P. 1
BAB 1 2 3 4 5 6

BAB 1 2 3 4 5 6

|Views: 47|Likes:

More info:

Published by: Hendri Dwi Kristianto on Jan 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1
  • PENDAHULUAN
  • 1.1Latar Belakang
  • 1.2Identifikasi Masalah
  • 1.3Batasan Masalah
  • 1.4Rumusan Masalah
  • 1.5Tujuan Penelitian
  • 1.6Manfaat Penelitian
  • 1.7Relevansi
  • BAB 2
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1Konsep Dasar Pendidikan
  • 2.2Konsep Dasar Pengetahuan
  • 2.3Konsep Dasar Perilaku
  • 2.4Konsep Dasar Senam Hamil
  • 2.5Kerangka Konsep
  • BAB 3
  • METODOLOGI PENELITIAN
  • 3.1Desain Penelitian
  • 3.2Kerangka Operasional
  • 3.3Identifikasi Variabel
  • 3.4Definisi Operasional
  • 3.5Sampling Desain
  • 3.6Lokasi dan Waktu Penelitian
  • 3.7Cara Pengumpulan Data
  • 3.8Pengolahan Data
  • Pernyataan positif (+)Pernyataan negatif (-) Keterangan
  • 3.9Masalah Etika Penelitian
  • 3.10Keterbatasan
  • BAB 4
  • HASIL
  • 4.1Data Umum
  • 4.2Data Khusus
  • Tingkat Pendidikan Hasil
  • Jumlah Prosentase (%)
  • Tingkat Pengetahuan Hasil
  • Sikap Responden Hasil
  • BAB 5
  • PEMBAHASAN
  • 5.1Pendidikan
  • 5.2Pengetahuan
  • BAB 6
  • KESIMPULAN DAN SARAN
  • 6.1Kesimpulan
  • 6.2Saran

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan ibu (safe motherhood) merupakan upaya yang penting dalam pelaksanaan “Kesehatan Utama”, dengan mengikutsertakan partisipasi

masyarakat, mendekatkan pelayanan di masyarakat dan meningkatkan mutu pelayanan. Hal ini sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional yang merupakan terjemahan dari gagasan “Primary Health Care” melalui kongres WHO dan UNICEF di Almaata (IBG, Manuaba, 1998). Gagasan ini sangat mendukung terhadap pembangunan khususnya pembangunan di bidang kesehatan. Dimana pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui upaya kesehatan keluarga, termasuk upaya kesehatan ibu dan anak untuk mewujudkan derajat kesehatan yanga optimal. (Harian Merdeka, 20 Juli 2002). Dalam kegiatan antenatal care selain aktif dilakukan oleh bidan, ibu hamil juga harus proaktif dalam kegiatan tersebut, salah satunya adalah melakukan kegiatan fisik yang dapat membantu proses relaksasi pada otot-otot jalan lahir saat persalinan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Melliana H (2001) dalam bukunya “Panduan Menjalani Kehamilan Sehat”, bahwa senam hamil (prenatal) adalah suatu latihan gerak yang diberikan pada ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya, baik persiapan fisik maupun mental guna menghadapi dan mempersiapkan persalinan yang cepat, aman dan spontan.

1

2 Dengan senam hamil secara rutin dan benar, diharapkan kehamilan dan persalinan pada seorang ibu merupakan suatu proses yang alamiah. Agar proses alamiah ini berjalan dengan lancar dan baik serta tidak berkembang menjadi keadaan yang pathologis dan diperolehnya ibu dan bayi yang sehat diperlukan upaya dini (Depkes RI, 1993:105). Persalinan yang alami dan lancar dapat dicapai, jika uterus berkontraksi dengan baik, rythmis dan kuat, dengan segmen bawah rahim, cervix dan otot-otot dasar panggul dalam keadaan relaxasi, sehingga bayi dengan mudah melewati jalan lahir. Keadaan ini dapat dicapai dengan bantuan wanita hamil itu sendiri yang merupakan ketenangan dan relaksasi tubuh yang sempurna. Keadaan ini dapat dicapai dengan mengikuti latihan senam hamil (Bagian Obsgym, FK UNPAD;..5). Berdasarkan hamil beberapa buku yang akan

menyebutkan

bahwa

melakukan

senam

selama

kehamilan

membimbing wanita menghadapi persalinan dengan tenang dan penuh percaya diri, sehingga persalinan berjalan normal (Hasanah P, 1997). Dalam kenyataanya selama observasi sesaat peneliti melalui praktek klinik kebidanan di puskesmas Tanah Merah, masih banyak ditemukan ibu yang belum melakukan senam hamil, yaitu sekitar 98% dari seluruh populasi ibu hamil di wilayah itu (1128 ibu hamil). Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor internal yakni karakteristik orang yang bersangkutan, antara lain ; (1) tingkat kecerdasan, (2) tingkat emosional, (3) jenis kelamin dan faktor eksternal yaitu ; (1) lingkungan fisik, (2) lingkungan sosial, (3) lingkungan budaya, (4) lingkungan ekonomi, (5) lingkungan politik dan sebagainya. (Notoatmodjo. S, 2003:120).

3 Dengan masih belum optimalnya pelaksanaan senam hamil dalam program, kesehatan ibu dan anak, muncullah beberapa pendapat dari bidan yang ada di puskesmas, antara lain : (1) Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil, (2) Sikap ibu hamil yang kurang menerima terhadap senam hamil, (3) Tingkat pendidikan ibu yang relatif masih rendah, (4) Anggapan senam hamil yang tidak mungkin dilakukan oleh ibu hamil di desa, dan (5) Masyarakat masih menganggap tabu untuk melakukan senam hamil. Di dalam harian suara pembaruan (25 Agustus 2002) menyebutkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, yaitu 334 (100.000 kelahiran hidup). Angka ini merupakan angka tertinggi di kawasan Asean. Jika dibandingkan dengan angka kematian ibu di Negara Asean yang lain. Tiga penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan 41- 60%, infeksi 30%, eklamsi 20%. Penyebab perdarahan salah satunya adalah atonia uteri sebagai dampak dari kelemahan kontraksi uterus (kelemahan ibu) (Djoko Wiyono, 1997). Dampak yang ditimbulkan selain perdarahan juga terjadinya partus lama. Partus lama adalah persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk primigravida dan atau 18 jam bagi multigravida (IBG. Manuaba, 1998:292). Penyebabnya antara lain karena kelainan His dan kekuatan mengejan yang salah, selain beberapa faktor lagi, maka kontraksi uterus yang baik dapat diupayakan melalui latihan senam hamil. Oleh karena itu perlu penyempurnaan upaya yang komprehensif yang dilakukan oleh Pemerintah (Dinas Kesehatan), tenaga bidan dan masyarakat sendiri dalam mensosialisasikan pelaksanaan senam hamil ini. Mengingat manfaanya yang besar apabila dilakukan senam hamil, beberapa alternatif upaya

4 itu antara lain : (1) Penambahan dana program kesehatan ibu dan anak khususnya dibidang antenatal care (senam hamil), (2) Pengadaan insstruktur senam hamil, dan (3) Penyuluhan kesehatan ke masyarakat tentang senam hamil/ khususnya ibu-ibu yang ada di posyandu ataupun di beberapa organisasi yang lain (PKK). 1.2 Identifikasi Masalah Faktor eksternal Lingkungan fisik Lingkungan Sosial Budaya Ekonomi  alokasi dana Tingkat Emosional  Sikap Tingkat kecerdasan   an Pendidikan Pengetahu Faktor internal

Banyaknya ibu-ibu yang belum aktif melakukan senam hamil Faktor-faktornya antara lain, adalah sebagai berikut : 1.2.1 Faktor Eksternal 1) Lingkungan Fisik Lingkungan fisik sangat mempengaruhi perilaku seseorang, dengan fisik yang sehat seseorang bisa melakukan aktifitas secara sempurna. Sering karena kondisi seseorang karena sudah lelah melakukan kegiatan sehari-hari, orang jadi malas mengikuti senam.

5 2) Lingkungan sosial Ada beberapa ibu yang mengetahui tentang senam hamil, namun mereka enggan melakukan karena dianggap masih tabu dan mereka merasa malu sehingga tidak biasa untuk melakukannya. 3) Lingkungan budaya Pengaruh budaya sangat menentukan sikap dan perilaku seseorang. Seringkali sikap seseorang menyimpang dari realita hanya karena memegang teguh budaya yang selama ini dianutnya. Diwilayah Puskesmas Tanah Merah senam hamil masih belum berjalan dengan baik, sehingga hal ini masih belum membudaya. 4) Lingkungan ekonomi  alokasi dana Latihan senam hami memerlukan instruktur senam yang sebelumnya harus dibekali dengan ilmu dan latihan yang cukup baik dan benar sesuai dengan panduan senam khsusus untuk ibu hamil, untuk itulah diperlukan dana yang cukup, disamping dana untuk pelaksanaan senam itu sendiri. 5) Lingkungan politik (1) Kebijakan

Adanya anggapan bahwa senam hamil tidak mungkin dilakukan oleh wanita hamil di masyarakat desa, karena mereka masih menganggap hal itu jarang atau tidak pernah dilakukan.

semakin mudah orang tersebut menerima informasi. Namun sebaliknya. tujuan. maka orang tersebut sulit menerima informasi. (2) Pengetahuan Pengetahuan adalah suatu wahana untuk mendasari seseorang untuk berperilaku secara ilmiah. tetapi juga bertugas sebagai Primary Health Officer. . Pengetahuan tersebut meliputi : pengertian senam hamil.2 Faktor Internal 1) Tingkat kecerdasan (1) Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang. syarat-syarat dan beberapa latihan dalam senam hamil. sehingga tugas mereka menjadi lebih kompleks yang akhirnya mereka beranggapan masih banyak tugas-tugas yang lain yang dipandang harus didahulukan. Tugas bidan dalam hal ini bidan desa tidak hanya dalam bidang KIA dan pelayanan KB saja. dalam hal ini informasi tentang kesehatan yang mencakup informasi tentang senam hamil. jika tingkat pendidikan seseorang rendah. sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki. 1. Oleh karena itulah diperlukan suatu pengetahuan yang cukup. manfaat.2. dalam mendorong ibu aktif untuk melakukan senam hamil.6 (2) Peran bidan Tugas yang diemban oleh bidan tidaklah sedikit.

4. pengetahuan dan sikap yang berpengaruh terhadap keaktifan ibu dalam pelaksanaan senam hamil.7 2) Tingkat Emosional (1) Sikap Sikap berkaitan dengan perilaku yang berada dalam batas kewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus lingkungan sosial (Syaifuddin A. 1. maka perumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. 3) Jenis kelamin Dalam hal ini dikhususkan bagi ibu-ibu yang sedang hamil. Hal ini mencakup perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung atau tak memihak (unfavourable) pada orang tersebut. . Dengan masih sedikitnya pengetahuan ibu tentang senam hamil dapat menimbulkan sikap tidak mendukung (unfavourable) dalam pelaksanaan senam hamil tersebut. (2) Anggapan / Opini Masyarakat disana menganggap bahwa tidak mungkin melakukan senam hamil oleh karena masih terasa asing / belum begitu dikenal.3 Batasan Masalah Dalam penelitian ini. 1.1 Bagaimanakah gambaran tingkat pendidikan ibu. 2003:10).4 Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah. peneliti membatasinya pada faktor pendidikan ibu.

5. 2) Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang senam hamil 3) Mengidentifikasi gambaran sikap ibu terhadap pelaksanaan senam hamil.1 Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan Dan Tehnologi Kesehatan Untuk bahan informasi tambahan pengetahuan dan kajian dalam penelitian selanjutnya.5 Tujuan Penelitian 1.2 Tujuan Khusus 1)Mengidentifikasi gambaran tingkat pendidikan ibu.2 Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang senam hamil 1.3 Bagaimanakah gambaran sikap ibu terhadap pelaksanaan senam hamil. 1.6.5.6. 1.2 Bagi Institusi Sebagai bahan pengetahuan atau informasi untuk pembaca dan menambah jumlah buku bacaan di perpustakaan dan sebagai salah satu bukti pencapaian target dalam kurikulum akhir program.6 Manfaat Penelitian 1.3 Bagi Profesi Sebagai bahan atau sumbangan pemikiran dalam upaya peningkatan pemberdayaan kesehatan ibu hamil sehingga nantinya dapat meningkatkan standar praktek pelayanan kebidanan melalui profesionalisasi bidan. 1. 1.4.6.1 Tujuan Umum Diketahuinya gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan ibu dalam melakukan senam hamil. 1.4.8 1. .

serta kebijakan. Namun ada beberapa faktor dapat merupakan kendala dalam aktifnya ibu untuk melakukan senam hamil. pengatahuan.7 Relevansi Senam hamil merupakan salah satu bentuk pelayanan antenatal care dalam program kesehatan ibu dan anak. Di harapkan dapat sebagai masukan bagi institusi terkait dan khususnya Puskesmas setempat untuk membantu aktifnya ibu dalam pelaksanaan senam hamil.6. .4 Bagi Mahasiswa Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program senam hamil dan sebagai pra syarat untuk memenuhi predikat Ahli Madya Bidang Kebidanan. 1. dan sikap ibu. Senam ini sangat bermanfaat bagi ibu baik selama hamil. Faktorfaktor itu antara lain : Pendidikan. persalinan maupun saat nifas. sosial budaya dan peranan bidan. alokasi dana.9 1.

1. hal ini dikemukakan oleh Kuntjoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani (2001:133). 1994:9). tingkatan pengetahuan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi.1 Konsep Dasar Pendidikan 2. Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan kecemasan klien. perilaku kesehatan. pengukuran hasil pendidikan kesehatan terhadap perilaku (4) Konsep dasar senam hamil yang meliputi . syarat-syarat mengikuti senam hamil beserta latihan yang dikerjakan pada senam hamil. tujuan. sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. menggunakan koping yang efektif dan 10 . pengertian. sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. definisi perilaku. (3) Konsep dasar perilaku meliputi .1 Pengertian Dalam rencana pembangunan 5 tahun keenam di bidang kesehatan di sebutkan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan (Depkes. manfaat. dengan pendidikan tinggi akan mampu mengatasi. 2. RI. pengertian pengetahuan. (2) Konsep dasar pengetahuan yang meliputi . cara memperoleh pengetahuan. domain perilaku.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas beberapa konsep yang berhubungan dengan karakteristik ibu yaitu (1) Konsep dasar pendidikan.

