P. 1
Perang Pemikiran Islam Di Internet

Perang Pemikiran Islam Di Internet

4.71

|Views: 3,637|Likes:
Published by Abu Bakar
perang pemikiran islam di internet,
perang pemikiran islam di internet,

More info:

Published by: Abu Bakar on Feb 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

PERANG PEMIKIRAN ISLAM DI INTERNET

Apr 17, '07 8:46 AM for everyone

Category: Other PERANG PEMIKIRAN ISLAM DI INTERNET (GHAZW AL-FIKRI AL-ISLAMI FI AL-INTERNETI) Studi Komparasi Isi Website JIL (www.islamlib.com) dan Website Hidayatullah (www.hidayatullah.com) Oleh: Suratno Juni Alfiah Chusjairi BAB I PENDAHULUAN KEBANGKITAN ISLAM PASCA SUHARTO Pada tanggal 21 Mei 1998, terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam percaturan politik Indonesia dengan mundurnya Suharto dari kursi kepresidenan. Peristiwa ini, dilihat dari perspektif para ahli, dianggap telah mengubah dasar dan konstelasi politik mutakhir di Indonesia. Hal ini ditandai oleh 3 hal penting, yakni: Pertama, runtuhnya hegemoni Orde Baru dengan pilar utamanya yakni Golkar, yang ditopang oleh birokrasi dan militer. Kedua, munculnya sistem politik multipartai yang memberi peluang kepada setiap kelompok politik dengan beragam latar belakang aspirasi dan ideologi untuk ikut serta meramaikan panggung politik nasional. Ketiga, terjadinya pergeseran relasi antara Islam dan negara. Pergeseran ini antara lain ditandai dengan: (a) semakin intensif dan terbukanya gerakan Islam dalam menyuarakan kepentingan mereka melalui wadah partai politik, (b) terserapnya pemimpin dan aktivis Islam yang mewakili beragam gerakan Islam ke dalam kehidupan negara. Implikasi dari perubahan di atas, terutama yang dihasilkan dari poin ketiga, adalah semakin menggeliatnya beragam ekspresi yang menandai kebangkitan gerakan Islam di Indonesia, seiring dengan terbukanya kran-kran kebebasan diera reformasi dan di tengah konstelasi politik yang terus berlangsung. Implikasi yang lain adalah munculnya dua arus utama yang dianggap saling bersinggungan satu dengan lainnya. Pertama, adalah kelompok yang menghendaki penyatuan antara Islam dan negara. Kelompok ini secara makin intens terus berupaya dalam mewujudkan pemberlakuan syariat Islam secara formal sebagai dasar dan hukum resmi negara. Mereka dikenal sebagai kelompok Islam literal-konservatif dengan agenda utamanya adalah formalisasi syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Kedua, adalah kelompok yang menghendaki berlakunya Islam dalam kehidupan publik (termasuk politik-kenegaraan), tetapi tidak dalam format sebagaimana yang dikehendaki kelompok pertama. Kelompok ini lebih merupakan antitesa dari literalisme, konservatisme dan formalisme agama serta lebih menghendaki adanya sekularisasi dalam kehidupan bernegara. Kalaupun syariat Islam akan diberlakukan dalam kehidupan publik, maka yang dimaksud bukanlah hukum Islam dalam artian formal tetapi semangat dasar Islam seperti moralitas, keadilan,

demokratisasi, kesejahteraan, kesetaraan gender, pluralisme dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka lebih dikenal dengan nama kelompok Islam liberal-progresif. Kontestasi antara dua kecenderungan gerakan pemikiran Islam di atas tampaknya masih akan terus berlangsung seiring dengan perkembangan-perkembangan sosial politik di era reformasi ini. Terbukanya kran-kran kebebasan informasi sebagaimana digariskan dalam UUD 1945 hasil amandemen tahun 2002 Pasal 28 F turut membuka dan memperluas cakupan kontestasi kedua mainstream gerakan pemikiran Islam tersebut. Implikasi dari kontestasi tersebut adalah terjadinya, apa yang disebut, Bassam Tibi sebagai ”war of weltanschauungen (worldviews)” atau perang pemikiran (ghazw al-fikr). Perang pemikiran ini, menurut Bassam Tibi, adalah bagian dari kontestasi propagandis kelompok Islam literal-konservatif disatu pihak melawan kelompok Islam liberal-progresif dipihak lain. MEDIA DAN PERANG PEMIKIRAN ISLAM Di dalam perang pemikiran Islam, kegiatan saling meng-counter pemikiran lawan-lawan mereka, menurut Muis Naharong (2005), menunjukkan bahwa kedua kelompok Islam tersebut memang sangat menekankan pentingnya berperang dalam bidang pemikiran, ide dan gagasan (ghazw al-fikr). Hal ini juga di dorong oleh tekad dan semangat untuk mempertahankan dan menyebarluaskan pemikiran, penafsiran, dan paham serta prinsip keagamaan yang mereka anut. Perang pemikiran Islam akhirnya juga dianggap sebagai strategi untuk melindungi umat Islam. Bagi kelompok Islam literal-konservatif perang pemikiran merupakan strategi untuk melindungi umat Islam dari bahaya liberalisme, sekularisme, dan pluralisme agama. Akan tetapi, sebaliknya, bagi kelompok Islam liberalprogresif perang pemikiran justru dilakukan untuk melindungi umat Islam dari bahaya literalisme, konservativisme, formalisme dan radikalisme agama. Kegiatan saling mengcounter pemikiran dan bahkan menyebarluaskan pemikiran Islam, yang telah dilakukan oleh kedua kelompok Islam tersebut telah menciptakan ruang, di mana mereka kemudian saling berlomba dan berupaya memanfaatkan saluran-saluran media yang ada dari mulai majalah, koran, jurnal sampai kepada website. Muis Naharong mencatat bahwa kelompok Islam literal-konservatif di Indonesia telah berhasil meluaskan produksi mereka dalam bidang penerbitan. Misalnya penerbit Gema Insani Press (GIP) yang menerbitkan buku-buku Islami dan sudah bertahan sejak lama. Selain GIP, sekarang juga muncul penerbit buku-buku Islami bercorak literal-konservatif. Gerakan tarbiyah menerbitkan majalah Sabili, Ummi, Saksi, Tarbawi dan lainnya. Hizb Tahrir Indonesia (HTI) memproduksi majalah Al-wafie dan buletin al-Islam. Kelompok Salafi menerbitkan majalah seperti as-Sunnah, Salafy, as-Syariah, al-Furqon dan lain-lainya. Bahkan, kelompok Islam literal-konservatif dari faksi intelektual di ISTAC, IIUM Malaysia telah dianggap sukses dengan penerbitan jurnal Islamia-nya. Yayasan Hiadayatulah juga menerbitkan majalah Suara Hidayatullah. Di dunia maya (cyber), kelompok-kelompok Islam literal-konservatif tersebut masing-masing juga punya website sendiri-sendiri. Yang cukup sukses diantaranya www.hidayatullah.com. Sementara itu, kelompok-kelompok Islam liberal-progresif di Indonesia juga tak mau

kalah dengan kelompok Islam literal-konservatif. Mereka juga berlomba-lomba mempromosikan ide dan gagasan masing-masing melalui saluran-saluran media yang ada. Misalnya, penerbit-penerbit besar seperti LKiS, Mizan, Paramadina dan banyak lagi yang lainnya, masih menerbitkan buku-buku yang mempromosikan ide-ide Islam liberalprogresif. Bahkan, keberadaan mereka sering disebut kalangan Islam literal-konservatif sebagai agen Islam liberal (agent of liberal Islam). Di masa lalu, kita mengenal jurnal Ulumul Qur’an terbitan LSAF dan majalah Ummat serta Panji Masyarakat, meski sekarang sudah tidak terbit lagi. Kita juga mengenal majalah baru seperti Syir’ah terbitan Yayasan Desantara, majalah perempuan Rahima dan juga Fahmina, jurnal Progresif milik P3M, Taswhirul Afkar milik Lakpesdam-NU dan sebagainya. Sementara di dunia maya, meski semua kelompok Islam liberal-progresif juga memiliki website sendiri-sendiri, icon kelompok ini tetap ditujukan pada website www.islamlib.com milik Jaringan Islam Liberal (JIL). Hal ini karena weebsite tersebut dianggap telah menyedot perhatian sebagian umat Muslim dan no-Muslim ditanah air. Di tengah maraknya perang pemikiran Islam (ghazw al-fikri al-Islami) melalui media seperti dijelaskan di atas, penelitian ini berupaya memotret dan menganalisis terjadinya kontestasi perang pemikiran Islam (ghazw al-fikri al-Islami) di media terutama yang berbasis internet, dengan mengambil obyek kajian yakni www.hidayatullah.com milik Yayasan Hidayatullah dan www.islamlib.com milik Jaringan Islam Liberal (JIL). Secara spesifik penelitian ini akan mengkaji sejauh mana isi dari kedua website tersebut, baik langsung maupun tidak, saling mengcounter pemikiran Islam mereka satu sama lain. Penelitian ini juga akan mengkaji bagaimana corak dan karakteristik isi dari kedua website tersebut bila dikaitkan dengan upaya mempertahankan dan menyebarluaskan pemikiran, prinsip, penafsiran dan paham keIslaman mereka. MENGAPA MENELITI HIDAYATULLAH.COM DAN ISLAMLIB.COM? Pemilihan www.hidayatullah.com dan www.islamlib.com sebagai obyek kajian dalam penelitian ini, dilandasi oleh kenyataan bahwa keduanya memiliki beberapa kelebihan yang mungkin tidak dimiliki website lain. Kelebihan-kelebihan tersebut yakni: (1) keduannya merupakan website yang secara kontinyu meng-update isinya, (2) keduanya telah terbukti menyedot perhatian banyak kaum Muslim dan non-Muslim di Indonesia terbukti dengan tampilan penghitung otomatis jumlah pengunjung website (automatically user account) kedua website yang tak terhitung jumlahnya, dan (3) keduanya menjadi ikon yang merefleksikan dan merepresentasikan pemikiran Islam literal-konservatif dan Islam liberal-progresif di Indonesia pada saat ini. Sementara itu pilihan media berbasis internet sebagai obyek kajian didasarkan pada kenyataan bahwa internet merupakan media yang saat ini semakin booming dan mushrooming di Indonesia. Hal ini seiring dengan kemajuan perkembangan dunia telekomunikasi dan informasi global. Imbasnya, website yang dibuat di satu belahan dunia tertentu bahkan akan dapat dibaca di seluruh belahan dunia lain yang melewati batas-batas geografis, yang dulu tidak mudah dijangkau manusia. Setiap orang yang mempunyai akses ke internet diseluruh dunia mempunyai kemungkinan untuk membacanya. Dengan demikian dunia maya (cyber) seperti internet menjadi ajang yang

sangat efektif dan efisien sebagai media propaganda dan counter dalam kontestasi pemikiran dan ide antara sesama gerakan Islam. Akan tetapi sebagai bagian dari dunia maya (cyber), perang pemikiran Islam seperti yang terjadi antara www.hidayatullah.com dan www.islamlib.com, tentu tidak lantas dapat dikatakan sepenuhnya bahwa kedua website tersebut memang benar-benar merupakan representasi utuh dan menyeluruh dari realitas Islam yang berkembang di Indonesia. Hal dimungkinkan karena memang terlalu banyaknya website yang bertemakan Islam, yang dibuat oleh gerakan Islam di Indonesia. Selain itu, secara teoritis masih menjadi perdebatan banyak pihak mengenai apakah media seperti internet mencerminkan realitas yang sesungguhnya ataukah sebaliknya, justru medialah yang mencoba mengkonstruksi realitas menurut image mereka sendiri, melalui muatan-muatannya yang tidak hanya edukatif dan informatif tetapi juga bersifat propagandis. TUJUAN PENELITIAN Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini. Pertama, memotret dan menganalisis terjadinya perang pemikiran Islam di internet dengan obyek kajian www.hidayatullah.com yang merepresentasikan ide dan gagasan kelompok Islam literalkonservatif dan www.islamlib.com yang merepresentasikan ide dan gagasan kelompok Islam liberal-progresif di Indonesia. Kedua, mengetahui ide, gagasan dan wacana yang ditampilkan dalam kedua website tersebut terutama dikaitkan dengan pemikiran, prinsip, penafsiran, dan paham ke-Islaman yang menjadi landasan mereka dalam mempropagandakan ide, gagasan dan wacana Islam yang bercorak literal-konservatif dan liberal-progresif. KEGUNAAN PENELITIAN Studi tentang perang pemikiran KeIslaman melalui media khususnya internet dengan mengkaji secara kompratif isi website www.islamlib.com dan www.hidayatullah.com memiliki banyak kegunaan. Pertama, studi ini mampu menampilkan salah satu realitas tentang masih berlangsungnya tarik-menarik yang berbau konflik atas ide dan gagasan Islam yang bercorak literal-konservatif dan yang bercorak liberal-progresif dalam ruang publik di Indonesia. Kedua, studi ini menggambarkan kecenderungan umat Islam dalam memproduksi wacana (discourse) seperti yang ditelorkan oleh kedua website tersebut sehingga wacana keIslaman yang berkembang dimasyarakat dipastikan akan dipengaruhi oleh ide dan gagasan mereka. Ketiga, studi ini berguna untuk memprediksi ke arah mana sesungguhnya masa depan umat Islam di Indonesia ini akan dibawa, baik dalam perspektif kaum literal-konservatif maupun liberal-progresif. Informasi ini tentu penting bagi swing voters, massa Muslim mengambang yang belum jelas posisinya atau masih berada diluar kedua mainstream gerakan Islam yang berbeda secara signifikan, terutama untuk memutuskan apakah mereka akan stand for literal-konservatif atau akan stand for liberal-progresif, atau bahkan tidak stand for untuk keduanya. ORISINALITAS PENELITIAN Sejauh ini, belum ditemukan adanya penelitian yang secara langsung mengkaji secara

komparatif (comparative study) isi website www.islamlib.com dan www.hidayatullah.com. Memang, ada beberapa kajian tentang Jaringan Islam liberal (JIL) dan Yayasan Hidayatullah sebagai lembaga pengelola kedua website tersebut, tetapi belum ditemukan upaya membandingkan isi website keduanya (apalagi) dengan menggunakan perspektif konteks perang pemikiran Islam melalui internet. Oleh karena itu, penelitian ini masih bisa dianggap orisinil. Penelitian yang sudah ada, misalnya, penelitian Ahmad Muzakki (2003) tentang perseteruan dua kutub pemikiran Islam Indonesia kontemporer, antara JIL dan Media Dakwah. Namun demikian yang dikaji Muzakki adalah JIL dan itu tidak secara spesifik merujuk kepada website-nya (islamib.com) tetapi menyangkut juga statement dan karyakarya tokoh JIL diluar websitenya seperti buku, artikel di koran, wawancara di media massa dan elektronik, dan sumber lainnya. Hal mendasar yang membedakan adalah penelitian Muzakki berdasar pada analisis perseteruan JIL dan media Dakwah 2002 sampai 2003 sementara penelitian ini akan menganalisis website JIL www.islamlib.com dalam kontestasinya dengan www.hidayatullah.com pada periode 2005-2006. Ditengah makin maraknya kontestasi ide dan gagasan Islam literal-konservatif dan liberal-progresif di Indonesia, penelitian mutakhir (kekinian) terhadap kedua website yang menjadi representasi ide dan gagasan kedua kelompok tersebut memiliki tentu tempat tersendiri karena dinamika pemikiran Islam Indonesia yang senantiasa berkembang. Apalagi, selama kurun waktu tersebut telah terjadi perubahan drastis dalam hal mapping (pemetaan) dan popularitas (popularity) kedua website tersebut dalam konteks gerakan Islam literal-konservatif dan liberal-progresif di Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Data Data penelitian ini diperoleh melalui penelusuran terhadap isi dari kedua website yang menjadi obyek kajian. Peneliti mengambil sample dengan menggunakan metode purposive sampling dari isi kedua website tersebut pada bulan Agustus 2005—2006, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan data sesudah Agustus 2006 sampai dengan laporan penelitian ini disusun. Data dibedakan menjadi dua. Pertama, data primer yang berisi ide dan gagasan dari kedua website tersebut yang langsung berkaitan dengan tema-tema pokok yang diusung mereka yakni Islam literal-konservatif dalam www.hidayatullah.com dan Islam liberal-progresif dalam www.islamlib.com. Data primer juga akan berisi ide dan gagasan dari kedua webiste tersebut, yang secara langsung maupun tidak, digunakan untuk meng-counter ide dan gagasan mereka satu sama lain. Sementara itu, data sekunder akan berisi data umum terkait ide dan gagasan kelompok Islam literal-konservatif dan liberal-progresif di Indonesia, data terkait eksistensi dan peran kedua website tersebut, data tentang perang pemikiran Islam di internet, dan sebagainya. Prosedur Ada empat prosedur penelitian yang akan ditempuh yakni heuristik, analisis, interpretasi dan kritik. Pertama, tahap heuristik yaitu kegiatan penelusuran dan pengumpulan sumber penelitian

(Winarno Surachmad, 1972:124). Pada tahap ini diharapkan sudah terkumpul dan terklasifikasi beberapa data mengenai objek kajian baik data primer maupun data sekunder. Kedua, tahap analisis menggunakan metode analisis isi (Neuman, 2000: 427). Pada tahap ini data yang sudah dikumpulkan dan diklasifikasi akan dianalisis berdasar tema-tema spesifik yang diangkat oleh kedua website sebagai bahan kajian berkaitan dengan ide dan gagasan dasar pemikiran pengelola kedua website tersebut dan berkaitan dengan upaya mengcounter pemikiran mereka satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, tahap interpretasi dengan menggunakan pola berpikir deduktif-induktif. Dengan demikian data hasil analisis isi akan dilihat relasinya, baik dengan tataran konseptualteoritis (deduktif) maupun dengan tataran praksis-realitas (induktif). Keempat, tahap kritik dengan menggunakan method of differance (Neuman, 2000: 427). Pada tahap ini hasil interpretasi akan menjadi referensi sejauh mana kritik bisa diberikan peneliti terhadap ide dan gagasan kedua website tersebut dalam konteks perang pemikiran ke-Islaman yang sedang mereka jalankan. Analisis Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Selanjutnya, data juga akan dianalisis dengan menggunakan analytic comparison dengan menggunakan method of difference (Neuman, 2000: 427) dan framing analysis. Dalam menganalisis dengan metode tersebut, peneliti akan mengkaji perbedaan-perbedaan isi website islamlib.com dan hidayatullah.com. Isi keduanya yang akan dikaji yakni yang menyangkut tema dan gagasan dasar, serta kasus penting yang diangkat untuk mempromosikan Islam literal-konservatif dan Islam liberalprogresif, serta yang berkaitan dengan upaya untuk meng-counter satu sama lain, baik langsung maupun tidak, serta respon mereka terhadap isu-isu aktual yang sedang berkembang di Indonesia. BAB 2 TENTANG ISLAM LIBERAL-PROGRESIF & LITERAL-KONSERVATIF ISLAM LIBERAL-PROGRESIF Islam liberal-progresif merupakan sisi lain dari gerakan Islam Indonesia kontemporer, selain Islam literal-konservatif. Hingga sekarang, gerakan ini telah dengan cepat melebarkan sayapnya karena kemampuannya untuk bersuara nyaring dengan menggunakan media dan forum-forum strategis sehingga menjadikan eksistensi, ide dan gagasan mereka menarik perhatian banyak pihak. Istilah Islam liberal-progresif sendiri sebenarnya masih menjadi perdebatan. Namun demikian dari banyaknya variasi definisi dan macam gerakan liberal-progresif Islam, menurut Charles Kurzman, tidak bisa dilepaskan dari 6 gagasan dasar mereka yakni: Pertama, melawan teokrasi (against theocracy). Kelompok Islam liberal-progresif menolak ide penyatuan agama dan negara dan menolak pandangan bahwa syariah Islam mewajibkan sistim politik tertentu bagi tegaknya politik Islam. Syariat Islam, dipahami

kaum Islam liberal-progresif, bukan sebagai sistem hukum melainkan sebagai sistim nilai. Kelompok Islam liberal-progresif membagi wilayah kehidupan menjadi dua, yakni wilayah privat dan publik. Ritual-ritual keagamaan merupakan sesuatu yang terkait dengan persoalan privat, sedangkan persoalan kenegaraan merupakan wilayah kehidupan publik. Karena agama berkepentingan dan hanya terkait dengan persoalan privat, maka kelompok Islam liberal-progresif berkeberatan terhadap pemberlakuan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan bernegara karena beberapa alasan seperti misalnya wahyu Illahi menyerahkan bentuk pemerintahan pada konstruksi pemikiran manusia, sebagaimana Nabi SAW tidak membangun prinsip-prinsip tertentu bagi pemerintahan selanjutnya dan sebagainya. Kedua, mendukung gagasan dan praktek demokrasi. Demokrasi ini, bagi kelompok Islam liberal-progresif merupakan jalan yang memungkinkan terwujudnya kemaslahatan publik dan Islam jelas-jelas memberi dukungan terhadap ide dan gagasan ini. Hal ini, misalnya, bisa kita lihat dalam khasanah tradisi Islam, di mana melalui penerapan konsepsi syura (musyawarah) yang memberikan kesempatan seluas-seluasnya bagi masyarakat untuk berpartisipiasi aktif dalam proses kebijakan kenegaraan. Ketiga, membela hak-hak kaum perempuan (rights of women) dan kesetaraan gender (gender equity). Pada beberapa bagian kitab suci, memang terdapat beberapa teks yang kalau dimaknai secara literal (harfiyyah) mengandung potensi bias gender. Namun demikian teks-teks seperti ini, menurut kalangan liberal tidak bisa dipisahkan dari konteks turunnya ayat (al-azbab al-nuzul) dan bias kebudayaan Arab masa lampau yang patriarchal. Padahal, Islam sesungguhnya telah mengangkat sedemikian tinggi derajat kaum perempuan bila dilihat dari sudut masa kelahiran Islam sendiri. Bagaimana tidak, ditengah ketiadaan hak-hak perempuan dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyyah, Islam memberikan hak waris bagi perempuan dan itu adalah bagian dari spirit pembebasan Islam. Oleh karena itu kaum liberal mendukung model pendekatan modern terhadap kitab suci yang tidak hanya menekankan aspek harfiyyah tapi juga sejarah turunnya ayat (alazbab al-nuzul) dan juga kontekstualisasi ayat tersebut pada kondisi sekarang, seperti hermeneutika Keempat, membela hak-hak non-Muslim (minoritas) dan mendukung pluralisme agama. Kelompok Islam liberal-progresif menyadari adanya tafsir terhadap simbol-simbol agama kaitannya dengan kelompok agama lain yang masih sarat dengan kecurigaan dan kebencian. Padahal pembelaan hak-hak kaum non-Muslim dan minoritas mendapat basis argumentasi historisnya yang kuat, terutama melalui kesepakatan Piagam Madinah pada jaman Nabi SAW. Piagam ini oleh kelompok Islam liberal-progresif dipandang sebagai kesepekatan konsensual yang mengatur hubungan sosial antara komunitas Muslim dan non-Muslim secara terbuka. Oleh karena itu, kehidupan agama yang pluralistik menurut kaum liberal harus dikukuhkan dengan prinsip dasar persamaan dan keadilan untuk semua agama. Pluralisme agama menjadi sebuah keniscayaan dalam membangun hubungan yang harmonis dan dialogis serta toleran antar umat berbeda agama. Kelima, menjunjung tinggi kebebasan berpikir (freedom of thought). Bagi kelompok Islam liberal-progresif, kebebasan berpikir adalah sesuatu yang niscaya dan Islam sendiri

sudah mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemikir. Demikian juga syariah yang mendorong kaum Muslim untuk melakukan refleksi dan penyelidikan. Bagi kelompok Islam liberal-progresif, tidak mungkin berlaku prinsipprinsip demokrasi, kesetaraan gender, penafsiran kontekstual terhadap teks-teks agama tanpa di dasari adanya kebebasan berpikir. Keenam, membela gagasan kemajuan (progress). Hal ini berhubungan erat pada bagaimana kelompok Islam liberal-konservatif melihat modernitas dan perubahan sosial sebagai proses transformasi sikap yang bersifat positif dan potensial. Keenam ide dan gagasan diatas adalah garis besar yang dapat ditarik dari ragam kelompok Islam liberal-progresif yang muncul. Betapapun sesama kelompok Islamliberal progresif terkadang satu sama lain memiliki sejumlah perbedaan. ISLAM LITERAL-KONSERVATIF Perbedaan-perbedaan antar varian dalam Islam liberal-progresif sebenarnya juga berlaku dalam konteks kelompok Islam literal-konservatif. Namun demikian, sama seperti kelompok Islam liberal-progresif, meskipun banyak sekali variannya, menurut Muhsin Jamil, dengan tegas kelompok Islam literal-konservatif menarik garis perbedaan keyakinan dengan kelompok-kelompok Islam yang lain, terutama Islam liberal-progresif. Garis-garis keyakinan tersebut antara lain: Pertama, doktrin mengenai kitab suci. Kelompok Islam literal-konservatif mendengungkan rumusan pendek bahwa kitab suci adalah firman suci Tuhan secara keseluruhan. Konsekuensinya mereka menolak pendekatan-pendekatan modern terhadap kitab suci, termasuk menolak hermeneutika. Oleh karena itu mereka lebih suka memahami ajaran kitab suci secara tekstual-literal (harfiyyah). Kedua, menekankan kebenaran absolut atas sebuah agama sembari menolak agama lain memiliki kemungkinan menjadi sumber keagamaan. Oleh karena itu kaum literalis menolak gagasan pluralisme agama, yang memungkinkan adanya pengakuan kebenaran atas agama lain sembari berpijak secara rigid bahwa agama yang benar satu-satunya hanyalah Islam. Kedua ide dan gagasan diatas merupakan bagian-bagian dari keyakinan fundamental kelompok Islam literal-konservatif dan oleh karena itu berimplikasi kepada banyak hal sebagai bagian dari tradisionalisme, eksklusivisme dan formalisme mereka dalam memahami Islam, termasuk menolak ide-ide dan gagasan yang diusung kelompok Islam liberal-progresif. Karena karakternya yang bersifat fundamental ini, sebagian ahli menyebut kelompok Islam literal-konservatif ini sebagai fundamentalisme Islam. Penggunaan istilah inipun sebenarnya masih diperdebatkan. Namun demikian, menurut Martyn E Marty, terdapat 4 prinsip yang bisa digunakan untuk menandai kaum fundamentalisma agama, termasuk Islam. Pertama, fundamentalism adalah oppositionalism. Fundamentalisme Islam adalah bentuk

perlawanan terhadap ancaman yang mereka pandang membahayakan eksistensi agama, seperti modernitas, sekularisasi, liberalisasi dan tata nilai Barat pada umumnya. Kedua, menolak hermeneutika. Kaum fundamentalisme Islam menolak sikap kritis terhadap teks dan interpretasinya. Teks al-Qur’an, dengan demikian, harus dipahami secara literal (harfiyyah) sebagaimana adanya, karena mereka menganggap nalar manusia dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat pada teks. Ketiga, menolak pluralisme agama. Kaum fundamentalisme Islam menganggap pluralisme agama adalah hasil penafsiran yang keliru terhadap teks kitab suci. Pluralisme agama juga sering dituduh kaum fundamentalis Islam sebagai penyebab umat beragama terjebak pada relativisme agama serta berpotensi mengurangi kadar kepercayaan dan keimanan atas kebenaran agama yang mereka anut. Keempat, menolak perkembangan historis dan sosiologis. Kaum fundamentalisme Islam terkadang menganggap bahwa perkembangan historis dan sosiologis telah membawa manusia semakin jauh dari doktrin literal kitab suci. Dalam kerangka inilah, mereka menganggap masyarakat yang harus menyesuaikan perkembangannnya dengan teks kitab suci, bukan sebaliknya, teks atau penafsirannya yang mengikut perkembangan masyarakat. Karena itulah kaum fundamentalisme Islam bersifat ahistoris dan asosiologis dan tanpa peduli bertujuan kembali kepada bentuk ideal yang dipandang mengejwantahkan kitab suci secara sempurna. Bagi kaum ini, zaman kaum salaf dipandang sebagai bentuk ideal masyarakat Muslim. BAB 3 JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL): PROMOTOR LIBERALISME DAN PROGRESIVISME ISLAM SEJARAH JIL : Riwayat Perjuangan Meng-counter Radikalisme dan Literalisme Islam Jaringan Islam Liberal (JIL) merupakan sebuah forum bebas, tempat dimana sekelompok pemuda Muslim mendiskusikan dan mendiseminasikan (menyebarkan) konsep liberalisme Islam di Indonesia. Menurut Luthfie Assyaukanie, salah satu penggagas berdirinya JIL, raison d’etre didirikannya JIL adalah untuk meng-counter maraknya pengaruh dan aktivitas kelompok Islam radikal dan literal di Indonesia pasca tumbangnya rezim Suharto pada tahun 1998. Deskripsi resmi tentang JIL, bisa kita lihat dalam website JIL yakni www.islamlib.com yang menyatakan bahwa JIL adalah sebuah komunitas yang mengkaji dan mengetengahkan perbincangan mengenai visi keIslaman yang toleran, terbuka dan mendukung penguatan proses demokratisasi di Indonesia. Sementara itu, nama "Islam liberal" menggambarkan prinsip-prinsip yang mereka anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. "Liberal" di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Islam liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Mereka memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu "liberal". Untuk

mewujudkan Islam Liberal, mereka membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). JIL sejak awal memang memilih bentuk jaringan, dan bukannya organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun partai politik. Jaringan dianggap bentuk yang cocok, karena ia bisa menjadi wadah yang longgar bagi siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam liberal. Gagasan yang dimaksud telah tertera dalam Manifesto Islam Liberal yakni: (1) membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, (2) mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks, (3) mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural, (4) memihak pada yang minoritas dan tertindas, (5) meyakini kebebasan beragama, dan (6) memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Sejarah munculnya JIL berawal dari kongkow-kongkow dan ngobrol-ngobrol antara Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Muhammad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur pada bulan Februari 2001. Tempat inilah yang kemudian dijadikan markas JIL. Dari kongkow-kongkow dan ngobrol-ngobrol itu kemudian diperluas melalui sebuah mailing list (milis) yang bernama islamliberal@yahoogroups.com. Bahkan, mereka kemudian menggelar sebuah diskusi untuk pertama kalinya pada 21 Februari 2001 di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta dengan topik “Akar-Akar Liberalisme Islam: Pengalaman Timur Tengah” dengan pembicara Luthfi Assyaukanie. Diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi-diskusi lainnya, baik dalam bentuk pertemuan face-to-face maupun melalui milis. Diskusi online (melalui milis) pertama kali diselenggarakan pada bulan Maret 2001 dengan topik “Agenda dan Masa Depan Islam Liberal”. Topik ini dipilih terutama untuk mengklarifikasi konsep Islam Liberal dan alasan dibalik pendirian JIL. Beberapa orang yang terlibat dalam diskusi ini antara lain: Ade Armando, AE Priyono, Denny JA, Hamid Basyaib, Ichan Loulembah, Luthfi Assyaukanie, Nirwan Ahmad Arsuka, Putut Widjanarko, Rizal Mallarangeng, Robin Bush, Saiful Mujani, Sukidi, Taufik Adnan Amal, Zainal Abidin Bagir dan Uni Zulfiani Lubis. Beberapa anak muda yang terlibat dalam proses awal pendirian JIL memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Meski demikian karakter mereka kurang lebih demikian: Muslim, kebanyakan dari kelas menengah, intelektual muda, meski ada juga yang merupakan politisi dan penulis terkenal. Dari beberapa anak muda tersebut, figur-figur yang dianggap mewakili fase awal pendirian JIL dan bisa dikatakan sebagai pendiri JIL karena keterlibatan aktif mereka antara lain: Ahmad Sahal, Budhy Munawar-Rahman, Goenawan Muhammad, Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukanie, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Ihsan Ali-Fauzi, AE Priyono, Samsurizal Panggabean, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani dan Hadimulyo. Figur penting lainnya yang menjadi nara-sumber pendirian JIL termasuk diantaranya beberapa intelektual Muslim senior seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat. Luthfi Assyaukanie kemudian dipilih menjadi koordinator JIL yang pertama. Ia bertugas untuk merancang diskusi dan menyelenggarakan diskusi off-line dan on-line melalui milis. Sejak diskusi pertamanya, orang yang terlibat (partisipan) dan orang yang tertarik

(simpatisan) untuk join dengan JIL semakin banyak. Sebagai sebuah forum terbuka dan tanpa kekakuan organisasi, JIL memang tidak memiliki sistim keanggotaan. Oleh karena itu, tidak ada data tentang berapa jumlah anggota JIL yang sebenarnya. Setelah melelwati masa beberapa waktu, karena mau melanjutkan pendidikan S3-nya di Melbourne University, Australia, koordinator JIL kemudian diganti dari Luthfi menjadi Ulil AbsharAbdalla, yang pada saat itu juga menjadi direktur eksekutif Lakpesdam NU. Selanjutnya, pada tahun 2005 karena harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan S3-nya di Boston, Amerika Serikat (AS) atas beasiswa Fullbright, Ulil mengundurkan diri dari jabatannya sebagai koordinator JIL. Jabatan tersebut kemudian digantikan oleh Hamid Basyaib yang masih dipegangnya sampai sekarang (2007). Sejak didirikan sampai dengan sekarang (2001-2007), JIL menyelanggarakan banyak sekali aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan publik dan menyuarakan ide-ide liberal Isam, aspirasi dan penafsiran toleran atas ajaran Islam di Indonesia. Aktivitas dan program JIL antara lain: Pertama, sindikasi penulis Islam liberal. Maksudnya adalah mengumpulkan tulisan sejumlah penulis yang selama ini dikenal (atau belum dikenal) oleh publik luas sebagai pembela pluralisme dan inklusivisme. Sindikasi ini akan menyediakan bahan-bahan tulisan, wawancara dan artikel yang baik untuk koran-koran di daerah yang biasanya mengalami kesulitan untuk mendapatkan penulis yang baik. Dengan adanya “otonomi daerah”, maka peran media lokal makin penting, dan suara-suara keagamaan yang toleran juga penting untuk disebarkan melalui media daerah ini. Setiap minggu, akan disediakan artikel dan wawancara untuk koran-koran daerah. Kedua, talk-show dikantor berita radio 68H Jakarta. Talk-show ini akan mengundang sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai “pendekar pluralisme dan inklusivisme” untuk berbicara tentang berbagai isu sosial-keagamaan di Tanah Air. Acara ini akan diselenggarakan setiap minggu, dan disiarkan melaui jaringan Radio namlapanha di 40 Radio, antara lain; Radio namlapanha Jakarta, Radio Smart (Menado), Radio DMS (Maluku), Radio Unisi (Yogyakarta), Radio PTPN (Solo), Radio Mara (Bandung), Radio Prima FM (Aceh). Ketiga, penerbitan buku tentang Islam, pluralisme dan inklusivisme agama. JIL berupaya menghadirkan buku-buku yang bertemakan pluralisme dan inklusivisme agama, baik berupa terjemahan, kumpulan tulisan, maupun penerbitan ulang buku-buku lama yang masih relevan dengan tema-tema tersebut. Beberapa buku terbitan JIL antara lain: Wajah Islam Liberal di Indonesia (2002), Islam Liberal (2002), Menjadi Muslim Liberal (2005), Syariat Islam: Pandangan Muslim Liberal (2005) dan sebagainya. Keempat, penerbitan buku saku (booklet) dan leaflet yang berisi artikel pendek, wawancara ataupun abstraksi dari buku tentang isu-isu kontroversial dalam agama. Untuk kebutuhan pembaca umum, JIL menerbitkan buku saku setebal 50-100 halaman dengan bahasa renyah dan mudah dicerna. Buku Saku ini akan mengulas dan menanggapi sejumlah isu yang menajdi bahan perdebatan dalam masyarakat. Tentu, tanggapan ini dari perspektif Islam Liberal. Tema-tema itu antara lain: jihad, penerapan syari’at Islam, jilbab, penerapan ajaran “memerintahkan yang baik, dan mencegah yang jahat” (amr

ma’ruf, nahy munkar), dll.Booklet pertama yang diterbitkan JIL berjudul ‘Qur’an Untuk Perempuan’ karangan Nasarudin Umar, seorang guru besar studi Islam dari UIN Jakarta. Kelima, membuat situs www.islamlib.com. Situs ini menampilkan informasi peristiwa, kegiatan, wawancara dan tulisan yang relevan dengan ide dan gagasan Islam liberal. Keenam, iklan layanan masyarakat ditelevisi yang berisi pesan pluralisme, toleransi keagamaan dan perdamaian antara pemeluk agama yang berbeda-beda di Indonesia. Untuk menyebarkan visi Islam Liberal, JIL memproduksi sejumlah Iklan Layanan Masyarakat (Public Service Advertisement) dengan tema-tema seputar pluralisme, penghargaan atas perbedaan, dan dan pencegahan konflik sosial. Salah satu iklan yang sudah diproduksi adalah iklan berjudul "Islam Warna-Warni". Ketujuh, diskusi tentang Islam. Melalui kerjasama dengan pihak luar (universitas, LSM, kelompok mahasiswa, pesantren, dan pihak-pihak lain), JIL menyelenggarakan sejumlah diskusi dan seminar mengenai tema-tema keislaman dan keagamaan secara umum. Termasuk dalam kegiatan ini adalah diskusi keliling yang diadakan melalui kerjasama dengan kelompok-kelompok mahasiswa di sejumlah universitas, seperti Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Institut Pertanian Bogor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Aktivitas-aktivitas tersebut di atas sebenarnya merupakan implementasi dari misi-misi yang sudah digariskan JIL. Misi-misi tersebut yakni: Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut, serta menyeberkannya kepada seluas mungkin khalayak. Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Mereka yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat. Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi. Dengan segala aktivitasnya tersebut di atas, JIL memang kemudian tidak hanya memperoleh banyak sekali apresiasi dan dukungan, tetapi juga menuai reaksi kritik dan bahkan ancaman, terutama dari kelompok Islam literal-konservatif dan radikal. Bentuk reaksinya pun bermacam-macam: dari ancaman mati, somasi, teguran sampai kritik dalam bentuk buku. Ancaman mati datang dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) pada 30 November 2002, yang ketika berkumpul di Masjid al-Fajar Bandung mengeluarkan pernyataan berisi fatwa menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan massif melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam dan para ulama. Mereka terpicu tulisan provokatif Ulil Abshar-Abdalla selaku koordinator JIL di koran Kompas pada 18 November 2002 berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam yang dirujuk sebagai contoh penghinaan Islam dan karenanya menurut FUUI dapat diancam dengan hukuman mati. Menurut ketua FUUI, Athian Ali, fatwa tersebut bukan hanya ditujukkan untuk Ulil tetapi untuk membongkar JIL yang saat itu dia pimpin.

Reaksi yang berupa teguran, misalnya, datang dari tausyiah (rekomendasi) PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur pada 11-13 Oktober 2003. Isi tausyiah tersebut intinya berupa anjuran kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU agar mewaspadai dan mencegah pemikiran Islam liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam liberal dimunculkan oleh pengurus NU (disemua tingkatan), PWNU meminta agar diberikan sanksi yang tegas, baik berupa teguran keras maupun sanksi organisasi (termasuk dianulir dari kepengurusan). Reaksi berupa somasi dilancarkan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Melaui melalui ketua Departemen Data dan Informasi-nya yakni Fauzan al-Anshari, MMI mensomasi stasiun televisi RCTI dan SCTV yang memproduksi iklan JIL berjudul “Islam WarnaWarni”. Sementara itu, kritik terhadap JIL dalam bentuk buku bisa kita lihat dalam buku karya Hartono Ahmad Jaiz, Adian Husaini, dan Adnin Armas. Buku Hartono berjudul Bahaya Islam Liberal (2002). Pada akhir buku ini, misalnya, Hartono menyerukan pengadilan atas Islam Liberal yang ia nilai telah jauh dari kebenaran. Di antara dosa JIL, menurut Hartono, adalah menolak syariat Islam. Buku Adian berjudul Islam Liberal: Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (2002). Dalam buku ini Adian menyorot 3 agenda JIL yakni: (1) pengembangan teologi inklusifpluralis yang dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan aqidah, (2) isu penolakan syariat Islam yang dipandang sebagai bagian dari penghancuran global dan (3) upaya penghancuran Islam fundamentalis yang dianggap merupakan bagian dari proyek Amerika atas usulan zionis Israel. Buku Adnin berjudul Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal (2003). Buku ini berisi kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam Liberal. Reaksi terbesar kelihatannya dihadapi JIL pada akhir tahun 2005 lalu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui hasil Musyawarah Nasional (MUNAS) ke VII yang berakhir pada Jum’at, 29 Juli 2005 mengeluarkan 11 fatwa yang salah satu diantaranya (poin ke 7) mengharamkan umat Islam untuk mengikuti tiga paham kontemporer yakni sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Dalam fatwa MUI tersebut, liberalisme atau jelasnya Islam Liberal dimaksudkan sebagai pemikiran Islam yang menggunakan pikiran manusia secara bebas, bukan pemikiran yang dilandasi agama. Latar belakang pengharaman itu, seperti diduga banyak orang, selalu dikaitkan dengan makin bersinarnya eksistensi Jaringan Islam Liberal (JIL) yang mendapat dukungan dari generasi muda Islam progresif baik dari NU, Muhammadiyah dan yang lainnya dengan tokohnya yang paling vokal pada saat itu Ulil Abshar-Abdalla. Padahal, dalam kenyataannya wacana liberalisme Islam tidak hanya di usung JIL tapi juga organisasi yang lainnya dan bahkan sudah di dahului oleh Yayasan Paramadina sebagai pelopor Islam liberal di Indonesa, dengan Nurcholish Madjid sebagai tokoh utamanya. Sampai dengan saat ini, setelah segala hambatan tersebut di atas dilalui JIL, JIL masih tetap eksis dan melanjutkan misinya dengan berbagai aktivitasnya seperti tersebut di atas, termasuk mengelola website-nya, www.islamlib.com.

WWW.ISLAMLIB.COM: “MENCERAHKAN, MEMBEBASKAN” Website www.islamlib.com adalah situs resmi JIL. Dengan motto “Mencerahkan, Membebaskan”, keberadaan situs ini berawal dari dibukanya milis Islam Liberal yakni (islamliberal@yahoogroups.com) pada bulan februari 2001 yang mendapat respon positif. Selanjutnya, ada usulan dari beberapa anggota untuk meluaskan milis ini ke dalam bentuk website sehingga bisa diakses oleh kalangan yang lebih luas. Sementara itu, milis akan tetap dipertahankan untuk kalangan terbatas saja. Semua produk JIL (sindikasi media, talk show radio, dll.) dimuat dalam website ini. Website ini juga memuat setiap perkembangan berita, artikel, atau apapun yang berkaitan dengan misi JIL. Menurut Luthfi Assyaukanie, website www.islamlib.com diup-date seminggu sekali pada hari selasa. Pada hari itu juga sekaligus diadakan rapat redaksi untuk membicarakan isuisu yang akan dimuat dalam website tersebut. Dewan redaksinya antara lain: Hamid Basyaib, Akhmad Sahal, Luthfi Assyaukanie, Nong Darol Mahmada, Burhanudin, Novriantoni, M. Guntur Romli, dan Ulil Abshar-Abdalla. Sementara itu Anick HT bertugas sebagai editor website, Lanny Octavia sebagai penerjemah bahasa Inggris, dan Arif Widianto sebagai staf TI (Tekonologi Informasi). Jika anda mengakses website www.islamlib.com, di bagian awal anda akan menemukan tulisan: Dengan nama Allah, Tuhan pengasih, Tuhan penyayang, Tuhan segala agama. Di bagian awal juga terdapat logo dan tulisan JIL serta pilihan mengakses website tersebut dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Selanjutnya, jika anda mengakses website tersebut dalam bahasa Indonesia, tampilan yang akan anda temui adalah dibagian atas terdapat logo dan tulisan JIL serta mottonya: mencerahkan membebaskan. Dibagian atas juga terdapat fasilitas “pencarian” (browsing). Juga terdapat kolom “Depan”, “Tentang JIL”, “Program”, dan “Kontak”. Di bawahnya terdapat 2 kelompok besar yakni: (1) Rubrik dan (2) Fasilitas. Rubrik berisi: Editorial, Wawancara, Kolom, Diskusi, Klipping, Tokoh, Buku dan Pernyataan pers. Sementara itu Fasilitas: Milis, Newsletter, Direktori E-books, Direktori situs, Statistik artikel, dan Pengiriman artikel. Penelitian ini akan dibatasi pada 3 rubrik saja dari website www.islamlib.com yakni editorial, wawancara dan kolom. Pemilihan ketiga rubrik tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan yakni: (1) rubrik tersebut paling rajin di up-date oleh redaktur JIL, (2) berdasarkan concern JIL seperti yang tertuang dalam manifesto Islam liberal-nya, isi ketiga rubrik tersebut paling merefleksikan ide dan gagasan JIL dalam mensupport manifesto tersebut. Berikut ini akan dijelaskan isi dari ketiga rubrik tersebut sebagai bahan analisis. Editorial Rubrik editorial berisi artikel-artikel yang ditulis dewan rekasi JIL. Isinya merefleksikan respon formal JIL terhadap isu-isu yang aktual berkaitan dengan dunia Islam di

Indonesia. Rubrik ini diisi secara berganti-ganti oleh anggota dewan redaksi sesuai hasil rapat mereka tiap hari selasa. Selama kurun waktu Oktober 2005 sampai dengan Januari 2007, isi rubrik editorial adalah sebagai berikut: Edisi Judul Editorial Penulis 15/01/2007 Progresivitas Kaum Santri Abdul Moqsith Ghazali 08/01/2007 Kolom Agama Anick HT 25/12/2006 Mempertimbangkan Ulang Orientalisme Novriantoni 18/12/2006 Harmoni Islam dan Kristen Abdul Moqsith Ghazali 11/12/2006 Dari Qasim Untuk Aa Gym M. Guntur Romli 04/12/2006 Setelah 20 Tahun Paramadina Luthfi Assyaukanie 27/11/2006 Abu Syuqqah dan Perempuan Umdah el-Baroroh 20/11/2006 Jihad: Bunuh Diri Keren? Novriantoni 17/11/2006 Menjadi Muslim Amerika Ulil Abshar-Abdalla 14/11/2006 Uluran Tangan Watt Ulil Abshar-Abdalla 06/11/2006 Keberanian dan Kebebasan Beragama M. Guntur Romli 25/10/2006 Nabi Perempuan Abdul Moqsith Ghazali 16/10/2006 Perempuan dan Kue Donat Nong Darol Mahmada 10/10/2006 Fenomenologi Ramadhan Novriantoni 01/10/2006 Kultur Takfir Abdul Moqsith Ghazali 27/09/2006 Fundamentalisme dan Neoliberalisme Luthfi Assyaukanie 19/09/2006 Dua Thaha di Sudan M. Guntur Romli 12/09/2006 Sapere Aude, Kaum Santri! Novriantoni 05/09/2006 Masjid dan Peradaban Yang Merosot Ulil Abshar-Abdalla 28/08/2006 Membentengi Islam Abdul Moqsith Ghazali 22/08/2006 Merdeka dan Liberal Ahmad Sahal 14/08/2006 Desa Muslim Anick HT 07/08/2006 Manifesto OKI Novriantoni 31/07/2006 Bush, Israel dan Hezbollah Ulil Abshar-Abdalla 24/07/2006 Ajakan Putri Libanon M. Guntur Romli 17/07/2006 Berharap pada NU Abdul Moqsith Ghazali 10/07/2006 Menciptakan Mukjizat Novriantoni 03/07/2006 Al-Qur’an Sebagai Wahyu dan Data Sejarah Ulil Abshar-Abdalla 26/06/2006 Islam-Phobia, Xeno-Phobia dan Milad Hanna M. Guntur Romli 19/06/2006 Cahaya Harold Bloom Hamid Basyaib 15/06/2006 Premanisme dan NKRI Abdul Moqsith Ghazali 12/06/2006 NKRI Sudah Final Luthfi Assyaukanie 05/06/2006 Gempa dan Teologi Apokaliptik Luthfi Assyaukanie 30/05/2006 Kenapa Kajian Islam Mandeg? Ulil Abshar-Abdalla 22/05/2006 Meneladani Kesantunan Tuhan Abdul Moqsith Ghazali 15/05/2006 Tmir, Salat di Mesir Hamid Basyaib 09/05/2006 Masih Tentang Ahmadiyah Ulil Abshar-Abdalla 01/05/2006 Pelajaran Dari Parlemen Syariat Saiful Mujani 24/04/2006 Dilema Kadima M. Guntur Romli 10/04/2006 Belajar Kembali Bernegara Luthfi Assyaukanie 03/04/2006 Tentang Perda Pelacuran Abdul Moqsith Ghazali

27/03/2006 Revisi SKB dan Intoleransi Beragama Novriantoni 20/03/2006 Poso Abdul Moqsith Ghazali 13/03/2006 Kita Dai Bukan Kadi M Guntur Romli 07/03/2006 Ulama Su’ Abdul Moqsith Ghazali 27/02/2006 Pentingnya Pembaruan Islam Luthfi Assyaukanie 21/02/2006 Kezaliman Berjamaah Novriantoni 13/02/2006 Membakar Surga M. Guntur Romli 06/02/2006 Wahabisasi Islam Indonesia Abdul Moqsith Ghazali 30/01/2006 Dawam dan Citra Muhammadiyah Yang Hilang Luthfi Assyaukanie 23/01/2006 Islam Badil dan Islam Bedil M Guntur Romli 16/01/2006 Ismail atau Ishak? Abdul Moqsith Ghazali 09/01/2006 Tentang Iman Ulil Abshar-Abdalla 02/01/2006 Ujian Buat Din M Guntur Romli 29/12/2005 Natal dan Perdamaian Abdul Moqsith Ghazali 28/12/2005 Salamun ‘Alaika Ya al-Masih! Novriantoni 20/12/2005 Perang (Tidak) Suci Abdul Moqsith Ghazali 12/12/2005 Kesungguhan TPT MUI Hamid Basyaib 05/12/2005 Tim Jihad MUI Hamid Basyaib 28/11/2005 Meliberalkan Sabda Abdul Moqsith Ghazali 22/11/2005 Saya Sudah di Surga, Ustad! M Guntur Romli 16/11/2005 Sinetron Religius Abdul Moqsith Ghazali 08/11/2005 Idul Fitri A Mustofa Bishri 01/11/2005 Islam Madinah Luthfi Assyaukanie 24/10/2005 Hasutan Berjubah Agama Luthfi Assyaukanie 11/10/2005 Pindah Agama Abdul Moqsith Ghazali 03/10/2005 Di Seputar Generik JIL Hamid Basyaib Wawancara Rubrik wawancara berisi dialog dengan tokoh dan figur terkenal baik dari dalam maupun luar negeri tentang respon, komentar, analisis dan solusi mereka terhada problem dan dinamika umat Islam Indonesia, baik yang sudah, sedang maupun akan terjadi. Pemilihan tokoh dan figure yang akan diwawancarai, menurut Luthfi Asyaukanie, didasarkan pada isu-isu actual yang sedang berkembang dimasyarakat dan JIL kemudian mewawancarai tokoh dan figur yang expert dalam isu-isu tersebut. Selama kurun waktu Oktober 2005 sampai dengan Januari 2007, isi rubrik editorial adalah sebagai berikut: Edisi Judul Wawancara Tokoh Yang Di Wawancarai 15/01/2007 Refleksi Kebebasan Berekspresi 2006: Budaya Kebebasan Kini Beranakpinak Ahmad Suaedy (Wahid Institute) 08/01/2007 Butuh Waktu Lama Mengubah Pola Pandang MM. Billah (Komnas HAM) 25/12/2006 Shabiah, Agama Samawi Yang Berasas Tauhid Raeed Hasoun Baakal (The Sabean Mandean Community) 18/12/2006 Poligami Rapuhkan Unit-Unit Keluarga Neng Dara Affiah (Komnas Perempuan) 11/12/2006 Tuhan Tak Perlu Hukum Pidana Ifdhal Kasim (ELSAM)

04/12/2006 Kita Perlu De-Saudinisasi Islam Soheib Benceikh (Grand-Mufti, Marseille Perancis) 27/11/2006 Paramadina Harus Pertahankan Stamina Budhy Munawar-Rachman (Paramadina) 20/11/2006 Geertz Geser Dikotomi Jadi Trikotomi M. Dawam Rahardjo (LSAF) 14/11/2006 Aspirasi Parokhial Khianati Demokrasi Saiful Mujani (LSI) 06/11/2006 Islam Masa Lampau Itu Membebaskan KH Hussein Muhammad (Fahmina) 25/10/2006 Kita Selalu Butuh Tafsir Yang Sesuai Zaman Achmad Chojim 16/10/2006 Suicide Terrorism Lebih Di Picu Oleh Nasionalisme Ihsan Ali-Fauzi (Mahasiswa PhD, Ohio University) 10/10/2006 Rahmat Tuhan Tidak Terbatas Jalaludin Rahmat 04/10/2006 Gus Dur Adalah Jendela, Garansi dan Lokomotif Abdul Moqsith Ghazali dan Rumadi 27/09/2006 Paham Keagamaan Di Tentukan Pengalaman Endi Bayuni (The Jakarta Post) 19/09/2006 Persepsi Tentang Islam Akan Berubah Oleh Empat Hal Nadia Madjid (VoA) 12/09/2006 Gagasan Salaf-Jihadi Sedang Di Terjemahkan Sydney Jones (ICG) 05/09/2006 Seni Tidak Hanya Berfungsi Untuk Tujuan Yang Luhur Endo Suanda (Etnomusikolog) 28/08/2006 Teks Proklamasi Di Buat Tergesa-Gesa Gunawan Muhammad (Tempo) 22/08/2006 Bush Selalu Ingin Hasil Cepat dan Segera Philip Jusario Vermonte (CSIS) 14/08/2006 Munas Kembalikan NU Ke Khittahnya Syafiq Hasyim (ICIP) 07/08/2006 Kesalehan Ritual Tidak Menunjang Pertumbuhan Ari A Perdana (CSIS) 31/07/2006 Kita Perlu Lobi Tandingan Israel Ahmad Sahal 24/07/2006 Kami Di Paksa Munafik DR.Wahyono Raharjo (BPKBB) 17/07/2006 Pada Akhirnya Akal Yang Menghukumi Agama Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi (Univ. Paris) 10/07/2006 Masyarakat Sudah Cerdas dan Perlu Pilihan Asrori S Karni (Gatra) 03/07/2006 Iklim Kebebasan Kita Harus Di Syukuri Fauzi Isman (Mantan Kelompok Warsidi) 26/06/2006 Tak Seorangpun Bisa Mengkapling Surga Cok Sawitri (Komponen Rakyat Bali/KRB) 19/06/2006 MUI Mestinya Di Swastanisasi Ahmad Suaedy (Wahid Institute) 12/06/2006 Toleransi Akan Lestari Kalau Tak Ada Politisasi Slamet Gundono (Dalang) 05/06/2006 Kalau Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang Greg Barton (Australia) 30/05/2006 Radikalisme Hanya Ekspresi Sekelompok Orang Ahmad Taufik (Garda Kemerdekaan) 22/05/2005 Agama-Agama Tak Mungkin Di Samakan Metta Darmasaputra (Forum Samantabadra) 15/05/2006 Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi Wahyu Prasetyawan 09/05/2006 Intoleransi Juga mengalami Demokratisasi Martin van Bruinessen (ISIM) 01/05/2006 Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan Nia Dinata (Sineas) 24/04/2006 Demokrasi Penting, Supremasi Hukum Lebih Penting Lakhdar Brahimi (Diplomat Al-Jazair) 10/04/2006 Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja! Abdurrahman Wahid (NU) 03/04/2006 Segala Sesuatu Ada Karmanya Ni Gusti Ayu Sukma Dewi (Pansus RUU APP

DPR) 27/03/2006 Puritanisme Menghambat Kemajuan Sarlito Wirawan Sartono (UI) 20/03/2006 Otonomi Individu Harus Di Perjuangkan Hamid Basyaib (JIL) 13/03/2006 Negara Tak Perlu Mengatur Kepercayaan M Dawam Raharjo (LSAF) 07/03/2006 Syariat Islam Yes, Isinya Nanti Dulu! Jajang Jahroni (PPIM UIN) 27/02/2006 Kritisisme dan Kebebasan Harus Di Perjuangkan M. Fadjroel Rachman (BPMSI) 21/02/2006 Reaksi Berlebihan Merepotkan Muslim Eropa Gunawan Muhammad (Tempo) 13/02/2006 Tuhan Tak Bisa Di Sentuh, Tapi Dapat Di Ajak Dialog Jeffrie Geovanie (The Indonesian Institute) 06/02/2006 Hak-Hak Dasar Harus Dijamin Rezim Demokratis R William Liddle (Ohio University) 30/01/2006 Ideologisasi Islam Kini Sedang Bergerilya Luthfi Assyaukanie (Paramadina) 23/01/2006 Agama Adalah Kualitas Personal Kautsar Azhari Noer (UIN) 16/01/2006 Perlu Kearifan Membiarkan dan Memberikan Waktu Rm Eddy Kristianto (STF Driyarkara) 09/01/2006 Situasi Sosial-Keagamaan 2006 Bisa Lebih Buruk Siti Musdah Mulia (ICRP) 02/01/2006 Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan Ioanes Rakhmat (STT Jakarta) 28/12/2005 Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya Butet Kertaredjasa (Aktor) 20/12/2005 Semua Orang Merindukan Tuhan, Tapi…. Radhar Panca Dahana (UI) 12/12/2005 Pesantren Harus Pertahankan Jati Dirinya Lili Zakiyah Munir (CEPDES) 05/12/2005 Dakwah Para Teroris Itu Bertuah Syu’bah Aasa (Wartawan) 29/11/2005 Negara Belum Jadi Essential Outsider Yudi Latif (Paramadina) 22/11/2005 Tingkat Kecemasan Hidup Menentukan Peringkat Keberagamaan Martin Lukito Sinaga (STT Jakarta) 08/11/2005 Kembali Ke Fitrah, Kembali Ke Yang Substansial KH Hussein Muhammad (Fahmina) 01/11/2005 Tanpa Pencarian, Tak Kan Pernah Ada Wahyu Achmad Chojim 24/10/2005 Aksi Terorisme Melawan Agama Dan Kemanusiaan Zuhairi Misrawi (P3M) 17/10/2005 Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom Acep Zamzam Noor (Sanggar Sastra Tasik) 11/10/2005 Dahulukan Akhlak Di Atas Fiqh Jalaludin Rahmat 03/10/2005 Negara Tidak Punya Hak Mengurusi Keimanan Abdul Aziz Sachedina (Virginia University) Kolom Rubrik kolom berisi artikel yang ditulis oleh anggota dewan redaksi JIL maupun tulisan kiriman dari simpatisan dan atau kontributor JIL. Isinya kebanyakan merupakan respon, komentar, kritik dan solusi terhadap perkembangan dunia Islam di Indonesia. Beberapa artikel yang dimuat dalam rubrik ini juga ditampilkan lagi pada kolom Opini koran harian Jawa Pos yang memang merupakan sindikasi JIL. Selama kurun waktu Oktober 2005 sampai dengan Januari 2007, isi rubrik kolom adalah sebagai berikut: Edisi Judul Kolom Penulis

25/12/2006 Natal dan Pluralisme Agama Moh. Sofan 18/12/2006 Jalan Sensualitas, Pintu Spiritualitas Muhammad Nugroho 11/12/2006 Negara Madinah dan Sekularisme Hamid Basyaib 04/12/2006 Memaknai Kembali Jihad M Guntur Romli 20/11/2006 Buku Pelajaran Agama dan Kekerasan Luthfi Assyaukanie 14/11/2006 Mengenang Jasa Watt dan Geertz Muhammad Ali 06/11/2006 Lebaran Untuk Semua Martin Lukito Sinaga 01/10/2006 Semangat (Islam) Cordova M Najibur Rohman 27/09/2006 Penoda, Ujian dan Berkah Ramadhan Andree Moller 19/09/2006 Spiritualitas Naquib Mahfoudz Muhammad Nugroho 12/09/2006 Second Muhammadiyah: Refleksi 3 Tahun Perjalanan JIMM Moh. Sofan 05/09/2006 Naquib Mahfoudz dan Dialog Peradaban M Guntur Romli 05/09/2006 Mengenang Kembali Nurcholish Madjid Bawono Kumoro 28/08/2006 Belajar Toleransi dari Kelenteng Muh. Kholid AS 22/08/2006 Ketemu Ma’ruf Amin Hamid Basyaib 19/08/2006 Libanon Pasca Perang M Guntur Romli 14/08/2006 “Agama Baru” dan Kebebasan Beragama Pradana Boy ZTF 07/08/2006 Tekstualisme, Islamisme dan Kekerasan Agama Jajang Jahroni 31/07/2006 Paradoks Islam Hadhari Luthfi Assyaukanie 24/07/2006 Muhammadiyah, Pancasila dan Kepemimpinan Inklusif Fajar Riza Ul-Haq 17/07/2006 Tantangan Pluralisme dan Kebebasan Beragama Muhammad Ali 10/07/2006 Islamisme, PKS dan Representasi Politik Perempuan Burhanuddin 03/07/2006 Menindak Kelompok Anarkhis Fajar Kurnianto 26/06/2006 Hibriditas Filsafat Islam Muhammad Nugroho 19/06/2006 Menuju Negara (Islam) Multikultural Ariyanto 19/06/2006 Gus Dur Al-Qur’an dan Pornografi M Guntur Romli 12/06/2006 Tuhan Pasca Musibah Slamet Thohari 05/06/2006 Iman Untuk Toleransi Sukidi 30/05/2006 The Da Vinci Code dan Kematangan Beragama Novriantoni 22/05/2006 Regulasi Pornografi: Belajar Dari Kasus Pengaturan Rokok Usep Hassan Sadikin 15/05/2006 Masihkah NU Menjadi Jangkar? Rumadi 09/05/2006 Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas Nadirsyah Hossein 01/05/2006 Empat Polemik Budaya Untuk Islam Liberal Nirwan Dewanto 24/04/2006 Dua Identitas Anick HT 10/04/2006 Teks Sebagai Jendela dan Cermin Ioanes Rakhmat 03/04/2006 Pembaruan Islam di Indonesia: Pandangan Kristen Martin Lukito Sinaga 27/03/2006 RUU APP: Ketegangan Modernisme dan Fundamentalisme Abdul Mukti Ro’uf 20/03/2006 Kemurtadan Yang Niscaya dan Globalisasi Dakwah Ulil Abshar-Abdalla 13/03/2006 Memaknai Kembali Tajdid: Tambahan Untuk Luthfi Assyaukanie M. Najibur Rohman 08/03/2006 Liberalisme dan Anti-Imperialisme Ahmad Sahal 07/03/2006 Mungkinkan Integrasi HAM Ke dalam Pelajaran Agama Wilson Lalengke 06/03/2006 Ujian Untuk Konstitusi Kita Ulil Abshar-Abdalla 27/02/2006 Stratifikasi Pembaca Teks al-Qur’an A Sihabul Millah

22/02/2006 Surat Terbuka Kepada Ketua MPR Anick HT 21/02/2006 Memaknai Kembali Hubungan Islam-Barat Abdul Mukti Ro’uf 13/02/2006 Karikatur Nabi: Bentrokan Peradaban atau Ketidakberadaban? Andre Moller 06/02/2006 Dilema Agama dan Kebebasan Berekspresi: Kabar Dari Inggris Laksmi Prasvita 30/01/2006 Wajah Ganda Kaum Islamis: Kasus Hamas dan Ikhwanul Muslimin M Guntur Romli 23/01/2006 Nabi, Dukun, dan Penyair Ulil Abshar-Abdalla 20/10/2006 Formalisasi Syariat Islam DalamKonteks Kekinian Maksun 16/01/2006 Apologia: Isu Lama Media Baru Hairus Salim HS 09/01/2006 Suara Langit Trisno S Sutanto 02/01/2006 In Memoriam: Masyskur Maskub Penggerak Silent Transformation di NU Ulil Abshar-Abdalla 02/01/2006 Tradisi dan Pembaruan: Tanggapan Buat Ulil Muhammad Akib 01/01/2006 Al-Qur’an, Natal dan Pluralisme Agama M Guntur Romli 28/12/2005 Sandiwara Mengecam Terorisme? Luthfi Assyaukanie 20/12/2005 Problem Perbauran Muslim di Australia Pradana Boy ZTF 12/12/2005 Agnostisisme Intelektual Ulil Abshar-Abdalla 05/12/2006 Ketika “Media Kebencian” Masuk Pesantren Novriantoni 28/11/2005 Memetik Buah Warta Kebencian Pormadi Simbolon 22/11/2005 Azahari, Fundamentalisme dan Terorisme Wiwit Rizka Fatkhurrahman 16/11/2005 Islam Baghdad Luthfi Assyaukanie 01/11/2005 Mengkaji Ulang Makna Pembakaran Dosa Amir Tajrid 24/10/2005 Puasa dan Rekonstruksi Makna Jihad Zacky Khairul Umam 17/10/2005 Ketika Rumah Tuhan Jadi Kontroversi Tedi Kholiludin 11/10/2005 Puasa dan Transformasi Multikultural Choirul Mahfud 06/10/2005 Kekerasan Atas Nama Fatwa M Guntur Romli 03/10/2005 Melawan Budaya Kekerasan: Memaknai Ulang Pluralisme Trisno S Sutanto Dari judul-judul yang tertera pada ketiga rubrik di atas, nyatalah bahwa JIL melalui websitenya, memang merefleksikan kelompok Islam liberal-progresif di Indonesia yang bisa diidentifikasi pada concern mereka terhadap enam hal utama yakni: (1) melawan teokrasi, (2) mendukung demokrasi, (3) membela hak perempuan dan kesetaraan gender, (4) membela non-Muslim (minoritas) dan pluralisme agama, (5) menjunjung tinggi kebebasan berpikir, dan (6) membela gagasan kemajuan (progresif). BAB 4 YAYASAN HIDAYATULLAH: PROMOTOR LITERALISME DAN KONSERVATISME ISLAM SEJARAH YAYASAN HIDAYATULLAH: Dari Pesantren Sampai Usaha Bisnis Hidayatullah bermula dari sebuah pesantren yang didirikan (almarhum) Ustadz Abdullah Said pada 7 Januari 1976 di Balikpapan, Kalimantan Selatan. Pendiri pesantren, Abdullah Said (lahir 1946), mengalami masa-masa sulit pada awal pendirian pesantrennya.

Mulanya ia datang ke Balikpapan pada akhir tahun 1969 karena pelarian. Said yang bernama asli Muhsin Kahar, saat itu dikejar-kejar polisi karena menggalang Pemuda Muhammadiyah untuk mengobrak-abrik tempat perjudian di Makassar, Sulawei Selatan. Aksi itu meletus pada 28 Agustus 1969. Puluhan aktivis Islam yang dituduh terlibat dalam kasus itu kemudian ditahan polisi. Muhsin Kahar-pun disuruh menghilang oleh para Kiyai. Ia kemudian melarikan diri ke Balikpapan. Setibanya di Balikpapan, Muhsin Kahar berganti nama menjadi Abdullah Said dan kembali berdakwah. Pada tahun 1971, ia mengajukan ide mendirikan pondok pesantren dan perkampungan Muslim kepada Pengurus Muhammadiyah di Balikpapan. Akan tetapi, jawaban yang diterima dari pengurus Muhammadiyah justru nada pesimisme bahwa hal itu akan sulit untuk direalisasikan. Namun demikian, cita-cita Said tak lekas kunjung padam. Ia kemudian merantau ke Pulau Jawa, mencari guru ngaji. Akhrinya ia berhasil mengajak 4 pemuda lulusan pondok pesantren yakni, Hasyim (lulusan Gontor Ponorogo), Usman Palese (lulusan Persis Bangil), Hassan Ibrahim (lulusan Krapyak Yogyakarta) dan A Nazir Hassan (Majlis Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta). Perintisan pesantren di Balikpapan oleh Said dan kawan-kawannya dimulai dengan mengadakan pengajian kecil-kecilan dan berpindah-pindah. Ia bahkan sempat meminjam tempat jemuran padi yang cuma berukuran 3X4 meter persegi. Disanalah dilakukan semua kegiatan, mulai dari makan, tidur, shalat, sampai belajar. Kemudian ada yang meminjamkan emperan rumah. Pada saat itu santrinya juga masih sangat sedikit, tak lebih dari 10 orang. Namun lambat laun, berkat kegigihan Said dan kawan-kawannya anggota pengajiannya semakin lama-semakin besar. Kegiatan Said dan kawan-kawan sempat dituding beraliran paham sesat. Puncaknya, pada tahun 1974 ada yang melaporkan kepolisi bahwa Abdullah Said adalah Muhsin Kahar yang terlibat di dalam aksi mengobrak-abrik tempat judi lotto di Makassar. Untunglah ia Cuma ditahan selama seminggu. Tudingan sesat terhadap Said ternyata juha sampai ditelinga Walikota Balikpapan, Asnawi Arbain. Karena tak mau terkena hasutan, Asnawi langsung menemui Said dan kawan-kawannya. Ternyata, bukan larangan yang ia keluarkan, Asnawi justru malah mendukung dan menunjuk daerah di Gunung Tembak, bekas HPH, yang mungkin bisa dijadikan pesantren untuk Said dan kawan-kawannya. Pada tahun 1976, Pesantren Hidayatullah diresmikan oleh Menteri Agama pada saat itu, Prof. Mukti Ali. Dalam jangka 5 bulan, hutan, semak belukar dan rawa berhasil dibenahi dan jadi pemukiman yang artistik. Saranapun dipenuhi agar menjadi memadai seperti ada masjid, perpustakaan, asrama, dan ruang belajar. Kini luas arealnya bahkan mencapai sekitar 100 hektar. Sekarang kawasan itu dihuni sekitar 1600 warga, termasuk para santri pesantren. Abdullah Said meninggal dunia pada 4 Maret 1998 dalam usia 52 tahun. Sepeninggalnya, kepemimpinan Hidayatullah dipegang Ustadz Abdurahman Muhammad hingga sekarang (2007). Dari sebuah pesantren kecil, Hidayatullah kemudian berkembang menjadi amal usaha yang menguntungkan dan concern-nya diberbagai bidang mulai bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi juga menyebar tidak hanya di Kalimantan tetapi juga di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional (MUNAS) I pada tanggal 9—13 Juli 2000 di Balikpapan, Kalimantan Selatan, Hidayatullah mengubah

bentuk organisasinya menjadi organisasi kemasyarakatan (ORMAS), dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam. Hidayatullah memandang bahwa kemunduran umat Islam lebih disebabkan karena pandangan yang parsial dalam memahami keholistikan ajaran Islam. Masing-masing kelompok mengambil tema dan titik tekan program sesuai dengan pandangannya yang sangat parsial bahkan tema dan titik program itu seringkali menjadi semacam ideologi kelompok. Sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, Hidayatullah menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam (Al-harakah al-Jihadiyah alIslamiyah) dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya. Agenda utama Hidayatullah antara lain pelurusan masalah aqidah, imamah dan jamaah (tajdid), pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah), pembersihan jiwa (tazkiyatu alnufus), pengajaran dan pendidikan (ta’limatu al-kitab wa al-hikmah) menuju lahirnya kepemimpinan dan umat terbaik. Untuk merealisasikan agenda diatas, Hidayatullah menyusun visi dan misinya untuk periode 2005—2010. Visi yang telah disusun untuk periode sekarang adalah menjadi organisasi tingkat nasional yang unggul dan berpengaruh, didukung jaringan yang loyal dan berkualitas. Sementara itu, misi yang telah disusun adalah sebagai berikut: (1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM, (2) Mengintensifkan pelayanan ummat melalui aktivitas pendidikan dan dakwah, (3) Mewujudkan kemandirian ekonomi, dan (4) Mendorong penegakkan Islam pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat. Hidayatullah juga memiliki struktur dan mekanisme organisasinya sendiri. Pengurus organisasi ditingkat pusat terdiri dari dewan syuro dan dewan pimpinan pusat. Dewan syuro merupakan lembaga tertinggi organisasi, dipimpin oleh ketua dewan syuro yang juga sekaligus merupakan imam bagi jamaah Hidayatullah dengan sebutan sebagai pimpinan umum yang sekarang dijabat oleh H. Abdurrahman Muhammad. Ketua umum dewan pimpinan pusat (DPP) dipilih lewat Musyawarah Nasional (MUNAS) dan pengurus DPP disahkan oleh pemimpin umum di dalam munas tersebut untuk jangka waktu 5 tahun. Pemimpin umum periode sekarang adalah DR. H. Abdul Mannan, SE, MM. Struktur dibawah dewan pimpinan pusat (DPP) terdiri dari dewan pimpinan wilayah (DPW/tingkat propinsi), dewan pimpinan daerah (DPD/tingkat kabupaten-kota), dewan pimpinan cabang (DPC/tingkat kecamatan), pimpinan ranting (PR/tingkat desakelurahan), pimpinan anak ranting (PAR/tingkat RT-RW). Ketua dewan pimpinan wilayah/daerah/cabang dipilih oleh musyawarah ditingkat masing-masing dan disahkan oleh struktur di atasnya. Jaringan kerja (networking) Hidayatullah (hingga bulan Desember 2005) didukung dengan keberadaan 26 DPW dan 194 DPD, 51 DPD terdapat di pulau Jawa dan 143 DPD ada di luar pulau Jawa. Pada akhir tahun 2006 direncanakan terdapat tambahan 66 DPD dan 4 DPW. Jumlah DPC, PR dan PAR tidak dicantumkan karena pertumbuhannya yang terus berubah. Sekarang Hidayatullah telah memiliki banyak sekali unit kerja. Hidayatullah telah

memiliki lembaga pendidikan mulai TK, Playgroup dan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dihampir semua daerah, SMP/MTS dan SMA/MTS dihampir semua daerah. Sementara untuk perguruan tinggi, Hidayatullah telah memiliki Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman al-Haqim (STAIL) Surabaya, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Depok dan Universitas Hidayatullah di Depok. Di bidang dakwah, melalui pesantrennya dibeberapa daerah, Hidayatullah sampai akhir tahun 2005 telah menyebar 150 da’I bergelar sarjana ke seluruh Indonesia. Selain itu Hidayatullah membantu anak-anak tak mampu dengan mendirikan sekitar 200 PPAS (Pusat Pendidikan Anak Shaleh) yang ada dihampir setiap DPD. Hidayatullah juga memiliki Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang juga telah mendapat pengukuhan sebagai lembaga amil zakat nasional melalui SK Menag RI No. 538/2000. Kini BMH memiliki 30 kantor perwakilan dan 144 jaringan pos peduli (mitra) dan juga mendirikan klinik-klinik IMS (Islamic Medical Service) diberbagai lokasi. Ada juga Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang menggarap pemberdayaan wanita, keluarga dan anak. Kini Mushida telah memiliki 15 Pengurus Wilayah (PW) diseluruh Indonesia. Untuk mewadahi aspirasi kalangan remaja dan mahasiswa, Hidayatullah mendirika n Syabab (Pemuda) Hidayatullah. Pada Munas 2005, Pemuda Hidayatullah telah memilih kepengurusan tingkat pusat dengan ketua umum Drs Asdar Majhari. Hidayatullah juga telah mendirikan Induk Koperasi Hidayatullah (Inkohida) pada tahun 1999 dan disahkan Menkop dan PUKM RI No. 013/BH/M.1/1999. Kini Inkohida memiliki 9 Puskophida ditingkat propinsi dan 142 kophida ditingkat kabupaten-kota. Pada tahun 2004, menyikapi banyaknya musibah dan bencana alam, Hidayatullah juga membentuk Tim SAR (Search and Rescue). Tim ini diuji pertama kali pada bencana Tsunami di Aceh dimana Tim SAR Hidayatullah telah terjun sejak hari kedua dengan membuka posko di Lanud Iskandar Muda. Hidayatullah juga mendirikan Grand MBA (Gerekan Membudayakan Mengajar dan Belajar al-Qur’an) dan Pos MTQ (Majlis Taklim Qur’an). Selain itu DPP Hidayatullah sendiri hingga sekarang sudah memiliki beberapa amal usaha yakni: Pos Dai (wadah perkaderan dan koordinasi Dai), Inisiasi (Lembaga kajian peradaban Islam), Inisiasi Press (penerbit buku), PAI (Peduli Anak Indonesia), IMS, Badan Pengembangan Anggota, Badan Pengembangan Pondok Pesantren, Badan Wakaf Hidayatullah, dan Pusat Studi dan Pengembangan Pendidikan Islam. Sementara beberapa badan usaha, lembaga bisnis milik Hidayatullah, antara lain: PT Totalindo Rekayasa Telematika dibidang teknologi informasi, PT Lentera Jagad Abadi dibidang penerbitan pers dan non-pers, CV Jayamadina dibidang percetakan, Koperasi Sakinah dibidang retail dan swalayan dan sebagainya. Dibidang media, Hidayatullah memiliki Majalah Suara Hidayatullah (Sahid) dan situssitus Hidayatullah. Majalah Sahid berisi tentang problematika dan dinamika dakwah, baik di Indonesia maupun di dunia. Di dalamnya ada rubrik wawancara dengan tokoh ternama, kajian al-Qur’an dan Hadis, kisah heroik perjuangan dai diberbagai pelosok tanah air,

hingga masalah keluarga. Tiras rata-rata selama 5 tahun terakhir majalah full-color ini mencapai 60.000 eksemplar sekali terbit, dengan sebaran dari sabang sampai merauke. Sementara itu website-website Hidayatullah terdapat dalam beberapa website antara lain www.hidayatullah.or.id (berisi organisasi, amal-amal usaha terkait, layanan dakwah/pendidikan/sosial), website-website milik amal usaha mandiri seperti www.bmh.or.id (baitul mal hidayatullah), website luqman al-hakim, STIM, STAIL dsb. Selain itu website yang paling terkenal milik Hidayatullah adalah www.hidayatullah.com yang berisi majalah, berita, diskusi, artikel, wawancara, link-link Islam dan sebagainya. WWW.HIDAYATULLAH.COM: “TEGAKKAN ISLAM UNTUK MEMBANGUN PERADABAN ISLAM” Situs yang lengkap, demikianlah kalimat yang pas untuk menggambarkan content (isi) dari website www.hidayatullah.com. Dengan motto “Tegakkan Islam Untuk Membangun Peradaban Islam”, situs ini sekarang telah berkembang menjadi situs berita dunia Islam yang ramai dikunjungi dan menjadi ajang diskusi baik sesama aktivis Islam maupun kelompok non-Muslim. Anggota (members) pada akhir tahun 2005 tercatat telah mencapai 20 ribu orang aktif. Kelengkapan isi situs akan dapat kita lihat ketika mengaksesnya. Berdasarkan tampilannya, di bagian atas selain terdapat logo dan nama situ yakni hidyatullah.com, disebelah kiri atas terdapat direktori untuk mengakses langsung informasi tentang “wakaf tunai”. Sementara disebelah kanan atas terdapat direktori untuk mengakses langsung informasi “Gerakan Wakaf Al-Qur’an” yang dikoordinir oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah. Selanjutnya, masih pada halaman yang sama, terdapat pula direktori untuk mengakses langsung informasi tentang hal yang lain yang tertera dalam rubrik: Home, Login, Forum, Galeri, Webmail, Kolom, Adian Husaini, Syamsi Ali, Dzikrullah, Berita, Nasional, Internasional, Artikel, Opini, Kajian, Wawancara, Feature, Cermin, Pustaka, dan Teori Evolusi Menanti Ajal. Di bagian bawah, secara mencolok terdapat direktori dan up-date terkini untuk mengakses langsung informasi tentang: Kabar Dari New York; Oleh Syamsi Ali, Catatan Akhir Pekan (CAP); oleh Adian Husaini, Kolom Khusus Dzikrullah, Opini, Cermin, Features, dan Wawancara. Sementara itu dibagian paling bawah, tertulis coppy right Hidayatullah dot com dari 1996-2007 dan design dan webmater rief70. Penelitian ini akan dibatasi pada 2 rubrik saja dari situs www.hidayatullah.com yakni kolom opini dan CAP Adian Husaini. Pemilihan kedua rubrik tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan yakni: (1) kedua rubrik tersebut memiliki sisi ilmiah sebagai bahan kajian mengenai sebuah pemikiran, (2) berdasarkan concern Hidayatullah seperti yang tertuang dalam visi dan misi-nya, isi kedua rubrik tersebut paling merefleksikan ide dan gagasan Hidayatullah dalam mensupport visi dan misi tersebut. Berikut ini akan dijelaskan isi dari kedua rubrik tersebut sebagai bahan analisis.

Kolom Opini Kolom ini berisi artikel-artikel dari kontributor www.hidayatullah.com yang sesuai dengan visi dan misi hidayatullah.com. Kolom ini, meski tidak secara rutin, biasanya di up-date setiap seminggu sekali oleh redaktur situs tersebut. Berikut ini adalah isi kolom opini tersebut: Edisi Judul Opini Penulis 12 Agustus 2005 Legitimasi Fatwa Terakhir MUI:Kekeliruan liberal berpangkal logika hitam putih. Kalau Anda meyakini kebenaran Islam, anda dianggap tidak toleran, anda tidak boleh manganggap sesat orang. Dr. Syamsuddin Arif 30 Agustus 2005 Memahami Liberalisme:Tiga hal mencakup paham liberalisme. Pertama kebebasan berfikir, pandangan skeptic dan agnostic. Terakhir manifestasi nifaq. Tidak mau disebut kafir jika sudah tidak committed pada agamanya. Syamsuddin Arif, Ph.D 15 November 2005 ‘Jinayat’ Jil Terhadap Fiqih dan Fuqaha:Para penulis dari paham Islam Liberal sering menulis ‘ngaco’ di berbagai kesempatan bahkan berani memfitnah para fuqaha untuk melakukan pembodohan terhadap umat. Thoriq 1 Desember 2005 Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason:Istilah pluralisme agama tak hanya terjadi belakangan ini saja, istilah itu sudah pernah dikampanyekan gerakan freemanson dan theosofi dengan doktrin “Semper, ubique et ab omnibus” (bagian pertama dua tulisan) Adnin Armas, MA 5 Desember 2005 Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason:Selain tokoh gerakan freemason Olcott dan Blavatsky, tokoh yang ikut tertarik gagasan “pluralisme agama” adalah Rene Guenon dan Frithjoc Schuon (bag. Terakhir dari dua tulisan) Adnin Armas, MA 15 Februari 2006 Kekerasan Penjara Terdakwah Teroris:Tahun 1998, kasus penculikan dan penyiksaan aktivis Kristen Pius Lustrilanang bisa memukau wartawan dan menggetarkan iklim keamanan. Bagaimana dengan penyiksaan tersangka “teroris”? Fauzan Al-Anshar i 16 Febuari 2006 Serangan Pemikiran dalam Pendidikan: Perang pemikiran atau Ghazwu’l-fikri biasanya dipahami berasal dari dunia Barat secara umum yang mempunyai hubungan atau kepentingan di dunia Islam, khususnya pada pendidikan. Indra Yogiswara 22 Februari 2006 Semoga Aku Seorang Muslim Sejati:”Andai aku seorang muslim leiberal, maka aku akan melepas keyakinan-keislamanku dari segala bentuk otoritas tafsir”, ujar Haidar Baqir. Tulisan ini adalah jawaban dari tulisan Haidar itu Khalif Muammar

27 Februari 2006 Yang Tersisa Dari Kasus Ahmadiyah:Fenomena pelarangan Ahmadiyah ternyata masih menyisahkan masalah hingga kini. Meski MUI sudah mengeluarkan fatwa, ada saja yang mengatakan langkah itu melanggar HAM. Asiandi dan Supriyadi 8 Maret 2006 Pornografi dan Pornoaksi, Adakah Dalam Islam?:Kalangan feminisme dan aktifis perempuan “bersenandung-ria” dibalik definisi soal pornografi. Dalam Islam, pornografi jauh lebih jelas dan tegas. Hizbullah Mahmud 11 Maret 2006 Jihadnya Muslimah (bagian 2)Dengan jilbab justru para Muslimah merasa terbebas dari tekanan untuk kompetisi kecantikan, bebas dari objek seks di jalanan. “Sayapun bisa jadi lebih nampak sederhana,” kata Jennifer Al Shahida 16 Maret 2006 Beda Seni di Mata Barat dan Islam:Para seniman, artis, penyanyi, getol menolak RUU APP. Katanya dengan RUU ini seni dan kreatifitas tak berkembang. Islam tak melarang seni, kecuali memang ia ketakutan tak bisa lagi ’bertelanjangria’ Thoriq 17 Maret 2006 Soal Pornografi, Kenapa Tak “Melirik” Islam?: Kalau saja, para artis, seniman dan kalangan yang selalu berdalih bahwa definis pornografi dan pornoaksi ’tak jelas’ sedikit saja mau melirik ’konsep Islam’ mungkin masalah tak serumit ini. Hera Anggarawaty 27 Maret 2006 Bahaya Tafsir Pluralis:Kaum pluralis sering menggunakan pembenar surah Al Baqarah ayat 62 sebagai ayat rujukan ”Pluralisme Agama”. Dibawah ini Surat Al-Baqarah ayat 62 ditinjau dari segi bahasa. Khoiruddin 29 Maret 2006 Soal Pornografi: Kritik untuk Para “Gus”: Beberapa saat yang lalu, budayawan KH Mustofabisri atau kerap dipanggil Gus Mus dan Gus Dur menolak RUU APP. Tulisan ini kritik terhadap ungkapan para Gus. Nasrulloh Afandi 22 April 2006 Gerakan Feminisme Kembali ke ‘Sunnatullah’?:Feminisme Barat menggambarkan perubahan besar gerakan feminisme. Ujungnya kesadaran bahwa perbedaan pria dan wanita memang bersifat biologis. Dimanakah posisi feminisme Indonesia? (Artikel ini untuk mnyambut Hari Kartini 21 April 2006) Santi Soekanto 3 Mei 2006 Pornografi dan Pencemaran Bhineka Tunggal Ika?:Penolak RUU-APP barubaru ini membuka karnaval di bundaran HI, Jakarta. Alih-alih menolak RUU APP, mereka melakukan (apa yang ia sebut pawai budaya), tapi dengan sorak sorai pamer payudara. Berbudayakah? Nasrulloh Afandi 16 Mei 2006 Syari’at Porno? Para penolak syariat Islam kini sudah mengalami kemajuan luar biasa. Setiap gerakan apapun, kini, selalu dikaitkan untuk mewaspadai syari’at. Yang terbaru adalah masalah RUU APP. Muchib Aman Aly 6 Juli 2006 Akal-akalan Dalam Ijtihad:Penganut paham Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme (Sipilis) sering seenaknya menyalahgunakan istilah ijtihad hanya untuk akalakalan. Pantaskah kita disebut ‘mujtahid’? Hizbullah Mahmud

26 Juli 2006 Zionisme dan Sekularisme Berbaju Agama:Gerakan Zionisme bukanlah murni gerakan keagamaan Yahudi. Zionisme merupakan gerakan nasionalisme, bermotif duniawi yang menginginkan bangsa Yahudi memiliki tanah air sendiri dengan merampas. Tia Anwar Bachtiar 31 Agustus 2006 Menimbang Kembali Sekularisasi:Sekularisasi bukanlah prasyarat mutlak transformasi masyarakat dari tradisional menjadi modern. Dengan kata lain, masyarakat tak harus menjadi sekular untuk menjadi modern atau maju. Syamsuddin Arif, Ph.D 8 September 2006 Apa Salahnya Pluralisme Agama?:Meski fatwa MUI sudah berlalu, perdebatan soal pluralisme masih berlangsung. Semua orang seolah-olah mulai bicara. Sebenarnya, apa beda pluralisme dengan relativisme? Syamsuddin Arif, Ph.D 14 September 2006 Tantangan Liberalisme Pendidikan di Indonesia:Ada perkembangan di mana, ilmu-ilmu agama dianggap ilmu kelas tiga yang hanya layak dipalajari orangorang bodoh. Sementar ilmu-ilmu eksakta dianggap sebagai ilmu yang benar. Tia Anwar Bachtiar 28 September 2006 Ibnu Arabi dan Pluralisme: Beberapa kalangan mengutip dan mencatut nama Ibnu Arabi. Sayangnya kemudian mereka memanipulasi pendapatnya, untuk digunakan merusak aqidah Islam Dr Syamsuddin Arif 2 Oktober 2006 Benarkah Semua Pendapat Boleh Diikuti:Kalangan pro-sipilis (sekularisme, pluralisme & liberalisme) membolehkan orang melakukan tafsir sesuai kecenderungannya. Termasuk mengambil pendapat kalangan non Muslim? Benarkah dibolehkan? Thoriq Lee 16 Oktober 2006 Menyoal Batas Aurat Wanita Muslimah: soal Jilbab banyak ulama, termasuk imam mazhab. Umumnya tak ada perbedaan. Tulisan ini adalah catatan kecil untuk guru saya Dr. Quraish Shihab atas kekeliruannya (bag.kedua) Aep Saepulloh Darusmanwiati 6 November 2006 Menyoal Batas Aurat Wanita Muslimah: Para Ulama sudah gamblang menjelaskan batas-batas aurat. Tulisan ini merupakan catatan kecil untuk Guru saya Dr. Quraish Shihab atas kekeliruannya. (bag terakhir) Aep Saepulloh Darusmanwiati CAP Adian Husaini Kolom ini berisi Catatan Akhir Pekan (CAP) yang ditulis Adian Husaini dan bahkan juga disiarkan oleh Radio Dakta. Berikut ini adalah isi dari kolom CAP tersebut: Edisi Judul Kolom 1 Agustus 2005 Membela Ahmadiyah Berdasarkan HAM:Pembela Ahmadiyah berlindung dalam HAM untuk membolehkan aliran sesat. Jika ada aliran yang

‘menghina’ agama lain, bolehkah dibiarkan atas nama HAM? 17 Oktober 2005 “Bedah Pluralisme di Bandung”:Paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah menyedot dana dari lembaga-lembaga asing yang bergelimang uang. 21 November 2005 No APEC, No War, No Bush!”:Jika tak bisa mengendalikan liberalisasi dan globalisasi, Indonesia akan tetap menjadi Negara yang terus tergantung pada Negara lain. 28 November 2005 ‘Radikalisme dan Terorisme’:Depag berencana mengkaji dan melarang buku tentang jihad. Di masa Belanda, istilah ‘radikal’ bermakna positif. Sekarang dinisbatkan pada yang anti-AS. 19 Februari 2006 Menteri Agama dan Ahmadiyah:Pernyataan Menag tentang Ahmadiyah mendapat kecaman kaum sekular-liberal. Jika konsisten kaum liberal seyogyanya menghormati keimanan Menag. 14 Maret 2006 “Pornografi dan Liberalisme”:Wartawan senior Indonesia menuduh RUU APP ‘berbau Arab’. Nabi dan Imam Syafii juga orang Arab tapi mengapa kita mau mengikutinya? 27 Maret 2006 Paham Syirik Modern Serbu Pondok Pesantren:Mengejutkan!International Center for Islam dan Pluralism (ICIP) yang dikenal pengasong berat liberalisme bisa bekerjasama BKSPPI yang menolak ide liberal. 8 april 2006 Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia:Banyak tokoh Islam Malaysia terbengong-bengong karena para penyebar paham liberal di……..adalah orang-orang yang mempunyai latar belakang studi Islam. 16 April 2006 “Sikap Kaum Hindu Terhadap Islam”:Sebuah majalah Hindu Bali mencurigai Islam lewat RUU APP. Sebelum Bali menolak RUU itu ’para provokator’ sudah datang ke pulai itu. 21 April 2006 ”Somasi untuk Menter Agama”:Menag Maftuh Basyuni, disomasi oleh Dawam Rahardjo dan kelompoknya karena dianggap ’mendzalimi’ Ahmadiyah dan Lia Eden. 2 Mei 2006 ”Dawam Rahardjo, Geonawan Mohammad, dan Israel”:Goenawan mendapat penghargaan Dan David Prize dari Israel. Adakah hubungannya dengan Liberalisasi Islam di Indonesia? 21 Mei 2006 “Mengkritik Quraish Shihab”:Cendekiawan NU Mesir mengkritik buku Dr Quraish Shihab tentang jilbab yang dinailnya…..pada ulama yang kurang otoritatif dalam fikih.

31 Mei 2006 “PDS dan Syariah – Fobia”:Sikap ‘Islamophobia’ ditunjukkan kalangan Kristen saat protes anggota Parta Damai Sejahtera tentang sejumlah Perda yang bernuansa syariat Islam 19 Juni 2006 “Mempersoalkan Perda Syariat”:Beberapa wakil DPR berlatar belakang Islam, justru ikut-ikutan partai Kristen mempersoalkan perda-perda bernuansa Islam. 3 Juli 2006 “Islam Moderat”:Sebagian umat terjebab perangkap Amerika dan kawankawannya dengam memberi sebutan “Islam moderat”, Islam Radikal”, ”Islam Militan” atau Islam Fundamentalis. 18 Juli 2006 Nasib Islam Liberal Pasca Muktamar Muhammadiyah:Islam liberal terpental dari Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang. Apa sikap Din Syamsuddin pasca Muktamar? 25 Juli 2006 Ahmadiyah dan Masalah Kebenaran:Ada cendekiawan dan ulama melakukan pengkaburan antara iman dan kufur, dan antara mukmin dan ”kafir”. Ia juga mengkaburkan haq dan bathil. 3 September 2006 ”Hindu Pun Tolak Pluralisme Agama”:Panganut Agama Hindu ternyata juga menolak paham ”Pluralisme Agama”. Paham ini katanya sebagai ’Universalisme Radikal’. 9 September 2006 ”Mengenal Yahudi Liberal”:Paham liberal telah menggeser agama Yahudi membolehkan perkawinan homeseks. Ini pula yang pernah diusulkan kalangan mahasiswa IAIN Semarang. 18 September 2006 ”Tuhan Kita: Allah!”:Kaum pluralis mengatakan, semua agama menuju Tuhan yang satu. Padahal kelompok Kristen berbeda penggunaan nama Tuhan mereka. 23 September 2006 Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an:Dr. Quraish Shihab tetap berpendapat jilbab adalah masalah khilafiah, pendapat dan pandangan ulama salaf. 11 November 2006 Menyambut kedatangan Presiden Bush:Penyambutan Bush yang berlebihan menunjukkan betapa hegemoni peradaban barat begitu besar kepada kita. 20 November 2006 Hasil Penelitian Depag tentang Faham Liberal Keagamaan:Menyedihkan hasil penelitian Depag terbaru tentang pluralisme agama. ......katanya ”produk budaya”. 27 November 2006 Hasil penelitian Depag tentang Faham Liberal Keagamaan (2):Peneliti Depag mengatakan, di Surabaya tokoh-tokoh keagamaan banyak mendukung pemikiran Islam Liberal. Dari isi yang terdapat dalam kolom opini dan CAP Adian Husaini di atas, nyatalah bahwa

situs hidayatullah.com bisa dianggap merefleksikan kelompok Islam literal-konservatif di Indonesia. Indikasinya dapat kita lihat dari tema-tema yang diusung yang tidak keluar jauh dari ide-ide Islam literal-konservatif yakni; (1) Menolak hermeneutika, dan (2) menolak pluralisme agama. Juga tema-tema yang diusung tidak keluar jauh dari ide-ide fundamentalisme yakni: (1) oppositionalism terhadap sekularisme, liberalisme, modernitas dan tata nilai barat pada umumnya (2) menolak hermeneutika, (3) menolak pluralisme agama, (4) menolak perkembangan historis dan sosiologis. Padahal, hal-hal tersebut justru sangat diapresiasi dalam situs islamlib.com. BAB 5 ISLAMLIB.COM VS HIDAYATULLAH.COM : (SEBUAH PERANG PEMIKIRAN) Dalam bab ini akan dijelaskan hasil analisis melalui “pembacaan kritis” terhadap isi kedua website yang menjadi obyek kajian penelitian yakni islamlib.com dan hidayatullah.com. “Pembacaan” dilakukan untuk mengkaji konteks perang pemikiran berdasarkan isi kedua website tersebut, dan menggunakan content analysis method, method of difference dan framing analysis method terkait eksistensi kedua website tersebut sebagai media pemikiran Islam dengan segala kepentingan yang melatar belakanginya. HASIL ANALISIS Pembacaan terhadap isi kedua website tersebut di atas menghasilkan 4 kesimpulan umum: Pertama, meski memiliki pengertian yang sama tentang apa itu perang pemikiran (ghazw al-fikr), namun islamlib.com dan hidayatullah.com memberi penekanan yang berbeda dalam memaknai fenomena perang pemikiran. Keduanya memiliki pengertian yang sama bahwa ghazw al-fikr memang istilah yang popular dikalangan umat Islam (pergerakan) yang dimasudkan sebagai respon terhadap masuknya ide-ide Barat dan non-Muslim kedunia Muslim. Namun demikian, dalam memaknai fenomena ghazw al-fikri, islamlib.com cenderung memberi penekanan pada konteks respon gerakan Islam literal-konservatif (terhadap barat) yang dianggapnya terlalu berlebihan sehingga merugikan dunia Islam sendiri. Menurut islamlib.com, tidak semua ide yang berasal dari dunia Barat dan non-Islam itu bertentangan dengan Islam dan karenanya terhadap ide-ide seperti itu kaum Muslim harus menerimanya. Apalagi, faktanya, umat Islam sekarang sedang dalam kondisi terpuruk. Islamlib.com secara tegas menyatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari dunia Barat dan non-Islam terutama terkait dengan kemajuan-kemajuan yang telah mereka peroleh. Islamlib.com percaya bahwa Islam tidak melarang kaum Muslim untuk mendapatkan “hikmah” dari manapun ia berasal, termasuk dari dunia Barat dan non-Muslim. Sementara itu, berbeda dengan islamlib.com, hidayatullah.com justru dalam memaknai

ghazw al-fikr cenderung memberi penekanan pada masuknya ide-ide luar (barat) bertentangan dengan Islam, yang diliputi oleh semangat kolonialisme dan imperalisme dan oleh karena itu, menurut mereka, harus dilawan. Menurut hidayatullah.com, sejarah kelam hubungan Islam dan Kristen-Barat seperti terekam dalam Perang Salib dan momentum renaissance di dunia Barat yang diikuti dengan kolonisasi atas sebagian dunia Islam, membuat dunia Barat baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, berusaha menancapkan kekuasaan mereka atas dunia Islam. Salah satunya, adalah mentransfer ideide barat sebanyak mungkin ke dalam dunia Islam. Oleh karena itu, menurut hidayatullah.com, hal ini harus dicegah agar umat Islam tidak semakin terpuruk dan bahkan bisa memperoleh kejayaannya kembali (yang telah dicuri dan direbut) oleh dunia Barat. Hidayatullah.com percaya bahwa bila Allah SWT saja sudah memerintahkan manusia untuk lebih teliti dan hati-hati terhadap berita yang dibawa golongan fasiq, sudah tentu manusia diharuskan lebih ekstra teliti dan hati-hati didalam mengambil berita atau ilmu dari golongan yang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka dan Muhammad SAW sebagai nabi-nya. Kedua, secara umum bisa dikatakan bahwa kedua website tersebut merepresentasikan corak pemikiran Islam yang berbeda satu sama lain. Corak yang berlawanan dari isi kedua website tersebut adalah; corak pemikiran kritis dan progresif dari www.islamlib.com. Intinya islamlib.com mencoba menyajikan “suara-suara lain” dari dalam lingkungan Islam yang boleh jadi tidak sesuai dengan pendapat resmi yang selama ini dianut umat Islam. Jadi isi islamlib.com merefleksikan pemikiran dari sebagian umat Islam yang tak kerasan dengan penafsiran Islam yang sudah “resmi”, lalu mencoba mencari kemungkinan lain dalam mendefinisikan Islam. Hal ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari semangat ijtihad (pembaruan), progresif (kemajuan) dan modernisme beragama yang mereka pegang. Menurut Luthfi Assyaukanie ijtihad tersebut mutlak diperlukan, karena Islam Liberal menyadari bahwa Islam bukanlah agama yang hadir dengan sebuah konsep lengkap sekali jadi. Agama ini berevolusi, berinteraksi dengan masyarakat dan sesekali mengoreksi sendiri ketentuan lamanya yang sudah tak cocok dengan dinamika masyarakat dimana agama itu tumbuh dan berkembang. Al-Qur’an yang dibuat selama rentang masa lebih dari 23 tahun, merupakan rekaman yang baik dari dinamika ajaran Islam itu sendiri. Sebaliknya, isi hidayatullah.com justru ber-corak literal-konservatif dan normative. Intinya, hidayatullah.com mencoba menyajikan “suara resmi” dengan mengacu strategi garis-lurus terutama untuk menjaga “kemurnian” ajaran Islam. Hal ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari semangat taqlid dan tradisionalisme beragama yang mereka pegang. Ketiga, isi dari kedua website tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan upaya meng-counter satu sama lain. Yang dimaksud dengan counter langsung adalah counter yang secara jelas menyebut subyek penulis (baik penulis yang ada di www.islamlib.com dan yang ada di www.hidayatullah.com) maupun dengan menyebut “nama” website-nya. Sementara, yang dimaksud tidak secara jelas menyebut subyek penulis dan nama website, tapi hanya counter pada segi ide, gagasan dan wacana. Berdasarkan hal itu, maka islamlib.com lebih banyak meng-counter secara tidak

langsung, tanpa menyebut penulis dan atau situsnya yang ada di hidayatullah.com. Dengan demikian, dalam kegiatan counter-mengounter ide ini mereka bersifat pasif. Sebaliknya, hidayatullah.com cukup banyak meng-counter secara langsung, dengan menyebut penulis dan atau situsnya yang ada di islamlib.com. Dengan demikian, dalam kegiatan counter-mengounter ide ini mereka bersifat aktif. Islamlib.com yang bersifat tak langsung dan pasif, sementara hidayatullah.com bersifat langsung dan aktif, dalam kegiatan mereka meng-counter satu sama lain, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan mereka terhadap konsep ghazw al-fikri . Keempat, secara umum, kalau kita lihat perbedaan ketiga hal di atas, maka hal itu terefleksikan dengan jelas dalam respon kedua website tersebut terhadap isu-isu aktual yang sedang berkembang di Indonesia khusunya yang menyangkut umat Islam. Respon yang berbeda misalnya pada isu fatwa MUI, kasus Ahmadiyah, RUU APP dan poligami AA Gym. Meski demikian, pada isu-isu tertentu terdapat persamaan respon yang muncul dari keduanya (atau ada titik temu), contohnya respon terhadap penyerangan tentara Israel ke Libanon dan Palestina. MEMAKNAI GHAZW AL-FIKRI Seperti saya sebutkan di atas, meski memiliki pengertian yang sama bahwa istilah ghazw al-fikri popular dikalangan umat Islam (pergerakan) yang dimaksudkan sebagai respon umat Islam terhadap ide-ide yang berasal dari dunia Barat dan non-Muslim, tetapi islamlib.com dan hidayatullah.com memberi penekanan yang berbeda dalam memaknai pengertian tersebut, seperti telah saya jelaskan diatas. Penekanan yang berbeda itu dapat kita lihat dalam artikel di bawah ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi Perang Pemikiran Islamlib.com Luthfi Assyaukanie 31/05/2004 Serangan Pemikiran Dalam Pendidikan Hidayatullah.com Indra Yogiswara 16/02/2006 Perang Pemikiran (Luthfi Assyaukanie, islamlib) Dalam artikel ini, Luthfi ingin menegaskan bahwa istilah perang pemikiran (ghazw alfikri) lebih popular dikalangan Islam literal-konservatif dibanding kalangan Islam yang lain. Hal itu, menurut Luthfi, dikarenakan kalangan tersebut meyakini bahwa pemikiranpemikiran dari Barat cenderung bersifat menyerang dan memberikan dampak buruk bagi kaum Muslim. Pemikiran Barat mereka anggap dapat meracuni dan menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam. Salah satu tokohnya, Muhammad Qutb bahkan menganggap perang pemikiran ini lebih berbahaya dari pada perang fisik. Kalangan tersebut juga meyakini adanya teori pengaruh, yakni bila orang-orang Islam banyak membaca karyakarya orang Barat dan kaum orientalis, maka ia telah terpengaruh dan terperangkap dalam jarring zionisme dan Salibis. Begini petikan artikel Luthfi tersebut: Istilah "ghazwul fikri" sangat populer di kalangan kelompok pergerakan Islam. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti "perang pemikiran." Tak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya. Karya-karya Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Said

Hawwa, dan para ideolog Ikhwanul Muslimin kerap menggunakan istilah ini dengan semangat "perang salib."Saya kira, "ghazwul fikri," "teori pengaruh," atau apapun namanya, haruslah dipandang dengan kritis. Karena setiap pemikiran, apapun dan dari manapun sumbernya, adalah sebuah bentuk "peperangan" dan pasti punya pengaruh terhadap seseorang yang menggelutinya.Tidak ada dalam sejarah, kaum Muslim yang mengkaji dan menggeluti pemikiran Barat, menjadi perusak di muka bumi ini. Malah sebaliknya, mereka menjadi para pembaru yang namanya tercatat harum dalam sejarah pemikiran Islam modern. Sebutlah Rif'at Tahtawi, Muhammad Abduh, Al-Kawakibi, Taha Hussein, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr, Hassan Hanafi, dan Nurcholish Madjid. Mereka semua dianggap para pembaru yang punya kontribusi besar bagi pemikiran Islam.Tapi sebaliknya, bagi orang-orang yang membaca karyakarya para pendukung "ghazwul fikri" dan teori pengaruh, telah jelas-jelas pernah melakukan perusakan dan kekerasan di muka bumi ini. Contohnya saja Usamah bin Laden dan ke-19 teroris yang meledakkan gedung WTC pada 9 September 2001. Orangorang ini akrab dengan buku-buku Sayyid Qutb. Dalam sebuah wawancaranya jauh sebelum peristiwa 9/11, Usamah mengakui bahwa Fi Dhilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb adalah buku yang paling berpengaruh dalam dirinya.Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim sekarang adalah melawan pemikiran-pemikiran simplistis dan bodoh, yang kerap mengajak umat Islam terus-menerus mencurigai, membenci, dan mencaci "musuh" mereka, padahal musuh sesungguhnya adalah diri mereka sendiri. Sudah saatnya kaum Muslim berpikir positif, terbuka, kritis, dan berani mengambil posisinya sendiri tanpa dikuasai oleh pemikiran-pemikiran otoriter yang mengatasnamakan agama. Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim adalah melawan pemikiranpemikiran rasis, tak toleran, dan selalu membenci kelompok lain. Sebagian pemikiranpemikiran itu adalah warisan dari masa silam, dan sebagian lainnya adalah ciptaan mereka sendiri karena mengidap sizofrenia anti-Barat dan orientalisme. Serangan Pemikiran Dalam Pendidikan (Indra Yogiswara, hidayatullah) Berbeda dengan Luthfi, dalam artikel ini Indra justru ingin menegaskan bahaya yang dihasilkan serangan ide-ide barat (melalui pendidikan) terhadap pemikiran kaum Muslim. Ghazw al-fikrii maksud sebenarnya adalah serangan yang ditujukan kepada pemikiran Islam oleh lawan pemikiran itu sendiri. Menurut Indra, Serangan ini biasanya dipahami berasal dari dunia Barat secara umum yang memiliki kepentingan di dunia Islam. Dalam hal ini Barat berada dalam posisi kuat karena dominasi dalam segala bidang dan dunia Islam berada dalam posisi lemah karena pengaruh dominasi asing tersebut. Akibat dari serangan pemikiran ini terjadi di dunia Islam (Indonesia), menurut Indra, apa yang ia sebut “Pembaratan Pemikiran”. Contohnya seperti dalam petikan artikel Indra berikut ini: Pembaratan PemikiranSalah satu contohnya adalah, Prof. Dr. Harun Nasution yang sempat menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah (1973-1984), berangkat ke Montreal, Kanada dan menuntut ilmu di McGill University yang saat itu dan sampai sekarang mempunyai program yang dinamakan The McGill-IAIN Relationship. Dan struktur organisasi nya pun diisi oleh beberapa tokoh pendidikan dari IAIN seperti Azyumardi Azra dari UIN Jakarta , Amin Abdullah dari IAIN Yogyakarta. Buku yang mungkin menarik untuk dibaca berkenaan dengan dampak dari program kerjasama antara IAIN

dan McGill University adalah buku yang berjudul, "The Modernization of Islam in Indonesia, An Impact Study on the Cooperation between the IAIN and MC Gill University.Setelah menuntut ilmu disana, beliau pulang dengan membawa segudang pemikiran baru dan mengeluarkan buku berjudul "Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya", yang ketika itu menuai banyak kritik yang cukup tajam dari kalangan cendekiawan muslim lainnya karena buku itu penuh dengan pemikiran Barat terhadap Islam yang mempunyai banyak kelemahan dan dapat membuka pintu ke arah sekularisme, plurarisme dan liberalisme, dimana faham-faham tersebut telah difatwakan haram oleh MUI pada tanggal 29 Juli 2005. Salah satu tokoh yang gigih mengkritik isi buku tersebut adalah Prof. HM Rasjidi yang ternyata adalah satu almamater dengan Prof. Dr. Harun Nasution dan sama-sama pernah menuntut ilmu dari McGill University. Hanya yang menjadikannya beda adalah, Prof. HM Rasjidi seakan menggunakan kaidah, know your enemy so you know how to defeat them, sebaliknya dengan Prof. Dr. Harun Nasution yang justru seakan berkompromi dengan mereka. Di dalam lingkungan pendidikan yang kelihatannya Islami pun belum tentu seratus persen terbebas dari serangan pemikiran ini. Serangan pemikiran bekerja dengan cara yang lihai, terselubung dan mematikan (swift, silent & deadly). Penanaman ideologi yang menyimpang sekarang sangat mudah dilakukan bahkan di belakang titel profesor dan doktor. Maka tidak heran ketika seorang profesor dan cendekiawan muslim saat ini bisa meneriakan slogan "say no to syariat Islam”. Tentunya tidak semua orang bisa mendeteksi gejala serangan pemikiran ini. Oleh karena itu penanaman ilmu tentang Islam di usia sedini mungkin sangatlah diperlukan dan juga materi pembelajarannya tidak hanya berhenti misalkan hanya sampai tahap Al-Qur'an itu wahyu Allah dan Hadits adalah sunnah Rasulullah oleh karena itu wajib diimani, tapi juga mengerti mengapa Al-Qur'an dan Al-Hadits bisa tetap asli dan layak untuk diimani sehingga hal-hal yang menyangkut kedua dasar aqidah Islam yang sudah pasti tidak perlu diutak-atik lagi dengan alasan modernisasi Islam. “SUARA LAIN” ISLAMLIB VS “SUARA RESMI” HIDAYATULLAH: (Mempertimbangkan Corak Isi Website) Isi website Islamlib bisa dibilang merefleksikan “suara lain” dalam pemikiran Islam. Ia disebut “suara lain” karena acapkali merupakan pemikiran yang baru, dan berbeda dengan yang selama ini dianut mayoritas umat Islam. Itulah hasil dari apa yang mereka namakan Ijtihad Islam Liberal. Ssuara lain” bisa dilihat, contohnya, dari 3 artikel berikut ini: Judul Rubrik Penulis/tokoh Edisi Nabi Perempuan Editorial A Moqsith Ghazali 25/10/2006 Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja Wawancara Abdurrahman Wahid 10/04/2006 Kemurtadan Yang Niscaya & Globalisasi Dakwah Kolom Ulil Abshar-Abdalla 20/03/2006 Nabi Perempuan (A Moqsith Ghazali, islamlib)

Dalam tulisannya Moqsith menyatakan bahwa semua agama memiliki nabi atau rasul sebagai seseorang yang telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada seluruh umat manusia. Sejumlah buku menurut Moqsith menyebut bahwa jumlah Nabi yang diutus Tuhan ke bumi tak kurang dari 124 ribu nabi. Padahal nama-nama nabi yang tercantum dalam kitab-kitab suci baik Taurat, Zabur, Injil maupun al-Qur’an tak lebih dari 200 orang. Dengan demikian masih banyak nabi-nabi lain yang tak diketahui (Q.S al-Nisa’ (4) : 164), yang mungkin menggunakan identitas dan nama lain seperti Tuan, Pangeran, Pendeta, Kiai dsb dan Para nabi itu tak menumpuk di satu kawasan melainkan tersebar dipelbagai negara dan bangsa (Q.S al-Nahl (16) : 36). Dengan logika ini, menurut Moqsith kita bisa menyatakan bahwa dahulu mungkin saja pernah lahir seorang Nabi di kepulauan Indonesia. Bahkan, bukan hanya satu.Kebanyakan mufassir Islam sepakat bahwa nabi hanya terdiri dari laki-laki. Padahal, menurut Moqsith, setelah mengecek sejumlah kitab tafsir yang lain, nabi tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi perempuan. Misal Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan. Dikemukakan bahwa Maryam (Bunda Maria) adalah seorang nabi. Perempuan lain yang diangkat nabi, menurut kitab ini adalah, Sarah (Ibu Nabi Ishaq, istri Nabi Ibrahim), dan ibu Nabi Musa. Menurut Moqsith, ulama yang berpendapat demikian misalnya bersandar pada al-Qur’an al-Qashash (28) :7 yakni wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm (telah Kami wahyukan kepada ibu Musa; susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir kepadanya maka lemparkanlah ia ke dalam sungai). Moqsith menyertai ulama tersebut, bahwa wahyu bukan hanay turun pada laki-laki, melainkan juga perempuan. Padahal wahyu hanya terjadi pada diri seorang nabi karenanya perempuan yang mendapatkan wahyu adalah juga seorang nabi. Dengan demikian, menurut Moqsith, al-Qur’an telah menunjukkan bahwa Tuhan tak melakukan diskriminasi jenis kelamin dalam perkara pewahyuan sekaligus penabian. Isi artikel Moqsith di atas jelas bertentangan dengan pemahaman umum umat Islam bahwa Nabi berjenis kelamin laki-laki, dan Moqsith juga mengakui pemahaman umum tersebut. Ibn Qasim al-Ghuzzi (w. 918) dalam kitab Fath al-Qarib menyatakan bahwa nabi adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah. Dengan pengertian ini jelas tak ada nabi perempuan. Dengan demikian isi artikel Moqsith di atas bisa dikategorikan mewakili suara lain dalam pemikiran Islam karena berbeda dengan “suara resmi” yang selama ini banyak dipahami umat Islam. Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja (Gus Dur, islamlib.com) Kalau anda ingat dengan kasus terror yang diterima Abdurahman Wahid (Gus Dur) oleh sekelompok umat Islam yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta pada 23 Mei 2006 lalu, itu adalah karena mereka menuduh Gus Dur telah menghina Islam setelah tersiar kabar bahwa Gus Dur mengatakan al-Qur’an sebagai kitab suci porno. Nah berita itu sebetulnya lahir dari acara wawancara “Kongkow bareng Gus Dur” di kantor berita radio (KBR) 68 H Jakarta, yang transkripsi hasil wawancaranya dipublikasi website islamlib.com dengan judul di atas (Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja!) Berikut ini adalah petikan wawancara itu:

JIL: Bagaimana dengan barang dan tayangan erotis yang kini dianggap sudah akrab dalam masyarakat kita?Erotisme merupakan sesuatu yang selalu mendampingi manusia, dari dulu hingga sekarang. Untuk mewaspadai dampak dari erotisme itu dibuatlah pandangan tentang moral. Dan moralitas berganti dari waktu ke waktu. Dulu pada zaman ibu saya, perempuan yang pakai rok pendek itu dianggap cabul. Perempuan mesti pakai kain sarung panjang yang menutupi hingga matakaki. Sekarang standar moralitas memang sudah berubah. Memakai rok pendek bukan cabul lagi. Oleh karena itu, kalau kita mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah merupakan pemaksaan. Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk pihak yang lain. Contoh lain adalah tradisi tari perut di Mesir yang tentu saja perutnya terbuka lebar dan bahkan kelihatan puser. Mungkin bagi sebagian orang, tari perut itu cabul. Tapi di Mesir, itu adalah tarian rakyat; tidak ada sangkut-pautnya dengan kecabulan.JIL: Jadi erotisme itu tidak mesti cabul, Gus?Iya, tidak bisa. Anda tahu, kitab Rawdlatul Mu`aththar (The Perfumed Garden, Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya tatacara bersetubuh dengan 189 gaya, ha-ha-ha.. Kalau gitu, kitab itu cabul, dong? ha-ha-ha. Kemudian juga ada kitab Kamasutra. Masak semua kitab-kitab itu dibilang cabul? Kadang-kadang saya geli, mengapa kiai-kiai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum-penyanyi legendaris Mesir-bisa sambil teriak-teriak “Allah. Allah.” Padahal isi lagunya kadang ngajak orang minum arak, ha-ha-ha.. Sangat saya sayangkan, kita mudah sekali menuding dan memberi cap sana-sini; kitab ini cabul dan tidak sesuai dengan Islam serta tidak boleh dibaca.Saya mau cerita. Dulu saya pernah ribut di Dewan Pustaka dan Bahasa di Kuala Lumpur Malaysia. Waktu itu saya diundang Prof. Husein Al-Attas untuk membicarakan tema Sastra Islam dan Pornografi. Nah, saya ributnya dengan Siddik Baba. Dia sekarang menjadi pembantu rektor di Universitas Islam Internasional Malaysia. Menurut dia, yang disebut karya sastra Islam itu harus sesuai dengan syariat dan etika Islam. Karya-karya yang menurutnya cabul bukanlah karya sastra Islam. Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Kemudian saya mengulas novel sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, berjudul Zuqaq Midaq (Lorong Midaq), yang mengisahkah pola kehidupan di gang-gang sempit di Mesir. Tokoh sentralnya adalah seorang pelacur. Dan pelacur yang beragama Islam itu bisa dibaca pergulatan batinnya dari novel itu. Apakah buku itu tidak bisa disebut sebuah karya Islam hanya karena ia menceritakan kehidupan seorang pelacur? Ia jelas produk seorang sastrawan brilian yang beragama Islam. Aneh kalau novel itu tidak diakui sebagai sastra Islam.JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?Sebaliknya, menurut saya kitab suci yang porno di dunia adalah al-Qur’an, he he JIL: Maksudnya?Loh jelas, sekali. Di al-Qur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya juga menyusui, ya mengeluarkan tetek (payudara) kan? Porno ini dong. Banyak contoh lain, he..he..he.. Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalo orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa al-Qur’an itu kitab suci porno, karena ada ayat-ayat tentang menyusui (al-Baqarah: 233). Bagi yang ngeres, menyusui berarti mengeluarkan dan me-tetek, dan ada juga roman-romanan antara Zulaikha dan Yusuf (QS Yusuf: 24) Isi wawancara di atas kemudian memang menimbulkan polemik yang cukup panjang.

Sebagian yang kontra menyatakan bahwa Gus Dur telah menghina Islam dengan mengatakan Qur’an sebagai kitab suci porno. Sementara, sebagian yang pro, menyatakan bahwa yang menyatakan kita harus melihat ucapan Gus Dur tersebut dalam konteks dan situasinya. Mengambil ucapan Gus Dur secara sepotong-sepotong apalagi dengan mengabaikan konteks dan situasinya tentu akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda dan keliru dari yang dimaksud Gus Dur. Yang lebih memperparah polemik ini adalah terjadinya “pengusiran” terhadap Gus Dur di Purwakarta pada 23 Mei 2006 oleh sekelompok orang yang mengatas namakan umat Islam Purwakarta, sehingga semakin memperuncing konflik antara pihak yang kontra dan yang pro. Selain itu, tindakan redaktur islamlib.com yang kemudian mengedit ulang hasil transkripsi wawancara sering dijadikan legitimasi pihak yang kontra Gus Dur, sekaligus kontra JIL sebagai pengelola islamlib.com, untuk memberikan penegasan bahwa JIL memang tidak konsisten. Menurut redaktur islamlib.com, M. Guntur Romli, yang memang mewawancari Gus Dur, tindakan mengedit ulang dimaksudkan untuk menyamakannya dengan versi sebelumnya yang sebenarnya sudah dimuat di koran Jawa Pos. Tindakan itu juga dilakukan untuk menghindari polemik lebih lanjut dan agar tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang kontra Gus Dur dan JIL dengan cara mengutip penggalan dan secara sepotong-sepotong menggunakan bagian dari wawancara tersebut untuk kepentingan mereka. Apalagi, pihak redaktur islamlib.com juga merasa bahwa mereka memiliki hak untuk mengedit ulang, merevisi dan bahkan mengadakan perubahan atas isi website milik mereka tersebut. Kemurtadan Yang Niscaya & Globalisasi Dakwah (Ulil Abshar-Abdalla, islamlib) Pindah agama biasa disebut konversi. Ada dua model konversi: internal dan eksternal. Konversi internal adalah peristiwa yang hampir lazim terjadi dalam semua agama. Ia terjadi saat seseorang pindah dari mdzhab dan perspektif tertentu ke madzhab dan perspektif lain, tetapi masih dalam lingkungan agama yang sama. Seseorang yang semula “fundamentalis” berubah menjadi “moderat” atau sebaliknya, pada dasarnya telah melakukan konversi, tetapi dalam batas-batas agama yang sama.Dengan makin membludaknya pilihan-pilihan pendekatan dalam memahami agama (Islam, misalnya) maka peristiwa konversi internal hampir merupakan kejadian yang lazim terjadi setiap saat. Seorang sosiolog agama dari Boston University, Peter Berger, bahkan menyebut salah satu cirri modernitas adalah munculnya gejala “heretical imperative”, gejala kemurtadan yang niscaya. Murtad disini dimaknai menyimpang dari pandangan yang dominan dalam sebuah agama. Lebih jauh menurut Ulil, murtad internal jauh lebih sering terjadi ketimbang murtad eksternal. Yang terakhir ini biasanya terjadi dalam situasi yang sangat khusus. Ulil juga menyampaikan pendapatnya bahwa, agama yang paling bersemangat melakukan murtad eksternal saat ini adalah Kristen, terutama Kristen evangelis dengan beragam denominasi. Rangking kedua diduduki Islam, terutama Islam Wahabi yang didanai milyaran petro-dollar Arab Saudi. Rangking berikutnya adalah Budha. Dari judulnya saja orang langsung bisa menangkap pesan bahwa si penulis, Ulil AbsharAbdalla, ingin menyampaikan “suara lain” dalam ruang pemikiran Islam seperti yang dipahami awam. Tindakan murtad dalam Islam termasuk dipahami awam sebagai sebuah

tindakan dosa besar. Bagaimana mungkin Ulil kemudian menuliskannya dalam kalimat “kemurtadan yang niscaya” meskipun ia kemudian membaginya menjadi murtad internal dan murtad eksternal. Berbeda dengan isi islamlib.com yang mencerminkan “suara lain” dalam ruang pemikiran Islam, isi hidayatulloh.com justru merefleksikan “suara resmi” pemikiran Islam yang selama ini dipahami umum. “Suara resmi” dari hidayatulloh.com, misalnya, bisa dilihat dari 2 artikel berikut ini: Judul Rubrik Penulis/tokoh Edisi Semoga Aku Muslim Sejati Opini Khalif Muammar 22/02/2006 Tuhan Kita: Allah! CAP Adian Husaini 18/09/2006 Semoga Aku Muslim Sejati (Khalif Muammar, hidayatullah) “Andai aku seorang muslim liberal, maka aku akan melepaskan keyakinan keIslamanku dari segala bentuk otoritas tafsir”, ujar Haidar Bagir. Tulisan Khalif Muammar ini sebenarnya ditujukan sebagai jawaban dari tulisan Haidar itu. Dalam tulisan ini, Khalif mengajukan sepuluh hal berkaitan dengan tesisnya tentang semoga aku Muslim sejati. Kesepuluh hal tersebut yakni: Pertama, sebagai seorang Muslim sejati, aku akan meyakini bahwa aku berada dalam kebenaran. Bagiku Islam dan iman adalah hidayah dan nikmat yang telah Allah kurniakan kepadaku, karena keyakinanku tidak mungkin bersifat tentative. Kedua, Aku setuju dengan pandangan para sarjana Muslim seperti M Iqbal, al-Attas dan al-Faruqi bahwa masalah utama umat Islam adalah krisis ilmu. Bahwa jalan untuk mengembalikan kegemilangan tamadun Islam adalah melalui pemerkasaan budaya ilmu, pencerahan dan pemberdayaan ummat.Ketiga, dalam menghadapi kemajuan (modernity) yang pada hari ini disinonimkan dengan Barat, aku tidak akan bersikap terlalu terbuka (silau) dan tidak juga tertutup (konservatif). Keempat, aku akan menjadikan tradisi sebagai landasan untuk aku berpijak. Kelima, aku mempelajari filsafat Barat untuk tujuan perbandingan. Keenam, sebagai seorang Muslim sejati aku akan melaksanakan Islam sebagai salah satu cara hidup yang lengkap, oleh karenannya aku akan menentang sekulerisme dan sekularisasi dunia Islam. Ketujuh, bagiku metode hermeneutika hanya pantas diterapkan pada Bible. Ini karena baik dari segi sejarah maupun kandungan hermeneutika, al-Qur’an dan Bible jauh berbeda. Kedelapan, sebagai seorang Muslim sejati, aku tunduk sepenuhnya dengan perintah dan aturan yang diberikan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah. Kesembilan, karena aku memiliki worldvierw Islam, aku tidak akan hanyut dengan tren pemikiran Barat yang kabur dan selalu berubah. Terakhir, aku akan senantiasa berdoa agar aku senantiasa berada dalam hidayah dan inayah-Nya. Tuhan Kita: Allah! (Adian Husaini, hidayatullah) Melalui artikel ini, Adian Husaini ingin mengkritisi kaum pluralis yang mengatakan bahwa semua agama menuju Tuhan yang satu. Padahal, menurutnya, kelompokkelompok Kristen berbeda penggunaan nama Tuhan mereka. Ringkasan artikel Adian

adalah seperti berikut ini: Menurut Adian, ungkapan semua agama menuju Tuhan yang satu adalah tindakan kaum pluralis dalam “mengelirukan” kaum Muslim. Kaum pluralis mengatakan soal nama “Yang Satu” itu tidaklah penting. Yang Satu itu bisa dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One dan sebagainya. Ada yang menulis: “Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan segala agama”. (yang dimaksud Adian adalah tulisan pembuka di website Jil, www.islamlib.com, red). Selain JIL, Adian juga menunjukkan bukti, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan syahadat dengan : “Tidak ada Tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar)”. (Ini adalah ungkapan Nurcholish Madjid, red. JIL dan Nurcholish memang selalu dikritisi Adian dalam konteks mereka sebagai kaum pluralis.Padahal, lebih lanjut menurut Adian dalam artikel ini dengan mengutip Prolegomena to the Metaphysic of Islam karya Naquib al-Attas, konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas dan tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern, ataupun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. Tuhan dalam Islam, dikenal dengan Allah. Lafads Allah dibaca dengan bacaan tertentu. Kata Allah tidak boleh dibaca sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW, sebagaimana bacaan-bacaan ayat dalam al-Qur’an. Dengan adanya ilmu al-qiraat yang berdasarkan pada sanad- yang sampai pada Rasulullah SAW- maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.Dengan demikian menurut Adian, nama Tuhan yakni Allah bersifat final dan otentik, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah SAW. Umat Islam tidak melakukan spekulasi filosofis untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT- melalui al-Qur’an, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi SAW. Kalimat: Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan segala agama”, yang dimaksud Adian di atas adalah tulisan pembuka di website JIL, www.islamlib.com. Sementara, kalimat: Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar)”, ini adalah ungkapan Nurcholish Madjid. JIL dan Nurcholish memang selalu dikritisi Adian dalam posisi mereka sebagai kaum pluralis, termasuk dalam pemahamannya tentang relasi antara Islam dan agama lainnya. COUNTER PASIF-TAK LANGSUNG ISLAMLIB VS AKTIF-LANGSUNG HIDAYATULLAH: Isi dari kedua website tersebut, baik secara langsung maupun tidak, berupaya mengcounter pemikiran mereka satu sama lain. Yang dimaksud dengan counter langsung adalah counter yang secara jelas menyebut subyek penulis (baik penulis yang ada di www.islamlib.com dan yang ada di www.hidayatullah.com) maupun dengan menyebut “nama” website-nya. Sementara, yang dimaksud tidak secara jelas menyebut subyek penulis dan nama website, tapi hanya counter pada segi ide dan gagasan umumnya saja. Kalau kita memperhatikan isi website islamlib.com, jarang sekali ditemukan artikel yang

menyebut nama hidayatullah.com dan atau counter langsung terhadap artikel yang muncul di hidayatullah.com. Memang counter islamlib.com terhadap hidayatullah.com bisa dikatakan bersifat tak langsung dan pasif. Mungkin yang bisa menghubungkan counter islamlib.com terhadap hidayatullah.com ada dua yakni: (1) penyebutan nama ‘Adian Husaini” yang bisa dikatakan sebagai “icon” Hidayatullah terkait eksistensi CAP disitus tersebut, dan (2) counter terhadap isu-isu literalisme, konservatisme dan radikalisme Islam yang justru diangkat Hidayatullah.com. Kalau terkait counter terhadap isu-isu literalisme, konservatisme dan radikalisme Islam dalam situs islamlib.com bisa kita lihat dalam keseluruhan isi islamlib.com, maka terkait dengan penyebutan nama “Adian Husaini”, misalnya, bisa dilihat dalam 3 artikel di bawah ini yakni: Judul Rubrik Penulis/tokoh Edisi Rahmat Tuhan Tidak terbatas Wawancara Jalaludin Rakhmat 10/10/2006 The Da Vinci Code & Kematangan Beragama Kolom Novriantoni 30/05/2006 Genealogi Gerakan Islam di Indonesia Diskusi Umdah el-Baroroh 17/01/2006 Rahmat Tuhan Tidak Terbatas (Jalaludin Rahmat, islamlib) Dalam transkripsi wawancara dengan JIL ini, hanya diketemukan sekelumit ucapan Jalaludin Rakhmat (JR) dalam menyingggung Adian Husaini. Begini ucapan Jalal: JIL : Adakah perbenturan antara konsep pluralisme dengan teologi masing-masing agama yang sudah dimapankan seperti konsep tauhid dalam Islam?JR: Bagi saya, seorang Muslim yang pluralis pasti akan menganut prinsip tauhid. Seorang Kristiani yang pluralis, pasti akan percaya bahwa Yesus adalah juru selamat semua umat manusia. Jadi pluralisme itu adalah sebuah orientasi keberagamaan. Kelompok pluralis itu akan ada dikalangan Islam, ada juga di kelompok Kristiani dan agama lain. Kalangan eksklusivis juga ada di berbagai agama dan masing-masing bisa merujuk pada kitab suci masingmasing. Jadi pluralisme adalah sebuah paham dan paham itu berakibat pada perilaku sosial kita. Tapi pluralisme bukan juga menganggap semua agama sama saja karena dalam al-Qur’an juga sudah dikatakan wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja (bagi tiap-tiap agama telah kami tetapkan aturan hidup dan syariat masing-masing). Di tegaskan juga walau sya’allah laja’alnakum ummatan wahidah (kalau Allah menghendaki, Dia akan jadikan seluruh agama itu satu saja). Artinya, Allah bisa menjadikan seluruh agama sama saja. Tapi al-Qur’an menjelaskan lebih lanjut walakin liyabluwakum (Dia ingin menguji kalian) bima atakum (dengan agama yang datang kepada kalian). Karena itu, kita dianjurkan untuk fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan), karena ilayya marji’ukum jami’an (hanya kepada-Ku seluruh agama akan berpulang). Ayat ini perlu dikomentari. Menurut saya, hampir tak pernah terdapat kata jami’an setelah kata marji’ukum kecuali didalam ayat ini saja. Ilayya marji’ukum fa unabbiukum bima kuntum ta’malun; inna ilayna iyabhamum, tsumma inna ‘alayna hisabahum (kepada-Ku juga kalian akan berpulang dan disitulah Aku akan memberitahu apa yang engkau lakukan. Semuanya akan berpulang pada Allah dan Dia yang akan membuat perhitungan). Nah, kemarin saya dikritik Pak Adian Husaini, calon

doctor dari ISTAC Malaysia itu. Katanya, pandangan bahwa hanya kepada Allah seluruhnya akan menuju itu adalah keliru. Saya tidak tanggapi statemennya itu secara serius dan menganggapnya dagelan saja. Dari petikan wawancara di atas, nyatalah bahwa Jalal mencoba meng-counter Adian, meski dengan bahasa yang singkat. Jalal, seperti juga kaum pluralis, menganggap semua agama akan menuju kepada Allah yang sama sesuai bunyi ayat di atas. Sementara, Adian Husaini menolak pandangan tersebut. The Da Vinci Code & Kematangan Beragama (Novriantoni, islamlib) Melalui artikel ini, Novriantoni, selain mendeskripsikan kontroversi seputar novel dan film The Da Vinci Code, ia juga menjelaskan respon umat Kristen dan umat Islam fundamentalis terhadap hal itu dikaitkan dengan kematangan beragama mereka. Nah, dalam menjelaskan respon umat Islam fundamentalis itulah, Novriantoni menyenggol Adian Husaini dan pendapatnya. Begini petikan artikelnya: Respon Islam FundamentalisGampang diduga baik novel Dan Brown yang terjual sebanyak 60,5 juta eksemplar (sampai Mei 2006), dan diterjemahkan dalam 44 bahasa itu, maupun filmnya, akan mendapat sambutan hangat diberbagai belahan dunia. Di Indonesia, penerbit Serambi yang memegang hak terjemah dan penjualan novel tersebut, juga ketiban berkah. Tak ada keberatan dari umat Kristiani Indonesia atas Serambi. Tidak ada pula sweeping maupun tuduhan penodaan agama. Kini, filmnya hadir mengusik rasa penasaran kita, dan sambutannya sungguh luar biasa. Tiket-tiket bioskop di Jakarta ludes terjual. Penonton membludak, yang tidak dapat tiket memendam rasa penasaran.Gampang pula disangka, kalangan fundamentalis Islam Indonesia akan menyambut Da Vinci Code dengan suka cita. Sudah lama mereka membangun pendekatan kritis atas segala agama, kecuali agama yang dianutnya, terutama demi menelanjangi agama Kristen. Untuk itu, standar ganda mereka terapkan. Karya-karya popular semacam Da Vinci Code perlulah dijadikan rujukan untuk menghantam dasardasar teologi kekristenan.Respon Adian Husaini, tokoh fundamentalis Islam Indonesia paling terdidik saat ini, relevan dikemukakan. Adian menemukan amunisi gratis untuk melakukan serangannya atas kekristenan dan umat Kristen Indonesia. “The Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu,” tulis Adian di Republika, Kamis 28 April 2005.Sikap Adian terhadap pendekatan kritis atas agama lain, bertolak belakang dengan pendekatan sejenis atas Islam; sebuah sikap yang jauh dari semangat ilmiah dalam studi agama-agama. Saya berpikir, sikap Adian dan kawan-kawannya yang hampir paranoid menunjukkan aib dan keburukan agama lain, kadang menimbulkan kesan tidak adanya kebenaran intrinsic dalam Islam, kecuali bila mampu menunjukkan kepalsuan agama lain. Mungkin semangat itulah yang masih melingkupi orientasi studi perbandingan agama di perguruan tinggi kita, dan khutbah-khutbah dalam masjid dan majlis taklim di negeri ini. Genealogi Gerakan Islam di Indonesia (Umdah El-Baroroh, islamlib) Dalam artikel ini, Umdah mencoba mendeskripsikan jalannya bedah buku karya DR.

Yudi Latif yang berjudul Inteligensia Muslim dan Kuasa, yang diselenggarakan di JIL. Intinya, isi buku tersebut menceritakan tentang genealogi intelegensia Muslim Indonesia abad 20. Dan Yudi memetakannya menjadi 6 generasi dan persis pada generasi keenam inilah, yang merupakan generasi terakhir, menurut Umdah, nama Adian Husaini disebutsebut sebagai representasi sayap kanan fundamentalis. Petikan bunyi artikel tersebut seperti ini: dari seluruh generasi yang telah dipaparkan, yang menarik perhatian peserta diskusi malam itu adalah generasi terakhir (generasi keenam). Mereka adalah para aktivis yang selama ini aktif menyuarakan liberalisme Islam, seperti Ulil Abshar-Abdalla, Hamid Basyaib, Syaiful Mujani dan sebagainya. Mereka bukan saja mewakili generasi keenam, tetapi gerakan liberalisme yang mereka usung juga dinilai paling mewarnai generasi inteligensia Muslim pada saat ini. Sementara di sayap kanan fundamentalisnya terdapat nama, seperti Anis Matta dan Adian Husaini. Berbeda dengan isi situs islamlib.com yang meng-counter secara tak langsung dan pasif pada hidayatullah.com, maka sebaliknya, di dalam situs hidayatullah.com kita bisa menemukan banyak sekali counter secara langsung terhadap isi situs islamlib.com. Memang counter hidayatullah.com terhadap islamlib.com bisa dikatakan bersifat langsung dan aktif seperti telah dijelaskan di awal bab ini. Beberapa counter langsung dan aktif tersebut bisa kita lihat dalam artikel berikut ini: Judul Rubrik Penulis/tokoh Edisi Nabi Perempuan: Adakah? Opini Qosim Nursheha Dzulhadi 01/11/2006 Jinayat JIL Terhadap Siroh dan Usul Fiqh Opini Hizbullah Mahmud 15/09/2006 Jinayat JIL Terhadap Fiqh dan Fuqaha Opini Thoriq 15/11/2006 Mengkritisi Kembali Makna Tuhan Opini Hizbullah Mahmud 21/10/2005 Natal, Syafaat dan Sinkretisme Teologis Opini Qosim Nursheha Dzulhadi 08/01/2006 Syariat Porno? Opini Muchib Aman Aly 16/05/2006 Akal-Akalan Dalam Ijtihad Opini Hizbullah Mahmud 06/07/2006 Benarkah Semua Pendapat Boleh Di Ikuti Opini Thoriq 02/10/2006 Nabi Perempuan: Adakah? (Qosim Nursheha Dzulhadi, hidayatullah) Melalui artikel ini, Qosim ingin menyanggah tulisan A. Moqsith Ghazali di situs islamlib.com pada 25/10/2006 berjudul Nabi Perempuan. Ringkasan tulisan Qosim adalah sebagai berikut: Dalam situs JIL (www.islamlib.com, 25/10/2006, Moqsith Ghazali menulis tentang nabi perempuan. Setelah panjang lebar menerangkan konsep nabi dan rasul, Moqsith menyimpulkan bahwa setelah ia mengecek kesejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-bidayah wa al-nihayah (Juz II, hlmn. 59) mengutip satu pendapat bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan. Dikemukakan bahwa Maryam adalah salah seorang nabi. Perempuan lain yang diangkat menjadi Nabi menurut pendapat ini adalah Sarah (Ibu Nabi Ishaq, istri nabi Ibrahim) dan ibu Nabi Musa. Ulama yang berpendapat

demikian, misalnya, bersandar pada ayat al-Qur’an wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm. Dengan demikian, Moqsith mengambil pendapat yang menyatakan bahwa ada “nabi perempuan”. Moqsith sangat tidak komprehensif ketika membahas makna “wahyu” dalam Islam, maka wajar jika konklusinya. Tulisannya yang singkat dan sangat sederhana itupun terkesan tendensius dan dipaksakan. Sepertinya dia sedang geram pada sementara pendapat yang ada dalam masalah ini.Apa yang disimpulkan Moqsith adalah keliru. Anggapan ulama yang menganggap ibu Musa dan sarah sebagai nabi harus dilihat lagi secara kritis. Karena tidak ada penjelasan rinci yang menyatakan keduanya dianggap sebagai nabi. Sampai hari ini, tidak afa pendapat atau buku yang menjelaskan bahwa ibu Musa dan Sarah menyampaikan risalah, atau memberi peringatan (al-indzar).Dr. Al-Musayyar menjelaskan syarat-syarat seorang nabi atau rasul yakni: (1) manusia, (2) laki-laki, (3) merdeka (bukan budak), (4) terhindar dari aib (cacat): maksum dari perbuatan dosa dan salah, dan (5) Allah mewahyukan satu syariat kepadanya. Sebagian orang menurut beliau, berusaha untuk menyematkan kenabian (al-nubuwwah) itu kepada perempuan seperti ibu Musa dan Maryam berdasar firmal Allah wa awhayna….. (QS. al-Qashash (28): 7) dan fa arsalna ilayha ruhana fatamatstsala laha baysaran sawiyyan (QS. Maryam (19): 17. Dalil itu menurut beliau tertolak karena wahyu kepa aibu Musa adalah wahyu berupa ilham, bukan wahyu kenabian. Dan tidak lazim bahwa wahyu itu sebagai kenabian. Jinayat JIL Terhadap Siroh dan Usul Fiqh (Hizbullah Mahmud, hidayatullah) Melalui artikel ini, Hizbullah ingin mengkritik artikel A. Moqsith Ghazali dalam kolom editorial situs islamlib.com yang berjudul Membentengi Islam (28/08/2006). Dalam artikelnya, Moqsith menjelaskan bahwa jika kita menjadikan Islam sebagai sebuah benteng maka itu justru akan mengkerdilkan Islam sendiri. Dalam tulisan yang sama, Moqsith juga mengatakan bila Nabi SAW sendiri merupakan pribadi yang tak segan untuk belajar dari orang lain, termasuk belajar dari Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang bergama Kristen. Selanjutnya, Moqsith menulis bahwa Bayt al-hikmah, lembaga keilmuan yang didirikan oleh Khalifah VII Bani Abassiyah, alMakmun Ibn Harun al-Rasyid (813-833 M) pernah dipimpin sarjana Kristen, Hunayn Ibn Ishaq. Kritikan Hizbullah, secara ringkas, adalah sebagai berikut: Aktifis JIL, Moqsith Ghazali, menulis bila Nabi SAW sebagai orang yang tak segan untuk belajar dari orang lain, termasuk kalangan Kristen. Benarkah demikian?Para pekerja Jaringan Islam Liberal nampaknya tidak segan-segan menggunakan berbagai macam cara agar opini tersebut bisa diterima pembaca. Budaya ngaco, dan asal comot seakan tidak dipedulikan lagi sehingga hasil yang dicapai jauh untuk bisa dikatakan Ilmiah. Ada 3 poin yang perlu dikritisiPertama, Moqsith mengatakan bahwa Nabi SAW adalah orang yang tak segan belajar dari orang lain. Alkisah Nabi pernah bertanya kepada Waraqah Bin naufal, sepupu Khadijah (istri Nabi), yang beragama Kristen tentang kejadian aneh yang dialaminya ketika ia bersemedi (tahannuts) di Gua Hira. Padahal semestinya yang bertanya kepada Waraqah bukanlah Nabi, melainkan Khadijah setelah itu Waraqah meminta baginda Rasul untuk menceritakan kejadian yang dialaminya.Kedua, Moqsith mengatakan bahwa Bayt al-Hikmah, lembaga keilmuan yang

didirikan oleh Khalifah VII Bani Abbasiyyah, al-Makmun Ibn Harun al-Rasyid (813833M) pernah dipimpin sarjana Kristen, Hunayn Ibn Ishaq.Data sejarah ini perlu dikritisi, Hunayn memang pernah diperbantukan pada masa tersebut namun tidak dijumpai satupun buku turats yang mengatakan bahwa Bayt al-Hikmah pernah dipimpin olehnya. Jadi perlu dipertanyakan lagi darimana sang penulis mendapatkan dana ini?Ketiga, Moqsith menuduh ilmu ushul fiqh yang pertama kali dibukukan Imam Syafii banyak mengambil dari logika Aristoteles. Padahal ushul fiqh dan logika Aristoteles, walaupun sekilas tampak sama, namun kedua ilmu ini sangat bertolak belakang sebab logika keilmuan yang digunakan Aristoteles menggunakan sistim analogi dan akal sedangkan ilmu ushul fiqh berdasarkan hasil istimbath dari al-Qur;an dan Sunnah. Duz, keduanya berbeda jauh. Jinayat JIL Terhadap Fiqh dan Fuqaha (Thoriq, hidayatullah) Melalui artikel ini, Thoriq, ingin mengkritisi tulisan di wesbite JIL, islamlib.com (08/03/2005) berjudul Argumen Metodologis CLD KHI dan tulisan berjudul Salat Bilingual Haruskan Menjadi Kontroversi? (16/05/2005). Ringkasan kritik Thoriq adalah sebagai berikut: Para penulis dari paham Islam Liberal sering menulis ‘ngaco’ diberbagai kesempatan bahkan berani memfitnah para fuqaha untuk melakukan pembodohan terhadap umat.Sebagai contoh, lihat tulisan berjudul Argumentasi Metodologis CLD KHI (islamlib.com, 08/03/2005). Dalam tulisan itu, sipenulis menilai bahwa ushul fiqh tidak relevan lagi, sehingga sipenulis membuat-buat beberapa kaidah sendiri yang menurut penilaian dia bisa memberi kemashlahatan, keadilan, kerahmatan dan kebijaksanaan. Kaidah ushul fiqh alternatif yang pertama dipromossikan sipenulis adalah al-ibrah bi almaqasid la bi alfadz (yang dijadikan pijakan adalah tujuan bukan lafadz). Dari sini kita tahu bahwa sipenulis memang tidak mengerti apa itu ushul fiqh. Jadi ada tiga unsure dalam ushul fiqh, ma’rifah dala’il fiqhi (pengetahuan tentang dalil-dalil fiqh), kaifiyah alistifadah (metodologi penggunaan dalil), danhal mustafid (kriteria mujtahid). Kaidah kedua yang diusulkan penulis adalah jawaz naskh nushus bi al-mashlahah (boleh menaskh nash-nash dengan maslahat). Dari sini penulis terlihat ingin potong kompas. Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa boleh menaskh nash-nash al-Qur’an dan Sunnah dengan Mashlahat? Sementara kaidah ketiga yang diusulkan adalah yajuzu tanqih alnushus bi al ‘aql al-mujtama (boleh mengamandemen nash-nash dengan pemikiran masyarakat). Sebetulnya kaidah ini intinya sama saja, yakni sipenulis ingin mengajak kita agar meninggalkan nash-nash al-Qur’an dan Sunnah.Sebagai contoh lain, lihat tulisan berjudul Shalat bilingual Haruskah menjadi kontroversi (islamlib.com, 16/05/2005). Pada paragraph kedelapan penulis menyatakan: “Jika kita membaca sejarah, kita akan melihat perdebatan sengit antara Imam Abu Hanifah yang berasal dari Parsi dan Imam Syafii yang berasal dari Arab keturunan Qurays. Imam Syafii adalah orang yang sangat kuat pandangannya bahwa membaca al-fatihah dalam shalat dengan bahasa Arab hukumnya wajib. Orang yang tidak melakukannya, shalatnya tidak sah. Sementara Abu Hanifah memperbolehkan membaca al-fatihah dalam bahasa Parsi atau non-Arab lainnya, bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab.Dari penggalan artikel diatas ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, penulis menilai ada perdebatan sengit antara Asbu

Hanifah dan Imam Syafii, kedua penulis juga menilai Abu Hanifah berasal dari Parsi. Para pembaca yang budiman, perdebatan itu tidak pernah terjadi sepanjang sejarah, peristiwa itu hanyalah khurafat dari sipenulis. Kebanyakan umat Islampun tahu bahwa Abu hanifah wafat 150 H, sedangkan Imam Syafii lahir pada tahun 150 H juga di Gaza Palestina bertepatan dengan tahun wafatnya Abu Hanifah. Bagaimana bisa terjadi perdebatan sengit antara keduanya? Khurafat penulis juga mengatakan Abu hanifah berasal dari Parsi, entah merujuk dari mana sipenulis tersebut? Yang jelas dalam bukubuku sejarah madzhab kita dapati keterangan bahwa Imam Abu Hanifah lahir di Kuffah. Mengkritisi Kembali Makna Tuhan (Hizbullah Mahmud, hidayatullah) Tulisan Hizbullah ini sebenarnya mendiskusikan makna Tuhan. Akan tetapi starting point-nya tulisan dalam opening words- situs JIL, islamlib.com dimana Hizbullah mengkritik opening words tersebut. Di situ terdapat terjemahan Bismilahirrohmanirrohim menjadi Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan segala Agama. Petikan kritik Hizbullah adalah sebagai berikut: Saya cukup tercengang tatkala membuka website islamlib.com, ketika akan memasuki website tersebut menemukan terjemahan Bismilahirrohmanirrohim diterjemahkan menjadi Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih , Tuhan Penyayang, Tuhan segala Agama. Hanya saja 3 kata terakhirnya tidak termasuk dalam terjemahan kata basmalah di atas (Tuhan segala agama). Secara sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa makna Allah disamakan dengan makna tuhan. Yang membedakan antara tuhan-tuhan lain dengan Allah hanyalah huruf T besar diawalnya. Bila T nya huruf besar maka itu maknanya sama dengan Allah dan bila t nya kecil maka itu maknanya tuhan-tuhan selain Allah. Dalam penulisan mungkin bisa dilihat perbedaannya tapi dalam pengucapan nyaris tidak ada.Pencetus makna Allah juga dimaknai Tuhan adalah almarhum Prof. DR. Nurcholish Madjid. Pada waktu itu beliau menterjemahkan kalimat lailahaillallah dengan tidak ada tuhan selain Tuhan atau dalam bahasa Inggrisnya there is not any god but the God.Terjemahan ini selain tidak benar, juga membuat kekacauan, membuat kebingungan, mendangkalkan aqidah dan menghancurkan tauhid. Terjemahan tersebut seperti yang dilakukan oleh kaum orientalis dan ahli injil.…….Berdasarkan pengertian tersebut maka kelemahan Prof. Dr. Nurcholish Madjid dari segi bahasa diantaranya, menterjemahkan Allah diartikan Tuhan, menyamakan arti ilah dengan Allah, memandang alim dan lam pada kata Allah ma’rifah dari isim nakiroh ilah, terjemah hanya memperhatikan etimologinya, standar terjemah menggunakan bahasa Inggris.Sebagai akibat dari terjemah yang hanya memperhatikan dari segi etimologinya dan adanya kesalahan Allah diartikan sama dengan ilah yang berarti tuhan, maka dari segi makna nilai tauhid menjadi kabur dan hancur. Natal, Syafaat & Sinkretisme Teologis (Qosim Nursheha Dzulhadi, hidayatullah) Melalui artikel ini, Qosim ingin mengkritik tulisan Ulil Abshar-Abdalla yang dimuat dalam situs JIL islamlib.com menyangkut perayaan Natal berjudul Pendapat Islam Liberal Tentang Perayaan Natal (27/12/2004) dan tulisan Guntur Romli, aktivis JIL yang dimuat dalam situs islamemansipatoris.com dengan judul Natal dan Pesan Dialog Agama

(27/12/2004). Petikan kritik Qosim adalah sebagai berikut: Guntur menjelaskan: “saya akan memulai memahami ajaran Kristen dengan pemahaman yang saya miliki. Ada tiga poin ajaran Kristiani, tetapi bisa dipahami melalui ajaran Islam. Yaitu, mengenai kehadiran Tuhan, penyaliban Yesus, dan ajaran cinta kasih”. Sementara Ulil dengan artikelnya ingin menciptakan model ta’aruf Qur’ani. Hanya saja ia juga terjebak oleh spirit yang digulirkannya itu. Diantaranya , ia menganjurkan kawin campur antara seorang laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslimah, natal dan bid’ah. Akibatnya, Guntur dan Ulil terjebak dalam “Sinkretisme Teologis”.Point penting dari tulisan Guntur dan Ulil yang ingin saya tanggapi adalah: (1) kehadiran Tuhan, (2) penyaliban yesus, (3) al-Qur’an bukan kitab pembatal, dan (4) bid’ah natal.Pertama, menyangkut kehadiran Tuhan, penulis kira adalah hal yang keliru kalau Islam tidak dianggap detail dalam menggambarkan kehadiran Tuhan. Paham yang menyatakan bahwa Kristen lebih mementingkan kehadiran Tuhan seperti yang diungkapkan Fritjcof Schuon dalam filsafat perennial sangat kurang tepat.Kedua, penyaliban Yesus. Adalah hal yang sangat fatal ketika menyatakan bahwa kematian Yesus ditiang salib merupakan hal yang sama dengan jihad dalam Islam. Penulis kira itu adalah al-qiyas m’aa al-fariq baathil. Sama halnya dengan pernyataan said Aqil Siraj ketika menyatakan bahwa makna nuzul dalam islam sama dengan makna nuzul dalam Kristen. Aqil yang mengatakan: nuzul dalam Islam dalam bentuk al-Qur’an sedangkan nuzul dalam Kristen dalam bentuk Yesus. Tentu saja hal ini tidak bisa diterima bahkan salah total. Mengapa tidak melakukan qiyas antara al-Qur’an dengan Injil, dan itu lebih rasional. Penulis kira Injil juga nuzul dari Allah. Atau apakah ada umat Kristen yang menyatakan bahwa Injil tidak nuzul dari Allah?Ketiga, al-Qur’an bukan kitab pembatal. Ulil sempat menyinggung hal ini. Benarkah demikian? Dalam sebuah agama, klaim kebenaran meruapakan hal yang tak bisa dihindarkan. Hanya saja salah sau tindakan yang salah adalah klaim buta. Itu yang tidak bisa diterima. Pernyataan Ulil bahwa Qur’an bukan kitab pembatal harus dikritisi kembali. Yesus hadir (diutus) kedunia bukan membawa atau menciptakan hukum baru. Ia hanya melengkapi (menggenapi) hukum taurat yang dibawa Musa (Matius 5: 17-18). Maka Injil pada intinya tidak bisa dianggap sebagai penghapus taurat, meskipun datangnya belakangan. Ia hanya disebut sebagai mushadiq (pembenar). Lain halnya dengan Qur’an, meski turun bukan sebagai kitab pembatal, namun ia merupakan penghapus beberapa hukum taurat, tapi ia turun sebagai pembenar (mushadiq) sekaligus ebagai muhaimin ‘alaih (batu ujian). Hal-hal inilah yang sering luput dari pengamatan kaum liberal seperti Guntur dan Ulil.Keempat, bid’ah natal. Bid’ah terbagi dua yakni bid’ah dalam kebiasaan (adat) dan bid’ah dalam agama. Bid’ah dalam bentuk pertama diperbolehkan, sedang bid’ah dalam agama itu haram. Syariat Porno (Muchib Aman Aly, hidayatullah) Artikel Muchib ini sebenarnya ingin mengkritisi para penolak syariat Islam terkait isu RUU APP. Muchib memulai artikelnya dengan wawancara “kontroversial Gus Dur” dengan JIL yang sering dianggap menjadi biang munculnya opini tentang statemen Gus Dur bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci porno. Begini isinya: Harian Duta edisi ahad 16 April memuat wawancara Abdurahman Wahid dengan aktifis

JIL yangd ipublikasikan dalam situs resminya (islamlib.com), dengan memberi judul”jangan Bikin aturan berdasarkan Islam saja”. Begini wawancaranya:……………… …….Manusia SekulerKetika rame-ramenya pembicaraan tentang goyang ngebor inul, dalam sebuah buku berjudul mengebor kemunafikan Ulil Abshar-Abdalla menulis: agama tidak bisa seenak udelnya sendiri masuk kedalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat….agama hendaknya tahu batas-batasnya.Pernyataan itu mewakili pendapat umum kaum sekuler dan liberal. Begitulah pandangan kaum sekuler yang tidak mau terikat dengan aturan agama. Maksiat bukanlah suatu masalah umum yang perlu dipersoalkan. Asal kemaksiatan membawa mashlahat dan disepakati oleh umum. Akal-Akalan Dalam Berijtihad (Hizbullah Mahmud, hidayatullah) Artikel Hizbullah ini ingin menyatakan bahwa penganut paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme sering seenaknya menyalahgunakan istilah ijtihad hanya untuk akalakalan. Dan artikel ini, tak lupa Hizbullah juga menyenggol JIL terkait ijtihad mereka. Begini bunyinya: …….menariknya kalangan JIL memaksudkan ijtihad dengan maksud berbeda. Karena menurut JIL ijtihad hanya dikesankan untuk mengadakan kegiatan berpikir tentang ajaran islam. Tegasnya, disaat dalil al-Qur’an dan Sunnah ada dan cukup tegas, mereka masih tetap melakukan ijtihad. Jadi istilah ijtihad dirusak dan dipakai secara tersamar.Sebagai contoh, Moqsith Ghazali, dalam makalahnya yang berjudul Ijtihad Upaya menembus Kawasan Yang Tak Terpikirkan membuat kaidah yang bisa dikatakan lucu ia mengutip: in khalafa al-‘aql wa al-naql quddima al’aqlu bithariqi al-takhshish wa al-bayan (ketika terjadi ketegangan antara pendapat akal dan bunyi harfiah teks ajaran, maka yang dimenangkan adalah pertimbangan akal dengan jalan takhshish (spesifikasi ajaran) dan bayan (penjelasan rasional).Kaidah ini sangat bertentangan dengan pengertian dasar ijtihad yang telah dibuat ulama berabad-abad lamanya. Jelas sekali, ijtihad berlaku jika tidak ada nash yang jelas dari al-Qur’an dan Sunnah dan itupun harus mengambil istimbath (kesimpulan) dari dalil-dalil yang ada. Jadi sangat ngawur jika ijtihad digunakan untuk menafikan hukum-hukum dalam al-Qur’an dan Sunnah. Nampaknya sang penulis belum memahami arti ijtihad, namun anehnya sudah berlagak sebagai ulama besar abad ini yang kemudian membuat kaidah ijtihad. Benarkah Semua Pendapat Boleh Di Ikuti (Thoriq, hidayatullah) Artikel Thoriq ini ingin mengkritik kalangan pro sekularisme, liberalisme dan pluralisme yang dianggapnya membolehkan orang melakukan tafsir sesuai kecenderungannya. Ia mengacu pada tulisan seorang penganut Islam liberal berjudul Metodologi Berfatawa dalam Islam dan artikel A. Moqsith Ghazali di islamlib.com berjudul Membentengi Islam. Ringkasan artikel ini adalah sebagai berikut: Seorang penganut Islam Liberal telah mempublikasikan sebuah tulisan yang berjudul metodologi Berfatwa dalam Islam, katanya: setiap umat memiliki hak untuk mengikuti tafsir a la sunni, a la mu’tazilah, a la syiah, ala Gus Dur, ala Cak Nur, ala Kiai Langiotan,

ala Jaringan islam Liberal (JIL), ala ahmadiyah dan lainlain, wahai, serahkanlah kepada umat untuk memilih mana-mana tafsir yang terbaik untuk dirinya (islamlib.com, 23/09/2005).Tampak jelas dalam penggalan diatas, sipenulis memiliki pemahaman bahwa setiap orang boleh mengikuti tafsir siapa saja yang sesuai dengan kecenderungannya, tanpa ada rambu-rambu yang jelas, semuanya diserahkan kepada publik untuk memilih.Dengan sikap seperti itu, sikandidat doctor ini juga secara langsung beranggapan bahwa setiap pendapat layak diperhitungkan, tanpa melihat substansi atau kapasitas pencetusnya, tidak heran jika di kesempatan lain sipenulis berpendapat bahwa disana ada kelompok yang propluralisme dan yang kontra pluralisme, sekaligus dalil kedua pihak (Media Indonesia, 06/08/2004) tanpa melihat siapa yang pro-kontra, para fuqaha atau bukan, sipenulis langsung memasukannya kedalam wilayah khilaf yang layak diperhitungkan.Bahkan dalam tulisan terakhir, sipenulis metodologi berfatwa menyarankan agar umat Islam mau mengadopsi pendapat non Muslim (lihat membentengi Islam, islamlib.com, 28/08/2006).Jika sikap “tidak jelas” ini terus-menerus dikembangkan, maka bisa-bisa perkawinan sesama jenis juga dihalalkan, karena toh bukankah ada beberapa mahasiswa syariah dari IAIN yang membolehkan? Walhasil, nalar seperti ini amatlah berbahaya. BANYAK BEDA, SEDIKIT SAMA: RESPON ISLAMLIB.COM DAN HIDAYATULLAH.COM TERHADAP ISU-ISU AKTUAL Fokus selanjutnya pada bab ini adalah pada respon kedua website (islamlib.com dan hidayatullah.com) terhadap isu-isu aktual di Indonesia selama kurun waktu 1 tahun terakhir ini (2005—2006). Setelah membaca isi kedua website tersebut, terdapat 5 isu besar yang mereka respon selama kurun waktu tersebut, yakni: (1) Fatwa MUI tentang pelarangan sekularisme, liberalisme dan pluralisme, (2) Kasus penyerbuan dan pengusiran Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), (3) Fenomena yang melingkupi Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP), (4) Kasus Poligami da’I kondang Aa Gym, dan (5) Penyerbuan tentara Israel ke Libanon dan Palestina. Secara umum, kesimpulan yang bisa dipaparkan terhadap respon kedua website tersebut pada 5 isu besar di atas adalah sebagai berikut: Isu-isu Respon islamlib.com Respon hidayatullah.com Fatwa MUI Tidak mendukung Mendukung Kasus Ahmadiyah Tidak mendukung Mendukung RUU-APP Tidak mendukung Mendukung Poligami Aa Gym Tidak mendukung Mendukung Kebrutalan Israel Tidak mendukung Tidak mendukung FATWA MUI Musyawarah Nasional (MUNAS) VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berakhir Jum’at, 29/07/2005 menghasilkan 11 fatwa. Dari 11 fatwa tersebut ada beberapa yang kemudian memunculkan pro-kontra dimasyarakat. Dua diantaranya adalah fatwa Jamaah

Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai aliran sesat dan pelarangan penyebaran paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme. Dijelaskan MUI bahwa pluralisme yang dimaksud adalah penyamaan semua agama, liberalisme yang dimaksud adalah pemikiran Islam yang menggunakan pikiran manusia secara bebas, bukan pemikiran yang dilandasi agama, sementara sekularisme berarti memisahkan urusan dunia dan akhirat dan negara tidak boleh campur tangan terhadap urusan agama. Fatwa yang disebut terakhir ini jelasjelas secara langsung menyenggol JIL. Apalagi banyak yang beranggapan bahwa Latar belakang pengharaman itu agaknya adalah timbulnya aliran Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dikembangkan oleh generasi muda, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dengan tokohnya yang paling vokal (pada saat itu) Ulil AbsharAbdalla. Sebagai pihak yang terkena langsung dampak fatwa itu, JIL seperti kita lihat dalam isi websitenya (islamlib.com) secara tegas menolak fatwa tersebut. Sementara, hidayatullah.com jelas-jelas mendukungnya. Penolakan islamlib.com dan dukungan hidayatullah.com bisa kita lihat dalam artikel berikut ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi Fatwa MUI Pengaruhi Arus Radikalisme di Indonesia Islamlib.com Umdah el-Baroroh 20/03/2006 Legitimasi Terakhir Fatwa MUI Hidayatullah Syamsuddin Arif 12/08/2006 Fatwa MUI Pengaruhi Arus Radikalisme di Indonesia (Umdah el-Baroroh, islamlib) Artikel Umdah ini sebenarnya adalah laporan hasil diskusi bulanan JIL pada 28/02/2006 dengan menghadirkan pembicara DR. Syafii Anwar (Direktur ICIP) dan DR.Saiful Mujani (Direktur LSI). Dalam artikel ini, Umdah mengutip beberapa ungkapan Syafii yang menyatakan fatwa MUI, terutama pelarangan pluralisme, sekularisme dan liberalisme, mempengaruhi arus radikalisme Islam di Indonesia. Petikan artikel Umdah tersebut adalah sebagai berikut: “Meningkatnya radicalisme agama akhir-akhir ini sebagian didukung oleh fatwa MUI” demikian pernyataan Direktur ICIP Syafii Anwar pada diskusi bulana JIL 28/02 lalu. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa fatwa MUI tentang haramnya liberalisme, sekularisme dan pluralisme sering dijadikan justifikasi oleh kelompok-kelompok tertentu dengan mengatasnamakan agama. Meningkatnya arus radikalisme agama di Indonesia akhirakhir ini bisa ditengarai dengan memuncaknya aksi kekerasan yang menimpa Jama’ah Ahmadiyah Indonesia, perusakan gereja-gereja dan maraknya konflik antaragama dibeberapa daerah. “Fatwa MUI tersebut ikut andil sebagai penyebab kasus-kasus itu”. Tegas Syafii. Berdasarkan penelitian Syafii di beberapa pesantren Jawa Barat, para santri dan kyai disana yang menolak sekularisme, liberalisme dan pluralisme mengaku terpengaruh fatwa MUI yang mengharamkan isme-isme itu.Menariknya, catatan doctor dari Melbeourne University ini, mereka yang menolak pluralisme itu tidak mengetahui makna pluralisme yang sebenarnya. Mereka hanya tahu definisi itu dari MUI. Dalam fatwa MUI, pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relativ. “Disini MUI

telah melakukan penafsiran tunggal atas pluralisme” tandas Syafii Legitimasi Terakhir Fatwa MUI (Syamsuddin Arif, hidayatullah) Melalui artikel ini, Syamsuddin ingin mengkritik-balik kaum liberal yang mengkritik fatwa MUI dengan alasan bahwa fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, pluralisme dan sekularisme, serta menegaskan kembali kesesatan Jamaah Ahmadiyah dikatakan tidak mendorong terjadinya dialog antaragama dan saling pengertian antar pemeluk agama dan juga antar golongan dalam satu agama. Bahkan, Syamsuddin mengkritik-balik kaum liberal yang beranggapan bahwa fatwa MUI itu akan memberi inspirasi kepada sebagian orang untuk melakukan tindakan kekerasan. Untuk hal itu, Syamsuddin memberi 3 catatan penting. Ketiga hal tersebut, secara ringkas adalah sebagai berikut: Pertama, soal definisi liberalisme, pluralisme dan sekularisme yang dimaksud. Konon, MUI terlalu menyederhanakan tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. Tuduhan ini jelas bermaksud meruntuhkan validitas fatwa tersebut, meremehkan MUI, menganggap seolah-olah para ulama itu bodoh dan tidak mengerti apa yang mereka katakana. Padahal tidak demikian. Sesungguhnya, sepak terjang (lisanul hal) kaum liberal telah cukup menjelaskan maksud liberalisme dan pluralisme agama yang mereka usung. Berbagai kegiatan maupun tulisan yang mereka publikasikan dimedia massa, hampir seluruhnya mengasong pemikiran-pemikiran liar.Kedua, soal kekuatan dan pengaruh fatwa tersebut. Kaum liberal menolak fatwa MUI itu dengan alasan fatwa tersebut hanyalah pendapat hukum, bukan hukum itu sendiri, meskipun sah namun tidak mengikat, dan oleh karena itu boleh diikuti dan boleh tidak. Apakah benar demikian? Jawabannya tentu saja tidak. Namun ironisnya begini: kalau fatwa tersebut de jure tidak mengikat, mengapa mereka harus khawatir? Bukankah kekhawatiran itu justru menunjukkan bahwa fatwa tersebut de facto diakui keabsahannya dan kemengikatannya? Harus dibedakan antara fatwa yang dikeluarkan oleh seorang alim dan fatwa yang dilahirkan oleh sekumpulan ulama. Yang disebut pertama adalah produk ijtihad fardi, sementara yang kedua adalah ijtihad jama’I yang otoritasnya jauh lebih kuat dan mengikat, karena menyerupai ijma’. Ketiga, soal pernyataan seorang corong liberal bahwa MUI bukanlah wakil resmi dan satu-satunya kebenaran dalam Islam. Ungkapan ini menyimpan dua kekeliruan sekaligus. Kekeliruan pertama, sebagaimana diketahui, MUI merupakan wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendikiawan Muslim dari berbegai unsure organisasi. “Di MUI kan ada 300 lebih ulama” kata KH Ma’ruf Amin. Jadi cukup representatif dan legitimate. Selain itu, didirikan 30 tahun lalu (26 Juli 1975 M) MUI sadar betul akan amanah yang dipikulnya, bahwa apa yang dilahirkannya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT, dan karena itu tidak boleh membuat keputusan hukum seenaknya (tahakkum). Seperti pernah ditegaskan Prof. KH. Ibrahim Hoosen, bagi MUI, mengutamakan akal daripada wahyu berarti mengingkari wahyu. Kekeliruan lainnya adalah merelativisir kebenaran dan membenarkan relativisme, menganggap isi fatwa tersebut benar menurut MUI saja, tidak absolut benar. KASUS AHMADIYAH Kasus Ahmadiyah merupakan isu yang cukup ramai dibicarakan juga beberapa waktu

yang lalu. Kita tahu bahwa, Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dibeberapa daerah seperti di Parung Bogor, di Lombok NTB, di Indramayu Jawa Barat dan sebagainya mengalami ancaman fisik, tempat ibadah mereka dirusak dan hak-hak mereka untuk menjalankan keyakinan mereka berada dalam kondisi serius. Selain itu kasus Ahmadiyah juga terkait dengan fatwa MUI hasil munas ke VII (29/07/2005) yang menyatakannya sebagai organisasi sesat dan terlarang. Puncaknya, beberapa anggota Jamaah Islamiyah di Lombok mengajukan suaka politik ke Pemerintah Australia karena merasa tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah Indonesia. Atas dasar fenomena di atas, beragam komentar pun muncul, baik yang pro maupun yang kontra. Melihat kedua isi website, bisa dikatakan bahwa isi islamlib.com kebanyakan mendukung eksistensi JAI di Indonesia dengan alasan kebebasan beragama. Sementara, isi hidayatullah.com kebanyan menolak eksistensi mereka dengan alasan fatwa MUI yang menyatakan mereka sebagai aliran terlarang dan sesat serta dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Dukungan dan penolakan terhadap eksistensi JAI tersebut bisa kita lihat dalam artikel dibawah ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi Ujian Untuk Konsistensi Kita Islamlib.com Ulil Abshar-Abdalla 06/03/2006 Ahmadiyah dan Masalah Kebenaran Hidayatullah.com Adian Husaini 25/07/2006 Membela Ahmadiyah Berdasarkan HAM Hidayatullah.com Adian Husaini 01/08/2005 Ujian Untuk Konsistensi Kita (Ulil Absar-Abdalla, islamlib) Melalui artikel ini, Ulil mencoba menegaskan bahwa kasus Ahmadiyah bisa menjadi ujian bagi konstitusi kita. Ulil menyatakan: …Salah satu pasal penting konstitusi itu adalah perlindungan bagi semua kelompok untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Pasal tentang jaminan kebebasan beragama, istilah dalam tradisi Islam adalah salah satu qath’iyat atau dasar pokok yang pasti dan tidak boleh diganggu gugat. Tanpa pasal seperti ini, runtuhlah seluruh alasan untuk membangun sebuah negara bernama Indonesia.Kini, konstitusi kita sedang dalam ujian, terutama pasal yang menyangkut kebebasan beragama. Ujian itu datang dari kasus Ahmadiyah. ………….Aparat keamanan tampaknya kurang berhasil memberikan perlindungan kepada mereka (anggota Jamaah Ahmadiyah). Selain itu, Ulil juga mengkritik pemerintah yang dianggapnya kurang memiliki komitmen mendalam dalam menangani masalah kebebasan keyakinan. Lanjut Ulil, nada pernyataan yang diberikan pemerintah selama ini cenderung defensif dan apologetik. Setiap ada kasus penyerangan atas JAI, pihak keamanan dan pejabat selalu menyatakan, mereka telah berusaha maksimal, tapi tak kuasa menangkal massa yang anarkhi. Dalam sejumlah kasus, pihak setempat bahwa secara tak langsung ikut dalam proses persekusi atas JAI, misalnya ikut menandatangani surat kesepakatan yang diusulkan oleh kelompok (Islam) tertentu untuk menegaskan kesesatan JAI. Yang lebih serius lagi, menurut Ulil, adalah pernyataan sejumlah pejabat negara yang

mengaskan masalah Ahmadiyah akan selesai sendiri jika kelompok ini kembali kejalan yang benar atau mendirikan agama sendiri secara terpisah. Pernyataan ini dianggap amat serius dan berdampak luas dalam kehidupan sosial keagamaan dimasa mendatang. Ringkasan kritik Ulil terhadap pernyataan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, negara turut campur dalam menentukan corak keyakinan warganya, sesuatu yang jelas berlawanan dengan semangat konstitusi yang menjamin kebebasan agama dan keyakinan.Kedua, seolah-olah masalah Ahmadiyah akan selesai sendiri jika kelompok ini mendeklarasaikan diri sebagai agama baru, asumsi yang perlu diuji kebenarannya. Pertanyaan berikut, jika Ahmadiyah menjadi agama sendiri, terpisah dari Islam, apakah kelompok ini lantas bisa hidup aman dan bebas mendirikan masjid? ………..Ada kemungkinan jamaah Ahmadiyah akan dilarang memakai symbol-simbol Islam . (1) Ahmadiyah dan Masalah Kebenaran (Adian Husaini, hidayatullah) (2) Membela Ahmadiyah Berdasarkan HAM (Adian Husaini, Hidayatullah) Melalui artikel pertama (Ahmadiyah dan Masalah kebenaran), Adian ingin mengkritik beberapa cendikiawan dan ulama yang menyatakan bahwa manusia tidak berhak menghakimi keyakinan orang lain, dan memaksakan keyakinannya terhadap orang lain itu. Mereka mengutip ayat al-Qur’an: “ barangsiapa yang mau silahkan beriman dan siapa yang tidak mau silahkan kafir”. Jadi biarkanlah orang mengikuti pendapat apa saja, dan menyebarkan pendapatnya, apa saja jenisnya. Termasuk paham Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi SAW. Sebagai contoh, ungkapan Masdar F Mas’udi, salah satu ketua PBNU yang dikutip harian Kompas (20/07/2005) menyatakan: “ NU merasa tidak berhak memfatwakan sesat terhadap para pengikut Ahmadiyah”. Menurut Adian, ulama seharusnya tidak membuat masalah menjadi kabur dengan menyatakan hal diatas. Apalagi tugas ulama adalah menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar. Jadi sebagai ulama maka tugas pentingnya adalah menunjuk mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar. Sebab amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban penting kaum Muslim. Adian dalam artikel pertamanya memberi contoh sebagai berikut: Sebagai contoh, Imam al-Ghazali sama sekali tidak ragu-ragu ketika menyebutkan tentang kekeliruan sejumlah pemikiran para filosof, seperti pemikiran tentang keabadian alam. Dalam kitabnya, al-munqidh min al-dhlalal dengan tegas al-Ghazali menyebut bahwa golongan Dahriyyin, yang tidak mengakui adanya Tuhan dan mengakui bahwa alam ini ada dengan sendirinya, tidak dicipta oleh suatu pencipta adalah termasuk kafir Zindiq. Begitu juga golongan thabii yang tidak mengakui adanya sorga, neraka, ganjaran bagi tindakan ketaatan, dan siksaan bagi pelaku maksiat, dinyatakan al-Ghazali sebagai golongan kafir zindiq. Sementara, melalui artikel kedua (Membela Ahmadiyah berdasarkan HAM), Adian ingin mengkritik para pembela Ahmadiyah yang berlindung dalam HAM untuk membolehkan

aliran sesat. Petikan kritikan Adian adalah sebagai berikut: Rabu (27/7/2005) lalu, Komnas HAM mengumumkan temuan awalnya bahwa dalam kasus penyerbuan kampus Mubarak milik Ahmadiyah telah terjadi indikasi pelanggaran HAM. Seperti kita ketahui para pembela Ahmadiyah bersandarkan dirinya pada konsepsi HAM bahwa setiap orang bebas memeluk agama apa saja dan menyebarkannya. Masalah HAM sudah lama menjadi perdebatan panjang dikalangan Muslim. Seyogyanya kaum Muslim Indonesia juga mempunyai kesepakatan tentang hal ini. Apakah semua pasal dalam piagam Unuiversal tentang HAM itu dapat diterima umat Islam. Bagi yang mengimani piagam ini, maka dia akan meletakannya di atas al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Benar salah diukur dengan kitab suci HAM ini.Dengan kata lain mereka menjadikan teks HAM lebih tinggi kedudukannya dari teks kitab suci umat Islam. RUU-APP Beberapa waktu yang lalu Pro-kontra terhadap substansi Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang merupakan usulan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) banyak sekali bermunculan. Mereka yang mendukung menyebutkan, pornografi sudah terasa dampaknya sehingga harus segera diatur. Sementara, mereka yang keberatan terhadap RUU APP menyatakan setuju bahwa pornografi tidak bisa dibiarkan, harus diatur. Persoalannya adalah pada bagaimana cara mengaturnya dan itu yang menyebabkan kelompok yang keberatan menolak substansi RUU APP tersebut. Dalam konteks isi kedua website dalam penelitian ini, sudah jelas bahwa isi islamlib.com menyatakan keberatan terhadap RUU APP sementara isi hidayatullah.com menyatakan mendukung sepenuhnya RUU APP. Keberatan dan dukungan itu bisa kita lihat dibawah ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi RUU APP: Ketegangan Modernisme dan Fundamentalisme Islamlib.com Abdul Mukti Rouf 27/03/2006 Pornografi dan Liberalisme Hidayatullah.com Adian Husaini 14/03/2006 RUU APP: Ketegangan Modernisme & Fundamentalisme (Abdul Mukti Rouf, islamlib) Melalui artikel ini, Abdul Mukti ingin menjelaskan perang opini tentang RUU APP yang semakin meruncing beberapa waktu yang lalu dan membentuk polarisasi yang tidak pas. Kelompok pro-RUU APP dituduh sebagai kelompok anti multikulturalisme yang hendak memaksakan standar moralitasnya terhadap kelompok lain. Sementara yang menolak RUU APP disangka sebagai kelompok yang abai terhadap moralitas bangsanya sendiri. Pandangan lebih lanjut dari artikel Abdul Mukti adalah sebagai berikut: Soalnya kemudian adalah, siapa yang berhak mengatur moralitas warga masyarakat? Dengan RUU APP, tugas nahi mungkar dibebankan kepada negara. Pertanyaan penting dan kritis untuk itu adalah, apakah negara berhak mengatur moralitas yang batasannya absurd itu? Bagi fundamentalisme, ditangani negara atau tidak, kemungkaran diatas bumi

atas dasar prinsip hukumiyat Allah wajib dihaopuskan. Disinilah kaum fundamentalisme, atas nama menegakkan otoritas Tuhan sering terjebak pada penghakiman yang menafikkan hak-hak orang lain dan karenanya sering dituduh anti demokrasi. Pornografi dan Liberalisme (Adian Husaini, hidayatullah) Melalui artikel ini, Adian ingin mengkritik kelompok Islam liberal yang menolak RUU APP dengan dalih melanggar wilayah privat. Menurut Adian, logika kaum liberal yang mendikotomikan antara wilayah privat dan wilayah publik itu sebenarnya logika primitif, yang dinegara-negara Barat sendiri sudah kadaluwarsa. Sejak lama manusia sudah paham, bahwa kebebasan individu selalu akan berbenturan dengan kebebasan publik. Petikan tulisan Adian adalah sebagai berikut: …..Paham kebebasan atau liberalisme dalam berbagai bidang memang sedang gencargencarnya dicekokkan kepada masyarakat Indonesia. Kaum Muslim Indonesia kini dapat melihat, begaimana detsruktif dan jahatnya paham ini. Ketika Lia Eden ditangkap, kaum liberal berteriak memprotes. Ketika Ahmadiyah dinyatakan sebagai paham sesat oleh MUI, maka merekapun berteriak membela Ahmadiyah. Ketika goyang ngebor Inul dikecam, mereka pun memaki-maki para ulama sebagai sok-moralis, sok penjaga moral dan sebagainya. Ketika film buruan cium gue (BCG) dikritik dan dikecam, mereka juga membela film itu atas nama kreativitas seni. Sekali lagi, menurut mereka, kebebasan harus dipertahankan. Sekarang, dalam kasus RUU APP, sikap dan posisi kaum liberal pun tampak jelas, dibarisan mana mereka berdiri: dibarisan al-haq atau al-bathil. POLIGAMI AA GYM Bagai petir di siang bolong, banyak orang menjadi terkaget-kaget ketika mereka tiba-tiba melihat dan mendengar dai kondang Aa Gym kawin lagi alias poligami. Pasalnya, statemen-statemen Aa Gym dalam setiap pengajian sebelumnya tidak mengindikasikan keinginannya untuk ber-poligami. Kontan saja jamaahnya terkaget-kaget, terutama para ibu-ibu yang memang mengidolakan Aa Gym sebagai lelaki shalih. Apalagi Aa menikah lagi dengan Alfarini Eridani (Rini), seorang janda dan mantan model yang tentu saja cantik. Poligami Aa Gym ternyata tak hanya mengundang gejolak sosial, tapi juga membuat bombardir kiriman SMS ke ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY bahkan kemudian secara khusus memanggil Menneg Pemberdayaan Perempuan, DR Meutia Hatta dan Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi, dan Dirjen Binmas Islam, DR. Nazzarudin Umar, untuk meminta revisi agar cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 (yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami) diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah. Dari situlah kemudian fenomena poligami Aa Gym menimbulkan efek sosial yang semakin meluas berupa pandangan pro-kontra mengenai poligami di masyarakat. Fenomena itu juga tak luput dari perhatian website islamlib.com dan hidayatullah.com.

Kalau kita baca beberapa artikel, maka isi website islamlib.com cenderung menolak poligami sementara sebaliknya, isi hidayatullah.com cenderung mendukung poligami. Penolakan dan dukungan itu bisa dilihat dalam artikel berikut ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi Dari Qassim Untuk Aa Gym Islamlib.com M Guntur Romli 11/12/2006 Potret (Keliru) Poligami Hidayatullah.com Sirikit Syah 13/12/2006 Dari Qassim Untuk Aa Gym (M. Guntur Romli, islamlib) Melalui artikel ini, Guntur ingin menunjukkan alasan-alasan berkaitan dengan penolakannya terhadap poligami Aa Gym. Begini petikan artikel Guntur tersebut: Sebagai suami, Rasulullah adalah manusia biasa. Rumah tangganya juga tak lepas dari rundungan persaingan dan kecemburuan. Demikianlah Bintus Syathi’—nama pena Aisyah Abdurrahman—mengisahkan sisi manusiawi rumah tangga Rasulullah dalam bukunya, Nisâ’un Nabî (Istri-Istri Nabi). Aisyah putri Abu Bakar cukup dikenal pecemburu. Ia kadang tidak puas dengan posisinya sebagai istri terkasih. Saban Rasulullah membawa istri baru, rasa cemburu selalu saja datang dan menyiksa Aisyah. Padahal ia telah berkali-kali dipoligami. Alkisah, rombongan Rasulullah baru kembali dari Khaibar. Mereka mengalahkan suku Yahudi Bani Nadhir. Sebelumnya tersiar kabar bahwa Rasulullah telah menikahi Shafiyah, putri jelita penguasa Bani Nadhir. Aisyah menyambut Rasulullah dengan penuh cemburu. Ia mengamati madunya yang singgah di rumah Haritsah bin Nu’man; rumah yang selalu menjadi titipan bila Rasulullah mempersunting istri baru. Rasulullah tertawa dengan sikap Asyah. Tapi beliau tak lupa merayu, “apa yang kau amati, cantik?” Aisyah menjawab ketus: “Aku melihat seorang perempuan Yahudi!” Rasulullah menyanggah, “Jangan berkata begitu. Ia sudah masuk Islam, dan akan menjadi muslimah yang baik.” Aisyah tak peduli. Ia bergegas pergi.Shafiyah lalu menjadi bulan-bulanan istri-istri Nabi lainnya yang juga cemburu. Ia sering diejek “perempuan Yahudi”. Suatu hari, Shafiyah ikut serta dalam safari Rasulullah bersama istrinya yang lain: Zainab putri Jahsy. Di tengah perjalanan, unta Shafiyah cidera. Rasulullah membujuk Zainab agar berbagi punggung unta dengan Shafiyah. Zainab menolak sambil berkata, “aku harus berbagi dengan perempuan Yahudi itu?” Rasulullah murka. Konon, beliau tidak mendatangi Zainab dua-tiga bulan. Di zaman Rasulullah, istrinya yang tak pernah cemburu dan rela berbagi dengan yang lain adalah Saudah. Ia berbadan gemuk, memang tidak cantik, dan hampir saja ditalak. Untuk itu, ia sering merelakan giliran malamnya buat Aisyah. Kecemburuan dan persaingan memang sangat nyata dalam keluarga yang berpoligami. Agama tak akan sanggup menafikannya. Keluarga akan tumbuh kurang sehat, penuh kecurigaan, dan tak jarang menimbulkan pertengkaran. Demi melihat kenyataan itu, Qasim Amien, pemikir feminis terkenal dari Mesir, sudah mengingatkan bahaya budaya poligami bagi masyarakat. Bagi Qasim— seperti yang ia tulis dalam buku Tahrîrul Mar’ah—poligami adalah pelecehan bagi perempuan. Alasannya bukan dalil agama, tapi kodrat manusia. Bagi Qasim, “tak ada isteri yang rela bila ada perempuan lain ikut menyintai suaminya. Sama tak relanya seorang suami bila ada laki-laki lain yang ikut menyintai istrinya. Cinta adalah kodrat,

baik bagi laki-laki maupun perempuan.” Potret (Keliru) Poligami (Sirikit Syah, hidayatullah) Melalui artikel, ini Sirikit ingin menunjukkan alasan-alasannya berkaitan dengan dukungannya terhadap poligami Aa Gym. Begini petikan artikel Sirikit: Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan anak-anak.Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan membohongi istrinya.Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju poligami atau berbagi suami? Look who’s talking. Dia adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar pendapatnya?Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering mendengung-dengungkan konsep keluarga sakinah. "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang. Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak keluarga nonpoligami.Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau untung dijual.Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, sebuah upaya pembenaran antipoligami.Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan body language Ninih dan Aa selama jumpa pers menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) mencintai. Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang hipokret, melainkan kita sendiri.Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti kata Aa, "Jangan menggampangkan." Aa tentu saja sah berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan memiliki ilmu serta potensi untuk

berbuat adil. Banyak laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status perkawinan sah.Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull memilih bercerai.Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial. Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai korban yang perlu dikasihani. KEBRUTALAN ISRAEL Dari semua respon terhadap isu-isu aktual, pada respon isu kebrutalan Israel terutama dalam perang dengan Libanon dan palestina inilah terdapat titik temu antara isi islamlib.com dan hidayatullah.com. Intinya, mereka sama-sama tidak mendukung penyerbuan tentara Israel ke Libanon dan Palestina, meski dengan alasan yang berbedabeda. Sama-sama tidak mendukung, tetapi dengan alasan yang berbeda-beda dapat kita lihat dalam artikel berikut ini: Judul Situs Penulis/tokoh Edisi Bush, Israel dan Hezbollah Islamlib.com Ulil Abshar-Abdalla 31/07/2006 Menyikapi Kebrutalan Zionis Israel Hidayatullah.com Adian Husaini 05/08/2006 Kita Perlu Lobi Tandingan Israel (Ulil Abshar-Abdalla) Ini adalah artikel Ulil terkait kebrutalan Israel dalam perang Libanon dan palestina di Timur Tengah. Meskipun inti artikel ini, sebenarnya Ulil ingin menyoroti ketidak adilan Amerika dalam konflik Israel-Libanon dan Konflik Israel-Palestina karena terlalu ”pilih kasih” terhadap Israel, tapi ia sekaligus juga mengecam tindakan Israel dalam konflik tersebut. Begini petikan artikelnya: Saya sesak napas mendengar argumen Presiden Bush bahwa Israel punya hak untuk mempertahankan diri dari serangan Hezbollah. Ada beberapa catatan kritis untuk pernyataan Presiden Bush ini. Pertama, statemen itu seolah-olah mengandaikan bahwa Israel adalah negeri lemah yang terancam oleh negeri-negeri kuat di sekitarnya. Kita semua tahu, kekuatan militer Israel, plus dengan arsenal nuklir yang dimilikinya sekarang (dan tak pernah dipersoalkan oleh Amerika atau negeri-negeri Barat yang lain), tidak mungkin dikalahkan oleh seluruh negara Arab saat ini. Seluruh perang Arab-Israel selama ini selalu dimenangkan oleh Israel. Seluruh diplomasi tentang konflik Palestina-Israel, entah dalam forum PBB atau forum-forum lain, selalu menguntungkan Israel. Pihak pecundang selalu adalah bangsa Palestina dan Arab. And with all this in mind, how could

the President say that Israel has a right to defend itself as if Israel is at the losing end in the race?Kedua, kalau Israel sebagai "super power" di Timur Tengah mempunyai hak untuk membela diri, bagaimana dengan bangsa Palestina yang lemah? Statemen Presiden Bush itu seolah-olah hendak mengatakan bahwa kita harus memahami tindakan "brutal" Israel, sebab negara ini sedang dalam posisi diserang. Jika logika ini dipakai, maka mestinya logika serupa harus dipakai untuk memahami tindakan bangsa Palestina yang selama ini secara tidak adil disebut sebagai "terorisme". Kalau negeri Anda dicuri dan diduduki bangsa lain, dan anda tidak punya kekuatan untuk melawan, apakah Anda harus diam? Jika Israel yang mempunyai kekuatan militer luar biasa boleh melakukan serangan brutal ke sebuah negaara (baca: Lebanon) hanya karena dua tentaranya diculik oleh kekuatan kecil seperti Hezbollah, kenapa bangsa Palestina yang tanahnya dirampas oleh Israel tidak mempunyai hak serupa? Apakah keadilan hanya milik Israel? Bukankah metode yang disebut "terorisme" yang dipakai oleh bangsa Palestina dalam dua intifadah juga pernah dipakai oleh orang-orang Yahudi menjelang berdirinya negara Israel di 1948?……………… Menyikapi Kebrutalan Zionis Israel (Adian Husaini, hidayatullah) Melalui artikel ini, Adian ingin menegaskan bagaimana brutalnya Israel dan menyatakan bagaimana kaum Muslim seharusnya menyikapi kebrutalan tersebut. Begini petikan artikelnya: Hari-hari ini, kaum Muslim seluruh dunia menyaksikan kebrutalan yang membabi buta kaum Zionis terhadap kaum Muslim di Palestina dan Lebanon. Setiap hari, jet-jet tempur beserta tank-tank Israel membunuhi warga Muslim. Dunia mengutuk serangan Israel itu. Tetapi, semuanya tidak berdaya, tidak mampu mencegah kebrutalan Israel. Padahal, dari segi hukum internasional, aksi sepihak Israel yang menyerbu Lebanon jelas-jelas tidak dibenarkan. Tetapi, kaum Zionis Israel tidak mempedulikan hal itu. Mereka merasa lebih kuat, dan menganggap remeh protes dunia Islam terhadap kebrutalan mereka. Pada akhir Juli 2006, Israel bahkan menyerang tempat pengungsian penduduk sipil di Desa Qana, sehingga membunuh lebih dari 60 warga Lebanon –37 diantaranya adalah anak-anak. Seketika itu kemudian dunia mengecam Israel. Tetapi, tetap saja, hal itu tidak mampu menghentikan kebiadaban kaum Zionis Israel. Umat Islam dan dunia Islam, sejauh ini, hanya mampu melakukan protes, menangis, mengeluarkan resolusi dan kutukan demi kutukan. Tetapi, tidak ada yang digubris oleh Israel. Sepertinya, Israel sudah hafal langgamkaum Muslim. Jika dibantai atau dipecundani, kaum Muslim akan marah dan melakukan aksi demontrasi. Setelah itu, lama-lama lupa pada masalahnya, lalu diam. Megapa umat Islam begitu mudah untuk diperdaya dan dipecundangi ? Tidak adakah kemuliaan bagi kaum Muslimin? Padahal, dalam Al-Quran, Allah SWT menjamin : “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 139). BAB 6 MASA DEPAN ISLAMLIB VS HIDAYATULLAH (Sebuah Refleksi Penutup)

Idealnya, diruang publik media seharusnya bisa menjadi katalisator dalam menyelesaikan segala pertikaian antar dan intra umat beragama. Faktanya, media justru bukanlah saluran yang bebas dari kepentingan tertentu. Ia adalah subyek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangannya subyektifnya, biasnya dan pemihakannya. Disamping itu, dalam pandangan kritis, media dapat dipandang sebagai wujud dari pertarungan ideology antar kelompok. Hanya kelompok berideologi dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan dan menguasai media. Disini distorsi, mis-representasi, mis-komunikasi, dan mis-interpretasi dalam pemberitaan dalam pemberitaan menjadi tak terhindarkan, termasuk pemberitaan yang mencitrakan Islam sesuai dengan “cita rasa” masing-masing media. Fenomena perang pemikiran yang melibatkan islamlib.com versus hidayatullah.com, adalah salah satu bukti, betapa tarik menarik kepentingan dengan memanfaatkan ruang publik sebagai “pasar bebas ide, gagasan, dan wacana” diantara sesama kelompok pemikiran masih terjadi. Tarik menarik kepentingan diantara islamlib.com versus hidayatullah kalau kita amati lebih dalam, memang tampak jelas didalamnya adanya latar belakang dan tujuan yang berbeda. Kami, peneliti, memberi penekanan pada latar belakang islamlib.com ketika melihat kejumudan, keterbelakangan, taqlid buta dan kemiskinan dikalangan umat Islam. Dengan latar belakang seperti itu, maka ke-6 ciri-ciri liberal Islam kemudian mereka propagandakan sebagai satu alternatif yang harus dikembangkan internal umat Islam, bahkan dengan berdialog dan bekerja sama dengan pihak Barat dan non-Muslim agar umat Islam bisa segera keluar dari situasi dan kondisi buruk yang sedang menimpa mereka saat ini. Di sini jargon-jargon rasionalisme, liberalisme, pluralisme, modernisme, ijtihad tanpa henti, progresivisme menjadi semangat mereka mencapai tujuan tersebut. Sementara itu, penekanan pada latar belakang hidayatullah.com terletak pada bagaimana mereka menyadari betul bahwa kejumudan, keterbelakangan, dan kemiskinan yang menimpa dunia Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme dan kolonialisme Barat atas dunia Islam. Sedemikian rupa sehingga bahkan dunia pemikiran Islam, mereka anggap, juga telah kerasukan mind-set Barat. Oleh karenanya, apa yang ingin diperjuangkan hidayatullah adalah mewujudkan kembali kejayaan Islam seperti di masa lampau yang telah direbut dan dicuri dunia Barat. Caranya tentu saja, selain dengan melawan transformasi dan intervensi pihak Barat ke dunia Islam, baik berupa fisik maupun non-fisik, serta menjaga kemurnian aqidah Islam agar tidak terkotori oleh ide-ide Barat. Oleh karena itu jargon-jargon seperti tegakkan (syariat) Islam di bumi Indonesia, anti sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) sebagai virus Barat yang ingin menjangkiti dunia Islam, jihad fi sabilillah, menjaga kesucian dan kemurnian Islam dan sebagainya menjadi semangat mereka dalam mencapai tujuannya. Latar belakang tersebut sebenarnya berakar pada masalah yang sama yakni; kemunduran, kejumudan, keterbelakangan, kebodohan , kemiskinan dan sebagainya yang menimpa kalangan umat Islam sekarang. Akan tetapi, didalam semangat yang berbeda terkait ideology dan strategi perjuangan mereka, tujuan dan kepentingan merekapun, bahkan,

menjadi bertentangan satu sama lain. Dan hal ini mereka refleksikan dalam konteks perang pemikiran di ruang publik, melalui media internet mereka, islamlib.com dan hidayatullah.com. Sebenarnya, sebuah perangpun tidak harus selalu bermakna negatif, termasuk perang pemikiran. Ia sangat mungkin menjadi hal positif bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Dalam banyak teori sosial tentang konflik, konflik apapun termasuk pemikiran, justru sebenarnya bisa menyehatkan masyarakat. Perang pemikiran seperti terlihat dalam isi website islamlib.com dan hidayatullah.com justru bisa menjadi semacam cermin yang menyadarkan masyarakat untuk berpikir, tentang pilihan-pilihan terkait kecenderungan pemikiran Islam yang akan mereka pilih, apakah model islamlib, model hidayatullah atau bahkan model yang lain diluar keduanya. Perang pemikiran ini dengan demikian bisa menjadi semacam proses rasionalisasi ruang publik bagi umat Islam itu sendiri. Perang pemikiran bisa menjadikan kedua kelompok dibelakangnya (JIL dan Yayasan Hidayatullah) saling tahu isi dari ide dan gagasan masing-masing yang ada diwebsite “lawan” mereka. Demikian juga masyarakat yang mengikuti fenomena “perang pemikiran” tersebut, jika mereka terbuka, akan semakin tercerahkan dan semakin mengerti pemikiran Islam versi kedua website tersebut sehingga bisa saling membandingkan dan bila mampu, mensintesakan keduanya. Kami percaya dengan bunyi pepatah Arab yang mengatakan bahwa orang-orang cenderung menentang terkadang disebabkan karena ketidaktahuan mereka (al-nas a’da ma jahilu). Dan juga kami rasa benar adanya bahwa masyarakat bisa mengambil hikmah dari mana saja, dari hal yang mereka setujui maupun yang mereka tolak (khudz al-hikmah wa law min ayyin syai’in kharajat). Lantas, terkait keberadaan islamlib dan hidayatullah kitapun bertanya; bagaimana realitas yang sesungguhnya dari respon umat Islam Indonesia? Apakah benar sesuai yang digambarkan dalam kedua website tersebut, yang justru saling bertentangan ? mana yang lebih sesuai? Dan bagaimana masa depan mereka? Dalam banyak teori komunikasi massa, kita temukan bahwa media memang secara tak terelakkan menjadi faktor yang sangat penting bagi pembentukan image, citra maupun stigma. Dari medialah masyarakat memperoleh informasi mengenai realitas yang tengah berlangsung di tempat tertentu. Sementara, realitas yang dihadirkan media ke hadapan kita belum tentu realitas yang sesungguhnya, tetapi realitas yang sudah dibentuk, dibingkai, dan dipoles sedemikian rupa oleh media tersebut. Melalui analisis framing kita tahu betapa secara diam-diam media mendikte otak kita mengenai “realitas” tanpa kita sadari. Konsep framing (pembingkaian) sering digunakan oleh media untuk menggambarkan sebuah peristiwa dengan menonjolkan aspek tertentu dan sekaligus menempatkan informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapat alokasi dan perhatian yang lebih besar ketimbang isu yang lain. Dalam praktiknya, framing dijalankan media dengan menyeleksi isu tertentu sambil mengabaikan isu yang lain; menonjolkan aspek tertentu dari isu tersebut sambil menyembunyikan dan bahkan membuang aspek yang lain. Ini dilakukan mulai dari proses perencanaan, pengumpulan data lapangan, verifikasi dan seleksi data, penyajian dalam bentuk berita, hingga

penempatannya di sebuah rubrik tertentu. Berkaca dari isi website islamlib.com dan hidayatullah.com, jelas terlihat bahwa mereka memang merefleksikan kecenderungan yang berbeda dari pemikiran Islam di Indonesia. Sayangnya, bisa dikatakan bahwa keduanya berada dalam titik ekstrem pemikiran Islam yang sebenarnya hanya menggambarkan pilihan-pilihan alternatif saja dari mainstream pemikiran umat Islam yang ada. Pada titik ini, islamlib.com berada pada titik ekstrem liberal-progresivisme, sementara hidayatullah.com pada titik ekstrem literalkonservatisme. Dengan demikian, kita tidak serta merta mengambil kesimpulan bahwa, secara umum, realitas sosial umat Islam, hanya terpecah menjadi dua. Lebih dari itu kelompok “poros tengah” dan kelompok “poros luar” sebagai swing voter yang mungkin tidak stand for pemikiran mereka, justru jauh lebih banyak, terutama kelompok “poros tengah” yang tidak ekstrim kanan-maupun-kiri. Sayangnya, kelompok ini memang tidak secara tegas mengetengahkan pemikiran Islam mereka diruang publik. Yang ada mereka justru cenderung concern dengan kerja-kerja praksis yang berorientasi pragmatis, bahkan terkadang politis dan ekonomis. Kelompok ini, kami maksudkan, adalah NU dan Muhammadiyah. Kecenderungan elit mereka terhadap pragmatisme beragama (baik yang bersifat politis maupun ekonomis), misalnya memanfaatkan jabatan di organisasi Islam itu untuk memperkaya diri ataupun batu loncatan pada jabatan politik tertentu, pada gilirannya akan semakin memperkuat tarikmenarik Islam ekstrim-kiri-kanan seperti islamlib.com dan hidayatullah.com. Di masa depan, dengan demikian, meskipun tentu dalam bentuk yang berbeda, ekstrim liberalprogresivisme dan literal-konservatisme akan semakin membesar, jika kelompok mainstream Islam seperti NU dan Muhammadiyah masih mengeluarkan wajah politis dan ekonomisnya. END NOTES Dosen Departemen Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina, Jakarta. Pembahasan mengenai kekuatan Islam pada masa sebelum dan sesudah Orde Baru lihat Aminuddin, 1999, Kekuatan Islam dan Pergulatan Kekuasaan di Indonesia Sebelum dan Sesudah Runtuhnya Rezim Suharto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lihat Muhsin Jamil, 2005, Membongkar Mitos Menegakkan Nalar: Pergulatan Islam liberal versus Islam literal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 9-10 Pasal 28 F tersebut berbunyi: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Penjelasan lebih lanjut baca Bassam Tibi, 2001, Islam Between Culture and Politics, New York: Palgrave. Muis Naharong, 2005, Fundamentalisme Islam, dalam Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 4, No. 1, Juli 2005, hal 40-41. Lihat Akhmad Muzakki, 2003, Perseteruan Dua Kutub Pemikiran Islam Indonesia kontemporer: JIL dan Media Dakwah, dalam Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 3 No. 1 September 2003 Charles Kruzman, 2001, Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam tentang Isu-Isu Global,

Jakarta: Paramadina. Muhsin Jamil, 2005, op.cit, hal. 95--96 Martyn E Marty, tanpa tahun, What is Fundamentalism? Theological Perspective, dalam Kung & Moltman (eds), Fundamentalism, 3-13 Luthfi Assyaukanie (ed), 2002, Wajah Islam Liberal di Indonesia, Jakarta: Jaringan Islam Liberal. www.islamlib.com Asrori S Karni, 2003, Senandung Liberasi Berirama Ancaman Mati, dalam Majalah Gatra, Edisi 6 Desember 2003. Luthfi Assyaukanie adalah alumni Fakultas Syariah, Jordan University di Amman, Yordania dan kemudian melanjutkan studi master-nya di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)- IIUM, Malaysia. Selanjutnya setelah selama beberapa waktu menjadi pengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, Luthfi melanjutkan studi doctoral-nya di Melbourne Institue for Asian Language and Society (MIALS), the University of Melbourne, Australia. Transkripsi hasil diskusi on-line ini telah dimuat dalam Luthfi Assyaukanie, op.cit, hal. 199-231. Untuk info lengkap tentang sejarah awal pendirian JIL lihat Nicolaus Teguh Budi Harjanto, 2003, Islam and Liberalism in Contemporary Indonesia: The Political Ideas of Jaringan Islam Liberal (The Liberal Islam Network), thesis MA yang tidak dipublikasikan, Ohio, Faculty of the College of Arts and Science, Ohio University. Info lebih lengkap bisa dilihat di www.islamlib.com Lihat di www.islamlib.com Asrori S Karni, 2003, op.cit, hal. 109 M Dawam Rahardjo, 2005, Kala MUI Mengharamkan Pluralisme, dalam TempoInteraktif , Senin 1 Agustus 2005. Kholis Bahtiar Bakir, 2004, Perintis Pondok Yatim, dalam Majalah Gatra Edisi Khusus Hajatan Demokrasi Muslim Indonesia, Edisi 27 November 2004, hal. 108 Disarikan dari Sekilas Tentang Hidayatullah, lihat di www.hidayatullah.com Luthfi Assyaukanie, 2004, Perang Pemikiran, dalam www.islamlib.com Indra Yogiswara, 2006, Serangan Pemikiran Dalam Pendidikan, dalam www.hidayatullah.com Abdul Moqsith Ghazali, 2006, Nabi Perempuan, dalam www.islamlib.com Abdurrahman Wahid, 2006, Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja!, dalam www.islamlib.com Ulil Abshar-Abdalla, 2006, Kemurtadan Yang Niscaya dan Globalisasi Dakwah, dalam www.islamlib.com Khalif Muammar, 2006, Semoga Aku Muslim Sejati, dalam www.hidayatullah.com Adian Husaini, 2006, Tuhan Kita: Allah, dalam www.hidayatullah.com Jalaludin Rahmat, 2006, Rahmat Tuhan Tidak Terbatas, dalam www.islamlib.com Novriantoni, 2006, The Da Vinci Code dan Kematangan Beragama, dalam www.islamlib.com Umdah el-Baroroh, 2006, Genealogi Gerakan Islam di Indonesia, dalam www.islamlib.com

Qosim Nursheha Dzulhadi, 2005, Nabi Perempuan: Adakah?, dalam www.hidayatullah.com Hizbullah Mahmud, 2006, Jinayah JIL Terhadap Siroh dan Usul Fiqh, dalam www.hidayatullah.com Thoriq, 2006, Jinayah JIL Terhadap Fiqh dan Fuqoha, dalam www.hidayatullah.com Hizbullah Mahmud, 2005, Mengkritisi Kembali Makna Tuhan, dalam www.hidayatullah.com Qosim Nursheha Dzulhadi, 2006, Natal, Syafaat dan Sinkretisme Teologis, dalam www.hidayatullah.com Muchib Aman Aly, 2006, Syariat Porno, dalam www.hidayatullah.com Hizbullah Mahmud, 2006, Akal-Akalan Dalam Berijtihad, dalam www.hidayatullah.com Thoriq, 2006, Benarkah Semua Pendapat Boleh Di Ikuti?, dalam www.hidayatullah.com Dawam Rahardjo, 2005, Kala MUI Mengharamkan Pluralisme, dalam Tempo Interaktif, edisi senin 1 Agustus 2005. Umdah el-Baroroh, 2006, Fatwa MUI Pengaruhi Arus Radikalisme di Indonesia, dalam www.islamlib.com Syamsuddin Arif, 2006, Legitimasi Terakhir Fatwa MUI, dalam www.hidayatullah.com Ulil Abshar-Abdalla, 2006, Ujian Untuk Konstitusi Kita, dalam harian Kompas, edisi 6 Maret 2006. Ulil Abshar-Abdalla, 2006, Ujian Untuk Konstitusi Kita, dalam www.islamlib.com Adian Husaini, 2006, Ahmadiyah dan Masalah Kebenaran, dalam www.hidayatullah.com Adian Husaini, 2006, Membela Ahmadiyah Berdasarkan HAM, dalam www.hidayatullah.com Ninuk Mardiana Pambudy, 2006, RUU APP Mengapa Menimbulkan Penolakan?, dalam harian Kompas edisi 25 Februari 2006. Abdul Mukti Rouf, 2006, RUU APP: Ketegangan Modernisme dan Fundamentalisme, dalam www.islamlib.com Adian Husaini, 2006, Pornografi dan Liberalisme, dalam www.hidayatullah.com Nofie Iman, 2006, Aa Gym, Poligami dan Islam, dalam www.nofieiman.com, edisi 7 Desember 2006 M. Guntur Romli, 2006, Dari QasimUntuk Aa Gym, dalam www.islamlib.com Sirikit Syah, 2006, Potret (Keliru) Poligami, dalam www.hidayatullah.com Ulil Abshar-Abdalla, 2006, Kita Perlu Lobi Tandingan Israel, dalam www.islamlib.com Adian Husaini, 2006, Menyikapi Kebrutalan Zionis Israel, dalam www.hidayatullah.com Prev: ANA UFAKKIR, FA ANA MAUJUD Next: FUNDAMENTALISME ISLAM DAN GLOBAL CITIZENSHIP

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->