Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

Kalau begitu kamu dewasa Ami. karena tetangga kita mantunya Malaysia. Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Betul. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali. anak kita marah-marah sama Malaysia. Masak diam saja. kalau kita diam saja. Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung.” “Bapak minta maaf dan pulanglah. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak. sekarang baru tari-tarian. Bapak tidak boleh ikut marah. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. “Jadi kamu mengerti. bukan hanya masalah orang Bali. Bapak tidak usah minta maaf.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. Itu sebabnya Ami marah.” Ami mengangguk. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah.” “Tidak. Amat menyerah. Kalau tidak. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. sama juga dengan budak. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. Karena kalau presiden marah. “Ami. Boleh marah.” “Tidak. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut. Ini bukan hanya masalah tari pendet. sopan dan santun itu ada batasnya. karena kita adalah bangsa yang santun. Dengan menekan perasaan. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. Bijak. bisa terjadi perang. Jadi Ami harus marah. Kalau mereka dengar.” “Ngapaian bijak. kalau kita diinjak-injak. “Bapak tidap perlu minta maaf. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. Kalau Ami pulang. kata Ami. bisa-bisa mantunya tersinggung. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. jadi kita harus menghormatinya. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. Tapi harus ada yang marah. Sekarang mari kita pulang. “Bagus. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Kan sudah berapa kali kita dihina.“Tapi melarang!” “Memang. mantu tetangga kita.” “Kenapa?” “Karena Ami marah. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . Bapak bangga sekali.

Kebudayaan Jawa yang tinggi. mirip sebuah sumpah. tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo. Menampik budaya kota. Ia ingin mencuci kembali tradisi. Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. menjelang bulan Ramadhan. sehingga esensinya. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang.” Amat terkejut. Dengan memberikan tafsir baru. “Maksud Bapak. tetapi bernas. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok. tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. ia akan terus bertahan di Yogya. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. begitu panggilan akrabnya. si maniak kopi. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. bukan kulitnya. alias tidak melempem. Tak sabar. Amt kemudian menggebrak meja. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. pasrah. Hidup di kota pun penting. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu. Ia kemudian mencecer. Mempertahankan tradisi itu. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. sabar. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik. tapi isinya. “Sabar Pak. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. Ia berseru. Sama sekali tidak. berjanji. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. malam Jum’at. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. buku Nagara Kertagama. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. Prambananan. mengejar nama dan duit. “Banyak orang tersinggung dan kaget. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. tersimpan niat yang mulia. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. ia membuat seluruh kebijakan. yang membuat telinga merah. “Yes!” Tak puas hanya memekik. melempem. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis.

Ayo sekarang ganti channel tv-nya. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. Yang wajar-wajar saja. tindakan serta pemikirannya.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. sambil menunjuk ke televisi. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. “Ya itu kataku. kontan buyar. “Lihat Bu. mas willy§. mengingat ekonomi yang .” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. “Itu artinya dia orang besar. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. Aku berkata untuk almarhum. dengan semua perbuatan. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. Mbah Surip dan Mas Rendra. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. “Jangan suka marah.yang dipesan suaminya. Pak. “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat. sehingga bisa bergaul dengan semua orang. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis. Jadi Jacko.” “Memang. di Jakarta. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan. “kara wajah di televisi itu lagi.melanjutkan. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. Itu memang kataku. Ami mengangguk acuh tak acuh. karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. Amat tercengang. “Kalau dia memang pahlawan. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. Bertengkar juga berpikir. Titik. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. “Itu namanya penafsiran.

Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. Pak Amat. merasa ikut kehilangan. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia.” Amat penasaran. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat. lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja.” . “Sudah Pak. Dia buru-buru pergi.” Amat terkejut. keluarga. Dia memanggil Ami.” Ami melirik bapaknya. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. istri. seperti yang aku dengar di televisi. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat. “Aku heran. Bukan karena tak ada.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api. tetapi ribuan bahkan jutaan. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan. susila. ambil segi baiknya. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini. hubungan itu sama sekali tidak ada. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau. ini politik. Orang itu tidak menjawab. yang doktor pun bisa dicuci. Pak Amat. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. pikirannya sudah ngelantur lagi. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi. “Itulah politik. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja. “Teroris!” umpat Amat.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. membatalkan laganya dengan PSSI All Star. “Ayolah Ami. karena tidak melihatnya.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Seorang pemuda menjawab. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. Dia mulai marah. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. Orang-orang itu punya anak. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang. kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. budi pekerti bahkan agama.” “Politik?” “Ya. “Coba tenangkan bapakmu Ami. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. famili dan negara. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan.

ia memang masih tertekan. kita semua akan kalah. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. Memang bukan 200 atau seratus ribu. Matanya menancap ke televisi. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi. Di puncak bukit yang bergetar. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik.Ami terperanjat. tangan. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. ia sempat terdiam sebentar.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. Tak kuasa lagi menahan diri. Bu Amat menjerit. Isi perut terburai. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. . tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. tapi hanya sembilan. “Hidup semakin keras. Dulu. Kalau tidak begitu. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Korupsi. Setelah itu.”bisik Bu Amat dengan terkejut. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. Layar kaca. Bu Amat tersentak. suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. kaki. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. Bu Amat terpesona. Bu Amat melihat darah. Teror dan bom di mana-mana. Takut. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. Manusia makan mayat. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. “ Bu Amat tertegun.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Penculikan. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. ia bisa mengucurkan air mata. bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi. ia sama sekali tenang. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. Kepala. Ia hanya memandang ke satu titik. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai.. Bom Marriott 2. Kepala. Ketika muncul berita Bom Marriot 2. “Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. Ibu membunuh anaknya. Melihat di mana ia sedang berdiri. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Pada kejadian Bom Bali Kedua. . Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. masih seru. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. Orang hilang. Anak dijual oleh ibunya. Anggota badan manusia berserakan. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Begitu saja rasa ngeri. Ia terkejut dan jadi gemetar. Ia lupakan dulu curhat La Toya. semua terpisah dari tubuhnya. “Aduh. ngeri. Bencana alam. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. manusia menjadi semakin tabah.

” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget. Kita blak-blakan saja. Sama sekali tidak mau peduli. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. Terlalu menyepelekan. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. Filipina. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat. “Ya. penyalahgunaan kekuasaan. mempunyai resiko yang paling besar. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. angin topan. letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. . semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. korupsi. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. “Bukan. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali. Indonesia.” Amat tercengang. dia tidak peka. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. Bu Amat menjawab enteng. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu. China. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. Bersiap-siap saja. Ternyata tak beda dengan Bu Amat. letusan gunung. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. Masak kita akan menghadapi kiamat. tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran.”kata Amat curhat pada Ami. menghampiri Amat. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan. datanglah secara kesatria. Sabuk Himalaya. Gempa bumi.

Teater kampus ditonton dengan . Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Waktu itu. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas. saya menyarankan agar teater kampus. tidak ada hukumannya lagi. Saya menulis kredo untuk teater kampus. Badannya lemas. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Harus menjadi pelopor. “Dia pergi. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. Dua-duanya harus di bunuh. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. daripada pergi meninggalkan kita. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus. “He mau ke mana kamu?” “Pergi.“Jangan terlalu dekat. tetapi kehidupan teater yang bebas. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. Perasaannya tiba-tiba kosong. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. “Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Penjajahan politik sudah kita tendang. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. Belum selesai itu. Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak.. Tapi 2009 tak bergerak. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk.” Tanpa menunggu jawaban Amat. kamu membunuh satu juta. Samurai di genggamannya terlepas. Tangannya gemetar.

unik dan orisinal. kreasi. Selama ini yang sering terjadi.am Festasimo IV masih rawan. bisa menjadi menarik. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. Dan untuk membuat perencanaan. harus ada studi dan strategi. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. Bagi saya ini hal yang positip. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Hasilnya adalah kegagapan. Penyutradaraan. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. akan terjadi sesuatu yang kosong. Tetapi kalau ditanggapi keliru. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. Musik. Untuk itu kampus harus membuka diri. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . memberikan pengetahuan dan sebagainya. Sebuah naskah yang buruk. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. komunikarif. kalau tidak. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. kehilangan jiwa. lebih dari unsur verbal-nya. tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. penataan adegan dan set. tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. akan membuat pertunjukan tak punya arah. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Masing-masing jenis teater memiliki langkah. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. membuat penasaran. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. di tangan sutradara yang baik. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai.penuh penghormatan dari masyarakat. Aspek penulisan lakon dal. Karenanya memerlukan pembelajaran. menghibur. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Teater tradisi yang asli bagus. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu.

Tetapi kalau diusut. Insiden etnis terjadi di Pontianak. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Memang betul. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. Ini masalah yang serius. (DI TII. muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. pada 1997. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. Jawa Barat. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. tak hanya seni akting. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. di Indonesia ada banyak perbedaan. Indonesia yang satu mulai diragukan. Beberapa wilayah (Aceh. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. Baik suku. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. Kita mengakui bahwa kendati satu. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. satu bangsa dan satu bahasa. bukan esensi janji bersatu. Nusa Tenggara Tinur. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. Riau) mau merdeka. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. Papua. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Gotong-royong itu sendiri misalnya. . RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. khususnya teater kampus. di mana-mana dikenal. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. Kalimantan. Maluku. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. banyak bukti. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. Banyak lagi masalah lain. Papua. agama dan sebagainya. Sumatra. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. Beberapa peristiwa berdarah muncul. Dan ini bukan hal yang mudah. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Hanya dengan cara seperti itu. Sulawesi. bangsa dan bahasa. Bali. Kahar Muzakar. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun.banyak hal. terjadi reformasi. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. adat-istiadat. Perbedaan semakin jelas. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Di Jakarta sendiri muncul FPI. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Setelah 52 tahun merdeka.

Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). Baik idiologi. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. Para pemimpin partai. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. pemuka agama dan para konglomerat. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ . Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). Semuanya karena politik. diberikan hak hadir. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak.Kalau ada. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. golongan dan pribadinya. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. meski pun berbeda. pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. Ada juga yang disebut “nempahan raga”. agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Sesuatu yang datang dari luar. Banjar terpecah. Sekarang kita mesti berhati-hati. adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Pluralisme di Indonesia bermasalah. Kemajemukan yang ada di Indonesia. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955. Kendati begitu. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana.

Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. Kemenangan itutidak harus kelihatan. kamu hanya ditunda menang. Tetapisemakin diusap. memang baik. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. “Waduh. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. anakku Ami nampak kesakitan. “Sudah Ami. asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin. “Sudah Ami. karenamemang itulah tujuannya. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Aku jadi cemas. kamubukan pihak yang kalah. karena Undang UndangHukum Pidana. Dia tidak akan mengiris. Jadi Ami. Lalu airmatanya jatuh berderai.” Kepala Ami semakin berat. Aku terkejut. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang.” Ami mengangguk. diaakan mencocokcocok. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. tetapi menyembur. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. kamusebenarnya tidak kalah.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian.mengerem. Di rumah. apabila tak belajar dari yang kalah. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. meskipun belum tentu lebih bener. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. Sedangkan orang yang menang suara. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. pahit ataukemanisan. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. Aku rengutkan handuk itu. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu. Manis itu memang enak. mereka adalahorang yang kalah. Aku panik. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR.Tetapi yang lain berpesta. Banyak orang bersedih. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. Tapi wajahnya tambah berat. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. Jaditabahlah hadapi kenyataan. rasa kamusendiri juga tidak laras. Makanya jangandilawan . tegas. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca.Bukan hanya itu. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. Ingusnya ikut berleleran. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah. Aku terpaksa menghibur. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. padahalbelum tentu mereka benar. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. Undang-Undang Popok Pers. meredam perasaan agar jangan berkelebihan. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu.tetapi kamu sendiri. “Aduh Ami. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik. asin. Perasaan itu baik. Ia tersedu-sedu. air mata itu semakin membanjir. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu. terima saja. Air matanyatidak lagi hanya menetes. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. lalu membanting. Yang menangadalah yang lebih banyak. Kalau tidak. Seluruh pipinya banjir.

Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Kontes Mirip Bintang. Ratu Mercy.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. Ratu Dangdut. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. tidak cukup mata melotot. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. Baik kameranya.bahkan singkap sprei dan kasurnya. juga ketelanjanganrohani. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. Dera mereka yang menjualkecabulan. denda milyardan danjebloskan ke penjara. Tak hanya itu. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. didenda dan dihukum. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . kalau kamu mulai mengerti sekarang. “Bagus. “Terimakasih. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. Mukanya mulai berseri. Bisa-bisa kamu yang dibakso. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan. bongkar laci dan almari. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. Mengerti?” Ami mengangguk. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. jangan-jangan mereka menyimpanpornography.Biarkan saja. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. “Jadi dengan kata lain.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur. Ami sayang.setidak-tidaknya kita anggap cabul. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Seperti yang mereka usulkan. Selidiki apa isi kepala orang. Baru kalau diagagal nanti. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. Terimakasih Mama.tidak cukup suara keras. Masuki rumah penduduk semua. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru.sekarang nanti dia tambah buas. mata Ami pun berhenti meneteskan air.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. Kalau ada yang cabul. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini. seret. kita beritahu pisaunya yang salah. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. dengar. Ratu Kaca Mata.” Ami memandangku seperti bertanya. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. “O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Ajaib.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. karena pisau itu sudah di tangannya. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar.apalagi pemuka. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi.

Hanya karena kalian lihat setiap hari saja. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. Pak. berarti kemenangan mereka palsu. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. karena menyangkut keselamatan majalah. Pemilihan akan akan diulang. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. Hasilnya amat mengagetkan. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan. jadi kami serahkan pada para pembaca saja. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. kecantikannya kalian lupakan. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik.” “Memang bukan. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. Sebagai kompensasi. Pak. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. Kalau dipotong bisa parah. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua. panitia mengambil jalan tengah. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Ada protes. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik. Para panitia segera berunding. karena merasa tidak puas. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat.” “Kalau begitu. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. Tulang-tulangnya yang besar. ia sudah ngomel di depan para wartawan. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. . Pak. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. tidak mencerminkan jutaan warga kita. sebab mereka sudah tahu. Mereka bukan 9 wanita tercantik. Pak. Di bandara. “Maksud Bapak. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. tetapi tidak terlalu berarti. Keputusan pemenang dibatalkan. kakinya yang berbulu.. Lomba pun dimulai kembali.seperti itu akan keliahatan aduhai. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. ternyata lima di antaranya adalah wadam. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif. tetapi juga kecantikan kepribadian. Setelah mempertimbangkan masak-masak.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah. Urutannya jelas. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja. dilipatgandakan. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan.

Kilatan cek itu membuat darah saya . bukan masyarakat yang sakit.”katanya memujikan. Ini salah kaprah!” Panita bengong. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional.Panitia kembali diundang berdialog. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat. “Maaf. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci. Mereka yang terpilih memang sangat professional. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum.” Saya langsung pasang kuda-kuda. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Pak!” “Tidak ini tidak main-main. atau ada yang lebih bagus. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa. mati muda. Tanpa mengenalkan dirinya. di dalam sebuah kompetisi yang adil. yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan.” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. Kalau dia menang. tbc. Pak. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa. Tapi meskipun membela kemanusiaan. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. tidak bisa. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama. akan terselamatkan. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran. tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. memahami amanat ini. Pak. Tidak mungkin sama sekali. Dua juta orang yang terancam kebutaan. Saya minta keputusan ini dicabut. “Bapak mengatakan itu. Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. Tetapi entah kenapa saya diam saja.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul.” “Kalau itu betul. “Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. pilihan mreka kami anggap wajar. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan.

Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Kalau ini kurang. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Ketika saya tangkap. Tapi orang itu terlalu sibuk. Saya cepat menangkapnya. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Dia seperti sudah menebak pikiran saya. Dia merogoh lagi tasnya. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. dia diam saja. Nampak besar dan padat. lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Saya tak berani bergerak. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. sore ini juga kami akan datang lagi. saya hubungkan sekarang. hallo …… . kalau Anda masih was-was. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu. Dengan kalap saya gapai-gapai. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. menyelamatkan diri. Itu memerlukan keberanian mental. “Kalau wakil kami menang. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan. bukan saya tidak menghargai Anda. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. Atau Anda lebih suka menelpon. Kedua amplop itu langsung tenggelam. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. “Ade.. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. Dia memeluk saya. lalu terjun ke kolam. Tidak peduli ada bangkai ayam dan .” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. Seakan-akan dia marah. Matanya melotot menentang mata saya. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. Kedua-duanya. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. “Maaf. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai.” Saya gelagapan. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. “Silakan. Tapi sebelum tertangkap. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. Apalagi menolak suap. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. Bangsat. “Kita transparan saja.” Tiba-tiba saya batuk. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. lalu diberi seragam koruptor. anak itu mengubah tujuannya. “Hallo. untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. Bukan hanya berenang. Perasaan saya rontok.beku. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu.” Saya memberi isyarat untuk menolak.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Saya kan belum berpengalaman disuap.” Dia mengulurkan uang itu. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan.” Saya bergetar. Merasa dikejar anak saya berlari. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Baik menerima mau pun menolaknya.

“Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Badan saya penuh lumpur. Di kepala saya ada tahi.. Kalau kedua amplop itu lenyap. Dan kenapa saya terlalu lama bego. Laki-laki sama saja. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh.” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi.. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. . Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. Siapa yang akan peduli. berarti saya sudah makan suap. Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. bahaya. Aduh malunya. “Sudah jangan kayak orang bego. saya hanya menggeleng. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari. saya sudah basah. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. cepetan madi dulu. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. Tak ada bekasnya sama sekali. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang. Saya termenung. Istri saya bengong.kotoran manusia. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. . Setelah telanjang dan mengguyur badan. Hari gini. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. “Eling Dik. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir. Ya kalau dikembalikan. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. mplop itu harus ditemukan. langsung ke warung. eling. Kalau dia tahu itu uang. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. Tapi tamu itu sudah kabur. bau!” bentak istri saya. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. tak akan dipercaya. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. yang bener aja!” “Tapi . Darah saya tersirap. Diinjak pikiran kacau saya pulang. Dengan berapi-api saya terus mencari. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Tapi coba. ide-ide busuknya akan muncul. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu. “Mana?” Seorang anak tetangga. “Cepat mandinya. teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu.Tak seorang pun yang menolong. akhirnya saya akan masuk penjara. Badannya kuyup penuh kotoran. Tak menolak dengan tegas. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. Kalau itu dibiarkan berkembang. berarti saya sudah menerima. Apa pun yang saya lakukan sekarang. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. saya keluar. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. karena kurang pengalaman. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya. Saya tidak berani menjawab terus-terang. Tapi saya tidak peduli. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok.

Memasuki bulan kedua. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Anak saya nampak menahan diri. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. Tidak. saya capek menunggu. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. Istri saya diam saja. Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. “Lho kok malah nangis. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Keputusan sudah diambil. Namun saya sudah bersikap menolak. saya tidak akan menerimanya. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor. kita sendiri makan tahi sampai mati. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. “Baiklah. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. Bukan apa-apa.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin. Orang itu tidak muncul-muncul juga. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. Pada bulan ketiga. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Lomba pun memasuki saat penentuan. saya memutuskan nekat. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. Tapi sepuluh hari berlalu. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Anak saya kontet karena gizinya kurang.” “Abang jangan salah sangka begitu. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. asal masa depan anaknya cerah. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. akhirnya dicapai kata sepakat. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus. akhirnya mulai menang. Diterima baik oleh masyarakat.” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. Melalui perdebatan yang sangat sengit. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. Saya tidak melakukan itu. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Keputusan kami yang diterima baik. Bukan salah kita. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. Mau tak mau saya terpaksa mengakui. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. tapi karena aku sakit. betapa dahsyatnya arti uang. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Lomba itu sudah menjadi lampau.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. kalau orang itu datang lagi. Bukan karena suap. Aku masih kuat . Bang. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. Apa perlu saya cek. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. Satu bulan berlalu. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. Jangan. tapi saya cukup hanya memandangi. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. Saya akan mengembalikan. pikiran saya bergeser. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. Rasanya aneh. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. tapi kalau lagi sepi. Aku juga sudah mulai tua sekarang. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan.

Dari situ nampak terbayang isinya. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Kemudian dengan bernafsu. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Saya menghela nafas dalam. baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. lalu gantikan isinya. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. Dengan kalap saya sambar batu-batu. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . Setelah tahu isinya. diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Rebo 17 September. Dia temukan amplop itu. kenekatan saya justru bertambah. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra.” Dia menggayut tangan Ade. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. tak mampu melihat apa-apa. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. Mata saya bengkak. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. membuat saya panas. mereka langsung ganti. asal mereka tidak. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. Itu kejahatan. nanti tidak akan pernah baik. Jelas sekali sekarang. Tibatiba saya terperanjat. Motornya juga saya hajar. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam. Disikapi oleh istri seperti itu. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. Di situ mata saya mulai gelap. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. Kalau tidak begitu. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. lalu membawanya ke dapur. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. Tangan saya gemetar.menderita kok. Bangsat. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. Isinya juga hanya kertas. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Mengambil tempat di Ruang Kartini. Tak peduli apa kata orang. menjarah. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Sama saja. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. Tiba-tiba terpikir sesuatu. Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop.

Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Kalau memang sudah terjadi kebejatan.. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. negara bertindak. Yang pertama adalah masalah moral. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman. Untuk itu harus ada investigasi.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi.” ujarnya. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. Tetapi kalau memang tidak perlu. masalahnya bukan RUU-nya. tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. Bagi mereka. tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. masih belum sempurna. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. Selaku pribadi. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. mengapa tidak. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. Ini menyangkut ruang privat. misalnya keberagaman. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. karena.

tari. Kami . 1 Oktober. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun. Papua dan sebagainya. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. untuk menambah warna festival. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. Fien Hermini. Tidak hanya seni akting. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). Dewi Pramunawati. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. Betul sekali. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. tapi seni musik. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka. semuanya adalah pekerja. Wendy Nasution. Mr. kemiskinan. Walhasil. Sukardi Djupri. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. Sebagaimana biasa. Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”. Cairo. saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. seniman tak perlu merasa terkengkang. Alung Seroja. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. Praha dan Bratislava. berkolaborasi. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. Yanto Kribo. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya. Bambang Rsmantoro. Menurut Mr. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. Tetapi mulai tahun ini. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. kedok apa pun yang dipakainya. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat. ada perubahan besar. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece.. taktis dan lihai. Ucok Hutagaol. Agung Wibisana. Beruntunglah Egy Massadiah.

” “Kami siapa?” “Ami misalnya.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Itu kan membuat semua orang mimpi. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara. Ami?” Ami menggeleng.” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak. “Ini bukan tidak ada maksudnya.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak. Apalagi 5 milyar. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap.” Ami masih terus hendak mendesak. “Biar saja Ami. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun.” “Ibu jangan begitu. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain.. biar dia ke sana. daripada bapakmu ngerecokin di rumah. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala. “Mengapa dulu dia segan memasang. Kalau mau nyumbang. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§.” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua.Satu dua kali hujan mulai turun.” “Ya itu dia. Kalau gagal. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Tak usah diladeni. Kalau . Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu.” kata Amat curiga. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua. “Saya sudah kapok. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan.” “Memang. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. “Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu.” “Siapa?” “Kami. Pak. Meskipun sudah pensiun. Mengenakan sepatu dan baju batik. tapi Amat menutup percakapan. Amat segera berpakaian. Ami terpaksa bertanya. siapa tahu beneran. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak.

Dia mengubah angkanya. lebih baik jangan membuat persoalan. “Bapak juga tidak paham. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki. Andaikan benar. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya.” “Berapa. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk. makanya benderanya tidak pernah diturunkan. “Aduh. “Bangun Ami. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. Paham?” “Tidak. ini duitnya. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. Lima milyar. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. “Bapak berhasil?” “Ya. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik.” Ami terkejut. Rakyat terpesona. nanti kamu masuk angin. Dan benderanya sudah diturunkan.” Ami ternganga.” Ami terkejut. tak usah sepuluh. Mengapa dia mau. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif. hanya berupa piagam dan uang seupil. Sudah cukup bukti dunia seni kering. Masyarakat seniman berguncang.” Ami tertegun. Ami langsung bermimpi. tapi kemudian langsung bertanya. dia sudah nyumbang seratus ribu. Sekarang beres.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok.. banyak seniman mati sebagai kere. Ketika Amat masuk rumah. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . Sumbang yang wajar saja.” Amat terhenyak. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu.kejadian kan kita semua untung. Jadi Bapak bilang.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

“Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. atasannya muncul. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. “Selamat pagi. ia meletakkan rokoknya. . kamu harus minggat dari sini. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi.keluar rumah. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Mengeluarkan rokok. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih.” Pejabat muda itu mengangguk.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Itu dianggap sebagai persetujuan. “Wah putri Bapak cantik sekali. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka.” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Kemudian dia seperti baru bangun tidur. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain. Ia lama terdiam. Ia langsung berpikir. jadi dia berkorban. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. Pak. masuk ke kamar atasannya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Dengan tidak keluar rumah. Setelah beberapa kali hisap. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. Pak. Pak.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. Bapak yang mengadu itu. lalu permisi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. tidak mau keluar rumah. Afandi tetap saja diam. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Pak. Itu sebenarnya makna kebebasan. Wajar masyarakat protes. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah. sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Rumahnya nyaris dibakar. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Dia bukan jenis pahlawan atau . Malah diserang oleh massa. selalu menghindar. kontan diseret ke lapangan. Tak berapa lama kemudian. Masih muda dan cakap. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. lalu menarik foto anak gadisnya. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. “Anak saya ini. Pak. dia akan menyerah tanpa syarat. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam.

” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya.” “Mirip siapa?” “Tidak tahu. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. sebaliknya. tendangan dan pukulan. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. Istri Afandi masih belum selesai terkejut.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. karena anak-anaknya masih kecil. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar.” “Yang lain?” “Gambar orang tua. Ia ingin banting stir. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. Para pembaca koran marah. Kata suami saya sih. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol. berhenti menjadi seniman.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Karena itu akan mengundang malapetaka.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. itu hati nurani. . Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau.” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Publikasi berbahaya.” Wartawan terkejut. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. “Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok.” “Banci?” “Bukan. mereka hanya menemukan puing-puing.pemberontak. Wartawan cepat-cepat menjelaskan. Suami saya juga sudah berhenti melukis.

“Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. “Tidak!” Ami kontan marah. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini. daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan. Sebagai warga yang bertanggungjawab. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik. “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut.” “Terus-terang saja. Ami. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung. Dengan mematikan satu suara. Bapak tidak mau salah pilih. “Itu rahasia. “Bapak sadar tidak. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. Pilih satu. tidak mau menentukan sikap. Sebagai pemilih. Itu berarti tanpa Bapak sadari. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Ami. Mereka menolak dan melawan. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. langsung diamankan.” . ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan. itu jauh lebih baik. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Itu hanya teori. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang.” Ami tersenyum.. Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada.” Bu Amat tambah terkejut lagi. “Bapak mau jadi orang biasa saja. kan?!.” Bu Amat terkejut. Pak.Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. dua atau tiga? Amat bimbang. tidak berani mengambil resiko. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat.

“Bagaimana bisa memilih Ami. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.” “Yang bagus itu. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. jangan asal coblos. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. Kamu kok mau-maunya sama dia. Yang berguna tapi bagus. memilih itu memang ukurannya bagus. ya. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. kan?” Ami terseyum. Dan yang berguna itu. “Ami. itu kebangetan. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Jangan begitu. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. “Wah kalau begitu. “Wah.Tapi kalau boleh menyarankan. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. apalagi ikutikutan. “Lho. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. “Pemilihan itu bebas rahasia. Pak. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . sebaiknya yang bagus dan berguna. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini.” Amat tercengang. “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. boleh dipilih. Tampangnya juga jelek. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. Pak. yang berguna. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. ya. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. “Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya.” Amat menatap Ami. miskin lagi. Bu. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak. Kalau tidak. Tinggal saja. meskipun bagus jangan dipilih. enaknya sendiri. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua. harus pakai pikiran! Kalau salah pilih. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. Ibu jangan hanya pakai perasaan. berarti sebelum main coblos akan mikir.

Malam hari Ami menyapa ibunya.” Ami mengangguk. Ami penasaran.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. dipergoki biar kapok. Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. “Kenapa?” . Kalau kita mau melawan kejahatan. tapi terlalu cinta itu berbahaya. “Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. biar tahu rasa!” Bu Amat termenung. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Jadi mesti dipancaing.” “Bukan begitu. lalu mengadu kepada Amat. “Ibu lembut sekali. maupun kepada orang jahat. Kalau teleponnya tidak disadap .” “Ya apa salahnya?” “Salahnya. Lihat saja. nanti Ami juga yang kena getahnya. Ia nampak tak senang. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. Kejahatan itu akan gagal. sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam. Itu sama saja. “Ada apa dengan Ibu. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Cinta boleh. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh. tidak boleh dengan kejahatan. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Menurut Ibu. Tapi Ibu tidak setuju. Pak?” Amat berpikir. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. Coba dengan lelaki bejat itu. nanti kita yang akan dikejami sama dia. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. “Aku tidak mengerti. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. Baik kepada orang baik. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat. Kalau tidak.pada kamu.” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.” Ami bingung.

kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya.. ditingkatkan. “Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa. Karena waktunya tidak ada. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. diperlebar. Bayangkan ada 10 rumah. “Ya.!” Ia menikah dengan seorang super model.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam. juga muncul berbagai ciri. restoran. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba. Fasilitas. “Pendapatan. Maafkan Ibu Ami. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. kesejahteraan. mall.” Ami terkejut. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana. . apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. Istri cantik dan terkenal.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan. orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. jumlahnya bertambah. tapi satu minggu belum tentu .” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. meskipun orang itu jahat. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. Kehadirannya juga semakin jarang. hotel. iperbesar. sebab demi kebaikan. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. perlindungan. Kendaraan juga sama. tapi Ibu minta. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. Tak baik. tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran. tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Sosoknya lebih sering di tempat lain. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Rumah idandani.

saya tidak tertarik. Selama ini. Pak. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu.” Edy tertawa. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. “Karena Bapak orang yang sukses. meskipun sudah bangun jangan layang. Prestasi. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. Yang konkrit saja. “Wah.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Orang bilang mobil satu itu cukup. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja. ‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum.” Pertemuan berakhir. Ini hanya kebangkitan. Mula-mula ia pura-pura bertanya. Tetapi mereka tidak menyerah. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Saya bilang keliru. Kita masih kurang kerangsukan membangun. jangan memakai kata-kata itu.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Pak Edy. Mereka lalu turun ke . Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Maaf. “Itu matematika kuno. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya. Aku baru merasasenang. Apa sebenarnya nomor satu itu. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Aku ingin di atas. dengan budaya. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. saya belum selesai. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. Itu berarti kita berarti. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. selamat siang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. New Yotk. Kalau Bapak bisa membantu kami. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Apa sebenarnya menang itu. bahkan sangat sukses. karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. sebab keuntungannya tidak kelihatan.” “Lalu apa?” “Pencapaian. apa sebenarnya bahagia itu. Terus-terang. dari dusun. puas kalau sudah paling atas. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. berhenti berambisi. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. Mobil sepuluh juga belum cukup. Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif. mobil tetapi dengan buah-budi. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. Bukan dengan gedung. Apa itu kebahagiaan atau bukan. London. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. gagal. Ini bukan revolusi. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. mono rel. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. dan punya bus way. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Dan pada akhirnya. jangan dijawab dulu. untuk menghajar para pemuda itu. tai kucing. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata.

Menyumbangkan apa saja. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi. ‘Terimakasih.” “Betul!” “Kalau betul. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. “Memang. Amat terpesona. komunitas budaya ini harus dilahirkan. Pak.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63.rumah penduduk.”kata Bu Amat. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Dengan bernafsu ia . “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. Meskipun sudah hampir jam 10 malam. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. kecuali bendera-bendera negeri sahabat. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat. mundur dulu. mesti tahu diri. Ia memandang Ami tajam. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh.”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu. bisa menimbulkan perkara. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali.. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena kalau itu dibiatkan lepas. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan.” “Ya itu hak dia. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. menghampiri. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. karena ia hanya ingin ada dua warna. ia keluar dari rumah. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. Bendera-bendera lain. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin. teguh dan percaya. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna.

hanya sekedar bertanya. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. Jadi begitu.” Orang itu tertegun. Tetapi Pak Amat harap mengerti. “Tentu saja boleh. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Terlihat sang saka. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini.” “Bapak jangan tersinggung. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Tidak ada motivasi apa-apa. sebab kita hidup di alam demokrasi. Ia mati langkah.” Amat terkejut. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar. Kemudian mengubah suaranya lembut. “Selamat malam. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . Amat memasang muka seribu. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. tapi berkibar lebih gesit dan gagah. lalu dia memujit bel di gerbang. Saya penasaran. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes.” “Terimakmasih.” Amat tertegun. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Dan betul. Pak Amat. Begitu. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Tanpa perhitungan lagi. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti. tapi hanya sekedar bertanya saja. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Ia melirik ke samping. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. saja ingin tahu.” “Persis. Lalu menarik nafas dalam.” Orang kaya itu tersenyum. Darahnya mendidih. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya.” “Kenapa mesti tersinggung.” “Silakan masuk. begini. belel. Warnanya pun sudah lusuh. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Kepalanya pusing. Pak Amat.” “Maaf. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. momentumnya nanti bisa hilang. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. “Tentu saja pak Amat. pak Amat. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. Bukan juga kritik.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Ia menoleh ke samping yang lain. Tak ada maksud apa-apa. Sama sekali bukjan menyindir. “Selamat malam.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. “Pak Amay. meskipun kecil. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. tetapi hanya mau bertanya. Di depannya nampak bendera partai. Pak Amat.

Para wartawan dikerahkan untuk hadir. menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. undangan yang saya muliakan.. tapi juga ngutus bangsa dan negara.”kata Gubernur. Lampu menyorot. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya. “Saudara-saudara. Kemerdekaan adalah persatuan. Dari luar negeri. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. Terjadi keributan. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. Seorang penari muncul.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Tetapi semua orang terkejut. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. Tentu saja semua menyambut gembira. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. sebenarnya ia semakin pulang. Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Gubernur terlambar mengangkat tangan. Asap mengepul. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Kita boleh tidak suka. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Mereka mengangkat lukisan itu. Lalu sorot menyala. menunjukkan langkah konkrit. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Kata orang. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Inilah salah satu gambarannya. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. . Tetapi gagal. Nampak lukisan itu. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. Panggung pun sepi. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. Cahaya lampur berpedar-pedar. Gubernur pun bengong. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. Tetapi atas nama kemerdekaan. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Pelukis besar kita ini. Tetapi belum jelas. semakin jauh orang. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. lukisan ini. ditarik dari tempat shooting film barunya. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Mereka menggebrak. untuk mempimpin. Mungkin sekali tidak berani. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. para tamu. “Saudara-saudar hadirin.

Tapi kalau tidak. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara.. Karena kalau sudah diobral begini. hati saya berontak. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Jalan kampung lagi!” . namun perasaan kalian semuanya. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. Kalau bisa diperbaiki.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. “Lebih baik jangan dipajang. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur. “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. saya Pak Amat. apa yang kita cita-cita akan tercapai. ya pasang saja. seorang di antara berjuta-juta warga lain.” Amat ketawa. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jadi bukan perasaan saya yang penting. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. Kan sering ada di koran. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. kita semua akan senang sekali. Pak.” tulis Amat. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. akan jadi porno. porno!!” Semua terdiam. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil. Tetapi selaku gubernur. “Hebat.“Selaku pribadi. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. “Ya.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak.”tanya seorang Ibu. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja.” “Lho. buat apa digantung?” Semuanya terdiam. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. Kalau saudara-saudara setuju. tanpa selembar kain pun di depan orang. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain.” “Hebat. baik akan saya gantung.

yang banyak. Pak Amat. Pak. Yang sepele itu sangat penting. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. nanti masa jabatannya sudah selesai. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. ya. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar. “Kalau begitu. pemasan global. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . lalu menyerah di tempat tidur. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. Pak Amat! Kalau ditunggu. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Pak Amat. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa. Belum sampai pukul 11 malam. tidak akan ada rasanya.“Lho kenapa tidak. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. nanti ditambahin. belum juga giliran perbaikannya datang. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. “Kalau Pak Amat tidak percaya. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. Aids. yang megah. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. . akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. Orang biasa. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Bukan hanya diperbaiki. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Narkoba. tidak usah jalan kaki. Ia tak habis pikir. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. yangmahal. tidak.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal. tambahin!” “Ya. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. kenaikan harga bensin.” Amat ketawa. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. “Ya sudah. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. tapi kalau garamnya kelupaan. Kalau masyarakat mau bergotong-royong. mengapa semua itu bisa terjadi. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum. Jangankan jalan rusak. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya. sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. “Jangan ketawa saja Pak Amat. Benar nggak?!! Nah. coba periksa ke dapur. Amat teler. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. belum lagi korupsi.

bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita.”katanya. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. Ada yang suaminya kawin lagi. Kalau tidak. sama saja. Mereka merayu dengan segala macam cara. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Sebaliknya. Warisan bukan benda tetapi sabda. kebun kelapa. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. harus diwarisi. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani.jalan itu akan diperlebar. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip. anak-cucu kejepit. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. Kalau warisan diartikan sempit. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Jual semua. Jangan mensakralkan warisan. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. sehingga menjadi jalan utama. hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. Amat gelagapan bangun. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Satu senti pun tidak bisa digeser. kita akan bangkrut. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Sekarang kita tidak hanya butuh makan. apa pun namanya. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Lalu dia bertapa.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. dari mana pun datangnya. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. Kalau dipaksa bertani. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. membuat Pak Tua tidak jadi mati. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Kuper. Segala sesuatu yang menindas. Ada yang ….” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. apa pun namanya. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Bapak jangan memberhalakan barang. . Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. tegalan. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. “Sawah. berarti bunuh diri. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu.

ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. Sebaliknya dari ketidaksetiaan. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. Tenaga. berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Naun ia sudah punya tekad bulat. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. Kalau warisan ini dibagi tiga. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . Mewarisi itu bukan memiliki. tak ada yang beranjak. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. Warisan ini tidak jadi diwariskan. Tetapi ajaib. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin. Lalu anak-anaknya dipanggil. Semuanya sedang meletus. karena ini bukan kue. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. ini bukan barang tetapi cita-cita. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. “Kalian semua sudah besar. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. cari sendiri kehidupanmu. sementara anak-cicitnya. Sudah waktunya untuk mandiri. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. suara dan uraturatku sudah lapuk. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. satu generasi lagi harus dibagi lima. Boleh menyerang. Kalian tidak perlu warisan. Walau pun putraputranya semula begitu galak. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran. tetapi sebagai cita-cita. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. aku akan mempertahankannya. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. Panah Pasupati pun tidak cukup handal.”hasrat kami untuk membagi warisan. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan.” bisik salah seorang mewakili yang lain. Boleh tidak setuju. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. “Ayah. sebagaimana yang dituduhkan orang. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. dalam badai dan taufan. supaya semua anak-anak senang. aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Apa daya? Masihkah keberanian. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung. juga sudah terlalu klise. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. Ia kontan buka mata dan membentak. hukum dan wibawa. mengembangkan dan meneruskan. Itu fitnah. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus.. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. Itu zalim. boleh marah bahkan boleh menentang. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita. Kembali terjadi keos. duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki.

karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian. Amat maju setapak-setapak. Ternyata dia kembali menjadi kunci.” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. . “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong. Perlahan-lahan Amat maju. suruh mereka damai!” bisik para tetangga. Amat dan Ami tercengang. Yang jelas. Amat jadi gentar. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Ketika melihat Amat datang. sudah banyak orang berkerumun. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Di rumah tetangga. Kelewangnya berkelebat. akan terjadi pertempuran segitiga. “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. itu saat yang amat sulit. Aku berada di luar.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. lalu mereka ikut berteriak. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. Jadi karena dideklarasikan. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang.” “Caranya?” Amat berpikir. menjawab dengan pertanyaan. Mungkin keris atau pisau. dianggap sudah jadi besi tua. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. nanti yang terjadi bukan damai. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar. Benar saja. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Tapi hanya menonton. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. Kalau sudah begitu. dengan dalih damai. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. Renon Sabtu lalu. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Bu Amat menyeret suaminya keluar. Amat masih berpikir. untuk mengatasi rasa cemasnya. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Karena mau melindungi ketakutannya. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. tetapi dilaksanakan saja. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Para tetangga menyisih memberikan jalan. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. Kalau salah satu bergerak. Alangkah sialnya jadi orang tua. tetapi perang. “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. “Ayo Pak Amat.

“Untung polisi cepat datang.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas.” “Kenapa semua foto dibakar. seperti siap menebas. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. “Bapak hanya mengingatkan bahwa. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Sebelum Ibu melihatnya sendiri.“Maaf. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. Mereka mundur. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. Tetapi situasii sudah terkendali. entah apa jadinya tadi. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi.” Suara Amat hilang. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. ia akan roboh. bersihkan segala meja. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana. Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”kata Amat lari dari rumah. lebih baik Ami bakar. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Rumah ini memang milik kalian bertiga. karena kalian juga adalah warga kami ……. mengungsi ke tetangga. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Beberapa detik lagi. Itu adalah kezaliman. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. tempat kita semuanya berkumpul. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar. Coba tidak. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. Apalagi beberapa foto. Pikirannya sudah mengatakan. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Bapak tidak ikut campur. setelah pikirannya tenang. kata Ibu. lalu berbalik dan pergi. pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri. Itu inisiatip Ami sendiri. kalau tidak. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu. karena kalian mau memakainya sendiri. Bu. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. Waktu Amat nyaris hambruk. kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi.” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. tetapi mengangkat kelewang. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar. karena tak kuat melihat kezaliman itu. coba Ami. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. dibuang. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan. rumah akan jadi keranjang sampah.” . Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. “Bukan karena polisi itu. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat. Tetapi aneh. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. Disaksikan oleh seluruh tetangga. dibuang atau diberikan kepada tetangga. Rumah ini tidak bisa dibagi. tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya.” Ketiganya mundur. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. kalau tidak. Tapi kalau dibagi akan hancur. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. Sekujur badan Amat gemetar. Amat baru menjawab. malah membuat mereka tadi tambah marah. Bapak sih tadi ngomong begitu.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

Pada 10 Juni. Dengan dalih menciptakan perdamaian. PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil. ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan. telah dimainkan di Tokyo. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. Cairo. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. Taipeh. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya . Singapura dan beberapa kota di Indonesia. Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”. Hong Kong.

A dll. Kyoto. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Teater bukan tujuan. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Kedua. Mohon dukungannya. Hamburg. Pertama. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . Pementasan sudah dilakukan di Tokyo.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. L. Brunei. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Bandit-bandit dihalau. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Hong Kong. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. tetapi alat untuk mengembangkan. tegas dan penuh desiplin. Middle Town. Cairo. menumbuhkan dan menemukan diri. Taipeh. → 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. tempat mengembangkan jati diri. Dengan keras. New York. Singapura. menyebabkan keamanan mulai pulih.

ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. membanjiri jalanan dengan motor. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. melahirkan busway. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. Tetapi apa yang sudah terjadi. ekonomi. adalah menyehatkan kehidupan budaya. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. bikin mono reel. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. Saya dengar sendiri semuanya itu. sudah tercatat dan akan bekerja terus. teknologi. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. Bang Ali kini tiada lagi. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Warga ibukota di masa Bang Ali. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Bang Ali menjadi sebuah contoh. tetapi lebih dari itu. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Pada 1975. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. Pimpinan dan rakyat lebur. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Betul sekali. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. Saya sendiri sempat kena getahnya. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. untuk kembali membumi pada akarnya. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar.”katanya. Mata mereka mengatakan. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. Pada setiap kesempatan yang baik. hasilnya nyata. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. Dia melahirkan “tradisi baru”. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. mencetak mall. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Memang keberadaan TIM kini. alangkah indahnya. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. karena setelah dua decade. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Tidak ada sensor dan kekangan. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur.

Kita kan sudah 350 tahun dijajah. seperti masuk ke dalam sanubarinya. bagaimana pendapat saya. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Tapi kalau tidak dibantah. Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Waktu Ami pulang dari kampus. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. “Ami. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. kontan membentak. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. “Merayakan kelahiran Panca Sila. sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor.dilanjutkan di plaza. Tak satu pun yang disembelih. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu. saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. tetapi karena sayang. Amat keramas dengan air bunga. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. “kata Amat pada Ami.” . “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. Amat mulai deg-degan . Jadi kita akan menghadapi bahaya. Amat melirik ke meja makan. Koran meributkan pertunjukan itu. “Tenang saja. Bapak salah perhitungan hari ini. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. seandainya saya Gubernur. Kalau belum nampak mesti kita cari. Sepanjang hari ia menyendiri. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. memaki-maki saya. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. “Nggak apa. Tapi tidak ada perubahan. Di situ ia kecewa sekali. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning. Ternyata tidak ada. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. Kalau tidak ada juga. kita sudah biasa menghadapi bahaya. Tenang saja. “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Sampai sekarang belum pulang. Kalau dibantah. Saya katakan pada waktu itu. Amat panik. mesti kita jadikan. tapi ia tetap hidup di hati. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.” Ami mengangguk tenang. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. lalu menggenakan stelan putih-putih. Kini kita sudah punya sebuah contoh. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Amat mulai tidak yakin. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Sore hari. Pak. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras.

Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning.“Tapi kita akan malu besar. Malam hari. kalau berani berbohong. turun ke jalan berteriak-teriak. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. mereka tidak akan apa-apa. Pak. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas. jarena itu mereka akan datang. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. menentang. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. di dalam diri. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. “O. Mereka suka. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. Makanya kalian semua cepat marah. Ami tersenyum. “Tenang. menggempur apa saja. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. Pak. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo. Bangsa kita kan jago memaafkan. Bapak mengerti sekali itu.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang.” “Habis kalau tidak dipikat begitu. jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa. Dibohongi sekali lagi. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. . bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. Mereka sudah biasa dibohongi. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. tetapi dikembangkan di dalam rumah. burger atau fried chicken. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. Ia gugup. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. Ternyata di depan. Sekarang akan tambah bukti lagi. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Ia merasa amat bahagia.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Lagipula kalau manusianya pembohong. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.” Amat tercengang. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza.

Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. Pak. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum.” “Kami sudah mencoba.” “Baca dong Pak. kami juga perlu demokrasi ekonomi. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung. sejahtera. bukan itu. Bapak saya yang suka wayang.” “Tapi kami perlu Bapak. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna. Beda sekali dengan dulu. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi.” Bung Karno tertegun. “Kamu kurang sabar saja.” “Itu namanya kurang sabar. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu. Kami sudah menunggu.” “Itu namanya demokrasi. Kami memberikan kesempatan. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda.” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi. Kami ingin makmur. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Yang kami dapat hanya pertentangan. Pak.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah.” Bung Karno tersenyum.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali. Pak.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali.” Bung Karno tertawa.” “Memang. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan. bukan menjadi lebih perih.” “Tidak.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya. kalau tetap ada mungkin sia-sia. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. tidak akan begini jadinya. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. “Apa itu? Aku belum pernah dengar. Seperti kata dalang dalam wayang.” “Lho Bapak katanya kutu buku. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Kalau Bapak ada. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. lebih dari cinta. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah. aman supaya kami tenang. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi. Pak.” .” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi.” “Memang. seperti pidato Bapak. Pak. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu.” “Tidak Pak. kepercayaan bahkan juga dukungan.

Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Semua anak diberi angka lima. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. menghadapi 20 angkatan murid. tapi hasilnya sama. Ami. Bapak harus pergi. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu.” Amat tertawa. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. tetapi hati mereka masih sama.” Amat tertawa. seperti di masa lalu. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Kadangkala ada tambahan gubuk. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary.. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . tangannya dipegang oleh Pak Amat. “Bukan itu. itu lihat sudah jam berapa sekarang. Dia jadi kesel.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi. kerbau dan burung atau pohon kelapa. Ami menutup matanya karena silau. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. Tapi waktu kembali ke mari. gunung dan matahari. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Karena cinta Bapak tidak akan kembali. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan.” “Ya siapa yang tidak. Tetapi ketika dia berbalik. Ternyata tidak ada yang berubah. Gedung. kita akan bisa bangkit. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. Selama 20 tahun dia mengajar. jangan hanya mimpi. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa. Juni kan bulan ulang tahunnya. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar.” “Tapi beliau bilang. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. Baru kalau kita bangga. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang. tidak bisa kembali. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Orang besar itu tidak pernah pergi. Sinar matahari menerobos masuk. Anak-anak mengadu. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. “Sudah siang kok ngelindur. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. Kalau tidak ada kebanggaan. tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Tapi hanya itu.

Pak Ary. gunung dan matahari. Ada pilkada. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini. ke desa kita ini. . Ini adalah hasil percakapan itu. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. Kalau mereka menggambar begini.” “Betul. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Saya dapat ide bagus. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme.” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.” Ibu Direktur mengangguk. Mereka berdiri di sepanjang pintu. Harga bensin naik. Itu juga sudah bagus. Bu. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah. Hanya membuat mereka tidak buta warna. dipamerkan di dinding sekolah. Dari dulu sampai sekarang. Setelah dilihat satu per satu. Kerusuhan di mana-mana …….”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Padahal mana ada sawah lagi di sini. sawah lagi. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Mestinya kan itu yang digambar. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Ibu Kepala Sekolah tercengang. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. supaya melihat kenyataan. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. tetapi guru-guru lain mendukung. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini.” Ibu Kepala Sekolah tercengang. “Mereka kebanyakan anak petani. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya.” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. “Sudahlah Pak Ary. Bu. Tidak berkembang. Ia lalu menjejerkannya di lantai.. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru. Ternyata tidak ada perkembangannya. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. :”kata Ary menumpahkan perasaannya. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer. Belum ada real estate.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur. sama saja. Semua sudah jadi perumahan dan mall. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas. yang digambar tetap itu-itu saja. Aneh sekali. Sejak listrik belum masuk. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Burung bangau waktu itu masih banyak. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu.” “Tapi Bu.” “Nah itu dia. Itu yang dia tunggu-tunggu. “Maaf. hanya menanggapi sambil lalu. “sejak saya mulai mengajar di sini.” Ary ingin membantah. Pak Ary. Ada isu pemanasan global. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Bu. Sudah banyak perubahan.” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. biar saja.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. Banyak korupsi. Saya kira ini baik sekali. “Sebenarnya begini Bu. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani.

Hati saya langsung terketuk. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. Tapi waktu dia melirik ke koridor. Mereka mengangguk senang. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. semuanya beres. semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. kandas.. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut.” “Jangan membantah. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. berantakan diinjak-injak. muka Pak Ary kelihatan muram. hidung. Bu. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” . Pak Ary pun terpaksa ikut. terbelalak. Rapih dan terkendali.muriod serta guru lain menunggu di luar. hatinya menjerit. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Dua jam kemudian ia siap. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira. Lalu ia menguji mulutnya berbicara. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. Ternyata ia memang sudah cukup tua. gedung sekolah ini masih layak pakai. “Jadi menurut hemat kami. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. Saya minta malam ini juga. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. ” kira sampai 5 tahun ke depan. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. Sehari sebelum tamu datang. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. Setengah jam kemudian para tamu keluar. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. kemudian tertawa. kaget. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. sementara ia sendiri dan murid-. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. “Dengan dia. Ketika Anna senyum. terkejut. Tiba-tiba anaknya muncul. heran dan sebagainya. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. Lalu ia mulai memoles. teringat kepada masa lalu. garis mata. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. bibir dan kemudian pipi. masih bisa dipergunakan.Di cermin nampak muka baru. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah. Tetapi malamn-malam.. melirik. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu.

” “Bibirnya tidak merah. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya.” “Kamu teman Mamaku?” “Ya. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja. “O tidak. Mama kan harus memberikan sambutan. Mama tidak akan mencium kamu lagi. Bukan dia yang membawa Mama pergi. . pasti bibir Mama juga akan merah. Di situ orangnya .” “Tapi Mamaku tidak cantik. “Kamu cantik sekali. ia kembali memandangi ibunya. Memeluk juga tidak. lalu berpaling untuk mengingat-ingat. kan?” “Betul.” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa. nanti Mama kesepian di situ.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah. “Lho kenapa?” “Nggak usah.” “Kasih da-da sama teman Mama.” “Baik. “Ini dia.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah. “Mama ikut?” “Ya dong.” “Kenapa?” “Sebab ……. karena nanti dadanannya bisa rontok. Aku tidak suka pipiku kotor.” Anak itu berpikir.” “Jangan hanya lihat muka.” Anak itu menggeleng. kalau sudah selesai dandan.” Anna tertawa.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin. Kalau tidak ada dia.” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.“Karena baju yang dipakainya juga merah. kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor.” “Harus betul. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik. Kalau tidak betul bukan sejarah. hati Mama cantik kan?!. Ya?” “Ya.” “Memang. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya.” “Makanya.” Anak itu kehabisan kata.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Dia justru yang Mama ajak pergi.” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah.” “Tidak. kalau begitu Mama berangkat sekarang.” “Bagaimana kalau tidak betul.

Tetapi setelah satu minggu. Pak. Pak.” Anna terdiam. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Para murid tercengang. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa.” Anna ketawa. apa sebenarnya missi Pak Ali. mereka akan bosan. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional.” “Donat?” “Nggak. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei).” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan. Makanya Mama selalu bawa dia.” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan.. karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.” “Memang. Kepala Sekolah.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak. kontan memanggil.” “Tidak bisa. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Beberapa hari pertama. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. “Aku tidak mau dibeliin lagi. Guruguru lain hanya pandang-pandangan.” . Mama harus ke sana memberikan sambutan. untuk seterusnya. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani. ia sempat menarik perhatian. ia ke sekolah memakai pakaian daerah. Kalau pekerjaan beres. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Pak. dipaksa oleh orang tuanya. “Pak Ali. Kan orangnya cantik. Kalau Mama sendiri yang datang.” “Katanya itu sejarah.” “Suruh dia saja. ia lupa itu pakaian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. apa?” Anak itu menggeleng. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. nanti Mama bisa beliin kamu …. “Tapi hari ini Harkitnas sayang. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. “Maaf Pak. saya tidak ada missi apa-apa. supaya pekerjaan Mama beres. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan.” Kepala Sekolah terkejut. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut. Di luar sekolah terserah Pak Ali. “Karena dia cantik. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Aku mau Mama di rumah. Baru ketika Kepala Sekolah menegur.” “Kalau begitu. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa.

ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru.” “Tapi ini pakaian daerah. Tapi ketika Ali mau masuk. “Saya sudah mencoba. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah. Pak Ali. Keplok tangan buat Pak Ali. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar. Tapi karena dilarang. “kata Ali kemudian dengan sopan.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag.” Ali terdiam.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. tetapi tidak mampu melaksanakannya. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Pak. “Maaf Pak. sehingga semua aturan itu mubazir.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian.” “Tapi ini sekolah. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. militer adalah biangnya. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. Kita pintar membuat aturan. “Aku guru. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. Pak!” “Sama saja. Kalau mau belajar desiplin. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti. Kedua belah pihak ditenangkan. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah. Dan itu caranya dengan memberikan contoh.” “Bukan. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. satpam cepat menghalangi. satpam langsung menahan. Pak!” Terjadi ketegangan. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa.!” Ali tercengang. sehingga guru-guru yang lain mendengar. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam .” “Maaf. esoknya. “Tentu saja tidak.Ali tidak menjawab. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti. Tapi esoknya. Pak. Pak Ali. Pak?” “Tidak ada. “Maaf Pak Ali. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Setelah semuanya reda. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Saya hanya menjalankan perintah.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. Meskipun tidak menjawab. Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. tiba-tiba ia ingin melawan. “Anak-anakku semua para pelajar. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. lalu menaikkan suaranya. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. Kepala Sekolah. Kalau di luar jam pelajaran. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai.” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah. Tentu saja ia kembali dipanggil. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya.

walau pun hanya bangsawan Jawa. “Lho. Nama itu bukan soal sepele. “Maaf. Itu namanya klenik. Dia itu hebat. Tokoh sejarah. biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. Sudah sampai di mana kita tadi. “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.” “Lho. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. Selamat!” Anak muda itu masih bengong. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Ia langsung menggapai. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. “Terimakasih Pak Amat. Amat kecewa berat. “Bapak keterlaluan!” “Lho. memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Bu. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. langusng menutupkan pintu lagi. kenapa bikin anak. anak saya sudah lahir. Siapa pun kamu sebut dia. “Lagi asyik-asyiknya. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. Jangan pakai nama itu!” . jangan hanya bergantung dari nama tok. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. Sebesar-besar Gajah Mada. dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada. Sementara Kartini.” Amat cepat berpikir.” Amat jadi salah tingkah. Saya belum punya nama. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. kalau dia dididik dengan baik. selamat dan sehat. tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini. “Tak usah nama yang muluk-mulul. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. Masak nama saja bingung. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. orang Sunda benci sama dia. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. mau bapaknya supaya jadi orang besar. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. “Kalau belum siap punya anak. Aku memberikan nama sembarangan. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. “Pak Amat. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. eh nyatanya cumakusir dokar. akan jadi apa anak itu kelak. periksa dokter. pasti lebih bingung lagi.. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Bu!” “Memang. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Hari Kartini baru saja lewat. Jelas. apa artinya nama. Nanti kalau beli susu. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu.” “Mendingan Gajah Mada. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. Bapak tidak tahu. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. ada saja yang ganggu.

Ketika anak muda itu pulang dari klinik. “Gus. Namanya bagus. Ia merasa bersalah. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” . kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat.”kata Bu Amat.” Amat bingung.“Tidak apa Pak Amat. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi.” curhat Amat malam hari di meja makan. asal nyeplos saja!.” Amat terperanjat. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.” Anak muda itu tertawa. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan.. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. “Nama Kartini itu bagus.” Anak muda itu terkejut.” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. lelaki tetap lelaki. Penulis itu mendebat.. “Boleh lanjutkan perjuanganku. ia langsung menyapa. What is a name. Dan manusia tidak ada yang sempurna. “anak itu sudah kaulan. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. kata RA Kartini. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak. “Sejarah harus diperbaiki kalau salah. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Hakekat perempuan tetap perempuan. Amat langsung mencecer.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah. Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan. “Aku kira dia tersingung dan menyindir. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. Kartini tadi datang menemui Bapak.” Anak muda itu tersenyum.

Dia mencoba minta bantuan pada Ami. besok bisa bilang begitu. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng. Pak Amat ditinggalkan.” Bu Amat mengernyitkan keningnya.” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. Sambil senyum-senyum. akan sulit untuk dikembalikan lagi. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. adalah yang benarbenar kejadian. Sekarang bilang begini. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik.” “Bagus?” “Ya. Semuanya yang itu-itu juga. apalagi bertolak-belakang.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja.. ” Tetapi berdasarkan fakta. penulisan harus dilakukan kembali. . Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. Kalau kita mau mengubah-ubah. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. “Kalau bicara tentang sejarah. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api. Buat apa percaya itu. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali. “Kok malah main mata. Ia masih penasaran. Sejarah itu. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak.” Amat langsung main mata sama Ami. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat.” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. hanya itu lho. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. “Atas dasar pikiran itu. jadi pikirannnya sinting.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. “Ibu ini bagaimana. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. “Ya dia rajin. mungkin faktanya ada yang keliru.”aku berpendapat. Bukan apa yang ditulis. “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. “Sejarah itu memang ditulis. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. Bapak sudah baca?” “Ya sudah. “Sejarah itu bukan yang ditulis. “Nggak apa-apa.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang. ini bukan sejarah. mengganti yang salah dengan yang betul. itu namanya bukan sejarah. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain. tapi mau merusak sejarah. kalau yang dia tulis ini tidak betul. keponakan kita itu. “Maksud Bapak. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk. Semuanya sudah terjadi. Sejarah itu tidak ada yang baru. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab. namanya juga sejarah. pantas dicurigai.” lanjut Amat.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. Kalau faktanya terbukti salah. Ami?!” “Betul. Amat merasa keki. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. Tapi ketahuan.

Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata.. teater rakyat.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh. Walau Jakarta lagi banjir. Bukan saja karena takut. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. Itu sudah seni laku. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. “Kalau dia keliru.“Jadi menurut Bapak. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang. Kita hanya tahu separuh-separuh. tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. tetapi juga karena ada kemungkinan. mengalami pasang-surut. Mereka begituj sibuk di tempat lain. jangan-jangan mereka benar. Langkah kecil pun menjadi kunci. walhasil hidup. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. Bu. Cintalah yang membuat orang sayang. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan. sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater. . karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Jadi …. mereka hadir. tetapi juga sekaligus benci. Ponakan kita itu. macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport.” “Maksud Bapak. Sebelum TIM berdiri pada 1968. “Bukan begitu. apa gunanya teater. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Didi Petet bertanya. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. Tak berani ngomong apa-apa. mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. tetapi . Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. memiliki seluruh wilayah tontonan. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. Study Teater 24 dan Teater Mode. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. Teater tradisi. meskipun keponakanku sendiri. di atas panggung. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. berdegup. Bu.. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Jantung Amat hampir copot. tanda sesuatu itu masih bergerak. teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan.

Ketika Teater Populer membangun p. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. Tetapi bagaimana tidak. Ketika Teater Gandrik. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. semua penonton terpukau. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. karena itu memang bukan diskusi. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. mengangkat citra ketoprak. Semuanya itu langkah besar. dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Tetapi rasa cinta. orang lupa menilainya. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Kemudian TIM berdiri. Itu memerlukan waktu. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. Teater sering memberikan PR. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. Dan sebagainya. tak harus dimulai dengan penampakan. Teater Kubur. Dia adalah rasa. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. level dan tata lampu. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan. Naskah-naskah teater mulai lahir. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. Tiga dasa warsa yang lalu. . Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. referensik dan interpretasi. Ada fasilitas. disadari atau tidak. Saya mungkin sudah mendramatisir. Ada gedung pementasan teater. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. Tak ada gedung khusus untuk teater. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). Kalau tidak. Itu adalah salah satu hasil konkrit. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Karenanya perlu perhatin.ublik teater. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Teater Sae. pada kehidupan tater kita lemah. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Tetapi sebaliknya. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat.banyak kendala yang harus dihadapi. Ketika Teater Payung Hitam. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. Tapi walau tanpa persiapan. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Teater hanya hobi. Ketika Teater Mandiri. Dan itu suka tidak suka. Memerlukan kesabaran. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. perhatian masyarakat pun terpecah. keduanya melakukannya dengan bagus. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. Sampai kemudian ATNI berdiri. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Ketika STB menggali idiom Sunda.

Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. Melihat Yel di Washington State. Banjarmasin. perenungan. Apalagi Bengkel Teater dengan W. kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. radio. Teater Populer dengan Teguh Karya. pemaknaan . Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. Surabaya. teater kembali kepada hiburan. membetuk model selera yang lain lagi. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Dan sebaliknya. memang bila harus diukur dari kehebohannya. Walhasil sebuah teater juga. teater jelas kalah. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. kekejian dan korban nyawa manusia. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. ketegangan. tak akan mampu disaingi oleh teater. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. Rendra. di mana-mana. Tak hanya kegaduhan. ceramah. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. misalnya. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. peradilan. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. 1990). Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. Apa yang mendorong itu terjadi. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Sebagai sebuah suara. teater tak akan berdaya. diskusi. Bukan hanya di TIM dan GKJ. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Masing-masing orang. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. Pramana Pmd. Djajakusuma). Teater yang keras. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing. teater sudah digelar. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. olahraga. kasar. sidang-sidang wakil rakyat. Khususnya sesudah reformasi. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. tetapi juga terselip penjarahan. televisi. demikian tulis salah seorang pengamat. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. perbedaan selera itu sudah ada. Suaranya pun masih ada. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. semua yang membungkam teater itu.S. angklung dan reog yang dicaplok. frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil. Situasi tertekan. di samping tak punya penyandang dana. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. di media massa. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond. Seperti terhadap makanan. Tapi jangan lupa. langkanya kebebasan berekspresi. adalah sebuah suara.

Teater Payung Hitam. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. 1968. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Teater Gandrik dan lain sebagainya. pementasan dari Teater Kubur. asal Anda mampu meyakinkan orang. Machbet dari Teater Populer. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. Hidup tak hendak. itu karyaku. musik).dan penikmatan seni rupa. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Ngeh dari Teater Mandiri. Mega-Mega dari Teater Kecil. FTJ harus direbut dan dipertahankan. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. segala yang pernah dicapai. Barat dengan seluruh pencapaiannya. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. Barjanji. Lho. lalu diganti dengan kegiatan baru. Kusumo. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . pementasan Aduh. Memang sayang sekali. Opera Kecoak. saya melakukan pembelaan. Setelah 35 tahun. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Dalam kenyataan. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. pementasan STB. Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. Teater Kecil. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. telah merangkul seni pertukangan. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. Odipus. Konsep tentang apa itu karya. Perkawinan Darah. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. Sebagai sebuah sejarah. tetapi mereka terus setia mengikuti . Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. mati tak ingin. Di dalam teater. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. tetapi referensi. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. pementasan Bom Waktu. Bengkel Teater. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata. Hamlet dari Bengkel Teater. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. Antara lain yang amat penting. pementasan Dongeng Dari Dirah. lalu menjadi FTJ. Jalanan pun bisa. apa yang sudah detemukan. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Sebagai akibatnya. Teater Sae. Sampek Engtai dari Teater Koma. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. pementasan Kapai-Kapai. PKJ TIM hanya pelaksana. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Teater Garasi. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . Metha Ekologi oleh Sardono W. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. terbengkalai. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. pementasan Jayaprana.

kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. akan-akan karena masih remaja. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Dalam dua kali gebrakan. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. pengemasan produksi. Komitmen ala kadarnya. masih ada riak-riak suasana tersebut. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. pengembangan. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. menjadi terus remaja. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat.festival. sudah menunjukkan kecendrungan professional. Kendati kehadiran Teater Indonesia. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Usahanya pun menjadi terbatas. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. sadar tidak sadar. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. misalnya. pengemasan pertunjukan. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. Study Teater 24 dan Teater Mode. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. Dalam kualitas. bergaul dan berbagi pengalaman. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. diolah kembali. Ini sebuah langkah yang sangat penting. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. tetapi kompetisi yang terbuka. volume dan angka. Tak mungkin hanya kwalitas. Di Jakarta sendiri. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. menghambat penjelajahan. juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Dalam sebuah keramaian festival. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. kompetisi akan lebih keras. Padahal sejak awal festival. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. hasilnya konkrit. perenungan. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. Di samping ada kompetis. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. pembelajaran. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . Kedalaman pun tak terjadi. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. seperti interpretasi. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru.

seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban. tidak lagi ingat kepada sesuatu.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan). sebuah seni pengelolaan (menejemen). FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. apabila itu menghambat. Bahkan kalau perlu menghindarkannya. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. sehingga seseorang menjadi alpa. Tetapi dalam kenyataannya. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. untuk menyudahai perkara. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. mungkin tidak lagi akan terjadi. Teater Koma dan Bengkel Teater. akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Seseorang mungkin memaafkan. Dengan melupakan. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). Penonton menjadi raja. Diberikan kepada kesalahan. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. Solidaritas. agar gerakannya semakin lincah. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. cinta . tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Di sisi lain. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. Untuk kerja besar dan berat itu. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma. yang memerlukan pembelajaran.yang professional. juga gagasan dan wawasan (ilmu). Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. misalnya. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. sayang maupun tak tega. Tantangan itu akan membawa suasana baru. Yang ada adalah pekerjaan. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. Uang akan menjadi sangat penting. gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. bebas tetapi terkendali. tanpa suatu ikatan yang ketat. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Di satu sisi. produksi tidak mulai dengan kontrak. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. karena didorong oleh perasaan kasih. meskipun atau . Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. rasa kekelompokan. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. dan sanggup main berhari-hari. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§. Teater akan hadir sebagai professi. Dalam praktek pergaulan. jitu. mengabdi dan mungkin dimaki-maki. namun tetap sebuah peguyuban. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. Uang bukan tujuan. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium.

dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Namun melupakan. prasasti. tidak lagi terbebani. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. tanpa ada perasaan rugi. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. padahal harganya tak ternilai. melupakan tak pernah mengampuni. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. apa yang salah. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. Dokumentasi tak diurus. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Tetap menuliskannya di dalam sejarah.. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. dikendorkan. Bergotong-royong. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Pada ujung-ujungnya. Tapi di pihak lain. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. sehingga ia bebas. tetapi oleh orang lain. belum tentu begitu maksudnya. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Di dalam peguyuban. hubungan kekeluargaan. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. tidak sebagai kesalahan. meskipun itu adalah fakta. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. jadi lebih baik melupakan saja. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. Demi persaudaraan. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. dilupakan sumber sebenarnya. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing. digemboskan. Masa pendudukan Jepang. Kita mengenal asas gotong-royong. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu.5 abad. Walhasil menghalalkan cara demi acara. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Dan karena sudah dikeroyok bersama. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. individu bukan lagi pribadi. Dan sebagai konsekuensinya. Tetapi di belahan yang lain. Sejarah adalah kita sendiri. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya.padahal. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen. tetapi satu paket dengan orang lain. Peristiwa tersebut dilirihkan. bila tak ada pernyataan secara formal. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. tapi hanya ingin melenyapkan. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. risih apalagi bersalah. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. konon adalah penderitaan berat 3. menolak kehidupan nyata.

timbul perdebatan. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. Tetapi berbeda dengan norma. tidak hanya mengandung pengertian. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. desentralisasi pun dipacu. Sementara kearifan lebih pada akal saja. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. tetapi justru penggganggu. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. pihak lain tegas . Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat.jadi penipu.tetap mengandung misteri. kembali dihidupkan. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. kata-kata itu dipergunakan. Kearifan lokal yang unggul.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. Kearifan yang yang tidak unggul. dalam keadaan bagaimana. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan. Apakah memaafkan dan melupakan. memang hanya dua. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. juga di mana. → 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir. Misalnya saja. Membohongi diri sendiri. terhadap pertanyaan tersebut. sampai ke masa yang akan datang. digantikan dengan keseragaman dari pusat. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. menjadi semacam falsafah kehidupan. pada semua kata. resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Satu pihak tegas menolak. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. . tetapi juga bertaburan rasa. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. kapan. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Memaafkan dan melupakan. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. juga awam pada umumnya. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. Sebuah kata. gemar cipoa pada orang lain. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan. Dalam alenia di atas. Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. tergantung dari konteksnya. Di dalamnya terkandung kiat.

Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense). Pak Alung. membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Petugas itu menjawab tegas. “dan atau” mengandung keraguan. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. tak bisa diperdebatkan lagi. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. Pak?” cecer Alung. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. Di alam resensi sebuah pertunjukan.minta diteruskan. ya atau tidak. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Karena keterbatasan juga berarti lentur. sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan . Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. sering sekali masih kurang siap. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. Tidak kecil dan tidak besar. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. tetapi juga secara hukum. yang saling bertentangan. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. Tidak laki tidak perempuan. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. misalnya. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. masih belum sempurna sekali. Atau tidak mampu menilai. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum. Semua orang. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. “Betul. Kalau ini benar. Ya dan tidak. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. supel “dan atau” fleksibel. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. dipastikan berstatus tertentu. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. menanam pohon-pohon yang sudah langka. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. tidak membedakan jenis kelamin pelaku . “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. walau pun itu bukan milik kita. Dulu di Ancol banyak. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . “dan atau” dipakai. Dalam alenia di atas. cukup baik sekali. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa.

Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. Kalau tidak ada ditanyakan.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. sampai tambah 3 kali. kedele melonjak harganya. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. Bayangkan saja. Masih ada sisanya. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. katanya. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya.” “Jajan apaan. Bu Ane ketawa. “Nah bener kan. karena tidak ada sisa makanan. Mukanya menghadap ke layar televisi. lelaki itu terus saja makan. Eh tahu-tahunya habis. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. Ani yang pulang telat. “Sudah jangan marah-marah. kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. “Dan kalau aku tidak tidur. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. Masak sayur lodeh lagi. tetapi ia tidur pulas. biarin saja habis. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. “Bu. “Dihabisin babe ya?” “Ya. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. bingung. Memang kalau terlalu serius tidak baik. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. sayur lodeh lagi.” Ani menggeleng. “Wah kalau sayur lodeh sih. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. tangannya memegang koran. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. nanti masuk angin. tapi kami nanti jadi langka. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi. Ibu kesel. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi. Karena sembari ngoceh. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. Kalau ada banjir. tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Ayo makan. seakan-akan sudah puas. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. lama-lama akan jadi pohon langka. aku juga tidak akan tahu. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Amat sendiri diam saja. “aku ini keturunan petani. Pak.karena diuruk.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. mana makanannya kok habis. segalanya bisa masuk dengan ramah. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. Maka arus air berubah.” . Dengan memakai humor seperti Srimulat. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. “Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Ibu sembunyikan. Para nelayan kehilangan nafkah. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. Begitu kelakuan anakmu itu. pasti akan langka.

“masak tiap hari sayur lodeh. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. lokasi. Bu Ane melirik suaminya.” “Nah. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. sudah malam. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri. Semua orang akan langsung mengopy itu. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” . Sekarang dia seperti orang ngidam. “Ya sudah. Ia jadi kasihan.” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. tidak selamanya baik ditonton.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. Mereka ingin yang terbaik. Ya tidak?” “Ya. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton. kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. seperti yang diakui oleh pembuatnya.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan.” “Habis. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu. niknat.” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja.”kata seorang pengamat. Tapi ngomong-ngomong. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya. Mereka adalah lapisan penonton baru.” “Memang apa yang baik dibaca. jangan tidak usah!” potong Alung cepat. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. Itu tidak betul. Kata-katanya yang indah. Ambil Bu. sejuk. Meskipun bukunya keluar duluan. Kendala waktu.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu. Mereka sudah lebih kritis. Ayo ambil!” Bu Ane ketawa. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. tidak keluar dalam gambar. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. biaya.” “Tidak. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak. sayur lodehmu sekali ini enak sekali. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. tandas!” Alung meneguk air liurnya. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. “Ambil apaan. Ah. nggak bisa dipakai ukuran menilai.” “Tapi gua bukan jenis itu.

Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. Orang yakin kalau Slamet meninggal. tetapi didorong kebiasaan. karena dia sudah biasa minum. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. Bukan mau menentang arus. biar puluhan kali cetak ulang. Bung Hatta. Kalau tidak bisa satu. Lalu Slamet berunding dengan istrinya. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. tertegun. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. pejuang kemerdekaan. Memang nggak doyan aja. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. “Bu. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Biasa-biasa saja. Semua bilang itu novel hebat. makanya dibuat film.” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. Kalau tidak ada sebbnya. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. Ia tidak langsung menjawab suaminya. Doi juga ikutan. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. tapi menurut gue.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. “Jawab dong. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. Jadi rasa tidak begitu saja ada. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah. . kamu tidak bakalan punya rasa. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. Orang bilang bir itu manis. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah.“Biar berjuta-juta orang memuja. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. Pak Harto. dimakamkan di luar makam pahlawan.

bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan.” “Ya apa pun namanya. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Mereka punya naluri dagang. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. sekolah kalian semuanya putus. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. Satu pihak setuju bapaknya. Pahlawan karbitan. Dia tidak mengerti apa mauku. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. kepada keluarga besar kita. yang lain kontra. aku menyerah. Bapakmu ini selalu ragu-ragu.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan. “katanya. Kendaraan tidak ada. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. Aku tidak. Masih ada Bapakmu ini. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. seperti teman-temanku yang lain. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang. dengan segala bintang jasa.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. tapi jadi pedagang saja. Pahlawan kesiangan. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun.” “Pak. Biar orang-orang itu melihat. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. mengabdi. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk. Akibat bapak tidak punya kedudukan.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. Kita tidak punya rumah sendiri.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya. Kepada ibu kamu. jangan sok membuang-buang kesempatan. Jadi Bapak sedih. tidak berani membuat keputusan. terutama berhadapan dengan ibu kamu. Untung ibunya datang dan langsung membentak. Pada kesempatan yang baik. Aku ini keturunan abdi dalem. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. Coba kritik bapakmu itu. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. “Jelek-jelek begini. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. ternyata itu tidak cukup. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi.” “Tapi aku bukan pahlawan. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. Anak-anak terpaksa menyerah. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. Kamu dengar itu di Bali. kok masih mampu menolak kehormatan .

ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan.” Bu Amat kecewa. “Bapak ini suka bertele-tele. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. tidak masuk surga semua. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Ami tidak menanyakan itu. Karma almarhum adalah ukurannya. Lihat itu Pak Slamet. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. Tetapi bukan lantaran menyimak. Media massa nanti pasti akan heboh. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. itu kan urusan di sana. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Dan aku menegaskan. Begitu maksudku. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. setelah perang Bharatayudha. tidak. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi.” “Ya sudah kalau tidak tahu. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Semua orang akan memuji. “Aku tidak tahu. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. ia baru menoleh paa Ami. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. Di sana. urusan di sana. Setelah istrinya masuk kamar lagi. Jadi …. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. Kita tidak mungkin ikut campur.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. lalu menjawab lirih. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. tidak menjadi ukuran. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . jawabnya. Besar kecil upakara. jawab tidak tahu. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk. “Ami. di dalam pewayangan diceritakan.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi. berlangsung spektakuler. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. karma yang akan menjadi ukuran. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. siapa saja. jangan salah sangka. “Bukan Bu. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. Tidak! Tetapi justru menambah.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. Amat tertegun. Yak kan?” Ami berpikir.

”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas .” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga. itu surga. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan. presiden Indonesia selama 32 tahun. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. surga itu di dalam hati orang lain.” Amat terkejut. “Begitulah kita di dunia ini. tetapi kemudian senyum. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. Mau betengkar bagaimana lagi. Amat hanya tertawa. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. “Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga.” “Harus setuju. kita sama-sama tidak tahu.”komentar seorang .” Ami kaget. Pasti tepat. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum. lalu masuk ke kamarnya. jangankan dunia sana.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto.” Bu Amat yang sekarang tercengang. karena tidak dibukakan pintu kamar. yang ada di dunia ini saja.“Ya karena aku tidak tahu. “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. sambung para petugas spontan. kecil ikannya!”.” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. Apa yang di sana akan berubah kalau. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. Ia menutup pintu keras-keras. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. Sebenarnya aku punya pendapat. sehingga Bu Amat kaget. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar. “Kita lupa. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang. lalu keluar. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. “Kata orang tua saya. “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa. adalah bapak pembangunan. Pak. “Betul. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya. tidak semuanya kita ketahui.” “Bohong!” Amat terkejut.

Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. terpaksa Franky dan ibunya pindah.pengamat. Upacara berlangsung megah. SMS lain muncul lagi dari Jakarta. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Malaysia. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. karena suka perempuan. Pensiun pun belum. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Hanya saja ia memang agak nakal. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. tetapi kalau mau obyektif. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. wakil presiden. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. Orchard Street. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. Dan kalau bapakmu memang baik. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Jepang dan Singapura sendiri. Di antaranya presiden SBY.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu.” Tapi setelah itu. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. layaknya kepergian seorang raja. mesti berani menerima. Ibunya hanya menjawab. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. Amerika. Kita boleh dan bebas berpendapat. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. Walhasil. Tapi ibu memaafkannya. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina.”kata Ibu Franki.” Franky melihat kembali ke layar kaca. “Tak pernah merecoki orang. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. “Manusia Indonesia pemaaf. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. untuk apa mendapat tempat yang baik. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. Tidak curang dalam soal uang. Franki termenung. “inilah demokrasi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Tak ada yang merasa sedih. terasa positip. Kalau kalah suara. Tidak. Entah siapa yang mengirim. Kalau bapakmu karmanya memang buruk. ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. “Bisa jadi ada cacadnya. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. Komentar dari orang awam pun ditampilkan.”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Keluarganya pun tak lengkap. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . meskipun keki. “kata Franki kepada istrinya. Sedikit sekali yang mengantar. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. karena memang itulah kelemahannya. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Upacara sudah berakhir. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal.

“Untuk apa lapangan badminton. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. Ibunya setuju. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. Coba baca. Dengan berolahraga bersama-sama. lalu masuk ke dapur.sauara . Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. . “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami. Sekarang semuanya itu akan berakhir. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Kalau Bu Amat sudah mendukung. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. Tak sampai satu jam. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. Pak. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Ia terduduk kelelahan. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. Amat marah sekali.”kata Amat berkali-kali. Dengan berat ia mengayunkan pacul.residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England. apa pun suaranya akan tenggelam. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola.

kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. Amat hanya tersenyum. Lebih banyak karena kecewa. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Kalau tidak. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. ketika ia mengalah. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. Jepang. kita bisa malu!” Amat takjub. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. sudah Pak. sekarang dalam tempo dua jam. Tapi mukanya menahan marah. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. malahan tambah menjajah. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tentang pemanasan global. Esoknya. “Sudah Pak. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. “Yah. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. pagi-pagi Amat sudah bangun. kita yang disuruh kerja. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. memandang dengan kecewa. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. “Bagus Pak. Amat mengangguk. karena sudah terlanjur. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Kalau pikiran kita hijau. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. Pak Amat. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Tetapi heran juga. Amat pura-pura tak mendengar. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. tidak apa. Sampai sore. padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. tetapi di d alam pikiran kita.. tomat. “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. Ia hanya menjadi tambah sedih. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Dia yang bikin rusak ozon. Sebelum Amat menjawan. anak muda itu mengangguk. hampir separuh lapangan sudah tergarap. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot.” Anak muda yang lain. anak-istrinya bukannya tahu diri. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. Lalu datang istrinya. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. “Sudah. Heran sekali. . kalau Amerika. lalu istirahat. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Sehariann ia termenung. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. Ia tak punya suara lagi di rumah. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. Dia tidak bisa ngomong.

telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Kelompok yang sudah hadir gemilang. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. ekspressi yang datar. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ). mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Yang akan tersaji hanya bentuk semata. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). antara tanggal 21 s/d 30 Desember. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. tetapi tak urung menjadi tantangan. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. . Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. Seno Joko Suyono.“Ya sudah. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. Yang pasti. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Jajang C Noer. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. harus bertekad untuk tampil maksimal. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan. Penataan panggung. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. Danarto. kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. kembali berkobar. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. gesture yang salah. sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. Radhar Panca Dahana. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses.

Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. volume suara tidak memadai. keras bahkan berteriak namun tidak jelas.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya. Namun di atas semua catatan-catatan itu. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. benar-benar harus diikuti. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. asal tetap sesuai dengan tema festival. Di sudut lain. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. sangat menentukan hasil akhir pementasan. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. Jakarta. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. tetapi juga pemimpin kelompok. membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. Selamat berjuang. sampai pada memilih naskah. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. peran sutradara amat penting. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. pola pemeranan. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Demikian catatan kami para juri. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. pilihan bentuk artistik. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. apakah itu naskah realis atau non realis. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. artikulasi kata-kata tidak jelas. PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. apakah itu komedi atau tragedi. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. Realisme ternyata tak pernah mati. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. Pemahaman terhadap naskah. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. Barat tetap menjadi referensi. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 .

Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. Tetapi di dalam hutan. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. baru dibawa ke Puskesmas. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. tidak ada gunanya. saya bedah mayat itu. Disaksikan keluarganya. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku.” “Makanya keluarkan ular itu cepat. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. HIV. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. sebab orangnya sudah meninggal. dalam bayi tabung. tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. tidak akan terlambat. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. karena saya dokter. Ketika sampai di Puskesmas. manusia tetap mati. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Dia itu kepala keluarga. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. “Pak Dokter harus tolong kami.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. itu tidak berlaku.” “Terlambat bagaimana. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . Biasanya pasien parah langsung diinfus. Kalau yang sakit sudah sekarat. sehingga ketika maut tiba. dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. Pada suatu malam. tidak bisa bayar. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. keluarganya tidak percaya. Bagaimana pembuahan di luar rahim. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun.

Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Saya rogoh saku. Paling berapa kilometer. apa itu itu artinya lumayan.” “Ah. . tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. tidak cuma ngobrol. Lalu saya buka pintu.. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. ” kata saya menunjuk pada mayat. berhasil atau tidak?” “Berhasil. Dukun pun terus menjalankan upacara. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib.. Bilang saja terus-terang. Ada yang menangis. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya. Dukun sendiri malah mundur selangkah. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Pagi-pagi pintu digedor. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. jangan terlalu banyak diskusi. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kalau Dokter cepat bertindak. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Saya bingung. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Mereka semua nampak bimbang. Wajahnya meringis kesakitan. berdoa dan menyanyi. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu. ingin tahu apa hasilnya. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar.” “Terus hasilnya?” “Itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat. tapi tidak ada yang mau. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. kau lambat sekali. Saya terpaksa menjadi dukun. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. tak percaya apa yang saya katakan. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu.” Mereka tercengang. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya.

minta agar saya mengobatinya.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. yang lain menghampiri mayat. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu. Sampaikan kepada mereka. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. tenang semua. dengan bahasa yang mereka pahami. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Tidur untuk selamanya. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu. muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. Termasuk cincin pemberian ibu saya.. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Pada suatu malam. Kalau saya tolak. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. bisa jadi konflik. . Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Setelah dukun mengeluarkan mantera. berikan ini kepada istri. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. sekarang sedang tidur. Mereka curiga. kalau saya runtuhkan lagi. berubah menjadi pengurus orang mati. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan.” “Tidur?” “Ya. saya langsung kelelap. Beberapa orang menyanyi. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu. atau apa sajalah namanya. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Mengulur semacam pelipur. lantaran saya sama sekali tidak siap. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. Begitu kejeblos. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Badannya penuh dengan luka parang. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Setiap kali mengobati mayat. karena saya sudah terlanjur dipercaya. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya.” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan. Diendus-endusnya dari jauh. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. karena aku sudah lelah sekali. Bahkan sampai tiga kali. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. “Kata dia sebelum tidur. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. ia menghitung. mereka lalu bergerak.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan.. bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. Tidak. biarkan aku istirahat sekarang. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. mengeluarkan duit.

tapi cintanya palsu.. Dokter. sekarang menghajar saya. tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. “. Otaknya rusak juga tidak apa. tapi nyawa tidak mungkin. kami semua akan mati. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. boleh mati karena wabah penyakit. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya.” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Mereka pasti akan kecewa sekali. Bapa saya itu raja. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. Kalau dia mati. boleh kocar-kacir karena kebakaran. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. “Kalau satu hari tidak cukup. Banyak di antaranya yang terluka. gempa. Saya benar-benar cemas. kami bisa tunggu. “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan. kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian.” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul. Saya sudah berpurapura jadi dukun.” “Kami tidak mau hanya usaha. agar bisa nyambung dengan masyarakat. “Kehormatan buat kami paling penting..” “Saya sudah berusaha. karena kalau sampai dia mati. banjir. Apa artinya orang-orang ini. Kepalanya bisa saya sambung. Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi. tetapi mereka tidak peduli. tetapi ternyata tidak cukup. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. “Sebelum perang. Dia cinta kami semua. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. longsor atau letusan gunung berapi. Bapa saya itu lambang. Itu mustahil. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Tolong hidupkan Bapa kami. Kami mau ada hasil!” “Tapi .Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Lebih dari itu. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab. “kata putra kepala suku. Subuh. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak . Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. asal hidup. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. asal dia bisa hidup lagi. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. Saya bingung. berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu. Kami semua ada karena dia hidup. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya.

Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. hangat nafasnya membuat saya tersiraf. Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Tiba-tiba saya melihat peluang.”kata Kleng berkoar di jalanan. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Di laci. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Namun Kleng. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. daripada membela kebutuhan rakyat!” . tetapi cepat saya gapai lagi. itulah satu-satunya pegangan saya. Saya gemetar. ada orang sakit yang mati. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat. pesan orang tua saya waktu kecil. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Tapi ajaib. Saya bukan lagi dokter. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Mukanya langsung keruh. Dengan panik. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. seorang penduduk di wilayah Ciputat.mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Masyarakat marah melihat para pemimpin. Kalau saya harus mati. supaya musuh dapat diberantas. . tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Saya genggam besi itu. Lutut saya tambah lemas. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Saya tak sanggup lagi bicara. saya menyerah. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. Sedetik hening. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Tetapi kemudian semua meledak. tidak. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. Lalau entah darimana datangnya keberanian. tidak terkabul. Orang-orang lain pun tegang. kalahlah dengan indah dan gagah. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Anak kepala suku itu menghampiri saya. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. bersorak gegap-gempita. mungkin akan jauh lebih berguna. saya tidak mau mati terlalu konyol. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. “Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. Harapan saya ada gunting. Teriakannya membuat semua terdiam. Kalau kalah. Mereka melolong seperti binatang liar. Anak Kepala Suku tertegun. saya berbisik. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab.” Anak kepala suku itu kaget. Dan itu berlangsung lama. Saya ketakutan. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. pisau atau barang tajam lainnya. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Sejak itu bukan orang mati. tetapi terutama kasih-sayang. Besi bendera itu terlepas. “Pahlawan tidak pernah mati. Apa pun yang akan terjadi. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.

Saudara boleh pulang. Sekarang karena sudah jelas. Kleng bingung. siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat. Ia nampak bengong. Kemudian dia menggeleng. Sudah cukup. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak. Kalau ada kesalahan.” . kemacatatn jalan raya setiap hari. “Lho saya boleh pulang?” “Ya. agar kalau ada pertanyaan.” Kleng tak bergerak.” “O ya?” Petugas itu mengangguk.Esok harinya. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya. Pak. Kecuali kalau ada yang lain. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau. rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir. Kleng dipanggil ke pos polisi.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul.” “Berarti saya bebas?” “Memang..”. “Silakan. kejahatan birokrasi yang semakin licin.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang. kami bisa menjelaskannya. Kemudian dia berbicara dengan temannya. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul. Tapi itu bukan teriakan-teriak. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua. sudah cukup.” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul. “Ya.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin.” Petugas mencatat. korupsi. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu. “Tidak. “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir. bukan rakyat yang salah. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat.” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes.

Tanpa kepribadian. Kalau semua orang seperti ibumu itu. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek.” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan.” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu. pejabat-pekabat kita tidak peduli. Pak Amat ingin menyepi.” “Tidak ada tetapi. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. Tapi saya tidak mau. reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang.Kleng menggeleng. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya. Rasa Sayange. tidak tidur dan tidak makan dan minum. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati. untuk membunuh Niwatakawaca. masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. sebab aku masih ingat. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. keroncong. pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Baru kalau kepalenya sendiri digondol. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa. Begitulah manusia. meskipun dipelihara. menghayati kembali apa itu Indonesia. masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. . “Ah kalau cuma maunya itu.” Petugas mau mencatat. Nanti jawaban satu nusa.” Amat tak bisa membantah. perpecahan. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia. “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan ……. kurang waspada. seakan-akan itu bukan urusan mereka. Ya bukan hanya Ibu kamu. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. kita semua manusia begitu.” “Hanya itu?” Amat berpikir. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. akhirnya ia mengomel pada Ami. bukan semua kita!’ . Kamu sendiri sering bilang. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya. ada tiga sekaligus hari ini.” “Iiih kebangetan. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan. Ami. tapi …….” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis.” “Lho ini kenyataan. tempe. Makin lama. Bapak juga. sama saja dengan kendaraan. tidak usah susah-susah bertapa.” Bu Amat tak sabar.” “Ya saya tahu. Yang pertama protes adalah Bu Amat. Lihat saja ketika hak cipta batik. tetap saja makin tua makin merongrong. “Saudara boleh pulang. Benar tidak?” “Kalau itu memang. saya dipanggil. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila.

Ia marah. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. lalu keluar. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. untuk melerai. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Mula-mula Amat tidak mau. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak. Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. sekarang perutnya keroncongan. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. tetapi siksaan. Ia sudah menghunus parang. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. apalagi pintu rumah diketok tetangga. Ia dengarkan keluhan keduanya. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. Amat selalu dianggap sebagai kunci. Masalahnya sama. jadi lebih sering ngelayap. Tetapi sial. Sudah lewat tengah malam. Ia lebih banyak menyesali . kata-katanya juga sama. ada empat acara pernikahan. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Biasanya kalau Amat datang. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal. Ami juga sudah pulas. mulai kesal. baru hendak melepas baju batik. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Dari pagi hingga malam . Tidak ada apa-apa di situ. Amat kecewa lagi. begitu membuka tutup nasi di meja makan. seperti kambing congek Amat salam-salaman. kemudian perdamaian dimulai. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Ia manjakan istri dan anaknya. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tempatnya berjauhan. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Tapi ternyata bukan tiga. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. ketika Amat masuk ke dalam rumah. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi. karena kesal melihat ulah suaminya. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Pulang ke rumah. badannya rasa hancur digiling. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir.“Ah sama juga. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. Begitu tamu pulang. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. Sampai di rumah. Ia tidak pernah marah. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Tidak pernah menuding orang lain. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi.. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. Untung Amat tidak terlambat. Tinggal Amat sendirian. tetapi kakinya hampir copot. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Amat dengan sabar melerai. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. Coba kritik Ibumu. tiba-tiba datang tamu. Itu bukan silaturahmi lagi. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Tiga jam semuanya baru terkuras. Air matang pun habis. Bu Amat tersentak bangun. kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. gembos dengan sendirinya. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. langsung minta Amat keluar. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. tapi ketika terdengar suara perkelahian.

Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Aku ternyata sendirian. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. Baru beberapa menit duduk. Bahkan ketika mulai punya pacar. bapakmu kan memang maunya bertapa. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. “kata Ami. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. aku sudah merasa cukup lega. Lalu Amat tersenyum. Amat duduk terhenyak. seperti seonggok kayu yang tumbang. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam. “Aku tidak lulus. ia masih saja cengeng. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Bapak kok tidur di luar. keluar ke teras. pengalamanmu semakin banyak.”keluh Amat. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. “Apa?” “Ah nggak. sepi. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. Aku tidak mencari panah Pasopati. Tapi tak bisa. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Biarlah tak ada yang mencintaiku. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Setelah menangis dalam. untuk dikeluarkan lagi nanti. Kelihatannya sangat nikmat. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Tiba-tiba mendesak rasa haru. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Ia tidur mati. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Ibu terus saja pura-pura tidur. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa.” “Kenapa!” Amat tertawa. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. menahan perasannya.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. “Sebab aku bukan Arjuna. Ia menjadi seorang anak kecil kembali.” jawab Bu Amat. asal masih ada kamu yang menyapa. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Kasihan pada dirinya sendiri. Kemudian datang malu. terhanyut begitu jauh. Amat bangkit dari kursi.” Amat membuka mata.kekurangannya sendiri. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. ” tapi apa boleh buat. Tetapi ternyata balasannya tak ada. Tetapi setiap kali tahun baru. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Tanpa seorang penonton. Amat menangis. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Sekeliling sepi sekali. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar. Amat merasa lebih lega. Setua sekarang usianya. sebagaimana biasanya. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. kesal. “Ya hanya kamu temanku. “Kasihan Bapak. Usiamu bertambah. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . “Aku bertapa. ” bisik Amat dalam hati. Tidak dingin?” Amat menggeliat. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Lampu kamar belum dimatikan. Ia memandangi istrinya lama. “Ya. Amat merasa dinina-bobokkan. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. jadi waktu semalam ia masuk kamar. “Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Malam bagai mendengar.

Untung saja Ibu memaksa aku kemaren. bangun tidur. itu tidak penting lagi. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Kalau tidak. “Tidak ada.” Amat bersenandung mengikuti lagu. kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Rumah nampaj berdandan. aku ingat.” “Ya. pacaran lagi…….cemburu buta. Kopi panas. Juga ada buah-buahan. “Minum saja dulu. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu. “Ya.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir. Ibu memang beruntung. tetapi karena kita tidak tahu.” “Untung?” “Ya. Jadi karena takut mengganggu. Akhirnya ia menghampiri meja. Bu Amat dan Ami nimbrung. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia. buta dan merindukan yang lain. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya. Amat lalu masuk ke dalam rumah. akibatnya kita jadi tidak peka. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. Arjuna kan doyan kawin. Meja makan memakai taplak baru. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab.” “Bapak lupa. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan. Kemudian ia meraih pisang goreng.” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya.” “Tapi aku belum mandi. justru bangun-tidur minum itu sehat.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. “Cukup gulanya. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan.” Amat ketawa malu. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. . Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. karena Bapak bukan Arjuna. “Aku untung kalau begitu. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur. Matanya terpejam karena nikmat. Untuk apa bertapa. menarik kursi lalu duduk. . “Boleh.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. aku tidur di luar.” Amat hendak terus ke kamar mandi. Kamu nampak lelap sekali. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Tetapi begitu sampai di dalam. ia terkejut. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. “Ah sudahlah. Pak.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.

“karena terlalu sering didengung-dengungkan. betapa cantiknya hari itu. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa. “Astaga. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. buta.” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja. “terimakasih.. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. Amat terpesona. “kalian sengaja melakukan itu. yang bebal. “Sudah dibatalkan.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS. di depan sejumlah ibu kampung.“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng.”kata Amat seperti disambar petir. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini. hari ini tidak usah. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan . apa yang mereka lakukan. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.” Amat menggeleng tak mengerti. “Kan sudah kemaren. “Lho bukannya. Dulu siapa yang mengidap AIDS.”bisik Amat.” Tiba-tiba Amat terpagut.” kata Ami memberikan ceramah. khususnya di kalangan kaum homo. Tranfusi darah. alah bisa karena biasa.” Amat terkejut. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren. “Terimakasih. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain.”lanjut Ami menyambung ceramahnya. tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.” Amat mengernyitkan dahinya.” “Tapi sesuai dengan pepatah. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya.

“Kamu bilang begitu?” “Ya. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang.” Mata Amat semakin membelalak. “Apa ceramahmu gagal. Tanpa kedudukan. Moral kita sudah jatuh. 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. . “Mereka bilang begitu?” “Ya. Semuanya mengucapkan selamat. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan.” Amat terkejut. “Wah. Sekarang malah diundang berceramah. yang nomor satu ditakuti. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah. Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. “Sekarang yang paling berbahaya. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. tidak punya harga diri. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. yang paling mengancam kita. tetapi kehilangan otak. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level.dengan masyarakat. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. bukan lagi AIDS. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. juga kehilangan kesejahteraan. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami. Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. tetapi tetapi seluruh bangsa. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. tidak peduli kepada kemanusiaan. tidak punya rasa malu. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. kalau dalam usia semuda kamu. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. orang akan bangkrut dan mati. “Aduh. Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir. bukan lagi HIV. yang belum menikah.

kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu bergegas keluar. Ternyata benar. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. isi ceramahmu bagus sekali.cantik lagi. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Ami kebingungan. Bukan hanya ibu-ibu itu saja. benar juag komentar ibu-ibu itu. “Kalau begitu. mereka tak mampu mengucapkannya.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan. pujian mereka kepada Ami. “Kenapa Ami. Hanya saja karena orang sederhana. untuk mendengar sendiri secara langsung. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. bukan yang kamu katakan Ami. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Bapak juga sama saja. ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik.” . AIDS sudah dianggap enteng. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful