Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

jadi kita harus menghormatinya. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . Itu sebabnya Ami marah. Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. sama juga dengan budak. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. Boleh marah.” Ami mengangguk. Tapi harus ada yang marah. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. “Ami.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. Masak diam saja. Bapak tidak boleh ikut marah. kalau kita diinjak-injak. “Jadi kamu mengerti. “Bagus. Kalau begitu kamu dewasa Ami. Ini bukan hanya masalah tari pendet. Dengan menekan perasaan. Amat menyerah. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak. Bapak bangga sekali. karena kita adalah bangsa yang santun.” “Ngapaian bijak.“Tapi melarang!” “Memang. Bijak.” “Kenapa?” “Karena Ami marah. kalau kita diam saja. Karena kalau presiden marah.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. bisa-bisa mantunya tersinggung. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. Bapak tidak usah minta maaf. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. sekarang baru tari-tarian. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. sopan dan santun itu ada batasnya. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. kata Ami. bisa terjadi perang. Kalau mereka dengar. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. bukan hanya masalah orang Bali. anak kita marah-marah sama Malaysia.” “Bapak minta maaf dan pulanglah. “Bapak tidap perlu minta maaf. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. karena tetangga kita mantunya Malaysia. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. Kalau tidak. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Betul. mantu tetangga kita. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. Jadi Ami harus marah. Kalau Ami pulang.” “Tidak. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. Sekarang mari kita pulang. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali. Kan sudah berapa kali kita dihina.” “Tidak.

tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. Sama sekali tidak. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur. Amt kemudian menggebrak meja. melempem. sehingga esensinya. yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. Tak sabar. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang. alias tidak melempem. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. Kebudayaan Jawa yang tinggi. berjanji. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. mengejar nama dan duit.” Amat terkejut. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. sabar. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Hidup di kota pun penting. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Prambananan. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo. Ia kemudian mencecer. mirip sebuah sumpah. malam Jum’at. si maniak kopi. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. “Banyak orang tersinggung dan kaget. tetapi bernas. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. menjelang bulan Ramadhan. ia akan terus bertahan di Yogya. tersimpan niat yang mulia. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. “Maksud Bapak. Ia berseru. “Sabar Pak. Dengan memberikan tafsir baru.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah. tapi isinya. Ia ingin mencuci kembali tradisi. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot. bukan kulitnya. begitu panggilan akrabnya. “Yes!” Tak puas hanya memekik. Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. pasrah. Mempertahankan tradisi itu. yang membuat telinga merah. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. ia membuat seluruh kebijakan. Menampik budaya kota. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. buku Nagara Kertagama.

Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. “Lihat Bu. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. di Jakarta. Itu memang kataku. “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. tindakan serta pemikirannya. tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. sambil menunjuk ke televisi. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. “Kalau dia memang pahlawan. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis. karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu.” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. dengan semua perbuatan. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. “Itu namanya penafsiran. Titik. Pak. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. “Ya itu kataku. mengingat ekonomi yang . sehingga bisa bergaul dengan semua orang. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan.yang dipesan suaminya. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Aku berkata untuk almarhum. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. “Itu artinya dia orang besar. Yang wajar-wajar saja. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. “Jangan suka marah. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. Mbah Surip dan Mas Rendra. “kara wajah di televisi itu lagi. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. mas willy§. Amat tercengang. Ami mengangguk acuh tak acuh. kontan buyar. Bertengkar juga berpikir. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan.” “Memang. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus.melanjutkan. Jadi Jacko. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan.

kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. “Ayolah Ami. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia. lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. tetapi ribuan bahkan jutaan. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. karena tidak melihatnya. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. Pak Amat. Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja. istri. Pak Amat. “Teroris!” umpat Amat. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang. membatalkan laganya dengan PSSI All Star.” Amat penasaran. ambil segi baiknya. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. “Sudah Pak. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. merasa ikut kehilangan. seperti yang aku dengar di televisi. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.” “Politik?” “Ya. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. “Coba tenangkan bapakmu Ami. yang doktor pun bisa dicuci. famili dan negara. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. “Itulah politik. Bukan karena tak ada. Seorang pemuda menjawab.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. susila. “Aku heran. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja. pikirannya sudah ngelantur lagi.” . lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi. budi pekerti bahkan agama. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Orang itu tidak menjawab. Dia buru-buru pergi. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan. keluarga. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian.” Ami melirik bapaknya. Orang-orang itu punya anak. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan. hubungan itu sama sekali tidak ada. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya.” Amat terkejut. Dia mulai marah. Dia memanggil Ami. ini politik.

“Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. Setelah itu. Teror dan bom di mana-mana. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. Bu Amat menjerit. Ia terkejut dan jadi gemetar. “Aduh. Bu Amat terpesona. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. Anak dijual oleh ibunya. Matanya menancap ke televisi. Layar kaca. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. . manusia menjadi semakin tabah. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. Tak kuasa lagi menahan diri.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Kalau tidak begitu. Manusia makan mayat. Begitu saja rasa ngeri. Takut. ia sempat terdiam sebentar. Bu Amat melihat darah. ngeri. Penculikan. Melihat di mana ia sedang berdiri. Orang hilang. tangan dan kakinya yang terputus dari badan. bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Ia hanya memandang ke satu titik. ia memang masih tertekan. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. kaki. Bencana alam. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri ….. Bom Marriott 2. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. Kepala. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada.Ami terperanjat. Pada kejadian Bom Bali Kedua. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. masih seru. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi. tapi hanya sembilan. “Hidup semakin keras. ia sama sekali tenang. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . Anggota badan manusia berserakan. Korupsi. “ Bu Amat tertegun. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Bu Amat tersentak. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. semua terpisah dari tubuhnya. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. ia bisa mengucurkan air mata. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Kepala. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. . Ketika muncul berita Bom Marriot 2. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku.”bisik Bu Amat dengan terkejut. Memang bukan 200 atau seratus ribu. Di puncak bukit yang bergetar. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Dulu. tangan. Ia lupakan dulu curhat La Toya. Ibu membunuh anaknya.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. kita semua akan kalah. Isi perut terburai. “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi.

tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali.” Amat tercengang. semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. menghampiri Amat. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. Masak kita akan menghadapi kiamat. angin topan. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. Bersiap-siap saja. Bu Amat menjawab enteng. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. korupsi. Sabuk Himalaya. Indonesia. mempunyai resiko yang paling besar. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai. Terlalu menyepelekan. Kita blak-blakan saja. “Bukan. dia tidak peka.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. . Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. datanglah secara kesatria.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran. letusan gunung. penyalahgunaan kekuasaan. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. “Ya. Sama sekali tidak mau peduli. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. Gempa bumi. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat. Ternyata tak beda dengan Bu Amat. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu. Filipina. letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru.”kata Amat curhat pada Ami.” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. China.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009.

Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. Penjajahan politik sudah kita tendang.“Jangan terlalu dekat. Waktu itu. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. tidak ada hukumannya lagi. “Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur.. Samurai di genggamannya terlepas. kamu membunuh satu juta.” Tanpa menunggu jawaban Amat. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Teater kampus ditonton dengan . Saya menulis kredo untuk teater kampus. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. saya menyarankan agar teater kampus. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. Harus menjadi pelopor. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat. “He mau ke mana kamu?” “Pergi. Belum selesai itu. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. Perasaannya tiba-tiba kosong. Badannya lemas. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. daripada pergi meninggalkan kita. “Dia pergi. tetapi kehidupan teater yang bebas. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Tapi 2009 tak bergerak. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. Tangannya gemetar. Dua-duanya harus di bunuh. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas.

bisa menjadi menarik. Teater tradisi yang asli bagus. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Selama ini yang sering terjadi. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. Penyutradaraan. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Hasilnya adalah kegagapan. Untuk itu kampus harus membuka diri. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. kreasi. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar.penuh penghormatan dari masyarakat. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. harus ada studi dan strategi. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. di tangan sutradara yang baik. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Bagi saya ini hal yang positip. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. Titik pusat jadi hanya pada cerita. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. penataan adegan dan set. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. memberikan pengetahuan dan sebagainya. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. Sebuah naskah yang buruk. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. Musik. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. komunikarif. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Aspek penulisan lakon dal. lebih dari unsur verbal-nya. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. kalau tidak. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. menghibur. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Ini adalah ciri-ciri tontonan. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. unik dan orisinal. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. Tetapi kalau ditanggapi keliru. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Karenanya memerlukan pembelajaran. kehilangan jiwa. akan terjadi sesuatu yang kosong. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. Masing-masing jenis teater memiliki langkah. Dan untuk membuat perencanaan. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. membuat penasaran. karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. akan membuat pertunjukan tak punya arah. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda.am Festasimo IV masih rawan. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah.

Banyak lagi masalah lain. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Sulawesi. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. terjadi reformasi. Baik suku. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. tak hanya seni akting. Bali. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Hanya dengan cara seperti itu. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. Dan ini bukan hal yang mudah. Ini masalah yang serius. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Jawa Barat. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. khususnya teater kampus.banyak hal. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Setelah 52 tahun merdeka. Papua. Tetapi kalau diusut. Beberapa peristiwa berdarah muncul. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. Kita mengakui bahwa kendati satu. di mana-mana dikenal. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. pada 1997. Di Jakarta sendiri muncul FPI. Kalimantan. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. bukan esensi janji bersatu. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. Kahar Muzakar. satu bangsa dan satu bahasa. bangsa dan bahasa. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. di Indonesia ada banyak perbedaan. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. Beberapa wilayah (Aceh. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Riau) mau merdeka. Nusa Tenggara Tinur. Papua. (DI TII. Gotong-royong itu sendiri misalnya. Perbedaan semakin jelas. Indonesia yang satu mulai diragukan. Maluku. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. banyak bukti. Sumatra. Insiden etnis terjadi di Pontianak. adat-istiadat. agama dan sebagainya. . Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. Memang betul. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila.

Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Para pemimpin partai. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Sesuatu yang datang dari luar.Kalau ada. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. Kemajemukan yang ada di Indonesia. Baik idiologi. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. golongan dan pribadinya. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya. Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Semuanya karena politik. Sekarang kita mesti berhati-hati. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. diberikan hak hadir. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”. Banjar terpecah. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. Ada juga yang disebut “nempahan raga”. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ . Kendati begitu. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Pluralisme di Indonesia bermasalah. pemuka agama dan para konglomerat. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. meski pun berbeda. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana.

desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya. apabila tak belajar dari yang kalah. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. rasa kamusendiri juga tidak laras. Tapi wajahnya tambah berat.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. Dia tidak akan mengiris.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya.Tetapi yang lain berpesta. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. karenamemang itulah tujuannya. diaakan mencocokcocok. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Tetapisemakin diusap. Air matanyatidak lagi hanya menetes. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. meskipun belum tentu lebih bener. asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Ia tersedu-sedu. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik. kamubukan pihak yang kalah. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. kamusebenarnya tidak kalah.tetapi kamu sendiri. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. Aku rengutkan handuk itu. asin. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. tetapi menyembur. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. “Sudah Ami. Manis itu memang enak. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. Banyak orang bersedih. Aku panik. terima saja. Jaditabahlah hadapi kenyataan.” Kepala Ami semakin berat. karena Undang UndangHukum Pidana. kamu hanya ditunda menang. Lalu airmatanya jatuh berderai. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu. Aku terpaksa menghibur. mereka adalahorang yang kalah. Yang menangadalah yang lebih banyak. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. pahit ataukemanisan. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. tegas. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca. Makanya jangandilawan . Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. Seluruh pipinya banjir. padahalbelum tentu mereka benar. Kalau tidak. memang baik. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. “Waduh. Kemenangan itutidak harus kelihatan. Sedangkan orang yang menang suara. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. Aku jadi cemas. Ingusnya ikut berleleran. meredam perasaan agar jangan berkelebihan. anakku Ami nampak kesakitan. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. air mata itu semakin membanjir. “Aduh Ami. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. Perasaan itu baik. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk. lalu membanting. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. Aku terkejut. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu.mengerem. “Sudah Ami. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. Di rumah.” Ami mengangguk.Bukan hanya itu. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. Jadi Ami. Undang-Undang Popok Pers. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan.

“O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. tidak cukup mata melotot. dengar. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. Mukanya mulai berseri. “Bagus. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. Terimakasih Mama. denda milyardan danjebloskan ke penjara. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. Ratu Dangdut. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. Kalau ada yang cabul. Ratu Kaca Mata. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua. mata Ami pun berhenti meneteskan air. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan. “Terimakasih. Dera mereka yang menjualkecabulan. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. Bisa-bisa kamu yang dibakso. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras.Biarkan saja. karena pisau itu sudah di tangannya. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya. bongkar laci dan almari. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. Baru kalau diagagal nanti. juga ketelanjanganrohani. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi. didenda dan dihukum. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur. Baik kameranya.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila.” Ami memandangku seperti bertanya. Tak hanya itu. Masuki rumah penduduk semua. Ami sayang. jangan-jangan mereka menyimpanpornography. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. Seperti yang mereka usulkan. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret.bahkan singkap sprei dan kasurnya. Kontes Mirip Bintang. kalau kamu mulai mengerti sekarang. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Ajaib.tidak cukup suara keras.apalagi pemuka. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. Mengerti?” Ami mengangguk. Ratu Mercy.sekarang nanti dia tambah buas. seret. kita beritahu pisaunya yang salah.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. Itu kan karena kalian hanya lihat di film.setidak-tidaknya kita anggap cabul. “Jadi dengan kata lain. Selidiki apa isi kepala orang. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar.

seperti itu akan keliahatan aduhai. Pak.” “Memang bukan. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. Ada protes. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. Hasilnya amat mengagetkan. Di bandara. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. Pemilihan akan akan diulang.” “Kalau begitu. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria. sebab mereka sudah tahu. kecantikannya kalian lupakan. tidak mencerminkan jutaan warga kita. karena merasa tidak puas. Tulang-tulangnya yang besar.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. kakinya yang berbulu. Lomba pun dimulai kembali.. Kalau dipotong bisa parah. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat. berarti kemenangan mereka palsu. . Urutannya jelas. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. dilipatgandakan. Sebagai kompensasi. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung. Para panitia segera berunding. tetapi juga kecantikan kepribadian. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. Setelah mempertimbangkan masak-masak. jadi kami serahkan pada para pembaca saja. “Maksud Bapak. Keputusan pemenang dibatalkan. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. Mereka bukan 9 wanita tercantik. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. ia sudah ngomel di depan para wartawan. ternyata lima di antaranya adalah wadam. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja. karena menyangkut keselamatan majalah. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. tetapi tidak terlalu berarti. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih. Pak. panitia mengambil jalan tengah. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik. Pak. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Pak.

Tidak mungkin sama sekali.” “Kalau itu betul. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. Mereka yang terpilih memang sangat professional. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. Kilatan cek itu membuat darah saya .” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. Tanpa mengenalkan dirinya. Tapi meskipun membela kemanusiaan. Tetapi entah kenapa saya diam saja.Panitia kembali diundang berdialog. Ini salah kaprah!” Panita bengong. tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. akan terselamatkan. tidak bisa.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. Kalau dia menang. memahami amanat ini. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk.” Saya langsung pasang kuda-kuda. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. atau ada yang lebih bagus. bukan masyarakat yang sakit. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. mati muda. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. tbc. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. “Bapak mengatakan itu. “Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran. pilihan mreka kami anggap wajar. Pak!” “Tidak ini tidak main-main. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa.”katanya memujikan. Saya minta keputusan ini dicabut. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. Pak. “Maaf. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama. Pak. Dua juta orang yang terancam kebutaan. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan. di dalam sebuah kompetisi yang adil. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum.

karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. “Ade.” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. “Kalau wakil kami menang. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. bukan saya tidak menghargai Anda. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. menyelamatkan diri. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam.beku. “Silakan. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa. Matanya melotot menentang mata saya. tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. Tidak peduli ada bangkai ayam dan . untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Kedua amplop itu langsung tenggelam. Perasaan saya rontok. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. Dia memeluk saya. Tapi orang itu terlalu sibuk. Bukan hanya berenang. Itu memerlukan keberanian mental. Saya tak berani bergerak. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan.” Dia mengulurkan uang itu. Kalau ini kurang. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Tapi sebelum tertangkap. Dia merogoh lagi tasnya. hallo …… . anak itu mengubah tujuannya. Atau Anda lebih suka menelpon. Merasa dikejar anak saya berlari. sore ini juga kami akan datang lagi. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. Dengan kalap saya gapai-gapai. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Apalagi menolak suap. “Kita transparan saja. Saya cepat menangkapnya. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu.” Saya memberi isyarat untuk menolak.. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. saya hubungkan sekarang. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. lalu diberi seragam koruptor. Saya kan belum berpengalaman disuap. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. Dia seperti sudah menebak pikiran saya. “Maaf. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. Nampak besar dan padat. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Bangsat. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Ketika saya tangkap.” Tiba-tiba saya batuk.” Saya bergetar. Seakan-akan dia marah.” Saya gelagapan. “Hallo. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. Baik menerima mau pun menolaknya. kalau Anda masih was-was. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan. lalu terjun ke kolam. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. dia diam saja. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. Kedua-duanya.

Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. . Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. ide-ide busuknya akan muncul. yang bener aja!” “Tapi . Kalau kedua amplop itu lenyap. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. Darah saya tersirap. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Laki-laki sama saja. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. karena kurang pengalaman. Dengan berapi-api saya terus mencari. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. tak akan dipercaya. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Setelah telanjang dan mengguyur badan. eling. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. berarti saya sudah makan suap. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Apa pun yang saya lakukan sekarang. Tapi coba. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu. bahaya. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. . mplop itu harus ditemukan. “Sudah jangan kayak orang bego. saya keluar. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. Saya termenung. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. Hari gini. “Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. Kalau dia tahu itu uang. Diinjak pikiran kacau saya pulang. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. Badannya kuyup penuh kotoran. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. saya hanya menggeleng. cepetan madi dulu. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. “Eling Dik. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. Istri saya bengong. Siapa yang akan peduli. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. saya sudah basah. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya.Tak seorang pun yang menolong. bau!” bentak istri saya.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. Badan saya penuh lumpur. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. akhirnya saya akan masuk penjara. Tapi tamu itu sudah kabur. Ya kalau dikembalikan.. Tak menolak dengan tegas. Dan kenapa saya terlalu lama bego. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. Saya tidak berani menjawab terus-terang. langsung ke warung. Di kepala saya ada tahi.” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi.kotoran manusia. Kalau itu dibiarkan berkembang. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. “Mana?” Seorang anak tetangga. berarti saya sudah menerima.. “Cepat mandinya. Aduh malunya. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. Tapi saya tidak peduli. Tak ada bekasnya sama sekali.

didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Diterima baik oleh masyarakat. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor.” “Abang jangan salah sangka begitu. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. betapa dahsyatnya arti uang. Namun saya sudah bersikap menolak. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Tapi sepuluh hari berlalu. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. kalau orang itu datang lagi. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. pikiran saya bergeser. Lomba itu sudah menjadi lampau. Pada bulan ketiga. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Istri saya diam saja. Memasuki bulan kedua.” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Saya akan mengembalikan. Bukan salah kita. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. tapi saya cukup hanya memandangi. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Aku juga sudah mulai tua sekarang. akhirnya mulai menang. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. saya memutuskan nekat. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Bukan apa-apa. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. Saya tidak melakukan itu. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. Bang. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Anak saya nampak menahan diri. “Lho kok malah nangis. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. Lomba pun memasuki saat penentuan. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. Tidak. tapi karena aku sakit. tapi kalau lagi sepi. “Baiklah. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. Aku masih kuat . Keputusan kami yang diterima baik. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus. Melalui perdebatan yang sangat sengit. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. saya tidak akan menerimanya. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Satu bulan berlalu. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Keputusan sudah diambil. asal masa depan anaknya cerah. Mau tak mau saya terpaksa mengakui. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Rasanya aneh.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin. Jangan. Bukan karena suap. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. saya capek menunggu. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Apa perlu saya cek. kita sendiri makan tahi sampai mati. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. akhirnya dicapai kata sepakat.

Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. Dengan kalap saya sambar batu-batu. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. Tak peduli apa kata orang. lalu membawanya ke dapur. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. Disikapi oleh istri seperti itu. asal mereka tidak. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran.menderita kok. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka. Di situ mata saya mulai gelap. mereka langsung ganti. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. Kalau tidak begitu. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. Dari situ nampak terbayang isinya. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Jelas sekali sekarang. Mengambil tempat di Ruang Kartini. membuat saya panas. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. lalu gantikan isinya. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. nanti tidak akan pernah baik.” Dia menggayut tangan Ade. Tibatiba saya terperanjat. baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. menjarah. Saya menghela nafas dalam. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. kenekatan saya justru bertambah. Motornya juga saya hajar. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. Tiba-tiba terpikir sesuatu. tak mampu melihat apa-apa. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Itu kejahatan. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Setelah tahu isinya. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Kemudian dengan bernafsu. Bangsat. diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. Rebo 17 September. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka. Tangan saya gemetar. Isinya juga hanya kertas. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . Dia temukan amplop itu. Mata saya bengkak. Sama saja. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita.

Kalau memang sudah terjadi kebejatan. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. masalahnya bukan RUU-nya. tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. mengapa tidak. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. Untuk itu harus ada investigasi. Selaku pribadi.” ujarnya. tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). masih belum sempurna. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. Tetapi kalau memang tidak perlu. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Bagi mereka. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. misalnya keberagaman. harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”. Yang pertama adalah masalah moral. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. karena. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. negara bertindak. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama. kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu.. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. Ini menyangkut ruang privat. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman.

Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”. berkolaborasi. jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. taktis dan lihai. kemiskinan. Papua dan sebagainya. Alung Seroja. Fien Hermini. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. Walhasil. tari. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. kedok apa pun yang dipakainya. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Tidak hanya seni akting. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. seniman tak perlu merasa terkengkang. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. untuk menambah warna festival. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu.. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik. Beruntunglah Egy Massadiah. Bambang Rsmantoro. Menurut Mr. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. Dewi Pramunawati. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. Wendy Nasution. ada perubahan besar. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. Praha dan Bratislava. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). semuanya adalah pekerja. Sukardi Djupri. Mr. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. Tetapi mulai tahun ini. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. Cairo. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. 1 Oktober. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. tapi seni musik. Sebagaimana biasa. Ucok Hutagaol. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Agung Wibisana. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. Kami . Yanto Kribo. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. Betul sekali. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali.

Kalau . Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Tak usah diladeni.” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Meskipun sudah pensiun. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya. Itu kan membuat semua orang mimpi. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan.” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit.” kata Amat curiga. “Ini bukan tidak ada maksudnya. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala.” Ami masih terus hendak mendesak. Ami?” Ami menggeleng. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak. “Biar saja Ami.” “Ya itu dia. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain. Apalagi 5 milyar. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. “Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Amat segera berpakaian. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. daripada bapakmu ngerecokin di rumah.” “Kami siapa?” “Ami misalnya.Satu dua kali hujan mulai turun.” “Ibu jangan begitu. tapi Amat menutup percakapan.” “Memang. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§. Kalau gagal. Pak. Ami terpaksa bertanya. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Mengenakan sepatu dan baju batik. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. siapa tahu beneran. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya.. “Saya sudah kapok. “Mengapa dulu dia segan memasang.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Kalau mau nyumbang. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. biar dia ke sana.” “Siapa?” “Kami. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu.

Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. Jadi Bapak bilang.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini. “Bangun Ami. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu. makanya benderanya tidak pernah diturunkan. tak usah sepuluh.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. Paham?” “Tidak. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. “Aduh. Lima milyar. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Mengapa dia mau. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. “Bapak juga tidak paham. nanti kamu masuk angin.” Ami terkejut. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk.” Ami tertegun. “Bapak berhasil?” “Ya. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. Ami langsung bermimpi. Sumbang yang wajar saja.” “Berapa.kejadian kan kita semua untung. banyak seniman mati sebagai kere. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar. lebih baik jangan membuat persoalan. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik. Dan benderanya sudah diturunkan. ini duitnya. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Masyarakat seniman berguncang. hanya berupa piagam dan uang seupil. Sudah cukup bukti dunia seni kering. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu.. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Sekarang beres. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya.” Amat terhenyak. Andaikan benar. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Ketika Amat masuk rumah. Rakyat terpesona. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. Dia mengubah angkanya. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya. tapi kemudian langsung bertanya.” Ami terkejut. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu.” Ami ternganga. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. dia sudah nyumbang seratus ribu.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Pak. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. Pak. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. kamu harus minggat dari sini. Itu dianggap sebagai persetujuan.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang.keluar rumah. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. Malah diserang oleh massa. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Masih muda dan cakap. masuk ke kamar atasannya. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. .” Pejabat muda itu mengangguk.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu. selalu menghindar. tidak mau keluar rumah. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. lalu permisi. Pak. Bapak yang mengadu itu. Mengeluarkan rokok. Wajar masyarakat protes.” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. atasannya muncul. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. “Wah putri Bapak cantik sekali. Pak. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih. jadi dia berkorban. Dia bukan jenis pahlawan atau . Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi. kontan diseret ke lapangan.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. “Selamat pagi. Kemudian dia seperti baru bangun tidur. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. Pak. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Ia langsung berpikir. Setelah beberapa kali hisap. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. “Anak saya ini. Rumahnya nyaris dibakar. ia meletakkan rokoknya. Itu sebenarnya makna kebebasan. lalu menarik foto anak gadisnya. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka. “Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. Ia lama terdiam. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Tak berapa lama kemudian. dia akan menyerah tanpa syarat. Afandi tetap saja diam. Dengan tidak keluar rumah. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah.

Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. berhenti menjadi seniman.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain.” “Banci?” “Bukan. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. mereka hanya menemukan puing-puing. tendangan dan pukulan. itu hati nurani. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. Publikasi berbahaya.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara. .” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan. karena anak-anaknya masih kecil. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya. Ia ingin banting stir. Karena itu akan mengundang malapetaka. Wartawan cepat-cepat menjelaskan. Suami saya juga sudah berhenti melukis. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah.pemberontak. “Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu.” Wartawan terkejut. Para pembaca koran marah.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. sebaliknya. Kata suami saya sih.” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri.” “Mirip siapa?” “Tidak tahu.” “Yang lain?” “Gambar orang tua. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Istri Afandi masih belum selesai terkejut. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru.

daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. Itu berarti tanpa Bapak sadari. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang.” Ami tersenyum. Sebagai warga yang bertanggungjawab.. Itu hanya teori. Dengan mematikan satu suara. “Tidak!” Ami kontan marah. tidak berani mengambil resiko. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab.Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. Bapak tidak mau salah pilih. “Bapak mau jadi orang biasa saja.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak.” Bu Amat terkejut. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa. ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. Mereka menolak dan melawan. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut.” . Ami. Sebagai pemilih. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. langsung diamankan. Pilih satu. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. tidak mau menentukan sikap. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing.” “Terus-terang saja. dua atau tiga? Amat bimbang. “Bapak sadar tidak. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak. Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. itu jauh lebih baik. Pak. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap.” Bu Amat tambah terkejut lagi. kan?!. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut. Ami. “Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. “Itu rahasia.

Kalau tidak. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus. “Ami. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu. “Wah. Jangan begitu. Pak. meskipun bagus jangan dipilih. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya. berarti sebelum main coblos akan mikir. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. enaknya sendiri. Dan yang berguna itu. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam.” Amat menatap Ami. boleh dipilih. sebaiknya yang bagus dan berguna. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. “Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. “Wah kalau begitu. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. ya.” “Yang bagus itu. apalagi ikutikutan. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. Yang berguna tapi bagus. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. kan?” Ami terseyum. “Pemilihan itu bebas rahasia. Tinggal saja. Ibu jangan hanya pakai perasaan. itu kebangetan.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. “Lho. Pak. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. harus pakai pikiran! Kalau salah pilih.” Amat tercengang. jangan asal coblos. Bu. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak. yang berguna. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. “Bagaimana bisa memilih Ami. ya. Tampangnya juga jelek. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. memilih itu memang ukurannya bagus. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. miskin lagi. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Kamu kok mau-maunya sama dia. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut.Tapi kalau boleh menyarankan.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali.

biar tahu rasa!” Bu Amat termenung.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. “Ibu lembut sekali. tidak boleh dengan kejahatan. Kalau teleponnya tidak disadap . “Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. Jadi mesti dipancaing. nanti Ami juga yang kena getahnya. maupun kepada orang jahat.” Ami bingung. dipergoki biar kapok. Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Coba dengan lelaki bejat itu.” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan. sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab. Menurut Ibu. Malam hari Ami menyapa ibunya.” “Ya apa salahnya?” “Salahnya. “Kenapa?” . Tapi Ibu tidak setuju. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.” Ami mengangguk. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Kalau kita mau melawan kejahatan. Ia nampak tak senang. lalu mengadu kepada Amat. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Baik kepada orang baik. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. Cinta boleh. “Aku tidak mengerti. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. “Ada apa dengan Ibu.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam. Pak?” Amat berpikir. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Lihat saja. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Itu sama saja. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Ibu kan jadinya kawin dengan aku. tapi terlalu cinta itu berbahaya. Kalau tidak. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.pada kamu. nanti kita yang akan dikejami sama dia.” “Bukan begitu. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat. Ami penasaran. Kejahatan itu akan gagal.

Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. hotel. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba. Maafkan Ibu Ami. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. . orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. kesejahteraan. restoran. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. ditingkatkan. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya.” Ami terkejut. tapi Ibu minta. diperlebar.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam. Tak baik. tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. “Ya. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit.” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta. tapi satu minggu belum tentu . jumlahnya bertambah. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran. mall. Kendaraan juga sama. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. “Pendapatan. juga muncul berbagai ciri. Kehadirannya juga semakin jarang. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. meskipun orang itu jahat. Karena waktunya tidak ada. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal . Sosoknya lebih sering di tempat lain. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. sebab demi kebaikan. iperbesar.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan. apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. perlindungan. Istri cantik dan terkenal. Rumah idandani. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya. Bayangkan ada 10 rumah.” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan.!” Ia menikah dengan seorang super model. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir.. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. “Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. Fasilitas.

puas kalau sudah paling atas. “Wah. Mula-mula ia pura-pura bertanya. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Orang bilang mobil satu itu cukup. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Mobil sepuluh juga belum cukup. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Ini hanya kebangkitan. Yang konkrit saja. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Apa sebenarnya nomor satu itu. Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif. dari dusun. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. dengan budaya. dan punya bus way. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat.” Edy tertawa. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Aku baru merasasenang. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru.” “Lalu apa?” “Pencapaian. “Itu matematika kuno. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. jangan dijawab dulu. Prestasi. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. tai kucing. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. Saya bilang keliru.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya. mono rel. berhenti berambisi. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. bahkan sangat sukses. Itu berarti kita berarti. Tetapi mereka tidak menyerah. sebab keuntungannya tidak kelihatan. apa sebenarnya bahagia itu.” Pertemuan berakhir. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. untuk menghajar para pemuda itu. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. Jawabannya juga sangat ketinggalan. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Ini bukan revolusi. Terus-terang. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Kalau Bapak bisa membantu kami. saya tidak tertarik. gagal. London. New Yotk. Bukan dengan gedung. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Aku ingin di atas. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. Pak Edy. saya belum selesai. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. selamat siang. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Mereka lalu turun ke . “Karena Bapak orang yang sukses. Maaf. Apa itu kebahagiaan atau bukan. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. jangan memakai kata-kata itu. mobil tetapi dengan buah-budi. Selama ini. Dan pada akhirnya. ‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum. Apa sebenarnya menang itu. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. meskipun sudah bangun jangan layang. Pak.

rumah penduduk. bisa menimbulkan perkara. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Ia memandang Ami tajam. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Meskipun sudah hampir jam 10 malam. ‘Terimakasih.” “Betul!” “Kalau betul.. Karena kalau itu dibiatkan lepas. menghampiri. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam.”kata Bu Amat. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. Menyumbangkan apa saja. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu. ia keluar dari rumah. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik. “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Bendera-bendera lain. teguh dan percaya. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Pak. “Memang. Amat terpesona. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. kecuali bendera-bendera negeri sahabat. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat.” “Ya itu hak dia. mesti tahu diri. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai.”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu. Dengan bernafsu ia . karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. komunitas budaya ini harus dilahirkan. karena ia hanya ingin ada dua warna. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. mundur dulu.

Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar.” Orang itu tertegun. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Amat tak mampu mengatakan apa-apa.” “Kenapa mesti tersinggung. Warnanya pun sudah lusuh. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. Jadi begitu. belel. Pak Amat. Terlihat sang saka. Tak ada maksud apa-apa. sebab kita hidup di alam demokrasi. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam.” Amat terkejut. saja ingin tahu. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Tidak ada motivasi apa-apa. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. tapi hanya sekedar bertanya saja. Ia melirik ke samping. Darahnya mendidih. “Tentu saja boleh. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Dan betul. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Amat memasang muka seribu. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai.” “Maaf. “Selamat malam. tetapi hanya mau bertanya. Begitu. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Kepalanya pusing. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur. momentumnya nanti bisa hilang. “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. meskipun kecil. tapi berkibar lebih gesit dan gagah. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Di depannya nampak bendera partai. hanya sekedar bertanya. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. Saya penasaran. Lalu menarik nafas dalam. pak Amat. Ia mati langkah. Bukan juga kritik.” “Silakan masuk. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. Pak Amat. “Tentu saja pak Amat. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . “Pak Amay.” “Terimakmasih.” Amat tertegun. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Tanpa perhitungan lagi. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Pak Amat. Tetapi Pak Amat harap mengerti.” “Persis. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Ia menoleh ke samping yang lain. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes.” Orang kaya itu tersenyum. Sama sekali bukjan menyindir. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. “Selamat malam.” “Bapak jangan tersinggung. lalu dia memujit bel di gerbang. begini. Kemudian mengubah suaranya lembut.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah.

Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Pelukis besar kita ini. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Tetapi belum jelas. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. Mereka menggebrak.”kata Gubernur. Gubernur terlambar mengangkat tangan. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. tapi juga ngutus bangsa dan negara. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Mereka mengangkat lukisan itu. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Kita boleh tidak suka. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. Mungkin sekali tidak berani. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. untuk mempimpin. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Nampak lukisan itu. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Terjadi keributan. Inilah salah satu gambarannya. Lalu sorot menyala. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. “Saudara-saudar hadirin. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. undangan yang saya muliakan. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. Tetapi semua orang terkejut. para tamu. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Tetapi atas nama kemerdekaan. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. ditarik dari tempat shooting film barunya. Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus.. Seorang penari muncul. “Saudara-saudara. lukisan ini. Gubernur pun bengong. Asap mengepul. . semakin jauh orang. Panggung pun sepi. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya. Kemerdekaan adalah persatuan. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Tentu saja semua menyambut gembira. Dari luar negeri. Kata orang. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Tetapi gagal.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Lampu menyorot. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. sebenarnya ia semakin pulang. menunjukkan langkah konkrit. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Cahaya lampur berpedar-pedar. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab.

di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya.” Amat ketawa. Jadi bukan perasaan saya yang penting. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar.. namun perasaan kalian semuanya.” tulis Amat. apa yang kita cita-cita akan tercapai. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung. “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. “Lebih baik jangan dipajang. seorang di antara berjuta-juta warga lain. buat apa digantung?” Semuanya terdiam. ya pasang saja. Tetapi selaku gubernur.” “Lho. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Tapi kalau tidak.“Selaku pribadi. “Ya. akan jadi porno. Pak. “Hebat. Kalau saudara-saudara setuju. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur.” “Hebat. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. baik akan saya gantung. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. Kan sering ada di koran. hati saya berontak.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. porno!!” Semua terdiam. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§. saya Pak Amat. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Kalau bisa diperbaiki.”tanya seorang Ibu. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain. Karena kalau sudah diobral begini. apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. tanpa selembar kain pun di depan orang. Jalan kampung lagi!” . kita semua akan senang sekali. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini.

Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat. lalu menyerah di tempat tidur. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa. Beliau pelindung rakyat. Amat teler. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu. Bukan hanya diperbaiki. akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. yang banyak. Pak Amat. nanti ditambahin. tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Aids. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. kenaikan harga bensin. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan. “Kalau begitu. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Pak Amat. Belum sampai pukul 11 malam. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. belum lagi korupsi. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal. “Ya sudah. mengapa semua itu bisa terjadi. Orang biasa. ya. . Heran ternyata Gubernur menanggapi serius.” Amat ketawa. “Jangan ketawa saja Pak Amat. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. nanti masa jabatannya sudah selesai. Benar nggak?!! Nah. batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Pak Amat! Kalau ditunggu. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . Beliau kan pemimpin kita. pemasan global. sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. yang megah. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. tidak usah jalan kaki. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya. Jangankan jalan rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Ia tak habis pikir. Yang sepele itu sangat penting. Kalau masyarakat mau bergotong-royong. belum juga giliran perbaikannya datang.“Lho kenapa tidak. tambahin!” “Ya. Narkoba. yangmahal. Pak. coba periksa ke dapur. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. tapi kalau garamnya kelupaan. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. “Kalau Pak Amat tidak percaya.

sama saja. tegalan.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. harus diwarisi. Kalau dipaksa bertani. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. kita akan bangkrut. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. Jangan mensakralkan warisan. Segala sesuatu yang menindas. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. apa pun namanya. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Satu senti pun tidak bisa digeser. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Lalu dia bertapa. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu. Jual semua. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. . Mereka merayu dengan segala macam cara. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. sehingga menjadi jalan utama. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. kebun kelapa. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli. “Sawah. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Kalau tidak. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca.jalan itu akan diperlebar. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. apa pun namanya. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Sebaliknya. Sekarang kita tidak hanya butuh makan. dari mana pun datangnya. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. Ada yang suaminya kawin lagi. berarti bunuh diri. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Kuper. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. Ada yang …. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip.”katanya. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kalau warisan diartikan sempit. Warisan bukan benda tetapi sabda. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. Amat gelagapan bangun. Bapak jangan memberhalakan barang. membuat Pak Tua tidak jadi mati. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang.” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu. anak-cucu kejepit.

karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. “Ayah. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Kalau warisan ini dibagi tiga. juga sudah terlalu klise. Kembali terjadi keos. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. dalam badai dan taufan. supaya semua anak-anak senang. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. Apa daya? Masihkah keberanian. ini bukan barang tetapi cita-cita. Ia kontan buka mata dan membentak. aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. mengembangkan dan meneruskan.. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka. Tenaga. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. Sebaliknya dari ketidaksetiaan. Walau pun putraputranya semula begitu galak. Boleh menyerang. sementara anak-cicitnya. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. tetapi sebagai cita-cita. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai. Kalian tidak perlu warisan. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian. aku akan mempertahankannya. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita. Panah Pasupati pun tidak cukup handal. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan. Sudah waktunya untuk mandiri.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. “Kalian semua sudah besar. tak ada yang beranjak. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Lalu anak-anaknya dipanggil. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. sebagaimana yang dituduhkan orang. Warisan ini tidak jadi diwariskan. Itu zalim.” bisik salah seorang mewakili yang lain. Naun ia sudah punya tekad bulat. satu generasi lagi harus dibagi lima. Semuanya sedang meletus. Boleh tidak setuju. cari sendiri kehidupanmu. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. Tetapi ajaib. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. hukum dan wibawa. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. boleh marah bahkan boleh menentang. Itu fitnah. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. karena ini bukan kue. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. Mewarisi itu bukan memiliki. suara dan uraturatku sudah lapuk. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin. duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki.”hasrat kami untuk membagi warisan. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur.

menjawab dengan pertanyaan. Kalau sudah begitu. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak. Bu Amat menyeret suaminya keluar.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. dengan dalih damai. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar. Amat dan Ami tercengang. “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong. Aku berada di luar. Ketika melihat Amat datang. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. Perlahan-lahan Amat maju. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Amat maju setapak-setapak. nanti yang terjadi bukan damai. dianggap sudah jadi besi tua. sudah banyak orang berkerumun. Di rumah tetangga. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. Amat jadi gentar. Tapi hanya menonton. . “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. tetapi dilaksanakan saja. Karena mau melindungi ketakutannya. suruh mereka damai!” bisik para tetangga. akan terjadi pertempuran segitiga. lalu mereka ikut berteriak. Amat masih berpikir. itu saat yang amat sulit. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan.” “Caranya?” Amat berpikir. tetapi perang. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. “Ayo Pak Amat. Para tetangga menyisih memberikan jalan. “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Mungkin keris atau pisau. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Yang jelas. Jadi karena dideklarasikan.” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. Kelewangnya berkelebat. untuk mengatasi rasa cemasnya. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. Alangkah sialnya jadi orang tua. Renon Sabtu lalu. Kalau salah satu bergerak. Benar saja. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa.

” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. Sebelum Ibu melihatnya sendiri. Ibu akan lihat semua. tetapi mengangkat kelewang. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. “Untung polisi cepat datang. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Coba tidak. Tetapi aneh. Waktu Amat nyaris hambruk. ia akan roboh. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. coba Ami. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. kata Ibu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. rumah akan jadi keranjang sampah. Rumah ini tidak bisa dibagi. seperti siap menebas. Sekujur badan Amat gemetar. Bapak sih tadi ngomong begitu.”kata Amat lari dari rumah. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. karena kalian juga adalah warga kami ……. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Beberapa detik lagi. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan. pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri. Disaksikan oleh seluruh tetangga. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Pikirannya sudah mengatakan.” “Kenapa semua foto dibakar. “Bukan karena polisi itu. entah apa jadinya tadi. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu.” . kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. Rumah ini memang milik kalian bertiga. Tapi kalau dibagi akan hancur. Tetapi situasii sudah terkendali. karena kalian mau memakainya sendiri. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. lebih baik Ami bakar.“Maaf. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. lalu berbalik dan pergi. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. bersihkan segala meja. Bapak tidak ikut campur. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. setelah pikirannya tenang. Itu inisiatip Ami sendiri. Apalagi beberapa foto. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. mengungsi ke tetangga. malah membuat mereka tadi tambah marah. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. Itu adalah kezaliman. tempat kita semuanya berkumpul. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya. Bu. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas. “Bapak hanya mengingatkan bahwa. dibuang atau diberikan kepada tetangga.” Ketiganya mundur. kalau tidak. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Mereka mundur. dibuang.” Suara Amat hilang. kalau tidak. Amat baru menjawab. karena tak kuat melihat kezaliman itu. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. Dengan dalih menciptakan perdamaian.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. telah dimainkan di Tokyo. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya . Singapura dan beberapa kota di Indonesia. PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. Taipeh. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Cairo. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha. Pada 10 Juni. Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”. Hong Kong.

→ 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. Teater bukan tujuan. Dengan keras. Kyoto.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Brunei. tegas dan penuh desiplin. L. Hong Kong. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Mohon dukungannya. New York. Taipeh. tetapi alat untuk mengembangkan. tempat mengembangkan jati diri. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Hamburg. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. menyebabkan keamanan mulai pulih. Kedua. menumbuhkan dan menemukan diri. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo. Cairo. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Middle Town. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Singapura. Bandit-bandit dihalau.A dll. Pertama. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang.

melahirkan busway. karena setelah dua decade. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Dia melahirkan “tradisi baru”. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Warga ibukota di masa Bang Ali. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. bikin mono reel. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Pimpinan dan rakyat lebur. hasilnya nyata. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. Pada 1975. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. Tidak ada sensor dan kekangan. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . teknologi. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur.”katanya. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. alangkah indahnya. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. membanjiri jalanan dengan motor. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. Mata mereka mengatakan. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. Betul sekali. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Pada setiap kesempatan yang baik. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Bang Ali menjadi sebuah contoh. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. Memang keberadaan TIM kini. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Saya dengar sendiri semuanya itu. adalah menyehatkan kehidupan budaya. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar. seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. ekonomi. Saya sendiri sempat kena getahnya. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. Bang Ali kini tiada lagi. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. tetapi lebih dari itu. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. untuk kembali membumi pada akarnya. Tetapi apa yang sudah terjadi. sudah tercatat dan akan bekerja terus. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. mencetak mall. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk.

” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. Ternyata tidak ada. Amat keramas dengan air bunga. jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. Saya katakan pada waktu itu. Koran meributkan pertunjukan itu. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning. Pak. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. mesti kita jadikan. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. Tak satu pun yang disembelih. kita sudah biasa menghadapi bahaya.” Ami mengangguk tenang. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Sore hari. Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. tetapi karena sayang. Waktu Ami pulang dari kampus. “Ami. sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. memaki-maki saya. Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. “kata Amat pada Ami. Sepanjang hari ia menyendiri. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Kita kan sudah 350 tahun dijajah.” . Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. seperti masuk ke dalam sanubarinya. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. Tetapi di gudang hanya ada ayam. tapi ia tetap hidup di hati. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. bagaimana pendapat saya. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Kalau belum nampak mesti kita cari. Kalau tidak ada juga. Tapi kalau tidak dibantah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Amat mulai deg-degan . “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga. lalu menggenakan stelan putih-putih. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Amat mulai tidak yakin. “Merayakan kelahiran Panca Sila. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. Di situ ia kecewa sekali. Amat panik. Kalau dibantah. Amat melirik ke meja makan. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. Tenang saja. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Jadi kita akan menghadapi bahaya. Jumlahnya masih lima ekor. “Tenang saja. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sampai sekarang belum pulang. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. seandainya saya Gubernur.dilanjutkan di plaza. kontan membentak. Tapi tidak ada perubahan. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. “Nggak apa.

turun ke jalan berteriak-teriak. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. burger atau fried chicken. Dibohongi sekali lagi. Pak. mereka tidak akan apa-apa. Bangsa kita kan jago memaafkan. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. tetapi dikembangkan di dalam rumah. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. “O. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Ia merasa amat bahagia. Bapak mengerti sekali itu. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Mereka sudah biasa dibohongi. Makanya kalian semua cepat marah. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. Sekarang akan tambah bukti lagi. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. “Tenang. Ami tersenyum. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. menggempur apa saja. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. Ia gugup. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. menentang. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. Pak.“Tapi kita akan malu besar. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut. di dalam diri. Mereka suka. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. kalau berani berbohong. jarena itu mereka akan datang. Malam hari.” “Habis kalau tidak dipikat begitu. Lagipula kalau manusianya pembohong. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga. Ternyata di depan.” Amat tercengang. bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. . jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut.

Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan.” “Tidak.” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Pak.” “Memang. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum.” “Tidak Pak. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. Kami sudah menunggu. “Apa itu? Aku belum pernah dengar.” “Memang. kalau tetap ada mungkin sia-sia. “Kamu kurang sabar saja. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. kami juga perlu demokrasi ekonomi.” “Itu namanya demokrasi. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah.” Bung Karno tertegun. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu.” Bung Karno tertawa.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik.” “Tapi kami perlu Bapak.” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi.” . Kami ingin makmur. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. Pak. aman supaya kami tenang. seperti pidato Bapak. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Pak. tidak akan begini jadinya. Yang kami dapat hanya pertentangan.” “Kami sudah mencoba.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar. bukan menjadi lebih perih. Beda sekali dengan dulu. Kalau Bapak ada. Seperti kata dalang dalam wayang.” “Itu namanya kurang sabar. Pak. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya. Kami memberikan kesempatan. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.” Bung Karno tersenyum. sejahtera. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik.” “Lho Bapak katanya kutu buku.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali.” “Baca dong Pak. lebih dari cinta. kepercayaan bahkan juga dukungan. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Bapak saya yang suka wayang. Pak. bukan itu.

Ami. kerbau dan burung atau pohon kelapa. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita.” “Tapi beliau bilang. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary. Orang besar itu tidak pernah pergi. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Tapi waktu kembali ke mari. Anak-anak mengadu. Kadangkala ada tambahan gubuk.. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa.” Amat tertawa. lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. menghadapi 20 angkatan murid. Juni kan bulan ulang tahunnya. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam.” Amat tertawa. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Tetapi ketika dia berbalik. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Tapi hanya itu. seperti di masa lalu. Dia jadi kesel. tangannya dipegang oleh Pak Amat. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. “Bukan itu. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya. gunung dan matahari. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. “Sudah siang kok ngelindur. Bapak harus pergi.” “Ya siapa yang tidak. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. Sinar matahari menerobos masuk. Semua anak diberi angka lima. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. Selama 20 tahun dia mengajar. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . Gedung. tetapi hati mereka masih sama. Karena cinta Bapak tidak akan kembali. Kalau tidak ada kebanggaan. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. jangan hanya mimpi. supaya kamu bisa tumbuh sendiri. tidak bisa kembali. Ternyata tidak ada yang berubah.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. itu lihat sudah jam berapa sekarang. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. kita akan bisa bangkit. Baru kalau kita bangga. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Ami menutup matanya karena silau. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. tapi hasilnya sama.

Ada pilkada. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini.” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. dipamerkan di dinding sekolah.” “Nah itu dia. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. “Mereka kebanyakan anak petani. Burung bangau waktu itu masih banyak. yang digambar tetap itu-itu saja. Sudah banyak perubahan. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer. Pak Ary. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Banyak korupsi. Tidak berkembang. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. Belum ada real estate.” Ibu Kepala Sekolah tercengang. Kerusuhan di mana-mana ……. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu. Ada isu pemanasan global. “Sudahlah Pak Ary. ke desa kita ini.” “Tapi Bu. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ia lalu menjejerkannya di lantai. sawah lagi. hanya menanggapi sambil lalu. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. Pak Ary. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Ini adalah hasil percakapan itu. supaya melihat kenyataan. tetapi guru-guru lain mendukung. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi.” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi.. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. gunung dan matahari. Setelah dilihat satu per satu. sama saja. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini.” Ibu Direktur mengangguk. .” “Betul. Ibu Kepala Sekolah tercengang. biar saja.”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. :”kata Ary menumpahkan perasaannya. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. Mereka berdiri di sepanjang pintu. Aneh sekali. Ternyata tidak ada perkembangannya. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Bu. Mestinya kan itu yang digambar. Bu. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Itu juga sudah bagus. Itu yang dia tunggu-tunggu. Kalau mereka menggambar begini. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Harga bensin naik. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah.” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall. “Sebenarnya begini Bu.” Ary ingin membantah. Bu. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme. Saya kira ini baik sekali. Dari dulu sampai sekarang. “Maaf. Sejak listrik belum masuk. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Saya dapat ide bagus. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. “sejak saya mulai mengajar di sini.

Bu.. Saya minta malam ini juga. kaget. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. hatinya menjerit. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat. terbelalak. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang.muriod serta guru lain menunggu di luar. terkejut. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. kemudian tertawa. Ternyata ia memang sudah cukup tua. semua guru kembali dipanggil ke sekolah. teringat kepada masa lalu. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Ketika Anna senyum. bibir dan kemudian pipi.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Lalu ia mulai memoles. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tapi waktu dia melirik ke koridor. ” kira sampai 5 tahun ke depan. garis mata. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. berantakan diinjak-injak. hidung. Tetapi malamn-malam.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” . Mereka mengangguk senang. melirik. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. masih bisa dipergunakan.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam. Dua jam kemudian ia siap. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Lalu ia menguji mulutnya berbicara. muka Pak Ary kelihatan muram. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu.. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Tiba-tiba anaknya muncul. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Sehari sebelum tamu datang. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. “Dengan dia. Rapih dan terkendali. sementara ia sendiri dan murid-.” “Jangan membantah. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. Hati saya langsung terketuk. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary pun terpaksa ikut. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. Setengah jam kemudian para tamu keluar. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah. semuanya beres. kandas. gedung sekolah ini masih layak pakai. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya.Di cermin nampak muka baru. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. heran dan sebagainya. “Jadi menurut hemat kami. Ibu kepala Sekolah puny aide baru.

” Anna tertawa. kan?” “Betul. “O tidak.” “Tidak.” “Harus betul.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa. Memeluk juga tidak. “Lho kenapa?” “Nggak usah.“Karena baju yang dipakainya juga merah.” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya. Aku tidak suka pipiku kotor. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu. Bukan dia yang membawa Mama pergi.” “Bibirnya tidak merah.” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik. ia kembali memandangi ibunya. hati Mama cantik kan?!. Di situ orangnya .” Anak itu menggeleng. . nanti Mama kesepian di situ.” “Kamu teman Mamaku?” “Ya. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin. “Kamu cantik sekali. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja. Kalau tidak ada dia.” “Memang.” “Makanya. kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor. “Ini dia. “Mama ikut?” “Ya dong. Kalau tidak betul bukan sejarah.” “Tapi Mamaku tidak cantik. karena nanti dadanannya bisa rontok. Mama tidak sanggup di sana sendirian.” “Kenapa?” “Sebab ……. kalau begitu Mama berangkat sekarang. Dia justru yang Mama ajak pergi. Mama tidak akan mencium kamu lagi.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi. Ya?” “Ya. pasti bibir Mama juga akan merah.” “Bagaimana kalau tidak betul. lalu berpaling untuk mengingat-ingat.” “Kasih da-da sama teman Mama.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.” “Jangan hanya lihat muka.” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.” Anak itu berpikir. Mama kan harus memberikan sambutan.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya. kalau sudah selesai dandan.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah.” “Baik.” Anak itu kehabisan kata.

Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Beberapa hari pertama. Para murid tercengang. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut.” “Suruh dia saja.” Kepala Sekolah terkejut.” “Katanya itu sejarah. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar.” Anna ketawa. Pak. Pak. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Baru ketika Kepala Sekolah menegur. “Aku tidak mau dibeliin lagi..” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul.” “Tidak bisa. ia lupa itu pakaian daerah. Aku mau Mama di rumah. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. apa?” Anak itu menggeleng.” “Kalau begitu. ia sempat menarik perhatian. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah. Pak.” “Memang. “Karena dia cantik.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak. Di luar sekolah terserah Pak Ali. “Maaf Pak. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. Mama harus ke sana memberikan sambutan. “Pak Ali.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei). Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan.” . karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu. Guruguru lain hanya pandang-pandangan. Kepala Sekolah.” “Donat?” “Nggak.” Anna terdiam. dipaksa oleh orang tuanya. mereka akan bosan. ia ke sekolah memakai pakaian daerah. Kalau pekerjaan beres. nanti Mama bisa beliin kamu …. Tapi tidak ada yang berani bertanya.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional. Kan orangnya cantik. Makanya Mama selalu bawa dia. “Tapi hari ini Harkitnas sayang. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. supaya pekerjaan Mama beres. untuk seterusnya. apa sebenarnya missi Pak Ali. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani.” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan. Tetapi setelah satu minggu. Kalau Mama sendiri yang datang. kontan memanggil. saya tidak ada missi apa-apa.

Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Pak!” Terjadi ketegangan. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar.Ali tidak menjawab. Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. satpam langsung menahan. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. Kalau di luar jam pelajaran. sehingga semua aturan itu mubazir. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. Tapi karena dilarang. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. “Maaf Pak. Tapi esoknya. “Aku guru. Kalau mau belajar desiplin. Pak!” “Sama saja. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah. Meskipun tidak menjawab. “Maaf Pak Ali. tiba-tiba ia ingin melawan.” “Tapi ini pakaian daerah. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar. Pak Ali. satpam cepat menghalangi. Kepala Sekolah.” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti. tetapi tidak mampu melaksanakannya. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Tapi ketika Ali mau masuk. Tentu saja ia kembali dipanggil.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. militer adalah biangnya. lalu menaikkan suaranya. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. “kata Ali kemudian dengan sopan. Kita pintar membuat aturan. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. “Saya sudah mencoba. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. esoknya. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu.!” Ali tercengang. “Anak-anakku semua para pelajar. Kedua belah pihak ditenangkan. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk. Keplok tangan buat Pak Ali. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita.” “Tapi ini sekolah. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya. “Tentu saja tidak. sehingga guru-guru yang lain mendengar. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Pak. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. Pak?” “Tidak ada. Pak Ali.” Ali terdiam. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Pak. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah.” “Bukan. Saya hanya menjalankan perintah. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam .” “Maaf. Setelah semuanya reda.

Amat kecewa berat. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu. apa artinya nama. “Tak usah nama yang muluk-mulul. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini. eh nyatanya cumakusir dokar. Sudah sampai di mana kita tadi. Bu!” “Memang. langusng menutupkan pintu lagi. Ia langsung menggapai.” “Mendingan Gajah Mada. Nanti kalau beli susu. “Lagi asyik-asyiknya. Selamat!” Anak muda itu masih bengong. dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. selamat dan sehat. Siapa pun kamu sebut dia. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. ada saja yang ganggu. Masak nama saja bingung. Sementara Kartini. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah.. Dia itu hebat. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. orang Sunda benci sama dia. Jelas. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada.” Amat jadi salah tingkah. Aku memberikan nama sembarangan. walau pun hanya bangsawan Jawa. “Maaf. Sebesar-besar Gajah Mada. anak saya sudah lahir. Tokoh sejarah. Saya belum punya nama. “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona. Bu. Amat langusng cepat mengguncang tangannya.” “Lho. “Terimakasih Pak Amat. jangan hanya bergantung dari nama tok.” Amat cepat berpikir. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. kalau dia dididik dengan baik. “Lho. Hari Kartini baru saja lewat. akan jadi apa anak itu kelak. Bapak tidak tahu. Jangan pakai nama itu!” . biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. “Bapak keterlaluan!” “Lho. pasti lebih bingung lagi.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. Nama itu bukan soal sepele. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. mau bapaknya supaya jadi orang besar. Itu namanya klenik. Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. “Kalau belum siap punya anak. “Pak Amat. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. periksa dokter. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. kenapa bikin anak.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong.

Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi. Amat langsung mencecer. Kartini tadi datang menemui Bapak. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan.” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan. “Gus. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini. “Nama Kartini itu bagus. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak. “Boleh lanjutkan perjuanganku. ia langsung menyapa. What is a name. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” . Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Dan manusia tidak ada yang sempurna. kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. kata RA Kartini.“Tidak apa Pak Amat.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak... “Sejarah harus diperbaiki kalau salah.” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu.” Anak muda itu tertawa.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah.”kata Bu Amat. Penulis itu mendebat. “anak itu sudah kaulan. “Aku kira dia tersingung dan menyindir.” Amat terperanjat. lelaki tetap lelaki. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter. Namanya bagus. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya. Hakekat perempuan tetap perempuan. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki.” Anak muda itu terkejut. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai.” curhat Amat malam hari di meja makan.” Anak muda itu tersenyum. Ketika anak muda itu pulang dari klinik. asal nyeplos saja!. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.” Amat bingung.

kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. ” Tetapi berdasarkan fakta. mengganti yang salah dengan yang betul. Semuanya sudah terjadi. “Kalau bicara tentang sejarah.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. itu namanya bukan sejarah. pantas dicurigai. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali. “Kok malah main mata. ini bukan sejarah. jadi pikirannnya sinting. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum. Sejarah itu tidak ada yang baru. Sambil senyum-senyum. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu. Ami?!” “Betul.” lanjut Amat. Bukan apa yang ditulis. mungkin faktanya ada yang keliru. Buat apa percaya itu.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak. hanya itu lho. “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. apalagi bertolak-belakang.” Bu Amat mengernyitkan keningnya. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab. Amat merasa keki.” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. “Ya dia rajin. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak. tapi mau merusak sejarah.. .” “Bagus?” “Ya. Pak Amat ditinggalkan.” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja.”aku berpendapat. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. penulisan harus dilakukan kembali. Sejarah itu. besok bisa bilang begitu. Dia mencoba minta bantuan pada Ami. “Sejarah itu bukan yang ditulis. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. namanya juga sejarah. “Atas dasar pikiran itu.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. akan sulit untuk dikembalikan lagi. Tapi ketahuan. “Maksud Bapak. Ia masih penasaran. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Kalau faktanya terbukti salah. Bapak sudah baca?” “Ya sudah. Sekarang bilang begini. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. keponakan kita itu. adalah yang benarbenar kejadian. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. “Nggak apa-apa. kalau yang dia tulis ini tidak betul. “Ibu ini bagaimana.” Amat langsung main mata sama Ami. Semuanya yang itu-itu juga. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. Kalau kita mau mengubah-ubah. “Sejarah itu memang ditulis.

sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali. mereka hadir. Walau Jakarta lagi banjir. teater rakyat. “Kalau dia keliru. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. tanda sesuatu itu masih bergerak. Mereka begituj sibuk di tempat lain. Bu. Bukan saja karena takut. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. meskipun keponakanku sendiri. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan.” “Maksud Bapak. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Itu sudah seni laku. berdegup.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. tetapi . “Bukan begitu. . mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. Cintalah yang membuat orang sayang. walhasil hidup. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport. “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. jangan-jangan mereka benar. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. Ponakan kita itu. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Bu. Jantung Amat hampir copot. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Didi Petet bertanya. tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an. memiliki seluruh wilayah tontonan. Study Teater 24 dan Teater Mode. tetapi juga sekaligus benci.. Jadi ….“Jadi menurut Bapak. apa gunanya teater. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. tetapi juga karena ada kemungkinan. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. Teater tradisi. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan.. teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. di atas panggung. karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. Kita hanya tahu separuh-separuh. Tak berani ngomong apa-apa. Langkah kecil pun menjadi kunci. Sebelum TIM berdiri pada 1968. mengalami pasang-surut.

dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film).banyak kendala yang harus dihadapi. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. mengangkat citra ketoprak. Sampai kemudian ATNI berdiri. Ketika Teater Mandiri. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. Tiga dasa warsa yang lalu. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. keduanya melakukannya dengan bagus. Memerlukan kesabaran. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Teater Sae. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. karena itu memang bukan diskusi. ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. Teater sering memberikan PR.ublik teater. Ada gedung pementasan teater. perhatian masyarakat pun terpecah. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Ketika Teater Populer membangun p. semua penonton terpukau. Penonton nampak terlatih untuk menonton. teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat. Dan sebagainya. Ketika Teater Payung Hitam. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh. karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Itu memerlukan waktu. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Naskah-naskah teater mulai lahir. Ketika Teater Gandrik. level dan tata lampu. Kalau tidak. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Tak ada gedung khusus untuk teater. Semuanya itu langkah besar. Teater Kubur. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. Tapi walau tanpa persiapan. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. Tetapi bagaimana tidak. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Ada fasilitas. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Ketika STB menggali idiom Sunda. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Dia adalah rasa. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. disadari atau tidak. . tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. pada kehidupan tater kita lemah. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. referensik dan interpretasi. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Dan itu suka tidak suka. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. orang lupa menilainya. Kemudian TIM berdiri. Teater hanya hobi. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. Tetapi rasa cinta. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Tetapi sebaliknya. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. tak harus dimulai dengan penampakan. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. Saya mungkin sudah mendramatisir. Karenanya perlu perhatin.

Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Pramana Pmd. frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. di samping tak punya penyandang dana. tetapi juga terselip penjarahan. Banjarmasin.S. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. olahraga.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Walhasil sebuah teater juga. teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. misalnya. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. semua yang membungkam teater itu. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. teater tak akan berdaya. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing. Masing-masing orang. di media massa. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. Tak hanya kegaduhan. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. teater sudah digelar. pemaknaan . Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. ceramah. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. memang bila harus diukur dari kehebohannya. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. membetuk model selera yang lain lagi. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. Bukan hanya di TIM dan GKJ. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Dan sebaliknya. peradilan. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. kekejian dan korban nyawa manusia. Surabaya. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. demikian tulis salah seorang pengamat. Tapi jangan lupa. sidang-sidang wakil rakyat. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Apa yang mendorong itu terjadi. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. langkanya kebebasan berekspresi. perbedaan selera itu sudah ada. Rendra. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. angklung dan reog yang dicaplok. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. Teater yang keras. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Apalagi Bengkel Teater dengan W. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Djajakusuma). seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. perenungan. teater kembali kepada hiburan. di mana-mana. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Suaranya pun masih ada. Situasi tertekan. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. radio. adalah sebuah suara. Teater Populer dengan Teguh Karya. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. kasar. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. Seperti terhadap makanan. Sebagai sebuah suara. teater jelas kalah. tak akan mampu disaingi oleh teater. Melihat Yel di Washington State. televisi. diskusi. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. ketegangan. kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. 1990). Khususnya sesudah reformasi. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera.

telah merangkul seni pertukangan. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. terbengkalai. Sebagai akibatnya. Teater Garasi. pementasan STB. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. segala yang pernah dicapai. Barat dengan seluruh pencapaiannya. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. Di dalam teater. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Odipus. Dalam kenyataan. asal Anda mampu meyakinkan orang. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Perkawinan Darah. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. Teater Kecil. sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Barjanji. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Jalanan pun bisa. Opera Kecoak.dan penikmatan seni rupa. pementasan Jayaprana. Teater Sae. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. Hidup tak hendak. Metha Ekologi oleh Sardono W. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. pementasan Kapai-Kapai. lalu diganti dengan kegiatan baru. FTJ harus direbut dan dipertahankan. tetapi referensi. Teater Gandrik dan lain sebagainya. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. Hamlet dari Bengkel Teater. Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. lalu menjadi FTJ. Kusumo. musik). Bengkel Teater. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. apa yang sudah detemukan. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Antara lain yang amat penting. Teater Payung Hitam. Sebagai sebuah sejarah. Sampek Engtai dari Teater Koma. jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Konsep tentang apa itu karya. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. tetapi mereka terus setia mengikuti . Lho. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. pementasan Aduh. Memang sayang sekali. Machbet dari Teater Populer. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. pementasan dari Teater Kubur. pementasan Dongeng Dari Dirah. saya melakukan pembelaan. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. Setelah 35 tahun. pementasan Bom Waktu. Mega-Mega dari Teater Kecil. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. itu karyaku. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. mati tak ingin. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . PKJ TIM hanya pelaksana. 1968. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Ngeh dari Teater Mandiri.

Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. seperti interpretasi. Dalam sebuah keramaian festival. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh.festival. Di Jakarta sendiri. Tak mungkin hanya kwalitas. pengembangan. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. Ini sebuah langkah yang sangat penting. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. kompetisi akan lebih keras. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. pembelajaran. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. pengemasan produksi. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. volume dan angka. Komitmen ala kadarnya. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. hasilnya konkrit. Di samping ada kompetis. sudah menunjukkan kecendrungan professional. Study Teater 24 dan Teater Mode. tetapi kompetisi yang terbuka. menghambat penjelajahan. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. Usahanya pun menjadi terbatas. Dalam kualitas. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. sadar tidak sadar. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. bergaul dan berbagi pengalaman. akan-akan karena masih remaja. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. Kedalaman pun tak terjadi. menjadi terus remaja. pengemasan pertunjukan. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. Padahal sejak awal festival. Kendati kehadiran Teater Indonesia. dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. Dalam dua kali gebrakan. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . misalnya. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. perenungan. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. masih ada riak-riak suasana tersebut. diolah kembali. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional.

Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. Dalam praktek pergaulan. misalnya. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. apabila itu menghambat. FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. Dengan melupakan. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. cinta . tanpa suatu ikatan yang ketat. yang memerlukan pembelajaran. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). tidak lagi ingat kepada sesuatu. mengabdi dan mungkin dimaki-maki. tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. dan sanggup main berhari-hari. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. sehingga seseorang menjadi alpa. seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan. agar gerakannya semakin lincah. sebuah seni pengelolaan (menejemen). Teater akan hadir sebagai professi. Penonton menjadi raja. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. rasa kekelompokan. bebas tetapi terkendali. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. Di satu sisi. sayang maupun tak tega. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan). Uang bukan tujuan. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma. Uang akan menjadi sangat penting. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. meskipun atau . Solidaritas. jitu.yang professional. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. untuk menyudahai perkara. Seseorang mungkin memaafkan. Di sisi lain. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. Teater Koma dan Bengkel Teater. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. Tetapi dalam kenyataannya. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Yang ada adalah pekerjaan. Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. produksi tidak mulai dengan kontrak. → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§. Bahkan kalau perlu menghindarkannya. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. juga gagasan dan wawasan (ilmu). Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban. namun tetap sebuah peguyuban. mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. karena didorong oleh perasaan kasih. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. Untuk kerja besar dan berat itu. Diberikan kepada kesalahan. Tantangan itu akan membawa suasana baru. mungkin tidak lagi akan terjadi. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia.

konon adalah penderitaan berat 3. Peristiwa tersebut dilirihkan. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. tapi hanya ingin melenyapkan. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Pada ujung-ujungnya. dikendorkan. Tetap menuliskannya di dalam sejarah. padahal harganya tak ternilai. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka.. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi.5 abad. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . belum tentu begitu maksudnya. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. melupakan tak pernah mengampuni. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. risih apalagi bersalah. Dokumentasi tak diurus. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. meskipun itu adalah fakta. tetapi satu paket dengan orang lain. Sejarah adalah kita sendiri. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. bila tak ada pernyataan secara formal. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. menolak kehidupan nyata. Di dalam peguyuban. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. Masa pendudukan Jepang. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. individu bukan lagi pribadi. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. Dan karena sudah dikeroyok bersama. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. jadi lebih baik melupakan saja. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu.padahal. dilupakan sumber sebenarnya. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Namun melupakan. Dan sebagai konsekuensinya. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen. Demi persaudaraan. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing. hubungan kekeluargaan. Walhasil menghalalkan cara demi acara. tidak sebagai kesalahan. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. sehingga ia bebas. digemboskan. Tetapi di belahan yang lain. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Kita mengenal asas gotong-royong. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. Bergotong-royong. tetapi oleh orang lain. tidak lagi terbebani. prasasti. tanpa ada perasaan rugi. apa yang salah. Tapi di pihak lain. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan.

Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. pihak lain tegas . Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kearifan lokal yang unggul. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. digantikan dengan keseragaman dari pusat. tergantung dari konteksnya. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. Misalnya saja. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan.jadi penipu. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. juga di mana. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. timbul perdebatan. Apakah memaafkan dan melupakan. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. Kearifan yang yang tidak unggul. tetapi juga bertaburan rasa. dalam keadaan bagaimana. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. tetapi justru penggganggu. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. Membohongi diri sendiri. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat. kapan. tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. → 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. Di dalamnya terkandung kiat. menjadi semacam falsafah kehidupan. Memaafkan dan melupakan. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. desentralisasi pun dipacu.tetap mengandung misteri. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. Dalam alenia di atas. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. gemar cipoa pada orang lain. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. tidak hanya mengandung pengertian. pada semua kata. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. Sebuah kata. kembali dihidupkan. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. terhadap pertanyaan tersebut. Satu pihak tegas menolak. sampai ke masa yang akan datang. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. memang hanya dua. . Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. Tetapi berbeda dengan norma. Sementara kearifan lebih pada akal saja. juga awam pada umumnya. kata-kata itu dipergunakan. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat.

Ya dan tidak. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Kalau ini benar. yang saling bertentangan. Dalam alenia di atas. membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Pak Alung. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. tak bisa diperdebatkan lagi. Atau tidak mampu menilai. misalnya. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. Petugas itu menjawab tegas. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. supel “dan atau” fleksibel. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. Tidak laki tidak perempuan. Pak?” cecer Alung. “dan atau” mengandung keraguan. Semua orang. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. cukup baik sekali. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. Tidak kecil dan tidak besar. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. dipastikan berstatus tertentu. Dulu di Ancol banyak. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. Juga tidak umum dalam bahasa formal. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. masih belum sempurna sekali. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka.minta diteruskan. sering sekali masih kurang siap. Karena keterbatasan juga berarti lentur. maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. tetapi juga secara hukum. menanam pohon-pohon yang sudah langka. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. “dan atau” dipakai. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. tidak membedakan jenis kelamin pelaku . Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. ya atau tidak. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan . walau pun itu bukan milik kita. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. “Betul. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense). tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. Di alam resensi sebuah pertunjukan. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum.

Begitu kelakuan anakmu itu. pasti akan langka. Para nelayan kehilangan nafkah. tetapi ia tidur pulas. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. “Dan kalau aku tidak tidur. Masak sayur lodeh lagi. tangannya memegang koran.” . sampai tambah 3 kali. Kalau tidak ada ditanyakan. “Wah kalau sayur lodeh sih. Kalau ada banjir. Ibu sembunyikan. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. lelaki itu terus saja makan. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. Masih ada sisanya. kedele melonjak harganya. Ayo makan. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. kata pejabat kita masih biasa tersenyum. segalanya bisa masuk dengan ramah. Pak. Maka arus air berubah. katanya. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. biarin saja habis. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. “aku ini keturunan petani. “Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah. sayur lodeh lagi. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. seakan-akan sudah puas. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. aku juga tidak akan tahu. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Bayangkan saja. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Amat sendiri diam saja. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi.” Ani menggeleng. karena tidak ada sisa makanan. lama-lama akan jadi pohon langka. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. Ani yang pulang telat. mana makanannya kok habis. bingung. Karena sembari ngoceh. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. tapi kami nanti jadi langka. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Eh tahu-tahunya habis. “Sudah jangan marah-marah. “Nah bener kan.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya. Dengan memakai humor seperti Srimulat. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. Bu Ane ketawa. “Dihabisin babe ya?” “Ya. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan.karena diuruk. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan.” “Jajan apaan. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. nanti masuk angin. Ibu kesel. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Mukanya menghadap ke layar televisi. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. “Bu. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar.

tidak keluar dalam gambar. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. seperti yang diakui oleh pembuatnya. “Ya sudah. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek.” “Memang apa yang baik dibaca. “Ambil apaan. nggak bisa dipakai ukuran menilai. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi.” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja. Mereka ingin yang terbaik. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. tidak selamanya baik ditonton. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. sejuk.” “Tidak.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. Ayo ambil!” Bu Ane ketawa. Kendala waktu. Kata-katanya yang indah. jangan tidak usah!” potong Alung cepat.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan.” “Habis. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. lokasi. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” .” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. Mereka adalah lapisan penonton baru. Sekarang dia seperti orang ngidam.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. Ambil Bu.”kata seorang pengamat. Itu tidak betul. tandas!” Alung meneguk air liurnya. Tapi ngomong-ngomong. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi. “masak tiap hari sayur lodeh. Meskipun bukunya keluar duluan. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Ya tidak?” “Ya. sayur lodehmu sekali ini enak sekali.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. Mereka sudah lebih kritis. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain.” “Tapi gua bukan jenis itu. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan.” “Nah. Bu Ane melirik suaminya. Ah. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. sudah malam. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. biaya. Ia jadi kasihan. Semua orang akan langsung mengopy itu. niknat. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek.

” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. Pak Harto. Jadi rasa tidak begitu saja ada. “Jawab dong. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno. Kalau tidak ada sebbnya. Orang yakin kalau Slamet meninggal. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. pejuang kemerdekaan. kamu tidak bakalan punya rasa. Lalu Slamet berunding dengan istrinya.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Bung Hatta. Orang bilang bir itu manis. . Doi juga ikutan. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. Semua bilang itu novel hebat. karena dia sudah biasa minum. Ia tidak langsung menjawab suaminya. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan. tertegun. Kalau tidak bisa satu. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. Bukan mau menentang arus. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. Memang nggak doyan aja.“Biar berjuta-juta orang memuja. novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. biar puluhan kali cetak ulang. dimakamkan di luar makam pahlawan. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. “Bu. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya. tetapi didorong kebiasaan. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka. Biasa-biasa saja. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. makanya dibuat film. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. tapi menurut gue. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi.

Untung ibunya datang dan langsung membentak. Bapakmu ini selalu ragu-ragu. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun. Kepada ibu kamu. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. Dia tidak mengerti apa mauku. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang. “katanya.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. Pada kesempatan yang baik.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. Kendaraan tidak ada. Aku tidak. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. Jadi Bapak sedih. Pahlawan karbitan. kok masih mampu menolak kehormatan . terutama berhadapan dengan ibu kamu. dengan segala bintang jasa. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya.” “Ya apa pun namanya. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. aku menyerah. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Aku ini keturunan abdi dalem.” “Pak. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk. bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. Satu pihak setuju bapaknya. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Kita tidak punya rumah sendiri. sekolah kalian semuanya putus. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi.” “Tapi aku bukan pahlawan. ternyata itu tidak cukup. Mereka punya naluri dagang. Biar orang-orang itu melihat. Anak-anak terpaksa menyerah. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Masih ada Bapakmu ini. Coba kritik bapakmu itu. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. kepada keluarga besar kita. Akibat bapak tidak punya kedudukan. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. seperti teman-temanku yang lain. mengabdi. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. tapi jadi pedagang saja. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. yang lain kontra. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. jangan sok membuang-buang kesempatan. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan. Kamu dengar itu di Bali. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. “Jelek-jelek begini. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. tidak berani membuat keputusan. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. Pahlawan kesiangan.

Jadi …. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. berlangsung spektakuler. Kita tidak mungkin ikut campur. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. di dalam pewayangan diceritakan. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. tidak. Begitu maksudku. Ami tidak menanyakan itu. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan. Tetapi bukan lantaran menyimak. Dan aku menegaskan. Besar kecil upakara. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. setelah perang Bharatayudha. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. ia baru menoleh paa Ami. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun. tidak menjadi ukuran.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. urusan di sana. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. “Bapak ini suka bertele-tele. Media massa nanti pasti akan heboh. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. jawabnya. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan. Setelah istrinya masuk kamar lagi. Di sana. “Ami. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. “Aku tidak tahu. Yak kan?” Ami berpikir. Karma almarhum adalah ukurannya. jangan salah sangka. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. Tidak! Tetapi justru menambah.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. siapa saja. Amat tertegun. lalu menjawab lirih. tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. jawab tidak tahu. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. “Bukan Bu. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . Semua orang akan memuji. Lihat itu Pak Slamet. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. karma yang akan menjadi ukuran. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja.” “Ya sudah kalau tidak tahu. itu kan urusan di sana.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu. tidak masuk surga semua.” Bu Amat kecewa.

” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu. sehingga Bu Amat kaget. karena tidak dibukakan pintu kamar. presiden Indonesia selama 32 tahun. surga itu di dalam hati orang lain. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. sambung para petugas spontan. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. adalah bapak pembangunan. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. yang ada di dunia ini saja. kita sama-sama tidak tahu. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang. “Betul. Mau betengkar bagaimana lagi. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan.“Ya karena aku tidak tahu.” Bu Amat yang sekarang tercengang. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya.” “Bohong!” Amat terkejut. Sebenarnya aku punya pendapat. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja.” Ami kaget. jangankan dunia sana. “Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah. lalu keluar. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat. lalu masuk ke kamarnya. Apa yang di sana akan berubah kalau. tidak semuanya kita ketahui. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya.”komentar seorang . Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana.” Amat terkejut. “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. Pasti tepat. kecil ikannya!”. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. Amat hanya tertawa.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto. Pak.” “Harus setuju. “Kita lupa. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum. “Kata orang tua saya.” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga. Ia menutup pintu keras-keras.”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas . “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa. tetapi kemudian senyum. itu surga. “Begitulah kita di dunia ini.

Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno. “Tak pernah merecoki orang. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina. ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik. Tidak curang dalam soal uang. Keluarganya pun tak lengkap.”kata Ibu Franki. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. tetapi kalau mau obyektif. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. Entah siapa yang mengirim.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. “Manusia Indonesia pemaaf. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat. Tak ada yang merasa sedih. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Franki termenung. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. Di antaranya presiden SBY.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Tapi ibu memaafkannya. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. wakil presiden. Upacara sudah berakhir. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. terasa positip. terpaksa Franky dan ibunya pindah. layaknya kepergian seorang raja. Jepang dan Singapura sendiri. Sedikit sekali yang mengantar. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Upacara berlangsung megah. Amerika. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.pengamat. Ibunya hanya menjawab. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. Tidak. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Malaysia. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. karena memang itulah kelemahannya. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . Pensiun pun belum. “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. untuk apa mendapat tempat yang baik. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Kita boleh dan bebas berpendapat. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. karena suka perempuan. Orchard Street. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. “inilah demokrasi. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi. Kalau kalah suara.” Tapi setelah itu. Walhasil.” Franky melihat kembali ke layar kaca. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. mesti berani menerima. “kata Franki kepada istrinya. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. Kalau bapakmu karmanya memang buruk. meskipun keki. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. “Bisa jadi ada cacadnya. Hanya saja ia memang agak nakal. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini.

. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati.sauara . Dengan berolahraga bersama-sama. Kalau Bu Amat sudah mendukung. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. lalu masuk ke dapur. apa pun suaranya akan tenggelam. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. Pak. “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. Amat marah sekali.residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global. Dalam rangka memerangi pemanasan global.. Ibunya setuju. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya.”kata Amat berkali-kali. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun. Tak sampai satu jam. “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. Mau jadi juara All England. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. dipakai main juga tidak pernah. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. “Untuk apa lapangan badminton. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Ia terduduk kelelahan. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami. Coba baca. Sekarang semuanya itu akan berakhir.

Kalau pikiran kita hijau. . Heran sekali. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. kalau Amerika. “Sudah Pak.” Anak muda yang lain.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. Lebih banyak karena kecewa. “Sudah. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. sudah Pak. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. Dia tidak bisa ngomong. “Yah. sekarang dalam tempo dua jam. Ia hanya menjadi tambah sedih. tidak apa. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Amat hanya tersenyum. Kalau tidak. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. kita yang disuruh kerja. Amat pura-pura tak mendengar. kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. malahan tambah menjajah. memandang dengan kecewa. Tapi mukanya menahan marah. “Bagus Pak. Jepang. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. pagi-pagi Amat sudah bangun. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. karena sudah terlanjur. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan. padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Pak Amat. “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. anak-istrinya bukannya tahu diri. Sehariann ia termenung. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. tetapi di d alam pikiran kita. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Sampai sore. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Dia yang bikin rusak ozon. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. ketika ia mengalah. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. tomat. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga. hampir separuh lapangan sudah tergarap. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. Tentang pemanasan global. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. lalu istirahat. anak muda itu mengangguk. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Sebelum Amat menjawan. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. Esoknya. Amat mengangguk. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah.. Ia tak punya suara lagi di rumah. Lalu datang istrinya. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. kita bisa malu!” Amat takjub.

mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton.“Ya sudah. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). ekspressi yang datar. Danarto. sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Kelompok yang sudah hadir gemilang. Yang akan tersaji hanya bentuk semata. Seno Joko Suyono. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. Radhar Panca Dahana. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. gesture yang salah. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. . Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan. antara tanggal 21 s/d 30 Desember. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Jajang C Noer. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks. baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. harus bertekad untuk tampil maksimal. agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. kembali berkobar. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. tetapi tak urung menjadi tantangan. telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. Yang pasti. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ). Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Penataan panggung.

PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. benar-benar harus diikuti. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. Di sudut lain. artikulasi kata-kata tidak jelas. Realisme ternyata tak pernah mati. sampai pada memilih naskah. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. peran sutradara amat penting. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. Selamat berjuang. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. tetapi juga pemimpin kelompok. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. Jakarta. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 . membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. Namun di atas semua catatan-catatan itu.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. Demikian catatan kami para juri. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. volume suara tidak memadai. keras bahkan berteriak namun tidak jelas. Pemahaman terhadap naskah. Barat tetap menjadi referensi. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. sangat menentukan hasil akhir pementasan. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. apakah itu komedi atau tragedi. pilihan bentuk artistik. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. pola pemeranan. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. asal tetap sesuai dengan tema festival. apakah itu naskah realis atau non realis.

masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. Ketika sampai di Puskesmas. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. Bagaimana pembuahan di luar rahim. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. “Pak Dokter harus tolong kami. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. baru dibawa ke Puskesmas. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. HIV.” “Makanya keluarkan ular itu cepat.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. tidak bisa bayar. Pada suatu malam. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Tetapi di dalam hutan. sehingga ketika maut tiba. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. manusia tetap mati. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. keluarganya tidak percaya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. itu tidak berlaku. dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. Biasanya pasien parah langsung diinfus. tidak akan terlambat. karena saya dokter.” “Terlambat bagaimana. masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. tidak ada gunanya. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. Kalau yang sakit sudah sekarat. Dia itu kepala keluarga. saya bedah mayat itu. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Disaksikan keluarganya. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. dalam bayi tabung. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. sebab orangnya sudah meninggal. tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun.

Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. Dukun pun terus menjalankan upacara.” Mereka tercengang. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya...” “Terus hasilnya?” “Itu. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. berhasil atau tidak?” “Berhasil. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Paling berapa kilometer. Kasihan keluarganya. Saya rogoh saku. kau lambat sekali. Bilang saja terus-terang. Ada yang menangis. Pagi-pagi pintu digedor. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. tapi tidak ada yang mau. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Wajahnya meringis kesakitan. ” kata saya menunjuk pada mayat. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. tidak cuma ngobrol. Dukun sendiri malah mundur selangkah. Saya bingung. . Saya berikan ruang agar mereka lewat. tak percaya apa yang saya katakan.” “Ah. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. Lalu saya buka pintu. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar. jangan terlalu banyak diskusi. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. apa itu itu artinya lumayan. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. berdoa dan menyanyi. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. ingin tahu apa hasilnya. Mereka semua nampak bimbang. Kalau Dokter cepat bertindak. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. Saya terpaksa menjadi dukun. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan.

bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Kalau saya tolak. Mengulur semacam pelipur. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. atau apa sajalah namanya. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Termasuk cincin pemberian ibu saya. muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. berikan ini kepada istri. Bahkan sampai tiga kali. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. Rombongan pengantarnya banyak sekali. lantaran saya sama sekali tidak siap. biarkan aku istirahat sekarang. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. minta agar saya mengobatinya. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. Pada suatu malam. yang lain menghampiri mayat. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan. Tidak. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu.” “Tidur?” “Ya. berubah menjadi pengurus orang mati. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu. Mereka curiga.. Setiap kali mengobati mayat. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. bisa jadi konflik. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam.” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Sampaikan kepada mereka. karena aku sudah lelah sekali. kalau saya runtuhkan lagi.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Beberapa orang menyanyi. ia menghitung. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. “Kata dia sebelum tidur. Badannya penuh dengan luka parang. tenang semua. dengan bahasa yang mereka pahami. saya langsung kelelap. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Begitu kejeblos. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Diendus-endusnya dari jauh. mereka lalu bergerak. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. Tidur untuk selamanya. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. . karena saya sudah terlanjur dipercaya. mengeluarkan duit. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Setelah dukun mengeluarkan mantera. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. sekarang sedang tidur. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup.

Kepalanya bisa saya sambung. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. kami semua akan mati. Saya bingung. Saya sudah berpurapura jadi dukun. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Lebih dari itu. Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. Bapa saya itu raja.” “Kami tidak mau hanya usaha. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya. kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. “. “kata putra kepala suku. sekarang menghajar saya. asal dia bisa hidup lagi. boleh mati karena wabah penyakit. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab..” “Saya sudah berusaha. Kami semua ada karena dia hidup. “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan. Dia cinta kami semua. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. Otaknya rusak juga tidak apa. Itu mustahil. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. Kalau dia mati. Saya benar-benar cemas. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. “Kehormatan buat kami paling penting..” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. gempa. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Apa artinya orang-orang ini. tapi cintanya palsu. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. banjir. Tolong hidupkan Bapa kami. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan.Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas. kami bisa tunggu. Dokter. tetapi ternyata tidak cukup. agar bisa nyambung dengan masyarakat. tetapi mereka tidak peduli. longsor atau letusan gunung berapi.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak . berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. Banyak di antaranya yang terluka. tapi nyawa tidak mungkin. Kami mau ada hasil!” “Tapi . Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba.” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul. karena kalau sampai dia mati. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. boleh kocar-kacir karena kebakaran. asal hidup. Subuh. tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. Bapa saya itu lambang. “Sebelum perang. “Kalau satu hari tidak cukup. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. Mereka pasti akan kecewa sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu.

Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona. Saya tak sanggup lagi bicara. Anak Kepala Suku tertegun. pesan orang tua saya waktu kecil. Anak kepala suku itu sangat kcewa. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab. daripada membela kebutuhan rakyat!” . Sejak itu bukan orang mati.mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya genggam besi itu. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. Dan itu berlangsung lama. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalau entah darimana datangnya keberanian. hangat nafasnya membuat saya tersiraf. Harapan saya ada gunting. itulah satu-satunya pegangan saya. . Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Saya bukan lagi dokter. Sedetik hening. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.” Anak kepala suku itu kaget. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. supaya musuh dapat diberantas. “Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. saya menyerah. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Apa pun yang akan terjadi. Mereka tidak hanya mencari obat. Orang-orang lain pun tegang. tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. Teriakannya membuat semua terdiam. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.. kalahlah dengan indah dan gagah. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Saya ketakutan. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Di laci. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Tetapi kemudian semua meledak.”kata Kleng berkoar di jalanan. mungkin akan jauh lebih berguna. tetapi cepat saya gapai lagi. “Pahlawan tidak pernah mati. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Besi bendera itu terlepas. tetapi terutama kasih-sayang. Lutut saya tambah lemas. Kalau saya harus mati. Kalau kalah. Tapi ajaib. seorang penduduk di wilayah Ciputat. pisau atau barang tajam lainnya. saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. Namun Kleng. tidak. Anak kepala suku itu menghampiri saya. Mereka melolong seperti binatang liar. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. bersorak gegap-gempita. Dengan panik. Saya gemetar. Mukanya langsung keruh. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. ada orang sakit yang mati. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Masyarakat marah melihat para pemimpin. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. saya berbisik. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. tidak terkabul. Mereka memandang kami dengan mata mencorong.

Kleng bingung. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang. Sudah cukup.” “Berarti saya bebas?” “Memang. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat. Ia nampak bengong. “Silakan. Kemudian dia berbicara dengan temannya.. korupsi. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua. Saudara boleh pulang.Esok harinya. kami bisa menjelaskannya. “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir.” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin. agar kalau ada pertanyaan.” Petugas mencatat. Kecuali kalau ada yang lain.” . siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat.” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes. “Ya. Kemudian dia menggeleng. Sekarang karena sudah jelas. Kleng dipanggil ke pos polisi. rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat. Kalau ada kesalahan. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu. Pak. kemacatatn jalan raya setiap hari. “Tidak.” “O ya?” Petugas itu mengangguk.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya.”. kejahatan birokrasi yang semakin licin. “Lho saya boleh pulang?” “Ya.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul.” Kleng tak bergerak. Tapi itu bukan teriakan-teriak. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul. sudah cukup. bukan rakyat yang salah. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak.

untuk membunuh Niwatakawaca. pendeknya melakukan tapa selama satu hari.” “Ya saya tahu. “Ah kalau cuma maunya itu.Kleng menggeleng. Ami. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Bapak juga. Kalau semua orang seperti ibumu itu. Benar tidak?” “Kalau itu memang. ada tiga sekaligus hari ini. meskipun dipelihara. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya. reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Tapi saya tidak mau. . saya dipanggil. Ia mencoba merenungi makna Indonesia.. bukan semua kita!’ . masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan.” Amat tak bisa membantah. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. sama saja dengan kendaraan. “Saudara boleh pulang. kurang waspada.” “Tidak ada tetapi. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. seakan-akan itu bukan urusan mereka. Yang pertama protes adalah Bu Amat. Pak Amat ingin menyepi. tidak usah susah-susah bertapa. Lihat saja ketika hak cipta batik. kita semua manusia begitu. Rasa Sayange. sebab aku masih ingat.” “Iiih kebangetan.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis. tetap saja makin tua makin merongrong. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor. Begitulah manusia. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa.” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya. Makin lama. Kamu sendiri sering bilang. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia. tidak tidur dan tidak makan dan minum. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. keroncong.” “Hanya itu?” Amat berpikir. akhirnya ia mengomel pada Ami. Tanpa kepribadian.” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin. perpecahan. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek. tempe. Baru kalau kepalenya sendiri digondol. Nanti jawaban satu nusa. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan ……. masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Ya bukan hanya Ibu kamu. tapi ……. menghayati kembali apa itu Indonesia. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila.” Petugas mau mencatat. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati.” Bu Amat tak sabar. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan. pejabat-pekabat kita tidak peduli.” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan.” “Lho ini kenyataan.

Amat memang dikenal sebagai tukang damai. langsung minta Amat keluar. jadi lebih sering ngelayap. Untung Amat tidak terlambat. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. karena kesal melihat ulah suaminya. Biasanya kalau Amat datang. Ia manjakan istri dan anaknya. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Air matang pun habis. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Tempatnya berjauhan. badannya rasa hancur digiling. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. seperti kambing congek Amat salam-salaman. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. ketika Amat masuk ke dalam rumah. untuk melerai. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. Ami juga sudah pulas. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. tapi ketika terdengar suara perkelahian. kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal.“Ah sama juga. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi. gembos dengan sendirinya. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Coba kritik Ibumu. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Tidak pernah menuding orang lain. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak.. Ia sudah menghunus parang. Tiga jam semuanya baru terkuras. mulai kesal. begitu membuka tutup nasi di meja makan. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. ada empat acara pernikahan. Ia lebih banyak menyesali . Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. kata-katanya juga sama. Tapi ternyata bukan tiga. tetapi siksaan. Ia tidak pernah marah. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Tetapi sial. Ia marah. Mula-mula Amat tidak mau. Itu bukan silaturahmi lagi. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi. Sudah lewat tengah malam. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. Begitu tamu pulang. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir. Dari pagi hingga malam . kemudian perdamaian dimulai. Tidak ada apa-apa di situ. Ia dengarkan keluhan keduanya. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. sekarang perutnya keroncongan. lalu keluar. Amat selalu dianggap sebagai kunci. Sampai di rumah. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. apalagi pintu rumah diketok tetangga. Amat kecewa lagi. Amat dengan sabar melerai. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. tetapi kakinya hampir copot. tiba-tiba datang tamu. baru hendak melepas baju batik. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Bu Amat tersentak bangun. Tinggal Amat sendirian. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Masalahnya sama. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. Pulang ke rumah. Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah.

Setelah menangis dalam. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. ” bisik Amat dalam hati. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. kesal. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. Biarlah tak ada yang mencintaiku. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Kemudian datang malu. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. “Apa?” “Ah nggak.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Tetapi setiap kali tahun baru. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam.” Amat membuka mata. Tiba-tiba mendesak rasa haru. Amat duduk terhenyak. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar. Ibu terus saja pura-pura tidur. untuk dikeluarkan lagi nanti. “Kasihan Bapak. Tanpa seorang penonton. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Amat menangis. Aku ternyata sendirian. bapakmu kan memang maunya bertapa. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Aku tidak mencari panah Pasopati. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . Lampu kamar belum dimatikan.”keluh Amat. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. menahan perasannya. Ia tidur mati. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Baru beberapa menit duduk. “Sebab aku bukan Arjuna. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. asal masih ada kamu yang menyapa. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. ia masih saja cengeng. Kasihan pada dirinya sendiri. ” tapi apa boleh buat. sebagaimana biasanya. aku sudah merasa cukup lega. Lalu Amat tersenyum. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. Amat merasa lebih lega. pengalamanmu semakin banyak. “Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Setua sekarang usianya. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. “Aku tidak lulus. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Bahkan ketika mulai punya pacar. Bapak kok tidur di luar. “Ya hanya kamu temanku. Malam bagai mendengar.kekurangannya sendiri. Sekeliling sepi sekali. sepi. jadi waktu semalam ia masuk kamar. seperti seonggok kayu yang tumbang. Hanya kesunyian yang masih terjaga. terhanyut begitu jauh. Usiamu bertambah. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tetapi ternyata balasannya tak ada. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. “Ya. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku.” jawab Bu Amat. Ia memandangi istrinya lama. “kata Ami. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa. Tapi tak bisa. Tidak dingin?” Amat menggeliat. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa. Kelihatannya sangat nikmat. keluar ke teras. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur.” “Kenapa!” Amat tertawa. Amat merasa dinina-bobokkan. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Amat bangkit dari kursi. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. “Aku bertapa.

Arjuna kan doyan kawin. aku ingat. akibatnya kita jadi tidak peka. Rumah nampaj berdandan. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur. Ibu memang beruntung. kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Jadi karena takut mengganggu. “Cukup gulanya. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. Matanya terpejam karena nikmat. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. “Minum saja dulu.” “Bapak lupa. bangun tidur. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. “Boleh. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan.” Amat hendak terus ke kamar mandi. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab. “Ah sudahlah. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Bu Amat dan Ami nimbrung. Akhirnya ia menghampiri meja. “Tidak ada. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. karena Bapak bukan Arjuna. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan.” Amat bersenandung mengikuti lagu.” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya.” Amat ketawa malu. itu tidak penting lagi. Pak. . buta dan merindukan yang lain. aku tidur di luar.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng.cemburu buta. Kalau tidak. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat. menarik kursi lalu duduk. bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. justru bangun-tidur minum itu sehat. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Juga ada buah-buahan. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. ia terkejut.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab. pacaran lagi……. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir.” “Ya. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. “Aku untung kalau begitu. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Kopi panas. tetapi karena kita tidak tahu. . Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. Meja makan memakai taplak baru. Kemudian ia meraih pisang goreng.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Kamu nampak lelap sekali. Untuk apa bertapa. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.” “Untung?” “Ya. Tetapi begitu sampai di dalam. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan.” “Tapi aku belum mandi. “Ya. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa.” Amat menggeleng tak mengerti. “karena terlalu sering didengung-dengungkan. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. “Terimakasih. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.”bisik Amat. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya. khususnya di kalangan kaum homo. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain. Amat terpesona.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS.” Amat mengernyitkan dahinya. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren. buta. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti. “Astaga. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya.” kata Ami memberikan ceramah.” “Tapi sesuai dengan pepatah. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. alah bisa karena biasa. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar.“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng. “kalian sengaja melakukan itu. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. “terimakasih. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan . Dulu siapa yang mengidap AIDS. “Kan sudah kemaren. “Lho bukannya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. apa yang mereka lakukan. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. yang bebal. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh.”kata Amat seperti disambar petir. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya.” Tiba-tiba Amat terpagut..” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja. Tranfusi darah. hari ini tidak usah. “Sudah dibatalkan. betapa cantiknya hari itu. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. di depan sejumlah ibu kampung.”lanjut Ami menyambung ceramahnya. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai.” Amat terkejut.

“Sekarang yang paling berbahaya. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. orang akan bangkrut dan mati. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. Moral kita sudah jatuh. tetapi tetapi seluruh bangsa. “Wah. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. kalau dalam usia semuda kamu. “Mereka bilang begitu?” “Ya. yang paling mengancam kita. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. “Aduh. Bila perlu dengan cara melawan hukum. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. yang belum menikah. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. tidak peduli kepada kemanusiaan. Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. bukan lagi AIDS. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. juga kehilangan kesejahteraan. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami. yang nomor satu ditakuti. Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak.” Mata Amat semakin membelalak.” Amat terkejut. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu. tidak punya harga diri. . karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. Sekarang malah diundang berceramah. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. tetapi kehilangan otak. “Kamu bilang begitu?” “Ya. tidak punya rasa malu. Semuanya mengucapkan selamat. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. bukan lagi HIV. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. “Apa ceramahmu gagal.dengan masyarakat. Tanpa kedudukan. adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus.

isi ceramahmu bagus sekali. Hanya saja karena orang sederhana. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. benar juag komentar ibu-ibu itu. ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. pujian mereka kepada Ami. bukan yang kamu katakan Ami. untuk mendengar sendiri secara langsung. “Kenapa Ami. kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat.cantik lagi. Ternyata benar. mereka tak mampu mengucapkannya. “Kalau begitu. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. Bukan hanya ibu-ibu itu saja. Lalu bergegas keluar.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan. Bapak juga sama saja. AIDS sudah dianggap enteng. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan.” . Ami kebingungan. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful