P. 1
KECERDASAN EMOSIONAL

KECERDASAN EMOSIONAL

|Views: 83|Likes:
Published by fiqryharum

More info:

Published by: fiqryharum on Jan 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2013

pdf

text

original

1

1.

Pendahuluan Kecerdasan merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada hamba-

Nya. Kecerdasan terdiri dari berbagai macam seperti kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional. Dalam makalah ini akan dibahas tentang kecerdasan emosional yang mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan. 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi banyak tulisan dan kajian yang mengkritisi tentang pentingnya peran kecerdasan emosional dalam kehidupan dan kesuksesan seseorang. Anggapan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) sebagai satu-satunya yang menentukan kecerdasan seseorang semakin berkurang karena kecerdasankecerdasan yang lain juga sangat berpengaruh untuk menentukan kesuksesan seseorang di masa yang akan datang, salah satu kecerdasan yang dimaksud yaitu kecerdasan emosional. Dengan mengkaji kecerdasan emosional secara mendalam, diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik sebagai bagian penting dari proses pembelajaran, untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan. Dalam proses pembelajaran kecerdasan emosional ini sangat diperlukan peran dari seorang guru. Guru dapat mengembangkan dimensi-dimensi emosional siswa agar mereka semakin mampu menghadapi berbagai persoalan, bersemangat, ulet, tekun, bertanggung jawab, mampu menjalin komunikasi secara sehat dengan individu atau kelompok lain. Perhatian pendidikan terhadap persoalan pengembangan kecerdasan emosional memang dirasa masih kurang, sehingga pendidikan perlu berbenah

2

guna meningkatkanya. Demikian halnya dengan mainstream masyarakat perlu diubah bahwa cerdas tak cukup hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara emosinal. Pendidikan kecerdasan emosional hendaknya dilakukan pada semua jalur pendidikan baik pendidikan formal, non formal, dan informal. Dalam pembelajarannya diberbagai jalur pendidikan harus dengan strategi dan implementasi yang sesuai.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latarbelakang diatas, kami membuat rumusan masalah yaitu: 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 Apa pengertian kecerdasan emosional? Apa komponen-komponen kecerdasan emosional? Apa manfaat kecerdasan emosional? Bagaimana faktor -faktor kecerdasan emosional? Bagaimana cara menerapkan kecerdasan emosional kepada anak?

1.3

Tujuan Penulisan Makalah Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan makalah yaitu:

1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5

Mendiskripsikan pengertian kecerdasan emosional. Mendiskripsikan ciri-ciri kecerdasan emosional. Mendiskripsikan kegunaan kecerdasan emosional. Mendiskripsikan faktor -faktor kecerdasan emosional. Mendiskripsikan cara menerapkan kecerdasan emosional kepada anak.

3

2.

Pembahasan

2.1 Pengertian Kecerdasan Emosional Menurut Oxford English Dictionary, emosi adalah sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat. Gardner (dalam Jansen, 2008:31) menjelaskan kecerdasan adalah pengetahuan atau kemampuan untuk mengemas satu produk atau menggunakan suatu keterampilan dalam cara yang dihargai oleh budaya dimana Anda hidup. Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain. Goleman (dalam Jansen, 2008:31) menyatakan bahwa IQ tradisional (kecerdasan matematis-logis atau kecerdasan linguistik-verbal) memberi konstribusi hanya sekitar 20 persen dalam keberhasilan hidup, sementara kecerdasan emosional (emotional intelligence-EI) memberikan konstribusi 80 persen. Beberapa bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan, yaitu “empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat” (Shapiro, 1995:5).

4

2.2. Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional Goleman (2002:513-514) membagi kecerdasan emosional kedalam 5 (lima) komponen yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. 2.2.1 Kesadaran Diri Kesadaran diri (self awareness) merupakan kemampuan mengenali perasaan sehingga dimungkinkan mampu melakukan pengambilan keputusan masalah secara cepat. Terdapat tiga unsur kesadaran diri, yaitu: (1) kesadaran emosi (emotional awarences) meliputi mengenali emosi sendiri dan efeknya, (2) penilaian diri secara teliti (accurate self awarences) yaitu kemampuan mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri, dan (3) percaya diri (self-confidence) adalah keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri. 2.2.2 Pengaturan Diri Pengaturan diri (self-regulation) merupakan kemampuan mengelola danmenangani emosi sedemikian sehingga dapat teraktualisasi dengan tepat sesuai kondisi dilingkunga sekitarnya. Self regulation ini memiliki unsur-unsur: (1) kendali diri (self-control) yaitu kemampuan mengelola emosi-emosi dan desakandesakan hati yang merusak, (2) sifat dapat dipercaya (trustworthiness) yaitu kemampuan memelihara norma kejujuran dan inttegritas, (3) kehati-kehatian (conscientiousness) merupakan kemampuan untuk bertanggung jawab atas kinerja pribadi, (4) adaptabilitas (adaptality) yaitu kemampuan keluwesan dalam menghadapi perubahan, dan (5) inovasi (innovation) yaitu kemampuan untuk

5

mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasiinformasi baru. 2.2.3 Motivasi Motivasi (motivation) merupakan kemampuan menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta bertahan untuk menghadapi kegagalan dan frustasi. Motivasi memiliki unsur-unsur: (1) dorongan prestasi (achievement drive) merupakan suatu dorongan untuk menjadi yang lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan, (2) komitmen (commitment) yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga, (3) inisiatif (iniative) adalah kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan, dan (4) optimisme (optimism) adalah kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan. 2.2.4 Empati Empati (empathy) merupakan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, mampu memahami pespektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang. Unsur-unsur empati, yaitu : (1) memahami orang lain (understanding others) merupakan kemampuan mengindra perasaan dan prespektif orang lain dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka, (2) mengembangkan orang lain (developing others) merupakan kemampuan untuk merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka, (3) orientasi pelayanan (service orientation) adalah kemampuan untuk

6

mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan , (4) memanfaatkan keragaman (leveraging diversity) adalah kemampuan dalam menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam-macam orang, dan (5) kesadaran politis (political awareness) merupakan kemampuan untuk membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan perasaan. 2.2.5 Keterampilan Sosial Keterampilan sosial (social skill) merupakan kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja dalam tim. Unsur-unsur keterampilan sosial, yaitu: (1) pengaruh (influence) merupakan untuk memilih taktik untuk melakukan persuasi, (2) komunikasi (communication) merupakan kemampuan untuk mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan, (3) manajemen konflik (conclict management) kemampuan untuk negoisasi dan pemecahan silang pendapat, (4) kepemimpinan (leadership) yaitu kemampuan untuk membangkitkan inspirasi dan memadu kelompok dan orang lain, (5) katalisator perubahan (change catalyst) yaitu kemampuan untuk memulai dan mengelola perusahaan, (6) membangun hubungan (building bonds) yaitu kemampuan untuk menumbuhkan hubungan yang bermanfaat, (7) kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation) merupakan kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama,dan (8) kemampuan tim (team capabilities) adalah

7

kemampuan untuk menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama. Seluruh komponen di atas merupakan indikator dari kecerdasan emosional seseorang, sehingga dapat dikatakan indikator tersebut merupakan kemampuan yang berkaitan dengan sikap.

2.3. Manfaat Kecerdasan Emosional Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui emosi yang terkendali maka bentrokan antara satu dengan yang lain sangat jarang sekali terjadi. Jika seseorang itu dapat mengenal, mengendalikan emosinya dan dapat menyalurkan emosi itu kearah yang benar dan bermanfaat, maka akan cerdas dalam emosinya. Dengan menggunakan aspek-aspek kecerdasan emosionalnya dengan baik, otomatis akan timbul sikap individu yang diharapkan tersebut.

Perkembangan kecerdasan emosional ini berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian dan kematangan kepribadian. Dengan kepribadian yang matang dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan atau pekerjaan, dan betapapun beban dan tanggung jawabnya besar tidak menjadikan fisik menjadi terganggu. Goleman (2002:48) menyimpulkan sebagai berikut. Orang yang cakap secara emosional adalah mereka yang dapat mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, mereka ini memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan, entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan atau dalam menangkap aturan-aturan tak tertulis yang menentukan keberhasilan dalam politik organisasi.

8

Seperti yang dikatakan oleh Doug Lennick seorang executive vice president di Amerika Express Financial Services (dalam Goleman, 2003:36) bahwa yang diperlukan untuk sukses dimulai dengan ketrampilan intelektual, tetapi orang memerlukan kecakapan emosi untuk memanfaatkan potensi bakat mereka secara maksimal, jadi kecerdasan emosional dapat membantu seseorang dalam menggunakan kemampuan kognitifnya sesuai dengan potensi yang dimilikinya secara maksimum. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu masih banyak manfaat kecerdasan emosional yang lain yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

2.4 Faktor-Faktor Kecerdasan Emosional Faktor yang dihasilkan oleh kecerdasan emosional sehingga menentukan dalam karier dan organisasi menurut Cooper & Sawaf (2002:12) yaitu “kepemimpinan, pembuatan keputusan, terobosan teknis dan strategi, komunikasi yang terbuka dan jujur, teamwork dan saling mempercayai, loyalitas, kreativitas dan inovasi”. Goleman (2003:487) menyimpulkan faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu: Keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan, Komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar, Prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja, Komunikasi yang terbuka dan saling percaya diantara semua yang ikut berperan, Membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif, Kolaborasi, saling dukung, dan saling berbagi sumber daya, Inovasi, keberanian mengambil resiko, dan kesediaan

9

belajar bersama, dan Gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.

2.5 Cara Menerapkan Kecerdasan Emosional kepada Anak Otak manusia belum terbentuk sepenuhnya pada waktu dilahirkan. Otak membentuk dan berkembang seumur hidup dengan perkenbangan yang paling dahsyat terjadi pada masa kanak-kanak, dan diantara semua spesies, manusia membutuhkan waktu yang paling lama untuk benar-benar mengembangkan otak menjadi matang. Beberapa wilayah otak yang penting bagi kehidupan emosional termasuk yang paling lambat matangnya, dan akan timbuh sampai akhir masa pubertas. Kebiasaan mengelola emosi pada masa kanak-kanak dan remaja dengan sendirinya akan membantu mencetak jaringan sirkuit. Kebiasaan-kebiasaan pada masa kanak menjadi tertera pada jaringan sinaps dasar persarafan, dan akan lebih sulit dirubah di masa kemudian. Mengingat pentingnya lobus prefrontal bagi pengelolaan emosi, kesempatan yang sangat panjang dalam pembentukan sinapsis di wilayah otak ini berarti bahwa pengalaman seorang anak bertahun-tahun dapat mencetak sambungan yang permanen dalam sirkuat pengatur otak emosional tadi. Pengalaman penting ini mencakup bagaimana orang tua dapat diandalkan dan tanggap dengan kebutuhan anak, peluang serta bimbingan yang diperoleh anak dalam belajar menangani kekecewaan sendiri dan mengendalikan dorongan hati Goleman (2002:59) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

10

2.5.1 Mengenali Emosi Diri Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi. 2.5.2 Mengelola Emosi Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. 2.5.3 Memotivasi Diri Sendiri Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

11

2.5.4 Mengenali Emosi Orang Lain Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyalsinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. 2.5.5 Membina Hubungan “Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi” (Goleman, 2002:59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain. Gottman (2001:217) menyatakan sebagai berikut. Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, jarang tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk kerja akademis di sekolah lebih baik. Sedangkan pendapat Gottmaan (2001:250) yang lain yaitu. Keterampilan dasar emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional tersebut besar pengaruhnya. Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak sukses disekolah dan dalam berhubungan dengan rekan-rekan sebaya serta akan terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang, kenakalan, kekerasan serta seks yang tidak aman.

12

3. Penutup Setelah membahas isi makalah, pada bagian penutup ini akan dipaparkan tentang kesimpulan.

3.1 Simpulan 3.1.1 Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain. Goleman menggambarkan beberapa ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang berupa : (1) Kesadaran diri, (2) Pengaturan diri, (3) Motivasi, (4) Empati, (5) Keterampilan social. 3.1.3 Manfaat kecerdasan emosional berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian dan kematangan kepribadian. Dengan kepribadian yang matang dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan atau pekerjaan, dan betapapun beban dan tanggung jawabnya besar tidak menjadikan fisik menjadi terganggu. 3.1.4 Faktor yang dihasilkan dari kecerdasan emosioanal adalah adanya keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan, komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar, prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja, komunikasi yang terbuka, saling percaya diantara semua yang ikut berperan, membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif, kolaborasi, saling dukung, saling berbagi sumber daya, inovasi, keberanian

13

mengambil resiko, kesediaan belajar bersama, gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri. 3.1.5 Cara menerapkan Kecerdasan emosional melalui berbagai langkah yaitu, Mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, membina hubungan.

14

Daftar Rujukan

Admin. 2010. Pengertian Kecerdasan Emosional, (Online), (http://belajarpsikologi.com/pengertian-kecerdasan-emosional-eq/ ), diakses 14 April 2012. Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Goleman, Daniel. (2002). Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Gottman, John. 2001. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional (terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. Jensen, Eric. 2006. Enriching the Brain, How to Maximize Every Learner’s Potential. San Fransisco: Jossey Bass A Wiley Imprint. Krestyawan. 2010. Kecerdasan Emosi, (Online), (http://orangkantoran.wordpress.com/2010/01/14/kecerdasan-emosi-2/ ), diakses 14 April 2012. Reza, muhammad. 2011. Kecerdasan Emosional, (Online), (http://muhammadreza.blogspot.com/2011/03/kec-erdasan-emosional.html), diakses 14 April 2012. Segal, Jeanne. 1999. Meningkatkan kecerdasan emosional. Bandung: Citra Aksara Publishing. Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->