Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. Jadi Ami harus marah.” Ami mengangguk. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. Bapak tidak boleh ikut marah. sekarang baru tari-tarian. sopan dan santun itu ada batasnya. anak kita marah-marah sama Malaysia. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita.” “Ngapaian bijak. Tapi harus ada yang marah.” “Tidak. Dengan menekan perasaan. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Kalau tidak.“Tapi melarang!” “Memang. Sekarang mari kita pulang. kata Ami. karena kita adalah bangsa yang santun. mantu tetangga kita. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Ini bukan hanya masalah tari pendet. Amat menyerah. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. kalau kita diam saja. jadi kita harus menghormatinya.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. Kan sudah berapa kali kita dihina. Karena kalau presiden marah. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. Kalau mereka dengar. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. “Jadi kamu mengerti. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. Kalau Ami pulang. bisa-bisa mantunya tersinggung. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. Bapak bangga sekali. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Betul. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. karena tetangga kita mantunya Malaysia. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. Itu sebabnya Ami marah. “Ami. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut. Kalau begitu kamu dewasa Ami. Masak diam saja. “Bagus. “Bapak tidap perlu minta maaf. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. kalau kita diinjak-injak.” “Bapak minta maaf dan pulanglah.” “Kenapa?” “Karena Ami marah. sama juga dengan budak. Bijak. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Bapak tidak usah minta maaf. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. bisa terjadi perang. Boleh marah. bukan hanya masalah orang Bali. Karena ngomongnya sudah tidak karuan.” “Tidak. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah.

Amt kemudian menggebrak meja. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. Tak sabar. bukan kulitnya. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas. pasrah. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. alias tidak melempem. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. Hidup di kota pun penting. yang membuat telinga merah. Menampik budaya kota. ia akan terus bertahan di Yogya. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah. mengejar nama dan duit. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. begitu panggilan akrabnya. malam Jum’at. menjelang bulan Ramadhan.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. si maniak kopi. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. buku Nagara Kertagama. tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. sehingga esensinya. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. “Yes!” Tak puas hanya memekik. Ia ingin mencuci kembali tradisi. mirip sebuah sumpah. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. berjanji. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu. Mempertahankan tradisi itu. Kebudayaan Jawa yang tinggi.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an. “Sabar Pak. sabar. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. Ia berseru. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot.” Amat terkejut. ia membuat seluruh kebijakan. Prambananan. “Banyak orang tersinggung dan kaget. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. tapi isinya. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Sama sekali tidak. Ia kemudian mencecer. tetapi bernas. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. Dengan memberikan tafsir baru. melempem. “Maksud Bapak. tersimpan niat yang mulia. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik.

ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. sehingga bisa bergaul dengan semua orang. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. “Lihat Bu. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. di Jakarta. mas willy§. “Itu namanya penafsiran. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Ayo sekarang ganti channel tv-nya. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan.” “Memang. “Itu artinya dia orang besar. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. kontan buyar. Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. Jadi Jacko. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. Titik. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan. Ami mengangguk acuh tak acuh. dengan semua perbuatan.yang dipesan suaminya. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. “Kalau dia memang pahlawan. “kara wajah di televisi itu lagi. tindakan serta pemikirannya. Pak. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu. Aku berkata untuk almarhum. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. Mbah Surip dan Mas Rendra.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. “Ya itu kataku. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Amat tercengang. tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. mengingat ekonomi yang . “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat.melanjutkan. “Jangan suka marah. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk. Itu memang kataku. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. Yang wajar-wajar saja. Bertengkar juga berpikir.” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis. sambil menunjuk ke televisi.

lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja.” Amat penasaran.” Amat terkejut. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. Seorang pemuda menjawab. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. “Aku heran. yang doktor pun bisa dicuci. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. “Sudah Pak. Dia buru-buru pergi. seperti yang aku dengar di televisi.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian. karena tidak melihatnya. budi pekerti bahkan agama. tetapi ribuan bahkan jutaan. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. merasa ikut kehilangan. famili dan negara. membatalkan laganya dengan PSSI All Star. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. Dia mulai marah. hubungan itu sama sekali tidak ada. Pak Amat. istri. keluarga. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat. ambil segi baiknya. “Teroris!” umpat Amat. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani.” Ami melirik bapaknya. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya. “Coba tenangkan bapakmu Ami. Orang itu tidak menjawab.” .” “Politik?” “Ya. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. Orang-orang itu punya anak. “Itulah politik. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Dia memanggil Ami. Pak Amat. ini politik. Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita. Bukan karena tak ada. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. susila. kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. pikirannya sudah ngelantur lagi.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. “Ayolah Ami.

tangan dan kakinya yang terputus dari badan. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. Penculikan. suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. Anggota badan manusia berserakan.Ami terperanjat.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi.”bisik Bu Amat dengan terkejut. . bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Isi perut terburai. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. Begitu saja rasa ngeri. “ Bu Amat tertegun.. Kepala. Kalau tidak begitu. “Hidup semakin keras. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. ngeri. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . kaki. Bencana alam. ia sempat terdiam sebentar. Anak dijual oleh ibunya. Ia terkejut dan jadi gemetar. Orang hilang. Layar kaca. Bu Amat tersentak. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. Ketika muncul berita Bom Marriot 2. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. masih seru. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. tangan. Korupsi. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Ibu membunuh anaknya. Manusia makan mayat. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Dulu. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. “Aduh. Bu Amat menjerit. Melihat di mana ia sedang berdiri. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. . Ia hanya memandang ke satu titik. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. semua terpisah dari tubuhnya. Di puncak bukit yang bergetar. Setelah itu. Kepala. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. ia bisa mengucurkan air mata. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. ia sama sekali tenang. Takut. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Ia lupakan dulu curhat La Toya. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Teror dan bom di mana-mana. Pada kejadian Bom Bali Kedua. tapi hanya sembilan. “Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. Matanya menancap ke televisi. kita semua akan kalah. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Bu Amat melihat darah. “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. manusia menjadi semakin tabah. Tak kuasa lagi menahan diri. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi. ia memang masih tertekan. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. Bom Marriott 2. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Bu Amat terpesona.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. Memang bukan 200 atau seratus ribu.

Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai. penyalahgunaan kekuasaan. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. korupsi.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. Kita blak-blakan saja. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu.” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. menghampiri Amat. datanglah secara kesatria. tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. Sama sekali tidak mau peduli.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. Bu Amat menjawab enteng. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. letusan gunung. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia.”kata Amat curhat pada Ami. Sabuk Himalaya. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. Filipina. Bersiap-siap saja. Masak kita akan menghadapi kiamat. “Ya.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran. dia tidak peka. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. . Ternyata tak beda dengan Bu Amat. angin topan. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan.” Amat tercengang. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah. China. Terlalu menyepelekan. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. mempunyai resiko yang paling besar. Indonesia. Gempa bumi. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. “Bukan.

Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. Harus menjadi pelopor. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Dua-duanya harus di bunuh. Penjajahan politik sudah kita tendang. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Teater kampus ditonton dengan .” Tanpa menunggu jawaban Amat. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. “Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Saya menulis kredo untuk teater kampus. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. “Dia pergi. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. saya menyarankan agar teater kampus.“Jangan terlalu dekat. “He mau ke mana kamu?” “Pergi. Tapi 2009 tak bergerak. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. Waktu itu. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. tetapi kehidupan teater yang bebas. kamu membunuh satu juta. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. Belum selesai itu. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. Badannya lemas. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. tidak ada hukumannya lagi. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. daripada pergi meninggalkan kita.. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak. Perasaannya tiba-tiba kosong. Tangannya gemetar. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. Samurai di genggamannya terlepas. Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku.

unik dan orisinal. kehilangan jiwa. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Titik pusat jadi hanya pada cerita. lebih dari unsur verbal-nya. komunikarif. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. di tangan sutradara yang baik. akan terjadi sesuatu yang kosong. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. Masing-masing jenis teater memiliki langkah. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Hasilnya adalah kegagapan. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. Sebuah naskah yang buruk. memberikan pengetahuan dan sebagainya. karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Untuk itu kampus harus membuka diri. harus ada studi dan strategi. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. penataan adegan dan set. Ini adalah ciri-ciri tontonan.penuh penghormatan dari masyarakat. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. bisa menjadi menarik. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. akan membuat pertunjukan tak punya arah. menghibur. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. kalau tidak. kreasi. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. Bagi saya ini hal yang positip. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Karenanya memerlukan pembelajaran. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. Teater tradisi yang asli bagus. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. Selama ini yang sering terjadi. Dan untuk membuat perencanaan. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. Musik. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Tetapi kalau ditanggapi keliru. Aspek penulisan lakon dal. membuat penasaran. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Penyutradaraan. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan.am Festasimo IV masih rawan. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater.

Papua. Setelah 52 tahun merdeka. Baik suku. Beberapa wilayah (Aceh. Nusa Tenggara Tinur. bukan esensi janji bersatu. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Papua. (DI TII. Kahar Muzakar. terjadi reformasi. RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. Memang betul. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. tak hanya seni akting. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. Insiden etnis terjadi di Pontianak. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Sulawesi. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. bangsa dan bahasa. Gotong-royong itu sendiri misalnya. agama dan sebagainya. Sumatra. Kalimantan. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Ini masalah yang serius. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. Jawa Barat. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. di mana-mana dikenal. banyak bukti. Maluku. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. Beberapa peristiwa berdarah muncul. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Riau) mau merdeka. Dan ini bukan hal yang mudah. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. Perbedaan semakin jelas. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. satu bangsa dan satu bahasa. Indonesia yang satu mulai diragukan. pada 1997. Di Jakarta sendiri muncul FPI. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Bali. Hanya dengan cara seperti itu. di Indonesia ada banyak perbedaan. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. Kita mengakui bahwa kendati satu. Banyak lagi masalah lain.banyak hal. khususnya teater kampus. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. adat-istiadat. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Tetapi kalau diusut. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. .

Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. diberikan hak hadir. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya. meski pun berbeda. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ . Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). Baik idiologi. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). pemuka agama dan para konglomerat. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. golongan dan pribadinya. Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Sekarang kita mesti berhati-hati. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan.Kalau ada.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Kemajemukan yang ada di Indonesia. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Banjar terpecah. Para pemimpin partai. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Pluralisme di Indonesia bermasalah. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. Kendati begitu. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. Semuanya karena politik. menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”. Sesuatu yang datang dari luar. Ada juga yang disebut “nempahan raga”.

Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. Jadi Ami. Makanya jangandilawan . kamubukan pihak yang kalah. tetapi menyembur. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. kamusebenarnya tidak kalah. Banyak orang bersedih. Manis itu memang enak. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. Di rumah. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan. air mata itu semakin membanjir. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca.Bukan hanya itu. karenamemang itulah tujuannya. Aku terkejut. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. Aku panik.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Dia tidak akan mengiris. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. anakku Ami nampak kesakitan. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. meredam perasaan agar jangan berkelebihan. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Sedangkan orang yang menang suara.tetapi kamu sendiri. Perasaan itu baik.” Ami mengangguk. Aku rengutkan handuk itu. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. apabila tak belajar dari yang kalah.mengerem. lalu membanting. Jaditabahlah hadapi kenyataan. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya. Tapi wajahnya tambah berat. Aku terpaksa menghibur. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. Ingusnya ikut berleleran. karena Undang UndangHukum Pidana. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. Lalu airmatanya jatuh berderai. asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu.” Kepala Ami semakin berat. Undang-Undang Popok Pers. kamu hanya ditunda menang. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. Ia tersedu-sedu. padahalbelum tentu mereka benar. terima saja. “Aduh Ami. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. Air matanyatidak lagi hanya menetes. rasa kamusendiri juga tidak laras. “Waduh. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. memang baik. “Sudah Ami. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. Kalau tidak. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. “Sudah Ami. Kemenangan itutidak harus kelihatan. tegas.Tetapi yang lain berpesta. Seluruh pipinya banjir. meskipun belum tentu lebih bener. mereka adalahorang yang kalah. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. pahit ataukemanisan. diaakan mencocokcocok. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk. Tetapisemakin diusap. Yang menangadalah yang lebih banyak. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. asin. Aku jadi cemas. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang.

Dera mereka yang menjualkecabulan. Baru kalau diagagal nanti. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. Bisa-bisa kamu yang dibakso. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur. karena pisau itu sudah di tangannya. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. kita beritahu pisaunya yang salah.setidak-tidaknya kita anggap cabul. juga ketelanjanganrohani. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. Ratu Dangdut.sekarang nanti dia tambah buas. seret. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. “Bagus. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. mata Ami pun berhenti meneteskan air.tidak cukup suara keras. Ami sayang. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. Tak hanya itu. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. Mengerti?” Ami mengangguk. didenda dan dihukum. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. “Jadi dengan kata lain. Ratu Mercy.Biarkan saja.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Ratu Kaca Mata. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. kalau kamu mulai mengerti sekarang. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. “Terimakasih. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan. Terimakasih Mama. dengar. jangan-jangan mereka menyimpanpornography.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. bongkar laci dan almari. tidak cukup mata melotot. Mukanya mulai berseri. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . Ajaib. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. Baik kameranya. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. Kalau ada yang cabul. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua. Kontes Mirip Bintang. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. denda milyardan danjebloskan ke penjara. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. Selidiki apa isi kepala orang. “O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang.bahkan singkap sprei dan kasurnya. Masuki rumah penduduk semua.apalagi pemuka. Seperti yang mereka usulkan.” Ami memandangku seperti bertanya.

Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. Pemilihan akan akan diulang. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja. tetapi juga kecantikan kepribadian.seperti itu akan keliahatan aduhai. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. berarti kemenangan mereka palsu. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri.” “Memang bukan. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. Ada protes. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. kakinya yang berbulu. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat. Pak. Mereka bukan 9 wanita tercantik. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. kecantikannya kalian lupakan. Di bandara. ia sudah ngomel di depan para wartawan. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami. tidak mencerminkan jutaan warga kita. jadi kami serahkan pada para pembaca saja.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung. Sebagai kompensasi. Keputusan pemenang dibatalkan. Pak.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. karena merasa tidak puas. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. tetapi tidak terlalu berarti. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. Lomba pun dimulai kembali. Tulang-tulangnya yang besar. . Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu. panitia mengambil jalan tengah. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. karena menyangkut keselamatan majalah. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. sebab mereka sudah tahu. Hasilnya amat mengagetkan. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. Setelah mempertimbangkan masak-masak. Para panitia segera berunding.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik.” “Kalau begitu. Pak. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua. Kalau dipotong bisa parah. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. “Maksud Bapak. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas.. Pak. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria. Urutannya jelas. dilipatgandakan. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. ternyata lima di antaranya adalah wadam.

yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. akan terselamatkan. Pak!” “Tidak ini tidak main-main. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. bukan masyarakat yang sakit. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. tbc. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Tapi meskipun membela kemanusiaan. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. Pak. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. memahami amanat ini. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat. Dua juta orang yang terancam kebutaan. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. Ini salah kaprah!” Panita bengong. tidak bisa.Panitia kembali diundang berdialog. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. atau ada yang lebih bagus. Kilatan cek itu membuat darah saya . “Maaf. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci.” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. Saya minta keputusan ini dicabut. Mereka yang terpilih memang sangat professional. mati muda. Tidak mungkin sama sekali.” Saya langsung pasang kuda-kuda. Kalau dia menang. Tanpa mengenalkan dirinya. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran.” “Kalau itu betul. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Tetapi entah kenapa saya diam saja. “Bapak mengatakan itu. “Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. pilihan mreka kami anggap wajar. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. di dalam sebuah kompetisi yang adil. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum. Pak. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional.”katanya memujikan. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan.

Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Bukan hanya berenang. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa. “Silakan. anak itu mengubah tujuannya. Tapi sebelum tertangkap. Saya tak berani bergerak.beku. bukan saya tidak menghargai Anda. Bangsat.” Dia mengulurkan uang itu.” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Seakan-akan dia marah. “Hallo.” Tiba-tiba saya batuk. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. Dengan kalap saya gapai-gapai. Kedua-duanya. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. menyelamatkan diri. dia diam saja. karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani.” Saya bergetar. Saya cepat menangkapnya. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. “Ade. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam.” Saya gelagapan. Tidak peduli ada bangkai ayam dan . tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. “Maaf. untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. hallo …… . lalu terjun ke kolam. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. Kedua amplop itu langsung tenggelam. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Tapi orang itu terlalu sibuk. Perasaan saya rontok. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. Kalau ini kurang. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu. “Kalau wakil kami menang. lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini.” Saya memberi isyarat untuk menolak.. Nampak besar dan padat. kalau Anda masih was-was. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Dia seperti sudah menebak pikiran saya. Apalagi menolak suap. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. Merasa dikejar anak saya berlari. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan. Saya kan belum berpengalaman disuap. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. saya hubungkan sekarang. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. Atau Anda lebih suka menelpon. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. sore ini juga kami akan datang lagi. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Dia memeluk saya. lalu diberi seragam koruptor. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. “Kita transparan saja. Dia merogoh lagi tasnya. Matanya melotot menentang mata saya. Ketika saya tangkap. Itu memerlukan keberanian mental. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Baik menerima mau pun menolaknya.

teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Dan kenapa saya terlalu lama bego.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. Setelah telanjang dan mengguyur badan. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. saya hanya menggeleng. karena kurang pengalaman. Ya kalau dikembalikan. Tapi coba. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. berarti saya sudah makan suap. Laki-laki sama saja. Siapa yang akan peduli. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. Aduh malunya. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu. Kalau dia tahu itu uang. Badan saya penuh lumpur. yang bener aja!” “Tapi . Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. “Eling Dik. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. Hari gini. Tapi tamu itu sudah kabur. Diinjak pikiran kacau saya pulang. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. ide-ide busuknya akan muncul. . Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. langsung ke warung. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. Tak ada bekasnya sama sekali. Kalau itu dibiarkan berkembang. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. Dengan berapi-api saya terus mencari. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang.. bahaya. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari.Tak seorang pun yang menolong. tak akan dipercaya.” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi. bau!” bentak istri saya. Apa pun yang saya lakukan sekarang. Tak menolak dengan tegas. . Saya termenung. Darah saya tersirap. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. “Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Badannya kuyup penuh kotoran. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. cepetan madi dulu. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. “Mana?” Seorang anak tetangga. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. “Cepat mandinya. akhirnya saya akan masuk penjara. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. “Sudah jangan kayak orang bego. eling. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. saya keluar. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran.kotoran manusia. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Kalau kedua amplop itu lenyap. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. Di kepala saya ada tahi. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. Tapi saya tidak peduli. saya sudah basah. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. berarti saya sudah menerima. Saya tidak berani menjawab terus-terang. Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas.. Istri saya bengong. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. mplop itu harus ditemukan.

Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. Bang. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan. Pada bulan ketiga. Melalui perdebatan yang sangat sengit. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Anak saya nampak menahan diri. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Tidak. Memasuki bulan kedua. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan.” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. Istri saya diam saja. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. Jangan. Bukan salah kita. saya tidak akan menerimanya. Saya tidak melakukan itu. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. Aku juga sudah mulai tua sekarang. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. saya memutuskan nekat. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Aku masih kuat . Keputusan kami yang diterima baik. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. “Lho kok malah nangis. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya.” “Abang jangan salah sangka begitu. pikiran saya bergeser.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Lomba pun memasuki saat penentuan. Namun saya sudah bersikap menolak. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. Lomba itu sudah menjadi lampau. didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Tapi sepuluh hari berlalu. akhirnya mulai menang. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. kita sendiri makan tahi sampai mati. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. asal masa depan anaknya cerah. tapi saya cukup hanya memandangi. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. Bukan apa-apa. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Apa perlu saya cek. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. tapi kalau lagi sepi. Mau tak mau saya terpaksa mengakui. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. saya capek menunggu. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Diterima baik oleh masyarakat. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Keputusan sudah diambil. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. “Baiklah. Saya akan mengembalikan. Satu bulan berlalu. kalau orang itu datang lagi. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus. Rasanya aneh. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. akhirnya dicapai kata sepakat.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Bukan karena suap. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. Anak saya kontet karena gizinya kurang. tapi karena aku sakit. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. betapa dahsyatnya arti uang. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin.

Dari situ nampak terbayang isinya. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. Isinya juga hanya kertas. Dia temukan amplop itu. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Mata saya bengkak. Saya menghela nafas dalam. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. Disikapi oleh istri seperti itu. Jelas sekali sekarang. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Sama saja. Tangan saya gemetar. membuat saya panas. Kalau tidak begitu. Di situ mata saya mulai gelap. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Bangsat. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade.menderita kok. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra. Dengan kalap saya sambar batu-batu. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam. Tibatiba saya terperanjat. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. nanti tidak akan pernah baik. Rebo 17 September. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. lalu membawanya ke dapur. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman. lalu gantikan isinya. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka.” Dia menggayut tangan Ade. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. asal mereka tidak. Mengambil tempat di Ruang Kartini. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Tiba-tiba terpikir sesuatu. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. menjarah. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . Kemudian dengan bernafsu. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. Tak peduli apa kata orang. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Motornya juga saya hajar. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. kenekatan saya justru bertambah. Setelah tahu isinya. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. mereka langsung ganti. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. Itu kejahatan. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka. tak mampu melihat apa-apa.

dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik.. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Bagi mereka. masalahnya bukan RUU-nya. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. negara bertindak. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama. saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. karena. Untuk itu harus ada investigasi. Ini menyangkut ruang privat. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu.” ujarnya. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. misalnya keberagaman. Yang pertama adalah masalah moral. mengapa tidak. Kalau memang sudah terjadi kebejatan. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. Tetapi kalau memang tidak perlu. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. masih belum sempurna. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. Selaku pribadi. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan.

Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. Papua dan sebagainya. ada perubahan besar. Yanto Kribo. Praha dan Bratislava. Alung Seroja. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. untuk menambah warna festival. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. Sukardi Djupri. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. Tidak hanya seni akting. Bambang Rsmantoro. Agung Wibisana. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. kemiskinan. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya. 1 Oktober. Walhasil. seniman tak perlu merasa terkengkang.. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. taktis dan lihai. jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). Betul sekali. Sebagaimana biasa. Tetapi mulai tahun ini. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Kami . Beruntunglah Egy Massadiah. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”. Menurut Mr. tapi seni musik.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. Wendy Nasution. tari. semuanya adalah pekerja. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. kedok apa pun yang dipakainya. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. berkolaborasi. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. Cairo. Mr. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka. Dewi Pramunawati. saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali. Fien Hermini. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu. Ucok Hutagaol. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam.

Meskipun sudah pensiun. Pak. “Saya sudah kapok. Itu kan membuat semua orang mimpi. Ami?” Ami menggeleng.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. “Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak. Kalau gagal. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan.” “Ibu jangan begitu. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan. tapi Amat menutup percakapan. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan.” “Siapa?” “Kami. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Kalau . Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Kalau mau nyumbang.” “Kami siapa?” “Ami misalnya. “Biar saja Ami. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§.. Apalagi 5 milyar. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda. biar dia ke sana. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya. “Mengapa dulu dia segan memasang. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya.Satu dua kali hujan mulai turun. Tak usah diladeni. Mengenakan sepatu dan baju batik. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya.” “Ya itu dia. “Ini bukan tidak ada maksudnya. Amat segera berpakaian. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. siapa tahu beneran. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara.” Ami masih terus hendak mendesak. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang.” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan.” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita.” “Memang. daripada bapakmu ngerecokin di rumah. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar.” kata Amat curiga. Ami terpaksa bertanya. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua.

Lima milyar.” “Berapa. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Paham?” “Tidak. tapi kemudian langsung bertanya.kejadian kan kita semua untung.” Ami tertegun. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. banyak seniman mati sebagai kere. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. Sumbang yang wajar saja.” Amat terhenyak. Mengapa dia mau. “Bapak berhasil?” “Ya. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya. hanya berupa piagam dan uang seupil. Rakyat terpesona. ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. Ketika Amat masuk rumah. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu. Ami langsung bermimpi. Masyarakat seniman berguncang. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki. nanti kamu masuk angin. Jadi Bapak bilang. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. ini duitnya. tak usah sepuluh. Andaikan benar. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. makanya benderanya tidak pernah diturunkan. lebih baik jangan membuat persoalan. “Bapak juga tidak paham. Sudah cukup bukti dunia seni kering. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu. “Aduh. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu.” Ami terkejut.. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu. Dia mengubah angkanya.” Ami ternganga. dia sudah nyumbang seratus ribu.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik. “Bangun Ami. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya. Sekarang beres. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai.” Ami terkejut.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Dan benderanya sudah diturunkan.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

Kemudian dia seperti baru bangun tidur. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. selalu menghindar. Pak. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Wajar masyarakat protes. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. Dia bukan jenis pahlawan atau . Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. Tak berapa lama kemudian.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Itu sebenarnya makna kebebasan. Setelah beberapa kali hisap. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. Bapak yang mengadu itu.” Pejabat muda itu mengangguk. dia akan menyerah tanpa syarat. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. kontan diseret ke lapangan. Ia langsung berpikir. Mengeluarkan rokok. Pak. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. jadi dia berkorban. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi.keluar rumah. “Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. “Selamat pagi. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang. Dengan tidak keluar rumah. Ia lama terdiam. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam. sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain. tidak mau keluar rumah. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. masuk ke kamar atasannya. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. lalu menarik foto anak gadisnya. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. “Anak saya ini. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka. . “Wah putri Bapak cantik sekali. Afandi tetap saja diam. Itu dianggap sebagai persetujuan. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Malah diserang oleh massa.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. Rumahnya nyaris dibakar. lalu permisi. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi. ia meletakkan rokoknya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Pak. Pak. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. atasannya muncul. Masih muda dan cakap. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi.” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. Pak. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. kamu harus minggat dari sini.

” “Banci?” “Bukan.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya. sebaliknya.” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. Ia ingin banting stir. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan.” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain. tendangan dan pukulan. Para pembaca koran marah. Wartawan cepat-cepat menjelaskan.” “Yang lain?” “Gambar orang tua.” Wartawan terkejut. itu hati nurani. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Kata suami saya sih. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. Istri Afandi masih belum selesai terkejut. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Publikasi berbahaya. .pemberontak. berhenti menjadi seniman.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. karena anak-anaknya masih kecil. “Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. mereka hanya menemukan puing-puing.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Karena itu akan mengundang malapetaka. Suami saya juga sudah berhenti melukis. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat.” “Mirip siapa?” “Tidak tahu. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru.

” . Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa. tidak mau menentukan sikap. Bapak tidak mau salah pilih.” Bu Amat tambah terkejut lagi. “Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. itu jauh lebih baik. Sebagai pemilih. Itu berarti tanpa Bapak sadari. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat. “Itu rahasia. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur.” Ami tersenyum. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam. ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. Pak. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. Dengan mematikan satu suara. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak. “Tidak!” Ami kontan marah. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu. dua atau tiga? Amat bimbang. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. tidak berani mengambil resiko. “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab. Sebagai warga yang bertanggungjawab. Itu hanya teori. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan. Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. Ami. langsung diamankan.” “Terus-terang saja. kan?!. “Bapak sadar tidak. Pilih satu. daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan.. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak.Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu.” Bu Amat terkejut. “Bapak mau jadi orang biasa saja. Ami. Mereka menolak dan melawan. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut.

harus pakai pikiran! Kalau salah pilih.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. Kamu kok mau-maunya sama dia. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Bu. Kalau tidak. “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu. boleh dipilih. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut. Yang berguna tapi bagus. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. “Lho. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. apalagi ikutikutan. meskipun bagus jangan dipilih. ya.” “Yang bagus itu. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. enaknya sendiri. itu kebangetan. jangan asal coblos. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami.Tapi kalau boleh menyarankan. “Ami. Ibu jangan hanya pakai perasaan. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. memilih itu memang ukurannya bagus. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. Pak. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. Tampangnya juga jelek. sebaiknya yang bagus dan berguna. yang berguna. Dan yang berguna itu. “Pemilihan itu bebas rahasia. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. “Bagaimana bisa memilih Ami. Jangan begitu.” Amat menatap Ami. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. “Wah. ya. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. “Wah kalau begitu. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. berarti sebelum main coblos akan mikir. Pak. miskin lagi. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak. kan?” Ami terseyum. Tinggal saja. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. “Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna.” Amat tercengang. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali.

nanti kita yang akan dikejami sama dia. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu.” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan. Kalau tidak. tapi terlalu cinta itu berbahaya. biar tahu rasa!” Bu Amat termenung. “Aku tidak mengerti. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. Malam hari Ami menyapa ibunya. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan. Menurut Ibu.” “Ya apa salahnya?” “Salahnya.” “Bukan begitu. Baik kepada orang baik. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Kejahatan itu akan gagal. Jadi mesti dipancaing. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Cinta boleh. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. “Kenapa?” . Kalau kita mau melawan kejahatan.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Coba dengan lelaki bejat itu. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Tapi Ibu tidak setuju.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. Itu sama saja. “Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh. “Ada apa dengan Ibu. nanti Ami juga yang kena getahnya. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. maupun kepada orang jahat. “Ibu lembut sekali. tidak boleh dengan kejahatan. Ami penasaran. Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. Kalau teleponnya tidak disadap . Pak?” Amat berpikir.” Ami mengangguk. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang. dipergoki biar kapok. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. Ibu kan jadinya kawin dengan aku.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam.” Ami bingung. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Ia nampak tak senang. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. lalu mengadu kepada Amat.pada kamu. Lihat saja. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu.

“Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa.. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. . hotel. Karena waktunya tidak ada. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana. iperbesar. Kehadirannya juga semakin jarang. tapi satu minggu belum tentu . tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. perlindungan. diperlebar. juga muncul berbagai ciri. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. Rumah idandani.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. “Ya.” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran. tapi Ibu minta. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. jumlahnya bertambah. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba. lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Fasilitas. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir. “Pendapatan. kesejahteraan. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya. apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. mall. Kendaraan juga sama. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. sebab demi kebaikan. meskipun orang itu jahat. kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya. restoran.!” Ia menikah dengan seorang super model. Sosoknya lebih sering di tempat lain. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .” Ami terkejut. Istri cantik dan terkenal. Bayangkan ada 10 rumah. Maafkan Ibu Ami.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. ditingkatkan. Tak baik. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit.

Orang bilang mobil satu itu cukup. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. meskipun sudah bangun jangan layang. Kalau Bapak bisa membantu kami.” Edy tertawa. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Aku ingin di atas. puas kalau sudah paling atas. sebab keuntungannya tidak kelihatan. Apa sebenarnya nomor satu itu. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. untuk menghajar para pemuda itu. Bukan begitu caranya bertanya sekarang.” Pertemuan berakhir.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. Pak. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. apa sebenarnya bahagia itu. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. Mobil sepuluh juga belum cukup. berhenti berambisi. Saya bilang keliru. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Tetapi mereka tidak menyerah. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. Bukan dengan gedung. Pak Edy. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Prestasi. jangan dijawab dulu. mono rel. Apa itu kebahagiaan atau bukan. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang.” “Lalu apa?” “Pencapaian. gagal. Dan pada akhirnya. ‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum. London. dan punya bus way. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. “Wah. Maaf.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Aku baru merasasenang. Itu berarti kita berarti. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. saya tidak tertarik. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. dari dusun. karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Terus-terang. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. selamat siang. saya belum selesai. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. “Itu matematika kuno. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. bahkan sangat sukses. Ini hanya kebangkitan. Selama ini. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Apa sebenarnya menang itu. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif. Mereka lalu turun ke . Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. mobil tetapi dengan buah-budi. Mula-mula ia pura-pura bertanya. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Ini bukan revolusi. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. jangan memakai kata-kata itu. “Karena Bapak orang yang sukses. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja. Jawabannya juga sangat ketinggalan. tai kucing. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Yang konkrit saja.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. New Yotk. dengan budaya.

”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu.” “Betul!” “Kalau betul. Amat terpesona. bisa menimbulkan perkara. komunitas budaya ini harus dilahirkan. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama. karena ia hanya ingin ada dua warna. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi.rumah penduduk. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. ia keluar dari rumah. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena kalau itu dibiatkan lepas. menghampiri. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna.”kata Bu Amat. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang.. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik. Pak. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Dengan bernafsu ia . mesti tahu diri. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Bendera-bendera lain. kecuali bendera-bendera negeri sahabat. “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. Ia memandang Ami tajam.” “Ya itu hak dia. teguh dan percaya. ‘Terimakasih. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Meskipun sudah hampir jam 10 malam. Menyumbangkan apa saja. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya. mundur dulu. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. “Memang. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu.

begini. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul. Kepalanya pusing. “Selamat malam. tapi hanya sekedar bertanya saja. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. “Selamat malam. Pak Amat. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa.” “Bapak jangan tersinggung. Begitu. “Tentu saja pak Amat. Terlihat sang saka. belel. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. momentumnya nanti bisa hilang. tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Warnanya pun sudah lusuh. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.” “Maaf. Tak ada maksud apa-apa. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik.” “Terimakmasih. Tidak ada motivasi apa-apa.” “Persis. Ia menoleh ke samping yang lain. “Pak Amay. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. Lalu menarik nafas dalam. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Bukan juga kritik. Tanpa perhitungan lagi. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. sebab kita hidup di alam demokrasi. hanya sekedar bertanya. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Tetapi Pak Amat harap mengerti. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Kemudian mengubah suaranya lembut. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak.” “Kenapa mesti tersinggung. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. Darahnya mendidih.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. Ia melirik ke samping. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Pak Amat. pak Amat.” Amat tertegun. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur.” Orang itu tertegun. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Karena itu bagian dari kemerdekaan. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini. saja ingin tahu. Dan betul. tetapi hanya mau bertanya.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . “Tentu saja boleh. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam. Di depannya nampak bendera partai. Jadi begitu. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. lalu dia memujit bel di gerbang. Sama sekali bukjan menyindir. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Ia mati langkah.” “Silakan masuk. Saya penasaran. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Pak Amat. Amat memasang muka seribu. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan.” Orang kaya itu tersenyum. meskipun kecil.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti.” Amat terkejut.

Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Gubernur terlambar mengangkat tangan. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Lampu menyorot. Kemerdekaan adalah persatuan. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. para tamu. Tentu saja semua menyambut gembira. “Saudara-saudar hadirin.. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Tetapi atas nama kemerdekaan. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis besar kita ini. Terjadi keributan. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Dari luar negeri. semakin jauh orang. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Nampak lukisan itu. “Saudara-saudara. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. lukisan ini. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. undangan yang saya muliakan. Cahaya lampur berpedar-pedar.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. Tetapi semua orang terkejut.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. untuk mempimpin. menunjukkan langkah konkrit. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab. Gubernur pun bengong. Mungkin sekali tidak berani. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Kata orang. Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Mereka mengangkat lukisan itu. menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. . Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. sebenarnya ia semakin pulang. Tetapi belum jelas. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. Seorang penari muncul. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. ditarik dari tempat shooting film barunya. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Panggung pun sepi. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. Tetapi gagal. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya.”kata Gubernur. Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Mereka menggebrak. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Asap mengepul. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Kita boleh tidak suka. Inilah salah satu gambarannya. Lalu sorot menyala. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali.

Jalan kampung lagi!” . “Hebat. kita semua akan senang sekali. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain.” tulis Amat. hati saya berontak. “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. Tetapi selaku gubernur. apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau.“Selaku pribadi. Kan sering ada di koran. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini. Tapi kalau tidak. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. buat apa digantung?” Semuanya terdiam.”tanya seorang Ibu. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak. apa yang kita cita-cita akan tercapai. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. ya pasang saja. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain. “Lebih baik jangan dipajang.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar. porno!!” Semua terdiam. seorang di antara berjuta-juta warga lain. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. Pak. namun perasaan kalian semuanya.” “Hebat. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini. di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya.” “Lho. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. Kalau bisa diperbaiki. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. tanpa selembar kain pun di depan orang.” Amat ketawa. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§. Jadi bukan perasaan saya yang penting. Karena kalau sudah diobral begini. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. “Ya. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. akan jadi porno. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. saya Pak Amat. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab.. baik akan saya gantung. Kalau saudara-saudara setuju.

Aids.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan. Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. “Kalau begitu. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. tidak. coba periksa ke dapur. batin yang rusak pun jadi urusan beliau.“Lho kenapa tidak. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Benar nggak?!! Nah. nanti masa jabatannya sudah selesai. yangmahal. Amat teler. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . tidak usah jalan kaki. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. ya. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. belum lagi korupsi. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu. yang banyak. Narkoba. Belum sampai pukul 11 malam. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal. pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. mengapa semua itu bisa terjadi. Orang biasa. sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. “Ya sudah. tidak akan ada rasanya. yang megah. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. pemasan global. Pak Amat. . Yang sepele itu sangat penting. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia tak habis pikir. tambahin!” “Ya. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. Bukan hanya diperbaiki. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali.” Amat ketawa. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. Beliau pelindung rakyat. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Kalau masyarakat mau bergotong-royong. Beliau kan pemimpin kita. belum juga giliran perbaikannya datang. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Jangankan jalan rusak. “Jangan ketawa saja Pak Amat. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. kenaikan harga bensin.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. nanti ditambahin. lalu menyerah di tempat tidur. Pak Amat. “Kalau Pak Amat tidak percaya. Pak Amat! Kalau ditunggu. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. tapi kalau garamnya kelupaan.

harus diwarisi. Siapa yang berani mengubah kuwalat. . “Sawah. bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Bapak jangan memberhalakan barang. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. anak-cucu kejepit. Kalau warisan diartikan sempit.jalan itu akan diperlebar. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Ada yang suaminya kawin lagi. membuat Pak Tua tidak jadi mati. Jual semua. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Segala sesuatu yang menindas. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Sebaliknya. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. berarti bunuh diri. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Lalu dia bertapa. sama saja. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar.”katanya. Warisan bukan benda tetapi sabda. sehingga menjadi jalan utama. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Kalau tidak. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. apa pun namanya. kita akan bangkrut. apa pun namanya. Kuper. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. Sekarang kita tidak hanya butuh makan. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. tegalan. Ada yang …. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Kalau dipaksa bertani. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli. kebun kelapa. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. Jangan mensakralkan warisan. hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. Mereka merayu dengan segala macam cara. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Satu senti pun tidak bisa digeser. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. dari mana pun datangnya.” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu.

duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki. mengembangkan dan meneruskan. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. satu generasi lagi harus dibagi lima. Kalau warisan ini dibagi tiga. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Tenaga. berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Warisan ini tidak jadi diwariskan. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan. Tetapi ajaib. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Itu fitnah. Apa daya? Masihkah keberanian. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita. Sudah waktunya untuk mandiri. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. Kembali terjadi keos. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai. Sebaliknya dari ketidaksetiaan. hukum dan wibawa.” bisik salah seorang mewakili yang lain. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. tetapi sebagai cita-cita. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. Boleh tidak setuju. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran. Semuanya sedang meletus. Panah Pasupati pun tidak cukup handal. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. aku akan mempertahankannya. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. Naun ia sudah punya tekad bulat. Mewarisi itu bukan memiliki. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. sementara anak-cicitnya. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. “Ayah. “Kalian semua sudah besar. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . Ia kontan buka mata dan membentak. Walau pun putraputranya semula begitu galak. Lalu anak-anaknya dipanggil. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. karena ini bukan kue. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. suara dan uraturatku sudah lapuk. juga sudah terlalu klise.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. ini bukan barang tetapi cita-cita. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin.. Boleh menyerang. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung. sebagaimana yang dituduhkan orang. Kalian tidak perlu warisan. Itu zalim. ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. dalam badai dan taufan. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka. tak ada yang beranjak. supaya semua anak-anak senang. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat.”hasrat kami untuk membagi warisan. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. boleh marah bahkan boleh menentang. cari sendiri kehidupanmu.

Jadi karena dideklarasikan. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Amat maju setapak-setapak. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. suruh mereka damai!” bisik para tetangga. “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Aku berada di luar. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. “Ayo Pak Amat. Bu Amat menyeret suaminya keluar. karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. untuk mengatasi rasa cemasnya.” “Caranya?” Amat berpikir. Tapi hanya menonton. Amat masih berpikir. Dengan panik dia menarik Amat keluar. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. dengan dalih damai. nanti yang terjadi bukan damai. tetapi perang. Kalau sudah begitu. itu saat yang amat sulit. Alangkah sialnya jadi orang tua. “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong. . “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. Para tetangga menyisih memberikan jalan. Perlahan-lahan Amat maju. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. Di rumah tetangga. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya. Amat jadi gentar. Yang jelas. Amat dan Ami tercengang. Benar saja. Renon Sabtu lalu. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. Kalau salah satu bergerak. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. Karena mau melindungi ketakutannya. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. akan terjadi pertempuran segitiga. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Kelewangnya berkelebat. menjawab dengan pertanyaan. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Ketika melihat Amat datang. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. lalu mereka ikut berteriak. tetapi dilaksanakan saja. dianggap sudah jadi besi tua.” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. sudah banyak orang berkerumun. Mungkin keris atau pisau.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang.

malah membuat mereka tadi tambah marah. Disaksikan oleh seluruh tetangga. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. Bapak tidak ikut campur. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. “Untung polisi cepat datang. Tetapi situasii sudah terkendali. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. tetapi mengangkat kelewang. karena tak kuat melihat kezaliman itu. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian. Mereka mundur. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. Rumah ini tidak bisa dibagi. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Tetapi aneh. karena kalian juga adalah warga kami ……. Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Amat baru menjawab. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. Sekujur badan Amat gemetar. Tapi kalau dibagi akan hancur. tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. dibuang atau diberikan kepada tetangga. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya.” . kalau tidak. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. “Bukan karena polisi itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. rumah akan jadi keranjang sampah. karena kalian mau memakainya sendiri. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar.” Ketiganya mundur. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi.” “Kenapa semua foto dibakar. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar.” Suara Amat hilang. Itu inisiatip Ami sendiri. pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri.”kata Amat lari dari rumah. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. entah apa jadinya tadi. setelah pikirannya tenang. Itu adalah kezaliman. kalau tidak. Bapak sih tadi ngomong begitu. tempat kita semuanya berkumpul.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas. Rumah ini memang milik kalian bertiga.” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Coba tidak. Ibu akan lihat semua. lebih baik Ami bakar. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Sebelum Ibu melihatnya sendiri. dibuang. kata Ibu.“Maaf. Waktu Amat nyaris hambruk. coba Ami. bersihkan segala meja. Apalagi beberapa foto. Bu. Pikirannya sudah mengatakan. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. ia akan roboh. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. “Bapak hanya mengingatkan bahwa. mengungsi ke tetangga. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi. seperti siap menebas. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. lalu berbalik dan pergi. Beberapa detik lagi. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. telah dimainkan di Tokyo.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Hong Kong. Dengan dalih menciptakan perdamaian. PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”. Pada 10 Juni. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha. ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. Singapura dan beberapa kota di Indonesia.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. Taipeh. Cairo. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya .

Brunei. L. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. menyebabkan keamanan mulai pulih. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Hamburg. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Singapura. Kedua. Hong Kong. Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. Cairo. Taipeh. Dengan keras. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Pertama.A dll. tetapi alat untuk mengembangkan. New York. Kyoto. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. tegas dan penuh desiplin.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. → 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. tempat mengembangkan jati diri. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo. Mohon dukungannya. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Middle Town. menumbuhkan dan menemukan diri. Bandit-bandit dihalau. Teater bukan tujuan. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi.

Memang keberadaan TIM kini.”katanya. Bang Ali menjadi sebuah contoh. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. Pada 1975. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. tetapi lebih dari itu. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. adalah menyehatkan kehidupan budaya. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. Betul sekali. teknologi. Pada setiap kesempatan yang baik. membanjiri jalanan dengan motor. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. Saya dengar sendiri semuanya itu. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. karena setelah dua decade. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. mencetak mall. hasilnya nyata. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Bang Ali kini tiada lagi. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM. Dia melahirkan “tradisi baru”. alangkah indahnya. Mata mereka mengatakan. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. Pimpinan dan rakyat lebur. Saya sendiri sempat kena getahnya. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. ekonomi. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. untuk kembali membumi pada akarnya. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Warga ibukota di masa Bang Ali. bikin mono reel. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan. sudah tercatat dan akan bekerja terus. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. melahirkan busway. Tidak ada sensor dan kekangan. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. Tetapi apa yang sudah terjadi. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani.

Di situ ia kecewa sekali. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. Saya katakan pada waktu itu. “Ami. bagaimana pendapat saya. Koran meributkan pertunjukan itu. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. seperti masuk ke dalam sanubarinya. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. Tak satu pun yang disembelih. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. Amat mulai tidak yakin. Tenang saja. Kalau belum nampak mesti kita cari. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. Kita kan sudah 350 tahun dijajah. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Waktu Ami pulang dari kampus. lalu menggenakan stelan putih-putih. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Amat melirik ke meja makan. Tapi kalau tidak dibantah.” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. memaki-maki saya. Pak. Jadi kita akan menghadapi bahaya. “kata Amat pada Ami. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu.” Ami mengangguk tenang. Kalau dibantah. Sore hari. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Ternyata tidak ada. Tapi tidak ada perubahan. seandainya saya Gubernur. Amat panik. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Sampai sekarang belum pulang. “Tenang saja. Jumlahnya masih lima ekor. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. tetapi karena sayang. “Merayakan kelahiran Panca Sila. saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. Amat keramas dengan air bunga. sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Amat mulai deg-degan . Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. kita sudah biasa menghadapi bahaya. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. mesti kita jadikan.” . “Nggak apa. tapi ia tetap hidup di hati. Sepanjang hari ia menyendiri. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang.dilanjutkan di plaza. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Kalau tidak ada juga. jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. kontan membentak. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga. Bapak salah perhitungan hari ini.

” Amat tercengang. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. Pak. di dalam diri. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa. bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. jarena itu mereka akan datang. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza. “Tenang. Ia gugup.“Tapi kita akan malu besar. Pak. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Mereka sudah biasa dibohongi. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut.” “Habis kalau tidak dipikat begitu. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. Makanya kalian semua cepat marah. Ia merasa amat bahagia. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. . mereka tidak akan apa-apa. burger atau fried chicken. menentang. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. Sekarang akan tambah bukti lagi. “O. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. menggempur apa saja. Malam hari. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. Bapak mengerti sekali itu. “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. Ternyata di depan. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. turun ke jalan berteriak-teriak. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. kalau berani berbohong. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Mereka suka. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas. Bangsa kita kan jago memaafkan. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Lagipula kalau manusianya pembohong. Dibohongi sekali lagi. tetapi dikembangkan di dalam rumah. Ami tersenyum. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut.

” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah. Yang kami dapat hanya pertentangan. lebih dari cinta. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali.” “Tidak Pak. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan. tidak akan begini jadinya. kami juga perlu demokrasi ekonomi. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah. seperti pidato Bapak. kalau tetap ada mungkin sia-sia. “Kamu kurang sabar saja.” “Tidak. Pak. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak.” “Kami sudah mencoba. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya.” “Baca dong Pak. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno.” “Memang.” . Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Seperti kata dalang dalam wayang. sejahtera. Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. “Apa itu? Aku belum pernah dengar.” “Tapi kami perlu Bapak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu. aman supaya kami tenang. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum.” Bung Karno tersenyum. Kami memberikan kesempatan. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri.” “Itu namanya kurang sabar. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Kami ingin makmur. Beda sekali dengan dulu. Kami sudah menunggu.” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi.” Bung Karno tertegun.” Bung Karno tertawa. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Pak. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Pak. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. Pak.” “Itu namanya demokrasi. Bapak saya yang suka wayang. Kalau Bapak ada. bukan itu. bukan menjadi lebih perih.” “Lho Bapak katanya kutu buku.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi.” “Memang.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali. kepercayaan bahkan juga dukungan.

tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Anak-anak mengadu. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Ternyata tidak ada yang berubah. Karena cinta Bapak tidak akan kembali. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. itu lihat sudah jam berapa sekarang. kerbau dan burung atau pohon kelapa. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah.” Amat tertawa. gunung dan matahari. Tapi hanya itu. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary. tapi hasilnya sama. Juni kan bulan ulang tahunnya. Selama 20 tahun dia mengajar. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. Ami menutup matanya karena silau. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. menghadapi 20 angkatan murid.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. tetapi hati mereka masih sama. “Sudah siang kok ngelindur. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita. Semua anak diberi angka lima. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. Kadangkala ada tambahan gubuk. Kalau tidak ada kebanggaan. Orang besar itu tidak pernah pergi.” “Ya siapa yang tidak.. kita akan bisa bangkit. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. jangan hanya mimpi. Tapi waktu kembali ke mari. “Bukan itu.” Amat tertawa. tangannya dipegang oleh Pak Amat. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. Bapak harus pergi. tidak bisa kembali. Dia jadi kesel. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Sinar matahari menerobos masuk. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan. Ami. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Baru kalau kita bangga. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. Tetapi ketika dia berbalik. supaya kamu bisa tumbuh sendiri. seperti di masa lalu.” “Tapi beliau bilang. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. Gedung.

. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah. Kerusuhan di mana-mana ……. Belum ada real estate.” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall. dipamerkan di dinding sekolah. Saya dapat ide bagus. Saya kira ini baik sekali. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Mereka berdiri di sepanjang pintu. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. biar saja. sama saja. Ternyata tidak ada perkembangannya. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. supaya melihat kenyataan.”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Pak Ary. Sudah banyak perubahan. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Setelah dilihat satu per satu. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru. Bu. :”kata Ary menumpahkan perasaannya. ke desa kita ini. Bu. Burung bangau waktu itu masih banyak. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. “Mereka kebanyakan anak petani. Padahal mana ada sawah lagi di sini. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. “Sebenarnya begini Bu. Ada isu pemanasan global. “Maaf. Hanya membuat mereka tidak buta warna. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah.” Ary ingin membantah.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. “sejak saya mulai mengajar di sini. Tidak berkembang. Pak Ary. Mestinya kan itu yang digambar.” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.. tetapi guru-guru lain mendukung.” Ibu Kepala Sekolah tercengang.” Ibu Direktur mengangguk.” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi. Ada pilkada. Bu. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini. Ibu Kepala Sekolah tercengang. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Itu yang dia tunggu-tunggu. Dari dulu sampai sekarang. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. gunung dan matahari. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Kalau mereka menggambar begini. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Banyak korupsi. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Itu juga sudah bagus. Sejak listrik belum masuk. yang digambar tetap itu-itu saja. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer.” “Betul. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. sawah lagi.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Aneh sekali. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. “Sudahlah Pak Ary.” “Nah itu dia. Ini adalah hasil percakapan itu.” “Tapi Bu. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas. hanya menanggapi sambil lalu.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi. Harga bensin naik. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah.

Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. berantakan diinjak-injak. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu.Di cermin nampak muka baru. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya. gedung sekolah ini masih layak pakai. terbelalak.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. Dua jam kemudian ia siap. teringat kepada masa lalu. semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. hatinya menjerit.muriod serta guru lain menunggu di luar. semuanya beres. terkejut. masih bisa dipergunakan.” “Jangan membantah. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. sementara ia sendiri dan murid-. hidung. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. Tapi waktu dia melirik ke koridor. bibir dan kemudian pipi. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. melirik. Lalu ia menguji mulutnya berbicara. “Jadi menurut hemat kami. Lalu ia mulai memoles. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Rapih dan terkendali. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. Ketika Anna senyum. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Sehari sebelum tamu datang. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Mereka mengangguk senang. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. Setengah jam kemudian para tamu keluar.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” . kandas. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. Tetapi malamn-malam. Hati saya langsung terketuk. Bu. ” kira sampai 5 tahun ke depan. garis mata. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Ternyata ia memang sudah cukup tua.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. kemudian tertawa. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. Pak Ary pun terpaksa ikut. Tiba-tiba anaknya muncul. Saya minta malam ini juga. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang. “Dengan dia. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam.. heran dan sebagainya. muka Pak Ary kelihatan muram. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira.. kaget.

Aku tidak suka pipiku kotor.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik. nanti Mama kesepian di situ. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya. “Kamu cantik sekali. “Ini dia.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin. Bukan dia yang membawa Mama pergi. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja.” “Kasih da-da sama teman Mama. lalu berpaling untuk mengingat-ingat.” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah.” “Memang.” “Harus betul.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Memeluk juga tidak. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya.” “Kamu teman Mamaku?” “Ya. Di situ orangnya .” “Baik.” “Makanya.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah.” “Bibirnya tidak merah.” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu.” “Tidak.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah.“Karena baju yang dipakainya juga merah. Mama tidak akan mencium kamu lagi. Ya?” “Ya. “Mama ikut?” “Ya dong. Dia justru yang Mama ajak pergi. Kalau tidak ada dia. kan?” “Betul. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya.” Anna tertawa.” Anak itu berpikir. “Lho kenapa?” “Nggak usah. kalau sudah selesai dandan. Mama kan harus memberikan sambutan.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.” “Tapi Mamaku tidak cantik.” Anak itu kehabisan kata. . kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor. “O tidak. pasti bibir Mama juga akan merah. hati Mama cantik kan?!. ia kembali memandangi ibunya. Kalau tidak betul bukan sejarah.” “Bagaimana kalau tidak betul. karena nanti dadanannya bisa rontok.” “Kenapa?” “Sebab ……. kalau begitu Mama berangkat sekarang.” Anak itu menggeleng.” “Jangan hanya lihat muka.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.

Kalau Mama sendiri yang datang. saya tidak ada missi apa-apa. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. dipaksa oleh orang tuanya. Makanya Mama selalu bawa dia.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. “Karena dia cantik. mereka akan bosan. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa. apa?” Anak itu menggeleng. ia sempat menarik perhatian. Para murid tercengang. supaya pekerjaan Mama beres. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. untuk seterusnya.” . Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei). “Maaf Pak. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa.” “Kalau begitu.” Kepala Sekolah terkejut. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu.” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul.” “Suruh dia saja. Beberapa hari pertama. ia ke sekolah memakai pakaian daerah.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut. Baru ketika Kepala Sekolah menegur. apa sebenarnya missi Pak Ali. Guruguru lain hanya pandang-pandangan. “Tapi hari ini Harkitnas sayang.” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan. nanti Mama bisa beliin kamu …. Kalau pekerjaan beres. Kepala Sekolah. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. kontan memanggil.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Aku mau Mama di rumah.” “Tidak bisa.” “Katanya itu sejarah. Pak. Pak. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. ia lupa itu pakaian daerah. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Di luar sekolah terserah Pak Ali. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan. Pak. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Mama harus ke sana memberikan sambutan. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah. “Pak Ali.” “Memang. karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu. Kan orangnya cantik. Tetapi setelah satu minggu.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. “Aku tidak mau dibeliin lagi..” Anna terdiam.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak.” “Donat?” “Nggak. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa.” Anna ketawa.

” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah. Saya hanya menjalankan perintah. esoknya.” “Tapi ini sekolah.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. Kedua belah pihak ditenangkan.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar.” “Bukan. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Kalau di luar jam pelajaran. ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. Pak Ali. satpam cepat menghalangi. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya. Pak!” Terjadi ketegangan. tiba-tiba ia ingin melawan. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Meskipun tidak menjawab. Tapi esoknya.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Tentu saja ia kembali dipanggil. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam . Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti. militer adalah biangnya. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. “Aku guru. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Pak. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. Pak Ali. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah. Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar. Tapi ketika Ali mau masuk. Setelah semuanya reda. Pak!” “Sama saja. “Saya sudah mencoba. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. sehingga semua aturan itu mubazir. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Kepala Sekolah. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung. Kita pintar membuat aturan. Pak?” “Tidak ada.” “Maaf. Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah.” Ali terdiam. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. “kata Ali kemudian dengan sopan. Kalau mau belajar desiplin. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar.Ali tidak menjawab. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. tetapi tidak mampu melaksanakannya.!” Ali tercengang. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. satpam langsung menahan. Keplok tangan buat Pak Ali. “Anak-anakku semua para pelajar. “Maaf Pak.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. sehingga guru-guru yang lain mendengar. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita.” “Tapi ini pakaian daerah. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. lalu menaikkan suaranya. “Maaf Pak Ali. “Tentu saja tidak. Tapi karena dilarang. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian.

Sebesar-besar Gajah Mada. walau pun hanya bangsawan Jawa. Siapa pun kamu sebut dia. “Tak usah nama yang muluk-mulul. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar.. mau bapaknya supaya jadi orang besar. Nama itu bukan soal sepele. Hari Kartini baru saja lewat. Amat kecewa berat.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Aku memberikan nama sembarangan. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama. “Bapak keterlaluan!” “Lho. Masak nama saja bingung. biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. Bu. selamat dan sehat. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu. tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini.” “Lho. dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak.” “Mendingan Gajah Mada. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. apa artinya nama.” Amat jadi salah tingkah. Ia langsung menggapai. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. periksa dokter. “Terimakasih Pak Amat. Bu!” “Memang. “Maaf. akan jadi apa anak itu kelak. “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona. anak saya sudah lahir. Jangan pakai nama itu!” . Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Nanti kalau beli susu. ada saja yang ganggu. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Saya belum punya nama. “Pak Amat. langusng menutupkan pintu lagi. Selamat!” Anak muda itu masih bengong. Dia itu hebat. Sementara Kartini. orang Sunda benci sama dia. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. “Kalau belum siap punya anak.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.” Amat cepat berpikir. eh nyatanya cumakusir dokar. jangan hanya bergantung dari nama tok. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. Jelas. kalau dia dididik dengan baik. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. Sudah sampai di mana kita tadi. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. pasti lebih bingung lagi. “Lho. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Itu namanya klenik. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. kenapa bikin anak. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. Tokoh sejarah. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. Bapak tidak tahu. “Lagi asyik-asyiknya.

Namanya bagus. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini. “anak itu sudah kaulan. Ia merasa bersalah. kata RA Kartini. “Boleh lanjutkan perjuanganku. Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah. “Gus.” Amat bingung. ia langsung menyapa. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam.” curhat Amat malam hari di meja makan. lelaki tetap lelaki. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai..” Anak muda itu tersenyum. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Kartini tadi datang menemui Bapak. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” .“Tidak apa Pak Amat. asal nyeplos saja!.” Anak muda itu terkejut. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.” Anak muda itu tertawa. “Sejarah harus diperbaiki kalau salah. Ketika anak muda itu pulang dari klinik. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat. Hakekat perempuan tetap perempuan. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini.” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan. Dan manusia tidak ada yang sempurna. Amat langsung mencecer. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.”kata Bu Amat.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi. “Aku kira dia tersingung dan menyindir. Penulis itu mendebat. What is a name. “Nama Kartini itu bagus.” Amat terperanjat..” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu.

“Ibu ini bagaimana.. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. “Kalau bicara tentang sejarah. Pak Amat ditinggalkan. apalagi bertolak-belakang. namanya juga sejarah. akan sulit untuk dikembalikan lagi. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. Dia mencoba minta bantuan pada Ami.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu.” “Bagus?” “Ya. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali. . “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak. Tapi ketahuan. mungkin faktanya ada yang keliru. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain.” Bu Amat mengernyitkan keningnya.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. Semuanya sudah terjadi. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang.” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. hanya itu lho.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang.” Amat langsung main mata sama Ami.” lanjut Amat. Amat merasa keki. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab.” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. Sekarang bilang begini. Buat apa percaya itu. Bukan apa yang ditulis. “Kok malah main mata. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. kalau yang dia tulis ini tidak betul. “Atas dasar pikiran itu. penulisan harus dilakukan kembali. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. mengganti yang salah dengan yang betul. ini bukan sejarah. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Bapak sudah baca?” “Ya sudah. ” Tetapi berdasarkan fakta. besok bisa bilang begitu. jadi pikirannnya sinting. Kalau faktanya terbukti salah. kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak. Semuanya yang itu-itu juga.”aku berpendapat. keponakan kita itu. “Sejarah itu bukan yang ditulis. “Ya dia rajin. pantas dicurigai. Ia masih penasaran. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu. “Maksud Bapak. “Sejarah itu memang ditulis. tapi mau merusak sejarah. Kalau kita mau mengubah-ubah. Sambil senyum-senyum. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum. adalah yang benarbenar kejadian. Ami?!” “Betul.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. Sejarah itu tidak ada yang baru. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali. itu namanya bukan sejarah. Sejarah itu. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. “Nggak apa-apa.

tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. Bu. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan. Didi Petet bertanya. Walau Jakarta lagi banjir. Tak berani ngomong apa-apa. Jantung Amat hampir copot. “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja.” “Maksud Bapak. Ponakan kita itu. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Cintalah yang membuat orang sayang. Bukan saja karena takut. berdegup. Itu sudah seni laku. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh.“Jadi menurut Bapak. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan. memiliki seluruh wilayah tontonan. teater rakyat. Teater tradisi. meskipun keponakanku sendiri. mereka hadir. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. tetapi juga karena ada kemungkinan. “Bukan begitu. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. tetapi juga sekaligus benci. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. jangan-jangan mereka benar. Kita hanya tahu separuh-separuh. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. walhasil hidup. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. apa gunanya teater. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. tanda sesuatu itu masih bergerak. mengalami pasang-surut. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an.. Langkah kecil pun menjadi kunci. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. Mereka begituj sibuk di tempat lain. “Kalau dia keliru. sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater. Sebelum TIM berdiri pada 1968. tetapi . Study Teater 24 dan Teater Mode. Bu. di atas panggung. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. .. Jadi …. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu.

Ada fasilitas. Kalau tidak. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat. orang lupa menilainya. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Saya mungkin sudah mendramatisir. Tapi walau tanpa persiapan. tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Sampai kemudian ATNI berdiri. Teater hanya hobi. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Karenanya perlu perhatin. Teater sering memberikan PR. tak harus dimulai dengan penampakan. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. Penonton nampak terlatih untuk menonton.banyak kendala yang harus dihadapi. Ketika Teater Populer membangun p. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Tetapi rasa cinta. Tetapi sebaliknya. Kemudian TIM berdiri. Itu memerlukan waktu. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit.ublik teater. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Memerlukan kesabaran. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. perhatian masyarakat pun terpecah. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). mengangkat citra ketoprak. Semuanya itu langkah besar. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Ketika STB menggali idiom Sunda. Dan sebagainya. Tetapi bagaimana tidak. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Dia adalah rasa. Ketika Teater Payung Hitam. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Ketika Teater Gandrik. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. level dan tata lampu. Ketika Teater Mandiri. referensik dan interpretasi. semua penonton terpukau. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. keduanya melakukannya dengan bagus. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Dan itu suka tidak suka. Teater Kubur. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. . Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. Tiga dasa warsa yang lalu. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. disadari atau tidak. Naskah-naskah teater mulai lahir. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. pada kehidupan tater kita lemah. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Teater Sae. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Tak ada gedung khusus untuk teater. karena itu memang bukan diskusi. Ada gedung pementasan teater. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan.

Masing-masing orang. Dan sebaliknya. perenungan. 1990). Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. kasar. Teater yang keras. Suaranya pun masih ada. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Teater Populer dengan Teguh Karya. Khususnya sesudah reformasi. Melihat Yel di Washington State. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. Situasi tertekan. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. di media massa. sidang-sidang wakil rakyat. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. teater kembali kepada hiburan. demikian tulis salah seorang pengamat. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. adalah sebuah suara. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. radio. frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil.S. televisi. Apa yang mendorong itu terjadi. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. misalnya. Rendra. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Seperti terhadap makanan. Apalagi Bengkel Teater dengan W. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. tetapi juga terselip penjarahan. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond. teater jelas kalah. Bukan hanya di TIM dan GKJ. Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. Tapi jangan lupa. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. di mana-mana. langkanya kebebasan berekspresi. ceramah. Banjarmasin. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. olahraga. membetuk model selera yang lain lagi. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. tak akan mampu disaingi oleh teater. ketegangan. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. Tak hanya kegaduhan. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. Sebagai sebuah suara. semua yang membungkam teater itu. angklung dan reog yang dicaplok. teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. Djajakusuma). memang bila harus diukur dari kehebohannya. Pramana Pmd. diskusi. peradilan. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Walhasil sebuah teater juga. perbedaan selera itu sudah ada. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Surabaya. kekejian dan korban nyawa manusia. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. di samping tak punya penyandang dana. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. teater tak akan berdaya. pemaknaan . teater sudah digelar. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran.

Teater Garasi. Konsep tentang apa itu karya. Sampek Engtai dari Teater Koma. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. 1968. Memang sayang sekali.dan penikmatan seni rupa. Ngeh dari Teater Mandiri. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Jalanan pun bisa. musik). Antara lain yang amat penting. pementasan Bom Waktu. Hamlet dari Bengkel Teater. saya melakukan pembelaan. mati tak ingin. itu karyaku. pementasan Kapai-Kapai. PKJ TIM hanya pelaksana. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . apa yang sudah detemukan. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. Odipus. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. Machbet dari Teater Populer. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. Teater Kecil. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. pementasan Aduh. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Kusumo. Teater Payung Hitam. pementasan Dongeng Dari Dirah. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Mega-Mega dari Teater Kecil. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Lho. lalu menjadi FTJ. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. Hidup tak hendak. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. Setelah 35 tahun. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Dalam kenyataan. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . terbengkalai. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. Metha Ekologi oleh Sardono W. segala yang pernah dicapai. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. Opera Kecoak. Perkawinan Darah. pementasan dari Teater Kubur. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. asal Anda mampu meyakinkan orang. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. Sebagai sebuah sejarah. Barjanji. Bengkel Teater. tetapi referensi. Sebagai akibatnya. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. tetapi mereka terus setia mengikuti . Di dalam teater. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. FTJ harus direbut dan dipertahankan. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Barat dengan seluruh pencapaiannya. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. telah merangkul seni pertukangan. pementasan STB. Teater Gandrik dan lain sebagainya. dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Teater Sae. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. lalu diganti dengan kegiatan baru. pementasan Jayaprana.

Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Study Teater 24 dan Teater Mode. Komitmen ala kadarnya. pengemasan produksi. Ini sebuah langkah yang sangat penting. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. pengembangan. akan-akan karena masih remaja. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. masih ada riak-riak suasana tersebut. Di samping ada kompetis. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. diolah kembali. seperti interpretasi. misalnya. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. pembelajaran. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. menjadi terus remaja. tetapi kompetisi yang terbuka. dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. kompetisi akan lebih keras. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. bergaul dan berbagi pengalaman. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . pengemasan pertunjukan. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Usahanya pun menjadi terbatas. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. Padahal sejak awal festival. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. Dalam kualitas. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Kedalaman pun tak terjadi. Dalam dua kali gebrakan. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. perenungan. sadar tidak sadar. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. sudah menunjukkan kecendrungan professional. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. menghambat penjelajahan. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Tak mungkin hanya kwalitas. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. hasilnya konkrit. juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final.festival. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. Dalam sebuah keramaian festival. volume dan angka. Kendati kehadiran Teater Indonesia. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. Di Jakarta sendiri. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007.

produksi tidak mulai dengan kontrak. Bahkan kalau perlu menghindarkannya. → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. Penonton menjadi raja. Di satu sisi. Seseorang mungkin memaafkan. yang memerlukan pembelajaran. apabila itu menghambat. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. sayang maupun tak tega. meskipun atau . Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. tidak lagi ingat kepada sesuatu. karena didorong oleh perasaan kasih. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Uang akan menjadi sangat penting. sebuah seni pengelolaan (menejemen). mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. namun tetap sebuah peguyuban. Dalam praktek pergaulan. Di sisi lain. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). Tetapi dalam kenyataannya. Teater Koma dan Bengkel Teater. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Untuk kerja besar dan berat itu. jitu. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. mengabdi dan mungkin dimaki-maki. Yang ada adalah pekerjaan. Dengan melupakan. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. Uang bukan tujuan. Tantangan itu akan membawa suasana baru. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. juga gagasan dan wawasan (ilmu). agar gerakannya semakin lincah. tanpa suatu ikatan yang ketat. Teater akan hadir sebagai professi. rasa kekelompokan. mungkin tidak lagi akan terjadi. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. misalnya. Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan). akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. sehingga seseorang menjadi alpa. bebas tetapi terkendali. untuk menyudahai perkara. Diberikan kepada kesalahan. dan sanggup main berhari-hari. cinta . gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini.yang professional. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Solidaritas. tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi.

melupakan tak pernah mengampuni. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah.. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama.padahal. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. Tetap menuliskannya di dalam sejarah. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. hubungan kekeluargaan. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. bila tak ada pernyataan secara formal. Demi persaudaraan. jadi lebih baik melupakan saja. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. dikendorkan. tidak sebagai kesalahan. Dokumentasi tak diurus. dilupakan sumber sebenarnya. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan. belum tentu begitu maksudnya. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. meskipun itu adalah fakta. digemboskan. sehingga ia bebas. Walhasil menghalalkan cara demi acara. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. tapi hanya ingin melenyapkan. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. menolak kehidupan nyata. Sejarah adalah kita sendiri. Pada ujung-ujungnya. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. tidak lagi terbebani. Peristiwa tersebut dilirihkan. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. Dan sebagai konsekuensinya. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. konon adalah penderitaan berat 3. tanpa ada perasaan rugi. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. apa yang salah. Masa pendudukan Jepang. tetapi oleh orang lain. padahal harganya tak ternilai. Tapi di pihak lain. Bergotong-royong. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen.5 abad. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. Di dalam peguyuban. Kita mengenal asas gotong-royong. tetapi satu paket dengan orang lain. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Tetapi di belahan yang lain. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . risih apalagi bersalah. Dan karena sudah dikeroyok bersama. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. prasasti. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. individu bukan lagi pribadi. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. Namun melupakan.

Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali. tidak hanya mengandung pengertian. → 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Dalam alenia di atas.tetap mengandung misteri. Di dalamnya terkandung kiat. Membohongi diri sendiri. ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir. resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. pihak lain tegas . sampai ke masa yang akan datang. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak. Misalnya saja. gemar cipoa pada orang lain. Kearifan lokal yang unggul. digantikan dengan keseragaman dari pusat. pada semua kata. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. kembali dihidupkan. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. dalam keadaan bagaimana. Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Sebuah kata. Sementara kearifan lebih pada akal saja. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. memang hanya dua. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. tetapi justru penggganggu. juga awam pada umumnya. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. desentralisasi pun dipacu. tergantung dari konteksnya. Satu pihak tegas menolak. tetapi juga bertaburan rasa. Kearifan yang yang tidak unggul. Beberapa di antaranya mencoba bertahan. kapan. tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. Memaafkan dan melupakan. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. kata-kata itu dipergunakan. terhadap pertanyaan tersebut. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. timbul perdebatan. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. Tetapi berbeda dengan norma. . Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas.jadi penipu. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. juga di mana. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. Apakah memaafkan dan melupakan. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. menjadi semacam falsafah kehidupan.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab.

masih belum sempurna sekali. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. tak bisa diperdebatkan lagi. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. ya atau tidak. Dalam alenia di atas. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. Di alam resensi sebuah pertunjukan. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense). membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Tidak kecil dan tidak besar. “dan atau” mengandung keraguan. supel “dan atau” fleksibel. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. tetapi juga secara hukum. cukup baik sekali. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. Pak Alung. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Dulu di Ancol banyak. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . Kalau ini benar. Pak?” cecer Alung. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung.minta diteruskan. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. sering sekali masih kurang siap. Ya dan tidak. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. yang saling bertentangan. misalnya. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan . Karena keterbatasan juga berarti lentur. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Atau tidak mampu menilai. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Tidak laki tidak perempuan. walau pun itu bukan milik kita. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. Petugas itu menjawab tegas. “dan atau” dipakai. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. menanam pohon-pohon yang sudah langka. tidak membedakan jenis kelamin pelaku . Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. “Betul. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. dipastikan berstatus tertentu. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. Semua orang. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita.

nanti masuk angin.” Ani menggeleng. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. lama-lama akan jadi pohon langka. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. Eh tahu-tahunya habis. karena tidak ada sisa makanan. Amat sendiri diam saja. tapi kami nanti jadi langka. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. “Nah bener kan. Para nelayan kehilangan nafkah. aku juga tidak akan tahu. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya. pasti akan langka. Dengan memakai humor seperti Srimulat. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. bingung. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. Pak.karena diuruk. tangannya memegang koran. segalanya bisa masuk dengan ramah. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar. Mukanya menghadap ke layar televisi. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. Ibu sembunyikan.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib.” “Jajan apaan. biarin saja habis. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. Bu Ane ketawa. lelaki itu terus saja makan. katanya. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. “Bu. sayur lodeh lagi. mana makanannya kok habis. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi. kata pejabat kita masih biasa tersenyum.” . Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Maka arus air berubah. “Sudah jangan marah-marah. Kalau ada banjir. seakan-akan sudah puas. Ayo makan. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. tetapi ia tidur pulas. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. “Dan kalau aku tidak tidur. Karena sembari ngoceh. “Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. sampai tambah 3 kali. “aku ini keturunan petani. Begitu kelakuan anakmu itu. tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. Kalau tidak ada ditanyakan. Ibu kesel. Ani yang pulang telat. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Masih ada sisanya. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. “Wah kalau sayur lodeh sih. Masak sayur lodeh lagi. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Bayangkan saja. “Dihabisin babe ya?” “Ya. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. kedele melonjak harganya. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin.

itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri.” “Habis. Sekarang dia seperti orang ngidam. Tapi ngomong-ngomong.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak.” “Nah. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Mereka sudah lebih kritis. sudah malam. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. Mereka ingin yang terbaik. tandas!” Alung meneguk air liurnya. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. nggak bisa dipakai ukuran menilai. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu. seperti yang diakui oleh pembuatnya. niknat. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. Ya tidak?” “Ya. Mereka adalah lapisan penonton baru. sayur lodehmu sekali ini enak sekali. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. biaya.” “Memang apa yang baik dibaca. Kata-katanya yang indah. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” . Ambil Bu.” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. “masak tiap hari sayur lodeh. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. Semua orang akan langsung mengopy itu. lokasi. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton.” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja. kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. Ayo ambil!” Bu Ane ketawa. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan. Bu Ane melirik suaminya. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu.” “Tidak.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Ah. sejuk. Meskipun bukunya keluar duluan. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu.” “Tapi gua bukan jenis itu. tidak selamanya baik ditonton. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya. “Ambil apaan. Itu tidak betul. tidak keluar dalam gambar. Kendala waktu. jangan tidak usah!” potong Alung cepat. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain. “Ya sudah. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan.”kata seorang pengamat. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton. Ia jadi kasihan. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya.

Kalau tidak ada sebbnya. karena dia sudah biasa minum. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. . Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. “Bu. tapi menurut gue. Bung Hatta. “Jawab dong. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. Ia tidak langsung menjawab suaminya. Memang nggak doyan aja.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Kalau tidak bisa satu. tetapi didorong kebiasaan. biar puluhan kali cetak ulang. Lalu Slamet berunding dengan istrinya. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan.“Biar berjuta-juta orang memuja. Biasa-biasa saja. Semua bilang itu novel hebat. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga. kamu tidak bakalan punya rasa. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah. Pak Harto. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. tertegun.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Doi juga ikutan. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek. Orang bilang bir itu manis. dimakamkan di luar makam pahlawan. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya.” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. Bukan mau menentang arus. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan. Orang yakin kalau Slamet meninggal. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. pejuang kemerdekaan. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. makanya dibuat film. Jadi rasa tidak begitu saja ada.

Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. kok masih mampu menolak kehormatan . Biar orang-orang itu melihat. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. Aku tidak. jangan sok membuang-buang kesempatan. Jadi Bapak sedih. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Kepada ibu kamu.” “Pak. Kendaraan tidak ada. Mereka punya naluri dagang.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. kepada keluarga besar kita. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. Untung ibunya datang dan langsung membentak. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. Pahlawan kesiangan. Aku ini keturunan abdi dalem. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno.” “Tapi aku bukan pahlawan. Satu pihak setuju bapaknya. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. Coba kritik bapakmu itu. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Masih ada Bapakmu ini. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun. sekolah kalian semuanya putus. “Jelek-jelek begini. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. yang lain kontra. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. Dia tidak mengerti apa mauku. ternyata itu tidak cukup. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. dengan segala bintang jasa. penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. “katanya. Pahlawan karbitan. Kita tidak punya rumah sendiri. Kamu dengar itu di Bali. mengabdi. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. seperti teman-temanku yang lain. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya. tapi jadi pedagang saja. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini.” “Ya apa pun namanya. Anak-anak terpaksa menyerah. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. Pada kesempatan yang baik. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. Bapakmu ini selalu ragu-ragu. terutama berhadapan dengan ibu kamu. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. Akibat bapak tidak punya kedudukan. aku menyerah. aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang. tidak berani membuat keputusan.

Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. “Ami. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. Karma almarhum adalah ukurannya.” “Ya sudah kalau tidak tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. ia baru menoleh paa Ami. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Dan aku menegaskan. Semua orang akan memuji. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Jadi …. Tidak! Tetapi justru menambah. Yak kan?” Ami berpikir. Ami tidak menanyakan itu. Tetapi bukan lantaran menyimak. Di sana. jawab tidak tahu. tidak masuk surga semua. urusan di sana. setelah perang Bharatayudha. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. tidak. jangan salah sangka. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. jawabnya. “Aku tidak tahu. karma yang akan menjadi ukuran. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. Setelah istrinya masuk kamar lagi.” Bu Amat kecewa. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. di dalam pewayangan diceritakan. tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. “Bukan Bu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan. Kita tidak mungkin ikut campur. “Bapak ini suka bertele-tele. Besar kecil upakara. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. siapa saja. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. Begitu maksudku. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. berlangsung spektakuler. Media massa nanti pasti akan heboh. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. Amat tertegun. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. tidak menjadi ukuran. itu kan urusan di sana. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk. Lihat itu Pak Slamet. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . lalu menjawab lirih.

presiden Indonesia selama 32 tahun. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. “Kita lupa.” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum.”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas . Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. jangankan dunia sana. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang.” Bu Amat yang sekarang tercengang. sambung para petugas spontan. tetapi kemudian senyum. kecil ikannya!”. tidak semuanya kita ketahui. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya. lalu keluar. Ia menutup pintu keras-keras.” “Harus setuju. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu.“Ya karena aku tidak tahu. “Betul.” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga. Mau betengkar bagaimana lagi. surga itu di dalam hati orang lain. kita sama-sama tidak tahu. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. Sebenarnya aku punya pendapat. Amat hanya tertawa. “Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga. Apa yang di sana akan berubah kalau. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat.” Ami kaget.”komentar seorang . Pasti tepat. itu surga. “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa. “Begitulah kita di dunia ini. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. sehingga Bu Amat kaget. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. Pak. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. “Kata orang tua saya. adalah bapak pembangunan.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto. lalu masuk ke kamarnya. karena tidak dibukakan pintu kamar.” Amat terkejut. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja. yang ada di dunia ini saja.” “Bohong!” Amat terkejut. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat.

Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. terpaksa Franky dan ibunya pindah. “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia.” Franky melihat kembali ke layar kaca. Keluarganya pun tak lengkap. mesti berani menerima. Upacara sudah berakhir. Tapi ibu memaafkannya. Upacara berlangsung megah. Dan kalau bapakmu memang baik. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. Di antaranya presiden SBY. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Pensiun pun belum. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina. Sedikit sekali yang mengantar. terasa positip. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Hanya saja ia memang agak nakal. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Karena kehendak orang banyak yang beralku. SMS lain muncul lagi dari Jakarta. Tidak curang dalam soal uang.pengamat. Tidak. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Malaysia. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. tetapi kalau mau obyektif. Kalau kalah suara. Tak ada yang merasa sedih. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. Amerika. Walhasil. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. meskipun keki. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Ibunya hanya menjawab. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. karena memang itulah kelemahannya. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. “Manusia Indonesia pemaaf. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Entah siapa yang mengirim. “Bisa jadi ada cacadnya. “Tak pernah merecoki orang. karena suka perempuan. Jepang dan Singapura sendiri. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. Franki termenung. Kita boleh dan bebas berpendapat. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”kata Ibu Franki.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat. Orchard Street. “inilah demokrasi. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. layaknya kepergian seorang raja. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. wakil presiden. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Kalau bapakmu karmanya memang buruk. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa.”kata seorang warga Jakarta di kantornya.” Tapi setelah itu. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. “kata Franki kepada istrinya. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. untuk apa mendapat tempat yang baik. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka.

dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. Amat marah sekali. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global. Coba baca. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri. Pak. apa pun suaranya akan tenggelam. dipakai main juga tidak pernah..residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. Dengan berat ia mengayunkan pacul. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Dengan berolahraga bersama-sama. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. Ia terduduk kelelahan. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. . Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. lalu masuk ke dapur. “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. Tak sampai satu jam. Kalau Bu Amat sudah mendukung.”kata Amat berkali-kali. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. “Untuk apa lapangan badminton. Ibunya setuju. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. Mau jadi juara All England. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun. Sekarang semuanya itu akan berakhir.sauara . Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. Dalam rangka memerangi pemanasan global.

kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Amat mengangguk.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. Sebelum Amat menjawan. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. Sehariann ia termenung. pagi-pagi Amat sudah bangun. .” Anak muda yang lain.. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. “Yah. hampir separuh lapangan sudah tergarap. anak muda itu mengangguk. “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. Pak Amat. “Bagus Pak. Ia hanya menjadi tambah sedih. Amat pura-pura tak mendengar. “Sudah Pak. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan. Amat hanya tersenyum. ketika ia mengalah. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. tomat. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. malahan tambah menjajah. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Dia tidak bisa ngomong. lalu istirahat. Sampai sore. karena sudah terlanjur. Dia yang bikin rusak ozon. Ia tak punya suara lagi di rumah. Esoknya. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. sekarang dalam tempo dua jam. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. Lalu datang istrinya. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. sudah Pak. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. tetapi di d alam pikiran kita. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. memandang dengan kecewa. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. anak-istrinya bukannya tahu diri. Tetapi heran juga. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. “Sudah. Jepang. Tentang pemanasan global. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. kita yang disuruh kerja. kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. tidak apa. Tapi mukanya menahan marah. kita bisa malu!” Amat takjub. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Kalau tidak. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. kalau Amerika. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. Lebih banyak karena kecewa. Kalau pikiran kita hijau. Heran sekali. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet.

Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. harus bertekad untuk tampil maksimal. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. Kelompok yang sudah hadir gemilang. Danarto. Radhar Panca Dahana. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ). kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. Yang akan tersaji hanya bentuk semata.“Ya sudah. sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. . baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. kembali berkobar. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. gesture yang salah. telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. Penataan panggung. Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. Yang pasti. antara tanggal 21 s/d 30 Desember. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. ekspressi yang datar. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. Seno Joko Suyono. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. tetapi tak urung menjadi tantangan. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). Jajang C Noer.

sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. volume suara tidak memadai. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. tetapi juga pemimpin kelompok. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. pilihan bentuk artistik. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. asal tetap sesuai dengan tema festival. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. Demikian catatan kami para juri. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 . namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. Selamat berjuang. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. Di sudut lain.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. artikulasi kata-kata tidak jelas. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. keras bahkan berteriak namun tidak jelas. apakah itu komedi atau tragedi. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. sampai pada memilih naskah. sangat menentukan hasil akhir pementasan. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. pola pemeranan. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. Jakarta. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. Namun di atas semua catatan-catatan itu. peran sutradara amat penting. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. Realisme ternyata tak pernah mati. apakah itu naskah realis atau non realis. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. Barat tetap menjadi referensi. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Pemahaman terhadap naskah. benar-benar harus diikuti.

itu tidak berlaku. manusia tetap mati. tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. sebab orangnya sudah meninggal. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul.” “Makanya keluarkan ular itu cepat. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim. baru dibawa ke Puskesmas. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Dia itu kepala keluarga. “Pak Dokter harus tolong kami. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. HIV.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. tidak ada gunanya. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. tidak akan terlambat. Tetapi di dalam hutan. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. saya bedah mayat itu. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi.” “Terlambat bagaimana. Pada suatu malam. Biasanya pasien parah langsung diinfus. Ketika sampai di Puskesmas. dalam bayi tabung. masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. sehingga ketika maut tiba. karena saya dokter. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Disaksikan keluarganya. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. keluarganya tidak percaya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. tidak bisa bayar. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. Kalau yang sakit sudah sekarat.

Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. ” kata saya menunjuk pada mayat.” “Terus hasilnya?” “Itu. Ada yang menangis. Paling berapa kilometer.” Mereka tercengang. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Saya bingung.. Dukun pun terus menjalankan upacara. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. kau lambat sekali. Saya terpaksa menjadi dukun. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.” “Ah. Kalau Dokter cepat bertindak. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya.. Bilang saja terus-terang. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar. tapi tidak ada yang mau. jangan terlalu banyak diskusi. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. tak percaya apa yang saya katakan. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. tidak cuma ngobrol. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Saya berikan ruang agar mereka lewat. Wajahnya meringis kesakitan. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek. berdoa dan menyanyi. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. berhasil atau tidak?” “Berhasil. apa itu itu artinya lumayan. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter. Saya rogoh saku. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. Pagi-pagi pintu digedor. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Kasihan keluarganya. ingin tahu apa hasilnya. Lalu saya buka pintu. Mereka semua nampak bimbang. Dukun sendiri malah mundur selangkah. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. . Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. bisa jadi konflik. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. mereka lalu bergerak. Bahkan sampai tiga kali. karena aku sudah lelah sekali. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. atau apa sajalah namanya.” “Tidur?” “Ya. biarkan aku istirahat sekarang. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. “Kata dia sebelum tidur. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. berikan ini kepada istri. bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. Diendus-endusnya dari jauh. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. dengan bahasa yang mereka pahami. saya langsung kelelap. .. karena saya sudah terlanjur dipercaya. Mereka curiga. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. kalau saya runtuhkan lagi. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. ia menghitung.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. sekarang sedang tidur. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. yang lain menghampiri mayat. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. tenang semua. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup. lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. Kalau saya tolak. berubah menjadi pengurus orang mati. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Badannya penuh dengan luka parang. Setiap kali mengobati mayat. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Setelah dukun mengeluarkan mantera. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Beberapa orang menyanyi. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tidak. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. minta agar saya mengobatinya. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. Tidur untuk selamanya. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka.. Begitu kejeblos. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Mengulur semacam pelipur. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Pada suatu malam. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. lantaran saya sama sekali tidak siap. mengeluarkan duit. Sampaikan kepada mereka.

kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. tapi cintanya palsu. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. boleh mati karena wabah penyakit. Itu mustahil. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak . boleh kocar-kacir karena kebakaran. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. Saya bingung. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Kepalanya bisa saya sambung.” “Saya sudah berusaha. Apa artinya orang-orang ini. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. tetapi ternyata tidak cukup. tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. Bapa saya itu raja. “Kalau satu hari tidak cukup. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Dia cinta kami semua. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi. longsor atau letusan gunung berapi. tapi nyawa tidak mungkin. asal dia bisa hidup lagi. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. “Kehormatan buat kami paling penting. asal hidup. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup.Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas. Saya benar-benar cemas. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu..” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul. kami semua akan mati. banjir. berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu. sekarang menghajar saya. tetapi mereka tidak peduli. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Tolong hidupkan Bapa kami.. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. Lebih dari itu. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. “Sebelum perang. Dokter. “kata putra kepala suku. kami bisa tunggu. Otaknya rusak juga tidak apa. Kami mau ada hasil!” “Tapi . “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. Banyak di antaranya yang terluka. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. gempa. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. karena kalau sampai dia mati. agar bisa nyambung dengan masyarakat. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab. Kalau dia mati.” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Subuh. Mereka pasti akan kecewa sekali. “.” “Kami tidak mau hanya usaha. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. Saya sudah berpurapura jadi dukun. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya.

ada orang sakit yang mati. seorang penduduk di wilayah Ciputat. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. saya menyerah. Kalau kalah. Lutut saya tambah lemas. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya gemetar. tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan.”kata Kleng berkoar di jalanan. Orang-orang lain pun tegang. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Saya bukan lagi dokter. Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak. Harapan saya ada gunting. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. daripada membela kebutuhan rakyat!” . Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. saya tidak mau mati terlalu konyol. Tapi ajaib. Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Besi bendera itu terlepas. Saya ketakutan. Masyarakat marah melihat para pemimpin.” Anak kepala suku itu kaget. itulah satu-satunya pegangan saya. Mereka tidak hanya mencari obat. kalahlah dengan indah dan gagah. hangat nafasnya membuat saya tersiraf. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. bersorak gegap-gempita. Tiba-tiba saya melihat peluang. tidak. Namun Kleng. Apa pun yang akan terjadi. pesan orang tua saya waktu kecil. Di laci. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. Dengan panik. pisau atau barang tajam lainnya. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Mukanya langsung keruh. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. tetapi cepat saya gapai lagi. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Dan itu berlangsung lama. Mereka melolong seperti binatang liar. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Saya genggam besi itu. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. saya berbisik. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. Kalau saya harus mati. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. “Pahlawan tidak pernah mati. “Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. Saya tak sanggup lagi bicara. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. tidak terkabul. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Sejak itu bukan orang mati. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Anak Kepala Suku tertegun. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. Lalau entah darimana datangnya keberanian. supaya musuh dapat diberantas. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. .mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. Teriakannya membuat semua terdiam. tetapi terutama kasih-sayang. Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona.. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. mungkin akan jauh lebih berguna. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Anak kepala suku itu menghampiri saya.

” Kleng tak bergerak. Pak.”. bukan rakyat yang salah. Kemudian dia berbicara dengan temannya. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau.. rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir.” “O ya?” Petugas itu mengangguk.Esok harinya.” . kami bisa menjelaskannya. agar kalau ada pertanyaan. Kleng dipanggil ke pos polisi. sudah cukup.” Petugas mencatat. kejahatan birokrasi yang semakin licin. “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir. Kleng bingung. Tapi itu bukan teriakan-teriak. “Lho saya boleh pulang?” “Ya. Kalau ada kesalahan. “Tidak. Sekarang karena sudah jelas. korupsi. Kemudian dia menggeleng. “Silakan.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul. “Ya. kemacatatn jalan raya setiap hari. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang. Sudah cukup.” “Berarti saya bebas?” “Memang. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak.” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul.” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin. siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat. Saudara boleh pulang. Kecuali kalau ada yang lain. Ia nampak bengong. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak.

reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang. untuk membunuh Niwatakawaca. Pak Amat ingin menyepi.” “Ya saya tahu. Kamu sendiri sering bilang.” Bu Amat tak sabar. tidak usah susah-susah bertapa. . kita semua manusia begitu. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila. masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Nanti jawaban satu nusa. akhirnya ia mengomel pada Ami.” Amat tak bisa membantah. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya. Kalau semua orang seperti ibumu itu.” Petugas mau mencatat. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. seakan-akan itu bukan urusan mereka. masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. sama saja dengan kendaraan. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa. Tanpa kepribadian. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. Begitulah manusia. tapi ……. menghayati kembali apa itu Indonesia. bukan semua kita!’ .” “Tidak ada tetapi. tempe. saya dipanggil. pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Makin lama. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya.” “Lho ini kenyataan.” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu. Baru kalau kepalenya sendiri digondol. tidak tidur dan tidak makan dan minum. kurang waspada.” “Iiih kebangetan. ada tiga sekaligus hari ini. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. meskipun dipelihara. Ya bukan hanya Ibu kamu. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. Ami. Benar tidak?” “Kalau itu memang. “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan ……. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Bapak juga. sebab aku masih ingat.Kleng menggeleng.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis. keroncong. “Saudara boleh pulang. Yang pertama protes adalah Bu Amat..” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan.” “Hanya itu?” Amat berpikir. pejabat-pekabat kita tidak peduli. “Ah kalau cuma maunya itu.” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin. perpecahan. Lihat saja ketika hak cipta batik. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. Tapi saya tidak mau. Rasa Sayange. tetap saja makin tua makin merongrong. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.

Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. Tempatnya berjauhan. untuk melerai. begitu membuka tutup nasi di meja makan. tetapi kakinya hampir copot. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. seperti kambing congek Amat salam-salaman. Tidak pernah menuding orang lain. langsung minta Amat keluar. Begitu tamu pulang. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal. Tiga jam semuanya baru terkuras. apalagi pintu rumah diketok tetangga. Tidak ada apa-apa di situ. tiba-tiba datang tamu. tetapi siksaan. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak. Ia sudah menghunus parang. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. gembos dengan sendirinya. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. Amat dengan sabar melerai. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. Ami juga sudah pulas. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. Tinggal Amat sendirian. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi.“Ah sama juga. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. sekarang perutnya keroncongan. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. jadi lebih sering ngelayap. Tapi ternyata bukan tiga. Amat selalu dianggap sebagai kunci. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. ada empat acara pernikahan. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Ia lebih banyak menyesali . mulai kesal. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Sudah lewat tengah malam. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Ia dengarkan keluhan keduanya. lalu keluar. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. tapi ketika terdengar suara perkelahian. Ia tidak pernah marah. baru hendak melepas baju batik. ketika Amat masuk ke dalam rumah. Dari pagi hingga malam . Bu Amat tersentak bangun. Amat kecewa lagi. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah. badannya rasa hancur digiling. Ia marah. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. Itu bukan silaturahmi lagi. Untung Amat tidak terlambat. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. kata-katanya juga sama. kemudian perdamaian dimulai. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Pulang ke rumah. Masalahnya sama. Coba kritik Ibumu. Biasanya kalau Amat datang.. Ia manjakan istri dan anaknya. Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. Mula-mula Amat tidak mau. Tetapi sial. kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. Sampai di rumah. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. karena kesal melihat ulah suaminya. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Air matang pun habis.

” “Kenapa!” Amat tertawa. kesal. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. “Apa?” “Ah nggak. ” tapi apa boleh buat. Amat menangis. Biarlah tak ada yang mencintaiku.” Amat membuka mata. Lalu Amat tersenyum. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. bapakmu kan memang maunya bertapa. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. “kata Ami. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam. Amat merasa lebih lega. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Tapi tak bisa. Tiba-tiba mendesak rasa haru. “Kasihan Bapak. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. “Ya. Ibu terus saja pura-pura tidur.kekurangannya sendiri. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Usiamu bertambah. sepi. Amat bangkit dari kursi. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. ” bisik Amat dalam hati. Malam bagai mendengar. Aku ternyata sendirian. jadi waktu semalam ia masuk kamar. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . Kasihan pada dirinya sendiri. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. sebagaimana biasanya. terhanyut begitu jauh. “Ya hanya kamu temanku. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Setua sekarang usianya. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. pengalamanmu semakin banyak. “Aku tidak lulus. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. seperti seonggok kayu yang tumbang. Kelihatannya sangat nikmat. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. “Sebab aku bukan Arjuna. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tanpa seorang penonton. Bapak kok tidur di luar. Aku tidak mencari panah Pasopati. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. “Aku bertapa. untuk dikeluarkan lagi nanti. “Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Setelah menangis dalam. Bahkan ketika mulai punya pacar. Ia memandangi istrinya lama.” jawab Bu Amat. menahan perasannya. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Amat merasa dinina-bobokkan. Ia tidur mati. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Hanya kesunyian yang masih terjaga. keluar ke teras. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. Sekeliling sepi sekali. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Amat duduk terhenyak. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa. Baru beberapa menit duduk. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. asal masih ada kamu yang menyapa. Kemudian datang malu. Tetapi setiap kali tahun baru. Lampu kamar belum dimatikan. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun.”keluh Amat. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. aku sudah merasa cukup lega. ia masih saja cengeng. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Tetapi ternyata balasannya tak ada. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Tidak dingin?” Amat menggeliat.

Tetapi begitu sampai di dalam. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Akhirnya ia menghampiri meja. “Boleh. buta dan merindukan yang lain. kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. justru bangun-tidur minum itu sehat. tetapi karena kita tidak tahu.” Amat hendak terus ke kamar mandi. Kemudian ia meraih pisang goreng. Jadi karena takut mengganggu. . Matanya terpejam karena nikmat. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Juga ada buah-buahan.” Amat bersenandung mengikuti lagu. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren. akibatnya kita jadi tidak peka.” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. “Aku untung kalau begitu.” “Ya. itu tidak penting lagi. Arjuna kan doyan kawin. Amat lalu masuk ke dalam rumah. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. Kalau tidak. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng. bangun tidur.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. karena Bapak bukan Arjuna. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan. Untuk apa bertapa. “Ya.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur. “Cukup gulanya. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya. Rumah nampaj berdandan. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. “Ah sudahlah. “Minum saja dulu. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. . bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat.” “Untung?” “Ya. pacaran lagi……. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. Kopi panas.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan.” “Bapak lupa. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat. aku tidur di luar. “Tidak ada. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. Kamu nampak lelap sekali.cemburu buta. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. aku ingat.” “Tapi aku belum mandi. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. ia terkejut. menarik kursi lalu duduk. Pak. Meja makan memakai taplak baru. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda.” Amat ketawa malu. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan. Ibu memang beruntung. Bu Amat dan Ami nimbrung.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa.

Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas.” Amat menggeleng tak mengerti.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. “karena terlalu sering didengung-dengungkan. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. apa yang mereka lakukan. yang bebal.. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. hari ini tidak usah. “kalian sengaja melakukan itu. “Kan sudah kemaren. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. “Terimakasih.”kata Amat seperti disambar petir.” kata Ami memberikan ceramah. buta. betapa cantiknya hari itu. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda.” Tiba-tiba Amat terpagut. Dulu siapa yang mengidap AIDS. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. khususnya di kalangan kaum homo.”bisik Amat. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya. Amat terpesona. “Astaga. “Sudah dibatalkan.” “Tapi sesuai dengan pepatah. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli.” Amat terkejut. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. Tranfusi darah. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan . tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng.”lanjut Ami menyambung ceramahnya.” Amat mengernyitkan dahinya.” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja.“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini. “terimakasih. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. “Lho bukannya. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya. alah bisa karena biasa. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. di depan sejumlah ibu kampung.

“Aduh. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. tidak punya harga diri. yang paling mengancam kita. “Apa ceramahmu gagal. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan.” Mata Amat semakin membelalak. orang akan bangkrut dan mati. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. “Sekarang yang paling berbahaya. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak. . kalau dalam usia semuda kamu. adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. “Mereka bilang begitu?” “Ya. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. “Wah. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. tidak peduli kepada kemanusiaan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Semuanya mengucapkan selamat. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan.dengan masyarakat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. Tanpa kedudukan. yang belum menikah. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi.” Amat terkejut. tidak punya rasa malu. Moral kita sudah jatuh. Bila perlu dengan cara melawan hukum. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah. yang nomor satu ditakuti. juga kehilangan kesejahteraan. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. bukan lagi HIV. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. Sekarang malah diundang berceramah. tetapi tetapi seluruh bangsa. bukan lagi AIDS. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir. Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. tetapi kehilangan otak. “Kamu bilang begitu?” “Ya.

Ami kebingungan. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Bapak juga sama saja.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan.cantik lagi. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. mereka tak mampu mengucapkannya. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. pujian mereka kepada Ami. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. “Kalau begitu. benar juag komentar ibu-ibu itu. Ternyata benar. AIDS sudah dianggap enteng. kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. “Kenapa Ami. Hanya saja karena orang sederhana.” . ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik. isi ceramahmu bagus sekali. Bukan hanya ibu-ibu itu saja. untuk mendengar sendiri secara langsung. bukan yang kamu katakan Ami. Lalu bergegas keluar.