Valentine

Posted on13 Februari 2010§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit. “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar. Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes. “Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!” Ami dan ibunya tidak peduli. “Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!” Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah. “Ke mana Pak?” “Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh. Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang. “Mau ke situ juga Pak Amat?” “Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?” “Kan hari besar pak Amat.” “Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?” “Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?” “Lee?” “Ya” “Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?” “Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.” “Ah, mau cari makan ni!” “Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!” Tukang sate itu menstater motornya. “Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!” Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee. “Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget. Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat. “Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!” Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik. “Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut. Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee. Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya. Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika

pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee. “Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat. Tukang sate ketawa. “Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.” “Kenapa?” “Pasti malu,” “Lho kenapa? Kan silaturahmi?” “Nanti dikira cari Ang Pao.” “Ang Pao?” “Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!” Amat terkejut menerima amplop itu. “Untuk saya ini?” “Ya untuk pak Amat.” “Bukannya untu di situ saja.” “Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.” Amat tertegun. “Gimana? Apa untuk saya saja?” Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham. “Gimana pak Amat? Untuk saya saja?” Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying. “Ini tradisi mereka ya?” “Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?” “Tapi ini tradisi mereka kan?” “Betul pak Amat.” “Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?” “Betul.” “Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.” “Tapi amplopnya untuk saya kan?” Amat menggeleng. “Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.” Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira. “Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?” Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah. Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat. “Lho tidak ikut valentine?” “Nggak ada baju pink.” “Beli saja!” “Duitnya dari mana?” Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami. “Nih. Lebihnya untuk Ibu.” Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak. “Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat. Ami diam saja. “Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”

→ 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag valentine§ Pendet§
Posted on24 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 22 Komentar§ “Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentangmentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”. “Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya. “Sabar?” “Tenang! Kita harus menyikapi semuanya dengan bijak.” “Bapak masih mau bijak padahal sudah habis-habisan dibajak?” “Ya, tapi coba lihat dari segi positipnya. Itu kan hanya iklan. Katanya yang buat bukan orang setempat tapi dibuatkan oleh apa itu namanya, Discovery Channel?” “Siapa pun yang membuat, tapi itu kan dipakai sebagai promosi negara? Negara mesti bertanggungjawab. Kecuali kalau negara menganggap perbuatan mengklaim punya negara lain itu bukan kejahatan. Itu namanya negara pencuri!” “Stttttt ! Tenang Ami. Jangan cepat darah tinggi! Coba lihat segi positipnya!” “Dalam kriminalitas tidak ada yang positip!” “Ada! Dengerin! Justru itu bagus. Karena turis yang dipikat untuk pergi ke sana, lama-lama akan tahu, tari pendet itu rumahnya bukan di situ, tapi di Bali. Kalau mau nonton pendet, jangan ke situ, tapi ke Bali. Nah, jadi itu kan iklan gratis buat kita? Promosinya dia yang bayar, manfatnya kita yang sikat!” Ami melotot. “Bapak sudah kena virus kapitalisme! Apa-apa selalu diukur dari kepentingan dagang. Persetan dengan keuntungan! Parawisata tidak berarti kita menjual kehormatan! Harga diri harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan! Bangsa yang tidak punya harga diri lagi, adalah bangsa budak? Bangsa kelas kambing! Ekonomi kita memang lagi berantakan, pamor kita juga sedang pudar, rakyat kita miskin hanya makan tempe dan tahu, tapi tidak berarti kita akan diam saja kalau diinjak. Sekarang baru tarian dan lagu, lama-lama kepala kita akan diambil. Kita sudah merebut kemerdekaan dengan revolusi berdarah, bukan dihadiahkan seperti mereka. Kita harus bertindak sebelum terlambat!!” “Tapi tari pendet kan sudah lama kurang ditarikan lagi, Ami. Untuk menyambut tamu, sudah ada tari-tari baru yang diciptakan. Untung ada iklan itu yang membuat kita jadi ingat kembali tari pendet. Kita harus bisa mengambil hikmahnya. Kalau tidak ada klaim Malysia atas tari pendet itu, kita mungkin lama-lama sudah lupa!” Ami bengong,. Ia melihat bapaknya seperti melihat hantu.. Hanya matanya yang memancarkan amarah yang sudah tidak tertahankan. Kemudian tanpa menjawab sepatah, pun, dia langsung pergi. Sampai malam, ia belum kembali. Hanya pesannya di atas secarik kertas muncul, diantar oleh temannya. “Ami nginap di rumah teman!” Bu Amat kontan melabrak suaminya. “Ini gara-gara Bapak!” “Gara-gara aku?” “Ya! Bapak salah!” “Salahku apa?” “Bapak melarang Ami marah sama Malaysia!” “Aku tidak melarang, tapi ..

Tapi harus ada yang marah. nanti kepala kita akan diambil!” “Jangan melebih-lebihkan begitu. Karena kalau presiden marah. Masak diam saja. “Bapak tidap perlu minta maaf. Tapi kepentringan Ami tidak ada artinya dengan kepentingan negara. Jakarta 23-8-09 → 22 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pendet§ Rendra§ . Tidak baik anak perawan sebesar kamu nginap di rumah orang. mantu tetangga kita. kalau kita diinjak-injak. Kalau begitu kamu dewasa Ami.” Ami mengangguk. Kita bukan bangsa penjahat!” Amat tertegun. “Jadi kamu mengerti. Nanti kita bisa berkelahi dengan tetangga. tapi harga diri bangsa Indonesia!” “Tapi bagaimana kalau dia tidak peduli?” “Itu dia! Memang mereka tidak pernah peduli! Mereka selalu menganggap persoalan kita adalah persoalan sepele. Kan sudah berapa kali kita dihina. Kalau mereka dengar. Ini bukan hanya masalah tari pendet. Meskipun Ami punya banyak teman-teman di Malaysia yang akan kaget karena Ami marah. mengapa Bapak bersikap bijak?” “Mengerti sekali. Bapak bangga sekali. anak kita marah-marah sama Malaysia. bisa terjadi perang. kata Ami. dia pinjam sepeda tetangga dan menjemput Ami.” “Biarin! Lebih baik berantem sekarang. Kalau tidak. Jadi Ami harus marah. bukan hanya masalah orang Bali. orang Malaysia itu akan tidak percaya bahwa kelakuan negaranya sudah membuat harga diri bangsa kita tersimnggung. Itulah yang membuat Ami darah tinggi!”kata Ami sambil menutup pintu keraskeras. Dengan menekan perasaan. meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. “Ami. sekarang baru tari-tarian. kalau kita diam saja.” “Memang itu maksud Ami! Makanya dia latihan pidato keras-keras di rumah. Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga. Umpama seorang presiden dalam sebuah negara. Bapak memang sudah sepantasnya bersikap bijak. Sekarang mari kita pulang. tapi jangan sampai memakimaki begitu!” “Kenapa tidak.“Tapi melarang!” “Memang. “Sana jemput Ami dan minta maaf!” Karena Bu Amat begitu serius. untuk mencegah jangan sampai kejahatan itu berubah menjadi kebiasaan. “Bagus. daripada nanti kalau sudah dendamnya makin banyak!” “Kalau begitu namanya tidak bijaksana. Bapak tidak boleh ikut marah. karena kita adalah bangsa yang santun. Amat menyerah.” “Tidak. Karena ngomongnya sudah tidak karuan. sopan dan santun itu ada batasnya. Boleh marah.” “Kenapa?” “Karena Ami marah. Itu sebabnya Ami marah.” “Ngapaian bijak. Bijak. bisa-bisa mantunya tersinggung. Cukup Ami saja yang marah! Ini masalah strategi!” Amat manggut-manggut.” “Bapak minta maaf dan pulanglah. Bapak tidak usah minta maaf. Biar mereka dengar hati kita panas!” “Tapi nanti kita malah berantem dengan tetangga. Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati. sama juga dengan budak. Bapak disuruh minta maaf oleh Ibu kamu dan harap pulang. jadi kita harus menghormatinya. Apa kita ini budak?” Amat terdiam. Lagipula kita kan punya tetangga yang mantunya orang Malaysia. Betul.” “Tidak. karena tetangga kita mantunya Malaysia. Kalau Ami pulang.

yang dalam perjalanannya menembus zaman sudah dititipkan oleh kekuasaan dan tangan-tangan jahil. asal jiwanya tetap jiwa yang alami. Bahkan itu perlu bagi orang kota yang sudah habis-habisan terkena polusi. “Betul! Makanya dia dinamakan Burung Merak!” Bu Amat bergegas datang. Mempertahankan tradisi itu. si maniak kopi.” ‘Tetapi kenapa bidan Bengkel Teater yang tersohor karena ciptaannya yang bernama teater minikata itu. tersimpan niat yang mulia. mas Willy sudah membuat kebudayaan jawa kembali pada kearifan lokalnya?” “Persis!” “Almarhum membuat kebudyaan jawa menjadi dinamis?” “Betul Pak Amat. buku Nagara Kertagama. pasrah. Dalam sebuah wilayah lengkap dengan sawah serta kolam. Dengan memberikan tafsir baru. “Sabar Pak. aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman. bukan kulitnya. tapi isinya. Bahkan memiliki sebuah pemakaman keluarga yang juga terbuka bagi para seniman. Si tak gendong-gendong: Mbah Surip Karena ia mengambil tafsir baru. Ia menghuni sebuah kawasan luas di pinggiran kota Depok.” “Apakah itu yang kemudian menyebabkan Rendra. Menampik budaya kota. Ia kemudian mencecer. “Maksud Bapak. mirip sebuah sumpah. yang membuat telinga merah. Dan kepergiannya dihadiri oleh ribuan orang yang mengalir memadati seluruh pelataran kawasan Bengkel Teater sehingga membuat jalanan pun macat. gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. tak seenak perutnya ia bisa menilai jawa yang begitu dihormati oleh semua orang. Hidup di kota pun penting. Ia berseru.” Amat terkejut. malam Jum’at. Prambananan. Ia ke Jakarta untuk menyelamatkan Jakarta!” “Mas Willy. ia akan terus bertahan di Yogya. Kebudayaan Jawa yang tinggi. Telat satu menit saja sudah main pukul meja!” kata Bu Amat meletakkan kopi . tidak kemudian menjadi manusia terkutuk yang dikeluarkan oleh orang yang merasa dirinya orang jawa. rohnya yang bernama kearifan lokal bersinar kembali dengan gemilang!” “Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo. Tak sabar.Posted on8 Agustus 2009§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ “Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an. menjelang bulan Ramadhan.” “Kenapa? Karena ternyata di balik kata-katanya yang pedas. kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu. Ia justru mengeluarkan seruan yang mengejek para seniman yang sudah ramai-ramai hijrah ke Jakarta. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. “Banyak orang tersinggung dan kaget. Ia bahkan mendapat kemulyaan di malam purnama yang indah.” “Seperti desa-kala-patra bagi orang Bali?” “Itu maksud saya! Seratus untuk pak Amat!” Amat terpekik. Mentang-mentang baru pulang dari Amerika. berjanji. “Yes!” Tak puas hanya memekik. hidup dekat dengan lingkunganserta alam. Di situ terbaring maestro piñata artistik Rujito dan miskus yang melejit tiba-tiba menjadi sebuah legenda. Dia ingin membebaskan tradisi dari virus-virus jahat. Ia memandang orang yang bicara di di layer kaca itu dengan mata tak berkedip. begitu panggilan akrabnya. di balik apa yang dimaksudkannya dengan kebudayaan kasur tua. bagaimana mungkin hanya sebuah kasur tua?” “Burung merak dari Solo yang lahir pada 1935 itu kemudian dianggap sebagai orang gila yang besar mulut. Ia ingin membebaskan tradisi dari asesoris dan muatan temporer yang membuat tradisi menjadi beban berat dan menyiksa bahkan melukai para pewaris. Ia ingin mencuci kembali tradisi. alias tidak melempem. ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis. sabar. tetapi bernas. Amt kemudian menggebrak meja. melempem. tiba-tiba kemudian boyongan ke Jakarta. penyair Ballada Orang-Orang Tercinta itu kemudian diusir dari Yogya ke Jakarta? Tidak. mengejar nama dan duit. ia membuat seluruh kebijakan. sehingga esensinya. Sama sekali tidak. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot. Arjuna Wiwaha dan sebagainya itu. Dan hadir untuk menunjukkan eksistensi pedalaman. berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur.

karena almarhum sendiri sudah tidak sanggup berkata? Orang-orang yang berbicara di televisi itu semua begitu. Itu ada tembak-menembak dengan teroris yang diduga Nurdin Top! Bukan maunya orang besar saja yang harus diperhatikan. Apa salahnya kita menafsirkan apa yang akan dikatakannya. dengan semua perbuatan. main drama seperti pemain-pemain sioentron itu.melanjutkan. “Itu namanya penafsiran. Itu memang kataku.” “Memang. Ia seorang pahlawan!” Bu Amat nyeletuk. karena tidak mengoyomi rakyat dan memikirkan kesejahteraan bangsa. Mas Rendra mengajak kita untuk berani berkata jujur. kontan buyar. Ami mengangguk acuh tak acuh. Dia pasti lebih senang lepas-bebas di dalam masyarakat. di Jakarta. Betul tidak?’ tanya Amat kemudian kepada Ami ketika Ami kembali dari kampus. tindakan serta pemikirannya. bersikap kritis kepada penguasa yang sudha bertindak sewenang-wenang. rendra§ BOM§ Posted on20 Juli 2009§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 5 Komentar§ Giliran Amat menangis di depan televisi. Ayo sekarang ganti channel tv-nya.” “Itu kan kata Bapak!” Bu Amat kemudian ngeloyor kembali ke dapur. Dia itu pantas mendapat bintang Maha Putra!” “Betul. “Ya itu kataku. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara. Mbah Surip dan Mas Rendra. “Kalau dia memang pahlawan. setelah orangnya tidak ada? Apa salahnya akuyang akan mengatakan apa yang hendak dikatakan oleh Michael Jackson. Orang besar kalau meninggal selalu membuat kita yang ditinggalkannya berpikir. Kita harus mengungkapkan apa yang tidak bisa lagi dikatakannya. “Jangan suka marah. Mbah Surip dan Mas Rendra itu memang orang hebat. Yang wajar-wajar saja. Kita harus memberikan tafsir! Masak tidak boleh?” “Siapa yang melarang?” “Ibumu!” “Apa salah Ibu melarang?” “Karena Bapakmu tidak mau ada orang berkata lain!” damprat Bu Amat yang muncul kembali sambil membawa pisang goreng. “dia memberikan toladan untuk berani mengemukakan pendapat. Kenapa kalau Ibu memberi tafsir baru pada tafsirnya. begitu banyak orang datang dalam pemakaman mas Rendra. dilarang?” “Yes!” teriak Ami tiba-tiba. ketika mengomentari Mbah Surip dan mas Willy. Jadi Jacko. “kara wajah di televisi itu lagi. Titik. mauku juga!” Jakarta 7 Agustus → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag burung merak§. Bertengkar juga berpikir. kenapa tidak dimakamkan di makam pahlawan?” “Makam Pahlawan? Dia tidak akan mau!” “Kenapa?” “Karena dia tidak mau terikat oleh kehormatan. tetapi menumpuk keuntungan untuk dirinya sendiri. mengingat ekonomi yang . Mas Willy adalah orang yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap berani melawan. mas willy§. sambil menunjuk ke televisi. Amat tercengang.yang dipesan suaminya.” Amat memegang tangan istrinya yang mau kembali ke dapur. sehingga bisa bergaul dengan semua orang. Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. “Itu artinya dia orang besar. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel. sebab dia sudah tidak mampu lagi berkata. Pak. Aku berkata untuk almarhum. “Katanya Mas Rendra yang meninggal itu seorang Empu yang mengajarkan murid-muridnya untuk memberi tafsir baru. bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis. Kita kan harus menafsirkan apa yang sudah dilakukan dan diperbuat oleh almarhum. “Lihat Bu.

” Amat terkejut. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Orang itu tidak menjawab. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. tetapi ribuan bahkan jutaan. “Maksudnya?” “Ya sudah saya katakana tadi. Pak Amat. merasa ikut kehilangan. Dia memanggil Ami. ambil segi baiknya. ini politik. famili dan negara. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!” “Apa yang sudah dilupakan?” “Keadilan dan kebenaran. susila.” . pikirannya sudah ngelantur lagi. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh.” Amat penasaran. “Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau. lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. budi pekerti bahkan agama.” “Politik?” “Ya. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban. jangan biarkan bapakmu begitu!” “Habis Ami harus ngapain?” “Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja.” Ami melirik bapaknya. “Itulah politik. bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!” “Ya itu dia. keluarga. Seorang pemuda menjawab. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom. Pak Amat. hubungan itu sama sekali tidak ada. karena tidak melihatnya. “Anarkhis!” Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat. “Teroris!” umpat Amat.” “Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?” Mata Amat berapi-api.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban. kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Dia mulai marah. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!” “Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!” “Gudang dicuci memang bisa kosong. Dia buru-buru pergi.” “Keadilan siapa? Kebenaran siapa?” “Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!” “Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?” “Bukan jalannya yang harus dinilai. membatalkan laganya dengan PSSI All Star. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. “Aku heran. Kadang-kadang dia ngomong sendiri. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu. “Sudah Pak. tapi tujuannya Pak Amat!” “Itu namanya menghalalkan segala cara!” “Itu kan kata Pak Amat. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja. istri. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!” Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!” Amat menarik nafas panjang.”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan. Orang-orang itu punya anak. “Artinya apa kalau itu politik?” “Tidak perlu ada artinya. “Ayolah Ami.sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian. yang doktor pun bisa dicuci. Bukan karena tak ada. Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja. seperti yang aku dengar di televisi. Tak semua otak bisa dicuci!” “Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya. ancaman langsung kepada nyawa kita!” Para tetangga manggut-manggut. tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan. “Coba tenangkan bapakmu Ami.

“ Bu Amat tertegun. Dulu.Ami terperanjat. Bu Amat melihat darah. Kalau tidak begitu. semua terpisah dari tubuhnya. ia memang masih tertekan. Di puncak bukit yang bergetar. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!” Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Penculikan. Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya “Inikah demokrasi. tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Setelah itu. kita semua akan kalah. Matanya menancap ke televisi. . Bu Amat terpesona. ngeri. “Tolooooongggggggggggg!” Jakarta 17 Juli 09 Menjelang jam 08. Korupsi. Ketika muncul berita Bom Marriot 2. tangan. Isi perut terburai. Pada kejadian Bom Bali Kedua. “Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras. merasa terancam dan berharihari tidak enak makan. Begitu saja rasa ngeri. ia sempat terdiam sebentar. Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi. “Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!” Sebaliknya dari menemani bapaknya. kaki. Manusia makan mayat. tangan dan kakinya yang terputus dari badan. karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak. “Hidup semakin keras. → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ 2009§ . ia bisa mengucurkan air mata. masih seru. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit.”bisik Bu Amat dengan terkejut. Ia terkejut dan jadi gemetar. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal. mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana. Bu Amat menjerit. Ia hanya memandang ke satu titik. Takut. kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. “Kurang ajar! Bangsat!!” Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Ia lupakan dulu curhat La Toya. Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. tapi hanya sembilan. Bencana alam.. takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana. Layar kaca. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi. ia sama sekali tenang. Kepala. setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. Kepala. Anggota badan manusia berserakan.”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri. tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. manusia menjadi semakin tabah. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus. karena menganggap semua bombom itu sudah biasa. Bom Marriott 2. Tak kuasa lagi menahan diri. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik. Memang bukan 200 atau seratus ribu. bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya. “Aduh. Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Orang hilang. . Anak dijual oleh ibunya. Ibu membunuh anaknya. Teror dan bom di mana-mana. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Melihat di mana ia sedang berdiri. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata. Bu Amat tersentak.

Gempa bumi. “Apakah kau benar-benar datang dengan segala bencana itu atau semua itu sengaja kamu tebarkan supaya manusia berhati-hati mulai sekarang. Terlalu menyepelekan. dia tenang-tenang saja?! Tapi kalau soal kenaikan harga beras atau cabe baru lima puluh sen dia sudah mencak-mencak!” Amat lalu mencari informasi ke tetangga. disintegrasi dan hilangnya kesadaran bahwa kita ini masyarakat majemuk yang penuh perbedaan. “setiap kali diajak rembugan masalah dunia. Sambil memandang ke tembok yang penuh lumut. mempunyai resiko yang paling besar. “Bukan.” “Tidak usah!” “Kok tidak usah?” “Biar saja itu nanti kan diurus oleh koran-koran. “Bencana dahsyat bisa menimpa Indonesia. . Amat malah diajak tukar pikiran tentang resesi ekonomi yang menyebabkan bukan hanya Amerika tetapi di Jepang juga terjadi PHK besarbesaran.” Amat tercengang. “Ibu kamu itu berpikirnya terlalu sempit. Ternyata tak beda dengan Bu Amat. “Kalau negara-negara kaya saja sudah kalang kabut seperti itu. sehingga malapetaka itu batal terjadi? “ Tahun 2009 tiba-tiba menyeruak dari balik tembok. letusan gunung dan tsunami akan menyerbu wilayah yang berpenduduk padat “ Amat tertegun. Bersiap-siap saja. “Ya. Sabuk Himalaya. China. apalagi kita yang akan menghadapi pemilihan umum dengan segala macam persoalan kita yang tidak pernah selesai.Posted on31 Desember 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Di koran muncul kabar buruk tentang 2009. Sama sekali tidak mau peduli. Filipina. korupsi. menurut laporan ilmiah dari badan pemerintah Geoscience Australia. Tidak perlu meniru para pemain politik itu!” Tahun 2009 menghampiri Amat lebih dekat. Apa ada yang membaca berita adanya bahaya di tahun baru. Mari kita selesaikan semuanya secara jantan!” “Suara kamu seperti menantang!” “Memang!” “Kenapa? Apa kita tidak bisa bersahabat?” “Buat apa bersahabat kalau kamu datang mau menghancurkan dunia. ia mencoba untuk menyapa tahun 2009. Kawasan Asia-Pasifik menghadapi era mala petaka dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai satu juta orang pada satu waktu.”kata Amat curhat pada Ami. letusan gunung. angin topan. Akhirnya dia hanya bisa duduk menyepi sendirian di sebuah kursi tua di belakang rumah. “Apakah ini yang disebut kiamat?” tanyanya kepada istrinya. menghampiri Amat. penyalahgunaan kekuasaan. Kita manusia sudah merusakkan bumi dan sekarang akan menerima ganjaran kita. “Kamu bertanya padaku tua bangka?” Amat kaget. Pak Amat sudah tahu akan memilih siapa nanti sebagai presiden? Kasih masukan dong!” Amat kecewa sekali.” “Siap-siap bagaimana?” “Ya menghadapi bencana. semuanya hanya mendengarkan sebagai berita jauh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka. Masak kita akan menghadapi kiamat. Bu Amat menjawab enteng. dia tidak peka. Betul!” “Kenapa suara kamu begitu ketus?” “Sebab kabar ilmiah dari Australia mengatakan kamu akan datang memberondong dengan malapetaka gempa. Ia cepat-cepat meninggalkan istrinya yang dianggapnya tidak pernah peka terhadap masalah-masalah dunia. Kita blak-blakan saja. tsunami dan membunuh 1 juta orang dalam satu gebrakan!” “O ya?” “Ya! Kau jangan akting pura-pura tidak tahu! Kamu pikir para penonton semuanya bodoh seperti sinetron-sinetron di layer kaca itu? Kalau mau datang. Indonesia.” “Bukan bagaimana?! Pemanasan global sudah menyebabkan perubahan iklim. datanglah secara kesatria.

“Siapa Pak?” Amat menunjuk ke tembok. Harus menjadi pelopor. kau sudah datang lagi sebagai musuh yang lain. kamu membunuh satu juta. mendadak Amat merasa nyawanya sendiri yang melompat. daripada pergi meninggalkan kita. Belum selesai itu. Kembaliii! Jangan tinggalkan kami di sini! Kembaliii!!” → 8 Komentar§ Ditulis pada Uncategorized§ Di-tag tahun baru§ TEATER KAMPUS§ Posted on3 November 2008§by Putu Wijaya§ | 10 Komentar§ Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD peserta Festamasio IV 2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat. Pergi! Jangan dekati rumah kami ini! Apa kamu tidak tahu negeri ini. bangsa ini sudah ratusan tahun menderita. Teater kampus ditonton dengan . Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda. kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. Mereka cepat menyambut samurai yang hampir saja melukai kaki Amat. “Kejar dia! Panggil! Lebih baik dia datang biar bawa bencana. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus.. Tapi 2009 tak bergerak. Aku malu datang kalau kalian semua tidak menghendaki aku. tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja. nanti tetangga menyangka aku antek kamu! Pergi! Kalau tidak aku akan berteriak memanggil orang-orang untuk menghajar kamu!” Amat berteriak. Lalu ia tergigit oleh sepi yang begitu menusuknusuk. tetapi kehidupan teater yang bebas. saya menyarankan agar teater kampus. “He mau ke mana kamu?” “Pergi. ini rumahku!” “Apa aku tidak boleh duduk supaya kita bisa ngomong dengan tenang?” “Jangankan duduk. “Kau bilang aku zalim?” “Ya! Membunuh satu orang saja orang bisa dihukum mati. Dua-duanya harus di bunuh. Membunuh atau dibunuh!” “Ah Amat. dia tak jadi datang! Panggil dia! Kejar dia sebelum hilang!!” “Siapa?” Amat berteriak makin keras nyaris kalap. Dengan panic AMat berlari ke kamar mengambil samurai yang disimpannya di bawah tempat tidur. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas. dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya. Penjajahan politik sudah kita tendang. tidak ada hukumannya lagi. Untung saja Bu Amat dan Ami sudah ada di dekatnya. tapi masih ada penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya. Badannya lemas.” Tanpa menunggu jawaban Amat. Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu.“Jangan terlalu dekat. Tetapi 2009 sudah mundur kembali ke tembok. “Dia pergi. 2009 lalu memanjat tembok dan melompat entah ke mana. Samurai di genggamannya terlepas. “Heee! Jangan berhenti lama di rumahku ini. Waktu itu. Apa kami tidak boleh istirahat sebentar dan bahagia sedikit? Kamu zalim!” Tahun 2009 terkejut. bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. kau masih dikuasia oleh semangat revolusi merebut kemerdekaan di zaman kolonial!” “Memang! Kolonialisme belum lenyap dari negeri ini. Tangannya gemetar. Pergi! Kam zalimi kami!” 2009 terhenyak. masuk pun tidak akan aku izinkan!” “Kenapa?” “Menghadapi musuh hanya ada dua kemungkinan. Sambil menghunus pedang karatan itu ia muncul kembali dengan sikap siap menebas. sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Saya menulis kredo untuk teater kampus. Perasaannya tiba-tiba kosong.

karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Hanya penataan set dan musik yang mulai menunjukkan kemajuan. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. akan terjadi sesuatu yang kosong. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik. memberikan pengetahuan dan sebagainya. tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah. banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah. tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. kehilangan jiwa. bisa menjadi menarik. Sebuah naskah yang buruk. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara. Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. menghibur. Masing-masing jenis teater memiliki langkah. Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu. sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar. tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. unik dan orisinal.penuh penghormatan dari masyarakat. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup . Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. kreasi. acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Karenanya memerlukan pembelajaran. Penyutradaraan. kalau tidak. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. lebih dari unsur verbal-nya. Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan berbeda. Musik. akan membuat pertunjukan tak punya arah. Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. harus ada studi dan strategi. benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Aspek penulisan lakon dal. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Untuk itu kampus harus membuka diri. penataan adegan dan set. Ini memerlukan pemahaman yang jernih. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol. bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi. apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat. kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Tetapi kalau ditanggapi keliru. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat. akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap. tetapi ketika kita mencoba menempelkannempelkannya. akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. di tangan sutradara yang baik. Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung. Dan untuk membuat perencanaan. Selama ini yang sering terjadi. Bagi saya ini hal yang positip. Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi. komunikarif. Hasilnya adalah kegagapan.am Festasimo IV masih rawan. membuat penasaran. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Teater tradisi yang asli bagus.

Dan ini bukan hal yang mudah. Insiden etnis terjadi di Pontianak. Gotong-royong itu sendiri misalnya. Baik suku. Tidak ada masalah serius yang terjadi karena perbedaan suku dan adat istiadat di masa penjajahan. Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945. Memang betul. kita di Indonesia satu sama lain masih memiliki banyak persamaan. Persatuan mulai dituduh sebagai kezaliman pusat kepada daerah-daerah. Kita mengakui bahwa kendati satu. Setelah 52 tahun merdeka. Tetapi dengan semangat gotongroyong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan. Papua. satu bangsa dan satu bahasa. kecuali Irian yang sekarang disebut Papua. karena pasal-pasal RUU dirasa melanggar konsep kebhinekaan dan menjurus ke mono kultur. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. . RUU APP yang bergegas hendak ditetapkan oleh pemerintah ditentang keras di Bali. kita hidup dalam semangat satu Soempah Pemoeda dan kenyataan bhineka seperti yang diakui oleh Panca Sila. Riau) mau merdeka. Bentrokan agama terjadi di Maluku dan Palu. Beberapa wilayah (Aceh. di mana-mana dikenal. adat-istiadat. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater. Apakah kecenderungan disintegrasi itu terjadi karena yang bertolak-belakang mutlak tidak dimungkinkan berstau? Atau itu sebuah rekayasa politik? Mungkinkah itu hanya kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya yang mengabaikan nasib daerah? Atau karena ada perubahan nilai dalam mengartikan apa yang disebut berbeda dan bersatu? Maka membicarakan pluralisme budaya sekarang adalah saat yang tepat. Maluku. Hanya dengan cara seperti itu. Pertama-tama yang bisa kita korek: benarkah masyarakat Indonesia adalah mayarakat plural. teater§ Di-tag kampus§ Pluralitas§ Posted on2 November 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa. Apalagi kalau diterapi dengan obat petn yang keliru. Beberapa peristiwa berdarah muncul. muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Jawa Barat. Banyak lagi masalah lain. pada 1997. Bahkan Bali mengancam hendak memisahkan diri. di Indonesia ada banyak perbedaan. Nusa Tenggara Tinur. Pluralisme mulai pelan-pelan diyakini sebagai sebuah cacad kalau bukan dosa. terjadi reformasi. Bali. perbedaan tersebut masih bersifat horisontal. Sulawesi. Namun seluruh peristiwa-peristiwa itu masih diterima sebagai dinamika dari negeri baru yang sedang mencoba mengukuhkan eksistensinya di atas kaki sendiri. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa. Sumpah Pemuda lebih merupakan sebuah seremoni rutin yang lebih mengutamakan perayaannya. (DI TII. misalnya masalah pembubaran Ahmadyah. Tetapi kalau diusut. Dan persatuan tak berarti meluluhkan perbedaan. selama ini kita sudah mengaku bahwa kita masyarakat yang menjemuk. Tidak ada halangan bagi bahasa Melayu pasar yang sebenarnya tergolong bahasa kelompok minoritas menjadi bahasa persatuan Indonesia. Kalimantan. Baik bahasa mau pun adat-istiadat. khususnya teater kampus. PRRI PERMESTA) karena perbedaan tak selamanya bisa disatukan. Karena kita terdiri dari banyak suka bangsa dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda. yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila. Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia.banyak hal. Soempah Pemoeda terasa tidak sakti lagi. Maka otonomi daerah pun dielu-elukan sabagai jawaban yang membuat raja-raja dan kerajaan kecil bermunculan di wilayah NKRI. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun. tak hanya seni akting. Kahar Muzakar. bangsa dan bahasa. Sumatra. Barangkali itu sebabnya tidak sulit untuk bersumpah satu nusa. agama dan sebagainya. Dan perbedaan itu nampak seakan-akan cenderung menolak untuk hidup berdampingan. Papua. Di Jakarta sendiri muncul FPI. Betawi Rembug yang berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran yang mereka yakini tanpa mempedulikan kepentingan kelompok lain. bukan esensi janji bersatu. Indonesia yang satu mulai diragukan. banyak bukti. Selanjutnya setengah abad dalam era kemerdekaan. → 10 Komentar§ Ditulis pada sambutan§. impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Ini masalah yang serius. Perbedaan semakin jelas.

dibandingkan dengan kepentingan nasional/bangsa/masyarakat. sejumlah orang memberontak di Bali dan menjadi gerombolan. Banyak bukti menunjukkan bahwa yang hidup dan bergerak dalam masyarakat itu bukan idiologi. agama dan strata sosial adalah perangkat lunak. Sebuah keluarga membagi tempat ibadahnya dan membuat tembok. pluralisme akan menjadi jalan pintas untuk menciptakan kehancuran Indonesia. Karena membuat aturan umum sebagaimana yang terlihat dalam jiwa pasal-pasal RUU Pornography yang cenderung menafikan kebhinekaan. Semuanya karena politik. Manusia sebagai perangkat kerasnya sangat menentukan kehidupan idiologi. Kemajemukan yang ada di Indonesia. Benarkan manusia-manusia pemimpin dan pemuka di Indonesia sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan benar? Bila para pemimpin dan pemuka di Indonesia masih tetap lebih mengedepankan kepentingan kelompok. Benarkah perbedaan idiologi yang memecah masyarakat? Hal senada bisa juga dipertanyakan pada agama dan strata sosial. Buktinya banyak orang dengan tanpa beban pindah dari satu partai ke pantai yang lain yang berbeda idiologinya. Di balik kepentingan itu ada pimpinan. Baru di masa kemerdekaan kita mengalami berbagai guncangan. Karena hanya dengan perbedaan itulah ia mungkin akan mencapai kemenangan. Masih ada lagi yang disebut “desa-kala-patra” yakni keterpagutan setiap orang kepada tempatwaktu dan suasana. menerobos ruang privat masyarakat dan mengarah pada mono kultur. sudah waktunya tidak lagi menyentuh perangkat lunak. Yang bisa kita sentuh adalah manusia-manusianya. pada Pemilihan Umum pertama di tahun 1955.Kalau ada. tetapi mengalihkan perhatian pada perangkat berat. Mereka-mereka inilah yang mesti diteliti. tetapi karena doktrin vertikal yang dihembus oleh kehidupan idiologi. Para pemimpin partai. Sekarang kita mesti berhati-hati. Sesuatu yang datang dari luar. reposisi dan kodifikasi yang berkesinambungan pada kearifan-kearifan lokal di berbagai kawasan Tanah Air. itu rekayasa adudomba kolonial untuk mempertahankan kekuasaan mereka. pemuka agama dan para konglomerat. Maknanya bukan kekurangan tetapi justru kelebihan. Pluralisme di Indonesia bermasalah. Pluralisme akan menjadi pembunuhan diri apabila perangkat kuat sakit dan bertindak semena-mena dalam menafsirkan dan menjalankan perangkat lunak. karena pemimpin dan pemukanya bermasalah. Ada juga yang disebut “nempahan raga”.Salah satu dari 17 rekomendasi Kongres Kebudataan 2003 di Bukittinggi adalah menyarankan agar para pemuka agama ikut aktif berpartisipasi mengawasi umatnya dan membrikan sanksi kepada mereka yang menyimpang dari ajaran yang diperintahkan oleh agama. diberikan hak hadir. agama dan kelas masyarakat (baca: strata sosial). agama dan pengelompokan akibat perbedaan strata sosial itu. Untuk itu perlu dilakukan reinterpretasi. golongan dan pribadinya. Banjar terpecah. → 1 Komentar§ Ditulis pada pemikiran§ Di-tag pluralitas§ PORNOGRAPHY§ . Masyarakat sudah lama mengantisipasi perbedaan dengan caranya masing-masing yang kemudian tersimpan dalam kearifan lokal. Banyak yang bisa diplajari dari kearifan lokal. Kita kenal misalnya di mana-mana ada kebiasaan untuk “menghormati” tamu. Baik idiologi. bagaimana menjalin hubungan dengan sanak-keluarga dan handai taulan. Ini mengandung ratio bahwa dalam alam kemerdekaan di mana hak azasi manusia dijaga bersama. Pimpinanlah yang sudah menciptakan perbedaan. bagaimana menempatkan diri di antara orang banyak (yang mungkin sekali berbeda). Kendati begitu. akan membawa kita pada pemiskinan dan kebangkrutan budaya. Kita tidak dapat mengutak-atik perangkat lunak sebab itu masalah keyakinan dan menyangkut masalah seluruh dunia. meski pun berbeda. Dengan modal itu diharapkan akan dapat untuk menyehatkan atau meluruskan kembali perangkat keras yang mengalami konsleuting sesuai dengan konteksnya masing-masing. Dan itu tidak semata-mata karena adanya gesekan horisontal. Kepentinganlah yang sudah memacu perbedaan itu. Di Bali ada yang disebut ” menyame-braye” dan “mepisage”. benarkah sudah menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak sebaliknya mempergunakan perangkat lunak untuk kepentingan pribadinya. Dengan begitu setiap orang dituntut untuk membuat harmoni dengan lingkungannya (yang mungkin sekali berbeda). adalah bagian dari warna kebun bunga seperti yang pernah diucapkan oleh Mao dan dikutip oleh Bung Karno.

asal saja kita mau bertindak dan aparatpelaksana yang bertugas untuk itu rajin. “Sudah Ami. Bayangkan! Bayangkan!”Ami menutup mukanya dengan handuk. Hancur luluh jadi satu! Mono kultur! Kalaudaging itu sudah remuk akan mudah untuk digiling sebab dia memangbukannya mau mengiris daging tapi membuat bakso. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. karena Undang UndangHukum Pidana. Kalau begini caranya kamu menerima kekalahan. Kemenangan yang sebenarnya nampak sebagaikekalahan. tahu!” Handuk kecil itu tak mampu lagi menahan kucuran airdari mata Ami. Sudah cukup! Seratus butir air mata sudah lebih dari cukup untukmeratapi kemenangan RUU Porno ini. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca. sesungguhnya kebenaran yang kamu perjuangkan tidaksalah. Makanya jangandilawan . Banyak orang bersedih. asin.tetapi malah gembira dan merasa bahwa sebenarnya merekalah yang menangpadahal mereka itulah pecundangnya. Jaditabahlah hadapi kenyataan. terima saja.” Ami mengangguk. Tetapisemakin diusap. rasa kamusendiri juga tidak laras. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen. Aku terkejut. kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu. diaakan mencocokcocok.mengerem. bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yang berbeda-beda. Dengan handuk itu Ami mengusap air matanya. kamusebenarnya tidak kalah. “Kamu ini sedang meratapi kekalahan atau sedang menikmati kekalahan?Ayo lihat kenyataan. akhirnya dia tidak bisa mengiristetapi mencacah dan kemudian menggigit sampai daging itu remuk. Air matanyatidak lagi hanya menetes. mereka adalahorang yang kalah. sebentarlagi bukan air mata kamu saja yang jatuh tetapi juga kepala kamu. Iaterpaksa memerasnya seperti mengeringkan cucian. “Aduh Ami. seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. lalu membanting. Dankalau sampai kepala kamu biarkan jatuh. Karena kehidupanini seperti gado-gado yang penuh dengan berbagai bumbu dengan rasayang berbeda-beda.Tetapi yang lain berpesta. Sedangkan orang yang menang suara. kamu hanya ditunda menang. Jadi Ami.tetapi kamu sendiri. Kamu sendiri sekarang yang membunuh sendirikebenaran yang kamu perjuangkan itu. Aku menarik handuk yang membelit di kepala dan meletakkandi tangan Ami. Karena tanpa ada RUU Pornography pun sebenarnya kita sudah bisamemberantas pornography. Undang-undang iniseperti orang memberikan pisau tumpul kepada seorang anak yang disuruhmembersihkan lemak dari daging-dagingnya. memang baik.Rasalah yeng menyelaraskan kita sehingga kita bisa membangun harmoni. karenamemang itulah tujuannya. Karena walau pun sekarangdinyatakan kalah. Perasaan itu baik. Tapi wajahnya tambah berat. meredam perasaan agar jangan berkelebihan.Bukan hanya itu. Kalau tidak. desiplin dan tidakangin-anginan atau kucing-kucingan melakukannya. Dengerin! Lihat! Bagaimana mau memberantaskecabulan kalau memberikan definisi saja gagap. “Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. meskipun belum tentu lebih bener. jangan ditambah-tambah lagi!” Tapi Ami justru menangis semakin pilu. tegas. Undang-Undang Popok Pers. Jadisebenarnya bukan kebenaran kamu di dalam menentang RUU itu yang kalah. Ingusnya ikut berleleran. “Waduh. Ia tersedu-sedu. Manis itu memang enak. Aku panik. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan. tetapi menyembur. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini. Yang menangadalah yang lebih banyak. Aku jadi cemas. kalau begini caranya menghadapi kekalahan kamu akan semakinkalah dan mereka yang sudah menang akan semakin menang.Posted on1 November 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Jadi begitulah. padahalbelum tentu mereka benar. Undang-Undang Penyiaran sudahmemberikan kita hak bahkan kewajiban untuk memberantas kecabulan yangditontonkan arau diperjualbelikan di ruang publik. Seluruh pipinya banjir. Di rumah. sehingga orang yang sebenarnya kalah tidak akan marah. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. apabila tak belajar dari yang kalah. Aku rengutkan handuk itu. artinya kamu tidak hidup lagidengan otak tetapi rasa semata-mata. pahit ataukemanisan. Dia tidak akan mengiris. Kalau tidak hidupmu akan menjadi pedes. tapi kalau berlebihan akan membuatmuak.” Kepala Ami semakin berat. kamubukan pihak yang kalah. “Sudah Ami. Lalu airmatanya jatuh berderai. anakku Ami nampak kesakitan.Tetapi keselarasan itu sendiri perlu laras. Aku terpaksa menghibur. ternyata kamu tidak bisa diajak berunding. Kamu harus mencampur dengan cermat dan menakarnyaawas. air mata itu semakin membanjir. Kemenangan itutidak harus kelihatan. Kamu memerlukan kepalamu untuk mengarahkan.

juga ketelanjanganrohani. “Terimakasih. golongan dan kaumnya sendiri tanpa mempedulikan kebhinekaanseperti yang dipesankan oleh pita di kaki Burung Garuda Lambang negaraPanca Sila. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Ikutlah rayakan kemenangan mereka ini dengan berteriak lebihkeras. denda milyardan danjebloskan ke penjara.Jadi kita dukung RUU Pornography!” Tiba-tiba saja aku tertawa puas. Sebagai anggota masyarakat kitaboleh ikut campur berpartisipasi memberantas kebaculan. karena pisau itu sudah di tangannya.” → 6 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pornography§. Ya Tuhan aku temukan sudutterang di dalam kegelapan ini.Dan aku dapatkan sekarang! Aku habiskan semua semburan ketawaku. Karena tidak semua kolesterolitu jahat. bisik Ami sembari kemudian memeluk dan menciumku. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. ruu§ Cantik§ Posted on8 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 11 Komentar§ Gubernur marah besar. Bisa-bisa kamu yang dibakso. Mengalah juga adalahsebuah taktik dan sebuah strategi. mata Ami pun berhenti meneteskan air. didenda dan dihukum. Kontes Mirip Bintang. Dengan gembira akumenyambut hangat kebangkitan anakku tepat pada peringatan 80 tahunSumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional.Biarkan saja. bongkar laci dan almari. kalau kamu mulai mengerti sekarang. Seperti yang mereka usulkan. Kalau ada yang cabul. seperti menemukan akhir yang indahdari pencarianku yang sudah begitu panjang. Dan karenabatasan cabul kebetulan kabur. “O caranya? Caranya bagaimana mengubah kekalahan dengan kemenangan?Gampang. Masuki rumah penduduk semua. Mengapa dari 9 wanita tercantik pilihan masyarakat tidak seorang pun adalah putri daerah? “Kalau begitu apa gunanya ada pemilihan Ratu Kebaya.setidak-tidaknya kita anggap cabul. Ajaib. Selidiki apa isi kepala orang. Mari kita balikkan arah RUU Pornographyini bukan untuk menentang kebhinekaan tetapi merayakan kebhinekaan. tata lampunya dan sudut pandangnya sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kerbau pun kalau dirancang . Ratu Dangdut. Ratu Kaca Mata.bahkan singkap sprei dan kasurnya. Baru kalau diagagal nanti. Tidak hanyayang kelihatan di ruang publik. Tak hanya itu. dengar. seret.apalagi pemuka. tetapi dalamberjuang harus memakai taktik dan strategi. Dengan kekalahan ini kamu akan belajar. spiel dan flewksibel yang kita sebutkecabulan itu bukan saja ketelanjangan badan. Mama sudah membantu melewatkan sakit perut Ami karenadatang bulan. Film itu sudah penuh dengan tipuan gambar. hukumannya sepuluh kali lipat!”Ami tiba-tiba berhenti menangis. kita kacaukan kemenangan merekaAmi. Mukanya mulai berseri. yang tersimpan dalam rumah pribadibahkan dalam ruang pikiran pun harus diusut. Baik kameranya. Jadi terimalah kekalahan inisebagai awal kemenangan yang baru. Itu kan karena kalian hanya lihat di film. Miss ini-itu yang setiap bulan diadakan di mall-mall sampai salonsalon kecantikan kagetan kayak jamur di musim hujan? Apa betul putri daerah kita tidak ada yang cantik. Dera mereka yang menjualkecabulan. Berarti kebanyakan mereka semua akan jadi perawan tua.tidak cukup suara keras. Terimakasih Mama. Kaum perempuan yangb selama ini sudahjadi korban dan bulan-bulanan mesti m encari sendiri jalan terangnya. jangan-jangan mereka menyimpanpornography.Lalu dia mengangkat tangan mengajakku tos. Lagi pula lemak yangdipisahkan itu bukan mau dibuang tetapi di tempatkan pada tempat yangsemestinya dan dibuat supaya berguna. Kalau ada orang berbuat semena-mena hanya untuk kepentinganpribadi. kita beritahu pisaunya yang salah. Ami sayang.” Ami memandangku seperti bertanya. Ganyang kecabulan! Seret wanitawanita yang bergoyangmempertontonkan tubuhnya lempar ke penjara. “Jadi dengan kata lain.sekarang nanti dia tambah buas. Ratu Mercy. Di balik setiapkegagalan selalu ada janji. Dan kalau ternyata orangnya adalah pemimpin. “Bagus. karena pria kuta lebih mengagumi putri-putri dari luar sana? Ini tragedi!” “Tapi ini kan hanya kegiatan hura-hura yang informal Pak?” “Memang! Tapi masak bintang-bintang Hollywood itu yang dibilang cantik. tidak cukup mata melotot. maka orang itu adalah tokoh pornograpghy yang juga bisadiseret. Mengerti?” Ami mengangguk.

Pak. Pak!” “Kalau begitu umumkan dong!” Pertemuan selesai. Di bandara. berarti kemenangan mereka palsu. Setelah mempertimbangkan masak-masak. saudara harus bisa mempertanggungjawabkan kontes yang saudara adakan!” “Kalau itu sudah.” “Tidak bisa! Saudara harus mengumumkan bahwa 9 wanita tercantik ini bukan pilhan kita. Keputusan pemenang dibatalkan. Urutannya jelas. Pak. Pak. karena menyangkut keselamatan majalah. kulitnya yang sepereti mayat dan bau kejunya yang mana tahan.” “Itu namanya tidak bertanggungjawab!” Panitia bingung. Kami sudah umumkan jumlah suara yang masuk. Bukan hanya kecantikan phisik yang terpakai. kecantikannya kalian lupakan. Pak!” “Umumkan dong!” “Untuk apa Pak?” “Ya itu tanggungjawab saudara sebagai penyelenggara!” “Tidak perlu. Pemilihan akan akan diulang. Dari sembilan wanita tercantik di dalam negeri. Gubernur sedang asyik dengan kemarahannya. jadi kami serahkan pada para pembaca saja. Hanya karena kalian lihat setiap hari saja.” “Kalau begitu. Itu terserah mereka yang mengirimkan jawaban. Coba kalau kalian lihat kenyataannya. “Coba apa kreteria kalian menentukan kecantikan sampai bintang-bintang film yang doyan gontaganti pasangan itu dianggap yang paling cantik.” “Memang bukan. karena merasa tidak puas. tapi pilihan beberapa orang yang mau kirim kartu pos dan mampu membeli majalah Anda?” “Memang begitu. Mereka bukan 9 wanita tercantik.” “Bagaimana kalau satu orang mengirim 1000 kartu pos?” “Boleh saja. kami harus bertanggungjawab?” “Ya dong! Sebagai warganegara yang baik. “Maksud Bapak.” “Jadi ngawur?” “Bukan Pak. Apa itu bukan bagian dari kreteria yang menetapkan seseorang itu cantik?” “Kami tidak memberikan kreteria. Tulang-tulangnya yang besar. kalian akan menyesal sudah sesat memilih idola. Kriterianya pun dicantumkan dengan jelas. Sebagai kompensasi. dilipatgandakan. Ada protes. Memang cantik tetapi sebenarnya lelaki Guberbur yang baru pulang dari luar negeri terkejut. Bagaimana dengan kecantikan kepribadian dan moral serta kecerdasan. tapi pilihan yang mengirim jawaban saja. Karena ukuran kecantikan itu kan subyektif.. kakinya yang berbulu. asal mereka menempel juga stiker yang ada di majalah kami. Realistis sedikit! Jangan terus bermimpi! Putriputri daerah kita semuanya cantik. Kami akan segera memilih pemenang di antara pemilih dengan cara memilih kartu pos mereka pada malam selamatan ulang tahun media kami. Kami hanya tidak memberikan batasan apa itu kecantikan. tidak mencerminkan jutaan warga kita. Dan karena yang mengirim jawaban hanya beberapa ribu. hadiah yang rencananya diberikan kepada para pemilih. Pilihan dibatasi sebatas orangorang cantik di dalam negeri. Kemudian pihak perusahaan mendesak agar himbauan Gubernur dilaksanakan. panitia mengambil jalan tengah. Para panitia segera berunding. ternyata lima di antaranya adalah wadam. karena dianggap ada indikasi sudah terjadi kekisruhan akibat kurangnya kriteria. Seperti gajah yang tak nampak karena adanya di pelupuk mata. ia sudah ngomel di depan para wartawan. sebab harus terbang ke luar negeri menghadiri sebuah Festival yang diselenggarakan oleh negara sahabat. Hasilnya amat mengagetkan.seperti itu akan keliahatan aduhai. . Pak. Kalian harus belajar menghargai milik sendiri!” Panitia tidak berani menjawab. tetapi tidak terlalu berarti. Lomba pun dimulai kembali. Beberapa kreteria juga menggiring calon pemilih untuk memilih ratu-ratu hasil pemilihan berbagai kontes di daerah. bisa saja 9 perempuan tercantik itu bukan tercantik berdasarkan pilihan rakyat kita semua. Kalau dipotong bisa parah. sebab mereka sudah tahu. tetapi juga kecantikan kepribadian. Apa kecantikan wajah itu diukur dari panjang hidung atau keberaniannya memperlihatkan badan sehingga mengundang nafsu. Gubernur tak ada waktu lagi untuk berdebat.

Ini cerminan dari perasan mereka yang sejujurnya. Kilatan cek itu membuat darah saya . tidak bisa. masyarakat kita sedang sakit!” “Tidak! Masyarakat kita masyarakat yang sehat. Tanpa mengenalkan dirinya. Ini salah kaprah!” Panita bengong. tetapi pekerjaan utamanya adalah melukis. Ini adalah perjuangan hak azasi yang suci.Panitia kembali diundang berdialog. “Maksud Bapak kami harus mengulangi pemilihan ini sekali lagi?” “Tidak usah! Tapi ganti pemenangnya dengan ini!” Gubernut mengeluarkan secarik kertas dari kantungya. “Maaf. Tapi meskipun membela kemanusiaan.” Orang yang mau menyuap itu tersenyum. pilihan mreka kami anggap wajar. Tidak boleh ada wadam yang dipuji sebagai 9 wanita cantik. “Bapak mengatakan itu. tetapi kalau tidak dipersembahkan dengan bagus. atau ada yang lebih bagus. Pak. seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan. “Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat. Mereka yang terpilih memang sangat professional. Kakeknya dulu adalah pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. “Cabut nama-nama itu dan gantikan dengan nama-nama ini! Kita bukan masyarakat yang sakit!” → 11 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag cantik§ Suap§ Posted on7 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang tamu datang ke rumah saya. Kalau dia menang. “Jangan ketawa ini serius!’ “Peserta mungkin mulai sadar bahwa pemilihan yang kami lakukan adalah pemilihan main-main. mati muda. tbc. memahami amanat ini. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor Gubernuran. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak. Tetapi entah kenapa saya diam saja. “Kok memngangguk?” “Saya kira itu ada benarnya. Tidak mungkin sama sekali. yang kurang bagus tetap tidak akan bisa menang.” “Profesional apaan! Itu pilihan yang salah. “keluarganya memang turun-temurun adalah pelukis kebangaan wilayah kami. akan terselamatkan.” “Tapi bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?” “Betul. Pak. Pak!” “Tidak ini tidak main-main. karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan.”katanya memujikan. Saudara yang sudah membuat mereka sakit. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan. di dalam sebuah kompetisi yang adil. peserta yang mewakili daerahnya dimenangkan. Saya kira karena kriterianya bukan hanya elemen phisik tetapi juga kepribadian. sebab kami tidak menjanjikan apa-apa?” “Sama sekali tidak!” “Ya!” Lalu dia mengulurkan sebuah cek kosong yang sudah ditanda-tangani. Karena tidak formal dan tidak ada sanksi apa-apa.” “Kalau itu betul. para pemilih itu mengungkapkan apa adanya.” Saya langsung pasang kuda-kuda. Saya minta keputusan ini dicabut. “Kenapa saudara sampai membiarkan 5 wanita adam masuk ke dalam 9 wanita cantik di negeri ini?” Panita ketawa. bukan masyarakat yang sakit. Dua juta orang yang terancam kebutaan. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional. Itu cerminan bahwa masyarakat kita sedang sakit!” Panitia mengangguk.

Dia seperti sudah menebak pikiran saya. sekarang justru menjadi tempat saya berenang. “Silakan.” Saya gelagapan.” Tiba-tiba saya batuk. saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. “Adeee jangan!” Saya bangkit lalu mengejar anak saya yang ngibrit ke halaman membawa umpan sogokan itu. Saya tak berani bergerak. “Ade. Tapi kebetulan kami membawa sejumlah uang kecil yang akan kami pakai sebagai uang muka pembelian mobil. Seakan-akan dia marah. Begitu? Berapa yang Anda mau?” Saya tak menjawab. “Ade jangan itu punya Oom!” Terlambat. “Kami tidak siap dengan uang tunai sebanyak itu. lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lain. Apalagi menolak suap. Nampak besar dan padat. menyelamatkan diri. Tapi orang itu terlalu sibuk. Para tetangga ketawa melihat saya berkejarkejaran dengan anak. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya. Merasa dikejar anak saya berlari. saya hubungkan sekarang. Dengan kalap saya gapai-gapai. Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. “Kalau ragu-ragu silakan menelpon ke bank bersangkutan. Kedua amplop itu langsung tenggelam. Atau Anda lebih suka menelpon.” Cepat sekali dia mengeluarkan HP dan menekan nomor-nomor sebelum saya sempat mencegah. “Kita transparan saja. Itu memerlukan keberanian mental..” Saya bergetar. “Maaf. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu. tapi kami memang tidak biasa membawa uang tunai. tanyakan apakah ada dana di belakang rekening ini. Pata tetangga muncul dan bertanya-tanya. lalu diberi seragam koruptor. dia diam saja. “Ade jangan!” Anak saya terus kabur melewati rumah tetangga. “Satu milyar? Dua milyar? Lima milyar?” Saya terkejut. Saya kan belum berpengalaman disuap. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. jangan!” Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar. saya sudah pasti akan diseret oleh KPK. Baik menerima mau pun menolaknya. “Anda tidak percaya kepada kami?” “Bukan begitu. bukan saya tidak menghargai Anda. Tidak peduli ada bangkai ayam dan . Kedua-duanya. Dia merogoh lagi tasnya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja. Matanya melotot menentang mata saya. sore ini juga kami akan datang lagi. Zaman sekarang memang banyak penipuan bank” Saya memang tidak percaya. Ketika saya tangkap. Perasaan saya rontok. Mereka mungkin menyangka itu permaianan biasa.beku. Itu reaksi yang paling gampang kalau sedang kebingungan. Bukan hanya berenang. Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini. Kalau ini kurang. hallo …… . lalu terjun ke kolam. “Kalau wakil kami menang. mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Dia memeluk saya. Itu sebuah tawaran yang membuat syok. berapa kira-kira uang di dalam amplop itu. anak itu mengubah tujuannya. karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Silakan ambil ini sebagai tanda jadi. Kalau pada waktu itu ada wartawan yang menjepret. Kami mengerti kalau Anda tidak percaya kepada kami. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. walau pun perasaan ingin tahu saya menggebu-gebu. kalau Anda masih was-was. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya. Saya cepat menangkapnya. Dia merasa itu sebagai semacam penolakan. Bangsat. Tapi sebelum tertangkap. Asal saya mendapat satu tanda tangan saja sebagai bukti untuk saya laporkan.” “Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh.” Dia mengulurkan uang itu. untuk menunjukkan bahwa kami serius memperjuangkan kemanusiaan. Tetapi batuk saya yang tak sengaja itu sudah berarti lain pada tamu itu.” Saya memberi isyarat untuk menolak. Tapi kedua amplop itu itu tak terjamah. “Hallo. Apalagi kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop.

Siapa yang akan peduli. karena kurang pengalaman. Untuk menghindarkan kemalangan yang lain. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili lagi. Saya tidak berani menjawab terus-terang. baru saya sadari betapa kotor dan busuknya saya.” “Ah sudah! Tidak mendidik!” Saya tidak berdebat lagi. Dengan hati-hati saya bersihkan tanah dan kotorannya.. Tapi saya tidak peduli.” kata seorang tetangga tua sebab menyangka saya kemasukan setan. tak akan dipercaya. Tapi coba. Sampai sekarang pun ia tidak pernah muncul lagi. berarti saya sudah makan suap. Orang kecil memang selalu tidak beruntung. semuanya akan terjun seperti saya tadi untuk mencari.Tak seorang pun yang menolong. Dengan berapi-api saya terus mencari. eling. Ketidakmampuan saya untuk tidak segera menolak. saya hanya menggeleng. Kalau itu dibiarkan berkembang. . Masyarakat sedang senangsenangnya melihat pemakan suap digebuk. Ya kalau dikembalikan. langsung ke warung. “Masak ngasih anak limapuluh ribu. Orang-orang melihat kepada saya dengan jiiiiiiiigik bercampur geli. teman main anak saya mengacungkan kedua amplop itu. Dan kenapa saya terlalu lama bego. “Mana?” Seorang anak tetangga. Rupanya dia nekat terjun meneruskan misi saya yang gagal karena dia tidak rela Ade saya strap. tapi bau kotoran itu seperti sudah masuk ke dalam daging. karena anak itu sudah cukup senang dengan tiga ribu. Darah saya tersirap. Kalau dia tahu itu uang. Kalau saya katakan anak saya melemparkan dua amplop uang. Uang tidak akan turun harganya hanya karena belepotan kotoran. Sudah lama dia menginginkan masa depan yang lebih baik terutama setelah Ade lahir. Melongo adalah pertanda bahwa saya diam-diam punya keinginan menerima. Tak menolak dengan tegas. Seakan-akan ia memang tidak pernah datang. Lalu ia melonjak dan berlari keluar seperti kapal terbang. saya sudah basah. ide-ide busuknya akan muncul. Berkali-kali saya keramas dan membarut tubuh dengan sabun. sambil kemudian memberikan uang untuk persen. Badan saya penuh lumpur. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. bungkusannya sudah ketemu!” teriak istri saya sambil menggendor pintu. Lalu ia mengganti uang itu dan menggantikannya dengan tiga lembar uang ribuan. Istri saya bengong.. Setelah telanjang dan mengguyur badan. Saya tidak percaya bahwa hanya wanita yang lemah pada uang. “Bang! Tamunya mau pulang!” Cemas. . Kalau kedua amplop itu lenyap. “Sudah jangan kayak orang bego. Anak saya hanya ketawa melihat bapaknya begitu konyol. “Cepat mandinya. Sedekah ikhlas pun sering difitnah sebagai suap. Saya termenung. Kalau tidak? Mereka yang akan kaya dan saya yang masuk penjara. Saya juga tidak bisa menjelaskan. “Eling Dik. akhirnya saya akan masuk penjara. Kedua amplop uang itu saya bawa ke kamar mandi. Tetapi saya kenal betul dengan ibu si Ade. Saya terpaksa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. “Terimakasih!” kata saya menyambut kedua amplop itu. Laki-laki sama saja. yang bener aja!” “Tapi . Hari gini. siapa yang tidak ingin ketimpa rezeki nomplok. “Limapuluh ribu?” teriak istri saya memprotes. Hanya dengan menyelempangkan handuk menutupi aurat. bahaya. Badannya kuyup penuh kotoran. Diinjak pikiran kacau saya pulang. Di kepala saya ada tahi. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. cepetan madi dulu. berarti saya sudah menerima. Tapi tamu itu sudah kabur. Aduh malunya. “Apa itu?” sodok istri saya ingin tahu.kotoran manusia. gemas dan kecewa saya keluar dari kolam. Seakan-akan orang kecil memang paling tidak mampu melawan naswibnya. Pasti membeli makanan chiki-chiki sampah yang membuat usus bolong. siapa yang tidak perlu uang? Ketika istri saya muncul dan berteriak memanggil baru saya berhenti. Saya cepat-cepat menghindar sambil menyembunyikan amplop itu dalam handuk. Sementara pada orang gedean sudah jelas sogokan masih diposisikan semacam tanda kasih. Tak ada bekasnya sama sekali. saya keluar. Untung amplopnya kuat terbuat dari semacam kertas plastik jadi tahan air. mplop itu harus ditemukan. bau!” bentak istri saya. “Abang kenapa sih?” tanya istri saya galak dan penuh malu. Dia sudah terlalu capek hidup dalam kampung kumuh. Apa pun yang saya lakukan sekarang.

Kenapa orang lain boleh bahagia dan saya hanya kelelap kemiskinan karena membela kesucian. saya capek menunggu. Jangan. Bukan salah kita. Aku juga sudah mulai tua sekarang. Lomba itu sudah menjadi lampau. Apa perlu saya cek. Baginya pasti tidak ada masalah suaminya masuk penjara. Dia tidak berani menyambar lagi seperti dulu. Akhirnya setelah berdoa berkali-kali dan meminta ampun kepada Tuhan. pikiran saya bergeser. Memasuki bulan kedua. saya tidak akan menerimanya. Terus-terang saya termasuk yang ikut memberikan suara pada kemenangan tersebut. “Baiklah. kita sendiri makan tahi sampai mati. Namun saya sudah bersikap menolak. tapi kalau lagi sepi. akhirnya dicapai kata sepakat. Diterima baik oleh masyarakat. tapi karena aku sakit. kadang-kadang amplop itu saya bawa ke tempat sunyi di depan rumah dan timang-timang. Istri saya sudah tidak mau lagi tidur dengan saya. Aku masih kuat . Tapi sepuluh hari berlalu. Bahkan juara kedua apalagi ketiga masih jauh di bawahnya. Orang tidak berhak menuduh saya atau kami disuap hanya karena kebetulan kemenangannya sama dengan yang dikehendaki penyuap itu. betapa dahsyatnya arti uang. Saya tunggu di sana dengan menahan panas matahari. Maksud saya orang yang mencoba menyuap itu. Tidak. Utang di warung sudah tak terbayar sehingga lewat saja sudah rasa dihimpit oleh hina dan malu. adakah semua juri juga sudah disodori amplop seperti saya? Saya kira itu berlebihan. Bukan apa-apa. Orang juga tidak memprotes keputusan yang diambil juri. Bang. “Ayo dibuka saja!” Istri saya tiba-tiba menunduk dan menangis. Lomba pun memasuki saat penentuan. Pada bulan ketiga.” “Abang jangan salah sangka begitu. Sayang sekali roda kehidupan yang membenam saya di bawah terus. “Lho kok malah nangis. Istri saya diam saja. Mau tak mau saya terpaksa mengakui. Lelah juga dipermainkan oleh ketegangan. Dengan sangat mengejutkan pemenangnya adalah calon yang dimintakan dukungan oleh penyuap daerah itu. hari ini kita memasuki sesuatu yang baru. Masak hanya tetangga yang berhak betulin rumah dan beli motor. kunci untuk mengubah masa depan ada di tangan. Bukan karena suap. didekat senjata yang bisa membalikkan semuanya setiap saat. takut kalau ada tangan jahil mengambilnya. adalah bukti bahwa kemenangan itu tepat. Meski sudah saya sembunyikan dengan begitu rapih. Saya akan mengembalikan. Orang itu tidak muncul-muncul juga. Kemiskinan terasa tidak begitu menggasak lagi. Sama sekali tidak ada suara-suara kontra. Tapi sedikitnya saya sudah sudah bisa membahagiakan keluarga dengan memperbaiki rumah dan membeli motor seperti tetangga saya. Saya pun memperoleh jarak yang cukup untuk menyiapkan perasaan menghadapi kedua amplop itu. Keputusan kami yang diterima baik. Anak saya nampak menahan diri. kalau orang itu datang lagi. Saya naik ke atap rumah untuk menjemur amplop itu supaya benar-benar kering. Suap adalah dorongan yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan merugikan orang banyak. Saya tidak melakukan itu. Jauh lebih baik makan suap meskipun dihukum. Kenapa saya mesti menolak nasib baik yang sudah di tangan. daripada dihukum sebab kena suap tanpa sempat tanpa selembat pun menikmati manis suapnya. Kemenangan itu dinilai wajar oleh semua orang. saya tidak pernah mimpi akan menjadi pelaku suap. akhirnya mulai menang.” “Yang tidak-tidak apa?” “Aku tidak capek karena kita miskin. Rasanya aneh. Jagoan daerah itu memang berhak mendapatkannya. Apa boleh buat biarlah saya masuk penjara kalau saya memang terbukti nanti makan suap. tapi saya cukup hanya memandangi. Dia pasti sengaja pergi untuk menjebloskan saya terpaksa menerima. ketika pemilik amplop itu tidak muncul-muncul juga. Anak saya kontet karena gizinya kurang. Melalui perdebatan yang sangat sengit. Keputusan sudah diambil.yang belum mampu bahkan mungkin tak akan bisa saya berikan. asal masa depan anaknya cerah. Suka tidak suka ternyata harus diakui memang uang mampu menenteramkan. Aku diam karena tidak mau memberati perasaan Abang. “aku sudah mengambil keputusan bahwa ini adalah hak kita. saya memutuskan nekat. Aku tidak mau Abang memaksa diri menerima suap hanya untuk menyenangkan hatiku. karena sudah 3 bulan 10 hari pemiliknya tidak kembali.” “Salah sangka bagaimana?” “Jangan menyangka yang tidak-tidak.”kata saya pada anak-istri malam itu sambil menunjukkan kedua amplop uang itu. Satu bulan berlalu. Ini!” Saya terimakan kedua amplop itu ke tangan istri saya.

baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya.menderita kok. nanti tidak akan pernah baik.” Dia berdiri dan meletakkan kedua amplop itu di depan saya. Isinya juga hanya kertas. Setelah tahu isinya. RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia. Di situ mata saya mulai gelap. Apa maksudnya? Apa itu sebuah peringatan? Saya menatap amplop yang menjadi bersih karena sering saya belai itu. kalau saja para tetangga tidak keburu menyerbu dan kemudian menghajar saya habis. Motornya juga saya hajar. Mata saya bengkak. berpihak pada perempuan dan membela anak-anak. RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia. Manusia sekarang sudah rusak moralnya karena uang. lalu membawanya ke dapur. Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga. Bangsat. “Jangan memaksakan sesuatu yang tidak baik. Anak saya menurut tapi dia melirik kepada saya lalu menatap ke kedua amplop itu. Jelas sekali sekarang. Mungkin ketika anak saya lari-lari berkejar-kejatan dengan Ade. Memang anak dan istri saya tidak usah ikut bertanggungjawab. barang yang sempay saya berhalakan itu saya kupas. Itu kejahatan. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh. Hanya telinga saya masih bisa menangkap isak tangis istri dan jerit histeris anak saya. “Bangsat! Aku yang disuap! Aku yang dijebloskan ke bui dan neraka. Kemudian diam-diam menunjuk dengan telunjuknya. Tak peduli apa kata orang. Dari situ nampak terbayang isinya. kenekatan saya justru bertambah. Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Kemeneg Pemberdayaan Perempuan. lalu saya lempari rumah tetangga bajingan itu. asal mereka tidak. Di satu sisinya ternyata ada belahan. Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra. Rebo 17 September. Tibatiba saya terperanjat. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya. lalu gantikan isinya. bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2 dia SMP saja tidak tamat. merampok uang orang lain sudah jadi semacam kiat dan keberanian. mereka langsung ganti. Mengambil tempat di Ruang Kartini.” Dia menggayut tangan Ade. Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar . Kenapa anak saya tadi menunjuk ke amplop. Disikapi oleh istri seperti itu. Biar saya sendiri nanti yang masuk neraka. Kemudian dengan bernafsu. Sama saja. kamu yang enak-enak menikmati! Bajingan!” Hampir saja rumah barunya saya bakar. Kalau tidak begitu. Dia temukan amplop itu. tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi. membuat saya panas. Dari jendela saya lihat perbaikan rumah tetangga menjadi dua lantai sudah hampir rampung. diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk. Tangan saya gemetar. Dengan kalap saya sambar batu-batu. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Tiba-tiba terpikir sesuatu. Tidak ada lagi perasaan persaudaraan. Masih banyak orang lain yang lebih jelek nasibnya dari kita. Kaca-kaca pintu yang baru dipasang saya hancutkan. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag suap§ Menguji Uji Coba RUU Pornografi§ Posted on6 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. kedua amplop itu sudah direbut oleh tetangga. kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman. Dan ketika saya mencebur ke dalam kolam mereka punya kesempatan untuk memeriksa isinya dan mengganti. Dengan gelap jelalatan karena geram saya keluar rumah. tak mampu melihat apa-apa. Saya menghela nafas dalam. menjarah. Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Suara motornya kedengaran yang nyaring melengking menusuk malam.

baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun. Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman. Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu. Yang pertama adalah masalah moral. tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat. Selaku pribadi. tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. mengapa tidak. sebagai selama ini sudah kerap terjadi. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. “Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman. ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponenkomponen lain) ternyata luar biasa. harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya. tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul. angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa. tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Ini menyangkut ruang privat. Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya. tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi). Kalau memang sudah terjadi kebejatan. Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang). Tetapi kalau memang tidak perlu.” ujarnya.pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu. kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif. masalahnya bukan RUU-nya. Bagi mereka. masih belum sempurna. Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi. karena. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan. Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan. misalnya keberagaman. Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Untuk itu harus ada investigasi. saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta . negara bertindak. masalahnya bukan belum ada atau kurang undangundang. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan. kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri..

Bambang Rsmantoro. Betul sekali. Karena waktunya pendek sedangkan ada keterbatasan dalam jumlah personal pendukung. Seni rakyat digabungkan dengan seni kontemporer. Sohn (sutradara Michoo Theater Company yang konon menyutradarai pembukaan Olimpiade di Korea). Ini memang merupakan bagian dari missi Mandiri sejak dulu. sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Papua dan sebagainya. taktis dan lihai. Menambah pengertian mancanegara pada Indonesia dan sebaliknyta mencoba lebih memahami mancanegara untuk membina persahabatan. Kami . Yanto Kribo. Penonton adalah bagian dan bisa langsung terlibat pada pertunjukan sehingga melahirkan peritiwa. antara lain Thailan dan Jepang yang berlangsung tg 2 s/d 5 Oktober. Tidak hanya seni akting. berkolaborasi. Sukardi Djupri. seniman tak perlu merasa terkengkang. sosial§ Di-tag pornografi§ Teater Mandiri Lebaran di Korea§ Posted on5 Oktober 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Setelah sukses di Praha dan Bratislava pada bulan Juni yang lalu. Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya. mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita. Hanya saja ZERO kali ini sudah mencapai generasi ke IV. serta seni rupa juga dipergunakan serentak dalam tontonan sebagaimana yang dikenal dalam teater tradisi. Tetapi mulai tahun ini. Alung Seroja. Kami tak pernah lupa menempatkan tontonan sebagai alat untuk diplomasi publik. RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan. Walhasil. kemiskinan. 1 Oktober. Sohn Jin Chaek setelah bertandang ke markas Teater Mandiri di Astya Puri Cirendeu. Menurut Mr. anggota Teater Mandiri yang kini sudah menjadi produser berhasil mengerahkan dana sehingga jumlah personil ditingkatkanb menjadi 13 orang. ada perubahan besar. saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali. Direktur International FolkArt Festival of Yangju di Korea. Juga saya ingin berterimakasih pada mereka. para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Agung Wibisana. jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat. Teater Mandiri memutuskan untuk mengusung kembali lakon ZERO yang sudah pernah sukses di Taipe. melihat potongan pertunjukan dan berdiskusi tentang eksistensi Mandiri. Ucok Hutagaol. Para pemain Teater Mandiri juga seperti di dalam teater rakyat. kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun.. Teater Mandiri mengambil posisi pertunjukan sebagai “tontonan”.menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas. Taksu Wijaya dan Egy Massadiah (semuany6a pemain) dengan Wahyu Sulasmoro sebagai pemusik. Beruntunglah Egy Massadiah. langsung meminta Mandiri berpartisipasi dalam festival yang akan diikuti oleh beberapa negara itu. Wendy Nasution. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol. tapi seni musik. dengan banyak perubahan serta tambahan sehingga nyaris menjadi pertunjukan baru. Teater Mandiri juga meminta beberapa orang di Korea untuk ikut bermain. tari. pada awalnya memang Festival Yangju adalah Festival seni rakyat. karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. semuanya adalah pekerja. Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam. → 3 Komentar§ Ditulis pada catatan§. Cairo. Sebagaimana biasa. Mereka itu adalah: Putu Wijaya (pemain dan sutradara). Mr. sehingga bukan hanya tontonan yang tercipta tetapi juga persentuhan kultural. Rombongan Teater Mandiri yang dibiaya oleh festival hanya 8 orang. Teater Mandiri akan berangkat pada hari Lebaran. Teater Mandiri mendapat undangan untuk main di Korea. Buat Teater Mandiri kedua aspek itu memang selama ini sudah menjadi basis perjalananan Mandiri. untuk menambah warna festival. Fien Hermini. Dewi Pramunawati. kedok apa pun yang dipakainya. Praha dan Bratislava. Dengan mengangkat dan sekalian berguru pada seni tradisi dan seni rakyat.

” “Karena kamu anak muda?” “Jelas!” “Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?” Ami terbelalak.” “Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?” “Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak.” kata Amat curiga. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami. tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain. “Ini bukan tidak ada maksudnya. tapi Amat menutup percakapan. Kalau gagal. Amat segera berpakaian. “Biar saja Ami.” “Memang. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan.” “Tapi Bapakmu kan memang sudah tua. Ami?” Ami menggeleng.” Ami masih terus hendak mendesak. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan. “Mengapa dulu dia segan memasang. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan. asal jangan memposisikan dirinya sudah tua. siapa tahu beneran.” “Kami siapa?” “Ami misalnya. Meskipun sudah pensiun. tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda. Tak usah diladeni. Kalau mau nyumbang. Apalagi 5 milyar.” “Ya itu dia. “Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. nyumbang saja seperak juga akan diterima baik.” “Kenapa?” “Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu. Itu kan membuat semua orang mimpi. “Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!” Ami geleng-geleng kepala. Mengenakan sepatu dan baju batik.” “Siapa?” “Kami. “Bapak mau ngapain?” “Ke rumah orang kaya itu. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Pak.berharap kiranya itu dapat ikut membantu menegakkan kembali citra Indonesia di mata mancanegara.” “Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?” ‘Tidak.. lebaran§ Merdeka§ Posted on12 September 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Agustus sudah berlalu. daripada bapakmu ngerecokin di rumah.” “Ibu jangan begitu. Kalau .” “Apa maksudmu dengan over acting?” “Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Ami terpaksa bertanya. biar dia ke sana. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya. “Saya sudah kapok. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. (TEATER MANDIRI) → 1 Komentar§ Ditulis pada berita§ Di-tag korea§.Satu dua kali hujan mulai turun. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap.

ia heran melihat Ami menggeletak di kursi. daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai. Masyarakat seniman berguncang. ini duitnya. “Sepuluh persen apa?” “Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya . hanya berupa piagam dan uang seupil. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. “Aduh.kejadian kan kita semua untung. Sepuluh milyar?” “Seratus ribu. lebih baik jangan membuat persoalan. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki.” Amat terhenyak. Lima milyar. dia sudah nyumbang seratus ribu.” Ami terkejut. sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih.” Ami ternganga. Sudah cukup bukti dunia seni kering. seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang. tapi kemudian langsung bertanya. Paham?” “Tidak. Ami langsung bermimpi. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen.” Ami berteriak: yes! “Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini. makanya benderanya tidak pernah diturunkan.” “Ah? Berapa?” “Seratus ribu. kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif.” “Lho kenapa?” “Bapak bilang kepada dia baik-baik.” Ami tertegun. banyak seniman mati sebagai kere. Andaikan benar. “Bapak juga tidak paham. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Rakyat terpesona. Dia mengubah angkanya. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil.. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Mengapa dia mau.” Ami terkejut.” “Berapa. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!” → 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Pahlawan§ Posted on27 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Seorang seniman mendapat penghargaan. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu. kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. Sekarang beres. nanti kamu masuk angin. Jadi Bapak bilang. Dan benderanya sudah diturunkan. satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu. Bapak kenapa jadi bego begitu?” ‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. “Bapak berhasil?” “Ya. tak usah sepuluh. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Ketika Amat masuk rumah.” “Sepuluh persen dari 5 milyar?” “Tidak. “Bangun Ami. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar.” “Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?” “Ya. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya. Sumbang yang wajar saja.

kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?” “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?” “Jurinya ada main!” Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan. “Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!” Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang. “Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!” Di situ Dadu baru naik darah. “Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!” Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan. “Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.” Dadu tertegun. “Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.” “Memang.” “Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!” “Tidak usah ngomong begitu!” “Kenapa?” “Sebab itu yang memang mereka mau!” “Jadi mereka senang kalau aku marah?” “Persis!” “Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!” “Tak mungkin!” “Mengapa tidak?” “Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!: Dadu tercengang. “Itu dia yang aku tentang!” “Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!” “Aku tidak sudi!” “Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!” Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam. “Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!” “Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!” “Maksudmu?” “Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!” “Memang itu yang aku lakukan!” ‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!” Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?” “Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!” Dadu terdiam. “Bagaimana?” Dadu memejamkan matanya. “Bagaimana?” Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang. “Ternyata kita berbeda.” “Berbeda?” “Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!” Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik. “Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

→ 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag pahlawan§, seniman§ Ada Tak Ada§
Posted on24 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Sajak buat peringatan Cak Nur Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku Tak ada Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku Tak ada Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku Tak ada Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku Tak ada Kucari wajahmu di mana-mana Tak ada Kucari nama yang tepat untukmu Tak ada Kucari ucapan yang layak untukmu Tak ada Kucari tempat yang pantas untukmu Tak ada Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan Tak ada Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu Tak ada Kucari segala-galanya yang tak ada Tak ada Tak ada Kau tak ada Kau tak bisa dicari Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

→ 4 Komentar§ Ditulis pada sajak§ Di-tag cak nur§ Kebebasan§

Posted on23 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga. “Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga. Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib.. “Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwaraganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.” Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung. “Mau merdeka?” “Ya.” “Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!” “Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.” Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya. “Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?” “Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.” “Silakan. Kita kan sudah merdeka.” “Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.” Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga. “Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!” “Berekspresi saja, Pak.” “Ya apa itu?” “Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.” “Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.” “Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.” “Di mana dia sekarang?” “Di rumah, Pak.” “Sakit?” “Sama sekali tidak, Pak.” “Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?” “Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.” “Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?” “Arahnya pasti ke situ, Pak.” “Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?” “Fitnah, Pak!” Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel. “Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!” “Bukan, bukan begitu, Pak.” Petugas tertegun. “Jadi bagaimana?” “Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin

sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!” Istri Agandi menangis tersedu-sedu. “Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa. buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya. dia akan menyerah tanpa syarat. atasannya muncul. Dia bukan jenis pahlawan atau . Pak. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kebebasan§ Kekerasan§ Posted on22 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Warga menyerbu rumah Afandi. .” “Difitnah bagaimana?” “Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah. “Ada masalah apa?” “Anak saya difitnah. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi. Wajar masyarakat protes. Pak. jadi dia berkorban. kamu harus minggat dari sini. tidak mau keluar rumah. kontan diseret ke lapangan. Itu dianggap sebagai persetujuan. Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. tetapi kenapa anak saya malah difitnah?” Petugas itu menarik nagas panjang. Bapak yang mengadu itu. Malah diserang oleh massa. “Anak saya ini. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Pak.”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya. Lalu sambil berteriakteriak lukisan dibakar beramai-ramai. Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi. Pelukis itu kemudian pindah ke kota. sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih. masuk ke kamar atasannya. Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan. Rumahnya nyaris dibakar. ada persoalan apa?” Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka.” “Kenapa tiak keluar rumah?” “Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain.keluar rumah. Kemudian dia seperti baru bangun tidur. lalu menarik foto anak gadisnya. Itu sebenarnya makna kebebasan. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap.” Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Masih muda dan cakap.” Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil. Mengeluarkan rokok. Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. “Selamat pagi. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Tak berapa lama kemudian. “Putri Bapak itu seniman?” Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya. lalu permisi. Pak. Dengan tidak keluar rumah. selalu menghindar. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya. ia meletakkan rokoknya. Ia lama terdiam. Pak. Ia langsung berpikir. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. “Wah putri Bapak cantik sekali.” Pejabat muda itu mengangguk. Setelah beberapa kali hisap. “Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Afandi tetap saja diam.

” “Hanya itu?” “Gambar suami saya sendiri.” “O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?” Istri Afandi terkejut. “Tuhan dibakar!” Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu.” “Tidak bisa atau tidak mau?” “Tidak bisa dan tidak mau.pemberontak. . Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol. karena anak-anaknya masih kecil. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya. Suami saya juga sudah berhenti melukis. Para pembaca koran marah. Ia ingin banting stir.” “Yang tiga lagi?” “Gambar saya. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. “Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?” “Gambar anak-anak saya. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya.” “Siapa dia? Pemimpin kita?” “Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara.” “Kenapa?” “Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan. “Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. berhenti menjadi seniman. Kata suami saya sih. “Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar. Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil. “Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru. tendangan dan pukulan. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Karena itu akan mengundang malapetaka. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing. Istri Afandi masih belum selesai terkejut.” “Yang lain?” “Gambar orang tua. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan. Publikasi berbahaya.” “Laki atau perempuan?” “Seperti laki-laki seperti perempuan. itu hati nurani.” “Terus yang lain?” “Yang kelima?” “Saya tidak tahu. sebaliknya. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu.” “Kenapa?” “Sebab dia tidak bisa melukis yang lain. Habisi saja!” Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. “Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan.” Wartawan terkejut.” “Banci?” “Bukan. “Tuhan?” Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok. mereka hanya menemukan puing-puing. Wartawan cepat-cepat menjelaskan.” “Mirip siapa?” “Tidak tahu.

Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik.. Dengan mematikan satu suara. “Masak?” “Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.” Bu Amat terkejut. “Itu rahasia. Bapak bingung!” “Kenapa mesti bingung?!” “Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. “Anakmu itu menuduh aku ini pengecut. Pilih satu. kan?!. ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!” “Bukan itu maksud Ami. Mereka menolak dan melawan. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat. itu jauh lebih baik. Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak.” Bu Amat tambah terkejut lagi. dua atau tiga? Amat bimbang. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami.” Ami tersenyum. Itu hanya teori. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag afandi§. “Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami. Sebagai pemilih. langsung diamankan. tidak mau menentukan sikap. “Kalau begitu Bapak akan jadi golput?” “Ya!” Ami terkejut. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. “Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat. daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan. “Jadi bapak tidak akan memilih?” Amat berpikir sebentar lalu menjawab. dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. tidak berani mengambil resiko. lukisan§ Pilkada§ Posted on21 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Bapak tidak mau salah pilih. Ami. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam. Ami. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini. “Bapak mau jadi orang biasa saja. Itu berarti tanpa Bapak sadari. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “ Amat terdiam. “Bapak sadar tidak. Sebagai warga yang bertanggungjawab.” “Terus-terang saja.” . “Tidak!” Ami kontan marah. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!” Amat tertawa. “Masak?” “Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!” “Maksumu apa?” “Golongan putih itu tidak ada. Pak. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu.Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu.” “Betul!” “Jadi?” “Ya Bapak bingung.

“Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?” “Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya. “Kalau begitu Bapak akan memilih?” “Ya!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Nguping§ Posted on20 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus. kan?” Ami terseyum. “Wah kalau begitu. Pilih yang paling ganteng saja!” Amat kaget. itu kebangetan. enaknya sendiri. Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu. “Lho. ya. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami. kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak. Yang berguna tapi bagus. “Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?” “Itu rahasia!” “Jangan begitu.” “Yang mana?” Ami tak menjawab. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!” Amat bingung. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?” “Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna. berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!” Bu Amat terkejut.” Amat menatap Ami. kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. “Bagaimana bisa memilih Ami. Bu. Tinggal saja.” Amat tercengang. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua. harus pakai pikiran! Kalau salah pilih. Jadi dikacaukan!” “Itu kan pilihan Bapak. Ibu jangan hanya pakai perasaan. tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin. berarti sebelum main coblos akan mikir. Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik. Pak. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Tampangnya juga jelek. Pak. yang berguna. miskin lagi. “Ami. baiknya pilih yang mana?” “Nah kalau sudah begitu. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. “Sudah tinggal saja!” kata Ami. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. Harus pakai perhitungan!” Bu Amat terdiam. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita. ya. yang bagus!” “Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?” “Terserah Ibu. “Pemilihan itu bebas rahasia.“Ah masak?” “Lho jelas!” “Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali. meskipun bagus jangan dipilih. “Wah. Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!” Ami tercengang. Dan yang berguna itu. jangan asal coblos. Kalau tidak. sebaiknya yang bagus dan berguna. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya . apalagi ikutikutan. Jangan begitu.” “Yang bagus itu. boleh dipilih. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya.Tapi kalau boleh menyarankan. Kamu kok mau-maunya sama dia. memilih itu memang ukurannya bagus.

” “Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?” “Bukan.” “O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka.” Ami mengangguk. “Ada apa?” “Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.” ‘Maksud Ibu?” “Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah.” “Bukan begitu. Kalau teleponnya tidak disadap . “Kenapa Bu?” “Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang. nanti Ami juga yang kena getahnya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan.” Ami bingung.pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?” “Ya itu hukum alam!” “Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang. Jadi mesti dipancaing. Menurut Ibu. Itu sama saja. Cinta boleh. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!” Bu Amat langsung kaporan pada suaminya. “Ibu lembut sekali. tidak boleh dengan kejahatan. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. Kalau tidak. Ami penasaran. bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. tapi terlalu cinta itu berbahaya. Ibu kan jadinya kawin dengan aku. biar tahu rasa!” Bu Amat termenung. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!” Amat ketawa. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Coba dengan lelaki bejat itu. entah bagaimana nasibmu sekarang!” “Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!” “Biarin. Tapi Ibu tidak setuju. Kalau kita mau melawan kejahatan. Malam hari Ami menyapa ibunya. “Bapak harus mengambil tindakan tegas!” “Tindakan apa?” “Ami tidak boleh bicara begitu!” “Kenapa?” “Itu kan bukan urusan Ami!” “Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?” “Itu bukan nasehat. lalu mengadu kepada Amat. sebenarnya maksud Ibu apa?” Bu Amat tidak menjawab. bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Lihat saja. Baik kepada orang baik. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. maupun kepada orang jahat. Kejahatan itu akan gagal. bahkan kepada penjahat pun tidak boleh. Pak?” Amat berpikir. dipergoki biar kapok. “Aku tidak mengerti. “Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!” “Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh.” “Ya apa salahnya?” “Salahnya. nanti kita yang akan dikejami sama dia. Ia nampak tak senang. “Kenapa?” . Bapak juga dulu begitu kan?” “Tapi buktinya. “Ada apa dengan Ibu.” “Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?” Amat terdiam.

Maafkan Ibu Ami. apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. “Naskah? Naskah apa?” Ami tertawa. nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Rumah idandani. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya.” Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam.” Ami terkejut. Ami!” “Lho ibu ini bagaimana.” “Tapi memang harus begitu!” “Jangan!” “Harus!” “Jangan. kesejahteraan. . hotel. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. Kendaraan juga sama. “Ah yang benar?” “Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya.” “Tapi itu bukan urusan pribadi. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. tapi satu minggu belum tentu . Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. juga muncul berbagai ciri. Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya. “Ya. jumlahnya bertambah. tempat peristirahatan dan kota-kota wisata. jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta. “Pendapatan. “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. Sosoknya lebih sering di tempat lain. Kehadirannya juga semakin jarang. ditingkatkan.” “Kejahatan apa?” “Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik. “Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.” “Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. mall. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang. tapi Ibu minta.“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya. naskahnya memang begitu!” Bu Amat tertegun. Istri cantik dan terkenal.!” Ia menikah dengan seorang super model. Karena waktunya tidak ada. restoran. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran. orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Tak baik. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal . tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel.. “Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. perlindungan. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng. sebab demi kebaikan. Bayangkan ada 10 rumah. “Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba. iperbesar. meskipun orang itu jahat. kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Komunitas Budaya§ Posted on19 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ketika seseorang mulai kaya. Fasilitas. jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir. diperlebar. Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar.

Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif.” Edy tertawa. dan punya bus way. kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. bahkan sangat sukses. ‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?” Kelima pemuda itu tersenyum.” “Ukurannya?” “Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Dan pada akhirnya.” Pertemuan berakhir. Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Ini bukan revolusi. Terus-terang. Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. sebab keuntungannya tidak kelihatan. mono rel.” “Lalu apa?” “Pencapaian. Ini hanya kebangkitan. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain.bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Mereka lalu turun ke . Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?” Edy tertawa. “Itu matematika kuno. Saya bilang keliru. selamat siang. jangan memakai kata-kata itu. Apa sebenarnya menang itu. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol. Kalau Bapak bisa membantu kami. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. “Karena Bapak orang yang sukses. Selama ini. saya tidak tertarik. namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. tai kucing. Prestasi. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama. Pak Edy. gagal. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol. Maaf. Itu berarti kita berarti. puas kalau sudah paling atas. kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Bukan dengan gedung. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. “Wah. karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung. Mobil sepuluh juga belum cukup. Aku baru merasasenang. saya belum selesai. jangan dijawab dulu. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Pak.” Edy ketawa lagi “Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. untuk menghajar para pemuda itu. dengan budaya. yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris. Aku ingin di atas. Tetapi mereka tidak menyerah. apa sebenarnya bahagia itu. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. London. mobil tetapi dengan buah-budi. dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Orang bilang mobil satu itu cukup. yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Apa sebenarnya nomor satu itu. Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. berhenti berambisi. meskipun sudah bangun jangan layang. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka. Yang konkrit saja. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Mula-mula ia pura-pura bertanya. “Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?” Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab. Apa itu kebahagiaan atau bukan. New Yotk. Nomor satu dan paling depan!” Pada suatu kali. dari dusun. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata.

karena ia hanya ingin ada dua warna. mundur dulu. aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Meskipun sudah hampir jam 10 malam.rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. menghampiri. Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu. “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. kecuali bendera-bendera negeri sahabat.” ‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah. Karena kalau itu dibiatkan lepas. ‘Terimakasih. → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag budaya§ Merdeka§ Posted on18 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu.. penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin. “Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh. karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Ia memandang Ami tajam.” “Betul!” “Kalau betul. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!” “Masak?” “Coba Bapak lihar!” Amat tergugah. karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!” Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. “Kamu bilang apa?” “Saya dengar Bapak sudah menyerah!” “Siapa bilang?” “Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. teguh dan percaya. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana.”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu. mesti tahu diri. Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi. Pak.”kata Bu Amat. perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. “Kita mesti sadar kepada situasi sekarang. Dengan bernafsu ia . ia keluar dari rumah. komunitas budaya ini harus dilahirkan. “Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Menyumbangkan apa saja. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!” Amat mengerti. Bendera-bendera lain. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama. “Memang. Amat terpesona. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar.” “Ya itu hak dia. bisa menimbulkan perkara. merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas. kenapa sekarang adem ayem?” “Adem ayem bagaimana maksudmu?” “Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?” “Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?” “Ya. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik.

Tanpa perhitungan lagi. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak. saya tidak percaya!” “Betul Pak Amat. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Amat memasang muka seribu. meskipun kecil.” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag merdeka§ Kemerdekaan§ . Jadi begitu. Ia melirik ke samping. begini. Bukan juga kritik. Kemudian mengubah suaranya lembut. Kepalanya pusing.” Orang itu tertegun. Tetapi karena waktunya semakin mendesak. Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. “Pak Amay. Tetapi Pak Amat harap mengerti. Di depannya nampak bendera partai. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan. “Selamat malam.” “Persis. Sama sekali bukjan menyindir. Pak Amat. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur. segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa.” “Bapak jangan tersinggung.” “Kenapa mesti tersinggung. Warnanya pun sudah lusuh. Lalu menarik nafas dalam. Betul tidak?” Orang kaya itu terdiam. tapi hanya sekedar bertanya saja. atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. momentumnya nanti bisa hilang. “Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih. Ia mati langkah. saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malammalam begini. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Begitu. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh?” Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Pak Amat. Karena itu bagian dari kemerdekaan. saja ingin tahu. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh.pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Ia menoleh ke samping yang lain.” “Maaf. sebab kita hidup di alam demokrasi. Darahnya mendidih. Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:. “Menanyakan apa Pak Amat?” “Ini bukan protes.” Amat tertegun. pak Amat.” Orang kaya itu tersenyum.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah. “Tentu saja pak Amat. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Terlihat sang saka. tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Tak ada maksud apa-apa. “Ikhlas dan jujur? Masak?” “Betul.” “Saya tidak bermaksud untuk merecoki. hanya sekedar bertanya. Pak Amat.” “Silakan masuk. “Tentu saja boleh. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. belel. Saya penasaran. Tidak ada motivasi apa-apa. agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya. “Selamat malam. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini.” “Terimakmasih.” Amat terkejut. Dan betul. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan. saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. tetapi hanya mau bertanya. lalu dia memujit bel di gerbang. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar.

Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Tetapi malam ini benar-benar istimewa. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Kemerdekaan adalah persatuan. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Tetapi atas nama kemerdekaan. Kita boleh tidak suka. Nampak lukisan itu. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. para tamu. Tetapi kemudian ia berpidato panjang. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Kemerdekaan adalah kebersamaan. adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. “Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Mereka mengangkat lukisan itu. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut. karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman. Gubernur pun bengong. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras. menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Silakan dibuka!” Semua berkeplok tangan. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. “Saudara-saudar hadirin. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. “Saudara-saudara. satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi: “Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Tentu saja semua menyambut gembira. untuk mempimpin. Asap mengepul. menunjukkan langkah konkrit. Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa. undangan yang saya muliakan. Dari luar negeri. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Lalu sorot menyala. lukisan ini. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Kata orang.”kata Gubernur. Tetapi belum jelas. tidak lagi hanya sibuk mengurus seni. karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. . semakin jauh orang.Posted on17 Agustus 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Tetapi semua orang terkejut. Panggung pun sepi. Lampu menyorot. Seorang penari muncul.”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. Mereka menggebrak. sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya. Pelukis besar kita ini. Terjadi keributan. Inilah salah satu gambarannya.” Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. “Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Cahaya lampur berpedar-pedar. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu. sebenarnya ia semakin pulang. ditarik dari tempat shooting film barunya. ” Stop! Stop! Jangan dipotret!” Para petugas muncul dan mengamankan. tapi juga ngutus bangsa dan negara. ingin mengabadikan namanya di Gubernuran.. Gubernur terlambar mengangkat tangan. “Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat. Mungkin sekali tidak berani. Tetapi gagal. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?” Tidak ada yang menjawab. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka.

apa salahnya?” “Pak Amat kenal dengan beliau?” “Siapa tidak kenal beliau. buat apa digantung?” Semuanya terdiam. kita akan cepat sekali lupa!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag 17 agustus§.”tanya seorang Ibu. akan jadi porno.” Amat ketawa. “Bapak sendiri bagaimana?” “Lho. porno!!” Semua terdiam. apa yang kita cita-cita akan tercapai. “Kenapa? Karena porno?” “Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil. tanpa selembar kain pun di depan orang. kita semua akan senang sekali. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung. saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?” Tak ada yang menjawab. kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?” Tidak ada yang menjawab. Jalan kampung lagi!” . “Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?” “Telanjang bulat bagaimana. Kan sering ada di koran. seorang di antara berjuta-juta warga lain. Surat itu diperlihatkan pada tetangga. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit. di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya. selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain. Kalau bisa diperbaiki. baik akan saya gantung. Karena kalau sudah diobral begini. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Jadi bukan perasaan saya yang penting. pejabat pilihan saudara-saudara sendiri. Tetapi selaku gubernur. Pak Gubernur!” Gubernur mengernyitkan dahinya. “Masak Gubernut ngurus jalan rusak.” “Hebatnya apa?” “Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja.” “Apa?’ “Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Pak.” tulis Amat.” “Hebat. “Ya. “Lebih baik jangan dipajang. Semoga dalam kepemimpinan Bapak. Tapi kalau tidak. “Hebat. saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. Kalau saudara-saudara setuju. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju. namun perasaan kalian semuanya. ya pasang saja. Betul tidak?” “Maksud Bapak porno?” Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas. “Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini.. “Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar.” “Lho.“Selaku pribadi. saya mewakili kepentingan saudara-saudara. hati saya berontak. saya Pak Amat. “Bagaimana?” Tetangga manggut-manggut. merdeka§ Surat Pada Gubernur§ Posted on11 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ “Bapak Gubernur. saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan.

Bukan hanya diperbaiki. tidak usah jalan kaki. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya. Aids. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Pak Amat! Kalau ditunggu. apalagi bawa banyak barang!” “Jadi Ibu setuju?” “Ya. Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. nanti masa jabatannya sudah selesai. nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan.“Lho kenapa tidak. kenaikan harga bensin. pemasan global. belum lagi korupsi. sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Pak. Orang biasa. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Narkoba. Jangankan jalan rusak. jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!” “Kenapa tidak?” “Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!” “Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Beliau pelindung rakyat. Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Pak Amat. “Kalau Pak Amat tidak percaya. tidak. “Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. nanti ditambahin.” Amat ketawa. Ia tak habis pikir. ya. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?” “Ya mau!” “Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!” Amat tertawa. tapi kalau garamnya kelupaan. iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?” “Ya tidak . . Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat.” “Makanya!” “Makanya apa?” “Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!” Amat ketawa. “Jangan ketawa saja Pak Amat. yangmahal. tambahin!” “Ya. yang megah. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Belum sampai pukul 11 malam. batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius.” “Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya. yang banyak. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan.”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. coba periksa ke dapur. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. “Kalau begitu. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!” “Jadi usulan itu ditolak?” “Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?” “Apa salahnya?” Amat tercengang. mengapa semua itu bisa terjadi. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segalagalanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. belum juga giliran perbaikannya datang. Benar nggak?!! Nah. Amat teler. Yang sepele itu sangat penting. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. tidak akan ada rasanya. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar. Ya tidak?!” “Kalau itu benar. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu. “Itu kan tugas bawahan Bu?” “Orang bawahan banyak urusannya. “Ya sudah. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”" Amat tesenyum. lalu menyerah di tempat tidur. Kalau masyarakat mau bergotong-royong.

Ada yang …. anakku!” “Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. “Su → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag gubernur§ Dekrit§ Posted on5 Juli 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Lalu dia bertapa. Amat gelagapan bangun. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah. tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!” “Jadi kamu tidak mau dibagi?” “Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak. “Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. kebun kelapa. di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. . hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita. tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Kalau tidak. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Warisan bukan benda tetapi sabda. “Sawah. kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Kuper. kita berbagi kewajiban mengawal!” Anak ketiga tidak peduli.” Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu. kita akan bangkrut. Kalau warisan diartikan sempit. tegalan. bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati” Anak yang keuda mendebat.” “Nitip apa?” “Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Sekarang kita tidak hanya butuh makan. itu namanya bukan warisan tapi penindasan. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. sehingga menjadi jalan utama. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Bapak!” “Kenapa?” “Mereka mau nitip. tapi hidup layak di atas garis kemiskinan! “Tapi itu warisan leluhur. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter.jalan itu akan diperlebar. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik. Ada yang suaminya kawin lagi. berarti bunuh diri. Bapak jangan memberhalakan barang. itu hanya benda mati untuk menolong hidup. Jangan mensakralkan warisan. Siapa yang berani mengubah kuwalat.”katanya. bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. “Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Sawah dan tegalan itu hanya wujud. harus diwarisi. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar. Satu senti pun tidak bisa digeser. tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. dari mana pun datangnya. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca. Ada yang dapat kasus tabrak lari. apa pun namanya. anak-cucu kejepit. Kalau sampai warisan diabrak-abrik. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Jual semua. Sebaliknya. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. apa pun namanya. kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Segala sesuatu yang menindas. sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. sama saja. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya. Mereka merayu dengan segala macam cara. Kalau dipaksa bertani. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik. “Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!” “Kenapa?” “Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu. membuat Pak Tua tidak jadi mati.

Semuanya sedang meletus. suara dan uraturatku sudah lapuk. kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan? Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata: “Keberanian.” bisik salah seorang mewakili yang lain. itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata. mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin. Tenaga. duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung. sebagaimana yang dituduhkan orang. dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!” Kini lebih dari setengah abad berlalu. karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu. bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. satu generasi lagi harus dibagi lima. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka.”hasrat kami untuk membagi warisan. sementara anak-cicitnya. Sebaliknya dari ketidaksetiaan. aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!” Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. “Kalian semua sudah besar. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Mewarisi itu bukan memiliki. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang. Itu zalim. dalam badai dan taufan. Panah Pasupati pun tidak cukup handal. boleh marah bahkan boleh menentang. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai. Kalau warisan ini dibagi tiga. Apa daya? Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi. Sudah waktunya untuk mandiri. ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag dekrit§ Damai§ . Walau pun putraputranya semula begitu galak. cari sendiri kehidupanmu. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!” “Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita. Boleh tidak setuju. Kembali terjadi keos. Boleh menyerang.. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. Kalian tidak perlu warisan. Warisan ini tidak jadi diwariskan. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran. tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan. karena ini bukan kue. “Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. kamu mencintai dirimu sendiri!” Orang tua itu marah sekali. Apa daya? Masihkah keberanian. ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. ini bukan barang tetapi cita-cita. Itu fitnah. lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing. tetapi sebagai cita-cita. karena yang diperlukan sekarang adalah duit. mengembangkan dan meneruskan. hukum dan wibawa. aku akan mempertahankannya. keberanian dan ketepatan agar tidak mampus.“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!” Serta-merta tapanya gagal. Naun ia sudah punya tekad bulat. Tetapi ajaib. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan. tak ada yang beranjak. Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Ia kontan buka mata dan membentak. bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. juga sudah terlalu klise. bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita. supaya semua anak-anak senang. “Ayah. Lalu anak-anaknya dipanggil.

suruh mereka damai!” bisik para tetangga. Dengan panik dia menarik Amat keluar. dianggap sudah jadi besi tua. bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat. . “Kalau tidak perlu kenapa?’ Amat terkejut. jadi aku bisa melihat apa jeleknya!” Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. lalu mereka ikut berteriak.Posted on27 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ “Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur. Para tetangga menyisih memberikan jalan. damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!” “Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?” “Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Amat maju setapak-setapak. tetapi perang.” “Caranya?” Amat berpikir. “Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai. nanti yang terjadi bukan damai. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Bu Amat menyeret suaminya keluar. Mungkin keris atau pisau. Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!” Ami terlebih dahulu keluar. Amat jadi gentar. tetapi dilaksanakan saja. Yang jelas. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Ternyata dia kembali menjadi kunci. “Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!” “Stttt! Bapak!” “Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Benar saja. “Damai! Damia! Damai!!!!!!” Bahkan kewmudian mengaum. agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak.”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut. Tapi hanya menonton. Karena mau melindungi ketakutannya. “Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!” Karena Amat masih bengong. Amat masih berpikir. untuk mengatasi rasa cemasnya. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah. sudah banyak orang berkerumun. Jadi karena dideklarasikan. Di rumah tetangga. “Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol. Perlahan-lahan Amat maju. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?” “Karena Bapak tidak ikut?” “Betul. Ketika melihat Amat datang. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!” “Masak?” “Habis. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Kalau lagi senang-senang disisihkan. Amat dan Ami tercengang. Aku berada di luar. Renon Sabtu lalu. Kalau salah satu bergerak. meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?” Amat tiba-tiba berteriak. dengan dalih damai. itu saat yang amat sulit. karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu. Alangkah sialnya jadi orang tua. “Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!” “Cepat tolong. “Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian.” “Jadi sebaiknya bagaimana?” “Damai itu tidak dideklarasikan. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya. “Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya. menjawab dengan pertanyaan. akan terjadi pertempuran segitiga. Kelewangnya berkelebat. “Ayo Pak Amat. Kalau sudah begitu. karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri.

rumah akan jadi keranjang sampah. ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. tempat kita semuanya berkumpul. entah apa jadinya tadi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Itu adalah kezaliman. “Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar. Waktu Amat nyaris hambruk. “Bapak hanya mengingatkan bahwa. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga. Apalagi beberapa foto. malah membuat mereka tadi tambah marah. karena kalian mau memakainya sendiri. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian. “Untung polisi cepat datang. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. karena kalian juga adalah warga kami ……. kalau tidak. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat. ia akan roboh. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. dibuang atau diberikan kepada tetangga. seperti siap menebas. Rumah ini memang milik kalian bertiga. bersihkan segala meja. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar. sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Itu inisiatip Ami sendiri. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. “Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu. membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan. Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. ” Tadi bukannya memberikan peneduhan.”kata Amat lari dari rumah. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela. kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang.” Suara Amat hilang. pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri. Amat baru menjawab. karena tak kuat melihat kezaliman itu. tetapi mengangkat kelewang. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama. Mereka mundur. Bapak sih tadi ngomong begitu. mengungsi ke tetangga. Tapi kalau dibagi akan hancur. “Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Sekujur badan Amat gemetar.“Maaf. Tetapi situasii sudah terkendali. Rumah ini tidak bisa dibagi. Sebelum Ibu melihatnya sendiri. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik. tiga bersaudara itu berhenti berkelahi. ketigatiganya malah mengangkat kelewang!” Di rumah esoknya. almari dan rak buku dari sampahsampah tidak penting yang disimpan bapakmu. Disaksikan oleh seluruh tetangga. Coba tidak. pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Itu pasti perintah Ibumu kan?” “Bukan. Beberapa detik lagi. “Bukan karena polisi itu. Tetapi aneh. Bu. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi.” “Karena apa?” “Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§ Kekerasan§ Posted on6 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Tidak hanya di Monas. setelah pikirannya tenang. lebih baik Ami bakar.” “Kenapa semua foto dibakar.” “Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!” “Ibu hanya mengatakan. kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga. mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!” Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.” Ketiganya mundur.” . tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Ibu akan lihat semua. dibuang. kalau tidak. Pikirannya sudah mengatakan. kata Ibu. lalu berbalik dan pergi. diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan. bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Bapak tidak ikut campur. coba Ami.

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!” “Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!” “Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?” “Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?” “Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!” “Nah makanya!” “Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?” “Betul?” “Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undangundang! Tidak bisa!” “Bagaimana dengan poligami?” “Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!” “Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!” “Cocok! Makanya jangan main kekerasan!” “Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!” Amat termenung. “Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?” “Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!” “Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.” “Salah!” “Salahnya di mana?” “Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?” Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang. “Kok diam saja,”tanya Amat. “Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.” “Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.” “Kekerasan apa?” “Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?” “Foto apa?” “Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.” Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami. “Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?” Ami menjawab polos. “Betul.” “Kenapa?” “Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!” “Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?” “Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!” Bu Amat menggeleng-geleng. “Ami kamu salah!” “Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!” “Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.” “Bagaimana?” “Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan

orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!” Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan. “Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.” Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

→ Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag amat§, kekerasan§ Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008§
Posted on4 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003. Dengan dalih menciptakan perdamaian. Teater Mandiri akan berangkat ke Praha.SINOPSIS: Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang. Hong Kong. Pada 10 Juni. PEMAIN: Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya. manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil. Taipeh. telah dimainkan di Tokyo. Cairo. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. MUSIK: Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB) Pimpro: Dewi Pramunawati SUTRADARA: Putu Wijaya . Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Singapura dan beberapa kota di Indonesia. ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan.

L. → 3 Komentar§ Ditulis pada undangan§ Di-tag GKJ§. almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan. Cairo. Middle Town. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi. Kyoto. New York. Dengan keras. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Mohon dukungannya. Pertama. tetapi alat untuk mengembangkan. Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban. Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. menumbuhkan dan menemukan diri. tegas dan penuh desiplin. tempat mengembangkan jati diri. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”. Brunei. Kedua. Hamburg. menyebabkan keamanan mulai pulih. Taipeh. dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Hong Kong. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh . Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. zero§ Tiada Lagi Bang Ali§ Posted on3 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Teater bukan tujuan. Singapura.TEATER MANDIRI Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria. Bandit-bandit dihalau. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat. Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang.A dll.

membanjiri jalanan dengan motor. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Bang Ali kini tiada lagi.dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar. saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan . Bang Ali menjadi sebuah contoh. alangkah indahnya. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Tidak ada sensor dan kekangan. teknologi. sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. mencetak mall. Mata mereka mengatakan. di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM. Dia melahirkan “tradisi baru”. sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Saya sendiri sempat kena getahnya. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng. karena setelah dua decade. tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968. tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. sudah tercatat dan akan bekerja terus. untuk kembali membumi pada akarnya. tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. adalah menyehatkan kehidupan budaya. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah. bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik. bikin mono reel. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Saya dengar sendiri semuanya itu. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. hasilnya nyata. Warga ibukota di masa Bang Ali. Pada setiap kesempatan yang baik. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi. tetapi lebih dari itu. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Tetapi apa yang sudah terjadi. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat. karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur. memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih. menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang. Pada 1975. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Betul sekali. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat. ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang. adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO. melahirkan busway. Memang keberadaan TIM kini. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM.”katanya. ekonomi. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani. menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan. melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani. Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk. yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi. Pimpinan dan rakyat lebur. menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Itu masa ketika desiplin benarbenar tegak di TIM. Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan.

Amat melirik ke meja makan. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan. memaki-maki saya. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Saya katakan pada waktu itu. Jumlahnya masih lima ekor. nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu. seandainya saya Gubernur. tetapi karena sayang. Kalau dibantah. Tak satu pun yang disembelih. Kita kan sudah 350 tahun dijajah. “kata Amat pada Ami. kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!” Bu Amat tercengang. kontan membentak. karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. bagaimana pendapat saya. Walau kini Bang Ali sudah tak ada. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan. Jadi kita akan menghadapi bahaya. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Amat keramas dengan air bunga. Amat panik. Kita harus pertahankan!!” Pada tanggal 1 Juni. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Tapi kalau tidak dibantah. “Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga. mesti kita jadikan. “Merayakan kelahiran Panca Sila. “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu. sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Sampai sekarang belum pulang. Amat mulai tidak yakin. “Ami. jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. seperti masuk ke dalam sanubarinya. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung. Koran meributkan pertunjukan itu. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Ternyata tidak ada. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Bapak salah perhitungan hari ini. “Tenang saja. Sore hari. Amat mulai deg-degan . saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin. Di situ ia kecewa sekali. “Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!” Amat tidak membantah. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. → 2 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag ali sadikin§ Panca Sila§ Posted on2 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 4 Komentar§ Amat minta dibuatkan nasi kuning.” . Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. lalu menggenakan stelan putih-putih. pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tenang saja. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung.” Ami mengangguk tenang. Pak. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah. tapi ia tetap hidup di hati. Tapi tidak ada perubahan. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. kita sudah biasa menghadapi bahaya. Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya. “Nggak apa. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa. Sepanjang hari ia menyendiri. karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Kalau tidak ada juga.” “Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?” “Ya sudah. Waktu Ami pulang dari kampus. Kalau belum nampak mesti kita cari.dilanjutkan di plaza.

Belum apa-apa pasti langsung maunya demo. Ternyata di depan. Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung. “Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?” “Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!” Amat terkejut. Lagipula kalau manusianya pembohong. kalau berani berbohong. mereka tidak akan apa-apa. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!” Ami mengernyitkan dahinya. burger atau fried chicken. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan.” “Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?” “Tenang saja. di dalam diri. Sekarang akan tambah bukti lagi. tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo. jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?” “Ya kan?!” Ami tiba-tiba tertawa. Mereka sudah biasa dibohongi. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang. . “Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?” “O ya?” “Ya! Padahal kamu kan sudah bilang. para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga. “Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?” “Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!” Amat mengurut dada senang. “Tenang. Bapak mengerti sekali itu. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan. mereka pasti tidak akan mau datang!” Ami nampak beringas. Makanya kalian semua cepat marah. Mereka suka.” Amat tercengang. Dibohongi sekali lagi. “Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?” Amat tersirap. sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan. Pak. tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk. “Kok ketawa?” “Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza.“Tapi kita akan malu besar. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu.” “Habis kalau tidak dipikat begitu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya. sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Ia gugup. jarena itu mereka akan datang. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. turun ke jalan berteriak-teriak. Ia merasa amat bahagia.” “Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?” “Memang. “Masak begitu?” “Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. menentang. aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!” “Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji. Pak. Ami tersenyum. Bangsa kita kan jago memaafkan. Malam hari. “O. tetapi dikembangkan di dalam rumah. Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai. menggempur apa saja.

Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Yang kami dapat hanya pertentangan. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Masak Bapak tidak pernah baca?” “Belum. “O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?” “Tidak. “Apa itu? Aku belum pernah dengar. kepercayaan bahkan juga dukungan. “Pak!” “Ya? Ada apa Ami?” “Kenapa Bapak tidak pernah kembali?” “Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi. bukan menjadi lebih perih.” Bung Karno tersenyum. kami juga perlu demokrasi ekonomi.” ” O begitu?” “Ya! Makanya Bapak harus kembali. yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah. Beda sekali dengan dulu. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik.” “Tidak Pak. Pak. Pak. Kami memerlukan Bapak!” Bukan Karno mengangkat tangannya. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi. “Tidak mungkin!” “Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?” “O kalau itu. Bapak saya yang suka wayang. tidak akan begini jadinya.” “Tidak. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna. seperti pidato Bapak. bukan itu. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali.” “Memang. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Pak.→ 4 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag panca sila§ Bung Karno§ Posted on1 Juni 2008§by Putu Wijaya§ | 3 Komentar§ Ami bertemu dengan Bung Karno. Pak. aman supaya kami tenang.” “Memang.” “Tapi kami perlu Bapak.” “Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi. sejahtera. Kami sudah menunggu.” “Itu namanya kurang sabar.” “Baca dong Pak.” “Lho Bapak katanya kutu buku.” “Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. kalau tetap ada mungkin sia-sia. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak.” “Itu namanya demokrasi. tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. “Kamu kurang sabar saja. Kami ingin makmur. Kami memberikan kesempatan.” “Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah.” Bung Karno tertawa. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Pak. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda.” . Kalau Bapak ada. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan.” Bung Karno tertegun.” “Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. lebih dari cinta.” “Kan sudah banyak sekali ahlinya. Seperti kata dalang dalam wayang.” “Kami sudah mencoba. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!” “Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu.

lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan. supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. “Sudah siang kok ngelindur. Ami. gunung dan matahari. Kalau tidak ada kebanggaan. “Ami!” Ami terkejut dan membuka matanya. kendaraan dan keadaan memang sudah lain. Gedung. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!” Amat membuka jendela kamar Ami. “Kalau kamu benar-benar memikirkan realita. tetapi hati mereka masih sama. “Kamu masih ngelindur!” Ami menggosok matanya. “Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya. Dia jadi kesel. itu lihat sudah jam berapa sekarang. Tapi hanya itu. Tetapi ketika dia berbalik.” “Tapi beliau bilang. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang. Selama 20 tahun dia mengajar. tidak bisa kembali. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis.” “Ya siapa yang tidak.“Kalau cinta kembali dong!” “Tidak bisa. Sinar matahari menerobos masuk. Semua anak diberi angka lima. tidak akan ada tenaga untuk bangkit. ada undangan untuk bicara di depan PBB!” “Pak!!!!” Tapi Bung Karno sudah pergi. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur. “Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. kita akan bisa bangkit. tangannya dipegang oleh Pak Amat. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. “Bukan itu.” Amat tertawa. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima . Baru kalau kita bangga. Anak-anak mengadu. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya. “Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Ami menutup matanya karena silau.” “Ya tidak perlu karena dia masih di sini!” “O masih di sini?” “Ya masih. Coba lihat!” → 3 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag bung karno§ Nasionalisme§ Posted on31 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Ary. Tapi waktu kembali ke mari. “Ayo bangun!” Ami berdiri kesal. Ternyata tidak ada yang berubah. Juni kan bulan ulang tahunnya. jangan hanya mimpi. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah. seperti di masa lalu. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda. Orang besar itu tidak pernah pergi. “Saya mimpi ketemu Bung Karno. kerbau dan burung atau pohon kelapa. Ayo bangun!” Ami mengusap matanya. guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma. supaya kamu bisa tumbuh sendiri.” Amat tertawa. menghadapi 20 angkatan murid. Kadangkala ada tambahan gubuk. Karena cinta Bapak tidak akan kembali. tapi hasilnya sama. seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu.” “Di mana?” “Panca Sila itu apa?!” Ami mengangkat tangannya.. Bapak harus pergi.

Semua sudah jadi perumahan dan mall. “Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini. tetapi guru-guru lain mendukung.” Ary ingin membantah. “Mereka kebanyakan anak petani. Bu. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!” Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. sawah lagi. saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu. Bu. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi. “O ya?” “Ya!” “Coba mana gambar-gambarnya?” Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah.” “Tapi Bu. Aneh sekali. Harga bensin naik. Ada pilkada. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang. Dan sebagai guru wajib kita mengerti. Saya dapat ide bagus. hanya menanggapi sambil lalu. dipamerkan di dinding sekolah. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. “Maaf. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu.” “Nah itu dia. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini. Sudah banyak perubahan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Kalau mereka menggambar begini. gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. gunung dan matahari. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah. “Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Saya kira ini baik sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Pak Ary. Sejak listrik belum masuk. biar saja. :”kata Ary menumpahkan perasaannya. Ibu Kepala Sekolah tercengang. sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme. Betul tidak?” Ary tersenyum sinis. Mereka berdiri di sepanjang pintu. sama saja. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Tidak berkembang. “Sebenarnya begini Bu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Ada isu pemanasan global. Belum ada real estate.”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. Pak Ary..” “Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.” “Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung. cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Ini adalah hasil percakapan itu. “sejak saya mulai mengajar di sini. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. “Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah.” “Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali.Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?” Ary. Banyak korupsi. pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Itu yang dia tunggu-tunggu.” “Maksud Pak Ary?” “Ya sekarang kan sudah zaman reformasi. Hanya membuat mereka tidak buta warna. yang digambar tetap itu-itu saja. “Sudahlah Pak Ary. saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur.” ‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya. Itu juga sudah bagus.” “Betul. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dari dulu sampai sekarang. Kerusuhan di mana-mana ……. Mestinya kan itu yang digambar. .” Ibu Direktur mengangguk.” Ibu Kepala Sekolah tercengang. guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. supaya melihat kenyataan. Bu. Setelah dilihat satu per satu. ke desa kita ini.” “Terus!” “Tapi yang digambar sawah lagi.

Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu. “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya. sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Bu. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya.. sementara ia sendiri dan murid-.” “Kenapa bibirnya merah sekali?” . Ketika tamu dari Diknas Pusat datang. → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag nasionalisme§ Harkitnas§ Posted on20 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat. Ibu kepala Sekolah puny aide baru. “Mama ngomong dengan siapa?” Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu. Dua jam kemudian ia siap. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal. “Dengan dia. Saya minta malam ini juga. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah. Rapih dan terkendali. Sehari sebelum tamu datang. hatinya menjerit. terkejut. teringat kepada masa lalu. Setengah jam kemudian para tamu keluar. dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. “Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. kemudian tertawa. untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat. melirik. Hati saya langsung terketuk. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis. Tapi waktu dia melirik ke koridor. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!” Ibu Kepala Sekolah terkejut. berantakan diinjak-injak.muriod serta guru lain menunggu di luar. gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu. “Jadi menurut hemat kami. masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor. kaget. ” kira sampai 5 tahun ke depan.” “Siapa dia?” “Teman baik Mama. heran dan sebagainya.” “Jangan membantah.Di cermin nampak muka baru. kandas. masih bisa dipergunakan. Pak Ary pun terpaksa ikut. Ketika Anna senyum. bibir dan kemudian pipi. Tiba-tiba anaknya muncul. Lalu ia menguji mulutnya berbicara. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu. terbelalak. Lalu ia mulai memoles.Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!” “Maaf. “Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. hidung. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat.. Tetapi malamn-malam. garis mata. Dengan bergairah kemudian gambar sawah. semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!” Semua guru tercengang. semuanya beres. semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!” Semua bertepuk tangan gembira. gedung sekolah ini masih layak pakai. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Mereka mengangguk senang. gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!” Guru-guru lain langsung bertindak. muka Pak Ary kelihatan muram.

” “Kamu teman Mamaku?” “Ya. Mama tidak sanggup di sana sendirian. “Lho kenapa?” “Nggak usah. .” “Kok tidak?” “Aku tidak suka bibir merah.” Anak itu berpikir. “Dia juga betul?” “Ya tentu saja. “Kamu cantik sekali. Kalau tidak ada dia. Memeluk juga tidak. kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor.” “Kenapa istimewa?” “Karena Harkitnas itu sejarah. Mama kan harus memberikan sambutan. kalau sudah selesai dandan. Dia justru yang Mama ajak pergi.” Anna tertawa. Mama tidak akan mencium kamu lagi.” “Kasih da-da sama teman Mama.” “Memang.” Anak itu kehabisan kata.” “Kenapa dia cantik?” “Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas. Bukan dia yang membawa Mama pergi.” Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.” “Makanya.” “Sejarah itu apa?” “Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi. “Mama ikut?” “Ya dong.” “Bibirnya tidak merah.” “Jangan hanya lihat muka. karena nanti dadanannya bisa rontok. Di situ orangnya .“Karena baju yang dipakainya juga merah.” “Mana? Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya. pasti bibir Mama juga akan merah. “O tidak. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya. Jangan nakal di rumah ya?” “Ya. “Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu. Ya?” “Ya. “Kenapa aku tidak suka bibir merah?” Anna mengelus kepala anaknya.” “Bagaimana kalau tidak betul.” Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.” “Baik. “Ini dia.” “Kenapa?” “Sebab ……. lalu berpaling untuk mengingat-ingat.” “Harus betul.” “Kenapa nggak usah?” “Habisnya dia selalu bawa Mama pergi. nanti Mama kesepian di situ.” “Nanti kalau Mama pakai baju merah. Kalau tidak betul bukan sejarah.” “Tidak. kan?” “Betul.” “Kenapa alisnya kecil sekali?” “Karena dia cantik.” “Kenapa?” “Sebab Harkitnas itu sangat istimewa.” Anak itu menggeleng.” “Tapi Mamaku tidak cantik. Aku tidak suka pipiku kotor. ia kembali memandangi ibunya. hati Mama cantik kan?!. kalau begitu Mama berangkat sekarang.

ia ke sekolah memakai pakaian daerah. kontan memanggil. “Aku tidak mau dibeliin lagi. Di luar sekolah terserah Pak Ali. Guruguru lain hanya pandang-pandangan. karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.” “Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?” “Betul. dipaksa oleh orang tuanya. “Pak Ali. apa sebenarnya missi Pak Ali. mengajar dengan memakai pakaian daerah?” Ali terkejut.” “Katanya itu sejarah.” “Tidak bisa. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. mereka akan bosan. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei).” Anna terdiam. Pak.” “Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?” “Nggak.” “Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?” “Nggak. nanti Mama bisa beliin kamu …. ia sempat menarik perhatian. saya tidak ada missi apa-apa.” Anna ketawa. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?” “Sama sekali tidak. supaya pekerjaan Mama beres. Baru ketika Kepala Sekolah menegur. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik.. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa. saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. “Maaf Pak.” Kepala Sekolah terkejut. Para murid tercengang. Kalau Mama sendiri yang datang. Aku mau Mama di rumah.” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag harkitnas§ Hardiknas§ Posted on2 Mei 2008§by Putu Wijaya§ | 8 Komentar§ Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini.” “Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?” “Ya kalau diperkenankan. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung. “Habis apa dong?” “Aku nggak mau apa-apa.” “Kalau begitu. “Karena dia cantik.” . Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu.” “Suruh dia saja. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani. Mama harus ke sana memberikan sambutan. “Tapi hari ini Harkitnas sayang. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan. Makanya Mama selalu bawa dia. Beberapa hari pertama. untuk seterusnya. Pak. Kepala Sekolah.” “Memang.” “Donat?” “Nggak.suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Kan orangnya cantik. Pak.” “Kenapa dia tidak tahu?” Anna menarik nafas dalam. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional. Tetapi setelah satu minggu. Kalau pekerjaan beres. ia lupa itu pakaian daerah. “Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. apa?” Anak itu menggeleng.

Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk.” “Tapi kenapa saya dilarang?” “Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah.Ali tidak menjawab.” “Tapi ini sekolah. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali. Pak. Pak.” “Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah. lalu menaikkan suaranya. Kedua belah pihak ditenangkan. Pak?” “Tidak ada. tiba-tiba ia ingin melawan. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat. tetapi tidak mampu melaksanakannya. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Kita pintar membuat aturan. lebih baik jangan mengajar!” “Kenapa Pak?” “Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras.” Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. “Tentu saja tidak. Pak Ali mengerti maksud saya?” “Saya mengerti. “Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah.” Ali terdiam. Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah. “Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Meskipun tidak menjawab. tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin.” “Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi. “Anak-anakku semua para pelajar. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. militer adalah biangnya. ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. “Maaf Pak. melanggar desiplin! Paham?” Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang. satpam cepat menghalangi. dihormati oleh yang pangkatnya di bawah.” “Tapi ini pakaian daerah. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!” Satpam itu bingung.” “Bukan. itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Tentu saja ia kembali dipanggil. silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar. “Maaf Pak Ali. Kalau di luar jam pelajaran. esoknya. sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. sehingga semua aturan itu mubazir. Tapi ketika Ali mau masuk. Pak!” Terjadi ketegangan. ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah. Kalau mau belajar desiplin. “Saya sudah mencoba. Kepala Sekolah. Setelah semuanya reda. “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?” Kepala sekolah ketawa. nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid. kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah. Pak Ali. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Tapi karena dilarang. lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya. Bapak Kepala Sekolah dan Satpam . Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. sehingga guru-guru yang lain mendengar. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Tapi esoknya. Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Saya hanya menjalankan perintah.!” Ali tercengang. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar. Pak Ali. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Keplok tangan buat Pak Ali. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. “Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. satpam langsung menahan. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Pak!” “Sama saja. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar.” “Maaf. aku mau mengajar!” “Saya hanya menjalankan tugas. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. “kata Ali kemudian dengan sopan. “Aku guru. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti.

tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!” “Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini. “Lho. Itu namanya klenik. Ia langsung menggapai.” Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut. Saya belum punya nama. Dia itu hebat. anak saya sudah lahir. ada saja yang ganggu. Kok Kartini!” “Lho tidak bisa dibandingkan begitu. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. “Tak usah nama yang muluk-mulul. Memberi nama anak harus dengan cita-cita. Bu?” Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar.” Amat jadi salah tingkah.” Amat cepat berpikir. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala. mau bapaknya supaya jadi orang besar. kenapa bikin anak. Sebesar-besar Gajah Mada. Bu. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada.” “Mendingan Gajah Mada. “Terimakasih Pak Amat. biar anak itu sendiri uang mengubah namanya. dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. eh nyatanya cumakusir dokar. jangan hanya bergantung dari nama tok. → 8 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag hardiknas§ Kartini§ Posted on23 April 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Masak nama saja bingung. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!” “Makanya yang namanya usaha itu penting. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya. langusng menutupkan pintu lagi.yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!” Semua murid berikut para guru berkeplok riuh. Nanti kalau beli susu. pasti lebih bingung lagi. selamat dan sehat. Amat langusng cepat mengguncang tangannya. Sudah sampai di mana kita tadi. “Pak Amat. “Lagi asyik-asyiknya. “Bapak keterlaluan!” “Lho. Hari Kartini baru saja lewat.” “Lho. “Beri nama Kartini!” Bapak muda itu terpesona. “Kalau belum siap punya anak. orang Sunda benci sama dia. “Bagus! Selamat! Anak pertama kan?! “Betul Pak Amat. Kok kasih nama Kartini?” Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Jangan pakai nama itu!” . Bapak tidak tahu. “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!” “Masak ngasih nama anak orang Kartini. Tolong!” “Tolong?” “Kasih nama. Siapa pun kamu sebut dia. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf. walau pun hanya bangsawan Jawa. Selamat!” Anak muda itu masih bengong. Sementara Kartini. kalau dia dididik dengan baik. Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah. itu namanya sudah sinting!” Amat terkejut. Tokoh sejarah. jadi anaknya laki-laki?” “Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. apa artinya nama. Bu!” “Memang. Nama itu bukan soal sepele. “Maaf. periksa dokter. akan jadi apa anak itu kelak. Aku memberikan nama sembarangan. tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi. Jelas. Amat kecewa berat..

. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!” . “Gus..” Anak muda itu terkejut.” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kartini§ Sejarah§ Posted on3 April 2008§by Putu Wijaya§ | 5 Komentar§ Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah.”kata Bu Amat. apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. Ketika anak muda itu pulang dari klinik.” Anak muda itu tersenyum.” Amat bingung. Dan manusia tidak ada yang sempurna. sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.” Amat terperanjat. “Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!” “Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat.” curhat Amat malam hari di meja makan.” “Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!” “Itu kan pemberian dari Pak Amat?” “Jabis aku kan tidak tahu. “Aku kira dia tersingung dan menyindir. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. kata RA Kartini. ia langsung menyapa. bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan. karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. “anak itu sudah kaulan. asal nyeplos saja!. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan. “Siapa Pak?” “Raden Ajeng Kartini.” “Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!” “Tidak bisa Pak. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. “Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat. “Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?” “Iya iyalah!” Amat tak jadi makan. lelaki tetap lelaki. “Sejarah harus diperbaiki kalau salah. Ia merasa bersalah. Penulis itu mendebat. Amat langsung mencecer. Oom!” “Sejarah tidak bisa salah!” “Bisa Oom!” “Tidak!” “Bisa!” “Tidak bisa!” “Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. Pak!” “Jangan!” Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi. Kartini tadi datang menemui Bapak.” “Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!” “Anak saya perempuan Pak. Hakekat perempuan tetap perempuan.“Tidak apa Pak Amat. “Nama Kartini itu bagus. “Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. “Boleh lanjutkan perjuanganku. Namanya bagus.” Anak muda itu tertawa. bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter. kamu sudah menodai perjuanganku!” Anak muda itu mengangguk “Saya mengerti maksud Pak Amat. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan. What is a name. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.

. Buat apa percaya itu.” “Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Bapak tidak setuju?” Amat tersenyum. Kalau kita mau mengubah-ubah.” “Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Dia mencoba minta bantuan pada Ami. jadi pikirannnya sinting. “Kok malah main mata. “Nggak apa-apa. Pak Amat ditinggalkan. Tapi ketahuan. “Sejarah itu bukan yang ditulis. Bukan apa yang ditulis. “Kalau bicara tentang sejarah. tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk. Sejarah itu tidak ada yang baru. dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet. adalah yang benarbenar kejadian.” lanjut Amat. bukan yang ditulis!” Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api.”aku berpendapat. Ia masih penasaran. kalau yang dia tulis ini tidak betul. “Sejarah itu memang ditulis. jadi aku dianggap keliru?” “Tidak. penulisan harus dilakukan kembali.. “Soal apa lagi ini?” Amat langsung menurunkan suaranya. bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak. ” Tetapi berdasarkan fakta. pantas dicurigai.” “Masak? Tidak ada yang baru?” Amat tertawa. “Atas dasar pikiran itu. Semuanya sudah terjadi. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?” Amat menggeleng.” “Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar. mengganti yang salah dengan yang betul. besok bisa bilang begitu. Ami?!” “Betul. Sekarang bilang begini. sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain. Amat merasa keki. akan sulit untuk dikembalikan lagi. sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya. professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali.” Amat langsung main mata sama Ami. “Maksud Bapak. “Ibu ini bagaimana.“Itu bukan sejarah!” Penulis itu tercengang. terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik.” Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali. Yak an Ami?!” Ami mengangguk. namanya juga sejarah. apalagi bertolak-belakang. tetapi apa yang sudah kejadian!” “Memang. mungkin faktanya ada yang keliru. “Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga. kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. itu namanya bukan sejarah. “Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!” Penulis muda tertawa. “Ya dia rajin. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!” Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu. Semuanya yang itu-itu juga. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Bapak sudah baca?” “Ya sudah. Kalau faktanya terbukti salah. Sambil senyum-senyum.” Bu Amat mengernyitkan keningnya. keponakan kita itu. tapi mau merusak sejarah. hanya itu lho.”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. ponakanku ini sudah merusak sejarah?” Amat tak bisa langsung menjawab.” “Bagus?” “Ya. Sejarah itu. ini bukan sejarah. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja.

macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport. Cintalah yang membuat orang sayang.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!” → 5 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan§ Posted on2 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia§) di Teater Studio TIM. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. tetapi . mereka hadir. Bu. meskipun keponakanku sendiri.. Didi Petet bertanya. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali. “ Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. berdegup. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan. mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Jadi …. tetapi juga karena ada kemungkinan. apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan. mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an. Bukan saja karena takut. ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang.” “Maksud Bapak. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik. dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar. teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia.. mengalami pasang-surut.” “Jadi keliru?” “Bukan keliru. karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. buku ini bukan sejarah?” Amat tertawa. tetapi juga sekaligus benci. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya. “Bukan begitu. Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa. di atas panggung. Langkah kecil pun menjadi kunci. Study Teater 24 dan Teater Mode. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh. Bu. sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu. karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film. Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. walhasil hidup. Itu sudah seni laku. Jantung Amat hampir copot. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Mereka begituj sibuk di tempat lain. Kita hanya tahu separuh-separuh. terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebihkurang teater. teater rakyat. menyuarakan hati nurani rakyat? Saya ingin berdiri dan menjawab. ini pengacauan sejarah?” “Bukan begitu . Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007.” “Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia. Ponakan kita itu. karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!” “Bukan begitu. Sebelum TIM berdiri pada 1968. Tak berani ngomong apa-apa. dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin. “Kalau dia keliru. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir. dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. . apa gunanya teater.“Jadi menurut Bapak. tanda sesuatu itu masih bergerak. jangan-jangan mereka benar. Teater tradisi. Walau Jakarta lagi banjir. memiliki seluruh wilayah tontonan.

Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu. Tapi walau tanpa persiapan. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet. Tetapi bagaimana tidak. Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi.banyak kendala yang harus dihadapi. satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Tetapi sebaliknya. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik. karena itu memang bukan diskusi. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan. bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. tak harus dimulai dengan penampakan. Bukan saja karena keduanya tampil bagus. Naskah-naskah teater mulai lahir. Ketika Teater Populer membangun p. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Kalau tidak. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Dia adalah rasa. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ketika STB menggali idiom Sunda. disadari atau tidak. Tetapi rasa cinta. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan. Sampai kemudian ATNI berdiri. Tak ada gedung khusus untuk teater. Teater Kubur. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Saya mungkin sudah mendramatisir. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi. Ketika Teater Payung Hitam. Ketika Teater Mandiri. level dan tata lampu. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Teater hanya hobi. teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu. mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat. karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. . Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Dalam keadaan yang tak kelihatan. Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Kemudian TIM berdiri. Itu adalah salah satu hasil konkrit. orang lupa menilainya. Teater sering memberikan PR. Ketika Teater Gandrik. Dan sebagainya. keduanya melakukannya dengan bagus. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain. pada kehidupan tater kita lemah. yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan. Langkah-langkah itu baru akan kelihatan. Teater Sae. kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras.ublik teater. Itu memerlukan waktu. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Ada fasilitas. Ada gedung pementasan teater. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. referensik dan interpretasi. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain. Memerlukan kesabaran. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi. Tetapi ketika itu sudah terlaksana. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing. dua orang yang diminta untuk membuat sambutan. mengangkat citra ketoprak. Tiga dasa warsa yang lalu. apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. atau setiap orang yang hadir pada malam itu. akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. Penonton nampak terlatih untuk menonton. tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh. perhatian masyarakat pun terpecah. Semuanya itu langkah besar. semua penonton terpukau. Karenanya perlu perhatin. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Dan itu suka tidak suka.

angklung dan reog yang dicaplok. adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia.S. kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. ceramah. Seperti terhadap makanan. langkanya kebebasan berekspresi. Sebagai sebuah suara. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Serta berbagai kelompok teater dari Medan. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan. Surabaya. teater jelas kalah. Masing-masing orang. Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik. menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta. di mana-mana. memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu. frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil. radio. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. teater kembali kepada hiburan. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi. Walhasil sebuah teater juga. semua yang membungkam teater itu. misalnya. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele. Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. pemaknaan . Banjarmasin. Djajakusuma). Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri. seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran. Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ. Apalagi Bengkel Teater dengan W. perbedaan selera itu sudah ada. pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Tak hanya kegaduhan. kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya. Khususnya sesudah reformasi. kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo.Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa. demikian tulis salah seorang pengamat. sidang-sidang wakil rakyat. ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. di media massa. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. memang bila harus diukur dari kehebohannya. Suaranya pun masih ada. adalah sebuah suara. Teater yang keras. Pramana Pmd. perenungan. tak akan mampu disaingi oleh teater. Teater Populer dengan Teguh Karya. kekejian dan korban nyawa manusia. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam. 1990). Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan. tetapi juga terselip penjarahan. olahraga. penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto. Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing. Tapi jangan lupa. bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond. peradilan. Rendra. kehidupan selebriti lewat infoteinmen. teater tak akan berdaya. Bukan hanya di TIM dan GKJ. membetuk model selera yang lain lagi. teater sudah digelar. Melihat Yel di Washington State. penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. televisi. Dan sebaliknya. Situasi tertekan. ketegangan. Apa yang mendorong itu terjadi. kasar. diskusi. Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini. menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. di samping tak punya penyandang dana. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan.

Teater Sae. dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Teater Gandrik dan lain sebagainya. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini. Memang sayang sekali. 1968. Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban? Wahyu Sihombing. PKJ TIM hanya pelaksana. lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Konsep tentang apa itu karya. tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya. Teater Kecil. Opera Kecoak. menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. telah merangkul seni pertukangan. Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Perkawinan Darah. lalu diganti dengan kegiatan baru. terbengkalai. Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Hidup tak hendak. Metha Ekologi oleh Sardono W. apa yang sudah detemukan. Teater Payung Hitam. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karyakarya tersebut. saya melakukan pembelaan. FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. pementasan STB. Teater Garasi. pementasan Bom Waktu. Kusumo. Barat dengan seluruh pencapaiannya. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM. pementasan Dongeng Dari Dirah. Mega-Mega dari Teater Kecil. Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Sebagai sebuah sejarah. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin. kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Ngeh dari Teater Mandiri. Sampek Engtai dari Teater Koma. Antara lain yang amat penting. sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep. pementasan dari Teater Kubur. Di dalam teater. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. tetapi referensi. Odipus. Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer. Sebagai akibatnya. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. tetapi mereka terus setia mengikuti . mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. pementasan Jayaprana. FTJ harus direbut dan dipertahankan. kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ. Dalam kenyataan. Machbet dari Teater Populer. dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) . lalu menjadi FTJ. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan. pementasan Aduh. Barjanji. Hamlet dari Bengkel Teater. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. itu karyaku. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Lho. Setelah 35 tahun. musik). Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata.dan penikmatan seni rupa. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Bengkel Teater. Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan. pementasan Kapai-Kapai. karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani GelanggangGelanggang Remaja. segala yang pernah dicapai. jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Sebagai contoh: pementasan Mini Kata. banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi. asal Anda mampu meyakinkan orang. bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman. Jalanan pun bisa. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. mati tak ingin.

Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan. FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007. yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”. pengembangan. Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ. Di samping ada kompetis. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anakanak sekolah. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. Kendati kehadiran Teater Indonesia. sudah menunjukkan kecendrungan professional. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Kedalaman pun tak terjadi. festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta. festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. kompetisi akan lebih keras. tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya. Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri. telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh. bergaul dan berbagi pengalaman. kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. Study Teater 24 dan Teater Mode. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka. pengemasan pertunjukan. Dalam kualitas. Kata remaja kemudian menjadi racun yang. Tak mungkin hanya kwalitas. festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior. menjadi terus remaja. tetapi kompetisi yang terbuka. tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri. Di Jakarta sendiri. menghambat penjelajahan. puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja . dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. seperti interpretasi. karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Usahanya pun menjadi terbatas. tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja.festival. Dalam sebuah keramaian festival. hasilnya konkrit. Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan. Komitmen ala kadarnya. Dalam dua kali gebrakan. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian. kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta. tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006. perenungan. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu. Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan. juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. ada maupun tak ada musafir yang akan lewat. akan-akan karena masih remaja. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah. diolah kembali. sadar tidak sadar. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. volume dan angka. Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono. misalnya. Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru. festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Padahal sejak awal festival. masih ada riak-riak suasana tersebut. FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai. selain berbagai institusi formal yang sudah ada. para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional. ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan. Ini sebuah langkah yang sangat penting. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi. untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival. Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final. pembelajaran. pengemasan produksi.

Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja. cinta . FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. mengabdi dan mungkin dimaki-maki.yang professional. juga gagasan dan wawasan (ilmu). Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan. sebuah seni pengelolaan (menejemen). rasa kekelompokan. FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri. misalnya. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia. tidak lagi ingat kepada sesuatu. Dengan melupakan. tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ. sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Seseorang mungkin memaafkan. memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Yang ada adalah pekerjaan. agar gerakannya semakin lincah. gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Penonton menjadi raja. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. jitu. Di sisi lain. apalagi kalau ditegaskan tidak bisa. teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Bahkan kalau perlu menghindarkannya. karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Untuk kerja besar dan berat itu. produksi tidak mulai dengan kontrak. maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi. → 2 Komentar§ Ditulis pada teater§ Di-tag FTI§. sayang maupun tak tega. meskipun atau . yang memerlukan pembelajaran.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan). namun tetap sebuah peguyuban. bebas tetapi terkendali. Tantangan itu akan membawa suasana baru. FTJ§ Misteri Maaf dan Lupa§ Posted on1 April 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ Di Channel Asian News televisi Singapura. Teater Koma dan Bengkel Teater.” Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. Solidaritas. Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Ketika menjadi kata kerja memaafkan. untuk menyudahai perkara. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. Teater akan hadir sebagai professi. Dalam praktek pergaulan. akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang. Di satu sisi. Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. sehingga seseorang menjadi alpa. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat. mungkin tidak lagi akan terjadi. mengandung makna melumpuhkan diri sendiri. Uang bukan tujuan. karena didorong oleh perasaan kasih. FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget). tanpa suatu ikatan yang ketat. sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater. kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf. Diberikan kepada kesalahan. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotongroyong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium. seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan. dua kelompok yang memiliki penonton ribuan. Uang akan menjadi sangat penting. apabila itu menghambat. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. dan sanggup main berhari-hari. Tetapi dalam kenyataannya. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban.

Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong. meskipun itu adalah fakta. Walhasil menghalalkan cara demi acara. Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan. apa yang salah. Tetapi di belahan yang lain. Tapi di pihak lain. menolak kehidupan nyata. digemboskan. konon adalah penderitaan berat 3. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. prasasti. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta. dikendorkan. belum tentu begitu maksudnya. untuk menjelmakan apa yang kita inginkan. Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. Demi persaudaraan. bila tak ada pernyataan secara formal. dilupakan sumber sebenarnya. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah. Masa pendudukan Jepang. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita.5 abad. hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing. namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan. individu bukan lagi pribadi. benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. jadi lebih baik melupakan saja. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. Masyarakat adalah sebuah peguyuban. Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu. hubungan kekeluargaan. Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan. Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita . dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. tetapi oleh orang lain. Bergotong-royong. tapi hanya ingin melenyapkan. Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah. keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Memaafkan mengandung rasa mengampuni. risih apalagi bersalah. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen. sehingga ia bebas.padahal. membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah. Kita mengenal asas gotong-royong. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter. walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi. Pada ujung-ujungnya. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. Dokumentasi tak diurus. Di dalam peguyuban. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda. tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. tidak lagi terbebani. Namun melupakan. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. padahal harganya tak ternilai. semuanya sudah kita maafkan dan lupakan. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan. Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah? Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan.. tidak sebagai kesalahan. sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Dan karena sudah dikeroyok bersama. tanpa ada perasaan rugi. Peristiwa tersebut dilirihkan. tetapi satu paket dengan orang lain. sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Dan sebagai konsekuensinya. Sejarah adalah kita sendiri. tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata. melupakan tak pernah mengampuni.

→ 2 Komentar§ Ditulis pada sosial§ Di-tag pak harto§ Dan Atau§ Posted on31 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Setelah reformasi.jadi penipu. kearifan lokal tidak mengandung sanksi. tetapi justru penggganggu. apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali.Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan. masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji. kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan.tetap mengandung misteri. “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. desentralisasi pun dipacu. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Dalam alenia di atas. sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan. Kearifan yang yang tidak unggul. kapan. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Apakah memaafkan dan melupakan. Tetapi berbeda dengan norma. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja. digantikan dengan keseragaman dari pusat. Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. tidak hanya mengandung pengertian. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa. menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan. Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal. Di dalamnya terkandung kiat. Sementara kearifan lebih pada akal saja. juga di mana. terhadap pertanyaan tersebut. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama. atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya. pihak lain tegas . ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir. kata-kata itu dipergunakan. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. dalam keadaan bagaimana. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan. Misalnya saja. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. . resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral. pada semua kata. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. gemar cipoa pada orang lain. timbul perdebatan. Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang. “Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Sebuah kata. Beberapa di antaranya mencoba bertahan. tetapi juga bertaburan rasa. juga awam pada umumnya. tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan. tergantung dari konteksnya. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat. Memaafkan dan melupakan. Satu pihak tegas menolak. tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan. Membohongi diri sendiri. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal. menjadi semacam falsafah kehidupan. Kearifan lokal yang unggul. “Dan atau” di alenia pertama tulisan ini. yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktupsuasana. kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama. memang hanya dua. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. sampai ke masa yang akan datang. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. kembali dihidupkan.

sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan . Dalam alenia di atas. semua harus ikut!” “Tidak kaya tidak miskin!” “Betul. Pak?” cecer Alung. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu. “Yang mana ya?” “Ya sekarang sudah tidak ada lagi. tak bisa diperdebatkan lagi. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu. Kalau ini benar. dipastikan berstatus tertentu. Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Pak Alung. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum. Tidak laki tidak perempuan. Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum. Semua orang. “Pohon apa itu?” “Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!” Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan. misalnya. Tidak kecil dan tidak besar. → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Indah§ Posted on30 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 2 Komentar§ “Jadi walau pun kita sulit makan. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja. tetapi juga secara hukum. ya atau tidak. “Betul. tidak membedakan jenis kelamin pelaku . Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Di alam resensi sebuah pertunjukan. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Atau tidak mampu menilai. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian . maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap. Pak Alung! Tidak kaya atau miskin. sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan? Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia. milik kita bersama!” “Bagaimana dengan pohon bakau. sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. kita juga berkewajiban untuk ikut serta. menanam pohon-pohon yang sudah langka. cukup baik sekali. dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak. berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan. Dulu di Ancol banyak. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia. supel “dan atau” fleksibel. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas. Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. sering sekali masih kurang siap. Petugas itu menjawab tegas. yang saling bertentangan. semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang. “dan atau” mengandung keraguan. Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan.minta diteruskan. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. masih belum sempurna sekali. “dan atau” dipakai. Ya dan tidak. Karena keterbatasan juga berarti lentur. walau pun itu bukan milik kita. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense).

“Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. sayur lodeh lagi. seakan-akan sudah puas. lelaki itu terus saja makan. Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan. biarin saja habis. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi. Ayo makan. Ini kacau!” Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Begitu kelakuan anakmu itu. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Banjir di pantai lain” “Apa itu termasuk pohon langka?” “Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi. lama-lama akan jadi pohon langka. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Ada pertanyaan?” Tidak ada pertanyaan. “Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen. kedele melonjak harganya. Bayangkan saja. Kalau ada banjir.” “Jajan apaan. Ani lapar ini!” Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Bu Ane ketawa. Masak sayur lodeh lagi. satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. karena tidak ada sisa makanan.” “O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?” “Ya. Pak.karena diuruk. karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu. Dengan memakai humor seperti Srimulat. aku juga tidak akan tahu. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar.” . bingung. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas. jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!” Alung membuka matanya. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur. sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. “Bu. Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane. Pak!!” Semua orang tepuk tangan. Para nelayan kehilangan nafkah. “aku ini keturunan petani. nanti masuk angin. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Ibu kesel. tapi kami nanti jadi langka.” Ani menggeleng. tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Ani yang pulang telat. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah. katanya. semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran. Maka arus air berubah. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Karena sembari ngoceh. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup. Mukanya menghadap ke layar televisi. pasti akan langka. Kalau ada disiasia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan. segalanya bisa masuk dengan ramah.” Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. tetapi ia tidur pulas. “Dihabisin babe ya?” “Ya. “Sudah jangan marah-marah. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Kenapa?” Ani mencibirkan bibirnya. kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?” “Ibu juga kira begitu. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. “Wah kalau sayur lodeh sih. Masih ada sisanya. Amat sendiri diam saja. sampai tambah 3 kali. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. “Nah bener kan. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. “Dan kalau aku tidak tidur. mana makanannya kok habis. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Kalau tidak ada ditanyakan. Eh tahu-tahunya habis. tangannya memegang koran. Ibu sembunyikan.

kan tadi juga sudah disikat habis!” “Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan. kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!” “Jangan.” “Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?” “Tidak suka saja. tidak keluar dalam gambar. Yang bener aja! Langka itu indah!” → 2 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Ayat Ayat Cinta§ Posted on29 Maret 2008§by Putu Wijaya§ | 15 Komentar§ Film Ayat-Ayat Cinta meledak. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. Meskipun bukunya keluar duluan. Ah. sudah malam. Semua orang akan langsung mengopy itu. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek. jangan cepat marah!” “Sudah jangan kasih nasehat lagi. tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya. tidak selamanya baik ditonton. Ayo ambil!” Bu Ane ketawa. orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu. Ya tidak?” “Ya. itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri. Tapi ngomong-ngomong. lokasi.” “Memang apa yang baik dibaca. niknat. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. “Ambil apaan.” “Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri.” “Lho aku juga tidak suka novelnya!’ “Apa?” . Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan.” “Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Mereka ingin yang terbaik.” “Jadi?” “Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan. Itu tidak betul. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. tandas!” Alung meneguk air liurnya. meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!” “Bagaimana pula itu?” “Lihat saja siapa penontonnya. Sekarang dia seperti orang ngidam. biaya.” “Nah. betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. “masak tiap hari sayur lodeh. Bu Ane melirik suaminya.” “Tidak. jangan tidak usah!” potong Alung cepat.“Makanya belajar mensyukuri sesuatu. termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Mereka sudah lebih kritis. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta. seperti yang diakui oleh pembuatnya.” “Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. Kendala waktu.” “Habis. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain. Kata-katanya yang indah.”kata seorang pengamat.” “Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. sayur lodehmu sekali ini enak sekali. Mereka adalah lapisan penonton baru. “Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. Ambil Bu. nggak bisa dipakai ukuran menilai. sejuk. pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. “Ya sudah. Ia jadi kasihan. walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!” “Begitu ya?” “Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu.” “Tapi gua bukan jenis itu. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton.

karena dia sudah biasa minum.” “Soal selera tidak bisa didiskusi kan. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka.” “Gile lhu!” “Gile apaa. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. tanpa alasan!” “Kenapa tidak?” “Ya itu dia yang namanya diskusi. Doi juga ikutan. Biasa-biasa saja. Ia tidak langsung menjawab suaminya. pejuang kemerdekaan. kenapa?” Yang ditanya tidak menjawab. Apa salahnya nggak demen?” Mereka berpandangan. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?” “Karena gua tidak doyan!” “Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!” “Bukan sok. Untuk kelima kalinya!” “Kelima?” “Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya. kita lagi diskusi ini!” “Memang! Kita sedang diskusi!” “Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka. tapi di pekuburan umum biasa saja?” Bu Slamet terkejut. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. Memang nggak doyan aja. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding. . novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain. “Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya. Orang bilang bir itu manis. Jadi rasa tidak begitu saja ada. tertegun. setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?” “Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!” “Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!” → 15 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Pahlawan§ Posted on30 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ “Bung Karno.” “Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz. Lalu Slamet berunding dengan istrinya. tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya. elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah. tapi menurut gue. Semua bilang itu novel hebat. tetapi didorong kebiasaan. Orang yakin kalau Slamet meninggal. makanya dibuat film. Kalau tidak ada sebbnya. tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu. Bung Hatta.“Biar berjuta-juta orang memuja. Kalau tidak bisa satu. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek. “Jawab dong. dimakamkan di luar makam pahlawan. Mesti pakai otak dalam menilai!” “Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!” “Apalagi rasa!” “Maksud lhu?” “Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. sebab aku diajak oleh bekas pacarku!” “Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?” “Nggaklah. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet. kamu tidak bakalan punya rasa. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. Pak Harto. gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi. gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. Bukan mau menentang arus. bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan. “Bu. apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga. tak bisa dibandingkan!” ‘Terserah!” “Lho jangan terserah. biar puluhan kali cetak ulang.

penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu. Pahlawan karbitan. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan.” “Tapi aku bukan pahlawan. tetapi penghargaan negara bagi para pejuang.” Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati. mengabdi. barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya. tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. Aku tidak.” “Ya apa pun namanya. karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol. kok masih mampu menolak kehormatan . aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. “Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan.” “Pak. dengan segala bintang jasa. yang lain kontra. tapi jadi pedagang saja. aku menyerah.” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain. sekolah kalian semuanya putus. Hidup kita pun tidak paspasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno. Kepada ibu kamu. Kamu mengerti sekarang maksudku?” Anak-anak tak menjawab. “Jelek-jelek begini. Akibat bapak tidak punya kedudukan.” “Aku bukan pahlawan!” “Jangan begitu. tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. jangan punya niat macammacam lagi kalau sudah tua!” Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. “katanya. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!” Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. “masak sekarang dia mau membuang semua jasajasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. Pak!” “Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja. tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga. “Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Mereka punya naluri dagang. seperti teman-temanku yang lain. Pada kesempatan yang baik. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan. ternyata itu tidak cukup. pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi.“Bapakmu itu makin tua makin aneh. tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Aku ini keturunan abdi dalem. Dia tidak mengerti apa mauku. Coba kritik bapakmu itu. Masih ada Bapakmu ini. apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga. terutama berhadapan dengan ibu kamu. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. Untung ibunya datang dan langsung membentak. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. “Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?” “Itu bukan hak. jangan sok membuang-buang kesempatan. “Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun. Kamu dengar itu di Bali. Satu pihak setuju bapaknya. Biar orang-orang itu melihat. Jadi Bapak sedih. “Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. Anak-anak terpaksa menyerah. Bapakmu ini selalu ragu-ragu. ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!” Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Kamu mengerti jmaksud Bapak?” Anak-anak Pak Slamet mengangguk. tidak berani membuat keputusan. aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya. Kendaraan tidak ada. kepada keluarga besar kita. katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan. Kita tidak punya rumah sendiri. Pahlawan kesiangan.

Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. “Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?” . tidak usah ke sana-ke mari!” Amat tak menjawab. Dan aku menegaskan. Kita tidak mungkin ikut campur. “Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum. “Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. di dalam pewayangan diceritakan. Begitu maksudku. Amat tertegun. ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan. urusan di sana. karma yang akan menjadi ukuran. siapa saja. jawab tidak tahu.”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi.“ “Jadi masuk surga atau tidak?” “Ya tidak tahu.” Bu Amat kecewa. Kalian paham?” Anak-anak mengangguk. lalu menjawab lirih. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. Semua orang akan memuji. itu kan urusan di sana. Media massa nanti pasti akan heboh. Tidak! Tetapi justru menambah. Setelah istrinya masuk kamar lagi. tidak menjadi ukuran. “Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. “Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Surga§ Posted on29 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Pemakaman Jendral Besar Soeharto. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?” Amat tertegun. jawabnya. “Bapak ini suka bertele-tele.” “Ya sudah kalau tidak tahu. Ami tidak menanyakan itu. “Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini. sampai ke tempat yang semestinya di sana?” “O kalau itu. Tetapi bukan lantaran menyimak. setelah perang Bharatayudha. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?” Ami tertawa. berlangsung spektakuler. tidak masuk surga semua. “Ami. Yak kan?” Ami berpikir. “Maksudmu siapa? Pak Harto?” Ami mengulang pertanyaannya. tidak. Di sana. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. Karma almarhum adalah ukurannya.tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Ya kan?!!” Anak-anak diam seribu bahasa. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. ia baru menoleh paa Ami. “Aku tidak tahu. Dan urusan karma …” Bu Amat memotong. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. Jadi …. bekas presiden Indonesia selama 32 tahun. Lihat itu Pak Slamet. “Bukan Bu. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna. jangan salah sangka. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Besar kecil upakara.

yang ada di dunia ini saja. tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya.” Ami kaget. “O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?” “Karena begitulah pendapatku. kita sama-sama tidak tahu. “Begitulah kita di dunia ini. kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!” “Kecil umpannya. kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja. sambung para petugas spontan. surga itu di mana?!” Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu. sehingga Bu Amat kaget. Amat hanya tertawa. “Ada apa Pak?” “Anakmu marah-marah lagi!” “Kenapa?” “Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga. Apa yang di sana akan berubah kalau. jangankan dunia sana. tidak semuanya kita ketahui. Sebenarnya aku punya pendapat. “Orang lain bagaimana?” “Bila kita bisa membahagiakan orang lain. lalu masuk ke kamarnya.”komentar seorang .” → Leave a comment§ Ditulis pada cerpen§ Pemakaman Bekas Presiden§ Posted on28 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | Tinggalkan Komentar§ Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto. yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!” “Setuju pak Amat. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. surga itu di dalam hati orang lain.” “Apa?” “Menurutku Pak Harto akan masuk surga. meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat. “Kita lupa. adalah bapak pembangunan. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja. kecil ikannya!”. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?” “Karena itu tidak adil!” Ami langsung bangun. “Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!” Para petugas ketawa. Pasti tepat. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. tetapi kemudian senyum. Ia menutup pintu keras-keras. presiden Indonesia selama 32 tahun.” “Jadi Bapak mendukung Pak Harto?” “Aku tidak bilang begitu.” Amat terkejut. karena tidak dibukakan pintu kamar. lalu keluar. Pak. “Kenapa tidak?” Bu Amat tercengang. yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan. “Kata orang tua saya. “Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?” “Ya sudah.” Bu Amat yang sekarang tercengang. yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya.”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas . “Kenapa?” “Apanya yang kenapa?” “Kenapa Pak Harto akan masuk surga?” Amat tertawa. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar.“Ya karena aku tidak tahu. “Betul.” “Harus setuju. Mau betengkar bagaimana lagi.” “Bohong!” Amat terkejut. itu surga.

ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan. Malaysia. Tidak. karena memang itulah kelemahannya. tetapi kalau mau obyektif. terasa positip. Sebarkan!” Begitu selesai membaca. “Manusia Indonesia pemaaf. karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Walhasil. dikawal oleh RT dan RW serta petugas. Orchard Street. Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. mesti berani menerima. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. “Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Hanya saja ia memang agak nakal. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar. para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya. jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Dulu itu dipinjam oleh almarhum.” Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Kita boleh dan bebas berpendapat. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Kalau kalah suara. meskipun keki. “inilah demokrasi. Kalau bapakmu karmanya memang buruk. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Pensiun pun belum. Sedikit sekali yang mengantar. Bunga telah dtaburkan dan tamutamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura. tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka. Amerika. Upacara berlangsung megah. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak . Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Keluarganya pun tak lengkap. karena suka perempuan.”kata seorang warga Jakarta di kantornya.” Franky melihat kembali ke layar kaca. di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat. wakil presiden. Ibunya hanya menjawab. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Karena sekarang almarhum sudah tak ada. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap. disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi. SMS lain muncul lagi dari Jakarta.” Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. “Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan. untuk apa mendapat tempat yang baik. sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan. Tak ada yang merasa sedih. pemiliknya akan mempergunakan sendiri. “Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng. dikabarkan datang dari pejabat di Philipina. “kata Franki kepada istrinya. Tapi ibu memaafkannya.pengamat. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi. Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Upacara sudah berakhir. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Entah siapa yang mengirim. layaknya kepergian seorang raja. “Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Di antaranya presiden SBY. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. terpaksa Franky dan ibunya pindah. “Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga. “Bisa jadi ada cacadnya.”kata Ibu Franki. Tidak curang dalam soal uang. Dan kalau bapakmu memang baik. Franki termenung. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.” Tapi setelah itu. “Tak pernah merecoki orang. Jepang dan Singapura sendiri.

Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Tak sampai satu jam. Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu. jangan maksa begini!” Istri Franki melotot. Coba baca. sampai tujuh hari bendera berkabung?” “Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p. hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat. apa pun suaranya akan tenggelam. dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul. masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu. dipakai main juga tidak pernah. “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. “Maksud Abang apa?” “SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!” “Itu karena Abang tidak setuju!” “Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya. “O jadi yang menulis SMS itu kamu?” Istri Franki melotot. Dalam rangka memerangi pemanasan global.sauara . Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?” “Aku tidak mau menang sendiri.residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak. “Untuk apa lapangan badminton. “Kita harus mendukung program melawan pemanasan global. Amat marah sekali. Ibunya setuju. Sekarang semuanya itu akan berakhir. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !” “Ayo Pak! Bantu Ami!” Amat terpaksa turun tangan. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. berarti dosa!” → Leave a comment§ Ditulis pada catatan§ Kebun§ Posted on14 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun. lalu masuk ke dapur.. aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!” Franki terkejut. ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Pak. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. “Kenapa jadi menuduh begitu?” “Habis kamu membela!” “Siapa yang membela? Membela apa?” “Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan. Ia terduduk kelelahan. Mau jadi juara All England. “Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga. wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Dengan berolahraga bersama-sama. Kalau Bu Amat sudah mendukung. .”kata Amat berkali-kali. Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah. setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami.

kita bisa malu!” Amat takjub. kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Amat mengangguk. Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Heran sekali. “Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga. Jepang. Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. malahan tambah menjajah. Dia yang bikin rusak ozon. lalu istirahat. sudah Pak.“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga. memandang dengan kecewa. kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan. “Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Amat hanya tersenyum. “Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri. “Bagus Pak. tetapi di d alam pikiran kita. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita. tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!” “Apa?” “Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!” Pak Amat bengong. dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!” Amat melempar pacul. ketika ia mengalah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Sebelum Amat menjawan. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Sekarang batal dah!” Amat tak berusaha menanggapi. Kalau tidak. Lalu datang istrinya. Ia hanya menjadi tambah sedih. anak muda itu mengangguk. jadi rusak dah lapangannya!” Amat berhenti dann tercengang. Tetapi heran juga. Sampai sore. Amat pura-pura tak mendengar. “Apa?” “Jadi rusak lapangannya!” “Memang dirusak. kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati. kita yang disuruh kerja. pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia tak punya suara lagi di rumah. “Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya. anak-istrinya bukannya tahu diri. kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!” “Itu nanti saja!” “Nanti bagaimana?” “Apa artinya kebun seupil beginji. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat. Tentang pemanasan global. Kalau pikiran kita hijau. Pak Amat. hampir separuh lapangan sudah tergarap. kalau Amerika. Tapi mukanya menahan marah. . tomat. Esoknya. sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat. “Bapak kembalikan lagi jadi lapangan. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi. Dia tidak bisa ngomong. sekarang dalam tempo dua jam. Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas. “Sudah Pak. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul. padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. malah menambah cepat ayunan cangkulnya. padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun. “Yah. “Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan. tidak apa. “Sudah. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam.. Itu lihat aku sudah mulai!” Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe. Sehariann ia termenung. karena sudah terlanjur. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Lebih banyak karena kecewa.” Anak muda yang lain.

sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. antara tanggal 21 s/d 30 Desember. Radhar Panca Dahana. tetapi tak urung menjadi tantangan. mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang. Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah. Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006. agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Penataan panggung. pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. ekspressi yang datar. gesture yang salah. sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta. DANARTO: Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk. tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Kelompok yang sudah hadir gemilang. tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks.“Ya sudah. Yang akan tersaji hanya bentuk semata. ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta. para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final. harus bertekad untuk tampil maksimal. para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi. agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008 JAJANG C NOER: Bila sutradara kurang mendalami lakon. Jajang C Noer. Seno Joko Suyono. nampak menyelenggarakannya dengan sungguhsungguh. Danarto. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. kembali berkobar. kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta. adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hatihati. Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007. Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan. Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ). Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang. baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan. phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak. sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater. . Lampu merah bagi Komite Teater DKJ. dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ. Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya. Silakan main di situ dengan sepuasnya!” → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Catatan Dewan Juri FTJ 07§ Posted on11 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 6 Komentar§ Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota). Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta? Walhasil Jakarta mesti beringas. Yang pasti. akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung.

membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan. tetapi juga pemimpin kelompok. SENO: Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing. kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya. Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasardasar dramaturgi yang berkesinambungan. Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival. PUTU WIJAYA: “Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM. Tetapi memasuki 90-an sampai kini. akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater. sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008. pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu. yang antara lain menyangkut pemilihan naskah. Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri. namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya. Di sudut lain. seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan. asal tetap sesuai dengan tema festival. dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat. Selamat berjuang. 30 Desember 2007 DEWAN JURI FTJ 07 . Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskahnaskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon. sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah. apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Jakarta. tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Namun di atas semua catatan-catatan itu. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final. keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh. pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget. benar-benar harus diikuti. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya.Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk. RADHAR PANCA DAHANA: Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater. keras bahkan berteriak namun tidak jelas. peran sutradara amat penting. Realisme ternyata tak pernah mati. menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama. sampai pada memilih naskah. kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain. apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok. pilihan bentuk artistik. Barat tetap menjadi referensi. artikulasi kata-kata tidak jelas. dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan. yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan. membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat. pola pemeranan. Demikian catatan kami para juri. apakah itu komedi atau tragedi. dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni. penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik. apakah itu naskah realis atau non realis. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan. kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi. pada peta teater Barat Dalam keadaan seperti itu. Pemahaman terhadap naskah. Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu. sangat menentukan hasil akhir pementasan. volume suara tidak memadai.

Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. sehingga ketika maut tiba. Pada suatu malam. Disaksikan keluarganya.” “Terlambat bagaimana?!” “Kata dukun. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal. sebab orangnya sudah meninggal. karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta. saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza. flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. saya bedah mayat itu. tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!” “Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!” “Cepat bertindak!” Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Kalau yang sakit sudah sekarat. saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. “Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi. Tetapi di dalam hutan. Dia itu kepala keluarga. kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!” “Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!” “Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. dalam bayi tabung. Bagaimana pembuahan di luar rahim. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!” “Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya. Pak Dokter jangan ngomong terus!” “Kami memang miskin. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul.” “Makanya keluarkan ular itu cepat. tidak bisa bayar. masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. karena saya dokter. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati. Dokter tidak bertanggungjawab!” “Dokter harus bertindak!” . Ketika sampai di Puskesmas. ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. itu tidak berlaku. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. tidak akan terlambat. Hidup-mati kami tergantung pada dia!” “Tapi sudah terlambat. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun. masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter. manusia tetap mati. keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak. Biasanya pasien parah langsung diinfus. saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit. HIV. Noer Seno Joko Suyono Radhar Panca Dahana Danarto Putu Wijaya 2007§ Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya.” “Terlambat bagaimana.→ 6 Komentar§ Ditulis pada catatan§ Di-tag FTJ§ Dokter§ Posted on9 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 7 Komentar§ Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo: Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award • • • • • Jajang C. tidak ada gunanya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu. tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima. baru dibawa ke Puskesmas. “Pak Dokter harus tolong kami. apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini.

” “Terus hasilnya?” “Itu. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. dia pasri bisa disusul!” “Disusul?” “Ah. seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Wajahnya meringis kesakitan. Beta bilang kejar! Kejar!” Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat. tapi tidak ada yang mau. Saya berikan ruang agar mereka lewat. . jangan terlalu banyak diskusi. kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. berdoa dan menyanyi. Mereka semua nampak bimbang. nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!” Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Kalau Dokter cepat bertindak.“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!” “Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Saya bingung. tidak cuma ngobrol. Dukun sendiri malah mundur selangkah. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.” Mereka tercengang. tahu?! Dia tidak boleh mati!” “Tapi ajal itu di tangan Tuhan. Dukun pun terus menjalankan upacara. Lalu saya buka pintu. Kasihan keluarganya. Itu maka kita bawa dia ke mari!” “Saya sudah mencoba. “Ayo!” Orang-orang itu tambah ragu-ragu. gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh.” “Dan hasilnya?” “Lumayan. Paling berapa kilometer.. Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. “Bagaimana?” “Tenang!” “Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!” “Saya sudah berusaha. “Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. ” kata saya menunjuk pada mayat. ingin tahu apa hasilnya. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. apa itu itu artinya lumayan. asal habis jam kantor!” “Ayo Pak Dokter. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu.” “Ah. mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang. Saya rogoh saku. “Jadi dia hidup lagi?” “Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?” “Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu. tak percaya apa yang saya katakan. kau lambat sekali.. berhasil atau tidak?” “Berhasil. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar. Saya terpaksa menjadi dukun. Pagi-pagi pintu digedor. kita hanya bisa berusaha!” “Makanya kau harus berusaha terus Dokter!” “Berusaha bagaimana lagi?” “Panggil! Kejar sekarang!” “Kejar ke mana?” “Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya. Ada yang menangis. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi. Bilang saja terus-terang.

lantaran saya sama sekali tidak siap. yang lain menghampiri mayat. karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar. muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya. Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Pada suatu malam.” “Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan. tenang semua. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Tidur untuk selamanya. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu.“Jadi dia hidup lagi?” Saya mengangguk. “Kata dia sebelum tidur. aku tidak sanggup lagi bekerja!” Orang-orang itu terdiam. untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara. karena aku sudah lelah sekali. Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus. Saya tidak percaya orangorang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Saya sama sekali tidak ingin mengatakan. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Bahkan sampai tiga kali. karena saya sudah terlanjur dipercaya. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut. berubah menjadi pengurus orang mati. mengeluarkan duit. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. atau apa sajalah namanya.. Mengulur semacam pelipur. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas. Diendus-endusnya dari jauh. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu.. Tidak. “Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. “Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?” “Dan mengapa bau?” “Tadi dia sudah hidup. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. kalau saya runtuhkan lagi. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Badannya penuh dengan luka parang. Tapi tidak ada yang berani memeriksa. Setiap kali mengobati mayat. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Begitu kejeblos. ia menghitung. Mereka curiga. saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan. karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya. puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga. biarkan aku istirahat sekarang. Setelah dukun mengeluarkan mantera. saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib. sekarang sedang tidur.” Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. dengan bahasa yang mereka pahami. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka. kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!” Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. mereka lalu bergerak. Kalau saya tolak. anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka. Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. . bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya. Beberapa orang menyanyi. lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan. minta agar saya mengobatinya. menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. bisa jadi konflik.” “Apa?!!!!” “Tapi dia meninggalkan pesan.” “Tidur?” “Ya. saya langsung kelelap. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Rombongan pengantarnya banyak sekali. berikan ini kepada istri. Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan.

Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. “Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?” “Tidak. gempa. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini. Saya benar-benar cemas. pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan. kalau Bapa tidak ada?” “Ya itu saya juga mengerti sekali. Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Mereka pasti akan kecewa sekali. “kata putra kepala suku.” “Kami tidak mau hanya usaha.. kami bisa tunggu.” “Tapi kau Dokter kan?!” “Betul. “Berhasil Dokter?” Tubuh saya gemetar. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera. tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara. banjir. Kami semua ada karena dia hidup. Subuh. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!” “Makanya hidupkan lagi Bapaku. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama. Bapa saya itu lambang. asal hidup. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!” “Saya paham itu. Saya sudah berpurapura jadi dukun. tapi nyawa tidak mungkin. “Kalau satu hari tidak cukup. agar bisa nyambung dengan masyarakat. Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan. Kepalanya bisa saya sambung. boleh mati karena wabah penyakit. “Kehormatan buat kami paling penting. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan.. Dokter. tapi cintanya palsu.” “Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak . karena kalau sampai dia mati. karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya. duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Lebih dari itu. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. “Sebelum perang. Hidupkan dia sekarang Dokter!” “Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi.” “Saya sudah berusaha. Saya bingung. “. Tolong hidupkan Bapa kami. kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Itu mustahil. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!” Saya tidak sanggup menjawab. kami semua akan mati. tetapi mereka tidak peduli. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?” “Apa?” “Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. boleh kocar-kacir karena kebakaran. longsor atau letusan gunung berapi.Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas “Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas. Otaknya rusak juga tidak apa. “Jangan kecewakan kami Dokter! Saya tidak berani menjawab. Kami mau ada hasil!” “Tapi . Apa artinya orang-orang ini. tetapi ternyata tidak cukup. sekarang menghajar saya. Bapa saya itu raja. Kalau dia mati. tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjatasenjata mereka.” “Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan. Banyak di antaranya yang terluka. asal dia bisa hidup lagi. berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!” Saya termenung di depan mayat itu.” “Kalau begitu hidupkan lagi Bapa. Dia cinta kami semua. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan. Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.

Anak Kepala Suku tertegun. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Dan itu berlangsung lama. → 7 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Kembang Api§ Posted on6 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Saya tak sanggup lagi bicara. saya berbisik. lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya. Begitu jam menunjuk ke waktu 00. Mereka tidak hanya mencari obat. Lalau entah darimana datangnya keberanian. Namun Kleng. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. tidak.mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!” “Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. “Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya. Tiba-tiba saya melihat peluang. Sedetik hening. Harapan saya ada gunting. Tetapi kemudian semua meledak. mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta. supaya musuh dapat diberantas. Apa pun yang akan terjadi. Anak kepala suku itu menghampiri saya. ada orang sakit yang mati. itulah satu-satunya pegangan saya. bersorak gegap-gempita. mungkin akan jauh lebih berguna. Orang-orang lain pun tegang. “Jangan tembak!!!” Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu. tidak terkabul. kalahlah dengan indah dan gagah. Lutut saya tambah lemas. tetapi cepat saya gapai lagi. Sejak itu bukan orang mati. “Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek. di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Saya gemetar. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. daripada membela kebutuhan rakyat!” . Masyarakat marah melihat para pemimpin.. Mukanya langsung keruh. Di laci. tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. Semangat berjuang tidak bisa mati!” Pemuda itu terpesona. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. saya tidak mau mati terlalu konyol. Teriakannya membuat semua terdiam. Mereka melolong seperti binatang liar. saya menyerah. Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal.”kata Kleng berkoar di jalanan. Dengan panik. wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan. seorang penduduk di wilayah Ciputat. “Maksud Dokter Bapaku mati?” Saya tidak mampu menjawab. Saya bukan lagi dokter.” Anak kepala suku itu kaget. “Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini. Anak kepala suku itu sangat kcewa. tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Tapi ajaib. pesan orang tua saya waktu kecil. lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya ketakutan. saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. . hangat nafasnya membuat saya tersiraf. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan. Kalau saya harus mati. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub. “Pahlawan tidak pernah mati. langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. pisau atau barang tajam lainnya. Kalau kalah. Besi bendera itu terlepas. Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri. tetapi terutama kasih-sayang. Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Kalau pun kemudian karena sudah ajal. Saya genggam besi itu.

“Ya. kemacatatn jalan raya setiap hari.” “Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?” “Betul. Kleng dipanggil ke pos polisi. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang. Saudara boleh pulang. keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “ “Itu kami sudah tahu.” “O ya?” Petugas itu mengangguk.” “Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?” “Tidak bisa!” “Kenapa?” “Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!” “Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?” “Ya!” “Kenapa?” “Karena itu bagian tugas pemimpin. “Tidak. “Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?” “Tidak.Esok harinya. Kecuali kalau ada yang lain. agar kalau ada pertanyaan. bukan rakyat yang salah.” Kleng tak bergerak. “Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!” “Betul.” . “Ada yang perlu saya jawab lagi?” Petugas berpikir. “Memprotes apa?” “Perlakuan kepada rakyat!” “Perlakuan yang mana?” “Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!” “Pemimpin yang mana?” “Semua.” “Saya tidak ditangkap?” “Kenapa msti ditangkap?” “Kan saya sudah protes!” “Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!” “Betul.” “Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?” Petugas itu menoleh kepada rekannya. siapa suruh jadi pemimpin?!” Petugas mencatat. “Silakan. kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat.” “Jadi apa?” “Itu suara hati!” “Suara hati?” “Bahasa populernya protes. Sudah cukup. Pak. tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau. “Lho saya boleh pulang?” “Ya. Sekarang karena sudah jelas.. Ia nampak bengong. Kemudian dia menggeleng.”. rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir. Tapi itu bukan teriakan-teriak. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!” “Tidak.” “Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab. korupsi. sudah cukup. Kalau ada kesalahan. Kemudian dia berbicara dengan temannya.” Petugas mencatat. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat.” “Berarti saya bebas?” “Memang. kami bisa menjelaskannya. kejahatan birokrasi yang semakin licin. Kleng bingung.

Ya bukan hanya Ibu kamu. Kalau semua orang seperti ibumu itu.” Petugas mau mencatat. tidak tidur dan tidak makan dan minum. kita semua manusia begitu. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor.” “Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!? “Ah masak! Itu kan kata Bapak!” “Yakin. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan. Kamu sendiri sering bilang. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. menghayati kembali apa itu Indonesia. Yang pertama protes adalah Bu Amat. akhirnya ia mengomel pada Ami. “Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila.” “Bapak terlalu sinis!” “Habis. Benar tidak?” “Kalau itu memang. sebab aku masih ingat.Kleng menggeleng.” “Untuk apa?” “Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. . tidak usah susah-susah bertapa. Tanpa kepribadian. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif. satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan. lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan.” “Tidak mau? Kenapa?” “Karena semua orang tahu. Pak Amat ingin menyepi.” “Lho ini kenyataan. masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang. saya dipanggil. perpecahan. Tapi saya tidak mau. kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!” “Ya.” Amat tak bisa membantah.” “Hanya itu?” Amat berpikir. untuk membunuh Niwatakawaca. itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati.” “Tidak ada tetapi. “Ah kalau cuma maunya itu. “Saudara boleh pulang. nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter. kurang waspada. “Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Bapak juga. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara. tetap saja makin tua makin merongrong. bukan semua kita!’ . “Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan …….” Bu Amat tak sabar. “Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas. Ami.” “Ya saya tahu. Baru kalau kepalenya sendiri digondol. langsung mencak-mencak mengerahkan massa!” “Itu pejabatnya saja yang geblek. tempe. ada tiga sekaligus hari ini. ampas kebencian dari masa lalu!” → 1 Komentar§ Ditulis pada cerpen§ Di-tag kleng§ 2008§ Posted on1 Januari 2008§by Putu Wijaya§ | 1 Komentar§ Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda. pejabat-pekabat kita tidak peduli. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi. tapi Kleng cepat-cepat mencegah. seakan-akan itu bukan urusan mereka. satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia. Lihat saja ketika hak cipta batik. pendeknya melakukan tapa selama satu hari. Kita perlu mengingat citacita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa. Rasa Sayange.” “Iiih kebangetan.. pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?” “Ya. perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Begitulah manusia. Nanti jawaban satu nusa. Makin lama. keroncong. sama saja dengan kendaraan. tapi ……. itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD. meskipun dipelihara.

kemudian perdamaian dimulai. gembos dengan sendirinya. Itu bukan silaturahmi lagi. ketika Amat masuk ke dalam rumah. Tetapi sial. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya.“Ah sama juga. Air matang pun habis. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Bapak kali mau menikmati itu?” “Ah dasar. Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Perutnya gembung karena kebanyakan makan. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Terpaksa Amat berbasabasi melayani. Ia tidak pernah marah. untuk melerai. seperti kambing congek Amat salam-salaman. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu. untuk mendapatkan pencerahan batin!” “Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?” “Maksudmu?” “Kata Ibu. tetapi kakinya hampir copot. Bu Amat tersentak bangun. Tinggal Amat sendirian. Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya. Ami juga sudah pulas. tapi ketika terdengar suara perkelahian. Coba kritik Ibumu. Ia sudah menghunus parang. “Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!” “Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!” “Lho memang. Tiga jam semuanya baru terkuras. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi. Sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. apalagi pintu rumah diketok tetangga. tiba-tiba datang tamu. karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!” Ami tertawa. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. langsung minta Amat keluar. Ia marah. badannya rasa hancur digiling. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri. Ia lebih banyak menyesali . Untung Amat tidak terlambat. Dari pagi hingga malam . Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Ia dengarkan keluhan keduanya. Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Tidak ada apa-apa di situ. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga. jadi lebih sering ngelayap. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?” Amat nyengir. tetapi siksaan. Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Ia manjakan istri dan anaknya. cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Amat selalu dianggap sebagai kunci. sekarang perutnya keroncongan. Pulang ke rumah. Tapi ternyata bukan tiga. Biasanya kalau Amat datang. Tempatnya berjauhan. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. lalu keluar. karena kesal melihat ulah suaminya. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu. Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. ada empat acara pernikahan. Amat kecewa lagi. baru hendak melepas baju batik. Sampai di rumah.. kata-katanya juga sama. “Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!” Amat kesal. Tidak pernah menuding orang lain. supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!” “Maksud Bapak. Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Mula-mula Amat tidak mau. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Amat dengan sabar melerai. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah. Begitu tamu pulang. Masalahnya sama. mulai kesal. ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi. begitu membuka tutup nasi di meja makan.

Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Kasihan pada dirinya sendiri. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya.” Amat membuka mata. “Sebab aku bukan Arjuna. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tiba-tiba mendesak rasa haru. Ia memandangi istrinya lama. air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan. Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial. sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Bahkan ketika mulai punya pacar. Setua sekarang usianya. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur. Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. kesal. terhanyut begitu jauh. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan. sebagaimana biasanya. ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi. Ibu terus saja pura-pura tidur.” jawab Bu Amat. Kelihatannya sangat nikmat. menahan perasannya. “Aku bertapa. Setelah menangis dalam. Tapi tak bisa. Amat bangkit dari kursi. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Tetapi ternyata balasannya tak ada.” “Kenapa!” Amat tertawa. Lalu Amat tersenyum. merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku. asal masih ada kamu yang menyapa. “Ya. “Aku tidak lulus. “Kasihan Bapak. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan. Usiamu bertambah. Sekeliling sepi sekali. Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa.” “O ya? Dapat panah Pasopatinya?” Amat menggeleng. jadi waktu semalam ia masuk kamar. “Ya hanya kamu temanku. sepi. lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Bapak kok tidur di luar. Hanya kesunyian yang masih terjaga.kekurangannya sendiri. Amat duduk terhenyak. ” tapi apa boleh buat. Amat merasa dinina-bobokkan. Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam. Ia tidur mati. kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas. seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa. Tanpa seorang penonton. Aku tidak mencari panah Pasopati. “kata Ami. mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena . ia masih saja cengeng. Malam bagai mendengar. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Biarlah tak ada yang mencintaiku. kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar. “Apa?” “Ah nggak. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Baru beberapa menit duduk. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. bapakmu kan memang maunya bertapa. Lampu kamar belum dimatikan. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari. aku sudah merasa cukup lega. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. ” bisik Amat dalam hati. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Tetapi setiap kali tahun baru. Kemudian datang malu. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar. Amat merasa lebih lega. untuk dikeluarkan lagi nanti. biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. pengalamanmu semakin banyak. keluar ke teras. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Amat menangis. Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Tidak dingin?” Amat menggeliat. “Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Aku ternyata sendirian. seperti seonggok kayu yang tumbang.”keluh Amat.

aku ingat. “Tidak ada. Kemudian ia meraih pisang goreng.” “Itu untuk siapa?” Ami menjawab. Arjuna kan doyan kawin. Bu Amat dan Ami nimbrung. justru bangun-tidur minum itu sehat. menarik kursi lalu duduk. pacaran lagi……. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Jadi karena takut mengganggu. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami.” “Bapak lupa. “Untuk Bapak kan?!” “Aku?” “Ya.” Amat ketawa malu. Meja makan memakai taplak baru.” “O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.” “Tapi aku belum mandi. Rumah nampaj berdandan. Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng.” Amat bersenandung mengikuti lagu. kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia. aku tidur di luar. Pak?” Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan. tetapi karena kita tidak tahu. Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. Juga ada buah-buahan.cemburu buta. di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. “Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring. itu tidak penting lagi. karena Bapak bukan Arjuna. Kalau tidak. .” “Ya.” “Ya?” “Lama aku perhatikan kamu tidur. “Aku untung kalau begitu. Akhirnya ia menghampiri meja. “Ya. “Cukup gulanya. Untuk apa bertapa. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri. “Ah sudahlah. “Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus. Ibu memang beruntung. Tetapi begitu sampai di dalam. “Boleh.” “Apa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. ia terkejut. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. .” Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. padahal semuanya itu sudah kita miliki!” Bu Amat tak menjawab.” “Kenapa?” “Karena Bapak kemaren sudah bertapa. Kamu nampak lelap sekali.” Lalu mereka bersama-sama mulai makan. kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam. bangun tidur. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan.” Amat hendak terus ke kamar mandi. mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan. akibatnya kita jadi tidak peka. suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan.” “Untung?” “Ya. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan.” Bu Amat nyengir karena merasa tersindir. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia.” “Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan. Matanya terpejam karena nikmat. Pak. buta dan merindukan yang lain. Kopi panas. tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu. pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. “Minum saja dulu. kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain.

tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai. “Bukannya hari ini?” “Kalau sudah kemaren.”kata Amat kemudian dengan suara lirih. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah.” “Tapi sesuai dengan pepatah. supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?” Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi. betapa cantiknya hari itu. “Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?” “Kalau toh ya.” Amat terkejut. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. buta.” AIDS§ Posted on1 Desember 2007§by Wibisono Sastrodiwiryo§ | 3 Komentar§ “Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS. “Kan sudah kemaren.”bisik Amat. Amat terpesona. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”kata Amat seperti disambar petir.” kata Ami memberikan ceramah. khususnya di kalangan kaum homo. sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya.” Amat mengernyitkan dahinya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini. Tetapi Amat jadi begitu terpukul. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.”lanjut Ami menyambung ceramahnya. akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan .. kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?” Bu Amat menggeleng. “terimakasih.” “Kenapa?” “Ya dibatalkan saja. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar. di depan sejumlah ibu kampung. untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?” BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya. apa yang mereka lakukan. Tranfusi darah. Amat menatap anak istrinya dengan takjub. menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. “Terimakasih. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi. apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele. Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. kalian sudah menolongku kemaren bertapa. yang bebal.“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?” Ami menggeleng. telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.” Amat menggeleng tak mengerti. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Dulu siapa yang mengidap AIDS. “kalian sengaja melakukan itu.” Tiba-tiba Amat terpagut. “Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. “Astaga. “Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita. jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh. Lintasan pikiran itu mengagetkannya. “Lho bukannya. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti. “karena terlalu sering didengung-dengungkan. “Sudah dibatalkan. “Tapi kenapa?” “Ya nggak apa-apa. hari ini tidak usah. alah bisa karena biasa. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan.

Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan.dengan masyarakat. tidak peduli kepada kemanusiaan. dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!” Muka Amat bersemu merah. karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal. bukan lagi AIDS. “Wah. Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Kenapa jadi bisa begitu?” “Karena nyatanya memang begitu! HIV. Ami kan jadi malu!” Amat mengangguk-ngangguk. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter. Ibu-ibu tahu apa itu?” Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Tanpa kedudukan. “Ami!” “Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!” “O ya?” “Ya! Malah ada yang menyindir. Bila perlu dengan cara melawan hukum. “Aduh. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu. adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Semuanya mengucapkan selamat. kalau dalam usia semuda kamu. Terimakasih!” Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. “Sekarang yang paling berbahaya.” Mata Amat semakin membelalak. “Mereka bilang begitu?” “Ya. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya. agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya. Moral kita sudah jatuh. “Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?” “Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!” Amat bengong. kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. “Apa ceramahmu gagal. seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu. itu sangat dalam Ami!” “Apa?” “Bagaimana mereka tidak akan memujimu. tidak punya harga diri. tetapi kehilangan otak. orang akan bangkrut dan mati. bukan lagi HIV. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi. Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan. “Kamu bilang begitu?” “Ya. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!” Amat terhenyak. yang paling mengancam kita. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi. “Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?” “Bukan hanya itu. juga kehilangan kesejahteraan.” Amat terkejut. AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. yang nomor satu ditakuti. bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Dengan loyo Ami pulang ke rumah. karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!” Amat memandang tajam Ami. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. yang belum menikah. Sekarang malah diundang berceramah. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level. “Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. Ami?” ” Dari awal saya tahu akan gagal. juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. . 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. tidak punya rasa malu. tetapi tetapi seluruh bangsa.

AIDS sudah dianggap enteng. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri. untuk mendengar sendiri secara langsung. Ami kebingungan.cantik lagi. “Kenapa? Kamu sakit?” “Ya. “Kalau begitu. hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Apa?” “Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang. “Kenapa Ami. karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini. Lalu bergegas keluar. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!” Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. isi ceramahmu bagus sekali. bukan yang kamu katakan Ami. kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?” Bu Amat tersenyum. Ternyata benar. atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan. benar juag komentar ibu-ibu itu. yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan. kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. mereka tak mampu mengucapkannya. Bapak juga sama saja. pujian mereka kepada Ami. Hanya saja karena orang sederhana. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja.” .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful