansion joint





Gambar 4.1. Jarak dan kemiringan penstock
Expansion I :
Jarak : 47 m
Elevasi : 97,0 – 95,8 m
Expansion II :
Jarak : 133 m
Elevasi : 95,8 – 80,3 m
Expansion III :
Jarak : 133 m
Elevasi : 80,3 – 62,2 m
Expansion ke IV :
Jarak : 77 m
Elevasi : 62,2 – 43,8 m
Dari hasil analisa di atas maka dapat dibuatkan tabel hasil perhitungan dari penstock.








L Penstock 390 m
H 55,6 m
Bak penenang ( Forebay )


58








Tabel 4.1. Hasil Perhitungan Penstock

Head Losses

t
Q
p
D
p
L

f
K
f
H o
tb
K
V
t
H o
1
H o
p
A
g
H
p
F
n
H

s m /
3

m m m m/s m m
2
m
m kg m
1,700 0,898 390 0,0135 3,633 2,2 2,684 0,808 4,441 0,633 55,6 35214 51,
16

g n pen
H H / = q
%
92


Safety Factor
t
Q
p
D
p
t E S
w
V
V
g
H
s
H
s m /
3

m m
2
/ m N
2
/ m N
2
/ s m
m/s m m
1,700 0,898 0,008 2E+11 4E+08 994,68 2,684 55,600 272,42

tot
H
SF
m
328,02 2,27


Penstock Expansion
Section 1, sliding type expansions joint
h
T
c
T
ps
L
o x o
C
0
C
0

m
C m m
0
/
mm
50 20 47 1,2E-0,5 15,7

Section 2, sliding type expansions joint
h
T
h
T
ps
L
o x o
C
0
C
0

m
C m m
0
/
mm
50 20 133 1,2E-0,5 48,7


e
K
1 b
K
2 b
K
3 b
K
4 b
K
5 b
K
6 b
K
7 b
K
8 b
K
9 b
K
10 b
K
c
K
v
K
tb
K
0,2 0,4 0,4 0,2 0,2 - - - - - - 0,4 0,4 2,2


59







Section 3, sliding type expansions joint
h
T
h
T
ps
L
o x o
C
0
C
0

m
C m m
0
/
mm
50 20 133 1,2E-0,5 48,7

Section 4, sliding type expansions joint
h
T
h
T
ps
L
o x o
C
0
C
0

m
C m m
0
/
mm
50 20 68 1,2E-0,5 23,4

p
A = penstock’s cross-section
p
D = penstock diameter
f
H o = friction losses
t
H o = turbulence losses
1
H o = total head losses (friction+turbulence)
x o = expansion of pipe
E = young’s modulus
p
F = penstock’s force, bottom side
g
H = geodetic head
s
H = surge head
n
H = net head
tot
H = total head (geodetic+surge)
e
K = coefficient in entrance sections
1 b
K = coefficient in bends
c
K = coefficient in contractions
v
K = coefficient in valve
tb
K = turbulence coefficient (total)
f
K = friction/roughness coefficient
p
L = penstock’s length
ps
L = penstock’s length per section
t
Q = discharge/flow
S = ultimate tensile strenght
SF = safety factor
p
t = penstock thickness

h
T = highest temperature
c
T = lowest temperature
V = velocity


60






w
V = pressure wave velocity
o = coefficient of expansion


4.4. Analisa daya terbangkit
Kebanyakan peralatan power plant ( Valve, turbine, Control, generator, dll.) penjelasan
secara menyeluruh didapat dari keterangan manual. Power plant mikro hidro di wilayah
pedesaan di Indonesia bagaimanuapun selalu dibuat mengkuti pendekatan dengan mengacu
pada keakuratan data perencanaan, kemampuan pabrikan peralatan, jaringan distribusinya dan
pendanaan proyek. Kemapuan operator di wilayah pedesaan dan suku cadang untuk
pemeliharaan yang sebagian suku cadang belum bisa di produksi di Indonesia juga dijadikan
bahan pertimbangan.
4.4.1 Jenis Turbin
Turbin cross flow adalah turbin yang cocok untuk mikro plant di Indonesia dengan alasan
hal-hal sebagai berikut :
1. Peralatan tes untuk pengambilan data teknik cukup tersedia di Indonesia
2. Cocok untuk perencanaan dengan mengacu pada head dan flow pada berbagai kondisi actual
yang ada
3. Biaya relatif murah
4. Pemesanan ke pabrikan relatif cepat
5. Sistem pengintalasaian yang mudah
6. Pabrikan lokal, pemeliharaan dan perbaikan bisa dilakukan di Indonesia
Dalam grafik gambar 2.14 menunjukan, untuk head dibawah 100 m dengan Q dibawah 10 m
3
/s adalah daerah yang cocok untuk turbin cross flow.


61






Dalam implementasinya peralatan sistem pembangkitan perlu didesain sedemikian rupa
supaya bila terjadi ganguan pada sistem pembangkitan atau keperluan pemeliharaan, pembangkit
dapat terus beroprasi meskipun tidak dalam kapasitas penuh, sehingga dalam perencanaan
PLTMH Curug Malela ini direncanakan mempergunakan 2 unit turbin-generator dengan
pertimbangan bila terjadi gangguan pada salah satu turbin-generator atau keperluan pemeliharaan
salah satu turbin-generator, pembangkit masih bisa beroperasi dengan kapasitas setengahnya dari
kapasitas penuh pembangkit.
4.4.2. Data teknis turbin Crossflow yang dipergunakan
Runner inlet width [B
t
] 290 mm
Runner diameter [D
t
] 0,50 m
Unit discharge/flow [q
11
] 0,80
Unit speed [n
11
] 38
Turbin efficiency [
t
q ] 80 %
4.4.3. Perhitungan daya turbin ( turbin mechanical/shaft power )
Untuk mengetahui daya turbin dapat dipergunakan persamaan 2.7 sebagai berikut :
P = k .
t
q . H . Q [kW]
maka untuk mencari daya turbin per unitnya perlu diketahui discharge / flow (Q) per unit, dan
juga unit speed nya (n
11
).
Q dapat dicari dengan mempergunakan persamaan 2.31
nett
t
H
Q
D q
B .
1
. max 11
=
dimana :
t
B = runner inlet width [m]


62






max 11
q = unit discharge (flow)
Dengan data-data yang sudah diperoleh, maka dari persamaan di atas dapat diperoleh :
nett t
H D q B Q . . .
max 11
=
= 51 . 50 , 0 . 80 . 0 . 290
= 828 l/s
maka daya turbin per unit dalam operasi penuh ( under best operation point ) adalah :
P = 9,8 x 0.8 x 51 x 828
= 331 kW
4.4.4. Kecepatan putar turbin / turbin speed
Sedangkan untuk kecepatan putar turbin/turbine speed (
t
n ) dapat mempergunakan persamaan
2.31

nett
H
D
n
n .
11
=
dimana :
n = Kecepatan putar ( rotational speed ) [rpm]
11
n = Unit speed [rpm]
51 .
5 , 0
38
=
t
n
= 543 rpm
Setelah kecepatan putar turbin didapat, maka shaft torque (
t
T ) dan shaft force(
t
F ) dapat
diketahui, dimana :
60
t
n
f =


63






=
60
543

= 9,05 Hz
maka turbine radian speed (
t
e ) nya :
f
t
. 2t e =
= 2 x 3,14 x 9,05
= 56,83
4.4.5. Shaft Torque dan Shaft Force
Dari persamaan 2.35 dan 2.36 bahwa daya mekanik prime mover adalah :
syn pm pm
T P e =
Yang mana dalam perencanaan ini preme movernya adalah turbin, maka :
t t mt
T P = =
sehingga torsi atau shaft torque turbin didapat sebesar :
t
mt
t
P
T
e
=
=
81 , 56
331

= 5,83 kNm
Karena runner diameter turbin (
t
D ) 0,50 m, maka jari-jari ( r ) runner turbin adalah 0,25 m,
sehingga shaf force turbin :
r
T
F
t
t
=
=
25 , 0
83 , 5



64






= 23,32 kN
4.4.6. Daya terbangkit dalam operasi penuh
Daya generator (
e
P ) umumnya disebut output dari suatu pembangkit, persamaan 2.8
adalah persamaan untuk mencari daya output generator.
P = k .
t
q
g
q . H .Q
Dalam rancangan ini efisiensi generator (
g
q ) dirancang sebesar 93 %, dan efisiensi sistem
transmisi / belt efficiency (
b
q ) sebesar 98 %, sehingga :
Q H k P
g b t e
. . . . . q q q =
= 9,8 x 0,80 x 0,93 x 0,98 x 51 x 828
= 302 kW
Dari hasil analisa di atas maka dapat dibuatkan tabel daya terbangkit dalam operasi penuh /
under best operation point (guide vane fully opened) per unit.
Tabel 4.2. Generating Power under best operation point per unit
g
q
trans
q
n
H
t
B
t
D
11
q
t
Q
t
q
mt
P
e
P
m m m mm m l/s kW kW
0,93 0,98 51 290 0,50 0,80 828 0,80 331 302
11
q
t
n
t
e
t
T
t
F
rpm Rad/s kNm kN
38 543 56,83 5,83 23,32




4.4.7. Daya terbangkit dalam beberapa kondisi debit / flow


65






Seperti telah dibahas pada BAB II bahwa efisiensi turbin tidak tetap nilainya, tergantung
dari keadaan beban dan jenis turbinnya. Kinerja dari suatu turbin dapat dinyatakan dalam
beberapa keadaan, yaitu : tinggi terjun maksimum, tinggi terjun minimum, tinggi terjun normal,
tinggi terjun rancangan. Dalam aplikasinya tinggi terjun tidak berubah, tetapi debit ( flow/
discharge ) tentu dapat berubah. Pada tinggi terjun dan debit rancangan turbin akan memberikan
kecepatan terbaiknya sehingga efisiesinya mencapai maksimum.
Mengacu pada analisa di atas maka generating power dalam berbagai kondisi
t
Q ( under
part flow conditions per unit ) dapat dibuatkan tabel sebagi berikut :
Tabel 4.3. Generating power under part flow conditions per unit
g
q
b
q
n
H
t
B
t
D
11
q
t
Q
t
q
mt
P
e
P
m m m mm m l/s kW kW
0,93 0,98 51 290 0,50 0,75 777 0,77 299 273
0,93 0,98 51 290 0,50 0,70 725 0,75 272 248
0,93 0,98 51 290 0,50 0,67 694 0,74 257 234
0,93 0,98 51 290 0,50 0,65 673 0,72 242 221
0,93 0,98 51 290 0,50 0,62 642 0,77 225 205
11
n
t
n
t
e
t
T
t
F
rpm Rad/s kNm kN
38 543 56,83 5,26 21,05
38 543 56,83 4,78 19,14
38 543 56,83 4,52 18,08
38 543 56,83 4,27 17,06
38 543 56,83 3,96 15,82

t
B = runner inlet width
t
D = runner diameter
b
q = belt efficiency
g
q = generator efficiency
t
q = turbine efficiency
t
F = shaft force
n
H = net head


66






11
n = unit speed
t
n = turbine speed
t
e = turbine radian speed
mt
P = turbine mechanical/shaft power
e
P = electrical power/generator output
t
Q = flow/discharge
11
q = unit flow/discharge
t
T = shaft torque


Gambar 4.2 Runner inlet dan runner diameter turbin cros flow
4.5. Analisa sistem transmisi mekanik
Untuk pemilihan sistem transmisi mekanik, pertama-tama perlu diketahui kecepatan putar
generator / generator speed (
g
n ), dalam analisa operasi penuh diketahui bahwa daya generator
output sebesar 302 kW, maka pemilihan generator ditentukan pada rating daya 380 kVA , jika
faktor daya 0,8 maka daya generator yang dipasang sebesar 304 kW dengan frekuensi 50 Hz dan
jumlah kutub ( pole ) 6.
Dalam persamaan 2.33, bahwa :
120
.P n
f
m
e
=


67






dimana :
e
f = frekuensi elektrik [Hz]
m
n = kecepatan medan magnet = kecepatan putar rotor [rpm]
P = jumlah kutub
maka :
P
f
n
g
120 .
=
sehingga :
6
120 . 50
=
g
n
= 1000 rpm
4.5.1. Rasio kecepatan / Speed ratio
Dari data hasil perhitungan di atas, bahwa generator speed sebesar 1000 rpm, dan turbin
speed sebesar 543 rpm, maka rasio kecepatan / speed ratio (
nc
r ) dapat dicari :
t
g
nc
n
n
r =
=
543
1000
= 1,8
Rasio kecepatan diatas dipakai acuan untuk menentukan rancangan diameter pulley
turbin (
t
dp ) atau rasio diameter pulley (
pd
r ) dimana dalam perencanaan PLTMH ini generator
yang akan digunakan adalah generator merk Marelli type MJT 400 SB6 dengan diameter pulley (
g
dp ) 430 mm dan faktor operasional (
2
c ) 0,98, maka diameter pulley turbin dirancang sebesar :
t
dp =
g
dp x
pd
r x
2
c
= 430 x 1,8 x 0,98 = 758, 52~ 760 mm


68






4.5.2. Data teknis Flat Belt
Tabel 4.4 Spesifikasi Flat Belt
g
n
t
n
nc
r
pd
r
t
dp
g
dp
e | v
2
c
mt
P
u
F
rpm rpm mm mm mm o m/s kW N
1000 543 1,8 1,8 760 430 1500 167 23 0,98 331 14719

b
F
4
c
*
u
F
RW
v
N N/mm m/s
14424 1,85 50 41


type
c
bo
s
bo
p
b
b
I
5
c
c
WS
F
WD
F
e
x
min
e
max
e
mm mm mm mm % N N mm mm mm
54 288 290 320 4886 0,13 1,98 31007 28971 48 1490 1573

ac
1
ad
1
500
x
max
v
mm mm mm m/s
83 200 520 70

c
bo = belt widt, calculation
s
bo = belt width, standard
p
b = pulley width
| = arc of contact
2
c = operational factor
4
c = operating tension
5
c = centrifugal force factor
t
dp = pulley turbine diameter
g
dp = pulley generator diameter
E = shaft centre distance
c = elongation at fitting
min
e = shaft centre distance, minimum
max
e = shaft centre distance, maximum
u
F = effective pull to be transmitted
b
F = force determining the selection of belt
*
u
F = specific effective pull
WS
F = shaft load, static
WD
F = shaft load, dynamic
ac
1 = length of tensioning adjustment, calculation


69






ad
1 = length of tensioning adjustment, design
g
n = lengt of belt
t
n = terbine speed
nc
r = speed ratio, calculation
pd
r = pulley ratio, design
RW
v = belt runner away speed
max
v = belt max permissible speed
e
x = adequate elongation at fitting
500
x = elongation per 500 mm length











Gambar 4.3 Dimensi flat belt







4.5.3. Dimensi Flexible Coupling


Tabel 4.5. Spesifikasi Flexible Coupling

PLUMMER BLOCK
SPECIFICATIONS SKF or FAG
PLUMMER BLOCK
TURBIN
PLUMMER BLOCK
GENERATOR
Bearing housing SKF, SNL 522-619 SKF, SNL 518-615
Spherical roller bearing SKF, 22222 EK SKF, 22218 EK
Adapter sleeve SKF, H 322 SKF, H 318
Bearing housing seal SKF, Felt Seal TSNA 522 C SKF, Felt Seal TSNA 518 C
Locating ring 2 FRB 12,3/200, SKF 2 FRB 12,5/160, SKF






70


























Gambar 4.3. Dimensi Flexible Coupling


4.5.4. Karakteristik Coupling

Turbin characteristic
mt
P
SF
st
P
t
n
t
T
st
T
kW rpm kg.m kg.m
331 2,69 891,4 543 594,04 1598
Couplings characteristic
type size
max
T
max
n
max
D
MI w C
b
N
kg.m rpm mm
kg.
2
m
kg mm
FCL 630 1600 1000 160 11 271 280 14-F7
Generator characteristic
mt
P
SF
st
P
g
n
t
T
st
T
kW rpm kg.m kg.m
331 3,00 994,1 1000 322,42 967,25


Couplings characteristic
type size
max
T
max
n
max
D
MI w C
b
N
kg.m rpm mm
kg.
2
m
kg mm
FCL 560 1000 1150 140 6,8 207 2,50 14-F7



71






C = coupling hub diameter
max
D = max. bore diameter
MI = moment inertia
b
N = number of bolts / flexible rubber
t
n = turbine speed
g
n = generator speed
max
n = max. permissible speed
mt
P = generator mechanical/shaft power
st
P =
mt
P x SF
SF = safety/load factor
t
T = shaqft torque
st
T =
t
T x SF
max
T = max. permissible torque
w = coupling weight


4.6. Generator
Berdasarkan perhitungan dalam perencanaan PLTMH dengan potensi dilokasi curug malela
ini digunakan generator dengan :
Kapasitas ( Rating Power ) : 380 kVA - 304 kW
Type : Sinkron 6 kutub (brussless)
Kecepatan putar (speed) : 1000 rpm
Tegangan keluaran : 220/380 Volt
Cos ¢ : 0,8
Frekuensi output : 50 Hz


4.6.1 Rating Arus
Besaran daya yang dapat dihasilkan setelah memperhitungkan efisiensi turbin, efisiensi
transmisi mekanik dan efisiensi generator adalah sebagai mana analisa pada daya terbangkit


72






dalam operasi penuh yaitu 302 kW, dan daya generator yang dipasang adalah 304 kW, sehingga
arus generatornya dapat dinyatakan :
¢ cos 3 × ×
=
LL
V
S
I
=
8 , 0 380 3
304000
× ×

= 577,35 A




























You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->