P. 1
Mendewasakan Pemahaman Keagamaan Umat Islam

Mendewasakan Pemahaman Keagamaan Umat Islam

|Views: 27|Likes:
Published by Yelius Jeye Wardane

More info:

Published by: Yelius Jeye Wardane on Jan 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

Khutbah Jumat

MENDEWASAKAN PEMAHAMAN KEAGAMAAN UMAT ISLAM

‫الحمد ل الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره علي دين كله ولو كللره المشللركين ولللو‬ ‫كره المنافقين. أشهد أن ل إله إل ال وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, الللذي لنللبي بعللده أمللا‬ :‫بعد‬ "!‫"يا أيها الحاضرون، إتقوا ال حق تقاته ولتموتن إل وأنتم مسلمون‬ :‫و قال ال تعالى في القرآن الكريم, أعوذ بال من الشيطان الرجيم‬ ‫"لكل جعلنا منكم شرعة و منهاجا. و لو شاء ال لجعلكم أمة واحدة ولكن ليبلوكم في ما ءاتاكم‬ ّ ّ .(48 :‫فاستبقوا الخيرات إلى ال مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون )المائدة‬
Artinya: Untuk tiap umat-umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Qs. Al-Maidah: 48).

‫قال رسول ال ص. في حديثه المصطفى: "الللدين يسللر ل عسللر" و قللال أيضللا: "يسللروا و ل‬ ّ (‫تعسروا و بشروا و ل تنفروا" )الحديث‬ ّ ّ ّ
Artinya: "Agama itu mudah dan tidak sukar". Beliau juga bersabda, "Ringankanlah dan janganlah mempersulit. Berilah kabar menyenangkan dan janganlah menakut-nakuti," (Al-Hadits).

KHUTBAH PERTAMA Iftitâh! Hadirin sekalian! Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi sang Penguasa jagad raya, marilah kita menyanjungkan salawat dan salam

1

ke haribaan jungjunan alam pembawa risalah suci, Nabi Muhammad Saw. seraya untuk terus saling memesankan dan mengingatkan antarsesama kita akan iman dan kualitas ketakwaan. Hadirin sekalian! Bagaimana cara meningkatkan kualitas umat beragama, khususnya umat Islam, merupakan persoalan penting dan krusial yang senantiasa mesti menjadi perhatian bersama. Terlebih, munculnya berbagai konflik dengan wajah agama –khususnya di tanah air- kerap kali terjadi di mana-mana. Baik itu konflik intra agama maupun antaragama. Bahkan, bukan sekedar konflik agama, lebih jauh telah mengarah pada multi konflik sosial. Di mana agama, suku, ras, golongan, dan keyakinan beralih fungsi menjadi kekuatan ampuh dalam membinasakan dan memusnahkan yang lain (collective violence). Berikutnya, dalam perkembangan temporer, wajah agama justru tampil lebih menyeramkan lagi. Di mana kejahatan kemanusiaan yang sadis dan represif akhir-akhir ini kerap mewarnai kehidupan umat beragama. Tak tanggung-tanggung, meminjam slogan Naguib Mahfouz, novelis Mesir terkenal; yang membantai maupun yang dibantai samasama mengatasnamakan Tuhan dan agama (The Battle for God)! Inilah beberapa bukti nyata kebelumdewasaan yang pada saat yang sama menggambarkan ketidakarifan cara beragama yang dikembangkan umat beragama akhir-akhir ini (baca: krisis beragama). Sebagaimana pernah disinyalir Syekh Yusuf Qardlawi dalam bukunya yang cukup monumental, "Al-Shahwah al-Islâmiyyah: min-a 'lmurâhaqah ila 'l-Rusyd", sebagai sikap kekanak-kanakan dalam beragama. Bahwa tanda-tanda beragama yang masih pubertas jika kita selalu menampilkan sikap-sikap yang cenderung emosional, selalu grasak-grusuk (instant), dan menyeramkan (hyperheroic). Padahal, agama sejatinya tidak menghendaki dan bahkan selalu menghindari kejahatan, kebatilan, kekerasan, maupun kekacauan. Sebagaimana makna harfiah agama; a berarti tidak dan gama artinya kacau, yang disongsong agama tiada lain keharmonisan dan perdamaian yang selanjutnya menjanjikan ketentraman hidup bagi seluruh umat manusia maupun masa depan kemanusiaan. Ini menyimbolkan, bahwa agama yang benar, damai, dan menyejukkan, adalah agama yang selalu memperhatikan moralitas masyarakat sekaligus pada saat yang sama, mampu menghindarkan diri dari berbagai kejahatan yang mengancam ketentraman dan kenyamanan hidup suatu komunitas masyarakat. Inilah yang selalu menjadi trademark ajaran Islam yang sekaligus menempel pada fungsi serta misi kerasulan sebagai "rahmatan li 'l-'âlamîn". Hadirin sekalian! 2

Jika kekacauan dan kekerasan terjadi dalam suatu komunitas beragama, tentunya hal tersebut merupakan kenyataan yang sangat ironi. Namun demikian, letak kekeliruannya jelas bukan terletak pada agama itu sendiri. Melainkan, pada keterbatasan maupun kepicikan para pemeluknya dalam memahami fungsi dan memaknai hakikat beragama. Masing-masing kita selalu merasa benar sendiri dan menutup rapat-rapat kemungkinan benar dari yang lain. Inilah yang pernah disebut Syekh Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai, "al-islâm-u mahjûb-un bi 'l-muslimîn", (Bahwa ajaran Islam mandek disebabkan perilaku umat Islam sendiri). Konflik antaragama maupun ketegangan sosial, kebanyakannya terjadi bukan karena tujuan kemaslahatan beragama, melainkan semata ambisi dan kepentingan non-agama. Tuhan dan agama hanya dijadikan legitimasi dan kedok untuk menahbiskan berbagai kejahatan kemanusiaan. Dalam posisi Islam yang selalu tertuduh sebagai ajaran yang antiperdamaian inilah, Khâtib memandang penting bagaimana kita kembali meresume dan memahami hakikat dan tujuan beragama seharusnya. Selanjutnya, akan Khâtib ketengahkan pula alasan doktrinal seputar filsafat perbedaan guna memahami pluralisme sebagai realitas kosmologis yang niscaya (sunnatullah) agar kita berikutnya mampu bersikap toleran pada yang lalin. Kemudian juga akan menyinggung soal ide dasar perdamaian dan seputar makna persatuan, memahami musuh utama umat, dan akhirnya pada bagaimana cara mendewasakan pemahaman keagamaan yang menjadi pokok bahasan khutbah Jumat kali ini. Tujuan beragama Hadirin sekalian! Tujuan utama agama, Islam terutama, tidaklah hanya bersifat spiritual-etik dan intelektual belaka. Tetapi mesti mewacana dan memisikan ketentraman hidup secara sosial. Makna terminologi sosial, tiada lain "keragaman" yang selanjutnya merupakan keniscayaan sunnatullah yang berlaku di seluruh jagad raya ini. Inilah realitas kosmologis yang tidak bisa kita ingkari kenyataannya. Sebagaimana difirmankan Tuhan dalam Qs. Al-Hujurât ayat 13, bahwa realitas perbedaan merupakan kesengajaan Tuhan, yang karenanya, menjadi kenscayaan sosial. Realitas keragaman itu jelas mesti kita sikapi dalam kerangka nilai misioner "lita'ârafû" (untuk saling memahami), bukan untuk saling menggempur, membinasakan, dan memusnahkan yang lain yang berbeda dengan kita! Atau, dalam bahasa yang begitu luhur dan bijaksana, sebagaimana dilansir ayat di muka, perbedaan dilahirkan

3

tiada lain sebagai motivasi untuk berlomba-lomba dalam kerangka kebaikan (fastabiq-u 'l-khairât). Islam, sebagai ajaran kebenaran, memang hanya satu. Namun, karena keterbatasan kemampuan dan perbedaan menafsirkan umatnya (baca: Muslim), kenyataan hidup beragama pun lantas menjadi baerbagai-bagai, beraneka corak, dan berwarna-warni. Ibarat ungkapan metaforisnya Kahlil Gibran yang sangat sederhana namun cukup mengusik kesadaran kita, bahwa "Birunya langit yang anda lihat, tidak sebiru langit yang saya lihat!" Mula-mula kita memang terlahir seorang diri. Hanya mengenal dunia dan diri sendiri. Kemudian, kita berjumpa realitas yang serba ragam, berbeda, dan bahkan selalu berpasang-pasangan. Ada perbedaan warna kulit (hitam, putih, bule, dan kuning langsat), berbeda ras dan suku bangsa, berbeda arah mata angin (utara, selatan, timur, barat, bahkan tenggara), berbeda watak dan budaya, berbeda status ekonomi (kayamiskin) dan status sosial (cendekia, awam, dan politikus), berbeda warna (biru, merah, kuning, dll), berbeda jenis kelamin, bahkan berbeda agama dan keyakinan! Singkatya, ada siang ada malam; ada laki-laki dan perempuan, ada panas ada dingin, dan seterusnya. Dalam misi keagamaan, pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran kita setidaknya, untuk apakah perbedaan itu dihadirkan? Apakah sekedar variasi dan keindahan semata-mata? Benarkah kenyataan tersebut, dalam berbagai halnya, "dipaksa" Tuhan untuk disatuwujudkan dalam sebuah keseragaman? Kalau begitu, apa sebenarnya makna yang terpendam dalam perintah mempersatukan umat yang juga diusung ajaran Islam? Sesungguhnya, sebagaimana termaktub dalam semboyan filosofis hidup berbangsa dan bernegara kita, "Bhinneka Tunggal Ika/Unity in diversity, E pluribus Unum" bahwa kita semestinya bisa bersatu (dan bukan seragam) dalam perbedaan. Dengan lain kata, ada nilai-nilai persamaan dalam sebuah perbedaan. Tanpa hendak menyederhanakan masalah, jika sekedar berbeda pemahaman dan penafsiran, kenapa tidak? Agama (religions) seperti halnya olahraga (games), mengandung makna plural (jamak). Ada Islam dan selain Islam, ada catur dan bulutangkis. Semuanya hakikatnya "sama": sama-sama keyakinan yang mesti melahirkan sikap arif-saleh secara spiritual, sama-sama olahraga untuk kesehatan badan. Yang berbeda barangkali "cuma" praktik dan caranya. Hadirin sekalian! Pada kesempatan kali ini Khâtib tidak ingin mengajak kaum Muslimin semuanya pada sikap sinkretik (mencampur-adukkan kebenaran) yang sesat dan ditolak agama. Melainkan untuk menyemaikan pentingnya

4

toleransi (tasâmuh) dalam kehidupan beragama. Bersikap toleran berarti, bagaimana kita mampu menghargai sekaligus mengakui keyakinan maupun pemahaman yang berbeda dengan kita. Sikap ini selanjutnya diharapkan bisa menjauhi mentalitas beragama yang selalu merasa benar sendiri dan mengklaim "salah" agama dan pemahaman lain. Dalam konteks beragama, sebenarnya sah-sah saja untuk meyakini kebenaran yang dianutnya itu sebagai absolut dan paling benar. Namun, itu bukan berarti bisa menjadi alasan sahih untuk memaksa yang lain agar sependapat dan sepaham dengannya. Dalam kerangka sosial, kebenaran absolut itu pada gilirannya akan menjadi relatif saat dibenturkan dengan kebenaran yang diyakini orang lain. Di sinilah absolutisitas dan relativitas itu harus kita proporsikan. Bahwa absolutisme hanya ada dalam lingkungan privacy (prived domain) dan bukan pada kenyataan sosial (public domain). Agaknya, sebagaimana pernah dijelaskan Ali Syari'ati (1934-1977), benar atau tidaknya suatu keyakinan tidaklah terwujud pada doktrin agama dan keyakinan itu sendiri, melainkan melekat pada kearifan dan tidaknya pemeluk agama itu sendiri secara spiritual-sosial. Bahkan, dalam kandungan prinsip "fastabiq-u 'l-khairât," kita sejatinya tidak hanya dituntut mampu sekedar bertoleransi, tetapi juga, dan ini yang lebih penting, mesti bisa berkooperasi (bekerja sama secara sosial). Hadirin sekalian! Kekeliruan pemahaman beragama kita berikutnya adalah dalam memahami pesan pentingnya persatuan (wa'tashimû). Penekanan "ummatan wâhidatan" dalam ayat di muka, ada pada umat yang satu dan bukan pada penyatuan umat! Yang pertama menenggang perbedaan, sementara yang lainnya justru mengingkari kenyataan. Meski tidak dapat disangkal bahwa Al-Qur'ân juga memerintahkan persatuan dan kesatuan, namun itu hendaknya tetap dipahami dalam kerangka saling menghargai dan kerja sama. Bukan untuk saling bertengkar dan berselisih (wa lâ tafarraqû). Islam menggariskan, jangankan memaksa dan membantai agama lain, mencerca dan memaki agama orang lain yang tidak menyembah Allah sekalipun sudah terlarang (baca Qs. 6: 108, 2: 256, dan 109: 6). Di sinilah dakwah dan jihad menemukan fungsi hakikinya. Bahwa keberadaa orang-orang kafir sama sekali bukan untuk diperangi dan dibantai perilakunya, melainkan diperintahkan untuk "dibenarkan" sikap dan perilakunya. Perintah dalam Al-Qur'ân untuk mereka adalah "ud'u" (ajaklah), dan bukan "uqtul" (bunuhlah), (Qs. 16: 125). Namun demikian, bukan berarti agama mengajarkan diam dan menyerah saat ada penindasan dan penjajahan datang. Ada tugas agama berikutnya untuk melawan segala bentuk kemunkaran, perilaku 5

dekonstruktif, dan berbagai kejahatan anti kemanusiaan (fasâd). Manakala umat Islam tertindas dan teraniaya maka mereka wajib melawan dan menentangnya (jihad dalam makna al-qitâl/perang defensif), (Qs. 22: 39-40). Maka, untuk kepentingan kerukunan sosial dan masa depan agama yang bercirikan menjungjung tinggi semangat kemanusiaan, mulai saat ini yang pertama-tama bisa kita lakukan adalah dengan mengkampanyekan secara lantang slogan: "Perbedaan Yes! Membedabedakan No!" Kedua, makna kufur yang notabene musuh bebuyutan umat, sejatinya bukanlah bermakna personal-subjektif untuk agama tertentu (non-Islam). Lebih dari itu, ia adalah sebuah terminologi syariat yang harus diproporsikan secara adil untuk merekomendasikan seluruh perilaku kejahatan dan anti kemanusiaan yang memungkinkan datang baik dari umat Islam itu sendiri maupun dari yang lainnya. Ketiga, pembagian wilayah antara dârul Islâm dan dan dârul harb di alam modern ini, menurut Prof. Dr. Mohamad Ra'fat Utsman, dalam bukunya, Qadlâya Mu'âshirah (Jilid II), Guru Besar Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, kini tidaklah populer lagi. Yang ada hanyalah dârul Islam dan dârul dakwah. Islam dan ide dasar perdamaian Hadirin sekalian! Melalui Islam, Allah hanya hendak memesankan kehidupan yang damai, tentram, nyaman dan sejahtera. Sebagaimana terangkai dari kata harfiahnya, aslama-yuslimu-islâman yang berarti harus menyelamatkan, mendamaikan, dan menyejahterakan yang lainnya. Yang mesti diselamatkan Islam (baca: Muslim) tentu bukan saja umatnya sendiri (internal) melainkan juga sesama manusia, sesama makhluk, dan sesama penghuni lain di alam jagat raya ini (eksternal). Inilah inti dari sabda Rasulullah Saw.:

(‫المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده )البخاري‬
Artinya: Orang Muslim itu ialah jika orang Muslim (lain) selamat dari gangguan lidah maupun tangannya (kekuasaan), (HR. Bukhari). Kerukunan antarikhwan seagama, antarumat lain agama, dan antarsesama manusia merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam. Ini membuktikan, betapa Islam begitu menghormati harkat dan martabat kemanusiaan. Sejarah turut memfaktakan, melalui piagam Madinah (al-watsâiq al-madînah), Rasulullah Saw. ternyata rela menenggang kerukunan umat beragama ini demi menyongsong 6

kerukunan hidup secara sosial tersebut dalam sebuah proyek agreement (perjanjian). Inilah kenapa agama, sebagaimana diyakini Emile Durkheim (18581919), seorang sosiolog agama asal Perancis, tiada lain merupakan kebutuhan sosial. Bahwa agama, selanjutnya mesti berfungsi sebagai perekat dalam hidup bermasyarakat. Inilah khutbah pertama yang bisa Khâtib sampaikan. Dengan inventarisasi persoalan di atas, semoga semakin memperjelas kelemahan dan kekurangan umat Islam saat ini, untuk selanjutnya kita perbaiki dan tingkatkan bersama.

!‫بارك ال لي و لكم‬

KHUTBAH KEDUA Ikhtitâm! Hadirin sekalian! Demi kerja sama sosial, setiap pemeluk agama Islam hendaknya harus mengakui relativitas kebenaran agama, pemahaman, mazhab, maupun penafsiran yang dianutnya. Ia hanyalah berhak mengabsolutkan keyakinannya sebatas untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk "dipaksakan" pada yang lain. Ini dikarenakan pluralitas dan keragaman merupakan keniscayaan sunnatullâh yang berikutnya mesti melahirkan sikap saling menghargai satu sama lain. Mengingkari keniscayaan ini sama saja dengan menolak kebenaran Islam sebagai rahmatan lil 'âlamîn. Inilah salah satu corak mentalitas keagamaan yang arif dan dewasa. Toleransi dan pluralitas; jelas bukan semata-mata tuntutan sosial belaka, malainkan termasuk kewajiban murni yang terkandung dalam rahim agama-agama! Oleh sebab itu, sebagai kesimpulan, dalam khutbah yang kedua ini Khâtib mengajak hadirin semuanya untuk beragama dan memahami agama secara santai, sederhana, dan realistis! Jangan terlalu fanatis, kaku, geram, emosional apalagi selalu antusias (tatharruf wa ghuluw). Sebagaimana disebutkan dalam hadits di muka, beragamalah dengan mudah dan ringan (tetapi bukan menyepelekan). Dengan tawaran kabar gembira dan bukan ancam-mengancam apalagi teror-meneror. Tugas agama adalah membuat bahagia pemeluknya, bukannya malah merasa terancam dan ditakut-takuti.

7

Sikap-sikap tersebut dalam pengalaman sejarah keagamaan – utamanya di tanah air- kecendurungannya mewariskan sikap ekslusif, picik, memonopoli kebenaran, dan bersikap berlebih-lebihan. Turut repot mencurigai kebenaran keyakinan dan penafsiran yang dianut oleh orang lain (baca: berdiri sebagai polisi agama). Sebuah gejala yang berpotensi melestarikan tanpa henti berbagai resistensi dan fragmentesi dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Pendeknya, marilah kita jadikan Islam sebagai part of solution (Islam alternatif) dan bukan Islam yang selalu menjadi bagian masalah (part of problem). Akhirnya, dalam rangka meningkatkan kedewasaan pemahaman beragama ini, selanjutnya Dr. Yusuf Qardhawi masih dalam buku yang sama, menyarankan sepuluh saran pada umat Islam; Dari Islam formal menjadi Islam substantif (nilai moral), dari konseptual ke aktual, dari emosional (sentimen) menjadi rasional, dari parsial ke prioritas universal, dari rigid menjadi sederhana dan ringan, dari stagnan (jumud) ke pembaharuan, dari sikap ekslusif menuju inklusifitas, dari ekstrem ke moderat, dari radikal menjadi santun, dan dari perselisihan (iftirâq dan bukan ikhtilâf yang berarti perbedaan) menuju kerja sama (tadlâmun)! Itu saja yang bisa Khâtib sampaikan dalam khutbah Jumat kali ini. Marilah kita berdoa, semoga pahala shalat Jumat kali ini benar-benar bisa menjadi syafaat dan penghapus atas segala dosa kita dari shalat Jumat sebelumnya hingga shalat Jumat berikutnya. Ditutup saja dengan do'a:

"‫"ربنا ل تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب‬ ّ ّ !‫و السلم عليكم و رحمة ال و بركاته‬

8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->