11 konstruktif dari pada seseorang yang berpendidikan rendah. 2003:16). 2000:122). Menurut YB Matra yang dikutip oleh Nursalam (2001) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu (Suwarno. Menurut I. pendidikan dapat mempengaruhi seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi sikap untuk berperan serta dalam pembangunan masyarakat. Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu. 2001:132).B Mantra yang dikutif oleh Notoatmodjo (1985). 2003:97). kelompok atau masyarakat. Pendidikan di perlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. 1992 dikutip oleh Nursalan dan Pariani. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan. mampu membebaskan diri dari keterbelakangan serta menghargai kemajuan yang antara lain memberikan perubahan yang berkesinambungan (Hartomo. (Soekidjo Notoatmodjo. perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa lebih baik dan lebih matang pada diri individu. Untuk itu melalui pendidikan diharapkan seseorang mampu meningkatkan kemampuan intelektual. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula tingkat . kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo.

tehnik dan teori. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. (Notoatmodjo S. 2002:10). 1997:127). Unsur-unsur pendidikan meliputi : 1) Input adalah sasaran pendidikan (individu.1 Pengertian Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain (Notoatmodjo.2. simbul. prosedur. Output (melaksanakan apa yang diharapkan atau Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi . pengetahuan itu sendiri kemampuan seseorang untuk mengingat fakta . karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmodjo. 1996 dikutip Nursalam 2001. 2) orang lain).12 pengetahuaannya. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). 2. kelompok masyarakat) dan pendidikan (pelaku pendidikan). 3) perilaku).2 Konsep Dasar Pengetahuan 2. 163).

2 Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan dapat di bedakan dalam beberapa tingkatan. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yamg telah diterima. mendefinisikan dan menyatakan. 2) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). menyimpulkan. Tahu merupakan tingkat yang paling rendah. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan. yaitu : 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.13 2.2. . rumus metode. menguraikan. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. menyebutkan contoh. meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain: menyebutkan.

menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. misalnya dapat menyusun. merencanakan. dan masih ada kaitannya satu sama lain. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. tapi masih didalam struktur organisasi tersebut. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). membedakan. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. 5) Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. . mengelompokkan. memisahkan. meringkas. dan sebagainya. 1993:94-96).14 4) Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen.

Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-peminpin masyarakat baik formal maupun informal. maka dicoba kembali dengan kemungkinan yang ketiga dan seterusnya. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Apabila kemungkinan dua ini gagal pula. otoritas pemerintah. otoritas pemimpin agama.15 2. pemegang pemerintahan dan sebagainya. maupun ahli ilmu . Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan tersebut tidak berhasil. banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. sampai masalah tersebut dapat dipecahkan itu sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal atau salah) atau metode coba salah atau coba-coba. bahkan mungkin sebelum adanya peradaban.2. dicoba kemungkinan yang lain. Dengan kata lain pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan. (2) Cara kekuasaan atau otoritas Dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak. upaya pemecahannya dilakukan dengan dicoba-coba. baik tradisi. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah.3 Cara Memperoleh Pengetahuan 1) Cara tradisional atau non ilmiah (1) Cara coba salah (trial and error) Merupakan cara yang tradisional yang dipakai orang sebelum adanya kebudayaan. ahli agama.

maka untuk memecahkan masalah lain yang sama. (3) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman merupakan sumber pengatahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas. Para pemegang otoritas pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama didalam penemuan pengetahuan. tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. ia tidak akan mengulangi cara tersebut dan berusaha untuk mencari cara yang lain. Untuk dapat menarik kesimpulan dari pengalaman dengan benar diperlukan berfikir kritis dan logis. Tetapi bila ia gagal menggunakan cara tersebut. baik melalui induksi maupun deduksi. kemudian dicari hubungannya . Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan. sehingga dapat berhasil memecahkannya. Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. orang dapat pula menggunakan cara tersebut. (4) Melalui jalan pikiran Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya. Tetapi tidak semua pengalaman pribadi dapat menarik kesimpulan dengan benar. baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri.16 pengetahuan. Apabila dengan cara yang dilakukan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang dihadapi.

3 Konsep Dasar Perilaku 2.17 sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. 2002:11-18).3. Kemudian dilanjutkan oleh Doebold Van Pavlen yang mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan cara mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan.1 Definisi Perilaku Dari segi biologis. perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. 2. logis dan ilmiah serta disebut metode penelitian ilmiah atau metodologi penelitian (research metodology). 2)Cara modern atau ilmiah Cara ini lebih sistematis. kemudian ditetapkan ciri atau unsur yang pasti ada pada suatu gejala. pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan obyek yang diamati. Mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626) dengan menggunakan metode berfikir induktif. (Notoatmodjo. sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum kepada yang khusus. Dari hasil pencatatan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pengertian-pengertian khusus kepada yang umum dinamakan induksi. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme. merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Skinner membedakan adanya dua respon. selanjutnya dijadikan dasar pengambilan kesimpulan atau generalisasi. yaitu : . Skinner (1938) seorang ahli psikologi. maka teori Skinner ini disebut teori "S-O-R" atau stimulus-organisme-respon.

2) Operant respon atau instrumental respons Yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. 2. sistem pelayanan kesehatan.antara lain : (1) Perilaku pencegahan penyakit (2) Perilaku peningkatan kesehatan (3) Perilaku gizi (makanan) dan minuman 2) Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan. Stimulus ini disebut eliciting stimulation karena menimbulkan responrespon yang relatif tetap. perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit.2 Perilaku Kesehatan Menurut Skinner. atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health secking behaviour) . karena memperkuat respon. Perangsang ini disebut Reinforcing stimulation atau reinforcer. makanan dan minuman serta lingkungan.18 1) Respondent respons atau reflexive Yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus) tertentu.3. yaitu : 1) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance). Sehingga dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok.

3 Domain Perilaku Perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang). 2) Determinan faktor eksternal Yakni lingkungan baik lingkungan fisik.19 3) Perilaku kesehatan lingkungan. sosial. antara lain : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Perilaku hidup sehat Olahraga teratur Tidak merokok Tidak minum minuman keras dan narkoba Istirahat cukup Mengendalikan stress Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan 2.3. Dan determinan perilaku ini ada dua yakni: 1) Determinan faktor internal Yakni karakteristik orang yang bersangkutan. . tingkat emosional. namun respon tiap-tiap orang berbeda. Jadi meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang. jenis kelamin dan sebagainya. ekonomi. budaya. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda inilah yang disebut determinan (domain perilaku). politik dan sebagainya. namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. misalnya: tingkat kecerdasan.

Gay dan Edgley. menurut mereka sikap adalah suatu obyek. salah seorang tokoh terkenal di bidang pengukuran sikap).20 2.3. 1981). Secara lebih spesifik. Pertama adalah kerangka pemikiran yang diwarnai oleh para ahli psikologi seperti Lovis Thurstone (1928 . Di masa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan dengan konsep mengenai postur fisik / posisi tubuh seseorang (Wrightsman dan Deux.juga seorang pioner di bidang pengukuran sikap) dan Chorles Osgood. ada dua cara untuk mengukur hasil pendidikan kesehatan. 1972). adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavourable) pada obyek tersebut (Berkowitz. Rensis Likert (1932 . yaitu: 1) Pengetahuan (seperti yang telah dijelaskan diatas) 2) Sikap (1) Pengertian sikap Sikap (attitude) secara historis digunakan pertama kali oleh Herbert Spender di tahuan 1862 yang pada saat itu diartikan olehnya sebagai status mental seseorang (Allen. Thurstone sendiri menginformasikan sikap sebagai “derajat afek positif atau . 1980). Puluhan definisi dan pengertian itu pada umumnya dapat di masukkan ke dalam salah satu diantara 3 kerangkan pemikiran.4 Pengukuran Hasil Pendidikan Kesehatan Menurut Benyamin Bloom (1908) yang dikutp oleh Notoatmodjo (2003:121).

(Syaifuddin. 1957). struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif (cognitive). komponen efektif (affective) dan komponen konatif (conative).tokoh terkenal di bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian) yang konsepsi mereka mengenai sikap lebih kompleks. Komponen kognitif merupakan representatif apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap emosional dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang . Bogardus (1913). A. Lapiere (1934). Kelompok pemikiran yang kedua diwakili oleh para ahli seperti Chove (1982). merasakan dan berperilaku terhadap suatu obyek. menurut kerangka pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen “kognitif. 2003:10). (2) Sturktur Sikap Mengikuti skema triadik. Menurut Breckler dan Wiggins dalam definisi mereka mengenai sikap mengatakan bahwa sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap prilaku berikutnya (Syaifuddin. afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami.21 negatif terhadap suatu obyek psikologis” (Edwards. Kelompok pemikiran yang ketiga adalah kelompok yang berorientasi kepada skema triadik (triadic scheme). Mead (1934) dan Gordon Allport (1935. 2003:18). Dari berbagai definisi diatas bisa dikatakan bahwa sikap selalu dikaitkan dengan perilaku yang berada dalam batas kewajaran dan kenormalan yang merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus lingkungan sosial. A. Menurut kelompok ini sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan caracara tertentu.

(2) Merespon (responding). kepercayaan dan strereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Komponen kognitif dapat disamakan dengan pandangan (opini). diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). artinya memberikan jawaban apabila ditanya. Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap obyek sikap dan menyangkut masalah emosi (Syaifuddin. dan (4) Bertanggung jawab (responsible).22 dimiliki oleh seseorang. terutama bila menyangkut masalah isu atau problem yang kontraversial. sebagai berikut : (1) Menerima (receiving). Seperti halnya dengan pengetahuan. artinya bertanggung jawab atas segala yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi. . (3) Menghargai (valuing). Misalnya sikap seseorang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatiannya terhadap ceramah-ceramah. diartikan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap sesuatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. karena suatu usaha untuk menjawab pertanyaan / mengerjakan tugas yang diberikan. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu. misalnya seorang ibu mengajak tetangganya untuk menimbangkan bayinya. 2002:23-24). mengerjakan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Menurut Mann (1969) mengatakan bahwa komponen kognitif berisi persepsi. A. misalnya seseorang ibu mau menjadi akseptor KB meskipun mendapat tentangan dari mertua.

Karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional dan berulang–ulang. adalah sebagai berikut : (1) Pengalaman Pribadi. Interaksi sosial mengandung arti lebih dari pada sekedar adanya kontak sosial dan hubungan antar individu sebagai anggota kelompok sosial. Dalam interaksi sosialnya individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang dihadapinya. Orang lain di sekitar kita . Menurut Middle Brook (1974) mengatakan bahwa tidak ada pengalaman sama sekali dengan suatu obyek psikologis cenderung akan membetuk sikap reaktif terhadap suatu obyek tertentu. Kesan negatif terhadap suatu objek juga akan membentuk sikap yang negatif terhadap objek tersebut. Sehingga pengalaman masa lalu penting bagi pembentukan sikap karena melalui pengalaman akan terbentuk penghayatan dan tanggapan yang merupakan dasar pembentukan sikap. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Karena pengalaman yang tunggal jarang sekali dapat menjadi dasar pembentukan sikap.23 (3) Pembentukan Sikap Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Apa yang telah dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial. pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan kuat. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap. (2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting.

Adanya informasi mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap. Burrhus Frederic Skinner dalam Azwar (2003) sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. seseorang yang tidak ingin dikecewakan atau seseorang yang berarti khusus (significant others). Seseorang yang dianggap penting. akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap sesuatu. (4) Media massa. Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. (5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama. Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting cenderung kita ikuti. Sebagai sarana komunikasi. berbagai bentuk media massa seperti televisi. seseorang yang diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat. majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. surat kabar. Ahli Psikologi. Dan hanya kepribadian individu yang mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual. (3) Pengaruh kebudayaan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah dan telah mewarnai sikap masyrakat. Karena kepribadian tidak lain adalah pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan. Karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu–individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. pengajaran) yang dialami.24 merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. radio. .

B. Faktor media massa sebagai sarana komunikasi seperti televisi. pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai–nilai baru yang diperkenalkan. (Syaifuddin A. surat kabar. dan majalah juga mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini/ kepercayaan seseorang. dan (6) Faktor emosional. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Mantra yang dikutup oleh Notoatmodjo (1993) dalam Nursalam dan Siti Pariani (2001:133). pendidikan dapat mempengaruhi seseorang. radio. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi sikap untuk berperan dalam pembangunan masyarakat. 2000:30-37). membentuk sikap yang tenang dan sikap yang baik serta mekanika .4 Konsep Dasar Senam Hamil 2.4.1 Pengertian Senam Hamil Senam hamil merupakan suatu bentuk latihan fisik yang akan meningkatkan kesehatan. Sebaliknya. Kadang–kadang. Menurut Y. 2.25 Pendidikan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan sikap karena dalam pendidikan diletakkan dasar pengertian dan konsep sehingga terbentuklah pemahaman terhadap sesuatu yang merupakan dasar terbentuknya sikap. hal ini dikemukakan oleh Koentjoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam & Siti Pariani (2001:133).

3 Manfaat Senam Hamil 1) Memperbaiki sirkulasi. 2) Membangun ketahanan (lebih mampu menghadapi persalinan yang lama). 2.106). 4) Membentuk sikap yang tenang dan baik serta mekanik tubuh yang baik selama dan setelah persalinan. baik persiapan fisik maupun mental untuk menghadapi dan mempersiapkan persalinan yang cepat.26 tubuh yang baik selama dan setelah kelahamilan (Depkes. 2) Mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan pada diri sendiri dan penolong dalam menghadapi persalinan. aman dan spontan. 3) Senam Kegel dapat membantu meningkatkan elastisitas dan penyembuhan post partum (Arlene Eisenberg. 2. .4. 5) Mengurangi bengkak-bengkak. (Melliana H.4. Senam hamil adalah latihan gerak yang diberikan kepada ibu hamil untuk mempesiapkan dirinya. 3) Membimbing wanita menuju suatu persalinan yang fisiologis.2 Tujuan Senam Hamil 1) Melalui latihan senam hamil yang teratur dapat dijaga kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam proses mekanisme persalinan. 2001:90) Berdasarkan pengertian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa senam hamil adalah suatu latihan senam khusus wanita hamil yang merupakan latihan fisik dan psikhis untuk mempersiapkan wanita tersebut menghadapi persalianan dan membentuk mekanika tubuh yang baik selama dan setelah melahirkan. 2000:137).RI. 1993.

2. 11) Mencegah terjadinya primer gestasional diabetes melitus. termasuk. ligamentum. 9) Mencegah terjadinya kelainan letak. seizin dan sepengetahuan dokter yang merawat. 12) Membantu pada saat kala II menjadi lebih pendek. sembelit. 13) Membantu memperoleh relaksasi tubuh yang sempurna dengan memberikan latihan-latihan kontraksi dan relaksasi.27 6) Mengurangi resiko gangguan gastrointestinal. 15) Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut. Selama mengikuti senam hamil juga harus . seperti posisi sungsang bisa diperbaiki dengan berbagai gerakan.4. yaitu sebagai berikut : 1) Latihan I untuk kehamilan minggu 22-25 2) Latihan II untuk kehamilan minggu 26-30 3) Latihan III untuk kehamilan minggu 30-34 4) Latihan IV untuk kehamilan minggu > 35 Dalam latihan senam dianjurkan memakai baju senam yang mempermudah gerakan-gerakam senam hamil. 8) Membantu mengontrol berat badan.4 Syarat Mengikuti Senam Hamil Diikuti mulai umur kehamilan 22 minggu. 14) Melatih dan mengusai pernafasan yang berperan penting selama kehamilan dan proses persalinan. otot-otot dasar panggul dan otot-otot paha bagian dalam. 10) Dapat membantu mempersiapkan mental menjelang melahirkan. melalui latihan mengendurkan perasaan cemas. 7) Mengurangi kejang kaki.

Senam dilaksanakan selama 20 – 30 menit untuk setiap babak. 6) Mual dan muntah menetap. keluar cairan ketuban. 4) Nafas pendek yang berlebihan. nyeri kepala dan nyeri pada persendiaan. sebaiknya dilakukan secara teratur dan disiplin. 9) Aktifitas jantung yang berkurang. 2) Kontraksi rahim yang lebih sering.28 memperhatikan kebutuhan cairan dan kalori sesuai dengan kebutuhan selama hamil. 3) Perdarahan pervaginam. adalah ibu yang mempunyai penyakit sebagai berikut : 1) Absolut (1) Penyakit jantung yang aktif (2) Gagal jantung (3) Penyakit rematik (4) Tromboplebitis (5) Emboli paru (6) Penyakit infeksi acut (7) Tidak pernah ANC . 8) Pembengkakan yang menyeluruh. Sedangkan ibu hamil yang tidak diperbolehkan mengikuti senam hamil. 5) Denyut jantung yang meningkat (> 140 x/mnt). Senam harus dihentikan bila terdapat keluhan dan gejala sebagai berikut : 1) Timbul rasa nyeri terutama nyeri dada. 7) Kesulitan berjalan.

luas gerakan persendian dan mengurangi serta menghilangkan rasa nyeri.29 (8) Preeklampsi (9) Resiko kehamilan prematur (10) Perdarahan pervaginam (11) Pecahnya ketuban (12) Gangguan pertumbuhan janin (13) Riwayat obstetri yang jelek (14) Hypertensi berat (15) Gawat janin 2) Relatif (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Anemi Kelainan darah Kencing manis Letak sungsang pada trimester akhir Obesitas BBLR pada partus sebelumnya Gemelli Lingkungan yang panas 2. 2)Latihan inti.4.5 Latihan-latihan yang Dikerjakan Pada Senam Hamil 1)Latihan pendahuluan Tujuannya adalah untuk mengetahui daya kontraksi otot-otot tubuh. yang terdiri dari : (1) Latihan pembentukan sikap tubuh .

30 (2) (3) Latihan kontraksi dan relaksasi Latihan pernafasan 3)Latihan penenangan dan relaksasi Latihan penenangan bertujuan untuk menghilangkan tekanan (stress) pada waktu melahirkan dan latihan relaksasi berguna untuk memberikan ketenangan dan mengurangi nyeri oleh His. karena itu dapat dilakukan pada kala pendahuluan dan kala pembukaan. . Latihan penenangan ini juga dapat membatu agar mulut rahim / kandungan dapat membuka dengan wajar dan cepat sehinga proses persalinan dapat berjalan lancar.

dan peran bidan.5 Kerangka Konsep Faktor eksternal Lingkungan fisik Lingkungan Sosial Budaya Ekonomi alokasi dana Lingkungan politik Kebijakan Peran Bidan Faktor internal Tingkat kecerdasan Pendidikan Pengetahuan Tingkat Emosional Sikap anggapan Jenis kelamin Keaktifan ibu dalam melakukan senam hamil Persalinan Lancar Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti Kurang/ Tidak lancar Faktor eksternal seperti lingkungan fisik. lingkungan ekonomi (alokasi dana). lingkungan sosial. sangat mendukung terhadap keaktifan ibu dalam melakukan senam hamil. sikap dan pendidikan ibu sangat menentukan apakah ibu tersebut mau melakukan senam atau tidak. begitu juga faktor internal yaitu pengetahuan. lingkungan budaya.31 2. . kebijakan Pemerintah.

masalah etika penelitian. Dalam hal ini metode penelitian yang dipakai adalah cross sectional yang artinya peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel sesaat.BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara memecahkan masalah menurut metode kelimuan (Nursalam @ Pariani. 3. Pada bab ini akan dijelaskan tentang desain penelitian. pengolahan data. 2002:26). pengumpulan data. definisi operasional. 2002:54). 2002:135). sampling desain. S. S.2 Kerangka Operasional Pendidikan ibu Pengetahuan ibu Sikap ibu Keterangan : : Diteliti Keaktifan ibu dalam melakukan senam hamil 32 . analisa data. kerangka operasional. identifikasi variabel. dimana variabel yang di amati dan dikumpulkan dalam variabel yang bersamaan dan dalam waktu yang tertentu (Soekidjo.1 Desain Penelitian Desain penelitian adalah seluruh dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan untuk mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Nursalam @ Pariani. dan keterbatasan. 3.

Menengah / sedang bila :  Tamat SMA 3. N.3 Identifikasi Variabel Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai diri. 3.4 Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam @ Pariani. bila :  Diploma / PT 2. pengetahuan. Kuesioner Ordinal 3 = Bila bisa menjawab 15-20 soal dengan benar. bila :  Tidak tamat SD  SD  SMP 2. Adapun definisi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Variabel 1. sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu (Soekidjo. . S. Rendah. Pengetahuan Kemampuan pemahaman responden terhadap senam hamil 1) Pengertian senam hamil 2) Tujuan senam hamil. 2000). 2002:70). Tinggi.33 : Tidak diteliti 3. kategori baik (76-100% soal benar). dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pendidikan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (variebel independent). yang artinya adalah faktor yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi variabel dependen. Pendidikan Depinisi Operasional Jenjang pendidikan yang telah ditempuh responden Parameter Pendidikan yang telah ditempuh oleh responden : 1) Tidak tamat SD 2) Tamat SD 3) SMP 4) SMA 5) Diploma/ PT Alat ukur Kuesioner Skala Pengukuran Ordinal Skor 1. dan sikap ibu.

jika 3. kategori cukup (56-75% soal benar).34 3) Manfaat senam hamil. = Bila bisa menjawab 8-0 soal dengan benar. 2 = Bila bisa menjawab -4 soal dengan benar. 2000). Men = Men =0 =0 = =2 =3 =4 (favourable). S. 0 = Bila menjawab < 8 soal yang benar (< 40% dari 3.  erima  olak STS TS R S SS skor t ≥ 50. 2) Keteraturan ibu dalam melakukan senam hamil Kuesioner dengan skala likert Nominal soal). jika skor t ≤ 50. 4) Pengetahuan tentang ibu-ibu yang tidak melakukan senam hamil. Sampling dalam penelitian ini menggunakan non probality sampling.5 Sampling Desain Sampling adalah cara atau metode pengambilan sampel atau suatu proses dalam menyeleksi proporsi dari populasi untuk mewakili populasi (Nursalam @ Pariani. adalah pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan . kategori kurang (40-55% soal benar). Sikap Perasaan menolak atau menerima terhadap pelaksanaan senam hamil Penilaian responden tentang : 1) Pentingnya senam hamil. (anfovorable). 5) Latihan-latihan yang dilakukan dalam senam hamil.

kemudian peneliti menetapkan berdasarkan pertimbangan tertentu. S.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo.35 yang dapat diperhitungkan.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo. berdasarklan ciri atau sifat-aifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. 3. Pada penelitian ini populasinya adalah ibu-ibu hamil yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Merah dan yang ada di Puskesmas Pembantu Poter. 3.5. 2002:79). tetapi semata-mata hanya berdasarkan kepada segisegi kepraktisan belaka. Ibu hamil yang kooperatif.5. S.dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu suatu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri. . lalu sebagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian. 3. Caranya. 2002:79.3 Kriteria Sampel Adalah kriteria sampel yang dapat dimasukkan atau yang layak untuk diteliti (Nursalam @ Pariani. (Soekidjo. S. mula-mula peneliti menidentifikasi semua karakteristik populasi. N. 2002:89). 2002:37).5. Kelompok yang diambil dalam sampel ini terdiri dari kelompok ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah Bangkalan. adalah : 1)Kriteria inklusi : (1) (2) Ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah.

mulai bulan Desember sampai dengan bulan Mei 2004.275 ibu hamil. sedangkan waktu penelitian dilaksanakan selama 6 bulan.36 (3) Ibu hamil yang bersedia dijadikan responden. S. Ibu hamil yang tidak bersedia dijadikan responden.7 Cara Pengumpulan Data Setelah mendapat ijin dari Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas Tanah Merah Bangkalan. peneliti mengambil sampel sebesar 25 ibu hamil. 3. 3. 2)Kriteria eksklusi Adalah kriteria sampel yang tidak layak untuk diteliti menjadi sampel (Nursalam @ Pariani. 2002:37). 3. kemudian peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara menyebar kuesioner untuk di isi yang kemudian . maka peneliti mengambil sampel di dua tempat. adalah : (1) (2) (3) Ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah.4 Jumlah Sampel Dalam penelitian ini berhubung jumlah populasinya sebesar . peneliti melakukan pendekatan dengan responden untuk mendapatkan persetujuan sebagai responden. Ibu hamil yang tidak kooperatif. Untuk di KIA Puskesmas Tanah Merah sendiri peneliti mengambil sampel sebesar 35 ibu hamil sedangkan di Puskesmas Pembantu Poter. yaitu di KIA Puskesmas Tanah Merah Bangkalan dan di Puskesmas Pembantu Poter.5.6 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Puskesmas Tanah Merah Bangkalan.

8. data yang telah di peroleh kemudian di olah dengan cara : 3. (1) Tidak tamat SD Termasuk ketegori pendidikan rendah. sikap menggunakan analisis univariate yang menghasilkan prosentase dari setiap variabel. 3.1 Editing Yaitu meneliti kembali jawaban responden untuk mengetahui jawaban tersebut sudah cukup baik dan dapat disiapkan untuk keperluan proses berikutnya.4 Analisa data Tehnik dan analisa data untuk aspek pendidikan. dituangkan dalam bentuk tabel silang yang berisi pengklasifikasian hasil tabulasi menurut dua kategori yaitu tingkat pendidikan rendah dan tinggi.3 Tabulating Data tersebut di tabulasi dalam bentuk tabel menurut sifat-sifatnya 3.8.2 Coding Usaha untuk mengklasifikasikan jawaban responden menurut macam-macamnya dalam bentuk angka. 3. pengetahuan. 3. selanjutnya adalah sebagai berikut : 1) Data pendidikan Untuk menganalisis data tingkat pendidikan.8 Pengolahan Data Setelah kuesioner di isi oleh responden dan ditarik kembali oleh peneliti.8. bila : .37 ditarik lagi oleh peneliti. Setelah data dikumpulkan.8.

00% 56% . Sedangkan untuk menganalisa data pengatahuan perparameter dituangkan dalam tabel silang yang berisi pengklasifikasian hasil tabulasi menurut kategori : (1) Baik Cukup Kurang Sangat kurang : : : : Tentang pengertian (4 soal) 4 soal benar 3 soal benar 2 soal benar soal benar / salah semua . 997:246). bila : Termasuk kategori pendidikan Diploma / Perguruan Tinggi (PT) 2) Pengetahuan Untuk data pengetahuan secara umum dituangkan dalam tabel distribusi frekuensi yang berisikan hasil tabulasi data (dari 20 soal). bila : Tamat SMA (3) Termasuk kategori pendidikan tinggi.38 Tamat SD Tamat SMP (2) menengah/sedang.75% 40% . S. kemudian hasilnya diklasifikasikan menurut kategori : (1) (2) (3) (4) Baik Cukup Kurang : : : 76% .55% (5-20 soal benar) (-4 soal benar) (8-0 soal benar) < 40% (< 8 soal benar) Sangat kurang : (Arikunto. yang mana untuk jawaban benar (B) diberi skor dan jawaban yang salah (S) diberi skor 0.

.5 soal benar 2 .39 (2) Baik Cukup Kurang Sangat kurang (3) soal) Baik Cukup Kurang Sangat kurang (4) : : : : : : : : Tentang manfaat (4 soal) 4 soal benar 3 soal benar 2 soal benar soal benar / salah semua Tentang latihan-latihan yang dikerjakan (5 4 – 5 soal benar 3 soal benar 2 soal benar soal benar / salah semua Tentang pengetahuan ibu tentang syarat- syarat mengikuti senam hamil (7 soal) Baik Cukup Kurang Sangat kurang : : : : 6 -7 soal benar 4 .3 soal benar soal benar / salah semua Hasil pengklasifikasian data dari 60 responden ini kemudian di prosentasikan.

40 3) Data sikap Untuk data ini tabulasi dari 0 soal yang diambil dari 60 responden menggunakan skor skala likert yaitu : Pernyataan positif (+) STS : 0 TS N S SS : : 2 : 3 : 4 Pernyataan negatif (-) STS : 4 TS N S SS : 3 : 2 : : 0 Keterangan : Sangat Tidak Setuju : Tidak Setuju : Ragu-ragu : Setuju : Sangat Setuju STS TS RR S SS Kemudian hasil tabulasi ini digunakan untuk menentukan kategori perannya dengan terlebih dahulu dihitung dengan memakai rumus skor T.  − x−x = 50 + 0   S    = Skor responden yang akan diubah skala T T Keterangan : x − x = Nilai mean S = Nilai standart deviasi. Kemudian hasil tabulasi dikelompokkan sesuai kategori : (1) (2) Menerima (Favourable) Menolak (unfavourable) : : Skor T ≥ 50 Skor T < 5 .

41 3. barulah peneliti melakukan penelitian dengan menekankan pada masalah etika penelitian.3 Kerahasiaan (Confidentiality) Peneliti harus menjamin kerahasiaan subyek yang diteliti dengan tidak membeberkan sesuatu hal yang tidak layak diaungkapkan dari hasil jawaban keusioner kepada orang lain.9. 3.1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden (Informed Concent) Saat pengambilan sampel terlebih dahulu peneliti meminta ijin pada setiap subyek yang akan diteliti baik secara lisan maupun lembar persetujuan atas kesediaan dijadikan subyek penelitian. 3. . Kepala Puskesmas Tanah Merah Bangkalan untuk mendapatkan persetujuan.2 Tanpa Nama (Anominity) Subyek tidak perlu mencamtumkan nama dalam kuesioner untuk menjaga privacy.9. untuk mengetahui keikutsertaan subyek. peneliti menulis kode pada masing-masing lembar. yang meliputi : 3.9.9 Masalah Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian ini peneliti mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan.

1 Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner memiliki jawaban yang tidak banyak di pengaruhi oleh sikap dan harapan-harapan pribadi yang bersifat subyektif.42 3.10.10. sarana. adapun keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti adalah sebagai berikut : 3.10 Keterbatasan Adalah suatu kelemahan dan hambatan dalam penelitian. 3.2 Tenaga. . dana dan waktu penelitian yang terbatas.

kami dapat menggambarkan sekilas tentang wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah. 4. sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Galis dengan jarak 7 km. sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Kwanyar dengan jarak 0 km. pengetahuan dan sikap yang disajikan dalam bentuk prosentase dan penjelasan dari masing-masing karakteristik.1 Data Geografi Wilayah Puskesmas Tanah Merah terdiri dari wilayah dataran rendah dengan luas 68 km2 dan dataran tinggi dengan luas 04 km2. Berdasarkan data dari kantor puskesmas Tanah Merah Kabupaten Bangkalan.1. 4.1 Data Umum Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah Desa Tanah Merah kabupaten Bangkalan. Puskesmas Tanah Merah berbatasan dengan : sebelah utara Kecamatan Geger dengan jarak 3 km. mulai tanggal 3 Mei 2004 sampai dengan 20 Mei 2004.BAB 4 HASIL Pada bab ini akan diuraikan tentang diskripsi daerah penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Tanah Merah Kabupaten Bangkalan. 43 . hasil penelitian ini merupakan gambaran karakteristik responden dari variabel yang diteliti meliputi pendidikan. sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Trageh dan Burneh dengan jarak 0 km. diwilayah Puskesmas Tanah Merah terdiri dari 23 Desa yang bersifat geografis.

2 Tingkat Pengetahuan .1 Pendidikan Tabel 4.2 Data Khusus 4.33%) sedangkan responden yang mempunyai tingkat pendidikan menengah 7 orang (11.042 jiwa yang terdiri dari laki-laki 26. 4. dan yang tingkat pendidikan tinggi sebanyak 3 orang (5%).2 Data Demografi Jumlah penduduk seluruhnya 56.7 %). yaitu sebanyak 50 orang (83.1.474 jiwa dan perempuan 29.7 83.568 jiwa.1. 4.1 diatas diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai tingkat pendidikan rendah.3 100 50 Total 60 Sumber : Data primer (2004) yang diolah Dari tabel 4.44 4.3 Data Sasaran Dari jumlah perempuan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah. 4. di dapatkan 28 ibu hamil dan didapatkan sampel sebanyak 60 ibu hamil.1 Distribusi frekwensi tingkat pendidikan responden di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah pada bulan Mei 2004 Tingkat Pendidikan Tinggi Menengah/sedang Rendah Hasil Jumlah 3 7 Prosentase (%) 5 11.2.2.

3 diatas diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai sikap menolak terhadap pelaksanaan senam hamil. .3 Distribusi frekwensi sikap responden terhadap pelaksanaan senam hamil di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah pada bulan Mei 2004 Sikap Responden Menerima menolak Hasil Jumlah 27 Prosentase (%) 45 55 100 33 Total 60 Sumber : Data primer (2004) yang diolah Dari tabel 4.2 Distribusi frekwensi tingkat pengetahuan responden di wilayah kerja Puskesmas Tanah Merah pada bulan Mei 2004 Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Hasil Jumlah 16 17 21 Prosentase (%) 26.33 35 10 100 Sangat kurang 6 Total 60 Sumber : Data primer (2004) yang diolah Dari tabel 4. berpengetahuan cukup sebanyak 17 orang (28.66 28. dan berpengetahuan sangat kurang sebanyak 6 orang (10%).3 Sikap Tabel 4.2 diatas dapat diketehui bahwa mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 21 orang (35%). 4.66%).33%). yaitu sebanyak 33 orang (55%) sedangkan yang menerima sebanyak 27 orang (45%). responden yang berpengetahuan baik sebanyak 16 orang (26.45 Tabel 4.2.

terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan 46 .1 diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai tingkat pendidikan rendah.1 Pendidikan Berdasarkan tabel 4. Fakta yang sering ditemukan di masyarakat kita bahwa faktor pendidikan membuat saran seseorang dapat dijadikan pertimbangan dalam suatu proses pengambilan keputusan. Menurut Y. sedangkan yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi hanya 3 orang (5 %). maka makin mudah menerima informasi.B Mantra yang dikutip oleh Nursalam (2001) Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk perilaku akan pola hidup. dalam hal ini adalah usaha pelaksanaan senam hamil bagi dirinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kwalitas hidup. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kunjtoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani yang menyatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang. sehingga makin banyak pula pengatahuan yang dimiliki.3 %). yaitu sebanyak 50 orang (83. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya.BAB 5 PEMBAHASAN 5.

maka ia akan mencoba untuk mempraktekkan. Dengan rasa tahunya tersebut akan menimbulkan rasa tertarik untuk tahu lebih banyak. media cetak maupun media yang lain. Selain itu situasi masyarakat .47 kesehatan. maka dengan sendirinya dia menerima materi tersebut dan begitu pula sebaliknya. Kurangnya pengetahuan ibu tentang senam hamil ini tidak terlepas dari proses adopsi pengetahuan yang dikemukakan oleh Rogers (1974) yang terdiri dari lima tahap. Untuk itu melalui pendidikan diharapkan seseorang mampu meningkatkan kemampuan intelektual. Apabila dia memutuskan bahwa materi tersebut menguntungkan. mampu membebaskan diri dari keterbelakangan. 5. diantaranya menyebutkan bahwa pertama kali seseorang berusaha tahu akan suatu materi melalui informasi. Dari data diatas menggambarkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebagian besar adalah kurang. Setelah itu dia akan menimbang-nimbang untung ruginya dari materi yang didapat.2 Pengetahuan Berdasarkan hasil tabulasi tingkat pengetahuan responden pada tabel 4.66 %). yaitu sebanyak 21 orang (35 %). media massa. serta menghargai kemajuan yang antara lain memberikan perubahan yang berkesinambungan. jika hasil yang dirasakan memuaskan.B Mantra (1994:3) bahwa untuk memperoleh suatu pengetahuan.2 didapatkan gambaran bahwa mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan kurang. Selain itu pengetahuan tidak hanya dipengaruhi oleh proses adopsi saja. Menurut Y. ada faktor lain yang mempengaruhi proses penerimaan pengetahuan. sedangkan yang berpengetahuan baik sebanyak 16 orang (26. tidak terlepas dari proses penerimaan pengetahuan yang baru (inovasi).

yaitu sebanyak 33 orang (55 %). dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. pendengaran. 1997:7). Sehingga dapat dimengerti apabila seseorang jarang atau tidak pernah mendapatkan informasi tentang senam hamil sebagai kegiatan penginderaan terhadap suatu obyek. praktek senam hamil dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang senam hamil. Y. penciuman. mengingat kondisi masyarakat diwilayah Tanah Merah mayoritas penduduknya dengan lingkungan tradisional. sulit sekali bagi mereka untuk menaruh minat sebagai upaya untuk mengetahui lebih dalam tentang senam hamil.3 Sikap Berdasarkan hasil tabulasi sikap responden terhadap pelaksanaan senam hamil pada tabel 4. raba dan telinga.48 dimana individu itu hidup juga sangat berpengaruh.2 didapatkan gambaran bahwa mayoritas responden mempunyai sikap menolak terhadap pelaksanaan senam hamil. Pengetahuan menimbulkan minat seseorang untuk mengenal lebih jauh tentang obyek/topik (Solita S. Sikap responden yang menolak tersebut bisa disebabklan oleh beberapa faktor. sehingga akan sulit sekali bagi mereka untuk mengadopsi pengetahuan tentang senam hamil. Apakah masyarakatnya termasuk masyarakat yang sudah maju atau masih tradisional. Hal ini bisa saja terjadi.B Mantra menyatakan bahwa "Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang akan pola hidup. Begitu juga dengan faktor . Pengetahuan merupakan hasil tahu. Adanya kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan. terutama dalam memotivasi sikap untuk berperan serta dalam pembangunan masyarakat". antara lain faktor pendidikan. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan. sedangkan yang menerima sebanyak 27 orang (45 %). promosi. 5.

Yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh kebudayaan setempat. Hal ini bisa saja terjadi mengingat sikap seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut diatas. walaupun mereka sudah benar-benar mengerti tentang manfaat yang diperoleh dari inovasi tersebut. Begitu juga dengan pengaruh orang lain yang dianggap penting dalam hal ini adalah bidan puskesmas setempat. Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukasn sikap antara lain faktor pengalamam pribadi.49 pengetahuan. sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pengetahuan yang kurang akan menghambat perkembangna sikap seseorang akan nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Kebudayaan dimana individu hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar . menolak terhadap inovasi yang diberikan. sebab dalam interaksi sosialnya individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang dihadapinya. Instruksi bidan dapat menjadi sumber motivasi keaktifan ibu dalam melaksanakan senam hamil sebab adanya anggapan bahwa segala program yang diberikan kepada masyarakat pasti mempunyai manfaat. Menurut Middle Brook (1974) mengatakan bahwa tidak ada pengalamam sama sekali dengan suatu obyek psikologis cenderung akan membentuk sikap reaktif terhadap suatu obyek tertentu. yaitu tingkat pendidikan dan pengetahuan saja. melainkan masih banyak hal yang turut mempengaruhi pembentukan sikap. Hal ini dikemukakan oleh Kunjoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam dan Siti pariani (2001:33) Namun pada kenyataannya tidak jarang orang yang mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan tinggi. dalam hal ini tentang senam hamil. maka makin mudah menerima informasi. makin tinggi tingkat pengetahuan seseorang.

Sehingga walaupun mereka sudah mengetahui dan mengerti tentang senam hamil tetapi bila tidak ditunjang oleh instruktur senam yang profesional. majalah mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini kepercayaan orang. . Kenyataan ini bisa saja kita mengerti sebab pelaksanaan senam hamil masih belum membudaya dimasyarakat setempat. radio. Keberadaan sarana dan instruktur senam hamil yang memadai dapat meningkatkan minat mereka untuk mempraktekkan senam hamil. Keaktifan ibu sangat dipengaruhi oleh adanya sarana/ prasarana serta instruktur senam hamil yang disediakan. Karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota anggota kelompok masyarakat asuhannya.50 terhadap pembentukan sikap individu tersebut. sulit sekali bagi mereka untuk mempraktekkan senam hamil tersebut. sehingga akan sulit bagi mereka untuk menerima dan mendukung pelaksanaannya. Faktor media massa sebagai sarana komunikasi seperti televisi. Begitu juga faktor lembaga/ institusi/ Puskesmas setempat. Adanya informasi mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap. surat kabar.

dan sikap ibu yang berkaitan dengan senam hamil. dapat menyalurkan pengetahuan kepada ibu-ibu yang lain. Kondisi ini dikarenakan masih rendahnya tingkat pendidikan ibu. balai desa. maka dapat diuraikan kesimpulan dan saran sebagai berikut. hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.2 Bagi Petugas 1)Dapat menyebar luaskan imformasi (penyuluhan) tentang senam hamil dan manfaatnya. 6.BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang gambaran beberapa faktor yang mempengaruhi keaktifan ibu untuk melaksanakan senam hamil. 6.2. 51 . sebagai berikut : 6. ataupun organisasi lain (PKK) khususnya tentang senam hamil.2. kurangnya tingkat pengetahuan serta sikap ibu yang mayoritas menolak terhadap pelaksanaan senam hamil. tingkat pengetahuan.1 Kesimpulan Pelaksanaan senam hamil masih sulit diterapkan.1 Ibu dan Keluarga 1)Aktif mengikuti penyuluhan-penyuluhan di posyandu.2 Saran Saran yang disampaikan peneliti berdasarkan kesimpulan diatas. diantaranya : tingkat pendidikan. 2)Bagi sebagian ibu yang sudah mengetahui tentang senam hamil dan melaksanakannya. 6.

3)Perlunya kerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat (ibu kades. ibu kasun dan lain-lain) dalam pelaksanaan senam hamil ini. sesuai dengan program yang berkaitan dengan senam hamil. . agar masyarakat bisa dengan mudah menjadikan mereka sebagai contoh untuk diikuti. 4)Untuk Dinas Kesehatan. diharapkan menyediakan dana /sarana / instruktur. 5)Dapat melestarikan kegiatan senam hamil secara rutin dan kontinyu 6)Dibentuknya kelompok-kelompok kecil peminat senam hamil diwilayah kerja Puskesmas Tanah Merah 7)Pemegang program bertanggung jawab mengkondisikan masyarakat untuk pelaksanaan program senam hamil.52 2)Lebih mengaktifkan lagi kegiatan senam hamil.

Jakarta. IBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Md. Dunia Wanita. EGC. Glade B. Kehamilan Apa Yang Anda Hadapi Bulan Perbulan. Arcan. Jakatra. Jakarta.com Diakses tanggal 9 Nopember 2003. PT Rineka Cipta. (1993). Gloria Cyber Minitries. Diakses tanggal 9 Nopember 2003. Curtis MD. (1993). (1997). Kehamilan di atas Usia 30. S(1997). FACOG. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta Bagian Obgyn Universitas Padjajaran. Kep. Ambon mailto : nasional-m@polarhome. Arikunto. Rineka Cipta. Rineka Cipta Nursalam Pariani. Penyakit Kandungan dan KB. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Keb. A. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Penelitian. Panduan Menjalani Kehamilan Sehat. Com. Ilmu Kebidanan.//gloria. S. (2000). Depkes RI. Jakarta. Depkes RI. Kesehatan Maternal. (1996). IBG Manuaba. S. Balai Pustaka. (2001). Rineka Cipta. (1998). Asuhan Kebidanan Ibu Dalam Konteks Keluarga. Mankes. Ilmu Kesehatan masyarakat. Melliana Huliana. Anton M. EGC. Jakarta. Jakarta. Senam Hamil. Notoatmodjo. Bandung. No. Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karir. Jakarta. Sun Aug 25 20 : 48 :17 2002. Puspa Swara. Notoatmodjo. . Jakarta. Bersumber dari : http://www. IBI. Notoatmodjo.53 DAFTAR PUSTAKA Aerlin Eisenberg. Jakarta. Universitas Padjajaran. Moeliono. Depkes RI. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta. 900 Mankes SK VII. (1999). Depdikbud. (1988). S. Alih Bahasa : Yasmin Asih. (2003). Harian Suara Pembaruan : (Nasional-m) 50 Persen Desa Tak Punyu Bidan. Jakarta. RI. S. Depkes. Jakarta. (1998). 2002 Tentang Registrasi dan Praktek Bidan.

fr-Bersumber dari Website http://www. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jakarta. Jakarta.54 Rustam Mochtar. MPH. Thomas W. Panduan Senam Kebugaran Untuk Wanita Hamil. Saifuddin Azwar. Ibu Kuat Bayi Sehat. (2000). (1998). Hanton. EGC. MA. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.indonesia-mrs. Sinopsis Obstetri. 0491714032.com. (2001). edisi II Yogyakarta.mar@wanadoo. Sumber : Warta Tanah Air. Email:kjri. . [Diakses tanggal 9 Nopember 2003]. Raja Gravindo Persada. 0491230160Fax. Edisi Juni 2003 Konsultat Jenderal Republik Indonesia 25 Bd Carmegnole 13008 Marseille-France. Telp.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->