1

Tinjauan Psikologis terhadap Perkembangan dan Pendidikan Anak di dalam Keluarga Islam Abstract: This paper tries to explain how the educational and psychological development of the children is reviewed in the Islamic family law. Initially, the writer deals with the classification of these subjects. Firstly, psychological development of children in the family. Secondly, the normative and juridical perspective of Islamic family law on children's development and education. Eventually, The focus of this paper is expected to be the starting point of the theoretical and practical level concerning how to understand and apply the effort related to the development and education of children. As the result, the discussion pointed several points on the psychological and educational development of the children, such as: the important phases that can be used as a reference by stakeholders including: oral, anal, falik, latent and genital phase. Related to the spirit of the Islamic family law, understanding on psychological development of the children is very helpful for every actor, such as teachers, parents, and staekholders, on monitoring and educating the children. Furthermore, every action taken by them concerning on children monitoring and education must be suitable with the characteristic of the children in order to maximize their potention. These results are also confirmed by some general rules found in some positive laws in Indonesia. A. Pendahuluan Berangkat dari pendapat yang mengatakan bahwa anak-anak hari ini adalah orang dewasa di masa yang akan datang. Mereka akan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang cukup besar sebagaimana layaknya dalam kehidupan orang-orang dewasa pada umumnya. Bagaimana keadaan orang dewasa di masa yang akan datang sangat tergantung kepada sikap dan penerimaan serta perlakuan orangtua terhadap anak-anaknya pada saat sekarang. Oleh karena itu, merupakan bahan kesadaran yang cukup baik pada sementara orang dewasa untuk memperhatikan apa yang mereka berikan kepada anak-anaknya. Sesuatu yang diberikan kepada anak tentu akan memberikan hasil yang cukup menggembirakan jika permasalahan hubungan dan cara serta perasaan tanggung jawabnya tidak diabaikan.1 Setiap orangtua yang bertanggung jawab juga memikirkan dan mengusahakan agar senantiasa terciptadan terpelihara suatu hubungan antara orangtua dengan anak yang baik, efektif dan menambah kebaikan dalam keharmonisan keluarga. Sebab akan menjadi bahan kesadaran kepada para orangtua bahwa hanya dengan hubungan yang baik kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan dengan efektif dan dapat menunjang terciptanya kehidupan keluarga yang harmonis. Kesadaran yang demikianlah kemudian menyebabkan semakin
Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama, Cet-IV, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 85-86.
1

misalnya mempelajari bagaimana proses berpikir pada anak-anak usia satu. Tinjauan Umum tentang Anak a. 42. hlm. Akhlak. 2 . 4 Desmita. sifat dasar anak yaitu menerima semua yang dilukiskan dan condong pada semua yang tertuju kepadanya. Pendapat tentang anak seperti ini ditegaskan pula oleh Imam Ghazali yang mengatakan anak adalah suatu amanat Tuhan kepada ibu bapaknya. secara umum anak merupakan regenerasi genetis dari hubungan ayah dan ibu yang masih berada dalam usia belum matang. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Mengacu pada pemaparan di atas maka norma-norma pada anggotaanggota keluarga. hlm. Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Anak Richard M. terlebih sejak anak-anak itu masih dalam kandungan. Cet-II. alih bahasa oleh Nur Hikmah.3 B. (Jakarta: Penerbit Jambatan. Tetapi jika dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan beguti saja. atau lima tahun. 1965). tentang Keajaiban Hati. 2006). Pembahasan 1. 3. hlm. (Jakarta:Yayasan Kesejahteraan Keluarga . Dari penjelasan di atas. dua. maka anak itu akan celaka. Ihya ‘Ulumuddin.2 Selanjutnya. Namun dalam perkembangan sosial dan pendidikannya anak juga merupakan makhluk sosial seperti halnya orang dewasa yakni membutuhkan orang lain untuk dapat Al-Ghazali. 1960). Maka orangtua di dalam keluarga mempunyai kewajiban kodrati untuk memperhatikan anak-anaknya serta mendidiknya sejak anak-anak itu kecil. dapat dipahami bahwa salah satu ukuran kualitas (nilai/kemajuan) anak itu ialah terletak pada yang bertanggung jawab (pendidik) atau walinya. Lerner (1976) seperti yang dikutip Desmita. baik ayah ibu maupun kakak-kakaknya dapat berpengaruh terhadap anak. Atas dasar keterangan inilah.4 Dalam beberapa diskursus psikologi perkembangan. psikologi perkembangan merupakan pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup. merumuskan. memiliki persamaan atau perbedaan atau bagaimana kepribadian seseorang berubah dan berkembang dari anakanak. Tentunya hal ini akan memberikan konsekuensi yang baik terhadap sikap kedua orangtua dan pendidik-pendidiknya dimana akan mendapat kebahagiaan pula dari usahanya itu.2 banyak orangtua dan orang dewasa lainnya berusaha menambah pengetahuannya tentang anak sehingga memudahkan mereka menciptakan dan memelihara hubungan baik dengan mereka. remaja sampai dewasa. 3 J Bachtiar Affandie. Psikologi Perkembangan. 247. sedang lingkungan keluarga merupakan wahana pendidikan yang mampu mengantarkan anak kepada pendidikan dasar baik formal maupun informal. maka dapat diformulasikan bahwa pendidikan agama berpangkal juga di dalam keluarga. cet-II. maka anak itu akan tumbuh atas kebaikan itu dan akan hidup berbahagia di dunia dan akhirat. Jika anak itu dibiasakan dan diajari berbuat baik.

Anak secara umum juga dapat diartikan dengan masa tumbuh. Anak Tiga Tahun Pertama. 6 Rahmat Suyud. maka keluarga wajib memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama. Perkembangan dan Pendidikan Anak dalam hukum keluarga Islam Anak dalam bahasa Arab disebut “walad” yang berati keturunan kedua atau manusia kecil. Anak adalah seseorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi-potensi untuk menjadi dewasa. kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan. 6 Dalam aplikasinya. (Bandung:PT. Hal tersebut penting mengingat pengaruh keluarga dan lingkungan sangat Dariyo. Selanjutnya. 27. Agoes. Pada sisi lain. Sedangkan jalan yang bisa dijadikan penerang adalah dengan ilmu. anak juga tidak sama dengan orang dewasa. Pokok-pokok Ilmu Jiwa Perkembangan. sebagaimana cita-cita kehidupan muslim pada umumnya. Selain itu. 12. hlm. Anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa. sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa—dengan segala keterbatasannya—anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan. mampu menciptakan keseimbangan antara hak dan kewajiban orangtua terhadap anak maupun membina hubungan baik dengan masyarakat dan lingkungannya. 2007). 5 . b. (Yogyakarta:Fakultas Tarbiyah IAIN SUKA. perasaan. Peran strategis yang dimiliki keluarga terhadap anak secara tidak langsung membutuhkan aturan dengan tujuan untuk menciptakan kebahagiaan dan keberlangsungan hidup anak.1978). anak sebagai bagian dari keluarga. Keluarga merupakan ruang yang sangat strategis dalam mengarahkan pada kehidupan anak secara Islami guna mencapai tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat. orangtua menduduki peranan sangat penting baik dalam kehidupan keluarga secara umum dalam pembinaan anakanaknya secara khusus. hlm. Psikologi Perkembangan Anak. Refika Aditama.5 Karena anak lahir dengan segala kelemahan maka tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Maka anak-anak harus diberi kesempatan untuk menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya baik ilmu pengetahuan umum maupun agama. anak sebagai orang yang mempunyai pikiran. Dapat dipahami bahwa anak dalam perspektif psikologis memberikan gambaran umum betapa penting peranan faktor external mempengaruhi perkembangan dan pendidikan anak. Anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.3 membantu mengembangkan kemampuannya.

2. teori merupakan lawan dari fakta. maka sudah dapat dimengerti betul tentang gejala tersebut. 37 Undang-undang RI No 2 tahun 1989. Menurut pengertian yang paling umum. fenomena itu dapat dikendalikan. dengan pemahaman dan kemampuan prediksi tersebut.4 menentukan perkembangan individu dalam setiap fasenya terlebih masalah kepribadian.8 Perlu dipahami. Pendidikan dengan memperhatikan perkembangan pribadi anak ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional kita yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur. (Semarang: Aneka Ilmu. memiliki pengetahuan dan ketrampilan.7 Dengan demikian usaha memahami psikologi perkembangan anak sangat membantu bagi pelaku pendidikan yakni orangtua maupun guru untuk mengawal dan mendidik anak sampai pada fase-fase perkembangan yang selanjutnya sesuai dengan potensi-potensi yang harus dicapainya. Perkembangan dan Pendidikan Anak a. secara garis besar proses perkembangan dan pendidikan anak merupakan tanggungjawab yang bertujuan menyiapkan kualitas anak. (Jakarta: PT. 8 hlm. kesehatan jasmani serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Hal ini berarti anak berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh secara fisik dan berkembang secara psikologis dan ini semua akan tercapai apabila lingkungan berada pada situasi yang kondusif. Untuk itu agar suatu gejala dalam psikologi perkembangan dapat dimengerti. termasuk psikologi perkembangan. 9 . 2001). pengajaran dan latihan. disiplin psikologi perkembangan bertujuan untuk memahami suatu gejala atau fenomena. Raja Grafindo Persada. Tinjauan Psikologis terhadap perkembangan dan pendidikan Anak Seperti halnya dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya. mendefinisikan teori sebagai suatu prinsip umum yang dirumuskan untuk menjelaskan sekelompok gejala yang berkaitan. erat kaitannya dengan pendidikan formal adalah 7 Netty Hartati dkk. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya. hlm. Pada dasarnya hak dasar anak adalah hak untuk tumbuh dan berkembang. maka diperlukan teori. Inilah sebenarnya yang menjadi tujuan ilmu. di antaranya dapat dilakukan melalui kegiatan bimbingan. 2006). sampai pada batas-batas tertentu. Islam dan Psikologi. 19. sehingga memungkinkan perkembangan jiwa mereka dapat terlaksana dengan optimal.9 Selanjutnya. hlm. 1989). Selanjutnya. Psikologi Perkembangan. Akan tetapi tentu saja tidak selalu berarti bahwa dengan mengontrol suatu gejala. 4. Desmita. Dengan memahami suatu fenomena. dapat diprediksi tentang kapan akan terjadinya fenomena tersebut dan bagaimana dia akan terjadi. Chaplin. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. cet-II.

2001). Pada fase ini anak mulai belajar untuk mengendalikan buang air besar atau kecil. yaitu penis ada anak lelaki dan klitoris pada anak perempuan. Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu dan tidak mendapatkan kepuasan dalam makan dan minum akan menghambat perkembangan kepribadiannya dikemudian hari. dimana ditemukan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa anak-anak yang sangat mempengaruhi kehidupan pasien di masa-masa selanjutnya. sebagai salah satu aspek kepribadian seseorang. Teori yang dikembangkan oleh Freud berfokus pada masalah alam bawah sadar. Psikologi Konseling. terdapat beberapa tinjauan tentang beberapa fase penting yang mampu dijadikan acuan pemegang peran bagi keberlangsungan kehidupan anak. Freud merupakan pelopor teori psikodinamik. 63-65. Pusat kenikmatan berpusat pada alat kelamin. Pada fase anal anak harus mulai belajar mengelola segenap pengalaman yang tidak menyenangkan. hlm.Pada fase ini anak berkembang berdasarkan kenikmatan erotik pada daerah mulut. (Malang:Universitas Muhammadiyah Malang Press. Selain itu. Adapun secara singkat tahapan perkembangan ini sebagai berikut:10 1) Fase Oral Terjadi sejak lahir hingga akhir tahun pertama. Dengan demikian peranan faktor external baik orangtua dan lingkungan dalam membangun perkembangan dan pendidikan anak secara psikologis dapat diwujudkan dengan membangun motivasi yang baik untuk ditanamkan kepada anak. 2) Fase Anal Fase ini terjadi mulai usia dua sampai akhir tahun ketiga. Pada fase ini anak mulai belajar Latipun. Kepuasan anak melalui tindakan mengisap akan mempengaruhi kehidupan di masa dewasanya. bahwa tahap perkembangan bagi anak bersifat sangat penting terutama bagi pembentukkan kepribadian anak di kemudian hari. 10 . Seperti pendapat Sigmund Freud (1856-1939) yang dikutip Latipun dalam bukunya. Perkembangan anak pada ini berpusat pada kenikmatan pada daerah anus. kemampuan dan pengetahuan pemegang peran tesebut. 3) Fase Falik Berkembang mulai usia empat hingga lima tahun. Dalam usaha optimalisasi perkembangan dan pendidikan anak. Penekanan Freud pada alam bawah sadar berasal dari hasil pelacakannya terhadap pengalamanpengalaman pribadi para pasiennya. karena motivasi merupakan daya pendorong yang menggerakkan seseorang untuk bertindak dalam pencapaian suatu tujuan. Tentunya dalam tataran praktis hal ini bersifat variatif tergantung kepada tingkat kreatifitas. motivasi juga sangat penting bagi anak dalam menempuh pendidikannya termasuk di dalam tempat belajarnya.5 membangun motivasi anak.

Dalam arti lain. pengalaman dan pendidikan di masa anak-anak akan menjadi kebiasaan dan menjadi karakter seseorang. Periode ini terjadi antara lima atau enam tahun hingga pubertas. dimana masa ini anak mulai fokus menjalankan tugas-tugas belajar—sekalipun instink seksual direpresi sepanjang masa-masa sebelumnya masih ada—dan akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. b. dan electra complex yaitu perasaan mencintai ayahnya bagi anak perempuan. Pada fase ini terjadi oedipus complex yaitu perasaan mencintai ibunya bagi anak laki-laki. Pada tahap ini terjadi perhentian perkembangan. bersosialisali dan beraktivitas kelompok. maka watak tersebut akan kembali walaupun dalam bentuk berbeda. Tidak terjadinya integrasi pada fase ini seringkali dihubungkan dengan kesalahankesalahan pada fase-fase sebelumnya. Sepanjang tahap ini terjadi perhentian perkembangan secara psikologis. Rahman dalam bukunya—sebagaimana dikutip oleh Yasin Musthofa. Mereka mulai mengidentifikasi model-model yang memadai bagi identifikasi terhadap figur sejenis pada fase ini sangat penting. perkawinan dan membangun keluarga. Sepanjang fase ini mereka lebih memfokuskan pada hubungan dengan orang lain. setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan putih bersih bagaikan kertas kosong. menjalin hubungan kerja. 5) Fase Genital Terjadi pada masa pubertas yang ditandai oleh perilaku yang tidak narsistik. Mereka mulai tertarik lawan jenis. berpendapat. 4) Fase Laten Fase ini juga disebut sebagai tahap pregenital. namun apabila ada stimulus yang merangsang pengalaman hidup yang pernah dialami tersebut. Tinjauan Normatif-Yuridis Hukum Keluarga Islam terkait perkembangan dan pendidikan anak Terkait dengan pendidikan anak sejak dini. kegagalan dalam menemukan standar moral yang tepat. Demikianlah beberapa tinjauan umum secara psikologis bagaimana perkembangan dan pendidikan anak. pengalaman dan pendidikan di masa anak-anak akan menjadi pondasi . Harus disadari. tentunya pendidikan yang dimaksud di sini pendidikan pemegang peran dan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anak. Abd. Kegagalan pada fase ini dapat berakibat kebingungan akan peran seks secara wajar. untuk selanjutnya perkembangann dan pertumbuhan anak sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya dan salah satunya pendidikan berperan penting dan sangat menentukan arah perkembangan anak.6 menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagi hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat.

(Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA. Anak Saleh Dambaan Keluarga. 247. 2004). Hukum Perkawinan I. 214. (Jakarta: Bulan Bintang. Sedangkan dalam teknisnya diwujudkan dengan cara menyelamatkan fitrah Islamiyah anak serta mengembangkan segala potensi yang ada pada anak. cet. H{ad{a>nah{ adalah mendidik. hlm. hlm. 3. dalam tuntunan agama Islam selain kewajiban memelihara anak dengan baik. cet. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). hakikat mendidik anak merupakan usaha nyata dari orangtua dalam rangka mensyukuri karunia Allah swt dan mengemban amanatNya. 2007). hlm. 2008). 12-15 13 Khoiruddin Nasution. anak merupakan buah hati yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus dan kebanggaan (qurrata a’yu>n) orangtua yang bermanfaat bagi keduanya dan masyarakat. 1993). hlm. 16 Ahmad Rafiq. cet. (Yogyakarta: Syari’ah Press. EQ untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam.13 Selanjutnya. Abdul Halim juga memberikan contoh teknis pengasuhan anak yang salah satunya dengan cara memberikan pendidikan yang baik.17 Mempertegas hal di atas. edisi revisi. 2007). Menurutnya. hlm.16 Pendapat Imam Al-Ghazali dalam risalahnya yang berjudul ayyuhal walad mengatakan makna tarbiyah (pendidikan) serupa dengan pekerjaan seorang petani yang membuang duri dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan asing atau rumput-rumputan yang menganggu tanaman agar dapat tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal. hlm. Nipan Abdul Halim. 2 (Yogyakarta: Liberty. mampu menjadi generasi penerus yang baik. sehingga anak tetap menjadi sumber kebahagiaan. (Jakarta : Amzah. Hukum Islam di Indonesia. 37 14 M. 13. 3. (Yogyakarta: Sketsa.18 Perintah untuk melakukan pengasuhan anak secara baik juga sesuai 1 dengan ayat Al-Qur’an : 11 Yasin Musthofa. Menyiapkan masa depan anak secara Islami. 18 Soemiyati. 1986). 1998). 12 Kamal Muchtar. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. (Dilengkapi Perbandingan UU Negara Muslim Kontemporer). fikih yang merupakan himpunan norma atau peraturan yang mengatur tingkah laku kongkret baik berasal langsung dari Al-Qur’an. 15 Syamsul Anwar. Sunnah Nabi SAW maupun hasil ijtihad para ahli hukum Islam15 menyebut masalah pengasuhan anak dengan istilah h{ad{a>nah{. Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan (UU No. hlm. meghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak serta memberi perlindungan kepada seseorang yang belum bisa mandiri. 46. 14.11 Anak dalam Islam merupakan sambungan hidup dan penyambung cita-cita dalam membangun umat12 yang mempunyai nilai ibadah dalam memeliharanya. mampu menjadi pelestari pahala setelah orangtua meninggal dan mampu menjadi orang yang mandiri. (Jakarta: Rajawali Press. . (Yogyakarta Mitra Pustaka: 2001). I. Antologi Pemikiran Hukum Islam di Indonesia: Antara Idealitas dan Realitas.14 Berkaitan dengan pengasuhan anak. memelihara..7 dasar bagi anak dan akan dapat berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya. 17 Dikutip oleh Samsul Munir Amin. hlm.

Selanjutnya tujuan pembentukan keluarga (baca: perkawinan) dapat dipahami bahwa keluarga bukan hanya tempat pemenuhan kebutuhan biologis semata. Ulwan sebagaimana yang dikutip oleh Irpan Saefurrahman menegaskan. hlm. Nalar ini juga sesuai dengan Maqa>sid as-Syari’ah20 memposisikan agama sebagai unsur primer yang harus dijaga dalam menciptakan kemaslahatan (h}ifz} a>d di>n). cet. 23 Al-Ma>idah (5): 16. 20 19 . Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam. 12-15 22 Irpan Saefuprrahman. 1993). lebih dari itu keluarga mempunyai peran dan fungsi penting dalam melakukan regenerasi sekaligus penyambung cita-cita umat21 yang musti diwujudkan dengan sikap keluarga dalam melakukan pengasuhan anak dengan baik. IAIN Sunan Kalijaga. Berbicara tentang urgensi pendidikan dalam Islam. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 24 Pasal 45 ayat (1) dan (2) Undang-undang No. kebodohan. melahirkan generasi membina umat dan budaya serta memberlakukan prinsip-prinsip kemuliaan dan peradaban. (IAIN Sunan Kalijaga: BEM-J PMH. 21 Kamal Muchtar.سبل السلم وخيرجهم من الظلمت اىل النور باذنه‬ 23 ‫ويهد يهم اىل صرط مستقيم‬ Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan— selanjutnya disebut UUP—juga memberikan beberapa aturan umum tentang pengasuhan anak sebagai berikut: (1) Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya (2) Kewajiban orangtua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. kewajiban mana berlaku terus meskipun antara kedua orangtuanya putus.” Skripsi tidak diterbitkan. hlm. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. 2001. bahwa pendidikan bukan sekedar upaya memanusiakan manusia tetapi dengan jelas dan rinci ia menyebutnya sebagai upaya membina mental. pesan Al-Qur’an di atas menujukkan kepada manusia untuk menjaga keturunan (baca: anak) dari hal yang dapat mengancam masa depannya. 2003).‫يهدى به اهلل من اتبع رضونه. “Pendidikan Anak dalam Perspektif Abdullah Nashi>h Ulwa>h (Telaah atas Kita>b Tarbiyatul‘aulad Fi al-Isla>m).8 19 ‫يأ يهاالذ ين امنو قوا أنفسكم وأهلكم نارا‬ Secara umum. pembentukan keluarga berdasarkan nilai-nilai ajaran agama menjadi kewajiban bagi semua manusia. Tujuannya yaitu untuk merubah manusia dari kegelapan syirik. Agus Moh Nadjib. ilmu. kesesatan dan kekacauan menuju cahaya tauhid.24 Dari pasal (1) dan (2) di atas menentukan bahwa memelihara. (Jakarta: Bulan Bintang. hidayah dan kemantapan sebagaimana Firman-Nya:22 . Maqa>si}d asy-Syari’ah. 28. mendidik anak-anak sejak dini hingga dewasa dengan cara-cara yang baik At-Tahri>m (66): 6. 3. Dalam hal ini..

spiritual. Pasal 41 huruf (a) dan (b) Undang-undang No. Pasal 9: (1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.25 Pesan untuk memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak dapat dijumpai pula dalam hukum positif yang terdapat pada Pasal 8 dan pasal 9 ayat (1) dan (2) Undang-undang Republik Indonesia No. Bab XIV pasal 98 ayat (1). sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.9 merupakan kewajiban orangtua. 26 25 . bilamana dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut. Hak anak juga diatur jika terjadi perceraian—dalam pasal 41 huruf (a) dan (b) UUP —sebagai berikut: (1) Bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya. khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Psikologi perkembangan dan pendidikan anak dalam keluarga merupakan salah satu elemen penting dalam rangka mewujudkan cita-cita regenerasi yang diharapkan sesuai tuntunan syari’at Islam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. dan sosial. sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. 1 tahun 194 tentang perkawinan Lihat Pasal 8 ayat 1 Undang-undang no 23 tahun2002 tentang Perlindungan Anak: “Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik. mental. pengadilan memberi keputusannya. (2) Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak. 27 Lihat Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang pemeliharaan anak. (2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). semata-mata berdasarkan kepentingan anak. pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.26 Sementara Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 98 menyebitkan bahwa Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun.27 Bertolak pada penjelasan-penjelasan di atas tentang bagaimana secara umum korelasi atau relasinya hukum Islam dan hukum Positif terhadap tinjauan psikologi perkembangan dan pendidikan anak dalam keluarga Islam ternyata tidak dijumpai kontradiksi.

Harapan besar selanjutnya. 2005). . Emosional Quetiont (Kecerdasan Emosi) dan Intelektual Quetiont (kecerdasan intelektual) dapat dapat tercapai dengan baik. Kondisi di mana tidak terintegrasinya antara otak dan hati. Solusinya adalah dengan cara mengintergasikan antara SQ. Hal ini diperlukan agar tujuan mempunyai generasi penerus yang berkaualitas dapat terwujud. EQ dan IQ secara padu dan bukan parsial ataupun secara dikotomis. semoga para pemerhati dengan topik kajian yang sama mampu memberikan penjelasan-penjelasan yang lebih rinci dan lebih sistematis sehingga hikmah yang diharapkan dari kajian ini tercapai.10 C. Penutup Secara general. Merupakan sebuah sikap yang sangat bijak ketika Pendidikan etika/moral yang berasal dari nilai-nilai agama (Wahyu) yang dipegang teguh di satu sisi dapat disempurnakan lagi melalui berbagai teori character building yang berkembang di sisi lain sehingga harapan terhadap optimalisasi dan maksimalisasi tiga komponen besar dalam fitrahwi manusia dari Tuhan—meminjam istilah Ginanjar—yakni Spiritual Quetiont (kecerdasan spiritual). Sebuah realitas yang membahayakan ketika generasi sekarang dianggap sedang mengalami permasalahan kronis. relasi antara kajian anak pada umumnya dan hukum keluarga Islam pada khususnya mempunyai semangat yang sama yakni perhatiannya yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan tumbuh kembang anak termasuk masalah pembangunan karakter/kepribadian anak. yaitu terjadinya “split personality” (Syafii Maarif. Tidak bisa dipungkiri psikologi anak merupakan salah satu hal yang esensial untuk diperhatikan. Hal ini dapat dilakukan dalam muatan pendidikan secara praktik ataupun teoretis oleh keluarga dalam mengawal perkembangan anak dari dini hingga matang. tentunya isi dari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Demikianlah ulasan singkat terkait bagaimana tinjauan psikologi terhadap perkembangan dan pendidikan anak dalam keluarga Islam. Akhir kata.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Psikologi Perkembangan Anak. Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA. Akhlak. Latipun. Jakarta: Amzah. Yogyakarta Mitra Pustaka: 2001. EQ untuk anak usia dini dalam pendidikan Islam. Agoes. Yogyakarta: Sketsa. Islam dan Psikologi. Basri. Samsul.11 Daftar Pustaka Abdul Halim. IAIN Sunan Kalijaga: BEM-J PMH. Maqa>si}d asy-Syari’ah. Jakarta: Rajawali Press. (Dilengkapi Perbandingan UU Negara Muslim Kontemporer). edisi revisi. J Bachtiar. Anak Tiga Tahun Pertama. 2006. Bandung:PT. Refika Aditama. Rafiq. Psikologi Perkembangan. 1999. Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang pemeliharaan anak. Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama. 3. Munir. Muchtar. Hukum Islam di Indonesia. Nasution. I. Jakarta: Penerbit Jambatan. Hasan. alih bahasa oleh Nur Hikmah. cet. Agus. Khoiruddin. Jakarta: PT. Cet-IV. Anak Saleh Dambaan Keluarga. Moh. Malang:Universitas Muhammadiyah Malang Press. . 2008. Dariyo. Hartati. Cet-II. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. tentang Keajaiban Hati. Raja Grafindo Persada. Jakarta:Yayasan Kesejahteraan Keluarga . Netty dkk. 1965. Desmita. Hukum Perkawinan I. Amin. 2007. 2007. Musthofa. Affandie. 2001. Syamsul. 1960. Ghazali. 2001. Ihya ‘Ulumuddin. 1993. Menyiapkan masa depan anak secara Islami. Yasin. M. Ahmad. 1998. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Antologi Pemikiran Hukum Islam di Indonesia: Antara Idealitas dan Realitas. Kamal. 2004. Anwar. Al. Nipan. Jakarta: Bulan Bintang. cet. 2007. 2003. cet-II. Yogyakarta: Syari’ah Press. Psikologi Konseling. Nadjib.

Hukum Perkawinan Islam dan UU Perkawinan (UU No. Suyud. 1989. “Pendidikan Anak dalam Perspektif Abdullah Nashi>h Ulwa>h (Telaah atas Kita>b Tarbiyatul‘aulad Fi al-Isla>m).1978. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Undang-undang No. Semarang: Aneka Ilmu. 1986. Soemiyati. 2001. Yogyakarta:Fakultas Tarbiyah IAIN SUKA. Pokok-pokok Ilmu Jiwa Perkembangan. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam.” Skripsi tidak diterbitkan. Irpan. tentang Sistem Pendidikan Nasional. . 2.12 Saefurrahman. Rahmat. Undang-undang RI No 2 tahun 1989. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta: Liberty. Undang-undang No. cet.

dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya. . 19 23 Terjemahan Hai orang-orang yang beriman. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaann-Nya ke jalan keselamatan.13 Lampiran I Daftar Terjemahan No 1 2 Hlm 8 8 Fn. dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful