P. 1
Cerpen Putu Wijaya

Cerpen Putu Wijaya

|Views: 509|Likes:
Published by Heru Sulianto

More info:

Published by: Heru Sulianto on Jan 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. kalau kita diam saja. jadi kita harus menghormatinya. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. Kalau tidak. Bapak tidak usah minta maaf. Dengan menekan perasaan. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. Kalau Ami pulang. karena tetangga kita mantunya Malaysia.“Tapi melarang!” “Memang. Kalau mereka dengar. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. Itu sebabnya Ami marah.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut. anak kita marah-marah sama Malaysia. bukan hanya masalah orang Bali. karena kita adalah bangsa yang santun. “Bagus. Kan sudah berapa kali kita dihina. bisa terjadi perang. Karena kalau presiden marah. Betul.” “Ngapaian bijak. Boleh marah. Tapi harus ada yang marah. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. Masak diam saja.” Ami mengangguk. Amat menyerah. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . mantu tetangga kita. “Ami.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. bisa-bisa mantunya tersinggung. “Bapak tidap perlu minta maaf. Bapak tidak boleh ikut marah. sekarang baru tari-tarian. Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. Bapak bangga sekali.” “Bapak minta maaf dan pulanglah. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. Bijak. “Jadi kamu mengerti. Jadi Ami harus marah. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. sopan dan santun itu ada batasnya. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali. kalau kita diinjak-injak. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. Kalau begitu kamu dewasa Ami. sama juga dengan budak. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati.” “Tidak. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. Sekarang mari kita pulang. kata Ami. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele.” “Tidak. Ini bukan hanya masalah tari pendet.” “Kenapa?” “Karena Ami marah.

buku Nagara Kertagama. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar.” Amat terkejut. menjelang bulan Ramadhan. “Banyak orang tersinggung dan kaget. tapi isinya. Amt kemudian menggebrak meja. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. yang membuat telinga merah. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu. Ia ingin mencuci kembali tradisi. yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang. mengejar nama dan duit.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. “Maksud Bapak. mirip sebuah sumpah. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang. bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Prambananan. tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. Sama sekali tidak. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis. si maniak kopi. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. “Sabar Pak. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. Dengan memberikan tafsir baru. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. pasrah. alias tidak melempem. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. malam Jum’at. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. Kebudayaan Jawa yang tinggi. Ia kemudian mencecer.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an. Menampik budaya kota. ia akan terus bertahan di Yogya.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo. sabar. melempem. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. bukan kulitnya. berjanji. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Hidup di kota pun penting. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. tetapi bernas. Tak sabar. begitu panggilan akrabnya. Ia berseru. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot. ia membuat seluruh kebijakan. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. Mempertahankan tradisi itu. “Yes!” Tak puas hanya memekik.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. sehingga esensinya. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. tersimpan niat yang mulia.

sambil menunjuk ke televisi. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. “Lihat Bu. dengan semua perbuatan. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan. Bertengkar juga berpikir. di Jakarta. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. mas willy§. Jadi Jacko. sehingga bisa bergaul dengan semua orang. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata.yang dipesan suaminya. karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. kontan buyar. Itu memang kataku. Titik. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk. “Itu artinya dia orang besar. “kara wajah di televisi itu lagi. Ami mengangguk acuh tak acuh.” “Memang. “Ya itu kataku. Mbah Surip dan Mas Rendra. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. tindakan serta pemikirannya. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang.melanjutkan. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. “Kalau dia memang pahlawan. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Amat tercengang. Pak. Yang wajar-wajar saja. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra.” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. Aku berkata untuk almarhum. mengingat ekonomi yang . tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. “Itu namanya penafsiran. “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. “Jangan suka marah.

Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja. Orang-orang itu punya anak.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli.” Ami melirik bapaknya. yang doktor pun bisa dicuci.” “Politik?” “Ya. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api. “Aku heran. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. tetapi ribuan bahkan jutaan.” Amat terkejut. merasa ikut kehilangan. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia. susila. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya. “Sudah Pak. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu. keluarga. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian. “Ayolah Ami. Dia memanggil Ami. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. pikirannya sudah ngelantur lagi. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan. membatalkan laganya dengan PSSI All Star. kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Orang itu tidak menjawab. Pak Amat. Seorang pemuda menjawab. ambil segi baiknya. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. budi pekerti bahkan agama. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. famili dan negara. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. Pak Amat. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. “Teroris!” umpat Amat. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat. hubungan itu sama sekali tidak ada. Dia buru-buru pergi. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. karena tidak melihatnya.” Amat penasaran. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita. Bukan karena tak ada. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau. “Itulah politik. “Coba tenangkan bapakmu Ami.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. istri. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan.” . Dia mulai marah. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. ini politik. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. seperti yang aku dengar di televisi. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna.

Teror dan bom di mana-mana. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. ia sempat terdiam sebentar. Bu Amat terpesona. Tak kuasa lagi menahan diri. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi. kita semua akan kalah. . Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. Isi perut terburai. . Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Bom Marriott 2. Memang bukan 200 atau seratus ribu. Di puncak bukit yang bergetar. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. Bencana alam. Begitu saja rasa ngeri. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. Korupsi. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Bu Amat tersentak. Ia hanya memandang ke satu titik. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. ia memang masih tertekan.. masih seru. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. Dulu. “ Bu Amat tertegun. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Setelah itu.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. “Hidup semakin keras. Pada kejadian Bom Bali Kedua. ia sama sekali tenang. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. Takut. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. Ibu membunuh anaknya. Ia terkejut dan jadi gemetar. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. Anak dijual oleh ibunya. suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Bu Amat melihat darah. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. ngeri. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi. “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. tangan. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. Penculikan. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit.”bisik Bu Amat dengan terkejut. manusia menjadi semakin tabah. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. Manusia makan mayat. Melihat di mana ia sedang berdiri. kaki. Orang hilang. Anggota badan manusia berserakan. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. Kalau tidak begitu. semua terpisah dari tubuhnya. “Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Layar kaca. Kepala. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Ketika muncul berita Bom Marriot 2. tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Kepala. Bu Amat menjerit. Matanya menancap ke televisi.Ami terperanjat. ia bisa mengucurkan air mata. Ia lupakan dulu curhat La Toya. “Aduh. tapi hanya sembilan.

Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. penyalahgunaan kekuasaan. Sama sekali tidak mau peduli. semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. China.” Amat tercengang. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. Sabuk Himalaya. angin topan. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan. Ternyata tak beda dengan Bu Amat. letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. dia tidak peka. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. “Ya. Gempa bumi. menghampiri Amat. Masak kita akan menghadapi kiamat.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran. . Indonesia. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai. datanglah secara kesatria. Filipina. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. Bu Amat menjawab enteng. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. mempunyai resiko yang paling besar. tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. Kita blak-blakan saja. “Bukan. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat. Terlalu menyepelekan. Bersiap-siap saja. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu. letusan gunung. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. korupsi. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia.” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah.”kata Amat curhat pada Ami.

daripada pergi meninggalkan kita. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Belum selesai itu. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. Tapi 2009 tak bergerak. tetapi kehidupan teater yang bebas. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. Badannya lemas. Waktu itu. kamu membunuh satu juta.“Jangan terlalu dekat. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. Dua-duanya harus di bunuh. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk. saya menyarankan agar teater kampus. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan.” Tanpa menunggu jawaban Amat. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Saya menulis kredo untuk teater kampus. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. tidak ada hukumannya lagi.. “Dia pergi. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu. “Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Samurai di genggamannya terlepas. “He mau ke mana kamu?” “Pergi. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. Harus menjadi pelopor. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas. Teater kampus ditonton dengan . Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. Tangannya gemetar. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. Penjajahan politik sudah kita tendang. Perasaannya tiba-tiba kosong.

Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. kreasi. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . Bagi saya ini hal yang positip. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. Hasilnya adalah kegagapan. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. harus ada studi dan strategi. kalau tidak. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. menghibur. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. komunikarif. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. lebih dari unsur verbal-nya. kehilangan jiwa. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Musik. tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. di tangan sutradara yang baik. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. unik dan orisinal. Sebuah naskah yang buruk. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Masing-masing jenis teater memiliki langkah.penuh penghormatan dari masyarakat. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Teater tradisi yang asli bagus. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. akan membuat pertunjukan tak punya arah. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. membuat penasaran. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. memberikan pengetahuan dan sebagainya. karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Karenanya memerlukan pembelajaran. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. akan terjadi sesuatu yang kosong. bisa menjadi menarik. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Untuk itu kampus harus membuka diri. Selama ini yang sering terjadi. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Dan untuk membuat perencanaan. Penyutradaraan. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. penataan adegan dan set.am Festasimo IV masih rawan. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Aspek penulisan lakon dal. Tetapi kalau ditanggapi keliru. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan.

Di Jakarta sendiri muncul FPI. Papua. Perbedaan semakin jelas. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. khususnya teater kampus. pada 1997. Baik suku. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. agama dan sebagainya. Nusa Tenggara Tinur. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. Dan ini bukan hal yang mudah. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. terjadi reformasi. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. Banyak lagi masalah lain. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. Indonesia yang satu mulai diragukan. Kalimantan. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. Kita mengakui bahwa kendati satu. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. Tetapi kalau diusut. Beberapa wilayah (Aceh. Maluku. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Kahar Muzakar. Sulawesi. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Beberapa peristiwa berdarah muncul. Sumatra. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. Memang betul.banyak hal. satu bangsa dan satu bahasa. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. di Indonesia ada banyak perbedaan. Gotong-royong itu sendiri misalnya. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. tak hanya seni akting. Setelah 52 tahun merdeka. Insiden etnis terjadi di Pontianak. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. . muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. bukan esensi janji bersatu. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. adat-istiadat. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. di mana-mana dikenal. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. Jawa Barat. Hanya dengan cara seperti itu. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Ini masalah yang serius. Riau) mau merdeka. banyak bukti. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. (DI TII. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. Papua. Bali. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. bangsa dan bahasa. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu.

Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ . sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak.Kalau ada. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. Banjar terpecah. Baik idiologi. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). Sekarang kita mesti berhati-hati. Pluralisme di Indonesia bermasalah. Ada juga yang disebut “nempahan raga”. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. Kemajemukan yang ada di Indonesia. Kendati begitu. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Sesuatu yang datang dari luar. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. pemuka agama dan para konglomerat. golongan dan pribadinya. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Semuanya karena politik. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. meski pun berbeda. Para pemimpin partai. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. diberikan hak hadir. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”.

“Sudah Ami. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu. Ingusnya ikut berleleran. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. karenamemang itulah tujuannya. Ia tersedu-sedu. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Dia tidak akan mengiris. terima saja. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. Sedangkan orang yang menang suara. meredam perasaan agar jangan berkelebihan. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. asin. Aku panik. Yang menangadalah yang lebih banyak. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk. apabila tak belajar dari yang kalah.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. mereka adalahorang yang kalah.Bukan hanya itu. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah.Tetapi yang lain berpesta. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. meskipun belum tentu lebih bener. Makanya jangandilawan . Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. kamubukan pihak yang kalah. “Aduh Ami. rasa kamusendiri juga tidak laras. kamusebenarnya tidak kalah. Kemenangan itutidak harus kelihatan. padahalbelum tentu mereka benar. desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. Di rumah.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik.mengerem. memang baik. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. Aku terpaksa menghibur.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. lalu membanting. Aku rengutkan handuk itu. tegas. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. Banyak orang bersedih. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. Tetapisemakin diusap. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca. air mata itu semakin membanjir. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. pahit ataukemanisan. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan. asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. Manis itu memang enak. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. Undang-Undang Popok Pers. Jaditabahlah hadapi kenyataan. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang. Aku jadi cemas.” Kepala Ami semakin berat. Tapi wajahnya tambah berat. anakku Ami nampak kesakitan. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. diaakan mencocokcocok. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. Air matanyatidak lagi hanya menetes. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. Lalu airmatanya jatuh berderai. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. Aku terkejut. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. Kalau tidak. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. “Sudah Ami.tetapi kamu sendiri. “Waduh. tetapi menyembur. Seluruh pipinya banjir.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Perasaan itu baik. karena Undang UndangHukum Pidana. Jadi Ami.” Ami mengangguk. kamu hanya ditunda menang.

tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi.” Ami memandangku seperti bertanya. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. Masuki rumah penduduk semua. Ami sayang. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. Ajaib. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Dera mereka yang menjualkecabulan. Ratu Mercy. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara.bahkan singkap sprei dan kasurnya. bongkar laci dan almari. Baik kameranya. “Bagus. kalau kamu mulai mengerti sekarang. Kontes Mirip Bintang. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. karena pisau itu sudah di tangannya. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi. Kalau ada yang cabul. Bisa-bisa kamu yang dibakso.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. “Terimakasih. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. jangan-jangan mereka menyimpanpornography. denda milyardan danjebloskan ke penjara. Mengerti?” Ami mengangguk. juga ketelanjanganrohani.Biarkan saja.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. Baru kalau diagagal nanti. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . Karena tidak semua kolesterolitu jahat.apalagi pemuka. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Ratu Dangdut. didenda dan dihukum. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. mata Ami pun berhenti meneteskan air. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Ratu Kaca Mata.tidak cukup suara keras.sekarang nanti dia tambah buas. kita beritahu pisaunya yang salah. Mukanya mulai berseri. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur. Seperti yang mereka usulkan. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. seret. “O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. Terimakasih Mama. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. Tak hanya itu. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. tidak cukup mata melotot.setidak-tidaknya kita anggap cabul. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. “Jadi dengan kata lain. dengar. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Selidiki apa isi kepala orang. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya.

berarti kemenangan mereka palsu. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih. ia sudah ngomel di depan para wartawan. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. dilipatgandakan. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja. jadi kami serahkan pada para pembaca saja. tetapi tidak terlalu berarti. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami. panitia mengambil jalan tengah. Keputusan pemenang dibatalkan. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria. Pemilihan akan akan diulang. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Hasilnya amat mengagetkan.. karena merasa tidak puas. Lomba pun dimulai kembali. Pak. Para panitia segera berunding. Di bandara. Sebagai kompensasi. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. ternyata lima di antaranya adalah wadam. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan. Pak. kecantikannya kalian lupakan.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. Tulang-tulangnya yang besar. Urutannya jelas.seperti itu akan keliahatan aduhai. .” “Memang bukan. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. Kalau dipotong bisa parah. “Maksud Bapak. Ada protes. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. sebab mereka sudah tahu. Mereka bukan 9 wanita tercantik. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat. karena menyangkut keselamatan majalah. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif. Setelah mempertimbangkan masak-masak. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. Pak. Pak. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung.” “Kalau begitu. tetapi juga kecantikan kepribadian. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. tidak mencerminkan jutaan warga kita. kakinya yang berbulu. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut.

tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama. Mereka yang terpilih memang sangat professional. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk. “Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan. Dua juta orang yang terancam kebutaan. Pak!” “Tidak ini tidak main-main. Tapi meskipun membela kemanusiaan. “Maaf.” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main.” “Kalau itu betul. “Bapak mengatakan itu.” Saya langsung pasang kuda-kuda. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran. bukan masyarakat yang sakit. pilihan mreka kami anggap wajar. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat. Kalau dia menang. Tanpa mengenalkan dirinya. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. Pak. mati muda.”katanya memujikan. Pak. memahami amanat ini. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. di dalam sebuah kompetisi yang adil.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum.Panitia kembali diundang berdialog. yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. akan terselamatkan. tidak bisa. atau ada yang lebih bagus. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Kilatan cek itu membuat darah saya . Ini salah kaprah!” Panita bengong. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. Tidak mungkin sama sekali.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul. Saya minta keputusan ini dicabut. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. tbc. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa.

Saya tak berani bergerak. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Kalau ini kurang. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. bukan saya tidak menghargai Anda.” Tiba-tiba saya batuk. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. saya hubungkan sekarang. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu.” Dia mengulurkan uang itu.” Saya memberi isyarat untuk menolak. Dia seperti sudah menebak pikiran saya. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. “Kalau wakil kami menang. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. Atau Anda lebih suka menelpon.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa.. karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Nampak besar dan padat. Apalagi menolak suap. Bukan hanya berenang. lalu terjun ke kolam. sore ini juga kami akan datang lagi. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. “Maaf. menyelamatkan diri. Saya kan belum berpengalaman disuap. Kedua-duanya. lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. “Kita transparan saja. Dia memeluk saya. Kedua amplop itu langsung tenggelam. Itu memerlukan keberanian mental. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu. “Hallo. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya.” Saya gelagapan. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. Tapi sebelum tertangkap. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. Merasa dikejar anak saya berlari. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. Dia merogoh lagi tasnya. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. Saya cepat menangkapnya. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Perasaan saya rontok. lalu diberi seragam koruptor. dia diam saja. Bangsat. kalau Anda masih was-was. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. anak itu mengubah tujuannya. Matanya melotot menentang mata saya. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan. hallo …… . Tidak peduli ada bangkai ayam dan . Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak.beku. Baik menerima mau pun menolaknya. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. Tapi orang itu terlalu sibuk. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. “Ade. “Silakan. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Seakan-akan dia marah. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan.” Saya bergetar. Dengan kalap saya gapai-gapai. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. Ketika saya tangkap. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut.” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan.

Saya termenung. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. Diinjak pikiran kacau saya pulang.Tak seorang pun yang menolong.kotoran manusia. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Kalau dia tahu itu uang. bahaya. teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. mplop itu harus ditemukan. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. tak akan dipercaya. saya sudah basah. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. Siapa yang akan peduli. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. Tapi coba. Tak ada bekasnya sama sekali.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. langsung ke warung. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Kalau kedua amplop itu lenyap.. Hari gini. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. Aduh malunya. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. eling. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. Tapi tamu itu sudah kabur. . Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. “Eling Dik. Darah saya tersirap. Apa pun yang saya lakukan sekarang. ide-ide busuknya akan muncul. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. . “Mana?” Seorang anak tetangga. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. Di kepala saya ada tahi. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. Badan saya penuh lumpur. karena kurang pengalaman. “Cepat mandinya. Ya kalau dikembalikan. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari. “Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. Badannya kuyup penuh kotoran. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. berarti saya sudah menerima.. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir. Tapi saya tidak peduli. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. Kalau itu dibiarkan berkembang. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Saya tidak berani menjawab terus-terang. Dan kenapa saya terlalu lama bego. “Sudah jangan kayak orang bego. akhirnya saya akan masuk penjara. Laki-laki sama saja. Tak menolak dengan tegas. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. cepetan madi dulu. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang. saya hanya menggeleng. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. berarti saya sudah makan suap. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Dengan berapi-api saya terus mencari. Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. Istri saya bengong. Setelah telanjang dan mengguyur badan. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. yang bener aja!” “Tapi .” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi. saya keluar. bau!” bentak istri saya. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam.

asal masa depan anaknya cerah. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. Melalui perdebatan yang sangat sengit. Anak saya nampak menahan diri. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Apa perlu saya cek. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan. Diterima baik oleh masyarakat. “Baiklah. Tidak. kalau orang itu datang lagi. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Jangan. Tapi sepuluh hari berlalu. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. “Lho kok malah nangis. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Lomba pun memasuki saat penentuan. Keputusan kami yang diterima baik. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. tapi saya cukup hanya memandangi. kita sendiri makan tahi sampai mati. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus.” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak. pikiran saya bergeser. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor. Bukan karena suap. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. saya capek menunggu. Istri saya diam saja. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. Aku juga sudah mulai tua sekarang. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Bukan salah kita. Aku masih kuat .” “Abang jangan salah sangka begitu. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. tapi karena aku sakit. Saya akan mengembalikan. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. Keputusan sudah diambil.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. Namun saya sudah bersikap menolak. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Bukan apa-apa. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. saya memutuskan nekat.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin. Lomba itu sudah menjadi lampau. Saya tidak melakukan itu. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. Bang. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Rasanya aneh. Satu bulan berlalu. akhirnya dicapai kata sepakat. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. Memasuki bulan kedua. Pada bulan ketiga. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. tapi kalau lagi sepi. betapa dahsyatnya arti uang. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. akhirnya mulai menang. saya tidak akan menerimanya. Mau tak mau saya terpaksa mengakui. didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat.

Rebo 17 September. kenekatan saya justru bertambah.” Dia menggayut tangan Ade. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Di situ mata saya mulai gelap.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. lalu gantikan isinya. Setelah tahu isinya. Tibatiba saya terperanjat. Bangsat. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka.menderita kok. Dengan kalap saya sambar batu-batu. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. Isinya juga hanya kertas. Kalau tidak begitu. Tangan saya gemetar. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. menjarah. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. tak mampu melihat apa-apa. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. Disikapi oleh istri seperti itu. Jelas sekali sekarang. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi. Dari situ nampak terbayang isinya. nanti tidak akan pernah baik. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. Itu kejahatan. Tiba-tiba terpikir sesuatu. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. Motornya juga saya hajar. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Mengambil tempat di Ruang Kartini. Mata saya bengkak. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Saya menghela nafas dalam. membuat saya panas. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Kemudian dengan bernafsu. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. Di satu sisinya ternyata ada belahan. lalu membawanya ke dapur. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka. baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. asal mereka tidak. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. Sama saja. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Dia temukan amplop itu. mereka langsung ganti. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade. Tak peduli apa kata orang. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra.

saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. misalnya keberagaman. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. Tetapi kalau memang tidak perlu. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. Ini menyangkut ruang privat. harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama.” ujarnya. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Selaku pribadi. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. masalahnya bukan RUU-nya. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. karena.. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. Yang pertama adalah masalah moral. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Bagi mereka. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. negara bertindak. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. Untuk itu harus ada investigasi. Kalau memang sudah terjadi kebejatan. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai. mengapa tidak. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. masih belum sempurna. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian.

Ucok Hutagaol. berkolaborasi. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. Praha dan Bratislava. jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali. Sukardi Djupri. Fien Hermini. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”. Alung Seroja. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya.. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. Wendy Nasution. Beruntunglah Egy Massadiah. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). Betul sekali. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. Walhasil. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. Cairo. Papua dan sebagainya. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. ada perubahan besar. Tidak hanya seni akting. semuanya adalah pekerja. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. Mr. Tetapi mulai tahun ini. 1 Oktober. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. kemiskinan. seniman tak perlu merasa terkengkang. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun. Kami . langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. taktis dan lihai. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. Yanto Kribo. Sebagaimana biasa. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam. tapi seni musik. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Menurut Mr. Agung Wibisana. kedok apa pun yang dipakainya. Dewi Pramunawati. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. Bambang Rsmantoro. tari. untuk menambah warna festival. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik.

Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. Amat segera berpakaian.. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. biar dia ke sana. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Kalau . Pak. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu.Satu dua kali hujan mulai turun.” “Ya itu dia. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda.” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya. “Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu. Mengenakan sepatu dan baju batik. Kalau mau nyumbang. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. Itu kan membuat semua orang mimpi.” Ami masih terus hendak mendesak. tapi Amat menutup percakapan. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§. “Biar saja Ami. Meskipun sudah pensiun.” kata Amat curiga.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua. Tak usah diladeni.” “Kami siapa?” “Ami misalnya. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya. Apalagi 5 milyar. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan. Ami?” Ami menggeleng. “Mengapa dulu dia segan memasang. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain. “Saya sudah kapok.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. “Ini bukan tidak ada maksudnya.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. siapa tahu beneran.” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. daripada bapakmu ngerecokin di rumah. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Ami terpaksa bertanya.” “Memang.” “Siapa?” “Kami.” “Ibu jangan begitu. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu. Kalau gagal.

Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. “Bangun Ami. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki.” Ami terkejut. Sekarang beres. “Bapak berhasil?” “Ya. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. Rakyat terpesona. Dia mengubah angkanya.” Ami tertegun. lebih baik jangan membuat persoalan. Masyarakat seniman berguncang.” Ami terkejut. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini.. banyak seniman mati sebagai kere. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif. “Bapak juga tidak paham. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. Sudah cukup bukti dunia seni kering.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun.” Amat terhenyak. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. Andaikan benar. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . Ami langsung bermimpi.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu. ini duitnya. Mengapa dia mau. Jadi Bapak bilang. Ketika Amat masuk rumah. “Aduh. tak usah sepuluh. dia sudah nyumbang seratus ribu. Dan benderanya sudah diturunkan. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. tapi kemudian langsung bertanya. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai.” “Berapa. Sumbang yang wajar saja.kejadian kan kita semua untung.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu.” Ami ternganga. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. hanya berupa piagam dan uang seupil. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya. Lima milyar. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. nanti kamu masuk angin. makanya benderanya tidak pernah diturunkan. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar. Paham?” “Tidak.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

Pak. Itu sebenarnya makna kebebasan.” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. Ia langsung berpikir. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. Ia lama terdiam. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi.keluar rumah. dia akan menyerah tanpa syarat. Rumahnya nyaris dibakar. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. Pak.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain. jadi dia berkorban. “Anak saya ini. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. .” Pejabat muda itu mengangguk. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. “Wah putri Bapak cantik sekali. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. Bapak yang mengadu itu. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. Dengan tidak keluar rumah. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. masuk ke kamar atasannya. atasannya muncul. Itu dianggap sebagai persetujuan. Pak. Malah diserang oleh massa. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. ia meletakkan rokoknya. Setelah beberapa kali hisap. kontan diseret ke lapangan. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. Dia bukan jenis pahlawan atau . Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. Pak. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang. tidak mau keluar rumah. Masih muda dan cakap.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Mengeluarkan rokok. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah. selalu menghindar. Pak. Afandi tetap saja diam. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. “Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. kamu harus minggat dari sini. lalu permisi. Kemudian dia seperti baru bangun tidur. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. lalu menarik foto anak gadisnya. Tak berapa lama kemudian. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. “Selamat pagi. Wajar masyarakat protes. sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu.

Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan. Publikasi berbahaya.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Suami saya juga sudah berhenti melukis. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Para pembaca koran marah. Karena itu akan mengundang malapetaka.pemberontak. mereka hanya menemukan puing-puing. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar. Ia ingin banting stir. sebaliknya.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara. tendangan dan pukulan. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. “Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain.” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan. berhenti menjadi seniman. Wartawan cepat-cepat menjelaskan.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya.” “Yang lain?” “Gambar orang tua.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. karena anak-anaknya masih kecil.” Wartawan terkejut. itu hati nurani. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya.” “Mirip siapa?” “Tidak tahu. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya.” “Banci?” “Bukan.” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri. . Istri Afandi masih belum selesai terkejut. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. Kata suami saya sih. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol.

” Bu Amat tambah terkejut lagi. Itu berarti tanpa Bapak sadari. dua atau tiga? Amat bimbang. itu jauh lebih baik.” . “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab.” “Terus-terang saja. langsung diamankan. “Bapak sadar tidak. Ami. Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. kan?!. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam.. “Bapak mau jadi orang biasa saja. daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Pilih satu.Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. Sebagai pemilih.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. tidak mau menentukan sikap. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. Mereka menolak dan melawan. Pak. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. Bapak tidak mau salah pilih. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. tidak berani mengambil resiko. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak. “Tidak!” Ami kontan marah. “Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. Sebagai warga yang bertanggungjawab. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. Itu hanya teori. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan. “Itu rahasia. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu. Ami. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami.” Bu Amat terkejut. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut. Dengan mematikan satu suara.” Ami tersenyum. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing.

Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . meskipun bagus jangan dipilih. yang berguna. miskin lagi. Kalau tidak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. ya. Tinggal saja. Dan yang berguna itu. kan?” Ami terseyum. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua. apalagi ikutikutan. Tampangnya juga jelek. itu kebangetan. Bu. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik.” “Yang bagus itu. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita.” Amat menatap Ami. “Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. Pak. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. enaknya sendiri. berarti sebelum main coblos akan mikir. “Pemilihan itu bebas rahasia. “Lho.” Amat tercengang. Yang berguna tapi bagus. ya. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. harus pakai pikiran! Kalau salah pilih. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. “Wah kalau begitu. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. “Ami. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. Pak. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. boleh dipilih.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. memilih itu memang ukurannya bagus. Jangan begitu. sebaiknya yang bagus dan berguna.Tapi kalau boleh menyarankan. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. “Wah. Kamu kok mau-maunya sama dia. “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu. “Bagaimana bisa memilih Ami. Ibu jangan hanya pakai perasaan. jangan asal coblos.

nanti kita yang akan dikejami sama dia.pada kamu. Ami penasaran. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Jadi mesti dipancaing. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. Ia nampak tak senang. Kalau tidak. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan. lalu mengadu kepada Amat. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. tapi terlalu cinta itu berbahaya. Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. Pak?” Amat berpikir. Baik kepada orang baik. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. maupun kepada orang jahat. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. “Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. biar tahu rasa!” Bu Amat termenung. Menurut Ibu. “Ibu lembut sekali. Tapi Ibu tidak setuju. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. tidak boleh dengan kejahatan. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. “Kenapa?” . Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Cinta boleh. Kalau kita mau melawan kejahatan.” Ami bingung. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah. “Ada apa dengan Ibu. Kejahatan itu akan gagal. “Aku tidak mengerti. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. Malam hari Ami menyapa ibunya.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam. nanti Ami juga yang kena getahnya. Lihat saja. dipergoki biar kapok. Coba dengan lelaki bejat itu. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan.” “Bukan begitu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Itu sama saja.” Ami mengangguk. Kalau teleponnya tidak disadap . sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab.” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan.” “Ya apa salahnya?” “Salahnya.

“Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa. restoran.!” Ia menikah dengan seorang super model. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. iperbesar. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran. Maafkan Ibu Ami. Kehadirannya juga semakin jarang. lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya.. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. Rumah idandani. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan.” Ami terkejut. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba.” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. diperlebar. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. perlindungan. jumlahnya bertambah. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Istri cantik dan terkenal. . mall. sebab demi kebaikan. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. juga muncul berbagai ciri. kesejahteraan. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. “Ya. apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana. tapi satu minggu belum tentu . Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. meskipun orang itu jahat. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Fasilitas. orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. “Pendapatan. tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Kendaraan juga sama. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. hotel. Karena waktunya tidak ada. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. Bayangkan ada 10 rumah. kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya. Tak baik. ditingkatkan. Sosoknya lebih sering di tempat lain. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. tapi Ibu minta.

tai kucing. jangan memakai kata-kata itu. Bukan dengan gedung. Itu berarti kita berarti.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Pak. Apa itu kebahagiaan atau bukan. saya tidak tertarik.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. gagal. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. mono rel. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. untuk menghajar para pemuda itu. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. Apa sebenarnya menang itu. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. “Karena Bapak orang yang sukses. “Itu matematika kuno. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. sebab keuntungannya tidak kelihatan. Prestasi. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Apa sebenarnya nomor satu itu. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja. saya belum selesai. ‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum. dengan budaya. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Mobil sepuluh juga belum cukup. meskipun sudah bangun jangan layang. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. Tetapi mereka tidak menyerah. Terus-terang. puas kalau sudah paling atas. Pak Edy.” “Lalu apa?” “Pencapaian. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. Maaf. Ini bukan revolusi. Selama ini. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang.” Edy tertawa. Dan pada akhirnya. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. Yang konkrit saja. Kalau Bapak bisa membantu kami. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang.” Pertemuan berakhir. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. bahkan sangat sukses. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. London. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. apa sebenarnya bahagia itu. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. Ini hanya kebangkitan. berhenti berambisi. Orang bilang mobil satu itu cukup. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. Mula-mula ia pura-pura bertanya. Aku ingin di atas. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. mobil tetapi dengan buah-budi. Mereka lalu turun ke . karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. jangan dijawab dulu. dari dusun. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. New Yotk. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Aku baru merasasenang. Saya bilang keliru. “Wah. selamat siang. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru. Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif. dan punya bus way.

. “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. Bendera-bendera lain. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu.” “Betul!” “Kalau betul. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama.”kata Bu Amat. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. Karena kalau itu dibiatkan lepas. mundur dulu.”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang. “Memang.rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. komunitas budaya ini harus dilahirkan. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63. menghampiri.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. Meskipun sudah hampir jam 10 malam. teguh dan percaya. ‘Terimakasih. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. karena ia hanya ingin ada dua warna. mesti tahu diri. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Pak. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Ia memandang Ami tajam. Menyumbangkan apa saja.” “Ya itu hak dia. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. ia keluar dari rumah. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin. kecuali bendera-bendera negeri sahabat. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. bisa menimbulkan perkara. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. Dengan bernafsu ia . Amat terpesona.

” Amat terkejut. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Lalu menarik nafas dalam. “Selamat malam. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. begini. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan.” “Persis. Saya penasaran. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Dan betul. Terlihat sang saka. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. “Selamat malam. Di depannya nampak bendera partai. tapi hanya sekedar bertanya saja. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti. pak Amat.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Pak Amat. Karena itu bagian dari kemerdekaan.” Orang itu tertegun. lalu dia memujit bel di gerbang. Tak ada maksud apa-apa. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Darahnya mendidih. Ia melirik ke samping.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Jadi begitu.” “Maaf. tetapi hanya mau bertanya. Ia mati langkah. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Pak Amat. Bukan juga kritik.” “Terimakmasih. Kemudian mengubah suaranya lembut. Ia menoleh ke samping yang lain.” “Silakan masuk. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. meskipun kecil. “Tentu saja pak Amat. hanya sekedar bertanya. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak. “Pak Amay. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa.” “Bapak jangan tersinggung. Amat memasang muka seribu.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur.” “Kenapa mesti tersinggung. sebab kita hidup di alam demokrasi. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. momentumnya nanti bisa hilang. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Warnanya pun sudah lusuh. “Tentu saja boleh. belel. Tetapi Pak Amat harap mengerti. Tidak ada motivasi apa-apa. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar.” Amat tertegun.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul. Tanpa perhitungan lagi. Begitu. saja ingin tahu. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes. Sama sekali bukjan menyindir.” Orang kaya itu tersenyum. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Pak Amat. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Kepalanya pusing. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan.

Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. Mereka menggebrak. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Panggung pun sepi. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. “Saudara-saudara. Mereka mengangkat lukisan itu. semakin jauh orang. Kata orang. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Dari luar negeri. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. Lalu sorot menyala. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Kemerdekaan adalah kebersamaan. untuk mempimpin. Mungkin sekali tidak berani. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus.. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. menunjukkan langkah konkrit. Gubernur pun bengong.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. sebenarnya ia semakin pulang. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Tetapi atas nama kemerdekaan. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Lampu menyorot. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya. Tetapi kemudian ia berpidato panjang.”kata Gubernur. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. ditarik dari tempat shooting film barunya. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Akhirnya muncul puluhan penari lagi.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Nampak lukisan itu. Tetapi belum jelas. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. para tamu. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. lukisan ini. Kemerdekaan adalah persatuan. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. Pelukis besar kita ini. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Seorang penari muncul. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. . Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Cahaya lampur berpedar-pedar. Tetapi gagal. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Kita boleh tidak suka. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Asap mengepul. “Saudara-saudar hadirin. Terjadi keributan. undangan yang saya muliakan. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Tetapi semua orang terkejut. Tentu saja semua menyambut gembira. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. Inilah salah satu gambarannya. Gubernur terlambar mengangkat tangan. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik.

ya pasang saja. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini.“Selaku pribadi. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. Kan sering ada di koran. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau. saya Pak Amat. buat apa digantung?” Semuanya terdiam. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain. “Hebat. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. Pak. “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. hati saya berontak. Tapi kalau tidak. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. baik akan saya gantung.” “Lho. Karena kalau sudah diobral begini. Kalau bisa diperbaiki.” tulis Amat. Tetapi selaku gubernur. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. Kalau saudara-saudara setuju. “Ya. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab. di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya.. seorang di antara berjuta-juta warga lain.” Amat ketawa. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar.”tanya seorang Ibu. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur. apa yang kita cita-cita akan tercapai. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil.” “Hebat. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak. kita semua akan senang sekali. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. tanpa selembar kain pun di depan orang. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. “Lebih baik jangan dipajang. Jalan kampung lagi!” . Jadi bukan perasaan saya yang penting. akan jadi porno. namun perasaan kalian semuanya. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. porno!!” Semua terdiam.

yangmahal. pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. belum lagi korupsi. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Belum sampai pukul 11 malam. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Bukan hanya diperbaiki. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. belum juga giliran perbaikannya datang. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. tidak usah jalan kaki. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. “Kalau begitu. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal.” Amat ketawa. akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. Ia tak habis pikir. Jangankan jalan rusak. Benar nggak?!! Nah. “Kalau Pak Amat tidak percaya. yang banyak. Pak Amat. Amat teler. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. batin yang rusak pun jadi urusan beliau. kenaikan harga bensin. tidak. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Aids. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . Yang sepele itu sangat penting. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. Pak Amat. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. mengapa semua itu bisa terjadi. tambahin!” “Ya. pemasan global. Beliau kan pemimpin kita. “Ya sudah.“Lho kenapa tidak. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan. nanti ditambahin. yang megah.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Orang biasa. nanti masa jabatannya sudah selesai. tapi kalau garamnya kelupaan. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. Pak Amat! Kalau ditunggu. lalu menyerah di tempat tidur. Pak. Narkoba. tidak akan ada rasanya. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar. “Jangan ketawa saja Pak Amat. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. ya. . sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Kalau masyarakat mau bergotong-royong. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. Beliau pelindung rakyat. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. coba periksa ke dapur.

Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. “Sawah. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. sama saja. anak-cucu kejepit. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Kalau warisan diartikan sempit.jalan itu akan diperlebar. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. apa pun namanya. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. kita akan bangkrut. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. apa pun namanya. Jangan mensakralkan warisan. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Lalu dia bertapa. Kalau dipaksa bertani. berarti bunuh diri. Sekarang kita tidak hanya butuh makan.” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu. Ada yang …. Ada yang suaminya kawin lagi. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu. Satu senti pun tidak bisa digeser. sehingga menjadi jalan utama. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Jual semua. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. harus diwarisi. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Kuper. Siapa yang berani mengubah kuwalat. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. Warisan bukan benda tetapi sabda. Sebaliknya. . dari mana pun datangnya. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. Kalau tidak. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. Bapak jangan memberhalakan barang. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Segala sesuatu yang menindas. tegalan. membuat Pak Tua tidak jadi mati. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. kebun kelapa. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli. Amat gelagapan bangun. Mereka merayu dengan segala macam cara. Ada yang dapat kasus tabrak lari.”katanya. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan.

berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin. tetapi sebagai cita-cita. suara dan uraturatku sudah lapuk. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. hukum dan wibawa. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. Ia kontan buka mata dan membentak.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. Sudah waktunya untuk mandiri. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. Itu zalim. satu generasi lagi harus dibagi lima. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. Panah Pasupati pun tidak cukup handal. sebagaimana yang dituduhkan orang. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. tak ada yang beranjak. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. aku akan mempertahankannya. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Mewarisi itu bukan memiliki. juga sudah terlalu klise. dalam badai dan taufan.” bisik salah seorang mewakili yang lain. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai. duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki. ini bukan barang tetapi cita-cita. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung.”hasrat kami untuk membagi warisan. “Ayah. cari sendiri kehidupanmu. Warisan ini tidak jadi diwariskan. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Tenaga. boleh marah bahkan boleh menentang. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. Walau pun putraputranya semula begitu galak. sementara anak-cicitnya. karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. karena ini bukan kue. Naun ia sudah punya tekad bulat. mengembangkan dan meneruskan. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. Semuanya sedang meletus. Boleh menyerang. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. Tetapi ajaib. supaya semua anak-anak senang. ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Itu fitnah. Kembali terjadi keos. Lalu anak-anaknya dipanggil. Apa daya? Masihkah keberanian. Boleh tidak setuju. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. Kalian tidak perlu warisan. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita.. “Kalian semua sudah besar. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan. Kalau warisan ini dibagi tiga. Sebaliknya dari ketidaksetiaan.

Ternyata dia kembali menjadi kunci. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya.” “Caranya?” Amat berpikir. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing.” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. Amat masih berpikir. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak. Kelewangnya berkelebat. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. dengan dalih damai. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. lalu mereka ikut berteriak. “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong. Para tetangga menyisih memberikan jalan. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. Amat dan Ami tercengang. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. menjawab dengan pertanyaan.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. “Ayo Pak Amat. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. itu saat yang amat sulit. tetapi dilaksanakan saja. Dengan panik dia menarik Amat keluar. sudah banyak orang berkerumun. Jadi karena dideklarasikan. tetapi perang. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat. dianggap sudah jadi besi tua. Yang jelas. Bu Amat menyeret suaminya keluar. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Benar saja. Tapi hanya menonton. . “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Mungkin keris atau pisau. suruh mereka damai!” bisik para tetangga. “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. akan terjadi pertempuran segitiga. Alangkah sialnya jadi orang tua. Ketika melihat Amat datang. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. nanti yang terjadi bukan damai. Karena mau melindungi ketakutannya. karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Perlahan-lahan Amat maju. Kalau sudah begitu. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. Amat jadi gentar. Aku berada di luar. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. untuk mengatasi rasa cemasnya. Di rumah tetangga. Amat maju setapak-setapak. Kalau salah satu bergerak.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. Renon Sabtu lalu.

Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Mereka mundur. Rumah ini memang milik kalian bertiga.“Maaf. lalu berbalik dan pergi. Bu. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat. “Bapak hanya mengingatkan bahwa. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi. karena kalian mau memakainya sendiri. seperti siap menebas. “Bukan karena polisi itu. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. kalau tidak. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. setelah pikirannya tenang.” Ketiganya mundur. Rumah ini tidak bisa dibagi. entah apa jadinya tadi. Sekujur badan Amat gemetar. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. coba Ami. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. Apalagi beberapa foto. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. tetapi mengangkat kelewang. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Bapak tidak ikut campur. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian. Amat baru menjawab.” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. Ibu akan lihat semua. bersihkan segala meja. tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. kalau tidak.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas. kata Ibu. karena kalian juga adalah warga kami ……. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. Coba tidak.” .” “Kenapa semua foto dibakar. Disaksikan oleh seluruh tetangga. Tetapi situasii sudah terkendali. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. dibuang. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri. “Untung polisi cepat datang. Itu inisiatip Ami sendiri. kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. tempat kita semuanya berkumpul. ia akan roboh. karena tak kuat melihat kezaliman itu. mengungsi ke tetangga. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Bapak sih tadi ngomong begitu. Beberapa detik lagi. lebih baik Ami bakar. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar.”kata Amat lari dari rumah.” Suara Amat hilang. Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. malah membuat mereka tadi tambah marah. Waktu Amat nyaris hambruk. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. Tetapi aneh. rumah akan jadi keranjang sampah. Itu adalah kezaliman. Tapi kalau dibagi akan hancur. dibuang atau diberikan kepada tetangga. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi. Sebelum Ibu melihatnya sendiri. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya. Pikirannya sudah mengatakan.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. Dengan dalih menciptakan perdamaian. Taipeh. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya . PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil. Cairo. ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. telah dimainkan di Tokyo. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”. Pada 10 Juni. Singapura dan beberapa kota di Indonesia. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Hong Kong.

A dll. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Mohon dukungannya. tempat mengembangkan jati diri. Middle Town. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Singapura. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Pertama. → 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Kedua. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. New York. Teater bukan tujuan. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi. Brunei. Dengan keras. Hamburg. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo. tegas dan penuh desiplin. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. Taipeh. Bandit-bandit dihalau. menumbuhkan dan menemukan diri. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. Kyoto. Cairo. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. L. menyebabkan keamanan mulai pulih. tetapi alat untuk mengembangkan. zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Hong Kong.

Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. bikin mono reel. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. mencetak mall. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. karena setelah dua decade. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. untuk kembali membumi pada akarnya. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk. Pimpinan dan rakyat lebur. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. adalah menyehatkan kehidupan budaya. Dia melahirkan “tradisi baru”. Memang keberadaan TIM kini. seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. Betul sekali. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi.”katanya. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Mata mereka mengatakan. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Tidak ada sensor dan kekangan. Saya sendiri sempat kena getahnya. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. sudah tercatat dan akan bekerja terus. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. Pada 1975. melahirkan busway. membanjiri jalanan dengan motor. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar. Bang Ali kini tiada lagi. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. alangkah indahnya. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. tetapi lebih dari itu. Saya dengar sendiri semuanya itu. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Bang Ali menjadi sebuah contoh. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Warga ibukota di masa Bang Ali. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. teknologi. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. ekonomi. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. Tetapi apa yang sudah terjadi. Pada setiap kesempatan yang baik. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. hasilnya nyata. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM.

Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. Amat panik. kontan membentak. Kalau belum nampak mesti kita cari. “Merayakan kelahiran Panca Sila. saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. Amat keramas dengan air bunga. sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. seandainya saya Gubernur. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung.” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. mesti kita jadikan. “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. Kita kan sudah 350 tahun dijajah. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Jumlahnya masih lima ekor. Tetapi di gudang hanya ada ayam.dilanjutkan di plaza. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. Tapi tidak ada perubahan. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. Amat mulai deg-degan . Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu. Saya katakan pada waktu itu. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning. kita sudah biasa menghadapi bahaya. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. “Ami. tetapi karena sayang. Ternyata tidak ada. Di situ ia kecewa sekali. Amat melirik ke meja makan. Pak. “Nggak apa. lalu menggenakan stelan putih-putih. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. Sepanjang hari ia menyendiri. Bapak salah perhitungan hari ini. Sore hari. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. Tenang saja. Waktu Ami pulang dari kampus. “Tenang saja. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Tak satu pun yang disembelih. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. bagaimana pendapat saya.” Ami mengangguk tenang. Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. seperti masuk ke dalam sanubarinya. memaki-maki saya. Kalau dibantah. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. tapi ia tetap hidup di hati. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Tapi kalau tidak dibantah. Amat mulai tidak yakin. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. Koran meributkan pertunjukan itu. “kata Amat pada Ami. Jadi kita akan menghadapi bahaya.” . Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Kalau tidak ada juga. Sampai sekarang belum pulang. jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat.

” “Habis kalau tidak dipikat begitu. Dibohongi sekali lagi. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. menentang. Bapak mengerti sekali itu. Mereka sudah biasa dibohongi. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Makanya kalian semua cepat marah. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. di dalam diri. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan.“Tapi kita akan malu besar. Ia gugup. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. Ternyata di depan. Pak. bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. menggempur apa saja. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. tetapi dikembangkan di dalam rumah. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. Lagipula kalau manusianya pembohong.” Amat tercengang. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. turun ke jalan berteriak-teriak.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas. “O. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. mereka tidak akan apa-apa. Mereka suka. jarena itu mereka akan datang. Sekarang akan tambah bukti lagi. kalau berani berbohong. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga. burger atau fried chicken. Pak. Bangsa kita kan jago memaafkan. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut. Ia merasa amat bahagia. “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. . Malam hari. Ami tersenyum. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. “Tenang.

Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. “Apa itu? Aku belum pernah dengar. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu. Pak. Kami sudah menunggu. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. Yang kami dapat hanya pertentangan.” “Memang. Pak.” Bung Karno tertegun. bukan itu. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. “Kamu kurang sabar saja. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi.” “Itu namanya kurang sabar.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Pak. Kalau Bapak ada.” Bung Karno tersenyum. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. tidak akan begini jadinya.” “Itu namanya demokrasi.” Bung Karno tertawa.” “Memang. sejahtera. Pak. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya. Kami memberikan kesempatan. seperti pidato Bapak.” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. aman supaya kami tenang. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu.” “Tidak. kalau tetap ada mungkin sia-sia. Pak. Bapak saya yang suka wayang. Beda sekali dengan dulu. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. bukan menjadi lebih perih.” “Kami sudah mencoba.” “Baca dong Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna. Kami ingin makmur. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung. Seperti kata dalang dalam wayang. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah.” . kami juga perlu demokrasi ekonomi. lebih dari cinta.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya.” “Tidak Pak.” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno.” “Lho Bapak katanya kutu buku. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. kepercayaan bahkan juga dukungan.” “Tapi kami perlu Bapak. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik.

Gedung. kerbau dan burung atau pohon kelapa.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa. Kalau tidak ada kebanggaan. tapi hasilnya sama. “Bukan itu. menghadapi 20 angkatan murid. Semua anak diberi angka lima. Anak-anak mengadu. itu lihat sudah jam berapa sekarang. tidak bisa kembali. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. tangannya dipegang oleh Pak Amat. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. “Sudah siang kok ngelindur. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary. Sinar matahari menerobos masuk. Karena cinta Bapak tidak akan kembali.” “Tapi beliau bilang.. jangan hanya mimpi. Ternyata tidak ada yang berubah. Baru kalau kita bangga. lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Ami menutup matanya karena silau. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi.” “Ya siapa yang tidak. Dia jadi kesel. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum.” Amat tertawa.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. Selama 20 tahun dia mengajar. Ami. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Orang besar itu tidak pernah pergi. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Bapak harus pergi. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. gunung dan matahari.” Amat tertawa. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. Tapi waktu kembali ke mari. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. kita akan bisa bangkit. tetapi hati mereka masih sama. seperti di masa lalu. supaya kamu bisa tumbuh sendiri. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. Tetapi ketika dia berbalik. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. Juni kan bulan ulang tahunnya. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. tidak akan ada tenaga untuk bangkit.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. Tapi hanya itu. Kadangkala ada tambahan gubuk. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya.

” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. dipamerkan di dinding sekolah. Mestinya kan itu yang digambar. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. Setelah dilihat satu per satu. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur. Burung bangau waktu itu masih banyak. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. sawah lagi. Sudah banyak perubahan. Ada isu pemanasan global. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat.” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. “Sudahlah Pak Ary. supaya melihat kenyataan.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas..” Ary ingin membantah. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya.” “Tapi Bu. Ibu Kepala Sekolah tercengang. Aneh sekali. Harga bensin naik. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi. hanya menanggapi sambil lalu. Pak Ary. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. Bu. tetapi guru-guru lain mendukung. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Banyak korupsi. gunung dan matahari. Belum ada real estate.” Ibu Kepala Sekolah tercengang. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah. Itu juga sudah bagus. :”kata Ary menumpahkan perasaannya. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. Kalau mereka menggambar begini. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis. Bu. Saya kira ini baik sekali. “Mereka kebanyakan anak petani. Itu yang dia tunggu-tunggu.” “Betul. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Bu.”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. Dan sebagai guru wajib kita mengerti.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. yang digambar tetap itu-itu saja. Dari dulu sampai sekarang. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Ini adalah hasil percakapan itu. Ternyata tidak ada perkembangannya. Sejak listrik belum masuk. Saya dapat ide bagus. Mereka berdiri di sepanjang pintu.” Ibu Direktur mengangguk. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. Pak Ary. “sejak saya mulai mengajar di sini. Kerusuhan di mana-mana ……. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. . Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru. “Sebenarnya begini Bu. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu. ke desa kita ini. Ada pilkada.” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi.” “Nah itu dia. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme. Tidak berkembang. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. biar saja. “Maaf. sama saja.

Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. melirik. “Dengan dia. Tiba-tiba anaknya muncul. teringat kepada masa lalu. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. Saya minta malam ini juga. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. gedung sekolah ini masih layak pakai. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. kaget. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. heran dan sebagainya. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. terbelalak. hatinya menjerit. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Tetapi malamn-malam.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” . ” kira sampai 5 tahun ke depan. muka Pak Ary kelihatan muram. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. bibir dan kemudian pipi. Setengah jam kemudian para tamu keluar.. garis mata. Sehari sebelum tamu datang. Rapih dan terkendali. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam. Pak Ary pun terpaksa ikut. sementara ia sendiri dan murid-. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. semuanya beres. berantakan diinjak-injak. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Lalu ia menguji mulutnya berbicara.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. Hati saya langsung terketuk. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Dua jam kemudian ia siap. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. kemudian tertawa. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Bu. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. semua guru kembali dipanggil ke sekolah.Di cermin nampak muka baru. Ketika Anna senyum. masih bisa dipergunakan. Tapi waktu dia melirik ke koridor. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. Mereka mengangguk senang.muriod serta guru lain menunggu di luar.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. kandas..” “Jangan membantah. “Jadi menurut hemat kami. hidung. terkejut. Lalu ia mulai memoles. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak.

” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi. Bukan dia yang membawa Mama pergi. Kalau tidak ada dia. “Ini dia. Mama tidak akan mencium kamu lagi. pasti bibir Mama juga akan merah. “O tidak. kalau sudah selesai dandan.“Karena baju yang dipakainya juga merah.” Anna tertawa.” “Baik.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya.” “Memang. nanti Mama kesepian di situ. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya. “Lho kenapa?” “Nggak usah.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah. hati Mama cantik kan?!.” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Di situ orangnya . kan?” “Betul.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa. karena nanti dadanannya bisa rontok.” Anak itu berpikir.” “Kenapa?” “Sebab ……. Ya?” “Ya. Memeluk juga tidak. “Mama ikut?” “Ya dong.” Anak itu menggeleng.” “Bibirnya tidak merah. .” “Kasih da-da sama teman Mama. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya.” “Harus betul. kalau begitu Mama berangkat sekarang. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu. “Kamu cantik sekali.” Anak itu kehabisan kata. ia kembali memandangi ibunya.” “Makanya. Dia justru yang Mama ajak pergi.” “Tidak. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja.” “Tapi Mamaku tidak cantik.” “Kamu teman Mamaku?” “Ya. lalu berpaling untuk mengingat-ingat. Mama kan harus memberikan sambutan.” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik. Aku tidak suka pipiku kotor. kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor.” “Bagaimana kalau tidak betul. Kalau tidak betul bukan sejarah.” “Jangan hanya lihat muka.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.

” “Suruh dia saja.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Tetapi setelah satu minggu. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Kan orangnya cantik. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. Mama harus ke sana memberikan sambutan. Kepala Sekolah. ia lupa itu pakaian daerah.” Anna ketawa. apa sebenarnya missi Pak Ali. supaya pekerjaan Mama beres. Kalau pekerjaan beres. kontan memanggil. Pak. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. untuk seterusnya. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei). saya tidak ada missi apa-apa. Baru ketika Kepala Sekolah menegur. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani. apa?” Anak itu menggeleng.” “Memang. ia sempat menarik perhatian.” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa. karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu. Kalau Mama sendiri yang datang. Guruguru lain hanya pandang-pandangan.” “Kalau begitu. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. Tapi tidak ada yang berani bertanya.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Beberapa hari pertama. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian.” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan. “Pak Ali. Pak. Makanya Mama selalu bawa dia. mereka akan bosan.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak. Aku mau Mama di rumah. Pak.” “Tidak bisa.” “Katanya itu sejarah. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu. Para murid tercengang. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Di luar sekolah terserah Pak Ali. “Aku tidak mau dibeliin lagi.” Anna terdiam. “Maaf Pak. nanti Mama bisa beliin kamu …. dipaksa oleh orang tuanya. ia ke sekolah memakai pakaian daerah.” “Donat?” “Nggak.” .” Kepala Sekolah terkejut. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan. “Tapi hari ini Harkitnas sayang. “Karena dia cantik.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa..

Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti. “Saya sudah mencoba. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah. Tentu saja ia kembali dipanggil. Keplok tangan buat Pak Ali. lalu menaikkan suaranya. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. esoknya. Kita pintar membuat aturan. Setelah semuanya reda. Pak Ali. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. Pak?” “Tidak ada. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. tetapi tidak mampu melaksanakannya. Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya. ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Pak. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. “Anak-anakku semua para pelajar. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. “Aku guru. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. Tapi ketika Ali mau masuk. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. satpam langsung menahan.!” Ali tercengang. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Tapi karena dilarang.” “Tapi ini pakaian daerah. Kedua belah pihak ditenangkan. Pak. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk.” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. satpam cepat menghalangi. Meskipun tidak menjawab. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu.” Ali terdiam. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar. Kepala Sekolah. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. tiba-tiba ia ingin melawan.” “Bukan. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam . Saya hanya menjalankan perintah. sehingga semua aturan itu mubazir. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Tapi esoknya. militer adalah biangnya. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai.” “Maaf. “kata Ali kemudian dengan sopan. sehingga guru-guru yang lain mendengar. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. “Maaf Pak. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. “Tentu saja tidak. Kalau mau belajar desiplin. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Pak!” Terjadi ketegangan. Pak!” “Sama saja. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pak Ali. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah. Kalau di luar jam pelajaran.” “Tapi ini sekolah. “Maaf Pak Ali.Ali tidak menjawab.

memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar.” “Lho. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Tokoh sejarah. Sementara Kartini. anak saya sudah lahir. jangan hanya bergantung dari nama tok. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada. Bu. tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini. “Lagi asyik-asyiknya. pasti lebih bingung lagi. periksa dokter. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona. “Lho. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Hari Kartini baru saja lewat. selamat dan sehat. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. eh nyatanya cumakusir dokar. mau bapaknya supaya jadi orang besar. “Maaf. “Kalau belum siap punya anak. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu. Sebesar-besar Gajah Mada. kalau dia dididik dengan baik. Jelas. “Terimakasih Pak Amat. Aku memberikan nama sembarangan. apa artinya nama.. Jangan pakai nama itu!” . dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. “Bapak keterlaluan!” “Lho. Siapa pun kamu sebut dia. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong. Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Sudah sampai di mana kita tadi.” “Mendingan Gajah Mada. “Pak Amat. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Masak nama saja bingung. kenapa bikin anak. akan jadi apa anak itu kelak. Dia itu hebat.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. orang Sunda benci sama dia. “Tak usah nama yang muluk-mulul. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut. ada saja yang ganggu. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. Ia langsung menggapai.” Amat jadi salah tingkah.” Amat cepat berpikir. Saya belum punya nama. Bu!” “Memang. Itu namanya klenik. Amat kecewa berat. Bapak tidak tahu. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. Selamat!” Anak muda itu masih bengong. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. langusng menutupkan pintu lagi. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama. Nama itu bukan soal sepele. Nanti kalau beli susu. walau pun hanya bangsawan Jawa.

Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia.” Anak muda itu tertawa.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. “Nama Kartini itu bagus.” Amat bingung. Dan manusia tidak ada yang sempurna. “Sejarah harus diperbaiki kalau salah. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” . Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Hakekat perempuan tetap perempuan. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. kata RA Kartini.. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. “anak itu sudah kaulan.” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu.”kata Bu Amat. kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat. “Gus. What is a name. Penulis itu mendebat. ia langsung menyapa.” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak.” Anak muda itu terkejut. Kartini tadi datang menemui Bapak.” curhat Amat malam hari di meja makan.” Anak muda itu tersenyum. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini. Namanya bagus.. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi. lelaki tetap lelaki. “Aku kira dia tersingung dan menyindir.“Tidak apa Pak Amat. Ia merasa bersalah. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya. Ketika anak muda itu pulang dari klinik. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak. asal nyeplos saja!. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan. “Boleh lanjutkan perjuanganku. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan.” Amat terperanjat. Amat langsung mencecer. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.

“Atas dasar pikiran itu. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. Buat apa percaya itu. besok bisa bilang begitu..” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. mengganti yang salah dengan yang betul. Sejarah itu tidak ada yang baru. “Maksud Bapak. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. Ami?!” “Betul. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang. namanya juga sejarah. hanya itu lho. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. Amat merasa keki. keponakan kita itu. mungkin faktanya ada yang keliru. “Kok malah main mata. kalau yang dia tulis ini tidak betul. Kalau faktanya terbukti salah.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. Sekarang bilang begini. “Ya dia rajin. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang.” Amat langsung main mata sama Ami. jadi pikirannnya sinting. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng. “Sejarah itu bukan yang ditulis. Sambil senyum-senyum. “Nggak apa-apa. Kalau kita mau mengubah-ubah. Bukan apa yang ditulis. Semuanya sudah terjadi. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. “Ibu ini bagaimana.” “Bagus?” “Ya. itu namanya bukan sejarah. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain. Bapak sudah baca?” “Ya sudah.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. pantas dicurigai. Semuanya yang itu-itu juga. adalah yang benarbenar kejadian. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum.” lanjut Amat. penulisan harus dilakukan kembali. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. Tapi ketahuan. ” Tetapi berdasarkan fakta. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. akan sulit untuk dikembalikan lagi. “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. “Kalau bicara tentang sejarah. “Sejarah itu memang ditulis.” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. apalagi bertolak-belakang. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja.” Bu Amat mengernyitkan keningnya.”aku berpendapat. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. Ia masih penasaran. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab. ini bukan sejarah. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. . Pak Amat ditinggalkan. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak. tapi mau merusak sejarah. kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Sejarah itu. Dia mencoba minta bantuan pada Ami.

Sebelum TIM berdiri pada 1968. Cintalah yang membuat orang sayang. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. Kita hanya tahu separuh-separuh. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. jangan-jangan mereka benar. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. walhasil hidup. apa gunanya teater. tetapi . Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an. tetapi juga sekaligus benci. Tak berani ngomong apa-apa. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. Study Teater 24 dan Teater Mode. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Jantung Amat hampir copot.. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Walau Jakarta lagi banjir. teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru. karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. Teater tradisi. . Itu sudah seni laku. Jadi …. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu. teater rakyat. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar. macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali.” “Maksud Bapak. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik. di atas panggung. “Bukan begitu. tetapi juga karena ada kemungkinan. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . berdegup. Mereka begituj sibuk di tempat lain. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Langkah kecil pun menjadi kunci. sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. meskipun keponakanku sendiri. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. mengalami pasang-surut. Ponakan kita itu..“Jadi menurut Bapak. tanda sesuatu itu masih bergerak. mereka hadir. Bukan saja karena takut. memiliki seluruh wilayah tontonan. mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Bu. Didi Petet bertanya. “Kalau dia keliru. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. Bu.

Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. orang lupa menilainya. Ketika Teater Gandrik. karena itu memang bukan diskusi. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. level dan tata lampu. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. Sampai kemudian ATNI berdiri. Kalau tidak. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. Tetapi rasa cinta. Ketika Teater Populer membangun p. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. Semuanya itu langkah besar. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. mengangkat citra ketoprak. Karenanya perlu perhatin. Tapi walau tanpa persiapan. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. Tak ada gedung khusus untuk teater. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Ketika Teater Payung Hitam. referensik dan interpretasi.banyak kendala yang harus dihadapi. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan. Naskah-naskah teater mulai lahir. karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara.ublik teater. Tiga dasa warsa yang lalu. Teater Sae. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Tetapi sebaliknya. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Teater sering memberikan PR. Saya mungkin sudah mendramatisir. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat. pada kehidupan tater kita lemah. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Ketika STB menggali idiom Sunda. Teater hanya hobi. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Memerlukan kesabaran. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Ada gedung pementasan teater. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. keduanya melakukannya dengan bagus. . Ketika Teater Mandiri. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. tak harus dimulai dengan penampakan. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. disadari atau tidak. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Dan itu suka tidak suka. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. Tetapi bagaimana tidak. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Teater Kubur. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Dia adalah rasa. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Itu memerlukan waktu. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. semua penonton terpukau. Kemudian TIM berdiri. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. Ada fasilitas. perhatian masyarakat pun terpecah. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Dan sebagainya. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi.

kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. olahraga. teater kembali kepada hiburan. kekejian dan korban nyawa manusia. teater jelas kalah. Khususnya sesudah reformasi. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Bukan hanya di TIM dan GKJ. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. ketegangan. Dan sebaliknya. Situasi tertekan. Teater Populer dengan Teguh Karya. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. televisi. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. memang bila harus diukur dari kehebohannya. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Surabaya. teater tak akan berdaya. Melihat Yel di Washington State. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Seperti terhadap makanan. Pramana Pmd. teater sudah digelar. Djajakusuma). Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. radio. di mana-mana. demikian tulis salah seorang pengamat. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. ceramah. kasar. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. peradilan. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. Walhasil sebuah teater juga. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. Masing-masing orang. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. angklung dan reog yang dicaplok. di media massa. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Rendra.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. Sebagai sebuah suara. Banjarmasin. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. adalah sebuah suara. diskusi. Apa yang mendorong itu terjadi. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. pemaknaan . teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Apalagi Bengkel Teater dengan W. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto. di samping tak punya penyandang dana. membetuk model selera yang lain lagi. misalnya. Tak hanya kegaduhan. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. semua yang membungkam teater itu. 1990). Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. sidang-sidang wakil rakyat. Tapi jangan lupa. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran. tak akan mampu disaingi oleh teater. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. langkanya kebebasan berekspresi. Teater yang keras. tetapi juga terselip penjarahan. perenungan. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Suaranya pun masih ada. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. perbedaan selera itu sudah ada. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus.S. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond.

Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. asal Anda mampu meyakinkan orang. Sebagai akibatnya. pementasan Dongeng Dari Dirah. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. FTJ harus direbut dan dipertahankan. mati tak ingin. lalu diganti dengan kegiatan baru. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. Lho. PKJ TIM hanya pelaksana. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. telah merangkul seni pertukangan. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Bengkel Teater. Jalanan pun bisa. Konsep tentang apa itu karya. Ngeh dari Teater Mandiri. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . itu karyaku. Barat dengan seluruh pencapaiannya. terbengkalai. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. Machbet dari Teater Populer. Metha Ekologi oleh Sardono W. pementasan STB. pementasan Jayaprana. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Memang sayang sekali.dan penikmatan seni rupa. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Sampek Engtai dari Teater Koma. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata. Perkawinan Darah. segala yang pernah dicapai. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. Di dalam teater. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. Teater Garasi. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. tetapi mereka terus setia mengikuti . tetapi referensi. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. pementasan dari Teater Kubur. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Setelah 35 tahun. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. musik). jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Barjanji. apa yang sudah detemukan. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. Teater Gandrik dan lain sebagainya. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. lalu menjadi FTJ. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. pementasan Kapai-Kapai. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . Mega-Mega dari Teater Kecil. Teater Payung Hitam. Teater Kecil. saya melakukan pembelaan. Teater Sae. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. Antara lain yang amat penting. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. pementasan Aduh. 1968. Hidup tak hendak. Odipus. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. Sebagai sebuah sejarah. Hamlet dari Bengkel Teater. Kusumo. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Dalam kenyataan. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. pementasan Bom Waktu. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. Opera Kecoak.

Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. Dalam kualitas. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. Dalam sebuah keramaian festival. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. bergaul dan berbagi pengalaman. sudah menunjukkan kecendrungan professional. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”. Di samping ada kompetis. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. akan-akan karena masih remaja. misalnya. seperti interpretasi. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. Usahanya pun menjadi terbatas. Komitmen ala kadarnya. Study Teater 24 dan Teater Mode. pembelajaran. kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. volume dan angka.festival. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. menghambat penjelajahan. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Ini sebuah langkah yang sangat penting. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. perenungan. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. menjadi terus remaja. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. Dalam dua kali gebrakan. hasilnya konkrit. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. Di Jakarta sendiri. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Kendati kehadiran Teater Indonesia. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. masih ada riak-riak suasana tersebut. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Tak mungkin hanya kwalitas. pengembangan. pengemasan produksi. Padahal sejak awal festival. sadar tidak sadar. diolah kembali. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Kedalaman pun tak terjadi. pengemasan pertunjukan. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. tetapi kompetisi yang terbuka. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. kompetisi akan lebih keras. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang.

Dalam praktek pergaulan. produksi tidak mulai dengan kontrak.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. yang memerlukan pembelajaran. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma. rasa kekelompokan. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. cinta . Bahkan kalau perlu menghindarkannya.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan).yang professional. sayang maupun tak tega. meskipun atau . Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. Teater akan hadir sebagai professi. Untuk kerja besar dan berat itu. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. Uang bukan tujuan. Di satu sisi. mungkin tidak lagi akan terjadi. Solidaritas. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. namun tetap sebuah peguyuban. misalnya. sebuah seni pengelolaan (menejemen). Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. dan sanggup main berhari-hari. agar gerakannya semakin lincah. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Penonton menjadi raja. Di sisi lain. Tantangan itu akan membawa suasana baru. untuk menyudahai perkara. Yang ada adalah pekerjaan. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. Tetapi dalam kenyataannya. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). jitu. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium. juga gagasan dan wawasan (ilmu). → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Teater Koma dan Bengkel Teater. Diberikan kepada kesalahan. Uang akan menjadi sangat penting. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Seseorang mungkin memaafkan. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan. apabila itu menghambat. tanpa suatu ikatan yang ketat. FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. bebas tetapi terkendali. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. mengabdi dan mungkin dimaki-maki. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. karena didorong oleh perasaan kasih. tidak lagi ingat kepada sesuatu. Dengan melupakan. sehingga seseorang menjadi alpa. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa.

. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Demi persaudaraan. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. individu bukan lagi pribadi. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. tidak lagi terbebani. dilupakan sumber sebenarnya. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. tanpa ada perasaan rugi. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen. konon adalah penderitaan berat 3. Bergotong-royong. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. apa yang salah. Namun melupakan. Pada ujung-ujungnya. tidak sebagai kesalahan. Di dalam peguyuban. dikendorkan. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Dan sebagai konsekuensinya. tapi hanya ingin melenyapkan. jadi lebih baik melupakan saja. Sejarah adalah kita sendiri. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. melupakan tak pernah mengampuni. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. tetapi oleh orang lain. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . Dan karena sudah dikeroyok bersama. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. menolak kehidupan nyata.5 abad. bila tak ada pernyataan secara formal. Peristiwa tersebut dilirihkan. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Walhasil menghalalkan cara demi acara. prasasti. Kita mengenal asas gotong-royong.padahal. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. meskipun itu adalah fakta. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. Masa pendudukan Jepang. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing. risih apalagi bersalah. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan. hubungan kekeluargaan. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. belum tentu begitu maksudnya. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. tetapi satu paket dengan orang lain. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. Dokumentasi tak diurus. digemboskan. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. sehingga ia bebas. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. padahal harganya tak ternilai. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. Tetapi di belahan yang lain. Tapi di pihak lain.

tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. juga di mana. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Membohongi diri sendiri. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. Di dalamnya terkandung kiat. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. Sebuah kata. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. digantikan dengan keseragaman dari pusat. kapan. kembali dihidupkan. Satu pihak tegas menolak. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. tidak hanya mengandung pengertian. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak.tetap mengandung misteri. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Kearifan lokal yang unggul. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali. Misalnya saja. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. memang hanya dua. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. kata-kata itu dipergunakan. tetapi juga bertaburan rasa. pihak lain tegas . Beberapa di antaranya mencoba bertahan. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. terhadap pertanyaan tersebut. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. → 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi. Apakah memaafkan dan melupakan. Tetapi berbeda dengan norma. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. sampai ke masa yang akan datang. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. tergantung dari konteksnya. Kearifan yang yang tidak unggul. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. gemar cipoa pada orang lain. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. Memaafkan dan melupakan. . tetapi justru penggganggu. dalam keadaan bagaimana. timbul perdebatan. menjadi semacam falsafah kehidupan. Sementara kearifan lebih pada akal saja. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. desentralisasi pun dipacu.jadi penipu. pada semua kata. juga awam pada umumnya. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Dalam alenia di atas.

Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. “dan atau” mengandung keraguan. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. Pak?” cecer Alung. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. Kalau ini benar. Karena keterbatasan juga berarti lentur. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. yang saling bertentangan. tetapi juga secara hukum. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Petugas itu menjawab tegas. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. menanam pohon-pohon yang sudah langka. Di alam resensi sebuah pertunjukan. Semua orang. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. misalnya. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . Dalam alenia di atas. Tidak laki tidak perempuan. Juga tidak umum dalam bahasa formal. cukup baik sekali. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. supel “dan atau” fleksibel. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan . “dan atau” dipakai. tidak membedakan jenis kelamin pelaku . dipastikan berstatus tertentu. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum. Atau tidak mampu menilai. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita. Pak Alung. Tidak kecil dan tidak besar. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense). “Betul. masih belum sempurna sekali. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. Dulu di Ancol banyak. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. walau pun itu bukan milik kita.minta diteruskan. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. ya atau tidak. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka. tak bisa diperdebatkan lagi. Ya dan tidak. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. sering sekali masih kurang siap.

mana makanannya kok habis. biarin saja habis. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Pak. aku juga tidak akan tahu. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. kedele melonjak harganya. Karena sembari ngoceh.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Para nelayan kehilangan nafkah. tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. segalanya bisa masuk dengan ramah. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi. “Nah bener kan. Bu Ane ketawa. tapi kami nanti jadi langka. lelaki itu terus saja makan. Ani yang pulang telat. “aku ini keturunan petani. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. “Sudah jangan marah-marah. tangannya memegang koran. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. Begitu kelakuan anakmu itu. seakan-akan sudah puas. Kalau ada banjir. “Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah.” . “Wah kalau sayur lodeh sih. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Ayo makan. Ibu kesel. “Dan kalau aku tidak tidur. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Dengan memakai humor seperti Srimulat. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Masak sayur lodeh lagi. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. bingung. “Bu. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. lama-lama akan jadi pohon langka. Eh tahu-tahunya habis. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar.” Ani menggeleng. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Mukanya menghadap ke layar televisi. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. nanti masuk angin.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. Maka arus air berubah. Amat sendiri diam saja. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. karena tidak ada sisa makanan. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi.” “Jajan apaan. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. Ibu sembunyikan. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. katanya. pasti akan langka.karena diuruk. tetapi ia tidur pulas. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. sayur lodeh lagi. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Bayangkan saja. Kalau tidak ada ditanyakan. sampai tambah 3 kali. “Dihabisin babe ya?” “Ya. Masih ada sisanya.

Ayo ambil!” Bu Ane ketawa.” “Nah. Ia jadi kasihan. Sekarang dia seperti orang ngidam.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. jangan tidak usah!” potong Alung cepat. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. lokasi.”kata seorang pengamat. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. Itu tidak betul. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya.” “Memang apa yang baik dibaca. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain. seperti yang diakui oleh pembuatnya. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Meskipun bukunya keluar duluan. Tapi ngomong-ngomong. “masak tiap hari sayur lodeh. Kendala waktu. Bu Ane melirik suaminya. Semua orang akan langsung mengopy itu. sudah malam.” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya. Mereka adalah lapisan penonton baru. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek.” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. biaya. Mereka sudah lebih kritis. “Ambil apaan. sejuk. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan. Kata-katanya yang indah.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” . Ah.” “Habis. Ambil Bu.” “Tidak. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya. nggak bisa dipakai ukuran menilai.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan.” “Tapi gua bukan jenis itu. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. tandas!” Alung meneguk air liurnya. tidak selamanya baik ditonton. Ya tidak?” “Ya. “Ya sudah. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. sayur lodehmu sekali ini enak sekali. Mereka ingin yang terbaik. tidak keluar dalam gambar. itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri. niknat. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton.

Orang yakin kalau Slamet meninggal. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. tetapi didorong kebiasaan. “Bu. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. kamu tidak bakalan punya rasa. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah.“Biar berjuta-juta orang memuja.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Kalau tidak bisa satu. Jadi rasa tidak begitu saja ada. tapi menurut gue.” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. Kalau tidak ada sebbnya. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka. Memang nggak doyan aja. Semua bilang itu novel hebat. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan. Bukan mau menentang arus. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. Pak Harto. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. “Jawab dong. biar puluhan kali cetak ulang. makanya dibuat film. . Lalu Slamet berunding dengan istrinya. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno. Bung Hatta. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. Orang bilang bir itu manis. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. tertegun. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. pejuang kemerdekaan. karena dia sudah biasa minum. dimakamkan di luar makam pahlawan. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Doi juga ikutan. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Biasa-biasa saja. Ia tidak langsung menjawab suaminya. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga.

Bapakmu ini selalu ragu-ragu. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan.” “Tapi aku bukan pahlawan. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. aku menyerah. ternyata itu tidak cukup. “Jelek-jelek begini. terutama berhadapan dengan ibu kamu.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. Masih ada Bapakmu ini. Pahlawan karbitan. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun. Aku tidak. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. Kendaraan tidak ada. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. Biar orang-orang itu melihat. tidak berani membuat keputusan. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. Pada kesempatan yang baik. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan. penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. “katanya. Mereka punya naluri dagang. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. Kepada ibu kamu. dengan segala bintang jasa. Kita tidak punya rumah sendiri. tapi jadi pedagang saja. Kamu dengar itu di Bali. kepada keluarga besar kita. Anak-anak terpaksa menyerah. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. Jadi Bapak sedih. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. kok masih mampu menolak kehormatan .” “Pak. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. jangan sok membuang-buang kesempatan. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. Akibat bapak tidak punya kedudukan. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. Pahlawan kesiangan. aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi.” “Ya apa pun namanya. Satu pihak setuju bapaknya. Aku ini keturunan abdi dalem. Coba kritik bapakmu itu. seperti teman-temanku yang lain. mengabdi. Dia tidak mengerti apa mauku. yang lain kontra. sekolah kalian semuanya putus. Untung ibunya datang dan langsung membentak. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya.

Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. Yak kan?” Ami berpikir. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. jangan salah sangka. Dan aku menegaskan. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. jawab tidak tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Lihat itu Pak Slamet. itu kan urusan di sana.” “Ya sudah kalau tidak tahu. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Ami tidak menanyakan itu. ia baru menoleh paa Ami. Begitu maksudku. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. Tidak! Tetapi justru menambah. tidak masuk surga semua. Besar kecil upakara. Setelah istrinya masuk kamar lagi. Tetapi bukan lantaran menyimak. setelah perang Bharatayudha. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. “Aku tidak tahu. Jadi …. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. Kita tidak mungkin ikut campur. tidak menjadi ukuran. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. berlangsung spektakuler. Amat tertegun. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. karma yang akan menjadi ukuran. Media massa nanti pasti akan heboh. “Bapak ini suka bertele-tele. lalu menjawab lirih. Karma almarhum adalah ukurannya. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. siapa saja. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Semua orang akan memuji. Di sana.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. “Bukan Bu. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. jawabnya. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. di dalam pewayangan diceritakan. urusan di sana. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan.” Bu Amat kecewa. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. “Ami. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda. tidak. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan.

“Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. “Kata orang tua saya.” Ami kaget. tidak semuanya kita ketahui.” Amat terkejut. sambung para petugas spontan. kita sama-sama tidak tahu. Pasti tepat. Apa yang di sana akan berubah kalau. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. “Betul. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat.“Ya karena aku tidak tahu.” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga. surga itu di dalam hati orang lain.”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas . “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. karena tidak dibukakan pintu kamar. yang ada di dunia ini saja. “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. “Begitulah kita di dunia ini. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. itu surga. Ia menutup pintu keras-keras. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan.” Bu Amat yang sekarang tercengang.” “Bohong!” Amat terkejut. tetapi kemudian senyum. lalu masuk ke kamarnya. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. jangankan dunia sana. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum.” “Harus setuju. lalu keluar. adalah bapak pembangunan. presiden Indonesia selama 32 tahun. “Kita lupa. Amat hanya tertawa. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja.” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu. sehingga Bu Amat kaget. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. Mau betengkar bagaimana lagi.”komentar seorang . Sebenarnya aku punya pendapat. Pak. kecil ikannya!”.

Kita boleh dan bebas berpendapat. Dan kalau bapakmu memang baik. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. Upacara sudah berakhir. wakil presiden. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. meskipun keki. Tidak curang dalam soal uang. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. tetapi kalau mau obyektif. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. mesti berani menerima. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Keluarganya pun tak lengkap. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Di antaranya presiden SBY. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. Jepang dan Singapura sendiri. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Tapi ibu memaafkannya. terpaksa Franky dan ibunya pindah.” Tapi setelah itu.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. karena suka perempuan. “Tak pernah merecoki orang. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. karena memang itulah kelemahannya. Franki termenung. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.pengamat. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. “inilah demokrasi. Malaysia. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Orchard Street. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno. Kalau bapakmu karmanya memang buruk. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. “Bisa jadi ada cacadnya. Tidak. Sedikit sekali yang mengantar. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Kalau kalah suara. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat. Upacara berlangsung megah.”kata Ibu Franki. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. Walhasil. “kata Franki kepada istrinya. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Amerika. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal.” Franky melihat kembali ke layar kaca. layaknya kepergian seorang raja. Hanya saja ia memang agak nakal. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Pensiun pun belum. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. untuk apa mendapat tempat yang baik. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. Entah siapa yang mengirim. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. SMS lain muncul lagi dari Jakarta. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Ibunya hanya menjawab. Tak ada yang merasa sedih. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. terasa positip.

“Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Dalam rangka memerangi pemanasan global.sauara . Ibunya setuju. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. Coba baca. dipakai main juga tidak pernah. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri.”kata Amat berkali-kali. wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun. Dengan berolahraga bersama-sama. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. Amat marah sekali. “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. . Tak sampai satu jam. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. Kalau Bu Amat sudah mendukung. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami. Ia terduduk kelelahan.residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Pak. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. Dengan berat ia mengayunkan pacul. “Untuk apa lapangan badminton. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Sekarang semuanya itu akan berakhir. lalu masuk ke dapur. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global. apa pun suaranya akan tenggelam. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global.. Mau jadi juara All England. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan.

padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Amat pura-pura tak mendengar. Dia yang bikin rusak ozon. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. hampir separuh lapangan sudah tergarap. Tapi mukanya menahan marah. sekarang dalam tempo dua jam. tidak apa. Ia hanya menjadi tambah sedih. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. Amat hanya tersenyum. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. Lalu datang istrinya. Heran sekali. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. Sampai sore. Tetapi heran juga. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. pagi-pagi Amat sudah bangun. Jepang. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. Kalau tidak. Tentang pemanasan global. “Yah. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. tomat. ketika ia mengalah. kita bisa malu!” Amat takjub.. . karena sudah terlanjur. Kalau pikiran kita hijau. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. anak-istrinya bukannya tahu diri. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul.” Anak muda yang lain. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. Sehariann ia termenung. “Sudah Pak. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. kalau Amerika. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. “Bagus Pak. Lebih banyak karena kecewa. memandang dengan kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. anak muda itu mengangguk. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. “Sudah. Esoknya. tetapi di d alam pikiran kita. Pak Amat. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. sudah Pak. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Dia tidak bisa ngomong. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. lalu istirahat. malahan tambah menjajah. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. kita yang disuruh kerja. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Sebelum Amat menjawan. kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. Amat mengangguk. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan.

Jajang C Noer. gesture yang salah. Penataan panggung. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. ekspressi yang datar. . mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. Kelompok yang sudah hadir gemilang. kembali berkobar. sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Seno Joko Suyono. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. Danarto. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan.“Ya sudah. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. harus bertekad untuk tampil maksimal. Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. tetapi tak urung menjadi tantangan. telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. Radhar Panca Dahana. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). Yang akan tersaji hanya bentuk semata. kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. antara tanggal 21 s/d 30 Desember. Yang pasti. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ).

apakah itu komedi atau tragedi. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. asal tetap sesuai dengan tema festival. Namun di atas semua catatan-catatan itu. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. pilihan bentuk artistik. Selamat berjuang. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. pola pemeranan. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. keras bahkan berteriak namun tidak jelas. peran sutradara amat penting. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. Jakarta. artikulasi kata-kata tidak jelas. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. volume suara tidak memadai. tetapi juga pemimpin kelompok. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Demikian catatan kami para juri. Realisme ternyata tak pernah mati. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. sangat menentukan hasil akhir pementasan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. Barat tetap menjadi referensi. sampai pada memilih naskah. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 . Pemahaman terhadap naskah. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. apakah itu naskah realis atau non realis. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya. membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. Di sudut lain.

tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. keluarganya tidak percaya. saya bedah mayat itu.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. itu tidak berlaku.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal. baru dibawa ke Puskesmas. tidak ada gunanya. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. dalam bayi tabung. Biasanya pasien parah langsung diinfus. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. “Pak Dokter harus tolong kami. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. manusia tetap mati. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Kalau yang sakit sudah sekarat. tidak akan terlambat. Dia itu kepala keluarga. Pada suatu malam. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. sehingga ketika maut tiba.” “Makanya keluarkan ular itu cepat. Tetapi di dalam hutan. masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. sebab orangnya sudah meninggal.” “Terlambat bagaimana. karena saya dokter. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . Ketika sampai di Puskesmas. Disaksikan keluarganya. tidak bisa bayar. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. HIV. Bagaimana pembuahan di luar rahim.

Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. ” kata saya menunjuk pada mayat. Paling berapa kilometer. Kasihan keluarganya. Lalu saya buka pintu. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. ingin tahu apa hasilnya. berhasil atau tidak?” “Berhasil. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Saya bingung. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kalau Dokter cepat bertindak. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Pagi-pagi pintu digedor.. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya. Mereka semua nampak bimbang. Saya terpaksa menjadi dukun. tak percaya apa yang saya katakan. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. tapi tidak ada yang mau. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu.” “Ah.. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. tidak cuma ngobrol. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Dukun sendiri malah mundur selangkah. berdoa dan menyanyi. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Bilang saja terus-terang. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. . Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.” Mereka tercengang. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba. Wajahnya meringis kesakitan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. jangan terlalu banyak diskusi. Ada yang menangis. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur.” “Terus hasilnya?” “Itu. kau lambat sekali. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Dukun pun terus menjalankan upacara. apa itu itu artinya lumayan. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Saya rogoh saku. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Saya berikan ruang agar mereka lewat.

lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. atau apa sajalah namanya. lantaran saya sama sekali tidak siap.” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah.. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan.” “Tidur?” “Ya. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. dengan bahasa yang mereka pahami. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. saya langsung kelelap. Badannya penuh dengan luka parang. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. karena aku sudah lelah sekali. ia menghitung.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup. yang lain menghampiri mayat. Termasuk cincin pemberian ibu saya. mengeluarkan duit. karena saya sudah terlanjur dipercaya. Kalau saya tolak. “Kata dia sebelum tidur. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. berikan ini kepada istri. Begitu kejeblos. tenang semua. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Beberapa orang menyanyi. Mereka curiga. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu.. Diendus-endusnya dari jauh. kalau saya runtuhkan lagi. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. Mengulur semacam pelipur. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. biarkan aku istirahat sekarang. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Setiap kali mengobati mayat.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. bisa jadi konflik. Setelah dukun mengeluarkan mantera. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. sekarang sedang tidur. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Sampaikan kepada mereka. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Tidur untuk selamanya. mereka lalu bergerak. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan. Rombongan pengantarnya banyak sekali. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. . Pada suatu malam.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. Tidak. berubah menjadi pengurus orang mati. Bahkan sampai tiga kali. minta agar saya mengobatinya.

tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. longsor atau letusan gunung berapi. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya. “. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Itu mustahil. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. Otaknya rusak juga tidak apa. sekarang menghajar saya. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Dokter. Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. banjir.. Tolong hidupkan Bapa kami. asal hidup. tapi cintanya palsu.” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul.” “Kami tidak mau hanya usaha. “kata putra kepala suku. tapi nyawa tidak mungkin.Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas.. boleh kocar-kacir karena kebakaran. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. tetapi mereka tidak peduli. Saya sudah berpurapura jadi dukun. Saya benar-benar cemas. “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. gempa. asal dia bisa hidup lagi. Kalau dia mati. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. Kami semua ada karena dia hidup. kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak .” “Saya sudah berusaha. kami bisa tunggu. “Kalau satu hari tidak cukup. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. boleh mati karena wabah penyakit. Subuh. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. agar bisa nyambung dengan masyarakat. Kepalanya bisa saya sambung. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu. Dia cinta kami semua. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. tetapi ternyata tidak cukup. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. karena kalau sampai dia mati. Apa artinya orang-orang ini. “Sebelum perang.” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Banyak di antaranya yang terluka. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. Mereka pasti akan kecewa sekali. Bapa saya itu raja. “Kehormatan buat kami paling penting. Kami mau ada hasil!” “Tapi . Lebih dari itu. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Bapa saya itu lambang. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. kami semua akan mati. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan.

“Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. Saya bukan lagi dokter. Kalau kalah. “Pahlawan tidak pernah mati. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dan itu berlangsung lama.”kata Kleng berkoar di jalanan. kalahlah dengan indah dan gagah. Anak kepala suku itu menghampiri saya. Lutut saya tambah lemas. tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya ketakutan. Sejak itu bukan orang mati. mungkin akan jauh lebih berguna. Tetapi kemudian semua meledak. Sedetik hening. Mereka melolong seperti binatang liar. Teriakannya membuat semua terdiam. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib.. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. tidak terkabul. Di laci. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. Kalau saya harus mati. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. Saya genggam besi itu. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. itulah satu-satunya pegangan saya. Orang-orang lain pun tegang. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Apa pun yang akan terjadi. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. pisau atau barang tajam lainnya. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas.” Anak kepala suku itu kaget. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Saya gemetar. tetapi cepat saya gapai lagi. Anak kepala suku itu sangat kcewa.mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. supaya musuh dapat diberantas. hangat nafasnya membuat saya tersiraf. tidak. saya tidak mau mati terlalu konyol. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. bersorak gegap-gempita. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Lalau entah darimana datangnya keberanian. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Mereka tidak hanya mencari obat. pesan orang tua saya waktu kecil. Besi bendera itu terlepas. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. saya menyerah. Masyarakat marah melihat para pemimpin. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. daripada membela kebutuhan rakyat!” . tetapi terutama kasih-sayang. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. ada orang sakit yang mati. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Anak Kepala Suku tertegun. Harapan saya ada gunting. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. saya berbisik. . seorang penduduk di wilayah Ciputat. Dengan panik. Namun Kleng. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Tiba-tiba saya melihat peluang. Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Saya tak sanggup lagi bicara. Mukanya langsung keruh.

” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes. “Tidak. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak. bukan rakyat yang salah. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak. “Lho saya boleh pulang?” “Ya.” Kleng tak bergerak. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu. Sekarang karena sudah jelas. kami bisa menjelaskannya. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat. agar kalau ada pertanyaan. Tapi itu bukan teriakan-teriak. Kemudian dia berbicara dengan temannya.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab.Esok harinya. Ia nampak bengong.” “Berarti saya bebas?” “Memang. “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya. Kleng dipanggil ke pos polisi.” .” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul. rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir. Kalau ada kesalahan. Sudah cukup.. korupsi. siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat. Pak. “Ya.” Petugas mencatat. sudah cukup. Kleng bingung. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul. “Silakan. Kecuali kalau ada yang lain. kejahatan birokrasi yang semakin licin.”. Kemudian dia menggeleng.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin. kemacatatn jalan raya setiap hari.” “O ya?” Petugas itu mengangguk. Saudara boleh pulang.

reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. Makin lama. meskipun dipelihara. keroncong. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. seakan-akan itu bukan urusan mereka. Benar tidak?” “Kalau itu memang. Tapi saya tidak mau.” “Lho ini kenyataan.” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu.” Petugas mau mencatat. tapi ……. Baru kalau kepalenya sendiri digondol. akhirnya ia mengomel pada Ami.” “Hanya itu?” Amat berpikir. tidak usah susah-susah bertapa. sama saja dengan kendaraan. sebab aku masih ingat. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. Lihat saja ketika hak cipta batik.” “Tidak ada tetapi. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. Rasa Sayange. kurang waspada. pejabat-pekabat kita tidak peduli. Pak Amat ingin menyepi. . “Ah kalau cuma maunya itu.” Amat tak bisa membantah. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan ……. perpecahan. pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Ya bukan hanya Ibu kamu.” Bu Amat tak sabar. Kamu sendiri sering bilang. Tanpa kepribadian. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. ada tiga sekaligus hari ini. bukan semua kita!’ . tempe. Nanti jawaban satu nusa. kita semua manusia begitu. Ami. Yang pertama protes adalah Bu Amat. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.Kleng menggeleng. menghayati kembali apa itu Indonesia. Bapak juga. “Saudara boleh pulang.. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya. tetap saja makin tua makin merongrong. tidak tidur dan tidak makan dan minum. Begitulah manusia.” “Ya saya tahu.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor. perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. untuk membunuh Niwatakawaca. Kalau semua orang seperti ibumu itu. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila. saya dipanggil. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD.” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin.” “Iiih kebangetan. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati.

Ami juga sudah pulas. Ia marah. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. Masalahnya sama. Begitu tamu pulang. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Tiga jam semuanya baru terkuras. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi. kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. Tetapi sial. Ia manjakan istri dan anaknya. Pulang ke rumah. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. Coba kritik Ibumu. Itu bukan silaturahmi lagi. mulai kesal. ada empat acara pernikahan. baru hendak melepas baju batik. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya.“Ah sama juga. seperti kambing congek Amat salam-salaman. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah. Tempatnya berjauhan. tetapi siksaan. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Amat dengan sabar melerai. Untung Amat tidak terlambat. Tidak pernah menuding orang lain. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. ketika Amat masuk ke dalam rumah. tetapi kakinya hampir copot. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Ia lebih banyak menyesali . Bu Amat tersentak bangun. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. jadi lebih sering ngelayap. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak. Mula-mula Amat tidak mau. Amat selalu dianggap sebagai kunci. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. apalagi pintu rumah diketok tetangga. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. badannya rasa hancur digiling. Tapi ternyata bukan tiga. Ia sudah menghunus parang. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Tidak ada apa-apa di situ. gembos dengan sendirinya. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. Biasanya kalau Amat datang. tiba-tiba datang tamu. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. kemudian perdamaian dimulai. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi.. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Dari pagi hingga malam . Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal. begitu membuka tutup nasi di meja makan. untuk melerai. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Amat kecewa lagi. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Ia dengarkan keluhan keduanya. Sampai di rumah. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. Sudah lewat tengah malam. sekarang perutnya keroncongan. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Air matang pun habis. karena kesal melihat ulah suaminya. lalu keluar. Tinggal Amat sendirian. kata-katanya juga sama. Ia tidak pernah marah. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. tapi ketika terdengar suara perkelahian. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. langsung minta Amat keluar.

“Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. Amat duduk terhenyak. Amat bangkit dari kursi.” Amat membuka mata. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Bapak kok tidur di luar. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. “Apa?” “Ah nggak. sebagaimana biasanya.” jawab Bu Amat. Tidak dingin?” Amat menggeliat. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. “Aku bertapa. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. menahan perasannya. seperti seonggok kayu yang tumbang. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar. Tanpa seorang penonton. Usiamu bertambah. ia masih saja cengeng. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa. aku sudah merasa cukup lega. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Tetapi ternyata balasannya tak ada.kekurangannya sendiri. “Ya. keluar ke teras. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . Setelah menangis dalam. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. bapakmu kan memang maunya bertapa. Lampu kamar belum dimatikan. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Malam bagai mendengar. “Aku tidak lulus. jadi waktu semalam ia masuk kamar. Ibu terus saja pura-pura tidur. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. “Ya hanya kamu temanku. Kasihan pada dirinya sendiri. Biarlah tak ada yang mencintaiku. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Kemudian datang malu.”keluh Amat. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. sepi. Ia tidur mati. “kata Ami. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Aku ternyata sendirian. Lalu Amat tersenyum. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Kelihatannya sangat nikmat. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Hanya kesunyian yang masih terjaga. untuk dikeluarkan lagi nanti. Amat merasa lebih lega. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. kesal. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. Amat merasa dinina-bobokkan. Bahkan ketika mulai punya pacar. Tiba-tiba mendesak rasa haru. Sekeliling sepi sekali. terhanyut begitu jauh. Tetapi setiap kali tahun baru. Aku tidak mencari panah Pasopati. Setua sekarang usianya. “Sebab aku bukan Arjuna. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam.” “Kenapa!” Amat tertawa. ” tapi apa boleh buat. ” bisik Amat dalam hati. Tapi tak bisa. Ia memandangi istrinya lama. asal masih ada kamu yang menyapa. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. pengalamanmu semakin banyak. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. “Kasihan Bapak. Baru beberapa menit duduk. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Amat menangis.

itu tidak penting lagi. “Boleh. . Tetapi begitu sampai di dalam. bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. menarik kursi lalu duduk. . kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. aku ingat.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir.” “Ya. “Ah sudahlah.” “Bapak lupa. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. Arjuna kan doyan kawin. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan.” “Untung?” “Ya. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab. Rumah nampaj berdandan. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Pak. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Kamu nampak lelap sekali.cemburu buta.” Amat hendak terus ke kamar mandi. Kopi panas.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat. Kemudian ia meraih pisang goreng. “Cukup gulanya.” Amat bersenandung mengikuti lagu. Untuk apa bertapa. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. “Tidak ada. Juga ada buah-buahan. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan. pacaran lagi……. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Matanya terpejam karena nikmat. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring.” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. akibatnya kita jadi tidak peka.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. karena Bapak bukan Arjuna. aku tidur di luar. Ibu memang beruntung. tetapi karena kita tidak tahu. Jadi karena takut mengganggu.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur.” “Tapi aku belum mandi. Kalau tidak. Bu Amat dan Ami nimbrung. Akhirnya ia menghampiri meja. buta dan merindukan yang lain. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. ia terkejut. justru bangun-tidur minum itu sehat. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa.” Amat ketawa malu. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren. bangun tidur. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan. “Minum saja dulu. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. “Aku untung kalau begitu.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. “Ya.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Meja makan memakai taplak baru. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.

“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan . Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. apa yang mereka lakukan. “Terimakasih. hari ini tidak usah. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. yang bebal. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.” kata Ami memberikan ceramah. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren. “Lho bukannya. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Dulu siapa yang mengidap AIDS. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. “Sudah dibatalkan.” Amat terkejut. “kalian sengaja melakukan itu.” Tiba-tiba Amat terpagut. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya.”lanjut Ami menyambung ceramahnya. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.”kata Amat seperti disambar petir. buta. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar. betapa cantiknya hari itu. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. alah bisa karena biasa. di depan sejumlah ibu kampung. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku.” Amat menggeleng tak mengerti. Tetapi Amat jadi begitu terpukul.”bisik Amat. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Tranfusi darah. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. khususnya di kalangan kaum homo. “Kan sudah kemaren.” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini.” Amat mengernyitkan dahinya. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh.” “Tapi sesuai dengan pepatah. “karena terlalu sering didengung-dengungkan. Amat terpesona. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS. “terimakasih.. “Astaga. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti.

adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. tetapi kehilangan otak. “Aduh. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan. tidak punya rasa malu. . Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. bukan lagi AIDS. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. bukan lagi HIV. orang akan bangkrut dan mati. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. juga kehilangan kesejahteraan. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. Moral kita sudah jatuh. “Sekarang yang paling berbahaya. Sekarang malah diundang berceramah. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. yang paling mengancam kita. kalau dalam usia semuda kamu. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu.” Amat terkejut. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. yang nomor satu ditakuti. Semuanya mengucapkan selamat. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir.” Mata Amat semakin membelalak. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. tetapi tetapi seluruh bangsa. tidak punya harga diri. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Tanpa kedudukan. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami. Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. “Wah. “Mereka bilang begitu?” “Ya. yang belum menikah. tidak peduli kepada kemanusiaan. “Apa ceramahmu gagal. “Kamu bilang begitu?” “Ya. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah.dengan masyarakat.

Bapak juga sama saja. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan. Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. isi ceramahmu bagus sekali. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. benar juag komentar ibu-ibu itu. Ternyata benar. Lalu bergegas keluar. untuk mendengar sendiri secara langsung. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. Hanya saja karena orang sederhana. “Kalau begitu. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. “Kenapa Ami. pujian mereka kepada Ami. Bukan hanya ibu-ibu itu saja. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini.cantik lagi. AIDS sudah dianggap enteng.” . ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik. mereka tak mampu mengucapkannya. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. bukan yang kamu katakan Ami. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->