Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

” “Bapak minta maaf dan pulanglah. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak. bisa terjadi perang. bukan hanya masalah orang Bali. Ini bukan hanya masalah tari pendet.” “Ngapaian bijak.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. Kalau tidak. Jadi Ami harus marah. Masak diam saja. Itu sebabnya Ami marah. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut. Karena kalau presiden marah. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras.” “Tidak. Bapak tidak boleh ikut marah. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali. Kalau begitu kamu dewasa Ami. jadi kita harus menghormatinya. karena tetangga kita mantunya Malaysia.” “Tidak. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . Betul. sekarang baru tari-tarian.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. bisa-bisa mantunya tersinggung. sopan dan santun itu ada batasnya. Dengan menekan perasaan. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. “Bagus. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. “Bapak tidap perlu minta maaf. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. kalau kita diinjak-injak. orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung.“Tapi melarang!” “Memang. Bapak bangga sekali. mantu tetangga kita.” Ami mengangguk. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. Sekarang mari kita pulang. Tapi harus ada yang marah. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. Kan sudah berapa kali kita dihina. “Ami. sama juga dengan budak. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Kalau Ami pulang. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. kalau kita diam saja. “Jadi kamu mengerti. anak kita marah-marah sama Malaysia. karena kita adalah bangsa yang santun. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. kata Ami. Kalau mereka dengar. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. Bapak tidak usah minta maaf. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. Amat menyerah. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan.” “Kenapa?” “Karena Ami marah. Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Bijak. Boleh marah.

bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. “Yes!” Tak puas hanya memekik. “Sabar Pak.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. yang membuat telinga merah. “Maksud Bapak. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot. Amt kemudian menggebrak meja. tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. Ia kemudian mencecer. melempem. ia membuat seluruh kebijakan. alias tidak melempem. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. tapi isinya. si maniak kopi. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. pasrah. ia akan terus bertahan di Yogya. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. Mempertahankan tradisi itu. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. sehingga esensinya. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . tersimpan niat yang mulia. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. Ia ingin mencuci kembali tradisi. “Banyak orang tersinggung dan kaget. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang. Tak sabar. Menampik budaya kota. Ia berseru. bukan kulitnya. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu. malam Jum’at.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an. berjanji. Sama sekali tidak.” Amat terkejut. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur. Kebudayaan Jawa yang tinggi. tetapi bernas. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Dengan memberikan tafsir baru. sabar. mengejar nama dan duit. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Hidup di kota pun penting. Prambananan. begitu panggilan akrabnya. menjelang bulan Ramadhan.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. mirip sebuah sumpah. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. buku Nagara Kertagama.

Yang wajar-wajar saja. Aku berkata untuk almarhum. karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu.” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. sambil menunjuk ke televisi. “Kalau dia memang pahlawan. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. sehingga bisa bergaul dengan semua orang. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Itu memang kataku. tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. “Jangan suka marah.” “Memang. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. Bertengkar juga berpikir.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Jadi Jacko. Mbah Surip dan Mas Rendra. tindakan serta pemikirannya.melanjutkan. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. “Itu artinya dia orang besar. “Itu namanya penafsiran. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan. Ami mengangguk acuh tak acuh. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Amat tercengang. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. “kara wajah di televisi itu lagi. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. Titik. ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. “Ya itu kataku. dengan semua perbuatan. Pak. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk. mengingat ekonomi yang . di Jakarta.yang dipesan suaminya. “Lihat Bu. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. mas willy§. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. kontan buyar. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis.

Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Dia mulai marah. Dia buru-buru pergi. Pak Amat. ambil segi baiknya. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Orang-orang itu punya anak. lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. “Teroris!” umpat Amat. “Sudah Pak. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.” Ami melirik bapaknya. Seorang pemuda menjawab. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. “Aku heran. keluarga. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang. seperti yang aku dengar di televisi. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. tetapi ribuan bahkan jutaan. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. merasa ikut kehilangan. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Orang itu tidak menjawab. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. budi pekerti bahkan agama. membatalkan laganya dengan PSSI All Star.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api. “Coba tenangkan bapakmu Ami.” “Politik?” “Ya.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. pikirannya sudah ngelantur lagi. karena tidak melihatnya. ini politik. yang doktor pun bisa dicuci. Pak Amat. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya.” Amat terkejut. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya. “Ayolah Ami. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. susila. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. Dia memanggil Ami. famili dan negara. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh.” . lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Bukan karena tak ada. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia. hubungan itu sama sekali tidak ada. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau. “Itulah politik. istri. kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita.” Amat penasaran.

ia memang masih tertekan. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Setelah itu. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Tak kuasa lagi menahan diri. “Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. Penculikan. Manusia makan mayat. Bu Amat terpesona. Di puncak bukit yang bergetar. ngeri. ia sama sekali tenang. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. .. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi.Ami terperanjat. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Layar kaca. Ia lupakan dulu curhat La Toya. ia bisa mengucurkan air mata. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. tapi hanya sembilan. Bu Amat melihat darah. Matanya menancap ke televisi. Takut. Bencana alam. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. Bom Marriott 2. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. Kalau tidak begitu. “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Kepala. Isi perut terburai.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. Kepala. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Bu Amat tersentak.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Anak dijual oleh ibunya. manusia menjadi semakin tabah.”bisik Bu Amat dengan terkejut. Ketika muncul berita Bom Marriot 2. Ibu membunuh anaknya. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. kita semua akan kalah. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. . Orang hilang. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. masih seru. Ia hanya memandang ke satu titik. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Memang bukan 200 atau seratus ribu. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. “Aduh. Begitu saja rasa ngeri. Ia terkejut dan jadi gemetar. kaki. Bu Amat menjerit. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. “Hidup semakin keras. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. “ Bu Amat tertegun. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Teror dan bom di mana-mana. Pada kejadian Bom Bali Kedua. Anggota badan manusia berserakan. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. semua terpisah dari tubuhnya. ia sempat terdiam sebentar. Melihat di mana ia sedang berdiri. tangan. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. Korupsi. Dulu.

letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat.”kata Amat curhat pada Ami. mempunyai resiko yang paling besar. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. Indonesia. Terlalu menyepelekan. tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. “Ya.” Amat tercengang. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. Masak kita akan menghadapi kiamat. dia tidak peka. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai. menghampiri Amat. Bersiap-siap saja. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. Filipina. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. korupsi. Sama sekali tidak mau peduli.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. Sabuk Himalaya. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. . “Bukan. semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. datanglah secara kesatria. angin topan. penyalahgunaan kekuasaan. Gempa bumi. letusan gunung. Bu Amat menjawab enteng. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. Kita blak-blakan saja. Ternyata tak beda dengan Bu Amat. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali.” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. China. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia.

Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. Dua-duanya harus di bunuh. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. Perasaannya tiba-tiba kosong. Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. kamu membunuh satu juta. “He mau ke mana kamu?” “Pergi.” Tanpa menunggu jawaban Amat.. daripada pergi meninggalkan kita. Badannya lemas. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. Saya menulis kredo untuk teater kampus. “Dia pergi. “Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Waktu itu. Teater kampus ditonton dengan . Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. Tangannya gemetar. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. Samurai di genggamannya terlepas. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. Penjajahan politik sudah kita tendang. Belum selesai itu. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. tetapi kehidupan teater yang bebas.“Jangan terlalu dekat. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. tidak ada hukumannya lagi. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk. Harus menjadi pelopor. saya menyarankan agar teater kampus. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu. Tapi 2009 tak bergerak. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat.

Karenanya memerlukan pembelajaran. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. unik dan orisinal. Masing-masing jenis teater memiliki langkah. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. Teater tradisi yang asli bagus. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. di tangan sutradara yang baik. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat.am Festasimo IV masih rawan. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Selama ini yang sering terjadi. Untuk itu kampus harus membuka diri. Hasilnya adalah kegagapan. bisa menjadi menarik. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. memberikan pengetahuan dan sebagainya. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater.penuh penghormatan dari masyarakat. Sebuah naskah yang buruk. Dan untuk membuat perencanaan. Tetapi kalau ditanggapi keliru. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. kreasi. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. kalau tidak. komunikarif. Aspek penulisan lakon dal. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Bagi saya ini hal yang positip. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. membuat penasaran. Penyutradaraan. harus ada studi dan strategi. kehilangan jiwa. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. penataan adegan dan set. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. menghibur. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. akan terjadi sesuatu yang kosong. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. lebih dari unsur verbal-nya. Musik. akan membuat pertunjukan tak punya arah. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater.

kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. Baik suku. Riau) mau merdeka. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Indonesia yang satu mulai diragukan. terjadi reformasi. bangsa dan bahasa. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. tak hanya seni akting. Sulawesi. Beberapa peristiwa berdarah muncul. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. Bali. Sumatra. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. Kalimantan. Nusa Tenggara Tinur. banyak bukti. Perbedaan semakin jelas. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. Hanya dengan cara seperti itu. Memang betul. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Dan ini bukan hal yang mudah. Papua. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. (DI TII. pada 1997.banyak hal. Papua. Insiden etnis terjadi di Pontianak. Maluku. di Indonesia ada banyak perbedaan. Ini masalah yang serius. Di Jakarta sendiri muncul FPI. Kahar Muzakar. Setelah 52 tahun merdeka. . Beberapa wilayah (Aceh. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. Banyak lagi masalah lain. khususnya teater kampus. Jawa Barat. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. Tetapi kalau diusut. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Gotong-royong itu sendiri misalnya. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Kita mengakui bahwa kendati satu. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. adat-istiadat. satu bangsa dan satu bahasa. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. di mana-mana dikenal. bukan esensi janji bersatu. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. agama dan sebagainya. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah.

tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Sesuatu yang datang dari luar. Sekarang kita mesti berhati-hati. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. meski pun berbeda. Banjar terpecah. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. Pluralisme di Indonesia bermasalah.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955. Baik idiologi. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. pemuka agama dan para konglomerat. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Ada juga yang disebut “nempahan raga”. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Kendati begitu.Kalau ada. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. diberikan hak hadir. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. golongan dan pribadinya. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana. dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. Semuanya karena politik. sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. Para pemimpin partai. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. Kemajemukan yang ada di Indonesia. Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ .

Tetapisemakin diusap.” Kepala Ami semakin berat. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. pahit ataukemanisan. Makanya jangandilawan . “Waduh. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. “Aduh Ami. Jaditabahlah hadapi kenyataan.mengerem. mereka adalahorang yang kalah. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. kamusebenarnya tidak kalah. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. Ia tersedu-sedu. air mata itu semakin membanjir. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. asin. Lalu airmatanya jatuh berderai. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. Undang-Undang Popok Pers. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya. Aku panik. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. karenamemang itulah tujuannya. lalu membanting. Aku terkejut. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca. Kalau tidak. “Sudah Ami. Di rumah. terima saja. Seluruh pipinya banjir. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. Aku terpaksa menghibur. Aku jadi cemas.” Ami mengangguk. Banyak orang bersedih. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. Perasaan itu baik. karena Undang UndangHukum Pidana. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik.Bukan hanya itu. tegas. Dia tidak akan mengiris. meskipun belum tentu lebih bener. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu. Air matanyatidak lagi hanya menetes. Sedangkan orang yang menang suara. memang baik. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen.tetapi kamu sendiri. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. padahalbelum tentu mereka benar.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah. diaakan mencocokcocok. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. apabila tak belajar dari yang kalah.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. kamu hanya ditunda menang. kamubukan pihak yang kalah.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. Tapi wajahnya tambah berat. tetapi menyembur. anakku Ami nampak kesakitan. Aku rengutkan handuk itu. Manis itu memang enak. Jadi Ami. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk.Tetapi yang lain berpesta. asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin. “Sudah Ami. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. meredam perasaan agar jangan berkelebihan. Ingusnya ikut berleleran. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Kemenangan itutidak harus kelihatan. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. rasa kamusendiri juga tidak laras. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. Yang menangadalah yang lebih banyak.

“O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. jangan-jangan mereka menyimpanpornography. tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Terimakasih Mama.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. Ajaib. denda milyardan danjebloskan ke penjara. didenda dan dihukum. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. Ratu Mercy. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur.setidak-tidaknya kita anggap cabul.” Ami memandangku seperti bertanya. Dera mereka yang menjualkecabulan. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. seret.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. karena pisau itu sudah di tangannya.sekarang nanti dia tambah buas. Ami sayang. Bisa-bisa kamu yang dibakso. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. Baru kalau diagagal nanti.apalagi pemuka. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Selidiki apa isi kepala orang.Biarkan saja. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . Kalau ada yang cabul. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. dengar. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi. “Terimakasih. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Masuki rumah penduduk semua. “Jadi dengan kata lain. juga ketelanjanganrohani. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. Tak hanya itu. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan. kalau kamu mulai mengerti sekarang. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. mata Ami pun berhenti meneteskan air. Seperti yang mereka usulkan. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. Ratu Dangdut. bongkar laci dan almari. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya. Mukanya mulai berseri. Mengerti?” Ami mengangguk. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. kita beritahu pisaunya yang salah. tidak cukup mata melotot. Kontes Mirip Bintang. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. Baik kameranya. “Bagus.bahkan singkap sprei dan kasurnya. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. Ratu Kaca Mata.tidak cukup suara keras. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut.

Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Pemilihan akan akan diulang. dilipatgandakan. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. Keputusan pemenang dibatalkan. Di bandara. ia sudah ngomel di depan para wartawan. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. karena merasa tidak puas.” “Kalau begitu. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. jadi kami serahkan pada para pembaca saja. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. . Para panitia segera berunding. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. ternyata lima di antaranya adalah wadam.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. Pak. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria.” “Memang bukan. panitia mengambil jalan tengah. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Tulang-tulangnya yang besar. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. tidak mencerminkan jutaan warga kita. Hasilnya amat mengagetkan. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. tetapi juga kecantikan kepribadian. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. kecantikannya kalian lupakan.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat.seperti itu akan keliahatan aduhai. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Urutannya jelas. Pak. “Maksud Bapak. Sebagai kompensasi. karena menyangkut keselamatan majalah. berarti kemenangan mereka palsu. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif. kakinya yang berbulu. Lomba pun dimulai kembali. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. tetapi tidak terlalu berarti. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. Mereka bukan 9 wanita tercantik. Setelah mempertimbangkan masak-masak. Kalau dipotong bisa parah. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua. sebab mereka sudah tahu. Pak.. Ada protes. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan. Pak.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja.

“Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Kalau dia menang. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. mati muda. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional. pilihan mreka kami anggap wajar. Tanpa mengenalkan dirinya.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa. atau ada yang lebih bagus. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Pak!” “Tidak ini tidak main-main.”katanya memujikan. Dua juta orang yang terancam kebutaan. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran. Saya minta keputusan ini dicabut. bukan masyarakat yang sakit. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama. yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. di dalam sebuah kompetisi yang adil. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan.Panitia kembali diundang berdialog. Kilatan cek itu membuat darah saya . “Bapak mengatakan itu. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis.” Saya langsung pasang kuda-kuda. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Pak. Tidak mungkin sama sekali. tidak bisa.” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. Mereka yang terpilih memang sangat professional. Pak. “Maaf. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. akan terselamatkan. Saya langsung merasa tertantang dan terhina.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul. Ini salah kaprah!” Panita bengong. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. memahami amanat ini. tbc. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan.” “Kalau itu betul. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci. Tapi meskipun membela kemanusiaan. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk.

“Ade. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. dia diam saja. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. anak itu mengubah tujuannya. Tapi sebelum tertangkap. “Hallo. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. kalau Anda masih was-was. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. lalu diberi seragam koruptor. “Silakan. Dengan kalap saya gapai-gapai. Bangsat. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. Dia merogoh lagi tasnya. menyelamatkan diri.beku. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. Apalagi menolak suap. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu. Merasa dikejar anak saya berlari. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami.” Saya memberi isyarat untuk menolak. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Baik menerima mau pun menolaknya. Kedua-duanya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Perasaan saya rontok. karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Matanya melotot menentang mata saya.” Saya gelagapan. Dia seperti sudah menebak pikiran saya.” Dia mengulurkan uang itu. “Kalau wakil kami menang. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. Kalau ini kurang. Kedua amplop itu langsung tenggelam. Ketika saya tangkap.. bukan saya tidak menghargai Anda. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. Bukan hanya berenang. Saya tak berani bergerak.” Saya bergetar. Saya cepat menangkapnya. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Dia memeluk saya. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. Atau Anda lebih suka menelpon. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Tidak peduli ada bangkai ayam dan . Seakan-akan dia marah. tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. “Maaf. “Kita transparan saja. hallo …… . lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. Nampak besar dan padat. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan. Itu memerlukan keberanian mental.” Tiba-tiba saya batuk. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. sore ini juga kami akan datang lagi. Tapi orang itu terlalu sibuk. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh.” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. lalu terjun ke kolam. saya hubungkan sekarang. Saya kan belum berpengalaman disuap.

yang bener aja!” “Tapi . Siapa yang akan peduli. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu. Ya kalau dikembalikan. Dengan berapi-api saya terus mencari. Apa pun yang saya lakukan sekarang. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. “Eling Dik. Badan saya penuh lumpur. teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang. Istri saya bengong. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima.. “Cepat mandinya. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. Kalau dia tahu itu uang. Kalau kedua amplop itu lenyap. . Tak ada bekasnya sama sekali. akhirnya saya akan masuk penjara. Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu.Tak seorang pun yang menolong. eling. Saya tidak berani menjawab terus-terang. Tapi tamu itu sudah kabur. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. saya hanya menggeleng. saya keluar. . Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. Tak menolak dengan tegas. bahaya. tak akan dipercaya. Dan kenapa saya terlalu lama bego. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. Di kepala saya ada tahi. Laki-laki sama saja. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. “Sudah jangan kayak orang bego. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. bau!” bentak istri saya. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari.” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi.kotoran manusia. Aduh malunya. berarti saya sudah makan suap. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya.. Tapi saya tidak peduli. ide-ide busuknya akan muncul. Hari gini. Diinjak pikiran kacau saya pulang. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. mplop itu harus ditemukan. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. Tapi coba. saya sudah basah. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. “Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. Saya termenung. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. karena kurang pengalaman. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Kalau itu dibiarkan berkembang. Darah saya tersirap. Setelah telanjang dan mengguyur badan. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. berarti saya sudah menerima. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. Badannya kuyup penuh kotoran. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. “Mana?” Seorang anak tetangga. cepetan madi dulu. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. langsung ke warung. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu.

Satu bulan berlalu. Rasanya aneh. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin. “Baiklah. tapi saya cukup hanya memandangi. betapa dahsyatnya arti uang. akhirnya mulai menang. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. akhirnya dicapai kata sepakat. Tapi sepuluh hari berlalu. Apa perlu saya cek. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Memasuki bulan kedua. Tidak. Bukan salah kita. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. saya tidak akan menerimanya. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. Saya akan mengembalikan. Mau tak mau saya terpaksa mengakui.” “Abang jangan salah sangka begitu. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. kita sendiri makan tahi sampai mati. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. tapi kalau lagi sepi. Diterima baik oleh masyarakat. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Jangan. tapi karena aku sakit. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. Pada bulan ketiga. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. Keputusan kami yang diterima baik. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Bukan apa-apa. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. kalau orang itu datang lagi. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. “Lho kok malah nangis. Melalui perdebatan yang sangat sengit. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Anak saya nampak menahan diri. pikiran saya bergeser.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. Saya tidak melakukan itu. saya memutuskan nekat. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. saya capek menunggu. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. Namun saya sudah bersikap menolak. Istri saya diam saja. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. Bukan karena suap. Aku masih kuat .” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Lomba pun memasuki saat penentuan. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. Bang. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. asal masa depan anaknya cerah. Lomba itu sudah menjadi lampau. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Aku juga sudah mulai tua sekarang. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor. Keputusan sudah diambil. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang.

Saya menghela nafas dalam. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Di situ mata saya mulai gelap. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka. Disikapi oleh istri seperti itu. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. Isinya juga hanya kertas. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Dengan kalap saya sambar batu-batu. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Tangan saya gemetar. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Rebo 17 September. Mengambil tempat di Ruang Kartini. kenekatan saya justru bertambah. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi.” Dia menggayut tangan Ade. Setelah tahu isinya. lalu gantikan isinya. Tak peduli apa kata orang. Itu kejahatan. baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Motornya juga saya hajar. asal mereka tidak. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. nanti tidak akan pernah baik. Mata saya bengkak. membuat saya panas. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. menjarah. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Dia temukan amplop itu. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan.menderita kok. Tiba-tiba terpikir sesuatu. Tibatiba saya terperanjat. Jelas sekali sekarang. Di satu sisinya ternyata ada belahan. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Bangsat. diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. mereka langsung ganti. tak mampu melihat apa-apa. Dari situ nampak terbayang isinya. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Kalau tidak begitu. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. Sama saja. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. Kemudian dengan bernafsu. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. lalu membawanya ke dapur.

tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Tetapi kalau memang tidak perlu. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. negara bertindak. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi. Untuk itu harus ada investigasi. masalahnya bukan RUU-nya. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). masih belum sempurna. Bagi mereka. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. Yang pertama adalah masalah moral.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama. Ini menyangkut ruang privat. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. Selaku pribadi. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. karena. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. mengapa tidak. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan.. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”.” ujarnya. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. misalnya keberagaman. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. Kalau memang sudah terjadi kebejatan. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu.

berkolaborasi. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. Sukardi Djupri. Cairo. kemiskinan. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Mr. Walhasil. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali. semuanya adalah pekerja. untuk menambah warna festival. seniman tak perlu merasa terkengkang. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya.. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. Betul sekali. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. 1 Oktober. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. Kami . Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik. Beruntunglah Egy Massadiah. Sebagaimana biasa. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat. Ucok Hutagaol. Tetapi mulai tahun ini. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. taktis dan lihai. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). Yanto Kribo. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. Menurut Mr. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. kedok apa pun yang dipakainya. Wendy Nasution. tari. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). Bambang Rsmantoro. tapi seni musik. ada perubahan besar. Alung Seroja. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. Agung Wibisana. Dewi Pramunawati. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. Fien Hermini. Papua dan sebagainya. Praha dan Bratislava. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. Tidak hanya seni akting.

“Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Meskipun sudah pensiun.” “Memang. “Biar saja Ami. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya.” “Kami siapa?” “Ami misalnya. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara. Pak.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua. siapa tahu beneran. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Kalau gagal. Ami terpaksa bertanya. Apalagi 5 milyar.Satu dua kali hujan mulai turun.” “Siapa?” “Kami. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu. tapi Amat menutup percakapan.” Ami masih terus hendak mendesak.” “Ibu jangan begitu. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak.” kata Amat curiga.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. “Saya sudah kapok. “Ini bukan tidak ada maksudnya. Amat segera berpakaian. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan..” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak. Kalau mau nyumbang. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. daripada bapakmu ngerecokin di rumah.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak. Ami?” Ami menggeleng. Kalau . Mengenakan sepatu dan baju batik. Tak usah diladeni. “Mengapa dulu dia segan memasang. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit.” “Ya itu dia. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang.” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. biar dia ke sana. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§. Itu kan membuat semua orang mimpi. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun.

Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu.” Ami terkejut. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya.” “Berapa.” Ami tertegun. ini duitnya. hanya berupa piagam dan uang seupil. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. Sudah cukup bukti dunia seni kering. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai. Mengapa dia mau.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Ketika Amat masuk rumah. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu.” Ami terkejut. tapi kemudian langsung bertanya. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. Dan benderanya sudah diturunkan. lebih baik jangan membuat persoalan.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki. Sumbang yang wajar saja. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Ami langsung bermimpi. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. tak usah sepuluh.. ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. Masyarakat seniman berguncang.” Amat terhenyak. Rakyat terpesona. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Sekarang beres. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. banyak seniman mati sebagai kere. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini.kejadian kan kita semua untung. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu. Dia mengubah angkanya. Paham?” “Tidak. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun.” Ami ternganga. makanya benderanya tidak pernah diturunkan. “Bapak juga tidak paham. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik. “Bangun Ami. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu. “Aduh. Andaikan benar. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . nanti kamu masuk angin. Lima milyar. “Bapak berhasil?” “Ya. dia sudah nyumbang seratus ribu. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. Jadi Bapak bilang. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

Itu dianggap sebagai persetujuan. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. Ia langsung berpikir. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. Dengan tidak keluar rumah. Wajar masyarakat protes. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. Masih muda dan cakap. Itu sebenarnya makna kebebasan. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. selalu menghindar. “Wah putri Bapak cantik sekali. Afandi tetap saja diam. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. lalu permisi. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah. Rumahnya nyaris dibakar. Pak. jadi dia berkorban. kamu harus minggat dari sini. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. Dia bukan jenis pahlawan atau . “Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. atasannya muncul. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi.keluar rumah. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. masuk ke kamar atasannya. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Ia lama terdiam.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. tidak mau keluar rumah. Bapak yang mengadu itu. Mengeluarkan rokok. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih.” Pejabat muda itu mengangguk. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. lalu menarik foto anak gadisnya. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. “Selamat pagi. Pak. Kemudian dia seperti baru bangun tidur. kontan diseret ke lapangan. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. dia akan menyerah tanpa syarat. Pak. Pak. Setelah beberapa kali hisap. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita.” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. ia meletakkan rokoknya. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. Malah diserang oleh massa. . Tak berapa lama kemudian. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. Pak. “Anak saya ini. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang.

“Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. Ia ingin banting stir.pemberontak. Wartawan cepat-cepat menjelaskan. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Karena itu akan mengundang malapetaka. tendangan dan pukulan. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. sebaliknya. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat.” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya. Para pembaca koran marah. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. Kata suami saya sih.” “Yang lain?” “Gambar orang tua. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. itu hati nurani.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok. karena anak-anaknya masih kecil.” “Banci?” “Bukan.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang.” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. mereka hanya menemukan puing-puing. berhenti menjadi seniman.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Publikasi berbahaya.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu.” Wartawan terkejut. Istri Afandi masih belum selesai terkejut. Suami saya juga sudah berhenti melukis. .” “Mirip siapa?” “Tidak tahu.

“Tidak!” Ami kontan marah. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu. Bapak tidak mau salah pilih. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. langsung diamankan. tidak mau menentukan sikap. daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan. “Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. tidak berani mengambil resiko. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung. “Itu rahasia. Ami. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat..Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Ami. kan?!. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa.” Bu Amat terkejut. Sebagai pemilih. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini. Mereka menolak dan melawan. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. Itu hanya teori. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak. ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. Sebagai warga yang bertanggungjawab. Dengan mematikan satu suara.” Bu Amat tambah terkejut lagi. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami. “Bapak mau jadi orang biasa saja. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. Pak. “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap.” Ami tersenyum.” . Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.” “Terus-terang saja. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. dua atau tiga? Amat bimbang. itu jauh lebih baik. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. Pilih satu. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut. “Bapak sadar tidak. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut. Itu berarti tanpa Bapak sadari.

harus pakai pikiran! Kalau salah pilih. ya. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini.” Amat menatap Ami. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. enaknya sendiri. Kamu kok mau-maunya sama dia. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. ya. Ibu jangan hanya pakai perasaan. Jangan begitu. “Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. kan?” Ami terseyum. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. “Pemilihan itu bebas rahasia. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. itu kebangetan.Tapi kalau boleh menyarankan.” “Yang bagus itu. “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu. meskipun bagus jangan dipilih. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. “Bagaimana bisa memilih Ami. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. apalagi ikutikutan. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. “Wah kalau begitu. miskin lagi. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. boleh dipilih. yang berguna. jangan asal coblos. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. Pak. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali. Bu. Tampangnya juga jelek. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya. berarti sebelum main coblos akan mikir. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. Kalau tidak. “Wah. sebaiknya yang bagus dan berguna. Dan yang berguna itu. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. memilih itu memang ukurannya bagus. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Pak. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak.” Amat tercengang. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. “Ami. Yang berguna tapi bagus. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua. “Lho. Tinggal saja. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu.

“Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. “Ada apa dengan Ibu. Kalau tidak.” “Ya apa salahnya?” “Salahnya. Lihat saja. maupun kepada orang jahat. sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan. Cinta boleh. nanti Ami juga yang kena getahnya. Itu sama saja. Ami penasaran. Malam hari Ami menyapa ibunya. Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Coba dengan lelaki bejat itu. “Ibu lembut sekali. Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. biar tahu rasa!” Bu Amat termenung. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Baik kepada orang baik. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh.pada kamu. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. nanti kita yang akan dikejami sama dia. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya.” Ami bingung. Jadi mesti dipancaing. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. tidak boleh dengan kejahatan. Kalau kita mau melawan kejahatan. “Kenapa?” . Kalau teleponnya tidak disadap . “Aku tidak mengerti. lalu mengadu kepada Amat. Pak?” Amat berpikir. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan.” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah. dipergoki biar kapok. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Tapi Ibu tidak setuju.” Ami mengangguk. tapi terlalu cinta itu berbahaya. Kejahatan itu akan gagal. Menurut Ibu. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. Ia nampak tak senang. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.” “Bukan begitu. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat.

Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. hotel. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Rumah idandani. Fasilitas. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. ditingkatkan. tapi satu minggu belum tentu . Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal . apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir. perlindungan. Bayangkan ada 10 rumah. . lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran.!” Ia menikah dengan seorang super model. “Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. sebab demi kebaikan. Istri cantik dan terkenal. Tak baik. restoran. kesejahteraan. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Maafkan Ibu Ami. Sosoknya lebih sering di tempat lain. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta. juga muncul berbagai ciri.” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. meskipun orang itu jahat. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana. mall. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. diperlebar.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. Karena waktunya tidak ada.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam.. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. Kehadirannya juga semakin jarang. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya. iperbesar. “Pendapatan. tapi Ibu minta. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba. Kendaraan juga sama. jumlahnya bertambah.” Ami terkejut. “Ya. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan.” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya.

‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. sebab keuntungannya tidak kelihatan. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. Mereka lalu turun ke . Apa itu kebahagiaan atau bukan. meskipun sudah bangun jangan layang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. gagal. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. Mula-mula ia pura-pura bertanya. puas kalau sudah paling atas. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Saya bilang keliru. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. New Yotk. Aku ingin di atas. Yang konkrit saja. dan punya bus way. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. saya belum selesai. Prestasi. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Bukan dengan gedung. Ini hanya kebangkitan. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. tai kucing. saya tidak tertarik. jangan memakai kata-kata itu. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Aku baru merasasenang. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. mono rel.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya.” “Lalu apa?” “Pencapaian. Kita masih kurang kerangsukan membangun. dengan budaya. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. “Wah. Apa sebenarnya nomor satu itu. mobil tetapi dengan buah-budi. Itu berarti kita berarti. Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif. apa sebenarnya bahagia itu. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Apa sebenarnya menang itu. Orang bilang mobil satu itu cukup. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. Maaf. Terus-terang.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Kalau Bapak bisa membantu kami. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. Mobil sepuluh juga belum cukup. jangan dijawab dulu. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. bahkan sangat sukses. Pak. Dan pada akhirnya. karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya.” Pertemuan berakhir. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru. selamat siang. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Ini bukan revolusi. dari dusun. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. “Karena Bapak orang yang sukses. untuk menghajar para pemuda itu. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. Selama ini. “Itu matematika kuno. London. berhenti berambisi. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Tetapi mereka tidak menyerah. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Pak Edy. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya.” Edy tertawa.

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama. ‘Terimakasih. bisa menimbulkan perkara.”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu. Meskipun sudah hampir jam 10 malam. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. Karena kalau itu dibiatkan lepas. mundur dulu.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. ia keluar dari rumah. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Bendera-bendera lain. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana.” “Ya itu hak dia. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi.rumah penduduk.. menghampiri. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik. karena ia hanya ingin ada dua warna. “Memang. Pak.” “Betul!” “Kalau betul. Dengan bernafsu ia . Ia memandang Ami tajam. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. Menyumbangkan apa saja. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin. mesti tahu diri. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. Amat terpesona. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. kecuali bendera-bendera negeri sahabat. karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka.”kata Bu Amat. komunitas budaya ini harus dilahirkan. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. teguh dan percaya. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya.

tapi berkibar lebih gesit dan gagah. “Tentu saja pak Amat. belel. saja ingin tahu. Saya penasaran. “Pak Amay.” “Persis. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes.” “Bapak jangan tersinggung. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa.” “Silakan masuk. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . Kemudian mengubah suaranya lembut. lalu dia memujit bel di gerbang.” “Kenapa mesti tersinggung. Pak Amat.” Orang itu tertegun. momentumnya nanti bisa hilang.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini.” Amat terkejut. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Terlihat sang saka.” “Maaf. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Amat memasang muka seribu. Tak ada maksud apa-apa. “Tentu saja boleh. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. begini. Kepalanya pusing. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan. “Selamat malam. “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Bukan juga kritik. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. “Selamat malam. Jadi begitu. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Tidak ada motivasi apa-apa. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh.” Amat tertegun. Sama sekali bukjan menyindir. Dan betul. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. meskipun kecil. sebab kita hidup di alam demokrasi. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini. Tanpa perhitungan lagi. pak Amat. Ia mati langkah. hanya sekedar bertanya. Begitu. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti.” Orang kaya itu tersenyum. Pak Amat.” “Terimakmasih. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Darahnya mendidih. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar. Ia menoleh ke samping yang lain. Warnanya pun sudah lusuh. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. tetapi hanya mau bertanya. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. Di depannya nampak bendera partai. Pak Amat. Ia melirik ke samping. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Tetapi Pak Amat harap mengerti. tapi hanya sekedar bertanya saja. Lalu menarik nafas dalam.

menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. “Saudara-saudara. tapi juga ngutus bangsa dan negara. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. Lampu menyorot.. Gubernur pun bengong. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. lukisan ini. Tentu saja semua menyambut gembira. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Terjadi keributan. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Panggung pun sepi. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. undangan yang saya muliakan. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. Kemerdekaan adalah persatuan. Seorang penari muncul. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab. Gubernur terlambar mengangkat tangan. Mungkin sekali tidak berani. Lalu sorot menyala. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain.”kata Gubernur. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. sebenarnya ia semakin pulang. Nampak lukisan itu. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Tetapi gagal. menunjukkan langkah konkrit. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Asap mengepul. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Kata orang. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya. “Saudara-saudar hadirin. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Mereka mengangkat lukisan itu. . Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. untuk mempimpin. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Tetapi semua orang terkejut. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Pelukis besar kita ini. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. Tetapi atas nama kemerdekaan. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Inilah salah satu gambarannya.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. semakin jauh orang. Cahaya lampur berpedar-pedar. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Kita boleh tidak suka. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. para tamu. Mereka menggebrak. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Dari luar negeri. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. ditarik dari tempat shooting film barunya. Tetapi belum jelas.

baik akan saya gantung. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§. Tapi kalau tidak. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain.” tulis Amat. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. hati saya berontak.. “Hebat. kita semua akan senang sekali. namun perasaan kalian semuanya. akan jadi porno. saya Pak Amat. Karena kalau sudah diobral begini.”tanya seorang Ibu. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. seorang di antara berjuta-juta warga lain. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. apa yang kita cita-cita akan tercapai. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja.“Selaku pribadi. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil.” Amat ketawa. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar. “Lebih baik jangan dipajang. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau saudara-saudara setuju. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. Kan sering ada di koran. “Ya. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya. tanpa selembar kain pun di depan orang. ya pasang saja. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. Pak. Jalan kampung lagi!” . Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini.” “Lho. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab. Kalau bisa diperbaiki. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur.” “Hebat. porno!!” Semua terdiam. Jadi bukan perasaan saya yang penting. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Tetapi selaku gubernur. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain. apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau. buat apa digantung?” Semuanya terdiam. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung.

lalu menyerah di tempat tidur. yang megah. Ia tak habis pikir. Orang biasa. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Jangankan jalan rusak. Narkoba. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Pak Amat. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum. sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. coba periksa ke dapur. mengapa semua itu bisa terjadi. Pak Amat.” Amat ketawa. tidak akan ada rasanya. Amat teler. Belum sampai pukul 11 malam. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. tidak usah jalan kaki. Pak Amat! Kalau ditunggu. tapi kalau garamnya kelupaan. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Aids. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. kenaikan harga bensin. belum juga giliran perbaikannya datang. Kalau masyarakat mau bergotong-royong. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Pak. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan. pemasan global. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. . pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . “Ya sudah. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. Beliau pelindung rakyat. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. tidak. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. belum lagi korupsi. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Benar nggak?!! Nah. tambahin!” “Ya. “Kalau Pak Amat tidak percaya. Yang sepele itu sangat penting. nanti ditambahin. ya. “Kalau begitu. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. “Jangan ketawa saja Pak Amat. batin yang rusak pun jadi urusan beliau. nanti masa jabatannya sudah selesai. yang banyak.“Lho kenapa tidak. yangmahal. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Beliau kan pemimpin kita.

. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Ada yang suaminya kawin lagi. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. Sebaliknya. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi.”katanya. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. apa pun namanya. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati.” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu. berarti bunuh diri. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Lalu dia bertapa. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. harus diwarisi. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Jual semua. bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. Warisan bukan benda tetapi sabda. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. Mereka merayu dengan segala macam cara. Bapak jangan memberhalakan barang. Amat gelagapan bangun.jalan itu akan diperlebar. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Jangan mensakralkan warisan. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Segala sesuatu yang menindas. Sekarang kita tidak hanya butuh makan. apa pun namanya. anak-cucu kejepit. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. dari mana pun datangnya. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Ada yang …. “Sawah. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. kita akan bangkrut. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kalau warisan diartikan sempit. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau tidak. sehingga menjadi jalan utama. kebun kelapa. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. tegalan. Satu senti pun tidak bisa digeser. membuat Pak Tua tidak jadi mati. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Kuper. sama saja. Kalau dipaksa bertani. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna.

” bisik salah seorang mewakili yang lain. Kalau warisan ini dibagi tiga. Warisan ini tidak jadi diwariskan. tak ada yang beranjak. Kalian tidak perlu warisan. aku akan mempertahankannya. Naun ia sudah punya tekad bulat. ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai.”hasrat kami untuk membagi warisan. sebagaimana yang dituduhkan orang. sementara anak-cicitnya. mengembangkan dan meneruskan. boleh marah bahkan boleh menentang. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. satu generasi lagi harus dibagi lima. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung. Boleh menyerang. Lalu anak-anaknya dipanggil. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki. Mewarisi itu bukan memiliki. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. Itu zalim. “Kalian semua sudah besar. Ia kontan buka mata dan membentak. Tenaga. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. “Ayah. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Walau pun putraputranya semula begitu galak. Sudah waktunya untuk mandiri. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran.. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian. ini bukan barang tetapi cita-cita. supaya semua anak-anak senang. Panah Pasupati pun tidak cukup handal. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. cari sendiri kehidupanmu. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. dalam badai dan taufan. Boleh tidak setuju. hukum dan wibawa. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan. Tetapi ajaib. Sebaliknya dari ketidaksetiaan. suara dan uraturatku sudah lapuk. aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Apa daya? Masihkah keberanian. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . tetapi sebagai cita-cita. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. karena ini bukan kue. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. juga sudah terlalu klise. Itu fitnah. Semuanya sedang meletus. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Kembali terjadi keos.

” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. menjawab dengan pertanyaan. Kelewangnya berkelebat.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. tetapi perang. itu saat yang amat sulit. Perlahan-lahan Amat maju. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Renon Sabtu lalu. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. dengan dalih damai. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. “Ayo Pak Amat. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. untuk mengatasi rasa cemasnya. tetapi dilaksanakan saja. Amat jadi gentar. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. Kalau sudah begitu. Karena mau melindungi ketakutannya. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Amat maju setapak-setapak. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. Bu Amat menyeret suaminya keluar. lalu mereka ikut berteriak. Dengan panik dia menarik Amat keluar. . Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. suruh mereka damai!” bisik para tetangga. nanti yang terjadi bukan damai. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. Alangkah sialnya jadi orang tua. Jadi karena dideklarasikan. “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Aku berada di luar. Di rumah tetangga. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. dianggap sudah jadi besi tua. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Ternyata dia kembali menjadi kunci. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. Kalau salah satu bergerak. akan terjadi pertempuran segitiga. Amat dan Ami tercengang. Yang jelas.” “Caranya?” Amat berpikir. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Para tetangga menyisih memberikan jalan. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. Benar saja. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Ketika melihat Amat datang. sudah banyak orang berkerumun. Tapi hanya menonton. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya. Mungkin keris atau pisau. karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Amat masih berpikir. “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong.

pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat.” “Kenapa semua foto dibakar. Apalagi beberapa foto. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. ia akan roboh. coba Ami. karena tak kuat melihat kezaliman itu. Bapak sih tadi ngomong begitu. Itu inisiatip Ami sendiri. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. Sebelum Ibu melihatnya sendiri. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. seperti siap menebas. tempat kita semuanya berkumpul. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. Mereka mundur. bersihkan segala meja. Tetapi aneh. Tapi kalau dibagi akan hancur. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu. “Bukan karena polisi itu.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas. tetapi mengangkat kelewang. “Bapak hanya mengingatkan bahwa.” Ketiganya mundur. kata Ibu. dibuang atau diberikan kepada tetangga.”kata Amat lari dari rumah. lalu berbalik dan pergi. mengungsi ke tetangga. karena kalian juga adalah warga kami ……. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Bu. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Waktu Amat nyaris hambruk. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar. Amat baru menjawab. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Beberapa detik lagi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi. Ibu akan lihat semua. karena kalian mau memakainya sendiri. “Untung polisi cepat datang. Bapak tidak ikut campur. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar. kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. setelah pikirannya tenang. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. Tetapi situasii sudah terkendali.” . Itu adalah kezaliman. kalau tidak. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi.“Maaf. Coba tidak. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. Rumah ini memang milik kalian bertiga. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. rumah akan jadi keranjang sampah. dibuang. Pikirannya sudah mengatakan. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Rumah ini tidak bisa dibagi. malah membuat mereka tadi tambah marah.” Suara Amat hilang. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. kalau tidak.” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. entah apa jadinya tadi. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. Sekujur badan Amat gemetar. lebih baik Ami bakar. Disaksikan oleh seluruh tetangga.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

Taipeh. Cairo. telah dimainkan di Tokyo. PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. Hong Kong.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil. Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya . Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Pada 10 Juni. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Dengan dalih menciptakan perdamaian. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Singapura dan beberapa kota di Indonesia.

Dengan keras. Mohon dukungannya. Middle Town. Pertama. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. tetapi alat untuk mengembangkan. tegas dan penuh desiplin. tempat mengembangkan jati diri. Hong Kong.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . Teater bukan tujuan. Singapura. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. menumbuhkan dan menemukan diri. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Cairo. Brunei. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. New York. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo. → 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§.A dll. Hamburg. Taipeh. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. L. Kyoto. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. menyebabkan keamanan mulai pulih. Bandit-bandit dihalau. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi. Kedua. Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab.

ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Mata mereka mengatakan. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. ekonomi. karena setelah dua decade. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar. Pimpinan dan rakyat lebur. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. teknologi. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. bikin mono reel. Memang keberadaan TIM kini. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. untuk kembali membumi pada akarnya. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Saya dengar sendiri semuanya itu. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. mencetak mall. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. Bang Ali menjadi sebuah contoh. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. Dia melahirkan “tradisi baru”. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Betul sekali. Pada setiap kesempatan yang baik. Saya sendiri sempat kena getahnya. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat.”katanya. membanjiri jalanan dengan motor. tetapi lebih dari itu. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. Tetapi apa yang sudah terjadi. Bang Ali kini tiada lagi. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. Pada 1975. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. Tidak ada sensor dan kekangan. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. Warga ibukota di masa Bang Ali. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. alangkah indahnya. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. adalah menyehatkan kehidupan budaya. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. hasilnya nyata. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. sudah tercatat dan akan bekerja terus. melahirkan busway. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi.

jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. “Tenang saja. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Kalau tidak ada juga. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. memaki-maki saya. Sepanjang hari ia menyendiri. Jadi kita akan menghadapi bahaya. Kalau belum nampak mesti kita cari. seperti masuk ke dalam sanubarinya. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. lalu menggenakan stelan putih-putih. Sore hari. kita sudah biasa menghadapi bahaya. Kalau dibantah. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Kini kita sudah punya sebuah contoh. mesti kita jadikan. tapi ia tetap hidup di hati. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. bagaimana pendapat saya. Amat melirik ke meja makan. Sampai sekarang belum pulang. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Amat keramas dengan air bunga. Amat panik. saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. Bapak salah perhitungan hari ini.dilanjutkan di plaza.” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. Jumlahnya masih lima ekor. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Ternyata tidak ada. “Nggak apa. Pak. kontan membentak. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. Amat mulai tidak yakin. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. Tapi kalau tidak dibantah. Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Saya katakan pada waktu itu. “kata Amat pada Ami. Tapi tidak ada perubahan. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Amat mulai deg-degan . Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. Tak satu pun yang disembelih. “Merayakan kelahiran Panca Sila.” . sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. tetapi karena sayang. “Ami. seandainya saya Gubernur. Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning. Tenang saja. Koran meributkan pertunjukan itu. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. Waktu Ami pulang dari kampus. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. Kita kan sudah 350 tahun dijajah. “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.” Ami mengangguk tenang. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. Di situ ia kecewa sekali. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa.

” “Habis kalau tidak dipikat begitu. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga. Sekarang akan tambah bukti lagi. Ia gugup. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. kalau berani berbohong. burger atau fried chicken. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Dibohongi sekali lagi. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. jarena itu mereka akan datang. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa. . Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas. Bangsa kita kan jago memaafkan. menggempur apa saja. mereka tidak akan apa-apa. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. Ia merasa amat bahagia. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Ternyata di depan. Makanya kalian semua cepat marah. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. Mereka sudah biasa dibohongi. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. “O. menentang. Malam hari.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Bapak mengerti sekali itu. Lagipula kalau manusianya pembohong. turun ke jalan berteriak-teriak. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Pak. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. Pak. tetapi dikembangkan di dalam rumah.” Amat tercengang. Mereka suka. “Tenang.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Ami tersenyum.“Tapi kita akan malu besar. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. di dalam diri. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

” “Kami sudah mencoba. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah.” . Yang kami dapat hanya pertentangan. “Kamu kurang sabar saja.” “Memang.” “Tidak Pak. Beda sekali dengan dulu. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Bapak saya yang suka wayang.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Pak. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. lebih dari cinta. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi.” “Lho Bapak katanya kutu buku.” “Baca dong Pak. kepercayaan bahkan juga dukungan. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. bukan itu. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno. bukan menjadi lebih perih. seperti pidato Bapak. Seperti kata dalang dalam wayang. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.” “Tidak. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Kami sudah menunggu. Kalau Bapak ada. kalau tetap ada mungkin sia-sia. aman supaya kami tenang. “Apa itu? Aku belum pernah dengar. Pak. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung.” “Itu namanya demokrasi. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu.” “Tapi kami perlu Bapak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu. Kami memberikan kesempatan. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya. Pak. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. Pak. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. Kami ingin makmur.” Bung Karno tertegun.” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi. tidak akan begini jadinya.” “Itu namanya kurang sabar. Pak.” “Memang.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali.” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi. sejahtera. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik.” Bung Karno tersenyum. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. kami juga perlu demokrasi ekonomi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya.” Bung Karno tertawa.

menghadapi 20 angkatan murid.” Amat tertawa. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Juni kan bulan ulang tahunnya. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. tidak akan ada tenaga untuk bangkit. jangan hanya mimpi. tangannya dipegang oleh Pak Amat.. Baru kalau kita bangga. Sinar matahari menerobos masuk. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. tidak bisa kembali. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Anak-anak mengadu. lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan. Selama 20 tahun dia mengajar. Tapi hanya itu. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . Dia jadi kesel. Tetapi ketika dia berbalik. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. kita akan bisa bangkit. tetapi hati mereka masih sama. Karena cinta Bapak tidak akan kembali. itu lihat sudah jam berapa sekarang.” “Ya siapa yang tidak. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita. Bapak harus pergi. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. Kalau tidak ada kebanggaan. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. tapi hasilnya sama. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. Semua anak diberi angka lima. Ternyata tidak ada yang berubah. Gedung. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat.” “Tapi beliau bilang. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. gunung dan matahari. Ami. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. kerbau dan burung atau pohon kelapa. seperti di masa lalu. Orang besar itu tidak pernah pergi. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Ami menutup matanya karena silau. Tapi waktu kembali ke mari. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. “Bukan itu. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi. “Sudah siang kok ngelindur.” Amat tertawa. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Kadangkala ada tambahan gubuk.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu.

Saya dapat ide bagus. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. hanya menanggapi sambil lalu. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. gunung dan matahari. biar saja. “Sebenarnya begini Bu.” Ibu Kepala Sekolah tercengang. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah. sawah lagi. Bu. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer. supaya melihat kenyataan. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. yang digambar tetap itu-itu saja. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. . Belum ada real estate. Padahal mana ada sawah lagi di sini. “Maaf. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. dipamerkan di dinding sekolah. Banyak korupsi. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. :”kata Ary menumpahkan perasaannya.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. Setelah dilihat satu per satu. Ibu Kepala Sekolah tercengang. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Burung bangau waktu itu masih banyak. “sejak saya mulai mengajar di sini. Aneh sekali. Kerusuhan di mana-mana ……. Tidak berkembang. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. sama saja. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ia lalu menjejerkannya di lantai. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan..” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi. Ternyata tidak ada perkembangannya. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Sudah banyak perubahan. Itu yang dia tunggu-tunggu. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi.”kata Ibu Kepala Sekolah terharu.” “Tapi Bu. Itu juga sudah bagus. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini. Mereka berdiri di sepanjang pintu. Bu. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. Dari dulu sampai sekarang. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas. Pak Ary. tetapi guru-guru lain mendukung.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi. Ada pilkada. Pak Ary. Harga bensin naik.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak.” “Nah itu dia. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme. Bu. Saya kira ini baik sekali. Kalau mereka menggambar begini. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur. Ada isu pemanasan global.” “Betul. Hanya membuat mereka tidak buta warna.” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Sejak listrik belum masuk. “Mereka kebanyakan anak petani.” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.” Ary ingin membantah. Mestinya kan itu yang digambar. Ini adalah hasil percakapan itu.” Ibu Direktur mengangguk. “Sudahlah Pak Ary. ke desa kita ini. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun.

heran dan sebagainya. Mereka mengangguk senang. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. hatinya menjerit. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. Rapih dan terkendali. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu.Di cermin nampak muka baru. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. teringat kepada masa lalu. kandas. Tapi waktu dia melirik ke koridor. Tetapi malamn-malam. Lalu ia mulai memoles. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. bibir dan kemudian pipi. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya. Tiba-tiba anaknya muncul. gedung sekolah ini masih layak pakai. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. Hati saya langsung terketuk. “Dengan dia. garis mata. muka Pak Ary kelihatan muram. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. terkejut. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. “Jadi menurut hemat kami.. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. berantakan diinjak-injak.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dua jam kemudian ia siap. Saya minta malam ini juga. Setengah jam kemudian para tamu keluar. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. hidung. masih bisa dipergunakan. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Ternyata ia memang sudah cukup tua. ” kira sampai 5 tahun ke depan. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah.muriod serta guru lain menunggu di luar.. kemudian tertawa.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. kaget. sementara ia sendiri dan murid-. semuanya beres. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. Lalu ia menguji mulutnya berbicara. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam. terbelalak. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. Bu. Pak Ary pun terpaksa ikut. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. Sehari sebelum tamu datang. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” .” “Jangan membantah. melirik. Ketika Anna senyum.

” “Tapi Mamaku tidak cantik.” Anak itu kehabisan kata.” “Baik.” Anak itu berpikir. nanti Mama kesepian di situ.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.” “Memang.” “Bibirnya tidak merah. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya. Di situ orangnya . Kalau tidak betul bukan sejarah. Bukan dia yang membawa Mama pergi. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya. “Lho kenapa?” “Nggak usah. “O tidak.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa.” “Bagaimana kalau tidak betul. pasti bibir Mama juga akan merah.” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah. hati Mama cantik kan?!. ia kembali memandangi ibunya.” “Kamu teman Mamaku?” “Ya.” Anak itu menggeleng.” “Kasih da-da sama teman Mama. “Ini dia.” “Kenapa?” “Sebab ……. Dia justru yang Mama ajak pergi. Mama kan harus memberikan sambutan. .” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.” “Jangan hanya lihat muka. kan?” “Betul.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah. Ya?” “Ya. kalau begitu Mama berangkat sekarang. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya. Kalau tidak ada dia. karena nanti dadanannya bisa rontok.” “Makanya. Memeluk juga tidak. Mama tidak sanggup di sana sendirian.” Anna tertawa.” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya. kalau sudah selesai dandan.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik. Aku tidak suka pipiku kotor. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja. kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor. Mama tidak akan mencium kamu lagi.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu. “Kamu cantik sekali.” “Tidak. lalu berpaling untuk mengingat-ingat.” “Harus betul.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi. “Mama ikut?” “Ya dong.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.“Karena baju yang dipakainya juga merah.

Kalau Mama sendiri yang datang. mereka akan bosan. Tetapi setelah satu minggu. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut. “Pak Ali.” Kepala Sekolah terkejut.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. Pak. “Maaf Pak.” “Kalau begitu. Guruguru lain hanya pandang-pandangan. “Aku tidak mau dibeliin lagi.” “Suruh dia saja. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Aku mau Mama di rumah. saya tidak ada missi apa-apa. Di luar sekolah terserah Pak Ali. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah.” Anna ketawa. Kalau pekerjaan beres.” “Katanya itu sejarah. supaya pekerjaan Mama beres. kontan memanggil. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan. Baru ketika Kepala Sekolah menegur. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei). Pak. dipaksa oleh orang tuanya. Kepala Sekolah.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak.” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul. “Karena dia cantik. Mama harus ke sana memberikan sambutan. Makanya Mama selalu bawa dia. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. apa?” Anak itu menggeleng. karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Pak. ia lupa itu pakaian daerah. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. untuk seterusnya. “Tapi hari ini Harkitnas sayang.” Anna terdiam.. Kan orangnya cantik. nanti Mama bisa beliin kamu ….” “Donat?” “Nggak. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik.” “Tidak bisa.” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan.” . Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Beberapa hari pertama. Para murid tercengang. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak. ia sempat menarik perhatian. apa sebenarnya missi Pak Ali.” “Memang. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu. ia ke sekolah memakai pakaian daerah.

” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh.” Ali terdiam. Tapi karena dilarang. Pak!” “Sama saja. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. Pak Ali. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. Pak!” Terjadi ketegangan. Kita pintar membuat aturan. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti. “Saya sudah mencoba. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Kedua belah pihak ditenangkan.” “Tapi ini sekolah. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. Pak?” “Tidak ada. Meskipun tidak menjawab.Ali tidak menjawab. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. “Aku guru. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. Pak Ali.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. tetapi tidak mampu melaksanakannya.” “Bukan. Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. Kalau di luar jam pelajaran. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. esoknya. “Anak-anakku semua para pelajar. lalu menaikkan suaranya. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. “Maaf Pak Ali. Pak. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah. sehingga semua aturan itu mubazir. Setelah semuanya reda. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. satpam cepat menghalangi. “kata Ali kemudian dengan sopan. Tapi ketika Ali mau masuk. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Tapi esoknya.!” Ali tercengang. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam . Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar.” “Tapi ini pakaian daerah. militer adalah biangnya. Keplok tangan buat Pak Ali. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya.” “Maaf. ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. tiba-tiba ia ingin melawan. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah. Kalau mau belajar desiplin. Saya hanya menjalankan perintah. “Maaf Pak. Kepala Sekolah. “Tentu saja tidak. sehingga guru-guru yang lain mendengar.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. satpam langsung menahan. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Tentu saja ia kembali dipanggil. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag.

Ia langsung menggapai. pasti lebih bingung lagi. Bu. Masak nama saja bingung. orang Sunda benci sama dia. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. “Lagi asyik-asyiknya. Jelas. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. “Tak usah nama yang muluk-mulul. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah.” “Lho. Saya belum punya nama. anak saya sudah lahir. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong.” “Mendingan Gajah Mada. dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak.” Amat jadi salah tingkah. selamat dan sehat. Tokoh sejarah. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu. eh nyatanya cumakusir dokar. Sementara Kartini. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Nama itu bukan soal sepele. jangan hanya bergantung dari nama tok. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. akan jadi apa anak itu kelak. walau pun hanya bangsawan Jawa. ada saja yang ganggu. Dia itu hebat. kenapa bikin anak. Hari Kartini baru saja lewat. apa artinya nama. mau bapaknya supaya jadi orang besar. Siapa pun kamu sebut dia. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. Selamat!” Anak muda itu masih bengong.. kalau dia dididik dengan baik.” Amat cepat berpikir. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini. “Maaf.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada. Itu namanya klenik. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut. Bapak tidak tahu. Bu!” “Memang. Aku memberikan nama sembarangan. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. Sudah sampai di mana kita tadi. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Nanti kalau beli susu. “Kalau belum siap punya anak. “Terimakasih Pak Amat. “Pak Amat. “Lho. Amat kecewa berat. Jangan pakai nama itu!” . “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona. periksa dokter. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. Sebesar-besar Gajah Mada. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. “Bapak keterlaluan!” “Lho. Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. langusng menutupkan pintu lagi.

” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” . lelaki tetap lelaki.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah. Hakekat perempuan tetap perempuan. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki.” Anak muda itu tertawa.” Anak muda itu tersenyum.. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. Ketika anak muda itu pulang dari klinik. What is a name. Namanya bagus. kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki.” Amat terperanjat. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat.“Tidak apa Pak Amat. Amat langsung mencecer. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan.” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu. “Boleh lanjutkan perjuanganku. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya. Dan manusia tidak ada yang sempurna. “Nama Kartini itu bagus. “Sejarah harus diperbaiki kalau salah. “Aku kira dia tersingung dan menyindir. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. “Gus. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.” Amat bingung. asal nyeplos saja!. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai.” curhat Amat malam hari di meja makan.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak. Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.” Anak muda itu terkejut. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. Kartini tadi datang menemui Bapak. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini. “anak itu sudah kaulan. Penulis itu mendebat. ia langsung menyapa. Ia merasa bersalah.”kata Bu Amat.

kita tidak boleh setuju atau tidak setuju.” “Bagus?” “Ya. Kalau kita mau mengubah-ubah. mengganti yang salah dengan yang betul. Bukan apa yang ditulis. Sekarang bilang begini.” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. “Kok malah main mata. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. ini bukan sejarah.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. “Atas dasar pikiran itu. Kalau faktanya terbukti salah. “Sejarah itu bukan yang ditulis. Sejarah itu tidak ada yang baru. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. adalah yang benarbenar kejadian. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja.”aku berpendapat. Semuanya yang itu-itu juga. namanya juga sejarah. Dia mencoba minta bantuan pada Ami. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu.” Amat langsung main mata sama Ami. “Ibu ini bagaimana. akan sulit untuk dikembalikan lagi. Ia masih penasaran. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng. Sambil senyum-senyum.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. itu namanya bukan sejarah. .” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. “Sejarah itu memang ditulis. “Kalau bicara tentang sejarah. keponakan kita itu. besok bisa bilang begitu. “Maksud Bapak.. mungkin faktanya ada yang keliru. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak. Ami?!” “Betul. jadi pikirannnya sinting. “Nggak apa-apa. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. “Ya dia rajin.” lanjut Amat. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab. pantas dicurigai. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum. hanya itu lho. apalagi bertolak-belakang. Semuanya sudah terjadi. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang. Bapak sudah baca?” “Ya sudah. Sejarah itu.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. Pak Amat ditinggalkan. “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. ” Tetapi berdasarkan fakta. penulisan harus dilakukan kembali. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali.” Bu Amat mengernyitkan keningnya. Buat apa percaya itu. Amat merasa keki. tapi mau merusak sejarah. kalau yang dia tulis ini tidak betul. Tapi ketahuan. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali.

mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an. Didi Petet bertanya. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan. Jadi …. tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. Mereka begituj sibuk di tempat lain. jangan-jangan mereka benar. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat.“Jadi menurut Bapak. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. tetapi .. berdegup. Sebelum TIM berdiri pada 1968. Bu. Tak berani ngomong apa-apa. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Walau Jakarta lagi banjir. Ponakan kita itu. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. tetapi juga sekaligus benci. Study Teater 24 dan Teater Mode. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. Langkah kecil pun menjadi kunci. teater rakyat. walhasil hidup. . “Kalau dia keliru. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. “Bukan begitu. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. Jantung Amat hampir copot. mereka hadir. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik. Bu. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. memiliki seluruh wilayah tontonan. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. meskipun keponakanku sendiri. tanda sesuatu itu masih bergerak. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar. Teater tradisi. apa gunanya teater. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. mengalami pasang-surut.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. di atas panggung. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain.. Itu sudah seni laku. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. tetapi juga karena ada kemungkinan. macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan. Cintalah yang membuat orang sayang. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. Bukan saja karena takut.” “Maksud Bapak. Kita hanya tahu separuh-separuh.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru.

semua penonton terpukau. Teater sering memberikan PR. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Dan sebagainya. mengangkat citra ketoprak. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. Tetapi rasa cinta. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. keduanya melakukannya dengan bagus. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. Tak ada gedung khusus untuk teater. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Karenanya perlu perhatin.banyak kendala yang harus dihadapi. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Dia adalah rasa. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. Ketika Teater Populer membangun p.ublik teater. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. Itu memerlukan waktu. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. Kalau tidak. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. Teater hanya hobi. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Ketika Teater Payung Hitam. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. Tiga dasa warsa yang lalu. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Semuanya itu langkah besar. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. Saya mungkin sudah mendramatisir. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. Ketika STB menggali idiom Sunda. Tapi walau tanpa persiapan. tak harus dimulai dengan penampakan. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat. karena itu memang bukan diskusi. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Teater Sae. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Ada gedung pementasan teater. Ketika Teater Mandiri. Tetapi sebaliknya. disadari atau tidak. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. orang lupa menilainya. Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Kemudian TIM berdiri. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. referensik dan interpretasi. Dan itu suka tidak suka. Memerlukan kesabaran. Itu adalah salah satu hasil konkrit. . karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. pada kehidupan tater kita lemah. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Naskah-naskah teater mulai lahir. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. level dan tata lampu. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. Teater Kubur. Ketika Teater Gandrik. Sampai kemudian ATNI berdiri. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. perhatian masyarakat pun terpecah. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Ada fasilitas. Tetapi bagaimana tidak. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh.

Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. di media massa. misalnya. Pramana Pmd. Apalagi Bengkel Teater dengan W. Teater Populer dengan Teguh Karya. di samping tak punya penyandang dana. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. sidang-sidang wakil rakyat. langkanya kebebasan berekspresi. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. Suaranya pun masih ada. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Banjarmasin. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. Dan sebaliknya. ceramah. di mana-mana. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond. kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. semua yang membungkam teater itu. Rendra. angklung dan reog yang dicaplok. Bukan hanya di TIM dan GKJ. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. Masing-masing orang. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. peradilan. Situasi tertekan. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah.S. olahraga. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. demikian tulis salah seorang pengamat. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. teater kembali kepada hiburan. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. diskusi. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Tak hanya kegaduhan. Seperti terhadap makanan. televisi. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. Melihat Yel di Washington State.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. kekejian dan korban nyawa manusia. perbedaan selera itu sudah ada. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. Apa yang mendorong itu terjadi. Khususnya sesudah reformasi. Surabaya. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. tak akan mampu disaingi oleh teater. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. adalah sebuah suara. teater tak akan berdaya. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. radio. tetapi juga terselip penjarahan. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. memang bila harus diukur dari kehebohannya. teater jelas kalah. Sebagai sebuah suara. 1990). frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil. teater sudah digelar. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Walhasil sebuah teater juga. membetuk model selera yang lain lagi. ketegangan. seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. Djajakusuma). perenungan. kasar. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. Teater yang keras. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing. pemaknaan . Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Tapi jangan lupa.

asal Anda mampu meyakinkan orang. Teater Sae. lalu diganti dengan kegiatan baru. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. Teater Payung Hitam. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata. musik). apa yang sudah detemukan. Dalam kenyataan. segala yang pernah dicapai. Ngeh dari Teater Mandiri. pementasan dari Teater Kubur. Odipus. Antara lain yang amat penting. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. pementasan Bom Waktu. Lho. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. Bengkel Teater. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. Sebagai akibatnya. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. Perkawinan Darah. Konsep tentang apa itu karya. Teater Kecil. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. Sebagai sebuah sejarah. Barjanji. terbengkalai. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. pementasan Aduh. Sampek Engtai dari Teater Koma. telah merangkul seni pertukangan. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Metha Ekologi oleh Sardono W. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. tetapi mereka terus setia mengikuti . dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Opera Kecoak. pementasan Kapai-Kapai. saya melakukan pembelaan. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Di dalam teater. pementasan STB. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. Setelah 35 tahun. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. FTJ harus direbut dan dipertahankan. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Hidup tak hendak. Barat dengan seluruh pencapaiannya. Teater Gandrik dan lain sebagainya. Hamlet dari Bengkel Teater. Kusumo. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. 1968. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Machbet dari Teater Populer. pementasan Dongeng Dari Dirah. lalu menjadi FTJ. Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. PKJ TIM hanya pelaksana. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. Teater Garasi. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat.dan penikmatan seni rupa. Memang sayang sekali. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. itu karyaku. mati tak ingin. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. Jalanan pun bisa. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. pementasan Jayaprana. Mega-Mega dari Teater Kecil. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. tetapi referensi. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat.

pembelajaran. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. Usahanya pun menjadi terbatas. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. Di Jakarta sendiri. Dalam sebuah keramaian festival. Dalam kualitas. Dalam dua kali gebrakan.festival. pengemasan pertunjukan. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. Tak mungkin hanya kwalitas. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. Padahal sejak awal festival. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. akan-akan karena masih remaja. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. Kendati kehadiran Teater Indonesia. Komitmen ala kadarnya. menjadi terus remaja. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. diolah kembali. masih ada riak-riak suasana tersebut. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. menghambat penjelajahan. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. tetapi kompetisi yang terbuka. pengemasan produksi. kompetisi akan lebih keras. Kedalaman pun tak terjadi. dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. sadar tidak sadar. perenungan. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. sudah menunjukkan kecendrungan professional. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. bergaul dan berbagi pengalaman. misalnya. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. seperti interpretasi. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. volume dan angka. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Di samping ada kompetis. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. Ini sebuah langkah yang sangat penting. Study Teater 24 dan Teater Mode. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. hasilnya konkrit. pengembangan. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”.

Teater akan hadir sebagai professi. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. karena didorong oleh perasaan kasih. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. mungkin tidak lagi akan terjadi. Tetapi dalam kenyataannya. namun tetap sebuah peguyuban. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. rasa kekelompokan.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. cinta . bebas tetapi terkendali. tanpa suatu ikatan yang ketat. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. Yang ada adalah pekerjaan. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. dan sanggup main berhari-hari. agar gerakannya semakin lincah. seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan).yang professional. Di satu sisi. mengabdi dan mungkin dimaki-maki. Untuk kerja besar dan berat itu. tidak lagi ingat kepada sesuatu. apabila itu menghambat. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Uang akan menjadi sangat penting. meskipun atau . FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium. produksi tidak mulai dengan kontrak. sebuah seni pengelolaan (menejemen). Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma. → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§. jitu. Uang bukan tujuan. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. juga gagasan dan wawasan (ilmu). Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. Teater Koma dan Bengkel Teater. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. untuk menyudahai perkara. Tantangan itu akan membawa suasana baru. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. sehingga seseorang menjadi alpa. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. yang memerlukan pembelajaran. Dalam praktek pergaulan. Dengan melupakan. gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Bahkan kalau perlu menghindarkannya. mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. misalnya. akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Di sisi lain. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan. Penonton menjadi raja. Seseorang mungkin memaafkan. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. sayang maupun tak tega. Diberikan kepada kesalahan. Solidaritas. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri.

dikendorkan. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi.padahal. Namun melupakan. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian.. sehingga ia bebas. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. dilupakan sumber sebenarnya. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. Tetapi di belahan yang lain. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. tidak lagi terbebani. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. tetapi oleh orang lain. Walhasil menghalalkan cara demi acara. Di dalam peguyuban. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Dan karena sudah dikeroyok bersama. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Peristiwa tersebut dilirihkan. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. prasasti. jadi lebih baik melupakan saja. Kita mengenal asas gotong-royong. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. tanpa ada perasaan rugi. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. tidak sebagai kesalahan. dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. konon adalah penderitaan berat 3. Tapi di pihak lain. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. tetapi satu paket dengan orang lain. Bergotong-royong. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. bila tak ada pernyataan secara formal. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. tapi hanya ingin melenyapkan. Pada ujung-ujungnya. Tetap menuliskannya di dalam sejarah. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing.5 abad. padahal harganya tak ternilai. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. menolak kehidupan nyata. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Sejarah adalah kita sendiri. apa yang salah. Dokumentasi tak diurus. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan. meskipun itu adalah fakta. risih apalagi bersalah. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. digemboskan. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . Demi persaudaraan. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. belum tentu begitu maksudnya. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. Masa pendudukan Jepang. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. melupakan tak pernah mengampuni. individu bukan lagi pribadi. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. hubungan kekeluargaan. Dan sebagai konsekuensinya.

Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. juga awam pada umumnya. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. terhadap pertanyaan tersebut. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Sebuah kata. tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. tidak hanya mengandung pengertian. Beberapa di antaranya mencoba bertahan. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. tergantung dari konteksnya. Kearifan lokal yang unggul. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. Dalam alenia di atas. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Membohongi diri sendiri. menjadi semacam falsafah kehidupan. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. digantikan dengan keseragaman dari pusat. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Sementara kearifan lebih pada akal saja. ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir.jadi penipu. Satu pihak tegas menolak.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. gemar cipoa pada orang lain. sampai ke masa yang akan datang. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. timbul perdebatan. Misalnya saja. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi.tetap mengandung misteri. Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. kembali dihidupkan. desentralisasi pun dipacu. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. memang hanya dua. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Memaafkan dan melupakan. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. tetapi juga bertaburan rasa. tetapi justru penggganggu. Tetapi berbeda dengan norma. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat. pada semua kata. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. juga di mana. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. pihak lain tegas . Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. dalam keadaan bagaimana. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. Di dalamnya terkandung kiat. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. → 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi. . kata-kata itu dipergunakan. Apakah memaafkan dan melupakan. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. Kearifan yang yang tidak unggul. kapan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama.

Tidak laki tidak perempuan. membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . Ya dan tidak. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. Kalau ini benar. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Petugas itu menjawab tegas. menanam pohon-pohon yang sudah langka. Pak?” cecer Alung. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Di alam resensi sebuah pertunjukan. Tidak kecil dan tidak besar. Dulu di Ancol banyak. tak bisa diperdebatkan lagi. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. yang saling bertentangan. walau pun itu bukan milik kita. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. sering sekali masih kurang siap. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. Semua orang. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. supel “dan atau” fleksibel.minta diteruskan. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. dipastikan berstatus tertentu. Pak Alung. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. tetapi juga secara hukum. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum. Karena keterbatasan juga berarti lentur. tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. “dan atau” dipakai. misalnya. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. ya atau tidak. Juga tidak umum dalam bahasa formal. “dan atau” mengandung keraguan. Dalam alenia di atas. masih belum sempurna sekali. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense). tidak membedakan jenis kelamin pelaku . cukup baik sekali. “Betul. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Atau tidak mampu menilai. sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan .

tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. tangannya memegang koran. Karena sembari ngoceh. pasti akan langka. Memang kalau terlalu serius tidak baik. tapi kami nanti jadi langka. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. “Dan kalau aku tidak tidur. karena tidak ada sisa makanan. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. “Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya.karena diuruk. “Wah kalau sayur lodeh sih.” . “Dihabisin babe ya?” “Ya. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Bayangkan saja. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. Dengan memakai humor seperti Srimulat. “Sudah jangan marah-marah. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. biarin saja habis. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. Mukanya menghadap ke layar televisi. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. Pak. “aku ini keturunan petani. Eh tahu-tahunya habis. lelaki itu terus saja makan. sampai tambah 3 kali. aku juga tidak akan tahu. Ibu kesel. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. katanya. Masih ada sisanya. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. segalanya bisa masuk dengan ramah. Para nelayan kehilangan nafkah. sayur lodeh lagi. bingung. seakan-akan sudah puas. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Kalau tidak ada ditanyakan.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya. Ani yang pulang telat. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. lama-lama akan jadi pohon langka. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi. Kalau ada banjir. “Nah bener kan. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib.” Ani menggeleng. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Bu Ane ketawa. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Begitu kelakuan anakmu itu. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. nanti masuk angin. Amat sendiri diam saja. “Bu.” “Jajan apaan. Masak sayur lodeh lagi. Maka arus air berubah. tetapi ia tidur pulas. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. Ayo makan. Ibu sembunyikan. kedele melonjak harganya. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. mana makanannya kok habis.

” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. niknat. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. jangan tidak usah!” potong Alung cepat.” “Tapi gua bukan jenis itu. Mereka adalah lapisan penonton baru. Itu tidak betul. sejuk. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak. nggak bisa dipakai ukuran menilai. seperti yang diakui oleh pembuatnya. Mereka sudah lebih kritis. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. tandas!” Alung meneguk air liurnya.” “Tidak. “Ambil apaan. Semua orang akan langsung mengopy itu. Tapi ngomong-ngomong. lokasi. Kata-katanya yang indah. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. Ia jadi kasihan. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu. Sekarang dia seperti orang ngidam. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Ambil Bu.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. Bu Ane melirik suaminya.” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas.” “Habis.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” . Mereka ingin yang terbaik. Ayo ambil!” Bu Ane ketawa. Kendala waktu. Ya tidak?” “Ya. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. tidak selamanya baik ditonton. biaya. Meskipun bukunya keluar duluan. “Ya sudah.” “Memang apa yang baik dibaca. sayur lodehmu sekali ini enak sekali. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi.”kata seorang pengamat. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan.” “Nah. tidak keluar dalam gambar. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton. sudah malam. Ah. “masak tiap hari sayur lodeh. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya.

Lalu Slamet berunding dengan istrinya. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Pak Harto. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. “Bu. novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. tertegun. Jadi rasa tidak begitu saja ada. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka. Bung Hatta. Memang nggak doyan aja. tapi menurut gue. pejuang kemerdekaan. kamu tidak bakalan punya rasa.” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah. Orang yakin kalau Slamet meninggal. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. Doi juga ikutan. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. “Jawab dong. Kalau tidak bisa satu. biar puluhan kali cetak ulang. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. Kalau tidak ada sebbnya. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah. . Biasa-biasa saja. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Semua bilang itu novel hebat. tetapi didorong kebiasaan. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. makanya dibuat film. Bukan mau menentang arus. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. karena dia sudah biasa minum. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Orang bilang bir itu manis. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan.“Biar berjuta-juta orang memuja. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. Ia tidak langsung menjawab suaminya. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. dimakamkan di luar makam pahlawan. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya.

kepada keluarga besar kita. Masih ada Bapakmu ini. Kepada ibu kamu. Biar orang-orang itu melihat. tidak berani membuat keputusan. Pahlawan karbitan. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. Aku ini keturunan abdi dalem. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. dengan segala bintang jasa. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. “Jelek-jelek begini. seperti teman-temanku yang lain. Dia tidak mengerti apa mauku. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. ternyata itu tidak cukup.” “Tapi aku bukan pahlawan.” “Ya apa pun namanya. sekolah kalian semuanya putus. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. kok masih mampu menolak kehormatan . Aku tidak. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk. Jadi Bapak sedih. Akibat bapak tidak punya kedudukan. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. mengabdi. yang lain kontra. Mereka punya naluri dagang. Pahlawan kesiangan. Satu pihak setuju bapaknya. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. aku menyerah. “katanya. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun. penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi.” “Pak. Kendaraan tidak ada. Kamu dengar itu di Bali.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. jangan sok membuang-buang kesempatan. terutama berhadapan dengan ibu kamu. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. Anak-anak terpaksa menyerah. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. tapi jadi pedagang saja. Pada kesempatan yang baik. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Coba kritik bapakmu itu. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Kita tidak punya rumah sendiri. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. Untung ibunya datang dan langsung membentak. Bapakmu ini selalu ragu-ragu.

karma yang akan menjadi ukuran. Kita tidak mungkin ikut campur. lalu menjawab lirih. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan. Media massa nanti pasti akan heboh.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. Begitu maksudku. “Bukan Bu. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. ia baru menoleh paa Ami.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. urusan di sana. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Semua orang akan memuji. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda. siapa saja. Tetapi bukan lantaran menyimak. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan. tidak. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. tidak masuk surga semua. Jadi …. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. Ami tidak menanyakan itu. berlangsung spektakuler. Setelah istrinya masuk kamar lagi. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk.” “Ya sudah kalau tidak tahu. Tidak! Tetapi justru menambah. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. tidak menjadi ukuran. jawab tidak tahu. jangan salah sangka. “Bapak ini suka bertele-tele. Di sana. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. itu kan urusan di sana. di dalam pewayangan diceritakan. Amat tertegun. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. “Aku tidak tahu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Dan aku menegaskan. Besar kecil upakara. jawabnya. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. Yak kan?” Ami berpikir. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. “Ami. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu.” Bu Amat kecewa. Karma almarhum adalah ukurannya. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. setelah perang Bharatayudha. Lihat itu Pak Slamet.

jangankan dunia sana. kecil ikannya!”. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. Mau betengkar bagaimana lagi. lalu masuk ke kamarnya.” Bu Amat yang sekarang tercengang.”komentar seorang . sehingga Bu Amat kaget. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. Sebenarnya aku punya pendapat. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga.” “Bohong!” Amat terkejut. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang. Pasti tepat.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto.” Amat terkejut. “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. adalah bapak pembangunan. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. tetapi kemudian senyum. Pak.” “Harus setuju. kita sama-sama tidak tahu. tidak semuanya kita ketahui. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. lalu keluar. “Begitulah kita di dunia ini. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. “Kita lupa.” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga.”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas . “Betul. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. presiden Indonesia selama 32 tahun. sambung para petugas spontan. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan. “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa. karena tidak dibukakan pintu kamar.“Ya karena aku tidak tahu. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. yang ada di dunia ini saja. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat. Apa yang di sana akan berubah kalau. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. “Kata orang tua saya. surga itu di dalam hati orang lain.” Ami kaget. Amat hanya tertawa. “Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. itu surga.” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu. Ia menutup pintu keras-keras. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja.

Sedikit sekali yang mengantar. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Jepang dan Singapura sendiri. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . Orchard Street. Tak ada yang merasa sedih. untuk apa mendapat tempat yang baik. Pensiun pun belum. Amerika. tetapi kalau mau obyektif. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. wakil presiden. Hanya saja ia memang agak nakal. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Ibunya hanya menjawab. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. “Bisa jadi ada cacadnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Walhasil. “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. terpaksa Franky dan ibunya pindah. ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Kalau kalah suara. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. Franki termenung. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. Upacara sudah berakhir. “inilah demokrasi. “kata Franki kepada istrinya. SMS lain muncul lagi dari Jakarta.” Franky melihat kembali ke layar kaca. Entah siapa yang mengirim. Malaysia. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. Kita boleh dan bebas berpendapat. karena suka perempuan. “Manusia Indonesia pemaaf. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Di antaranya presiden SBY. Dan kalau bapakmu memang baik. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. mesti berani menerima. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. terasa positip. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Upacara berlangsung megah.” Tapi setelah itu. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Tidak curang dalam soal uang. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. layaknya kepergian seorang raja. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Tapi ibu memaafkannya. Tidak. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. Kalau bapakmu karmanya memang buruk.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Keluarganya pun tak lengkap. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno.pengamat. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat.”kata Ibu Franki. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. “Tak pernah merecoki orang. meskipun keki. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. karena memang itulah kelemahannya.

Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. apa pun suaranya akan tenggelam. Amat marah sekali.sauara . wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. lalu masuk ke dapur. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global.”kata Amat berkali-kali. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat.. Ia terduduk kelelahan. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. Ibunya setuju. Sekarang semuanya itu akan berakhir.residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. dipakai main juga tidak pernah. . Dengan berolahraga bersama-sama. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. Kalau Bu Amat sudah mendukung. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. Dalam rangka memerangi pemanasan global. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. Pak. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami. “Untuk apa lapangan badminton. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. Coba baca. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. Tak sampai satu jam. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Mau jadi juara All England.

karena sudah terlanjur. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. memandang dengan kecewa.. Sampai sore. hampir separuh lapangan sudah tergarap. kalau Amerika. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan. Amat hanya tersenyum. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. sudah Pak. malahan tambah menjajah. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. “Yah. Jepang. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Tapi mukanya menahan marah. lalu istirahat. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. “Bagus Pak. Lalu datang istrinya. Sehariann ia termenung.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. Lebih banyak karena kecewa. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. ketika ia mengalah. kita yang disuruh kerja. tidak apa. Ia hanya menjadi tambah sedih. anak muda itu mengangguk. kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. Tetapi heran juga. tomat. “Sudah Pak. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. kita bisa malu!” Amat takjub. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. anak-istrinya bukannya tahu diri. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Dia tidak bisa ngomong. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. . “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Pak Amat. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Heran sekali. Amat mengangguk. Amat pura-pura tak mendengar. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. Kalau pikiran kita hijau.” Anak muda yang lain. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Esoknya. Sebelum Amat menjawan. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. “Sudah. pagi-pagi Amat sudah bangun. Kalau tidak. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. sekarang dalam tempo dua jam. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Ia tak punya suara lagi di rumah. padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. tetapi di d alam pikiran kita. Dia yang bikin rusak ozon. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. Tentang pemanasan global.

DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. Yang akan tersaji hanya bentuk semata. Jajang C Noer. Yang pasti. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. ekspressi yang datar. tetapi tak urung menjadi tantangan. Kelompok yang sudah hadir gemilang. Danarto. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari.“Ya sudah. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan. Radhar Panca Dahana. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ). Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. gesture yang salah. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. Seno Joko Suyono. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. . Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. antara tanggal 21 s/d 30 Desember. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Penataan panggung. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. kembali berkobar. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. harus bertekad untuk tampil maksimal.

Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. pola pemeranan. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya. sampai pada memilih naskah. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. Namun di atas semua catatan-catatan itu. tetapi juga pemimpin kelompok. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. keras bahkan berteriak namun tidak jelas. Pemahaman terhadap naskah. Barat tetap menjadi referensi. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. artikulasi kata-kata tidak jelas. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 . Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. volume suara tidak memadai. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. asal tetap sesuai dengan tema festival. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. sangat menentukan hasil akhir pementasan. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. pilihan bentuk artistik. apakah itu komedi atau tragedi. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. Realisme ternyata tak pernah mati. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. Demikian catatan kami para juri. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. apakah itu naskah realis atau non realis. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. Di sudut lain. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. Selamat berjuang. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. peran sutradara amat penting. benar-benar harus diikuti. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Jakarta.

masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. karena saya dokter. manusia tetap mati. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal. baru dibawa ke Puskesmas.” “Terlambat bagaimana. Ketika sampai di Puskesmas. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. tidak ada gunanya. dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. itu tidak berlaku. Tetapi di dalam hutan. Biasanya pasien parah langsung diinfus. tidak bisa bayar. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. HIV. tidak akan terlambat. Disaksikan keluarganya. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. Pada suatu malam.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. sehingga ketika maut tiba. “Pak Dokter harus tolong kami. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. dalam bayi tabung. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. Bagaimana pembuahan di luar rahim. saya bedah mayat itu. Dia itu kepala keluarga.” “Makanya keluarkan ular itu cepat. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. keluarganya tidak percaya. sebab orangnya sudah meninggal. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul.

Ada yang menangis. Paling berapa kilometer. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Kalau Dokter cepat bertindak. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. kau lambat sekali. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu.” Mereka tercengang. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. tak percaya apa yang saya katakan. Saya terpaksa menjadi dukun. jangan terlalu banyak diskusi. Pagi-pagi pintu digedor. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan. Saya bingung. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat. Saya rogoh saku. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. ingin tahu apa hasilnya. berdoa dan menyanyi.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek. tidak cuma ngobrol. tapi tidak ada yang mau. apa itu itu artinya lumayan. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu. ” kata saya menunjuk pada mayat. Dukun sendiri malah mundur selangkah. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal.” “Terus hasilnya?” “Itu. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter. Mereka semua nampak bimbang. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. Dukun pun terus menjalankan upacara. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. berhasil atau tidak?” “Berhasil. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba.. Wajahnya meringis kesakitan. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Bilang saja terus-terang. Saya berikan ruang agar mereka lewat. .” “Ah. tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu.. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu. Kasihan keluarganya.

muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. saya langsung kelelap. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu. mereka lalu bergerak. Bahkan sampai tiga kali. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. mengeluarkan duit. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Begitu kejeblos. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. dengan bahasa yang mereka pahami. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. biarkan aku istirahat sekarang. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu. lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu. Badannya penuh dengan luka parang. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. Kalau saya tolak. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk.” “Tidur?” “Ya. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. .” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan. “Kata dia sebelum tidur. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. tenang semua. yang lain menghampiri mayat. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. sekarang sedang tidur.. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. bisa jadi konflik. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Sampaikan kepada mereka. Setiap kali mengobati mayat. Setelah dukun mengeluarkan mantera. karena aku sudah lelah sekali. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. karena saya sudah terlanjur dipercaya. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Tidak. kalau saya runtuhkan lagi.. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup. lantaran saya sama sekali tidak siap. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. berubah menjadi pengurus orang mati. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus. minta agar saya mengobatinya.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. Beberapa orang menyanyi. Mengulur semacam pelipur. ia menghitung. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. berikan ini kepada istri. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. atau apa sajalah namanya. Tidur untuk selamanya. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Pada suatu malam. bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Mereka curiga. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Diendus-endusnya dari jauh.

Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. karena kalau sampai dia mati. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Tolong hidupkan Bapa kami. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. tetapi ternyata tidak cukup. tapi cintanya palsu. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. “Kalau satu hari tidak cukup. kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. longsor atau letusan gunung berapi. Kami semua ada karena dia hidup.” “Saya sudah berusaha. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. kami bisa tunggu. Kami mau ada hasil!” “Tapi ..” “Kami tidak mau hanya usaha. Saya bingung. gempa. asal dia bisa hidup lagi. Mereka pasti akan kecewa sekali. boleh kocar-kacir karena kebakaran. Lebih dari itu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Apa artinya orang-orang ini. Dia cinta kami semua. Banyak di antaranya yang terluka. “Kehormatan buat kami paling penting. berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak . agar bisa nyambung dengan masyarakat. Subuh. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.. Kepalanya bisa saya sambung. Dokter. banjir. Otaknya rusak juga tidak apa. tapi nyawa tidak mungkin. Itu mustahil. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. boleh mati karena wabah penyakit.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. Saya sudah berpurapura jadi dukun.” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Kalau dia mati. kami semua akan mati. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu. Bapa saya itu raja. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat.Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. “kata putra kepala suku. sekarang menghajar saya. “. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Saya benar-benar cemas. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka.” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul. Bapa saya itu lambang. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. tetapi mereka tidak peduli. asal hidup. “Sebelum perang.

Anak Kepala Suku tertegun. saya menyerah. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab. Sejak itu bukan orang mati. Masyarakat marah melihat para pemimpin. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Tiba-tiba saya melihat peluang. pesan orang tua saya waktu kecil. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. tetapi cepat saya gapai lagi. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.”kata Kleng berkoar di jalanan. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Lalau entah darimana datangnya keberanian. bersorak gegap-gempita. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Tapi ajaib. Tetapi kemudian semua meledak. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. ada orang sakit yang mati. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Saya ketakutan. tidak terkabul. saya berbisik. Saya gemetar. Apa pun yang akan terjadi. Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Besi bendera itu terlepas. Orang-orang lain pun tegang. Kalau kalah. hangat nafasnya membuat saya tersiraf. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. daripada membela kebutuhan rakyat!” . mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. Dan itu berlangsung lama. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. . tidak. tetapi terutama kasih-sayang. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. Harapan saya ada gunting. Di laci. Teriakannya membuat semua terdiam. Anak kepala suku itu menghampiri saya. Saya bukan lagi dokter. “Pahlawan tidak pernah mati. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Sedetik hening. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. Dengan panik. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Kalau saya harus mati. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. itulah satu-satunya pegangan saya. Mereka melolong seperti binatang liar.. Lutut saya tambah lemas. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. Mereka tidak hanya mencari obat. pisau atau barang tajam lainnya. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. supaya musuh dapat diberantas. Mukanya langsung keruh. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. seorang penduduk di wilayah Ciputat. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. saya tidak mau mati terlalu konyol. mungkin akan jauh lebih berguna. Saya tak sanggup lagi bicara.” Anak kepala suku itu kaget.mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. kalahlah dengan indah dan gagah. Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona. “Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. Namun Kleng. Saya genggam besi itu.

rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua. Pak. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat.” “O ya?” Petugas itu mengangguk. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang.” Kleng tak bergerak.Esok harinya.. Ia nampak bengong. sudah cukup.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul. kami bisa menjelaskannya. siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat. bukan rakyat yang salah. Sekarang karena sudah jelas. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak.” Petugas mencatat. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat. kejahatan birokrasi yang semakin licin. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak. Kecuali kalau ada yang lain.” “Berarti saya bebas?” “Memang.” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya.” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul. Kleng dipanggil ke pos polisi.”. “Tidak. Tapi itu bukan teriakan-teriak. “Lho saya boleh pulang?” “Ya. Saudara boleh pulang.” . “Silakan. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul. agar kalau ada pertanyaan. Kemudian dia menggeleng. Sudah cukup. “Ya. Kemudian dia berbicara dengan temannya. Kalau ada kesalahan. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau. Kleng bingung. “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir. korupsi. kemacatatn jalan raya setiap hari.

masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan …….” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu. untuk membunuh Niwatakawaca.” “Lho ini kenyataan. Bapak juga.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis. Ya bukan hanya Ibu kamu. Kamu sendiri sering bilang. seakan-akan itu bukan urusan mereka. tempe. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. Lihat saja ketika hak cipta batik. Baru kalau kepalenya sendiri digondol.” Petugas mau mencatat. “Saudara boleh pulang. reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang. Kalau semua orang seperti ibumu itu. sebab aku masih ingat. menghayati kembali apa itu Indonesia. Tapi saya tidak mau. Pak Amat ingin menyepi. meskipun dipelihara. Ami. pejabat-pekabat kita tidak peduli. saya dipanggil. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya.” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin. tetap saja makin tua makin merongrong.” “Iiih kebangetan.” “Hanya itu?” Amat berpikir.” “Ya saya tahu. tidak tidur dan tidak makan dan minum. sama saja dengan kendaraan. Benar tidak?” “Kalau itu memang. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois.Kleng menggeleng. tapi ……. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. kita semua manusia begitu. . Tanpa kepribadian. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia. keroncong. ada tiga sekaligus hari ini. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek.” Amat tak bisa membantah. masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. Nanti jawaban satu nusa.” Bu Amat tak sabar. bukan semua kita!’ . perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Makin lama. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.” “Tidak ada tetapi. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor.. tidak usah susah-susah bertapa. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. Rasa Sayange. pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Begitulah manusia. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa. akhirnya ia mengomel pada Ami. Yang pertama protes adalah Bu Amat. kurang waspada. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. “Ah kalau cuma maunya itu.” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya. perpecahan. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan.

kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. seperti kambing congek Amat salam-salaman. gembos dengan sendirinya. tapi ketika terdengar suara perkelahian. Masalahnya sama. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. lalu keluar. tetapi kakinya hampir copot. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Bu Amat tersentak bangun. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. mulai kesal. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat.“Ah sama juga. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. begitu membuka tutup nasi di meja makan. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. Sudah lewat tengah malam. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Dari pagi hingga malam . Tidak ada apa-apa di situ. tiba-tiba datang tamu. Ia tidak pernah marah. Ia sudah menghunus parang. Air matang pun habis. Begitu tamu pulang. Tempatnya berjauhan. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Tiga jam semuanya baru terkuras. Tetapi sial. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. kata-katanya juga sama. Ia lebih banyak menyesali . Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. ketika Amat masuk ke dalam rumah. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. Biasanya kalau Amat datang. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Amat dengan sabar melerai. Untung Amat tidak terlambat. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. jadi lebih sering ngelayap. kemudian perdamaian dimulai. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal. Ia marah. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Pulang ke rumah. Tinggal Amat sendirian. Mula-mula Amat tidak mau.. tetapi siksaan. Coba kritik Ibumu. Ami juga sudah pulas. Sampai di rumah. Amat kecewa lagi. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. baru hendak melepas baju batik. Tapi ternyata bukan tiga. langsung minta Amat keluar. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. ada empat acara pernikahan. Tidak pernah menuding orang lain. apalagi pintu rumah diketok tetangga. karena kesal melihat ulah suaminya. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. Itu bukan silaturahmi lagi. badannya rasa hancur digiling. untuk melerai. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir. Ia dengarkan keluhan keduanya. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. Amat selalu dianggap sebagai kunci. sekarang perutnya keroncongan. Ia manjakan istri dan anaknya. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi.

asal masih ada kamu yang menyapa. jadi waktu semalam ia masuk kamar. kesal. ” tapi apa boleh buat. Amat merasa lebih lega. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. Tiba-tiba mendesak rasa haru. “Apa?” “Ah nggak. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . Aku tidak mencari panah Pasopati. seperti seonggok kayu yang tumbang. “Kasihan Bapak. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. sebagaimana biasanya.” jawab Bu Amat. Bapak kok tidur di luar. Bahkan ketika mulai punya pacar. “Ya hanya kamu temanku. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. bapakmu kan memang maunya bertapa. ” bisik Amat dalam hati. menahan perasannya. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. Kasihan pada dirinya sendiri. ia masih saja cengeng. “Aku tidak lulus. Usiamu bertambah. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. sepi. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Ia tidur mati. Baru beberapa menit duduk. Tetapi ternyata balasannya tak ada. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Tapi tak bisa. pengalamanmu semakin banyak. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Amat merasa dinina-bobokkan. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. “Aku bertapa. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. Kemudian datang malu. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar. Setelah menangis dalam.” Amat membuka mata. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Biarlah tak ada yang mencintaiku. Tetapi setiap kali tahun baru. “Sebab aku bukan Arjuna. Tidak dingin?” Amat menggeliat. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. Sekeliling sepi sekali. aku sudah merasa cukup lega. Ibu terus saja pura-pura tidur. “Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa.kekurangannya sendiri. untuk dikeluarkan lagi nanti. Lalu Amat tersenyum. Lampu kamar belum dimatikan. “kata Ami. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Amat menangis. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Kelihatannya sangat nikmat.”keluh Amat. Malam bagai mendengar. “Ya.” “Kenapa!” Amat tertawa. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tanpa seorang penonton. Amat bangkit dari kursi. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam. keluar ke teras. terhanyut begitu jauh. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Amat duduk terhenyak. Setua sekarang usianya. Aku ternyata sendirian. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Ia memandangi istrinya lama. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar.

Untung saja Ibu memaksa aku kemaren. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng. .” Amat ketawa malu. Meja makan memakai taplak baru. menarik kursi lalu duduk. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan.” “Tapi aku belum mandi. aku tidur di luar. tetapi karena kita tidak tahu.” “Bapak lupa. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. karena Bapak bukan Arjuna. Kopi panas. Untuk apa bertapa.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. pacaran lagi……. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab. Kalau tidak. Jadi karena takut mengganggu. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. akibatnya kita jadi tidak peka. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. “Tidak ada. Arjuna kan doyan kawin. “Minum saja dulu.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir. bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur. “Cukup gulanya. “Ya. itu tidak penting lagi. “Boleh. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. aku ingat. Ibu memang beruntung. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. Rumah nampaj berdandan. Matanya terpejam karena nikmat.” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. justru bangun-tidur minum itu sehat.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.” “Untung?” “Ya. Akhirnya ia menghampiri meja. . Pak. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan. ia terkejut. Juga ada buah-buahan. Tetapi begitu sampai di dalam. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia.” Amat bersenandung mengikuti lagu. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan. “Aku untung kalau begitu.” “Ya. Bu Amat dan Ami nimbrung. kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain.cemburu buta. bangun tidur.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Kamu nampak lelap sekali. Kemudian ia meraih pisang goreng. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. buta dan merindukan yang lain.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. “Ah sudahlah. Amat lalu masuk ke dalam rumah.” Amat hendak terus ke kamar mandi.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. apa yang mereka lakukan.” Tiba-tiba Amat terpagut.” Amat mengernyitkan dahinya. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. alah bisa karena biasa.” Amat menggeleng tak mengerti. Tranfusi darah. khususnya di kalangan kaum homo. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. “Astaga.”lanjut Ami menyambung ceramahnya.. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. “karena terlalu sering didengung-dengungkan.”kata Amat seperti disambar petir.“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng. Dulu siapa yang mengidap AIDS. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain.”bisik Amat. hari ini tidak usah. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan . Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. di depan sejumlah ibu kampung. Amat terpesona. “Kan sudah kemaren. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. “terimakasih. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya.” kata Ami memberikan ceramah. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. “Sudah dibatalkan. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren. “Terimakasih. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Amat menatap anak istrinya dengan takjub.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS. betapa cantiknya hari itu. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. “kalian sengaja melakukan itu. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini.” Amat terkejut. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai. yang bebal. “Lho bukannya. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. buta.” “Tapi sesuai dengan pepatah.” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja.

Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. yang nomor satu ditakuti. 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. yang belum menikah. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. tetapi kehilangan otak. bukan lagi HIV. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu. yang paling mengancam kita. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. Semuanya mengucapkan selamat. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. “Apa ceramahmu gagal. “Wah. . “Kamu bilang begitu?” “Ya. tidak punya rasa malu. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. juga kehilangan kesejahteraan. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. kalau dalam usia semuda kamu. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. tidak punya harga diri. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan. Sekarang malah diundang berceramah. “Aduh. tidak peduli kepada kemanusiaan.dengan masyarakat. Tanpa kedudukan. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Moral kita sudah jatuh. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. bukan lagi AIDS. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. “Sekarang yang paling berbahaya. tetapi tetapi seluruh bangsa. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami.” Amat terkejut. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. orang akan bangkrut dan mati. “Mereka bilang begitu?” “Ya. Dengan loyo Ami pulang ke rumah.” Mata Amat semakin membelalak.

Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. Lalu bergegas keluar. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan. mereka tak mampu mengucapkannya. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. Hanya saja karena orang sederhana. Ami kebingungan. Ternyata benar.” . kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. AIDS sudah dianggap enteng. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. bukan yang kamu katakan Ami. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. “Kenapa Ami. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. benar juag komentar ibu-ibu itu. untuk mendengar sendiri secara langsung. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan. Bukan hanya ibu-ibu itu saja. pujian mereka kepada Ami. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. isi ceramahmu bagus sekali.cantik lagi. “Kalau begitu. ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik. Bapak juga sama saja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful