P. 1
Konstitutif

Konstitutif

|Views: 71|Likes:
Published by uciangga
wacana suatu negara akan berdiri
wacana suatu negara akan berdiri

More info:

Published by: uciangga on Jan 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

Hubungan dasar Negara dengan Konstitusi

Suatu Negara yang akan berdiri dan berdaulat harus terlebih dahulu mampu memenuhi persyaratan konstitutif dan deklaratif. Persyaratan konstitutif yang ada dan harus dipenuhi, yaitu a) memiliki wilayah atau daerah dengan batas-batas tertentu, b) adanya rakyat yang bersatu, dan c) pemerintah yang berdaulat. Salah satu persyaratan mendasar adalah dibuatnya konstitusi Negara yang akan dijadikan sebagai pedoman atau “aturan main” dalam penyelenggaraan kehidupan Negara, yakni dasar Negara. Perwujudtan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara dalam bentuk peraturan perundangundangan bersifat imperative (mengikat) bagi : a. b. c. d. e. Penyelenggaraan Negara, Lembaga kenegaraan, Lembaga kemasyarakatan, Waga Negara Indonesia dimana pun berada, Penduduk diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

B. Hubungan Dasar Negara dengan Konstitusi 1. Pengertian Dasar Negara Dasar Negara adalah pedoman dalam mengatur kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan yang mencakup berbagai bidang kehidupan. Perbedaan dasar Negara yang diterapkan didalam suatu Negara sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya, patriotism, dan nasionalisme yang telah terkristalisasi dalam perjuangan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan Negara yang hendak dicapainya. 2. Pengertian Konstitusi Para ahli memiliki pandangan yang bervariasi mengenai “konstitusi” dan ”UndangUndang Dasar”. Ada yang berpendapat sama, tetapi ada juga yang berpendapat berbeda. Kata konstitusi secara etimologis berasal dari bahasa Latin (constitution), constitution (Inggris), constituer (Perancis), constitutie (Belanda), dan constitution (Jerman). Dalam pengertian ketatanegaraan, istilah kostitusi mengandung arti undang-undang dasar, hukum dasar atau susunan badan. Dalam perkembangan politik dan ketatanegaraan, istilah konstitusi mempunyai 2 (dua) pengertian sebagai berikut :  Dalam pengertian luas, “konstitusi” berarti keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar atau hukum dasar (droit constitunelle). Konstitusi seperti halnya hukum, ada yang dalam bentuk dokumen tertulis, ada juga yang tidak tertulis. Kosntitusi dapat berupa dokumen tertulis, atau juga berupa campuran dari dua unsure tersebut. Pelopornya adalah Bolingbroke. Dalam pengertian sempit (terbatas) “konstitusi” berarti piagam dasar atau undangundang dasar (loi constitunelle), yaitu suatu dokumen lengkap mengenai peraturanperaturan dasar Negara; contoh, UUD 1945. Jadi, konstitusi dalam arti sempit, merupakan sebagian dari hukum dasar sebagai satu dokumen tertulis yang lengkap.

3. Substansi Konstitusi Negara Konstitusi dapat dibedakan antara konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis. Suatu konstitusi disebut tertulis bila merupakan satu naskah (documentary constitution), sedangkan konstitusi tak tertulis tidak merupakan satu naskah (non-documentary constitution) dan banyak dipengaruhi oleh tradisi dan konvensi. Konstitusi atau hukum dasar, dapat pula dibedakan antara Hukum Dasar Tertulis (written constitution), yaitu Undang-Undang Dasar dan Hukum Dasar Tidak Tertulis (unwritten constitution), yaitu konvensi. a) Sifat dan fungsi Konstitusi Negara Sifat pokok konstitusi Negara adalah fleksibel (luwes) dan rigid (kaku). Fungsi pokok konstitusi atau Undang-Undang Dasar adalah untuk membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan memperhatikan sifat dan fungsi konstitusi atau Undang-Undang Dasar, maka setiap Undang-Undang Dasar memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. Organisasi Negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan legislative, eksekutif, dan yudikatif. b. Hak-hak asasi manusia (biasa disebut Bill of Rights) kalau berbentuk naskah tersendiri. c. Prosedur mengubah Undang-Undang Dasar. d. Ada kalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari Undang-Undang Dasar. b) Kedudukan Konstitusi (undang-undang dasar) Meskipun Undang-Undang Dasar bukan merupakan salah satu syarat untuk berdirinya suatu Negara beserta dengan penyelenggaraannya yang baik, tetapi dalam perkembangan zaman modern dewasa ini, Undang-Undang Dasar mutlak adanya. Sebab dengan adanya Undang-Undang Dasar baik penguasa Negara maupun masyarakatnya dapat mengetahui aturan atau ketentuan pokok atau dasar-dasar mengenai ketatanegaraannya. Dengan demikian kedudukan Undang-Undang Dasar disuatu Negara sangat penting artinya dalam rangka untuk mengatur penyelenggaraan ketatanegaraan sebaik-baiknya. c) Cara pembetukan dan mengubah konstitusi (undang-undang dasar) 1. Cara pembentukan dengan cara  Pemberian  Sengaja dibentuk  Cara revolusi  Cara evolusi 2. Cara mengubah dengan cara  Oleh Badan Legislatif/perundangan biasa  Referendum  Oleh badan khusus  Khusus di negara federasi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->