P. 1
dekubitus

dekubitus

|Views: 53|Likes:
Published by Siti Lia Nurhasanah
kulit
kulit

More info:

Published by: Siti Lia Nurhasanah on Jan 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Salah satu aspek utama dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien adalah mempertahankan integritas kulit.Hal ini dapat tercapai dengan memberikan perawatan kulit yang terencana dan konsisten.Perawatan kulit yang tidak terencana dan konsisten dapat mengakibatkan terjadinya gangguan integritas kulit (Hoff, 1989 dalam Potter & Perry, 2005). Gangguan integritas kulit dapat diakibatkan oleh tekanan yang lama, iritasi kulit atau imobilisasi dan berdampak akhir timbulnya luka dekubitus (Potter & Perry, 2005 ). Dekubitus merupakan kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan di bawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang sehingga mangakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat.Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompresi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominance) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama. Kompresi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel (Sutanto, 2008 dalam Roy, 2008). Dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasien dengan penyakit kronis, pasien yang sangat lemah, dan pasien lumpuh dalam waktu lama, bahkan saat ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit (Morison, 2003). Menurut Mukti (1997) yang di kutip dari penelitian sebelumnya, insidensi dan prevalensi terjadinya dekubitus di Amerika tergolong masih cukup tinggi dan perlu mendapatkan perhatian dari kalangan tenaga kesehatan khususnya perawat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkkan bahwa insidensi terjadinya dekubitus bervariasi, tapi secara umum dilaporkan bahwa 5-11% terjadi di tatanan

perawatan akut, 15-25% di tatanan perawatan jangka panjang dan 7-12% di tatanan perawatan atau home care. Setiyaji (2001) juga melakukan penelitian hampir sama pada pasien tirah baring di Rumah Sakit Moewardi Surakarta, dimana kejadian luka dekubitus sebanyak 38,2%. Dari penelitian tersebut dapat diasumsikan bahwa kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan di rumah sakit dapat dikatakan belum baik dan perawat belum menempatkan pencegahan dekubitus menjadi prioritas yang tinggi dalam pelayanan keperawatan.Dekubitus merupakan masalah yang serius karena dapat mengakibatkan meningkatnya biaya, lama perawatan di rumah sakit serta memperlambat program rehabilitasi bagi penderita. Selain itu dekubitus juga dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan, rasa tidak nyaman serta dapat menyebabkan komplikasi berat yaitu sepsis, infeksi kronis, sellulitis,

osteomyelitis, dan meningkatkan prevalensi mortalitas pada klien lanjut usia (Sari, 2007 dalam Setiyawan, 2008). Pencegahan dekubitus merupakan prioritas dalam perawatan klien dan tidak terbatas pada klien yang mengalami keterbatasan mobilisasi.Gangguan integritas kulit mungkin tidak menjadi masalah bagi individu yang mengalami imobilisasi dan sehat, tetapi bisa menjadi masalah yang serius dan berpotensi merusak pada klien sakit atau tidak berdaya. Hampir 95% dekubitus dapat dicegah melalui tindakan keperawatan, sisanya lebih kurang 5% pasien imobilisasi tetap akan mengalami dekubitus (The Agency for Health Care Policy and Research (AHPCR), 1994). Upaya pencegahan dekubitus perlu memperhatikan pengetahuan yang dimilki oleh perawat. Tingkat keberhasilan dalam upaya pecegahan tergantung dari hal tersebut, akan tetapi berbagai studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus (Buss, 2004 dalam Setiyawan, 2008). Ada tiga area intervensi keperawatan utama mencegah terjadinya dekubitus yaitu: perawatan kulit yang meliputi higienis dan perawatan kulit topikal, pencegahan mekanik dan pendukung untuk permukaan yang meliputi:

TUJUAN 1. Bagaiamana cara perawatan luka dekubitus? . Rumusan Masalah 1. Mempelajari apa yang dimaksud dekubitus 2. 2. Mempelajari cara perawatan luka dekubitus. 2005). Apa yang dimaksud dengan luka dekubitus? 2. 3. dan pendidikan yang mempegaruhi pengetahuan perawat dalam pencegahan terjadinya dekubitus (Potter & Perry. Bagaimana klasifikasi derajat keparahan luka dekubitus beserta tandatandanya? 3. Mempelajari klasifikasi derjat keparahan decubitus beserta tanda-tandanya 3.pemberian posisi dan penggunaan tempat tidur serta kasur terapeutik.

Jaringan memperoleh oksigen dan nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. 2005).Penurunan aliran darah menyebabkan daerah tubuh menjadi pucat.Pucat tidak terjadi pada pasien yang berkulit pigmen gelap.BAB II PEMBAHASAN 1. area pucat setelah dilakukan tekanan dengan . kulit yang terang mengalami satu atau dua perubahan hiperemi.Pucat terlihat ketika adanya warna kemerahan pada pasien berkulit terang.Kerusakan jaringan terjadi ketika tekanan mengenai kapiler yang cukup besar dan menutup kapiler tersebut. (National pressure Ulcer Advisory panel (NPUAP). Setelah priode iskemi. Tekanan pada kapiler merupakan tekanan yang dibutukan untuk menutup kapiler misalnya jika tekanan melebihi tekanan kapiler normal yang berada pada rentang 16 sampai 32 mmHg (Maklebust. 2005). Beberapa faktor yang mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi jaringan. Pengertian Luka Dekubitus Dekubitus berasal dari bahasa latindecumbree yang berarti merebahkan diri yang didefenisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam (Sabandar. 2008). 2005) mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama.Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. respon tubuh normal terhadap kekurangan aliran darah pada jaringan dibawahnya. 1987 dalam Potter & Perry. 1989 dalam Potter & perry. 1991 dalam Potter & Perry. Iskemia jaringan adalah tidak adanya darah secara lokal atau penurunan aliran darah akibat obstruksi mekanika (Pires & Muller. Hiperemia reaktif normal (kemerahan) merupakan efek vasodilatasi lokal yang terlihat.

Menurut Potter & Perry (2005) ada 10 faktor yang mempengaruhi pembentukan luka dekubitus diantaranya gaya gesek. Tetapi. Gaya ini terjadi saat pasien bergerak atau memperbaiki posisi tubuhnya diatas saat tempat tidur dengan cara didorong atau di geser kebawah saat berada pada posisi fowler yang tinggi. kakesia. Tulang pasien bergeser kearah kulit dan memberi gaya pada kulit (Maklebust & Sieggren. anemia. demam. Tekanan menyebabkan penurunan suplai darah pada jaringan sehingga terjadi iskemi. Ketika pasien berbaring atau duduk maka berat badan berpindah pada penonjolan tulang. A.Kulit terlihat berwarna merah muda terang hingga merah. Kelainan hyperemia reaktif adalah vasodilatasi dan indurasi yang berlebihan sebagai respon dari tekanan. (Potter & Perry. gangguan sirkulasi perifer. dan usia. Kelainan hiperemia reaktif dapat hilang dalam waktu antara lebih dari 1 jam hingga 2 minggu setelah tekanan di hilangkan (Pirres & Muller. friksi. Hiperemia reaktif merupakan suatu respons kompensasi dan hanya efektif jika tekan dikulit di hilangkan sebelum terjadi nekrosis atau kerusakan. kelembaban. Semakin lama tekanan diberikan. dan lapisan otot serta tulang bergeser sesuai dengan arah gerakan tubuh. 2005). 1991 dalam Potter & Perry. 1991 dalam Potter & Perry. Kapiler jaringan yang berada di bawahnya tertekan dan . Gaya Gesek Gaya gesek merupakan tekanan yang dberikan pada kulit dengan arah pararel terhadap permukaan tubuh (AHPCR. semakin besar resiko kerusakan kulit. Jika terdapat gaya gesek maka kulit dan lapisan subkutan menempel pada permukaan tempat tidur.ujung jari dan hyperemia reaktif akan menghilang dalam waktu kurang dari satu jam. obesitas. 2005). infeksi. Apabila tekanan dilepaskan akan terdapat hiperemia reaktif. nutrisi buruk. 2005). Faktor yang mempengaruhi pembentukan Luka Dekubitus Gangguan integritas kulit yang terjadi pada dekubitus merupakan akibat tekanan.Indurasi adalah area edema lokal dibawah kulit. atau peningkatan aliran darah yang tiba-tiba ke daerah tersebut. 1994 dalam Potter & Perry 2005). 1. ada faktor-faktor tambahan yang dapat meningkatkan resiko terjadi luka dekubitus yang terjadi luka dekubitus yang lebih lanjut pada pasien.

meletakkan bendabenda dibawah siku dan tumit seperti pelindung dari kulit domba.akhirnya pada kulit akan terbuka sebuah saluran sebagai drainase dari area nekrotik. cedera akibat friksi mempengaruhi epedermis atau lapisan kulit bagian atas. 1994 dalam Potter & Perry. seperti berada di bawah jaringan rusak. Karena cara terjadi luka seperti ini. pasien yang gerakan nya tidak terkontrol. Seringkali terlihat cedera abrasi pada siku atau tumit (Wysocki & Bryant. 2005). Tindakan keperawatan bertujuan mencegah cedera friksi antara lain sebagai berikut: memindahkan klien secara tepat dengn mengunakan teknikmengangkat siku dan tumit yang benar. Lemak subkutan lebih rentan terhadap gesek dan hasil tekanan dari struktur tulang yang berada di bawahnya. seperti kondisi kejang. Cedera ini terjadi pada pasien gelisah. 2005). 2. Friksi Friksi merupakan gaya mekanika yang diberikan pada kulit saat digeser pada permukaan kasar seperti alat tenun tempat tidur (AHPCR. dan membran transparan dan balutan hidrokoloid untuk melindungi kulit. dan pasien yang kulitnya diseret dari pada diangkat dari permukaan tempat tidur selama perubahan posisi (Maklebust & Siegreen. Perlu di ingat bahwa cedera ini melibatkan lapisan jaringan bagian dalam dan paling sering dimulai dari kontrol. 2005). 1992 dalam Potter & Perry. 1992 dalam Potter & Perry. 1992 dalam Potter & Perry. yang terkelupas ketika pasien mengubah posisinya. Selain itu. Akibatnya. Tidak seperti cedera akibat gaya gesek. perdarahan dan nekrosis pada lapisan jaringan. 2005). . 2005) . maka perawat sering menyebut luka bakar seprei ”sheet burns” (Bryant et el. 1991 dalam Potter & Perry. 2005 mengatakan juga bahwa gaya gesek tidak mungkin tanpa disertai friksi. Dengan mempertahankan tinggi bagian kepala tempat tidur dibawah 30 derajat dapat menghindarkan cedera yang diakibatkan gaya gesek (AHPCR. tak lama setelah itu akan terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi. 1994 dalam Potter & Perry. Brayan dkk. terdapat Penurunan aliran darah kapiler akibat tekanan eksternal pada kulit. penutup kulit.terbeban oleh tekanan tersebut.

keringat. dekubitus yang tidak sembuh (Hanan & scheele. Akibat kelembaban terjadi peningkatan resiko pembentukan dekubitus sebanyak lima kali lipat (Reuler & Cooney. Pasien yang mengalami malnutrisi mengalami defisiensi protein dan keseimbangan nitrogen negatif dan tidak adekuat asupan vitamin C (Shekleton & Litwack. 4. 2005). patogenesis. Pasien imobilisasi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan higienisnya sendiri. Kelembaban Adanya kelembaban pada kulit dan durasinya meningkatkan terjadinya kerusakan integritas kulit. Malnutrisi merupakan penyebab kedua hanyapada tekanan yang berlebihan dalam etiologi. Kelembaban kulit dapat berasal dari drainase luka. 1983 . dan inkontensia. Kelembaban menurunkan resistensi kulit terhadap faktor fisik lain seperti tekenan atau gaya gesek (Potter & Perry. 1991 dalam Potter & Perry. Pasien dengan status nutrisi buruk biasa mengalami hipoalbuminunea (level albumin serum dibawah 3g/100 ml) dan anemia (Nalto. 2005). Status nutrisi buruk dapat diabaikan jika pasien mempunyai berat badan sama dengan atau lebih dari berat badan ideal. kondensasi dari sistem yang mengalirkan oksigen yang dilembabkan. tergantung untuk menjaga kulit pasien tetap kering dan utuh.dan menggunakan pelembab untuk mempertahankan hidrasi epidermis (Potter & Perry. 3. 2005). Nutrisi Buruk Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan jaringan subkutan yang serius. Oleh karena itu efek tekanan meningkat pada jaringan tersebut. 1991 dalam Potter & Perry. dan inkontensia menyebabkan erosi kulit dan meningkatkan resiko terjadi luka akibat tekanan pada pasien (Potter & Perry. 2005). Untuk itu perawat harus memasukkan higienis dalam rencana perawatan. 2005). 1981 dalam Potter & Perry. 2005). . Steinberg 1990 dalam Potter & Perry. 2005). muntah. Beberapa cairan tubuh seperti urine. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. feses.

penurunan level oksigen meningkatkan kecepatan iskemi yang menyebabkan cedera jaringan (Potter & Perry. Anemia Pasien anemia beresiko terjadi dekubitus. Kondisi ini . yang akan menyebabkan edema interstisial dan penurunan oksigen ke jaringan (Hanan & Scheele 1991 dalam Potter & Perry. 5. Pasien yang albumin serumnya dibawah 3g/100 ml beresiko tinggi. 2005). Penurunan level hemoglobin mengurangi kapasitas darah membawa nutrisi dan oksigen serta mengurangi jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Suplai darah pada suplai jaringan edema menurun dan produk sisa tetap tinggal karena terdapatnya perubahan tekanan pada sirkulasi dan dasar kapiler (Shkleton & litwalk. 1991 dalam Potter & Perry.Albumin adalah ukuran variable yang biasa digunakan untuk mengevaluasi status protein pasien. Selain itu. hipoalbuminimea menyebabkan perpindahan volume cairan ekstrasel kedalam jaringan sehingga terjadi edema. dan gaya gesek. Kakeksia biasa berhubungan dengan penyakit berat seperti kanker dan penyakit kardiopulmonal tahap akhir. 1989). level total protein dibawah 5. Anemia juga mengganggu metabolisme sel dan mengganggu penyembuhan luka (Potter & Perry. 2005). 2005). Hanan & Scheele. Edema akan menurunkan toleransi kulit dan jaringan yang berada di bawahnya terhadap tekanan. Selain itu. Nutrisi buruk juga mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. 2005). Level total protein juga mempunyai korelasi dengan luka dekubitus. level albumin rendah dihubungkan dengan lambatnya penyembuhan luka (Kaminski et el.4 g/100 ml menurunkan tekanan osmotik koloid. 2005). Walaupun kadar albumin serum kurang tepat memperlihatkan perubahan protein viseral. friksi. 1991). 1991 dalam Potter & Perry. Edema dapat meningkatkan resiko terjadi dekubitus di jaringan. Kakeksia Kakeksia merupakan penyakit kesehatan dan malnutrisi umum. Pada pasien yang mengalami kehilangan protein berat. tapi albumin merupakan prediktor malnutrisi yang terbaik untuk semua kelompok manusia (Hanan & Scheele. ditandai kelemahan dan kurus. 6.

Gangguan sirkulasi pada pasien yang menderita penyakit vaskuler. Lansia mempunyai potensi besar untuk mengalami dekubitus oleh karena berkaitan dengan perubahan kulit akibat bertambahnya usia. pasien syok atau yang mendapatkan pengobatan sejenis vasopresor (Potter & Perry. Pasien infeksi biasa mengalami demam. 9. Imobilsasi berlangsung . yang selanjutnya yang menjadi predisposisi kerusakan kulit pasien (Potter & Perry. Jaringan adipose pada jumlah kecil berguna sebagai bantalan tonjolan tulang sehingga melindungi kulit dari tekanan. Pada dasarnya pasien kakesia mengalami kehilangan jaringan adipose yang berguna untuk melindungi tonjolan tulang dari tekanan ( Potter & Perry. Infeksi dan demam menigkatkan kebutuhan metabolik tubuh.meningkatkan resiko luka dekubitus pada pasien. 2005). 1991 dalam Potter & Perry. 2005). Gangguan Sirkulasi Perifer Penurunan sirkulasi menyebabkan jaringan hipoksia dan lebih rentan mengalami kerusakan iskemia. 10. kecenderungan lansia yang lebih sering berbaring pada satu posisi oleh karena itu imobilisasi akan memperlancar resiko terjadinya dekubitus pada lansia. Selain itu demam menyebabkan diaporesis (keringatan) dan meningkatkan kelembaban kulit. 2005). Usia Studi yang dilakukan oleh kane et el (1989) mencatat adanya luka dekubitus yang terbasar pada penduduk berusia lebih dari 75 tahun. 7. Obesitas Obesitas dapat mengurangi dekubitus. 2005). membuat jaringan yang telah hipoksia (penurunan oksigen) semakin rentan mengalami iskemi akibat (Skheleton & Litwalk. sehingga jaringan adipose dan jaringan lain yang berada dibawahnya semakin rentan mengalami kerusakan akibat iskemi (Potter & Perry. 2005). jaringan adipose memperoleh vaskularisasi yang buruk. 8. Pada obesitas sedang ke berat. Demam Infeksi disebabkan adanya patogen dalam tubuh.

c. Patogenesis Luka Dekubitus Tiga elemen yang menjadi dasar terjadinya dekubitus yaitu: a. alat tenun yang kusut dan kotor atau peralatan medik yang menyebabkan lansia terfiksasi pada suatu sikap tertentu. dan tuberostis iskial (Meehan. Menurut Bouwhuizen (1986) dan menyebutkan daerah tubuh yang sering terkena luka dekubitus adalah: a. status gizi. tulang iga. C. 2000) menurut pranaka (1999). 1988 dalam Potter & Perry. Pada penderita dengan posisi tengkurap: dahi. 2005). 1953) c. daerah pangkal paha. 1994). maka semakin besar pula insidensinya terbentuknya luka ( Potter & Perry. tumit. Semakin besar tekanan dan durasinya. b. B. 1930). pembuluh darah dan keadaan hidrasi atau cairan tubuh). Durasi dan besarnya tekanan (Koziak. Faktor kebersihan tempat tidur. Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. 1953) Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antar waktu dengan tekanan (Stortts. daerah tulang belikat. Toleransi jaringan (Husain. trokonter besar. Tapi pada tekanan eksternal terbesar dari pada tekanan dasar kapiler . Tempat terjadinya luka Dekubitus Beberapa tempat yang paling sering terjdinya dekubitus adalah sakrum. kulit pergelangan kaki dan bagian atas jari-jari kaki. lengan atas. Faktor kondisi fisik lansia itu sendiri (perubahan kulit. dan lutut. siku. Intensitas tekanan dan tekanan yang menutup kapiler (Landis. penyakitpenyakit neurogenik. 2005). bahu. b. maleolus lateral. Pada penderita pada posisi terlentang: pada daerah belakang kepala. daerah bokong dan tumit. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun telinga). Faktor perawatan yang diberikan oleh petugas kesehatan c. siku. b. ada tiga faktor penyebab dekubitus pada lansia yaitu: a.lama hampir pasti dapat menyebabkan dekubitus (Roah.

Jika tekanan dihilangkan sebelum titik kritis maka sirkulasi pada jaringan akan pulih kembali melalui mekanisme fisiologis hiperemia reaktif. Jaringan ini menjadi hipoksia sehinggan terjadi cedera iskemi. 1987 dalam Potter & Perry. Klasifikasi Luka Dekubitus Salah satu cara yang paling untuk mengklasifikasikan dekubitus adalah dengan menggunakan sistem nilai atau tahapan. Jika tekanan ini lebih besar dari 32 mmHg dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia. 2005). 2005). Peralatan ortopedi dan braces dapat mempersulit pengkajian dilakukan (AHPCR. 1995 dalam Potter & Perry. Area sakral dan tumit merupakan area yang paling rentan (Maklebust. Seseorang mendapatkan tekanan konstan pada tubuh dari permukaan tempatnya berada karena adanya gravitasi (Berecek. 2005). 2005). 2. 2005) sebagai salah satu cara untuk memperoleh metode jelas dan konsisten untuk menggambarkan dan mengklasifikasikan luka dekubitus. Sistem ini pertama kali dikemukakan oleh Shea (1975 dalam Potter & Perry. 1987 dalam Potter & Perry. 1994 dalam Potter & Perry.akan menurunkan atau menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. 2005). 1975 dalam Potter & Perry. Pembentukan luka dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya gesek yang terjadi saat menaikkan posisi klien di atas tempat tidur. maka pembuluh darah kolaps dan trombosis (Maklebust. . Sistem tahapan luka dekubitus berdasarkan gambaran kedalaman jaringan yang rusak (Maklebust. 1995 dalam Potter & Perry. Efek tekanan juga dapat di tingkatkan oleh distribusi berat badan yang tidak merata. Luka yang tertutup dengan jaringan nekrotik seperti eschar tidak dapat dimasukkan dalam tahapan hingga jaringan tersebut dibuang dan kedalaman luka dapat di observasi. maka dekubitus dimulai di tulang dengan iskemi otot yang berhubungan dengan tekanan yang akhirnya melebar ke epidermis (Maklebust. 2005). Jika tekanan tidak terdistribusi secara merata pada tubuh maka gradien tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan akan meningkat dan metabolisme sel kulit di titik tekanan mengalami gangguan. karena kulit mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mentoleransi iskemi dari otot.

2005). yang dapat mengganggu pengkajian yang akurat. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi. . otot dan kapsul sendi. kekacauan atau ketegangan. A. Hal ini mencegah munculnya warna biru yang dihasilkan dari sumber lampu pijar pada kulit berpigmen gelap. tulang. dan data laboratorium. Dianjurkan berupa cahaya alam atau halogen. subkutaneus. atau struktur penyangga misalnya kerusakan jaringan epidermis. Berbagai indikator selain warna kulit. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Derajat II Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Derajat I Eritema tidak pucat pada kulit utuh. lecet. atau kerusakan otot. dan tahapan ini juga digunakan dalam pedoman pengobatan AHPCR (1994). 4.Tahapan dibawah ini berasal dari NPUAP (1992). adanya pori-pori ”kulit jeruk”. memerlukan pencahayaan sesuai untuk mengkaji kulit secara akurat. seperti suhu. kekerasan. Derajat III Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak melampaui fascia yang berada di bawahnya. dapat membantu mengkaji pasien berkulit gelap (Maklebust & Seggreen. 2005) ada perbandingan luka dekubitus derajat I sampai derajat IV yaitu: 1. Bennet (1995 dalam Potter & Perry. hangat. atau lubang yang dangkal. atau keras juga dapat menjadi indikator 2. Derajat IV Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif. 1991 dalam Potter & Perry. Identifikasi Derajat Dekubittus Menurut NPUAP (1995 dalam Potter & Perry. Pada konferensi konsensus NPUAP (1995) mengubah defenisi untuk tahap I yang memperlihatkan karakteristik pengkajian pasien berkulit gelap. 3. nekrosis jaringan. 2005) menyatakan saat mengkaji kulit pasien berwarna gelap. lesi luka kulit yang diperbesar. dermis. Kulit tidak berwarna.

dan arthritis septik. Menurut subandar (2008) komplikasi yang dapat terjadi antara lain: a.B. 2. Kematian 3. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis. 3. Dekubitus derajat I  Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. Hipoalbuminea f. walaupun dapat terjadi pada luka yang superfisial. Komplikasi luka Dekubitus Komplikasi sering terjadi pada luka dekubitus derajat III dan IV. c. Perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. umumnya bersifat multibakterial baik aerobik maupun anaerobik.  Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk meransang sirkulasi. menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi. Infeksi. Dekubitus derajat III  Dengan ulkus yang sudah dalam. tentukan stadium dan tindakan medik menyesuaikan apa yang dihadapi: 1. Dekubitus derajat II  Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal. Perawatan Luka Dekubitus Bila sudah terjadi dekubitus.  Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat merusak pertumbuhan jaringan yang diharapkan.  Kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun. . b. kemudian dimassase 2-3 kali/hari. mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan muda/granulasi. Septikimia d.  Dapat diberikan salep topikal. diberi lotion. Animea e. osteomielitis. osteotitis.

 Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. sebab akan menghalangi pertumbuhan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat. Pencegahan Dekubitus Tahap pertama pencegahan adalah mengkaji faktor-faktor resiko klien.  Antibiotik sistemik mungkin diperlukan. dengan tujuan mengurangi perdarahan. karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit. Setelah jaringan nekrotik dibuang dan luka bersih. Usahakan luka selalu bersih dan eksudat diusahakan dapat mengalir keluar. A. Identifikasi awal pada klien beresiko dan faktor-faktor resikonya membantu perawat mencegah terjadinya dekubitus. seperti suhu ruangan panas (penyebab diaporesis).  Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan .  Beberapa usaha mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenasi pada daerah luka. penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan. dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. 2005). Pencegahan meminimalkan akibat dari faktor-faktor resiko atau faktor yang member kontribusi terjadinya .  Kelembaban luka dijaga tetap basah.  Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan jaringan/epitelisasi. kelembaban. atau linen tempat tidur yang berkerut (Potter & Perry. Dekubitus derajat IV  Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik.  Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan. Kemudian perawat mengurangi faktor-faktor lingkungan yang mempercepat terjadinya dekubitus.  Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini. 4.  Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40%.

dan pendidikan (Potter & Perry. ketika mengubah posisi. 2005). Oleh karena itu standar perubahan posisi dengan interval 1 ½ sampai 2 jam mungkin tidak dapat mencegah terjadinya dekubitus pada beberapa klien. Posisi klien immobilisasi harus diubah sesuai dengan tingkat aktivitas. Pengaturan Posisi Intervensi pengaturan posisi diberikan untuk mengurangi takanan dan gaya gesek pada kilit. dari pada delegasi ke tenaga kesehatan lainnya. kemampuan persepsi. yang meliputi pemberian posisi. Sabun dan lotion yang mengandung alkohol menyebabkan kulit kering dan meninggalkan residu alkalin pada kulit. penggunaan tempat tidur dan kasur terapeutik. yaitu : A. Dengan menjaga bagian kepala tempat tidur setiggi 30 derajat atau kurang akan menurunkan peluang terjadinya dekubitus akibat gaya gesek. yang meliputi higienis dan perawatan kulit topikal. Jenis produk untuk perawatan kulit sangat banyak dan penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan klien. alat Bantu unuk posisi harus digunakan untuk melindungi tonjolan tulang. yang kemudian dapat masuk pada luka terbuka. Ketika kulit dibersihkan maka sabun dan air panas harus dihindari pemakaiannya. dan meningkatkan pertumbuhan bakteri oportunistik yang berlebihan. Saat melakukan perubahan posisi. pencegahan mekanik dan pendukung untuk permukaan. Untuk mencegah cidera akibat friksi. Potter & Perry (2005).dekubitus. maka kulit klien dikaji terus-menerus oleh perawat. lebih baik diangkat daripada . Higiene dan Perawatan Kulit Perawat harus menjaga kulit klien tetap bersih dan kering. Telah direkomendasikan penggunaan jadwal tertulis untuk mengubah dan menentukan posisi tubuh klien minimal setiap 2 jam. menjelaskan tiga area intervensi keperawatan dalam pencegahan dekubitus. dan rutinitas sehari-hari. Residu alkalin menghambat pertumbuhan bakteri normal pada kulit. Tiga area intervensi keperawatan utama mencegah terjadinya dekubitus adalah perawatan kulit. B. Pada perlindungan dasar untuk mencegah kerusakan kulit.

termasuk kasur dan tempat tidur khusus. Alat yang menghilangkan tekanan dapat mengurangi tekanan antar permukaan (tekanan antara tubuh dengan alas pendukung) dibawah 32 mmHg (tekanan yang menutupi kapiler. Alat untuk mengurangi tekanan juga mengurangi tekanan antara permukaan tapi tidak di bawah besar tekanan yang menutupi kapiler. Beberapa aspek dalam penatalaksanaan dekubitus antara lain perawatan luka secara lokal dan tindakan . Pentingnya untuk memahami perbedaan antra alas atau alat pendukung yang dapat mengurangi tekanan dan alat pendukung yang dapat menghilangkan tekanan. Kontrol infeksi g. mengidentifikasi 9 parameter yang digunakan ketika mengevaluasi alat pendukung dan hubungannya dengan setiap tiga tujuan yang telah dijelaskan tersebut : a. Alas pendukung (kasur dan tempat tidur terapeutik) Berbagai jenis alas pendukung.diseret. Kemudahan terbakar api i. Selain perawat. kontrol kelembaban kulit c. Potter & Perry (2005). Perlindungan dari jatuh f. Friksi kllien/produk B. ahli gizi. ahli terapi okupasi. Tidak ada satu alatpun yang dapat menghilangkan efek tekanan pada kulit. Penatalaksanaan Dekubitus Penatalaksanaan klien dekubitus memerlukan pendekatan holistik yang menggunakan keahlian pelaksana yang berasal dari beberapa disiplin ilmu kesehatan. telah dibuat untuk mengurangi bahaya immobilisasi pada sistem kulit dan muskuloskeletal. Harapan hidup b. Redistribusi tekanan h. Kontrol suhu kulit d. dan ahli farmasi. Pada klien yang mampu duduk di atas kursi tidak dianjurkan duduk lebih dari 2 jam. ahli fisiotrapi. Perlunya servis produk e. keahlian pelaksana termasuk dokter. C.

bersihkan selalu setelah pasien mengalami inkontensia urine atau fekal. contohnya setiap kali merubah setiap hari F. hindarkan pasien dari kerusakan/kehancuran kulit dan tempat yang beresiko tinggi sebanyak mungkin dan harus diingat kebutuhan pasien untuk beristirahat. Pertahankan integritas kulit. tahap. eksudat. Inspeksi tempat-tempat beresiko tinggi secara teratur. 2005). jaringang nekrotik. catat perubahan posisinya E. dan keberadaan atau tidak adanya jaringan granulasi maupun epitelialisasi. maka luka harus dikaji untuk lokasi. ukuran. Kaji resiko pasien terhadap adanya pengembangan dekubitus dengan menggunakan alat pengkajian yang teruji dan valid dalam 1 jam setelah pasien masuk B. Selama penyembuhan dekubitus. kerusakan luka. Pilihlah suatu sistem penyangga bagi pasien yang sesuai dangan skor resiko pasien dalam 1 jam setelah masuk bangsal D. luka menembus. Pada perawatan rumah banyak pengkajian dimodifikasi karena pengkajian mingguan tidak mungkin dilakukan oleh pemberi perawatan. Lakukan pengkajian ulang bila mana terdapat perubahan material pada kondisi pasien C. hindari menggosok kulit yang lembut. Dekubitus harus dikaji ulang minimal 1 kali per hari. makan dan menerima kunjungan. dan lakukan pengkajian ulang adanya dekubitus . 2005). C. Dekubitus yang bersih harus menunjukkan proses penyembuhan dalam waktu 2 sampai 4 minggu (Potter & Perry. bila memungkinkan lakukan identifikasi dan koreksi terhadap sebab inkontensia posisi pasien.pendukung seperti gizi yang adekuat dan cara penghilang tekanan (Potter & Perry. jangan menggunakan sabun secara berlebihan. Rencana Kerja Dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Dekubitus A. Rencanakan jadwal mobilisasi dan jadwal pergantian posisi yang sesuai dengan resiko pasien. traktusinus.

Dengan bantuan ahli diet lakukan pengkajian status nutrisi pasien dan semua diet khusus yang diperlukan untuk memperbaiki kebutuhan. Hanya satu kekeliruan yang di butuhkan dalam merubah seorang pasien menjadi benar-benar menderita dekubitus. H. Lakukan identifikasi dan coba untuk mengkoreksi setiap masalah yang berhubungan dengan tidur J. Ringankan pengaruh dari kondisi melemahkan yang lain yang terjadi secara bersamaan bila memungkinkan I. hal ini yang menjadi alasan mengapa standar yang sama dengan standar yang memberikan hasil terbaik dalam perawatan pasien menjadi sangat penting dimiliki oleh semua perawat dalam bangsal. Mengkaji Praktik Lokal Untuk Pencegahan Dekubitus Apabila seorang pasien menderita dekubitus setelah ia masuk ke bangsal dan penyebabnya tidak dapat dilacak dengan cepat berdasarkan kejadian yang terjadi sebelum masuk ke bangsal (seperti tidak sadarkan diri di rumah akibat koma diebetikum ataupun berbaring dalam jangka waktu lama pada satu tempat akibat fraktur) maka sangatlah berguna bagi kita seorang perawat untuk meninjau ulang praktik lokal yang umum untuk pencegahan dekubitus. .G. Jangan lupakan pentingnya dukungan psikologis. D.

Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. bahkan menembus otot sampai mengenai tulang sehingga mangakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. lecet. anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel. 3. atau keras juga dapat menjadi indikator 2. Kesimpulan Dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama. Dekubitus merupakan kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan di bawah kulit. Derajat III Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak melampaui fascia yang berada di bawahnya. . Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompresi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominance) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama. hangat. Klasifikasi derajat keparahan dekubitus dibagi menjadi empat yaitu: 1. lesi luka kulit yang diperbesar. Apabila ini berlangsung lama. atau lubang yang dangkal. Derajat II Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi. Kompresi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. Kulit tidak berwarna. Derajat I Eritema tidak pucat pada kulit utuh. hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah.BAB III PENUTUP A.

dermis. . Inti dari perawatan dekubitus adalah memberi suplai darah pada daerah dekubitus.4. nekrosis jaringan. otot dan kapsul sendi. mencegah infeksi serta mencegah agar luka dekubitus tidak meluas. atau kerusakan otot. atau struktur penyangga misalnya kerusakan jaringan epidermis. Derajat IV Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif. tulang. subkutaneus.

Buku Saku Diagnosis Keperawatan. ed.8. S.J.Manajemen Luka.2004. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. L.J & Moyet.2007.Jakarta: EGC.G.C & Bare. Smeltzer. B. . M.Jakarta: Buku Kedokteran EGC. (2001).Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. vol 1 Carpenito.DAFTAR PUSTAKA Morison.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->